Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan jiwa merupakan salah satu arah dari visi kesehatan tersebut. Masalah

kesehatan jiwa terutama gangguan jiwa secara tidak langsung dapat menurunkan

produktifitas, apalagi jika onset gangguan jiwa dimulai pada usia produktif. Untuk

mengantisipasi hal tersebut, maka perlu pelayanan kesehatan jiwa yang komprehensif,

holistic, dan paripurna. Kegiatan dapat dilakukan dengan menggerakkan dan

memberdayakan seluruh potensi yang ada di masyarakat, baik warga masyarakat

sendiri, tokoh masyarakat, dan profesi kesehatan.

Gangguan jiwa menurut American Psychiatric Association (APA) adalah sindrom

atau pola psikologis atau pola perilaku yang penting secara klinis, yang terjadi pada

individu dan sindrom itu dihubungkan dengan adanya distress (misalnya, gejala nyeri,

menyakitkan) atau disabilitas (ketidakmampuan pada salah satu bagian atau beberapa

fungsi penting) atau disertai peningkatan resiko secara bermagna untuk mati, sakit,

ketidakmampuan, atau kehilangan kebebasan.

Menurut penelitian WHO beban akibat penyakit gangguan jiwa yang diukur

denganhari-hari produktif yang hilang (DALY / Dissability Adjusted Life years )

disebabkanoleh masalah kesehatan jiwa tahun tahun 2000 sebesar 12,3 % .Berdasar

Survey Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) tahun 1995 yang dilakukan oleh

Balitbang Depkes menunjukkan bahwa prevalensi gangguan jiwa adalah sebesar 264

per 1000 anggota rumah tangga.Masalah kesehatan jiwa mempunyai lingkup yang

sangat luas dan kompleks serta tidak terpisahkan (integral) dari kesehatan terutama

1
dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh.Gangguan jiwa

merupakan salah satu masalah kesehatan dan masih banyak ditemukan di masyarakat.

Menurut WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang

terkena bipolar, 21 juta orang terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia.

Jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia saat ini adalah 236 juta orang, dengan

kategori gangguan jiwa ringan 6% dari populasi dan 0,17% menderita gangguan jiwa

berat, 14,3% diantaranya mengalami pasung. Tercatat sebanyak 6% penduduk berusia

15-24 tahun mengalami gangguan jiwa. Dari 34 provinsi di Indonesia, Sumatera Barat

merupakan peringkat ke 9 dengan jumlah gangguan jiwa sebanyak 50.608 jiwa dan

prevalensi masalah skizofrenia pada urutan ke-2 sebanyak 1,9 permil. Peningkatan

gangguan jiwa yang terjadi saat ini akan menimbulkan masalah baru yang disebabkan

ketidakmampuan dan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh penderita.

B. Tujuan

1. Umum

Memberikan pelayanan kesehatan jiwa yang ada diwilayah kerja Puskesmas

Toddopuli.

2. Khusus

a. Menemukan kasus gangguan perilaku

b. Menurunkan masalah penyalahgunaan Napza di masyarakat

c. Memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang kesehatan jiwa melalui

kegiatan kelompok yang ada baik di sekolah maupun masyarakat

d. Terlaksananya sistem rujukan kasus kesehatan jiwa

e. Menemukan segera pasien gangguan jiwa yang dipasung

2
C. MANFAAT

1. Bagi institusi

Dapat memperkaya khasanah dunia kerja melalui informasi yang diperoleh

dari lapangan sehingga dapat melakukan penyesuaian materi perkuliahan terhadap

tuntutan dunia kerja yang pada akhirnya dapat menghasilkan dokter-dokter yang

lebih kompetitif.

2. Bagi Puskesmas

Sebagai sumber informasi dalam penentuan kebijakan bagi pasien gangguan

jiwa di masyarakat sehingga Puskesmas dapat memperbaiki pelayanan keperawatan

terhadap aspek social belonging pasien gangguan jiwa.

3. Bagi dokter muda

Dokter muda dapat menambah pelajaran praktis klinis lapangan dan

membandingkan ilmu yang diperoleh dengan dunia kerja yang sesunguhnya

sehingga dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi kompetisi pasca pendidikan.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kesehatan Jiwa

1. Pengertian

Sehat (Health) secara umum dapat dipahami sebagai kesejahteraan secara

penuh (keadaan yang sempurna)baik secara fisik, mental, maupun social, tidak

hanya terbebas dari penyakit atau keadaan lemah. Sedangkan di Indonesia, UU

Kesehatan No. 36 tahun 2009 menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan secara

sehat fisik, mental, dan social dimana memungkinkan setiap manusia untuk hidup

produktif baik secara social maupun ekonomis. World Health Organization tahun

2001, menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan

yang disadari individu yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk

megelola stress kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan

menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.1,2,3

Kesehatan mental atau kesehatan jiwa menurut seorang ahli kesehatan

Merriam Webster, merupakan suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik,

dimana individu dapat memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi, berfungsi

dalam komunitasnya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Inti dari

kesehatan mental sendiri adalah lebih pada keberadaan dan pemeliharaan mental

yang sehat. Akan tetapi, dalam praktiknya seringkali kita temui bahwa tidak sedikit

praktisi di bidang kesehatan mental lebih banyak menekankan perhatiannya pada

gangguan mental daripada mengupayakan usaha-usaha mempertahankan kesehatan

mental itu sendiri.3

4
Kondisi mental yang sehat pada tiap individu tidaklah dapat disamaratakan.

Kondisi inilah yang semakin membuat urgensi pembahasan kesehatan mental yang

mengarah pada bagaimana memberdayakan individu, keluarga, maupun komunitas

untuk mampu menemukan, menjaga, dan mengoptimalkan kondisi sehat mentalnya

dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.3

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014

tentang Kesehatan Jiwa Pasal 1 menyebutkan bahwa kesehatan jiwa adalah kondisi

dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan

social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi

tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk

komunitasnya.4

Orang dengan masalah kejiwaan yang selanjutnya disingkat ODMK adalah

orang yang mempunyai masalah fisik, mental, social, pertumbuhan dan

perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami

ganggjiwa. Orang dengan gangguan jiwa selanjutnya disingkat ODGJ adalah orang

yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang

termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang

bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan

fungsi orang sebagai manusia.4

Pieper dan Uden (2006), kesehatan mental adalah suatu keadaan dimana

seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki

estimasi yang realistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan

atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya,

memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam

hidupnya.5

5
Notosoedirjo dan Latipun (2007), mengatakan bahwa terdapat banyak cara

dalam mendefinisikan kesehatan mental (mental hygene) yaitu: (1) karena tidak

mengalami gangguan mental, (2) tidak jatuh sakit akibat stressor, (3) sesuai dengan

kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya, dan (4) tumbuh dan berkembang

secara positif.6

a. Sehat mental karena tidak mengalami gangguan mental

Orang yang sehat mentalnya adalah orang yang tahan terhadap sakit

jiwa atau terbebas dari sakit dan gangguan jiwa. Sehat jika tidak terdapat

sedikitpun gangguan psikisnya, dan jika ada gangguan psikis maka

diklasifikasikan sebagai orang sakit.6

b. Sehat mental jika tidak sakit akibat adanya stressor

Notosoedirjo dan Latipun (2007), mengatakan bahwa orang yang

sehat mentalnya adalah orang yang dapat menahan diri untuk tidak jatuh sakit

akibat stressor (sumber stress). Seseorang yang tidak sakit meskipun mengalami

tekanan-tekanan maka menurut pengertian ini adalah orang yang sehat.

Pengertian ini sangat menekankan pada kemampuan individual merespon

lingkungannya.6

c. Sehat mental jika sejalan dengan kapasitasnya dan selaras dengan

lingkungannya

Notosudirjo & Latipun, 2007 memandang bahwa individu yang sehat

mentalnya jika terbebas dari gejala psikiatris dan individu itu berfungsi secara

optimal dalam lingkungan sosialnya. Pengertian ini terdapat aspek individu dan

aspek lingkungan. Seseorang yang sehat mental itu jika sesuai dengan

kapasitasnya diri sendiri, dan hidup tepat yang selaras dengan lingkungannya.6

6
d. Sehat mental karena tumbuh dan berkembang secara positif

Notosudirjo & Latipun, 2007 merumuskan pengertian kesehatan

mental secara lebih komprehensif dan melihat kesehatan mental secara “positif”.

Dia mengemukakan bahwa kesehatan mental adalah orang yang terus menerus

tumbuh, berkembang dan matang dalam hidupnya, menerima tanggung jawab,

menemukan penyesuaian (tanpa membayar terlalu tinggi biayanya sendiri atau

oleh masyarakat) dalam berpartisipasi dalam memelihara aturan social dan

tindakan dalam budayanya.6

Berdasarkan beberapa pengertian yang ada, Notosoedirjo dan Latipun,

(2007), merangkum pengertian kesehatan mental dengan mengemukakan tiga ciri

pokok mental yang sehat: (a) Seseorang melakukan penyesuaian diri terhadap

lingkungan atau melakukan usaha untuk menguasai, dan mengontrol

lingkungannya, sehingga tidak pasif menerima begitu saja kondisi sosialnya. (b)

Seseorang menunjukkan kebutuhan kepribadiannya yaitu mempertahankan

integrasi kepribadian yang stabil yang diperoleh sebagai akibat dari pengaturan

yang aktif. (c) Seseorang mempersepsikan “dunia” dan dirinya dengan benar,

independent dalam hal kebuuhan pribadi.6

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental adalah suatu

kondisi dimana kepribadian, emosional, intelektual dan fisik seseorang tersebut

dapat berfungsi secara optimal, dapat beradaptasi terhadap tuntutan lingkungan dan

stressor, menjalankan kapasitasnya selaras dengan lingkungannya, menguasai

lingkungan, merasa nyaman dengan diri sendiri, menemukan penyesuaian diri yang

baik terhadap tuntutan social dalam budayanya, terus menerus bertumbuh,

berkembang dan matang dalam hidupnya, dapat menerima kekurangan atau

kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya,

7
memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam

hidupnya.6

2. Faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa

Menurut Videbeck (2008) factor yang mempengaruhi kesehata jiwa diantaranya :7

a) Faktot Individual

1) Struktur Biologis

Gangguan jiwa juga tergolong ilmu kedokteran, dalam beberapa

penelitian yang dilakukan oleh para psikiater mengenai neutarnsmeter,

anatomi dan factor genetic juga ada hubungannya denagan terjadinya

gangguan jiwa. Dalam setiap individu berbeda-beda struktur anatominya

dan bagaimana menerima reseptor ke hipotalamus sebagai respon dan

reaksinya dari rangsangan tersebut hingga menyebabkan gangguan jiwa.

2) Ansietas dan ketakutan.

Kekhawatiran pada sesuatu hal yang tidak jelas dan perasaan yang

tidak menetu akan sesuatu hal menyebabkan individu merasa terancam,

kutakutan sehingga terkadang mempersepsikan dirinya terancam.

b) Faktor Psikologis

Hubungan antara peristiwa hidup yang tidak jelas dan perasaan yang

mengancam dan gangguan mental sangat kompleks tergantung dari situasi,

individu dan bagaimana setiap orang mampu berkomunikasi secara efektif. Hal

ini sangat tergantung pada bantuan teman, dan tetangga selama periode stress.

Struktur social, perubahan sosial yang dicapai sangat bermakna dalam

pengalaman hidup seseorang hingga terkadang sampai menarik diri dari

hubungan sosial. Kepribadian merupakan bentuk ketahan relative dari situasi

interpersonal yang berulang-ulang yang khas untuk kehidupan manusia. Prilaku

8
yang sekarang bukan merupakan ulangan implusif dari riwayat waktu kecil,

tetapi merupakan retensi pengumpulan dan pengambilan kembali. Setiap

penderita yang mengalami gangguan jiwa fungsional memperlihatkan

kegagalan yang mencolok dalam satu atau beberapa fase perkembangan akibat

tidak kuatnya hubungan personal dengan keluarga, lingkungan sekolah atau

dengan masyarakat sekitarnya. Bagaimana setiap individu mampu mengontrol

emosionalnya dalam kehidupan sehari-hari.

c) Faktor Budaya dan Sosial

Gangguan jiwa yang terjadi di berbagai negara mempunyai perbedaan

terutama mengenai pola prilakunya. Karakteristik suatu psikosis terutama

mengenai pola prilakunya. Karakteristik suatu psikosis dalam suatu sosio

budaya tertentu berbeda dengan budaya lainnya. Perbedaan ras, golongan, usia

dan jenis kelamin mempengaruhi pula terhadap penyebab mula gangguan jiwa.

Tidak hanya itu saja, status ekonomi juga berpengaruh terhadap terjadinya

gangguan jiwa.

d) Faktor presipitasi

Menurut Stuart (2007) selain diatas, factor Stressor Presipitasi

mempengaruhi dalam kejiwaan seseorang. Sebagai factor stimulus dimana

setiap individu mempersepsikan dirinya melawan tantangan, ancaman. Masalah

khusus tentang konsep diri disebabkan oleh setiap situasi dimana individu tidak

mampu menyesuikan. Lingkungan dapat mempengaruhi konsep diri dan

komponennya. Lingkungan dan stressor yang dapat mempengaruhi gambaran

diri dan hilangnya bagian badan, tindakan operasi, proses patologi penyakit,

perubahan struktur dan fungsi tubuh, proses tumbuh kembang, dan prosedur

tindakan dan pengobatan.8

9
B. Gangguan Jiwa

1. Pengertian

Seseorang yang tidak mampu menghadapi atau mengatasi stresor tersebut

maka memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami masalah kejiwaan (Nurjanah,

2004). Menurut UU RI no.18 tahun 2014 tentang kesehatan jiwa, menyatakan

bahwa “Orang dengan masalah kejiwaan yang selanjutnya disingkat OMDK adalah

orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan

perkembangan, dan/ atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami

gangguan jiwa”.4,9

Kesehatan mental atau jiwa memiliki hubungan timbal balik dengan

penyakit tidak menular, dimana kesehatan mental meningkatkan resiko terjadinya

penyakit tidak menular, luka dan kecelakaan, begitu juga sebaliknya penyakit tidak

menularkan, luka dan kecelakaan dapat menyebabkan stres yang nantinya akan

meningkatkan untuk terjadinya gangguan kesehatan mental (Isfandari & Lolong,

2014). Seseorang yang mengalami masalah kejiwaan secara terus-menerus

sehingga menjadi menumpuk, maka dapat menimbulkan gangguan kesehatan fisik

maupun jiwa (Kemenkes RI, 2013). Gangguan jiwa merupakan sekumpulan gejala

yang mengganggu pikiran, perasaan, dan perilaku yang menyebabkan kehidupan

seseorang menjadi terganggu dan menderita sehingga tidak dapat melaksanakan

fungsi sehari-hari (Kemenkes RI, 2015).Gangguan jiwa secara langsung tidak akan

menyebabkan kematian, namun akan menyebabkan penderitanya menjadi beban

keluarga dan masyarakat sekitarnya, serta membuat penderitanya menjadi tidak

produktif.11,12,13,15

Gangguan kesehatan jiwa bukan merupakan penyakit yang datangnya

secara tiba-tiba, namun merupakan akibat dari terakumulasinya permasalahan yang

10
dimiliki individu. Dengan demikian deteksi dini masalah kesehatan jiwa dapat

dilakukan, dimana dengan adanya deteksi dini tersebut dapat membantu mencegah

timbulnya masalah yang lebih berat.15

2. Tanda dan gejala gangguan jiwa

Tanda dan gejala gangguan jiwa menurut Yosep (2007), adalah sebagai berikut :16

1) Ketegangan (tension)

Rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas, perbuatan-perbuatan yang

terpaksa (convulsive), hysteria, rasa lemah, tidak mampu mencapai tujuan, takut,

pikiran-pikiran buruk.

2) Gangguan Kognisi pada Persepsi

Merasa mendengar (mempersepsikan) sesuatu bisikan yang menyuruh

membunuh, melempar, naik genting, membakar rumah, padahal orang di

sekitarnya tidak mendengarnya dan suara tersebut sebenarnya tidak ada hanya

muncul dari dalam diri individu sebagai bentuk kecemasan yang sangat berat

dia rasakan. Hal ini sering disebut halusinasi, klien bisa mendengar sesuatu,

melihat sesuatu atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada menurut

orang lain.

3) Gangguan Kemauan

Klien memiliki kemauan yang lemah (abulia) susah membuat keputusan

atau memulai tingakah laku, susah sekali bangun pagi, mandi, merawat diri

sendiri sehingga tidak kotor, bau dan acak-acakan.

4) Gangguan Emosi

Klien merasa senang, gembira yang berlebihan (Waham kebesaran).

Klien merasa sebagai orang penting, sebagai raja, pengusaha, orang kaya,

11
titisan Bung karno tetapi di lain waktu ia bias merasa sangat sedih, menangis,

tidak berdaya (depresi) sampai ide ingin mengakhiri hidupnya.

5) Gangguan Psikomotor

Hiperaktivitas, klien melakukan pergerakan yang berlebihan naik ke

atas genting berlari, berjaln maju mundur, meloncat-loncat, melakukan apa-apa

yang tidak disuruh atau menetang apa yang disuruh, diam lama tidak bergerak

atau melakukan gerakan aneh.

Menurut Yosep, (2009) dalam keadaan fisik dapat dilihat pada anggota

tubuh seseorang yang menderita gangguan jiwa, diantaranya sebagai berikut :17

1) Suhu Badan berubah

Orang normal rata-rata mempunyai suhu badan sekitar 37 derajat celcius. Pada

orang yang sedang mengalami gangguan mental meskipun secara fisik tidak

terkena penyakit kadangkala mengalami perubahan suhu.

2) Denyut nadi menjadi cepat

Denyut nadi berirama, terjadi sepanjang hidup. Ketika menghadapi keadaan

yang tidak menyenangkan, seseorang dapat mengalami denyut nadi semakin

cepat.

3) Nafsu makan berkurang

Seseorang yang sedang terganggu kesehatan mentalnya akan mempengaruhi

pula dalam nafsu makan. Keadaan mental dan emosi nampak ditandai dengan :

 Delusi atau Waham yaitu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal)

meskipun telah dibuktikkan secara obyektif bahwa keyakinannya itu tidak

rasional, namun penderita tetap meyakini kebenarannya.

12
 Halusinasi yaitu pengelaman panca indera tanpa ada rangsangan misalnya

penderita mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan di telinganya padahal

tidak ada sumber dari suara/bisikan itu.

 Kekacauan alam pikir yaitu yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya,

misalnya bicaranya kacau sehingga tidak dapat diikuti jalan pikirannya.

 Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan

semangat dan gembira berlebihan.

 Tidak atau kehilangan kehendak (avalition), tidak ada inisiatif, tidak ada

upaya usaha, tidak ada spontanitas, monoton, serta tidak ingin apa-apa dan

serba malas dan selalu terlihat sedih.

3. Jenis gangguan jiwa

Gangguan jiwa secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua bagian

yaitu gangguan psikiatrik organik dan gangguan fungsional. Gangguan psikiatrik

organik terbagi menjadi dua macam yaitu, gangguan organik seperti karsinoma,

gangguan endokrin, dan lainlain, serta gangguan penggunaan zat psikoaktif seperti

penggunaan alkohol, obat-obatan terlarang, dan lain-lain. Gangguan fungsional

juga terbagi menjadi dua macam yaitu, psikosis seperti skizofrenia, gangguan mood,

dan gangguan psikotik lainnya, serta neurosis seperti gangguan obsesif kompulsif,

fobia, dan sebagainya.18

Maramis & Maramis (2009) membagi gangguan jiwa ke dalam dua

golongan, yaitu :19

1) Gangguan jiwa berat / penyakit mental (Psikosis)

Psikosis merupakan gangguan jiwa serius yang dapat ditimbulkan oleh

penyebab organik maupun emosional. Gejala yang ditunjukkan diantaranya

gangguan kemampuan berpikir, bereaksi secara emosional, berkomunikasi,

13
mengingat, menafsirkan kenyataan dan bertindak sesuai dengan kenyataan itu,

sedemikian rupa sehingga kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup

sehari-hari menjadi sangat terganggu. Gangguan jiwa berat berupa gangguan

psikotik dan gangguan jiwa skizofrenia merupakan bentuk gangguan fungsi

pikiran berupa disorganisasi isi pikiran yang ditandai dengan gejala gangguan

pemahaman berupa delusi dan waham, gangguan persepsi berupa halusinasi

atau ilusi, terganggunya daya nilai realitas yang dimanifestasikan dengan

perilaku bizzare atau aneh.14

2) Gangguan jiwa ringan/gangguan mental (neurosis)

Neurosis merupakan penyesuaian diri yang salah secara emosional karena

tidak dapat diselesaikannya konflik tak sadar. Neurosis menurut gejalanya

dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu neurosis cemas, neusrosis histerik, neurosis

fobik, neurosis obsesif kompulsif, neurosa depresif, neurosa nerastenik, dan

neurosa depersonalisasi . Gangguan jiwa neurotik, yaitu gangguan kejiwaan

dimana penderitanya akan menunjukkan gejala mudah lelah, kecemasan yang

berlebih, insomnia, kelumpuhan, depresi, dan gejala-gejala lainnya yang

berhubungan dengan tekanan jiwa.20

Gangguan mental emosional juga merupakan bagian dari gangguan jiwa yang

bukan disesbabkan oleh kelainan organik otak atau lebih didominasi oleh gangguan

emosi (Suyoko, 2012). Gangguan mental emosional adalah gejala orang yang

menderita karena memiliki masalah mental atau jiwa, lalu jika kondisi tersebut

tidak segera ditangani maka akan menjadi gangguan yang lebih serius (Idaiani,

2010). Selain itu, gangguan mental emosional juga disebut dengan istilah distres

psikologik atau distres emosional (Idaiani, Suhardi, & Kristanto, 2009). Pada

keadaan tertentu gangguan ini dapat diderita oleh semua orang namun dapat pulih

14
kembali seperti keadaan semula jika dapat diatasi oleh individu tersebut atau

berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan tetapi jika tidak dapat diatasi maka

akan berlanjut menjadi gangguan yang lebih serius.12,21,22,23

Gangguan mental emosional ditandai dengan menurunnya fungsi individu

pada ranah keluarga, pekerjaan atau pendidikan, dan masyarakat atau komunitas,

selain itu gangguan ini berasal dari konflik alam bawah sadar yang menyebabkan

kecemasan. Depresi dan gangguan kecemasan merupakan jenis gangguan mental

emosional yang lazim ditemui di masyarakat. Sedangkan gangguan jiwa berat yang

lazim ditemui di masyarakat yaitu skizofrenia dan gangguan psikosis. Skizofrenia

merupakan gangguan jiwa berat yang prevalensinya paling tinggi dialami oleh

msyarakat.

Gejala yang berkontribusi pada terjadinya gangguan mental emosional

diantaranya yaitu, mempunyai pemikiran untuk mengakhiri hidup, hilangnya

kemampuan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat didalam hidup, kesulitan

dalam menikmati kehidupan sehari-hari, merasa tidak berharga, dan terganggunya

pekerjaan sehari-hari.24

Gangguan jiwa berat gangguan psikotik dan gangguan jiwa skizofrenia

memiliki beberapa gejala yang dimanifestasikan dalam gejala gangguan

pemahaman berupa delusi dan waham, gangguan persepsi berupa halusinasi atau

ilusi, serta tergangguanya daya nilai realitas yang dimanifestasikan dengan perilaku

bizzare atau aneh.14

Menurut Nasir dan Muhith (2011) beberapa tanda dan gejala gangguan jiwa,

yaitu sebagai berikut :20

15
1) Gangguan kognitif

Kognitif merupakan proses mental di mana terdapat hubungan yang

disadari dan dipertahankan oleh individu dengan lingkungannya. Proses

kognitif meliputi sensasi dan persepsi, perhatian, ingatan, asosiasi,

pertimbangan, pikiran, serta kesadaran.

2) Gangguan perhatian

Perhatian merupakan pemusatan dan konsentrasi energi.

3) Gangguan ingatan

Ingatan merupakan tanda-tanda kesadaran serta kemampuan untuk

menyimpan, mencatat, dan memproduksi isi.

4) Gangguan asosiasi

Asosiasi merupakan kesan atau gambaran ingatan yang ditimbulkan oleh

suatu perasaan, kesan, atau gambaran ingatan dalam suatu proses mental.

5) Gangguan pertimbangan

Pertimbangan atau penilaian merupakan suatu proses mental untuk

memberikan pertimbangan atau penilaian terhadap suatu maksud dan tujuan

dari aktivitas.

6) Gangguan pikiran

Pikiran merupakan bagian dari pengetahuan seseorang.

7) Gangguan kesadaran

Kesadaran merupakan kemampuan seseorang untuk mengadakan suatu

hubungan maupun pembatasan antara dirinya dengan lingkungan melalui

pancaindra.

16
8) Gangguan kemauan

Kemampuan merupakan suatu proses keinginan yang dilaksanakan untuk

mencapai tujuan setelah dilakukan pertimbangan dan kemudian diputuskan.

9) Gangguan emosi dan afek

Emosi merupakan pengalaman sadar dan berpengaruh terhadap aktivitas

tubuh yang menghasilkan sensasi kinetis maupun organik. Afek merupakan

kehidupan perasaan atau nada perasaan emosional seseorang, menyenangkan

atau tidak, yang menyertai suatu pikiran, biasa berlangsung lama dan jarang

disertai komponen fisiologis.

10) Gangguan psikomotor

Psikomotor merupakan gerakan tubuh yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa.

Jenis-jenis gangguan jiwa menurut Keliat, (2009) : Gangguan jiwa organik

dan simtomatik, skizofrenia, gangguan skizotipal, gangguan waham, gangguan

suasana perasaan, gangguan neurotik, gangguan somatoform, sindrom perilaku

yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan faktor fisik, gangguan

kepribadian dan perilaku masa dewasa, retardasi mental, gangguan perkembangan

psikologis, gangguan perilaku dan emosional dengan onset masa kanak dan remaja.

Menurut Keliat, (2009) jenis-jenis gangguan jiwa yaitu:25

1) Skizofrenia

Merupakan bentuk psikosa fungsional paling berat, dan menimbulkan

disorganisasi personalitas yang terbesar. Skizofrenia juga merupakan

suatubentuk psikosa yang sering dijumpai dimanamana sejak dahulu kala.

Meskipun demikian pengetahuan kita tentang sebab-musabab dan

patogenisanya sangat kurang. Dalam kasus berat, klien tidak mempunyai

kontak dengan realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal.

17
Perjalanan penyakit ini secara bertahap akan menuju kearah kronisitas, tetapi

sekali-kali bisa timbul serangan. Jarang bisa terjadi pemulihan sempurna

dengan spontan dan jika tidak diobati biasanya berakhir dengan personalitas

yang rusak “cacat”. Skizofrenia mempunyai macam-macam jenisnya, menurut

Maramis (2004) jenis-jenis skizofrenia meliputi:

 Skizofrenia residual, merupakan keadaan skizofrenia dengan gejala-gejala

primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejalagejala sekunder. Keadaan

ini timbul sesudah beberapa kali serangan skizofrenia.

 Skizofrenia simpleks, sering timbul pertama kali pada masa pubertas.

Gejala utama ialah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan.

Gangguan proses berfikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi

jarang sekali terdapat. Jenis ini timbul secara perlahan. Pada permulaan

mungkin penderita kurang memperhatikan keluarganya atau menarik diri

dari pergaulan. Makin lama ia semakin mundur dalam kerjaan atau

pelajaran dan pada akhirnya menjadi pengangguran, dan bila tidak ada

orang yang menolongnya ia akan mungkin akan menjadi “pengemis”,

“pelacur” atau “penjahat”.

 Skizofrenia hebefrenik atau disebut juga hebefrenia, menurut Maramis

(2004) permulaannya perlahan-lahan dan sering timbul pada masa remaja

atau antara 15–25 tahun. Gejala yang menyolok adalah gangguan proses

berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi. Gangguan

psikomotor seperti perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada jenis ini.

Waham dan halusinasi banyak sekali.

18
 Skizofrenia katatonik atau disebut juga katatonia, timbulnya pertama kali

antara umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stres

emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.

 Pada skizofrenia skizoafektif, di samping gejala-gejala skizofrenia terdapat

menonjol secara bersamaan, juga gejalagejala depresi atau gejala-gejala

mania. Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa efek, tetapi

mungkin juga timbul lagi serangan.

2) Depresi

Merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan

dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan

pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus

asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri. Depresi juga dapat diartikan

sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan yang ditandai

dengan kemurungan, keleluasaan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak

berguna, putus asa dan lain sebagainya. Depresi adalah suatu perasaan sedih

dan yang berhubungan dengan penderitaan, dapat berupa serangan yang

ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang mendalam. Depresi adalah

gangguan patologis terhadap mood mempunyai karakteristik berupa bermacam-

macam perasaan, sikap dan kepercayaan bahwa seseorang hidup menyendiri,

pesimis, putus asa, ketidak berdayaan, harga diri rendah, bersalah, harapan yang

negatif dan takut pada bahaya yang akandatang. Depresi menyerupai kesedihan

yang merupakan perasaan normal yang muncul sebagai akibat dari situasi

tertentu misalnya kematian orang yang dicintai. Sebagai ganti rasa

ketidaktahuan akan kehilangan seseorang akan menolak kehilangan dan

menunjukkan kesedihan dengan tanda depresi. Individu yang menderita suasana

19
perasaan (mood) yang depresi biasanya akan kehilangan minat dan

kegembiraan, dan berkurangnya energi yang menuju keadaan mudah lelah dan

berkurangnya aktifitas. Depresi dianggap normal terhadap banyak stress

kehidupan dan abnormal hanya jika ia tidak sebanding dengan peristiwa

penyebabnya dan terus berlangsung sampai titik dimana sebagian besar orang

mulai pulih.

3) Kecemasan

Sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami

oleh setiap orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah

yang dihadapi sebaik-baiknya. Suatu keadaan seseorang merasa khawatir dan

takut sebagai bentuk reaksi dari ancaman yang tidak spesifik. Penyebabnya

maupun sumber biasanya tidak diketahui atau tidak dikenali.Intensitas

kecemasan dibedakan dari kecemasan tingkat ringan sampai tingkat berat.

Menurut Stuart & Sundeen (2008) mengidentifikasi rentang respon kecemasan

kedalam empat tingkatan yang meliputi kecemasan ringan, sedang, berat, dan

kecemasan panik.

4) Gangguan Kepribadian

Klinik menunjukkan bahwa gejala-gejala gangguan kepribadian

(psikopatia) dan gejala-gejala nerosa berbentuk hampir sama pada orang-orang

dengan intelegensi tinggi ataupun rendah. Jadi boleh dikatakan bahwa

gangguan kepribadian, nerosa dan gangguan intelegensi sebagian besar tidak

tergantung pada satu dan yang lain atau tidak berkorelasi. Klasifikasi gangguan

kepribadian: kepribadian paranoid, kepribadian afektif atau siklotemik,

kepribadian skizoid, kepribadian axplosif, kepribadian anankastik atau obsesif-

20
konpulsif, kepribadian histerik, kepribadian astenik, kepribadian antisosial,

kepribadian pasif agresif, kepribadian inadequate.

5) Gangguan mental organic Merupakan gangguan jiwa yang psikotik atau non-

psikotik yang disebabkan oleh gangguan fungsi jaringan otak. Gangguan fungsi

jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama

mengeni otak atau yang terutama diluar otak. Bila bagian otak yang terganggu

itu luas, maka gangguan dasar mengenai fungsi mental sama saja, tidak

tergantung pada penyakit yang menyebabkannya bila hanya bagian otak dengan

fungsi tertentu saja yang terganggu, maka lokasi inilah yang menentukan gejala

dan sindroma, bukan penyakit yang menyebabkannya. Pembagian menjadi

psikotik dan tidak psikotik lebih menunjukkan kepada berat gangguan otak

pada suatu penyakit tertentu dari pada pembagian akut dan menahun.

6) Gangguan kepsikomatik

Merupakan komponen psikologik yang diikuti gangguan fungsi badaniah.

Sering terjadi perkembangan neurotik yang memperlihatkan sebagian besar atau

semata-mata karena gangguan fungsi alat-alat tubuh yang dikuasai oleh susunan

saraf vegetative. Gangguan psikosomatik dapat disamakan dengan apa yang

dinamakan dahulu neurosa organ. Karena biasanya hanya fungsi faaliah yang

terganggu, maka sering disebut juga gangguan psikofisiologik.

7) Retardasi mental

Retardasi mental merupakan keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau

tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya hilangnya keterampilan

selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan

secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial.

21
8) Gangguan perilaku masa anak dan remaja

Anak dengan gangguan perilaku menunjukkan perilaku yang tidak sesuai

dengan permintaan, kebiasaan atau norma-norma masyarakat. Anak dengan

gangguan perilaku dapat menimbulkan kesukaran dalam asuhan dan pendidikan.

Gangguan perilaku mungkin berasal dari anak atau mungkin dari

lingkungannya, akan tetapi akhirnya kedua faktor ini saling memengaruhi.

Diketahui bahwa ciri dan bentuk anggota tubuh serta sifat kepribadian yang

umum dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya.Pada gangguan otak

seperti trauma kepala, ensepalitis, neoplasma dapat mengakibatkan perubahan

kepribadian. Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi perilaku anak, dan

sering lebih menentukan oleh karena lingkungan itu dapat diubah, maka dengan

demikian gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi atau dicegah.

4. Penyebab umum gangguan jiwa

Gejala utama atau gejala lain yang timbul itu terdapat pada unsur kejiwaan

tetapi penyebab utamanya dapat berasal dari badan (somatogenik), psikogenik, di

lingkungan sosial (sosiogenik).

a) Faktor-faktor Somatogenik

Dalam setiap individu memiliki fisik yang berbeda-beda. Struktur jaringan

dan fungsi system syaraf dalam mempengaruhi tubuh untuk dapat beradaptasi

dan menerima rangsang sampai dapat diterima oleh otak tubuh manusia.28

b) Faktor Psikogenik

Perasaan interaksi antara orang tua dan anak, secara normal akan timbul

rasa percaya dan rasa aman, namun jika timbul perasaan abnormal berdasarkan

kekurangan, distorsi, dan keadaan yang terputus dapat menimbulkan perasaan

tak percaya dan kebimbangan. Hal ini dapat berlanjut pada hubungan dengan

22
lain keluarga dan pekerjaan, serta masyarakat. Selain itu dapat timbul karena

ada faktor kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau

rasa salah. Tingkat emosi dan kemampuan individu dalam mengenal diri

kemampuan berkreatifitas, keterampilan dan menyesuaikan diri terhadap

lingkungan.28

c) Faktor Lingkungan Sosial

Kestabilan keluarga sangat berpengaruh dalam kejiwaan setiap orang.

Seperti halnya pola asuh yang diterima seorang anak dari orang tuanya. Nilai-

nilai yang ditanamkan akan mempengaruhi kehidupan dan kejiwaan setiap

individu.28

5. Dampak gangguan jiwa bagi keluarga

Menurut Wahyu, (2012) dari anggota yang menderita gangguan jiwa bagi

keluarga diantaranya keluarga belum terbiasa dengan:29

a) Penolakan

Sering terjadi dan timbul ketika ada keluarga yang menderita gangguan

jiwa, pihak anggota keluarga lain menolak penderita tersebut dan meyakini

memiliki penyakit berkelanjutan. Selama episode akut anggota keluarga akan

khawatir dengan apa yang terjadi pada mereka cintai. Pada proses awal,

keluarga akan melindungi orang yang sakit dari orang lain dan menyalahkan

dan merendahkan orang yang sakit untuk perilaku tidak dapat diterima dan

kurangnya prestasi. Sikap ini mengarah pada ketegangan dalam keluarga, dan

isolasi dan kehilangan hubungan yang bermakna dengan keluarga yang tidak

mendukung orang yang sakit. Tanpa informasi untuk membantu keluarga

belajar untuk mengatasi penyakit mental, keluarga dapat menjadi sangat

pesimis tentang masa depan. Sangat penting bahwa keluarga menemukan

23
sumber informasi yang membantu mereka untuk memahami bagaimana

penyakit itu mempengaruhi orang tersebut. Mereka perlu tahu bahwa dengan

pengobatan, psikoterapi atau kombinasi keduanya, mayoritas orang kembali ke

gaya kehidupan normal.

b) Stigma

Informasi dan pengetahuan tentang gangguan jiwa tidak semua dalam

anggota keluarga mengetahuinya. Keluarga menganggap penderita tidak dapat

berkomunikasi layaknya orang normal lainnya. Menyebabkan beberapa

keluarga merasa tidak nyaman untuk mengundang penderita dalam kegiatan

tertentu. stigma dalam begitu banyak di kehidupan sehari-hari, tidak

mengherankan, semua ini dapat mengakibatkan penarikan dari aktif

berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari.

c) Frustasi, tidak berdaya dan kecemasan

Sulit bagi siapa saja untuk menangani dengan pemikiran aneh dan tingkah

laku aneh dan tak terduga. Hal ini membingungkan, menakutkan, dan

melelahkan. Bahkan ketika orang itu stabil pada obat, apatis dan kurangnya

motivasi bisa membuat frustasi. Anggota keluarga memahami kesulitan yang

penderita miliki. Keluarga dapat menjadi marah-marah, cemas, dan frustasi

karena berjuang untuk mendapatkan kembali ke rutinitas yang sebelumnya

penderita lakukan.

d) Kelelahan dan Burn out

Seringkali keluarga menjadi putus asa berhadapan dengan orang yang

dicintai yang memiliki penyakit mental. Mereka mungkin mulai merasa tidak

mampu mengatasi dengan hidup dengan orang yang sakit yang harus terus-

menerus dirawat. Namun seringkali, mereka merasa terjebak dan lelah oleh

24
tekanan dari perjuangan sehari-hari, terutama jika hanya ada satu anggota

keluarga mungkin merasa benar-benar diluar kendali. Hal ini bisa terjadi karena

orang yang sakit ini tidak memiliki batas yang ditetapkan di tingkah lakunya.

Keluarga dalam hal ini perlu dijelaskan kembali bahwa dalam merawat

penderita tidak boleh merasa letih, karena dukungan keluarga tidak boleh

berhenti untuk selalu men-support penderita.

e) Duka

Kesedihan bagi keluarga di mana orang yang dicintai memiliki penyakit

mental. Penyakit ini mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi dan

berpartisipasi dalam kegiatan normal dari kehidupan sehari-hari, dan penurunan

yang dapat terus-menerus. Keluarga dapat menerima kenyataan penyakit yang

dapat diobati, tetapi tidak dapat disembuhkan. Keluarga berduka ketika orang

yang dicintai sulit untuk disembuhkan dan melihat penderita memiliki potensi

berkurang secara substansial bukan sebagai yang memiliki potensi berubah.

f) Kebutuhan pribadi dan mengembangkan sumber daya pribadi

Jika anggota keluarga memburuk akibat stress dan banyak pekerjaan,

dapat menghasilkan anggota keluarga yang sakit tidak memiliki sistem

pendukung yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, keluarga harus

diingatkan bahwa mereka harus menjaga diri secara fisik, mental, dan spiritual

yang sehat. Memang ini bisa sangat sulit ketika menghadapi anggota keluarga

yang sakit mereka. Namun, dapat menjadi bantuan yang luar biasa bagi

keluarga untuk menyadari bahwa kebutuhan mereka tidak boleh diabaikan.

25
6. Pencegahan Kekambuhan Gangguan Jiwa

Pencegahan kekambuhan adalah mencegah terjadinya peristiwa timbulnya

kembali gejala-gejala yang sebelumnya sudah memperoleh kemajuan Yulianti,

(2010). Pada gangguan jiwa kronis diperkirakan mengalami kekambuhan 50% pada

tahun pertama, dan 79% pada tahun ke dua (Yosep,2009). Kekambuhan biasa

terjadi karena adanya kejadiankejadian buruk sebelum mereka kambuh Empat

faktor penyebab klien kambuh dan perlu dirawat dirumah sakit, menurut Dit,

(2008) :16,30

a) Klien : sudah umum diketahui bahwa klien yang gagal memakan obat secara

teratur mempunyai kecenderungan untuk kambuh. Berdasarkan hasil penelitian

menunjukkan 25% sampai 50% klien yang pulang dari rumah sakit tidak

memakan obat secara teratur.

b) Dokter (pemberi resep) : makan obat yang teratur dapat mengurangi kambuh,

namun pemakaian obat neuroleptic yang lama dapat menimbulkan efek

samping Tardive Diskinesia yang dapat mengganggu hubungan sosial seperti

gerakan yang tidak terkontrol.

c) Penanggung jawab klien : setelah klien pulang ke rumah maka perawat

puskesmas tetap bertanggung jawab atas program adaptasi klien di rumah.

d) Keluarga : Berdasarkan penelitian di Inggris dan Amerika keluarga dengan

ekspresi emosi yang tinggi (bermusuhan, mengkritik, tidak ramah, banyak

menekan dan menyalahkan), hasilnya 57% kembali dirawat dari keluarga

dengan ekspresi emosi keluarga yang rendah. Selain itu klien juga mudah

dipengaruhi oleh stress yang menyenangkan (naik pangkat, menikah) maupun

yang menyedihkan (kematian/kecelakaan). Dengan terapi keluarga klien dan

keluarga dapat mengatasi dan mengurangi stress. Cara terapi biasanya :

26
mengumpulkan semua anggota keluarga dan memberi kesempatan

menyampaikan perasaan-perasaannya. Memberi kesempatan untuk menambah

ilmu dan wawasan baru kepada klien gangguan jiwa, memfasilitasi untuk hijrah

menemukan situasi dan pengalaman baru. Beberapa gejala kambuh yang perlu

diidentifikasi oleh klien dan keluarganya yaitu :

 Menjadi ragu-ragu dan serba takut (nervous)

 Tidak nafsu makan

 Sukar konsentrasi

 Sulit tidur

 Depresi

 Tidak ada minat

 Menarik diri

27
BAB III
GAMBARAN UMUM PUSKESMAS TODDOPULI

A. Gambaran Demografi Puskesmas

Puskesmas Toddupuli merupakan puskesmas baru yang merupakan

pengembangan dari Puskesmas Batua yang terletak di Jl. Toddupuli Raya No.96 dan

dipimpin oleh drg. Hj. Yayi Manggarsari, M.Kes. Dahulu Puskesmas Toddupuli

merupakan PUSTU (Puskesmas Pembantu) dari Puskesmas Batua, dan akhirnya sekitar

6 November 2013 Pustu dari Puskesmas Batua ini dijadikan puskesmas yang

dinamakan Puskesmas Toddopuli.

Batas-batas wilayah kerja Puskesmas Toddopuli sebagai berikut.

1. Sebelah Utara : Kelurahan Panaikang

2. Sebelah Barat : Kecamatan Pandang/Karampuang

3. Sebelah Timur : Kecamatan Tello Baru Batua

4. Sebelah Selatan : Kelurahan Pandang/Borong

Pada waktu itu Puskesmas Toddopuli hanya memberikan pelayanan kepada

pasien rawat jalan dengan pegawai berjumlah enam orang, setelah dikembangkan jadi

Puskesmas jumlahnya bertambah menjadi 21 pegawai yang terdiri dari 21 orang PNS

dan 5 orang pegawai magang dengan luas wilayah kerja kelurahan Paropo 1.170.138

M3 atau 117.138 Ha. Selain itu, Puskesmas Toddopuli terdiri dari 10 RW dan 52 RT.

Kegiatan posyandu di wilayah kerja Puskesmas Toddopuli di kelurahan Paropo

ada 8 RW, 8 Posyandu Bayi dan Balita, 1 Posyandu Lansia ditambah dengan 1

Posbindu dilaksanakan setiap bulan dari tanggal 01 sampai tanggal 26 bulan berjalan

dengan melakukan kegiatan-kegiatan diantaranya imunisasi, penyuluhan kesehatan,

pemantauan tumbuh kembang anak, pemeriksaan ibu hamil, pengobatan penyakit dan

28
pemberian makanan tambahan. Semua kegiatan tersebut dilakukan sesuai dengan

jadwal yang telah ditentukan untuk masing-masing penanggung jawab kegiatan yang

dilaksanakan oleh petugas Puskesmas Toddopuli.

Adapun visi, misi, dan motto dari Puskesmas Toddopuli, adalah sebagai berikut.

1. Visi

Menjadi Sentra pelayanan kesehatan terdepan di Masyarakat dengan

memberikan Pelayanan Prima.

2. Misi

a. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia pada staf sebagai fasilitas


pelayanan kesehatan primer untuk memberikan pelayanan prima.
b. Meningkatkan mutu pelayanan Puskesmas, baik Upaya Kesehatan Perorangan
(UKP), Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), dan Manajerial.
c. Menggalang kemitraan dengan masyarakat dan lintas sektoral di bidang
kesehatan.
d. Mengembangkan program inovasi.
3. Motto
Puskesmas Toddopuli tulus melayani dengan profesional dan peduli.
4. Budaya Kerja
Ramah dan Sopan Santun
Bersikap ramah dan sopan santun terhadap pimpinan, staf, dan pengunjung.
5. Tata Nilai
T : Tanggung Jawab
O : Optimis
D : Disiplin
D : Dedikasi
O : Objektif
P : Profesional
U : Ulet
L : Loyal
I : Inisiatif dan Inovatif

29
B. Keadaan Demografi

1. Luas wilayah : 1.94 km2


2. Jumlah KK : 3.816 KK
3. Jumlah penduduk : 16.476 orang
a. Laki-laki : 7.944 orang
b. Perempuan: 8.327 orang

C. Keadaan Sarana Wilayah Toddopuli

1. Jumlah Sarana Ibadah : 5, terdiri dari :

Mesjid : 5 buah

Gereja : 0 buah

2. Jumlah Sarana Pendidikan : 23, terdiri dari :

TK : 9 buah

SD/Sederajat : 7 buah

30
SMP/Sederajat : 2 buah

SMA/Sederaja : 5 buah

3. Jumlah Posyandu : 9, terdiri dari 8 Posyandu Bayi dan Balita serta 1 Posyandu

Lansia dengan uraian sebagai berikut.

Posyandu Teratai I di Jl. Dirgantara

Posyandu Teratai II di Jl. BTN Paropo

Posyandu Teratai III di Jl.Paropo II

Posyandu Teratai IV di Jl. Paropo VIII

Posyandu Teratai V di Jl.Babussalam

Posyandu Teratai VI di Kompleks Paropo Indah

Posyandu Teratai VII A di Jl. Batua Raya VIII

Posyandu Teratai VII B di Jl. Batua Raya XII

Posyandu Teratai IX di Jl. Meranti

Termasuk di dalam Posyandu Bayi dan Balita adalah Posyandu I, II, III, IV, V,

VII A, VII B, dan Posyandu IX. Sedangkan Posyandu Lansia berada di Posyandu

VI.

4. Jumlah Posbindu : 4, terdiri dari:

Posbindu, di RW I, III, IV, dan V

5. Jumlah Sarana Olahraga

Lapangan tenis lokasi BLKI

Lapangan Bulu tangkis lokasi Dirgantara

Lapangan bola basket lokasi Filadelvia

D. Struktur Organisasi Puskesmas Toddopuli

1. Kepala Puskesmas : drg. Hj. Yayi Manggarsari, M,Kes.

2. Kepala Sub. Bagian Tata Usaha : Hj. Kurniati M, S.Sos

31
a. Umum : Syarifuddin , AMK

b. Kepegawaian : Rina Kasrini,AMK

c. Perlengkapan : Sumiati, AMK

d. Keuangan : Ariati, S.Kep, Ners

3. Unit Pelayanan Teknis Fungsional :

a. Upaya Kesehatan Masyarakat

1) Upaya Kesehatan Wajib

a) Promosi Kesehatan : Yuliana, Amd. Keb

b) Kesehatan Lingkungan : Zainuddin, S.KM

c) KIA dan KB : Ratih Puspita Ratu, Amd, Keb

d) Upaya Per. Gizi Masyarakat : Nurhaedah, AMD

e) Upaya P2P : Nurmawati T, S.Kep.Ns

2) Upaya Kesehatan Pengembangan

a) Upaya Kesehatan UKS : Syadriana Djafar, AMKG

b) Upaya Kesehatan Usila : Syarifuddin, AMK

c) Perawatan Kesehatan Masy : Syarifuddin, AMK

d) Upaya Kesehatan Kerja : Zainuddin, SKM

e) Upaya Kesehatan Gimul : drg. Nursyamsi

f) Upaya Kesehatan Olahraga : Kasmawati Anwar, S.Si, Apt

g) Upaya Kesehatan Mata : Sumiati, AMK

h) Upaya Kesehatan Telinga : Sumiati. AMK

i) Upaya Kes. Tradisional/Pem.Batra : Kasmawati Anwar, S.Si, Apt

j) Posbindu/ PTM : Syarifuddin, AMK

32
b. Upaya Kesehatan Perseorangan

Rawat Jalan

1) Kartu : Husniah

2) Poli Umum : dr. Hj. Adriani L,MM

dr. Syamsul Chandra

3) Poli TB dan Kusta : Nurmawati T, S.Kep.Ns

4) Poli Gigi : drg. Nursyamsi

5) Tindakan/UGD : Nurmawati T, S.Kep.Ns

6) Laboraturium : Nurlaila Tuanaya, SKM

7) Kamar Obat : Kasmawati Anwar, S.Si, Apt

Suartin Mar, S.Farm

4. Jaringan Pelayanan Puskesmas

Unit Puskesmas Keliling : Syarifuddin, AMK

E. Sumber Daya Manusia (SDM) Puskesmas Toddopuli

Jumlah dan jenis pegawai di Puskesmas Toddupuli adalah:

1. Kepala Puskesmas : 1 orang

2. Dokter Umum : 2 orang

3. Dokter Gigi : 1 orang

4. Ka. Tata Usaha : 1 orang

5. Penyuluh Kes : 0 orang

6. Perawat : 4 orang

7. Apoteker : 1 orang

8. Farmasi : 1 orang

9. Sanitarian : 1 orang

10. Bidan : 3 orang

33
11. Perawat Gigi : 1 orang

12. Laboratorium : 1 orang

13. Gizi : 1 orang

F. Jenis-Jenis Pelayanan Pasien Rawat Jalan Puskesmas Toddopuli

Jenis pelayanan yang diberikan puskesmas Toddopuli adalah sebagai berikut.

1. Program Upaya Kesehatan Perorangan (UKP)

a. Poli Umum

b. Poli Gigi

c. Poli KIA dan KB

d. Poli TB, Kusta, dan Konseling HIV

e. Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)

f. Ruang Bersalin

g. Ruang Rawat Jalan Pasca Salin (One Day Care)

h. Imunisasi

i. Laboratorium

j. Apotek / Kamar Obat

k. Telemedicine EKG dan USG

l. UGD / Ruang Tindakan

m. Homecare 24 Jam

2. Program Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)

a. Program UKM Esensial

1) Upaya Promosi Kesehatan

2) Upaya Kesehatan Lingkungan

3) Upaya Kesehatan Ibu, Anak, dan Keluarga Berencana

4) Upaya Kesehatan Gizi

34
5) Upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

b. Program UKM Pengembangan

1) Program UKGS / UKGM

2) Program Kesehatan Lansia

3) Program Kesehatan Jiwa

4) Program Kesehatan Tradisional

5) Program UKK

6) Program UKS dan Kesehatan PKPR

7) Program Kesehatan Indra

8) Program Kesehatan Olahraga

9) Perkesmas

3. Program Inovasi

a. Kawasan Tanpa Asap Merokok dengan Pojok UBM

b. Pemantauan Pengelolaan Makanan Lintas Sektor

4. Program Unggulan

a. Lorong Sehat

 Wilayah Kecamatan Panakukang Kelurahan Paropo di RW.07 A, RT.A

lorong 08 Makassar

 Jalan Batua Raya berdekatan dengan wilayah Kelurahan Tello Baru dan

Kelurahan Batua Kecamatan Manggala, RW.V, RT.I Kelurahan Paropo

 Jalan Babussalam 2

b. Homecare

35
BAB IV
HASIL SURVEI

A. Data jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Toddopuli adalah sebanyak 16.476

orang.

Jumlah penduduk laki-laki : 7.944 orang.

Jumlah penduduk perempuan : 8.327 orang.

B. Data Jumlah Penderita Tuberkulosis

1. Tahun 2017

 4 penderita baru yang menjalani pengobatan.

2. Tahun 2018 (Januari-April 2018)

 8 penderita baru yang menjalani pengobatan.

C. Data Penderita Kelainan Jiwa Baru pada tahun 2018 (Juli 2018) adalah sebanyak 5

penderita. Berdasarkan kunjungan yang dilakukan didapatkan bahwa :

 1 penderita gangguan jiwa diakibatkan oleh faktor lingkungan, sikap keluarga

terhadap pasien dan pelayanan kesehatan

 1 penderita gangguan jiwa disebabkan oleh faktor lingkungan dan sikap keluarga

terhadap pasien

 1 penderita gangguan jiwa disebabkan oleh faktor perilaku, sikap keluarga terhadap

pasien

 1 penderita gangguan jiwa disebabkan oleh faktor perilaku, pelayanan kesehatan

 1 penderita gangguan jiwa disebabkan oleh sikap keluarga terhadap pasien dan

pelayanan kesehatan

36
D. Data Pasien

1. Penderita gangguan jiwa yang disebabkan oleh faktor lingkungan, pelayanan

kesehatan, dan sikap keluarga.

 Identitas pasien

Nama :H

Umur : 35 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Suku : Makassar

Alamat : Meranti IB/9

Status Perkawinan : Janda

Diagnosa : F20.9.

 Alloanamnesis

Berdasarkan wawancara dengan keluarga atau orang tua pasien didapatkan

pasien memiliki sifat yang mudah tersinggung dan sangat gampang untuk

marah. Sehingga pasien sering berselisih paham dengan keluarga ataupun

tetangga. Pasien tidak pernah berobat karena merasa tidak sakit sehingga tidak

adanya pendataan untuk pasien dengan gangguan jiwa . Keluarga pasien

mengaku jarang memperhatikan pasien karena merasa pasien tidak sakit dan

memang memiliki kebiasaan seperti itu.

2. Penderita gangguan jiwa disebabkan oleh faktor perilaku dan sikap keluarga

 Identitas Pasien

Nama :K

Umur : 38 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

37
Agama : Islam

Suku : Makassar

Alamat : Meranti I Lr. 3

Status Perkawinan : Menikah

Diagnosa : Anxietas

 Anamnesis

Berdasarkan dari hasil anamnesis pasien didapatkan pasien yang selalu merasa

suah tidur, gelisah, mondar-mandir tanpa alasan yang jelas, dan pasien selalu

merasa nyeri ulu hati dan selalu memeriksakan diri ke beberapa dokter namun

hasilnya normal. Pasien mengaku bahwa suami pasien tidak pernah percaya

dengan apa yang dikeluhkan oleh pasien dan sering berselisih paham dengan

suami pasien.

3. Penderita gangguan jiwa yang disebabkan oleh karena sikap keluarga dan

pelayanan kesehatan

 Identitas Pasien

Nama :M

Umur : 59 tahun

Jenis Kelamin : Perempuana

Agama : Islam

Suku : Makassar

Alamat : jl. Dirgantara

Status Perkawinan : Menikah

Diagnosa : F00.1

38
 Alloanamnesis

Berdasarkan hasil wawancara yang di dapatkan dari keluarga pasien mengaku

pasien kadang tidak mengenali orang sekitar, sering lupa dengan apa yang harus

dia lakukan (contohnya : pasien lupa untuk mematikan kompor setelah

memasak). Pasien merasa selalu sedih karena takut anaknya tidak selesai

sekolah oleh karena faktor ekonomi. Keluarga mengaku tidak pernah membawa

pasien berobat karena keluarga pasien merasa itu merupakan penyakit orang tua.

4. Penderita gangguan jiwa yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan sikap

keluarga terhadap pasien

 Identitas pasien

Nama :L

Umur : 38 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Kristen

Suku : Makassar

Alamat : jl. Dirgantara

Status Perkawinan : Janda

Diagnosa : F29

 Alloanamnesis

Berdasarkan hasil wawancara yang didapatkan dari keluarga pasien yaitu pasien

selalu melempari rumah tetangga karena pasien merasa suaminya berselingkuh

dengan tetangganya sehingga tetangga pasien jarang untuk bersosialisasi

dengan pasien. Pasien kadang mengamuk dan membanting barang di rumah.

Suami pasien pun meninggalkan pasien dan jarang pulang ke rumah karena

pasien selalu mengamuk.

39
5. Penderita gangguan jiwa yang disebabkan oleh faktor perilaku dan pelayanan

kesehatan

 Identitas pasien

Nama :F

Umur : 37 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Suku : Makassar

Alamat : Jl. Paropo I

Status Perkawinan : Menikah

Diagnosa : F29

 Alloanamnesis

Berdasarkan hasil wawancara dengan keluarga pasien telah didapatkan bahwa

pasien adalah seorang yang pendiam sejak kecil. Setelah remaja pasien sangat

rajin beribadah ke masjid tetapi beranjak dewasa pasien sering berbicara sendiri

seperti sedang berdakwah. Pasien mengaku bahwa pasien merupakan utusan

dari Tuhan. Keluarga pasien selalu ingin dibawa ke Rumah Sakit untuk

diperiksa namun pasien selalu menolak karena merasa dirinya tidak sakit.

40
BAB V
ANALISIS KASUS / MASALAH

Tahapan untuk mengetahui adanya masalah atau hambatan pada Puskesmas Toddopuli

mengenai Program Kesehatan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Toddopuli. Untuk

penyelesaiannya yaitu :

Kriteria :

Kriteria A : Besar Masalah (nilai 0-10)

Kriteria B : Kegawatan Masalah (nilai 1-5)

Kriteria C : Kemudahan Penanggulangan (nilai 1-5)

Kriteria D : PEARL faktor (nilai 0 atau 1)

A. Besar Masalah

1. Identifikasi Masalah
NO Masalah Sasaran Cakupan Selisih (%)
5 penderita 0 penderita
1 Genetik 0%
(100%) (0 %)
5 penderita 2 penderita
2 Lingkungan 60 %
(100%) (40 %)
5 penderita 2 penderita
3 Perilaku 60 %
(100%) (40 %)
5 penderita 3 penderita
4 Pelayanan Kesehatan 40 %
(100%) (60 %)
Sikap keluarga 5 penderita 4 penderita
5 20 %
terhadap pasien (100%) (80 %)

41
2. Besar Masalah

Penilaian besar masalah dengan menggunakan interval menggunakan rumus

sebagai berikut :

 Kelas N = 1 + 3,3 log n

= 1 + 3,3 log 6

= 1 + 3,3 (0,778)
= 1 + 2,57
= 3,57
=4
 Interval = (nilai tertinggi – nilai terendah)

Jumlah kelas

= (60 – 0 ) / 4

= 15

Besar Masalah Terhadap


Pencapaian Program
Interval
NO MASALAH NILAI
0-15 16-30 31-45 46-60
Nilai
2,5 5 7,5 10

1 Genetik X 2,5

2 Lingkungan X 10
3 Perilaku X 10
4 Pelayanan kesehatan X 7,5
Sikap keluarga terhadap
5 X 5
penderita

42
B. Kegawatan Masalah

Merupakan hasil rata-rata pengambilan suara dari 6 anggota kelompok mengenai 3

faktor tingkat kegawatan dengan bobot nilai :

Keganasan Skor Urgensi Skor Biaya Skor


Sangat
Sangat ganas 5 5 Sangat murah 5
mendesak
Ganas 4 Mendesak 4 Murah 4
Cukup Cukup
3 3 Cukup murah 3
berpengaruh mendesak
Kurang
Kurang ganas 2 2 Mahal 2
mendesak
Cukup ganas 1 Tidak mendesak 1 Sangat mahal 1

6. Keganasan Masalah

No MASALAH Keganasan Jumlah

Genetik (3+3+3+3+3+3)
1 3
6
Lingkungan (3+3+3+3+3+3)
2 3
6
Perilaku (3+3+3+3+3+3)
3 3
6

Pelayanan Kesehatan (3+3+3+3+3+3)


5 3
6

Sikap keluarga terhadap penderita (3+3+3+3+3+3)


6 3
6

7. Urgensi Masalah

MASALAH Urgensi Jumlah

Genetik (4+4+4+5+5+5)
4,5
6
Lingkungan (4+4+4+4+4+4)
4
6

43
Perilaku (5+5+5+5+5+5)
5
6

Pelayanan Kesehatan (5+5+5+5+5+5)


5
6

Sikap keluarga terhadap penderita (5+5+5+5+5+5)


5
6

3. Biaya

No MASALAH Biaya Jumlah

Genetik (3+3+3+4+4+4)
1 4,2
6
Lingkungan (3+3+3+4+4+4)
2 4,2
6
Perilaku (3+3+3+4+4+4)
3 4,2
6

Pelayanan kesehatan (3+3+3+4+4+4)


4 4,2
6

Sikap keluarga terhadap penderita (3+3+3+4+4+4)


5 4,2
6

Dari hasil diatas, didapatkan:

No MASALAH Keganasan Urgensi Biaya Total


Genetik
1 5 4,5 4,2 13,7

Lingkungan
2 5 4 4,2 13,2

Perilaku
3 5 5 4,2 14,2

Pelayanan Kesehatan
4 5 5 4,2 14,2

Sikat keluarga terhadap


5 penderita 5 5 4,2 14,2

44
C. Kemudahan Penanggulangan

KEMUDAHAN
No MASALAH Jumlah
PENANGGULANGAN

Genetik (3+3+3+3+3+3)
1 3
6
Lingkungan (3+3+3+3+3+3)
2 3
6
Perilaku (3+3+3+3+3+3)
3 3
6

Pelayanan kesehatan (3+3+3+3+3+3)


4 3
6

Sikap keluarga terhadap penderita (3+3+3+3+3+3)


5 3
6

D. Pearl Factor

Terdiri dari beberapa faktor yang saling menentukan yaitu:

 Properti : Kesesuaian dengan program daerah / nasional / dunia

 Economy : Memenuhi syarat ekonomi untuk melaksanakannya

 Acceptability: Dapat diterima oleh petugas, masyarakat, dan lembaga terkait

 Resources : Tersedianya sumber daya

 Legality : Tidak melanggar hukum dan etika

Skor yang digunakan diambil melalui 4 voting anggota kelompok

1 = Setuju

0 = Tidak Setuju

No MASALAH P E A R L

Genetik
1 1 1 1 1 1

Lingkungan
2 1 1 1 1 1

45
Perilaku
3 1 1 1 1 1

Pelayanan Kesehatan
4 1 1 1 1 1

Sikap Keluarga Terhadap Penderita


5 1 1 1 1 1

Penilaian Prioritas Masalah

Setelah Kriteria A, B, C, dan D ditetapkan, nilai tersebut dimasukkan ke dalam

rumus :

 Nilai Proritas Dasar (NPD) = (A+B) x C

 Nilai Proritas Total (NPT) = (A+B) x C x D

Jadi, adapun Besar Proritas Masalah :


NPD = NPT =
No MASALAH A B C D
(A+B)xC (A+B)xCxD

1 Genetik 2,5 13,7 3 1 43,6 43,6

2 Lingkungan 10 13,2 3 1 49,6 49,6

3 Perilaku 10 14,2 3 1 52,6 52,6

4 Pelayanan Kesehatan 7,5 14,2 3 1 50,1 50,1

Sikap Keluarga Terhadap


5 Penderita 5 14,2 3 1 47,6 47,6

46
Dari hasil tabel sebelumnya, didapatkan urutan dari proritas masalah adalah sebagai

berikut.

1. Perilaku

2. Pelayanan Kesehatan

3. Lingkungan

4. Sikap Keluarga Terhadap Penderita

5. Genetik

Nilai Masalah tertinggi di Puskesmas Toddopuli adalah Perilaku. Maka dengan dasar

inilah, Perilaku akan menjadi prioritas untuk pencarian solusi dari masalah ini.

Identifikasi Penyebab Masalah dengan Analisis Pendekatan Sistem

KOMPONEN KEMUNGKINAN PENYEBAB MASALAH

Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai


MAN
penyakit Gangguan Jiwa
MONEY Tidak ada masalah
INPUT Kurangnya media seperti brosur yang
MATERIAL
menjelaskan mengenai penyakit Gangguan Jiwa
METODE Tidak ada masalah.
MARKETING Tidak ada masalah.
 Tempat tinggal penderita merupakan
kawasan padat penduduk
LINGKUNGAN  Sebagian masyarakat menganggap bahwa
Gangguan Jiwa merupakan sesuatu yang
memalukan.
PROSES P1 Tidak ada masalah.
Keterlambatan deteksi penderita Gangguan jiwa
P2
sebelum menjalani pengobatan.
P3 Tidak ada masalah.

47
Jadi, dapat disimpulkan adapun penyebab masalah berdasarkan hasil identifikasi
kelompok kami, diantaranya sebagai berikut.
a. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai gangguan kesehatan jiwa.
b. Kurangnya media seperti brosur yang menjelaskan mengenai gangguan kesehatan
jiwa.
c. Tempat tinggal penderita merupakan kawasan padat penduduk
d. Sebagian masyarakat menganggap bahwa gangguan kesehatan jiwa merupakan
sesuatu yang memalukan.
e. Keterlambatan deteksi penderita gangguan jiwa sebelum menjalani pengobatan.

Tabel Paired Comparison

a b c d e Total
a b a a a 3
b b b b 3
c d e 0
d e 0
e 0
Total
0 1 0 1 2
Vertikal
Total
3 3 0 0 0
Horizontal

Total 3 4 0 1 2 10

Tabel Kumulatif

b 4 4/10 X 100 % 40 % 60 %

a 3 3/10 X 100 % 30 % 70 %

e 2 2/10 X 100 % 20 % 80 %
d 1 1/10 X 100 % 10 % 90 %
c 0 0/10 X 100 % 0% 100 %

TOTAL 10 100%

48
Berdasarkan nilai kumulatif untuk menyelesaikan suatu masalah yang berupa
rendahnya cakupan belum mencapai 80%, diantaranya adalah:
a. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai gangguan kesehatan jiwa.
b. Kurangnya media seperti brosur yang menjelaskan mengenai gangguan
kesehatan jiwa.
c. Tempat tinggal penderita merupakan kawasan padat penduduk
d. Sebagian masyarakat menganggap bahwa gangguan kesehatan jiwa merupakan
sesuatu yang memalukan.
e. Keterlambatan deteksi penderita gangguan jiwa sehingga pasien terlambat dalam
menjalani pengobatan.

49
BAB VI
KESIMPULAN

Selama kami menjalani kepaniteraan klinik bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat di

Puskesmas Toddopuli Makassar, kami telah mengikuti beberapa kegiatan di Puskesmas.

Dari hasil analisis kasus masalah didapatkan masalah tertinggi pada program

kesehatan jiwa di Puskesmas Toddopuli Makassar adalah lingkungan dan perilaku, hal ini

dapat disebabkan adanya beberapa masalah, yaitu :

a. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai gangguan kesehatan jiwa.


b. Kurangnya media seperti brosur yang menjelaskan mengenai gangguan
kesehatan jiwa.
c. Tempat tinggal penderita merupakan kawasan padat penduduk
d. Sebagian masyarakat menganggap bahwa gangguan kesehatan jiwa merupakan
sesuatu yang memalukan.
e. Keterlambatan deteksi penderita gangguan jiwa sehingga pasien terlambat dalam
menjalani pengobatan.

Sehingga dari penyebab tersebut didapatkan Planning Of Action nya adalah sebagai
berikut.
1. Pembinaan dan pemberdayaan kader lebih ditingkatkan
2. Penyuluhan dan sosialisasi tentang gangguan kesehatan jiwa lebih ditingkatkan
3. Penyediaan dan pembagian brosur mengenai gangguan kesehatan jiwa.

50
DAFTAR PUSTAKA

1. Permenkes. 2009. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

2. Depkes RI. Profil kesehatan Indonesia 2001 Menuju Indonesia sehat

2010. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 2002:40.

3. Cakrawati dan Mustika NH, Dewi. (2012). Bahan Pangan, Gizi ,Dan Kesehatan.

Bandung : Alfabeta.

4. Kementrian Kesehatan.(2014) Undang Undang No 18 Tahun 2014 Tentang

Kesehatan jiwa.

5. Pieper, J. & Uden, M. V. (2006) Religion in Coping and Mental Health

Care, New York: Yord University Press, Inc.

6. Notosoedirdjo & Latipun. (2007). Kesehatan Mental, Konsep dan Penerapan.

Jakarta: EGC

7. Videbeck, Sheila L,. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

8. Stuart, G. W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa . Edisi 5. Jakarta. EGC.

9. Nurjannah., I., (2004). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta.

10. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014. Jakarta : Kemenkes RI;

2015.

11. Isfandari, S., & Lolong, D. B. (2014). Analisa faktor risiko dan status kesehatan

remaja indonesia pada dekade mendatang. Buletin Penelitian

Kesehatan, 42 (02), 122 - 130.

12. Kemenkes Ri. 2013. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta: Balitbang

Kemenkes Ri

51
13. Kemenkes. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019. Jakarta:

Kementerian Kesehatan RI; 2015.

14. Effendi, F & Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan

Praktek Dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba medika.

15. Adawiyah, R. (2012). Gambaran kesehatan jiwa pada anak usia sekolah di sd

negeri 200208 padangsidimpuan selatan pemerintah kota

padangsidimpuan. Skripsi strata satu, Universitas Sumatera Utara,

Medan.

16. Iyus, Yosep. 2007. Keperawatan Jiwa, Edisi 1. Jakarta : Refika Aditama.

17. Yosep, I, 2009, Keperawatan Jiwa, Edisi Revisi, Bandung : Revika Aditama.

18. Puri, B.K., Laking, P.J., & Treasaden, I.H., 2011. Buku Ajar Psikiatri Edisi 2.

Jakarta : EGC

19. Maramis. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2. Surabaya: Airlangga.

20. Nasir, Abdul dan, Abdul, Muhith. 2011. Dasar-dasar Keperawatan jiwa,

Pengantar dan Teori. Jakarta: Salemba Medika.

21. Suyoko. (2012). Faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan gangguan mental

emosional pada lansia di dki jakarta (analisis data riskesda 2007).

Skripsi strata satu, Universitas Indonesia, Depok.

22. Idaiani. 2010. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University

Press.

23. Idaiani, Sri; Suhardi; Antonius Yudi Kristanto. 2009. Analysis of Mental Emotional

Disorder Symptoms in Indonesian People. Majalah kedokteran

Indonesia. Volume: 59, Nomor: 10, Oktober 2009

52
24. Suryaningrum, Sri (2012). Hubungan antara beban keluarga dengan kemampuan

keluarga merawat pasien perilaku kekerasan di poliklinik Rumah Sakit

Marzoeki Mahdi Bogor (jurnal). Ilmu keperawatan: Universitas

Indonesia

25. Keliat, B. A. 2009. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta: ECG.

26. Maramis, W.F. 2004. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Surabaya: Airlangga

University press.

27. Stuart, G. W. & Sundeen. (2008). Buku saku keperawatan jiwa (edisi 3), alih

bahasa, Achir Yani, editor Yasmin Asih. Jakarta: EGC.

28. Djamaludin. (2010). Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

29. Wahyu, S. (2012). Buku saku keperawatan jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.

30. Dit, J. Y. (2008). Teori dan tindakan keperawatan jiwa. Jakarta : Departemen

Kesehatan RI.

53