Anda di halaman 1dari 24

Hasil Temuan

Evaluasi Sasaran-
sasaran pada Peta
Jalan Menuju Jaminan
Kesehatan Nasional

Topik Tata Kelola


Menghadapi Mari kita ulas….
Apakah Kebijakan JKN selama 5 tahun
Tantangan pelaksanaannya telah dikelola dgn secara
Jaminan terbuka?
Kesehatan Kebijakan JKN bertumpu pd UU SJSN/UU BPJS
Kesehatan, Apakah telah berjalan harmonis dgn
dengan Tata sistem kesehatan nasional dan uu sektor
kesehatan lainnya?
Kelola JKN yang
Apakah tdk terjadi benturan dlm pembentukan
lebih efisien, atau pelaksanaannya?
transparan dan Lalu, Bagaimana Tata pemerintahan sektor
kesehatan di daerah yg tersistem desentralisasi
akuntabel (otonomi daerah) era JKN?
Peran PEMDA sebagai regulator dan pengawas?
Tetap Tegak, atau melemah?
TOPIK TATA KELOLA
• Sasaran 1; BPJS Kesehatan beroperasi dengan baik.
• Sasaran 5; Semua peraturan pelaksanaan telah disesuaikan secara
berkala untuk menjamin kualitas layanan yang memadai dengan
harga keekonomian yang layak.
• Sasaran 8; BPJS dikelola secara terbuka, efisien, dan akuntabel.
Sasaran 1; BPJS Kesehatan beroperasi dengan baik.

Definisi Operasional: Pemerintah


Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota
dapat mengakses data BPJS
Kesehatan, seperti;
- data iuran Peserta JKN,
- data tunggakan iuran peserta
JKN, dan
- data jumlah biaya (kapitasi/non-
kapitasi/klaim INA-CBGs)
Sehingga Pemerintah daerah dapat
berpartisipasi akstif menurunkan
jumlah defisit JKN
Identifikasi sumber defisit BPJS Kesehatan
berdasarkan Kategori Peserta Secara Nasional
Surplus pada peserta
10,000.0 kategori PBI, ASN dan
Peserta Formal
5,000.0

-
2014 2015 2016 2017

(5,000.0)

(10,000.0)

(15,000.0)

(20,000.0)
Peningkatan defisit terus
Orang miskin dan tidak mampu ASN, TNI, dan Polri Pekerja formal swasta
terjadi pada segmen
Didaftarkan Pemda Bukan pekerja Pekerja informal peserta bukan pekerja dan
pekerja Informal

Sumber: Kementerian Keuangan, BPJS Kesehatan, 2018


Identifikasi sumber defisit BPJS Interpretasi
Kesehatan berdasarkan Kategori Peserta data
Secara Nasional
Surplus pada peserta kategori
PBI, ASN dan Peserta Formal
10,000.0

5,000.0

- Dana PBI dipakai oleh


2014 2015 2016 2017
(5,000.0) Kelompok PBPU, Meski
(10,000.0) Single Pooling ditambah dengan subsidi
(15,000.0) dari pemerintah pusat.
(20,000.0) DEFISIT TETAP
Orang miskin dan tidak mampu
Pekerja formal swasta
ASN, TNI, dan Polri
Didaftarkan Pemda
Defisit terus meningkat pada
segmen peserta bukan pekerja
TERJADI
Bukan pekerja Pekerja informal dan pekerja Informal

Sumber: Kementerian Keuangan, BPJS Kesehatan, 2018

Gotong Royong Terbalik


Apakah stakeholders di
daerah mengetahui
pengelolaan keuangan
dana JKN?
Temuan Hasil Penelitian di 7 Provinsi
Data pengelolaan Keuangan tidak dapat diakses oleh
pemerintah daerah

Yogyakarta Bengkulu
Jawa Timur Nusa Tenggara Timur
Jawa Tengah Sulawesi Utara
Sumatera Utara yang memiliki kapasitas SDM terbatas
mengalami hal yang sama, sulit akses
yang telah mengupayakan data tunggakan dan data iuran. Sehingga,
pertemuan koordinasi dengan BPJS pemerintah provinsi kesulitan dalam
Kesehatan agar terjadi komunikasi melakukan evaluasi dan monitoring
dan akses ke data kepesertaan yang tunggakan pada peserta JKN di daerah
lebih lengkap, tetap mengalami masing-masing.
kesulitan dalam mengakses data
tersebut.

Pemerintah daerah tidak dapat berkontribusi untuk menurunkan angka defisit


• Ketersediaan dan keterbukaan Mechanism • Pengambilan
data terkait implementasi
kebijakan JKN, termasuk data •Para pengambilan keputusan di
Keputusan progam
peserta dan keuangan daerah termotivasi kesehatan
meningkatkan partisipasi aktif menggunakan data
untuk mengurangi defisit di
daerah dengan pembuatan pengelolaan keuangan
kebijakan dan program berbasis JKN.
bukti (data pengelolaan JKN di
Context daerah) Outcome

CMO yang muncul dalam penelitian ini

Context Mechanism Outcome


Keterbatasan akses Pemerintah daerah Pemerintah daerah tidak
pemerintah daerah atas menjadi kebingungan berkontribusi secara
data iuran, data mengenai kebutuhan optimal dalam isu defisit
tunggakan dan data biaya dan kebijakan yang JKN. (outcome yang
jumlah biaya JKN di perlu disiapkan. tidak dikehendaki).
daerah.
Sasaran 5; Semua peraturan pelaksanaan telah disesuaikan secara berkala untuk
menjamin kualitas layanan yang memadai dengan harga keekonomian yang layak.

Definisi Operasional :
Kebijakan JKN di tingkat pusat
berjalan selaras dengan kebijakan
daerah (Harmonis) dan dapat
diimplementasikan, sehingga
kebijakan JKN dapat mewujudkan
pelayanan kesehatan yang
memadai dan harga keekonomian
yang layak sesuai peraturan UU
SJSN, UU BPJS, UU Kesehatan.
POLEMIK LEGISLASI ;
Koordinasi dan Partisipasi
MA membatalkan ketiga Peraturan BPJS
Kesehatan
BPJS Kesehatan tidak berwenang
(1) Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan mengatur aturan tersebut
Nomor 2 Tahun 2018 Tentang Penjaminan Pelayanan
Katarak Dalam Program Jaminan Kesehatan, BPJS Kesehatan harus
(2) Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan melakukan koordinasi dengan
Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Penjaminan Pelayanan kementerian lainnya sebelum
Persalinan Dengan Bayi Lahir Sehat, dan mengeluarkan peraturannya
(3) Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan
Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Penjaminan Pelayanan
Rehabilitasi Medik. Kewenangan
Kelembagaan perlu
diperjelas antara BPJS
Kesehatan, DJSN dan
Kementerian Kesehatan.
Fenomena di 7 Provinsi

Jawa Timur Yogyakarta, Jawa Bengkulu dan NTT Yogyakarta dan


Tengah, Sumatera
Dana SILPA yang Utara, dan Bengkulu tidak bisa
Jumlah puskesmas
masih mengendap Sulawesi Selatan menjalankan Pergub
yang belum BLUD
mengakibatkan Dana Kapitasi masih besar, namun rujukan berjenjang
penggunaan dana terserap dengan semenjak adanya
belanja dana kapitasi
kapitasi masih baik bagi digunakan secara kebijakan rujukan
memiliki kendala puskesmas-
optimal online.
untuk puskesmas puskesmas telah
memiliki
yang belum BLUD manajemen BLUD.
• Di daerah dengan inovasi Mechanism • Koordinasi yang selaras
pelayanan publik terbaik antara BPJS Kesehatan
dengan stakeholder terkait
seperti DI Yogyakarta,
penyelenggaraa JKN (pusat-
Jawa Tengah, dan Jawa • Pemerintah daerah yang daerah) dalam perumusan
Timur memiliki SDM atau ASN kebijakan pelayanan
termotivasi untuk kesehatan yang memadai dan
merumuskan kebijakan sesuai keekonomian yang
daerah yang adaptif terkait layak
penyelenggaraan JKN dengan
program atau kebijakan di
daerah.

Context Outcome

CMO yang muncul dalam penelitian ini

Context Mechanism Outcome


Provider tidak Pelayanan
Kebijakan BPJS Kesehatan memiliki posisi tawar kesehatan menjadi
yang dibentuk berganti- yang seimbang,
ganti mengikat provider tidak memiliki
namun berusaha
yang bekerja sama kepastian
menyesuaikan diri
dengan kebijakan
yang dibentuk.
Sasaran 8; BPJS dikelola secara terbuka, efisien, dan
akuntabel.
Definisi operasional: Data
kepersertaan by name by address
Peserta JKN dapat diakses oleh
pemerintah daerah (keterbukaan
data) dan data tersebut dapat
digunakan dalam proses
perencanaan program kesehatan
dan peningkatan cakupan
kepesertaan JKN.
Temuan Hasil Penelitian di 7 Provinsi
Data Kepersertaan juga tidak dapat diakses oleh
pemerintah daerah secara optimal

- Bengkulu - Sumatera utara


- Jawa Tengah - Sulawesi Selatan
- DIY - Jawa Timur
pemerintah daerah melaporkan - NTT
bahwa mereka mendapatkan
laporan BPJS kesehatan tentang
peserta JKN yang belum
melengkapi Nomor induk - Pada tingkat Kabupaten/kota,
kependudukan. Namun data tidak ada satu daerah yang
yang dilaporkan tetap dalam memiliki akses
bentuk presentasi belum secara
rinci. belum memiliki akses terhadap
data kepesertaan sama sekali

Pemerintah daerah belum dapat mengidentifikasi secara jelas peserta pada segmen PBI dan tidak
dapat menggunakan data kepersertaan dalam program peningkatan cakupan.
• Pengelolaan data keuangan Mechanism • Perencanaan dan
JKN secara terbuka penganggaran tepat sasaran
digunakan untuk dan konsisten
kepentingan publik • OPD dapat menganalisa
(Kementerian, Pemda dan secara komprehensif
Institusi lainnya) dan BPJS perencanaan dan
Kesehatan termasuk data by penganggaran kebijakan Outcome
name by address kesehatan Kab/Kota

Context

CMO yang muncul dalam penelitian ini

Context Mechanism Outcome


BPJS Kesehatan Data Kepersertaan JKN dari
Data penyelenggaran BPJS Kesehatan belum
Cabang tidak digunakan dalam
JKN dari BPJS memiliki kewenangan perencanaan dan
Kesehatan bersifat untuk mengeluarkan penganggaran program
sentralistik dan data yang diperlukan kesehatan dan peningkatan
tertutup akses untuk cakupan daerah
oleh Pemerintah
pemerintah daerah Daerah
UU menyatakan tanggung jawab BPJS Temuan Topik Tata Kelola
Kesehatan langsung kepada presiden

Fragmentasi sistem JKN dari Sistem


Kesehatan

Aktor yang berwenang dalam


mengontrol BPJS Kesehatan belum kuat

Fragmented
Aturan teknis yang eksplisit mengenai
koordinasi kewajiban dan dukungan
belum cukup kuat memaksa BPJS
Kesehatan

BPJS Kesehatan belum mendukung


sistem desentralistik daerah
Sistem Kementerian Kesehatan dan Sistem Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) berjalan terpisah (fragmented).

Ketidaksesuaian sistem BPJS Kesehatan yang bersifat sentral


dengan pemerintahan daerah yang desentralisasi menimbulkan
Kesimpulan ketidakharmonisan dalam perencanaan kebijakan dan anggaran
lokal (pemerintah daerah).
Hasil Tata Sifat sentral dari BPJS Kesehatan mengakibatkan terbatasnya
Kelola JKN proses pembuatan kebijakan berbasis data serta implementasi
program termasuk dalam meningkatkan peran serta pemerintah
daerah dalam menangani masalah defisit pendanaan JKN

Tata kelola yang terpisah (fragmented) mengakibatkan defisit BPJS


yang sudah terjadi sejak awal implementasi JKN tidak diatasi
dengan tepat.
Apakah upaya
ini sudah
tepat?
Tabel Rasio Klaim
No Kantor Biaya Manfaat Penerimaan di Rasio (%)
Cabang Daerah
1 Yogyakarta 1.044.207.617.941 251.115.248.497 415,98%
Defisit
2 Sleman 1.080.215.907.143 207.262.768.796 521,18%
Total 2.124.423.525.084 458.378.017.293 463,47%
Sumber : Laporan SE BPJS Kesehatan 3 Oktober 2018

Penerimaan Iuran Pengeluaran JKN (Rp miliar) Estimasi Dana Sisa


Peserta (Rp miliar) Malaka Gowa (Rp miliar)
Malaka Gowa FKTP FKTL FKTP FKTL Malaka Gowa
PBI 24 81
Non PBI 6 58 7.5 9.5 21.3 36.7 13 81 Surplus

Total 30 139 17 58 13 81

Sumber : diolah dari data Pemda Kab Malaka dan Dinkes Kab. Gowa , 2017
Alternatif solusi (1)
Defisit Kelompok peserta Kantong Uang PBI untuk PBI
Adil Kantong Uang PBPU untuk
PBPU JKN menggunakan
PBPU
dana PBI

kompartemen
Single pooling
Tepat Sasaran
Pooling

dengan
Single

Semua dana Dana


tercampur persegmen

Efisien

Daerah Kaya menggunakan Defisit pada daerah kaya dapat


dana JKN daerah terbatas Bertanggung dibiayai oleh PEMDAnya sendiri
jawab

Dana cadangan dan surplus


Dana cadangan dipakai dipakai untuk menjalankan
untuk menutup defisit skema kompensasi dan
Bagaimana tanggapan kita?
pembangunan daerah terbatas
Alternatif solusi (2)
Perpress 82
tahun 2018
UU menyatakan tanggung jawab BPJS
Kesehatan langsung kepada presiden

Fragmentasi sistem JKN dari Sistem


Kesehatan
Efektif dalam

Fragmentasi
Kuat dan
semua
Aktor yang berwenang dalam mengontrol memaksa
BPJS Kesehatan belum kuat masalah
seluruh pihak
fragmentasi
Aturan teknis yang eksplisit mengenai
Wewenang Sesuai dengan
koordinasi kewajiban dan dukungan tiap aktor arah
belum cukup kuat memaksa BPJS
Kesehatan jelas kebijakan
BPJS Kesehatan belum mendukung sistem
desentralistik daerah
Alternatif Bagaimana tanggapan?
solusi (3) Anak Panah Tambahan untuk Perpress
82 tahun 2018
UU SJSN dan UU BPJS yang bersifat sentral perlu
disesuaikan dengan UU Pemerintahan dan UU
Kesehatan yang terdesentraliasasi
Fragmentasi Sistem

Kualitas regulasi sangat dipengaruhi oleh koordinasi


pembuatan regulasi, pemetaan kualitas sumber
daya manusia dan kepentingan harus jelas.

Kebutuhan pengawasan dan evaluasi keberlanjutan


terhadap sistem JKN dan Sistem Pemerintahan diatur
secara jelas dan terukur sehingga dapat dipergunakan
untuk kebijakan yang diambil.
Disusun Oleh
M. Faozi Kurniawan, Relmbuss Biljers Fanda & Tri Aktariyani
Peneliti PKMK FKKMK UGM 2019