Anda di halaman 1dari 20

ANALISIS PROYEKSI PENDUDUK DALAM PERENCANAAN

KEBUTUHAN PERUMAHAN KECAMATAN WARU, KABUPATEN


SIDOARJO TAHUN 2018-2028

PROPOSAL SKRIPSI

OLEH:
DIORAHMA INDRA MAHESWARA
NIM 160722614626

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
PROGRAM STUDI GEOGRAFI
OKTOBER 2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang dengan
angka pertambahan penduduk mencapai angka 1,49 % setahun (BPS, 2010).
Pertumbuhan penduduk yang semakin pesat banyak menimbulkan
permasalahan baru di atas lahan. Pertumbuhan penduduk ini akan
menyebabkan kebutuhan akan lahan sebagai ruang untuk tempat aktivitas
mereka semakin meningkat dan akan menimbulkan semacam kompetisi
untuk mendapatkan ruang yang cocok sesuai dengan berbagai kepentingan
dan keperluan manusia. Menurut Arini (2009) terjadinya pertambahan
jumlah penduduk mempengaruhi proses pembangunan dan perkembangan
aktivitas suatu wilayah serta meningkatnya kebutuhan akan ruang/lahan.
Meningkatnya jumlah penduduk di suatu wilayah, akan
menyebabkan peningkatan penyediaan kebutuhan hidup masyarakat.
Kebutuhan hidup masyakarat tersebut dapat bersifat fisik seperti seperti
perumahan, sarana dan prasarana, maupun bersifat non fisik seperti
pendidikan, ekonomi, dan rekreasi. Selain itu kepadatan penduduk juga
seringkali menimbulkan permasalahan dalam penataan keruangan akibat
besarnya tekanan penduduk terhadap lahan. Pada daerah-daerah yang
penduduknya padat dan persebarannya tidak merata akan menghadapi
masalah-masalah seperti masalah perumahan, masalah pekerjaan, masalah
pendidikan, masalah pangan, masalah keamanan dan dapat berdampak pada
kerusakan lingkungan (Soejani, dkk, 1987).
Kecamatan Waru merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk
paling tinggi di Kabupaten Sidoarjo. Hal ini disebabkan karena letak
Kecamatan Waru yang berdekatan dengan pusat kegiatan pemerintahan
provinsi, yakni Kota Surabaya yang merupakan ibu kota provinsi Jawa
Timur. Berdasarkan data sensus penduduk Tahun 2010, Kecamatan Waru
dengan luas 30,32 km2 memiliki jumlah penduduk 231.298 jiwa, sehingga
kepadatan penduduknya dapat mencapai 7.629 jiwa per km2. Angka
kepadatan penduduk di Kecamatan Waru tersebut merupakan angka yang
paling tinggi jika dibandingkan dengan kecamatan lain di Kabupaten
Sidoarjo.
Tabel 1.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Per-Kecamatan di
Kabupaten Sidoarjo Berdasarkan Sensus Penduduk 2010

No. Kecamatan Luas (km2) Jumlah Penduduk Kepadatan


1 Waru 30.32 231298 7629
2 Taman 31.54 212857 6749
3 Gedangan 24.06 132847 5521
4 Krian 32.5 118685 3652
5 Candi 40.67 145146 3569
6 Sukodono 32.68 111121 3400
7 Sidoarjo 62.56 194051 3102
8 Tulangan 31.21 87422 2801
9 Tanggulangin 32.29 84580 2619
10 Buduran 41.03 92334 2250
11 Porong 29.82 65909 2210
12 Balongbendo 31.4 66865 2129
13 Wonoayu 33.92 72009 2123
14 Prambon 34.23 68336 1996
15 Krembung 29.55 58358 1975
16 Tarik 36.06 60977 1691
17 Sedati 79.43 92468 1164
18 Jabon 81 49989 617
Total 714.27 1945252 55198
Sumber: BPS, Sensus Penduduk Kabupaten Sidoarjo (2010)

Perumbuhan dan perkembangan suatu wilayah dapat dilihat dari


munculnya berbagai kebutuhan dan keinginan manusia seperti tersedianya
sarana dan prasarana pendukung seperti industri, perumahan, rumah sakit,
sekolah, transportasi yang menunjukkan adaanya kecenderungan penduduk
untuk tinggal dan menetap di wilayah tersebut. Hal ini mengakibatkan
jumlah penduduk mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini
berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman
pada masa yang akan datang.
Hollingworth (1979), didalam Warpani (1980), menyebutkan
analisa penduduk telah diyakini merupakan hal yang sangat penting dalam
perencanaan kota maupun daerah, dimana salah satu hal yang penting
dalam analisa penduduk yaitu mengetahui perkiraan (proyeksi) jumlah
penduduk dimasa datang. Adanya proyeksi dimasa mendatang
mempermudah dalam memprediksi kebutuhan perumahan dan permukiman
dibeberapa tahun kedepan. Dengan mengetahui jumlah kebutuhan
perumahan di masa mendatang, pemerintah bisa mengambil kebijakan atau
perencanaan dalam menyediakan lahan untuk permukiman sehingga
perkembangan permukiman di masa mendatang tidak menyalahi
peruntukannya dan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW)
tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan dari penelitian ini
adalah untuk melakukan analisis proyeksi penduduk dalam perencanaan
kebutuhan perumahan pada tahun 2018 sampai tahun 2028 di Kecamatan
Waru, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, permsalahan yang akan dibahas dalam
penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana proyeksi penduduk Kecamatan Waru tahun 2018-2028
berdasarkan proyeksi asumsi tetap, turun 25% dan turun 50%?
2. Bagaimana pengaruh proyeksi penduduk terhadap kebutuhan perumahan
Kecamatan Waru tahun 2018-2028 berdasarkan proyeksi asumsi tetap,
turun 25% dan turun 50%?
3. Berapa jumlah luas kebutuhan perumahan Kecamatan Waru tahun 2018-
2028 berdasarkan proyeksi asumsi tetap, turun 25% dan turun 50%?
4. Bagaimana pola persebaran pemukiman yang ada di Kecamatan Waru?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian pada skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui jumlah penduduk Kecamatan Waru tahun 2018-2028
berdasarkan proyeksi asumsi tetap, turun 25% dan turun 50%.
2. Mengetahui pengaruh proyeksi penduduk terhadap jumlah kebutuhan
perumahan Kecamatan Waru tahun 2018-2028 berdasarkan proyeksi
asumsi tetap, turun 25% dan turun 50%.
3. Mengetahui jumlah luas kebutuhan perumahan Kecamatan Waru tahun
2018-2028 berdasarkan proyeksi asumsi tetap, turun 25% dan turun
50%.
4. Mengetahui pola persebaran pemukiman yang ada di Kecamatan Waru.

1.4 Manfaat Penelitian


Dalam penulisan skripsi ini, diharapkan mampu memberikan manfaat
sebagai berikut:
1. Memberikan informasi kepada pembaca tentang proyeksi penduduk
Kecamatan Waru beberapa tahun yang akan datang dan diharapkan
dapat mempermudah dalam memprediksi kebutuhan perumahan dan
permukiman dibeberapa tahun kedepan.
2. Dengan mengetahui jumlah kebutuhan perumahan di masa mendatang,
pemerintah bisa mengambil kebijakan atau perencanaan dalam
menyediakan lahan untuk permukiman sehingga perkembangan
permukiman di masa mendatang tidak menyalahi peruntukannya dan
sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) tersebut.

1.5 Hipotesis
H0 = prediksi kebutuhan akan perumahan tidak dipengaruhi oleh proyeksi
penduduk
H1 = proyeksi penduduk akan mempengaruhi prediksi kebutuhan
perumahan
1.6 Jabaran Variabel
Dalam penelitian ini variable yang digunakan dijabarkan sebagai berikut:
Variabel yang
Jenis Variabel Indikator
digunakan
Variabel Bebas Proyeksi Penduduk - Jumlah penduduk laki-laki
dan perempuan usia 0 hingga
75+
- Setiap tahun diasumsikan
memiliki laju pertumbuhan
yang sama.
Variabel Terikat Kebutuhan - Jumlah penduduk laki-laki
Perumahan dam permpuan usia 0 hingga
75+
- Jumlah anggota keluarga
- Luas lahan permukiman
Variabel Antara Kepadatan Penduduk - Jumlah penduduk laki-laki
dam permpuan usia 0 hingga
75+
- Luas wilayah
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pertumbuhan Penduduk dan Kepadatan Penduduk


1. Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di
suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan waktu
sebelumnya. Prediksi jumlah penduduk yang akan datang dapat
bermanfaat untuk mengetahui kebutuhan dasar penduduk, tidak hanya di
bidang sosial dan ekonomi tetapi juga di bidang pemenuhan kebutuhan
akan lahan misalnya penggunaan lahan (BPS Indonesia, 2010).
Badan Pusat Statistik Indonesia (2010) menyatakan pertumbuhan
penduduk suatu wilayah atau negara dapat dihitung dengan
membandingkan jumlah penduduk awal (misal P0) dengan jumlah
penduduk di kemudian hari (misal Pt). Tingkat pertumbuhan penduduk
dapat dihitung dengan menggunakan rumus geometrik. Dengan rumus
pertumbuhan geometrik, angka pertumbuhan penduduk (rate of growth)
sama untuk setiap tahun, rumusnya:

Pt = P0 (1+r)t

Keterangan:
P0 = jumlah penduduk awal
Pt = jumlah penduduk t tahun kemudian
r = tingkat pertumbuhan penduduk
t = jumlah tahun dari 0 ke t

Menurut Fandeli. (2008) perkembangan penduduk menyebabkan


pemanfaatan sumber daya alam yang tidak memperhatikan kelestarian.
Perkembangan penduduk menyebabkan kebutuhan lahan semakin
meningkat dan menyebabkan peralihan fungsi hutan ke penggunaan yang
lain. Selanjutnya Sitorus et al. (2010) menyatakan perkembangan jumlah
penduduk yang terlalu banyak dapat mengakibatkan penggunaan
sumberdaya yang berlebihan. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk
mengakibatkan perubahan penggunaan lahan yang tidak memperhatikan
kaidah konservasi yang dapat mengkibatkan bencana banjir, longsor, dan
kekeringan yang merupakan bukti dari perubahan penggunaan lahan yang
berakibat terhadap kerusakan lahan. Semakin besar perubahan penggunaan
lahan yang dilakukan oleh manusia dapat berakibat terhadap munculnya dan
meluasnya lahan kritis (Kodoatie dan Sjarief, 2008)

2. Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk adalah suatu keadaan yang dikatakan
semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu
semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya (Sarwono, 1992).
Kepadatan penduduk adalah perbandingan antara jumlah penduduk
dengan luas wilayah yang dihuni (Mantra, 2007). Kepadatan penduduk
merupakan indikator dari pada tekanan penduduk di suatu daerah.
Kepadatan di suatu daerah dibandingkan dengan luas tanah yang
ditempati dinyatakan dengan banyaknya penduduk per kilometer persegi.
Kepadatan penduduk dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒆𝒏𝒅𝒖𝒅𝒖𝒌 (𝒋𝒊𝒘𝒂)
Kepadatan Penduduk = 𝒍𝒖𝒂𝒔 𝒘𝒊𝒍𝒂𝒚𝒂𝒉 (𝒌𝒎𝟐 )

Jumlah penduduk yang digunakan sebagai pembilang dapat


berupa jumlah seluruh penduduk di wilayah tersebut, atau bagian-bagian
penduduk tertentu seperti: penduduk daerah perdesaan atau penduduk
yang bekerja di sektor pertanian, sedangkan sebagai penyebut dapat
berupa luas seluruh wilayah, luas daerah pertanian, atau luas daerah
perdesaan. Kepadatan penduduk di suatu wilayah dapat dibagi menjadi
empat bagian (Kajian Kependudukan, 2015):

a) Kepadatan penduduk kasar (crude density of population) atau sering


pula disebut dengan kepadatan penduduk aritmatika, yaitu
menunjukkan banyaknya jumlah penduduk untuk setiap kilometer
persegi luas wilayah
b) Kepdatan penduduk fisiologis (physicological density), yang
menyatakan banyak nya penduduk untuk setiap kilometer persegi
wilayah lahan yang ditanami (cul tivable land).
c) Kepadatan Agraris (Agriculture Density), menunjukkan banyaknya
pen duduk petani untuk setiap kilometer persegi wilayah cultivable
land.
d) Kepadatan penduduk ekonomis, adalah perbandingan antara jumlah
penduduk dengan luas lahan berdasarakan kapasitas produksinya.

Berdasarkan pendapat para ahli tentang kepadatan penduduk


maka dapat disimpulkan bahwa kepadatan penduduk merupakan suatu
keadaan di mana semakin padat jumlah manusia pada suatu wilayah yang
dihuni. Dalam hal ini luas wilayah tidak dapat mencukupi kebutuhan
penduduk akan ruang di suatu pemukiman. Kepadatan penduduk yang
tidak terkendali mengakibatkan dampak buruk terhadap lingkungan
seperti semakin terbatasnya sumber daya pokok, tidak tercukupinya
fasilitas sosial dan kesehatan, dan tidak tercukupinya lapangan pekerjaan
bagi tenaga kerja yang ada.

2.2 Proyeksi Penduduk


Dalam rangka perencanaan pembangunan disegala bidang,
diperlukan informasi mengenai keadaan penduduk seperti jumlah penduduk,
persebaran penduduk, dan susunan penduduk menurut umur. Informasi yang
tersedia tidak hanya menyangkut keadaan pada saat perencanaan disusun,
tetapi juga informasi masa lalu dan masa kini yang sudah tersedia dari hasil
sensus dan survei-survei. Sedangkan untuk masa yang akan datang,
informasi tersebut perlu dibuat suatu proyeksi yaitu perkiraan jumlah
penduduk dan komposisinya di masa mendatang.
Proyeksi penduduk yang dimaksud bukan merupakan ramalan
jumlah penduduk tetapi suatu penghitungan ilmiah yang didasarkan
komponen yang berpengaruh terhadap pertumbuhan penduduk dimasa yang
akan datang. Komponen-komponen tersebut akan menentukan besaran
jumlah penduduk dan struktur penduduk. Dapat dikatakan proyeksi
penduduk adalah penghitungan jumlah penduduk (menurut komposisi umur
dan jenis kelamin) di masa yang akan datang berdasarkan asumsi arah
perkembangan fertilitas, mortalitas, dan migrasi (BPS, 2010). Ada beberapa
cara untuk memproyeksikan jumlah penduduk masa yang akan dating,
diantaranya menggunakan metode matematik dan metode komponen.
1. Metode Matematik
Metode ini sering disebut juga dengan metode tingkat pertumbuhan
penduduk (Growth Rates). Metode ini merupakan estimasi dari total
penduduk dengan menggunakan tingkat pertumbuhan penduduk secara
matematik, atau untuk tingkat lanjutnya melalui fitting kurva yang
menyajikan gambaran matematis dari perubahan jumlah penduduk,
seperti kurva logistik. Proyeksi berdasarkan tingkat pertumbuhan
penduduk mengasumsikan pertumbuhan yang konstan, baik untuk model
aritmatika, geometrik, atau eksponensial untuk mengestimasi jumlah
penduduk.
a. Metode Aritmatik
Proyeksi penduduk dengan metode aritmatik mengasumsikan
bahwa jumlah penduduk pada masa depan akan bertambah dengan
jumlah yang sama setiap tahun. Formula yang digunakan dalam
proyeksi aritmatik adalah:
1 𝑃𝑡
P = Po (1 + r) dengan r = 𝑟 ( 𝑃𝑜 - 1)

Dimana:
Pt = jumlah penduduk tahum t
Po = jumlah penduduk pada tahun dasar
r = laju pertumbuhan penduduk
t = periode waktu antara tahun dsar dan tahun t (dalam tahun)

b. Metode Geometrik
Proyeksi penduduk dengan metode geometrik menggunakan
asumsi bahwa jumlah penduduk akan bertambah secara geometrik
menggunakan dasar perhitungan bunga majemuk (Adioetomo dan
Samosir, 2010). Laju pertumbuhan penduduk (rate of growth)
dianggap sama untuk setiap tahun. Berikut formula yang digunakan
pada metode geometrik:

Pt = P0 (1+r)2
r = (Pt/Po)1/n – 1
Dengan:
Pt = Jumlah penduduk pada tahun t
Pn = jumlah penduduk pada tahun awal
r = laju pertumbuhan penduduk
t = periode waktu antara tahun dasar dan tahun t (dalam tahun)

c. Metode Eksponensial
Menurut Adioetomo dan Samosir (2010), metode eksponensial
menggambarkan pertambahan penduduk yang terjadi secara sedikit-
sedikit sepanjang tahun, berbeda dengan metode geometrik yang
mengasumsikan bahwa pertambahan penduduk hanya terjadi pada satu
saat selama kurun waktu tertentu. Formula yang digunakan pada
metode eksponensial adalah:
Pt = P0. ert dengan r = (1/t). ln(Pt/P0)
Dimana
Pt = jumlah penduduk pada tahun t
Po = jumlah penduduk pada tahun dasar
r = laju pertumbuhan penduduk
t = periode waktu antara tahun dasar dan tahun t (dalam tahun)
e = bilangan pokok dari sitem logaritma natural (ln) yang besarnya
adalah 2,7162818
2. Metode Komponen
Metode komponen berbasis pada pengertian bahwa perubahan
penduduk suatu wilayah pada periode tertentu merupakan akumulasi dari
kejadian kelahiran dan kematian (natural increase) serta net migrasi.
Formula yang digunakan adalah:
Pt = Po + (L-M) + (Mig In – Mig Out)
Dimana:
Pt = jumlah penduduk pada tahum t
Po = jumlah penduduk pada tahum dasar
L = jumlah kelahiran
M = jumlah kematian
MigIn = jumlah migrasi masuk
MigOut = jumlah migrasi keluar
Menurut Adioetomo dan Samosir (2010), proyeksi penduduk
dengan metode komponen dapat dilakukan dengan menggunakan dua
teknik, yaitu demografi uniregional dan demografi multiregional. Metode
demografi uniregional menggunakan angka migrasi bersih total tanpa
memperhatikan kemana arus migrasi keluar dan darimana arus migrasi
masuk di suatu daerah. Sementara metode demografi multiregional
memperlakukan migrasi masuk ke suatu daerah sebagai migrasi keluar
dari daerah asal tertentu dan migrasi keluar dari suatu daerah sebagai
migrasi masuk di daerah tertentu.
Metode komponen yang dilakukan disini mengunakan metode
demografi uniregional dan merupakan metode yang banyak digunakan
dalam memproyeksikan jumlah penduduk. Metode ini memungkinkan
penggunaan informasi statistik dari komponen perubahan penduduk dan
memungkinkan melakukan proyeksi menurut umur dan jenis kelamin
dengan memperhitungkan tingkat kelahiran, kematian, dan perpindahan
pada setiap kohor sehingga populasi setiap kohor dimasa depan dapat
diperkirakan. Data dasar yang dibutuhkan sebagai berikut:
a) Distribusi penduduk menurut umur dan jenis kelamin yang telah
dilakukan perapihan (smoothing).
b) Pola mortalitas.
c) Pola fertilitas menurut umur.
d) Rasio jenis kelamin saat lahir.
e) Proporsi migrasi menurut umur
2.3 Kebutuhan Perumahan Penduduk
Pertumbuhan penduduk yang semakin pesat banyak menimbulkan
permasalahan baru di atas lahan. Pertumbuhan penduduk ini akan
menyebabkan kebutuhan akan lahan sebagai ruang untuk tempat aktivitas
mereka semakin meningkat dan akan menimbulkan semacam kompetisi
untuk mendapatkan ruang yang cocok sesuai dengan berbagai kepentingan
dan keperluan manusia. Menurut Nur Arini (2009) terjadinya pertambahan
jumlah penduduk mempengaruhi proses pembangunan dan perkembangan
aktivitas suatu wilayah serta meningkatnya kebutuhan akan ruang/lahan.
Dengan meningkatnya jumlah penduduk kota maka menuntut pula
penyediaan kebutuhan hidup baik kebutuhan yang bersifat fisik seperti
seperti perumahan, sarana dan prasarana, maupun bersifat non fisik
seperti pendidikan, ekonomi, dan rekreasi.
Perkotaan akan selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan
perkembangan kehidupan sosial budaya, ekonomi dan politik yang melatar
belakanginya. Pertumbuhan dan perkembangan perkotaan yang
dimaksudkan adalah munculnya berbagai kebutuhan dan keinginan manusia
seperti tersedianya sarana dan prasarana pendukung seperti industri,
perumahan, rumah sakit, sekolah, transportasi yang menunjukkan adanya
kecenderungan penduduk untuk tinggal di perkotaan. Hal ini mengakibatkan
jumlah penduduk mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini
berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman
pada masa yang akan datang. Salah satu kebutuhan pokok manusia
selain sandang dan pangan adalah ”Papan” atau tempat tinggal. Kebutuhan
masyarakat akan suatu tempat tinggal menjadikan suatu kebutuhan yang
tidak bisa diabaikan dan diperlukan penanganan dengan perencanaan yang
seksama, dimana pemenuhan akan hal itu dapat dilakukan oleh pemerintah,
swasta dan masyarakat.
Hollingworth (1979), didalam Warpani (1980), menyebutkan
analisa penduduk telah diyakini merupakan hal yang sangat penting dalam
perencanaan kota maupun daerah, dimana salah satu hal yang penting
dalam analisa penduduk yaitu mengetahui perkiraan (proyeksi) jumlah
penduduk dimasa datang. Adanya proyeksi dimasa mendatang
mempermudah dalam memprediksi kebutuhan perumahan dan permukiman
dibeberapa tahun kedepan. Dengan mengetahui jumlah kebutuhan
perumahan di masa mendatang, pemerintah bisa mengambil kebijakan atau
perencanaan dalam menyediakan lahan untuk permukiman sehingga
perkembangan permukiman di masa mendatang tidak menyalahi
peruntukannya dan sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah (RTRW) tersebut.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan
kuantitatif merupakan dengan menggunakan data-data angka, dimana dari
proses pengumpulan dan hasil penelitian data yang dihasilkan berupa angka.
Penenlitian ini ditujukan untuk mengetahui jumlah penduduk dan kebutuhan
perumahan pada tahun yang akan datang menggunakan proyeksi penduduk.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kepadatan penduduk
pada Kecamatan Waru dan data jumlah penduduk laki-laki dan perempuan
pada tahun 2018. Data tersebut digunakan untuk melakukan perhitungan
proyeksi penduduk dan tingkat kepadatan penduduk yang nantinya akan
digunakan juga untuk mengetahui kebutuhan akan perumahan dan kawasan
permukiman penduduk pada tahun 2028.
Lokasi penelitian dilakukan di wilayah administrasi Kecamatan
Waru yang merupakan salah satu wilayah yang memiliki kepadatan
penduduk yang tinggi di Kabupaten Sidoarjo. Perhitungan proyeksi
penduduk yang digunakan pada penelitian ini adalah metode proyeksi
geometrik. Teknik pengolahan data untuk mengetahui tingkat kebutuhan
perumahan, dihitung dengan menggunakan analisis kebutuhan perumahan.
Untuk mengetahui luas lahan perumahan, dilakukan dengan teknik analisis
kebutuhan luas lahan perumahan. Pada teknik ini telah dilakukan
perhitungan untuk mengasumsikan kebutuhan perumahan untuk 1 keluarga
yang beranggotakan 4 orang dengan anggota keluarga yangt masing-masing
jiwa membutuhkan luas 9 m2. Hal ini disesuaikan juga dengan batas
minimal pemrukiman penduduk yang dikemukakakn oleh pemerintah yakni
36 m2 untuk permukiman.
3.2 Diagram Alir

Proyeksi Penduduk dalam Perencanaan Kebutuhan Perumahan

Jumlah Penduduk Analisis Kebutuhan


Perumahan
(Usia 25-29 tahun)

Proyeksi Penduduk Jumlah Bangunan


Geometrik

Proyeksi Kebutuhan
Proyeksi Penduduk Perumahan Tahun 2018-
Tahun 2018-2028 2028

- Luas Lahan 90 m2
- Tipe Bangunan Perumahan
(Tipe 36)
- Harga Bangunan (-/+ 100jt)
- Sasaran Masyarakat (MBR)

Peta Kebutuhan Luas Peta Kepadatan Penduduk


Lahan 2018-2028 tahun 2018-2028

Peta Kebutuhan
Perumahan 2018-2028
3.3 Data Penelitian
Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini menggunakan data
- data sekunder yang didapat dari instansi yang valid dan dapat dipercaya.
Berikut ini adalah data yang digunakan dalam penelitan:
1. Data jumlah penduduk Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo tahun
2018, data ini diperoleh dari Badan Pusat Statistika (BPS) Kabupaten
Sidoarjo
2. Data luas wilayah Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.
3. Data luas Permukiman, diperoleh dari Dinas Cipta Karya dan Penataan
Ruang Kabupaten Sidoarjo.

3.4 Tahapan Penelitian


1. Tahap Persiapan

Persiapan penelitian yang dimaksud adalah persiapan perizinan


untuk mendapatkan data. Data yang digunakan selain untuk tahap
pengolahan juga digunakan untuk memperkuat pustaka yang ada. Data
dari instansi terkait yang berhubungan dengan penelitian ini antara lain
data jumlah penduduk, data luas wilayah penelitian, data luas
permukiman.

2. Tahap Pengumpulan Data


Pada tahap ini data yang digunakan adalah data sekunder yang
diperoleh dari instansi terkait. Data-data tersebut antara lain data luas
wilayah permukiman, sensus penduduk tahun 2010, dan pembagian
wilayah berdasarkan Kecamatan Waru
3. Tahap Perhitungan
Tahap perhitungan pada penelitian ini adalah perhitungan
proyeksi penduduk menggunakan metode geometric untuk tahun 2018
hingga tahun 2028, teknik analisis kebutuhan perumahan dan teknik
analisis luas kebutuhan lahan.
a) Proyeksi Penduduk Metode Geometrik
Proyeksi penduduk merupakan teknik untuk meramalkan atau
untuk mengetahui perkembangan penduduk di masa yang akan dating
dengan menggunakan beberapa asumsi yang didasarkan atas data
tahun dasar (Mantra, 1985). Pada perhitungaan proyeksi ini, data yang
dibutuhkan adalah data jumlah penduduk laki-laki dan perempuan usia
0 hingga 75+, teknik perhitungan proyeksi ini menggunakan proyeksi
dengan metode geometric. Metode geometric merupakan estimasi
penduduk akan bertambah secara geometric menggunakan dasar
peritungan bunga majemuk. Serta laju pertumbuhan penduduk
dianggap sama untuk setiap tahun. Berikut rumus metode geometric.

Pt = P0 (1+r)2
r = (Pt/Po)1/n – 1
Keterangan:
Pt = Jumlah penduduk pada tahun t
Pn = jumlah penduduk pada tahun awal
r = laju pertumbuhan penduduk
t = periode waktu antara tahun dasar dan tahun t (dalam tahun)

b) Kepadatan Penduduk
Teknik ini digunakan untuk mengetahui kepadatan penduduk
per-satuan lahan. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒆𝒏𝒅𝒖𝒅𝒖𝒌 (𝒋𝒊𝒘𝒂)


Kepadatan Penduduk = 𝒍𝒖𝒂𝒔 𝒘𝒊𝒍𝒂𝒚𝒂𝒉 (𝒌𝒎𝟐 )

c) Perhitungan jumlah kebutuhan perumahan dan kebutuhan luas lahan


perumahan pada tahun 2018-2028
Perhitungan kebutuhan perumahan menggunakan rumus:

𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒆𝒏𝒅𝒖𝒅𝒖𝒌
Kebutuhan perumahan = 𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒏𝒈𝒈𝒐𝒕𝒂 𝒌𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓𝒈𝒂
Perhitungan kebutuhan luas lahan perumahan menggunakan rumus:

Kebutuhan luas lahan = Kebutuhan Perumahan x Standar Luas


Lahan (90 m2)

Standar luas permukiman yang ditentukan oleh pemerintah


yakni 36 m2, dengan masing-masing jiwa membutuhkan luas 9 m2,
dan diasumsikan bahwa setiap keluarga terdapat 4 anggota keluarga.

3.5 Analisis Data


Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yakni analisis
proyeksi penduduk pada tahun 2018-2028 yang diytujukam untuk
mengetahui jumlah penduduk, tingkat kepadatan, dan jumlah kebutuhan
akan permukiman di Kecamatan Waru. Untuk kebutuhan permukiman
diasmusikan dalam 1 keluarga terdiri dari 4 anggota keluarga dengan
masing-masing jiwa membutuhkan luas 9 m2. Sehingga dalam satu keluarga
membutuhkan rumah dengan luas minimal 36 m2.
DAFTAR PUSTAKA

Adioetomo, S. M., & Samosir, O. B. 2010. Dasar-Dasar Demografi. Jakarta:


Salemba Empat.

Arini, N. 2009. Identifikasi Kebutuhan Dan Lokasi Fasilitas Penunjang


Permukiman Di Kecamatan Banyumanik Kota Semarang. Semarang:
UNIVERSITAS DIPONEGORO.

Fandeli, C. 2008. Studi Perkembangan Wilayah Dan Daya Dukung Lingkungan


Kepariwisataan Di Wilayah Yogyakarta Utara. Paradoksalitas Di Balik
Kemegahan Borobudur—1-14, 15.

Keuangan, D. J. A. K. 2015. Kajian Kependudukan. Jakarta: Kementerian


Keuangan RI, Direktorat Jendral Anggaran.

Kodoatie, R. J., & Sjarief, R. 2008. Water Resourches Management. Yogyakarta:


Penerbit Andi.

Mantra, Ida Bagus. 2007. Demografi Umum Edisi Kedua. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Sarwono, S. W. 1992. Psikologi Lingkungan. Jakarta: Grasindo.

Sitorus, S. R., Hayati, J., & Nurisjah, S. 2013. Pengembangan ruang terbuka
hijau dengan pendekatan kota hijau di Kota Kandangan. Tataloka, 15(4),
306-316.

Soejani, Koestermans, A. J. G. H., M., Utomo, I. H., Wirjahardja, S., Megia, R.,
Laumonier, E. K. W., ... & Veenstra, H. (1987). Weeds of Rice in
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Statistik, B. P. 2010. Sensus penduduk 2010. Jakarta: BPS.

Statitstik, B. P. 2010. Pedoman Penghitungan Proyeksi Penduduk dan Angkatan


Kerja. Jakrata: Badan Pusat Statistika.

Warpani, S. 1980. Analisa kota dan Daerah. Bandung: ITB.