Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

Tuberkulosis (TB) sampai dengan saat ini masih merupakan salah satu
masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya penanggulangan TB telah
dilaksanakan di banyak negara sejak tahun 1995.

Menurut laporan WHO tahun 2015, ditingkat global diperkirakan 9,6 juta
kasus TB baru dengan 3,2 juta kasus diantaranya adalah perempuan dengan 1,5 juta
kematian karena TB dimana 480.000 kasus adalah perempuan. Dari kasus TB tersebut
ditemukan 1,1 juta (12%) HIV positif dengan kematian 320.000 orang (140.000 orang
adalah perempuan) dan 480.000 TB resisten obat (TB-RO) dengan kematian 190.000
orang. Dari 9,6 juta kasus TB baru, diperkirakan 1 juta kasus TB anak (dibawah usia
15 tahun) dan 140.000 kematian/tahun.

Jumlah kasus TB di Indonesia menurut laporan WHO tahun 2015,


diperkirakan ada 1 juta kasus TB baru pertahun (399 per 100.000 penduduk) dengan
100.000 kematian pertahun (41 per 100.000 penduduk). Diperkirakan 63.000 kasus
TB dengan HIV positif (25 per 100.000 penduduk). Angka notifikasi kasus (case
notification rate/ CNR) dari semua kasus, dilaporkan sebanyak 129 per 100.000
penduduk. Jumlah seluruh kasus 324.539 kasus, diantaranya 314.965 adalah kasus
baru. Secara nasional perkiraan prevalensi HIV diantara pasien TB diperkirakan
sebesar 6,2%. Jumlah kasus TB-RO diperkirakan sebanyak 6700 kasus yang berasal
dari 1,9% kasus TB-RO dari kasus baru TB dan ada 12 % kasus TB-RO dari TB
dengan pengobatan ulang

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 HEMOPTISIS

2.1.1 Definisi

Hemoptisis adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan batuk darah, atau
sputum yang berdarah. Sputum mungkin bercampur dengan darah. Mungkin juga
seluruh cairan yang dikeluarkan paru-paru berupa darah. Setiap proses yang
mengakibatkan terganggunya kontinuitas aliran pembuluh darah paru-paru dapat
mengakibatkan perdarahan. Batuk darah merupakan suatu gejala yang serius.
Mungkin ini merupakan manifestasi yang paling dini dari tuberkulosis aktif. Sebab-
sebab lain dari hemoptisis adalah karsinoma bronkogenik, infarksi, dan abses paru-
paru.1

Hemoptisis harus dibedakan dengan hematemesis. Hematemesis disebabkan


oleh lesi pada saluran cerna, sedangkan hemoptisis disebabkan oleh lesi pada paru
atau bronkus/bronkiolus.2

2.1.2 Klasifikasi

Klasifikasi didasarkan pada perkiraan jumlah darah yang dibatukkan.3

1. Bercak (Streaking) : <15-20 ml/24 jam

Yang sering terjadi darah bercampur dengan sutum. Umumnya pada bronkitis.

2. Hemoptisis: 20-600 ml/24 jam

Hal ini berarti perdarahan pada pembuluh darh yang lebih besar. Biasanya
pada kanker paru, pneumonia, TB, atau emboli paru.

3. Hemoptisis massif : >600 ml/24 jam

Biasanya pada kanker paru, kavitas pada TB, atau bronkiektasis.

4. Pseudohemoptisis

Merupakan batuk darah dari struktur saluran napas bagian atas (di atas laring)
atau dari saluran cerna atas atau hal ini dapat berupa perdarahan buatan
(factitious).

Perbedaan hemoptoe dengan hematemesis


Untuk membedakan antara muntah darah (hematemesis) dan batuk darah
(hemoptoe) bila dokter tidak hadir pada waktu pasien batuk darah, maka pada batuk
darah (hemoptoe) akan didapatkan tanda-tanda sebagai berikut :

2
Tanda-tanda batuk darah:
1. Didahului batuk keras yang tidak tertahankan.
2. Terdengar adanya gelembung-gelembung udara bercampur darah di dalam
saluran napas.
3. Terasa asin / darah dan gatal di tenggorokan.
4. Warna darah yang dibatukkan merah segar bercampur buih, beberapa hari
kemudian warna menjadi lebih tua atau kehitaman.
5. pH alkalis.
6. Bisa berlangsung beberapa hari
7. Penyebabnya : kelainan paru
Tanda-tanda muntah darah :7
1. Tanpa batuk, tetapi keluar darah waktu muntah.
2. Suara napas tidak ada gangguan.
3. Didahului rasa mual / tidak enak di epigastrium.
4. Darah berwarna merah kehitaman, bergumpal-gumpal bercampur sisa
makanan.
5. pH asam.
6. Frekuensi muntah darah tidak sekerap hemoptoe.
7. Penyebabnya : sirosis hati, gastritis.

Differentiating Features of Hemoptysis and Hematemesis


Hemoptysis Hematemesis
History

Absence of nausea and vomiting Presence of nausea and


vomiting

Lung disease Gastric or hepatic disease

Asphyxia possible Asphyxia unusual

Sputum examination

Frothy Rarely frothy

Liquid or clotted appearance Coffee ground appearance

Bright red or pink Brown to black

Laboratory

3
Hemoptysis Hematemesis
Alkaline Ph Acidic pH

Mixed with macrophages and Mixed with food particles


neutrophils

Diagnostic Clues in Hemoptysis: Physical History


Clinical clues Suggested diagnosis*
Anticoagulant use Medication effect, coagulation disorder

Association with menses Catamenial hemoptysis

Dyspnea on exertion, fatigue, orthopnea, Congestive heart failure, left ventricular


paroxysmal nocturnal dyspnea, frothy pink dysfunction, mitral valve stenosis
sputum

Fever, productive cough Upper respiratory infection, acute sinusitis, acute


bronchitis, pneumonia, lung abscess

History of breast, colon, or renal cancers Endobronchial metastatic disease of lungs

History of chronic lung disease, recurrent Bronchiectasis, lung abscess


lower respiratory track infection, cough
with copious purulent sputum

HIV, immunosuppression Neoplasia, tuberculosis, Kaposi’s sarcoma

Nausea, vomiting, melena, alcoholism, Gastritis, gastric or peptic ulcer, esophageal


chronic use of nonsteroidal anti- varices
inflammatory drugs

Pleuritic chest pain, calf tenderness Pulmonary embolism or infarction

Tobacco use Acute bronchitis, chronic bronchitis, lung cancer,


pneumonia

Travel history Tuberculosis, parasites (e.g., paragonimiasis,


schistosomiasis, amebiasis, leptospirosis),
biologic agents (e.g., plague, tularemia, T2
mycotoxin)

Weight loss Emphysema, lung cancer, tuberculosis,


bronchiectasis, lung abscess, HIV

4
2.1.3 Etiologi2,3
Penyebab dari batuk darah (hemoptoe) dapat dibagi atas :
1. Infeksi, terutama tuberkulosis, abses paru, pneumonia, dan kaverne oleh
karena jamur dan sebagainya.
2. Kardiovaskuler, stenosis mitralis dan aneurisma aorta.
3. Neoplasma, terutama karsinoma bronkogenik dan poliposis bronkus.
4. Gangguan pada pembekuan darah (sistemik).
5. Benda asing di saluran pernapasan.
6. Faktor-faktor ekstrahepatik dan abses amuba.
Penyebab terpenting dari hemoptisis masif adalah:
1. Tumor :
a. Karsinoma.
b. Adenoma.
c. Metastasis endobronkial dari massa tumor ekstratorakal.
2. Infeksi
a. Aspergilloma.
b. Bronkhiektasis (terutama pada lobus atas).
c. Tuberkulosis paru.
3. Infark Paru
4. Udem paru, terutama disebabkan oleh mitral stenosis
5. Perdarahan paru
a. Sistemic Lupus Eritematosus
b. Goodpasture’s syndrome.
c. Idiopthic pulmonary haemosiderosis.
d. Bechet’s syndrome.
6. Cedera pada dada/trauma
a. Kontusio pulmonal.
b. Transbronkial biopsi.
c. Transtorakal biopsi memakai jarum.
7. Kelainan pembuluh darah
a. Malformasi arteriovena.
b. Hereditary haemorrhagic teleangiectasis.

5
8. Bleeding diathesis.
Penyebab hemoptoe banyak, tapi secara sederhana dapat dibagi dalam 3
kelompok yaitu : infeksi, tumor dan kelainan kardiovaskular. Infeksi merupakan
penyebab yang sering didapatkan antara lain : tuberkulosis, bronkiektasis dan abses
paru. Pada dewasa muda, tuberkulosis paru, stenosis mitral, dan bronkiektasis
merupakan penyebab yang sering didapat. Pada usia diatas 40 tahun karsinoma
bronkus merupakan penyebab yang sering didapatkan, diikuti tuberkulsosis dan
bronkiektasis.
2.1.4 Patofisiologi6,7
Setiap proses yang terjadi pada paru akan mengakibatkan hipervaskularisasi dari
cabang-cabang arteri bronkialis yang berperanan untuk memberikan nutrisi pada
jaringan paru bila terjadi kegagalan arteri pulmonalis dalam melaksanakan fungsinya
untuk pertukaran gas. Terdapatnya aneurisma Rasmussen pada kaverna tuberkulosis
yang merupakan asal dari perdarahan pada hemoptoe masih diragukan. Teori
terjadinya perdarahan akibat pecahnya aneurisma dari Ramussen ini telah lama
dianut, akan tetapi beberapa laporan autopsi membuktikan bahwa terdapatnya
hipervaskularisasi bronkus yang merupakan percabangan dari arteri bronkialis lebih
banyak merupakan asal dari perdarahan pada hemoptoe. (4)
Mekanisma terjadinya batuk darah adalah sebagai berikut :
1. Radang mukosa
Pada trakeobronkitis akut atau kronis, mukosa yang kaya pembuluh darah
menjadi rapuh, sehingga trauma yang ringan sekalipun sudah cukup untuk
menimbulkan batuk darah.
2. Infark paru
Biasanya disebabkan oleh emboli paru atau invasi mikroorganisme pada
pembuluh darah, seperti infeksi coccus, virus, dan infeksi oleh jamur.
3. Pecahnya pembuluh darah vena atau kapiler
Distensi pembuluh darah akibat kenaikan tekanan darah intraluminar seperti
pada dekompensasi cordis kiri akut dan mitral stenosis.
4. Kelainan membran alveolokapiler
Akibat adanya reaksi antibodi terhadap membran, seperti padaGoodpasture’s
syndrome.

6
5. Perdarahan kavitas tuberkulosa
Pecahnya pembuluh darah dinding kavitas tuberkulosis yang dikenal dengan
aneurisma Rasmussen; pemekaran pembuluh darah ini berasal dari cabang
pembuluh darah bronkial. Perdarahan pada bronkiektasis disebabkan
pemekaran pembuluh darah cabang bronkial. Diduga hal ini terjadi disebabkan
adanya anastomosis pembuluh darah bronkial dan pulmonal. Pecahnya
pembuluh darah pulmonal dapat menimbulkan hemoptisis masif.
6. Invasi tumor ganas
7. Cedera dada
Akibat benturan dinding dada, maka jaringan paru akan mengalami transudasi
ke dalam alveoli dan keadaan ini akan memacu terjadinya batuk darah.
2.1.5 Diagnosis
Hal utama yang penting adalah memastikan apakah darah benar- benar bukan
dari muntahan dan tidak berlangsung saat perdarahan hidung. Hemoptisis sering
mudah dilacak dari riwayat. Dapat ditemukan bahwa pada hematemesis darah
berwarna kecoklatan atau kehitaman dan sifatnya asam. Darah dari epistaksis dapat
tertelan kembali melalui faring dan terbatukkan yang disadari penderita serta adanya
darah yang memancar dari hidung. 3
Untuk menegakkan diagnosis, seperti halnya pada penyakit lain perlu dilakukan
urutan-urutan dari anamnesis yang teliti hingga pemeriksaan fisik maupun penunjang
sehingga penanganannya dapat disesuaikan.
1) Anamnesis
Untuk mendapatkan riwayat penyakit yang lengkap sebaiknya diusahakan
untuk mendapatkan data-data :2
- Jumlah dan warna darah
- Lamanya perdarahan
- Batuknya produktif atau tidak
- Batuk terjadi sebelum atau sesudah perdarahan
- Sakit dada, substernal atau pleuritik
- Hubungannya perdarahan dengan : istirahat, gerakan fisik, posisi badan
dan batuk
- Wheezing
- Riwayat penyakit paru atau jantung terdahulu.
- Perdarahan di tempat lain serempak dengan batuk darah

7
- Perokok berat dan telah berlangsung lama
- Sakit pada tungkai atau adanya pembengkakan serta sakit dada
- Hematuria yang disertai dengan batuk darah.
Untuk membedakan antara batuk darah dengan muntah darah dapat
digunakan petunjuk sebagai berikut :
Keadaan Hemoptoe Hematemesis
1. Prodromal Rasa tidak enak di Mual, stomach distress
tenggorokan, ingin batuk
2. Onset Darah dibatukkan, dapat Darah dimuntahkan
disertai batuk dapat disertai batuk
3. Penampilan darah Berbuih Tidak berbuih
4. Warna Merah segar Merah tua
5. Isi Lekosit, mikroorganisme, Sisa makanan
makrofag, hemosiderin
6. Reaksi Alkalis (pH tinggi) Asam (pH rendah)
7. Riwayat Penyakit Menderita kelainan paru Gangguan lambung,
Dahulu kelainan hepar
8. Anemi Kadang-kadang Selalu
9. Tinja Warna tinja normal Tinja bisa berwarna
Guaiac test (-) hitam, Guaiac test (-)

2. Pemeriksaan fisik7
Pada pemeriksaan fisik dicari gejala/tanda lain di luar paru yang dapat
mendasari terjadinya batuk darah, antara lain : jari tabuh, bising sistolik
dan opening snap, pembesaran kelenjar limfe, ulserasi septum nasalis,
teleangiektasi.
3. Pemeriksaan penunjang
Foto toraks dalam posisi AP dan lateral hendaklah dibuat pada setiap
penderita hemoptisis masif. Gambaran opasitas dapat menunjukkan tempat
perdarahannya.

8
4. Pemeriksaan bronkoskopi
Sebaiknya dilakukan sebelum perdarahan berhenti, karena dengan
demikian sumber perdarahan dapat diketahui.
Adapun indikasi bronkoskopi pada batuk darah adalah :
1. Bila radiologik tidak didapatkan kelainan
2. Batuk darah yang berulang – ulang
3. Batuk darah masif : sebagai tindakan terapeutik
Tindakan bronkoskopi merupakan sarana untuk menentukan
diagnosis, lokasi perdarahan, maupun persiapan operasi, namun waktu yang
tepat untuk melakukannya merupakan pendapat yang masih kontroversial,
mengingat bahwa selama masa perdarahan, bronkoskopi akan
menimbulkan batuk yang lebih impulsif, sehingga dapat memperhebat
perdarahan disamping memperburuk fungsi pernapasan. Lavase dengan
bronkoskop fiberoptic dapat menilai bronkoskopi merupakan hal yang
mutlak untuk menentukan lokasi perdarahan.
Dalam mencari sumber perdarahan pada lobus superior, bronkoskop
serat optik jauh lebih unggul, sedangkan bronkoskop metal sangat
bermanfaat dalam membersihkan jalan napas dari bekuan darah serta
mengambil benda asing, disamping itu dapat melakukan penamponan
dengan balon khusus di tempat terjadinya perdarahan. 4,6,7
2.1.6 Penanganan
Pada umumnya hemoptoe ringan tidak diperlukan perawatan khusus dan
biasanya berhenti sendiri. Yang perlu mendapat perhatian yaitu hemoptisis yang
masif.1,6
Tujuan pokok terapi ialah :
1. Mencegah tersumbatnya saluran napas oleh darah yang beku
2. Mencegah kemungkinan penyebaran infeksi
3. Menghentikan perdarahan
Sasaran-sasaran terapi yang utama adalah memberikan suport kardiopulmaner
dan mengendalikan perdarahan sambil mencegah asfiksia yang merupakan penyebab
utama kematian pada para pasien dengan hemoptisis masif.
Masalah utama dalam hemoptoe adalah terjadinya pembekuan dalam saluran
napas yang menyebabkan asfiksi. Bila terjadi afsiksi, tingkat kegawatan hemoptoe
paling tinggi dan menyebabkan kegagalan organ yang multipel. Hemoptoe dalam

9
jumlah kecil dengan refleks batuk yang buruk dapat menyebabkan kematian. Dalam
jumlah banyak dapat menimbukan renjatan hipovolemik.
Pada prinsipnya, terapi yang dapat dilakukan adalah :
- Terapi konservatif
- Terapi definitif atau pembedahan.
1. Terapi konservatif
Pasien harus dalam keadaan posisi istirahat, yakni posisi miring (lateral
decubitus). Kepala lebih rendah dan miring ke sisi yang sakit untuk mencegah
aspirasi darah ke paru yang sehat.
 Melakukan suction dengan kateter setiap terjadi perdarahan.
 Batuk secara perlahan – lahan untuk mengeluarkan darah di dalam saluran
saluran napas untuk mencegah bahaya sufokasi.
 Dada dikompres dengan es – kap, hal ini biasanya menenangkan penderita.
 Pemberian obat – obat penghenti perdarahan (obat – obat hemostasis),
misalnya vit. K, ion kalsium, trombin dan karbazokrom.
 Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder.
 Pemberian cairan atau darah sesuai dengan banyaknya perdarahan yang
terjadi.
 Pemberian oksigen

Tindakan selanjutnya bila mungkin :


 Menentukan asal perdarahan dengan bronkoskopi
 Menentukan penyebab dan mengobatinya, misal aspirasi darah dengan
bronkoskopi dan pemberian adrenalin pada sumber perdarahan.
2. Terapi pembedahan
 Reseksi bedah segera pada tempat perdarahan merupakan pilihan.
 Tindakan operasi ini dilakukan atas pertimbangan :
a. Terjadinya hemoptisis masif yang mengancam kehidupan pasien.
b. Pengalaman berbagai penyelidik menunjukkan bahwa angka kematian
pada perdarahan yang masif menurun dari 70% menjadi 18% dengan
tindakan operasi.
c. Etiologi dapat dihilangkan sehingga faktor penyebab terjadinya
hemoptoe yang berulang dapat dicegah.

10
Busron (1978) menggunakan pula indikasi pembedahan sebagai berikut :
1. Apabila pasien mengalami batuk darah lebih dari 600 cc / 24 jam dan dalam
pengamatannya perdarahan tidak berhenti.
2. Apabila pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam dan tetapi
lebih dari 250 cc / 24 jam jam dengan kadar Hb kurang dari 10 g%, sedangkan
batuk darahnya masih terus berlangsung.
3. Apabila pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam dantetapi
lebih dari 250 cc / 24 jam dengan kadar Hb kurang dari 10 g%, tetapi selama
pengamatan 48 jam yang disertai dengan perawatan konservatif batuk darah
tersebut tidak berhenti.
Sebelum pembedahan dilakukan, sedapat mungkin diperiksa faal paru dan dipastikan
asal perdarahannya, sedang jenis pembedahan berkisar dari segmentektomi, lobektomi
dan pneumonektomi dengan atau tanpa torakoplasti.
Penting juga dilakukan usaha-usaha untuk menghentikan perdarahan. Metode yang
mungkin digunakan adalah :
- Dengan memberikan cairan es garam yang dilakukan dengan bronkoskopi
serat lentur dengan posisi pada lokasi bronkus yang berdarah. Masukkan
larutan NaCl fisiologis pada suhu 4°C sebanyak 50 cc, diberikan selama 30-60
detik. Cairan ini kemudian dihisap dengan suction.
- Dengan menggunakan kateter balon yang panjangnya 20 cm penampang 8,5
mm.
2.1.7 Komplikasi
Komplikasi yang terjadi merupakan kegawatan dari hemoptoe, yaitu ditentukan
oleh tiga faktor :
1. Terjadinya asfiksia oleh karena terdapatnya bekuan darah dalam saluran
pernapasan.
2. Jumlah darah yang dikeluarkan selama terjadinya hemoptoe dapat
menimbulkan renjatan hipovolemik.
3. Aspirasi, yaitu keadaan masuknya bekuan darah maupun sisa makanan ke
dalam jaringan paru yang sehat bersama inspirasi.5,7
2.1.8 Prognosis
Pada hemoptoe idiopatik prognosisnya baik kecuali bila penderita mengalami
hemoptoe yang rekuren.

11
Sedangkan pada hemoptoe sekunder ada beberapa faktor yang menentukan prognosis
:
1) Tingkatan hemoptoe : hemoptoe yang terjadi pertama kali mempunyai
prognosis yang lebih baik.
2) Macam penyakit dasar yang menyebabkan hemoptoe.
3) Cepatnya kita bertindak, misalnya bronkoskopi yang segera dilakukan untuk
menghisap darah yang beku di bronkus dapat menyelamatkan penderita.(1,4)

12
2.2 Tuberkulosis Paru

2.2.1 Definisi

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh

bakteri Mycobacterium tuberculosis4. Penyakit ini dapat menyerang berbagai

organ. Sekitar 80% dari keseluruhan kejadian TB merupakan TB paru,

sedangkan 20% merupakan TB ekstraparu. Diperkirakan bahwa sepertiga

penduduk dunia pernah terinfeksi kuman M. tuberculosis2.

2.2.2 Epidemiologi

Tuberkulosis (TB) sampai dengan saat ini masih merupakan salah satu

masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya penanggulangan TB

telah dilaksanakan di banyak negara sejak tahun 1995. TB merupakan masalah

kesehatan dunia yan penting karena lebih kurang sepertiga penduduk dunia

terinfeksi oleh M. tuberculosis. Dalam laporan WHO diperkirakan terdapat 8,6

juta kasus TB pada tahun 2012. Pada tahun 2012 diperkirakan terdapat 450

ribu orang yang menderita TB MDR dan 170 ribu diantaranya meninggal

dunia. Sebagian besar dari kasus TB (95%) dan kematiannya (98%) terjadi di

negara-negara yang sedang berkembang. 75% berusia produktif, yaitu 20-49

tahun. Karena penduduk yang padat dan tingginya prevalensi maka lebih dari

65% dari kasus TB yang baru dan kematian yang muncul terjadi di Asia1,2,4

2.2.3 Etiologi

Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh

kuman Mycobacterium tuberculosis. Terdapat beberapa spesies

Mycobacterium, antara lain: M.tuberculosis, M.africanum, M. bovis, M.

Leprae dsb. Yang juga dikenal sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA).

Kelompok bakteri Mycobacterium selain Mycobacterium tuberculosis yang

13
bisa menimbulkan gangguan pada saluran nafas dikenal sebagai MOTT

(Mycobacterium Other Than Tuberculosis) yang terkadang bisa mengganggu

penegakan diagnosis dan pengobatan TB1.

Morfologi dan Struktur Bakteri Mycobacterium tuberculosis berbentuk

batang lurus atau sedikit melengkung, tidak berspora dan tidak berkapsul.

Bakteri ini berukuran lebar 0,3 – 0,6 µm dan panjang 1 – 4 µm. Dinding

M.tuberculosis sangat kompleks, terdiri dari lapisan lemak cukup tinggi

(60%). Penyusun utama dinding sel M.tuberculosis ialah asam mikolat, lilin

kompleks (complex-waxes), trehalosa dimikolat yang disebut “cord factor”,

dan mycobacterial sulfolipids yang berperan dalam virulensi. Asam mikolat

merupakan asam lemak berantai panjang (C60 – C90) yang dihubungkan

dengan arabinogalaktan oleh ikatan glikolipid dan dengan peptidoglikan oleh

jembatan fosfodiester1.

Unsur lain yang terdapat pada dinding sel bakteri tersebut adalah

polisakarida seperti arabinogalaktan dan arabinomanan. Struktur dinding sel

yang kompleks tersebut menyebebkan bakteri M.tuberculosis bersifat tahan

asam, yaitu apabila sekali diwarnai, tahan terhadap upaya penghilangan zat

warna tersebut dengan larutan asam – alkohol. Komponen antigen ditemukan

di dinding sel dan sitoplasma yaitu komponen lipid, polisakarida dan protein.

Karakteristik antigen M.tuberculosis dapat diidentifikasi dengan menggunakan

antibodi monoklonal . Saat ini telah dikenal purified antigens dengan berat

molekul 14 kDa (kiloDalton), 19 kDa, 38 kDa, 65 kDa yang memberikan

sensitiviti dan spesifisiti yang bervariasi dalam mendiagnosis TB5.

Ada juga yang menggolongkan antigen M.tuberculosis dalam

kelompok antigen yang disekresi dan yang tidak disekresi (somatik). Antigen

14
yang disekresi hanya dihasilkan oleh basil yang hidup, contohnya antigen

30.000 α, protein MTP 40 dan lain lain5.

Biomolekuler M.tuberculosis - Genom M.tuberculosis mempunyai

ukuran 4,4 Mb (mega base) dengan kandungan guanin (G) dan sitosin (C)

terbanyak. Dari hasil pemetaan gen, telah diketahui lebih dari 165 gen dan

penanda genetik yang dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok 1 gen yang

merupakan sekwens DNA mikobakteria yang selalu ada (conserved) sebagai

DNA target, kelompok II merupakan sekwens DNA yang menyandi antigen

protein berjumlah, sedangkan kelompok III adalah sekwens DNA ulangan

seperti elemen sisipan5.

Gen pab dan gen groEL masing masing menyandi protein berikatan

posfat misalnya protein 38 kDa dan protein kejut panas (heat shock protein)

seperti protein 65 kDa, gen katG menyandi katalase-peroksidase dan gen

16SrRNA (rrs) menyandi protein ribosomal S12 sedangkan gen rpoB

menyandi RNA polimerase5.

Sekwens sisipan DNA (IS) adalah elemen genetik yang mobil. Lebih

dari 16 IS ada dalam mikobakteria antara lain IS6110, IS1081 dan elemen

seperti IS ( IS-like element). Deteksi gen tersebut dapat dilakukan dengan

teknik PCR dan RFLP5.

15
Gambar 1. Gambaran mikroskopik M. Tuberculosis dengan Pewarnaan Ziehl

Neelsen

2.2.4 Faktor Risiko

Faktor risiko terjadinya TB

1. Kuman penyebab TB.

a) Pasien TB dengan BTA positif lebih besar risiko menimbulkan

penularan dibandingkan denganBTA negatif.

b) Makin tinggi jumlah kuman dalam percikan dahak, makin besar

risikoterjadi penularan.

c) Makin lama dan makin sering terpapar dengan kuman, makin besar

risiko terjadi penularan.

2. Faktor individu yang bersangkutan. Beberapa faktor individu yang dapat

meningkatkan risiko menjadi sakit TB adalah:

a. Faktor usia dan jenis kelamin:

1) Kelompok paling rentan tertular TB adalah kelompok usia dewasa

muda yang juga merupakan kelompok usia produktif.

2) Menurut hasil survei prevalensi TB, Laki-laki lebih banyak terkena

TB dari pada wanita.

16
b. Daya tahan tubuh: Apabila daya tahan tubuh seseorang menurun oleh

karena sebab apapun, misalnya usia lanjut, ibu hamil, koinfeksi dengan

HIV, penyandang diabetes mellitus, gizi buruk, keadaan immuno-

supressive, bilamana terinfeksi dengan M.tb, lebih mudah jatuh sakit.

c. Perilaku:

1) Batuk dan cara membuang dahak pasien TB yang tidak sesuai etika

akan meningkatkan paparan kuman dan risiko penularan.

2) Merokok meningkatkan risiko terkena TB paru sebanyak 2,2 kali.

3) Sikap dan perilaku pasien TB tentang penularan, bahaya, dan cara

pengobatan.

d. Status sosial ekonomi: TB banyak menyerang kelompok sosial ekonomi

lemah.

3. Faktor lingkungan:

a) Lingkungan perumahan padat dan kumuh akan memudahkan

penularan TB.

b) Ruangan dengan sirkulasi udara yang kurang baik dan tanpa cahaya

matahari akan meningkatkan risiko penularan

17
2.2.5 Patogenesis

Gambar 2. Pathway Tuberkulosis

2.2.6 Patologi

Kelainan jaringan terjadi sebagai respons tubuh terhadap kuman.

Reaksi jaringan yang karakteristik ialah terbentuknya granuloma, kumpulan

padat sel makrofag. Respons awal pada jaringan yang belum pernah

18
terinfeksi ialah berupa sebukan sel radang, baik sel leukosit

polimorfonukleus (PMN) maupun sel fagosit mononukleus.

Kuman berproliferasi dalam sel, dan akhirnya mematikan sel fagosit.

Sementara itu sel mononukleus bertambah banyak dan membentuk agregat.

Kuman berproliferasi terus, dan sementara makrofag (yang berisi kuman)

mati, sel fagosit mononukleus masuk dalam jaringan dan menelan kuman

yang baru terlepas. Jadi terdapat pertukaran sel fagosit mononukleus yang

intensif dan berkesinambungan. Sel monosit semakin membesar, intinya

menjadi eksentrik, sitoplasmanya bertambah banyak dan tampak pucat,

disebut sel epiteloid. Sel-sel tersebut berkelompok padat mirip sel epitel

tanpa jaringan diantaranya, namun tidak ada ikatan interseluler dan

bentuknya pun tidak sama dengan sel epitel.

Sebagian sel epiteloid ini membentuk sel datia berinti banyak, dan

sebagian sel datia ini berbentuk sel datia Langhans (inti terletak melingkar di

tepi) dan sebagian berupa sel datia benda asing (inti tersebar dalam

sitoplasma).

Lama kelamaan granuloma ini dikelilingi oleh sel limfosit, sel plasma,

kapiler dan fibroblas. Di bagian tengah mulai terjadi nekrosis yang disebut

perkijuan, dan jaringan di sekitarnya menjadi sembab dan jumlah mikroba

berkurang. Granuloma dapat mengalami perkembangan , bila jumlah

mikroba terus berkurang akan terbentuk simpai jaringan ikat mengelilingi

reaksi peradangan. Lama kelamaan terjadi penimbunan garam kalsium pada

bahan perkijuan. Bila garam kalsium berbentuk konsentrik maka disebut

cincin Liesegang . Bila mikroba virulen atau resistensi jaringan rendah,

granuloma membesar sentrifugal, terbentuk pula granuloma satelit yang

19
dapat berpadu sehingga granuloma membesar. Sel epiteloid dan makrofag

menghasilkan protease dan hidrolase yang dapat mencairkan bahan kaseosa.

Pada saat isi granuloma mencair, kuman tumbuh cepat ekstrasel dan terjadi

perluasan penyakit.

Reaksi jaringan yang terjadi berbeda antara individu yang belum

pernah terinfeksi dan yang sudah pernah terinfeksi. Pada individu yang telah

terinfeksi sebelumnya reaksi jaringan terjadi lebih cepat dan keras dengan

disertai nekrosis jaringan. Akan tetapi pertumbuhan kuman tertahan dan

penyebaran infeksi terhalang. Ini merupakan manifestasi reaksi

hipersensitivitas dan sekaligus imunitas.

2.2.7 Klasifikasi1,2,4

a. Klasifikasi berdasarkan lokasi anatomi dari penyakit :

1) Tuberkulosis paru : Adalah TB yang berlokasi pada parenkim

(jaringan) paru. Milier TB dianggap sebagai TB paru karena adanya

lesi pada jaringan paru. Pasien yang menderita TB paru dan sekaligus

juga menderita TB ekstra paru, diklasifikasikan sebagai pasien TB

paru.

2) Tuberkulosis ekstraparu: Adalah TB yang terjadi pada organ selain

paru, misalnya: pleura, kelenjar limfe, abdomen, saluran kencing, kulit,

sendi, selaput otak dan tulang. Limfadenitis TB dirongga dada (hilus

dan atau mediastinum) atau efusi pleura tanpa terdapat gambaran

radiologis yang mendukung TB pada paru, dinyatakan sebagai TB

ekstra paru. Diagnosis TB ekstra paru dapat ditetapkan berdasarkan

hasil pemeriksaan bakteriologis atau klinis. Diagnosis TB ekstra paru

20
harus diupayakan secara bakteriologis dengan ditemukannya

Mycobacterium tuberculosis.

Bila proses TB terdapat dibeberapa organ, penyebutan disesuaikan

dengan organ yang terkena proses TB terberat.

b. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya:

1. Pasien baru TB: adalah pasien yang belum pernah mendapatkan

pengobatan TB sebelumnya atau sudah pernah menelan OAT namun

kurang dari 1 bulan (˂ dari 28 dosis).

2. Pasien yang pernah diobati TB: adalah pasien yang sebelumnya pernah

menelan OAT selama 1 bulan atau lebih (≥ dari 28 dosis). Pasien ini

selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan hasil pengobatan TB terakhir,

yaitu:

a) Pasien kambuh: adalah pasien TB yang pernah dinyatakan sembuh

atau pengobatan lengkap dan saat ini didiagnosis TB berdasarkan

hasil pemeriksaan bakteriologis atau klinis (baik karena benar-

benar kambuh atau karena reinfeksi).

b) Pasien yang diobati kembali setelah gagal: adalah pasien TB yang

pernah diobati dan dinyatakan gagal pada pengobatan terakhir.

c) Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-

up): adalah pasien yang pernah diobati dan dinyatakan lost to

follow up. (Klasifikasi ini sebelumnya dikenal sebagai pengobatan

pasien setelah putus berobat /default).

d) Lain-lain: adalah pasien TB yang pernah diobati namun hasil akhir

pengobatan sebelumnya tidak diketahui.

21
3. Pasien yang riwayat pengobatan sebelumnya tidak diketahui. Adalah

pasien TB yang tidak masuk dalam kelompok 1) atau 2).

c. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan uji kepekaan obat

Pengelompokan pasien disini berdasarkan hasil uji kepekaan contoh uji

Mycobacterium tuberculosis terhadap OAT dan dapat berupa:

1. Mono resistan (TB MR): Mycobacterium tuberculosisresistan

terhadap salah satu jenis OAT lini pertama saja.

2. Poli resistan (TB PR): Mycobacterium tuberculosisresistan terhadap

lebih dari satu jenis OAT lini pertama selain Isoniazid (H) dan

Rifampisin (R) secara bersamaan.

3. Multi drug resistan (TB MDR): Mycobacterium tuberculosisresistan

terhadap Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) secara bersamaan, dengan

atau tanpa diikuti resitan OAT lini pertama lainnya.

4. Extensive drug resistan (TB XDR): adalah TB MDR yang sekaligus

juga Mycobacterium tuberculosis resistan terhadap salah satu OAT

golongan fluorokuinolon dan minimal salah satu dari OAT lini kedua

jenis suntikan (Kanamisin, Kapreomisin dan Amikasin).

5. Resistan Rifampisin (TB RR): Mycobacterium tuberculosisresistan

terhadap Rifampisin dengan atau tanpa resistensi terhadap OAT lain

yang terdeteksi menggunakan metode genotip (tes cepat molekuler)

atau metode fenotip (konvensional).

d. Klasifikasi pasien TB berdasarkan status HIV

1. Pasien TB dengan HIV positif (pasien ko-infeksi TB/HIV): adalah

pasien TB dengan:

22
a. Hasil tes HIV positif sebelumnya atau sedang mendapatkan ART,

atau

b. Hasil tes HIV positif pada saat diagnosis TB.

2. Pasien TB dengan HIV negatif: adalah pasien TB dengan:

a. Hasil tes HIV negatif sebelumnya, atau

b. Hasil tes HIV negative pada saat diagnosis TB.

Catatan: Apabila pada pemeriksaan selanjutnya ternyata

hasil tes HIV menjadi positif, pasien harus disesuaikan kembali

klasifikasinya sebagai pasien TB dengan HIV positif.

3. Pasien TB dengan status HIV tidak diketahui: adalah pasien TB tanpa

ada bukti pendukung hasil tes HIV saat diagnosis TB ditetapkan.

Catatan: Apabila pada pemeriksaan selanjutnya dapat diperoleh hasil

tes HIV pasien, pasien harus disesuaikan kembali klasifikasinya

berdasarkan hasil tes HIV terakhir.

2.2.7 Diagnosis1

Diagnosis TB ditetapkan berdasarkan keluhan, hasil anamnesis,

pemeriksaan klinis, pemeriksaan labotarorium dan pemeriksaan penunjang

lainnya.

1. Keluhan dan hasil anamnesis meliputi: Keluhan yang disampaikan

pasien, serta wawancara rinci berdasar keluhan pasien. Pemeriksaan klinis

berdasarkan gejala dan tanda TB yang meliputi:

a. Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2 minggu

atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak

bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan

menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa

23
kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. Pada pasien

dengan HIV positif, batuk sering kali bukan merupakan gejala TB

yang khas, sehingga gejala batuk tidak harus selalu selama 2 minggu

atau lebih.

b. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru

selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru,

dan lain-lain. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih

tinggi, maka setiap orang yang datang ke fasyankes dengan gejala

tersebut diatas, dianggap sebagai seorang terduga pasien TB, dan perlu

dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.

c. Selain gejala tersebut, perlu dipertimbangkan pemeriksaan pada orang

dengan faktor risiko, seperti : kontak erat dengan pasien TB, tinggal di

daerah padat penduduk, wilayah kumuh, daerah pengungsian, dan

orang yang bekerja dengan bahan kimia yang berrisiko menimbulkan

paparan infeksi paru.

1. Pemeriksaan Laboratorium

a. Pemeriksaan Bakteriologi

1) Pemeriksaan dahak mikroskopis langsung Pemeriksaan dahak selain

berfungsi untuk menegakkan diagnosis, juga untuk menentukan

potensi penularan dan menilai keberhasilan pengobatan. Pemeriksaan

dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan

2 contoh uji dahak yang dikumpulkan berupa dahak Sewaktu-Pagi

(SP):

a. S (Sewaktu): dahak ditampung di fasyankes.

24
b. P (Pagi): dahak ditampung pada pagi segera setelah bangun tidur.

Dapat dilakukan dirumah pasien atau di bangsal rawat inap

bilamana pasien menjalani rawat inap.

2) Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) TB Pemeriksaan tes cepat

molekuler dengan metode Xpert MTB/RIF. TCM merupakan sarana

untuk penegakan diagnosis, namun tidak dapat dimanfaatkan untuk

evaluasi hasil pengobatan.

3) Pemeriksaan Biakan Pemeriksaan biakan dapat dilakukan dengan

media padat (Lowenstein-Jensen) dan media cair (Mycobacteria

Growth Indicator Tube) untuk identifikasi Mycobacterium

tuberkulosis (M.tb).

Pemeriksaan tersebut diatas dilakukan disarana

laboratorium yang terpantau mutunya. Dalam menjamin hasil

pemeriksaan laboratorium, diperlukan contoh uji dahak yang

berkualitas. Pada faskes yang tidak memiliki akses langsung terhadap

pemeriksaan TCM, biakan, dan uji kepekaan, diperlukan sistem

transportasi contoh uji. Hal ini bertujuan untuk menjangkau pasien

yang membutuhkan akses terhadap pemeriksaan tersebut serta

mengurangi risiko penularan jika pasien bepergian langsung ke

laboratorium.

2. Pemeriksaan Radiologik

Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA dengan atau tanpa foto


lateral. Pemeriksaan lain atas indikasi : foto apiko-lordotik, oblik, CT-Scan.
Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran
bermacam-macam bentuk (multiform). Gambaran radiologik yang dicurigai
sebagai lesi TB aktif :

25
• Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas
paru dan segmen superior lobus bawah
• Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan
atau nodular
• Bayangan bercak milier
• Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)

Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif :

• Fibrotik pada segmen apikal dan atau posterior lobus atas


• Kalsifikasi atau fibrotik
• Kompleks ranke
• Fibrotoraks/Fibrosis parenkim paru dan atau penebalan pleura

Luluh Paru (Destroyed Lung ) :

Gambaran radiologik yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat,


biasanya secara klinis disebut luluh paru . Gambaran radiologik luluh paru
terdiri dari :

• Atelektasis
• Multikaviti
• fibrosis parenkim paru.
• Sulit untuk menilai aktiviti lesi atau penyakit hanya berdasarkan
gambaran radiologik tersebut. Perlu dilakukan pemeriksaan
bakteriologik untuk memastikan aktiviti proses penyakit

Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan
dapat dinyatakan sbb (terutama pada kasus BTA dahak negatif) :

• Lesi minimal , bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru
dengan luas tidak lebih dari volume paru yang terletak di atas
chondrostemal junction dari iga kedua depan dan prosesus spinosus dari
vertebra torakalis 4 atau korpus vertebra torakalis 5 (sela iga 2) dan tidak
dijumpai kaviti
• Lesi luas Bila proses lebih luas dari lesi minimal

26
3. Pemeriksaan uji kepekaan obat
Uji kepekaan obat bertujuan untuk menentukan ada tidaknya
resistensi M.tb terhadap OAT. Uji kepekaan obat tersebut harus dilakukan
di laboratorium yang telah lulus uji pemantapan mutu/Quality Assurance
(QA), dan mendapatkan sertifikat nasional maupun internasional.
4. Pemeriksaan Penunjang

Salah satu masalah dalam mendiagnosis pasti tuberkulosis adalah


lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembiakan kuman tuberkulosis
secara konvensional. Dalam perkembangan kini ada beberapa teknik baru
yang dapat mengidentifikasi kuman tuberkulosis secara lebih cepat.

1. Polymerase chain reaction (PCR)


Pemeriksaan PCR adalah teknologi canggih yang dapat mendeteksi
DNA, termasuk DNA M.tuberculosis. Salah satu masalah dalam
pelaksanaan teknik ini adalah kemungkinan kontaminasi. Cara
pemeriksaan ini telah cukup banyak dipakai, kendati masih memerlukan
ketelitian dalam pelaksanaannya. Hasil pemeriksaan PCR dapat
membantu untuk menegakkan diagnosis sepanjang pemeriksaan
tersebut dikerjakan dengan cara yang benar dan sesuai standar. Apabila
hasil pemeriksaan PCR positif sedangkan data lain tidak ada yang
menunjang kearah diagnosis TB, maka hasil tersebut tidak dapat
dipakai sebagai pegangan untuk diagnosis TB ? Pada pemeriksaan
deteksi M.tb tersebut diatas, bahan / spesimen pemeriksaan dapat
berasal dari paru maupun luar paru sesuai dengan organ yang terlibat.
2. Pemeriksaan serologi,
dengan berbagai metoda a.1:
• Enzym linked immunosorbent assay (ELISA)
Teknik ini merupakan salah satu uji serologi yang dapat
mendeteksi respon humoral berupa proses antigen-antibodi yang
terjadi. Beberapa masalah dalam teknik ini antara lain adalah
kemungkinan antibodi menetap dalam waktu yang cukup lama.
• Mycodot
Uji ini mendeteksi antibodi antimikobakterial di dalam tubuh
manusia. Uji ini menggunakan antigen lipoarabinomannan (LAM)

27
yang direkatkan pada suatu alat yang berbentuk sisir plastik. Sisir
plastik ini kemudian dicelupkan ke dalam serum penderita, dan bila
di dalam serum tersebut terdapat antibodi spesifik anti LAM dalam
jumlah yang memadai yang sesuai dengan aktiviti penyakit, maka
akan timbul perubahan warna pada sisir yang dapat dideteksi
dengan mudah
• Uji peroksidase anti peroksidase (PAP)
Uji ini merupakan salah satu jenis uji yang mendeteksi reaksi
serologi yang terjadi
• ICT
Uji Immunochromatographic tuberculosis (ICT tuberculosis)
adalah uji serologik untuk mendeteksi antibodi M.tuberculosis
dalam serum. Uji ICT tuberculosis merupakan uji diagnostik TB
yang menggunakan 5 antigen spesifik yang berasal dari membran
sitoplasma M.tuberculosis, diantaranya antigen M.tb 38 kDa. Ke 5
antigen tersebut diendapkan dalam bentuk 4 garis melintang pada
membran immunokromatografik (2 antigen diantaranya digabung
dalam 1 garis) dismaping garis kontrol. Serum yang akan diperiksa
sebanyak 30 µl diteteskan ke bantalan warna biru, kemudian serum
akan berdifusi melewati garis antigen. Apabila serum mengandung
antibodi IgG terhadap M.tuberculosis, maka antibodi akan
berikatan dengan antigen dan membentuk garis warna merah muda.
Uji dinyatakan positif bila setelah 15 menit terbentuk garis kontrol
dan minimal satu dari empat garis antigen pada membran. Dalam
menginterpretasi hasil pemeriksaan serologi yang diperoleh, para
klinisi harus hati hati karena banyak variabel yang mempengaruhi
kadar antibodi yang terdeteksi. Saat ini pemeriksaan serologi
belum bisa dipakai sebagai pegangan untuk diagnosis
3. Pemeriksaan BACTEC
Dasar teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC ini adalah
metode radiometrik. M tuberculosis memetabolisme asam lemak yang
kemudian menghasilkan CO2 yang akan dideteksi growth indexnya
oleh mesin ini. Sistem ini dapat menjadi salah satu alternatif

28
pemeriksaan biakan secara cepat untuk membantu menegakkan
diagnosis.

4. Pemeriksaan Cairan Pleura


Pemeriksaan analisis cairan pleura & uji Rivalta cairan pleura
perlu dilakukan pada penderita efusi pleura untuk membantu
menegakkan diagnosis. Interpretasi hasil analisis yang mendukung
diagnosis tuberkulosis adalah uji Rivalta positif dan kesan cairan
eksudat, serta pada analisis cairan pleura terdapat sel limfosit dominan
dan glukosa rendah
5. Pemeriksaan histopatologi jaringan
Bahan histopatologi jaringan dapat diperoleh melalui biopsi paru
dengan trans bronchial lung biopsy (TBLB), trans thoracal biopsy
(TTB), biopsi paru terbuka, biopsi pleura, biopsi kelenjar getah bening
dan biopsi organ lain diluar paru. Dapat pula dilakukan biopsi aspirasi
dengan jarum halus (BJH =biopsi jarum halus). Pemeriksaan biopsi
dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis, terutama pada
tuberkulosis ekstra paru. Diagnosis pasti infeksi TB didapatkan bila
pemeriksaan histopatologi pada jaringan paru atau jaringan diluar paru
memberikan hasil berupa granuloma dengan perkejuan
6. Pemeriksaan darah
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator
yang spesifik untuk tuberkulosis. Laju endap darah ( LED) jam
pertama dan kedua sangat dibutuhkan. Data ini sangat penting sebagai
indikator tingkat kestabilan keadaan nilai keseimbangan biologik
penderita, sehingga dapat digunakan untuk salah satu respon terhadap
pengobatan penderita serta kemungkinan sebagai predeteksi tingkat
penyembuhan penderita.
Demikian pula kadar limfosit bisa menggambarkan biologik/ daya
tahan tubuh penderida , yaitu dalam keadaan supresi / tidak. LED
sering meningkat pada proses aktif, tetapi laju endap darah yang normal
tidak menyingkirkan tuberkulosis. Limfositpun kurang spesifik.
7. Uji tuberkulin

29
Pemeriksaan ini sangat berarti dalam usaha mendeteksi infeksi TB
di daerah dengan prevalensi tuberkulosis rendah. Di Indonesia dengan
prevalensi tuberkulosis yang tinggi, pemeriksaan uji tuberkulin sebagai
alat bantu diagnostik kurang berarti, apalagi pada orang dewasa. Uji ini
akan mempunyai makna bila didapatkan konversi dari uji yang
dilakukan satu bulan sebelumnya atau apabila kepositifan dari uji yang
didapat besar sekali atau bula.
Pada pleuritis tuberkulosa uji tuberkulin kadang negatif, terutama
pada malnutrisi dan infeksi HIV. Jika awalnya negatif mungkin dapat
menjadi positif jika diulang 1 bulan kemudian. Sebenarnya secara tidak
langsung reaksi yang ditimbulkan hanya menunjukkan gambaran reaksi
tubuh yang analog dengan ; a) reaksi peradangan dari lesi yang berada
pada target organ yang terkena infeksi atau b) status respon imun
individu yang tersedia bila menghadapi agent dari basil tahan asam
yang bersangkutan (M.tuberculosis).

30
Gambar 3. Alur diagnosis TB dan TB Resistan Obat di Indonesia1

Keterangan alur:

Prinsip penegakan diagnosis TB:

 Diagnosis TB Paru pada orang dewasa harus ditegakkan terlebih dahulu dengan
pemeriksaan bakteriologis. Pemeriksaan bakteriologis yang dimaksud adalah
pemeriksaan mikroskopis, tes cepat molekuler TB dan biakan.

31
 Pemeriksaan TCM digunakan untuk penegakan diagnosis TB, sedangkan
pemantauan kemajuan pengobatan tetap dilakukan dengan pemeriksaan
mikroskopis.
 Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks
saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang spesifik pada TB paru,
sehingga dapat menyebabkan terjadi overdiagnosis ataupun underdiagnosis.
 Tidak dibenarkan mendiagnosis TB dengan pemeriksaan serologis.
a. Faskes yang mempunyai Alat Tes Cepat Molukuler (TCM) TB:
1) Faskes yang mempunyai akses pemeriksaan TCM, penegakan diagnosis TB
pada terduga TB dilakukan dengan pemeriksaan TCM. Pada kondisi dimana
pemeriksaan TCM tidak memungkinkan (misalnya alat TCM melampui
kapasitas pemeriksaan, alat TCM mengalami kerusakan, dll), penegakan
diagnosis TB dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis.
2) Jika terduga TB adalah kelompok terduga TB RO dan terduga TB dengan
HIV positif, harus tetap diupayakan untuk dilakukan penegakan diagnosis TB
dengan TCM TB, dengan cara melakukan rujukan ke layanan tes cepat
molekuler terdekat, baik dengan cara rujukan pasien atau rujukan contoh uji.
3) Jumlah contoh uji dahak yang diperlukan untuk pemeriksaan TCM sebanyak
2 (dua) dengan kualitas yang bagus. Satu contoh uji untuk diperiksa TCM,
satu contoh uji untuk disimpan sementara dan akan diperiksa jika diperlukan
(misalnya pada hasil indeterminate, pada hasil Rif Resistan pada terduga TB
yang bukan kriteria terduga TB RO, pada hasil Rif Resistan untuk selanjutnya
dahak dikirim ke Laboratorium LPA untuk pemeriksaan uji kepekaan Lini2
dengan metode cepat)
4) Contoh uji non-dahak yang dapat diperiksa dengan MTB/RIF terdiri atas
cairan serebrospinal (Cerebro Spinal Fluid/CSF), jaringan biopsi, bilasan
lambung (gastric lavage), dan aspirasi cairan lambung (gastric aspirate).
5) Pasien dengan hasil Mtb Resistan Rifampisin tetapi bukan berasal dari
kriteria terduga TB RO harus dilakukan pemeriksaan TCM ulang. Jika
terdapat perbedaan hasil, maka hasil pemeriksaan TCM yang terakhir yang
menjadi acuan tindakan selanjutnya.
6) Jika hasil TCM indeterminate, lakukan pemeriksaan TCM ulang. Jika hasil
tetap sama, berikan pengobatan TB Lini 1, lakukan biakan dan uji kepekaan.

32
7) Pengobatan standar TB MDR segera diberikan kepada semua pasien TB RR,
tanpa menunggu hasil pemeriksaan uji kepekaan OAT lini 1 dan lini 2 keluar.
Jika hasil resistensi menunjukkan MDR, lanjutkan pengobatan TB MDR.
Bila ada tambahan resistensi terhadap OAT lainnya, pengobatan harus
disesuaikan dengan hasil uji kepekaan OAT.
8) Pemeriksaan uji kepekaan menggunakan metode LPA (Line Probe Assay)
Lini-2 atau dengan metode konvensional
9) Pengobatan TB pre XDR/ TB XDR menggunakan paduan standar TB pre
XDR atau TB XDR atau menggunakan paduan obat baru.
10) Pasien dengan hasil TCM M.tb negatif, lakukan pemeriksaan foto toraks. Jika
gambaran foto toraks mendukung TB dan atas pertimbangan dokter, pasien
dapat didiagnosis sebagai pasien TB terkonfirmasi klinis. Jika gambaran foto
toraks tidak mendukung TB kemungkinan bukan TB, dicari kemungkinan
penyebab lain.
b. Faskes yang tidak mempunyai Alat Tes Cepat Molukuler (TCM) TB
1) Faskes yang tidak mempunyai alat TCM dan kesulitan mengakses TCM,
penegakan diagnosis TB tetap menggunakan mikroskop.
2) Jumlah contoh uji dahak untuk pemeriksaan mikroskop sebanyak 2 (dua)
dengan kualitas yang bagus. Contoh uji dapat berasal dari dahak Sewaktu-
Sewaktu atau Sewaktu-Pagi.
3) BTA (+) adalah jika salah satu atau kedua contoh uji dahak menunjukkan hasil
pemeriksaan BTA positif. Pasien yang menunjukkan hasil BTA (+) pada
pemeriksaan dahak pertama, pasien dapat segera ditegakkan sebagai pasien
dengan BTA (+)
4) BTA (-) adalah jika kedua contoh uji dahak menunjukkan hasil BTA negatif.
Apabila pemeriksaan secara mikroskopis hasilnya negatif, maka penegakan
diagnosis TB dapat dilakukan secara klinis menggunakan hasil pemeriksaan
klinis dan penunjang (setidak-tidaknya pemeriksaan foto toraks) yang sesuai
dan ditetapkan oleh dokter.
5) Apabila pemeriksaan secara mikroskopis hasilnya negatif dan tidak memilki
akses rujukan (radiologi/TCM/biakan) maka dilakukan pemberian terapi
antibiotika spektrum luas (Non OAT dan Non kuinolon) terlebih dahulu
selama 1-2 minggu. Jika tidak ada perbaikan klinis setelah pemberian
antibiotik, pasien perlu dikaji faktor risiko TB. Pasien dengan faktor risiko TB

33
tinggi maka pasien dapat didiagnosis sebagai TB Klinis. Faktor risiko TB yang
dimaksud antara lain:
a. Terbukti ada kontak dengan pasien TB
b. Ada penyakit komorbid: HIV, DM
c. Tinggal di wilayah berisiko TB: Lapas/Rutan, tempat penampungan
pengungsi, daerah kumuh, dll.
c. Diagnosis TB ekstraparu:
1) Gejala dan keluhan tergantung pada organ yang terkena, misalnya kaku kuduk
pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran
kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB serta deformitas tulang
belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lain-lainnya.
2) Diagnosis pasti pada pasien TB ekstra paru ditegakkan dengan pemeriksaan
klinis, bakteriologis dan atau histopatologis dari contoh uji yang diambil dari
organ tubuh yang terkena.
3) Pemeriksaan mikroskopis dahak wajib dilakukan untuk memastikan
kemungkinan TB Paru.
4) Pemeriksaan TCM pada beberapa kasus curiga TB ekstraparu dilakukan
dengan contoh uji cairan serebrospinal (Cerebro Spinal Fluid/CSF) pada
kecurigaan TB meningitis, contoh uji kelenjar getah bening melalui
pemeriksaan Biopsi Aspirasi Jarum Halus/BAJAH (Fine Neddle Aspirate
Biopsy/FNAB) pada pasien dengan kecurigaan TB kelenjar, dan contoh uji
jaringan pada pasien dengan kecurigaan TB jaringan lainnya.
d. Diagnosis TB Resistan Obat: Seperti juga pada diagnosis TB maka diagnosis TB-
RO juga diawali dengan penemuan pasien terduga TB-RO
1) Terduga TB-RO Terduga TB-RO adalah pasien yang memiliki risiko tinggi
resistan terhadap OAT, yaitu pasien yang mempunyai gejala TB yang
memiliki riwayat satu atau lebih di bawah ini:
 Pasien TB gagal pengobatan Kategori2.
 Pasien TB pengobatan kategori 2 yang tidak konversi setelah 3 bulan
pengobatan. c) Pasien TB yang mempunyai riwayat pengobatan TB yang
tidak standar serta menggunakan kuinolon dan obat injeksi lini kedua
paling sedikit selama 1 bulan. d) Pasien TB gagal pengobatan kategori 1.

34
 Pasien TB pengobatan kategori 1 yang tidak konversi setelah 2 bulan
pengobatan. f) Pasien TB kasus kambuh (relaps), dengan pengobatan
OAT kategori 1 dan kategori 2.
 Pasien TB yang kembali setelah loss to follow-up (lalai berobat/default).
 Terduga TB yang mempunyai riwayat kontak erat dengan pasien TB- RO,
termasuk dalam hal ini warga binaan yang ada di Lapas/Rutan, hunian
padat seperti asrama, barak, buruh pabrik.
 Pasien ko-infeksi TB-HIV yang tidak respons secara bakteriologis
maupun klinis terhadap pemberian OAT, (bila pada penegakan diagnosis
awal tidak menggunakan TCM TB).
2) Pasien dengan risiko rendah TB RO Selain 9 kriteria di atas, kasus TB RO
dapat juga dijumpai pada kasus TB baru, sehingga pada kasus ini perlu juga
dilakukan penegakan diagnosis dengan TCM TB jika fasilitas memungkinkan.
Pada kelompok ini, jika hasil pemeriksaan tes cepat memberikan hasil TB RR,
maka pemeriksaan TCM TB perlu dilakukan sekali lagi untuk memastikan
diagnosisnya.

Diagnosis TB-RO ditegakkan berdasarkan pemeriksaan uji kepekaan


M. Tuberculosis menggunakan metode standar yang tersedia di Indonesia
yaitu metode tes cepat molekuler TB dan metode konvensional. Saat ini
metode tes cepat yang dapat digunakan adalah pemeriksaan molecular dengan
Tes cepat molekuler TB (TCM) dan Line Probe Assay (LPA). Sedangkan
metode konvensional yang digunakan adalah Lowenstein Jensen (LJ) dan
MGIT.

2.2.8 Penatalaksanaan1

a. Tujuan Pengobatan TB adalah:

1) Menyembuhkan pasien dan memperbaiki produktivitas serta kualitas

hidup.

2) Mencegah terjadinya kematian oleh karena TB atau dampak buruk

selanjutnya.

3) Mencegah terjadinya kekambuhan TB.

35
4) Menurunkan risiko penularan TB.

5) Mencegah terjadinya dan penularan TB resistan obat.

b. Prinsip Pengobatan TB: Obat Anti Tuberkulosis (OAT) adalah komponen

terpenting dalam pengobatan TB. Pengobatan TB merupakan salah satu

upaya paling efisien untuk mencegah penyebaran lebih lanjut kuman TB.

Pengobatan yang adekuat harus memenuhi prinsip:

1) Pengobatan diberikan dalam bentuk paduan OAT yang tepat

mengandung minimal 4 macam obat untuk mencegah terjadinya

resistensi. 2) Diberikan dalam dosis yang tepat.

2) Ditelan secara teratur dan diawasi secara langsung oleh PMO

(Pengawas Menelan Obat) sampai selesai pengobatan.

3) Pengobatan diberikan dalam jangka waktu yang cukup, terbagi dalam

dua (2) tahap yaitu tahap awal serta tahap lanjutan, sebagai pengobatan

yang adekuat untuk mencegah kekambuhan.

c. Tahapan Pengobatan TB: Pengobatan TB harus selalu meliputi pengobatan

tahap awal dan tahap lanjutan dengan maksud:

1) Tahap Awal: Pengobatan diberikan setiap hari. Paduan pengobatan

pada tahap ini adalah dimaksudkan untuk secara efektif menurunkan

jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien dan meminimalisir

pengaruh dari sebagian kecil kuman yang mungkin sudah resistan

sejak sebelum pasien mendapatkan pengobatan. Pengobatan tahap awal

pada semua pasien baru, harus diberikan selama 2 bulan. Pada

umumnya dengan pengobatan secara teratur dan tanpa adanya penyulit,

daya penularan sudah sangat menurun setelah pengobatan selama 2

minggu pertama.

36
2) Tahap Lanjutan: Pengobatan tahap lanjutan bertujuan membunuh sisa

sisa kuman yang masih ada dalam tubuh, khususnya kuman persister

sehingga pasien dapat sembuh dan mencegah terjadinya kekambuhan

d. Jenis Obat Anti Tuberkulosis (OAT)

Tabel 1. OAT Lini Pertama

37
38
Tabel 2. OAT lini kedua

Keterangan:

*Tidak disediakan oleh program

**Tidak termasuk obat suntik lini kedua, tetapi dapat diberikan pada kondisi

tertentu dan tidak disediakan oleh program

39
e. Paduan OAT yang digunakan di Indonesia

Paduan yang digunakan adalah ;

1) Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3 atau 2(HRZE)/4(HR).

2) Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3

atau 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)E.

3) Kategori Anak : 2(HRZ)/4(HR) atau 2HRZE(S)/4-10HR.

4) Paduan OAT untuk pasien TB Resistan Obat: terdiri dari OAT lini ke-2

yaitu Kanamisin, Kapreomisin, Levofloksasin, Etionamide, Sikloserin,

Moksifloksasin, PAS, Bedaquilin, Clofazimin, Linezolid, Delamanid dan

obat TB baru lainnya serta OAT lini-1, yaitu pirazinamid and etambutol.

Catatan: Pengobatan TB dengan paduan OAT Lini Pertama yang digunakan di

Indonesia dapat diberikan dengan dosis harian maupun dosis intermiten (diberikan 3

kali perminggu) dengan mengacu pada dosis terapi yang telah direkomendasikan

(Tabel 3 Dosis rekomendasi OAT Lini Pertama untuk pasien Dewasa). Penyediaan

OAT dengan dosis harian saat ini sedang dalam proses pengadaan oleh Program TB

Nasional.

Tabel 3. Dosis rekomendasi OAT Lini pertama

40
1) Kategori-1:

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:

a. Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis.

b. Pasien TB paru terdiagnosis klinis.

c. Pasien TB ekstra paru.

a. Dosis harian (2(HRZE)/4(HR))

Tabel 4. Dosis Paduan OAT KDT Kategori 1 (2(HRZE)/4(HR))

41
b. Dosis harian fase awal dan dosis intermiten fase lanjutan (2(HRZE)/4(HR)3)

Tabel 4. Dosis Paduan OAT KDT Kategori 1 (2(HRZE)/4(HR)3)

42
Tabl 5. Dosis Paduan OAT Kombipak Kategori 1

2) Kategori -2

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang pernah diobati

sebelumnya (pengobatan ulang) yaitu:

a) Pasien kambuh.

b) Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan OAT kategori 1 sebelumnya.

c) Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up).

a. Dosis harian {2(HRZE)S/(HRZE)/5(HRE)}

Tabel 9. Dosis Paduan OAT KDT Kategori 2 {2(HRZE)S/(HRZE)/5(HRE)

2.1.1 Kondisi khusus

Tuberkulosis Primer1,2

Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang

di jaringan paru, dimana ia akan membentuk suatu sarang pneumonik, yang

disebut sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini mugkin timbul di

bagian mana saja dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang

primer akan kelihatan peradangan saluran getah bening menuju hilus

(limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar

getah bening di hilus (limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama

dengan limfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks

primer ini akan mengalami salah satu nasib sebagai berikut :

1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad

integrum)

43
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon,

garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus)

3. Menyebar dengan cara :

a. Perkontinuitatum, menyebar kesekitarnya Salah satu contoh

adalah epituberkulosis, yaitu suatu kejadian dimana terdapat

penekanan bronkus, biasanya bronkus lobus medius oleh kelenjar

hilus yang membesar sehingga menimbulkan obstruksi pada

saluran napas bersangkutan, dengan akibat atelektasis. Kuman

tuberkulosis akan menjalar sepanjang bronkus yang tersumbat ini

ke lobus yang atelektasis dan menimbulkan peradangan pada

lobus yang atelektasis tersebut, yang dikenal sebagai

epituberkulosis.

b. Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun

ke paru sebelahnya. Penyebaran ini juga terjadi ke dalam usus

c. Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Kejadian

penyebaran ini sangat bersangkutan dengan daya tahan tubuh,

jumlah dan virulensi basil. Sarang yang ditimbulkan dapat

sembuh secara spontan, akan tetapi bila tidak terdapat imuniti

yang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup

gawat seperti tuberkulosis milier, meningitis tuberkulosa,

typhobacillosis Landouzy. Penyebaran ini juga dapat

menimbulkan tuberkulosis pada alat tubuh lainnya, misalnya

tulang, ginjal, anak ginjal, genitalia dan sebagainya. Komplikasi

dan penyebaran ini mungkin berakhir dengan : • Sembuh dengan

meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan terbelakang pada

44
anak setelah mendapat ensefalomeningitis, tuberkuloma ) atau •

Meninggal Semua kejadian diatas adalah perjalanan tuberkulosis

primer.

Tuberkulosis Post-Primer1,2,3

Dari tuberkulosis primer ini akan muncul bertahun-tahun kemudian

tuberkulosis post-primer, biasanya pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis post

primer mempunyai nama yang bermacam macam yaitu tuberkulosis bentuk

dewasa, localized tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan sebagainya.

Bentuk tuberkulosis inilah yang terutama menjadi problem kesehatan rakyat,

karena dapat menjadi sumber penularan.

Tuberkulosis post-primer dimulai dengan sarang dini, yang umumnya

terletak di segmen apikal dari lobus superior maupun lobus inferior. Sarang

dini ini awalnya berbentuk suatu sarang pneumonik kecil. Nasib sarang

pneumonik ini akan mengikuti salah satu jalan sebagai berikut :

1. Diresopsi kembali, dan sembuh kembali dengan tidak meninggalkan

cacat

2. Sarang tadi mula mula meluas, tapi segera terjadi proses

penyembuhan dengan penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan

membungkus diri menjadi lebih keras, terjadi perkapuran, dan akan

sembuh dalam bentuk perkapuran. Sebaliknya dapat juga sarang

tersebut menjadi aktif kembali, membentuk jaringan keju dan

menimbulkan kaviti bila jaringan keju dibatukkan keluar.

3. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan

kaseosa). Kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju

45
keluar. Kaviti awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya akan

menjadi tebal (kaviti sklerotik). Nasib kaviti ini :

a. Mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang

pneumonik baru. Sarang pneumonik ini akan mengikuti pola

perjalanan seperti yang disebutkan diatas

b. Dapat pula memadat dan membungkus diri (encapsulated),

dan disebut tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan

menyembuh, tapi mungkin pula aktif kembali, mencair lagi

dan menjadi kaviti lagi

Kaviti bisa pula menjadi bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity,
atau kaviti menyembuh dengan membungkus diri, akhirnya mengecil. Kemungkinan
berakhir sebagai kaviti yang terbungkus, dan menciut sehingga kelihatan seperti
bintang (stellate shaped).

46
BAB III

LAPORAN KASUS

Identitas Pasien

Nama : Tn. S

Umur : 67 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Sungai Mandau

Pekerjaan : Tani

Tanggal dan jam masuk RS : 18 november 2018

Nomor rekam medik : 20 86 98

ANAMNESIS

Keluhan Utama

Batuk berdarah sejak 3 minggu SMRS.

Keluhan Tambahan

Batuk berdahak, demam, sesak napas, pusing, mual, keringat malam, mudah
lelah, berat badan menurun.

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien laki-laki 67 tahun datang ke IGD RSUD TENGKU RAFI’AN SIAK


rujukan dari PUSKESMAS SUNGAI MANDAU dengan keluhan batuk berdarah
sejak 3 minggu yang lalu. 2 bulan SMRS pasien mengeluh batuk berdahak dengan
dahak berwarna kehijauan. Pasien juga merasa sering merasa lelah, keringat malam,
demam yang naik turun sehingga pasien merasakan seperti meriang, nafsu makan
menurun, dan berat badan menurun. 3 minggu SMRS pasien mengeluh batuk
berdarah. Batuk berdahak sepanjang hari, tetapi batuk berdarah hanya 1 kali dalam 1
hari. Darah berwarna merah segar pada awalnya, dan berwarna merah kehitaman
diakhir batuk. Darah sebanyak sekitar setengah gelas. Darah tidak bercampur dengan
makanan. Batuk berdarah didahului dengan batuk dan tidak diikuti dengan perasaan
mual. Apabila pasien batuk berdarah, maka pasien akan merasakan sesak napas.
sekitar 1 gelas. Sehingga membuat pasien khawatir dan pergi ke puskesmas. Pasien
merasakn mual tetapi tidak muntah. Pasien juga merasakan mudah merasa lelah. BAK
dan BAB pasien normal.

47
Riwayat Penyakit Dahulu

 Pasien belum pernah mengalamai gejala seperti yang dikeluhkan sekarang.


 Tidak ada riwayat hipertensi.
 Tidak ada riwayat penyakit jantung.
 Tidak ada riwayat Diabetes Mellitus.

Riwayat Penyakit Keluarga

 Tidak ada keluhan pasien mengeluhkan gejala sama seperti yang dikeluhkan
pasien.
 Tidak ada riwayat hipertensi didalam keluarga.
 Tidak ada riwayat penyakit jantung.
 Tidak ada riwayat Diabetes Mellitus didalam keluarga.

Riwayat Alergi

 Tidak ada riwayat alergi obat-obatan.


 Tidak ada riwayat alergi makanan , dll

Riwayat Psikososial

Pasien dahulunya perokok sekitar 2 bungkus setiap hari selama 10 tahun.


Tidak minum-minuman beralkohol, jarang berolahraga, makan teratur.

PEMERIKSAAN UMUM

Keadaan Umum : Pasien tampak sakit sedang.

Kesadaran : Composmentis

Status Gizi

Berat badan sebelum sakit : 45 kg

Berat badan sesudah sakit : 42 kg

Tinggi badan : 155 cm

IMT : 17,48 (underweight)

48
Tanda vital

Suhu : 36,20 C

Nadi : 80 kali per menit

Pernafasan : 20 kali per menit

Tekanan Darah : 110/70 mmHg

STATUS GENERALIS

Kepala : Normocephal, rambut hitam, tidak mudah rontok, distribusi merata

Mata :

 Pupil : Isokhor
 Refleks cahaya : +/+
 Konjungtiva : Anemis +/+
 Sklera : Ikterik -/-

Hidung :

 Septum deviasi :-
 Sekret : -/-
 Hiperemis : -/-

Telinga :

 Bentuk telinga normal kanan dan kiri


 Membran timpani intak kanan dan kiri
 Mukosa : tidak hiperemis kanan dan kiri
 Serumen : -/-
 Sekret : -/-

Mulut :

 Mukosa bibir kering


 Karies pada gigi
 Faring tidak hiperemis

49
Leher :

 Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening


 Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid

Torax

Paru

Inspeksi :

 Normochest
 Bentuk dada simetris
 Tidak ada retraksi dinding dada

Palpasi :

 Tidak ada nyeri tekan


 Vokal fremitus +/+

Perkusi :

 Tidak dilakukan

Auskultasi :

 Vesikular dikedua lapang paru


 Ronkhi +/-
 Wheezing -/-

Jantung

Inspeksi : Iktus cordis tampak di ICS 5 mid clavicula sinistra

Palpasi : IKtus cordis teraba di linea midclavicularis sinistra ICS 5

Perkusi : Tidak dilakukan

Auskultasi : BJ 1 dan BJ 2 tunggal, murmur -, gallop –

50
Abdomen

Inspeksi : Perut tampak datar, tidak ada venektasi, tidak ada skar.

Auskultasi : Bising usus 4 kali per menit

Perkusi : Shifting dullness (-)

Asites : Negatif

Palpasi :

 Hepatomegali (-)
 Spleenomegali (-)
 Nyeri epigastrium (-)

Ekstremitas Atas : Ekstremitas atas hangat, edema -/-

Ekstremitas Bawah : Akral hangat, edema -/-

Pemeriksaan Penunjang

Hasil foto thorax PA

Cor: besar dan bentuk normal

Pulmo :tampak fibro infiltrat dengan multiple cavitas disuprahiler kanan, sinus
phrenicocostalis kanan tajam, kedua diafragma tenting, trakea ditengah,sistema tulang
baik

Kesimpulan: TB Paru

51
Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Hasil Nilai Normal


HB 11,4 14-18%
HT 36,1 40-52%
Leukosit 7,6 5000-10.000mm3
Eritrosit 4,19 4.5Juta
Trombosit 199
GDS 93 76-110mg/dl

Diagnosis

Assesment Hemoptisis e.c TB Paru BTA(?)

Penatalaksanaan

-IVFD RL 20

-Inj. Asam tranexamat 500mg/8jam

-vit k tab 3x10mg

-codein tab 3x 10mg

-cek TCM

52
DAFTAR PUSTAKA

1. American Thoracic Society. Diagnostic Standard and Classification of


Tuberculosis in Adults and Children. 2000. USA.

2.Bahar, A. Tuberkulosis Paru dalam Soeparman, WS. Ilmu Penyakit Dalam, jilid II,
Balai Penerbit FKUI, 2003: Jakarta.

3.Departeman Kesehatan. Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan


Tuberkulosis, 2007: Jakarta.

4.E, Jewetz, Mikrobiology Untuk Profesi Kesehatan edisi 16, Fransisico


(terjemahan), EGC, 2004: Jakarta.

5.Wilson, Price, Patofisiologi,Konsep-konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, ed,4.


EGC, 2004: Jakarta.

6.World Health Organization.Treatment of Tuberculosis Guideline. 2010 : Geneva,


Switzerland

7.World Health Organization.Global Tuberculosis Control. 2011 : Geneva,


Switzerland

53