Anda di halaman 1dari 10

“HIV SUBTYPE DAN PREVALENSI DI ASIA”

Tujuan pembuatan makalah ini adalah memberikan pengetahuan mengenai beberapa tipe HIV di Asia.

Ditulis Oleh : FITRIANI RAHMAWATI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TRISAKTI, JAKARTA, INDONESIA


BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Human immunodeficiency virus (HIV) sebagai virus penyebab AIDS (Acquired Immune
Deficiency Syndrome) ada dua tipe yaitu HIV-1 dan HIV-2. 1-4 Secara phylogenetic HIV- 1 terbagi
atas grup, subtipe, circulating recombinant form (CRF) dan sub-subtipe. Kelompok terbesar disebut
grup M (main, major), kelompok lain disebut grup O (outlier) dan grup N (New, non M non O). Grup
M tersebar luas dan merupakan penyebab tersering epidemi HIV diseluruh dunia 5,6. Grup O bersifat
endemik di Cameroon dan negara sekitarnya di Afrika Barat dengan prevalensi sekitar 2-5 %,
sedangkan grup N (New, non M non O) hanya didapatkan pada beberapa isolat dari Afrika. Subtipe
dari grup M diberi nama abjad sesuai dengan urutan penemuannya dan sampai sekarang dikenal 9
subtipe yaitu Subtipe A, B, C, D, F, G, H, J dan K. Antara satu subtipe dengan subtipe lainnya dapat
membentuk rekombinan yang disebut CRF (circulating recombinant form) dan sampai saat ini telah
ditemukan sebanyak 34 CRFs. Dari HIV-2, sampai saat ini dikenal Subtipe A dan B, tapi sedikit
sekali dibahas dalam jurnal, karena epidemi HIV disebabkan sebagian besar oleh HIV-1 7,8. Subtipe
HIV-1 secara global mempunyai distribusi yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya,
dan prevalensinya berubah dari waktu ke waktu. Hal tersebut terlihat dari laporan UNAIDS (United
Nation joint program on AIDS) yang memperkirakan prevalensi subtipe HIV-1 pada tahun 2000
adalah 45% Subtipe C, 25% Subtipe A, 16% Subtipe B, 4% Subtipe D, 4% Subtipe E dan 3% subtipe
lainnya. Pada tahun 2002 didapatkan perubahan dimana Subtipe A menjadi 35% dan Subtipe C
menjadi 30%, sedangkan subtipe lainnya relatif tetap 9,10. Sementara ini distribusi global Subtipe
HIV-1 dipercaya lebih berhubungan dengan perubahan sosial ekonomi, imigrasi, dan perjalanan
internasional dibandingkan dengan perbedaan sifat atau daya transmisi virus 11. Di Afrika, Subtipe
HIV-1 tidak jelas mengalami segregasi pada kelompok perilaku risiko tinggi tertentu, namun di Asia
Tenggara, misalnya Thailand terlihat adanya segregasi yang jelas, paling tidak pada awal epidemi,
dimana Subtipe B ditemukan pada IDU (injecting drug users) atau pengguna narkotika suntik
(penasun) dan CRF01_AE ditemukan pada penularan secara heteroseksual 12,13. Pengaruh
perbedaan subtipe HIV-1 ini secara signifikan belum dapat disimpulkan. Masih banyak kontroversial
mengenai seberapa jauh implikasi perbedaan subtipe HIV-1 dalam pewabahan HIV sehingga terjadi
distribusi global subtipe seperti tersebut di atas. Seberapa jauh peranan subtipe dalam cara transmisi
dan progresifitas penyakit, juga masih merupakan perdebatan.

Penelitian di Thailand menyatakan subtipe berhubungan dengan cara dan kecepatan transmisi,
dimana Subtipe B berhubungan dengan transmisi homoseksual dan intravenous drug user (IDU),
sedangkan Subtipe A, CRF01_AE dan C berhubungan dengan transmisi heteroseksual (14). Di
samping itu penelitian terhadap 185 pasangan yang salah satunya terinfeksi Subtipe E atau B
menunjukkan probabilitas penularan pada pasangannya lebih tinggi pada Subtipe CRF01_AE (69%)
dibanding Subtipe B(48%) 14. Penelitian di Afrika 15 diketemukan ada kemungkinan subtipe HIV-1
yang berbeda menunjukkan progresifitas penyakit yang berbeda, namun penelitian di Eropa 16 dan
Thailand 17 menyatakan tidak ada perbedaan progresifitas penyakit diantara subtipe yang berbeda,
ataupun ethnik yang berbeda. Bila memang perbedaan subtipe juga menunjukkan perbedaan sifat
biologik dan imunologik yang bermakna, tentunya pembuatan vaksin yang efektif memerlukan strain
yang subtype-specific atau geographic specific. Namun demikian hubungan antara sifat-sifat biologi
virus dengan genetik berbagai subtipe HIV masih belum diketahui dengan jelas sehingga perlu
diteliti lebih lanjut 18,19. Dari dua penelitian dengan sampel terbatas menunjukkan terdapat dua
subtipe HIV-1 beredar di Indonesia, yaitu Subtipe B dan CRF01_AE 20,21. Bagaimana jenis subtipe
HIV-1 di Bali belum pernah dilaporkan. Karena itu penting sekali melakukan penelitian untuk
menentukan subtipe HIV-1 di Bali, sehingga diperoleh data dasar pemetaan subtipe HIV- 1 yang dapat
menjadi rujukan dalam perkembangan epidemi HIV dan pengembangan vaksin di masa mendatang,
disamping manfaat dalam aplikasi kliniknya.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi HIV

Pengertian HIV merupakan singkatan dari 'Human Immunodeficiency Virus'. HIV adalah suatu
virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem
kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Dengan kata lain,
kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun. Atau HIV
merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4
positive T-sel dan macrophages– komponen-komponen utama sistem kekebalan sel), dan
menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan
sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh. Sistem
kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi
infeksi dan penyakit-penyakit. Orang yang kekebalan tubuhnya defisien (Immunodeficient) menjadi
lebih rentan terhadap berbagai ragam infeksi, yang sebagian besar jarang menjangkiti orang yang
tidak mengalami defisiensi kekebalan. Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan defisiensi kekebalan
yang parah dikenal sebagai "infeksi oportunistik" karena infeksi-infeksi tersebut memanfaatkan
sistem kekebalan tubuh yang melemah.

2. Tipe HIV

Saat ini ada dua tipe (type) HIV: HIV-1 dan HIV-2. Di seluruh dunia, virus yang utama adalah
HIV-1, dan umumnya bila orang terserang HIV tanpa ditentukan tipe virusnya, maksudnya adalah
HIV-1. Baik HIV-1 dan HIV-2 disebarkan melalui hubungan seksual, darah, dan dari ibu-ke-bayi,
serta keduanya terlihat mengakibatkan AIDS yang secara klinis tidak dapat dibedakan. Namun, HIV-1
lebih mudah disebarkan dibanding dengan HIV-2, dan jangka waktu antara penularan dan penyakit
yang timbul karena HIV-2 lebih lama. HIV-1 bermutasi lebih cepat karena reflikasi lebih cepat.
Berbagai macam subtype dari HIV-1 telah d temukan dalam daerah geografis yang spesifik dan
kelompok spesifik resiko tinggi. Individu dapat terinfeksi oleh subtipe yang berbeda. Berikut adalah
subtipe HIV-1 dan distribusi geografisnya:

Sub tipe A: Afrika tengah

Sub tipe B: Amerika selatan,brasil,rusia,Thailand

Sub tipe C: Brasil,india,afrika selatan

Sub tipe D: Afrika tengah

Sub tipe E:Thailand,afrika tengah

Sub tipe F: Brasil,Rumania,Zaire

Sub tipe G: Zaire,gabon,Thailand

Sub tipe H: Zaire,gabon

Sub tipe O: Kamerun,gabon

Sub tipe C sekarang ini terhitung lebih dari separuh dari semua infeksi HIV baru d seluruh dunia.
3. Etiologi

HIV ialah retrovirus yang di sebut lymphadenopathy Associated virus (LAV) atau human T-
cell leukemia virus 111 (HTLV-111) yang juga di sebut human T-cell lymphotrophic virus (retrovirus)
LAV di temukan oleh montagnier dkk. Pada tahun 1983 di prancis, sedangkan HTLV-111 di temukan
oleh Gallo di amerika serikat pada tahun berikutnya. Virus yang sama ini ternyata banyak di temukan
di afrika tengah. Sebuah penelitian pada 200 monyet hijau afrika,70% dalam darahnya mengandung
virus tersebut tampa menimbulkan penyakit. Nama lain virus tersebut ialah HIV.
Hiv TERDIRI ATAS hiv-1 DAN hiv-2 terbanyak karena HIV-1 terdiri atas dua untaian RNA dalam
inti protein yang di lindungi envelop lipid asal sel hospes.
Virus AIDS bersifat limpotropik khas dan mempunyai kemampuan untuk merusak sel darah
putih spesifik yang di sebut limposit T-helper atau limposit pembawa factor T4 (CD4). Virus ini dapat
mengakibatkan penurunan jumlah limposit T-helper secara progresif dan menimbulkan
imunodefisiensi serta untuk selanjut terjadi infeksi sekunder atau oportunistik oleh kuman,jamur,
virus dan parasit serta neoplasma. Sekali virus AIDS menginfeksi seseorang, maka virus tersebut akan
berada dalam tubuh korban untuk seumur hidup. Badan penderita akan mengadakan reaksi terhapat
invasi virus AIDS dengan jalan membentuk antibodi spesifik, yaitu antibodi HIV, yang agaknya tidak
dapat menetralisasi virus tersebut dengan cara-cara yang biasa sehingga penderita tetap akan
merupakan individu yang infektif dan merupakan bahaya yang dapat menularkan virusnya pada orang
lain di sekelilingnya. Kebanyakan orang yang terinfeksi oleh virus AIDS hanya sedikit yang
menderita sakit atau sama sekali tidak sakit, akan tetapi pada beberapa orang perjalanan sakit dapat
berlangsung dan berkembang menjadi AIDS yang full-blown.
4. Patofisiologi Virus HIV

1. Mekanisme system imun yang normal


Sistem imun melindungi tubuh dengan cara mengenali bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh,
dan bereaksi terhadapnya. Ketika system imun melemah atau rusak oleh virus seperti virus HIV, tubuh
akan lebih mudah terkena infeksi oportunistik. System imun terdiri atas organ dan jaringan limfoid,
termasuk di dalamnya sumsum tulang, thymus, nodus limfa, limfa, tonsil, adenoid, appendix, darah,
dan limfa.

o Sel B
Fungsi utama sel B adalah sebagai imunitas antobodi humoral. Masing-masing sel B mampu
mengenali antigen spesifik dan mempunyai kemampuan untuk mensekresi antibodi spesifik.
Antibody bekerja dengan cara membungkus antigen, membuat antigen lebih mudah untuk
difagositosis (proses penelanan dan pencernaan antigen oleh leukosit dan makrofag. Atau dengan
membungkus antigen dan memicu system komplemen (yang berhubungan dengan respon inflamasi).

o Limfosit T
Limfosit T atau sel T mempunyai 2 fungsi utama yaitu :
a. Regulasi sitem imun
b. Membunuh sel yang menghasilkan antigen target khusus.
Masing-masing sel T mempunyai marker permukaan seperti CD4 +, CD8+, dan CD3+, yang
membedakannya dengan sel lain. Sel CD4+ adalah sel yang membantu mengaktivasi sel B, killer sel
dan makrofag saat terdapat antigen target khusus. Sel CD8 + membunuh sel yang terinfeksi oleh virus
atau bakteri seperti sel kanker.

o Fagosit

o Komplemen

2. Penjelasan dan komponen utama dari siklus hidup virus HIV


Secara structural morfologinya, bentuk HIV terdiri atas sebuah silinder yang dikelilingi pembungkus
lemak yang melingkar-melebar. Pada pusat lingkaran terdapat untaian RNA. HIV mempunyai 3 gen
yang merupakan komponen funsional dan structural. Tiga gen tersebut yaitu gag, pol, dan env. Gag
berarti group antigen, pol mewakili polymerase, dan env adalah kepanjangan dari envelope
(Hoffmann, Rockhstroh, Kamps,2006). Gen gag mengode protein inti. Gen pol mengode enzim
reverse transcriptase, protease, integrase. Gen env mengode komponen structural HIV yang dikenal
dengan glikoprotein. Gen lain yang ada dan juga penting dalam replikasi virus, yaitu : rev, nef, vif,
vpu, dan vpr.

Siklus Hidup HIV


Sel pejamu yang terinfeksi oleh HIV memiliki waktu hidup sangat pendek; hal ini berarti HIV secara
terus-menerus menggunakan sel pejamu beru untuk mereplikasi diri. Sebanyak 10 milyar virus
dihasilkan setiap harinya. Serangan pertama HIV akan tertangkap oleh sel dendrite pada membrane
mukosa dan kulit pada 24 jam pertama setelah paparan. Sel yang terinfeksi tersebut akan membuat
jalur ke nodus limfa dan kadang-kadang ke pembuluh darah perifer selama 5 hari setelah papran,
dimana replikasi virus menjadi semakin cepat.
Siklus hidup HIV dapat dibagi menjadi 5 fase, yaitu :
· Masuk dan mengikat
· Reverse transkripstase
· Replikasi
· Budding
· Maturasi

5. Cara penularan HIV/AIDS

Virus HIV menular melalui enam cara penularan, yaitu :

1.Hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS


Hubungan seksual secara vaginal, anal, dan oral dengan penderita HIV tanpa perlindungan bisa
menularkan HIV. Selama hubungan seksual berlangsung, air mani, cairan vagina, dan darah dapat
mengenai selaput lender vagina, penis, dubur, atau mulut sehingga HIV yang terdapat dalam cairan
tersebut masuk ke aliran darah (PELKESI, 1995). Selama berhubungan juga bisa terjadi lesi mikro
pada dinding vagina, dubur, dan mulut yang bisa menjadi jalan HIV untuk masuk ke aliran darah
pasangan seksual (Syaiful, 2000).

2. Ibu pada bayinya


Penularan HIV dari ibu pada saat kehamilan (in utero). Berdasarkan laporan CDC Amerika,
prevalensi HIV dari ibu ke bayi adalah 0,01% sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum
ada gejala AIDS, kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%, sedangkan kalau gejala
AIDS sudah jelas pada ibu kemungkinannya mencapai 50% (PELKESI, 1995). Penularan juga terjadi
selama proses persalinan melalui transfuse fetomaternal atau kontak antara kulit atau membrane
mukosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan (Lily V, 2004).
3. Darah dan produk darah yang tercemar HIV/AIDS
Sangat cepat menularkan HIV karena virus langsung masuk ke pembuluh darah dan menyebar ke
seluruh tubuh.

4. Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril


Alat pemeriksaan kandungan seperti speculum,tenakulum, dan alat-alat lain yang darah,cairan vagina
atau air mani yang terinfeksi HIV,dan langsung di gunakan untuk orang lain yang tidak terinfeksi bisa
menularkan HIV.(PELKESI,1995).

5. Alat-alat untuk menoleh kulit


Alat tajam dan runcing seperti jarum,pisau,silet,menyunat seseorang, membuat tato,memotong
rambut,dan sebagainya bisa menularkan HIV sebab alat tersebut mungkin di pakai tampa disterilkan
terlebih dahulu.

6.Menggunakan jarum suntik secara bergantian


Jarum suntik yang di gunakan di fasilitas kesehatan,maupun yang di gunakan oleh parah pengguna
narkoba (injecting drug user-IDU) sangat berpotensi menularkan HIV. Selain jarum suntik, pada para
pemakai IDU secara bersama-sama juga mengguna tempat penyampur, pengaduk,dan gelas pengoplos
obat,sehingga berpotensi tinggi untuk menularkan
HIV tidak menular melalui peralatan makan,pakaian,handuk,sapu tangan,toilet yang di pakai secara
bersama-sama,berpelukan di pipi,berjabat tangan,hidup serumah dengan penderita HIV/AIDS, gigitan
nyamuk,dan hubungan social yang lain.

6. Cara Mencegah

1. Hindari Kontak dengan Darah yang terinfeksi HIV Cara yang paling umum untuk menularkan HIV
adalah melalui kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi HIV. Transfusi, atau kontak dengan
luka, dapat menyebabkan virus menyebar dari satu orang ke orang lain. Transmisi dengan darah dapat
dengan mudah dihindari melalui tes darah dan menghindari kontak dengan luka jika seseorang positif
terinfeksi HIV, jika Anda harus berurusan dengan luka dari pengidap HIV/ AIDS, pastikan untuk
memakai pakaian pelindung seperti sarung tangan karet.

2. Hati-hati dengan Jarum suntik dan peralatan Bedah Obat infus, jarum suntik dan peralatan tato
dapat menjadi sumber infeksi HIV. Jarum tato senjata,, dan pisau cukur adalah alat yang berpaparan
langsung dengan darah orang yang terinfeksi. Berikut adalah beberapa hal yang harus Anda
perhatikan ketika menggunakan jarum dan peralatan bedah:
* Jangan menggunakan kembali Alat suntik sekali pakai.
* Bersihkan dan cuci peralatan bedah sebelum menggunakannya.
* Jika Anda ingin tato, pastikan itu dilakukan oleh sebuah toko tato bersih dan sanitasi.
* Hindari penggunaan obat-obat terlarang dan zat yang dikendalikan intravena.

3. Gunakan Kondom Cara lain untuk penularan HIV adalah melalui kontak seksual tidak terlindungi.
kondom adalah baris pertama pertahanan Anda untuk menghindari terinfeksi HIV. Hal ini sangat
penting untuk menggunakan kondom saat berhubungan seks, tidak hanya akan mengurangi
kemungkinan terinfeksi HIV, tetapi juga dapat melindungi diri dari infeksi menular seksual lainnya.
kondom Lateks adalah yang terbaik, tetapi Anda juga dapat menggunakan kondom polyurethane.
Jangan menggunakannya kembali dan pastikan bahwa tidak ada yang rusak di hambatan saat
menggunakannya.

4. Hindari Seks Bebas HIV dan AIDS yang lebih lazim untuk orang dengan banyak pasangan seksual.
Jika Anda hanya memiliki satu pasangan seksual, Anda secara dramatis dapat meminimalkan
kemungkinan tertular HIV atau mendapatkan AIDS. Namun itu tidak berarti bahwa Anda dapat
berhenti menggunakan kondom, Anda masih harus melakukan seks dilindungi bahkan jika Anda setia
pada pasangan seksual Anda.
BAB 3

PEMBAHASAN

Subtipe HIV-1 dari Beberapa Daerah Di Indonesia dan Hubungannya Dengan Geografi Lain
Dari penelitian ini diketemukan empat jenis subtipe HIV-1, yaitu Subtipe CRF01_AE (90,7%),
Subtipe B (6,7%), Subtipe C dan Subtipe G (AG), masing-masing 1,3%. Subtipe CRF01_AE
didapatkan paling banyak dan tersebar di beberapa pulau yaitu Pulau Bali, Jawa, Sumatera dan
Kalimantan. Secara molekuler didapatkan adanya hubungan yang erat antara sekuens CRF01_AE dari
beberapa daerah di Indonesia dengan sekuens dari Asia Tenggara, antara lain Thailand dan Cambodia.
Berdasarkan hal tersebut, kemungkinan Subtipe CRF01_AE di Indonesia berasal dari Asia Tenggara,
yaitu Thailand dan negara-negara disekitarnya. Hal ini mengingat banyak terjadi interaksi antara
penduduk di kawasan Asia Tenggara dimana Indonesia juga termasuk didalamnya. Subtipe B
diketemukan di Bali, Jawa dan Irian Jaya. Seperti diketahui, Subtipe B umumnya terdapat di Eropa
Barat, Amerika Utara, Amerika Latin, Jepang, Australia dan Selandia Baru. Secara molekuler,
Subtipe B dari penelitian ini didapatkan lebih tersebar dari CRF01_AE, dan masuk dalam kluster
sekuens dari Amerika (reference sequence HXB2).

Demikian pula dengan sekuens Subtipe B dari Indonesia pada penelitian sebelumnya oleh
Porter et al., 1997 20. Subtipe C adalah subtipe yang paling sering didapatkan di Afrika selatan, India
dan China dan menurut UNAIDS dinyatakan sebagai penyebab terbesar epidemi HIV secara global
(45% di tahun 2000 dan 35% di tahun 2002); sedangkan Subtipe G (AG) terdapat di Afrika Barat dan
Rusia. Pada penelitian ini Subtipe C diketemukan pada seorang wanita ibu rumah tangga di Jawa dan
wanita ini tidak mempunyai faktor risiko.

Demikian pula Subtipe G (AG) didapatkan pada seorang wanita ibu rumah tangga yang
berasal dan bertempat tinggal di Pulau Lombok.Wanita tersebut juga tidak mempunyai faktor risiko.
Terdapatnya Subtipe C dan G (AG) pada penelitian ini, membuktikan secara molekuler ada hubungan
antara Afrika Selatan, Afrika Barat, India, China, atau Rusia dengan Indonesia. Karena itu, terdapat
kemungkinan wanita tersebut mendapat penularan dari suaminya yang pernah mempunyai hubungan
dengan orang-orang dari wilayah tersebut. Namun pada penelitian ini jumlahnya masing-masing
hanya satu, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, untuk melihat perkembangan dari
keberadaan subtipe C dan G (AG) di Indonesia.
BAB 4

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa ;

1) Subtipe CRF01_AE adalah subtipe yang paling banyak dijumpai dalam penelitian ini dan
tersebar di beberapa daerah di Asia
2) Subtipe CRF01_AE paling banyak dijumpai pada pengguna narkotika suntik dan populasi
heteroseksual termasuk PSK perempuan maupun pelanggannya. Subtipe lainnya (B, C dan G)
hanya dijumpai pada populasi homoseks dan heteroseks dan tidak dijumpai pada pengguna
narkotika suntik.
3) Ada kemungkinan bahwa pengguna narkotika suntik merupakan episentrum penularan HIV-1 di
Bali dan beberapa daerah di Indonesia dan menyebar ke populasi umum melalui perilaku seksual
risiko tinggi dari kelompok heteroseksual, yaitu PSK perempuan dan pelanggannya. d).
Walaupun dalam jumlah kecil, pada penelitian ini didapatkan adanya introduksi virus HIV-1
dengan subtipe yang sebelumnya belum pernah dilaporkan dari penelitian terdahulu di
Indonesia, yaitu Subtipe C dan Subtipe G (AG).

SARAN

Beberapa saran yang dapat diajukan dari pembahasan ini adalah sebagai berikut:

1) Dalam program harm reduction bagi penasun, disamping menekankan pemakaian jarum suntik
steril dan tidak meminjam jarum suntik dari penasun lain,agar ditekankan pula pemakaian
kondom yang konsisten dengan pasangan seksualnya, termasuk dengan isteri maupun dengan
PSK.
2) Karena epidemi HIV sangat dinamis, disarankan penelitian subtipe HIV dilakukan secara
periodik, sehingga dapat memberikan informasi dalam perencanaan program, baik edukasi untuk
pencegahan, pengobatan maupun pembuatan vaksin.