Anda di halaman 1dari 32

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Kehamilan

1. Pengertian Kehamilan

Kehamilan adalah fertilisas atau penyatuan dari spermatozoa

dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila

dihitung dari fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal

akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan

menurut Kehamilan adalah fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa

dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung

dari fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan kalender internasional.

Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu

berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu dan

trimester ketiga 13 minggu. (Saifuddin, 2009).

2. Tanda-tanda kehamilan

Untuk dapat menegakkan kehamilan dengan melakukan penilaian

terhadap beberapa tanda dan gejala kehamilan. (Walyani,2015)

a. Tanda dugaan hamil

1) Amenorea

2) Mual dan muntah

3) Ngidam

4) Syncope (pingsan)
5) Kelelahan

6) Payudara tegang

7) Sering miksi

8) Konstipasi atau obstipasi

9) Pigmentasi kulit

b. Tanda kemungkinan hamil (probability sign)

Tanda kemungkinan hamil adalah perubahan-

perubaharnfisilogis yang dapat di ketahui oleh pemeriksa dengan

melakukan pemeriksaan fisik pada wanita hamil.

Tanda kemungkinan ini terdiri atas hal-hal berikut ini :

1) Pembesaran perut

2) Tanda hegar

3) Tanda goodel

4) Tanda Chadwick

5) Tanda piscaseck

6) Kontraksi Braxton hick

7) Teraba ballottement

8) Pemeriksaan tes biologis kehamilan (planotest) positif

c. Tanda pasti (posirife sign)

Tanda pasti adalah tanda yang menunjukan keberadaan

janin, yang dapat dilihat langsung oleh pemeriksa. Tanda pasti

kehamilan terdiri atas hal-hal berikut ini:

1) Gerakan janin dalam rahim

2) Denyut jantung janin


3) Bagian-bagian janin

3. Pengertian Asuhan Antenatal Care

Asuhan antenatal care adalah suatu program yang terencana berupa

observasi, edukasi, dan penanganan medic pada ibu hamil, untuk

memperoleh suatu proses kehamilan dan persiapan persalinan yang

aman dan memuaskan (Mufdillah, 2009).

4. Tujuan Asuhan Kehamilan

Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu

dan tumbuh kembang bayi.

a. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan

sosial ibu dan bayi.

b. Mengenali secara dini adanya ketidak normalan atau

komplikasiyang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat

penyakitsecara umum, kebidanan dan pembedahan.

c. Mempersiapkn persalinan cukup bulan, melahirkan dengan trauma

seminimal mungkin.

d. Mempersiapkan agar masa nifas berjalan normal dan pemberían

ASI Eksklusif.

e. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima

kelahiranbayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.

5. Standar minimal yang diberikan dalam asuhan kehamilan meliputi 7 T

dan 14 T yaitu:

Pada pemeriksaan kehamilan 7T :

a. Timbang berat badan


b. Tinggi fundus utreri

c. Tekanan darah

d. Tetanus toxoid

e. Tablet FE

f. Tes PMA

g. Temu wicara

Pada pemeriksaan kehamilan bidan memeriksa 14 T yaitu:

a. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan

b. Tekanan darah

c. Tinggi fundus

d. Tetanus toksoid

e. Pemberian tablet zat besi

f. Tes terhadap penyakit menular seksual

g. Temu wicara/konselin

h. Pemeriksaan Hb

i. Pemeriksaan urin protein

j. Tes reduksi urin

k. Perawatan payudara

l. Terapi yodium kapsul

m. Terapi obat malaria

6. Jadwal pemeriksaan antenatal

Jadwal pemeriksaan antenatal adalah sebagai berikut

a. Pemeriksaan pertama dilakukan segera setelah diketahui

keterlambatan haid.
b. Pemeriksaan ulang

1) Setiap bulan sampai umur kehamilan 6 sampai 7 bulan

2) Setiap 2 minggu sampai kehamilan berumur 8 bulan

3) Setiap 1 minggu sejak umur kehamilan 8 bulan sampai terjadi

persalinan.

c. Menurut (mufdillah, 2009)

Frekuensi pelayanan antenatal oleh WHO ditetapkan 4 kali

kunjungan ibu hamil dalam pelayanan antenatal, selama kehamilan

dengan ketentuan sebagai berikut:

1) 1 kali pada trimester pertama (K 1)

2) 1 kali pada trimester dua dan

3) 2 kali pada trimester ketiga (K 4)

B. Tinjauan tentang Persalinan

1. Pengertian Persalinan

Menurut Moctar, partus normal adalah proses lahirnya bayi dengan

letak belakang kepala dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat

serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung 24 jam.

Sedangkan menurut Prawirohardjo (2002) persalinan adalah proses

membuka dan menipisnya serviks dan janin turun kedalam jalan lahir.

Dari pendapat para ahli tersebut dikemukakan bahwa persalinan

normal adalah proses pengeluaran janin yang cukup bulan, lahir secara

spontan dengan presentasi belakang kepala, disusul dengan pengeluaran


plasenta dan selaput ketuban dari tubuh ibu, tanpa komplikasi baik ibu

maupun janin.

a. Jenis-jenis Persalinan

Manuaba (1998), mengatakan ada 2 jenis-jenis persalinan, yaitu

berdasarkan bentuk persalinan dan menurut usia kehamilan :

1) Jenis persalinan berdasarkan bentuk persalinan :

a) Persalinan spontan adalah proses persalinan seluruhnya

berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri

b) Persalinan buatan adalah proses persalinan dengan bantuan

tenaga dari luar

c) Persalinan anjuran adalah bila kekuatan yang diperlukan

untuk persalinan ditimbulkan dari luar dengan jalan

rengsangan

2) Jenis persalinan menurut usia kehamilan :

a) Abortus adalah pengeluaran buah kehamilan sebelum usia

kehamilan 20 minggu atau berat badan janin lurang dari

500 gram

b) Partus immatur adalah pengeluaran buah kehamilan antara

usia kehamilan 20 minggu dan 28 minggu atau berat badan

janin antara 500 gram dan kurang dari 100 gram

c) Partus prematur adalah pengeluaran buah kehamilan antara

usia kehamilan 28 minggu dan <37minggu atau berat badan

janin antara 1000 gram dan kurang dari 2500 gram


d) Partus matur atau partus aterm adalah pengeluaran buah

kehamilan antara usia kehamilan 37 minggu dan 42 minggu

atau berat badan janin lebih dari 2500 gram

e) Partus serotinus atau partus postmatur adalah pengeluran

buah kehamilan lebih dari 42 minggu

b. Tahapan persalinan

Menurut Prawirohardjo (1999), tahapan persalinan dibagi menjadi

4 kala yaitu :

1) Kala I

Dimulai sejak adanya his yang teratur dan meningkat

(frekuensi dan kekuat-nya) yang menyebabkan pembukaan,

sampai serviks membuka lengkap (10 cm). kala I terdiri dari

dua fase, yaitu :

a) Fase laten

(1) Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan

pembukaan sampai pembukaan 3 cm

(2) Pada umumnya berlangsung 8 jam

b) Fase aktif

(1) Fase akselarasi

Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm

(2) Fase dilatasi maksimal

Dalam waktu 2 jam pembukaan serviks berlangsung

cepat dari 4 cm menjadi 9 cm


(3) Fase deselarasi

Pembukaan serviks menjadi lambat, dalam waktu 2 jam

dari pembukaan 9 cm menjadi 10 cm.

2) Kala II

Kala II dimulai sejak pembukaan lengkap sampai

lahirnya bayi. Setelah pembukaan lengkap ibu akan mulai

mengejan dan seiring dengan turunnya kepala janin, timbul

keinginan untuk berdefekasi. Kala II disebut juga kala

pengeluaran.

a) Tanda-tanda Persalinan Kala II

Kala II dimulai sejak pembukaan lengkap sampai lahirnya

bayi. Berikut ini tanda kemungkinan persalinan sudah

berada pada kala II (Susan & Fiona, 2008)

(1) Ibu merasakan desakan untuk mendorong yang tidak

bisa lagi ditahan-tahan. Dia mulai mengatur napas

dengan lebih banyak menahannya atau menggumam

selama kontraksi.

(2) Kontraksi sudah tidak begitu sering dirasakan, namun

setiap kontraksi yang tersisa sangat kuat dan semakin

kuat.

(3) Suasana hati ibu mulai berubah. Dia jadi bisa

mengantuk atau sebaliknya malah tambah fokus.


(4) Ada garis abu-abu tampak di kulit di antara dua belahan

pantatnya seolah-olah tersebar dari tekanan kepala bayi

yang mau keluar.

(5) Bagian luar alat kelamin ibu atau anusnya mulai

membengkak besar selama kontraksi terjadi.

(6) Ibu merasakan kepala bayinya seperti mulai menyembul

mau keluar lewat vaginanya.

Menurut Depkes (2008:77) gejala dan tanda kala II adalah :

Ibu merasa ingin meneran bersamaaan dengan terjadinya

kontraksi

(1) Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada

rektum dan atau vaginanya

(2) Perineum menonjol

(3) Vulva-vagina dan sfingter ani membuka

(4) Meningkatkan pengeluaran lendir bercampur darah

b) Mekanisme Persalinan Normal

Pada akhir kala I, segmen uterus, serviks, dasar

panggul, dan pintu keluar vulva membentuk satu jalan lahir

yang kontinue. Gaya yang diperlukan untuk mengeluarkan

janin berasal dari aktifitas otot uterus dan dari otot

abdomen sekunder dan diafragma, yang memperkuat

kontraksi. Sewaktu kepala janin melewati panggul, kepala

bayi akan melakukan gerakan-gerakan utama meliputi :


(1) Turunnya kepala

(a) Masuknya kepala dalam pintu atas panggul

(PAP)/engagement

(b) Majunya Kepala

(2) Fleksi

Dengan majunya kepala, biasanya fleksi juga bertambah

hingga ubun-ubun kecil lebih rendah dari ubun-ubun

besar.

(3) Putaran Paksi Dalam

Yang dimaksud dengan putaran paksi dalam ialah

pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga

bagian terendah dari bagian depan memutar ke depan ke

bawah syimfisis.

(4) Ekstensi

Setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai didasar

panggul, terjadilah extensi atau defleksi dari kepala.

(5) Putaran Paksi Luar

Setelah kepala lahir, maka kepala anak memutar

kembali ke arah punggung anak untuk menghilangkan

torsi pada leher yang terjadi karena putaran paksi

dalam.

(6) Ekspulsi

Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai dibawah

sympysis dan menjadi hypomochlion untuk kelahiran


bahu belakang. Kemudian bahu depan menyusul dan

selanjutnya seluruh badan anak lahir searah

denganpaksi jalan lahir.

3) Kala III (tiga) Persalinan

Persalinan kala III dimulai segera setelah bayi lahir dan

berakhir dengan lahirnya plasenta serta selaput ketuban yang

berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Biasanya plasenta lepas

dala 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan

tau dengan tekanan dari fundus uteri (Prawirohardjo,

1999:185).

Proses lepasnya plasenta dapat diperkirakan dengan

mempertahankan tanda-tanda di bawah ini.

(a) Uterus menjadi bundar

(b) Uterus terdorong ke atas karena plasenta dilepas ke segmen

bawah rahim

(c) Tali pusat bertambah panjang

(d) Terjadi semburan darah tiba-tiba

Manajemen aktif kala III (pengeluaran aktif), untuk

membantu menghindarkan terjadinya perdarahan pasca

persalinan. Manajemen aktif kala III terdiri dari tiga langkah

utama:

(a) Pemberian oksitosin 10 unit secara IM disepertiga bagian

atas atas paha bagian luar

(b) Melakukan penegangan tali pusat terkendali


(c) Masase fundus uteri

4) Kala IV (empat) Persalinan

Kala IV persalinan dimulai setelah lahirnya plasenta

sampai 2 jam postpartum. Pemantauan ini dilakukan untuk

mencegah adanya kematian ibu akibat perdarahan.

Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan 50%

kematian pada masa nifas 24 jam pertama (Saiffudin,dkk;

2002).

Pemantauan dan evaluasi lanjut kala IV, karena terjadi

perubahan fisiologis, pemantauan dan penanganan yang harus

dilakukan oleh tenaga medis adalah:

(a) Vital Sign

Tekanan darah <90/60 mmHg, jika denyut nadinya normal,

tekanan darah seperti ini tidak akan terjadi masalah. Akan

tetapi jika tekanan darah <90/60 dan denyut nadinya

100x/menit, ini mengidentifikasikan adanya suatu masalah.

Mungki ibu mengalami demam atau terlalu banyak

mengeluarka darah.

(b) Suhu

Jika suhu tubuh >38oC, hal ini mungkin disebabkan oleh

dehidrasi (persalinan yang lama dan tidak cukup minum)

atau ada infeksi.


(c) Tonus uterus dan ukuran tinggi uterus

Jika kontraksi uterus tidak baik maka uterus terasa lembek,

lakukan masase uterus, bila perlu berikan injeksi oksitosin

atau metergin.

(d) Perdarahan

Perdarahan yang normal setelah persalinan mungkin hanya

akan sebanyak satu pembalut perrempuan perjam, selama 6

jam pertama atau seperti darah haid yang banyak. Jika

perdarahan lebih banyak dari ini, ibu hendakya diperiksa

lebih sering dan penyebab perdarahan harus diselidiki.

Apakah ada laserasi pada vagina atau serviks, apakah uterus

berkontraksi dengan baik, apakah kandung kemih kosong.

(e) Kandung kemih

Jika kandung kemih penuh, uterus tidak dapat berkontraksi

dengan baik. Jika uterus naik di dalam abdomen dan

tergeser kesamping ini biasanya merupakan pertanda bahwa

kandung kencingnya penuh bantulah ibu untuk bangun dan

coba apakah ia bisa buang air kecil, bantulah dia merasa

rileks dengan meletakkan jari-jarinya dalam air hangat,

mengucurkan air ke atas perineum, dengan menjaga

privasinya. Jika ia tetap tidak kencang, lakukan kateterisasi.

(f) Lochea

(1) Lochea rubra: berisi darah segar, sel-sel desidua dan

korion. Terjadi selama 2 hari pasca persalinan


(2) Lochea sanguilenta : warna merah kekuningan berisi

darah dan lendir. Terjadi pada hari ke 3-7 pasca

persalinan

(3) Lochea serosa: berwarna kuning dan cairan ini tidak

berdarah lagi. Terjadi pada hari ke 7-14 pasca

persalinan.

(4) Lochia alba: cairan putih terjadi setelah 2 minggu pasca

persalinan.

(g) Pemantauan keadaan

(1) Seteah lahirnya plasenta

(2) Asuhan dalam 2 jam postpartum

C. Tinjauan tentang Nifas

1. Pengertian

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir

ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas

berlangsung selama kira-kira 6 minggu. Wanita yang melalui periode

puerperium di sebut puerpura. Puerperium (Nifas) berlangsung selama 6

minggu atau 42 hari,merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat

kandungan pada keadaan yang normal.

Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, muai dari

persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama

masa nifas ini 6-8 minggu.


Batasan waktu nifas yang paling singkat (minimum) tidak ada batas

waktunya, bahkan bisa jadi dalam waktu yang relatif pendek darah sudah

keluar, sedangkan batasan maksimumnya adalah 40 hari.

Jadi Masa Nifas (puerperium) adalah masa setelah keluarnya plasenta

sampai alat-alat reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara normal

masa nifas berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari.

2. Tujuan Asuhan Masa Nifas

Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan

masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan 60% kematian ibu akibat

kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi

dalam 24 jam pertama.

Tujuan asuhan masa nifas normal di bagi dua yaitu:

a. Tujuan Umum

Membantu ibu dan pasangannya selama masa transisi awal mengasuh anak

b. Tujuan khusus

1) Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologinya

2) Melaksanakan skrinning yang komprehensif, mendeteksi masalah,

mengobati/merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayinya.

3) Memberikan pendidikan kesehatan, tentang perawatan kesehatan diri,

nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi dan perawatan bayi sehat.

4) Memberikan pelayanan Keluarga Berencana.


3. Tahapan Masa Nifas

Nifas di bagi dalam 3 periode:

a. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri

dan berjalan-jalan, dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh

bekerja setelah 40 hari.

b. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital yang

lamanya 6-8 minggu.

c. Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat

sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai

komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu,

berbulan-bulan atau tahunan.

4. Kunjungan Masa Nifas

Kunjungan nifas dilakukan paling sedikit 4 kali. Hal ini dilakukan

untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir serta untuk mencegah terjadinya

masalah.

a. Kunjungan pertama dilakukan 6-8 jam setelah persalinan. Tujuannya

yakni:

1) Mencegah perdarahan waktu nifas karena atonia uteri

2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila

perdarah berlanjut

3) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bila

terjadi perdarahan banyak

4) Pemberian ASI awal

5) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi


6) Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah terjadinya

hipotermia

Jika petugas kesehatan menolong persalinan petugas harus tinggal dan

mengawasi sampai 2 jam pertama.

b. Kunjungan kedua 6 hari setelah persalinan. Tujuannya yakni:

1) Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus berkontraksi,

fundus uteri di bawah umbilicus, tidak ada perdarahan dan tidak

berbau.

2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan

abnormal.

3) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat.

4) Memastikan ibu menyusui bayinya dengan baik dan tidak

menunjukkan tanda-tanda penyakit.

5) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali

pusat, menjaga bayi supaya tetap hangat dan merawat bayi sehari-

hari.

c. Kunjungan ketiga 2-3 minggu setelah persalinan

1) Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus berkontraksi,

fundus uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan dan tidak

berbau.

2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan

abnormal.

3) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat.


4) Memastikan ibu menyusui bayinya dengan baik dan tidak

menunjukkan tanda-tanda penyakit.

5) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi supaya

tetap hangat dan merawat bayi.

d. Kunjungnan keempat 4-6 minggu setelah persalinan

1) Menanyakan pada ibu tentang penyakit-penyakit yang ibu dan bayi

alami.

2) Memberikan konseling KB secara dini.

3) Tali pusat harus tetap kering, ibu perlu diberitahu bahaya

membubuhkan sesuatu pada tali pusat, perdarahan tercium bau busuk,

bayi segera di rujuk.

4) Perhatikan kondisi umum bayi, apakah ada ikterus atau tidak, ikterus

pada hari ketiga post partum adalah fisiologis yang tidak perlu

pengobatan. Namun bila ikterus terjadi pada hari ketiga atau kapan

saja dan bayi malas untuk menetek serta tampak mengantuk maka

segera rujuk bayi ke RS.

5) Bicarakan pemberian ASI dengan ibu dan perhatikan apakah bayi

menetek dengan baik

6) Nasehati ibu untuk hanya memberikan ASI kepada bayi selama

minimal 4-6 bulan dan bahaya pemberian makanan tambahan selain

ASI sebelum usia 4-6 bulan.

7) Cata semua dengan tepat hal-hal yang diperlukan.

8) Jika ada yang tidak normal segeralah merujuk ibu dan atau bayi ke

Puskesmas atau RS.


D. Tinjauan tentang Bayi baru Lahir (BBL)

1. Pengertian BBL

Menurut M.sholeh kosim (2007), bayi baru lahir normal adalah berat

lahir antara 2500-4000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis dan tidak

ada kelainan kongenital (cacat bawaan) yang berat.

Pada waktu kelahiran, sejumlah adaptasi psikologik mulai terjadi pada

tubuh bayi baru lahir, karena perubahan dramatis ini, bayi memerlukan

pemantauan ketat untuk menetukan bagaimana ia membuat suatu transisi yang

baik terhadap kehidupannya. Di luar uterus bayi baru lahir juga membutuhkan

perawatan yang dapat meningkatkan kesempatan mendapatkan menjalani

masa transisi dengan berhasil. Tujuan asuhan kebidanan yang lebih luas

selama ini adalah memberikan perawatan komprehensif kepada bayi baru lahir

pada saat ia dalam ruang rawat, untuk mengajarkan orang tua bagaimana

merawat bayi mereka dan untuk memberI motivasi terhadap upaya pasangan

menjadi orang tua, sehingga orang tua percaya diri dan mantap (Patricia W.

Ladewig, 2006 ).

Periode transisional mencakup tiga periode, meliputi tiga periode

pertama reaktivitas, fase tidur dan periode kedua reaktivitas. Karakteristik

masing-masing periode memperlihatkan kemajuan bayi baru lahir.baru lahir

merupakan keadaan yang paling dinamis. pada saat kelahiran bayi berubah
dari keadaan ketergantungan sepenuhnya kepada ibu menjadi tidak tergantung

secara fisiologis, perubahan proses yang kompleks ini dikenal sebagai transisi.

2. Periode Transisi

Karakteristik perilaku terlihat selama jam transisi segera setelah lahir.

Masa transisi ini mencerminkan suata kombinasi respon simpatik terhadap

tekanan persalinan (takipnea, takikardia) dan respon parasimpatik (sebagai

respon yang diberikan oleh kehadiran mucus, muntah dan gerak peristaltik).

Periode transisi dibagi menjadi 3 yaitu:

a. Reaktivitas I (The First Period Of Reactivey)

b. Fase Tidur (Period Of Ureponsive sleep)

c. Periode Reaktivitas II (The second Period Of Reaktivity) transisi ke III

3. Ciri-ciri Bayi Baru Lahir

a. Berat badan 2500-400

b. Panjang badan 48-52 cm

c. Lingkar dada 30-38 cm

d. Lingkar kepala 33-35 cm

e. Frekuensi jantung 120-160x/menit

f. Pernafasan ±-60 40x/menit

g. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan sub kutan cukup

h. Rambut lanugo tidak terlihat,rambut kepala biasanya telah sempurna.

i. Kuku agak panjang dan lemas

j. Genetalia
Perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora. Laki-laki testis

sudah turun, skrotum sudah ada

k. Reflex hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik

l. Refleks morrow atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik

m. Reflex graps atau menggenggam sudah baik

n. Eliminas baik,mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama,mekonium

berwarna hitam kecokltan.

E. Tinjauan tentang Keluarga Berencana

1. Pengertian program KB

Pengertian keluarga berancan menurut UU No. 10 tahun 1992 tentang

perkembangan. Kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera adalah

upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui

pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, Pembinaan

ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan

sejahtera.

2. Tujuan program KB

Tujuan utama program KB nasional adalah untuk memenuhi perintah

masyarakat akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas,

merupakan tingkat /angka kematian ibu bayi, dan anak serta penanggulangan

masalah kesehatan reproduksi dalam rangka membangun keluarga kecil

berkualitas sedangkan tujuan program Keaehatan Reproduksi Remaja (KRR)

adalah untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan perilaku positif

remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi, guna meningkatkan derajat


kesehatn reproduksinya, untuk mempersiapkan kehidupan dalam mendukung

upaya meningkatkan kualitas generasi mendatang.

Tujuan program penguatan kelembagaan keluarga kecil berkualitas

adalah untuk membina kemandirian dan sekaligus meningkatkan cakupan dan

mutu pelayanan KB dan kesehatan reproduksi, serta pemberdayaan dan

ketahanan keluarga terutama yang diselenggarkan oleh intitusi masyarakat di

daerah perkotaan dan pendesaan, sehingga membudidaya dan melembaganya

keluarga kecil berkualitas.

a. Tujuan demografis berupa penurunan TFR tahun 2000 sebesar 50% dari

kondisi TFR 1970

b. Tujuan filosofi berupa kelembagaan dan pembudidayaan norma keluarga

kecil bahagia sejahtera ( NKKBS )

1) Perencanaan kehamilan dan mencegah kehamilan yang belum

diinginkan

2) Pengaturan jarak dan usia melahirkan

3) Penggunaan kontrasepsi resional, efektif, efisien.

4) Pelayanan KB bagi keluarga miskin

5) Keterlibatan pria dalam perencanaan kehamilan dan keterlibatan pria

dalam KB

6) Penurunan kehamilan di kalangan PUS muda

7) Meningkatkan status kesehatan perempuan dan anak.

a) Pengaturan usia melahirkan yang tidak terlalu muda dsan tidak

terlalu tua

b) Pengaturan jarak antara kehanilan


c) Peningkatan keterlibatan pria dalam kehamilan dan perawatan anak

d) Peningkatan menyusui ekslusif.

e) Pencegahan dan perlindungan HIV dan AIDS

8) Meningkatkan kesehatan dan kepuasan seksua

a) Kondom fungsi ganda (dual protection)

b) Program universal precaution untuk pencegahan HIV dan AIDS

dalam program KB

c) Penggunaan kontrasepsi pada PUS yang ingin menunda anak

pertama

d) Pelayanan terintegrasi dan deteksi dini kanker alat reproduksi.

3. Sasaran program KB

Adapun sasaran program KB nasional lima tahun ke depan sepert i

tercantum dalam RPJM 2004-2009 adalah sebagai berikut:

a. Menurutnnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk (LPP) secara nasional

menjadi satu, 14% per tahun

b. Menurunkan angka kelahiran total fertility rate (TFR) menjadi 2,2 per

perempuan

c. Meningkatnya peserta KB pria menjadi 4,5%

d. Meningkatnya penggunaan metode konterasepsi yang efektif dan efisien

e. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang

anak

f. Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera 1 yang

aktif dalam usha ekonomi produktif


g. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan

pelayanan KB dan kesehatan reproduksi

Sehingga didapatkan hasil :

1) Tercapainya peserta KB baru sebanyak 1.072.473 akseptor

2) Terbinanya peserta KB aktif sebanyak 5.098.188 aklseptor atau

71.87% dari pasangan usia subur sebanyak 7.093.654

3) Meningkatnya rata-rata usia kawin pertama wanita menjadi 18,2 tahun

4) Pengendalian perkembangan kependudukan, terutama tingkat

pertumbuha migrasi dan persebaran penduduk.

4. Macam-macam metode kontrasepsi

a. Metode sederhana

1) KB alamiah

(a) Macam KB Alamiah

Metode lendir serviks atau dikenal sebagai metode ovulasi

billing/MOB atau metode dua hari serviks dan metode

semtomtermal adalah yang paling efektif.

(1) Metode kalender

Metode kalender ataun dikenal sebagai metode knaus

ogino bergantung pada perhitungan hari untuk mengkira-kira

kapan jauhnya fase subur. Metode ini diperkenalkan oleh

kyusuka ogino (dari jepang) dan herman knaus (dari jerman)

(2) Metode suhu basal

Metode ini berdasarkan kenaikan suhu tubuh setelah

ovulasi sampai sehari sebelum menstruasi sebelumnya.


Metode ini memiliki tingkat keamanan yang tinggi jika suhu

diukiur secara rutin dan senggama sbelum ovulasi dilakukan

dengan menggunakan alat kontrsepsi lain.

(3) Metode lendir serviks

Pengamatan dilakukan pada lendir yang melindungi

serviks (mulut rahim) dari bakteri-bakteri penyebab penyakit

dan dari sperma sebelum masa subur. Pada saat menjelang

ovulasi lendiir ini akan mengandung lebih banyak air (menjadi

encer) sehingga muda dilalui oleh sperma.

(4) Metode simtomtermal

Metode ini dapat dilakukan setelah darah haid berhenti.

Ibu dapat bersenggama pada malam hari pada hari kering

dengan berseling sehari selama masa tak subur. Masa subur

mulai aturan yang sama dengan metode lendir serviks,

berpantang terjadi. Apabila aturan ini tidak mengindetifikasi

hari yang sama sebagai akhir masa subur, selalu ikuti aturan

yang paling konservatif, yaitu aturan yang mengidentifikasi

masa subur yang paling panjang.

(b) Metode barier

Kontrasepsi penghalang atau barier mencegah sperma masuk ke

rahim wanita, yang terdiri dari kondom, diafragma, penutup

serviks, dan spermisisda.

(c) Kontrasepsi pil


(1) Mini pil

Mini pil adalah pil KB yang hanya mengndung hormon

progesteron dalam dosis rendah. Mini pil atau pil progestin di

sebut juga pil menyusui. Dosis progestin yang di gunakan 0,03

- 0,05 mg pertablet.

(2) Pil kombinasi

Pil kombinasi adalah pil yang mengandung hormone estrogen

dan progesterone, sangat efektif (bila di minum setiap hari). Pil

harus di minum setiap hari jam pada jam yang sama. Pada

bulan-bulan pertama efek samping berupa mual dan perdarahan

bercak yang tidak berbahaya dan segera akan hilang (Mulyani,

2013)

(d) Kontrasepsi suntik

(1) Suntik kombinasi (1 bulan)

Kontrasepsi suntik bulanan merupakan metode suntikan yang

pemberiannya tiap bulan dengan jalan penyuntikan secara

intamuscular sebagai usaha pencegahan kehamilan berupa

hormon progesteron dan estrogen pada wanita usia subur.

Penggunaan kontrasepsi suntik mempengaruhi hipotalamus dan

hipofisis yaitu menurunkan kadar FSH dan LH sehingga

perkembangan dan kematangan folikel de graaf tidak terjadi.

(2) Suntik 3 bulan atau progestin


Suntik 3 bulan merupakan metode kontrasepsi yang di berikan

secara intramuscular setiap 3 bulan. Keluarga berencana suntik

merupakan metode kontrasepsi efektifats yaitu metode yang

dalam penggunaannya mempunyai efektifitas atau tingkat

kelangsungan pemakaian relatif lebih rendah bila di

bandingkan dengan alat kontrasepsi sederhana (BKKBN,2002).

(e) Kontrasepsi implant

Implant adalah suatu alat kontrasepsi yang mengandung

levonorgetrel yang di bungkus dalam kapsul silastic silicon

(polydimethylsiloxane) dan di pasang di bawah kulit. Sangat

efektif (kegagalan 0,1-kehamilan perperempuan).

(f) Intra uterine device (IUD)

IUD singkatan dari Intra Uterine Device yang merupakan alat

kontrasepsi yang paling banyak di gunakan, karena di anggap

sangat efektif dalam mencegah kehamilan memiliki manfaat yang

relatif banyak di banding kontrasepsi yang lain. Di antanya, tidak

mengganggu saat coitus (hubungan badan), dapat di gunakan

sampai menopause dan setelah IUD di keluarkan dari rahim, bisa

dengan masa subur.

(g) Kontrasepsi mantap

Kontrasepsi mantap merupakan salah satu metode kontrasepsi yang

di lakukan dengan cara mengikat atau memotong saluran telur

(pada perempuan) dan saluran sperma (pada laki-laki).


Kontrasepsi mantap membuat proses reproduksi tidak lagi

terjadi dan kehamilan akan terhindar untuk selamanya. Karena

sifatnya yang permanen, kontrasepsi ini hanya di perkenankan

bagi mereka yang sudah mantap memutuskan untuk tidak lagi

mempunyai anak. Itulah sebabnya kontrasepsi ini di sebut

kontrasepsi mantap kontrasepsi mantap di jalankan dengan

melakukan operasi kecil pada organ reproduksi yang meliputi

Tubektomi (pada perempuan) dan Vasektomi (pada laki-laki).

F. Tinjauan tentang Manajemen Varney

Manajemen varney / kompotensi bidan / kepmenkes 369/ tahun 2007 yang

menggambarkan contunity of care.

1. Manajemen varney

Sistematikan Asuhan yang diberikan sesuai dengan standar

Manajemen 7 Langkah Varney yaitu :

a) Pengkajian Data

Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi (data) yang akurat

dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.

Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara :

b) Anamnesis. Anamnesis dilakukan untuk mendapatkan biodata,riwayat

menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas,

bio-psiko-sosio-spiritual, serta pengetahuan klien.

1) Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan atau pemeriksaan tanda-

tanda vital, meliputi :


(a) Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi).

(b) Pemeriksaan penunjang (laboratorium).

Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan

langkah berikutnya sehingga kelengkapan data sesuai dengan

kasus yang dihadapi akan menentukan benar tidaknya proses

interpretasi pada tahap selanjutnya. Pendekatannya harus

komprehensif,mencakup data subjektif dan data objektif, serta

hasil pemeriksaan dapat menggambarkan kondisi klien yang

sebenarnya (valid).

c) Interpretasi Data Dasar

Pada langkah kedua dilakukan identifikasi terhadap diagnosis

atau masalah brdasarkan interpretasi yang benar atas data-data

yang telah dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian

diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnosis atau

masalah yang spesifik.

d) Identifikasi Diagnosa/Masalah Potensial

Mengidentifikasi masalah dan diagnosa potensial berdasarkan

diagnosis/masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini

membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan

pencegahan.

Di harapkan dapat waspada dan bersiap siap terhadap

pencegahan masalah/diagnosis potensial ini menjadi kenyataan.

Pada langkah ini di tuntut untuk mengantsipasi masalah

potensial,tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan


terjadi, tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi bersama

dengan bidan senior agar masalah atau diagnosis tersebut tidak

terjadi.

e) Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Tindakan Segera

Hal ini harus dikonsultasikan bersama bidan senior dan juga

dokter (anggota team kesehatan). Pada langkah ini

mencerminkan kesinambungan proses asuhan kebidanan. Jadi

asuhan tidak hanya berlangsung selama asuhan atau kunjungan

perinatal saja, tetapi juga selama klien tersebut di dampingi oleh

tenaga kesehatan. Setiap tindakan yang dilakukan harus sesuai

dengan prioritas masalah/kondisi keseluruhan yang dihadai klien

serta harus bisa dilakukan secara mandiri,kolaborasi atau

bersifat rujukan.

f) Perencanaan Asuhan yang Menyeluruh

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh yang

ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah

ini merupakan lanjutan dari asuhan untuk masalah atau

diagnosis yang telah diidentifikasi dan diantisipasi. Pada

langkah ini informasi yang tidak lengkap dapat dilengkapi.

Rencana asuhan tidak hanya meliputi hal yang telah

diidentifikasi saja tetapi juga harus meliputi kerangka pedoman

antisipasi untuk klien.

Pedoman antisipasi ini mencakup perkiraan tentang hal

yang akan terjadi berikutnya; apakah dibutuhkan penyuluhan,


konnseling, dan apakah perlu dirujuk apabila pasien ada

sejumlah masalah terkait sosial, ekonomi,kultural dan

psikologis. asuhan tersebut haruslah berkaitan dengan semua

aspek asuhan kesehatan dan sudah disetjui oleh kedua belah

pihak, agar dapat dlakkan secara efektif. Semua keputusan yang

telah disepakati dikembangkan dalam asuhan mneyeluruh.

Asuhan ini harus bersifat rasional dan valid yang didasarkan

pada pengetahuan dan up to date.

g) Pelaksanaan Perencanaan Asuhan dengan Efisien dan Aman

Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh dilakukan dengan

efisien dan aman. Pelaksanaannya dapat dilakukan oleh tenaga

kesehatan atau sebagian dilakukan oleh klien. Pastikan bahwa

langkah atau perencanaan tersebut benar-benar terlaksana.

h) Evaluasi

Evaluasi dilakukan secara siklus dengan mengkaji ulang

aspek asuhan yang tidak efektif untuk mengetahui faktor mana

yang menguntungkn atau menghambat keberhasilan asuhan

yang diberikan. Evaluasi dilakukan untuk memastikan apakah

kebutuhan dan bantuan yang diberikan telah terpenuhi

sebagaimana diidentifikasi dalam diagnosis dan masalah klien.

Ada kemungkinan hasil evaluasi 50:50. Mengingat bahwa

proses asuhan merupakan suatu kegiatan yang

berkesinambungan, maka harus diulang kembali setiap rencana


asuhan yang tidak efektif tersebut untuk mengidentifikasi

mengapa rencana asuhan tidak berjalan efektif.