Anda di halaman 1dari 10

NAMA : IRFAN RINALDI

NIM : 151759

DATARAN TINGGI DIENG

Dataran Tinggi Dieng adalah kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah, yang masuk wilayah

Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat

kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.Dieng memiliki Ketinggian rata-rata adalah

sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 12—20 °C di siang hari dan 6—10 °C

di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0 °C di

pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas

("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.

Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata bahasa Kawi: "di" yang berarti "tempat" atau

"gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah

pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam.[1] Teori lain menyatakan, nama Dieng

berasal dari bahasa Sunda ("di hyang") karena diperkirakan pada masa pra-Medang (sekitar

abad ke-7 Masehi) daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh.
Beberapa wisata alam yang ada di Dataran Tinggi Dieng :

Kawah

 Candradimuka
 Sibanteng
 Siglagah
 Sikendang, berpotensi gas beracun
 Sikidang
 Sileri
 Sinila, berpotensi gas beracun
 Timbang, berpotensi gas beracun

Puncak-puncak

 Gunung Sumbing (3.387 m)


 Gunung Sindoro (3.150 m)
 Gunung Prahu (2.565 m)
 Gunung Pakuwaja (2.595 m)
 Gunung Sikunir (2.463 m), tempat wisata, dekat Sembungan

Danau vulkanik

 Telaga Warna, objek wisata dengan tempat persemadian di dekatnya


 Telaga Cebong, dekat desa wisata Sembungan
 Telaga Merdada
 Telaga Pengilon
 Telaga Dringo
 Telaga Nila
GEOMORFOLOGI

Secara geomorfologi Dieng dibagi menjadi 2 satuan geomorfologi yaitu, satuan

pegunungan dan satuan dataran tinggi / plato.

1. Satuan pegunungan

Pengecualian untuk bagian pusat dari daerah barat, satuan ini menempati

keseluruhan wilayah. Gunungapi tersusun dari barisan gunung Seroja, gunung Kunir,

gunung Prambanan, gunung Pakuwaja dan barisan gunung Kendil, gunung Butak,

gunung Petarangan, gunung Prau, gunung Patakbanteng, gunung Jurangrawah,

gunung Blumbang, atau sebagai kerucut-kerucut soliter-gunung Bisma, gunung

Nagasari, semuanya adalah gunungapi strato vulkanik. Umumnya pegunungan

tersebut memiliki kawah terbuka yang terdiri dari satu atau beberapa kawah ; salah

satunya memiliki kawah tertutup yang diisi oleh lava dalam bentuk lubang yang

tersumbat (plug), seperti gunung Kendil, gunung Prambanan dan gunung Kunir.

Gunung Prau tidak memilki kawah well-out lined. Gunung Seroja memiliki dua

kawah yaitu, kawah tertua berbentuk tapal kuda, terbuka ke sebelah timur, dan kawah

termuda terbentuk sirkular. Gunung Pakuwaja memiliki danau kembar, keduanya

berbentuk sirkular. Punggung lava dengan ketinggian 20 meter terletak berhubungan

dengan dua kawah.


2. Satuan dataran tinggi / plato

Satuan geomorfologi ini ditemukan diantara barisan gunungapi dan kerucut –

kerucut soliter yang sebagian besar ditempati oleh material vulkanik.

Plato Dieng berada 2000 meter diatas permukaan air laut yang dikelilingi

gunung prau dan sekelompok gunung api yaitu gunung pakuwadja, gunung Kendil,

dan gunung Sipandu. Wilayah ini memiliki beberapa danau diantaranya adalah danau

warna, danau Pengilon, danau Terus, danau Lunut, dan danau Balekambang. Danau

Warna dan danau Pengilon merupakan tubuh air yang dipisahkan oleh punggungan

yang terbenyuk oleh lava gunung Kendil, sehingga pegunungan tersebut bukan

kawah-kawah terpisah yang kemudian diisi dengan air. Kedua danau tersebut hadir

karena mengalami pembendungan Sungai Tulis oleh aliran lava.


EDUKASI

Selain menikmati keindahan alam Dieng kita juga akan mendapatkan informasi dan

pengetahuan tentang penemuan benda-benda sejarah peninggalan kerajaan kuno yang berdiri

di jawa Tengah pada abad ke 7 masehi,Dieng Volcanic Theate,Museum Dieng Kailasa

 yang dibangun pada abad ke-7 Masehi, antara lain: Candi Gatotkaca, Candi Bima,
Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Setyaki,
Gangsiran Aswatama, Candi Nakula-Sadewa, Candi Parikesit, dan Candi Dwarawati.

 Dieng Volcanic Theater, teater untuk melihat film tentang kegunungapian di Dieng.
 Museum Dieng Kailasa, menyimpan artefak dan memberikan informasi tentang alam
(geologi, flora-fauna), masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, kepercayaan,
kesenian) serta warisan arkeologi dari Dieng. Memiliki teater untuk melihat film (saat
ini tentang arkeologi Dieng), panggung terbuka di atas atap museum, serta restoran.

BUDAYA

Wisata Budaya Dieng senada dengan wisata alamnya, unik, berkarakter dan masih lestari

sampai saat ini. Wisata Budaya Dieng akan membawa para wisatawan sedikit mengetahui

tentang seluk beluk anak-anak yang memiliki rambut menempel satu dengan rambut lainnya

tanpa perekat kimia dan hadir secara alami. Sebuah kepercayaan, kebudayaan menjadi

kekuatan masyarakat Dieng yang masih diyakini hingga saat ini di tengah-tengah zaman

modernisasi. Kepercayaan ini telah diyakini secara turun temurun dari nenek moyang Dieng

pada ribuan tahun silam yang masih mereka junjung tinggi hingga mengadakan upacara-

upacara adat untuk memperingatinya.

Budaya Dieng yang sangat terkenal saat ini dan sering dibicarakan oleh wisatawan ialah

tentang anak-anak berambut gimbal. Orang-orang Dieng bukanlah suku atau komunitas

tertentu, penduduk Dieng ialah penduduk biasa yang tinggal di daerah pegunungan Dieng.

Berpipi merah, kesehariannya bertani serta sebagian kecil anak-anak mereka memiliki rambut
gimbal. Bukan karena mereka jarang mandi, tetapi kisah sacral yang hanyut ke dalam

kehidupan anak-anak yang tinggal di Dataran Tinggi Dieng.Biasanya, rambut gimbal akan

tumbuh ketika usia seorang anak belum mencapai 3 tahun. Rambut gimbal ini akan tumbuh

dan semakin lebat seiring waktu. Rambut gimbal ini hanya akan dipotong dalam prosesi

khusus (ruwatan). Pengadaan ruwatan harus mengikuti aturan khusus dan atas dasar kemauan

dari si anak berambut gimbal.

Biasanya, sebelum dilakukan prosesi pemotongan (ruwatan), si anak akan mengajukan suatu

permintaan. Permintaan ini harus dituruti oleh orangtuanya. Masyarakat sekitar meyakini,

jika pemotongan dilakukan tanpa melalui upacara tertentu, atau bukan atas kemauan si anak,

atau permintaannya tidak dikabulkan, rambut gimbal yang sudah dipotong akan tumbuh

kembali.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang anak berambut gimbal tidak berbeda dengan anak-anak

lainnya. Mereka bermain bersama dengan anak-anak lain. Hanya saja, anak berambut gimbal

biasanya cenderung lebih aktif dibanding anak-anak lain. Pada saat-saat tertentu, emosi anak

berambut gimbal pun menjadi tidak terkendali – bisa tanpa sebab yang jelas. Kecenderungan

ini akan berkurang bahkan menghilang ketika rambut gimbal anak tersebut sudah dipotong
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Pakar Geopark dari Badan Geologi Bandung, Dr Yun Yunus Kusumabrata, menyebut dataran

tinggi Dieng layak menjadi kawasan geopark dunia.

Dataran yang berada di wilayah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara ini memiliki

kekayaan alam yang mendukung, bahkan lebih bagus dibanding geopark di belahan benua

Amerika dan Kanada.

“Alam di Dieng juga sangat mendukung, karena memiliki panorama yang begitu indah, serta

sudah terbukti mampu menjadi magnet bagi ribuan wisatawan setiap pekan,” papar Yunus.

Untuk mendukung upaya tersebut, pihaknya menggelar seminar sosialisasi geopark di

Wonosobo yang diikuti oleh puluhan pakar geologi dan peneliti dari berbagai perguruan

tinggi di Indonesia. Dalam seminar itu, hadir juga Wakil Bupati Wonosobo Agus Subagiyo

dan mantan Bupati Wonosobo Kholiq Arif

Jika Dieng menjadi geopark dunia maka akan memberikan dampak positif, terutama terkait

upaya konservasi lahan kritis dan memberdayakan masyarakat setempat,"


LAMPIRAN