Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Keluarga Berencana


1. Pengertian
KB adalah suatu usaha guna merencanakan dan mengatur jarak
kehamilan sehingga kehamilan dapat dikehendaki pada wakyu yang diinginkan
(Saifuddin, 2010). KB adalah tindakan yang membantu individu atau
pemasangan suami istri untuk mendapatkan obyek tertentu, menghindari
kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan,
mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan suami istri dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Kontrasepsi adalah usaha – usaha untuk mencegah kehamilan, usaha –
usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen (Wiknjosastro,
2010).
2. Tujuan Pelayanan Kontrasepsi
a. Tujuan Umum
Pemberian dukungan dan pemantapan penerimaan gagasan keluarga
berencana yaitu dihayatinya nama keluarga kecil bahagia dan sejahtera
(Hartanto, 2002).
b. Tujuan Pokok
Penurunan angka kelahiran yang bermakna guna mencapai tujuan tersebut
maka ditempuh kebijaksanaan dengan mengkategorikan 3 fase untuk
mencapai sasaran, yaitu (Saifuddin, 2010):
1) Fase menunda atau mencegah kehamilan
Fase menunda kehamilan dianjurkan bagi Pasangan Usia Subur (PUS)
dengan usia istri kurang dari 20 tahun dengan alasan :
a) Umur di bawah 20 tahun adalah usia yang sebiaknya tidak
mempunyai anka terlebih dahulu untuk berbagai alasan.
b) Penggunaan kondom kurang menguntungkan karena pasangan muda
masih mempunyai frekuensi senggama yang tinggi sehingga angka
kegagalan tinggi.
c) Prioritas penggunaan kontrasepsi Pil Oral, karena akseptor masih
muda.
d) Pemasangan IUD mini bagi yang belum mempunyai anak pada masa
ini dapat dianjurkan terutama bagi calon peserta dengan
kontraindikasi terhadap pil oral.
Kontrasepsi yang cocok untuk menunda atau mencegah kehamilan
adalah, pil, IUD, cara sederhana.
2) Fase menjarangkan atau mengatur kehamilan
Periode usia istri antara 20 – 30 tahun merupakan periode usia paling
baik untuk melahirkan.
a) Alasan menjarangkan kehamilan :
(1) Umur antara 20 – 30 tahun merupakan usia terbaik untuk
mengandung dan melahirkan.
(2) Kegagalan yang menyebakan kehamilan cukup tinggi, namun
disini tidak begitu berbahaya karena yang bersangkutan berada
pada usia melahirkan yang baik.
(3) Segera setelah melahirkan anak pertama dianjurkan untuk
memakai IUD sebagai pilihan utama.
b) Kontrasepsi yang cocok, meliputi :
(1) Suntik
(2) IUD
(3) Implant
(4) Mini pil
(5) Cara sederhana
3) Fase menghentikan atau mengakhiri kesuburan
Pada periode ini usia istri di atas 30 tahun sebaiknya mengakhiri
kesuburan setelah mempunyai dua anak.
a) Alasan mengakhiri kesuburan
(1) Ibu dengan usia di atas 30 tahun dianjurkan untuk tidak hamil
karena alasan medis.
(2) Pil oral kurang dianjurkan karena usia ibu relatif tua dan
kemungkinan timbul akibat samping.
(3) Pilhan utama adalah kontrasepsi mantap.
b) Kontrasepsi yang cocok meliputi :
(1) Kontrasepsi mantap (tubektomi dan vasektomi)
(2) IUD
(3) Implant
(4) Cara sederhana
(5) Suntik
(6) Pil
3. Metode Kontrasepsi
Menurut Saifuddin (2010), pembagian cara kontrasepsi yaitu :
a. Metode amenorea Laktasi (MAL)
b. Metode keluarga berencana alamiah
c. Senggama terputus
d. Metode barrier:
1) Kondom
2) Diafragma
3) Spemisida
e. Kontrasepsi kombinasi :
1) Suntikan kombinasi
2) Pil kombinasi
f. Kontrasepsi progestin :
1) Kontrasepsi duntikan progestin
2) Kontrasepsi pil progestin
3) Kontrasepsi implant
4) AKDR dengan progestin
g. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
h. Kontrasepsi Mantap
1) Tubektomi (sterilisasi pada wanita)
2) Vasektomi (sterilisasi pada pria)
B. Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK)/Implant
1. Pengertian
Implant adalah suatu alat kontrasepsi yang mengandung levonogestrelyang
dibungkus dalam kapsul silasticsilikon (polidemetsilixane) dan di susukkan
dibawah kulit (Saifuddin, 2010). Implant adalah metode kontrasepsi yang hanya
mengandung progestin dengan masa kerja panjang, dosis rendah, reversible
untuk wanita.
2. Jenis KB Implant
Jenis-jenis kontrasepsi implant ada 3, antara lain :
a. Norplant
Norplant terdiri dari 6 kapsul kosong silastic (karet silicon) berongga dengan
panjang 3-4 cm, dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 36 mg
levonorgestrol dan lama kerjanya 5 tahun (Saifuddin, 2010).
b. Implanon
Implanon terdiri dari 1 batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm
dan diameter 2 mm yang diisi dengan 68 mg 3-ketodesogestrol dan lama
kerjanya 3 tahun (Saifuddin, 2010).
c. Jadena dan Indoplant
terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg levonorgestrol dengan lama
kerja 3 tahun (Saifuddin, 2010).
3. Cara Kerja Kontrasepsi Implant
Ada beberapa mekanisme kerja implant yaitu (Saifuddin, 2010):
a. Lendir serviks menjadi kental
b. Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi
implantasi
c. Mengganggu transportasi sperma
d. Menekan ovulasi
4. Tingkat Efektivitas Kontrasepsi Implant
Sangat efektif (0,2 – 1 kehamilan per 100 perempuan) (Saifuddin, 2010).
5. Waktu Penggunaan Kontrasepsi Implant (Hartanto, 2002; Saifuddin, 2010)
a. Setiap saat selama siklus haid hari ke-2 sampai hari ke-7, tidak diperlukan
metode kontrasepsi tambahan
b. Bila klien tidak haid, insersi bisa dilakukan setiap saat, asal saja diyakini
tidak terjadi kehamilan.
c. Bila menyusui antara 6 minggu sampai 6 bulan pasca persalinan insersi
dapat dilakukan setiap saat.
d. Bila setelah 6 minggu melahirkan dan telah terjadi haid kembali, insersi
dapat dilakukan setiap saat.
e. Bila klien menggunakan kontrasepsi hormonal dan ingin menggantinya
dengan implant, insersi dapat dilakukan setiap saat.
6. Cara Pemakaian dan Cara Pengeluaran Implant (Hartanto, 2002)
a. Insersi Implant umumnya merupakan prosedur bedah minor, yang
memerlukan anestesi lokal dan insisi yang kecil, waktu terbaik untuk insersi
adalah pada saat haid atau jangan melebihi 5-7 hari setelah mulainya haid.
Implant ditempatkan di bawah kulit, umumnya pada bagian dalam lengan
atas atau lengan bawah.
b. Bila Implant telah dikeluarkan, implant baru dapat segera dipasang pada
tempat yang sama. Bila tidak ada pembengkakan pada tempat tersebut, atau
dipasang pada tempat yang sama dengan arah yang berlawanan bila tempat
lama mengalami trauma dan pembengkakan selama pengeluaran implant
yang lama, atau dipasang pada lengan yang lain.
c. Pengeluaran Implant terutama Norplant, biasanya memerlukan waktu 15-20
menit bila dipasang dengan benar.
d. Mengeluarkan Implant pertama yang terletak paling dekat ke insisi atau yang
terletak paling dekat ke permukaan.
7. Keuntungan Kontrasepsi Implant (Hartanto, 2002; Saifuddin, 2010)
a. Keuntungan Kontrepsi
1) Daya guna tinggi
2) Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun)
3) Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan
4) Tidak memerlukan pemeriksaan-pemeriksaan dalam
5) Bebas dari pengaruh estrogen
6) Tidak mengganggu kegiatan senggama
7) Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan.
b. Keuntungan Nonkontrasepsi
1) Mengurangi nyeri haid
2) Mengurangi jumlah darah haid
3) Mengurangi/memperbaiki anemia
4) Melindungi terjadinya kanker endometrium
5) Menurunkan angka kejadian kelainan jinak payudara
6) Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang panggul
7) Menurunkan angka kejadian endometriosis
8. Keterbatasan (Hartanto, 2002; Saifuddin, 2010)
Pada kebanyakan klien dapat menyebabkan perubahan pola haid berupa
perdarahan bercak (spotting), hipermenoea, atau meningkatkanya jumlah darah
haid, serta amenorea.
Timbulnya keluhan-keluhan, seperti :
a. Nyeri kepala
b. Peningkatan/penurunan berat badan
c. Nyeri payudara
d. Perasaan mual
e. Pening/pusing kepala
f. Perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan (nervousness)
g. Membutuhkan tindak pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan
h. Tidak memberikan efek protektif terhadap PMS termasuk AIDS
i. Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi ini sesuai
dengan keinginan, akan tetapi harus pergi ke klinik untuk pencabutan
j. Efektifitasnya menurun bila menggunakan obat-obat tuberkulosis
(rifampisin) atau obat epilepsi (fenitoin dan barbiturat)
k. Terjadinya kehamilan ektopik sedikit lebih tinggi (1,3 per 100.0000
perempuan per tahun)
9. Indikasi dan Kontraindikasi (Hartanto, 2002; Saifuddin, 2010)
a. Indikasi
1) Perempuan usia reproduksi
2) Perempuan yang memiliki anak/belum memiliki anak
3) Perempuan menyusui dan membutuhkan kontrasepsi
4) Perempuan pasca keguguran
5) Perempuan tidak menginginkan anak lagi tetapi menolak sterilisasi
6) Perempuan dengan Riwayat kehamilan ektopik
7) Perempuan yang sering lupa menggunakan pil
8) Perempuan yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi hormonal yang
mengandung ekstrogen.
9) Perempuan yang menghendaki kontrsepsi yang memiliki efektifitas
tinggi dan menghendaki kehamilan jangka panjang.
b. Kontraindikasi
1) Wanita hamil atau diduga hamil
2) Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya.
3) Wanita dengan Riwayat kanker payudara
4) Wanita dengan miom uterus dan kanker payudara
5) Wanita yang memiliki gangguan toleransi glukosa.
6) Wanita yang tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi.
7) Wanita yang memiliki penyakit jantung, DM, dan gangguan fungsi hati.
10. Efek samping (Hartanto, 2002; Saifuddin, 2010)
a. Perubahan pola haid yang terjadi kira-kira 60% akseptor dalam tahun
pertama setelah insersi
b. Yang paling sering terjadi :
1) Bertambahnya hari-hari perdarahan dalam satu siklus
2) Perdarahan bercak (spotting)
3) Berkurangnya panjang siklus haid
4) Amenore
c. Perdarahan yang hebat tetapi jarang terjadi
d. Sakit kepala, penambahan berat badan dan nyeri payudara.
e. Bila implant dicabut sebelum 5 tahun dan susuk implant sebelum 3 tahun,
kemungkinan hamil sangat besar dan meningkatkan resiko kehamilan
ektopik.
11. Peringatan Khusus Bagi Wanita Pengguna Implant (Hartanto, 2002; Saifuddin,
2010)
a. Terjadi keterlambatan haid yang sebelumnya teratur, kemungkinan telah
terjadi kehamilan
b. Nyeri perut bagian bawah yang hebat, kemungkinan terjadi kehamilan
ektopik
c. Terjadi perdarahan yang banyak dan lama
d. Adanya nanah atau perdarahan pada bekas insersi Implant.
e. Ekspulasi batang implant (Norplan)
Sakit kepala migrant, sakit kepala berulang yang berat, atau penglihatan
menjadi kabur.Informasikan bahwa kenaikan / penurunan berat badan
sebanyak 1-2 kg dapat saja terjadi.Perhatikan diet klien bila perubahan berat
badan terlalu mencolok. Bila berat badan berlebihan, hentikan suntikan dan
anjurkan metode kontrasepsi lain.
C. Jurnal Penelitian tentang Penggunaan KB Implant
Penggunaan metode kontrasepsi hormonal secara terus menerus diduga
dapat berpengaruh terhadap kejadian hipertensi dini perempuan. Berdasarkan
Penelitian Isfandari dkk, perempuan pengguna kontrasepsi hormonal memiliki
risiko hipertensi sedikit lebih tinggi dibanding perempuan pengguna kontrasepsi
non hormonal. Penggunaan kontrasepsi hormonal memiliki kontribusi terhadap
kejadian hipertensi dini perempuan usia pre menopause. Risiko hipertensi
pengguna kontrasepsi hormonal lebih tinggi dibandingkan pengguna kontrasepsi
non-hormonal (Isfandari, Siahaan, Pangaribuan, Lolong, & Humaniora, 2016).
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Lestari menunjukan bahwa
terdapat hubungan anatara lama penggunaan kontrasepsi hormonal dengan
kejadian hipertensi di Kelurahan Ngaliyan, Semarang (Lestari, n.d.).
Berdasarkan hasil penelitian proporsi hipertensi lebih tinggi pada responden
yang menggunakan kontrasepsi jenis pil. hal ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Ceidy Silva Tamunu dan kawan-kawan yang menyatakan bahwa
kejadian hipertensi lebih tinggi terjadi pada wanita pasangan usia subur yang
menggunakan kontrasepsi jenis pil yaitu sebesar 75%.9 Hormon sintetis dalam
TPH (Terapi Pengganti Hormon) juga terdapat didalam pil KB, susuk KB,
suntikan dan IUD. Penelitian yang dilakukan beberapa ilmuwan membuktikan
bahwa semua terapi hormon yang melibatkan estrogen dan progestin memiliki
risiko berbahaya. Penggunaan kontrasepsi oral setelah 5 tahun pemakaian dapat
meningkatkan tekanan darah (Fatmasari, Saraswati, Adi, & Udiyono, 2018).
D. Konseling Keluarga Berencana
Menurut Saifuddin (2010) Konseling KB adalah proses yang berjalan dan
menyatu dengan semua aspek pelayanan Keluarga Berencana dan bukan hanya
informasi yang diberikan dan dibicarakan pada satu kesempatan yakni pada saat
pemberian pelayanan. Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam
pelayana KB (Keluarga Berencana) dan KR (Kesehatan Reproduksi). Dengan
melakukan konseling berarti petugas membantu klien dalam memilih dan
memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai dengan pilihannya dan
dapat membuat klien merasa lebih puas. Konseling yang baik juga akan membantu
klien dalam menggunakan kontrasepsinya lebih lama dan meningkatkan
keberhasilan KB. Konseling juga akan mempengaruhi interaksi antara petugas dan
klien karena dapat meningkatkan hubungan dan kepercayaan yang sudah ada.
Sikap Petugas Kesehatan Dalam Melakukan Konseling KB (Permenkes RI, 2014)
a) Memperlakukan klien dengan baik dan menciptakan suatu rasa percaya diri
sehingga klien dapat berbicara secara terbuka dan petugas meyakinkan klien
bahwa ia tidak akan mendiskusikan rahasia klien dengan orang lain.
b) Interaksi antara petugas dan klien yaitu petugas harus mendengarkan,
mempelajari dan menanggapi keadaan klien karena setiap klien mempunyai
kebutuhan dan tujuan reproduksi yang berbeda. Bantuan terbaik seorang
petugas adalah dengan cara memahami bahwa klien adalah manusia yang
membutuhkan perhatian dan bantuan. Oleh karena itu, petugas harus
mendorong agar klien berani berbicara dan bertanya. Dengan mendengarkan
apa yang disampaikan klien berarti petugas belajar mendengarkan informasi
apa saja yang dibutuhkan oleh setiap klien. Sebagai contoh bagi perempuan
dengan usia dan jumlah anak cukup mungkin lebih menghendaki informasi
mengenai metode kontrasepsi jangka panjang atau operasi. Dalam memberikan
informasi petugas harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti klien dan
hendaknya menggunakan alat bantu visual (ABPK).
c) Menghindari pemberian informasi yang berlebihan yaitu klien membutuhkan
penjelasan yang cukup dan tepat untuk menentukan pilihan (informed choice).
Pada waktu memberikan informasi petugas harus memberikan waktu kepada
klien untuk berdiskusi, bertanya dan mengajukan pendapat.
d) Membahas metode yang diinginkan klien yaitu petugas membantu klien
membuat keputusan mengenai pilihannya, dan harus tanggap terhadap pilihan
klien meskipun klien menolak memutuskan atau menangguhkan penggunaan
kontrasepsi. Di dalam melakukan konseling petugas mengkaji apakah klien
sudah mengerti mengenai jenis kontrasepsi, termasuk keuntungan dan
kerugiannya serta bagaimana cara penggunaannya. Konseling mengenai
kontrasepsi yang dipilih dimulai dengan mengenalkan berbagai jenis
kontrasepsi dalam program KB. Petugas mendorong klien untuk berpikir
melihat persamaan yang ada dan membandingkan antar jenis kontrasepsi
tersebut. Dengan cara ini petugas membantu klien untuk membuat suatu pilihan
(informed choice).
e) Petugas membantu klien untuk mengerti dan mengingat yaitu dengan memberi
contoh alat kontrasepsi dan menjelaskan pada klien agar memahaminya dengan
memperlihatkan bagaimana cara-cara penggunaannya. Petugas juga
memperlihatkan dan menjelaskan dengan alat bantu visual (ABPK) dan leaflet.
E. Konseling KB Implant
Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayana KB.
Menurut Kemenkes RI (2014) pemberian konseling KB implan dalam ABPK
meliputi informasi mengenai, pengertian dari kontrasepsi implan, keefektifan,
kelebihan, kekurangan dan cara kerja implan, indikasi dan kontraindikasi implan,
efek samping, pemasangan dan pencabutan implan, kapan sebaiknya penggunaan
implan dan hal yang perlu diingat oleh akseptor KB implan.
Penelitian yang dilakukan oleh Yunik Windarti menunjukan bahwa semakin
kurang pengetahuan akseptor tentang implant maka semakin rendah jumlah
pemakaian kontrasepsi tersebut (Windarti, 2015). Sehingga bagi tenaga kesehatan
diharapkan dapat meningkatkan konseling dan penyuluhan kepada masyarakat
tentang implant. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Veby
Monica Lasut, dkk di wilayah kerja Puskesmas Bolaang Mongondow Timur
dimana terdapat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan pasangan
usia subur tentang alat kontrasepsi implan (Lasut, Palandeng, & Bidjuni, 2013).
Pena dkk menyebutkan bahwa kualitas pelayanan dapat dilihat dari lima
dimensi yaitu kondisi fisik (tangibles), kehandalan (reliability), daya tanggap
(responsivenes), jaminan (assurance), Empati (Empathy) (Pena, Maria, Maria,
Tronchin, & Melleiro, 2013).
Kondisi fisik (tangibles) merupakan kondisi yang berkaitan dengan fasilitas
fisik, petugas, peralatan, maupun bahan yang diberikan saat pelayanan konseling
yang dapat dirasakan oleh panca indera manusia. Menurut Arsyaningsih dkk
(2014), seperti tersedia petugas kesehatan (bidan) yang melakukan konseling,
bidan berpenampilan bersih dan menarik, tersedia kursi dan meja konseling,
ruangan tempat bidan melaksanakan konseling dapat menjaga privasi/kerahasiaan
saat konseling, ruangan dalam kondisi bersih, rapi, terawat, dan ada gorden.
Tersedia media yang digunakan dalam konseling seperti lembar balik berupa
ABPK atau leaflet, tersedia peralatan untuk pemasangan/pencabutan kb implan,
tersedia bahan/kapsul implan, tersedia catatan informasi dari akseptor kb dan
catatan konseling.
Kehandalan (reliability) adalah kemampuan memberikan pelayanan dengan
cara yang akurat, aman dan efisien, konsisten, dan terbebas dari ketidakpatuhan.
Menurut Arsyaningsih dkk (2014), seperti kemampuan petugas dalam memberikan
pelayanan konseling sesuai dengan janji yang ditawarkan, informasi yang
diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien harus akurat dipercaya, dan dapat
dipertanggungjawabkan. Informasi yang diberikan petugas kesehatan/bidan berupa
pengertian kb implan, kekurangan dan keunggulan kb implan dibandingkan MKJP
lainya, informasi mengenai pemasangan dan pencabutan kb implan, informasi
mengenai siapa saja yang dapat menggunakan kontrasepsi implan (termasuk
membahas mitos-mitos yang beredar di masyarakat), infromasi mengenai efek
samping kontrasepsi implan.
Daya tanggap (responsivenes) merupakan keinginan para pemberi layanan
untuk membantu klien dan memberikan pelayanan yang tanggap sesuai prosedur,
tersedianya pemberi layanan konseling untuk memberikan layanan dengan penuh
perhatian, mampu mengarahkan dan mendorong klien untuk membuat suatu
keputusan penggunaan metode KB. Menurut Arsyaningsih dkk (2014), seperti
kesigapan petugas berupa kesediaan waktu membantu klien segera, tidak
membiarkan klien menunggu terlalu lama, bidan mampu memberikan saran
terhadap kebutuhan kontarepsi klien, menanggapi pertanyaan dan pernyataan dari
klien dengan tepat.
Jaminan (assurance) diidentifikasi sebagai kesopanan pemberi layanan
konseling, pengetahuan dan kemampuan mereka untuk meyakinkan dan
memberikan tanggapan pada klien, kompetensi dan kredibilitas pemberi layanan,
dan keamanan informasi yang dijaga oleh petugas pemberi konseling. Menurut
Arsyaningsih dkk (2014), seperti petugas kesehatan (bidan) harus memiliki
pendidikan minimal D III kebidanan, pengetahuan tentang materi kontrasepsi
implan, mengikuti pelatihan konseling dalam ABPK, mengikuti pelatihan
pemasangan dan pencabutan kontrasepsi implan, memiliki sertifikat pelatihan,
bagaimana cara bidan dalam memberikan konseling yang sesuai dengan kebutuhan
pasien. Keterampilan memberikan konseling agar pasien merasa yakin untuk
menggunakan dan tidak berganti kontrasepsi lain, bidan mampu menjaga
informasi yang diberikan pasien. Keramahan, perhatian dan kesopanan bidan
dalam meberikan pelayanan, kesabaran bidan dalam melayani klien, perilaku
bidan menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi klien.
Empati (Empathy) dapat dilihat dari kepedulian pemberi layanan konseling
pada klien, mampu memahami kebutuhan klien, dapat menunjukkan perhatian
kepada klien. Empati juga meliputi aksesibilitas, sensitivitas, dan usaha memahami
klien. Menurut Arsyaningsih dkk (2014) petugas mampu memberikan pelayanan
dengan menempatkan dirinya pada pasien, mudah berkomunikasi, memperhatikan
dan memahami pasien sebelum, selama dan setelah proses konseling, bidan
menyarankan untuk melakukan kunjungan ulang dan mudah dihubungi klien
(Arsyaningsih, Suhartono, & Suherni, 2014).
F. Manajemen Kebidanan Hellen Varney
Proses manajemen terdiri dari 7 langkah yang berurutan dimana
setiap langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimlulai dengan
pengumpulan data dasar danberakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah
tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang dapat diaplikasikan dalam
situasi apapun. Ketujuh langkah manajemen kebidanan menurut Varney adalah
sebagai berikut :
1. Langkah I (pertama) : pengumpulan data dasar Pada langkah pertama ini
dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua datayang diperlukan
untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap, yaitu :1. riwayat kesehatan
2. pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhannya3. meninjau catatan terbaru
atau catatan sebelumnya4. meninjau data laboratorium dan membandingkan
dengan hasil studi
2. Langkah II (kedua) : interpretasi data dasar pada langkah ini dilakukan
identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien
berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yangdikumpulkan.
Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan
sehinggaditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik. Kata
masalah dan diagnosakeduanya digunakan, karena beberapa masalah
tidak dapat diselesaikan sepertidiagnosa tetapi sungguh membutuhkan
penanganan yang dituangkan kedalam sebuahrencana asuhan terhadap klien.
3. Langkah III (ketiga) : mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial. Pada
langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial
lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi.
Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan
pencegahan, sambil mengamati klien bidan diharapkan dapat bersiap-siap
bila diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi.
4. Langkah IV (keempat) : mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan
yang memerlukan penanganan segera. Mengidentifikasi perlunya tindakan
segera oleh bidan atau dokter dan/atau untuk dikonsultasikan atau ditangani
bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi
klien. Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses
manajemen kebidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer
periodik atau kunjungan prenatal saja tetapi selama wanita tersebut bersama
bidan terus menerus.
5. Langkah V (kelima ) : merencanakan asuhan yang menyeluruh . Pada
langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh yang ditentukan
oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan
manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi
atau diantisipasi, pada langkah ini informasi/data dasar yang tidak lengkap
dapat dilengkapi.
6. Langkah VI (keenam) : melaksanakan perencanaan. Pada langkah keenam ini
rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima
dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan
seluruhnya oleh bidan atau sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi
oleh klien, atau anggota tim kesehatan yang lain.
7. Langkah VII (ketujuh) : evaluasi. Pada langkah ketujuh ini dilakukan
evaluasi keefektifan dari asuhan yang telah diberikan meliputi pemenuhan
kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar terpenuhi sesuai dengan
kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi dalam masalah dan
diagnosa. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif
dalam pelaksanaannya
DAFTAR PUSTAKA

Arsyaningsih, N., Suhartono, & Suherni, T. (2014). Analisis Faktor-Faktor yang


Mempengaruhi Kualitas Pelayanan Konseling Keluarga Berencana Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim oleh Bidan di Wilayah Kerja Puskesmas Wiradesa
Kabupaten Pekalongan Tahun 2013. Jurnal Kebidanan, 3(6), 2–3.
Fatmasari, Y., Saraswati, L. D., Adi, M. S., & Udiyono, A. (2018). Gambaran
Penggunaan Kontrasepsi Hormonal pada Kejadian Hipertensi. Jurnal Kesehatan
Masyarakat, 6.
Hartanto, H. (2002). Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
Isfandari, S., Siahaan, S., Pangaribuan, L., Lolong, D. B., & Humaniora, P. (2016).
Kontribusi Penggunaan Kontrasepsi Hormonal terhadap Perbedaan Prevalensi
Hipertensi Perempuan dan Lelaki di Indonesia : Perspektif Jender Riskesdas
2013 AND MALE HYPERTENSIVE STATUS DIFFERENCE IN
INDONESIA : Buletin Penelitian Kesehatan, 44, 33–40.
Lasut, V. M., Palandeng, H., & Bidjuni, H. (2013). Pengaruh Pendidikan Kesehatan
terhadap Pengetahuan PUS tentang Alat Kontrasepsi Implan di Wilayah Kerja
Puskesmas Nuangan Bolaang Mongondow Timur.
Lestari, I. P. (n.d.). HUBUNGAN ANTARA LAMA PENGGUNAAN METODE.
Pena, M. M., Maria, E., Maria, D., Tronchin, R., & Melleiro, M. M. (2013). The Use
of The Quality Model of Parasuraman, Zeithaml and Berry in, 47(5), 1227–
1232. https://doi.org/10.1590/S0080-623420130000500030
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 97 tahun 2014 tentang
Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, Dan Masa
Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi, Serta Pelayanan
Kesehatan Seksual [pdf]. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Saifuddin, A. B. (2010). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Wiknjosastro, H. (2010). Kontrasepsi. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Windarti, Y. (2015). Pengaruh Pengetahuan Akseptor dengan Pemilihan Kontrasepsi
Implant. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 8, 124–130.