Anda di halaman 1dari 24

1

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Arthritis rhematoid adalah suatu penyakit autoimun dimana pada

lapisan persendian mengalami peradangan sehingga menyebabkan

rasa nyeri, kekakuan, kelemahan, penyakit ini terjadi antara umur 20 –

50 tahun. Arthritis rhematoid merupakan penyakit inflamasi sistemik

kronis yang menyerang beberapa sendi, sinovium, yang terjadi pada

proses peradangan yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi

(Marisza, 2017). Arthritis rhematoid merupakan salah satu penyakit

yang paling banyak ditemui dalam masyarakat dan merupakan salah

satu kelompok penyakit yang selalu ditemukan dalam praktik dokter

umum, penyakit ini ada yang menyerang sendi dan ada pula yang

hanya menyerang jaringan disekitar sendi.

Jumlah penderita artritis rhematoid di dunia saat ini telah mencapai

angka 355 juta jiwa, artinya 1 dari 6 penduduk bumi menderita

penyakit artritis rhematoid. Diperkirakan angka akan terus bertambah

pada tahun 2025 dengan indikasi lebih dari 25% akan mengalami

kelumpuhan. WHO (World Health Organization) melaporkan bahwa

20% penduduk dunia akan terserang artritis rhematoid dimana 5-10%

adalah yang berusia 60 tahun keatas (WHO, 2016).


2

Prevalensi penderita artritis rhematoid di Indonesia tahun 2013

cukup tinggi yaitu mencapai 15,5% pada wanita dan 12,7% pada pria.

Prevalensi yang cukup tinggi dan sifatnya cukup besar baik Negara

maju maupun Negara berkembang diperkirakan 1-2 juta orang

penderita cacat karena tidak melakukan pencegahan/perawatan diri

pada penderita artritis rhematoid (Fera, 2017).

Menurut data (Riskesdas, 2018) di sulawesi selatan yang

mengalami Artritis Rematoid berkisar 6,5 % jiwa. Sedangkan menurut

data di dinas kesehatan Bulukumba jumlah penderita artritis rematoid

berkisar 1.629 orang. Sedangkan di Puskesmas Caile jumlah penderita

Remathoid Atrhitis berkisar 120 orang dan merupakan puskesmas

dengan jumlah penderita tertinngi keempat di kabupaten bulukuma di

tahun 2018. Oleh karena itu, perlu kiranya mendapatkan perhatian

yang serius karena penyakit ini merupakan penyakit persendian atau

kerusakan sendi sehingga akan mengganggu aktivitas seseorang

dalam kehidupan sehari-hari.

Kerusakan sendi yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi

lutut, merupakan suatu penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang

berkembang lambat dan tidak diketahui penyebabnya, meskipun

terdapat beberapa faktor resiko yang berperan. Keadaan ini berkaitan

dengan usia lanjut. Faktor risiko osteoarthritis adalah usia di atas 55

tahun dimana pada usia tersebut wanita lebih banyak dibanding laki-
3

laki.. Pekerjaan mengangkat barang, naik tangga atau berjalan jauh

juga merupakan faktor risiko. Selain itu olahraga yang mengalami

trauma pada sendi seperti sepak bola, basket dan voli juga penyebab

osteoarthritis (Ardiansyah, 2015).

Menurut Hamijoyo tahun 2014 gejala yang dialami biasanya nyeri

yang muncul perlahan-lahan, nyeri biasanya dibangkitkan oleh suatu

aktivitas fisik yang berat, nyeri biasanya memburuk ketika sendi

digunakan dan membaik ketika istirahat, pada saat digerakkan

menimbulkan suara krepitus sein itu disertai bengkak dan kaku yang

berlangsung kurang lebih 15-20 menit.

Nyeri adalah sensasi ketidaknyamanan yang dimanifestasikan

sebagai penderita yang diakibatkan oleh persepsi jiwa yang nyata,

ancaman, mengacu kepada teori dari asosiasi nyeri internasional,

pemahaman tentang nyeri lebih menitikberatkan bahwa nyeri adalah

kejadian fisik, yang tentu saja untuk penatalaksaan nyeri

menitikberatkan pada manipulasi fisik. Nyeri diperkenalkan sebagai

suatu pengalaman emosional yang penatalaksanaannya tidak hanya

pengelolaan fisik semata, namun penting juga untuk melakukan

manipulasi ( tindakan ) psikologis untuk mengatasi nyeri (Asmadi,

2018).

Manajemen nyeri pada artritis rhematoid bertujuan untuk

mengurangi atau menghilangkan rasa sakit dan tidak nyaman. Secara


4

umum manajemen nyeri artritis rhematoid ada dua yaitu manajemen

farmakologi (obat-obatan) dan manejemen non farmakologi.

Menangani nyeri yang dialami pasien melalui intervensi farmakologis

adalah dilakukan dalam kolaborasi dengan dokter atau perawatan lain.

Pada intervensi non farmakologi perawat berperan besar dalam

penanggulangan nyeri karena merupakan tindakan mandiri perawat.

Manajemen non farmakologi dapat menurunkan nyeri dengan resiko

yang rendah bagi pasien dan tidak membutuhkan biaya.

Menggabungkan kedua pendekatan ini merupakan cara paling efektif

untuk mengurangi nyeri. Salah satu intervensi non farmakologi yang

dapat dilakukan perawat secara mandiri dalam menurunkan skala nyeri

artritis rhematoid, yaitu dengan melakukan kompres air hangat dan

kompres jahe pada pasien untuk menurunkan skala nyeri artritis

rhematoid (Samuel, 2018).

Terapi non farmakologi dapat mempengaruhi rasa nyeri salah

satunya dengan kompres jahe., kompres jahe merupakan pengobatan

tradisional atau terapi alternatif untuk mengurangi nyeri artritis

rhematoid. Kompres jahe hangat memiliki kandungan enzim siklo-

oksigenasi yang dapat mengurangi peradangan pada penderita artritis

rhematoid, selain itu jahe juga memiliki efek farmakologis yaitu rasa

panas dan pedas, dimana rasa panas ini dapat meredakan rasa nyeri,

kaku, dan spasme otot atau terjadinya vasodilatasi pembuluh darah,


5

manfaat yang maksimal akan dicapai dalam waktu 20 menit sesudah

aplikasi panas (Femi, 2013 ).

Kompres air hangat memberikan efek mengatasi atau

menghilangkan sensasi nyeri, mengurangi atau mencegah spasme

otot dan memberikan rasa hangat. Pemakaian kompres air hangat

biasanya dilakukan hanya setempat saja p[ada bagian tubuh tertentu.

Dengan pemberian kompres air hangat, pembuluh-pembuluh darah

melebar, sehingga akan memperbaiki peredaran darah dalam jaringan

dengan cara penyaluran zat asam, dan bahan makanan ke sel-sel

diperbesar dan pembuangan dari zat yang dibuang akan di perbaiki

jadi akan timbul proses pertukaran zat yang lebih baik. Kompres air

hangat memiliki efek menghilangkan ketegangan (Findy 2018)

Berdasarkan penelitian (Tri, 2016), dimana hasil penelitianya

mengatakan terdapat pengaruh pemberian kompres jahe dalam

mengurangi nyeri sendi pada lansia di UPT Khusnul Khotimah Pekan

baru, dilihat dari pemberianya dilakukan selama 15 menit , darinilai

medianya 2.00, turun menjadi 1.19. Begitu juga dengan penelitian

yang dilakukan oleh (Reskiyah, 2018) dimana hasil penelitianya bahwa

kompres hangat berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan

skala nyeri pada penderita gout artritis.

Sedangkan Menurut (Zuriati, 2017) berdasarkan hasil penelitianya

diketahui bahwa rata-rata skala nyeri setelah diberi perlakuan kompres


6

air hangat membuktikan bahwa ternjadi penurunan dengan jumlah

rerata penurunanya sebesar 1,167. Demikian juga dengan penilitian

(Untari, 2018) hasil penelitianya terdapat pengaruh yang signifikan

terhadap pemberian kompres jahe gajah terhadap penurunan nyeri

sendi lansia.

(DHUKHA 2017) dalam Hasil penelitian menunjukkan bahwa nyeri

sebelum dan sesudah dilakukan kompres jahe merah dan kompres

hangat pada lansia didapatkan ρ = 0,042 (p < 0,042) maka H1

diterima. artinya ada perbedaan kompres jahe merah dan

kompres hangat terhadap penurunan nyeri sendi pada lansia. Kes

impulannya adalah kompres jahe merah lebih efektif dibandingkan

komprees hangat dalam penurunan nyeri sendi.\

Sedangkan penelitian (Halawa 2018) menemukan tidak ada

perbedaan pemberian kompres air hangat dengan kompres air jahe

terhadap penurunan skala nyeri pada lansia dengan low back pain di

Rumah Usiawan Panti Surya Surabaya.

Berdasarkan uraian di atas peneliti ingin melakukan penelitian

tentang Pengaruh kompres hangat dan kompres jahe Terhadap

perubahan skala nyeri di Puskesmas Gattareng, karena belum ada

peneliti sebelumnya yang melakukan penelitian tentang pemberian

kompres hangat dan kompres jahe. Kompres hangat dan kompres jahe

merupakan terapi non farmakologis dimana masyarakat sebagian


7

masih belum tahu tentang kompres hangat dan kompres jahe yang

bisa menurunkan nyeri. Terapi ini mudah dan efisienuntuk

dilaksanakan sehingga dapat dilakukan mandiri di rumah. Maka

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh

Kompres Hangat dan kompres jahe Terhadap Penurunan Skala Nyeri

Pada Pasien Artritis Rematoid Di Wilayah Kerja Puskesmas Caile

Tahun 2019”.

B. Rumusan Masalah

Arthritis rhematoid merupakan salah satu penyakit yang paling

banyak ditemui dalam masyarakat dan merupakan salah satu

kelompok penyakit yang selalu ditemukan dalam praktik dokter umum,

penyakit ini ada yang menyerang sendi dan ada pula yang hanya

menyerang jaringan disekitar sendi. Yang paling sering diserang

adalah lansia. Di tempat penelitian sebanyak 120 orang lansia

menderita Arthritis rhematoid dan merupakan yang terbanyak keempat

di kabupaten bulukumba. Dalam penelitian ini akan dilakukan terapi

kompres air hangat dan kompres jahe pada penderita atritis rematoid

selama 15-20 menit.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana

Perbandingan Pengaruh Kompres Hangat dan kompres Jahe

Terhadap Penurunan Skala Nyeri Artritis Rematoid Pada Lansia di

Puskesmas Gattareng tahun 2019”?


8

C. Hipotesis

“Ada Pengaruh Kompres Hangat dan kompres jahe Terhadap

Penurunan Skala Nyeri Pada Pasien Artritis Rematoid Di Wilayah Kerja

Puskesmas Caile Tahun 2019”.

D. Tujuan Penulisan

1. Tujuan umum

Untuk mengetahui perbandingan efektifitas Kompres Hangat

dan kompres jahe Terhadap Penurunan Skala Nyeri Pada Pasien

Artritis Rematoid Di Wilayah Kerja Puskesmas Caile Tahun 2019.

2. Tujuan khusus

a. Mengedentifikasi Tingkat nyeri sebelum dilakukan kompres air

hangat Pada Lansia di Puskesmas Caile tahun 2019.

b. Mengedentifikasi Tingkat nyeri setelah dilakukan kompres air

hangat Pada Lansia di Puskesmas Caile tahun 2019.

c. Mengedentifikasi Tingkat nyeri sebelum dilakukan kompres jahe

hangat Pada Lansia di Puskesmas Caile tahun 2019.

d. Mengedentifikasi Tingkat nyeri setelah dilakukan kompres air

hangat Pada Lansia di Puskesmas Caile tahun 2019.

e. Membandingkan keefektifan penurunan nyeri artritis rematoid

sesudah dilakukan kompres hangat dan kompres jahe pada

lansia di Puskesmas Caile tahun 2019.


9

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi

pengembangan kajian ilmu keperawatan, yang khususnya dibidang

KMB yang berkaitan dengan penderita Arthritis rematoid..

2. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat dan bisa

memberikan informasi kepada pihak yang membutuhkan informasi

tentang penyakit Artritis rematoid dan semoga penelitian ini bisa

diterapkan untuk proses penyumbuhan pada penderita Artritis

rematoid pada lansia.


10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori Tentang Kompres Air Hangat

B. Tinjauan Teori Tentang Kompres Jahe

C. Tinjauan Teori Tentang Atritis Rematoid

D. Kerangka Konsep

Nursalam (2014),Konsep adalah abstraksi dari suatu realitas agar

dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan

keterkaitan antarvariabel (baik variabel yang diteliti maupun yang tidak

diteliti). Menurut Notoatmodjo (2012), kerangka konsep penelitian pada

dasarnya adalah suatu uraian dan visualisasi konsep-konsep serta

variabel-variabel yang akan diukur (diteliti).

Kerangka ini mengacu pada tujuan penelitian yaitu mengetahui

informasi mengenai “Pengaruh Kompres Hangat dan kompres jahe

Terhadap Penurunan Skala Nyeri Pada Pasien Artritis Rematoid Di

Wilayah Kerja Puskesmas Caile Tahun 2019”.

Kompres air hangat


Atrithis Rematoid
dan kompres air jahe

Gambar 2.1. Kerangka Konsep

Keterangan :

E. : Variabel Independen : Variabel

Dependen
11

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan rencana penelitian yang disusun

sedemikian rupa sehingga peneliti dapat memperoleh jawaban

terhadap pernyataan penelitian.

Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan

pendekatan quasi eksperiment: pre test and post test nonequivalent

control group Penelitian quasi eksperiment: pre test and post test

nonequivalent control group adalah desain ini hampir sama dengan

pretest-posttest control group design, hanya pada desain ini kelompok

eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara

random(Sugiyono 2012).

Bentuk rancangan ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Pretest perlakuan

Posttest

Kelompok Eksperimen 01 X 02

Kelompok Kontrol 01 02

Gambar 3.1 Quasi Eksperimen

keterangan:

kelompok eksperimen
12

01 sebelum dilakukan kompres air hangat dan kompres air jahe

(pretest)

02 : setelah dilakukan kompres air hangat dan kompres air jahe

(posttest)

X : kompres air hangat dan kompres air jahe (intervensi)

Kelompok kontrol

01: pengukuran tingkat skala nyeri pada atritis rematoid (pretest)

02: pengukuran tingkat skala nyeri pada atritis rematoid (posttest)

Pada peneltian ini untuk kelompok yang diberikan intervensi

sebelum dilakukan terapi kompres air hangat dan kompres air jahe

tingkat nyeri dinilai dengan menggunakan kuesioner, kemudian

dilakukan terapi kompres air hangat dan kompres air jahe 2x dalam

seminggu selama dua minggu. sesi terapi kompres air hangat dan

kompres air jahe berlangsung selama 10-20 menit (maksimum)

setiap terapi kompres air hangat dan kompres air jahe berlangsung

selama 20-30 detik menit setelah itu tingkat nyeri dinilai kembali,

kemudian dilakukan perbandingan antara tingkat nyeri sebelum dan

setelah dilakukan intervensi (terapi kompres air hangat dan

kompres air jahe) sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan

intervensi terapi kompres air hangat dan kompres air jahe tetapi
13

tetap diukur tingkat nyerinya selama 2x. Setelah itu, dibandingkan

antara kelompok yang diberikan perlakuan dan yang tidak diberikan

perlakuan.

B. Waktu Dan Lokasi Penelitian

1. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Gattareng Kecamatan

Caile Kabupaten Bulukumba.

2. Waktu penelitian dilaksanakan dibulan Maret-April 2019.

C. Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas

objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya (Sugiyono 2012). Sedangkan menurut Syamsuddin

(2014), populasi adalah keseluruhan jumlah subjek atau objek yang

akan diteliti. Sedangkan menurut Nursalam (2016), populasi dalam

penelitian adalah subjek (misalnya manusia; klien) yang memenuhi

kriteria yang telah ditetapkan.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang

memeriksakan diri di Puskesmas Gattareng Kecamatan Gantarang

Kabupaten Bulukumba dengan jumlah 120 pasien.

2. Sampel
14

Sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki

oleh populasi tersebut.(Sugiyono. 2012). Sedangkan menurut

Syamsuddin, sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak

akan ada sampel jika tidak ada populasi. Sampel dalam penelitian

ini berjumlah 120 orang.

3. Teknik sampling

Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan

sampel. Untuk menentukan sampel yang digunakan dalam

penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang

digunakan.(Sugiyono 2012). Sedangkan menurut Nursalam (2016),

teknik sampling merupakan cara-cara yang ditempuh dalam

pangambilan sampel, agar memperoleh sampel yang benar-benar

sesuai dengan keseluruhan objek penelitian. Dalam penelitian ini

teknik sampling yang dilakukan oleh penulis adalah dengan metode

Total sampling. Total Sampling artinya keseluruhan populasi yang

dijadikan sampel. Dimana sampel dalam penelitian ini yaitu

sebanyak 120 pasien.

4. Kriteria sampel

a. Kriteria inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek

penelitian dari suatu populasi target dan terjangkau yang akan

diteliti (setiadi, 2013). Sedangkan menurut Hidayat (2011),


15

mengatakan bahwa kriteria inklusi merupakan kriteria dimana

subyek penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel.

Adapun yang menjadi kriteria inklusi sampel dalam

penelitian ini adalah :

1) Pasien yang memeriksakan diri di Puskesmas Caile

Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba

2) Bersedia menjadi responden

b. Kriteria eksklusi

Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau

mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan studi

karena berbagai sebab (Setiadi, 2013). Dan menurut Hidayat

(2011), Kriteria eksklusi merupakan kriteria dimana subyek

penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi

syarat sebagai sampel.

Adapun yang menjadi kriteria eksklusi sampel dalam

penelitian ini adalah:

1) Pasien yang memeriksakan diri di Puskesmas Caile

Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba namun

datanya tidak lengkap.

2) Pasien yang sakit

D. Variabel Penelitian
16

Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai

beda terhadap sesuatu (benda, manusia, dan lain-lain) (Nursalam,

2016). Sedangkan variabel adalah atribut objek yang mempunyai

variasi antara satu dengan lainnya (Syamsuddin 2015).

Variabel bebas (independent variable) Variabel bebas adalah suatu

variabel yang variasinya memengaruhi variabel lainnya(Syamsuddin

2015). Variabel independen dalam penelitian ini adalah kompres air

hangat dan kompres jahe.

Variabel tergantung (dependent variable) Variabel tergantung

adalah variabel penelitian yang diukur untuk mengetahui besarnya

efek atau pengaruh variabel lain(Syamsuddin 2015). Variabel

dependen dalam penelitian ini adalah tingkat skala nyeri pada pasien

atritis rematoid.

E. Definisi Operasional

Defenisi operasional adalah mengubah konsep dengan kata-kata

yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan

dapat di uji kebenarannya oleh orang lain (Syamsuddin 2015).

Sementara defenisi operasional menurut Notoatmodjo (2012) adalah

suatu batasan ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel

diamati/diteliti, perlu sekali variabel-variabel tersebut diberi batasan.


17

Adapun defenisi operasional variabel dan skala pengukuran

yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

1. Kompres Air hangat adalah suatu tindakan keperawatan mandiri

yang dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri. Terapi ini dilakukan

selama 15-10 menit.

Dengan kriteria

a. Puas, jika skor jawaban > 10

b. Tidak puas, jika skor jawaban <11

2. Mutu pelayanan kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang

dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan yang

sesuai tingkat kepuasan rata-rata serta penyelenggaraannya

sesuai dengan standard an kode etik profesi. Skala ukur penelitian

ini yaitu Ordinal.

Dengan kriteria

a. baik, jika skor jawaban > 10

b. Tidak baik, jika skor jawaban <11

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan oleh

peneliti untuk mengobservasi, mengukur atau menilai suatu fenomena

(Dharma, 2011).

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan

lembar kuesioner (lembar cek list) dan metode wawancara.


18

1. Instrument penelitian untuk variabel kepuasan pasien yaitu lembar

kuesioner dengan jumlah item pertanyaan sebanyak 20. Masing-

masing item pertanyaan diberi penilaian angka (score) antara 0-1,

yang artinya adalah0 (tidak), dan1 (ya). Dengan skor tertinggi 20

dan skor terendah 1.Dengan kriteria, Puas jika lebih > 10 dan tidak

puas, jika < 11.

2. Instrument penelitian untuk variabel mutu pelayanan kesehatan

adalah lembar kuesioner, dan Skala ukur penelitian ini yaitu ordinal,

dengan kriteria, baru jika Baik > 10 dan Tidak Baik jika < 11.

G. Teknik Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan

langsung dilapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau

yang bersangkutan yang memerlukannya. Disebut juga data asli

atau data baru (Syamsuddin et al, 2015).

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan di RSUD

H.Andi Sulthan Daeng Radja Kabupaten Bulukumba pada tahun

2016. Dimana data primer dalam penelitian ini berdasarkan

karakteristik responden (pendidikan dan lama kerja) dan kepuasan

kerja perawat.

2. Data Sekunder
19

Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan

oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang

telah ada. Data ini biasanya diperoleh dari perpustakaan, laporan-

laporan. Disebut juga data yang tersedia (Syamsuddin et al, 2015).

Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari RSUD

H.Andi Sulthan Daeng Radja Kabupaten Bulukumba mengenai

jumlah tenaga kesehatan (Perawat).

H. Alur Penelitian
Penelitian :
Hubungan tingkat pendidikan perawat dan lama
kerja dengan kepuasan kerja perawat di RSUD
Andi Sulthan Daeng Radja Kabupaten Bulukumba
Tahun 2017

Hipotesis Penelitian :
Ada hubungan tingkat pendidikan dan lama kerja
dengan kepuasan kerja perawat di RSUD H. Andi
Sultan Daeng Radja Kabupaten Bulukumba Tahun
2017

Sampel :
Stratified random sampling, jumlah sample 9
responden
Instrumen Penelitian :

Lembar Kuesioner.
Penelitian Di RSUD Andi Sulthan Daeng Radja
20

Pengumpulan Data :
Kuesioner
I.
Variabel Independen : Variabel Dependen :

Pendidikan dan lama Kepuasan kerja perawat


kerja

Analisa Data :

Univariat

Bivariat

Gambar 4.1

Alur Penelitia

Kesimpulan Hasil

Saran Pembahasan

J. Pengolahan Dan Analisa Data

1. Teknik Pengolahan Data

a. Editing

Kegiatan untuk memeriksa data mentah yang telah

dikumpulkan, meliputi :

1) Melengkapi data yang kurang/kosong.


21

2) Meperbaiki kesalahan atau kekurang jelasan dari

pecacatan data.

3) Memeriksa konsistensi data sesuai dengan data yang

diinginkan.

4) Memeriksa keseragaman hasil pengukuran.

5) Memeriksa reliabilitas data (misalnya membuang data-

data yang ekstrim) (Syamsuddin et al, 2015).

b. Coding

Kegiatan untuk membuat pengkodean terhadap data

sehungga memudahkan untuk analisis data, biasanya

digunakan untuk data-data kualitatif. Dengan coding ini, data

kualitatif dapat di konversi menjadi data kuantitatif

(kuantifikasi). Proses kuantifikasi mengikuti prosedur yang

berlaku, misalnya dengan menerapkan skala pengukuran

nominal dan ordinal (Syamsuddin et al, 2015).

c. Tabulating

Kegiatan untuk membuat tabel data (menyajikan data

dalam bentuk tabel) untuk memudahkan analisis data maupun

pelaporan. Tabel data dibuat sesederhana mungkin sehingga

informasi mudah ditangkap oleh pengguna data maupun bagi

bagian analisis data (Syamsuddin et al, 2015).

2. Analisa Data
22

a. Analisa univariat

Penelitian analisa univariat adalah analisa yang

dilakukan menganalisis tiap variabel dari hasil

penelitian.(Sujarweni 2014))

b. Analisa bivariat

Penelitian analisa bivariat adalah analisa yang dilakukan

lebih dari dua variabel (Sujarweni 2014)

Untuk variabel Pendidikan dan Lama Kerja dengan

Kepuasan Kerja Perawat data yang diperoleh melalui lembar

kuesioner dianalisa dengan menggunakan Chi-squarealternatif

fisher dengan bantuan program SPSS 22.

K. Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian, peneliti memandang perlu adanya

rekomendasi dari pihak institusi atas pihak lain dengan mengajukan

permohonan ijin kepada instansi tempat penelitian. Setelah mendapat

persetujuan barulah dilakukan penelitian dengan menekankan

masalah etika penelitian dari KNEPK yang meliputi :

1. Respect For Person

Menghargai harkat martabat manusia, peneliti perlu

mempertimbangkan hak-hak subjek untuk mendapatkan informasi

yang terbuka berkaitan dengan jalannya penelitian serta memiliki


23

kebebasan menentukan pilhan dan bebas dari paksaan untuk

berpartisipasi dalam kegiatan penelitian.

2. Beneficience

Peneliti melaksankan penelitiannya sesuai dengan prosedur,

peneliti juga mendapatkan hasil yang bermanfaat semaksimal

mungkin bagi subjek peneltian dan dapat digeneralisasikan

ditingkat populasi.

3. Justice

Prinsip keadilan memiliki konotasi latar belakang dan

keadaan untuk memenuhi prinsip keterbukaan.Penelitian dilakukan

secara jujur, hati-hati, profesional, berprikemanusian dan

memperhatikan faktor-faktor ketepatan, keseksamaan, kecermatan,

intinitas, psikologis serta perasaan religius subjek penelitian.

L. Jadwal Penelitian
24

DHUKHA, S. (2017). PERBANDINGAN KOMPRES JAHE MERAH DAN KOMPRES


HANGAT TERHADAP PENURUNAN NYERI SENDI PADA LANSIA. PROGRAM STUDI
SARJANA KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INSAN CENDEKIA
MEDIKAJOMBANG Jombang, PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN INSAN CENDEKIA MEDIKAJOMBANG

Findy, I. N. I. (2018). "Efektifitas Kompres Air Hangat Terhadap Intensitas Nyeri


Pada Lansia Yang Menderita Tiritis Rematoid Di Posyandu Lansia Mawar Indah
Dusun Janggan Desa Janggan Kecamatan Pancol Kabupaten Magetan." Skripsi.

Halawa, H. (2018). "PERBANDINGAN KOMPRES AIR HANGAT DENGAN KOMPRES


AIR JAHE TERHADAP LOW BACK PAIN PADA LANSIA DI RUMAH USIAWAN PANTI
SURYA SURABAYA." Kesehatan.

Sugiyono (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung,


Alfabeta.

Sujarweni, W. (2014). METODOLOGI PENELITIAN KEPERAWATAN. Yogyakarta,


GAVA MEDIA.

Syamsuddin (2015). Pedoman Praktis Metodologi Penelitian Internal. Ponorogo, CV.


WADE GROUp.