Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kehamilan
2.1.2 Definisi
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internnasional, kehamilan
didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan
dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Kehamilan normal bila dihitung dari saat
fertilisasi hingga lahirnya bayi akan berlangsung dalam waktu 40 minggu.
Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, trimester kesatu berlangsung dalam 12
minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester
ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40).
2.1.3 Kebutuhan Gizi Ibu Hamil
Wanita yang sedang hamil penting untuk dipantau peningkatan berat badan
dan nutrisinya selama kehamilan, karna itu merupakan indikator pertumbuhan dan
perkembangan janin. Jika asupan gizinya kurang, akan berdampak pada gangguan
pertumbuhan janin dalam kandungan seperti Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
dan terjadi gangguan kehamilan.
Kebutuhan gizi pada masa kehamilan akan meningkat sebesar 15%
dibandingkan dengan kebutuhan wanita normal. Peningkatan gizi ini dibutuhkan
untuk pertumbuhan rahim (uterus), payudara (mammae), volume darah, plasenta,
air ketuban dan pertumbuhan janin. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu hamil akan
digunakan untuk pertumbuhan janin sebesar 40% dan sisanya 60% digunakan untuk
pertumbuhan ibunya.(10) WHO menganjurkan jumlah tambahan sebesar 150 Kkal
sehari pada trimester I, 350 Kkal sehari pada trimester II dan III. Sementara di
Indonesia berdasarkan Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi ditentukan angka
285 Kkal perhari selama kehamilan. Berikut kebutuhan gizi pada ibu hamil :
a. Energi
Dihasilkan dari karbohidrat, protein dan zat patinya. Kebutuhan energi
dihitung secara individu kemudian ditambah dengan tambahan energi untuk
ibu hamil sesuai dengan usia kehamilan. Penambahan energi pada trimester
pertama sebanyak 150 kalori, 350 kalori pada trimester kedua serta ketiga.
Penambahan energi tersebut diperoleh dari zat lain (protein, vitamin, dan
mineral) yang juga harus terpenuhi, baik untuk kebutuhan ibu maupun janin
yang dikandungnya. Penggunaan energi tidak sama selama kehamilan. Pada
trimester pertama, kebutuhan energi yang dibutuhkan sangat kecil, tetapi pada
trimester akhir kebutuhan energi meningkat. Pada trimester dua, energi
digunakan untuk penambahan darah, pertumbuhan jaringan mamae, dan
penimbunan lemak. Sedangkan trimester akhir energi digunakan untuk
pertumbuhan janin dan plasenta khususnya.
b. Protein
Ibu hamil membutuhkan protein lebih banyak dari biasanya. Protein
hewani lebih besar di bandingkan protein nabati. Ibu hamil minimal
mengkonsumsi tambahan 17 gram protein/hari. Total kebutuhan protein tidak
lebih dari 15% kebutuhan energi. Jenis protein dengan nilai tinggi antara lain
: daging, ikan, telur, tahu, tempe, kacang-kacangan, biji-bijian, susu, yogurt
dan lain-lain.
Tabel 2.1 Kebutuhan Protein
Usia (daalaam tahun) Kebutuhan Protein Kebutuhan Protein
Sehari Sehari Selama Hamil
11-15 46 gr 76 gr
16-18 46 gr 76 gr
19-50 44 gr 74 gr

c. Vitamin
Ada beberapa jenis vitamin yang penting untuk ibu hamil. Jika ibu
hamil sampai kekurangan vitamin, pembentukan sel-sel tubuh anak akan
berkurang. Vitamin yang dibutuhkan ibu hamil adalah B6, C, A, D, E dan K.
Vitamin B12 bersama dengan asam folat berperan dalam sentesis DNA dan
memudahkan pertumbuhan sel. Vitamin ini juga penting untuk keberfungsian
sel sumsum tulang, sistem persarafan, dan saluran cerna. Kebutuhan B12
sebesar 3 g perhari, bahan makanan sumber vitamin B12 adalah hati, telur,
ikan, kerang, daging, unggas, susu, dan keju. Kekurangan vitamin D pada ibu
hamil akan mengakibatkan gangguan metabolisme kalsium pada ibu dan
janin. Gangguan dapat berupa hipokalsemi, tetani pada bayi baru lahir, dan
osteomalasia pada ibu. Sumber vitamin D yang utama adalah sinar matahari.
d. Kalsium
Metabolisme kalsium selama hamil mengalami perubahan, meskipun
mekanisme terjadinya belum sepenuhnya dipahami. Kadar kalsium dalam
darah wanita hamil menurun drastis sampai 5% ketimbang wanita yang tidak
hamil. Secara kumulatif, janin menimbun kalsium sebanyak 30 g, dengan
kecepatan 7, 110, dan 350 mg masing-masing pada trimester I, II, dan III.
Kalsium Sangat penting karena dibutuhkan untuk pembentukan tulang.
Sumber utama: susu dan hasil olahannya, udang, sarden, dll .
e. Fosfor
Mineral ini dapat diperoleh dari makanan sehari – hari. Fosfor
berhubungan erat dengan kalsium. Jika jumlahnya tidak seimbang di dalam
tubuh, dapat terjadi gangguan. Gangguan yang paling sering adalah kram
pada tungkai kaki.
f. Zat besi
Sel darah merah ibu hamil bertambah sampai 30mg/hari. Berarti, ibu
hamil membutuhkan tambahan 700 – 800 mg zat besi. Kebutuhan zat besi ibu
hamil meningkat pada kehamilan trimester II dan III. Zat besi Berasal dari
makanan & suplementasi tablet Fe. Defisiensi Fe lebih berpengaruh pada ibu
yang akan menyebabkan kekurangan Hb dalam darah yang diperlukan untuk
membawa O2 kepada janin dan sel ibu hamil.
Distribusi Fe antara lain :
1. 300 mg besi ditransfer ke janin
2. 50-75 mg untuk pembentukan plasenta
3. 450 mg untuk menambah jumlah sel darah merah
4. 200 mg hilang ketika melahirkan
g. Yodium
Yodium cukup diperoleh dari air minum dan sumber bahan makanan
laut.
Kebutuhan : 200mikrogram/hari
Kekurangan : janin hipotiroidisme, kretinisme, kerusakan syaraf.
Sumber utama : garam, makanan laut, air, sayur.
h. Asam Folat
Asam folat dibutuhkan untuk pembentukan sel baru, membantu
mengembangkan sel syaraf dan otak janin. Asam folat dibutuhkan untuk
perkembangan sel-sel muda, pematangan sel darah merah, sintesis DNA dan
metabolisme energi. Kekurangan asam folat juga berkaitan dengan Berat
Bayi Lahir Rendah (BBLR). Kebutuhannya 0,4 mg/hari. Kebutuhan asam
folat selama hamil menjadi dua kali lipat. Kebutuhan asam folat untuk
trimester I sebanyak 280 kg, trimester II 660 kg dan trimester III 470 kg. Jenis
makanan yang mengandung asam folat yaitu ragi, brokoli, sayuran hijau,
asparagus, dan kacang-kacangan, hati, sayuran, hijau, jeruk orange, kembang
kol, kedelai/kacan-kacangan, roti, gandum, sereal, dll.
i. Zat Seng (zinc)
Dari beberapa studi dilaporkan bahwa ibu hamil yang memiliki kadar zat seng
rendah dalam makanannya berisiko melahirkan prematur dan melahirkan bayi
dengan berat lahir rendah. Sedangkan suplementasi zat seng tidak didapatkan
kejelasan mengenai keuntungan mengkonsumsi seng dalam jumlah yang lebih
tinggi. Namun mengkonsumsi zat seng dalam jumlah cukup banyak merupakan
langkah antisipatif yang dapat dilakukan. Zat seng dapat ditemukan secara alami
pada daging merah, gandum utuh, kacang-kacangan, polong-polongan, dan
beberapa sereal sarapan yang telah difortifikasi. Pada umumnya, wanita tidak
membutuhkan tambahan suplemen.
Tabel 2.2 Kebutuhan Nutrisi Pada Ibu Hamil
Nutrisi Perempuan Tidak Perempuan Hamil
Hamil
Energi 2200 2500
Protein 55 60
Vitamin A 800 800
Vitamin D 10 10
Vitamin E 8 10
Vitamin K 55 60
Vitamin C 60 70
Folat 180 400
Niasin 15 17
Tiamin 1,2 1,5
Piridoksin (B6) 1,6 2,2
Kobalamin 2,0 2,2
Riboflavin 1,3 1,6
Kalsium 1200 1200
Fosfor 1200 1200
Iodin 150 175
Iron 15 30
Magnesium 280 320
Zinc 12 15

Tabel 2.3 Angka Kecukupaan Gizi Ibu Hamil

Nutrisi Perempuan Tidak Perempuan Hamil


Hamil
Energi 1900 (19-24 th) Trimester I + 180
1800 (30-49 th) Teimester II & III + 300
Protein 50 + 17
Vitamin A 500 +300
Vitamin D 5 mikrogram -
Folat 400 +200
Niasin 14 +4
Vitamin C 75 +10
Piridoksin (B6) 1,3 +0,4
Kobalamin 2,4 +0,2
Kalsium 800 +150
Iodin 150 +50
Iron 26 Trimester II + 9
Trimester III + 13
Zinc 9 Trimester I + 1,7
Trimester II + 4,2
Trimester III + 9,8

Kebutuhan dan sumber nutrisi dalam kehamilan menurut usia kehamilan:(11)

a. Minggu ke-4 (bulan pertama)


Ibu hamil perlu makanan aneka sumber karbohidrat, lengkapi sayuran,
buah, dan daging dagingan atau ikan ikanan, susu dan produk olahannya. Ibu
hamil memerlukan asupan nutrisi berupa asam folat bisa didapatkan pada
makanan seperti serelac, asparagus, bayam, hati, kacang merah, brokoli dan
masih banyak lainnya. Pada minggu ini merupakan cikal bakal organ tubuh
janin mulai terbentuk
b. Minggu ke-8 (bulan ke-2)
Ibu hamil memerlukan makanan berkalsium tinggi untuk menun jang
pembentukan tulang rangka tubuh janin diantaranya berasal dari keju,
pudding susu, susu (full cream/skim), yogurt. Ibu hamil masih memerlukan
asam folat juga vitamin c untuk membentuk jaringan tubuh, menyerap zat
besi dan mencegah pre-eklampsia. Pada minggu ini terbentuk raut muka dan
bagian utama otak, telinga tulang dan otot dibawah kulit yang tipis.
c. Minggu ke-12 (bulan ke-3)
Vitamin yang ibu hamil harus penuhi adalah A, B1, B2, B3 dan B6,
untuk proses tumbuh kembang, vitamin B12 untuk membentuk sel darah
baru, vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi, vitamin d untuk
pembentukan tulang dan gigi, vitamin E untuk metabolisme. DHA untuk
membentuk sel otak baru diantaranya bersumber dari nikan, kuning telur,
produk unggas, daging. Bentuk tubuh mirip manusia namun sangat kecil dan
jantung mulai berdenyut.
d. Minggu ke-16 (bulan ke-4)
Perbanyak sayuran dan buah serta cairan untuk mencegah sembelit.
Pastikan minum air 6-8 gelas perhari. Konsumsi zat besi (ayam, daging,
kuning telur, buah kering dan bayam), dan vitamin C untuk mengoptimalkan
pembentukan sel darah merah baru. Pada minggu ini pembentukan jantung
dan sistem peredaran darah berkembang pesat.
e. Minggu ke-20 (bulan ke-5)
Kebutuhan ibu hamil masih sama dengan minggu ke-16. Ikuti kelas ibu
hamil di pelayanan kesehatan. Pada minggu ini terbentuk alis, bulu mata dan
rambut. Janin mulai teratur tidur, menendang dan menelan.
f. Minggu ke-24 (bulan ke-6)
Batasi garam dan lemak tinggi karena memicu tekanan darah tinggi dan
mencetus kaki bengkak. Perbanyak konsumsi serat (sayuran dan buah).
Konsumsi tables tambah darah dan vitamin C. Kerangka tubuh janin
berkembang dan berkembangnya system pernafasan pada minggu ini.
g. Minggu ke-28 (bulan ke-7)
Konsumsi aneka jenis seafood (udang, kerang, ikan dll) untuk
memenuhi kebutuhan asam lemak omega 3 bagi pembentukan otak dan
kecerdasan janin. Vitamin e sebagai antioksida harus dikonsumsi. Janin sudah
bisa bernafas, menelan dan mengatur suhu. Mata mulai membuka dan
menutup
h. Minggu ke-32 (bulan-8)
Puncak terjadinya hemodilusi (pengenceran darah) ibu dianjurkan
memeriksa kembali kadar hemoglobin untuk menegah anemia. Pada masa ini
ibu akan mengalami sesak nafas dan buang air kecil karena tertekannya
diapraghma dan kandung kemih oleh Rahim yang membesar. Janin sudah
menjadi makhluk yang sempurna dan gerakannya semakin aktif
i. Minggu ke-36 hingga ke-40 (bulan ke-9)
Rahim mengecil akibat turunnya bagian terbawah janin ke dalam
rongga kandungan kemih dan rectum semakin tertekan. Ibu dianjurkan
bergerak dan berjalan untuk mencegah varises, mencegah pembengkakan
serta pelancaran aliran darah janin. Angkat kaki ibu ketika istirahat. Akan
terjadi kontraksi pendahuluan menjelang persalinan. Penambahan berat
badan diminggu ini sangat cepat dan tebalnya lapisan lemak janin yang
membantu persiapan pengaturan suhu diluar Rahim.
2.1.4 Penambahan Berat Badan pada Ibu Hamil
Kehamilan adalah suatu keadaan istimewa bagi seorang wanita sebagai calon
ibu, karena pada masa kehamilan akan terjadi perubahan fisik yang mempengaruhi
kehidupannya. Masa kehamilan adalah suatu masa yang dimulai dari konsepsi
sampai lahirnya janin, lamanya hamil normal adalah 280 hari (9 bulan 7 hari atau
40 minggu) dihitung dari hari pertama haid terakhir.Masa kehamilan dibagi dalam
3 trimester yaitu:
1. Trimester pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan (pertambahan berat
badan sangat lambat yakni 1,5 kg)
2. Trimester kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan (penambahan berat badan
4 ons per minggu)
3. Trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (penambahan brat badan
keseluruhan 12 kg)
Seorang ibu hamil mengalami kenaikan berat badan sebanyak 10-12 kg. Pada
trimester I kenaikan berat badan mencapai 1 kg, namun setelah mencapai trimester
II penambahan berat badan mencapai 3 kg dan pada trimester III mencapai 6 kg.
Kenaikan tersbeut disebabkan adanya pertumbuhan janin, plasenta dan air ketuban.
Wanita dengan berat badan berlebihan sebelum kehamilan, peningkatan berat
badannya dianjurkan lebih kecil dibanding wanita yang berat badannya ideal, yaitu
antara 12,5-17,5 kilogram, karena akan mempunyai resiko menjadi diabetes
gestational atau terjadinya preeclampsia Jika sebelum kehamilan memiliki berat
badan yang kurang, dianjurkan kenaikan berat badannya mencapai 14-20 kg.jika
berat badan sebelumnya normal maka dianjurkan kenaikan berat badannya 12,5-
17,5 kg. Apabila berat badan sudah berlebih sebelum kehamilan, maka dianjurkan
kenaikan berat badan 7,5-12,5 kg.
Tabel 2.5 Rekomendasi Kenaikan BB

IMT prahamil Total PBBH Rata-rata PBBH


trimester 1 dan 2
Rentang (kg) Rentang (Ig/minggu)

Underweight 12,5-18,2 0,51 (0,44-0,58)


(<18,5 kg/m2)

Normal 11,5-16 0,42 (0,35-0,50)


(18,5-24,9 kg/m2)
Overweight 7-11,5 0,28 (0,23-00,33)
25,0 - 29,9 kg/m2)
Obese (>30,0 kg/m2) 5-9 0,22 (0,17-0,27)

Pertambahan berat badan ibu ketika hamil terdiri dari dua bagian utama, yakni
janin dan jaringan ibu. Pola umum pertambahan berat badan ibu hamil pada
trimester III didominasi oleh pertambahan berat janin yaitu penimbunan lemak
tubuh dan perkembangan otak yang cepat. Berat badan adalah penggambaran
jumlah dari protein, lemak, air, dan mineral pada tulang.

Tabel 2.6 Penambahan berat badan selama hamil

Jaringan & cairaan 10 minggu 20 minggu 30 minggu 40 minggu


Janin 5 300 1500 3400
Plasenta 20 170 430 650
Cairan amion 30 350 750 800
Uterus 140 320 600 970
Mammae 45 180 360 405
Darah 100 600 1300 1450
Cairan ekstraseluler 0 30 80 1480
Lemak 310 2050 3480 3345
Total 650 4000 8500 12500
2.2. Kekurangan Energi Kronis Pada Ibu Hamil
2.2.1. Definisi
Menurut Depkes RI dalam Program Perbaikan Gizi Makro menyatakan
bahwa Kurang Energi Kronis merupakan keadaan dimana penderita kekurangan
makanan yang berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya
gangguan kesehatan pada ibu. KEK dapat terjadi pada wanita usia subur (WUS)
dan pada ibu hamil (bumil). Kekurangan energi kronis disebabkan karena tidak
mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang baik dalam
periode/kurun waktu yang lama untuk mendapatkan kalori dan protein dalam
jumlah yang cukup. Kurangnya asupan energi dan protein tersebut terjadi pada
waktu yang lama sehingga menyebabkan ukuran indeks massa tubuh berada di
bawah normal (kurang dari 18,5 untuk orang dewasa).Terdapat batasan lain untuk
membagi definisi kekurangan energi (15) kronis dalam tiga tingkatan, yaitu
tingkatan pertama didefinisikan sebagai underweight ringan (mild), tingkatan kedua
sebagai underweight sedang (moderate), dan underweight berat (severe) (10)
Tebel 2.7 Tingkat KEK berdasarkan IMT
Tingkatan KEK IMT (kg/m2)
Normal >18,5
Tingkat I 17,0 – 18,4
Tingkat II 16,0 -16,9
Tingkat III < 16,0

Kemenkes RI dalam Riskesdas 2018 menggambarkan adanya risiko KEK


pada WUS dengan indikator LILA. Berikut klasifikasi KEK menurut indikator
LILA:
Tabel 2.8 Klasifikasi KEK berdasarkan indicator LILA
Klasifikasi LILA (cm)
Normal >23,5
KEK <23,5

2.2.2. Gejala Klinis KEK


Sedangkan Menurut Menurut Supariasa (2010), tanda-tanda klinis KEK
meliputi : Berat badan < 40 kg atau tampak kurus dan LILA kurang dari 23,5 cm,
tinggi badan < 145 cm, Ibu menderita anemia dengan Hb < 11 gr%, lelah, letih,
lesu, lemah, lunglai, bibir tampak pucat, nafas pendek, denyut jantung meningkat,
susah buang air besar, nafsu makan berkurang.
2.2.3. Cara pengukuran Kekurangan Energi Kronis pada Ibu Hamil
a. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA)
Pengukuran lingkar lengan atas (LILA) merupakan pengukuran
sederhana untuk menilai malnutrisi energi protein karena massa otot
merupakan indeks cadangan protein, serta sensitif terhadap perubahan kecil
pada otot yang terjadi, misalnya bila jatuh sakit. Pengukuran LILA juga
memberi gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak di bawah
kulit. Pengukuran LILA tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan
status gizi dalam jangka pendek. Pengukuran LILA digunakan karena
pengukurannya sangat mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Batas
LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran
LILA kurang 23,5 cm atau bagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut
mempunyai risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lahir
rendah (BBLR). Berat bayi lahir rendah mempunyai risiko kematian, gizi
kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak.
Pengukuran LILA dilakukan melalui urutan-urutan yang telah ditetapkan.
Ada 7 (tujuh) urutan pengukuran LILA:
a. Tetapkan posisi bahu dan siku
b. Letakkan pita antara bahu dan siku
c. Tentukan titik tengah lengan
d. Lingkarkan pita LILA pada tengah lengan
e. Pita jangan terlalu ketat
f. Pita jangan terlalu longgar
g. Cara pembacaan skala yang benar
Hal-hal yang penting dalam pengukuran LILA adalah pengukuran
dilakukan dibagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri (kecuali orang
kidal diukur di lengan kanan). Lengan harus dalam posisi bebas, lengan baju
dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang. Alat pengukur
dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat sehingga
permukaannya sudah tidak rata.
b. Pengukuran Indeks Massa Tubuh
2.2.3. Faktor yang Mempengaruhi Kekurangan Energi Kronis
a. Faktor Makanan
Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi,karena itu
kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat selama kehamilan.
Peningkatan energi dan zat gizi tersebut diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan janin, organ kandungan, perubahan komposisi dan
metabolisme tubuh ibu. Sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang
diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna. Pola
makan ibu hamil dapat mempengaruhi status kesehatan ibu, dimana pola
makan yang kurang baik dapat menimbulkan suatu gangguan kesehatan atau
penyakit pada ibu. Pola makan adalah kebiasaan seseorang dalam
mengkonsumsi makanan dalam sehari-hari untuk memenuhi berbagai zat gizi
lainnya. Dalam hal ini mencakup 2 aspek yaitu frekuensi makan dan jenis
makanan yang dikonsumsi. Frekuensi makan adalah jumlah berapa kali jenis
makanan yang dikonsumsi ibu hamil dalam sehari. Jenis makanan adalah
keanekaragaman makanan yang dikonsumsi ibu hamil setiap hari yang terdiri
dari sumber karbohidrat, sumber protein, sumber nabati, sayuran, buah, susu,
dan minyak (lemak).
b. Faktor Sosial Ekonomi
1. Pekerjaan
Faktor yang berhubungan dengan kejadian KEK yaitu pekerjaan ibu
hamil, tuntutan pekerjaan membuat ibu memiliki beban kerja yang berat
sehingga waktu sehari-hari yang seharusnya ibu gunakan untuk menyiapkan
hal-hal terkait kehamilannya menjadi tersita karena pekerjaannya, terlebih
jika pekerjaan ibu termasuk dalam kategori beban kerja yang berat sampai
timbul kelelahan. Hal tersebut berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan
asupan gizi pada ibu hamil. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah
dilakukan didapatkan bahwa ibu hamil yang bekerja mempunyai waktu lebih
sedikit dalam menyiapkan makanan yang berpengaruh pada jumlah makanan
yang dikonsumsi sehingga mempengaruhi status gizi ibu (13) hamil.
Meningkatnya aktivitas fisik juga harus ditingkatkan dengan asupan
energi sehingga teradi keseimbangan energi antara intake dan expenditure.
Aktivitas fisik vang rigan dan bersifat rekreasi baik untuk ibu dan janin dan
aktivitas fisik dengan resiko nnggi harus dihindari selama hamil. Menurut
American College of Obstetricims and Gynecologists (ACOG) aktifitas fisik
ringan selama 30 menit sehari baik untuk ibu dan janin.

2. Pendidikan
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang
atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran, pelatihan, proses, pembuatan dan cara mendidik. Kemahiran
menyerap pengetahuan akan meningkat sesuai dengan meningkatnya
pendidikan seseorang dan kemampuan ini berhubungan erat dengan sikap
seseorang terhadap pengetahuan yang diserapnya.
Latar belakang pendidikan merupakan salah satu unsur penting yang
dapat mempengaruhi status gizi dan kesehatan seseorang, karena seringkali
masalah tersebut timbul akibat kurangnya pengetahuan dan informasi
mengenai gizi dan kesehatan yang memadai, tingkat pendidikan yang lebih
tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi mengenai gizi yang dimiliki
lebih baik sehingga dapat memenuhi pola asupan gizi sehari-hari. Seperti
hasil dari penelitian sebelumnya bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan
formal maka secara tidak langsung meningkatkan kesadaran untuk hidup
lebih sehat sehingga menurunkan risiko gangguan kesehatan. Perubahan
sikap dan perilaku sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang lebih
tinggi sehingga lebih mudah menyerap informasi dengan
mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehat.
Pada perempuan, semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin
rendah angka kematian ibu dan bayi. Pendidikan seseorang memengaruhi
keadaan gizi karena diharapkan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi
membuat pengetahuan atau informasi gizi yang dimiliki menjadi lebih baik.
Masalah gizi sering timbul karena ketidaktahuan atau kurang informasi
tentang gizi yang memadai.
3. Pendapatan
Ekonomi seseorang mempengaruhi dalam pemilihan makanan yang
akan dikonsumsi sehari-harinya . Seorang dengan ekonomi tinggi yang
kemudian hamil maka kemungkinan besar gizi yang dibutuhkan tercukupi
ditambah lagi adanya pemeriksaan yang rutin membuat gizi ibu semakin
terpantau.
c. Faktor Biologi
1. Usia Ibu
Menurut Depkes pada ibu hamil dengan umur < 20 tahun, rahim dan
pinggul belum tumbuh mencapai ukuran dewasa Umur merupakan faktor
penting dalam proses kehamilan sampai persalinan, karena kehamilan ibu
yang berumur muda menyebabkan terjadinya kompetisi makanan antara janin
dengan ibu yang masih dalam masa pertumbuhan. Dalam penelitian
disebutkan bahwa ibu hamil yang berumur kurang dair 20 tahun memiliki
risiko KEK yang lebih tinggi.
Semakin muda dan tua umur ibu yang sedang hamil akan berpengaruh
terhadap kebutuhan gizi yang diperlukan. Pada umur muda diperlukan
tambahan gizi yang banyak karena selain digunakan untuk pertumbuhan dan
perkembangan diri sendiri, juga harus berbagi dengan janin yang sedang
dikandungnya. Sedangkan pada umur tua diperlukan energi yang besar pula
karena fungsi organ yang melemah dan diharuskan untuk bekerja maksimal,
maka perlu adanya tambahan energi yang cukup sebagai pendukung
kehamilan yang sedang berlangsung. Sehingga usia yang paling baik adalah
lebih dari 20 tahun sampai dengan 35 tahun. (21)
2. Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh ibu baik lahir
hidup maupun mati. Paritas diklasifikasikan sebagai berikut: Primipara
adalah seorang wanita yang telah pernah melahirkan satu kali dengan janin
yang telah mencapai batas viabilitas, tanpa mengingat janinnya hidup atau
mati pada waktu lahir. Multipara adalah seorang wanita yang telah
mengalami dua atau lebih kehamilan yang berakhir pada saat janin telah
mencapai batas viabilitas. Grande multipara adalah seorang wanita yang telah
mengalami lima atau lebih kehamilan yang berakhir pada saat janin telah
mencapai batas viabilitas.
Menurut Depkes seorang ibu yang sedang hamil, keadaan rahimnya
teregang oleh janin. Bila terlalu sering melahirkan, Rahim akan semakin
lemah. Jika ibu telahmelahirkan anak lebih dari 4 orang, maka perlu
diwaspadai adanya gangguan pada waktu kehamilan, persalinan dan nifas.
Jumlah kehamilan yang terlalu sering menyebabkan resiko sakit dan kematian
pada ibu hamil dan bayi. Selain itu, kemungkinan ibu yang sering melahirkan
menyebabkan rendahnya status gizi.
3. Umur kehamilan
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor
penyebab terjadinya KEK pada ibu hamil adalah umur kehamilan. Kebutuhan
gizi pada tiap-tiap trimester berbeda karena fungsinya juga berbeda. Pada
trimester pertama, kebutuhan energi yang dibutuhkan sangat kecil. Pada
trimester dua, energi digunakan untuk penambahan darah, pertumbuhan
jaringan mamae, dan penimbunan lemak. Sedangkan trimester akhir energi
digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta khususnya. Kebutuhan
asupan gizi ibu hamil meningkat pada trimester ketiga sehingga harus ada
peningkatan jumlah konsumsi makanan setiap harinya, jika kebutuhan gizi
tidak terpenuhi maka akan trjadi malnutrisi.(11) Hasil analisis menunjukkan
ada hubungan yang bermakna antara umur kehamilan ibu dengan kejadian
KEK pada ibu hamil, hal ini disebabkan karena pada tiap-tiap trimester
kehamilan berpengaruh terhadap pertumbuhan janin.
4. Faktor Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
pencaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan
raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga
(Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan tentang gizi akan membantu dalam mencari
berbagai alternatif pemecahan masalah kondisi gizi keluarga. Perilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih baik dibandingkan tanpa didasari oleh
pengetahuan, karena hal tersebut sangat penting untuk membentuk tindakan
seseorang. Pendidikan formal dari ibu rumah tangga sering kali mempunyai
hubungan yang positif dengan pengembangan pola-pola konsumsi dalam keluarga.
Ibu-ibu rumah tangga yang mempunyai pengetahuan nutrisi akan memilih makanan
yang lebih bergizi dibandingkan yang kurang bergizi.
5. Faktor Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi (infectious disease), yang juga dikenal sebagai
communicable disease atau transmissible disease merupakan penyakit yang gejala-
gejala medis penyakitnya terjadi akibat dari infeksi. Infeksi dengan keadaan gizi
kurang merupakan hubungan timbal balik. Penyakit infeksi dapat memperburuk
keadaan gizi dan keadaan gizi yang buruk dapat mempermudah infeksi. Penurunan
asupan gizi akibat kurangnya nafsu makan, menurunnya absorpsi dan kebiasaan
mengurangi makanan pada saat sakit adalah mekanisme patologis infeksi dengan
malnutrisi. Selain itu, peningkatan kehilangan cairan/zat gizi akibat penyakit diare,
mual/muntah dan pendarahan terus menerus juga terjadi. Gizi kurang secara
langsung disebabkan oleh makanan dan penyakit. Ibu yang mendapat cukup
makanan tetapi sering menderita sakit, pada akhirnya dapat menderita gizi kurang.
Demikian pula pada ibu yang tidak memperoleh cukup makan, maka daya tahan
tubuhnya akan melemah dan akan mudah terserang penyakit. Millennium
Development Goal (MDG) untuk mengurangi angka kematian ibu sebesar antara
1990 dan 2015 (MDG 5) tiga perempatnya sangat terkait dengan status gizi
perempuan. Ibu kurang gizi secara langsung berhubungan dengan kurangnya
perlawanan ibu terhadap infeksi dan kesehatan selama ibu kehamilan dan
persalinan, terutama di kalangan masyarakat miskin. Oleh karena itu, menyediakan
pelayanan kebidanan saja tidak cukup kecuali status gizi perempuan miskin juga
dibahas. Pemahaman tentang status gizi perempuan sangat penting untuk
mengurangi angka kematian ibu.
2.2.4. Dampak kekurang energi kronis pada ibu hamil
Status kekurangan energi kronis sebelum kehamilan dalam jangka panjang
dan selama kehamilan akan menyebabkan ibu melahirkan bayi dengan berat badan
lahir rendah, anemia pada bayi baru lahir, mudah terinfeksi, abortus, dan
terhambatnya pertumbuhan otak janin. Kurang energi kronis pada masa usia subur
khususnya masa persiapan (16) kehamilan maupun saat kehamilan dapat berakibat
pada ibu maupun janin yang dikandungnya. Terhadap persalinan pengaruhnya
dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya dan
pendarahan. Serta terhadap janin pengaruhnya dapat menimbulkan
keguguran/abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada
bayi, dan bayi berat lahir rendah.
Berat lahir bayi yang tidak normal akan memberikan risiko pada ibu (16) dan
bayi. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) (<2.500 g) banyak
dihubungkan dengan meningkatnya risiko kesakitan dan kematian bayi,
terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan kognitif, dan selanjutnya menderita
penyakit kronik di kemudian hari. BBLR mempunyai risiko kematian neonatal
hampir 40 kali lebih besar dibandingkan denfgan bayi dengan berat lahir normal,
penurunan durasi menyusui dan risiko untuk tubuh pendek (stunted) pada masa
anak (16)
2.3. Kerangka Teori

Faktor Predisposisi
a. Pengetahuan Pekerjaan Pendapatan
b. Sikap
c. Tradisi
Pendidikan
Umur
Faktor Pendukung
a. Sarana prasarana
Perilaku Pola
b. Sumber daya
makan

Faktor Pendorong
Asupan Zat Gizi
a. Tokoh
Masyarakat
b. Petugas KEK
Kesehatan
c. Keluarga
Usia kehamilan
Penyakit infeksi

Variabel yang tidak di teliti

Variabel yang di teliti


2.4. Kerangka Konsep

Variabel bebas
Pengetahuan gizi
ibu hamil

Karakteristik
Responden Variabel bebas
Umur Pola makan Variabel terikat
Responden
Pendidikan KEK
Pekerjaan
Pendapatan Variabel bebas
Usia kehamilan Penyakit infeksi

Variabel bebas
Paritas