Anda di halaman 1dari 9

A.

SEJARAH PANCASILA DALAM PERKEMBANGAN BANGSA


INDONESIA DARI ASPEK SOSIOLOGIS, YURIDIS, DAN ASPEK
POLITIK SEBAGAI SUMBER ETIKA

1 Sumber historis
1.1 Pada zaman Orde Lama,
Pancasila sebagai sistem etika masih berbentuk sebagai Philosofische
Grondslag atau Weltanschauung. Artinya, nilai-nilai Pancasila belum
ditegaskan ke dalam sistem etika, tetapi nilai-nilai moral telah terdapat
pandangan hidup masyarakat. Masyarakat dalam masa orde lama telah
mengenal nilai-nilai kemandirian bangsa yang oleh Presiden Soekarno disebut
dengan istilah berdikari (berdiri di atas kaki sendiri).

1.2 Pada zaman Orde Baru,


Pancasila sebagai sistem etika disosialisasikan melalui penataran P-4 dan
diinstitusionalkan dalam wadah BP-7. Ada banyak butir Pancasila yang
dijabarkan dari kelima sila Pancasila sebagai hasil temuan dari para peneliti BP-
7. Untuk memudahkan pemahaman tentang butir-butir sila Pancasila dapat
dilihat pada tabel berikut (Soeprapto, 1993: 53--55).

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Cara Pengalaman :
a. Manusia Indonesia percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing
menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
b. Hormat menghormati dan bekerja sama antar para pemeluk agama
dan para penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina
kerukunan hidup.
c. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan
agama dan kepercayaannya.
d. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain

1
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

Cara Pengalaman :
a. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan
kewajiban asasi antar sesama manusia sesuai dengan harkat dan
martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
b. Saling mencintai sesama manusia.
c. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
d. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
e. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
f. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
g. Berani membela kebenaran dan keadilan.
h. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat
manusia. Oleh karena itu, dikembangkan sikap hormat menghormati
dan bekerja sama dengan bangsa lain.

3. Persatuan Indonesia

Cara Pengalaman :
a. Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan, keselamatan bangsa
dan bernegara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
b. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
c. Cinta tanah air dan bangsa.
d. Bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia.
e. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang
berbhineka tunggal ika.

2
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan Perwakilan

Cara Pengalaman :
a. Sebagai warga negara dan warga masyarakat mempunyai
kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama dengan mengutamakan
kepentingan negara dan masyarakat.
b. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
c. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk
kepentingan bersama.
d. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat
kekeluargaan.
e. Dengan itikad yang baik dan rasa tanggung jawab menerima dan
melaksanakan hasil putusan musyawarah.
f. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati
nurani yang luhur.
g. Putusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara
moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan
martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan, dengan
mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

5. Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia


Cara Pengalaman :
a. Mengembangkan perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap
dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
b. Bersikap adil.
c. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
d. Menghormati hak-hak orang lain.
e. Suka memberi pertolongan kepada orang lain
f. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
g. Tidak bersifat boros.
h. Tidak bergaya hidup mewah.
i. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
j. Suka bekerja keras.

3
1.3 Pada era reformasi,
Pancasila sebagai sistem etika tenggelam dalam hirukpikuk perebutan
kekuasaan yang menjurus kepada pelanggaraan etika politik. Salah satu bentuk
pelanggaran etika politik adalah abuse of power, baik oleh penyelenggara
negara di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Penyalahgunaan kekuasaan
atau kewenangan inilah yang menciptakan korupsi di berbagai kalangan
penyelenggara negara.

2 Sumber Sosiologis
Sumber sosiologis Pancasila sebagai sistem etika dapat ditemukan dalam
kehidupan masyarakat berbagai etnik di Indonesia. Misalnya, orang
Minangkabau dalam hal bermusyawarah memakai prinsip “bulat air oleh
pembuluh, bulat kata oleh mufakat”. Masih banyak lagi mutiara kearifan lokal
yang bertebaran di bumi Indonesia ini sehingga memerlukan penelitian yang
mendalam

3 Sumber Politis
Sumber politis Pancasila sebagai sistem etika terdapat dalam norma-norma dasar
(Grundnorm) sebagai sumber penyusunan berbagai peraturan perundangan-
undangan di Indonesia. Hans Kelsen mengatakan bahwa teori hukum itu suatu
norma yang berbentuk piramida. Norma yang lebih rendah memperoleh
kekuatannya dari suatu norma yang lebih tinggi. Semakin tinggi suatu norma,
akan semakin abstrak sifatnya, dan sebaliknya, semakin rendah kedudukannya,
akan semakin konkrit norma tersebut (Kaelan, 2011: 487). Pancasila sebagai
sistem etika merupakan norma tertinggi (Grundnorm) yang sifatnya abstrak,
sedangkan perundang-undangan merupakan norma yang ada di bawahnya
bersifat konkrit. Etika politik mengatur masalah perilaku politikus, berhubungan
juga dengan praktik institusi sosial, hukum, komunitas, struktur-struktur sosial,
politik, ekonomi. Etika politik memiliki 3 dimensi, yaitu tujuan, sarana, dan aksi
politik itu sendiri. Dimensi tujuan terumuskan dalam upaya mencapai
kesejahteraanmasyarakat dan hidup damai yang didasarkan pada kebebasan dan
keadilan. Dimensi sarana memungkinkan pencapaian tujuan yang meliputi sistem
dan prinsip-prinsip dasar pengorganisasian praktik penyelenggaraan negara dan

4
yang mendasari institusi-institusi sosial. Dimensi aksi politik berkaitan
denganpelaku pemegang peran sebagai pihak yang menentukan rasionalitas
politik.Rasionalitas politik terdiri atas rasionalitas tindakan dan keutamaan.
Tindakanpolitik dinamakan rasional bila pelaku mempunyai orientasi situasi dan
paham permasalahan (Haryatmoko, 2003: 25 – 28). Hubungan antara dimensi
tujuan, sarana, dan aksi politik dapat digambarkan sebagai berikut (Haryatmoko,
2003: 26).

4 Sumber Yuridis
Secara yuridis ketatanegaraan, Pancasila merupakan dasar negara Republik
Indonesia sebagaimana terdapat pada Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia tahun 1945, yang kelahirannya ditempa dalam proses
kebangsaan Indonesia. Melalui Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia tahun 1945 sebagai payung hukum, Pancasila perlu diaktualisasikan
agar dalam praktik berdemokrasinya tidak kehilangan arah dan dapat meredam
konflik yang tidak produktif (Pimpinan MPR dan Tim Kerja Sosialisasi MPR
periode 2009--2014, 2013: 89). Peneguhan Pancasila sebagai dasar negara
sebagaimana terdapat pada pembukaan, juga dimuat dalam Ketetapan MPR
Nomor XVIII/MPR/1998, tentang Pencabutan Ketetapan MPR Nomor
II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila
(Ekaprasetya Pancakarsa) dan ketetapan tentang Penegasan Pancasila sebagai
Dasar Negara. Meskipun status ketetapan MPR tersebut saat ini sudah masuk
dalam kategori ketetapan MPR yang tidak perlu dilakukan tindakan hukum lebih
lanjut, baik karena bersifat einmalig (final), telah dicabut maupun telah selesai
dilaksanakan (Pimpinan MPR dan Tim Kerja Sosialisasi MPR periode 2009-
2014, 2013: 90). Selain itu, juga ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 12
tahun 2011 tentang Pembentukan Perundang-undangan bahwa Pancasila
merupakan sumber dari segala sumber hukum negara.

5
B. IMPLEMENTASI NILAI – NILAI PANCASILA PADA BIDANG
POLITIK, BIDANG EKONOMI, BIDANG SOSIAL DAN
BUDAYA, DAN BIDANG HANKAM PADA ZAMAN IPTEK
YANG TINGGI

1. Implementasi Pancasila dalam bidang Politik


Pembangunan dan pengembangan bidang politik harus mendasarkan pada dasar
ontologis manusia. Hal ini di dasarkan pada kenyataan objektif bahwa manusia adalah
sebagai subjek Negara, oleh karena itu kehidupan politik harus benar-benar
merealisasikan tujuan demi harkat dan martabat manusia. Pengembangan politik
Negara terutama dalam proses reformasi dewasa ini harus mendasarkan pada
moralitas sebagaimana tertuang dalam sila-sila pancasila dam esensinya, sehingga
praktek-praktek politik yang menghalalkan segala cara harus segera diakhiri.
Pengembangan politik negara haruslah berdasarkan pada moralitas seperti yang
tercantum di dalam sila-sila Pancasila dan maknanya, sehingga dalam praktek-praktek
politik paham yang menghalalkan segala cara haruslah ditiadakan segera.

2. Dalam bidang Ekonomi


Di dalam ilmu ekonomi terdapat sebuah istilah siapa yang kuat maka ialah yang akan
menang, sehingga umumnya dalam pengembangan ekonomi selalunya mengarah pada
persaingan bebas. Dan sangat jarang yang mementingkan moralitas kemanusiaan. Hal
tersebut tentunya sangat tidak sesuai dengan ciri-ciri demokrasi Pancasila yang lebih
mengarah pada ekonomi kerakyatan, yakni perekonomian yang manusiawi yang
berdasarkan pada tujuan guna mensejahterakan rakyat secara luas (Mubyarto,1999).

Pengembangan dalam segi ekonomi bukan hanya untuk mengejar pertumbuhan


belaka namun juga demi kemanusiaan juga kesejahteraan masyarakat secara
menyeluruh. Maka dari itu sistem perekonomian di Indonesia berdasarkan pada asas
ekonomi kekeluargaan untuk seluruh bangsa.

6
3. Implementasi Pancasila dalam bidang Sosial dan Budaya
Dalam pembangunan dan pengembangan aspek sosial budaya hendaknya didasarkan
atas sistem nilai yang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat
tersebut. Terutama dalam rangka bangsa Indonesia melakukan reformasi di segala
bidang dewasa ini. Sebagai anti-klimaks proses reformasi dewasa ini sering kita
saksikan adanya stagnasi nilai social budaya dalam masyarakat sehingga tidak
mengherankan jikalau di berbagai wilayah Indonesia saat ini terjadi berbagai gejolak
yang sangat memprihatinkan antara lain amuk massa yang cenderung anarkis, bentrok
antara kelompok masyarakat satu dengan yang lainnya yang muaranya adalah
masalah politik.
Oleh karena itu dalam pengembangan social budaya pada masa reformasi dewasa ini
kita harus mengangkat nilai-nilai yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai dasar nilai
yaitu nilai-nilai pancasila itu sendiri. Dalam prinsip etika pancasila pada hakikatnya
bersifat humanistik, artinya nilai-nilai pancasila mendasarkan pada nilai yang
bersumber pada harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya.

4. Implementasi Pancasila dalam bidang Sosial dan Budaya

Implementasi pancasila dalam pembuatan kebijakan negara dalam bidang politik


dituangkan dalam pasal 27 ayat (3) dan pasal 30. Pasal-pasal tersebut merupakan
penjabaran dari pokok pikiran persatuan yang merupakan pancaran dari sila pertama
pancasila. Pokok pikiran ini adalah landasan bagi pembangunan bidang pertahanan
dan keamanan nasional.
Berdasarkan penjabaran diatas, maka implementasi pancasila dalam pembuatan
kebijakan negara pada bidang pertahanan dan keamanan harus diawali dengan
kesadaran bahwa indonesia adalah negara hukum. Pertahanan dan keamanan negara
di atur dan dikembangkan menurut dasar kemanusiaan, bukan kekuasaandengan kata
lain, pertahanan dan keamanan indonesia berbasis pada moralitas keamanan sehingga
kebijakan yang terkait dengannya harus terhindar dari pelanggaran hak-hak asasi
manusia. Secara sistematis, pertahanan keamanan negara harus berdasar pada tujuan
tercapainya kesejahteraan hidup manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa
(sila pertama dan kedua), berdasar pada tujuan untuk mewujudkan kepentingan
seluruh warga sebagai warga negara (sila ke tiga), harus mampu menjamin hak-hak
dasar, persamaan derajat serta kebebasan kemanusiaan (sila keempat), dan ditujukan
untuk mewujudkan keadilan dalam hidup masyarakat (sila kelima). Semua ini
dimaksudkan agar pertahanan dan keamanan dapat ditempatkan dalam konteks negara

7
hukum, yang menghindari kesewenang-wenangan negara dalam melindungi dan
membela wilayah negara dengan bangsa, serta dalam mengayomi masyarakat.
Negara pada hakikatnya adalah merupakan suatu masyarakat hukum. Demi tegaknya
hak-hak warga negara maka diperlukan peraturan perundang-undangan negara, baik
dalam rangka mengatur ketertiban warga maupun dalam rangka melindungi hak-hak
warganya.
Sebagai dasar dari moralitas dan haluan bangsa dan negara, Pancasila memiliki beberapa
landasan, yakni ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang kuat. Setiap sila dala Pancasila
mempunyai justifikasi historis, rasionalitas, dan aktualitas, yang apabila dipahami, dihayati
dan dipercayai serta diamalkan secara konsisten bisa menjadi penopang pencapaian-
pencapaian besar cita-cita bangsa. Pokok moralitas serta haluan bangsa dan negara
menurut kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dapat dilukiskan sebagaimana berikut:

1. Pertama
Nilai Ketuhanan sebagai sumber etika dan spiritual yang bersifat vertikal
transendental memiliki peranan penting sebagai dasar beretika dalam kehidupan
bernegara. Dalam kaitannya, Indonesia bukan meupkan negara sekuler yang
memisahkan “agama” dari ”negara”.

Karena hal tersebut dapat berpotensi menyudutkan peran agama ke ruang privat
komunitas. Negara menurut nilai dasar Pancasila diharapkan dapat memberi
perlindungan dalam mengembangkan kehidupan beragama. Dan juga agama
diharapkan dapat berperan dalam penguatan etika sosial. Pada saat yang sama,
Indonesia juga bukan “negara agama”, yang hanya mendukung salah satu (unsur)
agama yang memungkinkan agama tertentu dapat mendikte ketentuan negara.

2. Kedua
Nilai kemanusiaan secara umum bersumber dari hukum Tuhan, hukum alam, dan sifat
manusia sebagai makhluk sosial sangat penting sebagai dasar dalam etika dalam
kehidupan berpolitik dan bernegara dalam pergaulan dunia. Prinsip kebangsaan secara
luas mengarah pada persatuan dunia tersebut diwujudkan melalui jalan eksternalisasi
dan internalisasi. Eksternalisasi, bangsa Indonesia menggunakan segenap daya upaya
dan khazanah yang dimiliki guna bebas-aktif “ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

8
3. Ketiga
Penerapan nilai-nilai kemanusiaan terlebih dulu harus tertanam kuat dalam
lingkungan pergaulan masyarakat secara mendalam, sebelum lebih jauh ingin
menjangkau pergaulan dunia. Dalam internalisasi nilai-nilai persatuan kebangsaan ini,
Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki kemajeukan bangsa yang dapat
mengatasi paham golongan dan perseorangan. Persatuan dari kemajemukan
masyarakat dikelola berdasarkan konsep kebangsaan yang mencerminkan persatuan
dalam keragaman, dan keragaman dalam persatuan, seperti semboyan yang
dinyatakan dengan ungkapan “Bhinneka Tungal Ika.”

4. Keempat
Nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan serta cita-cita kebangsaan itu
dalam penerapannya harus menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam semangat
permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Dalam visi demokrasi
permusyawaratan, demokrasi memperoleh kekuatannya dalam kedaulatan rakyat.
Pada prinsipnya, keputusan yang diambil dalam musyawarah mufakat tidak didikte
oleh golongan mayoritas, namun dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan yang
menjunjung tinggi rasionalisme deliberatif serta kearifan setiap warga demi
mencerminkan manfaat musyawarah itu sendiri.

5. Kelima
Nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, merupakan nilai dan cita-cita kebangsaan, serta
demokrasi permusyawaratan dalam pengertian agar dapat mewujudkan keadilan
sosial. Di satu sisi, perwujudan keadilan sosial itu harus merefleksikan nilai imperatif
etis keempat sila yang lainnya. Di sisi lain, otentisitas pengamalan sila-sila Pancasila
bisa diukur dari perwujudan keadilan sosial dalam kehidupan berbangsa