Anda di halaman 1dari 17

FRAKTUR HUMERUS

I. Konsep Dasar
A. Defenisi
Menurut Helmi ZN. 2011 dalam jurnal Gde Rastu Adi Mahartha, dkk.Manajemen
fraktur pada muskuloskeletal, Fraktur merupakan istilah dari hilangnya kontinuitas
tulang baik yang bersifat total maupun sebagian, biasanya disebabkan oleh trauma.
Terjadinya suatu fraktur lengkap atau tidak lengkap ditentukan oleh kekuatan, sudut
dan tenaga, keadaan tulang, serta jaringan lunak di sekitar tulang.
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik.Terputusnya kontinitas tulang yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (M.
Clevo & Margareth, 2012).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya jaringan tulang dan atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Arif Manjoer, 2002).
Patah tulang tertutup adalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan
antara fragmen tulang dengan dunia luar (M. Clevo & Margareth, 2012).
Fraktur terbuka adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar
melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat terbentuk dari dalam maupun luar.
Fraktur dengan komplikasi adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi seperti
malunion, delayed union, nounion dan infeksi tulang (Bucholz RW, Dkk. 2006).
Fraktur tulang humerus adalah adanya diskontinuitas atau hilangnya struktur
dari humerus yang terbagi atas:
1. Fraktur suprakondilar humerus
2. Fraktur interkonditer humerus
3. Fraktur batang humerus
4. Fraktur kolum humerus
Menurut A pley Solomon fraktur diklasifikasikan berdasarkan garis patah tulang
dan berdasarkan bentuk patah tulang. Berdasarkan garis patah tulangnya: greenstick,
yaitu fraktur dimana satu sisi tulang retak dan sisi lainnya bengkok, transversal, yaitu
fraktur yang memotong lurus pada tulang, spiral, yaitu fraktur yang mengelilingi
tungkai/lengan tulang, obliq, yaitu fraktur yang garis patahnya miring membentuk sudut
melintasi tulang (Nayagam S. Principles of Fractures, 2010 dalam Gde Rastu Adi
Mahartha, dkk. Manajemen fraktur pada muskuloskeletal).
Berdasarkan bentuk patah tulangnya, komplet, yaitu garis fraktur menyilang atau
memotong seluruh tulang dan fragmen tulang biasanya tergeser, inkomplet, meliputi
hanya sebagian retakan pada sebelah sisi tulang, fraktur kompresi, yaitu fraktur dimana
tulang terdorong ke arah permukaan tulang lain avulsi, yaitu fragmen tulang tertarik
oleh ligament, communited (segmental), fraktur dimana tulang terpecah menjadi
beberapa bagian. simple, fraktur dimana tulang patah dan kulit utuh, fraktur dengan
perubahan posisi, yaitu ujung tulang yang patah berjauhan dari tempat yang patah,
fraktur tanpa perubahan posisi, yaitu tulang patah, posisi pada tempatnya yang normal,
fraktur komplikata, yaitu tulang yang patah menusuk kulit dan tulang terlihat (Nayagam
S. Principles of Fractures, 2010 dalam Gde Rastu Adi Mahartha, dkk. Manajemen fraktur
pada muskuloskeletal).
B. ETIOLOGI
Menurut buku M. Clevo & Margareth, 2012 etiologi terjadinya fraktur terdiri
dari:
1. Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya
kekerasan.Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis
patah melintang atau miring.
2. Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari
tempat terjadinya kekerasan.Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah
dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah
dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
3. Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.Kekuatan dapat berupa
pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan
penarikan.
4. Fraktur patologik
yaitu fraktur yang terjadi pada tulang disebabkan oleh melelehnya struktur
tulang akibat proses patologik. Proses patologik dapat disebabkan oleh kurangnya
zat-zat nutrisi seperti vitamin D, kaslsium, fosfor, ferum. Factor lain yang
menyebabkan proses patologik adalah akibat dari proses penyembuhan yang
lambat pada penyembuhan fraktur atau dapat terjadi akibat keganasan.
C. PATOFISIOLOGI
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari
yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan
rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang.Setelah terjadi fraktur, periosteum dan
pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang
membungkus tulang rusak.Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan
terbentuklah hematoma di rongga medula tulang.Jaringan tulang segera berdekatan ke
bagian tulang yang patah.Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya
respon inflamasi yang ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan
infiltrasi sel darah putih.ini merupakan dasar penyembuhan tulang (M. Clevo &
Margareth, 2012).
D. TANDA DAN GEJALA
Secara umum tanda dan gejala fraktur yang terjadi biasanya seperti menurut M.
Clevo & Margareth, tahun 2012 :
1. Pada tulang traumatik dan cedera jaringan lunak biasanya disertai nyeri. Setelah
terjadi patah tulang terjadi spasme otot yang menambanh rasa nyeri. Fraktur
patologis mungkin tidak disertai nyeri
2. Bengkak dan nyeri tekan: edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi
darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur
3. Deformitas: Daya terik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari
tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti :
a. Rotasi pemendekan tulang
b. Penekanan tulang
4. Mungkin tampak jelas posisi tulang dan ekstermitas yang tidak aalami
5. Echumosis dari Perdarahan Subculaneous
6. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur
7. Tenderness/keempukan
8. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan
kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.
9. Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan)
10. Pergerakan abnormal
11. Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah
12. Krepitas

Secara khusus untuk fraktur humerus menurut Arif Manjoer, Dkk tahun 2002 dapat
terjadi :

1. Fraktur suprakondilar humerus


a. Tipe ekstensi. Trauma terjadi ketika siku dalam posisi hiperekstensi, lengan bawah
dalam posisi supinasi. Hal ini menyebabkan fraktur pada suprakondilar, fragmen
distal humerus akan mengalami dislokasi keanterior dari fragmen proksimalnya.
b. Tipe fleksi. Trauma terjadi ketika posisi siku dalam keadaan fleksi, sedang lengan
bawah dalam keadaan pronasi.Hal ini megakibatkan fragmen distal humerus
mengalami dislokasi keposterior dari fragmen proksimalnya. Hal ini akan
menyebabkan komplikasi jika terjadi penekanan pada arteri brakialis yang disebut
dengan iskemia volkmanss. Timbulnya sakit, denyut arteri radialis berkurang,
pucat, rasa kesemutan, dan kelumpuhan.

2. Fraktur interkondilar humerus


Pada fraktur ini bentuk garis patah yang terjadi berupa bentuk huruf Y atau T.
Nampak didaerah sibu tampak jejas pembengkakan, kubiti varus atau kubiti valgus.
3. Fraktur batang humerus
Biasanya terjadi pada penderita dewasa, terjadinya karena trauma langsung yang
menyebabkan garis patah transversal atau kominutif. Terjadi functio laesa lengan
atas yang cedera, untuk menggunakan siku harus dibantu oleh tangan yang sehat
4. Fraktur kolum humerus
Sering terjadi pada wanita tua karena osteoporosis. Biasanya berupa fraktur
impaksi.Ditandai dengan sakit didaerah bahu tetapi fungsi lengan masih baik karena
fraktur impaksi merupakan fraktur yang stabil.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosis untuk fraktur menurut Arif Manjoer, 2002 :
1. Anamnesis
Bila tidak ada riwayat trauma, berarti fraktur patologis.Trauma harus diperinci kapan
terjadinya, dimana terjadinya, jenisnya, berat ringan trauma, arah trauma, dan posisi
pasien atau ektrermitas yang bersangkutan.
2. Pemeriksaan umum
Dicari kemungkinan komplikasi syok pada fraktur multipel, fraktur pelvis, fraktur
terbuka tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka yang mengalami infeksi
3. Pemeriksaan suatu lokasi, Tanda-tanda klinis pada fraktur tulang panjang:
a. Look cari apakah terdapat deformitas, functio leasa (kehilangan fungsi), lihatjuga
ukuran panjang ekstermitas kiri dan kanan
b. Feel: apakah terdapat nyeri tekan
c. Move mencari krepitasi, nyeri bila digerakkan, seberapa jauh gangguan fungsi.
4. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan radiologi untuk
memastikan arah fraktur yang terjadi.
F. KOMPLIKASI
Komplikasi awal
a. Kerusakan arteri: pecahnya arteri karena trauma bisa di tandai dengan tidak adanya
nadi, CRT menurun, cianosis bagian distal, hematoma yang lebar dan dingin pada
ekstermitas
b. Kompartement syndrom
Merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf,
dan pembuluh darah dalam jaringan parut.
c. Fat embolism syndrom
Yang paling sering terjadi pada fraktur tulang panjang. Terjadi karena sel-sel lemak
yang dihasilkan bone marrow kuning masuk kealiran darah dan menyebabkan
tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan,
takikardi, hipertensi, tachypnea, demam
d. Infeksi: jika sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan.
e. Avaskuler nekrosis
Terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan
nekrosis tulang
f. Shock: karena kehilangan banyak darah.
Komplikasi dalam waktu lama
a. Delayed union
Kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk
menyambung karena penurunan suplai darah ke tulang.
b. Nonunion
Merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang
lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan.Ditandai dengan pergerakan yang
berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthritis.Ini juga
disebabkan karena aliran darah yang kurang.
c. Malunion
Penyembuhan tulang yang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan
perubahan bentuk (deformitas).Malunion dilakukan dengan pembedahan dan
reimmobilisasi yang baik.
G. PENATALAKSANAAN
1. Reduksi fraktur, berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan
rotasi anatomis :
a. Reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya
dengan manipulasi dan traksi manual.
b. Traksi digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi
disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
c. Reduksi terbuka, dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi
interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku atau batangan logam yang
dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya sampai
penyembuhan tulang yang solid terjadi.
2. imobilisasi fraktur, mempertahnkan reduksi sampai terjadi penyembuhan. Setelah
fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi atau dipertahankan dalam posisi
dan kesejajaran yang benar sampai trejadi penyatuan. Metode fiksasi eksterna
meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin, dan teknik gips atau fiksator
eksterna. Sedangkan fiksasi interna dapat digunakan implant logam yang dapat
berperan sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur.
3. Rehabilitasi, mempertahankan dan mengembalikan fungsi setelah dilakukan reduksi
dan imobilisasi (Arif, 2000).
II. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas Klien
Lakukan pengkajian pada identitas klien dan isi identitasnya yang meliputi: nama,
jenis kelamin, suku bangsa, tanggal lahir, alamat, agama, dan tanggal pengkajian
serta siapa yang bertanggung jawab terhadap klien
b. Keluhan utama
c. Penderita biasanya mengeluh nyeri.
d. Riwayat kesehatan
- Riwayat kesehatan dahulu
- Pada klien fraktur pernah mengalami kejadian patah tulang apa pernah
mengalami tindakan operasi apa tidak.
- Riwayat kesehatan sekarang
- Pada umumnya penderita mengeluh nyeri pada daerah luka (pre/post op).
e. Riwayat kesehatan keluarga
Didalam anggota keluara tidak / ada yang pernah mengalami penyakit fraktur /
penyakit menular.
f. Keadaan umum
Kesadaran: compos mentis, somnolen, apatis, sopor koma dan koma dan apakah
klien paham tentang penyakitnya.
g. Pengkajian Kenutuhan Dasar
- Rasa nyaman/nyeri
Gejala : nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area
jaringan/kerusakan tulang, dapat berkurang pada imobilisasi), tidak ada nyeri
akibat kerusakan saraf.Spasme/kram otot (setelah imobilisasi)
- Nutrisi
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-
harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu
proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa
membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi
komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan
terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah
muskuloskeletal terutama pada lansia.Selain itu juga obesitas juga menghambat
degenerasi dan mobilitas klien.
h. Kebersihan Perorangan
Klien fraktur pada umumnya sulit melakukan perawatan diri.
i. Cairan
Perdarahan dapat terjadi pada klien fraktur sehingga dapat menyebabkan resiko
terjadi kekurangan cairan.
j. Aktivitas dan Latihan
Kehilangan fungsi pada bagian yang terkena dimana Aktifitas dan latihan mengalami
perubahan/gangguan akibat adanya luka sehingga perlu dibantu.
k. Eliminasi
Untuk kasus fraktur tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu
perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi
alvi.Sedangkan pada pola eliminasi urin dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau,
dan jumlah.Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak.
l. Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat
mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian
dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan
kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur
m. Neurosensory
Biasanya klien mengeluh nyeri yang disebabkan oleh adanya kerusakan jaringan
lunak dan hilangnya darah serta cairan seluler ke dalam jaringan.
Gejala : Kesemutan, Deformitas, krepitasi, pemendekan, kelemahan.
n. Keamanan
Tanda dan gejala : laserasi kulit, perdarahan, perubahan warna, pembengkakan
local
o. Seksualitas
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual
karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang
dialami klien.Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah
anak, lama perkawinannya.
p. Keseimbangan dan Peningkatan Hubungan Resiko serta Interaksi Sosial
Psikologis : gelisah, sedih, terkadang merasa kurang sempurna.
Sosiologis : komunikasi lancar/tidak lancar, komunikasi verbsl/nonverbal dengan
orang terdekat/keluarga, spiritual tak/dibantu dalam beribadah.

2. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen penyebab cedera fisik.
2. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan faktor mekanik: perubahan
sirkulasi, imobilisasi dan penurunan sensabilitas (neuropati).
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal.
4. Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan pengetahuan yang kurang untuk
menghindari pajanan pathogen.
5. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan akses
terhadap makanan terbatas.
6. Defisit perawatan diri : mandi/hygiene berhubungan dengan nyeri, kelemahan.
7. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

3. Intervensi Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan ketunadayaan fisik atau psikososial kronis

NOC :

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, klien mampu mengontrol
nyeri, nyeri berkurang dan tingkat kenyamanan meningkat.

Kriteria hasil :

- Klien dapat melaporkan nyeri, frekuensi nyeri, ekspresi wajah, dan menyatakan
kenyamanan fisik dan psikologis.
Intervensi NIC:

a. Lakukan pegkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,


frekuensi, kualitas dan ontro presipitasi.
Rasional : Mengetahui intervensi keperawatan selanjutnya yang akan diberikan
kepada klien.
b. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
Rasional : Tingkat nyeri yang dirasakan dapat mempengaruhi intervensi keperawatan
apa yang akan diberikan selanjutnya.
c. Gunakan teknik komunikasi terapeutik
Rasional : Komunikasi terapeutik merupakan terapi yang digunakan untuk
mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya.
d. Kontrol lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan.
Rasional : Mengurangi nyeri dan memberi kenyamanan.
e. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/non farmakologis).
Rasional : Memfasilitasi penggunaan obat resep atau obat bebas secara aman dan
efektif.
f. Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll)
Rasional : Teknik relaksasi, distraksi dll, digunakan dalam mengetasi nyeri.
g. Evaluasi tindakan pengurangan nyeri/kontrol nyeri.
Rasional : Mengetahui sejauh mana klien mampu mengatasi nyerinya.
h. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik.
Rasional : Pemberian analgetik merupakan cara mengendalikan nyeri agar tidak
menjadi lebih berat.
2. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan factor mekanik: perubahan
sirkulasi, imobilisasi dan penurunan sensabilitas
NOC :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, terjadi penyembuhan
pada luka dan keutuhan struktur maupun fungsi fisiologis normal kulit.
Kriteria hasil :
Tidak ada tanda atau gejala infeksi
Intervensi NIC :
a. Catat karakteristik luka:tentukan ukuran dan kedalaman luka, dan klasifikasi
pengaruh ulkus.
Rasional : Mengetahui intervensi keperawatan selanjutnya yang akan diberikan
kepada klien.
b. Bersihkan dengan cairan anti bakteri.
Rasional : Menghilangkan benda asing dan bakteri lainnya agar tidak terjadi
infeksi.
c. Bilas dengan cairan NaCl 0,9%.
Rasional : NaCl 0,9% dapat mengikat jaringan sehingga luka cepat kering.
d. Dressing dengan kasa steril sesuai kebutuhan
Rasional : Menghindari kontaminasi dan infeksi dari luar.
e. Lakukan pembalutan
Rasional : Pembalutan dapat mencegah meluasnya jaringan luka pada kulit.
f. Amati setiap perubahan pada balutan
Rasional : Mengetahui perubahan luka agar tidak meluas.
g. Bandingkan dan catat setiap adanya perubahan pada luka
Rasional : Memudahkan intervensi selanjutnya.
h. Berikan posisi terhindar dari tekanan.
Rasional : Posisi yang baik dapat membantu klien untuk memperoleh
kenyamanan dan keamanan serta dapat mencegah terjadinya infeksi
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal

NOC :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan klien
menunjukkan mobilitas optimal.
Kriteria hasil :

a. Mempertahankan posisi fungsional.


b. Menunjukkan teknik yang memampukan melakukan aktivitas.

Intervensi NOC :

a. Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cidera/pengobatan dan perhatikan


persepsi pasien terhadap imobilisasi.
Rasional : Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang
keterbatasan fisik actual, memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatkan
kemajuan kesehatan.
b. Awasi TD dengan melakukan aktivitas. Perhatikan keluhan pusing.
Rasional : Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirah baring lama dan
dapat memerlukan intervensi khusus (contoh kemiringan meja dengan peninggian
secara bertahap sampai posisi tegak).
c. Instruksikan pasien untuk/bantu dalam rentang gerak pasien/aktif pada ekstremitas
yang sakit dan yang tidak sakit.
Rasional : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus
otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah kontraktur/atrofi, dan resorpsi
kalsium karena tidak digunakan.
d. Dorong peningkatan masukan cairan sampai 2000-3000 ml/hari, termasuk air
asam/jus.
Rasional : Mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan resiko infeksi urinarius,
pembentukan batu dan konstipasi.
e. Berikan diet tinggi protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Pertahankan
penurunan kandungan protein sampai setelah defekasi pertama.
Rasional : Pada adanya cidera musculoskeletal, nutrisi yang diperlukan untuk
penyembuhan berkurang dengan cepat, sering mengakibatkan penurunan berat
badan sebanyak 20-30 pon selama traksi tulang. Ini dapat mempengaruhi massa otot,
tonus, dan kekuatan.
f. Berikan/bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk, tongkat, sesegera mungkin.
Instruksikan keamanan dalam menggunakan alat mobilitas.
Rasional : Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring (contoh flebitis), dan
meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi organ. Belajar memperbaiki
caramenggunakan alat penting untuk mempertahankan mobilisasi optimal dan
keamanan pasien.
g. Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk/napas dalam.
Rasional : Mencegah/menurunkan insiden komplikasi kulit/pernapasan (contoh
dekubitus, atelektasis, pneumonia).
h. Kolaborasi, konsul dengan ahli terapi fisik.
Rasional: Mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan
mobilitas pasien.
4. Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan pengetahuan yang kurang untuk
menghindari pajanan pathogen
NOC :
Setelah dilakukan intervensi selama 3x24 jam, diharapkan tidak terjadi infeksi pada
luka
Kriteria hasil:
a. Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu
b. Bebas drainase purulen, eritem dan demam
Intervensi NIC :
a. Inspeksi kulit untuk adanya iritasi
Rasional : Mendeteksi resiko/masalah kesehatan yang kemungkinan terjadi.
b. Perhatikan keluhan klien terhadap keluhan peningkatan nyeri, rasa terbakar,
eritema atau bau tak sedap.
Rasional : Keluhan yang dilapokan klien harus segera diatasi dengan melakukan
intervensi keperawatan selanjutnya.
c. Observasi luka terhadap pembentukan bula, perubahan warna luka, bau drainase
yang tidak sedap.
Rasional : Mengetahui tingkat keparahan luka sehingga perubahan pada luka yang
semakin parah dapat teratasi.
d. Lakukan perawatan luka sesuai protocol dengan tehnik steril.
Rasional : Mencegah terjadinya komplikasi pada luka dan memfasilitasi
penyembuhan luka.
e. Lakukan perlindungan infeksi.
Rasional : Mencegah dan mendeteksi dini infeksi pada pasien yang berisiko.
f. Berikan therapy obat-obatan sesuai indikasi; anti biotic, TT dll
Rasional : Terapi antibiotik dan TT dapa meningkatkan daya tahan tubuh dan
mencegah infeksi pada luka.
5. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan akses
terhadap makanan terbatas
NOC :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, kebutuhan
nutrisi dapat terpenuhi
Kriteria hasil :

a. Berat badan dan tinggi badan ideal.

b. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.

Intervensi NIC :

a. Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan.


Rasional : Keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien dapat diketahui sehingga dapat
diberikan intervensi yang tepat.
b. Beri dorongan individu untuk makan bersama orang lain
Rasional: Dengan makan bersama sama secara psikologis meningkatkan selera
makan.
c. Pertahankan kebersihan mulut yang baik (sikat gigi) sebelum dan sesudah
mengunyah makanan
Rasional: Dengan situasi mulut yang bersih meningkatkan kenyamanan.
d. Timbang berat badan setiap seminggu sekali.
Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien (berat badan merupakan
salah satu indikasi untuk menentukan intervensi selanjutnya).
e. Identifikasi perubahan pola makan.
Rasional : Mengetahui penurunan atau peningkatan pola makan.
f. Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat.
Rasional : Dengan pemahaman yang benar akan memotivasi klien untuk masukan
nutrisinya.
DAFTAR PUSTAKA

Adi Mahartha Gde Rastu, Dkk. 2013.Manajemen Fraktur Pada Trauma Muskuloskeletal.
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. diakses senin 28-12-2-15 (12:20)
Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3.EGC. Jakarta
Mansjoer Arif, dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
Price S.A, Wilson L.M. 2006. Patofifisiologi Konsepklinis Proses-Proses Penyakit.Jakarta : EGC
Rendy, M Clevo dan Margareth TH. 2012. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Penyakit
Dalam.Yogyakarta : Nuha Medika
Smeltzer.2001 .Keperawatan Medikal Bedah, Brunner and Suddarth. Jakarta: EGC
Wilkinson Mjudith, Ahern R. 2011. Buku Saku Diangnosa Keperawatan Edisi 9Nanda Nic Noc.
Jakarta: EGC