Anda di halaman 1dari 18

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi
Menurut Pedoman Nasional Asma Anak 2004, asma adalah mengi berulang dan/atau
batuk persisten dengan karakteristik sebagai berikut : timbul secara episodik, cenderung pada
malam/dini hari ( nokturnal ), musiman, setelah aktivitas fisik serta terdapat riwayat asma
atau atopi pada pasien dan/atau keluarganya.
1.2 Epidemiologi
Asma merupakan penyakit kronik yang sering dijumpai pada anak di negara maju dan
berkembang. Sejak dua dekade terakhir, dilaporkan bahwa prevalens asma meningkat pada
anak maupun dewasa. Prevalens total asma di dunia diperkirakan 7,2% (6% pada dewasa dan
10% pada anak). Terdapat perbedaan prevalensi antar negara dan bahkan perbedaan juga
didapat antar daerah dalam suatu negara. Salah satu penelitian multisenter yang dilaksanakan
adalah International Study of Asthma and Allergy in Children (ISAAC). Dengan
menggunakan kuisioner standar, prevalens dan berbagai faktor resiko dapat dibandingkan.
WHO memperkirakan saat ini terdapat 250.000 kematian akibat asma. Berdasarkan
laporan NCHS pada tahun 2000, terdapat 4.487 kematian akibat penyakit asma atau 1,6 per
100.000 populasi. Kematian pada anak akibat penyakit asma jarang. Pada tahun yang sama,
didapatkan kematian 223 anak usia 0 – 17 tahun atau 0,3 kematian per anak.
Berbagai faktor mempengaruhi terjadinya serangan asma, kejadian asma, berat ringanya
penyakit serta kematian akibat penyakit asma. Faktor – faktor tersebut antara lain adalah :
jenis kelamin, usia, riwayat atopi, lingkungan, ras, asap rokok, partikel halus di udara, dan
infeksi respiratorik. Beban sosial dan ekonomi yang berhubungan dengan peningkatan
prevalens dan kematian akibat asma merupakan dasar pemikiran penting bagi pelaksanaan
majemen asma yang strategis.
1.3 Patofisiologi
Asma ditandai 3 kelainan utama pada bronkus yaitu bronkokonstriksi otot bronkus,
inflamasi mukosa dan bertambahnya sekret yang berada di jalan nafas. Pada stadium
permulaan terlihat mukosa jalan nafas pucat, terdapat edema dan sekresi lendir bertambah.
Lumen bronkus dan bronkiolus menyempit akibat spasme. Terlihat kongesti pembuluh darah,
infiltrasi sel eosinofil bahkan juga dalam sekret di dalam lumen saluran nafas. Bila serangan
terjadi sering dan lama atau dalam stadium lanjut, akan terlihat deskuamasi epitel, penebalan
1
membran hialin basal, hiperplasi serat elastin, hiperplasi dan hipertrofi otot bronkus dan
jumlah sel goblet bertambah. Kadang-kadang pada asma menahun atau pada serangan yang
berat terdapat penyumbatan bronkus oleh mukus yang kental yang mengandung eosinofil.
Sampai saat ini patogenesis asma belum diketahui dengan pasti, namun berbagai
penelitian telah menunjukkan bahwa dasar gejala asma adalah inflamasi dan respon saluran
napas yang berlebihan. Asma saat ini dipandang sebagai penyakit inflamasi saluran napas.
Inflamasi ditandai dengan adanya kalor (panas karena vasodilatasi) dan rubor (kemerahan
karena vasodilatasi), tumor (eksudasi plasma dan edema), dolor (rasa sakit karena rangsangan
sensoris), dan functio laesa (fungsi yang terganggu). Akhir-akhir ini syarat terjadinya radang
harus disertai satu syarat lagi yaitu infiltrasi sel-sel radang. Ternyata keenam syarat tadi
dijumpai pada asma tanpa membedakan penyebabnya baik yang alergik maupun non-alergik.
Obstruksi saluran napas pada asma merupakan kombinasi spasme otot bronkus,
sumbatan mukus, edema dan inflamasi dinding bronkus. Obstruksi bertambah berat selama
ekspirasi karena secara fisiologis saluran napas menyempit pada fase tersebut. Hal ini
mengakibatkan udara distal tempat terjadinya obstruksi terjebak tidak bisa diekspirasi.
Selanjutnya terjadi peningkatan volume residu, kapasitas residu fungsional (KRF) dan pasien
akan bernapas pada volume yang tinggi mendekati kapasitas paru total (KPT). Keadaan
hiperinflasi ini bertujuan agar saluran napas tetap terbuka dan pertukaran gas berjalan lancar.
Untuk mempertahankan hiperinflasi ini diperlukan otot-otot bantu napas. Gangguan yang
berupa obstruksi saluran napas dapat dinilai secara obyektif dengan VEP1 (Volume Ekspirasi
Paksa detik pertama) atau APE (Arus Puncak Ekspirasi) sedangkan penurunan KVP
(Kapasitas Vital Paru) menggambarkan derajat hiperinflasi paru. Penyempitan saluran napas
dapat terjadi baik pada saluran napas yang besar, sedang maupun kecil. Gejala mengi
menandakan ada penyempitan di saluran napas besar, sedangkan pada saluran napas yang
kecil gejala batuk dan sesak lebih dominan dibanding mengi.
Penyempitan saluran napas ternyata tidak merata di seluruh bagian paru. Ada daerah-
daerah yang kurang mendapat ventilasi, sehingga darah kapiler yang melalui daerah tersebut
mengalami hipoksemia. Penurunan PaO2 mungkin merupakan kelainan pada asma sub-klinis.
Untuk mengatasi kekurangan oksigen, tubuh melakukan hiperventilasi, agar kebutuhan
oksigen terpenuhi. Tetapi akibatnya pengeluaran CO2 menjadi berlebihan sehingga PaCO2
menurun yang kemudian menimbulkan alkalosis respiratorik. Pada serangan asma yang lebih
berat lagi banyak saluran napas dan alveolus tertutup oleh mukus sehingga tidak
memungkinkan lagi terjadinya pertukaran gas. Hal ini menyebabkan hipoksemia dan kerja
2
otot-otot pernapasan bertambah berat serta terjadi peningkatan produksi CO2. Peningkatan
produksi CO2 yang disertai dengan penurunan ventilasi alveolus menyebabkan retensi CO 2
(hiperkapnia) dan terjadi asidosis respiratorik atau gagal napas. Hipoksemia yang
berlangsung lama menyebabkan asidosis metabolik dan konstriksi pembuluh darah paru yang
kemudian menyebabkan shunting yaitu peredaran darah tanpa melalui unit pertukaran gas
yang baik, yang akibatnya memperburuk hiperkapnia. Dengan demikian penyempitan saluran
napas pada asma akan menimbulkan hal-hal sebagai berikut : 1). Gangguan ventilasi berupa
hipoventilasi. 2). Ketidakseimbangan ventilasi perfusi di mana distribusi ventilasi tidak setara
dengan sirkulasi darah paru. 3). Gangguan difusi gas di tingkat alveoli. Ketiga faktor tersebut
akan mengakibatkan : hipoksemia, hiperkapnia, asidosis respiratorik pada tahap yang sangat
lanjut.

1.4 Manifestasi klinis


Secara umum gejala asma adalah sesak napas, batuk berdahak dan suara napas yang
berbunyi ngik-ngik dimana seringnya gejala ini timbul pada pagi hari menjelang waktu
subuh, hal ini karena pengaruh keseimbangan hormon kortisol yang kadarnya rendah ketika
pagi dan berbagai faktor lainnya. Penderita asma akan mengeluhkan sesak nafas karena udara
pada waktu bernafas tidak dapat mengalir dengan lancar pada saluran nafas yang sempit dan
hal ini juga yang menyebabkan timbulnya bunyi ngik-ngik pada saat bernafas. Pada penderita
asma, penyempitan saluran pernafasan yang terjadi dapat berupa pengerutan dan tertutupnya
saluran oleh dahak yang diproduksi secara berlebihan dan menimbulkan batuk sebagai respon
untuk mengeluarkan dahak tersebut.
Salah satu ciri asma adalah hilangnya keluhan di luar serangan. Artinya, pada saat
serangan, penderita asma bisa kelihatan amat menderita (banyak batuk, sesak napas hebat dan
bahkan sampai seperti tercekik), tetapi di luar serangan dia sehat-sehat saja (bisa main tenis 2
set, bisa jalan-jalan keliling taman, dan lain-lain). Inilah salah satu hal yang membedakannya
dengan penyakit lain (keluhan sesak pada asma adalah revesibel, bisa baik kembali di luar
serangan).

3
1.5 Klasifikasi
Parameter Asma Episodik Asma Asma Persisten
klinis, Jarang Episodik
kebutuhan Sering
obat, dan faal
paru
1. Frekuensi <1x/bulan >1x/bulan sering
serangan
2. Lama <1 minggu >1 minggu Hampir sepanjang
serangan tahun, tidak ada periode
bebas serangan
3. Intensitas biasanya ringan biasanya biasanya berat
serangan sedang
4. Di antara tanpa gejala sering ada gejala siang dan malam
serangan gejala
5. Tidur dan Tidak terganggu sering sangat terganggu
aktivitas terganggu
6. Pemeriksaan normal (tidak mungkin tidak pernah normal
fisik di luar ditemukan terganggu
serangan kelainan) (ditemukan
kelainan)
7. Obat Tidak perlu perlu perlu
pengendali
(anti
inflamasi)
8. Uji faal PEF/FEV1>80% PEF/FEV1 60- PEF/FEV1<60%
paru (di luar 80% variabilitas 20-30%
serangan)
9. Variabilitas variabilitas >15% variabilitas variabilitas >50%
faal paru (bila >30%
ada serangan)

Keterangan:

PEF : peak expiratory flow (aliran ekspirasi/saat membuang napas puncak)

FEV1 : forced expiratory volume in 1 second (volum ekspirasi paksa dalam 1 detik).9

Dalam penatalaksanaan serangan asma perlu diketahui lebih dahulu derajat beratnya
serangan asma baik berdasarkan cara bicara, aktivitas, tanda-tanda fisis, nilai APE, dan bila
mungkin analisis gas darah.7

4
Ringan Sedang Berat
Aktivitas Dapat berjalan Jalan terbatas Sukar berjalan
Dapat berbaring Lebih suka duduk Duduk
membungkuk ke
depan
Bicara Beberapa kalimat Kalimat terbatas Kata demi kata
Kesadaran Mungkin Biasanya Biasanya
terganggu terganggu terganggu
Frekuensi napas Meningkat Meningkat Sering > 30
kali/menit
Retraksi otot- Umumnya tidak Kadang kala ada Ada
otot bantu ada
napas
Mengi Lemah sampai Keras Keras
sedang
Frekuensi nadi < 100 100-120 > 120
Pulsus Tidak ada (< 10 Mungkin ada (10- Sering ada (> 25
paradoksus mmHg) 25 mmHg) mmHg)
APE sesudah > 80% 60-80% < 60%
bronkodilator
(% prediksi)
PaCO2 < 45 mmHg < 45 mmHg < 45 mmHg
SaO2 > 95% 91-95% < 90%

Keterangan : Dalam menentukan klasifikasi tidak seluruh parameter harus dipenuhi.

Mengi/wheezing berulang dan/atau batuk kronik berulang merupakan titik awal untuk
menegakkan diagnosis. Termasuk yang perlu dipertimbangkan kemungkinan asma adalah
anak-anak yang hanya menunjukkan batuk sebagai satu-satunya tanda, dan pada saat
diperiksa tanda wheezing, sesak dan lain-lain sedang tidak timbul. Asma sulit didiagnosis
pada anak di bawah 3 tahun. Untuk anak yang sudah besar (>6 tahun) pemeriksaan
faal/fungsi paru sebaiknya dilakukan. Uji fungsi paru yang sederhana dengan peak flow
meter, atau yang lebih lengkap dengan spirometer. Lainnya bisa melalui uji provokasi
bronkus dengan histamin, metakolin, latihan (exercise), udara kering dan dingin, atau dengan
NaCl hipertonis.

1.6 Diagnosis
Alur diagnosis asma anak
5
1.7 Penatalaksanaan
Tata laksana asma jangka panjang
Tujuan tata laksana asma anak secara umum adalah untuk menjamin tercapainya
potensi tumbuh kembang anak secara optimal. Secara lebih rinci, tujuan yang ingin dicapai
adalah :
 Anak dapat menjalani aktivitas normalnya, termasuk bermain dan berolahraga.
 Sesedikit mungkin angka absensi sekolah.
 Gejala tidak timbul siang ataupun malam hari.

6
 Uji fungsi paru senormal mungkin, tidak ada variasi diurnal (dalam 24 jam) yang
mencolok.
 Kebutuhan obat seminimal mungkin dan tidak ada serangan.
 Efek samping obat dapat dicegah agar tidak atau sesedikit mungkin timbul,
terutama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Apabila tujuan ini belum tercapai, maka perlu reevaluasi tata laksananya.
Tata laksana medikamentosa (dengan obat-obatan)
Obat asma dapat dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu obat pereda (reliever) dan obat
pengendali (controller).
Reliever, sering disebut obat serangan, digunakan untuk meredakan serangan atau gejala
asma jika sedang timbul.
Controller, sering disebut obat pencegah, digunakan untuk mengatasi masalah dasar asma,
yaitu inflamasi respiratorik kronik (peradangan saluran napas menahun). Dengan demikian
pemakaian obat ini terus-menerus dalam jangka waktu relatif lama, tergantung derajat
penyakit asma, dan responnya terhadap pengobatan/penanggulangan. Controller diberikan
pada asma episodik sering dan asma persisten.

Asma Episodik Jarang


Asma episodik jarang cukup diobati dengan reliever berupa bronkodilator beta agonis
hirupan (inhaler/spray) kerja pendek (short acting β2-agonist, SABA) atau golongan xantin
kerja cepat, bila terjadi gejala/serangan.

Asma Episodik Sering


Jika penggunaan beta agonis hirupan sudah lebih dari 3x per minggu (tanpa
menghitung penggunaan sebelum aktivitas fisik), atau serangan sedang/berat terjadi lebih dari
sekali dalam sebulan, maka penggunaan anti inflamasi sebagai pengendali (controller)
diperlukan, yakni steroid hirupan dosis rendah. Obat steroid yang sering digunakan pada anak
adalah budesonid, sehingga digunakan sebagai standar. Dosis rendah steroid hirupan adalah
setara dengan 100-200 mg/hari budesonid (50-100 mg/hari flutikason) untuk anak berusia
kurang dari 12 tahun, dan 200-400 mg/hari budesonid untuk anak berusia di atas 12 tahun.
Pada penggunaan dosis 100-200 mg/hari belum dilaporkan adanya efek samping jangka
panjang.

7
Penilaian dilakukan setelah 6-8 minggu, yaitu waktu yang diperlukan untuk
mengendalikan inflamasinya. Apabila masih tidak respons (masih terdapat gejala asma atau
gangguan tidur atau aktivitas sehari-hari), maka dilanjutkan dengan tahap kedua, yaitu
menaikkan dosis steroid hirupan sampai dengan 400 mg/hari, yang termasuk dalam tata
laksana asma persisten.
Prinsip pengobatan adalah: jika tata laksana suatu derajat penyakit asma sudah
sesuai dengan panduan, namun respon tetap tidak baik dalam 6-8 minggu, maka derajat tata
laksana berpindah ke yang lebih berat (step-up). Sebaliknya jika asmanya terkendali dalam
6-8 minggu, maka derajatnya beralih ke yang lebih ringan (step-down). Bila memungkinkan,
steroid hirupan dihentikan penggunaannya.

Asma Persisten
Cara pemberian steroid hirupan apakah dimulai dari dosis tinggi ke rendah selama
gejala masih terkendali, atau sebaliknya dimulai dari dosis rendah ke tinggi hingga gejala
dapat dikendalikan, tergantung pada kasusnya. Dalam keadaan tertentu, khususnya pada anak
dengan penyakit berat, dianjurkan untuk menggunakan dosis tinggi dahulu, disertai steroid
oral jangka pendek (3-5 hari). Selanjutnya dosis steroid hirupan diturunkan sampai dosis
terkecil yang masih optimal. Setelah pemberian steroid hirupan dosis rendah tidak
mempunyai respons yang baik, diperlukan terapi alternatif pengganti, yaitu meningkatkan
steroid menjadi dosis medium atau tetap steroid hirupan dosis rendah ditambah dengan
LABA (long acting beta-2 agonist) atau ditambahkan teophylline slow release (TSR) atau
ditambahkan anti-leukotriene receptor (ALTR). Dosis medium adalah setara dengan 200-400
µg/hari budosenid (100-200 µg/hari flutikason) untuk anak berusia kurang dari 12 tahun, dan
400-600 µg/hari budosenid (200-300 µg/hari flutikason) untuk anak berusia di atas 12 tahun.
Apabila dengan pengobatan lapis kedua selama 6-8 minggu tetap terdapat gejala asma, maka
dapat diberikan alternatif lapis ketiga, yaitu dapat meningkatkan dosis kortikosteroid sampai
dengan dosis tinggi, atau tetap dosis medium ditambahkan dengan LABA, atau TSR, atau
ALTR. Yang dimaksud dosis tinggi adalah setara dengan > 400 µg/hari budesonid (> 200
µg/hari flutikason), untuk anak berusia kurang dari 12 tahun, dan > 600 µg/hari budesonid (>
300 µg/hari flutikason) untuk anak berusia di atas 12 tahun.
Apabila dosis steroid hirupan sudah mencapai > 800 mg/hari namun tidak mencapai
respon, maka baru menggunakan steroid oral (sistemik). Sebagai dosis awal, steroid oral
dapat diberikan 1-2 mg/kgBB/hari. Dosis kemudian diturunkan sampai dosis terkecil yang
diberikan selang hari pada pagi hari.
8
Alur tatalaksana serangan asma anak

Alur tatalaksana asma jangka panjang

9
1.8 Prognosis
Prognosis jangka panjang asma anak pada umumnya baik. Sebagian besar asma anak
hilang atau berkurang dengan bertambahnya umur. Sekitar 50% asma episodik jarang sudah
menghilang pada umur 10-14 tahun dan hanya 15% yang menjadi asma kronik pada umur 21
tahun. Dua puluh persen asma episodik sering sudah tidak timbul pada masa akil baliq, 60%
tetap sebagai asma episodik sering dan sisanya sebagai asma episodik jarang. Hanya 5% dari

10
asma kronik/persisten yang dapat menghilang pada umur 21 tahun, 20% menjadi asma
episodik sering, hampir 60% tetap sebagai asma kronik/persisten dan sisanya menjadi asma
episodik jarang.

BAB II
11
LAPORAN KASUS

UNIVERSITAS ANDALAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
KEPANITERAAN KLINIK ROTASI TAHAP II

STATUS PASIEN
1. Identitas Pasien
a. Nama/Kelamin/Umur : MB/ Laki – laki / 3 tahun 10 bulan
b. Pekerjaan/pendidikan :-/-
c. Alamat : Perumnas Nuansa Indah 3 No. E11, Koto Tangah
2. Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga
a. Status Perkawinan : Belum menikah
b. Jumlah Saudara : 3 orang anak
c. Status Ekonomi Keluarga : kurang mampu, penghasilan ± Rp. 1.500.000,-/bulan
d. KB : Tidak ada
e. Kondisi Rumah :
- Rumah semipermanen, perkarangan cukup luas, luas bangunan 30m2
- Ventilasi dan sirkulasi udara kurang
- Listrik ada
- Sumber air : sumur
- Jamban tidak ada, buang air besar di sungai
- Sampah dibakar di halaman rumah
Kesan : hygiene dan sanitasi kurang

f. Kondisi Lingkungan Keluarga


- Pasien tinggal bersama ayah dan ibunya serta 3 orang saudara kandung. Pasien
merupakan anak ketiga dari 4 orang bersaudara. Kakak pertama pasien duduk
di bangku SD kelas 4, kakak kedua berumur 5 tahun dan adik pasien berumur
1 tahun 8 bulan. Rumah hanya memiliki satu tempat tidur, pasien dan kakak –
kakaknya tidur di lantai.
- Tinggal di daerah pinggiran kota.

3. Aspek Psikologis di keluarga


- Hubungan di dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya baik
- Faktor stress dalam keluarga tidak ada

4. Riwayat Penyakit dahulu / Penyakit Keluarga


- Riwayat menderita penyakit yang sama sejak 1 tahun terakhir tetapi tidak
terlalu menggangu aktivitas harian
- Riwayat alergi terhadap makanan ada yaitu bengkak dan merah di mulut
setelah memakan makanan laut

12
- Kakak kedua pasien menderita sesak nafas 6 bulan yang lalu dan jarang ada
keluhan
- Paman dari pihak ayah pasien menderita asma

5. Keluhan Utama
Batuk dan sesak nafas meningkat sejak 1 hari yang lalu.

6. Riwayat Penyakit Sekarang


 Batuk dan sesak nafas meningkat sejak 1 hari yang lalu. Sesak nafas berbunyi
menciut, sesak nafas dipengaruhi oleh cuaca.
 Batuk dirasakan sejak 1 minggu yang lalu, batuk berdahak berwarna putih
kental, tidak berdarah
 Riwayat demam ada sejak 2 hari yang lalu, tidak tinggi, tidak menggigil dan
tidak disertai kejang
 Pilek ada sejak 2 hari yang lalu
 Nafsu makan menurun sejak 3 bulan yang lalu
 Riwayat batuk berulang telah dirasakan sejak 1 tahun yang lalu, hilang timbul,
berkisar 1 – 2 minggu
 Riwayat nyeri dada dan kebiruan saat lahir tidak ada
 Riwayat sering berkeringat pada malam hari ada
 Riwayat alergi makanan ada
 Riwayat sering pilek dan batuk yang dipengaruhi cuaca dan waktu
 Berat badan bertambah 1,5 kg dalam jangka waktu 3 tahun

7. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum : sedang
Kesadaran : CMC
Nadi : 110 x/ menit
Nafas : 35 x/menit
Suhu : 37,6oC
BB : 9 kg
TB : 87 cm
LLA : 12,5 cm
Lingkar kepala : 47 cm ( kecil dalam standar Nellhaus )
Status gizi : BB/U : 56,25%
TB/U : 86,13%
BB/TB : 69,23 %
Kesan : Gizi buruk
Status Internus
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Kulit : Turgor kulit normal
Leher : Teraba pembesaran KGB regio di colli sinistra, jumlah 2, bulat,
kenyal, mobile, tidak nyeri, ukuran 1x1x1 cm dan 0,5x0,5x0,5 cm
Dada :
13
Paru
Inspeksi : simetris kiri = kanan
Palpasi : fremitus kiri = kanan
Perkusi : sonor
Auskultasi : ekspirasi memanjang, wheezing (+/+), ronkhi (-/-)
Jantung
Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus teraba di LMCS RIC V
Perkusi : Kiri : di LMCS RIC V
Kanan : LSD
Atas : RIC II
Auskultasi : bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)
Abdomen
Inspeksi : Perut tidak tampak membuncit
Palpasi : Hati dan lien tidak teraba, Nyeri Tekan ( - )
Perkusi : Timpani, shifting dullness (-)
Auskultasi : BU (+) N
Punggung
Inspeksi : simetris kiri = kanan
Palpasi : fremitus kiri = kanan
Perkusi : sonor
Auskultasi : ekspirasi memanjang, wheezing (+/+), ronkhi (-/-)
Anggota gerak : reflex fisiologis +/+, reflex patologis -/-, Oedem tungkai -/-

8. Laboratorium Anjuran : darah rutin

9. Pemeriksaan Anjuran :
- Uji tuberkulin
- Rontgen thoraks
- Spirometri
10. Diagnosis Kerja
ISPA
Asma Bronkial episodik jarang serangan ringan
Gizi buruk
11. Diagnosis Banding : - Tuberkulosis paru
12. Manajemen
a. Preventif :
- Hindari faktor pencetus, seperti cuaca dingin, makanan, asap rokok, dll.
- Menjaga kebersihan lingkungan sekitar
- Menjaga agar makanan selalu tertutup dengan rapi
14
- Selalu biasakan cuci tangan sebelum makan
- Makan makanan yang bergizi terdiri dari karbohidrat, protein, sayur-sayuran
dan buah.
- Berikan makanan sesuai dengan umur pasien
- Selalu melakukan stimulasi pada anak agar tumbuh kembangnya baik
b. Promotif :
- Edukasi kepada pasien tentang tatacara menghindari faktor pencetus
- Edukasi kepada pasien tentang penyakit dan penatalaksanaan penyakit apabila
dalam serangan.
- Memberikan penyuluhan tentang bagaimana perilaku hidup bersih dan
sehat
- Memberikan penyuluhan tentang bagimana pola makanan sehat
- Memberikan penyuluhan tentang bagaimana cara menyajikan makanan
yang baik sehingga anak tidak bosan untuk makan.
- Menjelaskan kepada ibu betapa pentingnya makanan yang bergizi itu
Dinas Kesehatan
untuk pertumbuhan Kodya Padang
dan perkembangan si anak
- Menjelaskan kepada ibu bagaimana
Puskesmas Air Dingin
pola makanan yang seharusnya sesuai

Dokter : Pratiwi dengan umur anak.


- Menjelaskan tentang pentingnya imunisasi yang lengkap
Tanggal : 20 Maret 2011
- Menjelaskan kepada ibu bahwa anaknya membutuhkan pemeriksaan
lanjutan untuk memastikan penyakit dan meminta ibu datang ke
R/ Salbutamol tab Puskesmas
2 mg No. X
untuk tatalaksana gizi buruk
c. Kuratif :
S 3 d d tab 1/2 £
R/ Amoxicillin tab
- 500 mg
Salbutamol tablet 2 No.
mg X(3 x 1/2 tab/hari)
S 3 dd tab 1/3 £
- Ambroxol tab 30mg (3 x 1/3 tab/hari)

R/ Ambroxol - tabParacetamol
30 mg tab 100No.
mgX( 3 x 1 tab/hari)

S 3 dd tab
- 1/3
Amoxicillin tab 500 mg ( 3£x 1/3 tab/hari )

- Vitamin C tab 50 mg ( 3 x ½ tab/hari )


R/ Paracetamol tab 100 mg No. X
d. Rehabilitatif :
S 3 dd tab I £
- Jika serangan asma semakin bertambah berat, maka segera konsulkan ke
puskesmas atau RS terdekat
R/ Vitamin C - tabDatang
50 mg ke puskesmas
No. X untuk pencatatan, pemeriksaan lengkap dan
S 3 dd tab 1/2
tatalaksana gizi buruk £

Pro : M. Bima
Umur : 3 tahun 10 bulan 15
Alamat : Perumahan Nuansa Indah 3 , Padang.
Lampiran

Foto kondisi rumah pasien

Lampiran

Kondisi Rumah Pasien

16
17
18