Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah kesehatan yang semakin kompleks seiring dengan perkembangan teknologi

transportasi menyebabkan kecepatan waktu tempuh perjalanan antar negara berbanding terbalik

dengan masa inkubasi penyakit. Saat ini perjalanan dan perdagangan lintas negara meningkat

pesat seiring dengan meningkatnya teknologi informasi. Selain itu kemajuan teknologi di

berbagai bidang lainnya yang menyebabkan pergeseran pola penyakit, ditandai dengan

pergerakan kejadian penyakit dari satu benua ke benua lainnya. Pergerakan secara alamiah

maupun pergerakan melalui komoditas barang di era perdagangan bebas dunia yang dapat

menyebabkan peningkatan faktor risiko. Adanya globalisasi semakin melancarkan perjalanan

penyakit antar negara yang disebabkan oleh peningkatan frekuensi dan jumlah perjalanan antar

negara.

Adapun ancaman global yang kita hadapi adalah Emerging Infectious Diseases (EIDs)

dari negara lain yang berpotensi masuk ke Indonesia diantaranya yaitu Hannta Fever, Ebola,

HMFD, SARS, Avian Influenza, Nipah Virusmerupakan penyakit yang sudah dapat di eliminasi

dan saat ini berpotensi untuk muncul kembali (re-emerging disease).Oleh karena itu,

pembangunan kesehatan melalui upaya cegah tangkal penyakit merupakan hal yang mendesak

yang harus dilakukan.Upaya tersebut disesuaikan dengan International Health Regulation (IHR)

tahun 2005 yang yang memberikan perhatian khusus kepada Public Health Emergency

International Consent (PHIEC). Perhatian khusus tersebut diberlakukan untuk wilayah

1
pelabuhan, bandara dan lintas batas darat negara karena wilayah tersebut merupakan pintu masuk

dan keluarnya penyakit.

Salah satu instansi yang bertugas di pintu masuk Indonesia adalah Kantor Kesehatan

Pelabuhan. Sesuai dengan Permenkes RI No. 2348/Menkes/Per/IV/2011 telah ditetapkan bahwa

Kantor Kesehatan Pelabuhan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan ujung tombak

Kementerian Kesehatan RI mempunyai tugas pokok melaksanakan pencegahan masuk dan

keluarnya penyakit potensial wabah, surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian

dampak kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA (Obat, Makanan,

Kosmetik dan Alat Kesehatan dan Bahan Aditif) serta pengamanan terhadap penyakit baru dan

penyakit yang muncul kembali di wilayah kerja bandara, pelabuhan dan lintas batas darat negara.

Termasuk perlindungan terhadap jemaah haji agar dapat melaksanakan ibadahnya sesuai

dengan ketentuan Syariat Islam perlu dilakukan pembinaan dan pelayanan kesehatan jemaah haji

sejak dini ditujukan untuk mewujudkan istithaah kesehatan jemaah haji berdasarkan

pertimbangan tersebut Menteri Kesehatan menetapkan peraturan tentang istitaah kesehatan

jemaah haji yaitu Permenkes RI No. 15 tahun 2016. Dalam hal ini Kantor Kesehatan Pelabuhan

bertindak sebagai PPIH Embarkasi Antara Bidang Kesehatan yang bertujuan untuk pemeriksaan

kesehatan tahap ketiga/akhir.

1.2 Tujuan Kegiatan

1.2.1 Umum

Tujuan umum dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui organisasi, tata kerja dan

kegiatan di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang dalam upaya cegah tangkal

penyakit menular di wilayah kerja.

2
1.2.2 Khusus

1. Untuk mengetahui organisasi dan tata kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II

Panjang.

2. Untuk mengetahui kegiatan seksi PKSE (Pengendalian Karantina dan Survailans

Epidemiologi) di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang.

3. Untuk mengetahui kegiatan seksi PRL (Pengendalian Resiko Lingkungan) di

Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang.

4. Untuk mengetahui kegiatan seksi UKLW (Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah) di

Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang.

5. Untuk mengetahui kegiatan PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Embarkasi

Antara Bidang Kesehatan di Embarkasi pada saat jemaah haji menjelang

pemberangkatan.

1.3 Manfaat

1. Bagi mahasiswa, agar dapat menambah informasi mengenai gambaran kegiatan di

Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang dalam rangka cegah tangkal

penyakit.

2. Bagi Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang sebagai pemberi masukan dan

penerima saran agar dapat menyempurnakan setiap kegiatan kesehatan di wilayah

kerja dalam upaya cegah tangkal penyakit.

3. Bagi masyarakat, sebagai tambahan pengetahuan mengenai keberadaan Kantor

Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang serta perannya.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi dan Klasifikasi Kantor Kesehatan Pelabuhan

2.1.1 Kedudukan Kantor Kesehatan Pelabuhan

Berdasarkan Permenkes No.2348/Menkes/Per/XI/2011 Kantor Kesehatan Pelabuhan

adalah unit pelaksana teknis di lingkungan Kementerian Kesehatan yang berada di bawah dan

bertanggungjawab kepada Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan

Lingkungan.1

Kantor Kesehatan Pelabuhan dipimpin oleh seorang kepala dan dalam melaksanakan

tugas secara administratif dibina oleh Sekretariat Direktorat Jendral dan secara teknis fungsional

dibina oleh Direktorat di lingkungan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan

Lingkungan. 1

2.1.2 Tugas Pokok dan Fungsi Kantor Kesehatan Pelabuhan

Pada pasal 3 Permenkes No.356/Menkes/Per/IV/2008 tentang organisasi dan tata kerja

Kantor Kesehatan Pelabuhan memiliki 16 Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi), yaitu:2

1. Pelaksanaan kekarantinaan.

2. Pelaksanaan pelayanan kesehatan.

3. Pelaksanaan pengendalian risiko lingkungan di bandara, pelabuhan, dan lintas

batas negara.

4. Pelaksanaan pengamatan penyakit, penyakit potensial wabah, penyakit baru, dan

penyakit yang muncul kembali.

4
5. Pelaksanaan pengamanan radiasi pengion dan non pengion, biologi, dan kimia.

6. Pelaksanaan sentra/simpul jejaring surveilans epidemiologi sesuai penyakit yang

berkaitan dengan lalu lintas nasional, regional, dan internasional.

7. Pelaksanaan, fasilitasi, dan advokasi kesiapsiagaan dan penaggulangan kejadian

luar biasa (KLB) dan bencana bidang kesehatan, serta kesehatan matra termasuk

penyelenggaraan kesehatan haji.

8. Pelaksanaan, fasilitasi, dan advokasi kesehatan kerja di lingkungan bandara,

pelabuhan, dan lintas batas negara.

9. Pelaksanaan pemberian sertifikat kesehatan obat, makanan, kosmetika dan alat

kesehatan serta bahan adiktif (OMKABA) ekspor dan mengawasi persyaratan

dokumen kesehatan (OMKABA) impor.

10. Pelaksanaan pengawasan alat angkut dan muatannya.

11. Pelaksanaan pemberian pelayanan kesehatan di wilayah kerja bandara, pelabuhan

dan lintas batas negara.

12. Pelaksanaan jejaring infomasi dan teknologi bidang kesehatan bandara, pelabuhan

dan lintas batas negara.

13. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan bidang kesehatan di bandara, pelabuhan

dan lintas batas negara.

14. Pelaksanaan kajian kekarantinaan, pengendalian risiko lingkungan, dan surveilans

epidemiologi.

15. Pelaksanaan pelatihan tehnis dibidang kesehatan bandara, pelabuhan, dan lintas

batas darat negara.

16. Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan Kantor Kesehatan Pelabuhan.

5
2.1.3. Klasifikasi Kantor Kesehatan Pelabuhan

Pada pasal 4 Permenkes No.2348/Menkes/Per/XI/2011 Kantor Kesehatan Pelabuhan

diklasifikasikan ke dalam 4 (empat) kelas, yaitu:1

1. Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I

2. Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II

3. Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III

4. Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas IV

Berdasarkan pasal 47 bab VII Permenkes No.2348/Menkes/Per/XI/2011 di lingkungan

Kementerian Kesehatan terdapat Kantor Kesehatan Pelabuhan yang terdiri dari:1

1. 7 (tujuh) KKP Kelas I

2. 21 (dua puluh satu) KKP Kelas II

3. 20 (dua puluh) KKP Kelas III

4. 1 (satu) KKP Kelas IV.

2.2 Struktur Organisasi Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II

Berdasarkan pasal 23 Bab II Permenkes No.356/Menkes/PER/IV/2008 KKP kelas II

terdiri dari :2

a. Subbagian Tata Usaha

b. Seksi Pengendalian Karantina dan Survailans Epidemiologi

c. Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan

d. Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah

e. Instalasi

6
f. Wilayah Kerja

g. Kelompok Jabatan Fungsional

2.2.1 Bagan Struktur Organisasi Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang

KEPALA
R. Marjunet, SKM, M.Kes

Kasubag. Tata Usaha


H. Asrul Hudaira, S,Pd,
MKM.

Kasi Pengendalian Plh. Kasi Kasi Upaya Kesehatan dan


Karantina dan Pengendalian Lintas Wilayah
Surveilans Resiko dr. Johansyah
Epidemiologi Lingkungan
H. Hazairin, SKM Bambang S

KELOMPOK JABATAN WILAYAH KERJA


FUNGSIONAL 1. Bandara Radin Inten
1. Dokter
II Branti
2. Perawat
3. Analis Lab 2. Pelabuhan Laut
4. Epidemiolog Bakauheni
5. Entomolog 3. Pelabuhan Laut Teluk
6. Sanitarian semangka
INSTALASI 7. Bendahara 4. Pelabuhan Laut
8. Analis kepegawaian Rawajitu
Instalasi
9. BMN ( Barang milik
Laboratorium Klinis Negara )
dan Lingkungan 10. Penata Laporan
Keuangan
11. Perencana
12. Administrasi Umum
13. Arsiparis
14. Agendaris

7
Sumber daya manusia di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang terdiri dari 63

orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 27 orang pegawai honorer. Sejumlah pegawai tersebut

ditempatkan di berbagai wilayah.3

2.3 Tata Kerja

Berdasarkan Permenkes No.356/Menkes/PER/IV/2008 Bab VI Tentang Tata Kerja2 :

1. Pasal 38

Dalam melaksanakan tugas Kepala KKP, Kepala Bagian, Kepala Bidang, Kepala

Sub bagian, dan Kepala Seksi wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, dan

sinkronisasi, baik dalam lingkungan masing-masing maupun dengan instansi lain

di luar KKP sesuai tugas masing-masing.

2. Pasal 39

Setiap pimpinan satuan organisasi di lingkungan KKP wajibmengawasi bawahan

masing - masing dan bila terjadi penyimpangan agar mengambil langkah-langkah

yang diperlukan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku

3. Pasal 40

Setiap pimpinan satuan organisasi di lingkungan KKP bertanggung jawab

memimpin dan mengkoordinasikan bawahan masing-masing dan memberikan

bimbingan serta petunjuk pelaksanaan tugas bawahan.

4. Pasal 41

Setiap pimpinan satuan organisasi wajib mengikuti dan mematuhi petunjuk dan

bertanggung jawab kepada atasan masing-masing serta menyampaikan laporan

berkala tepat pada waktunya.

8
5. Pasal 42

Setiap laporan yang diterima oleh pimpinan satuan organisasi dari bawahan wajib

dianalisis dan dipergunakan sebagai bahan penyusunan evaluasi, laporan, serta

penyiapan bahan kebijakan lebih lanjut dan untuk memberikan petunjuk kepada

bawahan.

6. Pasal 43

Para Kepala Bagian, Kepala Bidang, Kepala Sub bagian, dan Kepala Seksi wajib

menyampaikan laporan berkala kepada atasan masing-masing.

7. Pasal 44

Dalam menyampaikan laporan masing-masing kepada atasan, tembusan laporan

disampaikan kepada satuan organisasi lain yang secara fungsional mempunyai

hubungan kerja.

8. Pasal 45

Dalam melaksanakan tugas setiap pimpinan satuan organisasi dibantu oleh Kepala

satuan organisasi di bawahnya dan dalam rangka pemberian bimbingan kepada

bawahan masing-masing wajib mengadakan rapat berkala.

2.4 Tugas-Tugas Kantor Kesehatan Pelabuhan

Sesuai dengan Lampiran Permenkes No.2348/Menkes/Per/2011 tentang Perubahan

Atas Permenkes No.356/Menkes/Per/IV/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor

Kesehatan Pelabuhan, tugas dari masing-masing seksi dan subbagian tata usaha di Kantor

Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang, dapat diuraikan sebagai berikut:1,2 ( peraturan tugas masing masing
seksi)

9
2.4.1 Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kesehatan Pelabuhan

Berdasarkan pasal 25 Bab II Permenkes No.356/Menkes/PER/IV/2008 Sub bagian Tata

Usaha mempunyai tugas melakukan koordinasi dan penyusunan program, pengelolaan informasi,

evaluasi, laporan, urusan tata usaha, keuangan, penyelenggaraan pelatihan, kepegawaian, serta

perlengkapan dan rumah tangga.2

2.4.2 Seksi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi (PKSE)

Berdasarkan pasal 33D Permenkes No.2348/Menkes/Per/XI/2011 Petugas Pengendalian

Karantina dan Surveilans Epidemiologi mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan

perencanaan, pemantauan, evaluasi, penyusunan laporan, dan koordinasi pelaksanaan

kekarantinaan dan surveilans epidemiologi penyakit, penyakit potensial wabah, penyakit baru,

dan penyakit yang muncul kembali, pengawasan alat angkut dan muatannya, lalu lintas Obat,

Makanan, Kosmetika, Alat Kesehatan, dan Bahan Adiktif (OMKABA), jejaring kerja, dan

kemitraan, kajian, serta pengembangan teknologi, pendidikan dan pelatihan teknis bidang

kekarantinaan dan surveilans epidemiologi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas

darat negara. 1,2

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Bidang

Pengendalian Karantina danSurveilans Epidemiologi menyelenggarakan fungsi: 2

a. Kekarantinaan surveilans epidemiologi penyakit dan potensial

wabah serta penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali

b. Kesiapsiagaan, pengkajian, serta advokasi penanggulangan KLB

dan bencana/pasca bencana bidang kesehatan

10
c. Pengawasan lalu lintas OMKABA ekspor dan impor serta alat

angkut, termasuk muatannya

d. Kajian dan diseminasi informasi kekarantinaan di wilayah kerja

bandara, pelabuhan dan lintas batas darat negara

e. Pendidikan dan pelatihan bidang kekarantinaan

f. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di bidang kekarantinaan

g. Pelaksanaan pengembangan teknologi bidang kekarantinaan di

wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara

h. Penyusunan laporan bidang pengendalian karantina dan surveilans

epidemiologi.

Bidang Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi terdiri dari:2

2.4.2.1 Tata Cara Tindakan Karantina Kapal

Peraturan dan tata cara

a. Setiap kapal yang datang dari luar negeri berada dalam karantina dan baru bebas dari

karantina bila telah mendapat surat izin dari karantina

b. Nakhoda kapal menyampaikan permohonan untuk memperoleh suatu izin atau

memberitahukan suatu keadaan dikapal dengan memakai isyarat sebagai berikut:

1. Siang hari.

- Bendera Q : kapal saya sehat/saya minta izin karantina.

- Bendera Q diatas panji pengganti kesatu : kapal saya tersangka.

- Bendera Q diatas bendera L : kapal saya terjangkit.

11
2. Malam hari.

- Lampu merah diatas lampu putih dengan jarak maximum 1,80 meter: saya

belum mendapat izin karantina.

c. Izin lepas karantina diberikan oleh dokter pelabuhan setelah dilakukan pemeriksaan-

pemeriksaan dan terdapat bahwa kapal itu sehat atau kalau segala tindakan yang

dianggap perlu oleh dokter pelabuhan telah selesai dilakukan.

d. Pada waktu tiba dipelabuhan, nakhoda kapal menyediakan dokumen-dokumen sebagai

berikut:

a) Keterangan kesehatan maritim;

b) Keterangan hapus-tikus, atau bebas hapus-tikus yang berlaku;

c) Sertifikat-sertifikat vaksinasi;

d) Buku kesehatan

2.4.3 Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan (PRL)

Berdasarkan pasal 27 Permenkes No. 356/Menkes/Per/IV/2008 Seksi Pengendalian

Risiko Lingkungan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perencanaan, pemantauan,

evaluasi, penyusunan laporan, dan koordinasi pelaksanaan pengendalian vektor dan binatang

penular penyakit, pembinaan sanitasi lingkungan, jejaring kerja, kemitraan, kajian dan

pengembangan teknologi serta pelatihan teknis bidang pengendalian risiko lingkungan di

wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara. 1

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, Bidang

Pengendalian Risiko Lingkungan menyelenggarakan fungsi:2

12
a. Pengawasan penyediaan air bersih, serta pengamanan makanan dan

minuman

b. Hygiene dan sanitasi lingkungan gedung/bangunan;

c. Pengawasan pencemaran udara, air, dan tanah;

d. Pemeriksaan dan pengawasan hygiene dan sanitasi

kapal/pesawat/alat transportasi lainnya di lingkungan bandara,

pelabuhan, dan lintas batas darat negara;

e. Pemberantasan serangga penular penyakit, tikus dan pinjal di

lingkungan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara;

f. Kajian dan pengembangan teknologi di bidang pengendalian risiko

lingkungan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara;

g. Pendidikan dan pelatihan bidang pengendalian risiko lingkungan

bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat dan negara;

h. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di bidang pengendalian

risiko lingkungan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara;

i. Penyusunan laporan di bidang pengendalian risiko lingkungan;

2.4.3.1 Pemeriksaan Sanitasi Kapal

Pemeriksaan Sanitasi oleh petugas KKP dilaksanakan dalam rangka pemberian

sertifikat sanitasi kapal (SSCEC/SSCC), surat izin berlayar (PHQC) atau pengawasan kesehatan

kapal dalam rangka kekarantinaan kesehatan (CoP). Pemeriksaan sanitasi dilakukan pada seluruh

ruang dan media pada kapal yang meliputi dapur, ruang rakit makanan, gudang, palka, ruang

tidur, air bersih, limbah cair, tangki air ballast, sampah medik dan sampah padat, air cadangan,

13
kamar mesin, fasilitas medik, kolam renang dan area lain yang diperiksa. Pemeriksaan sanitasi

ditujukan untuk menilai kondisi sanitasi kapal terkait ada atau tidak adanya faktor risiko

kesehatan masyarakat.7

Apabila dalam pemeriksaan sanitasi tidak ditemukan adanya faktor risiko kesehatan

masyarakat, maka kapal dinyatakan bebas tindakan penyehatan dan dapat diberikan sertifikat

sanitasi kapal dengan mengisi bagian SSCEC dan mencoret bagian SSCC. Apabila dalam

pemeriksaan penyehatan ditemukan adanya faktor risiko kesehatan masyarakat, maka kapal

harus dilakukan tindakan penyehatan sesuai rekomendasi. Terhadap kapal yang telah dilakukan

tindakan penyehatan sesuai rekomendasi, diberikan sertifikat sanitasi kapal dengan mengisi

bagian SSCC dan mencoret bagian SSCEC.7

2.4.4 Seksi Upaya Kesehatan Lintas Wilayah (UKLW)

Berdasarkan pasal 28 Permenkes No.356/Menkes/Per/IV/2008 Seksi Upaya Kesehatan

dan Lintas Wilayah mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perencanaan, pemantauan,

evaluasi, penyusunan laporan, dan koordinasi pelayanan kesehatan terbatas, kesehatan kerja,

kesehatan matra, kesehatan haji, perpindahan penduduk, penanggulangan bencana, vaksinasi

internasional, pengembangan jejaring kerja, kemitraan, kajian dan teknologi, serta pelatihan

teknis bidang upaya kesehatan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara.
2

14
2.4.4.1 Vaksinasi Meningitis

Setiap orang yang akan melakukan perjalanan internasional dari dan ke negara

terjangkit dan/atau endemis penyakit menular tertentu dan/atau atas permintaan negara tujuan

wajib diberikan vaksinasi tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan

berhak memperoleh Sertifikat Vaksinasi Internasional yang dikeluarkan oleh KKP atau rumah

sakit yang ditunjuk oleh Menteri.8 Tak terkecuali Arab Saudi, berdasarkan Nota Diplomatik

Kedutaan Besar Kerajaan Saudi Arabia di Jakarta dengan Surat Dirjen Protokol dan Konsubr

No.5881PWIIO6161 tanggal 7 Juni 2006 yang memuat tentang persyaratan pemberian Vaksinasi

Meningitis (ACYW 135) sebagai prasyarat mendapatkan visa haji dan umroh perlu dilengkapi

dengan bukti vaksinasi yaitu International Certificate of Vaccination (ICV).4

2.4.4.2 Landasan Hukum

Adapun landasan hukum yang digunakan dalam pemberian vaksin meningitis pada Jamaah

sebagai berikut :4

1. Undang Undang No.13 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan lbadah Haji

2. Undang-Undang No.4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular

3. Undang-Undang No.1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut

4. Undang-Undang No.2 Tahun 1962, tentang Karantina Udara

5. Peraturan Pemerintah No.13 tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan

Negara Bukan Pajak

6. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.356/Menkes/Per/IV/2008 tentang Organisasi & Tata

Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan

15
7. Peraturan Pemerintah No.40 tahun 1991 tentang Pedoman Penanggulangan Wabah

Penyakit Menular

8. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.4241 Menkes/SWI/VI/2007

tentang Pedoman Upaya Kesehatan Pelabuhan dalam rangka Karantina Kesehatan Salah

9. Peraturan Menteri Kesehatan. RI No.131l Menkes/l984 tentang Pengamanan Kesehatan

Perjalanan Peserta Umrah

10. Instruksi Direktur Jenderal Pengendalian Penyakitdan Penyehatan. Lingkungan

No.HK.07.01/D111.4/217/2008 tentang pemberlakuan Kartu ICV baru

11. International Travel and Health 2008

12. lnternational Health Regulations (IHR) 2005.

16
Adapun alur pemberian sertifikat vaksinasi internasional di Kantor Kesehatan

Pelabuhan Kelas II Panjang sebagai berikut ini

Calon jamaah umroh Mengisi formulir


melakukan Pendaftaran permohonan vaksinasi dan
menyerahkan ke petugas
validasi
Lengkapi Berkas Tidak Valid Validasi
(Petugas Melakukan Validasi)

Valid
T
u
Pembayaran Billing Pemeriksaan n
dan mendapatkan Oleh Petugas Sakit d
bukti transfer Medis a

Sehat

Pembayaran
Jamah menerima billing Billing
ke Bank atau
dan membayar ke (Petugas
Kantor Pos
bank/kantor post Mencetak Billing)

Menyerahkan bukti
Tidak Valid Lengkapi
transfer ke petugas
KKP
Valid

Petugas melakukan Pengambilan Buku ICV Petugas Memberikan


vaksinasi meningitis Buku ICV

Gambar 2.1 Alur Pemberian Sertifikat Vaksinasi Sesuai SOP Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas
II Panjang

17
2.5 Wilayah Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.2348/Menkes/Per/X/2011

tentang Perubahan Atas Permenkes No.356/Menkes/Per/IV/2008 tentang Struktur Organisasi dan

Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan. Wilayah Kerja (Wilker) Kantor Kesehatan Pelabuhan

Kelas II Panjang adalah sebagai berikut:1

1. Wilayah Kerja Bandara Radin Inten II Branti Kabupaten Lampung Selatan dengan

jarak ± 28,6 KM

2. Wilayah Kerja Pelabuhan Laut Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan dengan

jarak ± 85,8 KM

3. Wilayah Kerja Pelabuhan Laut Teluk Semangka Kota Agung Kabupaten

Tanggamus dengan jarak ± 99,5 KM

4. Wilayah Kerja Pelabuhan Laut Rawajitu Mesuji dengan jarak ± 197 KM.

18
2.6 Realisasi Kinerja Kegiatan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang

Periode Januari - Juni 2018

2.6.1 Seksi Pengendalian Karantina Surveilans dan Epidemiologi

Tabel 2.1 Realisasi Kegiatan Seksi PKSE Periode Januari – Juli 2018


No. Kegiatan Target Pencapaian Persentase (%)
 1. Pemeriksaan kesehatan 561 239 42,6%
kapal dinyatakan sehat

dan diterbitkan certificate
of pratique (CoP)
2. Penerbitan PHQC di 47255 2703 5,7%
KKP kelas 2 Panjang
3. Penerbitan SSCC/SSCEC 387 147 37,9%
4. Jumlah dokumen buku 395 96 24,3%
kesehatan yang di
terbitkan di KKP kelas 2
Panjang
5. Penerbitan dokumen 788 370 46,9%
health certificate untuk
komuniti OMKABA
 Realisasi kegiatan pelaksanaan pemeriksaan kesehatan kapal dinyatakan sehat dan

diterbitkan certificate of pratique (CoP) selama bulan januari sampai juni tahun 2018 di

KKP kelas II Panjang berjumlah 239 dari target 561 dengan persentase pencapaian

sebesar 42,6 %.

 Realisasi kegiatan pelaksanaan Penerbitan PHQC di KKP kelas 2 Panjang pada bulan

januari sampai juni tahun 2018 di KKP kelas II panjang sebanyak 2703 dari target 47255

dengan pesentase pencapaian sebesar 5,7 %.

 Realisasi kegiatan Penerbitan SSCC/SSCEC dari bulan januari sampai juni tahun 2018

KKP kelas II panjang berjumlah 147 dari target 387 dengan persentase pencapaian

sebesar 37,9%.

19
 Realisasi kegiatan jumlah dokumen buku kesehatan yang di terbitkan dari bulan januari

sampai bulan mei tahun 2018 di KKP kelas II panjang berjumlah 96 dari target 395

dengan persentase pencapaian sebesar 24,3 %.

 Realisasi kegiatan penerbitan dokumen health certificate untuk komuniti OMKABA dari

bulan januari sampai juni tahun 2018 KKP kelas II panjang berjumlah 370 dari target 788

dengan persentase pencapaian sebesar 46,9%.

2.6.2 Seksi Upaya Kesehatan Lintas Wilayah

Tabel 2.2 Realisasi Kegiatan Seksi UKLW Periode Januari - Juli 2018

Presentase
No Kegiatan Target Pencapaian
(%)
Jumlah Penerbitan Sertifikat
1 294 sertifikat 89 sertifikat 30,27%
P3K Kapal
2 Pelayanan medical check up 12933 orang 461 orang 38%
Jumlah Orang Yang
3 Dilakukan Vaksinasi 12.049 orang 6.698 orang 55,59%
Meningitis Meningokokus
Jumlah Orang Yang
4 Dilakukan Vaksinasi Yellow 44 orang 0 orang 0%
Fever
6715
5 Jumlah ICV 12.320 sertifikat 57%
sertifikat
Jumlah Penerbitan Sertifikat
6 Pengawasan Izin Angkut 10 sertifikat 20 sertifikat 200%
Jenazah
Jumlah Penerbitan Sertifikat 150
7 52 sertifikat 288%
Pengawasan Izin Orang Sakit sertifikat
kegiatan penerbangan laik
8 400 orang 461 orang 25%
terbang

Penyelenggaraan pelayanan kesehatan pada situasi matra/situasi khusus Lokasi wilayah

kerja diantaranya, dilaporkan sebanyak 89 sertifikat orang yang memiliki Jumlah Penerbitan

Sertifikat P3K Kapal, sedangkan Pelayanan medical check up dilaporkan sebanyak 461 orang,

dan Jumlah Orang Yang Dilakukan Vaksinasi Meningitis Meningokokus memiliki pencapaian
20
sebanyak 6.698 orang, jumlah orang yang dilakukan vaksinasi Yellow Fever dilaporkan

sebanyak 0 orang, Jumlah ICV dilaporkan sebanyak 6715 orang, Jumlah Penerbitan Sertifikat

Pengawasan Izin Angkut Jenazah dilaporkan sebanyak 20 orang, Jumlah Penerbitan Sertifikat

Pengawasan Izin Orang Sakit dilaporkan sebanyak 150 orang, kegiatan penerbangan laik terbang

dilaporkan sebanyak 461 orang.

2.6.3 Seksi Pengendalian Resiko Lingkungan

Tabel 2.3 Realisasi Kegiatan Seksi PRL Periode Januari - Juni 2018

No. Kegiatan Target Jumlah Persentase (%)


1. Pelaksanaan pengawasan 300 211 70%
sarana air minum

2. Kegiatan pengamanan 30 49 163%
 makanan dan minuman
3. Kegiatan pengawasan 1260 619 49%
sanitasi alat angkut
(berasal dari luar negri,
perpanjangan sertifikat,
pemeriksaan rutin
sampling, pesawat)
4. Kegiatan pengawasan 4 84 2100%
tingkat kepadatan lalat
5. Kegiatan pemberantasan 171 81 47%
tikus (tikus tertangkap)

 Realisasi kegiatan pelaksanaan pengawasan sarana air minum yang diawasi selama bulan

januari sampai juni tahun 2018 di tiga wilayah kerja (pelabuhan Bakauheni, Pelabuhan

21
Panjang, dan bandara Branti) KKP kelas II Panjang berjumlah 211 dari target 300

dengan persentase pencapaian sebesar 70%.

 Realisasi kegiatan pelaksanaan pencapaian kegiatan pengamanan makanan dan minuman

yang diambil dan diperiksa di laboratorium kesehatan pada bulan januari sampai juni

tahun 2018 di tiga wilayah kerja KKP kelas II panjang sebanyak 49 dari target 30 dengan

pesentase pencapaian sebesar 163%.

 Realisasi kegiatan pengawasan sanitasi alat angkut (berasal dari luar negri, perpanjangan

sertifikat, pemeriksaan rutin sampling, pesawat) bulan januari sampai juni tahun 2018 di

tiga wilayah kerja KKP kelas II panjang berjumlah 619 dari target 1260 dengan

persentase pencapaian sebesar 49%.

 Realisasi kegiatan pengawasan tingkat kepadatan lalat dari bulan januari sampai bulan

juni tahun 2018 di tiga wilayah kerja KKP kelas II panjang berjumlah 84 dari target 4

dengan persentase pencapaian sebesar 2100%.

 Realisasi pelaksanaan kegiatan pemberantasan tikus (tikus tertangkap) pada bulan januari

sampai juni tahun 2018 di tiga wilayah kerja KKP kelas II panjang berjumlah 81 dari

target 171 ekor dengan persentase pencapaian 47%.

22
2.7 Pemeriksaan Dan Pembinaan Kesehatan Haji

2.7.1 Definisi Ibadah Haji

Ibadah haji adalah Rukun Islam kelima yang merupakan kewajiban sekali seumur hidup

bagi setiap orang Islam yang mampu menunaikannya. Dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 97

dijelaskan bahwa mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang

yang mampu (istithaah) mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dengan demikian, istithaah

menjadi hal penting dalam pelaksanaan ibadah haji, yang dalam Fiqih Islam, Istithaah (termasuk

Istithaah Kesehatan) dinyatakan sebagai salah satu syarat wajib untuk melaksanakan ibadah

haji.12

Undang-Undang Nomor 13 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji menyatakan

bahwa penyelenggaraan ibadah haji bertujuan untuk memberikanpembinaan, pelayanan, dan

perlindungan yang sebaik-baiknya kepada jemaah hajiagar jemaah haji dapat menunaikan

ibadahnya sesuai dengan ketentuan ajaranagama Islam. Pembinaan, pelayanan dan perlindungan

yang diberikan kepadajemaah haji, bukan hanya untuk yang bersifat umum, tetapi juga yang

bersifat

kesehatan. Sehingga penyelenggaraan kesehatan haji merupakan kesatuanpembinaan, pelayanan

dan perlindungan kesehatan kepada jemaah haji sejak diTanah Air, dan selama di Arab

Saudi.Dalam rangka memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan dalambidang

kesehatan kepada jemaah haji, perlu pula memperhatikan danmempertimbangkan amanah

Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Undang-Undang Nomor 36 tahun

2009 menyatakan bahwa pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat Indonesia setinggi-tingginya melalui peningkatan kesadaran, kemauan,

23
dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang termasuk masyarakat Indonesia yang

melaksanakan ibadah haji.12

Ibadah haji adalah ibadah fisik, sehingga jemaah haji dituntut mampu secara

fisik dan rohani agar dapat melaksanakan rangkaian ibadah haji dengan baik dan lancar. Salah

satu kegiatan penyelenggaraan kesehatan haji yang sangat penting dan strategis adalah

serangkaian upaya kegiatan melalui program pemeriksaan dan pembinaan kesehatan haji agar

terpenuhinya kondisi istithaah kesehatan (kemampuan kesehatan jemaah haji untuk melakukan

serangkaian aktivitas rukun dan wajib haji). Penyelenggaraan kesehatan haji menuju istithaah

kemudian diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) Nomor

15 Tahun 2016 tentang Istithaah Kesehatan Jemaah Haji.12

Secara umum, Istithaah Kesehatan Jemaah Haji didefinisikan sebagai kemampuan

jemaah haji dari aspek kesehatan yang meliputi fisik dan mental yang terukur dengan

pemeriksaan dan pembinaan yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga jemaah haji dapat

menjalankan ibadahnya sesuai tuntunan agama Islam. Untuk memenuhi kriteria istithaah

kesehatan, persiapan sejak dini di Tanah Air harus dilakukan sebagai upaya pemerintah dalam

mengantar jemaah haji sehat sejak di Indonesia, selama perjalanan, dan di Arab Saudi selama

menjalankan ibadah haji.12

Pelaksanaan istithaah kesehatan jemaah haji yang diatur melalui Peraturan Menteri

Kesehatan (Permenkes) Nomor 15 tahun 2016 menjelaskan tahapan atau upaya melalui

pemeriksaan dan pembinaan kesehatan kepada jemaah haji untuk mencapai istithaah kesehatan.12

24
2.7.2 Dasar Hukum

1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 1962 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

2374);

2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

3273);

3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor190, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 3796);

4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional;

5) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Ibadah Haji (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2008 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

4845);

6) 6) . Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

5063);

7) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244);

8) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2014 Nomor 185, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

5571);

25
9) Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Undang- Undang Nomor

13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2012 Nomor 186);

10) Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8);

11) Peraturan Menteri Agama Nomor 63 Tahun 2013 tentang Kriteria Keberangkatan Jemaah

haji;

12) Peraturan Menteri Agama Nomor 29 Tahun 2015 tentang perubahan atas Peraturan Menteri

Agama Nomor 14 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji Reguler (Berita Negara

Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 898);

13) Peraturan Menteri Agama Nomor 23 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

Khusus (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 760);

14) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2348 Menkes/Per/ XI/ 2011 tentang Perubahan atas

Permenkes No 10356 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan

Pelabuhan;

15) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi Dan Tata Kerja

Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1508);

16) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016 tentang Istithaah Kesehatan Jemaah

Haji (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 550);

17) Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 62 Tahun 2016 tentang penyelenggaraan kesehatan

haji (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1875);

18) Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan

Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga;

26
19) Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Kesehatan Nomor 458 Tahun 2000

tentang Calon Jemaah Haji Hamil;

20) Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.02/Menkes/52/2015 tentang Rencana

Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019.

21) Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 450/1861/SJ tentang Istithaah Kesehatan Jemaah

Haji;

22) Surat Edaran Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor B/5579/XI/2016/Baharkam

tentang Peran Serta Bhabinkamtibmas Dalam Sosialisasi Haji Sehat Tanggal 10 November

2016;

23) Nota Kesepahaman antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama Nomor

HK.05.01/Menkes/308/2015 dan Nomor 13 Tahun 2015 tentang Peningkatan Kualitas

Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah di Bidang Kesehatan;

24) Perjanjian Kerja Sama antara Sekertaris Jenderal Kementerian Kesehatan dengan Direktur

Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama Nomor

HK.05.01/XII/1097/2016 dan Nomor 2 Tahun 2016 tentang Pemanfaatan Data dan Informasi

Jemaah Haji dan Jemaah Umrah;

25) Nota Diplomatik Kerajaan Saudi Arabia Nomor 8/8/281683

27
2.7.3 Pemeriksaan Dan Pembinaan Kesehatan Jemaah Haji

Tahapan pemeriksaan dan pembinaan kesehatan haji menuju istithaah kesehatan jemaah

haji sampai keberangkatan dapat dilihat pada gambar 1.

Setiap proses pemeriksaan dan pembinaan kesehatan jemaah haji menuju istithaah

dilakukan oleh tim penyelenggara kesehatan haji di kabupaten/kota. Tim penyelenggara

kesehatan haji harus dibentuk tiap tahun dan dimuat dalam sebuah 8 surat keputusan

bupati/walikota atau dapat didelegasikan kepada kepala dinas kesehatan sebagai penanggung

jawab urusan kesehatan masyarakat di wilayahnya.

28
2.7.4 Tim penyelenggara kesehatan haji

Tim penyelenggara kesehatan haji kabupaten/kota terdiri dari:

a. Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota.

b. Kepala bidang yang mengelola kesehatan haji di kabupaten/kota.

c. Pengelola kesehatan haji kabupaten/kota dan Puskesmas.

d. Pemeriksa kesehatan haji (dokter dan perawat Puskesmas/klinik dan dokter

spesialis di rumah sakit rujukan).

e. Tenaga analis kesehatan.

f. Tenaga pengelola data/Siskohatkes.

g. Unit kerja pelaksana penyelenggara haji dan umrah Kantor KementerianAgama

kabupaten/kota.

Tim penyelenggara kesehatan haji kabupaten/kota terdiri dari unsur Puskesmas, rumah

sakit, program surveilans, promosi kesehatan, kesehatan keluarga,kesehatan lingkungan, gizi,

pembinaan kebugaran jasmani, pelayanan kesehatan primer dan sekunder, pengendalian penyakit

tidak menular, pengendalian penyakit menular, dan kesehatan jiwa.

Tim penyelenggara tersebut terdiri dari unsur dokter spesialis, dokter, perawat,penyuluh

kesehatan, tenaga farmasi, analis kesehatan, sistem informasi kesehatan,dan tenaga kesehatan

lainnya. Tim penyelenggara kesehatan haji di kabupaten/kota merupakan tim kesehatan yang

bertanggungjawab dalam melakukan program pemeriksaan dan pembinaan kesehatan haji di

wilayahnya. Hasil pemeriksaan dan pembinaan kesehatan haji kemudian dicatat dalam

Siskohatkes yang dapat diakses melalu i Kartu Kesehatan Jemaah Haji (KKJH).12

29
Sebagai acuan pelaksanaan, maka perlu ditetapkan indikator sesuai tahapan pelaksanaan

program kesehatan haji dalam upaya pencapaian istithaah kesehatan. Indikator yang dimaksud

meliputi:12

1) Pemeriksaan Kesehatan Tahap Pertama.

Setidaknya 90% jemaah haji yang akan melakukan setoran awal atau telah

mempunyai nomor porsi dilakukan pemeriksaan kesehatan tahap pertama (penentuan

tingkat risiko kesehatan). Denominatornya adalah jumlah jemaah haji yang akan

berangkat dua tahun mendatang setelah tahun berjalan. Batasan waktunya adalah paling

lambat satu bulan sebelum keberangkatan pada tahun berjalan. Contoh: Kota Manado

memiliki kuota haji setiap tahunnya sebesar 150 jemaah haji, maka di tahun 2017 satu

bulan sebelum jemaah haji 2017 berangkat, jemaah haji yang harus sudah diperiksa tahap

pertama adalah jemaah haji dengan kuota keberangkatan tahun 2018 dan 2019, yaitu 2 x

150 jemaah haji. Dengan demikian, minimal 90% dari 300 jemaah haji yang akan

berangkat tahun 2018 dan 2019 sudah dilakukan pemeriksaan tahap pertama. Angka

minimal 90% harus sudah tercapai pada satu bulan sebelum keberangkatan haji di tahun

2017. Angka diatas 90% dimaksudkan untuk menjaring jemaah haji sebesarbesarnya agar

dapat dilakukan pembinaan kesehatan untuk mencapai istithaah kesehatan jemaah haji.

30
Untuk memulai tahapan pemeriksaan kesehatan tahap pertama, dinas kesehatan

kabupaten/kota memperoleh data calon jemaah haji dari Kantor Kementerian Agama

setempat. Permintaan data dapat dilakukan melalui permintaan resmi melalui surat

kepada pihak Kantor Kementerian Agama setempat atau diperoleh dari data Siskohatkes.

2) Pembinaan Kesehatan Masa tunggu.

Setidaknya 90% jemaah haji pada masa tunggu yang telah melakukan

pemeriksaan kesehatan tahap pertama, telah mengikuti program pembinaan kesehatan

haji. Angka diatas 90% merupakan upaya maksimal agar seluruh jemaah haji

memperoleh pembinaan kesehatan di masa tunggu untuk dapat memahami risiko

penyakit, serta akibatnya jika tidak dilakukan pembinaan kesehatan secara sungguh-

sungguh.

3) Pemeriksaan Kesehatan Tahap Kedua.

Seratus persen (100%) jemaah haji yang akan berangkat pada tahun berjalan telah

dilaksanakan pemeriksaan tahap kedua (penetapan istithaah) di kabupaten/kota

selambatnya pada 3 (tiga) bulan sebelum keberangkatan.

4) Pembinaan Kesehatan Masa Keberangkatan.

Seratus persen (100%) jemaah haji yang akan berangkat pada tahun berjalan

dilakukan pembinaan/manasik kesehatan.

5) Pemeriksaan Kesehatan Tahap Ketiga.

Seratus persen (100%) jemaah haji telah dilakukan penilaian kelaikan terbang.

31