Anda di halaman 1dari 65

TUGAS MAKALAH

KOMUNITAS II
“ASUHAN KEPERAWATAN GOUT ARTRITIS PADA
LANSIA”

Disusun Oleh :

1. Efi Rulli Guswati (10215009)


2. Selviana Hanif Mubthalifah (10215012)
3. Yessi Elita Okinawati (10215016)
4. Abdul Chafid Muzaki (10215033)
5. Fatin Afizah Sari (10215034)
6. Binti Nur A’inun Ma’rifah (10215049)
7. Septiawan Agung Dwi S. E. (10215053)

PRODI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI
2017/2018

i
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang atas izin dan
kuasaNya makalah dengan judul ”Asuhan Keperawatan Gout Artritis pada
Lansia” dapat diselesaikan.

Penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Komunitas II program studi ilmu keperawatan. Penyusunan makalah
terlaksana dengan baik berkat dukungan dari banyak pihak. Untuk itu, pada
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang bersangkutan.

Kesalahan bukan untuk dibiarkan tetapi kesalahan untuk diperbaiki.


Walaupun demikian, dalam makalah ini kami menyadari masih belum sempurna.
Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan tugas
makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi kami dan dapat dijadikan
acuan bagi pembaca terutama bagi ilmu keperawatan.

Kediri, 23 Mei 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
Halaman Judul ................................................................................................. i
Kata Pengantar ................................................................................................. ii
Daftar Isi .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ........................................................................... 2
D. Manfaat Penulisan ......................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Gout Artritis .................................................................... 4
B. Klasifikasi Gout Artritis ................................................................ 5
C. Etiologi Gout Artritis .................................................................... 5
D. Patofisiologi Gout Artritis ............................................................. 6
E. Manifestasi Klinis Gout Artritis .................................................... 7
F. Pemeriksaan Penunjang Gout Artritis ........................................... 8
G. Penatalaksanaan Gout Artritis ....................................................... 9
H. Komplikasi Gout Artritis .............................................................. 10
I. Pathway Gout Artritis.................................................................... 11
J. Konsep Asuhan Keperawatan Gout Artritis .................................. 12
K. Asuhan Keperawatan Gout Artritis ............................................... 23
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................... 60
B. Saran .............................................................................................. 60
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 61

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Artritis gout merupakan salah satu penyakit metabolik (metabolic
syndrom) yang terkait dengan pola makan diet tinggi purin dan minuman
beralkohol. Penimbunan kristal monosodium urat (MSU) pada sendi dan
jaringan lunak merupakan pemicu utama terjadinya peradangan atau
inflamasi pada gout artritis (Nuki dan Simkin, 2006). Artritis gout adalah
jenis artritis terbanyak ketiga setelah osteoartritis dan kelompok rematik luar
sendi (gangguan pada komponen penunjang sendi, peradangan, penggunaan
berlebihan) (Widyanto, 2014).
Penyakit Gout Arthritis (Asam urat) merupakan salah satu penyakit yang
banyak dijumpai pada laki-laki usia antara 30-40 tahun, sedangkan pada
wanita umur 55-70 tahun, insiden wanita jarang kecuali setelah menopause.
Di tahun 2007 hingga 2008 penderita artritis gout meningkat menjadi 8,3 juta
penderita, dimana jumlah penderita artritis gout pada pria sebesar 6,1 juta
penderita dan penderita wanita berjumlah 2,2 juta. Hal ini menunjukkan
bahwa prevalensi penderita artritis gout di Amerika Serikat meningkat dalam
dua dekade ini. Di Indonesia, Gout arthritis menduduki urutan kedua setelah
osteoarthritis, prevalensi di Indonesia (2007) sendiri diperkirakan 1,6-
13,6/100.000 orang, prevalensi ini meningkat seiring dengan meningkatnya
umur (Lumunon dkk, 2015).
Asupan makanan yang baik dapat mengkontrol kadar asam urat dalam
darah. Ada banyak jenis makanan yang dapat menyebabkan kadar asam urat
dalam darah menjadi tidak normal, seperti makanan yang tinggi purin,
makanan yang berprotein tinggi, serta berkonsumsi alkohol. Asupan gizi yang
baik sangat diperlukan untuk membantu mengoptimalkan kesehatan dan
mencegah terjadinya penyakit gout atau asam urat (Lumunon dkk, 2015).
Gambaran kasus di atas menunjukkan pentingnya penyakit ini yang
belum mendapat perhatian mengenai besarnya resiko seseorang menderita
Gout Artritis. Maka dari itu, kami akan membahas mengenai Gout Artritis

1
dalam makalah ini dan berusaha mengurangi resiko lebih lanjut dari Gout
Artritis dengan meningkatkan asuhan keperawatan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari Gout Artritis ?
2. Apa klasifikasi Gout Artritis ?
3. Apa etiologi Gout Artritis ?
4. Bagaimana patofisiologi dari Gout Artritis ?
5. Bagaimana manifestasi klinis dari Gout Artritis ?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari Gout Artritis ?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari Gout Artritis ?
8. Bagaimana komplikasi dari Gout Artritis ?
9. Bagaimana pathways Gout Artritis ?
10. Bagaimana konsep Asuhan Keperawatan Gout Artritis ?
11. Bagaimana Asuhan Keperawatan Gout Artitis pada Lansia?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa definisi Gout Artritis.
2. Untuk mengetahui apa klasifikasi Gout Artritis.
3. Untuk mengetahui apa etiologi Gout Artritis.
4. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi Gout Artritis.
5. Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis Gout Artritis.
6. Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan diagnostik Gout Artritis.
7. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan Gout Artritis.
8. Untuk mengetahui bagaimana komplikasi Gout Artritis.
9. Untuk mengetahui bagaimana pathways Gout Artritis.
10. Untuk mengetahui bagaimana konsep asuhan keperawatan dari Gout
Artritis.
11. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan dari Gout Artritis
pada Lansia.

2
D. Manfaat
1. Manfaat teoritis
Dalam penyusunan makalah ini dapat memberikan sumbangan
pemikiran dalam memperkaya wawasan bagi dunia pendidikan khususnya
dunia pendidikan ilmu keperawatan dan sebagai sumber informasi dalam
menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam meningkatkan
kualitas pembelajaran.
2. Manfaat praktis
1) Bagi mahasiswa
Dapat menambah wawasan ilmu bagi mahasiswa yang lain, dan
dapat menambah pertimbangan referensi.
2) Bagi insititusi
Sebagai masukan yang membangun guna meningkatkan kualitas
lembaga pendidikan yang ada, termasuk para pendidik yang ada
didalamnya.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Gout Artritis


Artritis gout merupakan penyakit heterogen sebagai akibat deposisi
kristal monosodium urat pada jaringan atau supersaturasi asam urat di dalam
cairan ekstraseluler (Anastesya, 2009).
Artritis gout merupakan salah satu penyakit inflamasi sendi yang paling
sering ditemukan, yang ditandai dengan penumpukan kristal monosodium
urat di dalam ataupun di sekitar persendian. Monosodium urat ini berasal dari
metabolisme purin. Hal penting yang mempengaruhi penumpukan kristal
adalah hiperurisemia dan saturasi jaringan tubuh terhadap urat. Apabila kadar
asam urat di dalam darah terus meningkat dan melebihi batas ambang saturasi
jaringan tubuh, penyakit artritis gout ini akan memiliki manifestasi berupa
penumpukan kristal monosodium urat secara mikroskopis maupun
makroskopis berupa tophi (Zahara, 2013).
Gout artritis adalah sekelompok penyakit yang terjadi akibat deposit
kristal monosodium urat di jaringan. Deposit ini berasal dari cairan ekstra
seluler yang sudah mengalami supersaturasi hasil akhir metabolisme akhir
purin yaitu asam urat (Sudoyo, 2009).
Penyakit gout artritis adalah penyakit akibat gangguan metabolisme purin
yang ditandai dengan hiperurisemia dan serangan sinovitis akut berulang-
ulang. Kelainan ini berkaitan dengan penimbunan kristal urat monohidrat
monosidium dan pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi tulang rawan
sendi (Muttaqin, 2008).
Jadi dapat disimpulkan Gout Arthitis ( Asam Urat ) adalah suatu penyakit
gangguan metabolik dimana tubuh tidak dapat mengontrol asam urat yang
menyebabkan rasa nyeri pada tulang dan sendi.

4
B. Klasifikasi Gout Artritis
Menurut (Ahmad, 2011) jenis gout artritis (asam urat) yaitu :
a. Gout primer
Pada gout primer, 99% penyebabnya belum diketahuim (idiopatik).
Diduga berkaitan dengan kombinasi faktor genetik dan faktor hormonal
yang menyebabkan gangguan metabolisme yang dapat mengakibatkan
meningkatnya produksi asam urat atau bisa juga diakibatkan karena
berkurangnya pengeluaran asam urat dari tubuh.
b. Gout sekunder
Pada gout sekunder disebabkan antara antara lain karena
meningkatnya produksi asam urat karena nutrisi, yaitu mengonsumsi
makanan dengan kadar purin tinggi. Purin adalah salah satu senyawa basa
organik yang menyusun asam nukleat (asam inti dari sel) dan termasuk
asam amino, unsur pembentuk protein.
Produksi asam urat juga akan meningkat apabila adanya penyakit
darah (penyakit sumsum tulang, polisetemia), mengonsumsi alkohol, dan
penyebab lainnya adalah faktor obesitas (kegemukan), penyakit kulit
(psoriasis), kadar trigiserin yang tinggi.

C. Etiologi Gout Artritis


Menurut (Ahmad, 2011) penyebab asam urat yaitu :
a. Faktor dari luar
Penyebab asam urat yang paling utama adalah makanan atau faktor
dari luar. Asam urat dapat meningkat dengan cepat antara lain disebabkan
karena nutrisi dan konsumsi makanan dengan kadar purin tinggi.
b. Faktor dari dalam
Adapun faktor dari dalam adalah terjadinya proses penyimpangan
metabolisme yang umumnya berkaitan dengan faktor usia, dimana usia di
atas 40 tahun atau manula beresiko besar terkena asam urat. Selain itu,
asam urat bisa disebabkan oleh penyakit darah, penyakit sumsum tulang
dan polisitemia, konsumsi obat-obatan, alkohol,obesitas, diabetes mellitus
juga bisa menyebabkan asam urat.

5
D. Patofisiologi Gout Artritis
Adanya gangguan metabolisme purin dalam tubuh, intake bahan yang
mengandung asam urat tinggi dan sistemekskresi asam urat yang tidak
adekuat akan menghasilkan akumulasi asam urat yang berlebih didalam
plasma darah (Hiperurecemia), sehingga mengakibatkan kristal asam urat
menumpuk dalam tubuh. Penimbunan ini menimbulkan iritasi lokal dan
menimbulkan respon inflamasi.
Saat asam urat menjadi bertumpuk dalam darah dan cairan tubuh lain,
maka asam urat tersebut akan mengkristal dan akan membentuk garam-garam
urat yang akan berakumulasi atau menumpuk dijaringan konektif diseluruh
tubuh, penumpukan ini disebut tofi. Adanya kristal akan memicu respon
inflamasi akut dan netrofil melepaskan lisosomnya. Lisosom tidak hanya
merusak jaringan, tapi juga menyebabkan inflamasi.
Serangan akut pertama biasanya sangat sakit dan cepat memuncak.
Serangan ini meliputi hanya satu tulang sendi. Serangan pertama ini sangat
nyeriyang menyebabkan tulang sendi menjadi lunak dan terasa panas, merah.
Tulang sendi metatarsophalangeal biasanya yang paling pertama terinflamasi,
kemudian mata kaki, tumit, lutut, dan tulang sendi pinggang. Kadang-kadang
gejalanya disertai dengan demam ringan. Biasanya berlangsung cepat tetapi
cenderung berulang dan dengan interval yang tidak teratur.
Hiperurisemia (konsentrasi asam urat dalam serum yang lebih besar dari
7,0 mg/dl) dapat menyebabkan penumpukan kristal monosodiumurat.
Peningkatan atau penurunan kadar asam urat serum yang mendadak
mengakibatkan serangan gout.
Adanya Kristal mononatrium urat akan menyebabkan inflamasi melalui
beberapa cara :
a. Kristalisasi bersih mengaktifkan system komplemen. Komplemen -
komplemen ini bersifat kemotaktik dan akan merekrut neutrophil ke
jaringan. Fasogitosis terhadap Kristal memicu pengeluaran radikal bebas
toksin dan lekosit, terutama leukosit B. kematian neutfrofil menyebabkan
keluarnya enzim lisosom yang destruktif.

6
b. Magrofag yang teraktut pada pengendapan Kristal urat dalam sendi akan
melakukan aktifitas fogositosis, dan juga mengeluarkan berbagai mediator
pronflamasi seperti TNF. Mediator ini akan memperkuat respon
peradangan, di samping itu mengaktifkan sel sinevum dan juga tlang
rawan untuk menghasilkan protasse. Protase ini akan meyebabkan cedera
jaringan.

c. Penimbunan Kristal urat dan serangan yang berulang akan menyebabkan


terbentuknya endapan seperti kapur putih yang di sebut tofi/topus (tophus)
di tulang rawan dan kapsul sendi. Di tempat tersebut endapan akan
memicu reaksi peradangan granulomatosa, yang dengan masa urat amorf
(Kristal ) dikelilingi oleh mgrogfag, limfosit, limfosit, dan sel raksasa
benda asing (Ahmad, 2011).

E. Manifestasi Klinis Gout Artritis


Gejala klinis dari gout athritist meliputi :
a. Akut
Serangan awal gout berupa nyeri yang berat, bengkak dan berlangsung
cepat, lebih sering di jumpai pada ibu jari kaki dan biasanya bersifat
monoartikular. Ada kalanya serangannyeri di sertai kelelahan, sakit kepala
dan demam ( Junaidi, 2006 dalam Dianati, 2015).
Serangan akut ini dilukiskan sebagai sembuh beberapa hari sampai
beberapa minggu, bila tidak terobati, rekuren yang multipel, interval antara
serangan singkat dan dapat mengenai beberapa sendi (Tehupeiory, 2006
dalam Widyanto, 2014 ).

7
Ketika serangan artritis gout, eritema yang luas di sekitar area sendi
yang terkena dapat terjadi. Meskipun serangan bersifat sangat nyeri
biasanya dapat sembuh sendiri dan hanya beberapa hari. Setelah serangan
terdapat interval waktu yang sifatnya asimptomatik dan disebut juga
stadium interkritikal (Sunkureddi et al, 2006 dalam Widyanto, 2014).
b. Interkritikal
Stadium ini merupakan kelanjutan stadium akut dimana terjadi periode
interkritikal asimtomatik. Secara klinik tidak dapat ditemukan tanda-tanda
radang akut ( Junaidi, 2006 dalam Dianati, 2015). Namun pada aspirasi
sendi ditemukan kristal urat. Hal ini menunjukkan bahwa proses
peradangan tetap berlanjut, walaupun tanpa keluhan. Keadaan ini dapat
terjadi satu atau beberapa kali pertahun, atau dapat sampai 10 tahun tanpa
serangan akut. Apabila tanpa penanganan yang baik dan pengaturan asam
urat yang tidak benar, maka dapat timbul serangan akut lebih sering yang
dapat mengenai beberapa sendi dan biasanya lebih berat (Tehupeiory,
2006 dalam Widyanto, 2014).
c. Kronis
Pada gout kronis terjadi penumpukan tofi (monosodium urat) dalam
jaringan yaitu di telinga, pangkal jari dan ibu jari kaki ( Junaidi, 2006
dalam Dianati, 2015). Tofus terbentuk pada masa artritis gout kronis
akibat insolubilitas relatif asam urat. Awitan dan ukuran tofus secara
proporsional mungkin berkaitan dengan kadar asam urat serum. Bursa
olekranon, tendon achilles, permukaan ekstensor lengan bawah, bursa
infrapatelar, dan heliks telinga adalah tempat-tempat yang sering
dihinggapi tofus. Secara klinis tofus ini mungkin sulit dibedakan dengan
nodul rematik. Pada masa kini tofus jarang terlihat dan akan menghilang
dengan terapi yang tepat (Carter, 2006 dalam Widyanto 2014).

F. Pemeriksaan Penunjang Gout Artritis


Pemeriksaan yang paling utama untuk gout arthritis yaitu pemeriksaan
cairan sinovial. Pada pemeriksaan ini menunjukkan adanya kristal
monosodium urate (MSU). Identifikasi kristal MSU dianggap sebagai standar

8
emas untuk diagnosis (Saigal & Abhishek, 2015). Diagnosis dapat
dikonfirmasi melalui aspirasi persendian yang mengalami inflamasi akut atau
dicurigai topus (Sholihah, 2014).
Diagnosis artritis gout dilakukan sesuai dengan kriteria dari The
American College of Rheumatology (ACR) yaitu terdapat kristal urat dalam
cairan sendi atau tofus dan/atau bila ditemukan 6 dari 12 kriteria yaitu,
Inflamasi maksimum pada hari pertama, serangan akut lebih dari satu kali,
artritis monoartikuler, sendi yang terkena berwarna kemerahan,
pembengkakan dan nyeri pada sendi metatarsofalangeal, serangan pada sendi
metatarsofalangeal unilateral, adanya tofus, hiperurisemia (kadar asam urat
dalam darah lebih dari 7,5 mg/dl) , pada foto sinar-X tampak pembengkakan
sendi asimetris dan kista subkortikal tanpa erosi, dan kultur bakteri cairan
sendi negatif (Widyanto, 2014).

G. Penatalaksanaan Gout Artritis


Penatalaksanaan keperawatan adalah kombinasi pengistirahatan sendi
dan terapi makanan/diet. Pengistirahatan sendi meliputi pasien harus disuruh
untuk meninggikan bagian yang sakit untuk menghindari penahanan beban
dan tekanan yang berasal dari alas tempat tidur dan memberikan kompres
dingin untuk mengurangi rasa sakit. Terapi makanan mencakup pembatasan
makanan dengan kandungan purin yang tinggi, alkohol serta pengaturan berat
badan. Perawat harus mendorong pasien untuk minum 3 liter cairan setiap
hari untuk menghindari pembentukan calculi ginjal dan perintahkan untuk
menghindari salisilat. Pola diet yang harus diperhatikan adalah :
a. Golongan A (150 - 1000 mg purin/ 100g) : Hati, ginjal, otak, jantung, paru,
lain-lain jerohan, udang, remis, kerang, sardin, herring, ekstrak daging,
ragi (tape), alkohol, makanan dalam kaleng.
b. Golongan B ( 50 - 100 mg purin/ 100g ) : Ikan yang tidak termasuk gol. A,
daging sapi, kacang-kacangan kering, kembang kol, bayam, asparagus,
buncis, jamur, daun singkong, daun pepaya, kangkung.
c. Golongan C ( < 50mg purin/ 100g ) : Keju, susu, telur, sayuran lain, buah-
buahan.

9
d. Bahan makanan yang diperbolehkan :
1. Semua bahan makanan sumber karbohidrat, kecuali havermout (dalam
jumlah terbatas).
2. Semua jenis buah-buahan .
3. Semua jenis minuman, kecuali yang mengandung alkohol.
4. Semua macam bumbu.
e. Bila kadar asam urat darah >7mg/dL dilarang mengkonsumsi bahan
makanan gol. A, sedangkan konsumsi gol. B dibatasi.
f. Batasi konsumsi lemak.
g. Banyak minum air putih.

Obat – obat penurun kadar asam urat terdiri dari :


a. Kelompok urikosurik yaitu probenesid, sulfinpirazon, bensbromaron,
azapropazon.
b. Kelompok xanthine oxydase yaitu : allopurinol (Saraswti, 2009).

H. Komplikasi Gout Artritis


Menurut Rothschild (2013), komplikasi dari artritis gout meliputi severe
degenerative arthritis, infeksi sekunder, batu ginjal dan fraktur pada sendi.
Sitokin, kemokin, protease, dan oksidan yang berperan dalam proses
inflamasi akut juga berperan pada proses inflamasi kronis sehingga
menyebabkan sinovitis kronis, dekstruksi kartilago, dan erosi tulang. Artritis
gout telah lama diasosiasikan dengan peningkatan resiko terjadinya batu
ginjal. Penderita dengan artritis gout membentuk batu ginjal karena urin
memilki pH rendah yang mendukung terjadinya asam urat yang tidak terlarut
(Liebman et al, 2007).
Terdapat tiga hal yang signifikan kelainan pada urin yang digambarkan
pada penderita dengan uric acid nephrolithiasis yaitu hiperurikosuria
(disebabkan karena peningkatan kandungan asam urat dalam urin), rendahnya
pH (yang mana menurunkan kelarutan asam urat), dan rendahnya volume urin
(menyebabkan peningkatan konsentrasi asam urat pada urin) (Sakhaee dan
Maalouf, 2008).

10
I. Pathway Gout Artritis

Faktor Idiopatik Sekresi asam urat


(Genetik) berlebihan

Gg. metabolisme
purin

Hiperuremia

Penumpukan kristal Tofi/tofus mengendap di


monoatrium di sendi bagian perifer tubuh

GOUT
Perubahan bentuk
tubuh pada tulang
Kristal asam urat bersifat
dan sendi
mengaktifkan sistem komplemen
Kurangnya paparan
informasi Gg. Citra Tubuh
Reaksi antigen antibodi

Kurang Pengetahuan Pelepasan mediator inflamasi


Pembentukan tukas
Prostaglandin pada sendi

Tofi/tofus
↑ Permeabilitas kapiler
mengering
Perpindahan cairan & elektrolit
Membatasi
pergerakan sendi
Perpindahan cairan dari
ekstraseluler & intramuskular
Hambatan
Edema Mobilitas Fisik

Penekanan pada syaraf

Nyeri Akut

11
J. Konsep Asuhan Keperawatan Gout Artritis
1. Pengkajian
1) Identitas klien
Nama : Ny. M
Umur : 63 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status perkawinan : Menikah
Alamat : RT. 06 Dusun I Desa Tirta Jaya
Bangsa : Indonesia
Pekerjaan/penghasilan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan terakhir : Tidak Sekolah

2) Riwayat kesehatan
a. Riwayat penyakit saat ini
Klien mengatakan tangan dan kaki merasa pegal linu dan sering
kesemutan, sering berulang – ulang. Hal itu dirasakan Ny. M
kurang lebih 2 tahun yang lalu terlebih saat melakukan aktivitas
dan ketika bangun pagi.
b. Riwayat penyakit yang lalu
Klien mengatakan sakit yang dideritanya sudah kurang lebih 2
tahun yang lalu, klien mengatakan asam urat. Klien mengatakan
tiap bulan mengikuti posyandu lansia namun hanya di beri vitamin.

3) Pengkajian fisik
a. Pemenuhan kebutuhan dasar
a) Pola nutrisi
Klien makan 3 kali/hari. Nafsu makan baik. Klien
menghabiskan makanan. Klien minum 8 kali/hari.
b) Pola eliminasi
Klien BAK 3-4 kali/hari dengan warna putih dan bau khas urine.
Klien BAB 1 kali/hari dengan konsistensi padat.

12
c) Pola aktivitas
Klien biasanya membungkus jajanan kerupuk, untuk di jual di
toko.
d) Pola istirahat dan tidur
Klien tidur malam jam 9 kadang jam 11 malam dan bangun tidur
jam 5 subuh ketika adzan subuh. Klien kadang – kadang tidur
siang.

4) Psikososial
a. Konsep Diri
a) Gambaran diri
Klien mengatakan bahwa dirinya sudah tua.
b) Identitas diri
Klien mampu menyebutkan nama Ny. M dengan jelas. Klien
juga merasa puas dan senang dengan jenis kelaminnya sebagai
perempuan.
c) Peran
Peran klien di keluarga sebagai ibu yang mengurus suami dan
anak laki – laki yang tinggal dengan klien. Peran klien di
lingkungan sebagai masyarakat.
d) Ideal diri
Klien berharap bisa hidup lebih baik disaat umur yang sudah tua
klien masih tetap bisa bekerja membantu suami.
e) Harga diri
Klien tidak merasa malu akan penyakitnya, klien hanya merasa
susah untuk bekerja karena penyakitnya.
b. Status mental
a) Penampilan
Penampilan klien rapi dan bersih, setiap sehabis mandi klien
mengganti baju, dan ketika waktunya sholat ataupun ada yasinan
klien selalu memakai yang rapi dan bersih.

13
b) Pembicaraan
Pembicaraan klien tidak terlalu cepat namun juga tidak telalu
lambat, klien bicara dengan jelas. Klien juga mampu untuk
memulai pembicaraan.
c) Aktivitas motorik
Klien melakukan aktifitas dengan semangat.
d) Alam perasaan
Klien mengatakan hanya ingin sembuh.
e) Afek
Afek klien sesuai, klien terlihat tersenyum ketika bercerita
sesuatu hal yang menyenangkan, klien tertawa ketika berbicara
hal yang lucu.
f) Interaksi selama wawancara
Selama interaksi, klien kooperatif dengan tindakan keperawatan
yang dilakukan, kontak mata (+) serta dapat dipertahankan.
g) Persepsi
Klien tidak mengalami gangguan persepsi sensori halusinasi.
h) Proses pikir
Saat bercakap-cakap dan ditanya, klien menjawab pertanyaan
sesuai dengan pertanyaan yang diajukan, tidak ada blocking
maupun pengulangan pembicaraan.
i) Isi pikir
Klien tidak mengalami gangguan isi pikir seperti waham.
j) Tingkat kesadaran
Kesadaran klien Compos mentis. Klien tidak mengalami
disorientasi waktu, tempat, dan orang. Itu ditandai ketika
perawat menanyakan jam, tanggal, dan tempat pada saat
pengkajian.
k) Memori
Memori jangka pendek jangka klien bagus, klien dapat
menceritakan kejadian penyakit dahulu. Klien juga dapat
menjawab siapa presiden terdahulu ketika ditanya.

14
l) Tingkat konsentrasi berhitung
Tingkat konsentrasi berhitung klien baik, klien dapat
menghitung mundur dari 20 dikurangi 3.
m) Gangguan penilaian
Kemampuan penilaian klien baik, klien mampu mengambil
keputusan yang sederhana, ketika ditanya setelah bangun tidur
mandi atau makan dulu ? dan klien menjawab mandi dulu.

5) Spiritual
Klien beragama islam. Klien mampu melaksanakan sholat lima waktu.
Klien mengikuti kegiatan yasinan yang diadakan oleh ibu – ibu di RT.
06.

6) Kemandirian dalam aktifitas


Klien sehari harinya melakukan aktifitas sendiri secara mandiri,
walaupun klien kadang – kadang kesemutan dan menggangu aktivitas.

7) Keseimbangan tubuh
Keseimbangan tubuh klien baik.

8) Pengkajian head to toe


Tanda-tanda vital :
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 86 x/mnt
Suhu : 36,8°C
Respirasi : 22 x/menit
a. Kepala
Bentuk kepala simetris, tidak terdapat kelainan, tidak terdapat
benjolan, tidak ada luka/lesi, kepala bersih, klien membersihkan
kepala 2 kali dalam seminggu.

15
b. Mata
Bentuk kedua mata simetris, tidak ada perdarahan ataupun
peradangan, klien menggunakan alat bantu baca.
c. Hidung
Hidung klien berfungsi dengan baik, bentuk simetris. Tidak ada
peradangan ataupun perdarahan, tidak ada polip.
d. Mulut
Mulut klien bersih, tidak ada tanda peradangan atau perdarahan.
Gigi depan atas klien sudah tidak ada hanya tersisa gigi depan
bawah, dan geraham klien.
e. Telinga
Telinga klien kiri kanan berfungsi dengan baik, klien dapat
mendengar bunyi detik arloji dalam jarak 30 cm. Telinga bersih,
tidak ada luka ataupun peradangan, klien tidak menggunakan alat
bantu dengar.
f. Leher
Kebersihan baik, tidak ada tanda peradangan ataupun luka, tidak
ada pembesaran kelenjar tiroid.
g. Dada
Dada simetris, tidak ada kelainan, tidak ada luka, tidak ada batuk
h. Abdomen
Simetris, tidak ada kelainan, tidak ada lesi atau luka, kebersihan
terjaga.
i. Ekstremitas
Klien dapat beraktifitas dengan baik, namun kadang terhenti karena
linu pada sendi.
j. Genitalia
Klien berjenis kelamin perempuan.

16
9) Pengkajian status sosial
a. Kemampuan sosialisasi
Sosialisai klien baik, setiap jum’at sore klien sering datang ke
yasinan. Dan satu bulan sekali klien selalu datang di posyandu
lansia.
b. Sikap klien pada orang lain
Klien mampu berkomuikasi dengan baik kepada petugas atau
perawat, serta apa yang di tanyakan mampu di jawab dengan baik
dan tepat. Sikap klien kepada warha juga baik.
c. Harapan klien pada orang lain
Klien berharap orang lain dapat bersikap baik juga.

10) Pengkajian perilaku terhadap kesehatan


a. Kebiasaan merokok
Klien mengatahan bahwa ia tidak merokok.
b. Kebiasaan minum kopi
Klien mengatakan klien jarang minum kopi, hanya ketika ingin saja
minum.
c. Penggunaan alkohol
Klien mengatakan selama ini tidak pernah mengkonsumsi alkohol.
d. Penggunaan obat-obatan
Klien mengatakan tidak menggunakan obat – obatan.

11) Pengkajian lingkungan


a. Rumah
Lingkungan rumah bersih, rumah tidak dimodifikasi sesuai dengan
penyakit klien. Pencahayaan cukup.
b. Sanitasi
Sanitasi di rumah baik, klien menggunakan sumur gali untuk air
minum dan mandi.

17
c. Faktor-faktor resiko
Lingkungan klien yang tidak di modifikasi membuat adanya resiko
cidera.

12) Pemanfaatan layanan kesehatan


Klien memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang di laksanakan
satu bulan sekali di posyandu lansia.

13) Tingkat pengetahuan tentang kesehatan


a. Pengetahuan tentang kesehatan
Klien tahu akan penyakitnya, namun klien belum tau tentang apa
yang boleh dimakan dan tidak boleh.
b. Sikap tentang kesehatan
Sikap klien baik, klien ingin sekali mengetahui tentang penyakitnya
saai ini.

2. Analisa Data

No. Data Etiologi Masalah


1. DS : Edema Nyeri Akut
 Klien mengeluh nyeri pada
sendi, jari kaki, pergelangan Penekanan pada
kaki, lutut, jari tangan dan syaraf
pergelangan tangan.
 Klien mengatakan menderita Nyeri akut
asam urat sudah 3 bulan yang
lalu dan sering kambuh.
 Klien mengatakan skala nyeri 4

DO :
 Jempol kaki, persendian jari,
sendi lutut dan pergelangan

18
tangan dan kaki terlihat
bengkak, merah dan teraba
hangat.
 Kadar asam urat serum 9 mg/dl.
 Tanda-tanda vital
TD : 120/80 mmHg
N : 70 x/mnt
Rr : 20 x/mnt
 Klien tampak meringis kesakitan
 Klien tampak pucat

2. DS : Pembentukan tukas Hambatan


 Klien mengatakan kaki dan pada sendi Mobilitas Fisik
tangan terasa linu dan
kesemutan terlebih saat Tofi/tofus
melakukan aktivitas. mengering
 Klien mengatakan sering terasa
terganggu dengan sakitnya. Membatasi
 Kadang sendi di tangan dan kaki pergerakan sendi
juga terasa sakit.
Gg. mobilitas fisik
DO :
 Ketika pengkajian klien sering
mengurut kakinya.
 Hasil tes asam urat : 9 mg/dl.

19
3. DS : Tofi/tofus Gg. Citra Tubuh
 Klien mengeluh kakinya berubah mengendap di
bentuk. bagian perifer
 Klien merasa tidak percaya diri tubuh
dengan keadaan kakinya.
Perubahan bentuk
DO : tubuh pada tulang
 Kaki klien tampak bengkak dan & sendi
sedikit berubah bentuk.
 Klien tampak menutupi kakinya Gg. citra tubuh

dengan selimut.
4. DS : Gout Kurang
 Klien mengatakan hanya tahu Pengetahuan
penyakitnya asam urat namun Kurangnya paparan
tidak tahu tentang yang lainnya informasi
tentang asam urat.
Kurang
DO : pengetahuan
 Klien tampak bertanya tentang
asam urat.

3. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (gout).
2) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kaku pada persendian.
3) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan deformitas pada tulang.
4) Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya mengenal
masalah penyakit.

20
4. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1. Nyeri akut  Tujuan : Setelah 1. Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien
berhubungan dilakukan tindakan 2. Jelaskan penyebab nyeri.
dengan agen keperawatan selama 2 3. Anjurkan latihan relaksasi nafas dalam.
cedera biologis kali kunjungan di 4. Alihkan perhatian pasien dengan
(gout) harapkan nyeri klien memberi bahan bacaan, menonton tv,
berkurang. mendengarkan radio.
5. Pasang bidai pada sendi yang inflamasi.
 Kriteria Hasil : Ini bertujuan menyokong atau
1. Nyeri klien berkurang mengimobilisasi sendi, sehingga dapat
(0-2). mengurangi nyeri.
2. Klien tidak terlihat 6. Kolaborasi dalam pemberian analgetik
meringis. (kodein) untuk mengurangi nyeri.

2. Hambatan  Tujuan : Setelah 1. Monitor dari tanda – tanda inflamasi.


mobilitas fisik dilakukan tindakan 2. Berikan klien latihan ROM.
berhubungan keperawatan selama 3 3. Kontrol asam urat.
dengan kaku kali kunjungan di 4. Motivasi untuk berobat ke puskesmas
pada persendian. harapkan klien tidak
mengalami gangguan
mobilitas fisik.

 Kriteria Hasil :
1. Gerakan sendi klien
kembali normal.
2. Klien tidak
mengeluhkan linu dan
kesemutan.

21
3. Gangguan citra  Tujuan : Setelah 1. Lakukan pendekatan dan bina hubungan
tubuh dilakukan tindakan saling percaya.
berhubungan keperawatan selama 2. Kaji psikososial perkembangan klien.
dengan 2x24 jam diharapkan 3. Berikan kesempatan kepada klien untuk
deformitas pada tidak terjadi gangguan mengungkapkan tentang perubahan citra
tulang. citra tubuh. tubuh.
4. Dukung upaya klien untuk memperbaiki
 Kriteria Hasil : citra diri.
1. Body image positif.
2. Mampu
mengidentifikasi
kekuatan personal.
3. Mendiskripsikan
secara faktual
perubahan fungsi
tubuh.
4. Kurang  Tujuan : Setelah 1. Berikan pendidikan kesehatan mengenai
pengetahuan dilakukan pendidikan asam urat :
berhubungan kesehatan selama 3 kali a. Pengertian ;
dengan kunjungan diharapkan b. Tanda dan gejala ;
kurangnya pengetahuan klien c. Penyebab ;
mengenal meningkat. d. Komplikasi ;
masalah e. Pencegahan ;
penyakit.  Kriteria Hasil : f. Diet.
1. Klien memahami 2. Motivasi klien untuk berobat ke
penyakitnya. puskesmas
2. Klien tidak nampak
gelisah.

22
K. Asuhan Keperawatan Gout Artritis pada Lansia
Gambaran Kasus
Keluarga Tn. I merupakan tipe keluarga nuclear family dimana dalam
satu rumah terdiri dari Tn. I (68 tahun) sebagai kepala keluarga, Ny. E (64
tahun) sebagai istri, Tn. M (25 tahun) sebagai anak masih tinggal satu rumah.
Tn. R (45th) sudah bekerja sebagai perawat di RS.I di kota S dan tidak tinggal
dalam satu rumah lagi. Ny. E adalah klien yang dikaji karena memiliki
penyakit asam urat.
Pengkajian yang dilakukan dengan keluarga Ny. E, didapatkan data
bahwa saat ini Ny. E adalah seorang ibu rumah tangga. Ny. E dan
keluarganya tinggal di Jln. L.A Sucipto Gg. Mungil 212 Madura. Ny. E
mengeluhkan nyeri pada sendi jari kaki, pergelangan kaki, lutut. Klien
mengatakan menderita asam urat sudah satu tahun dan sering kambuh apalagi
ketika cuaca dingin. Keluarga mengatakan klien senangnya makan makanan
yang berlemak dan mengandung kolesterol seperti jeroan. Dari hasil
pemeriksaan didapatkan TTV TD : 120/80 mmHg, RR : 24 x/menit, suhu
36,30C , kadar asam urat 8 mg/dl, jempol kaki, persendian jari, sendi lutut dan
kaki terlihat inflamasi (kemerahan, bengkak dan teraba hangat). Ny. E juga
sering mengeluhkan susah berjalan karena kakinya bengkak, dan biasanya
berjalan dibantu dengan anaknya.

PENGKAJIAN
1. Pengkajian
1) Data Biografi
Nama : Ny. E
Jenis kelamin : 64 tahun
Umur : Perempuan
Pendidikan terakhir : SMA
Agama : Islam
Status perkawinan : Kawin
Tinggi badan/berat badan : 155 cm/58 kg
Penampilan umum : Baik

23
Ciri-ciri tubuh : Tinggi, rambut putih
Alamat : Jln. L.A Sucipto Gg. Mungil
212 Madura
Orang yang mudah dihubungi : Tn. I
Hubungan dengan klien : Suami

2) Riwayat Keluarga
Keluarga Tn. I merupakan tipe keluarga nuclear family dimana dalam
satu rumah terdiri dari Tn. I (68 tahun) sebagai kepala keluarga, Ny. E
(64 tahun) sebagai istri, Tn. M (25 tahun) sebagai anak masih tinggal
satu rumah. Tn. R (45th) sudah bekerja sebagai perawat di RS.I di
kota S dan tidak tinggal dalam satu rumah lagi. Ny. E adalah klien
yang dikaji karena memiliki penyakit asam urat.
Genogram :
Tn. O Ny.
Tn. T Ny. P
R

Tn.
Ny.
I
E

Tn. Tn.
R M
Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan : Tinggal satu rumah
: Klien : Meninggal
: Garis keturunan
: Pernikahan

24
3) Riwayat Pekerjaan
a. Status pekerjaan saat ini : Ibu Rumah Tangga.
b. Pekerjaan sebelumnya : -
c. Sumber-sumber pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan :
Dari pensiunan suami.

4) Riwayat Lingkungan Hidup


a. Ruangan : rapi.
b. Penerangan : cukup.
c. Sirkulasi udara : terdapat banyak jendela di rumah.
d. Sumber air minum : PAM.
e. Keadaan kamar mandi : sedang dan bersih.
f. Pembuangan sampah : ditumpuk didepan rumah diambil tukang
sampah setiap hari.

5) Riwayat Rekreasi
a. Hobi / minat : Membuat kerajinan.
b. Keanggotaan organisasi : Mengikuti kegiatan posyandu lansia.
c. Kegiatan keagamaan : Klien mengikuti kegiatan yasinan setiap hari
Jum’at.
d. Liburan / perjalanan : Klien jarang berpergian jauh, namun setiap
tahun pulang kampung ke Madura.

6) Sistem Pendukung
Klien mengatakan apabila sakit biasanya klien sering berobat di
Puskemas dan kontrol kesehatan tiap bulan di Posyandu Lansia di
sekitar rumahnya.

7) Diskripsi kekhususan
Kebiasaan ritual : -
Yang lainnya :-

25
8) Status Kesehatan
Status kesehatan umum selama lima tahun yang lalu :
Ny. E belum pernah menderita penyakit yang berat, sakit yang sering
diderita adalah pusing, batuk dan pilek. Hal yang pertama kali
dilakukan jika sakit adalah membeli obat di warung jika tidak sembuh
baru di bawa ke puskesmas.
Keluhan utama :
Klien mengatakan dalam satu tahun terakhir ini merasakan sakit
seperti kesemutan, kebas pada bagian kaki dan juga pada bagian
pinggang. Klien tidak pernah melakukan latihan pergerakan, klien
tidak pernah berolahraga paling hanya menyapu halaman.
Obat – obatan :
NO NAMA OBAT DOSIS KET
1 Protexinal 3x1
2 Dasabion 3x1
Status imunisasi : Lengkap
Alergi :-
Obat-obatan :-
Makanan :-
Faktor lingkungan :-
Penyakit yang diderita :-

9) Aktivitas Hidup Sehari-hari


Nutrisi : Ny. E mengatakan makan 3 kali sehari tapi
makanan yang dikonsumsinya sedikit tergantung
nafsu makannya.
Eliminasi : Ny. E mengatakan BAK dan BAB dapat
dilakukannya sendiri dengan mandiri, tetapi
keluhan yang dirasakan tidak dapat mengontrol
BAK jika mau ke kamar mandi, kadang sudah
keluar sendiri sebelum sampai ke kamar mandi.

26
Aktivitas : Ny. E mengatakan tidak pernah berolahraga,
paling nyapu, berpindah masih dilakukan secara
mandiri tetapi Ny. E mengatakan sudah tidak
mampu berjalan jauh.
Istirahat dan tidur : Ny. E mengatakan biasanya tidur malam mulai
jam 21:00, jika siang Ny. E beristirahat di dalam
rumah.
Personal hygiene : Mandi : Ny. E mengatakan mandi 2x sehari
dilakukan sendiri, Gosok gigi : dilakukan setiap
mandi, Cuci rambut : seminggu sekali,
Berpakaian dan berhias : memakai sendiri tanpa
bantuan.
Seksual :-
Rekreasi : Klien jarang berpergian jauh, namun setiap
tahun pulang kampung ke Madura.
Psikologis :
a. Persepsi klien : Ny. E mengatakan bahwa dia sudah tua, jadi
wajar kalau sakit.
b. Konsep diri : Ny. E mengatakan semua bagian tubuhnya di
sukai. Sekarang peran Ny. E adalah sebagai ibu
dan nenek yang diharapkan keluarganya dapat
sebagai tempat mengadu.
c. Emosi : Ny. E memiliki pengendalian emosi yang baik.
d. Adaptasi : Ny. E adalah orang yang mudah beradaptasi.
e. Mekanisme pertahanan diri : Ny. E menyelesaikan masalah dengan
berbicara dengan orang lain untuk bertukar pikiran dan
memecahkan masalah secara efektif.

10) Tinjauan Sistem Organ


Keadaan umum : Cukup
GCS : 4,5,6
Tanda-tanda vital : TD : 120/80mmHg RR : 24x/menit

27
S : 36,30C Nadi : 20x/menit
a. Sistem Integumen
a) Kebersihan : Baik
b) Warna : Kuning langsat
c) Kelembaban : Lembab
d) Lesi : Tidak ada
e) Turgor : Baik
f) Akral : Hangat
g) Pruritus : Tidak ada
h) Perubahan tekstur : Tidak
i) Gangguan pada kulit : Tidak ada
b. Kepala
a) Kebersihan : Bersih
b) Kerontokan rambut : Tidak ada
c) Warna : Putih
d) Keluhan : Tidak ada
c. Mata
a) Konjungtiva : Tidak anemis
b) Sklera : Tidak ikterik
c) Strabismus : Tidak
d) Penglihatan : Penglihatan menurun dibuktikan dengan klien
tidak bisa membaca tulisan kecil dengan jelas jika tidak
memakai kacamata
e) Peradangan : Tidak
f) Riwayat katarak : Tidak
g) Pandangan kabur : Ya
h) Nyeri tekan : Tidak
i) Keluhan : Klien mengatakan “penglihatan saya kabur mbak
apalagi kalau melihat orang dari jarak jauh dan juga saat melihat
tulisan al-Qur’an. Saya tidak bisa membaca kalau tidak pakai
kacamata”
j) Penggunaan kacamata : Ya

28
d. Telinga
a) Kebersihan : Bersih
b) Peradangan : Tidak
c) Pendengaran : Terganggu
d) Jika terganggu, jelaskan : ketika diajak berbicara dengan volume
suara yang pelan terkadang klien tidak bisa mendengar
pertanyaan yang diajukan oleh perawat sehingga perawat harus
mengulangi pertanyaan dengan volume suara agak keras dan
sedikit mendekat kepada klien.
e. Hidung dan sinus
a) Bentuk : Simetris
b) Peradangan : Tidak ada
c) Penciuman : Tidak terganggu
d) Pernafasan cuping hidung: Tidak ada
e) Nyeri tekan : Tidak
f) Obstruksi : Tidak
g) Keluhan : Tidak
f. Mulut dan tenggorokan
a) Kebersihan : Baik
b) Mukosa : Lembab
c) Peradangan/stomatitis : Tidak
d) Gigi geligi : Ompong
e) Radang gusi : Tidak
f) Karies : Tidak
g) Lesi : Tidak ada
h) Kesulitan mengunyah : Ya
i) Kesulitan menelan : Tidak
j) Keluhan : Jika makan-makanan yang keras klien tidak bisa
mengunyah.
g. Leher
a) Pembesaran kelenjar thyroid : Tidak ada
b) JVD : Tidak ada

29
c) Kaku kuduk : Tidak ada
d) Nyeri tekan : Tidak
e) Benjolan/massa : tidak ada
f) Keluhan : Tidak ada
h. Payudara : tidak ada keluhan, tidak ada massa, tidak ada nyeri
tekan.
i. Sistem Pernapasan
a) Bentuk dada : Normal chest
b) Retraksi : Tidak
c) Wheezing : (-)
d) Ronchi : (-)
e) Suara jantung tambahan : Tidak ada
f) Ictus cordis : (+), tidak ada pelebaran
g) Keluhan : Tidak ada
j. Sistem Kardiovaskuler : tidak ada keluhan.
k. Sistem perkemihan
a) Kebersihan : Tidak terkaji
b) Haemoroid : Tidak ada
c) Keluhan : Tidak ada
l. Sistem musculoskeletal 5 5
a) Kekuatan otot : 5 5

b) Postur tubuh : Membungkuk/lordosis


c) Rentang gerak : Maksimal
d) Deformitas : Tidak
e) Tremor : Tidak
f) Nyeri : Iya, pada lutut dan pinggang
g) Pembengkakan sendi : Tidak
h) Edema : - -
- -
i) Penggunaan alat bantu : Tidak
j) Refleks
m. Reflek
Area Kanan Kiri

30
Biceps + +
Triceps + +
Knee + +
Achiles + +
Keterangan:
Refleks +: normal
Refleks -: menurun/meningkat
n. Sistem Endokrin : tidak terkaji.
o. Sistem Imunitas : tidak terkaji.
p. Sistem gastrointestinal : Ny. E tidak memiliki masalah
gastrointestinal.
q. Sistem reproduksi : Ny. E sudah mengalami menopouse sehingga
terjadi penurunan pada fungsi reproduksi.
r. Sistem persyarafan
Ny. E mengatakan kedua kaki kebas, nyeri dan kesemutan.
s. Sistem pengecapan
Ny.E makan dengan frekuensi 3 kali, pola nutrisi Ny.A dalam batas
normal.
t. Sistem Penciuman : normal.

11) Data Penunjang : -

Kediri, 17 Mei 2018

(..............................)

31
SHORT PORTABLE MENTAL STATUS QUESTIONNAIRE (SPMSQ)
PENILAIAN UNTUK MENGETAHUI FUNGSI INTELEKTUAL LANSIA

Nama klien : Ny. E Tanggal : 17 Mei 2018


Jenis kelamin : Perempuan Umur : 63 tahun
Agama : Islam Suku : Jawa
Alamat : Jl. LA Sucipto gg. Mungil 212
Benar Salah Nomor Pertanyaan
√ 1 Tanggal berapa hari ini ? 17
√ 2 Hari apa sekarang ? Kamis
√ 3 Apa nama tempat ini ? Rumah
√ 4 Dimana alamat anda ? Jl. LA Sucipto gg.
Mungil 212
√ 5 Berapa umur anda ? 63
√ 6 Kapan anda lahir ? 1955
√ 7 Siapa presiden Indonesia ? Jokowi
√ 8 Siapa presiden Indonesia sebelumnya ? Susilo
Bambang Yudhoyono
√ 9 Siapa nama ibu anda ? Rumini
√ 10 Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari
setiap angka baru, secara menurun.
20-3= 17
17-3= 14
14-3= 11
JUMLAH B= 10 S= 0

Interpretasi:
Salah 0 – 3 : Fungsi intelektual utuh
Salah 4 – 5 : Fungsi intelektual kerusakan ringan
Salah 6 – 8 : Fungsi intelektual kerusakan sedang
Salah 9 – 10 : Fungsi intelektual kerusakan berat

32
Kesimpulan : Dari 10 pertanyaan yang diajukan klien dapat menjawab semuanya.
Sehingga kesimpulannya fungsi intelektual klien utuh.

33
APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA
SKRINING UNTUK MELENGKAPI PENGKAJIAN FUNGSI SOSIAL

Nama klien : Ny. E Tanggal : 17 Mei 2018


Jenis kelamin : Perempuan Umur : 63 tahun
Agama : Islam Suku : Jawa
Alamat : Jl. LA Sucipto gg. Mungil 212
No. Uraian Fungsi Skor
1. Saya puas bahwa saya dapat kembali pada Adaptation 2
keluarga (teman-teman) saya untuk membantu
pada waktu sesuatu menyusahkan saya
2. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) Partnership 0
saya membicarakan sesuatu dengan saya
mengungkapkan masalah dengan saya
3. Saya puas dengan keluarga (teman-teman) saya Growth 2
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan aktivitas atau kegiatan baru
4. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) Affection 1
saya mengekspresikan afek dan berespon
terhadap emosi-emosi saya seperti marah,
sedih, atau mencintai
5. Saya puas dengan cara teman-teman saya dan Resolve 2
saya menyediakan waktu bersama-sama
Keterangan : Total 7
Penilaian yang dijawab :
Selalu = 2, Kadang-kadang = 1, Hampir tidak
pernah = 0

Total Skor :
8-10 = Fungsi Keluarga Sehat
4-7 = Fungsi Keluarga Kurang Sehat
0-3 = Fungsi Keluarga Sakit

34
SKALA DEPRESI GERIATRIK
MENGETAHUI TINGKAT DEPRESI LANSIA

Nama klien : Ny. E Tanggal : 17 Mei 2018


Jenis kelamin : Perempuan Umur : 63 tahun
Agama : Islam Suku : Jawa
Alamat : Jl. LA Sucipto gg. Mungil 212
NO SKALA DEPRESI GERIATRIK YA TIDAK

1 Apakah anda pada dasarnya puas dengan kehidupan anda ? YA TIDAK

Apakah anda sudah menghentikan banyak kegiatan dan


2 YA TIDAK
hal-hal yang menarik minat anda ?

3 Apakah anda merasa hidup anda hampa ? YA TIDAK

4 Apakah anda sering bosan ? YA TIDAK

5 Apakah anda biasanya semangat / gembira ? YA TIDAK

Apakah anda takut jangan-jangan sesuatu yang tidak baik


6 YA TIDAK
akan terjadi pada diri anda ?

7 Apakah anda biasanya merasa senang / bahagia ? YA TIDAK

8 Apakah anda sering merasa tidak berdaya ? YA TIDAK

Apakah anda lebih suka tinggal di rumah, daripada pergi ke


9 YA TIDAK
luar dan melakukan hal-hal yang baru?

Apakah anda merasa mengalami kesulitan untuk mengingat


10 YA TIDAK
daripada biasanya ?

Apakah anda mengganggap sesuatu yang luar biasa bahwa


11 YA TIDAK
anda hidup sekarang ?

Apakah menurut anda keadaan anda sekarang rasanya


12 YA TIDAK
kurang berharga ?

13 Apakah anda merasa penuh energi ? YA TIDAK

14 Apakah anda merasa situasi anda tanpa harapan ? YA TIDAK

Apakah anda merasa bahwa kebanyakan orang lebih


15 YA TIDAK
berhasil daripada anda ?

SKOR TOTAL 10 6

35
KETERANGAN :
Hitung jawaban yang bercetak tebal

a. Setiap jawaban bercetak tebal mempunyai skor 1

b. Skor 5 – 9 menunjukkan kemungkinan besar depresi

c. Skor 10 atau lebih merupakan depresi

36
INDEKS KATZ
INDEKS KEMANDIRIAN PADA AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-
HARI

Nama klien : Ny. E Tanggal : 17 Mei 2018


Jenis kelamin : Perempuan Umur : 63 tahun
Agama : Islam Suku : Jawa
Alamat : Jl. LA Sucipto gg. Mungil 212

SKOR KRITERIA
A Kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah, ke kamar kecil,
berpakaian dan mandi.
B Kemandirian dalam semua kecuali satu dari fungsi tersebut.
C Kemandirian dalam semua kecuali mandi dan satu fungsi tambahan.
D Kemandirian dalam semua kecuali mandi, berpakaian dan satu fungsi
tambahan.
E Kemandirian dalam semua kecuali mandi, berpakaian, ke kamar
kecil dan satu fungsi tambahan.
F Kemandirian dalam semua kecuali mandi, berpakaian, ke kamar
kecil, berpindah dan satu fungsi tambahan.
G Ketergantungan pada keenam fungsi tersebut.
Lain-lain Ketergantungan pada sedikitnya dua fungsi, tetapi tidak dapat
diklasifikasikan sebagai C, D, E, F, dan G.

Keterangan :

Mandiri : berarti tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif dari orang
lain. Seseorang yang menolak melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan
fungsi, meskipun dianggap mampu.

37
MINI MENTAL STATE EXAM (MMSE)
MENGUJI ASPEK KOGNITIF DAN FUNGSI MENTAL

Nama klien : Ny. E Tanggal : 17 Mei 2018


Jenis kelamin : Perempuan Umur : 63 tahun
Agama : Islam Suku : Jawa
Alamat : Jl. LA Sucipto gg. Mungil 212
SKOR SKOR
MAX MANULA

ORIENTASI

5 ( 4 ) Sekarang ( hari ), ( tanggal ), ( bulan ), ( tahun ), berapa dan (


musim ) apa ?

5 ( 5 ) Sekarang kita berada dimana : ( jalan ), ( no. Rumah ), (kota), (


kabupaten ), ( propinsi )

REGRISTASI

3 ( 3 ) Minta klien menyebutkan nama 3 buah benda, 1 detik untuk tiap


benda. Kemudian mintalah manula mengulang ke 3 nama
tersebut. Berikan 1 angka untuk tiap jawaban yang benar. Bila
masih salah, ulanglah penyebutan ke 3 nama benda tersebut.
Sampai ia dapat mengulangnya dengan benar. Hitunglah jumlah
percobaan dan catatlah ( misal : bola, kursi, sepatu )

( Jumlah percobaan ............................)

ATENSI DAN KALKULASI

5 ( 2 ) Hitunglah berturut-turut selang 7 mulai dari 100 ke bawah. 1


angka untuk tiap jawaban yang benar. Berhenti setelah 5
hitungan ( 93, 86, 79, 72, 65 ).

Kemungkinan lain, ejalah kata ”dunia” dari akhir ke awal ( a-i-


n-u-d )

MENGINGAT

3 ( 1 ) Tanyakan kembali nama ke 3 benda yang telah disebutkan di


atas. Berikan 1 angka untuk tiap jawaban yang benar.

BAHASA

9 ( 2 ) a. Apakah nama benda-benda ini ? Perlihatkan pensil dan arloji


) ( 2 angka )

b. Ulanglah kalimat berikut : ” Jika, Tidak. Dan, Atau Tapi ” (

38
1 angka )

c. Laksanakan 3 buah perintah ini : ”Peganglah selembar kertas


dengan tangan kananmu, lipatlah kertas itu pada pertengahan
dan letakkanlah di lantai ( 3 angka )

d. Bacalah dan laksanakan perintah berikut : ” PEJAMKAN


MATA ANDA ” ( 1 angka )

e. Tulislah sebuah kalimat ( 1 angka )

f. Tirulah gambar ini ( 1 angka )

SKOR 17
TOTAL

Tandailah tingkat kesadaran manula pada garis absis di bawah


ini dengan huruf.

Sadar Somnolen Stupor Koma

Keterangan :
Skor Total : 30
Nilai 24 – 30 : Normal
Nilai 17 – 23 : Mungkin ada gangguan fungsi kognitif
Nilai 0 – 16 : Ada gangguan kognitif

JAM SELESAI : 13:00 WIB

TEMPAT WAWANCARA : Rumah pasien

2. Pengkajian Perilaku terhadap Kesehatan


1) Kebiasaan merokok :
(1) > 3 batang sehari
(2) < 3 batang sehari

39
(3) Tidak merokok
2) Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari :
a. Pola pemenuhan kebutuhan nutrisi
a) Frekuensi makan
(1) 1 kali sehari
(2) 2 kali sehari
(3) 3 kali sehari
(4) Tidak teratur
b) Jumlah makanan yang dihabiskan
(1) 1 porsi dihabiskan
(2) ½ porsi yang dihabiskan
(3) < ½ porsi yang dihabiskan
(4) Lain-lain
c) Makanan tambahan
(1) Dihabiskan
(2) Tidak dihabiskan
(3) Kadang-kadang dihabiskan
b. Pola pemenuhan cairan
a) Frekuensi minum
(1) < 3 gelas sehari
(2) > 3 gelang sehari
b) Jika jawaban < 3 gelas sehari, alasan
(1) Takut kencing malam hari
(2) Tidak haus
(3) Persediaan air minum terbatas
(4) Kebiasaan minum sedikit
c) Jenis Minuman
(1) Air putih (2) Teh (3) Kopi (4) susu
(5) lainnya, jelaskan………
3) Pola kebiasaan tidur
a. Jumlah waktu tidur
(1) <4 jam (2) 4-6 jam (3) >6 jam

40
Keluhan: Tidak ada
b. Gangguan tidur berupa
(1) Insomnia (2) Sering terbangun
(3) Sulit mengawali (4) Tidak ada gangguan
c. Penggunaan waktu luang ketika tidak tidur
(1) Santai (2) Diam saja
(3) Ketrampilan (4) Kegiatan keagamaan
4) Pola eliminasi BAB
a. Frekuensi BAB
(1) 1 kali sehari
(2) 2 kali sehari
(3) Lainnya, jelaskan .........
b. Konsistensi
(1) Encer (2) Keras (3) Lembek (4) Padat
c. Gangguan BAB
(1) Inkontinensia alvi
(2) Konstipasi
(3) Diare
(4) Tidak ada
5) Pola BAK
a. Frekuensi BAK
(1) 1 – 3 kali sehari
(2) 4 – 6 kali sehari
(3) > 6 kali sehari
b. Warna urine
(1) Kuning jernih
(2) Putih jernih
(3) Kuning keruh
c. Gangguan BAK
(1) Inkontinensia urine
(2) Retensi urine
(3) Lainnya, jelaskan …

41
6) Pola aktifitas
a. Kegiatan produktif lansia yang sering dilakukan
(1) Membantu kegiatan dapur
(2) Berkebun
(3) Pekerjaan rumah tangga
(4) Ketrampilan tangan
b. Pola pemenuhan kebersihan diri mandi
(1) 1 kali sehari
(2) 2 kali sehari
(3) 3 kali sehari
(4) < 1 kali sehari
c. Memakai sabun
(1) ya (2) tidak
d. Sikat gigi
(1) 1 kali sehari
(2) 2 kali sehari
(3) Tidak pernah, alasan karena sudah tidak ada giginya
e. Menggunakan pasta gigi
(1) ya (2) tidak
f. Kebiasaan berganti pakaian bersih
(1) 1 kali sehari
(2) > 1 kali sehari
(3) Tidak ganti

42
3. Tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (Indeks Barthel)
Nama Pasien: Ny. E Tanggal: 17 / 5 / 2018 13 : 00
Aktifitas Score
Makan 0 5 10
0 = Bantuan penuh
5 = Bantuan untuk memotong, mengoles mentega, modifikasi diet
10 = independent
Mandi 0 5
0 = Menbutuhkan bantuan
5 = independent (menggunakan shower)
Berdandan 0 5
0 = Perlu bantuan
5 = independent berbedak/menyisir/gosok gigi/mencukur
Memasang Baju 0 5 10
0 = Dengan bantuan
5 = Dengan bantuan 50%
10 = independent (mengancing baju, restleting)
Buang Hajat (buang air besar) 0 5 10
0 = incontinensia Alvy (menggunakan barium enema)
5 = Kadang tidak tertahan (tid
10 = Dapat mengontrol
Buang Air Kecil 0 5 10
0 = Menggunakan kateter
5 = Kadang ngompol
10 = Bisa mengontrol
Ke Toilet 0 5 10
0 = Butuh Bantuan Penuh
5 = Butuh Bantuan 50%
10 = independent (menghidupkan, dressing, wiping)
Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur 0 5 10 15
0 = Bantuan penuh
5 = Saat berpindah membutuhkan 2 orang untuk membantu
10 = Bantuan minimal 1 orang
15 = independent
Berjalan di jalan yang datar 0 5 10 15
0 = immobilisasi atau < 50 yards
5 = Selalu menggunakan kursi roda
10 = Berjalan dengan bantuan 1 orang> 50 yards
15 = independent (but may use any aid; for example, stick) > 50 yards
Naik tangga 0 5 10
0 = Tidak bisa
5 = Membutuhkan bantuan
10 = independent
TOTAL (0 - 100) 100

43
Interpretasi hasil :
0 – 20 : Ketergantungan penuh
21 – 61 : Ketergantungan berat/sangat tergantung
62 – 90 : Ketergantungan moderat
91 – 99 : Ketergantungan ringan
100 : Mandiri

Kesimpulan: Skor indeks barthel klien yaitu 100 yang artinya klien mandiri dalam
memenuhi aktivitasnya sehari-hari.

44
4. Pengkajian Lingkungan
a. Pemukiman
1) Luas bangunan : -
2) Bentuk bangunan :
(1) Rumah (2) Petak (3) Asrama
(4) Paviliun
3) Jenis bangunan :
(1) Permanen (2) Semi permanen (3) Non permanen
4) Atap rumah
(1) Genting (2) Seng (3) Ijuk
(4) Kayu (5) Asbes
5) Dinding
(1) Tembok (2) Kayu (3) Bambu
(4)Lainnya......
6) Lantai
(1) Semen (2) Tegel (3) Keramik
(4) Tanah (5) Lainnya ...............
7) Kebersihan lantai
(1) Bersih dan tidak licin (2) Kurang
8) Lantai kamar mandi
(1) Licin (2) Tidak licin
9) Ventilasi
(1) < 15% luas lantai (2) 15% luas lantai
10) Pencahayaan
(1) Baik
(2) Kurang, Jelaskan : Pencahayaan dalam rumah kurang,
sehingga terlihat gelap pada siang hari. Pada malam hari di
bagian dalam rumah hanya diterangi oleh lampu 5 watt
11) Pengaturan penataan perabot
(1) Baik (2) Kurang
12) Kelengkapan alat rumah tangga
(1) Lengkap (2) Tidak lengkap, Jelaskan …………

45
5. Sanitasi
1) Penyediaan air bersih (MCK):
(1) PDAM (2) Sumur (3) Mata air (4) Sungai
(5) Lainnya ……………
2) Penyediaan air minum
(1) Air rebus sendiri (2) Beli (aqua)
(3) Air biasa tanpa rebus
3) Pengelolaan jamban
(1) Bersama (2) Kelompok (3) Pribadi
(4) Lainnya.......
4) Jenis jamban :
(1) Leher angsa (2) Cemplung terbuka
(3) Cemplung tertutup (4) Lainnya …......
5) Jarak dengan sumber air
(1) < 10 meter (2) > 10 meter
6) Sarana pembuangan air limbah (SPAL) :
(1) Lancar (2) Tidak lancar
7) Petugas sampah
(1) Ditimbun (2) Dibakar (3) Daur ulang
(4) Dibuang sembarang tempat (5) Dikelola dinas
8) Polusi udara
(1) Pabrik (2) Rumah tangga (3) Industri
(4) Tidak ada
9) Pengelolaan binatang pengerat
(1) Tidak (2) Ya
(*) Dengan racun (*) Dengan alat (*) Lainnya ..........

6. Fasilitas
1) Peternakan
(1) Ada (2) Tidak

46
2) Perikanan
(1) Ada (2) Tidak
3) Sarana olah raga
(1) Ada (2) Tidak Jenis : -
4) Taman
(1) Ada (2) Tidak
5) Ruang pertemuan
(1) Ada (2) Tidak
6) Sarana hiburan
(1) Ada (2) Tidak
7) Sarana ibadah
(1) Ada (2) Tidak Jenis : Mushola

7. Keamanan dan Transportasi


a. Keamanan
1) Sistem keamanan lingkungan (1) Ada (2) Tidak
2) Penanggulangan kebakaran (1) Ada (2) Tidak
3) Penanggulangan bencana (1) Ada (2) Tidak
b. Transportasi
1) Kondisi jalan masuk
(1) Rata (2) Tidak rata (3) Licin
(4) Tidak licin
2) Jenis transportasi yang dimiliki
(1) Mobil (2) Sepeda motor
(3) Lainnya : Jumlah 1
c. Komunikasi
1) Sarana komunikasi
(1) Ada (2) Tidak ada
2) Jenis komunikasi yang digunakan
(1) Telphon (2) Kotak surat (3) Fax
(4) Handphone

47
3) Cara penyebaran informasi
(1) Langsung (2) Tidak langsung (3) Lainnya

ANALISA DATA
NO. DATA ETIOLOGI PROBLEM
1. DS : Ketidakmampuan Kurangnya pengetahuan
- Ny. E mengatakan tidak kontrol keluarga mengenal
dalam konsumsi makanan, Ny. masalah.
E bebas memakan makanan apa
saja meskipun itu dilarang tanpa
ukuran.
DO :
- Kadar asam urat Ny. E : 8
mg/dl.
2. DS: Modifikasi Gangguan berjalan
- Ny. E mengatakan akibat dari lingkungan.
nyeri pergelangan kaki dan
bengkak yang dialaminya
menjadi sulit untuk berdiri
apabila dari posisi duduk.
- Ny. E mengatakan jika terjadi
bengkak saat berjalan harus
dengan bantuan, merambat di
dinding atau berpegangan pada
kursi.
DO:
- Kaki kiri Ny. E terlihat sedikit
bengkak.
- Kaki kiri Ny. E terlihat dapat
berjalan tetapi agak lemah.

48
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kurangnya pengetahuan b.d ketidakmampuan keluarga dalam mengenal
masalah kesehatan.
2. Gangguan berjalan b.d ketidakmampuan klien dalam memodifikasi
lingkungan.

SCORING/PEMBOBOTAN DAN PENENTUAN PRIORITAS


MASALAH
1. Diagnosa : Kurangnya pengetahuan b.d ketidakmampuan keluarga
dalam mengenal masalah kesehatan.
Kriteria Skor Hasil Pembenaran
SIFAT MASALAH (Bobot = Masalah Ny. E dalam menjaga
1) asupan nutrisi yang kurang tepat
- Tidak sehat 3 2/2 x 1 = 1 menjadi salah satu penyebab sering
- Ancaman kesehatan 2 kambuhnya asam urat pada Ny. E.
- Krisis atau keadaan 1
sejahtera
KEMUNGKINAN Keluarga Ny. E dan Ny. E sendiri
MASALAH DAPAT merasa apa yang dikonsumsinya
DIUBAH (Bobot = 2) selama ini salah dan ingin
- Dengan mudah 2 2/2 x 2 = 2 memperbaiki pola makan itu ada
- Hanya sebagian 1 serta keluarga pun selalu
- Tidak dapat 0 memberikan dukungan agar Ny. E
mengganti pola makan yang lebih
sehat.

POTENSIAL MASALAH Ketaatan Ny. E dalam menjaga pola


DAPAT DICEGAH (Bobot = makan bisa diterapkan agar
1) mengurangi resiko kambuh asam
- Tinggi 3 2/3 x 1 = urat yang berulang dan penting juga

49
- Cukup 2 2/3 peran keluarga dalam memberikan
- Rendah 1 dukungan pada Ny. E.
MENONJOLKAN Ny. E merasa dengan pola makan
MASALAH (bobot = 1) yang keliru atau sembarangan
- Masalah berat, harus 2 2/2 x 1 = 1 mempercepat kambuhnya atau
segera ditangani naiknya kadar purin.
- Ada masalah, tapi tidak 1
perlu segera ditangani
- Masalah tidak dirasakan 0
Total 4 2/3

2. Diagnosa : Gangguan berjalan b.d ketidakmampuan klien dalam


memodifikasi lingkungan.
Kriteria Skor Hasil Pembenaran
SIFAT MASALAH (Bobot = Masalah gangguan berjalan yang
1) dialami Ny. E, asam urat
- Tidak sehat 3 3/3 x 1 = 1 menyebabkan Ny. E sulit berjalan
- Ancaman kesehatan 2 dan terasa berat ketika berdiri
- Krisis atau keadaan 1 apabila dari posisi duduk, dan
sejahtera menghambat akivitas Ny. E, sulit
berkendara apabila ingin pergi, dan
bila tidak segera di tangani akan
menimbulkan resiko cedera.
KEMUNGKINAN Keluhan Ny. E yang sulit berjalan
MASALAH DAPAT menyebabkan sulit untuk bergerak
DIUBAH (Bobot = 2) dan beraktivitas. Ny. E memiliki
- Dengan mudah 2 2/2 x 2 = 2 keinginan besar untuk mencegah
- Hanya sebagian 1 masalah agar dapat segera diatasi.
- Tidak dapat 0
POTENSIAL MASALAH Beberapa metode dan pengobatan
DAPAT DICEGAH (Bobot = dapat di terapkan, untuk mengatasi
1) keterbatasan gerak Ny. E namun

50
- Tinggi 3 3/3 x 1 = 1 perlu waktu yang cukup lama untuk
- Cukup 2 memulihkan keadaan Ny. E.
- Rendah 1
MENONJOLKAN Ny. E dan keluarga merasakan
MASALAH (Bobot = 1) keluhan tersebut sangat
- Masalah berat, harus 2 1/2 x 1 = mengganggu akitivitas dan
segera ditangani ½ pekerjaan menjadi terbengkalai,
- Ada masalah, tapi tidak 1 sehingga bagi mereka sangat
perlu segera ditangani diperlukan tindakan serius untuk
- Masalah tidak dirasakan 0 mengatasi masalah gangguan
berjalan Ny. E.
Total 4 1/2

PRIORITAS DIAGNOSA
1. Kurangnya pengetahuan b.d ketidakmampuan keluarga dalam mengenal
masalah kesehatan.
2. Gangguan berjalan b.d ketidakmampuan klien dalam memodifikasi
lingkungan.

51
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Tujuan Krieteria Evaluasi
No Diagnosa Intervensi
Umum Khusus Kriteria Standar
1. Kurangnya Setelah 1. Setelah Respon Keluarga mengerti tentang 1.1 Kaji pengetahuan keluarga tentang asam urat.
pengetahuan b.d dilakukan dilakukan Verbal. asam urat dan memahami 1.2 Jelaskan pada keluarga mengenai bahaya
ketidak mampuan intervensi kunjungan bahaya yang mungkin timbul asam urat.
keluarga dalam sebanyak 3 kali 1x jika tidak teratasi dengan 1.3 Berikan informasi kepada keluarga mengenai
mengenal kunjungan, kunjungan baik, sehingga setelah pengertian makanan menu sehat dan pola
masalah Ny. E mengerti diharapkan keluarga mengerti masalah makan yang tepat dengan menggunakan
kesehatan. dan memahami Ny. E dan dan bahaya asam urat dapat leaflet.
tentang keluarga ikut memberikan dukungan 1.4 Berikan kesempatan kepada keluarga untuk
bagaimana diet mampu yang adekuat. bertanya tentang materi yang disampaikan.
yang benar. mengatasi Pola makan yang baik dan 1.5 Berikan penjelasan ulang terhadap materi
masalah menu sehat adalah suatu cara yang belum dimengerti.
ditandai atau usaha untuk melakukan 1.6 Motivasi keluarga untuk mengulang materi
dengan : kegiatan makan secara sehat yang telah dijelaskan.
- Mengenal dengan makan yang 1.7 Berikan reinforcement positif atas hasil yang
masalah mengandung zat- zat yang dicapainya.

51
tentang pola rendah purin khususnya untuk
makan yang penderita asam urat.
baik dan Respon Cara mengatur pola makan 1.1 Berikan informasi dan diskusikan kepada
menu sehat. Afektif. yang baik dengan menut yang keluarga mengenai pengertian makanan menu
- Mengambil sehat dapat dilakukan dengan sehat dan pola makan yang tepat dengan
keputusan memberikan makanan gizi menggunakan leaflet.
yang tepat seimbang dan dapat 1.2 Jelaskan pada keluarga contoh – contoh
untuk dilakukan dengan memberi makanan yang baik untuk asam urat meliputi
memberikan makan 3 kali sehari (pagi, kentang, yogurth, pisang.
pola makan siang, malam). 1.3 Berikan kesempatan kepada keluarga untuk
yang baik bertanya tentang materi yang disampaikan.
dan menu 1.4 Berikan kesempatan keluarga untuk bertanya
sehat. terhadap materi yang belum dimengerti.
- Merawat Respon Keluarga mampu merawat 1.1 Pantau asupan makanan yang di konsumsi
anggota psikomotor. anggota keluarga dengan Ny. E.
keluarga memberikan pola makan yang 1.2 Mampu menyediakan menu diet untuk asam
untuk baik dan sehat. urat:
memberikan  Makanan yang sebaiknya dihindari.

52
pola makan  Makanan yang sebaiknya dibatasi.
yang baik Respon Keluarga mampu 1.1 Anjurkan keluarga untuk tidak makan
dan menu psikomotor. memodifikasi lingkungan makanan yang mengandung tinggi purin di
sehat. dengan tidak menyediakan depan klien.
- Memodifikas makanan yang bisa membuat 1.2 Motivasi keluarga untuk menyembunyikan
i lingkungan kenaikan kadar purin pada makanan yang dilarang atau harus dihindari
pada Ny. E. konsumsinya dari klien.
keluarga
Respon Keluarga mampu 1.1 Berikan edukasi kepada keluarga tentang
dengan
psikomotor. memanfaatkan pelayanan penggunaan layanan kesehatan.
memberikan
kesehatan apabila terjadi 1.2 Motivasi keluarga untuk berkunjung ke
pola makan
masalah. fasilitas pelayanan kesehatan.
yang baik
dan menu
sehat.
- Menggunaka
n fasilitas
kesehatan.
2. Gangguan Setelah 1. Setelah Respon Menyebutkan dari penyebab 1.1 Diskusikan dengan keluarga penyebab
berjalan b.d dilakukan dilakukan Verbal. dan tanda gangguan berjalan : gangguan berjalan.

53
ketidakmampuan intervensi kunjungan a. Nyeri 1.2 Tanyakan kembali tentang penyebab
klien dalam sebanyak 3 kali selama 1x b. Kekakuan otot gangguan berjalan.
memodifikasi kunjungan, kunjungan c. Bengkak 1.3 Berikan reinforcement positif terhadap usaha
lingkungan. Ny. E mengerti diharapkan d. Keterbatasan rentang keluarga dalam menjawab.
dan memahami Ny. E dan pergerakan sendi
masalah keluarga e. Perubahan cara berjalan
gangguan mampu f. Ketidakstabilan posisi
berjalan. mengatasi g. Pergerakan lambat
masalah
ditandai
dengan :
- Mengenal
masalah untuk Respon Keluarga dapat 1.1 Berikan contoh vidio dan demonstrasikan
mengetahui Afektif mendemonstrasikan cara kepada keluarga khusunya Ny. E cara
penyebab melakukan latihan pergerakan melakukan ROM.
gangguan sendi 1.2 Berikan kesempatan kepada keluarga
berjalan. khususnya Ny. E untuk mencoba latihan
- Melakukan pergerakan sendi (ROM).
latihan 1.3 Berikan reinforcement positif terhadap usaha

54
pergerakan keluarga khususnya Ny. E dalam melakukan
sendi (ROM). latihan pergerakan sendi (ROM).
- Melaksanakan 1.4 Pastikan Ny. E akan melakukan tindakan
perawatan non yang di ajarkan jika diperlukan.
farmakologi Respon Keluarga mampu melakukan 1.1 Diskusikan kegiatan harian Ny. E.
kepada Ny. E. Psikomotor perawatan kepada Tn. S 1.2 Anjurkan Ny. E beristirahat cukup dan
- Memodifikasi untuk mengatasi bengkak teratur.
lingkungan. agar tidak terjadi gangguan 1.3 Anjurkan dan beri edukasi keluarga
- Memanfaatkan berjalan. khususnya Ny. E melakukan kompres hangat
fasilitas dingin saat bengkak terjadi.
kesehatan. Respon Menyebutkan cara 1.1 Observasi lingkungan rumah pada kunjungan
Psikomotor. memodifikasi lingkungan dengan terencana.
untuk gangguan berjalan dan 1.2 Diskusikan dengan keluarga tentang
melakukan tindakan pemberian pegangan kayu atau kursi kayu
modifikasi lingkungan. yang kuat untuk pegangan Ny. E ketika sulit
berjalan.
Respon Keluarga mampu 1.1 Berikan edukasi kepada keluarga tentang
Psikomotor. memanfaatkan pelayanan penggunaan layanan kesehatan.
kesehatan apabila terjadi 1.2 Motivasi keluarga untuk berkunjung ke

55
masalah. fasilitas pelayanan kesehatan.

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


No. Waktu Diagnosa Implementasi Evaluasi
1. Kamis, 17 - 1. Melakukan TTV S : Ny. E mengatakan menderita penyakit asam urat sudah sejak
Mei 2018 satu tahun yang lalu. Ny. E juga mengatakan bahwa nyeri
Pukul 09:00 dirasakan pada jempol kaki, persendian jari, sendi lutut dan
WIB pergelangan tangan dan kaki terlihat inflamasi (kemerahan,
bengkak dan teraba hangat).
O : TD: 160/80 mmHg karena klien punya riwayat hipertensi,
HR: 100 x/menit, RR: 22 x/menit, suhu 38 C, kadar asam urat
serum 9 mg/dl.
A : masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan.
2. Minggu, 20 Kurangnya 1. Mengkaji pengetahuan keluarga S : Ny. E dan keluarganya kooperatif saat dilakukan penyuluhan,
Mei 2018 pengetahuan b.d tentang asam urat. terjadi tanya jawab dan diskusi yang interaktif. Ny. E dan
Pukul 09:00 ketidakmampuan 2. Menjelaskan pada keluarga keluarga mengatakan mengerti mengenai apa yang dijelaskan.
WIB keluarga dalam mengenai bahaya asam urat. O : Ny. E dan keluarga memperhatikan penjelasan yang

56
mengenal 3. Memberikan informasi kepada disampaikan.
masalah keluarga mengenai pengertian A : masalah belum teratasi.
kesehatan. makanan menu sehat dan pola P : Lanjutkan Intervensi.
makan yang tepat dengan
menggunakan leaflet.
3. Rabu, 23 Gangguan 1. Mendiskusikan dengan keluarga S : Ny. E dan keluarganya kooperatif dan mengatakan mengerti
Mei 2018 berjalan b.d penyebab gangguan berjalan. dan sepaham mengenai apa yang disampaikan.
Pukul 09:00 ketidakmampuan 2. Memberikan contoh vidio dan O : Ny. E dan keluarga memperhatikan penjelasan yang
WIB klien dalam demonstrasikan kepada keluarga disampaikan.
memodifikasi khusunya Ny. E cara melakukan A : Masalah sudah sedikit teratasi.
lingkungan. ROM. P : Karena keterbatasan waktu kunjungan intervensi cukup
3. Menganjurkan dan beri edukasi sampai disini.
keluarga khusunya Ny. E melakukan
kompres hangat dingin saat bengkak
terjadi.
4. Mendiskusikan dengan keluarga
tentang pemberian pegangan kayu
atau kursi kayu yang kuat untuk
pegangan Ny. E ketika sulit berjalan.

57
5. Memotivasi keluarga untuk
berkunjung ke fasilitas pelayanan
kesehatan.

58
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Artritis gout merupakan salah satu penyakit metabolik (metabolic
syndrom) yang terkait dengan pola makan diet tinggi purin dan minuman
beralkohol. Penimbunan kristal monosodium urat (MSU) pada sendi dan
jaringan lunak merupakan pemicu utama terjadinya peradangan atau
inflamasi pada gout artritis.
Asupan makanan yang baik dapat mengkontrol kadar asam urat dalam
darah. Ada banyak jenis makanan yang dapat menyebabkan kadar asam urat
dalam darah menjadi tidak normal, seperti makanan yang tinggi purin,
makanan yang berprotein tinggi, serta berkonsumsi alkohol. Asupan gizi yang
baik sangat diperlukan untuk membantu mengoptimalkan kesehatan dan
mencegah terjadinya penyakit gout atau asam urat.

B. Saran
Sebagai tenaga profesional tindakan perawat dalam penanganan masalah
keperawatan keluarga khususnya Gout Artritis harus dibekali dengan
pengetahuan yang luas dan tindakan yang dilakukan harus rasional sesuai
gejala penyakit.

60
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Nablory. 2011. Cara Mencegah Dan Mengobati Asam Urat dan
Hipertensi. Jakarta : Rineka Cipta.
Anastesya W. 2009. Artritis Pirai (Gout) dan Penatalaksanaannya. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana.
Dianati, Nur Amalia. 2015. Gout And Hyperuricemia. J Majority Vol. 4 No. 3
Januari 2015 : 82-89. Diakses dari :
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/viewFile/555/556
Pada tanggal 23 Mei 2018.
Helmi, Zairin. 2011. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Cetakan kedua.
Jakarta : Salemba Medika.
Liebman et al. 2007. Urid Acid Nephrolithiasis, Current Rheumatology Reports.
Vol. 9, No. 3, pp. 251-257.
Lina, Nur, Andik Setiyono. 2014. Analisis Kebiasaan Makan yang Menyebabkan
Peningkatan Kadar Asam Urat. Diakses dari : https://lppm.unsil.ac.id Pada
tanggal 24 Mei 2018.
Lumunon, Oktavina J., Hendro Bidjuni, Rivelino Hamel. 2015. Hubungan Status
Gizi dengan Gout Arthritis pada Lanjut Usia di Puskesmas Wawonasa
Manado. Diakses dari : https://media.neliti.com/media/publications/105274-
ID-hubungan-status-gizi-dengan-gout-arthrit.pdf Pada tanggal 23 Mei 2018.

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Imunologi. Jakarta : Salemba Medika.
Rothschild BM. 2014. Gout and Pseudogout. Diakses dari :
http://emedicine.medscape.com/article/329958 Pada tanggal 23 Mei 2018.
Saigal, Renu & Abhishek Agrawal. 2015. Pathogenesis and Clinical Management
of Gouty Arthrhitis. Journal of The Association of Physicians of India Vol. 63
December 2015 : 56-63. Diakses dari :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27666904 Pada tanggal 23 Mei 2018.
Sakhaee K, Maalouf NM. 2008. Metabolic Syndrome and Uric Acid
Nephrolithiasis. Seminars in Nephrology, Vol. 28, No. 2, pp. 174-180.

61
Saraswati, S. 2009. Diet Sehat Untuk Penyakit Asam Urat, Diabetes, Hipertensi,
dan Stroke. Jogjakarta : A Plus Book.
Sholihah, Fatwa Maratus. 2014. Diagnosis And Treatment Gout Arthritis . J
Majority Vol. 3 No. 7 Desember 2014 : 39-45. Diakses dari :
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/475 Pada
tanggal 23 Mei 2018.

Sudoyo, Aru W. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II, Edisi V. Jakarta :
Interna Publishing.
Widyanto, Fandi Wahyu. 2014. Artritis Gout Dan Perkembangannya. Diakses
dari : http://ejournal.umm.ac.id/index.php/sainmed/article/view/4182/4546
Pada tanggal 23 Mei 2018.
Zahara R. 2013. Artritis Gout Metakarpal dengan Perilaku Makan Tinggi Purin
Diperberat oleh Aktifitas Mekanik Pada Kepala Keluarga dengan Posisi
Menggenggam Statis. Medula, Volume 1.

62