Anda di halaman 1dari 22

TUGAS SISTEM IMUNOLOGI DAN HEMATOLOGI

MAKALAH
“RHEUMATOID ARTRITIS”

Disusun Oleh KELOMPOK 1 :

1. Dyta Crowny Agistyan (10215001)


2. Sofia Erfiani (10215002)
3. Mei Nur Fatimah (10215003)
4. Desy Enggar Pravita (10215004)
5. Yoke Rhesma Viddya Yulita (10215006)
6. Kastina Sholihah (10215007)
7. Mohamad Robieth Al Hady Wafa (10215008)
8. Efi Rulli Guswati (10215009)
9. Fitriah Nurul Hidayah (10215010)
10. Arifatus Sa’diyah (10215011)
11. Selviana Hanif Mubthalifah (10215012)

Program Studi S1 Keperawatan


Fakultas Ilmu Kesehatan
Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri
Tahun Akademik 2016

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah “RHEUMATOID ARTRITIS’ ini dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman yang
turut serta dalam menyusun makalah ini, baik dari segi ide, kreatifitas, dan
usaha. Tanpa ada bantuan dari teman-teman semua, mungkin kita akan
mengalami hambatan dalam penulisan makalah ini
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami dan juga menambah
informasi serta edukasi bagi kami selaku penyusun serta bagi siapapun yang
membacanya. Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata dan
penulisan yang kurang berkenan. Oleh sebab itu, penyusun berharap adanya
kritik dan saran dalam perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.

Kediri, 20 Oktober 2016


Penyusun

i
DAFTAR ISI

Cover ..........................................................................................................

Kata pengantar ......................................................................................... i

Daftar isi .................................................................................................... ii

BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG................................................................ 1
B. TUJUAN .................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGRTIAN ..................................................................... 3
B. ETIOLOGI......................................................................... 4
C. MANIFESTASI KLINIS .................................................. 4
D. PATOFISIOLOGI ............................................................. 5
E. KOMPLIKASI ................................................................... 5
F. KRITERIA DIGNOSTIK................................................. 6
G. PENATALAKSANAAN................................................... 6
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG ..................................... 7
I. ASUHAN KEPERAWATAN .......................................... 8

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN ..................................................................... 18
B. SARAN ................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Perubahan – perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan
dengan makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal
kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh.
Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal
dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya
beberapa golongan reumatik. Salah satu golongan penyakit reumatik yang
sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal
terutama adalah osteoartritis. Kejadian penyakit tersebut akan makin
meningkat sejalan dengan meningkatnya usia manusia.
Reumatik dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya
dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna
mengaktifkan fungsi otot. Dengan meningkatnya usia menjadi tua fungsi otot
dapat dilatih dengan baik. Namun usia lanjut tidak selalu mengalami atau
menderita reumatik. Bagaimana timbulnya kejadian reumatik ini, sampai
sekarang belum sepenuhnya dapat dimengerti.
Reumatik bukan merupakan suatu penyakit, tapi merupakan suatu
sindrom dan.golongan penyakit yang menampilkan perwujudan sindroma
reumatik cukup banyak, namun semuanya menunjukkan adanya persamaan
ciri. Menurut kesepakatan para ahli di bidang rematologi, reumatik dapat
terungkap sebagai keluhan dan/atau tanda. Dari kesepakatan, dinyatakan ada
tiga keluhan utama pada sistem muskuloskeletal yaitu: nyeri, kekakuan (rasa
kaku) dan kelemahan, serta adanya tiga tanda utama yaitu: pembengkakan
sendi., kelemahan otot, dan gangguan gerak. (Soenarto, 1982)
Reumatik dapat terjadi pada semua umur dari kanak – kanak sampai
usia lanjut, atau sebagai kelanjutan sebelum usia lanjut. Dan gangguan
reumatik akan meningkat dengan meningkatnya umur. (Felson, 1993,
Soenarto dan Wardoyo, 1994)
Dari berbagai masalah kesehatan itu ternyata gangguan
muskuloskeletal menempati urutan kedua 14,5% setelah penyakit
kardiovaskuler dalam pola penyakit masyarakat usia >55 tahun (Household
Survey on Health, Dept. Of Health, 1996). Dan berdasarkan survey WHO di

1
Jawa ditemukan bahwa artritis/reumatisme menempati urutan pertama (49%)
dari pola penyakit lansia (Boedhi Darmojo et. al, 1991).
Artritis reumatoid merupakan kasus panjang yang sangat sering
diujikan. Bisanya terdapat banyak tanda- tanda fisik. Diagnosa penyakit ini
mudah ditegakkan. Tata laksananya sering merupakan masalah utama. Insiden
pucak dari artritis reumatoid terjadi pada umur dekade keempat, dan penyakit
ini terdapat pada wanita 3 kali lebih sering dari pada laki- laki. Terdapat
insiden familial ( HLA DR-4 ditemukan pada 70% pasien ).
Artritis reumatoid diyakini sebagai respon imun terhadap antigen yang
tidak diketahui. Stimulusnya dapat virus atau bakterial. Mungkin juga terdapat
predisposisi terhadap penyakit. Berdasarkan hal tersebut kelompok tertarik
untuk membahas tentang penyakit rheumatoid artritis dan dapat
mengaplikasikan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien.

B. Tujuan penulisan
1. Tujuan umum
Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan
sistem muskuloskeletal yaitu Rheumatoid Artritis
2. Tujuan khusus
Mahasiswa dapat menjelaskan :
a. Definisi penyakit Rheumatoid Artritis
b. Etiologi penyakit Rheumatoid Artritis
c. Manifestasi klinik Rheumatoid Artritis
d. Patofisiologi penyakit Rheumatoid Artritis
e. Komplikasi penyakit Rheumatoid Artritis
f. Pemeriksaan diagnostik penyakit Rheumatoid Artritis
g. Penatalaksanaan penyakit Rheumatoid Artritis
h. Asuhan keperawatan yang harus diberikan pada klien dengan Rheumatoid
Artritis

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN

Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang


bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta
jaringan ikat sendi secara simetris.( Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah
Orthopedi, hal. 165 )
Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang
menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 :
1248).Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur dari kanak-kanak
sampai usia lanjut. Namun resiko akan meningkat dengan meningkatnya umur
(Felson dalam Budi Darmojo, 1999).
Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang
tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam
membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan
deformitas lebih lanjut.( Susan Martin Tucker.1998 )
Artritis Reumatoid ( AR ) adalah kelainan inflamasi yang terutama
mengenai mengenai membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai
dengan dengan nyeri persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas, dan
keletihan. ( Diane C. Baughman. 2000 )
Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi
utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. ( Arif
Mansjour. 2001 ).

3
B. ETIOLOGI
Penyebab pasti reumatod arthritis tidak diketahui. Biasanya
merupakan kombinasi dari faktor genetic, lingkungan, hormonal dan faktor
system reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi
seperti bakteri, mikoplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001).
Penyebab utama kelainan ini tidak diketahui. Ada beberapa teori yang
dikemukakan mengenai penyebab artritis reumatoid, yaitu :
1. Infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus non-hemolitikus
2. Endokrin
3. Autoimun
4. Metabolik
5. Faktor genetik serta faktor pemicu lainnya.
Pada saat ini, artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor
autoimun dan infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor
infeksi mungkin disebabkan oleh karena virus dan organisme mikoplasma
atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang
rawan sendi penderita.

C. MANIFESTASI KLINIS
Pola karakteristik dari persendian yang terkena :
1. Mulai pada persendian kecil ditangan, pergelangan , dan kaki.
2. Secara progresif menenai persendian, lutut, bahu, pinggul, siku,
pergelangan kaki, tulang belakang serviks, dan temporomandibular
3. Awitan biasnya akut, bilateral, dan simetris.
4. Persendian dapat teraba hangat, bengkak, dan nyeri ; kaku pada pagi hari
berlangsung selama lebih dari 30 menit
5. Deformitasi tangan dan kaki adalah hal yang umum.
Gambaran Ekstra-artikular :
1. Demam, penurunan berat badan, keletihan, anemia
2. Fenomena Raynaud.
3. Nodulus rheumatoid, tidak nyeri tekan dan dapat bergerak bebas, di
temukan pada jaringan subkutan di atas tonjolan tulang.
Rheumatoid arthritis ditandai oleh adanya gejala umum peradangan berupa:
1.Demam, lemah tubuh dan pembengkakan sendi.
2.Nyeri dan kekakuan sendi yang dirasakan paling parah pada pagi hari.
3.Rentang gerak berkurang, timbul deformitas sendi dan kontraktur otot.

4
4.Pada sekitar 20% penderita rheumatoid artritits muncul nodus rheumatoid
ekstrasinovium. Nodus ini erdiri dari sel darah putih dan sisia sel yang
terdapat di daerah trauma atau peningkatan tekanan. Nodus biasanya
terbentuk di jaringan subkutis di atas siku dan jari tangan.

D. PATOFISIOLOGI

Rheumatoid arthritis akibat reaksi autoimun dalam jaringan sinovial


yang melibatkan proses fagositosis. Dalam prosesnya, dihasilkan enzim-enzim
dalam sendi. Enzim-enzim tersebut selanjutnya akan memecah kolagen
sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya terjadi
pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan
menimbulkan erosi tulang.
Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan
mengganggu gerak sendi. Otot akan merasakan nyeri akibat serabut otot
mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya kemampuan
elastisitas.

E. KOMPLIKASI
Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan
ulkus peptik yang merupakan komlikasi utama penggunaan obat anti inflamasi
nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit ( disease
modifying antirhematoid drugs, DMARD ) yang menjadi faktor penyebab
morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid.
Komlikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas, sehingga
sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya

5
berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan
neuropati iskemik akibat vaskulitis.

F. KRITERIA DIAGNOSTIK
Diagnosis arthritis reumatoid tidak bersandar pada satu karakteristik
saja tetapi berdasar pada evaluasi dari sekelompok tanda dan gejala.
Kriteria diagnostik adalah sebagai berikut:
1. Kekakuan pagi hari (sekurangnya 1 jam)
2. Arthritis pada tiga atau lebih sendi
3. Arthritis sendi-sendi jari-jari tangan
4. Arthritis yang simetris
5. Nodula reumatoid dan Faktor reumatoid dalam serum
6. Perubahan-perubahan radiologik (erosi atau dekalsifikasi tulang)
Diagnosis artritis reumatoid dikatakan positif apabila sekurang-
kurangnya empat dari
tujuh kriteria ini terpenuhi. Empat kriteria yang disebutkan terdahulu harus
sudah berlangsung sekurang-kurangnya 6 minggu.

G. PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan reumatoid artritis adalah mengurangi nyeri,
mengurangi inflamasi, menghentikan kerusakan sendi dan meningkatkan
fungsi dan kemampuan mobilisasi penderita (Lemone & Burke, 2001).
Adapun penatalaksanaan umum pada rheumatoid arthritis antara lain :
1. Pemberian terapi
Pengobatan pada rheumatoid arthritis meliputi pemberian aspirin
untuk mengurangi nyeri dan proses inflamasi, NSAIDs untuk mengurangi
inflamasi, pemberian corticosteroid sistemik untuk memperlambat destruksi
sendi dan imunosupressive terapi untuk menghambat proses autoimun.
2. Pengaturan aktivitas dan istirahat
Pada kebanyakan penderita, istirahat secara teratur merupakan hal
penting untuk mengurangi gejala penyakit. Pembebatan sendi yang terkena
dan pembatasan gerak yang tidak perlu akan sangat membantu dalam
mengurangi progresivitas inflamasi. Namun istirahat harus diseimbangkan
dengan latihan gerak untuk tetap menjaga kekuatan otot dan pergerakan sendi.

6
3. Kompres panas dan dingin
Kompres panas dan dingin digunakan untuk mendapatkan efek
analgesic dan relaksan otot. Dalam hal ini kompres hangat lebih efektive
daripada kompres dingin.
4. Diet
Untuk penderita rheumatoid arthritis disarankan untuk mengatur
dietnya. Diet yang disarankan yaitu asam lemak omega-3 yang terdapat dalam
minyak ikan.
5. Pembedahan
Pembedahan dilakukan apabila rheumatoid arthritis sudah mencapai
tahap akhir. Bentuknya dapat berupa tindakan arhthrodesis untuk
menstabilkan sendi, arthoplasty atau total join replacement untuk mengganti
sendi.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes serologi : Sedimentasi eritrosit meningkat, Darah bisa terjadi anemia dan
leukositosis, Reumatoid faktor, terjadi 50-90% penderita
2. Sinar X dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada jaringan
lunak, erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan (perubahan awal )
berkembang menjadi formasi kista tulang, memperkecil jarak sendi dan
subluksasio. Perubahan osteoartristik yang terjadi secara bersamaan.
3. Scan radionuklida :mengidentifikasi peradangan sinovium
4. Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan irregularitas/
degenerasi tulang pada sendi
5. Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan volume yang lebih besar dari
normal: buram, berkabut, munculnya warna kuning ( respon inflamasi, produk-
produk pembuangan degeneratif ); elevasi SDP dan lekosit, penurunan viskositas
dan komplemen ( C3 dan C4 ).
6. Biopsi membran sinovial: menunjukkan perubahan inflamasi dan
perkembangan panas.
7. Pemeriksaan cairan sendi melalui biopsi, FNA (Fine Needle Aspiration) atau
atroskopi; cairan sendi terlihat keruh karena mengandung banyak leukosit dan
kurang kental dibanding cairan sendi yang normal.
Kriteria diagnostik Artritis Reumatoid adalah terdapat poli- arthritis yang simetris
yang mengenai sendi-sendi proksimal jari tangan dan kaki serta menetap sekurang-
kurangnya 6 minggu atau lebih bila ditemukan nodul subkutan atau gambaran
erosi peri-artikuler pada foto rontgen

7
Beberapa faktor yang turut dalam memeberikan kontribusi pada penegakan
diagnosis Reumatoid arthritis, yaitu nodul Reumatoid, inflamasi sendi yang
ditemukan pada saat palpasi dan hasil-hasil pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaaan laboratorium menunjukkan peninggian laju endap darah dan factor
Reumatoid yang positif sekitar 70%; pada awal penyakit faktor ini negatif. Jumlah
sel darah merah dan komplemen C4 menurun. Pemeriksaan C- reaktifprotein
(CRP) dan antibody antinukleus (ANA) dapat menunjukan hasil yang positif.
Artrosentesis akan memperlihatkan cairan sinovial yang keruh, berwarna mirip
susu atau kuning gelap dan mengandung banyak sel inflamasi, seperti leukosit dan
komplemen (Smeltzer & Bare, 2002). Pemeriksaan sinar-X dilakukan untuk
membantu penegakan diagnosis dan memantau perjalanan penyakitnya. Foto
rongen akan memperlihatkan erosi tulang yang khas dan penyempitan rongga
sendi yang terjadi dalam perjalanan penyakit tersebut (Smeltzer & Bare, 2002).

I. ASUHAN KEPERAWATAN

DIAGNOSA
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN
Nyeri berhubungan Setelah Kaji keluhan Membantu dalam menentukan
dengan agen dilakukan nyeri, catat kebutuhan manajemen nyeri dan
pencedera, distensi tindakan lokasi dan keefektifan program
jaringan oleh keperawata intensitas Matras yang lembut/ empuk,
akumulasi cairan/ n selama (skala 0-10). bantal yang besar akan mencegah
proses inflamasi, 3x24 jam Catat faktor- pemeliharaan kesejajaran tubuh
destruksi sendi. diharapkan faktor yang yang tepat, menempatkan stress
tidak ada mempercepat pada sendi yang sakit. Peninggian
Keluhan dan tanda- linen tempat tidur menurunkan
nyeri, tanda rasa sakit tekanan pada sendi yang
dengan non verbal terinflamasi/nyeri
kriteria : Berikan Mengistirahatkan sendi-sendi
matras/ kasur yang sakit dan mempertahankan
Menunjukk keras, bantal posisi netral. Penggunaan brace
an nyeri kecil,. dapat menurunkan nyeri dan dapat
hilang/ Tinggikan mengurangi kerusakan pada sendi
terkontrol linen tempat Mencegah terjadinya kelelahan
Terlihat tidur sesuai umum dan kekakuan sendi.

8
rileks, dapat kebutuhan Menstabilkan sendi, mengurangi
tidur/beristir Tempatkan/ gerakan/ rasa sakit pada sendi
ahat dan pantau Panas meningkatkan relaksasi
berpartisipa penggunaan otot, dan mobilitas, menurunkan
si dalam bantl, karung rasa sakit dan melepaskan
aktivitas pasir, gulungan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas
sesuai trokhanter, pada panas dapat dihilangkan dan
kemampuan bebat, brace. luka dermal dapat disembuhkan
. Dorong Meningkatkan relaksasi/
Mengikuti untuk sering mengurangi nyeri
program mengubah Meningkatkan realaksasi,
farmakologi posisi,. Bantu mengurangi tegangan otot/
s yang untuk bergerak spasme, memudahkan untuk ikut
diresepkan di tempat tidur, serta dalam terapi
sokong sendi Sebagai anti inflamasi dan efek
Menggabun yang sakit di analgesik ringan dalam
gkan atas dan mengurangi kekakuan dan
keterampila bawah, hindari meningkatkan mobilitas.
n relaksasi gerakan yang Rasa dingin dapat
dan menyentak. menghilangkan nyeri dan bengkak
aktivitas Anjurkan selama periode akut
hiburan ke pasien untuk
dalam mandi air
program hangat atau
kontrol mandi
nyeri. pancuran pada
waktu bangun
dan/atau pada
waktu tidur.
Sediakan
waslap hangat
untuk
mengompres
sendi-sendi
yang sakit
beberapa kali

9
sehari. Pantau
suhu air
kompres, air
mandi, dan
sebagainya.
Berikan
masase yang
lembut
Ajarkan
teknik non
farmakologi
(relaksasi,
distraksi,
relaksasi
progresif)
Beri obat
sebelum
aktivitas/
latihan yang
direncanakan
sesuai
petunjuk.
Kolaborasi:
Berikan obat-
obatan sesuai
petunjuk
(mis:asetil
salisilat)
Berikan
kompres
dingin jika
dibutuhkan
Gangguan Setelah Evaluasi/ Tingkat aktivitas/ latihan
mobilitas fisik dilakukan lanjutkan tergantung dari perkembangan/
berhubungan tindakan pemantauan resolusi dari peoses inflamasi
dengan deformitas keperawata tingkat Istirahat sistemik dianjurkan

10
skeletal, nyeri, n selama inflamasi/ rasa selama eksaserbasi akut dan
penurunan, 3x24 jam sakit pada seluruh fase penyakit yang
kekuatan otot. diharapkan sendi penting untuk mencegah
mobilitas Pertahankan kelelahan mempertahankan
fisik baik istirahat tirah kekuatan
dengan baring/ duduk Mempertahankan/
kriteria : jika diperlukan meningkatkan fungsi sendi,
jadwal kekuatan otot dan stamina umum.
Mempertah aktivitas untuk Catatan : latihan tidak adekuat
ankan memberikan menimbulkan kekakuan sendi,
fungsi periode karenanya aktivitas yang
posisi istirahat yang berlebihan dapat merusak sendi
dengan terus menerus Menghilangkan tekanan pada
tidak dan tidur jaringan dan meningkatkan
hadirnya/ malam hari sirkulasi.
pembatasan yang tidak Mempermudah perawatan diri
kontraktur. terganmggu. dan kemandirian pasien. Tehnik
Bantu pemindahan yang tepat dapat
Mempertah dengan rentang mencegah robekan abrasi kulit
ankan gerak Meningkatkan stabilitas (
ataupun aktif/pasif, mengurangi resiko cidera ) dan
meningkatk demikiqan memerptahankan posisi sendi
an kekuatan juga latihan yang diperlukan dan kesejajaran
dan fungsi resistif dan tubuh, mengurangi kontraktor
dari dan/ isometris jika Mencegah fleksi leher
atau memungkinka Memaksimalkan fungsi sendi
kompensasi n dan mempertahankan mobilitas
bagian Ubah posisi Menghindari cidera akibat
tubuh dengan sering kecelakaan/ jatuh
dengan jumlah Berguna dalam
Mendemons personel memformulasikan program
trasikan cukup. latihan/ aktivitas yang
tehnik/ Demonstrasika berdasarkan pada kebutuhan
perilaku n/ bantu tehnik individual dan dalam
yang pemindahan mengidentifikasikan alat
memungkin dan Menurunkan tekanan pada

11
kan penggunaan jaringan yang mudah pecah untuk
melakukan bantuan mengurangi risiko imobilitas
aktivitas mobilitas, mis, Mungkin dibutuhkan untuk
trapeze menekan sistem inflamasi akut
Posisikan
dengan bantal,
kantung pasir,
gulungan
trokanter,
bebat, brace
Gunakan
bantal
kecil/tipis di
bawah leher.
Dorong
pasien
mempertahank
an postur tegak
dan duduk
tinggi, berdiri,
dan berjalan
Berikan
lingkungan
yang aman,
misalnya
menaikkan
kursi,
menggunakan
pegangan
tangga pada
toilet,
penggunaan
kursi roda.
Kolaborasi:
konsul dengan
fisoterapi.

12
Kolaborasi:
Berikan matras
busa/
pengubah
tekanan.
Kolaborasi:
berikan obat-
obatan sesuai
indikasi
(steroid).
Gangguan Citra Setelah Dorong Berikan kesempatan untuk
Tubuh / Perubahan dilakukan pengungkapan mengidentifikasi rasa takut/
Penampilan Peran tindakan mengenai kesalahan konsep dan
berhubungan keperawata masalah menghadapinya secara langsung
dengan perubahan n selama tentang proses Mengidentifikasi bagaimana
kemampuan untuk 3x24 jam penyakit, penyakit mempengaruhi persepsi
melaksanakan diharapkan harapan masa diri dan interaksi dengan orang
tugas-tugas umum, gangguan depan. lain akan menentukan kebutuhan
peningkatan citra tubuh Diskusikan terhadap intervensi/ konseling
penggunaan berkurang arti dari lebih lanjut
energi, dengan kehilangan/ Isyarat verbal/non verbal orang
ketidakseimbangan criteria: perubahan terdekat dapat mempunyai
mobilitas. pada pengaruh mayor pada bagaimana
Mengungka pasien/orang pasien memandang dirinya sendiri
pkan terdekat. Nyeri konstan akan
peningkatan Memastikan melelahkan, dan perasaan marah
rasa percaya bagaimana dan bermusuhan umum terjadi
diri dalam pandangaqn Dapat menunjukkan emosional
kemampuan pribadi pasien ataupun metode koping
untuk dalam maladaptive, membutuhkan
menghadapi memfungsikan intervensi lebih lanjut
penyakit, gaya hidup Membantu pasien untuk
perubahan sehari-hari, mempertahankan kontrol diri,
pada gaya termasuk yang dapat meningkatkan
hidup, dan aspek-aspek perasaan harga diri
kemungkina seksual. Meningkatkan perasaan harga

13
n Diskusikan diri, mendorong kemandirian, dan
keterbatasan persepsi mendorong berpartisipasi dalam
Menyusun pasienmengena terapi
rencana i bagaimana Mempertahankan penampilan
realistis orang terdekat yang dapat meningkatkan citra
untuk masa menerima diri
depan. keterbatasan. Memungkinkan pasien untuk
Akui dan merasa senang terhadap dirinya
terima sendiri. Menguatkan perilaku
perasaan positif. Meningkatkan rasa
berduka, percaya diri
bermusuhan, Pasien/orang terdekat mungkin
ketergantungan membutuhkan dukungan selama
. berhadapan dengan proses jangka
Perhatikan panjang/ ketidakmampuan
perilaku Mungkin dibutuhkan pada sat
menarik diri, munculnya depresi hebat sampai
penggunaan pasien mengembangkan
menyangkal kemapuan koping yang lebih
atau terlalu efektif
memperhatika
n perubahan
Susun
batasan pada
perilaku mal
adaptif. Bantu
pasien untuk
mengidentifika
si perilaku
positif yang
dapat
membantu
koping
Ikut sertakan
pasien dalam
merencanakan

14
perawatan dan
membuat
jadwal
aktivitas
Bantu dalam
kebutuhan
perawatan
yang
diperlukan
Berikan
bantuan positif
bila perlu.
Kolaborasi:
Rujuk pada
konseling
psikiatri, mis:
perawat
spesialis
psikiatri,
psikolog.
Kolaborasi:
Berikan obat-
obatan sesuai
petunjuk, mis;
anti ansietas
dan obat-
obatan
peningkat alam
perasaan.
Defisit perawatan Setelah Diskusikan Mungkin dapat melanjutkan
diri berhubungan dilakukan tingkat fungsi aktivitas umum dengan
dengan kerusakan tindakan umum (0-4) melakukan adaptasi yang
musculoskeletal, keperawata sebelum diperlukan pada keterbatasan saat
penurunan n selama timbul awitan/ ini
kekuatan, daya 3x24 jam eksaserbasi Mendukung kemandirian
tahan, nyeri pada diharapkan penyakit dan fisik/emosional

15
waktu bergerak, klien dapat potensial Menyiapkan untuk
depresi. mengatur perubahan meningkatkan kemandirian, yang
kegiatan yang sekarang akan meningkatkan harga diri
sehari-hari, diantisipasi. Berguna untuk menentukan alat
dengan Pertahankan bantu untuk memenuhi kebutuhan
criteria mobilitas, individual. Mis; memasang
hasil: kontrol kancing, menggunakan alat bantu
terhadap nyeri memakai sepatu, menggantungkan
Melaksanak dan program pegangan untuk mandi pancuran
an aktivitas latihan. Mengidentifikasi masalah-
perawatan Kaji masalah yang mungkin dihadapi
diri pada hambatan karena tingkat kemampuan actual
tingkat yang terhadap Mungkin membutuhkan
konsisten partisipasi berbagai bantuan tambahan untuk
dengan dalam persiapan situasi di rumah
kemampuan perawatan diri.
individual Identifikasi
/rencana untuk
Mendemons modifikasi
trasikan lingkungan
perubahan Kolaborasi:
teknik/ gaya Konsul dengan
hidup untuk ahli terapi
memenuhi okupasi.
kebutuhan Kolaborasi:
perawatan Atur evaluasi
diri. kesehatan di
rumah sebelum
Mengidentif pemulangan
ikasi dengan
sumber- evaluasi
sumber setelahnya.
pribadi/ Kolaborasi :
komunitas atur konsul
yang dapat dengan
memenuhi lembaga

16
kebutuhan lainnya, mis:
perawatan pelayanan
diri. perawatan
rumah, ahli
nutrisi.

17
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Penyakit reumatik adalah kerusakan tulang rawan sendi yang
berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis
ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak
pada sendi – sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban.
Artritis rematoid adalah merupakan penyakit inflamasi sistemik kronik
dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ
tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit
ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat
juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah.

B. SARAN
Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran
sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu
pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang, diantaranya :
1. Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti
tentang rencana keperawatan pada pasien dengan rheumatoid artritis,
pendokumentasian harus jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik
dengan klien dan keluarga.
2. Dalam rangka mengatasi masalah resiko injuri pada klien dengan
rheumatoid artritis maka tugas perawat yang utama adalah sering
mengobservasi akan kebutuhan klien yang mengalami rheumatoid artritis.
3. Untuk perawat diharapkan mampu menciptakan hubungan yang harmonis
dengan keluarga sehingga keluarga diharapkan mampu membantu dan
memotivasi klien dalam proses penyembuhan.

18
DAFTAR PUSTAKA

Doenges E Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta

Kalim, Handono. 1996. Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit FKUI: Jakarta.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculaapius FKUI:Jakarta.

Prince, Sylvia Anderson. 1999. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.


EGC: Jakarta.

Smeltzer, Suzzanne C.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. .Jakarta: EGC.

Ganong.1998.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC

Boedhi Darmojo & Hadi Martono. 1999. Buku Ajar Geriatri. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.

Lemone & Burke, 2001. Medical Surgical Nursing; Critical Thinking in Client Care,
Third Edition, California : Addison Wesley Nursing.

19