Anda di halaman 1dari 85

Kata Pengantar

Matematika merupakan ilmu universal yang berguna bagi kehidupan manusia


dan juga mendasari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, serta
mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin untuk meningkatkan dan
mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi
informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di
bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang, dan matematika diskrit. Untuk
menguasai dan mencipta teknologi di masa depan, diperlukan penguasaan dan
pemahaman atas matematika yang kuat sejak dini. Untuk membantu dan
mempermudah guru dalam melakukan proses pembelajaran, diperlukan pedoman
sebagai alat pandu dalam melakukan pembelajaran di kelas, sehingga materi yang akan
disampaikan lebih sistematis dan efektif. Maka dari itu, kami membuat sebuah Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai pedoman guru dalam melakukan
pembelajaran di kelas.
Kami menyadari bahwa RPP yang kami susun masih jauh dari sempurna. Untuk
itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang menbangun untuk penyempurnaan pada
edisi selanjutnya. Akhir kata, semoga RPP ini dapat banyak membantuk kepada guru
ataupun tenaga pendidik terkait dalam proses pembelajaran, agar tujuan pembelajaran
yang henda di capai berjalan dengan baik.
Daftar Isi
Bagian I Petunjuk Umum
A. Pendahuluan
B. Pengertian, Tujuan, dan Ruang Lingkup Pembelajaran Matematika
1. Pengertian Pembelajaran Matematika
2. Tujuan Pembelajaran Matematika
3. Ruang Lingkup Pembelajaran Matematika
C. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta Struktur KI dan KD Pembelajaran
Matematika
D. Strategi Pembelajaran Matematika
E. Media Pembelajaran
1. Media Nonelektronik
2. Media Elektronik
F. Proses Pembelajaran
1. Kegiatan Apersepsi
2. Kegiatan Inti
3. Kegiatan Umpan Balik
4. Pengayaan dan Remedial
G. Evaluasi Pembelajaran
1. Aspek Penilaian
2. Teknik Penilaian
3. Penilaian Sikap, Pengetahuan, dan Keterampilan pada pembelajaran
Bagian II Petunjuk Khusus
A. Pendahuluan
B. Pelaksanaan Pembelajaran
C. Langkah Pembelajaran Umum
Bab 1 Fungsi Eksponensial dan Logaritma
Bab 2 Vektor
Bagian I
Petunjuk Umum
A. Pendahuluan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Matematika ini disusun sebagai
panduan bagi guru dalam melaksanaan kegiatan pembelajaran sesuai buku
siswa. Buku ini terdiri atas dua bagian utama. Bagian pertama berisi petunjuk
umum tentang pembelajaran Matematika. Bagian kedua menguraikan
pembelajaran Matematika untuk setiap Bab, Sub-Bab, dan Sub-sub Bab, sesuai
dengan buku siswa. Melalui RPP ini, diharapkan guru mendapatkan kemudahan
dalam pemahaman tentang cara atau teknik pembelajaran, pemberian nilai dan
remidial. RPP mata pelajaran Matematika ini diharapkan dapat membantu guru
dalam memfasilitasi peserta didik untuk belajar secara aktif, efisien, dan efektif,
sehingga mampu mencapai Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

B. Pengertian, Tujuan, dan Ruang Lingkup Pembelajaran Matematika


1. Pengertian Pembelajaran Matematika
Matematika merupakan ilmu universal yang berguna bagi kehidupan
manusia dan juga mendasari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
modern, serta mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin untuk
meningkatkan dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan
pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh
perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori
peluang, dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi
di masa depan, diperlukan penguasaan dan pemahaman atas matematika
yang kuat sejak dini.
NCTM (National Council of Teachers of Mathematics, 2000) telah
menyatakan pentingnya matematika dengan pernyataan melalui pernyataan
bahwa dalam dunia yang terus berubah ini, siapa saja yang memahami dan
terampil dalam matematika akan secara signifikan meningkatkan
kesempatan dan pilihan untuk membentuk masa depannya. Kompetensi
matematis membuka pintu masa depan yang produktif. Ketiadaan
kompetensi matematis membiarkan pintu-pintu tersebut tetap tertutup. Bagi
seorang peserta didik keberhasilan mempelajari matematika akan membuka
pintu karir yang cemerlang. Bagi para warga negara, penguasaan matematika
akan menunjang pengambilan keputusan yang tepat. Bagi suatu negara,
kompetensi matematis akan menyiapkan warganya untuk bersaing dan
berkompetisi di bidang ekonomi dan teknologi.
Kelemahan pembelajaran matematika saat ini para siswa tidak dapat
menghubungkan konsep-konsep matematika di sekolah dengan pengalaman
mereka sehari-hari. Pembelajaran matematika terlalu formal, kurang
mengkaitkan dengan makna, pemahaman, dan aplikasi dari konsep-konsep
matematika, serta gagal dalam memberikan perhatian yang cukup terhadap
kemampuan penalaran dan pemecahan masalah (NCTM, 2014). Sementara
Callison (2013) menyebutkan bahwa para siswa membutuhkan
pengembangan kemampuan praktis matematika seperti pemecahan masalah,
membuat hubungan, memahami berbagai representasi dari ide-ide
matematika, mengkomunikasikan proses pemikiran mereka, dan
menjelaskan penalaran penalaran yang mereka lakukan.
Kemampuan praktis matematika tersebut merupakan bagian dari
kecakapan hidup yang harus dimiliki peserta didik terutama dalam
pengembangan penalaran, komunikasi, dan pemecahan masalah yang
dihadapi dalam kehidupan peserta didik sehari-hari. Oleh karena itu Mata
pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari
sekolah dasar, untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir
logis, analitis, sistematis, kritis, inovatif dan kreatif, serta kemampuan
bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat
memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi
untuk hidup lebih baik pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan
sangat kompetitif. Dalam melaksanakan pembelajaran matematika,
diharapkan bahwa peserta didik harus dapat merasakan kegunaan belajar
matematika.
2. Tujuan Pembelajaran Matematika
a. Tujuan Umum
Kegiatan Pembelajaran matematika dilakukan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi
aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik. Untuk itu perencanaan pembelajaran, pelaksanaan
proses pembelajaran serta penilaian proses maupun hasil pembelajaran,
remedi, pengayaan, dan interaksi dengan orang tua, diarahkan untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 103
tahun 2013 tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Menengah,
prinsip pembelajaran adalah sebagai berikut :
a. Peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu.
b. Peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar.
c. Proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah.
d. Pembelajaran berbasis kompetensi.
e. Pembelajaran terpadu.
f. Pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki
kebenaran multi dimensi.
g. Pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif.
b. Tujuan Khusus
Setelah mempelajari matematika peserta didik diharapkan dapat
1) memahami konsep matematika, yang merupakan kompetensi dalam
menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan menggunakan konsep
maupun algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam
pemecahan masalah. Indikator pencapaian kecakapan matematika,
meliputi: menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari;
mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi tidaknya
persyaratan yang membentuk konsep tersebut; mengidentifikasi
sifat-sifat operasi atau konsep; menerapkan konsep secara logis;
memberikan contoh atau contoh kontra (contoh penyangkal) dari
konsep yang dipelajari; menyajikan konsep dalam berbagai macam
bentuk representasi matematis (tabel, grafik, diagram, model
matematika, atau cara lainnya); mengaitkan berbagai konsep dalam
matematika maupun di luar matematika; dan mengembangkan syarat
perlu atau syarat cukup berlakunya suatu konsep.
Termasuk dalam kecakapan ini adalah menggunakan
prosedur, yaitu kompetensi yang ditunjukkan saat bekerja dan
menerapkan konsep-konsep matematika seperti melakukan operasi
hitung, melakukan operasi aljabar, melakukan manipulasi aljabar, dan
keterampilan melakukan pengukuran dan melukis/
menggambarkan / merepresentasikan konsep keruangan. Adapun
Indikator-indikator pencapaian kecakapan ini, meliputi:
menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur; memodifikasi
atau memperhalus prosedur; mengembangkan prosedur; dan
menggunakan matematika dalam konteks matematika seperti
melakukan operasi matematika yang standar ataupun tidak standar
(manipulasi aljabar) dalam menyelesaikan masalah matematika.
2) Menggunakan pola sebagai dugaan dalam penyelesaian masalah, dan
mampu membuat generalisasi berdasarkan fenomena atau data yang
ada. Indikator-indikator pencapaian kecakapan ini, meliputi:
mengajukan dugaan (conjecture); menarik kesimpulan dari suatu
pernyataan; memberikan alternatif bagi suatu argument; dan
menemukan pola pada suatu gejala matematis.
3) Menggunakan penalaran pada sifat, melakukan manipulasi
matematika baik dalam penyederhanaan, maupun menganalisa
komponen yang ada dalam pemecahan masalah dalam konteks
matematika maupun di luar matematika (kehidupan nyata, ilmu, dan
teknologi) yang meliputi kemampuan memahami masalah,
membangun model matematika, menyelesaikan model dan
menafsirkan solusi yang diperoleh termasuk dalam rangka
memecahkan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Indikator
pencapaian kecakapan matematika ini meliputi: memahami masalah,
mengorganisasi data dan memilih informasi yang relevan dalam
mengidentifikasi masalah; menyajikan suatu rumusan masalah secara
matematis dalam berbagai bentuk; memilih pendekatan dan strategi
yang tepat untuk memecahkan masalah, menggunakan atau
mengembangkan strategi pemecahan masalah untuk mendapatkan
solusi dan memaknai solusi yang diperoleh.
4) Mampu mengkomunikasikan gagasan,penalaran serta mampu
menyusun bukti matematika dengan menggunakan kalimat lengkap,
simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan
atau masalah. Indikator-indikator pencapaian kecakapan ini, meliputi:
5) memberikan alasan atau bukti terhadap kebenaran suatu pernyataan;
menduga dan memeriksa kebenaran dugaan (conjecture); memeriksa
kesahihan atau kebenaran suatu argumen dengan penalaran induksi;
menurunkan atau membuktikan rumus dengan penalaran deduksi;
dan menduga dan memeriksa kebenaran dugaan (conjecture).
6) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan,
yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam
mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam
pemecahan masalah. Indikator-indikator pencapaian kecakapan ini,
meliputi: memiliki rasa ingin tahu yang tinggi; bersikap penuh
perhatian dalam belajar matematika; bersikap antusias dalam belajar
matematika; bersikap gigih dalam menghadapi permasalahan dan
memiliki penuh percaya diri dalam belajar dan menyelesaikan
masalah.
7) Memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dalam
matematika dan pembelajarannya, seperti taat azas, konsisten,
menjunjung tinggi kesepakatan, toleran, menghargai pendapat orang
lain, santun, demokrasi, ulet, tangguh, kreatif, menghargai
kesemestaan (konteks, lingkungan), kerjasama, adil, jujur, teliti,
cermat, bersikap luwes dan terbuka, memiliki kemauan berbagi rasa
dengan orang lain.
8) Melakukan kegiatan–kegiatan motorik yang menggunakan
pengetahuan matematika.
9) Menggunakan alat peraga sederhana maupun hasil teknologi untuk
melakukan kegiatan-kegiatan matematika. Kecakapan atau
kemampuan-kemampuan tersebut saling terkait erat, yang satu
memperkuat sekaligus membutuhkan yang lain.
3. Ruang Lingkup Pembelajaran Matematika
Dalam setiap aspek kehidupan, manusia perlu menyediakan berbagai
kebutuhan dengan jumlah tertentu, yang berkaitan dengan aktifitas
menghitung dan mengarah pada konsep aritmetika (studi tentang bilangan)
serta aktifitas mengukur yang mengarah pada konsep geometri (studi
tentang bangun, ukuran dan posisi).
Saat ini, banyak ditemukan kaidah atau aturan untuk memecahkan
masalah-masalah yang berhubungan dengan pengukuran, yang biasanya
ditulis dalam rumus atau formula matematika, dan ini dipelajari dalam
aljabar. Pengukuran dapat dilakukan secara langsung misal panjang atau
lebar kertas, kebun, atau rumah serta proses pengukuran yang dilakukan
secara tak langsung seperti pengukuran tinggi gunung, pohon, atau
pengukuran jarak kapal ke pantai dan ini dipelajari dalam trigonometri.
Cakupan materi matematika sebagai mata pelajaran pada kelompok
peminatan matematika dan ilmu-ilmu alam di SMA/MA merupakan materi
pendalaman yang meliputi Aljabar, Geometri, Trigonometri, Statistika dan
Peluang, serta Kalkulus. Kompetensi lulusan SMA ditekankan pada:
1) Menunjukkan sikap logis, kritis, analitis, kreatif, cermat dan teliti,
bertanggung jawab, responsif, dan tidak mudah menyerah dalam
memecahkan masalah.
2) Memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan ketertarikan pada matematika,
percaya pada daya dan kegunaan matematika, serta sikap kritis yang
terbentuk melalui pengalaman belajar.
3) Memiliki sikap terbuka, santun, objektif, dan menghargai karya teman
dalam interaksi kelompok maupun aktivitas sehari-hari.
4) Memiliki kemampuan mengkomunikasikan gagasan matematika dengan
jelas dan efektif dan dalam menentukan strategi penyelesaian masalah
yang efektif, mengevaluasi hasil, dan melakukan perumusan.
5) Menjelaskan pola dan menggunakannya untuk melakukan prediksi dan
kecenderungan jangka panjang dalam konteks dunia nyata;
menggunakannya untuk memprediksi kecenderungan (trend) atau
memeriksa kesahihan argument.
6) Menggunakan sifat-sifat transformasi untuk menyelidiki kesebangunan
dan kekongruenan dan menggunakannya untuk memahami perbandingan
dan persamaan trigonometri, serta memahami dan menggunakan konsep
fungsi dan identitas trigonometri dalam penyelesaian masalah.
7) Mengenal, menggali dan menggunakan sifat-sifat operasi (termasuk
komposisi) dalam menyelesaikan masalah sistem persamaan dan
pertidaksamaan linear dan kuadrat, analisis grafik fungsi pangkat,
logaritma dan nilai mutlak, dibantu dengan teknik dan tafsiran
geometrinya.
8) Memanfaatkan pendekatan koordinat dalam menyelesaikan masalah
geometri (dan juga aljabar pada umumnya), serta menganalisis sifat-sifat
sederhana dari bangun ruang seperti diagonal ruang, diagonal bidang, dan
bidang diagonal.
9) Memahami sifat geometri bidang yang menyangkut dalil titik berat
segitiga, dalil perpotongan, dalil segmen garis dan menggunakannya
dalam membuktikan sifat geometri, serta berbagai irisan kerucut dan
tafsirannya melalui grafik dan persamaan.
10)Menggunakan konsep limit, turunan dan integral untuk memahami
kecenderungan fungsi, menghampiri fungsi, laju perubahan,
menyelesaikan masalah akumulasi dan hampirannya (misal luas dan
volume), teknik pengintegralan substitusi dan parsial dan dalam
pemodelan.
11)Memberi estimasi dengan menggunakan perhitungan mental dan sifat-
sifat aljabar, visualisasi geometris dan data statistic.
12)Pemanfaatan rasio dan proporsi dalam penyederhanakan masalah,
mengestimasi dan menghitung perubahan rasio.
13)Memahami, menentukan dan memanfaatkan konsep peluang didasarkan
frekuensi relatif dan teknik kombinatorika, serta membandingkan dan
menilai keefektifan berbagai metoda penyajian data.
14)Mengevaluasi penyajian data dengan cara membandingkan penyajian
data, statistik, dan data actual.
15)Memahami konsep dan operasi matriks dan vektor (termasuk hasilkali
titik, hasilkali silang) dan menggunakannya dalam pemecahan masalah
geometri bidang dan ruang.
Selanjutnya ruang lingkup matematika SMA/MA disajikan pada Gambar 1.1.
berikut.

Aljabar
Kelas
Kalkulus

Statistika
Kelas
X
XII
Trigonometri

Geometri X
XI

Aljabar
XI
Trigonometri XII

Geometri Strand
Aljabar

Gambar 1.1. Ruang lingkup matematika SMA/MA


Peta Materi pada Mata Pelajaran Matematika Peminatan Sekolah
Menengah Atas

Ruang Lingkup Kelas X


Aljabar - Fungsi eksponensial dan logaritma
- Sistem persamaan linear dan kuadrat dua peubah
- Sistem pertidaksamaan linear dan kuadrat dua peubah
- Pertidaksamaan pecahan, irrasional dan mutlak
- Skalar dan vektor
- Operasi aljabar vektor
Geometri - Sifat kesimetrian dan sifat sudut pada segitiga,
- Segi empat dan lingkaran,
Ruang Lingkup Kelas X
- Dalil titik tengah dan dalil intersep pada segitiga, dalil
segmen garis
C. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta Struktur KI dan KD Pembelajaran
Matematika
1. Kompetensi Matematika Lulusan di Pendidikan Dasar dan Menengah
Pendidikan Matematika di sekolah diharapkan memberikan kontribusi
dalam mendukung pencapaian kompetensi lulusan pendidikan dasar dan
menengah melalui pengalaman belajar, agar mampu:
a. memahami konsep dan menerapkan prosedur matematika dalam
kehidupan sehari-hari,
b. membuat generalisasi berdasarkan pola, fakta, fenomena atau data yang
ada,
c. melakukan operasi matematika untuk penyederhanaan, dan analisis
komponen yang ada,
d. memecahkan masalah dan mengomunikasikan gagasan melalui simbol,
tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah,
e. melakukan penalaran matematis yang meliputi membuat dugaan,
memverifikasinya dan menggeneralisasi berdasarkan pola, fakta,
fenomena atau data yang ada,
f. menumbuhkan sikap positif seperti sikap logis, kritis, cermat, teliti, dan
tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah.
Kompetensi matematika pendidikan dasar dan menengah digambarkan
sebagai berikut.
Kompetensi Mema hami Kons ep da n
Menerapkan Pros edur
Matematika Matematika

Membuat General i s as i

16.67% 16.67% Mela kukan operas i


untuk penyederha naa n
a nal i s i s komponen

Pena l ara n matematis


16.67% 16.67%
Memeca hkan Mas a la h
dan
Mengkomuni ka s i ka n
Ga gas an

Menumbuhkan Si ka p
16.67% 16.67% Pos i tif

Gambar 1.1. Kompetensi Matematika


2. Kompetensi Matematika Kelompok C (Peminatan) SMA/SMK/MA/MAK
Kompetensi Lulusan Matematika Peminatan di Sekolah Menengah Atas
adalah sebagai berikut.
Aspek Kompetensi
Aljabar Menggunakan sistem persamaan dan pertidaksamaan
linear dan kuadrat dua variabel, sistem persamaan dan
pertidaksamaan kuadrat dua variabel, fungsi
eksponensial dan logaritma, pertidaksamaan mutlak,
pecahan, irrasional, operasi dan sifat-sifat vektor dalam
ruang, operasi pada polinomial dalam pemecahan
masalah
Geometri dan Menggunakan irisan kerucut (lingkaran, ellips,
Pengukuran parabola, dan hiperbola), hubungan antar lingkaran,
garis singgung persekutuan, dan luas daerah irisan dua
lingkaran dalam pemecahan masalah
Statistika dan Menggunakan statistika inferensial, data berdistribusi
Peluang binomial dan normal dalam pemecahan masalah
kehidupan sehari-hari
Trigonometri Menggunakan persamaan trigonometri, rumus jumlah
dan selisih sinus dan cosinus dalam pemecahan
masalah
Kalkulus Menggunakan jumlah Riemann untuk luas daerah
tertutup, dan teorema dasar kalkulus, integral tentu dan
integral,limit aljabar, limit trigonometri, limit tak
hingga, turunan parsial, trigonometri, diferensial lanjut
trigonometri (maksimum, minimum, garis singgung
fungsi trigonometri) kemonotonan, titik belok, selang
kecekungan) dalam pemecahan masalah
3. Kerangka Pengembangan Kurikulum Matematika Kelompok C
(Peminatan) SMA/SMK/MA/MAK
Pengembangan kurikulum matematika ke depan diarahkan untuk
meningkatkan kecakapan hidup (life skill), terutama dalam membangun
kreatifitas, kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi atau bekerjasama dan
keterampilan berkomunikasi. Selain itu, pengembangan kurikulum
matematika juga menekankan kemahiran atau keterampilan menggunakan
perangkat teknologi untuk melakukan perhitungan teknis (komputasi) dan
penyajian dalam bentuk gambar dan grafik (visualisasi), yang penting untuk
mendukung keterampilan lainnya yang bersifat keterampilan lintas disiplin
ilmu dan keterampilan yang bersifat nonkognitif serta pengembangan nilai,
norma dan etika (soft skill). Adapun Kompetensi Inti dari pembelajaran
adalah sebagai berikut.
Kelas X Kelas XI Kelas XII
KI 1: Menghayati dan KI 1: Menghayati dan KI 1: Menghayati dan
mengamalkan ajaran mengamalkan ajaran mengamalkan ajaran
agama yang agama yang agama yang dianutnya.
dianutnya. dianutnya.
KI 2: Menghayati dan KI 2: Menghayati dan KI 2: Menghayati dan
mengamalkan mengamalkan mengamalkan perilaku
perilaku jujur, disiplin, perilaku jujur, disiplin, jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli tanggungjawab, peduli tanggungjawab, peduli
(gotong royong, (gotong royong, (gotong royong,
kerjasama, toleran, kerjasama, toleran, kerjasama, toleran,
damai), santun, damai), santun, damai), santun, responsif
responsif dan pro- responsif dan pro- dan pro-aktif dan
aktif dan aktif dan menunjukkan sikap
menunjukkan sikap menunjukkan sikap sebagai bagian dari
sebagai bagian dari sebagai bagian dari solusi atas berbagai
solusi atas berbagai solusi atas berbagai permasalahan dalam
permasalahan dalam permasalahan dalam berinteraksi secara
berinteraksi secara berinteraksi secara efektif dengan
efektif dengan efektif dengan lingkungan sosial dan
lingkungan sosial dan lingkungan sosial dan alam serta dalam
alam serta dalam alam serta dalam menempatkan diri
menempatkan diri menempatkan diri sebagai cerminan bangsa
sebagai cerminan sebagai cerminan dalam pergaulan dunia.
bangsa dalam bangsa dalam
pergaulan dunia. pergaulan dunia.
KI 3: Memahami, KI 3: Memahami, KI 3: Memahami,
menerapkan, menerapkan, dan menerapkan,
menganalisis menganalisis menganalisis dan
pengetahuan faktual, pengetahuan faktual, mengevaluasi
konseptual, konseptual, pengetahuan faktual,
prosedural prosedural, dan konseptual, prosedural,
berdasarkan rasa metakognitif dan metakognitif
ingintahunya tentang berdasarkan rasa berdasarkan rasa ingin
ilmu pengetahuan, ingin tahunya tentang tahunya tentang ilmu
teknologi, seni, ilmu pengetahuan, pengetahuan, teknologi,
budaya, dan teknologi, seni, seni, budaya, dan
humaniora dengan budaya, dan humaniora dengan
wawasan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kemanusiaan, wawasan kebangsaan, kenegaraan,
kebangsaan, kemanusiaan, dan peradaban terkait
kenegaraan, dan kebangsaan, penyebab fenomena dan
peradaban terkait kenegaraan, dan kejadian, serta
penyebab fenomena peradaban terkait menerapkan
dan kejadian, serta penyebab fenomena pengetahuan prosedural
menerapkan dan kejadian, serta pada bidang kajian yang
pengetahuan menerapkan spesifik sesuai dengan
prosedural pada pengetahuan bakat dan minatnya
bidang kajian yang prosedural pada untuk memecahkan
spesifik sesuai dengan bidang kajian yang masalah.
bakat dan minatnya spesifik sesuai dengan
untuk memecahkan bakat dan minatnya
masalah. untuk memecahkan
masalah.
KI 4: Mengolah, KI 4: Mengolah, KI 4: Mengolah, menalar,
menalar, dan menyaji menalar, dan menyaji menyaji, dan mencipta
dalam ranah konkret dalam ranah konkret dalam ranah konkret dan
dan ranah abstrak dan ranah abstrak ranah abstrak terkait
terkait dengan terkait dengan dengan pengembangan
pengembangan dari pengembangan dari dari yang dipelajarinya di
yang dipelajarinya di yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri
sekolah secara sekolah secara serta bertindak secara
mandiri, dan mampu mandiri, bertindak efektif dan kreatif, dan
menggunakan metoda secara efektif dan mampu menggunakan
sesuai kaidah kreatif, serta mampu metoda sesuai kaidah
keilmuan. menggunakan metoda keilmuan.
sesuai kaidah
keilmuan.
Kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial, dicapai melalui pembelajaran
tidak langsung (indirect teaching) yaitu keteladanan, pembiasaan, dan
budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta
kebutuhan dan kondisi peserta didik. Penumbuhan dan pengembangan
kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung,
dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan
karakter peserta didik lebih lanjut.
4. Kompetensi Dasar, Materi, dan Kegiatan Pembelajaran
Mata Pelajaran : Matematika Peminatan
Jenjang : SMA
Kelas : X (Sepuluh)
Alokasi Waktu : 102 JPL
Pembelajaran sikap spiritual dan sikap sosial dilaksanakan secara tidak
langsung (indirect teaching) melalui keteladanan, sistem pendidikan, dan
proses pembelajaran Pengetahuan dan Keterampilan.
Materi
Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran
3.3 Mendeskripsikan Fungsi  Mencermati pengertian
dan menentukan Eksponensial dan fungsi, mengamati grafik
penyelesaian fungsi Logaritma fungsi, sifat-sifat grafik
eksponensial dan fungsi eksponensial dan
fungsi logaritma fungsi logaritma, dan
menggunakan penerapannya pada
masalah kontekstual, masalah nyata dari
serta berbagai sumber belajar.
keberkaitanannya  Menyelesaikan masalah
4.3 Menyajikan dan yang berkaitan dengan
menyelesaikan fungsi eksponensial dan
masalah yang logaritma
Materi
Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran
berkaitan dengan  Menyajikan penyelesaian
fungsi eksponensial masalah yang berkaitan
dan fungsi logaritma dengan fungsi eksponensial
dan logaritma
3.5 Menjelaskan vektor,  Skalar dan  Mencermati deskripsi
operasi vektor, vektor serta konsep skalar dan vektor,
panjang vektor, operasi aljabar penggunaan skalar dan
sudut antarvektor vektor vektor untuk membuktikan
dalam ruang  Sifat berbagai sifat yang terkait
berdimensi dua kesimetrian dan dengan jarak dan sudut
(bidang) dan sifat sudut pada  Mencermati penyelesaian
berdimensi tiga segitiga; segi masalah yang berkaitan
4.5 Menyelesaikan empat dan dengan skalar dan vektor
masalah yang lingkaran; dalil  Mencermati sifat
berkaitan dengan titik tengah dan kesimetrian dan sifat sudut
vektor, operasi dalil intersep pada segitiga
vektor, panjang pada segitiga,  Mencermati sifat segi empat
vektor, sudut antar dalil segmen dan lingkaran
vektor dalam ruang garis  Menggunakan dalil titik
berdimensi dua tengah dan dalil intersept
(bidang) dan pada segitiga untuk
berdimensi tiga menyelesaikan masalah
geometri
 Menggunakan dalil segmen
garis untuk menyelesaikan
masalah geometri
 Menyelesaikan masalah
yang berkaitan dengan
vektor, operasi vektor,
panjang vektor, sudut antar
vektor dalam ruang
Materi
Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran
berdimensi dua (bidang)
dan berdimensi tiga
 Menyajikan penyelesaian
masalah yang berkaitan
dengan vektor, operasi
vektor, panjang vektor,
sudut antar vektor dalam
ruang berdimensi dua
(bidang) dan berdimensi
tiga

D. Strategi Pembelajaran Mata Pelajaran


1. Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan (approach) pembelajaran merupakan titik tolak atau sudut
pandang kita terhadap proses pembelajaran. Menurut Roy Killen (1998) ada
dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada
guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada
peserta didik (student-centred approaches) yang digunakan dalam
perancangan kurikulum dan pembelajaran saat ini.
Pembelajaran matematika hendaknya berangkat dari hal-hal yang bersifat
kongkret menuju abstrak. Berdasarkan hal tersebut maka dalam pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar guru dituntut lebih banyak menggunakan media
dan alat peraga yang menarik yang sesuai dengan tuntutan kompetensi.
Belajar matematika artinya membangun pemahaman tentang konsep-
konsep, fakta, prosedur, dan gagasan matematika. Menurut Hierbert dan
Carpenter (dalam Goos et al., 2007) bahwa memahami adalah membuat
pengaitan antara gagasan, fakta, dan prosedur. Mengenalkan gaya belajar
kepada peserta didik dan mengadaptasi berbagai macam strategi
pembelajaran akan memudahkan peserta didik memahami konsep-konsep
matematika. Hal ini didukung oleh pendapat Strong, Thomas, Perini dan
Silver, (dalam Mink, 2010) yang mengatakan bahwa “pengenalan gaya belajar
matematika dan mengadaptasi strategi pembelajaran matematika yang
berbeda dapat memfasilitasi peserta didik belajar”
Dengan pemahaman seperti ini, seorang guru dimungkinkan untuk
berupaya memberikan inspirasi kepada peserta didik dengan gagasan-
gagasan matematika yang menantang dan menyenangkan yang dikemas
dalam pembelajaran matematika yang interaktif. Sehingga secara kreatif
peserta didik dapat menciptakan atau menemukan kembali konsep-konsep
matematika yang sebelumnya telah ditemukan para pendahulunya. Dengan
adanya ruang gerak untuk proses penemuan bagi peserta didik
memungkinkan peserta didik memiliki prakarsa dan kreativitas. Sebuah
studi yang dilakukan Izzati (inpress) bahwa kemandirian peserta didik dalam
belajar dapat meningkat secara signifikan setelah peserta didik belajar
matematika dengan salah satu pendekatan yang tergolong inovatif.

a. Ada tujuh prinsip pembelajaran menurut NRC(2002) di mana guru dapat


mengorkestrakan kurikulum, pembelajaran, dan penilaian yang efektif.
b. Belajar dengan pemahaman terfasilitasi ketika pengetahuan dikaitkan
dengan dan disusun melingkupi konsep utama dan prinsip-prinsip dari
suatu disiplin
c. Pengetahuan awal peserta didik merupakan titik tolak untuk terjadinya
pembelajaran yang efektif
d. Belajar metacognitif (memonitor diri sendiri, self- regulated learning)
untuk peningkatan prestasi
e. Pengenalan tentang keragaman kemampuan peserta didik penting untuk
antisipasi dalam proses belajar dan pembelajaran yang efektif
f. Keyakinan peserta didik tentang kemampuan belajar mempengaruhi
kesuksesan pembelajaran peserta didik.
g. Kegiatan dan latihan praktis di mana orang terlibat selama proses
a. pembelajaran membentuk apa yang peserta didik pelajari
h. Interaksi sosial yang didukung memperkuat kemampuan peserta didik
belajar dengan pemahaman
Pelaksanaan pembelajaran matematika diharapkan menggunakan
pendekatan dan strategi pembelajaran yang memicu peserta didik agar aktif
berperan dalam proses pembelajaran dan membimbing peserta didik dalam
proses pengajuan masalah (problem posing) dan pemecahan masalah
(problem solving). Pada tahap akhir diharapkan pembelajaran matematika
dapat membentuk sikap-sikap positif peserta didik seperti kedisiplinan,
tanggung jawab, toleransi, kerja keras, kejujuran, menghargai perbedaan,
dan lain lain. Selanjutnya di kemudian hari dapat terbentuk pola berpikir
dan bertindak ilmiah yang merupakan suatu kebiasaan. Untuk mencapai
hasil pembelajaran seperti yang diharapkan sekolah atau guru perlu
mengembangkan model, perencanaan atau pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam merencanakan pembelajaran sebagai kerangka konseptual
yang menguraikan prosedur sistematis dalam mengorganisasi pengalaman
belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai
pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam
merencanakan aktivitas pembelajaran.
2. Strategi Pembelajaran
Berdasarkan pendekatan yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke
dalam strategi pembelajaran. Menurut Kemp (dalam Wina, 2008)
mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan
pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien. David (dalam Wina,
2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna
perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat
konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diterapkan dalam
pelaksanaan pembelajaran.
Dalam mengimplementasikan metode pembelajaran, seorang pendidik
perlu menetapkan teknik atau cara tertentu agar proses pembelajaran
berjaan efektif dan efisien, serta taktik atau gaya individu dalam
melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu, misalnya dalam
menggunakan ilustrasi atau menggunakan gaya bahasa atau dialek setempat
agar materi pembelajaran mudah dipahami.
Pembelajaran matematika hendaknya berangkat dari hal-hal yang bersifat
kongkrit menuju abstrak. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru
dituntut lebih mengoptimalkan penggunaan peralatan, media, alat peraga
dan sumber belajar lainnya yang menarik dan berdaya guna sesuai dengan
tuntutan kompetensi. Pembelajaran matematika intinya adalah pada
problem solving, namun problem solving yang dilakukan secara otomatis
juga menyentuh persoalan penalaran untuk membangun pola berpikir kritis
peserta didik.
Strategi pembelajaran merupakan perencanaan tindakan (rangkaian
kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber
daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Terdapat tiga aspek yang bisa dilakukan dalam
memenuhi strategi pembelajaran matematika, antara lain: 1) kemampuan
khusus guru, dimana seorang guru memiliki kemampuan dalam menguasai
materi yang akan disampaikan kepada peserta didik; 2) wawasan dan
kemampuan, dimana wawasan seorang guru dalam menyampaikan materi
menjadi hal penting yang bisa mempengaruhi cara berpikir seorang peserta
didik; 3) kemampuan dalam berkomunikasi, dimana guru dan peserta didik
bisa berkomunikasi secara baik sehingga jika peserta didik merasa ada
kesulitan berani berkonsultasi dengan peserta didik. Untuk menciptakan
pembelajaran yang dimaksud maka guru harus memperhatikan pilar-pilar
pembelajaran, yaitu:
a. Konsep-konsep disajikan dengan logika matematika sederhana dan
disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta didik
sehingga baik peserta didik berkemampuan rendah pun dapat
merasakan kemudahan mempelajari konsep-konsep tersebut. Guru
diharapkan memiliki pengetahuan mengenai kemampuan yang peserta
didik miliki yang terkait dengan materi yang akan diajarkan.
b. Menumbuhkan keasyikan dalam belajar, rasa ingin tahu sehingga akan
terus mengeksplor serta melakukan investigasi dalam kegiatan belajar
dalam memecahkan soal-soal dan masalah-masalah dalam materi
terkait.
c. Menumbuhkan suasana kesenangan dan keriangan (fun) dalam kegiatan
pembelajaran, yaitu terciptanya suasana rileks, tidak tegang atau cemas
(anxiety) baik, bebas berpendapat yang berbeda dari pendapat yang
lainnya, dihargai sekalipun pendapatnya tidak sepenuhnya benar,
kepekaan dan peduli dalam merespons terhadap masalah yang
dikemukakan /dialami peserta didik, serta lingkungan belajar menarik
(misalnya keadaan kelas terang, pengaturan tempat duduk leluasa untuk
peserta didik bergerak)
d. Aktif, yaitu pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student
centered). Untuk mengaktifkan peserta didik, kata kunci yang dapat
dipegang guru adalah adanya kegiatan yang dirancang untuk dilakukan
peserta didik baik kegiatan berpikir maupun berbuat (hands on dan
minds on activities). Fungsi dan peran guru lebih banyak sebagai
fasilitator.
e. Pembelajaran didesain sedemikian rupa sehingga dapat menstimulasi
peserta didik untuk mengembangkan gagasannya (kreatif dan inovatif)
dengan memanfatkan sumber belajar yang ada. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara: menyajikan suatu situasi yang menarik (kontekstual)
sehingga peserta didik dapat merespon untuk menyelesaikan
permasalahan sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan mereka
(informal), memberi kebebasan untuk mengembangkan gagasan dan
pengetahuan baru, bersikap menghormati dan menghargai ide – ide
peserta didik, memberikan waktu yang cukup unuk peserta didik
berpikir dan menghasilkan karya, serta mengajukan pertanyaan –
pertanyaan untuk menggugah kreativitas seperti : “ mengapa”, “
bagaimana” , “ apa yang terjadi jika….”, dan bukan pertanyaan “ apa” atau
“kapan”.
f. Efektivitas, yaitu pembelajaran yang berfokus pada kompetensi yang
harus dikuasai peserta didik setelah proses pembelajaran berlangsung
(seperti dicantumkan dalam tujuan pembelajaran) dengan mengguna-
kan cara yang efisien.
g. Kreatif, yaitu pembelajaran didesain sedemikian rupa sehingga dapat
menstimulasi peserta didik untuk mengembangkan gagasannya dengan
pembelajaran didesain sedemikian rupa sehingga dapat menstimulasi
peserta didik untuk mengembangkan gagasannya (kreatif dan inovatif)
dengan memanfatkan sumber belajar yang ada
h. Efektif, yaitu pembelajaran yang mencapai kompetensi yang harus
dikuasai peserta didik setelah proses pembelajaran berlangsung (seperti
dicantumkan dalam tujuan pembelajaran) dengan menggunakan cara
yang efisien.
Guru dituntut adanya kemampuan komunikasi yang baik, yang membantu
peserta didik memahami apa yang guru sampaikan dalam pembelajaran.
Beberapa teknik untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran:
a. Teknik menjelaskan, teknik ini sangat perlu dikuasai guru, namun guru
senantiasa membatasi diri agar tidak terjebak ke ceramah murni yang
menghilangkan peranan peserta didik. gunakan bahasa yang sederhana,
jelas dan mudah dimengerti serta komunikatif, ucapan hendaknya
terdengar dengan jelas, lengkap tertentu, dengan intonasi yang tepat,
bahan disiapkan dengan sistematis mengarah ke tujuan, penampilan
guru hendaknya menarik diselingi dengan gerak dan humor sehat,
adanya variasi atau selingan dengan metode lain, misalnya tanya jawab,
menggunakan alat bantu seperti lembar peraga (chart).
b. Teknik bertanya, untuk menggunakan tanya-jawab, perlu diketahui
tujuan mengajukan pertanyaan, jenis dan tingkat pertanyaan, serta
teknik mengajukan pertanyaan. Pertanyaan tertutup (bersifat
konvergen) memiliki jawaban tertentu, hanya ada satu jawaban.
Pertanyaan terbuka (bersifat divergen) memiliki jawaban terbuka dan
diharapkan menghasilkan banyak cara untuk menjawabnya dan
jawabnya lebih dari satu. Pertanyaan tingkat rendah hanya mengukur
ingatan saja, sedangkan pertanyaan tingkat tinggi setidak-tidaknya
menuntut pemahaman atau pemikiran peserta didik, misalnya dalam
memberikan alasan atau dalam membuat suatu kesimpulan. Pertanyaan
tingkat tinggi seperti inilah yang diharapkan lebih dikembangkan guru.
Tujuan pertanyaan adalah memotivasi peserta didik, menyegarkan
memori atau ingatan peserta didik, mengawali diskusi, mendorong
peserta didik agar berpikir, mengarahkan perhatian peserta didik,
menggalakkan penyelidikan (inkuiri, investigasi), mendiagnosis atau
memeriksa tanggapan peserta didik, menarik perhatian peserta didik
dan mengundang pertanyaan peserta didik.
c. Teknik peragaan atau demonstrasi, yaitu menunjukkan atau
memperlihatkan suatu model atau suatu proses. Teknik ini hanya efektif
bila digunakan hanya sebagai bagian dari kegiatan lain yang memberikan
kemungkinan kepada peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam
pembelajaran. Misalnya teknik bertanya perlu merupakan bagian
integral dari demonstrasi guru. Demonstrasi digunakan utamanya bila
(1) peserta didik tidak terampil menggunakannya, atau alat itu dapat
“membahayakan” peserta didik atau (2) karena keterbatasan banyaknya
alat. Namun ukuran bahan atau alat demonstrasi seharusnya
memungkinkan peserta didik untuk melihat apa yang guru
demonstrasikan.
d. Percobaan (experiment) dengan alat secara individual atau kelompok. Di-
sini peserta didik lebih aktif dan diharapkan mereka menemukan
berbagai hal yang terkait dengan pembelajaran baik kognitif,
psikomotorik maupun afektif. Kegiatan lain yang melibatkan kegiatan
praktik atau eksperimen adalah hands on mathematics (matematika
dengan sentuhan tangan atau pengutak-atikan obyek dengan tangan). Ini
merupakan kegiatan “pengalaman belajar” dalam rangka penemuan
konsep atau prinsip matematika melalui kegiatan eksplorasi, investigasi,
dan konklusi yang melibatkan aktivitas fisik, mental dan emosional
dengan melibatkan ada aktivitas fisik.
e. Teknik pemecahan masalah, yaitu pertanyaan yang harus dijawab atau
direspon namun jawaban atau strategi untuk menyelesaikannya tidak
segera diketahui. Suatu pertanyaan akan menjadi masalah hanya jika
pertanyaan itu dipandang merupakan suatu tantangan yang tidak dapat
dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui dan perlu
diselesaikan. Cara yang sering digunakan orang dan sering berhasil pada
proses pemecahan masalah inilah yang disebut dengan Strategi
pemecahan masalah. Strategi ini akan sangat bermanfaat jika dipelajari
para peserta didik maupun guru agar dapat digunakan dalam kehidupan
nyata mereka didalam mereka menyelesaikan masalah yang mereka
hadapi. Beberapa strategi yang sering digunakan adalah:
1) Membuat diagram, strategi ini berkait dengan pembuatan sketsa
atau gambar corat-coret yang membantu/mempermudah
pemahaman terhadap masalahnya dan mempermudah
mendapatkan gambaran umum penyelesaiannya.
2) Mencobakan pada soal yang lebih sederhana, strategi ini berkait
dengan penggunaan contoh khusus tertentu pada masalah tersebut
agar lebih mudah dipelajari, sehingga gambaran umum penyelesaian
yang sebenarnya dapat ditemukan.
3) Membuat tabel, strategi ini digunakan untuk membantu
menganalisis permasalahan atau jalan pikiran kita, sehingga segala
sesuatunya tidak dibayangkan hanya oleh otak yang kemampuannya
sangat terbatas, dan dapat terlihat berbagai kecenderungan yang
terdapat dalam tabel itu.
4) Menemukan pola, strategi ini berkaitan dengan keteraturan yang
terlihat dalam suatu situasi (misalnya susunan sekumpulan
bilangan) dilanjutkan dengan pencarian aturan-aturan itu.
Keteraturan tersebut akan memudahkan kita menemukan
penyelesainnya dan bukan tidak mungkin untuk kita menghasilkan
aturan lainnya dari lembar kerja yang dilakukan.
5) Memecah tujuan, strategi ini berkait dengan pemecahan tujuan
umum yang hendak kita capai menjadi satu atau beberapa tujuan
bagian. Tujuan bagian ini dapat digunakan sebagai batu loncatan
untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya. Hal ini dikarenakan
bahwa seringkali suatu situasi yang amat kompleks dan
permasalahannya juga tidak sederhana.
6) Memperhitungkan setiap kemungkinan, strategi ini berkait dengan
penggunaan aturan-aturan yang dibuat sendiri oleh si pelaku selama
proses pemecahan masalah sehingga tidak akan ada satupun
alternatif yang terabaikan.
7) Berpikir logis, strategi ini berkaitan dengan penggunaan penalaran
maupun penarikan kesimpulan yang sah atau valid dari berbagai
informasi atau data yang ada.
8) Bergerak dari belakang, strategi ini dimulai dengan menganalisis
bagaimana cara mendapatkan tujuan yang hendak dicapai. Dengan
strategi ini, kita bergerak dari yang diinginkan lalu menyesuaikannya
dengan yang diketahui.
9) Mengabaikan (mengelimiasi) hal yang tidak mungkin, dari berbagai
alternatif yang ada, alternatif yang sudah jelas-jelas tidak mungkin
hendaknya dicoret/diabaikan sehingga perhatian dapat tercurah
sepenuhnya untuk hal-hal yang tersisa dan masih mungkin saja.
10)Mencoba-coba, strategi ini biasanya digunakan untuk mendapatkan
gambaran umum pemecahan masalahnya dengan mencoba-coba
berdasarkan informasi yang diketahui.
f. Teknik pembelajaran penemuan , dalam teknik ini, peranan guru adalah:
menyatakan persoalan, kemudian membimbing peserta didik untuk
menemukan penyelesaian dari persoalan itu dengan perintah-perintah
atau dengan penggunaan lembar kerja. Peserta didik mengikuti
pertunjuk yang tersedia dalam lembar kerja dan menemukan sendiri
penyelesaiannya. Pembelajaran penemuan biasanya dilakukan berkaitan
dengan bahan ajar yang pembelajarannya dikembangkan secara induktif.
Guru harus yakin benar bahwa bahan “yang ditemukan” sungguh secara
matematis dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kedalaman
tingkat pemikiran yang harus digunakan untuk isian atau jawaban
peserta didik, tergantung dari keadaan kelas secara umum atau tingkat
kemampuan peserta didik yang akan mengerjakannya. Jika peserta
didiknya peserta didiknya berkemampuan tinggi, pertanyaannya juga
berbobot untuk memberikan rangsangan yang masih terjangkau peserta
didik dan tidak sangat mudah bagi mereka. Jika peserta didiknya
berkemampuankurang, pertanyan atau tempat kosong yang harus diisi
peserta didik cenderung pada hal-hal yang memerlukan tingkat
pemikiran tidak terlalu tinggi. Jika Lembar Kerja (LK) digunakan secara
klasikal, maka pertanyaan atau tugas isian yang bervariasi, tidak terlalu
tinggi dan tidak terlalu rendah tingkat kesukarannya sehingga dapat
dikerjakan oleh sebagian besar peserta didik. Untuk sebuah kelas dapat
disusun beberapa jenis tingkat kesukaran LK dengan muatan yang
bertujuan sama di titik akhirnya. Perbedaannya adalah terutama pada
tingkat dan banyaknya isian atau jawaban yang dituntut atas
pertanyaannya. Setiap kelompok peserta didik mengerjakan LK yang
berbeda sesuai tingkat kemampuan masing-masing.

5. Metoda Pembelajaran
Metode digunakan sebagai cara untuk melaksanakan dan merealisasikan
strategi yang telah ditetapkan. Dalam mengimplementasikan metode
pembelajaran, seorang pendidik perlu menetapkan teknik atau cara tertentu
agar proses pembelajaran berjaan efektif dan efisien, serta taktik atau gaya
individu dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu misalnya
dalam menggunakan ilustrasi atau menggunakan gaya bahasa atau dialek
lokal agar materi pembelajaran mudah dipahami. Pembelajaran matematika
hendaknya berangkat dari hal-hal yang bersifat kongkret menuju abstrak.
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, guru dituntut lebih
mengoptimalkan penggunaan peralatan, media, alat peraga dan sumber
belajar lainnya yang menarik dan berdaya guna sesuai dengan tuntutan
kompetensi. Pembelajaran matematika intinya adalah pada problem solving,
namun problem solving yang dilakukan secara otomatis juga menyentuh
persoalan penalaran untuk membangun pola berpikir kritis peserta didik.
6. Model Pembelajaran
Untuk mengembangkan dan menciptakan pembelajaran saintifik dapat
diterapkan berbagai model pembelajaran. Model adalah sesuatu yang
direncanakan, direkayasa, dikembangkan, diujicobakan, lalu dikembalikan
pada badan yang mendesainnya, kemudian diujicoba ulang, baru menjadi
sesuatu yang final. Melalui tahapan tersebut, maka suatu model dapat
melaksanakan fungsinya sebagaimana mestinya. (George L. Gropper dan Paul
A. Ross dalam Oemar Hamalik, 2000).
Model, suatu struktur secara konseptual yang telah berhasil
dikembangkan dalam suatu bidang, dan sekarang diterapkan, terutama untuk
membimbing penelitian dan berpikir dalam bidang lain, biasanya dalam
bidang yang belum begitu berkembang, (Marx, 1976). Model adalah kerangka
konseptual yang dipakai sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan.
Model pembelajaran merupakan suatu kerangka konseptual yang
melukiskan prosedur secara sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi
sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar
dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran
(Winataputra, 1996). Model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi
para perancang pembelajaran dan para pembelajar dalam merencanakan dan
melaksanakan aktivitas pembelajaran.
Model pembelajaran mengandung: 1). unsur sintaktik yaitu tahap-tahap
kegiatan dari model itu; 2). unsur sistem sosial yaitu situasi atau suasana dan
norma yang berlaku dalam model itu; 3). prinsip reaksi yaitu pola kegiatan
yang menggambarkan bagaimana guru melihat dan memperlakukan para
peserta didik; bagaimana seharusnya pembelajar memberikan respon;
bagaimana guru menggunakan permainan yang berlaku pada setiap model.
Sistem pendukung yaitu segala sarana, bahan alat yang diperlukan untuk
melaksanakan model.
Berikut ini akan dibahas beberapa model pembelajaran matematika dari
sekian model yang telah banyak dikembangkan, antara lain: Model
Pembelajaran Inkuiri, Model Pembelajaran Kooperatif, Pembelajaran
Kontekstual, Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing, Model
Pembelajaran Berbasis Masalah.
a. Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning)

Inkuiri berarti mencari pengetahuan. Tahapan dalam pembelajaran


berbasis inkuiri meliputi memverifikasi yaitu mengumpulkan data untuk
menemukan konsep dengan cara mengonstruksi konsep tersebut,
menerima informasi, dan latihan menggunakan konsep tersebut
(Gracolice, 2009: 23). Siswa aktif terlibat dalam mengonstruksi
pengetahuan yang dipelajari, bukan sebagai sesuatu yang diberi.
Pengetahuan yang dikonstruksi dapat digunakan untuk memecahkan
masalah dan digunakan untuk membuat dugaan–dugaan (Collins dalam
Jaworski, 2003: 10). Pembelajaran inkuiri adalah model pembelajaran
dimana siswa menemukan dan menggunakan berbagai macam sumber-
sumber informasi dan ide-ide untuk menambah pemahaman mereka
tentang suatu masalah, topik, atau isu (Kuhlthau, Maniotes, & Caspari
2007: 2). Proses penemuan dimulai dari proses mencari. Dari proses
mencari sampai dengan menemukan akan memberikan potensi
munculnya rasa ingin tahu (curiosity). Kegiatan mencari dan menemukan
akan menyebabkan siswa antusias dalam mempelajari, menyelidiki, dan
mencari tahu. Antusiasme tersebut dinamakan curiosity, sehingga
curiosity dapat diidentifikasi dari keinginan untuk mempelajari,
menyelidiki, dan mengetahui (McElmeel, 2002: 51).
Secara umum pembelajaran berbasis Inkuiri dimulai ketika siswa
belajar dengan pertanyaan untuk menuju jawaban, masalah menuju
pemecahan, atau himpunan observasi menuju kejelasan (Bateman, 2006).
Jika model pembelajaran inkuiri terlaksana dengan benar, seharusnya
siswa belajar untuk merumuskan pertanyaan menarik, mengidentifikasi
dan mengumpulkan data/bukti, menyajikan hasil secara sistematis,
menganalisis dan menginterpretasikan hasil, merumuskan kesimpulan,
dan mengevaluasi kesalahan yang dilakuakan dalam penarikan
kesimpulan (Lee, 2004). Pada pembelajaran menggunakan model
pembelajaran inkuiri juga memungkinkan untuk melakukan ceramah
interaktif, diskusi, simulasi, belajar mandiri. Ciri-ciri Model Pembelajaran
Inkuri
1) Pembelajaran inkuiri menekankan pada ide pembelajaran
konstruktivis. Pembelajaran sebaiknya dilakukan dalam situasi
kelompok.
2) Guru tidak memulai dengan pernyataan tetapi dengan pertanyaan.
Pengajuan pertanyaan kepada siswa merupakan instruksi yang lebih
efektif di beberapa sekolah/daerah.
3) Topik, masalah yang dipelajari, dan metode yang digunakan untuk
menjawab masalah ini ditentukan oleh siswa
Gulo (2002) menyatakan bahwa inquiry tidak hanya
mengembangkan kemampuan dan intelektual tetapi seluruh potensi yang
ada termasuk pengembangan emosional dan keterampilan inquiry
merupakan suatu proses yang bermula dari merumuskn masalah,
merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data dan
membuat kesimpulan. Di dalam sistem belajar-mengajar ini, guru
menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuknya yang final, tetapi
peserta didik yang diberi peluang untuk mencari dan menemukannya
sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah.
Secara garis besar prosedurnya sebagai berikut:
Tabel 3.2 Sintaks kegiatan pembelajaran inkuiri
Fase Aktivitas Keterangan
1 Stimulation Guru memberikan sesuatu rangsangan
(pemberian kepada siswa yang menimbulkan
stimulus) kebingungannya dan timbul keinginan untuk
menyelidiki sendiri. Bentuk rangsangan
dapat berupa pertanyaan, gambar, benda,
cerita, fenomena, dan aktivitas belajar
lainnya yang mengarah pada persiapan
menemukan suatu konsep.
2 Problem Guru mengajak siswa untuk
statement mengidentifikasi masalah yang relevan
(pernyataan/iden dengan bahan disajikan untuk stimulus. Dari
tifikasi masalah) masalah tersebut, dirumuskan jawaban
sebagai dugaan sementara (hipotesis).
3 Data collection Siswa mengumpulkan informasi yang
(pengumpulan relevan untuk membuktikan kebenaran
data) hipotesis atau menemukan suatu konsep.
Data dapat diperoleh melalui membaca
literatur, mengamati objek, wawancara
dengan nara sumber, melakukan uji coba
sendiri dan sebagainya.
4 Data processing Siswa mengolah data yang telah
(pengolahan dikumpulkan. Pengolahan data dalam
data) rangka mengarahkan kepada konsep yang
akan dicapai.
5 Verification Siswa melakukan pemeriksaan kebenaran
(memverifikasi) hipotesis terkait dengan hasil pengolahan
data processing.
6 Generalization Siswa diajak untuk melakukan generalisasi
(penarikan konsep yang sudah dibuktikan untuk kondisi
kesimpulan/gene umum.
ralisasi)

b. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif antara lain:


1) Untuk menuntaskan materi belajar, peserta didik belajar dalam
kelompok secara kooperatif
2) Kelompok dibentuk dari peserta didik yang memiliki
kemampuan heterogen
3) Jika dalam kelas terdiri atas beberapa ras, suku, budaya, jenis
kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar tiap kelompok berbaur
4) Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada
perorangan
Tujuan:
1) Hasil Belajar Akademik
2) Meningkatkan kinerja peserta didik dalam tugas-tugas akademik
3) Penerimaan terhadap keragaman
4) Peserta didik dapat menerima teman-temannya yang beraneka latar
belakang.
5) Pengembangan keterampilan sosial
Tabel 3.3 Sintaks kegiatan pembelajaran kooperatif
Indikator Kegiatan Guru
1 Menyampaikan tujuan Menyampaikan tujuan pelajaran yang
dan memotivasi ingin dicapai dan memotivasi peserta
peserta didik didik belajar
2 Menyajikan informasi Menyajikan informasi kepada peserta
didik dengan jalan demonstrasi atau
lewat bahan bacaan
3 Mengorganisasikan Menjelaskan kepada peserta didik
peserta didik ke dalam bagaimana cara membentuk
kelompok-kelompok kelompok dan membantu kelompok
belajar agar melakukan transisi secara
efisien
4 Membimbing Membimbing kelompok-kelompok
kelompok bekerja dan belajat pa da saat mereka
belajar mengerjakan tugas
5 Evaluasi Mengevaluasi hasil belajar tentang
materi yang telah dipelajari atau
masing-masing ke-lompok
mempresentasekan hasil kerjanya
6 Memberikan Mencari cara menghargai upaya atau
penghargaan hasil belajar individual maupun
kelompok
Dalam perkembangannya, model pembelajaran kooperatif
dikembangkan oleh beberapa ahli menjadi beberapa tipe. Berikut ini
beberapa tipe pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh ahli
antara lain Slavin (1985), Lazarowitz (1988), atau Sharan (1990) sebagai
berikut.
1) Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini pertama kali dikembangkan
oleh Aronson dkk. Langkah-langkah dalam penerapan jigsaw adalah
sebagai berikut.
a) Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok,
dengan setiap kelompok terdiri dari 4 - 6 siswa dengan kemampuan
yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan
rendah. Jika memungkinkan sebaiknya anggota kelompok berasal
dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender.
Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok
asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan
dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai. Dalam tipe jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari
salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan
materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok
yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG).
b) Dalam kelompok ahli siswa mendiskusikan bagian materi
pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana
menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal.
Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok jigsaw (gigi
gergaji).
Misal dalam suatu kelas terdapat 30 siswa. Ke-30 siswa tersebut
dibagi menjadi 6 kelompok asal masing-masing terdiri atas 5 siswa.
Dari ke-5 siswa tersebut kemudian menyebar ke dalam 5 tim ahli,
dengan masing-masing tim ahli membahas suatu sub pokok bahasan.
Setelah pembahasan dalam kelompok ahli selesai, setiap anggota
kembali ke kelompok asalnya untuk saling berbagi informasi yang
dibahas di dalam tim ahli dengan anggota kelompok asal yang lain.
Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok
ahli maupun kelompok asal. Berikut contoh diagram pengelolaan
model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.

Kelompok Asal 1
Kelompok Ahli 1
Kelompok Asal 2
Kelompok Ahli 2
Kelompok Asal 3
Kelompok Ahli 3
Kelompok Asal 4
Kelompok Ahli 4
Kelompok Asal 5
Kelompok Ahli 5
Kelompok Asal 6

Gambar 1.1 Contoh perpindahan kelompok dalam Model


Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
c) Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok
asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok
atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan
hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat
menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah
didiskusikan.
d) Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
e) Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor
penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar
individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
f) Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian
materi pembelajaran. Antar bagian bagian materi juga tidak saling
menjadi prasyarat, sehingga ketercapaian suatu bagian materi tidak
berpengaruh terhadap proses pembelajaran bagian materi yang lain.
Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu
dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup
sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
2) Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Number Heads Together)
Pembelajaran kooperatif tipe NHT dikembangkan oleh Spencer Kagen
(1993). Pada umumnya NHT digunakan untuk melibatkan siswa
dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengecek
pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Langkah-langkah
penerapan NHT:
a) Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan
kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b) Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk
mendapatkan skor dasar atau awal.
c) Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok
terdiri dari
d) 4–5 siswa, setiap anggota kelompok diberi nomor.
e) Guru mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama dalam
kelompok.
f) Guru mengecek pemahaman siswa dengan menyebut salah satu
nomor anggota kelompok untuk menjawab. Jawaban salah satu
siswa yang ditunjuk oleh guru merupakan wakil jawaban dari
kelompok.
g) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman,
mengarahkan, dan memberikan penegasan pada akhir
pembelajaran.
h) Guru memberikan tes/kuis kepada siswa secara individual
i) Guru memberi penghargaan pada kelompok melalui skor
penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil
belajar individual dari skor dasar ke skor kuis
berikutnya(terkini).
3) Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement
Divisions)
Pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan oleh Slavin dkk.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD biasanya digunakan untuk
penguatan pemahaman materi (Slavin, 1995). Langkah-langkah
penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD:
a) Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan
kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara
individual sehingga akan diperoleh skor awal.
c) Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri
dari 4 – 5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda (tinggi,
sedang dan rendah). Jika mungkin anggota kelompok berasal dari
ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender.
d) Guru memberikan bahan materi yang telah dipersiapkan untuk
didiskusikan dalam kelompok.
e) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman,
mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi
pembelajaran yang telah dipelajari.
f) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
g) Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan
perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar
ke skor kuis berikutnya (terkini).
4) Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted
Individualization atau Team Accelarated Instruction)
Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin.
Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif
dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi
kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu kegiatan
pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah.
Ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar
materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar
individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan
saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota
kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai
tanggung jawab bersama. Langkah-langkah pmbelajaran kooperatif tipe
TAI sebagai berikut.
a) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi
pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
b) Guru memberikan kuis secara individual untuk mendapatkan skor
dasar atau skor awal.
c) Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri
dari 4 – 5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik
tingkat kemampuan (tinggi, sedang dan rendah) Jika mungkin
anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda
serta kesetaraan jender.
d) Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok.
Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling
memeriksa jawaban teman satu kelompok.
e) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman,
mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi
pembelajaran yang telah dipelajari.
f) Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.
g) Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan
perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar
ke skor kuis berikutnya (terkini).
5) Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments (TGT)
Model ini menggunakan turnamen untuk menggantikan kuis, di
mana siswa memainkan game di meja turnamen dengan anggota tim
yang lain untuk menyumbangkan poin bagi timnya. Sebuah prosedur
“menggeser kedudukan” membuat permainan ini cukup adil. Bagi siswa
yang berprestasi tinggi bermain dengan siswa yang berprestasi tinggi
dan yang berprestasi rendah bermain dengan siswa yang prestasi
rendah juga. keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk sukses
dan menentukan skor bagi kelompoknya. Penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) membuat
siswa merasa gembira karena pembelajaran dikemas dalam suatu
permainan. Teman satu tim akan saling membantu dalam
mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari lembar
kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama lain, tetapi
sewaktu siswa sedang bermain dalam game, temannya tidak boleh
membantu, memastikan telah terjadi tanggung jawab individu.
Langkah-langkah dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif
tipe TGT sebagai berikut.
a) Guru menyampaikan materi awal serta aturan dalam melakukan
pertandingan untuk memulai pembelajaran.
b) Guru membagi siswa ke dalam kelompok siswa. Pembagian
kelompok berdasarkan kriteria kemampuan (prestasi) siswa dari
ulangan harian sebelumnya, jenis kelamin (gender), etnik dan ras.
Tiap kelompok beranggotakan 4–5 orang, tiap siswa diberi nomor
dada dari 1, 2, 3, 4, 5.
c) Guru membagikan LKS atau bahan diskusi kepada masing-masing
kelompok kemudian meminta sisw untuk belajar dalam kelompok.
d) Guru melakukan pengamatan terhadap kegiatan belajar siswa di
dalam kelompok. Jika perlu, guru memberikan pembimbingan
kelompok secukupnya.
e) Pelaksanaan pertandingan
Contoh aturan pertandingan dengan 3 peserta, meja turnamen:
- Membagikan satu lembar permainan, satu lembar jawaban, satu
kotak kartu bernomor dan satu lembar skor permainan pada
tiap meja.
- Untuk memulai permainan, para siswa menarik kartu untuk
menentukan pemain pertama, permainan berlangsung sesuai
waktu dimulai dari pemain pertama.
- Pemain pertama mengambil kartu bernomor dan menjawab
sesuai kartu tersebut pada lembar permainan.
- Peserta di sebelah kiri atau kanannya (pemain pertama) punya
opsi untuk menantang untuk memberikan jawaban berbeda,
dengan kompensasi untuk berhati-hati dalam menantang
karena jika jawabannya salah maka dia harus mengembalikan
kartu yang telah dimenangkan sebelumnya. Penantang II boleh
menantang jika penantang I melewatinya. Apabila semua
penantang sudah menantang atau melewati maka penantang
kedua membacakan jawabannya dan bagi yang jawaban benar
akan menyimpan kartu.
- Permainan berlanjut hingga periode kelas berakhir atau
kotaknya telah kosong.
- Masing-masing peserta mencatat skor pada lembar skor
permainan.
- Jika waktu yang tersedia masih ada maka dilanjutkan
pertandingan berikutnya.
f) Guru melakukan validasi, penjelasan tentang soal dan kunci
jawaban kuis dan memberi kesempatan untuk tanya jawab bagi
siswa yang belum memahami soal.
g) Penentuan skor tim serta pemberian penghargaan bagi tim dengan
skor tertinggi
c. Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

Pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsepsi pengajaran dan


pembelajaran yang membantu guru mengaitkan bahan pelajaran yang
dipelajari dengan situasi dunia sebenarnya dan memotivasi pebelajar untuk
membuat kaitan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan
harian mereka sebagai ahli keluarga, warga masyarakat, dan pekerja.
Pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem belajar yang
didasarkan pada filosofi bahwa peserta didik mampu menyerap pelajaran
apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka
terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika
mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan
pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya (Johnson, 2007:14).
Dalam pembelajaran kontekstual, ada delapan komponen yang harus
ditempuh, yaitu: (1) Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna,
(2) melakukan pekerjaan yang berarti, (3) melakukan pembelajaran yang
diatur sendiri, (4) bekerja sama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6)
membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, (7) mencapai
standar yang tinggi, dan (8) menggunakan penilaian otentik (Johnson,
2007).
Berdasarkan pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa
pembelajaran kontekstual mempraktikkan konsep belajar yang
mengaitkan materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata peserta
didik. Peserta didik secara bersama-sama membentuk suatu sistem yang
memungkinkan mereka melihat makna di dalamnya.
Pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang
membantu para guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya
dengan situasi nyata peserta didik dan mendorong peserta didik
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan
masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran berlangsung alamiah
dalam bentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalami, bukan
transfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Proses
pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran
yang menggunakan pendekatan kontekstual:
1) Dalam pembelajaran kontekstual terjadi proses pengaktifan
pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge). Artinya, apa
yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah
dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan yang akan diperoleh
peserta didik adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki
keterkaitan satu sama lain.
2) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran dalam rangka
memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring
knowledge). Pengetahuan baru itu dapat diperoleh dengan cara
deduktif. Artinya, pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara
keseluruhan kemudian memperhatikan rinciannya.
3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) berarti
pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal, melainkan untuk
dipahami dan diyakini.
4) Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying
knowledge). Artinya, pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya
harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
5) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi
pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik
untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.
Di sisi lain, Hernowo (2005) menawarkan langkah-langkah praktis
menggunakan strategi pembelajaran kontekstual berikut:
1) Kaitkan setiap mata pelajaran dengan seorang tokoh yang sukses
dalam menerapkan mata pelajaran tersebut.
2) Kisahkan terlebih dahulu riwayat hidup sang tokoh atau temukan cara-
cara sukses yang ditempuh sang tokoh dalam menerapkan ilmu yang
dimilikinya.
3) Rumuskan dan tunjukkan manfaat yang jelas dan spesifik kepada anak
didik berkaitan dengan ilmu (mata pelajaran) yang diajarkan kepada
mereka.
4) Upayakan agar ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah dapat memotivasi
anak didik untuk mengulang dan mengaitkannya dengan kehidupan
keseharian mereka.
5) Berikan kebebasan kepada setiap anak didik untuk mengkonstruksi
ilmu yang diterimanya secara subjektif sehingga anak didik dapat
menemukan sendiri cara belajar alamiah yang cocok dengan dirinya.
6) Galilah kekayaan emosi yang ada pada diri setiap anak didik dan
biarkan mereka mengekspresikannya dengan bebas.
7) Bimbing mereka untuk menggunakan emosi dalam setiap
pembelajaran sehingga anak didik penuh arti (tidak sia-sia dalam
belajar di sekolah).
d. Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)

Pembelajaran penemuan adalah proses belajar yang di dalamnya


tidak disajikan suatu konsep dalam bentuk jadi (final), tetapi peserta didik
dituntut untuk mengorganisasi sendiri cara belajarnya dalam menemukan
konsep. Sebagaimana pendapat Bruner, bahwa “Discovery Learning can be
defined as the learning that takes place when the student is not presented
with subject matter in the final form, but rather is required to organize it
himself” (Lefancois dalam Emetembun, 1986). Dasar ide Bruner ialah
pendapat Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam
belajar di kelas. Langkah-langkah model pembelajaran penemuan adalah
sebagai berikut:
1) Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada peserta
didik dengan data secukupnya. Perumusannya harus jelas dan
hilangkan pernyataan yang multi tafsir
2) Berdasarkan data yang diberikan guru, peserta didik
menyusun, memproses, mengorganisasi, dan menganalisis data
tersebut. Dalam hal ini bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang
diperlukan saja, bimbingan lebih mengarah kepada langkah yang
hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan.
3) Peserta didik menyusun prakiraan hasil analisis yang
dilakukannya
4) Bila dipandang perlu, prakiraan yang telah dibuat peserta
didik tersebut hendaknya diperiksa oleh guru. Hal ini penting
dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan peserta didik,
sehingga akan menuju ke arah yang hendak dicapai.
5) Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran
prakiraan tersebut, maka verbalisasi prakiraan sebaiknya diserahkan
juga kepada peserta didik untuk menyusunnya. Di samping itu perlu
diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran
prakiraan.
6) Sesudah peserta didik menemukan apa yang dicari,
hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk
memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
e. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

Model pembelajaran berbasis masalah adalah pendekatan


pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal untuk
mendapatkan pengetahuan baru. Berbagai pengembang pembelajaran
berbasis masalah menyatakan bahwa model ini memiliki ciri-ciri berikut:
1) Pertanyaan atau masalah penuntun
Pembelajaran berbasis masalah mengorganisasi pembelajaran di
sekitar pertanyaan dan masalah yang penting dan bermakna baik
secara sosial maupun personal bagi peserta didik. Pertanyaan atau
masalah diambil dari situasi dunia nyata yang tidak memiliki jawaban
sederhana tetapi banyak penyelesaian yang bersaing.
2) Fokus antardisipliner
Meskipun pembelajaran berbasis masalah dapat berpusat pada mata
pelajaran tertentu (sains, matematika, sejarah) masalah aktual yang
diselidiki dipilih karena penyelesaiannya mewajibkan peserta didik
menggali informasi dalam banyak disiplin ilmu.
3) Penyelidikan autentik.
Pembelajaran berbasis masalah menuntut peserta didik melakukan
penyelidikan autentik yang mencari penyelesaian nyata untuk masalah
nyata. Mereka harus menganalisis dan membatasi masalahnya,
mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan
dan menganalisis informasi, mengadakan eksperimen, melakukan
deduksi, dan menarik kesimpulan.
4) Produksi karya dan bukti
Pembelajaran berbasis masalah menuntut peserta didik untuk
menghasilkan produk dalam bentuk karya dan bukti yang menjelaskan
atau merepresentasikan penyelesaiannya. Produk itu dapat berupa
laporan, model fisik, video, program komputer, atau situ Web buatan
peserta didik.
5) Kolaborasi.
Pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh peserta didik yang
bekerja sama,, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok
kecil. Bekerjasama memberikan motivasi untuk tetap terlibat dalam
tugas-tugas kompleks dan meningkatkan kesempatan untuk inkuiri
dan dialog bersama, dan untuk pengembangan keterampilan sosial.
Pada model pembelajaran berbasis masalah terdapat lima tahap utama
yang dimulai dengan memperkenalkan peserta didik tehadap masalah
yang diakhiri dengan tahap penyajian dan analisis hasil kerja peserta
didik. Kelima tahap tersebut disajikan dalam bentuk tabel (dalam Arends,
2012: 411)
Tabel 3.4 Sintaks Model pembelajaran berdasarkan masalah
Fase Indikator Aktifitas / Kegiatan Guru
1 Orientasikan peserta Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
didik pada masalah menjelaskan logistik yang diperlukan,,
memotivasi peserta didik terlibat dalam
aktivitas pemecahan masalah.
2 Organisasikan peserta Guru membantu peserta didik
didik untuk belajar membatasi dan mengorganisasikan
tugas belajar yang berkaitan dengan
masalah tersebut.
3 Bantu penyelidikan Guru mendorong peserta didik untuk
mandiri dan kelompok mengumpulkan informasi yang sesuai,
melaksanakan eksperimen, dan
mencari penjelasan dan penyelesaian
4 Kembangkan dan sajikan Guru membantu peserta didik dalam
karya dan bukti perencanaan dan menyiapkan karya
yang sesuai seperti laporan, video, dan
model dan membantu mereka untuk
berbagi tugas dengan kelompoknya.
5 Analisis dan evaluasi Guru membantu peserta didik
proses pemecahan melakukan refleksi terhadap
masalah penyelidikan mereka dan proses-proses
yang mereka gunakan.
f. Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL)
adalah metode pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai
media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis,
dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.
Pembelajaran berbasis proyek merupakan metode belajar yang
menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan
mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam
beraktivitas secara nyata. Pembelajaran berbasis proyek dirancang untuk
digunakan pada permasalahan kompleks yang diperlukan peserta didik
dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya.
Melalui PjBL, proses inkuiri dimulai dengan memunculkan
pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik
dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek
(materi) dalam kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung
peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai
prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. PjBL merupakan
investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan
berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.Pembelajaran berbasis
proyek memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja;
2) adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta
didik;
3) peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas
permasalahan atau tantangan yang diajukan;
4) peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses
dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan;
5) proses evaluasi dijalankan secara kontinyu;
6) peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang
sudah dijalankan;
7) produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; dan
8) situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan
perubahan.
Peran instruktur atau guru dalam pembelajaran berbasis proyek sebaiknya
sebagai fasilitator, pelatih, penasehat dan perantara untuk mendapatkan
hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi, kreasi dan inovasi dari
peserta didik.
Tabel 3.4 Sintaks Model pembelajaran berbasis proyek.
Fase Aktivitas Keterangan
1 Start With the Essential Pertanyaan yang dapat memberi
Question (Memulai dengan penugasan siswa dalam melakukan suatu
Pertanyaan Mendasar) aktivitas/proyek. Mengambil topik yang
sesuai dengan realitas dunia nyata dan
dimulai dengan sebuah investigasi
mendalam. Guru berusaha agar topik
yang diangkat relevan untuk para siswa.
2 Design a Plan for the Perencanaan dilakukan secara kolaboratif
Project (Mendesain antara siswa dan guru. Dengan demikian
Perencanaan Proyek) siswa diharapkan akan merasa memiliki
atas proyek tersebut. Perencanaan berisi
tentang kegiatan, alat, dan bahan yang
berguna untuk penyelesaian proyek.
3 Create a Schedule Siswa dengan guru secara kolaboratif
(Menyusun Jadwal) menyusun jadwal aktivitas dalam
menyelesaikan proyek. Aktivitas pada
tahap ini antara lain: (1) membuat
timeline untuk menyelesaikan proyek, (2)
membuat deadline penyelesaian proyek,
(3) membawa siswa agar merencanakan
cara yang baru, (4) membimbing siswa
ketika mereka membuat cara yang tidak
berhubungan dengan proyek, dan (5)
meminta siswa untuk membuat
penjelasan (alasan) tentang pemilihan
suatu cara
4 Monitor the Students and Guru bertanggungjawab untuk melakukan
the Progress of the Project monitor terhadap aktivitas siswa selama
(Memonitor siswa dan menyelesaikan proyek. Guru berperan
kemajuan proyek) menjadi mentor bagi aktivitas siswa. Agar
mempermudah proses monitoring, dibuat
sebuah rubrik yang dapat merekam
keseluruhan aktivitas yang penting
5 Assess the Outcome Penilaian dilakukan untuk mengukur
(Menguji Hasil) ketercapaian kompetensi, berperan dalam
mengevaluasi kemajuan masing-masing
siswa/kelompok siswa, memberi umpan
balik tentang tingkat pemahaman yang
sudah dicapai siswa/kelompok,
membantu guru dalam menyusun strategi
pembelajaran berikutnya.
6 Evaluate the Experience Pada akhir proses pembelajaran, siswa
(Mengevaluasi dan guru melakukan refleksi terhadap
Pengalaman) aktivitas dan hasil proyek yang sudah
dilakukan. Proses refleksi dilakukan baik
secara individu maupun kelompok. Pada
tahap ini siswa diminta untuk
mengungkapkan perasaan dan
pengalamannya selama menyelesaikan
proyek. Guru dan siswa mengembangkan
diskusi dalam rangka memperbaiki
kinerja selama proses pembelajaran,
sehingga pada akhirnya ditemukan suatu
temuan untuk menjawab permasalahan
yang diajukan pada tahap pertama
pembelajaran.
Beberapa hambatan dalam implementasi metode Pembelajaran
Berbasis Proyek antara lain berikut ini:
1) Pembelajaran berbasis proyek memerlukan banyak waktu yang harus
disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek.
2) Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan, karena
menambah biaya untuk memasuki system baru.
3) Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional ,dimana
instruktur memegang peran utama di kelas. Ini merupakan suatu
transisi yang sulit, terutama bagi instruktur yang kurang atau tidak
menguasai teknologi.
4) Banyaknya peralatan yang harus disediakan, sehingga kebutuhan listrik
bertambah.
Untuk itu disarankan menggunakan team teaching dalam proses
pembelajaran, dan akan lebih menarik lagi jika suasana ruang belajar tidak
monoton, beberapa contoh perubahan lay-out ruang kelas, seperti:
traditional class (teori), discussion group (pembuatan konsep dan
pembagian tugas kelompok), lab tables (saat mengerjakan tugas mandiri),
circle (presentasi). Atau buatlah suasana belajar menyenangkan, bahkan
saat diskusi dapat dilakukan di taman, artinya belajar tidak harus dilakukan
di dalam ruang kelas.
E. Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan sebuah alat yang dapat membantu proses
pembelajaran. Media pembelajaran identik dengan alat keperagaan yang berasal
dari kata raga yang dapat dilihat, diraba, diamatai, dan didengar oleh panca
indera. Media pembelajaran digunakan dalam rangka hubungan (komunikasi)
antara pengajar dengan pembelajar dalam proses pembelajaran.
Klasifikasi media elektronik dan non elektronik dalam
pengelompokannya ada 3 jenis, diantaranya.
1. Media audio merupakan yang melibatkan pendengaran
2. Media visual merupakan yang melibatkan indera penglihatan
3. Media audio visual merupakan yang melibatkan penglihatan dan
pendengaran sekaligus
Adapun jenis media yang akan digunakan dalam pembelajaran matematika
kelas VII yaitu:
1. Media nonelektronik yaitu film edukasi, power point dan video
2. Media elektronik yaitu buku teks, modul, majalah atau artikel

F. Proses Pembelajaran
1. Kegiatan Apersepsi
Apersepsi atau penilaian awal (pre tes) adalah kegiatan yang tujuannya adalah
untuk mengukur dan mengetahui sejauh mana materi atau bahan pelajaran
yang akan dipelajari sudah dikuasai oleh siswa. Beberapa cara yang dapat
digunakan dalam kegiatan apersepsi di antaranya:
 Mengajukan pertanyaan tentang bahan pelajaran yang sudah dipelajari
sebelumnya.
 Memberikan komentar terhadap jawaban siswa serta mengulas materi
pelajaran yang akan dibahas.
 Membangkitkan motivasi dan perhatian siswa
2. Kegiatan Inti
Proses kegiatan inti dalam merupakan implementasi strategi dan pendekatan
belajar. Pada prinsipnya kegiatan inti dalam pembelajaran adalah suatu proses
pembentukan pengalaman dan kemampuan siswa secara terprogram yang
dilaksanakan dalam durasi waktu tertentu. Langkah kegiatan inti yang perlu
dilakukan dalam pembelajaran secara sistematis sebagai berikut:
 Memberitahukan tujuan atau garis besar materi dan kemampuan yang akan
dipelajari.
 Menyampaikan alternatif kegiatan belajar yang akan ditempuh siswa.
 Membahas materi/menyajikan bahan pelajaran.
 Menyimpulkan pelajaran.
3. Kegiatan Umpan Balik
Kegiatan akhir dalam pembelajaran tidak hanya diartikan sebagai kegiatan
untuk menutup pelajaran, tetapi juga sebagai kegiatan penilaian hasil belajar
siswa dan kegiatan tindak lanjut. Kegiatan Umpan balik dapat dilakukan
dengan cara memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk
lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik.
Umpan balik merupakan salah satu kegiatan instruksional yang sangat besar
pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa.
4. Pengayaan dan Remedial
Pembelajaran remedial dan pengayaan dilaksanakan untuk kompetensi
pengetahuan dan keterampilan. Pembelajaran remedial diberikan kepada siswa
yang belum mencapai KBM/KKM, sementara pengayaan diberikan kepada siswa
yang telah mencapai atau melampaui KBM/KKM.
a. Pengayaan (enrichment)
Program pengayaan diberikan kepada peserta didik yang telah melampaui
ketuntasan belajar dengan memerlukan waktu lebih sedikit daripada teman-
teman lainnya. Waktu yang masih tersedia dapat dimanfaatkan peserta didik
untuk memperdalam/memperluas atau mengembangkan hingga mencapai
tahapan networking (jejaring) dalam pendekatan ilmiah (scientific approach).
Guru dapat memfasilitasi peserta didik dengan memberikan berbagai sumber
belajar, antara lain: perpustakaan, majalah atau koran, internet, atau
narasumber dan pakar.
b. Remedial
Remedial adalah program pembelajaran yang diberikan kepada peserta
didik yang belum mencapai kompentensi minimalnya dalam satu
kompetensi dasar tertentu. Metode yang digunakan dapat bervariasi sesuai
dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan belajar yang dialami peserta
didik dan tujuan pembelajarannya pun dirumuskan sesuai dengan kesulitan
yang dialami peserta didik.
Pembelajaran remedial dapat dilakukan dengan cara:
 pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang
berbeda, menyesuaikan dengan gaya belajar siswa
 pemberian bimbingan secara perorangan
 pemberian tugas-tugas atau latihan secara khusus, dimulai dengan
tugas-tugas atau latihan sesuai dengan kemampuannya
 pemanfaatan tutor sebaya, yaitu siswa dibantu oleh teman sekelas yang
telah mencapai KBM/KKM.

G. Evaluasi Pembelajaran
1. Aspek Penilaian
Penilaian hasil belajar matematika merupakan proses pengumpulan
informasi/bukti autentik tentang capaian pembelajaran peserta didik yang
meliputi kompetensi spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan yang
dilakukan secara terencana dan sistematis, selama dan setelah proses
pembelajaran. Penilaian hasil belajar oleh pendidik memiliki fungsi untuk
memantau kemajuan belajar, hasil belajar, dan mendeteksi kesesuaian
pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik secara berkesinambungan.
Penilaian kompetensi spiritual yaitu menghargai dan menghayati ajaran
agama yang dianut, dan kompetensi sosial meliputi jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, dan percaya diri,
dapat menggunakan observasi, penilaian diri, danpenilaian antarteman.
Penilaian kompetensi pengetahuan menggunakan tes, penugasan, dan
portofolio.Pengetahuan yang harus dimiliki oleh peserta didik meliputi
penguasaan definisi, konsep, sebab akibat, identifikasi permasalahan dan
pemecahan masalah sesuai dengan materi pembelajaran.Penilaian keterampilan
menggunakan teknik portofolio, kinerja, tugas, pameran, demostrasi, baik secara
individu maupun kelompok.
2. Teknik Penilaian
Penilaian dapat dilakukan melalui metode tes maupun non-tes. Metode tes
dilakukan bila respons jawaban siswa yang dikumpulkan dapat dikategorikan
benar atau salah (KD pada KI-3 dan KI-4). Jika respons yang dikumpulkan tidak
dapat dikategorikan benar atau salah, maka digunakan metode non-tes (KD pada
KI-1 dan KI-2).
Metode tes dapat berupa tes tulis, tes lisan atau tes kinerja.
a. Tes tulis berbentuk soal dalam bentuk pilihan ganda, uraian, tugas, kegiatan
yang bertujuan agar siswa dapat mengingat, memahami,mengorganisasikan,
mensintesiskan, mengevaluasi atas materi yang sudah dipelajari. Adapun
bobot penilaian sebagai berikut.
Tabel Pembobotan Nilai Tertulis
No. Jenis Tes Tulis Bobot Nilai
1. Pilihan Ganda (Jumlah Benar/20) x 100
2. Essay (Jumlah Benar/10) x 100
b. Tes lisan dilakukan untuk menjawab secara lisan dari beberapa pertanyaan
secara langsung antara guru dengan siswa.
c. Tes kinerja dilakukan dengan tugas-tugas tertentu yang terstruktur.
3. Penilaian Sikap, Pengetahuan, dan Keterampilan pada Pembelajaran
a. Penilaian Sikap
Penilaian sikap adalah kegiatan untuk mengetahui kecenderungan
perilaku spiritual dan sosial peserta didik dalam kehidupan sehari-hari di
dalam dan di luar kelas sebagai hasil pendidikan. Penilaian sikap ditujukan
untuk mengetahui capaian/perkembangan sikap peserta didik dan
memfasilitasi tumbuhnya perilaku peserta didik sesuai butir-butir nilai sikap
dalam Kompetensi Dasar (KD) dari Kompetensi Inti KI-1 dan KI-2.
Penilaian sikap dilakukan dengan menggunakan teknik observasi oleh
guru matematika selama proses pembelajaran pada jam pelajaran yang
ditulis dalam buku jurnal (yang selanjutnya disebut jurnal). Jurnal berisi
catatan anekdot (anecdotal record), catatan kejadian tertentu (incidental
record), dan informasi lain yang valid dan relevan.
Instrumen yang digunakan dalam observasi berupa lembar observasi atau
jurnal. Lembar observasi atau jurnal tersebut berisi kolom catatan perilaku
yang diisi oleh guru mata pelajaran, wali kelas, dan guru BK berdasarkan
pengamatan dari perilaku peserta didik yang muncul secara alami selama
satu semester. Perilaku peserta didik yang dicatat di dalam jurnal pada
dasarnya adalah perilaku berkaitan dengan indikator dari sikap spiritual dan
sikap sosial. Setiap catatan memuat deskripsi perilaku yang dilengkapi
dengan waktu dan tempat teramatinya perilaku tersebut. Catatan tersebut
disusun berdasarkan waktu kejadian. Dalam Tabel 4.1 kolom “Catatan
Perilaku” diisi dengan deskripsi perilaku dilengkapi dengan hasil penilaian
yaitu sangat baik, baik, kurang baik. Sedangkan dalam “Butir Sikap” disi
dengan nomor pertanyaan yang terdapat pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2.
Tabel 4.1 Contoh lembar observasi perkembangan sikap

No Tanggal Nama Peserta didik Catatan Perilaku Butir Sikap

b. Penilaian Pengetahuan
Penilaian pengetahuan adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui
penguasaan peserta didik yang meliputi pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan kecakapan berpikir tingkat rendah hingga tinggi. Penilaian
pengetahuan dilakukan dengan berbagai teknik penilaian. Guru memilih teknik
penilaian yang sesuai dengan karakteristik kompetensi yang akan dinilai.
Penilaian dimulai dengan perencanaan yang dilakukan pada saat menyusun
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Penilaian pengetahuan, selain untuk mengetahui apakah peserta didik telah
mencapai KBM/KKM, juga untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan
penguasaan pengetahuan peserta didik dalam proses pembelajaran
(diagnostic). Hasil penilaian digunakan untuk memberi umpan balik (feedback)
kepada peserta didik dan guru sebagai perbaikan mutu pembelajaran. Hasil
penilaian pengetahuan yang dilakukan selama dan setelah proses pembelajaran
dinyatakan dalam bentuk angka dengan rentang 0-100.
Berbagai teknik penilaian pengetahuan dapat digunakan sesuai dengan
karakteristik masing-masing KD. Teknik yang biasa digunakan antara lain tes
tertulis, tes lisan, penugasan, dan portofolio. Teknik-teknik penilaian
pengetahuan yang biasa digunakan disajikan dalam Tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.2 Teknik penilaian pengetahuan
Teknik Bentuk Instrumen Tujuan
Tes Tertulis Benar-Salah, Mengetahui penguasaan
Menjodohkan, Pilihan pengetahuan peserta didik untuk
Ganda, Isian/Melengkapi, perbaikan proses pembelajaran
Uraian
Tes Lisan Tanya jawab Mengecek pemahaman peserta
didik untuk perbaikan proses
pembelajaran
Penugasan Tugas yang dilakukan Memfasilitasi penguasaan
secara individu maupun pengetahuan (bila diberikan
kelompok selama proses pembelajaran) atau
mengetahui penguasaan
pengetahuan (bila diberikan pada
akhir pembelajaran)
Portofolio Sampel pekerjaan peserta Sebagai bahan guru
didik terbaik yang mendeskripsikan capaian
diperoleh dari penugasan pengetahuan peserta didik di akhir
dan tes tertulis semester
c. Penilaian Keterampilan
Penilaian keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui
kemampuan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan untuk melakukan
tugas tertentu di dalam berbagai macam konteks sesuai dengan indikator
pencapaian kompetensi. Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan
berbagai teknik, antara lain penilaian kinerja, penilaian proyek, dan penilaian
portofolio. Teknik penilaian keterampilan yang digunakan dipilih sesuai dengan
karakteristik KD pada KI-4.
Berikut disajikan uraian singkat mengenai teknik-teknik penilaian
keterampilan yang mencakup pengertian, langkah-langkah, contoh instrumen
dan rubrik penilaian.
1) Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja adalah penilaian untuk mengukur capaian pembelajaran
yang berupa keterampilan proses atau hasil (produk). Dengan demikian,
aspek yang dinilai dalam penilaian kinerja adalah kualitas proses dalam
mengerjakan suatu tugas atau kualitas produk yang dihasilkan atau kedua-
duanya. Keterampilan proses adalah keterampilan melakukan tugas/tindakan
dengan menggunakan alat atau bahan dengan prosedur kerja kerja tertentu,
sementara produk adalah sesuatu (bisanya barang) yang dihasilkan dari
penyelesaian sebuah tugas.
2) Penilaian Proyek
Penilaian proyek adalah suatu kegiatan untuk mengetahui kemampuan
peserta didik dalam mengaplikasikan pengetahuannya melalui penyelesaian
suatu tugas dalam periode/waktu tertentu. Penilaian proyek dapat dilakukan
untuk mengukur satu atau beberapa KD dalam satu atau beberapa mata
pelajaran. Tugas tersebut berupa rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan,
pengumpulan data, pengorganisasian data, pengolahan, penyajian data, serta
pelaporan.
3) Penilaian Portofolio
Seperti pada penilaian pengetahuan, portofolio untuk penilaian keterampilan
berupa kumpulan sampel karya terbaik dari KD pada KI-4. Portofolio setiap
peserta didik disimpan dalam suatu folder (map) dan diberi tanggal
pengumpulan oleh guru. Portofolio dapat disimpan dalam bentuk cetakan
atau elektronik. Pada akhir semester kumpulan sampel karya tersebut
digunakan sebagai sebagian bahan untuk mendeskripsikan pencapaian
keterampilan secara deskriptif.
Adapun contoh penilaian keterampilan tersebut sebagai berikut.
Skor
No Aspek yang Dinilai
1 2 3 4 5
1 Menyiapkan dan merencanakan pengamatan
2 Melakukan pengamatan
3 Membuat laporan
Jumlah
Skor 9 (2+4+3)

Bagian II
Petunjuk Khusus
A. Pendahuluan
RPP ini merupakan pedoman guru untuk mengelola pembelajaran terutama
dalam memfasilitasi peserta didik untuk memahami materi pada buku siswa.
Materi ajar yang ada pada buku teks pelajaran Matematika Kelas X Peminatan
MIPAakan dilakukan selama satu tahun ajaran. Guru dapat melaksanakan
kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP ataupun dengan tambahan materi
serta variasi metode lain yang disesuaikan dengan kondisi siswa.

B. Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran berdasarkan tujuan penguasaan KD yang dicapai
melalui proses pembelajaran atas indikator yang telah dirumuskan dari setiap
KD, terutama KD penjabaran dari KI 3. Kompetensi dasar pada KI 3 untuk mata
pekajaran MATEMATIKA dapat dijabarkan menjadi beberapa indikator sebagai
berikut.
Kompetensi Dasar Indikator
3.1 Mendeskripsikan dan 3.1.1 Menyebutkan pengertian eksponen fungsi
menentukan dan logaritma
3.1.2 Membedakan bilangan yang berbentuk
penyelesaian fungsi
eksponen dan bukan eksponen
eksponensial dan
3.1.3 Menyebutkan pengertian bentuk akar
fungsi logaritma 3.1.4 Membedakan bentuk akar dan bukan akar
3.1.5 Menemukan sifat-sifat bentuk akar
menggunakan masalah
4.1.1 Menemukan sifat-sifat eksponen
kontekstual serta 4.1.2 Menyelesaikan soal berkaitan dengan
keberkaitannya eksponen
4.1.3 Menyelesaikan soal-soal berkaitan dengan
bentuk akar
4.1Menyajikan dan 4.1.4 Menyelesaikan soal yang berkaitan dengan

menyelesaiakan merasionalkan bentuk akar

masalah yang berkaitan


dengan fungsi
eksponensial dan
fungsi logaritma
3.2Menjelaskan vektor, 3.2.1 Menjelaskan pengertian scalar dan vector
3.2.2 Menentukan panjang vector
operasi vektor, panjang
3.2.3 Menentukan vektor satuan dari suatu
vektor, sudut antar
vector
vektor dalam ruang 3.2.4 Menentukan hasil penjumlahan dan
berdimensi dua pengurangan vector
3.2.5 menentukan hasil kali vektor dengan scalar
(bidang) dan
3.2.6 menentukan sifat-sifat penjumlahan vector
berdimensi tiga 3.2.7 Menentukan sifat-sifat perkalian vektor
dengan scalar
4.2Memecahkan masalah 3.2.8 Menemukan rumus perbandingan vector
3.2.9 Menggunakan rumus perbandingan vector
dengan menggunakan
3.2.10 Menentukan hasil kali scalar dua vector
kaidah-kaidah vektor 3.2.11 menentukan sifat-sifat hasil kali scalar dua
vector
3.2.12 menentukan sudut antara dua vector
3.2.13 Menentukan proyeksi vektor pada vektor
lain
4.2.1 Menggunakan sifat-sifat penjumlahan
vektor untuk memecahkan masalah
penjumlahan vector
4.2.2 Menyelesaikan masalah perkalian scalar
dua vektor menggunakan sifat perkalian
scalar dua vector
4.2.3 Menentukan sudut antara dua vektor
dalam memecahkan masalah

Sesuai dengan desain waktu dan materi setiap bab, maka untuk semester
1 pada Bab I dan Bab 2 pada semester dua masing-masing Bab akan diselesaikan
dalam 5 pertemuan atau 10 x 45 menit dan 6 pertemuan atau 12 x 45 menit.
Agar pembelajaran itu lebih efektif dan terarah, maka setiap minggu
pembelajaran dirancang terdiri dari: (1) Pendahuluan yang merupakan indikator
(2) Kegiatan Pembelajaran, (3) Proses Pembelajaran, yang meliputi Alokasi
Waktu, Materi Ajar, Tujuan Pembelajaran dan Sumber Belajar, Kegiatan
Pembelajaran, dan Penilaian, (4) Pengayaan, (5) Remedial, (6) Interaksi Guru dan
Orangtua.

C. Langkah Pembelajaran Umum


Pembelajaran MATEMATIKA harus disajikan menggunakan pendekatan ilmiah
(saintifik/ scientific), dan menggunakan model yang dianjurkan dalam Kurikulum
2013, yaitu discovery-inquiry based learning, problem based learning, dan project
based learning. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dapat didefinisikan
sebagai pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik
secara aktif membangun konsep, hukum, atau prinsip melalui tahapantahapan
mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan
mengomunikasikan (5M). Langkah-langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan
mencipta.
Dalam melaksanakan proses pembelajaran MATEMATIKA, bantuan guru
diperlukan, tetapi bantuan itu harus semakin berkurang ketika peserta didik
semakin bertambah dewasa atau semakin tinggi kelasnya. Pembelajaran dengan
pendekatan saintifik antara lain didasarkan pada prinsip pembelajaran sebagai
berikut :
a. Berpusat pada peserta didik,
b. Memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengkonstruk konsep,
hukum, dan prinsip,
c. Mendorong terjadinya peningkatan kecakapan berpikir peserta didik,\
d. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik, dan
e. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melatih kemampuan
dalam komunikasi.
Secara umum pembelajaran dengan pendekatan saintifik dilakukan melalui
langkah-langkah:
a. Peserta didik melakukan pengamatan atas suatu fenomena yang berupa
gambar/ video, lingkungan sekitar untuk mengidentifikasi hal-hal yang ingin
diketahui dari hasil pengamatan.
b. Peserta didik merumuskan pertanyaan berdasarkan hal-hal yang ingin
diketahui peserta didik pada saat melakukan pengamatan.
c. Mengumpulkan data atau informasi dengan berbagai teknik, seperti :
membaca buku siswa, mencari di internet, wawancara dengan narasumber
atau melakukan pengamatan di lapangan.
d. Menganalisis data atau informasi yang diperoleh dari berbagai sumber
untuk menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan sampai diperoleh suatu
kesimpulan atas jawaban dari pertanyaan yang telah dirumuskan.
e. Mengomunikasikan kesimpulan dengan cara mempresentasikan di depan
kelas, menempel kesimpulan pada dinding kelas atau tempat yang telah
disediakan sebagai wahana belajar peserta didik.
Pengorganisasian materi MATEMATIKA dalam Kurikulum 2013 dilakukan
secara terpadu. Model pendekatan terpadu, memadukan berbagai disiplin ilmu
sosial sedemikian rupa sehingga batas-batas antara disiplin ilmu yang satu
dengan lainnya menjadi tidak tampak (Hasan, 1995: 27).
Pendekatan terpadu pada hakikatnya merupakan pendekatan pembelajaran
yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok
aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik
dan autentik. Melalui pengembangan materi terpadu, peserta didik dapat
memperoleh pengalaman langsung sehingga dapat menambah kekuatan untuk
menerima, menyimpan, dan memproduksi kembali pengetahuan yang
dipelajarinya.
Secara garis besar langkah-langkah dalam pembelajaran MATEMATIKA
meliputi tiga kegiatan besar, yaitu: Kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti, dan
Kegiatan Penutup. Contoh kegitan pembelajaran MATEMATIKA dengan
pendekatan saintifik dapat diperhatikan pada tabel berikut.
Langkah Kegiatan
1. Peserta didik dan guru mengucapkan salam
2. Guru mengingatkan kembali tentang konsep-konsep yang
telah dipelajari oleh peserta didik yang berkaitan dengan
Pendahuluan
materi yang akan dipelajari.
3. Guru menyampaikan informasi tentang topik dan tujuan
pembelajaran yang akan dipelajari
Kegiatan Inti 1. Mengamati
a. Peserta didik mengamati fenomena yang berupa
(gambar, foto, slide, video) mengenai hutan gundul,
hujan deras, orang yang membuang
sampah sembarangan, banjir besar, atau berbagai
peristiwa yang terkait dengan bencana banjir yang
terjadi di suatu tempat.
b. Berdasarkan hasil pengamatan peserta didik diminta
mendiskusikan dalam kelompok tentang hal-hal yang
ingin diketaahui dari hasil pengamatan, kemudian
diminta dituliskan di dalam buku catatan.
c. Wakil dari kelompok diminta menuliskan di papan tulis
tentang hal-hal yang ingin diketahui dari hasil
pengamatan.
2. Menanya
a. Peserta didik diminta merumuskan pertanyaan dari hal-
hal yang ingin diketahui dari hasil pengamatan, misalnya,
“apa penyebab terjadinya banjir?
b. Wakil dari peserta didik diminta menuliskan pertanyaan
yang telah dirumuskan di papan tulis.
3. Mengumpulkan data atau informasi.
Peserta didik diminta mengumpulkan informasi/data yang
relevan terkait dengan pertanyaan yang telah dirumuskan
dari berbagai sumber, seperti: membaca buku siswa,
mencari informasi dari berbagai situs di internet,
wawancara dengan narasumber/ pakar.
4. Menganalisis Data
Peserta didik diminta menganalisis data/informasi untuk
menjawab pertanyaan dan membuat simpulan dari jawaban
atas pertanyaan.
5. Mengomunikasikan
Peserta didik menyampaikan kesimpulannya secara lisan
atau tertulis, misalnya, melalui presentasi kelompok, diskusi,
dan tanya jawab.
1. Peserta didik diminta untuk meningkatkan pemahamannya
mengenai materi yang telah dipelajari dari buku-buku
pelajaran atau sumber informasi lain yang relevan.
2. Guru dapat memberitahukan situs-situs di internet yang
terkait dengan konsep, prinsip, atau teori yang telah
Penutup
dipelajari oleh peserta didik dan kemudian meminta peserta
didik untuk mengaksesnya.
3. Peserta didik diberi pesan-pesan moral oleh guru
4. Peserta didik diberi informasi tentang pembelajaran
pertemuan berikutnya.
BAB 1
EKSPONEN DAN LOGARITMA
A. Pendahuluan
Bakteri merupakan salah satu makhluk ciptaan tuhan yang berukuran sangat
kecil. Untuk mengamati bakteri kamu memerlukan alat khusus, yaitu mikroskop.
Bakteriberkembang biak dengan cara membelah diri. Satu bakteri akan
berkembang biak menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8 dan seterusnya.
Perkembangbiakan bakteri tersebut ada kaitannya dengan fungsi eksponensial.

B. Kegiatan Pembelajaran
Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran
3.1  Bentuk Pangkat  Mengamati lembar
- Pangkat bulat positif permasalahan pada
Mendeskripsika
 Pengertian Pangkat LKS tentang
n dan
bulat positif eksponen dan
menentukan
 Sifat-sifat bilangan logaritma
penyelesaian
dengan pangkat  Menanyakan cara
fungsi
bulat positif yang mudah
eksponensial
- Pangkat Bulat Negatif menentukan cara
dan fungsi
dan Nol eksponen dan
logaritma  Pangkat bulat logaritma
menggunakan negative  Membedakan
masalah  Pangkat Nol bilangan eksponen
kontekstual - Notasi Ilmiah dan bukan
serta  Bentuk Akar eksponen
keberkaitannya - Bilangan Rasional dan  Mengamati
Irasional permasalahan
4.1Menyajikan dan
 Bilangan Rasional fungsi logaritma,
menyelesaiakan
 Bilangan Irasional grafik fungsi
masalah yang
- Bentuk Akar eksponen
berkaitan dengan
- Menyederhanakan  Melukis grafik
fungsi
Bentuk Akar fungsi eksponen
eksponensial dan
- Operasi Aljabar Bentuk  Mengamati
fungsi logaritma
Akar persamaan dan
- Merasionalkan pertidaksamaan
Penyebut suatu pecahan logaritma melalui
bentuk akar LKS
- Pangkat Rasional  Merancang Grafik

 Fungsi Eksponensial fungsi eksponen

- Menemukan Konsep dan logaritma

Fungsi Eksponensial  Mengolah data dari

- Melukis Grafik Fungsi fungsi eksponen

Eksponensial dan logaritma

- Sifat-sifat Grafik dalam

Eksponensial menyelesaikan

 Persamaan masalah

Eksponensial
- Bentuk-bentuk
persamaan
eksponensial
 Logaritma
- Pengertian
- Nilai Logaritma
- Sifat-sifat logaritma
- Nilai Antilogaritma
- Penerapan Logaritma
 Fungsi Logaritma
- Konsep Fungsi
Logaritma
- Grafik Fungsi Logaritma
 Persamaan Logaritma
- Konsep Persamaan
Logaritma
- Bentuk Persamaan
Logaritma

C. Proses Pembelajaran
1. Alokasi Waktu
Waktu yang digunakan untuk Bab 1 Eksponen dan Logaritma adalah 5
Pertemuan atau 10 × 45 menit
2. Materi Ajar
 Bentuk pangkat
 Bentuk Akar
 Fungsi dan Persamaan Eksponensial
 Logartima, Fungsi dan Persamaan Logaritma
3. Proses Pembelajaran
a. Tujuan Pembelajaran:
Pertemuan 1 :
 Siswa dapat menyebutkan pengertian eksponen fungsi dan
logaritma
 Siswa dapat Membedakan bilangan yang berbentuk eksponen dan
bukan eksponen
Pertemuan 2
 Siswa dapat menemukan sifat-sifat eksponen
 Menyelesaikan soal berkaitan dengan eksponen
Pertemuan 3
 Siswa dapat menyebutkan pengertian bentuk akar
 Siswa dapat membedakan bentuk akar dan bukan akar
 Siswa dapat menemukan sifat-sifat bentuk akar
Pertemuan 4
 Siswa dapat menyelesaikan soal-soal berkaitan dengan bentuk
akar
 Siswa dapat menyelesaikan soal yang berkaitan dengan
merasionalkan bentuk akar
Pertemuan 5
Ulangan Harian
b. Media Pembelajaran dan Sumber Belajar
 Media : Tayangan Power Point, LCD Proyektor
 Sumber : Buku Matematika untuk SMA Kelas X Peminatan
(Novianto Kurnia dkk, Yudhistrita), Halaman 9-69, internet dan
lingkungan sekitar
c. Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan pertama:
Langkah Kegiatan
Pendahulua 1. Guru menyiapkan peserta didik untuk mengikuti
n proses pembelajaran
2. Guru memotivasi siswa dengan bertanya : dapatkah
peserta didik mengamati gambar berikut pada
lembar kerja siswa 1
3. Guru menyampaiakan tujuan pembelajaran yang
akan dipelajari
4. Guru menyampaikan materi dan penjelasan uraian
kegiatan yang akan dipelajari
Inti
1. Peserta didik mengamati lembar permasalahan
yang ada dalam LKS terlampir 1 melalui PBL
tentang bentuk perpangkatan.
2. Menanyakan cara yang mudah untuk menentukan
cara eksponen
3. Siswa diajak untuk mengamati gambar
.

Eksponen logaritma
Dari pengamatan berikut peserta didik dapat
membedakan eksponen dan logaritma
4. Peserta didik berdiskusi bekerja kelompok untuk
menemukan permasalahan awal dalam eksponen
5. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok
yang terdiri dari 4 siswa untuk mencermati lembar
kerja siswa 1 menggunakan pembelajaran
kooperatif tipe PBL
6. Peserta didik bekerja kelompok untuk mencermati
permasalahan yang terkait dengan eksponen yang
tertera pada lembar kerja siswa 1
7. Peserta didik menyimpulkan perbedaan eksponen
dan logaritma dari grafik
8. Untuk mengetahui pemahaman materi yang
dipelajari peserta didik mengerjakan langkah-
langkah pada lembar kerja siswa 1, serta latihan
soal
9. Salah satu kelompok mempresentasikan hasil
diskusi kelompoknya.
10. Peserta didik memberikan tanggapan hasil
presentasi melalui tanya jawab untuk
mengkonfirmasi, melengkapi informasiataupun
tanggapan lainnya.
11. Guru mengumpulkan semua hasil kerja siswa
Penutup 1. Peserta didik diminta menyimpulkan tentang
materi yang diajarkan
2. Guru memberikan penghargaan kepada peserta
didik terkait dengan aktivitas kelompok.
3. Guru memberikan tugas PR beberapa soal mengenai
penerapan eksponen.
4. Guru memberikan penjelasan sedikit tentang materi
yang akan diberikan untuk pertemuan selanjutnya.
5. Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan
memberikan pesan jangan lupa beribadah,
membantu orang tua dan untuk tetap belajar.
6. Guru memberikan salam

Pertemuan Kedua
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Pendahulua 1. Guru menyiapkan peserta didik untuk mengikuti
n proses pembelajaran
2. Guru memotivasi siswa dengan bertanya : dapatkah
peserta didik mengamati gambar berikut pada
lembar kerja siswa 1
3. Guru menyampaiakan tujuan pembelajaran yang
akan dipelajari
4. Guru menyampaikan materi dan penjelasan uraian
kegiatan yang akan dipelajari
Inti Mengamati
1. Peserta didik mengamati lembar permasalahan
yang ada dalam LKS terlampir 1 melalui pbl tentang
grafik fungsi eksponen.

2. Menanyakan cara yang mudah untuk menentukan


cara eksponen persamaan eksponen
3. Siswa diajak untuk mengrejakan soal yang berkaitan
dengan persamaan ekponen seperti dalam contoh 2
Tentukan persamaan dan pertidaksamaan
eksponen berikut ini
x+1
4 =0, 25
1
4 x+1 =
4
4 x+1=4−1
4 x+1 =−1
X+1 = -1
Maka x= -2
Pertidaksamaa eksponen
5 x −1 x+3
3 ≤ 27
35 x − 1 ≤(3)3 x+3
5x − 1 3( x+3 )
3 ≤3
5x-1 ≤ 3x+ 9
5x-3x ≤ 9+1
2x ≤10
x≤5 jadi himpunan penyelesaian (xIx ≤5, x
∈R )
4. Peserta didik berdiskusi bekerja kelompok untuk
menemukan permasalahan awal dalam eksponen
5. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok
yang terdiri dari 4 siswa untuk mencermati lembar
kerja siswa 2 menggunakan pembelajaran
kooperatif tipe
6. Peserta didik bekerja kelompok untuk mencermati
permasalahan yang terkait dengan persamaan
eksponen yang tertera pada lembar kerja siswa 2
7. Untuk mengetahui pemahaman materi yang
dipelajari peserta didik mengerjakan langkah-
langkah pada lembar kerja siswa 1, serta latihan
soal
8. Salah satu kelompok mempresentasikan hasil
diskusi kelompoknya.
9. Peserta didik memberikan tanggapan hasil
presentasi melalui tanya jawab untuk
mengkonfirmasi, melengkapi informasiataupun
tanggapan lainnya.
10. Guru mengumpulkan semua hasil kerja siswa
Penutup 11. Peserta didik diminta menyimpulkan tentang
materi yang diajarkan
12. Guru memberikan penghargaan kepada peserta
didik terkait dengan aktivitas kelompok.
13. Guru memberikan tugas PR beberapa soal mengenai
penerapan eksponen.
14. Guru memberikan penjelasan sedikit tentang materi
yang akan diberikan untuk pertemuan selanjutnya.
15. Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan
memberikan pesan jangan lupa beribadah,
membantu orang tua dan untuk tetap belajar.
16. Guru memberikan salam

Pertemuan Ketiga
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Pendahulua 1. Guru menyiapkan peserta didik untuk mengikuti
n proses pembelajaran
2. Guru memotivasi siswa dengan bertanya : dapatkah
peserta didik mengamati gambar berikut pada
lembar kerja siswa 3
3. Guru menyampaiakan tujuan pembelajaran yang
akan dipelajari
4. Guru menyampaikan materi dan penjelasan uraian
kegiatan yang akan dipelajari
Inti
1. Peserta didik mengamati lembar permasalahan
yang ada dalam LKS terlampir 3 melalui pbl tentang
persamaan dan pertidaksamaan logaritma
2. Menanyakan cara yang mudah untuk menentukan
cara eksponen persamaan eksponen
3. Siswa diajak untuk mengrejakan soal yang berkaitan
dengan persamaan ekponen seperti dalam contoh 2
Tentukan persamaan dan pertidaksamaan
logaritma berikut ini
Persamaan logaritma
2 2
log( x+1) = log 16
x+1 = 16
x= 15
jadi himpunan penyeelsainya adalah {5}
pertidaksamaan logaritma
2
log( x 2 −7 x )≤2 log18
x 2−7 x≤18
x 2−7 x−18≤0
(x-9) (x+2)
Jadi himpunan penyelesaian (-2 ≤x≤9)
4. Peserta didik berdiskusi bekerja kelompok untuk
menemukan permasalahan awal dalam eksponen
5. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok
yang terdiri dari 4 siswa untuk mencermati lembar
kerja siswa 3 menggunakan pembelajaran
kooperatif tipe
6. Peserta didik bekerja kelompok untuk mencermati
permasalahan yang terkait dengan persamaan
eksponen yang tertera pada lembar kerja siswa 2
7. Untuk mengetahui pemahaman materi yang
dipelajari peserta didik mengerjakan langkah-
langkah pada lembar kerja siswa 1, serta latihan
soal
8. Salah satu kelompok mempresentasikan hasil
diskusi kelompoknya.
9. Peserta didik memberikan tanggapan hasil
presentasi melalui tanya jawab untuk
mengkonfirmasi, melengkapi informasiataupun
tanggapan lainnya.
10. Guru mengumpulkan semua hasil kerja siswa
Penutup 11. Peserta didik diminta menyimpulkan tentang
materi yang diajarkan
12. Guru memberikan penghargaan kepada peserta
didik terkait dengan aktivitas kelompok.
13. Guru memberikan tugas PR beberapa soal mengenai
penerapan eksponen.
14. Guru memberikan penjelasan sedikit tentang materi
yang akan diberikan untuk pertemuan selanjutnya.
15. Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan
memberikan pesan jangan lupa beribadah,
membantu orang tua dan untuk tetap belajar.
16. Guru memberikan salam

Pertemuan Keempat dan Kelima


Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Pendahulua 1. Guru memberikan salam dan memulai dan
n mengakhiri pelajaran dengan salam
2. Guru meminta siswa untuk tenang, memberikan
motifasi agar siswa mempunyai semangat belajar.
Inti 1. Ulangan Materi eksponen dan logaritma
2. Guru membagi soal ulangan tentang materi
eksponen dan logaritma
Penutup 1. Guru mengumpulkan hasil ulangan siswa.
2. Guru menanyakan kepada siswa tentang soal-soal
ulangan yang diangkap sukar
3. Guru memberi tahu materi yang akan diberikan
untuk hari berikutnya.
4. Guru memberi tugas untuk membaca materi
selanjutnya

d. Penilaian
Untuk menilai aspek sikap digunakan teknik observasi dengan
menggunakn rubrik, aspek pengetahuan dengan tes tertulis berupa uraian
dan aspek keterampilan dengan observasi
Untuk menilai aspek sikap digunakan teknik observasi dengan
menggunakan rubrik, aspek pengetahuan dengan tes lisan dalam bentuk
uraian dan aspek Keterampilan dengan observasi, seperti tampak pada
contoh berikut :
 Penilaian Sikap
Penilaian sikap dilakukan terhadap sikap spiritual dan sikap sosial.
Format untuk jurnal dan rubrik dari penilaian ini terdapat pada buku
guru petunjuk umum.
 Penilaian Pengetahuan
a) TesTertulis
Penilaian pengetahuan dilakukan dengan memberikan nilai benar
pada jawaban dari pertanyaan yang diberikan secara lisan,
tertulis, atau penugasan. Adapun format dari rubrik penilaian
pengetahuan telah disampaikan di petunjuk umum buku guru.
b) Observasi Terhadap Diskusi, Tanya Jawab danPercakapan
Pernyataan
Ketepatan Kesesuaian
Nama Pengungkapan Kebenaran
Penggunaan dengan
Siswa Gagasan Konsep
Istilah tema
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
…………
…………
………….
………….

1. Penilaian Keterampilan
Rubrik penilaian kinerja
Hasil
N
Aspek yang Diamati Tida
o Ya
k
Berpartisipasi dalam mempersiapkan bahan
1
diskusi
Memberikan pendapat dalam memecahkan
2
masalah
Memberikan komentar terhadap hasil kerja
3 kelompok
lain
4 Mengajukan pertanyaan ketika belajar di kelas
Menulis dengan rapi dengan menggunakan
5
bahasa yang sesuai dengan EYD

D. Pengayaan
Pengayaan dilaksanakan sebagai tindak lanjut analisis hasil penilaian. Pengayaan
dilakukan dengan cara peserta didik diminta untuk membuat rangkuman materi
eksponen dan logaritma dengan lengkap di buku tulis. Peserta didik dapat
membaca dari buku teks lain atau browsing internet terkait materi eksponen dan
logaritma.
E. Remedial
Tindak lanjut bagi pesa didik yang belum mencapai KKM adalah diberikan
program remedial. Untuk kegiatan remedial, peserta didik secara terencana
mempelajari buku teks pelajaran Matematika Kelas XII pada bab1 bagian
tertentu. Peserta didik diminta komitmennya untuk belajar secara disiplin dalam
rangka memahami materi pelajaran, pendidik kemudian mengadakan uji
kemampuan kembali bagi peserta didik yang mendapat remedial.
Uji kemampuan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk penilaian. Arahkan
peserta didik untuk lebih memahami materi dengan mencari informasi dari
berbagai sumber.Program remedial dapat dilakukan pada pengetahuan,
keterampilan ataupun penilaian sikap. Kegiatan untuk program remedial dapat
melibatkan beberapa pihak baik guru Bimbingan Konseling, Wali Kelas, ataupun
Orang Tua/Wali.
Langkah-langkah yang dilakukan pada program remedial adalah sebagai berikut.
1. Identifikasi permasalahan pembelajaran
2. Perencanaan program remedial
3. Pelaksanaan program remedial
4. Penilaian Autentik

F. Interaksi Guru dan Orangtua/wali Peserta didik


Interaksi dapat dilakukan secara tertulis ataupun tidak langsung. Interaksi
tersebut dapat dilakukan antara lain dengan:
1. Komunikasi tertulis antara guru dengan orang tua
2. Memeriksa dan menandatangani hasil pekerjaan siswa
3. Melakukan hubungan atau interaksi dan komunikasi melalui berbagai media
komunikasi sehingga kemajuan dan perkembangan dari siswa dapat
terpantau dengan baik.
Paraf
No Hari, Tanggal Sub Bab Judul Tugas
Orang Tua Guru

Jakarta, Oktober 2016


Mengetahui,
Kepala SMA Guru Mata Pelajaran Matematika
............... ........................

BAB 2
VEKTOR
A. Pendahuluan
Para ahli fisika menemukan bahwa arah dan cepat/lambat laju gerak suatu benda
itu memiliki arti yang sama penting. Mereka menyebutnya dengan istilah
kecepatan untuk mewakili gabungan arti kedua-duanya. kita dapat
membayangkan kecepatan sebagai suatu anak panah yang menunjuk pada arah
gerak dan panjangnya adalah sebanding dengan besar laju gerak. Anak panah
yang mewakili arah dan besar kecepatan tersebut kita namakan vektor.

B. Kegiatan Pembelajaran:
Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran
3.2Menjelaskan  Lambang Vektor  Membaca dan
vektor, operasi  Vektor di R2 mengamati LKS
vektor, panjang - Pengertian Vektor di R2 terkait vektor
vektor, sudut  Notasi  Mendiskusikan
antar vektor  Besar Vektor penyelesaian
dalam ruang  Vektor Satuan masalah terkait
berdimensi dua  Vektor Nol vektor
(bidang) dan  Vektor Posisi  Menentukan
berdimensi tiga  Kesamaan Vektor panjang dan hasil
 Vektor Berlawanan operasi vektor
4.2Memecahkan
- Penjumlahan dan  Menemukan rumus
masalah dengan
pengurangan Vektor perbandingan
menggunakan
- Vektor Basis dalam vektor
kaidah-kaidah
Bidang  Menentukan hasil
vektor - Perkalian vektor denga kali scalar dua
Skalr vektor, sudut antara
- Perbandingan Vektor di dua vektor dan
R2 proyeksi vektor lain
 Vektor di R3  menggunakan sifat
- Sistem Koordinat dalam penjumlahan
ruang vektor
- Vektor basis dalam  Menyelesaikan
ruang masalah perkalian
- Penjumlahan, scalar dua vektor
pengurangan dan dan menentukan
perkalian vektor dengan sudut antara dua
scalar vektor dalam
- Perbandingan vektor di memecahkan

R3 masalah.

- Kolineritas Vektor di R3
 Perkalian scalar dengan
dua vektor
 Sudut antara dua vektor
 Proyeksi Ortogonal
suatu vektor pada
vektor lain
 Perkalian silang antara
dua vektor di R2

C. Proses Pembelajaran
1. Alokasi Waktu
Waktu yang digunakan untuk Bab 2 Vektor adalah 7 Pertemuan atau 14 ×
45 menit
2. Materi Ajar
 Lambang Vektor
 Vektor di R2 dan Vektor di R3
 Perkalian skalar dua vektor
 Sudut antar dua vektor
 Proyeksi Ortogonal
 Perkalian silang antara dua vektor di R2

3. Proses Pembelajaran
a. Tujuan Pembelajaran:
Pertemuan 1
 Menjelaskan pengertian scalar dan vektor
 Menentukan panjang vektor
 Menentukan vektor satuan dari suatu vektor
Pertemuan 2
 Menentukan hasil penjumlahan dan pengurangan vektor
 menentukan hasil kali vektor dengan scalar
 menentukan sifat-sifat penjumlahan vektor
 Menentukan sifat-sifat perkalian vektor dengan scalar
Pertemuan 3
 Menemukan rumus perbandingan vektor
 Menggunakan rumus perbandingan vektor
Pertemuan 4
 Menentukan hasil kali scalar dua vektor
 menentukan sifat-sifat hasil kali scalar dua vektor
Pertemuan 5
 menentukan sudut antara dua vektor
 Menentukan proyeksi vektor pada vektor lain
Pertemuan 6
 Menggunakan sifat-sifat penjumlahan vektor untuk memecahkan
masalah penjumlahan vektor
 Menyelesaikan masalah perkalian scalar dua vektor menggunakan
sifat perkalian scalar dua vektor
 Menentukan sudut antara dua vektor dalam memecahkan masalah
b. Media Pembelajaran dan Sumber Belajar
 Media : Tayangan Power Point, LCD Proyektor
 Sumber : Buku Matematika untuk SMA Kelas X Peminatan
(Novianto Kurnia dkk, Yudhistrita), Halaman 9-69, internet dan
lingkungan sekitar
c. Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan pertama
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Pendahuluan - Dimulai dengan berdoa, mengecek kehadiran dan
menyiapakan peserta didik untuk mengikuti
pembelajaran
- Apersepsi: dengan tanya jawab, peserta didik
mengingat kembali pelajaran fisika tentang dua
macam besaran yaitu besaran skalar dan besaran
vektor. Besaran skalar misalnya temperatur,
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
tekanan, massa. Untuk besaran vektor misalnya
kecepatan, gaya.
- Motivasi: menekankan kepada peserta didik bahwa
materi vektor banyak manfaatnya dalam kehidupan
sehari-hari seperti ketika penerjun menjatuhkan
diri dari kapal, tempat ia jatuh tidak tepat di bawah
kapal, tetapi jauh melenceng
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: setelah
pembelajaran siswa diharapkan dapat menentukan
besar vektor
- Peserta didik membentuk kelompok, dengan tiap
kelompok terdiri atas 4 siswa
- Masing-masing kelompok membaca dan
mengamati LKS (mengamati)
- Kemudian masing-masing kelompok
mendiskusikan LKS untuk mencari penyelesaian
(mengeksplorasi)
- Peserta didik menentukan jawaban dari LKS
(mengasosiasi)
- Peserta didik bertanya kepada guru tentang
kesulitan yang dihadapi (menanya)
- Selama peserta didik berdiskusi didalam kelompok,

Inti guru memperhatikan dan mendorong semua


peserta didik untuk terlibat diskusi
(mengkomunikasi)
- Salah satu perwakilan kelompok diskusi
mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas
(mengkomunikasi)
- Kelompok lain menanggapi dan bertanya jika ada
yang ingin ditanyakan (menanya)
- Guru menanggapi jawaban siswa dan
mengklarifikasi jika ada jawaban yang kurang tepat
- Kelompok yang mempresentasikan hasil diskusi
dengan benar diberikan penghargaan dengan
diberikan tapuk tangan
Penutup - Peserta didik membuat kesimpulan mengenai
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
pengertian skalar, vektor, dan menentukan panjang
vektor
- Peserta didik melakukan refleksi tentang kegiatan
pembelajaran yang dilakukan pada hari ini
- Guru menginformasikan kepada siswa bahwa
pertemuan yang akan datang akan membahas
tentang penjumlahan, pengurangan dan perkalian
vektor dengan skalar serta sifatnya.
- Berdoa untuk mengakhiri pembelajaran

Pertemuan kedua
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
1. Dimulai dengan berdoa, mengecek kehadiran dan
menyiapakan peserta didik untuk mengikuti
pembelajaran
2. Apersepsi: Mengingatkan kembali aturan
penjumlahan dan pengurangan matriks kolom.

Misal: a=
2
1()dan b=
5
−3 ( )
Pendahuluan ( )( )
a+b= 2+5 = 7
1+(−3) −2

a−b=(
2−3
) =( )
1−(−3) −4
−1

3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: setelah


pembelajaran peserta didik diharapkan dapat
menentukan hasil operasi pada vektor yaitu
penjumlahan, pengurangan dan perkalian vektor
dengan skalar.
Inti - peserta didik membentuk kelompok, dengan tiap
kelompok terdiri atas 4 siswa
- Masing-masing kelompok membaca dan
memahami LKS (mengamati)
- Kemudian masing-masing kelompok
mendiskusikan LKS untuk mencari penyelesaian
(mengeksplorasi)
- Peserta didik menentukan penyelesaian LKS
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
(mengasosiasi)
- Peserta didik bertanya kepada guru tentang
kesulitan yang dihadapi (menanya)
- Selama peserta didik berdiskusi didalam kelompok,
guru memperhatikan dan mendorong semua
peserta didik untuk terlibat diskusi
- Perwakilan masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas
(mengkomunikasi)
- Kelompok lain menanggapi dan bertanya jika ada
yang ingin ditanyakan (menanya)
- Guru menanggapi jawaban peserta didik dan
mengklarifikasi jika ada jawaban yang
menyimpang (mengkomunikasi)
- Kelompok yang mempresentasikan hasil diskusi
dengan benar diberikan penghargaan dengan
diberikan tapuk tangan
- Peserta didik membuat kesimpulan tentang
menentukan hasil operasi penjumlahan,
pengurangan dan perkalian vektor dengan skalar
serta sifat-sifatnya
- Peserta didik melakukan refleksi tentang kegiatan
Penutup pembelajaran yang dilakukan pada hari ini
- guru menginformasikan kepada siswa bahwa
pertemuan yang akan datang membahas tentang
menemukan rumus perbandingan dan
menggunakannya untuk menyelesaiakan masalah.
- berdoa untuk mengakhiri pembelajaran

Pertemuan ketiga
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Pendahuluan - Dimulai dengan berdoa, mengecek kehadiran dan
menyiapakan peserta didik untuk mengikuti
pembelajaran
- Apersepsi: Menanyakan apakah ada materi
pertemuan lalu yang belum dipahami, jika
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
ada yang belum jelas guru mengulas
kembali materi pertemuan yang lalu
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: setelah
pembelajaran peserta didik diharapkan dapat
menggunakan rumus perbandingan dalam
menyelesaiakan masalah
- peserta didik membentuk kelompok, dengan tiap
kelompok terdiri atas 4 siswa
- Masing-masing kelompok membaca dan
mengamati masalah yang tertera di LKS
- Kemudian masing-masing kelompok bersama-sama
mendiskusikan kegiatan 1 tentang bagaimana
menemukan rumus perbandingan dan dilanjutkan
menyelesaikan masalah yang tertera di kegiatan 2
pada LKS (mengeksplorasi)
- Peserta didik menentukan penyelesaian LKS
(mengasosiasi)
- Selama peserta didik berdiskusi didalam kelompok,
guru memperhatikan dan mendorong semua
Inti peserta didik untuk terlibat diskusi
- Peserta didik bertanya kepada guru tentang
kesulitan yang dihadapi (menanya)
- Perwakilan masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas
(mengkomunikasi)
- Kelompok lain menanggapi dan bertanya jika ada
yang ingin ditanyakan (menanya)
- Guru menanggapi jawaban peserta didik dan
mengklarifikasi jika ada jawaban yang
menyimpang (mengkomunikasi)
- Kelompok yang mempresentasikan hasil diskusi
dengan benar diberikan penghargaan dengan
diberikan tapuk tangan
Penutup - Peserta didik membuat kesimpulan tentang
menentukan rumus perbandingan dan cara
menggunakannya untuk menyelesaikan masalah
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
- Peserta didik melakukan refleksi tentang kegiatan
pembelajaran yang dilakukan pada hari ini
- guru menginformasikan kepada peserta didik
bahwa pertemuan yang akan datang mempelajari
tentang menentukan hasil kali skalar dua vektor
dan sifat-sifatnya
- berdoa untuk mengakhiri pembelajaran

Pertemuan keempat
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
- Dimulai dengan berdoa, mengecek kehadiran dan
menyiapakan siswa untuk mengikuti pembelajaran
- Apersepsi: menanyakan kepada siswa apakah ada
materi pertemuan lalu yang belum dipahami, jika
ada yang belum jelas guru mengulas kembali materi
pertemuan yang lalu
- Guru menyampaikan motivasi contoh perkalian
skalar dua vektor dalam kehidupan sehari-hari
Pendahuluan
misalnya dalam pelajaran fisika yaitu Rani menarik
kereta api mainan sehingga gaya tariknya
membentuk sudut θ terhadap bidang horizontal
dan kereta api mainan tersebut sehingga berpindah
sejauh s.
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: setelah
pembelajaran peserta didik diharapkan dapat
menghitung hasil kali skalar dua vektor
Inti - Peserta didik membaca buku tentang menghitung
hasil kali dua vektor
- peserta didik membentuk kelompok, dengan tiap
kelompok terdiri atas 4 siswa
- Peserta didik membaca dan mengamati LKS
(mengamati)
- Kemudian secara bersama-sama, masing-masing
kelompok mendiskusikan penyelesaian LKS
(mengeksplorasi)
- Secara kelompok, peserta didik menyelesaiakn LKS
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
(mengasosiasi)
- Peserta didik menanyakan tentang yang kesulitan
yang dihadapi dalam menyelesaikan LKS
- Selama peserta didik berdiskusi didalam kelompok,
guru memperhatikan dan mendorong semua
peserta didik untuk terlibat diskusi
(mengkomunikasi)
- Salah satu kelompok diskusi mempresentasikan
hasil diskusinya ke depan kelas
(mengkomunikasi)
- Kelompok lain menanggapi dan bertanya jika ada
yang ingin ditanyakan (menanya)
- Guru menanggapi jawaban siswa dan
mengklarifikasi jika ada jawaban yang
menyimpang (mengkomunikasi)
- peserta didik membuat rangkuman tentang materi
yang telah dipelajari hari ini
- Peserta didik refleksi tentang kegiatan
pembelajaran yang dilakukan pada hari ini
- guru menginformasikan kepada siswa bahwa
pertemuan yang akan datang akan membahas
Penutup
tentang mennetukan sudut antara dua vektor dan
menentukan proyeksi ortogonal suaut vektor pada
vektor lain, diharapkan siswa untuk belajar
dirumah tentang materi yang akan dibahas pada
pertemuan yang akan datang.
- Berdoa untuk mengakhiri pembelajaran

Pertemuan kelima
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Pendahuluan - Dimulai dengan berdoa, mengecek kehadiran dan
menyiapakan siswa untuk mengikuti pembelajaran
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
- Apersepsi: Dengan tanya jawab, siswa mengingat
kembali tentang sifat-sifat hasil kali dua
vektor
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: setelah
pembelajaran peserta didik diharapkan dapat
menghitung sudut antara dua vektor, menentukan
proyeksi ortogonal suatu vektor
- Peserta didik membaca buku tentang menentukan
sudut ktor dan proyeksi ortogonal suatu vektor
pada vektor (mengamati)
- Peserta didik membentuk kelompok, dengan tiap
kelompok terdiri dari 4 siswa
- Masing-masing kelompok membaca dan
mencermati LKS yang dilanjutkan diskusi untuk
mencari penyelesaian (mengeksplorasi)
- Peserta didik bersama dengan kelompoknya
menyelesaikan LKS yaitu menentukan sudut antara
dua vektor dan dilanjutkan menentukan proyeksi
Inti ortogonal suatu vektor (mengasosiasi)
- Peserta didik menanyakan tentang kesulitan yang
dihadapi dalam menyelesaiakan LKS (menanya)
- Salah satu kelompok mempresentasikan hasil
diskusinya ke depan kelas, masing-masing
kelompok mempresentasikan satu nomor
(mengkomunikasi)
- Kelompok lain menanggapi dan bertanya jika ada
yang ingin ditanyakan (menanya)
- Guru menanggapi jawaban peserta didik dan
mengklarifikasi jika ada jawaban yang kurang
benar (mengasosiasi dan mengkomunikasi)
- peserta didik membuat rangkuman tentang materi
yang dipelajari hari ini
Penutup - Peserta didik melakukan refleksi tentang kegiatan
pembelajaran yang dilakukan pada hari ini
- berdoa untuk mengakhiri pembelajaran
Pertemuan ke enam
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
- Dimulai dengan berdoa, mengecek kehadiran dan
menyiapakan siswa untuk mengikuti pembelajaran
- Apersepsi: Dengan tanya jawab, peserta didik
mengingat kembali tentang penjumlahan
Pendahuluan vektor
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: setelah
pembelajaran peserta didik diharapkan dapat
menggunakan kaidah-kaidah vektor dalam
menyelesaikan masalah
- Peserta didik membentuk kelompok, dengan tiap
kelompok terdiri dari 4 siswa
- Masing-masing kelompok membaca dan
mencermati LKS yang dilanjutkan diskusi untuk
mencari penyelesaian (mengeksplorasi)
- Peserta didik bersama dengan kelompoknya
menyelesaikan LKS (mengasosiasi)
- Peserta didik menanyakan tentang kesulitan yang
Inti
dihadapi dalam menyelesaikan LKS (menanya)
- Salah satu kelompok mempresentasikan hasil
diskusinya ke depan kelas (mengkomunikasi)
- Kelompok lain menanggapi dan bertanya jika ada
yang ingin ditanyakan (menanya)
- Guru menanggapi jawaban peserta didik dan
mengklarifikasi jika ada jawaban yang kurang
benar (mengasosiasi dan mengkomunikasi)
- peserta didik membuat rangkuman tentang materi
yang dipelajari hari ini
- Peserta didik melakukan refleksi tentang kegiatan
pembelajaran yang dilakukan pada hari ini
Penutup - guru menginformasikan kepada siswa bahwa
pertemuan yang akan datang akan diakan ulangna
harian materi vektor, jadi peserta didik menyiapkan
diri untuk ulangan dan jangan lupa belajar dirumah
- berdoa untuk mengakhiri pembelajaran
Pertemuan Ke tujuh
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
- Dimulai dengan berdoa, mengecek kehadiran dan
menyiapakan siswa untuk mengikuti ulangan
- Guru menyampaikan gambaran tentang soal
ulangan yang akan dikerjakan peerta didik
Pendahuluan
- Guru menyampaikan model soal yang dipakai yaitu
uraian
- Guru juga menyampaikan jumlah soal ada 10
nomor
- Peserta didik mempersiapkan alat untuk
mengerjakan ulangan
- Guru membagikan lembar soal ulangan beserta
lembar jawabnya
- Peserta didik mengerjakan ulangan secara individu
dan tidak boleh ada yang berdiskusi dengan
temannya apalagi mencontek jawaban punya
Inti teman lainnya, jika ketahuan ada peserta didik
yang mencontek akan langsung diambil lembar
soal dan lembar jawabnya
- Peserta didik diberikan waktu untuk mengerjakan
soal selama 65 menit
- Setelah 65 menit usai, peserta didik diberikan
pengumuman untuk segera mengumpulkan lebar
jawab kepada guru
- peserta didik mengumpulkan lembar jawab kepada
guru, sedangkan lembar soal untuk peserta didik
Penutup - guru bersama peserta didik mengevaluasi jawaban
dari soal ulangan tadi.
- Berdoa untuk mengakhiri pembelajaran
d. Penilaian
Untuk menilai aspek sikap digunakan teknik observasi dengan
menggunakn rubrik, aspek pengetahuan dengan tes tertulis berupa uraian
dan aspek keterampilan dengan observasi
Untuk menilai aspek sikap digunakan teknik observasi dengan
menggunakan rubrik, aspek pengetahuan dengan tes lisan dalam bentuk
uraian dan aspek Keterampilan dengan observasi, seperti tampak pada
contoh berikut :
 Penilaian Sikap
Penilaian sikap dilakukan terhadap sikap spiritual dan sikap sosial.
Format untuk jurnal dan rubrik dari penilaian ini terdapat pada buku
guru petunjuk umum.
 Penilaian Pengetahuan
c) TesTertulis
Penilaian pengetahuan dilakukan dengan memberikan nilai benar
pada jawaban dari pertanyaan yang diberikan secara lisan,
tertulis, atau penugasan. Adapun format dari rubrik penilaian
pengetahuan telah disampaikan di petunjuk umum buku guru.
d) Observasi Terhadap Diskusi, Tanya Jawab danPercakapan
Pernyataan
Ketepatan Kesesuaian
Nama Pengungkapan Kebenaran
Penggunaan dengan
Siswa Gagasan Konsep
Istilah tema
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
…………
…………
………….
………….

1. Penilaian Keterampilan
Rubrik penilaian kinerja
Hasil
N
Aspek yang Diamati Tida
o Ya
k
Berpartisipasi dalam mempersiapkan bahan
1
diskusi
Memberikan pendapat dalam memecahkan
2
masalah
Memberikan komentar terhadap hasil kerja
3 kelompok
lain
4 Mengajukan pertanyaan ketika belajar di kelas
Menulis dengan rapi dengan menggunakan
5
bahasa yang sesuai dengan EYD

D. Pengayaan
Pengayaan dilaksanakan sebagai tindak lanjut analisis hasil penilaian. Pengayaan
dilakukan dengan cara peserta didik diminta untuk membuat rangkuman materi
eksponen dan logaritma dengan lengkap di buku tulis. Peserta didik dapat
membaca dari buku teks lain atau browsing internet terkait materi eksponen dan
logaritma.

E. Remedial
Tindak lanjut bagi pesa didik yang belum mencapai KKM adalah diberikan
program remedial. Untuk kegiatan remedial, peserta didik secara terencana
mempelajari buku teks pelajaran Matematika Kelas XII pada bab1 bagian
tertentu. Peserta didik diminta komitmennya untuk belajar secara disiplin dalam
rangka memahami materi pelajaran, pendidik kemudian mengadakan uji
kemampuan kembali bagi peserta didik yang mendapat remedial.
Uji kemampuan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk penilaian. Arahkan
peserta didik untuk lebih memahami materi dengan mencari informasi dari
berbagai sumber.Program remedial dapat dilakukan pada pengetahuan,
keterampilan ataupun penilaian sikap. Kegiatan untuk program remedial dapat
melibatkan beberapa pihak baik guru Bimbingan Konseling, Wali Kelas, ataupun
Orang Tua/Wali.
Langkah-langkah yang dilakukan pada program remedial adalah sebagai berikut.
5. Identifikasi permasalahan pembelajaran
6. Perencanaan program remedial
7. Pelaksanaan program remedial
8. Penilaian Autentik

F. Interaksi Guru dan Orangtua/wali Peserta didik


Interaksi dapat dilakukan secara tertulis ataupun tidak langsung. Interaksi
tersebut dapat dilakukan antara lain dengan:
4. Komunikasi tertulis antara guru dengan orang tua
5. Memeriksa dan menandatangani hasil pekerjaan siswa
6. Melakukan hubungan atau interaksi dan komunikasi melalui berbagai media
komunikasi sehingga kemajuan dan perkembangan dari siswa dapat
terpantau dengan baik.
Paraf
No Hari, Tanggal Sub Bab Judul Tugas
Orang Tua Guru
Jakarta, Oktober 2016
Mengetahui,
Kepala SMA Guru Mata Pelajaran Matematika

............... ...............