Anda di halaman 1dari 7

Nama : Devi Hilda

NIM : 1176000045
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf

Akhlak terhadap perbuatan tercela


Sikap tercela atau Akhlaqul Madzmumah dapat juga disebut dangan
istilah akhlaqus sayyi’ah dan akhlakul muhlikat, artinya sikap dan prilaku yang dilarang oleh
allah SWT atau tidak sesuai dangan syari’at yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Untuk itu
sikap dan prilaku semacam ini harus di tinggalkan oleh siapa pun yang ingin menjadi umat
Nabi Muhammad SAW .

1. Onani dan Masturbasi


Hukum Islam sebagai suatu sistem yang menjunjung tinggi nilai moral dan akhlak
mulia, memandang pekerjaan masturbasi atau onani sebagai sesuatu yang
bertentangan dengan nilai-nilai moral. Masturbasi atau Onani dalam bahasa Arab
diistilahkan dengan istimna’. Secara defenisi, istimna’ berarti sebuah usaha untuk
memperoleh kenikmatan dan pemuasan seksual dengan merangsang alat-alat kelamin
sendiri dengan tangan atau alat lainnya.
Imam Asy-Syafi’i dan Imam Malik mengharamkan perbuatan masturbasi atau
onani atau merangsang alat kelamin sendiri dengan tujuan mencapai kepuasan tanpa
pasangan yang sah. Hal ini sesuai ayat Al-Qur’an: “Dan mereka yang menjaga
kehormatannya (dalam hubungan seksual) kecuali kepada istri atau hamba sahayanya,
maka sesungguhnya mereka tidaklah tercela. Maka barangsiapa yang menginginkan
selain yang demikian, maka mereka adalah orang-orang yang melampaui batas,” (Al-
Mu’minun: 5-7).

Menurut para ulama, ayat diatas berarti bahwa kebutuhan biologis atau dorongan
seksual hanya bisa disalurkan kepada istri atau suami yang sah atau budak yang
dimiliki. Di luar dari itu, apabila ada kontak seks atau diperoleh ejakulasi atas usaha
sendiri dengan melakukan masturbasi atau onani, maka usaha tersebut hukumnya
haram, meskipun pelakunya tidak sampai pada tindakan zina dan seks bebas.

Adapun menurut Madzhab Hanafi juga mengharamkan melakukan masturbasi


yang dilakukan untuk memperoleh kenikmatan seksual. Keseringan onani juga akan
mengakibatkan pikiran menjadi salalu berpikir mesum atau dengan kata lain otak akan
terpenuhi dengan hal yang porno-porno. Hal ini akan mengakibatkan banyak energi
terkuras sehingga menyebabkan badan menjadi kurus dan lemah. Akibatnya
seseorang akan malas bekerja, malas beribadah, tidak bersemangat untuk menikah dan
banyak lagi.
Dalam hukum Islam, onani adalah diharamkan dan berdosa. Namun jika alasan
untuk melakukannya sebagai usaha untuk menghindari perbuatan zina, maka
hukumnya berubah. Misalnya, apabila nafsu syahwat seseorang memuncak karena
tidak kuat dirayu oleh lawan jenis yang begitu menggoda dan khawatir kalau tidak
melakukan masturbasi akan terdorong melakukan seks bebas, maka hukum bagi
praktek coli diperbolehkan.
Sebagian ulama Mazhab Hanbali berpendapat sama dengan sebagian ulama
Mazhab Hanafi, yakni bahwa pada dasarnya hukum bagi istimna adalah haram.
Namun, apabila tidak melakukan istimna akan mengakibatkan zina, maka hukum
melakukan istimna’ itu boleh (mubah). Hal ini disimpulkan berdasarkan kaidah
fiqh, “Diperbolehkan melakukan bahaya yang lebih ringan, untuk menghindari
bahaya yang lebih berat.” Artinya, perbuatan zina merupakan salah satu dosa besar
yang sanksinya berupa rajam atau cambuk seratus kali.

 Di antara ulama ada yang memerinci hukum masturbasi ini, dengan


menyatakan bahwa:

– Jika istimna’ dilakukan oleh tangan istri, hukumnya boleh berdasarkan ijma’.

– Jika dilakukan oleh tangan perempuan lain atau seorang lelaki memasukkan jarinya ke dalam
kemaluan wanita, hukumnya disepakati haram.

– Jika dikerjakan seorang laki-laki demi mencari kenikmatan, untuk menggantikan posisi istri atau
budak wanita, hukumnya haram.

– Jika dikerjakan untuk mengikis gejolak syahwatnya, hukumnya haram.

– Jika dilakukan untuk menghindari diri dari bahaya zina atau liwath (homoseksual) yang benar-
benar atau hampir - hampir terjadi, maka hukumnya diperbolehkan, tetapi jika setelah mencoba
usaha berpuasa, mengalahkan bisikan jiwa dan bertakwa kepada Allah.

 Hukum Mandi Wajib :

1. Bila air maninya tidak keluar atau vagina sang wanita kering (tidak basah) seperti yang
dinyatakan, maka tidak wajib mandi.

2. Bila hanya menempelkan saja tanpa intercourse, dan air maninya tidak keluar, maka yang
bersangkutan tidak wajib mandi.

3. Bila air maninya keluar, walaupun tanpa intercourse, maka ia wajib mandi.

4. Bila terjadi intercourse maka wajib mandi walaupun air maninya tidak keluar.

2. Menonton film porno

Sesungguhnya Allah swt telah memerintahkan orang-orang beriman untuk


menjaga pandangan dari melihat aurat atau kehormatan orang lain, sebagaimana
firman Allah Swt : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : "Hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu
adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang
mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur : 30 – 31).
Didalam film-film porno, batas-batas aurat atau bahkan inti dari aurat seseorang
diperlihatkan dan dipertontonkan kepada orang-orang yang tidak halal melihatnya,
ini merupakan perbuatan yang diharamkan baik orang yang mempertontokan
maupun yang menontonnya.
Untuk itu tidak diperbolehkan bagi seseorang menyaksikan film porno walaupun
dengan alasan belajar tentang cara-cara berhubungan atau menghilangkan
kelemahan syahwatnya karena untuk alasan ini tidak mesti dengan menyaksikan film
tersebut akan tetapi bisa dengan cara-cara lainnya yang didalamnya tidak
ditampakkan aurat orang lain, seperti buku-buku agama yang menjelaskan tentang
seks, buku-buku fiqih tentang pernikahan atau mungkin buku- buku umum tentang
seks yang bebas dari penampakan aurat seseorang didalamnya.
Menonton Film Porno Termasuk Perzinahan Didalam sebuah hadits yang
diriwayatkan dari Abu Hurairoh berkata dari Nabi saw, ”Sesungguhnya Allah telah
menetapkan terhadap anak-anak Adam bagian dari zina yang bisa jadi ia
mengalaminya dan hal itu tidaklah mustahil. Zina mata adalah penglihatan, zina lisan
adalah perkataandimana diri ini menginginkan dan menyukai serta
kemaluanmembenarkan itu semua atau mendustainya.” (HR. Bukhori) Ibnu Hajar
menyebutkan pendapat Ibnu Bathol yaitu, ”Pandangan dan pembicaraan dinamakan
dengan zina dikarenakan kedua hal tersebut menuntun seseorang untuk melakukan
perzinahan yang sebenarnya.

 Hukum Nonton Film Porno


Para ulama sepakat hukum asal melihat gambar porno, film porno, onani,
mendengar atau menghayal perkara syahwat sex yang menyebabkan tergelincirnya
kepada perbuatan zina hukumnya adalah mutlak “Haram”. Dan hukumnya dapat
menjadi “Makruh [Jika dikerjakan tidak berdosa, dan jika ditinggalkan mendapat
pahala]” dengan syarat sebagai berikut:

1. Tujuannya karena sebab dharurat seperti seseorang yang jauh dari isterinya karena
tugas sebagai pelaut dikhawatirkan jatuh kelembah perbuatan zina.
2. Sebagai terapi yang sudah mendapat rekomendasi oleh ahli phsikologi, medis dan
kedokteran seperti seseorang yang mengalami lemah syahwat terhadap isterinya, ia
melakukannya bertujuan untuk menjaga keutuhan dan kelanggengan rumah
tangganya.
3. Tidak menimbulkan fitnah kepada dirinya. keluarganya maupun orang lain.
4. Tidak bersifat terus menerus menjadi sebuah hobi kesenangan (‫ ; اإلستمتاع‬Istimta’).

3. Pacaran dan Perzinahan


Islam melarang pacaran bukan tanpa sebab. Pacaran itu, selain daripada mendekati
zina yang merupakan dosa besar, juga bisa menimbulkan berbagai macam bahaya
yang kesemuanya tidak hanya akan merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain.
1. Mendekati zina

Ini merupakan bahaya pasti yang disebabkan oleh pacaran. Laki-laki diharuskan
menjaga pandangannya dari perempuan, dan perempuan pun harus sadar diri akan
keberadaannya dihadapan laki-laki yang bukanmahramnya. Hadist dari Abdullah bin
Buraidah, dari ayahnya, mengatakan:

“Rasulullah SAW berkata kepada Ali: Hai Ali,janganlah ikuti pandangan pertama
dengan pandangan kedua. Karena pandangan pertama untukmu (dimaafkan) dan
pandangan kedua tidak untukmu (tidak dimaafkan).” (H. R. Abu Dawud).
Bahkan, jika ada yang mengaku pacaran dalam jarang jauh atau yang lebih dikenal
dengan LDR (long distance relationship) sama saja perkaranya. Zina bukan berarti
bertemu lantas melakukan hubungan intim tanpa ada ikatan pernikahan. Bahkan
ketika si laki-laki mengirimkan pesan pendek kepada si perempuan, itu juga
mendekati zina.

Bahkan, bisa jadi sudah termasuk dalam zina hati dan pikiran. Memikirkan betapa
bahagianya saat mengirimkan pesan tersebut sambil membayangkan wajah satu sama
lain, bertamblah lagi dosanya.

2. Menghilangkan konsentrasi

Ada yang bilang pacaran itu bisa menjadi penyemangat untuk belajar atau
bekerja? Sungguh salah pemikiran yang demikian. Nyatanya, pacaran itu hanya
menguras otak dan membuyarkan konsentrasi. Fokus belajar justru hilang dan
pekerjaan jadi terabaikan. Pacaran itu tidak mudah, sebab melibatkan dua kepala,
bahkan bisa tiga, empat, dan seterusnya, dengan prioritas utama adalah “bagaimana-
caranya-membahagiakan-si-pacar.”

Akibatnya, berbagai cara dilakukan hanya demi membuat senang satu sama lain.
Rela meninggalkan pekerjaan dan membuang waktu belajar hanya demi menemani
sang Pacar berjalan-jalan. Jika suatu saat terjadi yang nama perselisihan, justru akan
memicu stres yang menyebabkan semangat belajar menjadi hilang.

Bahkan hanya dengan memikirkan si Pacar saja sudah banyak menyita waktu dan
membuatnya terbuang secara sia-sia. Padahal, tidak sadar bahwa apa yang mereka
lakukan adalah melanggar perintah Allah SWT dan hanya menumpuk dosa semata.

3. Penyebab banyak kerugian

Salah satu bagian daripada budaya pacaran itu adalah usahanya memberikan
kebahagian bagi pasangan padahal tanpa ia sadari itu hanya sia-sia. Rela
menghabiskan waktu, uang dan harapan hanya demi seseorang yang bahkan belum
tentu adala jodohnya. Padahal, lebih baik jika waktu itu digunakan untuk beribadah
dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Lalu, uang yang digunakan untuk pergi menonton film di bioskop, makan di
restoran mewah, membeli ini itu untuk pacar, disedekahkan kepada mereka yang lebih
membutuhkan. Sedekah bahkan memberikan berkah kepada harta kita, sedangkan
pacar?—Percayalah, senyum dari mereka yang menerima bantuan kita jauh lebih
indah dibandingkan senyuman pacarmu itu. Belum lagi jika seluruh biaya yang
dikeluarkan tak jarang bukan dari penghasilan sendiri melainkan dari orang tua, sering
terjadi pada remaja, bertambahlah beban orang tua.

Kalaupun dari hasil pendapatan sendiri, tetap saja tidak benar hubungan pacaran
tersebut karena jika memang seorang laki-laki itu bersungguh-sungguh, ia tidak akan
datang ke rumah hanya untuk mengajak jalan wanitanya, tapi lelaki yang serius akan
datang ke rumah membawa orang tua/walinya dan melamar wanita yang dicintainya
tersebut dihadapan orang tuanya.

4. Mengganggu kehidupan bermasyarakat

Orang yang berpacaran sering meresahkan masyarakat dan menimbulkan


berbagai fitnah, terutama mereka yang sering berdua-duaan di tempat sepi misalnya di
dalam kost-kostan. Sering kita mendengar adanya penggrebekkan kost mesum dan
menemukan banyak pasangan yang tidak sah tertangkap. Di dalam kehidupan
bermasyarakat, ini benar-benar merusak moral dan akan menjadi contoh yang teramat
buruk bagi anak-anak yang mlihatnya.

Terkhusus bagi remaja yang sudah terjerumus dalam budaya pacaran tersebut,
berikut adalah bahaya yang semetinya mereka dan orang tua ketahui agar segera bisa
meninggalkan perilaku tersebut. Juga bagi remaja yang tidak melakukannya, agar
semakin berhati-hati agar tidak terjerumus:

1. Mudah terjerumus ke perzinaan


Seringkali remaja akan menyangkal bahwa mereka tidak akan melakukan hal-
hal yang demikian. Mereka akan berpacaran yang sehat, katanya. Padahal, tidak ada
berpacaran yang sehat kecuali setelah menikah. Bagaimanapun juga, pacaran adalah
perbuatan dosa. Setiap manusia yang berbuat dosa, iblis adalah temannya.

Sehingga kemana pun ia berpijak, akan ada iblis yang senantiasa menemani dan
membisikinya rayuan-rayuan kemaksiatan sehingga ia semakin terlena dalam berbuat
dosa. Awalnya hanya berpandangan, kemudia berpegangan tangan, mulai berdua-
duaan, dan akhirnya melakukan yang tidak sepantasnya untuk dilakukan.

2. Melemahkan iman
Sudah dari akarnya bahwa pacaran itu dosa. Setiap orang yang berbuat dosa, ada
iblis yang menemaninya. Meniupkan berbagai rayuan agar orang itu semakin
terjerumus dalam dosa. Iming-imingnya sangat banyak, padahal kesemuanya hanya
pemuas nafsu belaka. Bahkan, yang awalnya tidak tergoda pun bisa saja terjerumus.
Akhirnya, banyak waktu dihabiskan hanya untuk sang Pacar. Cinta setengah
mati, katanya. Sampai-sampai cinta pada Sang Pemilik Nyawa pun terabaikan. Setiap
hari hanya mengingat wajah kekasih, namun lupa pada Allah
SWT.Naudzubillah, sungguh yang demikian sudah menjadi orang yang tersesat.

3. Mengajarkan kepada kemunafikkan


Orang yang pacaran itu mengajarkan diri untuk menjadi munafik. Berbohong
ini itu hanya demi membuat si pacar senang. Bahkan mengumbar janji-janji yang
belum tentu bisa ditepati bahkan tak jarang aslinya hanya bualan semata. Berusaha
menunjukkan sisi terbaik padahal dibelakangnya seling mencela.

Sering mengumbar rayuan romantis hanya agar si pacar tidak curiga. Tidak
hanya dihadapan sang pacar, tapi juga akan melakukan hal yang sama di hadapan
orang tua. Jadilah mereka sebagai pembohong yang luar biasa.

4. Mengurangi produktivitas dan minat belajar


Siapa bilang pacaran bisa meningkatkan semangat belajar? Coba pikirkan
kembali ke dasarnya bahwasanya pacaran itu adalah dosa. Selama berpacaran, artinya
Anda akan terus memupuk dosa sepanjang waktu. Dari tiap-tiap yang namanya dosa,
tidak akan terdapat kebaikan di dalamnya.

Justru sebaliknya, waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk belajar, justru


lebih banyak dihabiskan bersama pacar. Uang pemberian orang tua yang semestinya
dipakai untuk kepentingan pendidikan, malah dipakai untuk bersenang-senang.
Zaman sekarang, dedikasi tinggi kepada pacar nampaknya adalah prioritas utama
dibandingkan dengan diri sendiri.

Akhirnya, tak jarang banyak yang malas belajar, sering tidak mengerjakan
tugas, kebanyakan berhayal, lalu ujung-ujungnya adalah keteteran dan tinggal kelas
atau terlambat wisuda.

5. Pemicu tindak kriminal


Ini mengerikan. Ketika mendengar berita tentang remaja yang membunuh remaja
lainnya hanya karena berebut pacar. Luar biasa. Katakanlah dengan kasar, bahwa
mereka lebih rendah daripada hewan sekalipun.

4. Pembajakan hak cipta dan menyontek atau plagiat


Pada dasarnya hak cipta di gunakan untuk melindungi suatu karya ciptaan dalam bentuk
ilmu pengetahuan, seni maupun sastra untuk mengurangi pembajakan pada karya
ciptaannya. Hak cipta dapat dialihkan kepada pihak lain guna untuk mengumumkan atau
memperbanyak ciptaan atas izin pencipta.

Bagaimana pandangan islam terhadap hak cipta? Dalam Al-Qur’an di jelaskan pada Q.S
Al-Baqarah ayat 188 Yang artinya: “dan janganlah kamu makan harta diantara kamu dengan
jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim,
dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa,
padahal kamu mengetahui”.

Allah mengharamkan bagi orang-orang yang beriman untuk memanfaatkan, memakan dan
menggunakan harta orang lain tanpa seizin pemiliknya, sama halnya mencuri. Dengan
demikian, Segala sesuatu yang menimbulkan kerugian bagi pencipta pada hakikatnya
dilarang.

5. Pencurian dan korupsi


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa korupsi adalah, “Penyelewengan
atau penggelapan (uang negara atau perusahaan dsb.) untuk keuntungan pribadi atau orang
lain.” (KBBI Hal. 462).

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa harta yang diselewengkan oleh seorang pegawai
koruptor adakalanya harta milik sekelompok orang tertentu, seperti perusahaan atau harta serikat dan
adakalanya harta milik semua orang, yaitu harta rakyat atau harta milik negara.

Dalam tinjaun fikih, seorang pegawai sebuah perusahaan atau pegawai instansi pemerintahan,
ketika dipilih untuk mengemban sebuah tugas, sesungguhnya dia diberi amanah untuk menjalankan
tugas yang telah dibebankan oleh pihak pengguna jasanya, sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Karena beban amanah ini, dia mendapat imbalan (gaji) atas tugas yang dijalankannya. Ketika ia
menyelewengkan harta yang diamanahkan, dan mempergunakannya bukan untuk sesuatu yang telah
diatur oleh pengguna jasanya, seperti dipakai untuk kepentingan pribadi atau orang lain dan bukan
untuk kemaslahatan yang telah diatur, berarti dia telah berkhianat terhadap amanah yang diembannya.
Diriwayatkan oleh imam Ahmad bahwa Nabi menjatuhkan hukuman cambuk terhadap pencuri barang
yang kurang nilainya dari 1/4 dinar.

Hukuman kurungan (penjara) juga termasuk hukuman fisik. Diriwayatkan bahwa khalifah Utsman
bin Affan pernah memenjarakan Dhabi bin Al-Harits karena dia melakukan pencurian yang tidak
memenuhi persyaratan potong tangan. Denda dengan membayar dua kali lipat dari nominal harga
barang atau uang negara yang diselewengkannya merupakan hukuman terhadap harta. Sanksi ini
dibolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap “Pencuri buah kurma dari
pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya dia harus membayar dua kali lipat”. (HR. Nasa’i dan Ibnu
Majah). Hukuman ta’zir ini diterapkan karena pencuri harta negara tidak memenuhi syarat untuk
dipotong tangannya, disebabkan barang yang dicuri tidak berada dalam hirz (penjagaan selayaknya).