Anda di halaman 1dari 79

E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

EEdisi
d i s i 18
8 | | Ta h u n2018
Tahun 2017

Manajemen
Pengadaan
& Hukum
Pengadaan
Transisi Pengadaan
BERKONSOLIDASI
Kegiatan IAPI

IAPI BALI

Kegiatan
Acara BimtekIAPI
IAPI di
Yogya

ii | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Kegiatan IAPI

Kegiatan
Acara IAPI
Bimtek IAPI di
Yogya IAPI IN ACTION
Edisi 18 | tahun 2018

DAFTAR ISI

ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN DAN POTENSI KERUGIAN NEGARA | 4


Ida Bagus Kade Wira Negara, SP, MAP.

PERAN PPK DALAM PENGGUNAAN APLIKASI SPSE VERSI 4.3


BERDASARKAN PERATURAN PRESIDEN RI NOMOR 16 TAHUN 2018 | 8
Feri Saputra, M. Si

MENGADILI KEAHLIAN PENGADAAN | 15


Nandang Sustina

UJI SIGNIFIKANSI PERUBAHAN NILAI PRE TEST DAN POST TEST PESERTA
PELATIHAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH DENGAN MC.
NEMAR TEST | 16
Riyanto, SE., MM.

PIDANA SEHARUSNYA UPAYA TERAKHIR | 33


Dewi Utari

PEKERJAAN RUMAH DALAM IMPLEMENTASI ASURANSI UNTUK BARANG MILIK


NEGARA | 35
Koko Inarto

PEMBAYARAN KONSULTAN PERENCANA PEMBANGUNAN GEDUNG YANG


TERTUNDA | 40
Subarja

ERA BARU PROFESI AHLI PENGADAAN INDONESIA | 46


Sonny Sumarsono

GAGAL TENDER... | 50

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN DAN IDENTIFIKASI PENYEDIA | 50


PENGANTAR SOSIOLOGI KONTRAK UNTUK PENGADAAN PEMERINTAH | 51
Ajik Sujoko

Artikel atau tulisan bukan pendapat resmi IAPI

2 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Pengantar

N ilai pengadaan pemerintah mencapai ratusan triliun. Nilai yang


menggerakan, bahkan menggiurkan. Nilai yang menjadikan sebagian
insan lupa akan halal haram.
Pengadaan yang besar perlu dibangun secara sistematis dan didorong
melalui optimasi-optimasi menuju value for money.
Metode untuk optimasi adalah dengan menggunakan pilihan strategi
pengadaan dengan Konsolidasi.
Diharapkan dengan konsolidasi akan ketemu penyedia yang tepat, harga
yang tepat, volume dan kualitas yang tepat, proses pengadaan yang
ringkas serta kontrak yang efektif. Konsolidasi menggeser kesibukan dalam
pengadaan menjadi kesibukan dalam mencapai output dan outcome
organisasi.
Semoga kehadiran majalah IAPI ini membuka peluang optimasi terbaik.

Sekian
Salam IAPI
Salam Pengadaan

Edisi 18 Tahun 2018 | 3


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
ANALISA HARGA SATUAN
PEKERJAAN DAN
POTENSI KERUGIAN
NEGARA
I d a B a g u s K a d e W i r a N e g a r a , S P, M A P.

P o k j a P e mi l i h a n I I I

M erujuk Perpres 16 tahun 2018 mengenai etika pengadaan dimana pada


pasal 7 Ayat 1 disebutkan salah satunya yaitu menghindari dan mencegah
terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan
barang dan jasa. Etika pengadaan tersebut menegaskan bahwa rekanan maupun
pengelola pengadaan secara tegas dilarang melaksanakan pengadaan barang/
jasa yang dapat mengakibatkan pemborosan keuangan negara. Menurut
pendapat auditor praktik yang memicu tindak pidana dalam pengadaan barang
dan jasa salah satunya adalah penggelembungan harga (Wibawa, 2015)

Dalam pemeriksaan oleh inspektorat/BPK/BPKP untuk paket konstruksi,


auditor mensinyalir adanya modus baru penggelembungan harga. Praktek
penggelembungan harga ini diawali dari penentuan HPS yang tinggi, rekayasa
terjadi pada perhitungan koefisien analisa yang nilai per analisanya tidak
konstan, berubah-ubah sesuai kebutuhan dan dibuat lebih tinggi dari koefisien
SNI dan atau Permen PU No 11 Tahun 2013. Perubahan ini akan berpengaruh
terhadap perhitungan volume bahan dan upah, sehingga pada akhirnya juga
akan berpengaruh terhadap harga analisa satuan per item pekerjaan yang
menjadi lebih tinggi walaupun tanpa melakukan markup harga satuan (harga
satuan bahan dan upah terlihat wajar). Peningkatan koefisien analisa inilah
yang ditengarai sebagai permainan halus untuk merekayasa Harga Perkiraan
Sendiri dengan cara penggelembungan volume bahan dan upah yang dapat
menimbulkan kerugian keuangan negara.
Potensi kerugian negara menurut auditor dapat dihitung dari perhitungan
selisih lebih koefisien yang digunakan dalam menyusun daftar kuantitas dan
harga penawaran pemenang tender terhadap koefisien SNI dikalkulasikan

4 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
dengan volume pekerjaan dan harga satuan penawaran. Auditor membuat
kalkulasi rincian perhitungan potensi kerugian negara tersebut per item pekerjaan
dengan mengesampingkan bahwa total harga penawaran pemenang tender
sudah dibawah total HPS dan diatas 80 % HPS.
Berbeda dengan pendapat auditor tentang hasil analisa harga yang dapat
berakibat adanya potensi kerugian negara dalam ranah
lelang pengadaan konstruksi, menurut Mudjisantosa
dkk. (2014:96) mengemukakan bahwa tidak ada analisa
harga atau harganya ketinggian (per item pekerjaan)
bukan menjadi kerugian negara, yang dinilai adalah
kualitas pekerjaan. Analisa harga digunakan untuk menilai
kewajaran penawaran, kesanggupan dalam mengerjakan
pekerjaan secara wajar. Saat ini dinamika perkembangan
teknologi begitu pesat, dulu dengan analisa BOW banyak
menggunakan aspek tenaga kerja dan bahan-bahan yang
terbatas, sekarang dengan analisa SNI sudah mengadopsi
penggunaan teknologi alat, beragam metode dan beragam
bahan. Namun demikian ada metode-metode terbaru
dan bahan-bahan kimia yang belum dicover dalam SNI. Contohnya semisal : 1.
Pekerjaan beton, yang biasa dengan sub item-sub item berdasar SNI, ternyata
pembetonannya menggunakan alat-alat yang terbaru, metode berbeda dengan
yang biasa, serta penggunaan zat-zat kimia tambahan sehingga lebih cepat dan
lebih hemat, atau sebaliknya, 2. Pekerjaan galian digunakan alat berat kemudian
berubah dikerjakan dengan lebih banyak tenaga atau sebaliknya, maka contoh-
contoh ini tidak mengakibatkan kerugian negara, asal outputnya sesuai dan tidak
terlambat.
Bagi auditor, perlu dilihat apakah dikontrak ada suatu kesepakatan keharusan
suatu metodelogi atau penggunaan analisa harga satuan. Bila ya maka harus
dikerjakan sesuai metodelogi atau penggunaan analisa harga satuan. Bila tidak
maka dilihat output atau spesifikasinya sudah terpenuhi belum atau apakah
diperlukan uji lab. Jangan diukur dengan cara mencapai berdasar standar-standar
yang ada, tetapi apakah output akhirnya memenuhi atau sama hasilnya sesuai
standar kontruksi (Mudjisantosa dkk, 2014:94).
Agus Rahardjo, kepala LKPP RI (waktu itu) dalam kunjungan singkatnya ke LPSE
buleleng pada tanggal 02 Juli 2015, menerangkan bahwa adanya indikasi kerugian
negara pada paket pekerjaan konstruksi ditentukan berdasarkan perhitungan
kuantitas dan kualitas output hasil akhir pekerjaan secara total, bukan item-peritem
pekerjaan, dan juga harus memperhatikan jenis kontraknya apakah lumpsum atau
tidak.
Senada dengan hal ini, penulis juga berpendapat bahwa pelelangan dilakukan
atas outputnya secara total, bukan terhadap rinciannya, misalkan saja dalam kasus
yang dilelangkan adalah Pembangunan gedungnya bukan pekerjaan bagesting
atau urugan tanahnya. Penyedia membuat RAB penawaran berdasarkan nilai total

Edisi 18 Tahun 2018 | 5


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
HPS yang nilai rinciannya dirahasiakan sehingga harga penawaran akan terjadi
disparitas pada level rincian jika dibandingkan dengan rincian HPS.
Tidak ada aturan yang membolehkan POKJA menggugurkan penawaran yang
bernilai satuan timpang yang diduga kemahalan sepanjang nilai penawarannya
tidak melebihi total HPS nya, ketika terjadi persaingan yang sehat dalam lelang,
harga akan mengarah pada harga sebenarnya, dan jika HPS tidak dibuat secara
professional, itu tidak jadi masalah ketika pembayaran atas prestasi kontrak sudah
sesuai kewajaran harga pasar (Mudjisantosa dkk, 2014), jadi kuncinya adalah
persaingan sehat, prestasi pekerjaan dan kewajaran harga pasar. Prestasi
pekerjaan diperoleh melalui pengukuran dan pengujian apakah telah sesuai dengan
spesifikasi yang dipersyaratkan dalam dokumen kontrak, sedangkan kewajaran
harga diperoleh melalui perhitungan berdasarkan survey harga setempat yang
dapat dipertanggung jawabkan. Harga pasar setempat dapat dipengaruhi oleh
waktu, tempat, volume pembelian, motivasi penjualan dan lain-lain.
Jika dilihat dari segi jenis kontraknya apabila kontrak harga satuan atau
gabungan lumpsum dan harga satuan maka yang mengikat adalah harga satuan
penawaran yang tidak boleh berubah sedangkan untuk volumenya bersifat belum
pasti yang akan mengalami perubahan sesuai kondisi dilapangan. Demikian juga
dalam hal pembayaran prestasi pekerjaan harus didasarkan pada pemeriksaan
fisik pekerjaan yang sudah terpasang dilapangan. Jadi tidaklah adil jika menyatakan
terdapat kerugian negara hanya berpatokan pada standar-standar yang ada saja
tanpa melakukan pengukuran dan pengujian laboratorium prestasi pekerjaan
nyata.
Sesuai pasal 26 Ayat 6 Perpres 16 tahun 2018, jelas tertulis bahwa Harga
Perhitungan Sendiri (HPS) tidak menjadi dasar perhitungan besaran kerugian
Negara, HPS digunakan sebagai alat untuk menilai kewajaran penawaran termasuk
rinciannya dan sebagai dasar untuk menetapkan batas tertinggi penawaran yang
sah. Adapun Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) yang didalam perhitungannya
terdapat koefisien merupakan bagian dari penyusunan HPS.
Berdasarkan pasal 15 Perpres 73 tahun 2011 dinyatakan bahwa standar
harga satuan tertinggi bangunan gedung negara ditetapkan secara berkala oleh
Bupati/Walikota yang dihitung berdasarkan formula perhitungan standar harga
satuan tertinggi yang ditetapkan oleh Menteri. Jadi apabila ada rincian HPS yang
terindikasi kemahalan tidak lah tepat dikatakan kerugian negara sepanjang total
HPS tidak melebihi standar harga satuan tertinggi bangunan gedung negara yang
ditetapkan secara berkala oleh Bupati/Walikota.
Secara nyata dan tegas dituliskan pada lampiran Permen PUPR 31 Tahun 2015,
buku Standar PK 01 Gab. LS dan HS, angka 9. Isi Dokumen Pengadaan Pekerjaan
Konstruksi : “Analisa Harga Satuan dan Analisa Teknik Satuan Pekerjaan terhadap
penawaran dibawah 80% HPS akan diminta pada saat klarifikasi kewajaran harga,
untuk kepentingan evaluasi dan tidak menjadi bagian dari ketentuan kontrak”
Merujuk permen PUPR 31 tahun 2015, jelas bahwa analisa harga satuan

6 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
dan analisa teknik satuan pekerjaan tidak bersifat wajib ada dalam penawaran,
tetapi akan diminta oleh pokja apabila penawaran dibawah 80% HPS pada saat
klarifikasi kewajaran harga untuk kepentingan evaluasi dan tidak menjadi bagian
dari ketentuan kontrak. karena bukan bagian dari ketentuan kontrak maka
analisa dimaksud tidak dapat dijadikan dasar perhitungan kerugian negara yang
dibebankan kepada penyedia, apabila lelang telah dilakukan secara terbuka,
bersaing , transparan dan akuntabel.

Daftar Pustaka:
Mudjisantosa, Arif Rachman (2014) “Pengantar Pengadaan Dan Kontrak Jasa
Konstruksi”, CV. Primaprint, Yogyakarta.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2018 tentang Tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, tanggal 22 Maret 2018.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2011 tentang
Pembangunan Bangunan Gedung Negara, tanggal 11 Oktober 2011.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia
Nomor 31/PRT/M/2015 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum Nomor 07/PRT/M/2011 Tentang Standar Dan Pedoman
Pengadaan Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi, tanggal 1 Juni 2015.
Wibawa, Dwi Ari (2015) “Memahami Praktik-praktik yang memicu tindak
pidana dalam pengadaan barang dan Jasa Pemerintah”, (on line) Available
http://www .bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel.

Sumber Gambar: Koleksi sendiri

Penulis: Ida Bagus Kade Wira Negara, SP, MAP.


Pokja Pemilihan III
Pasca Sarjana (S2) Magister Administrasi Publik
bertugas di Biro Administrasi Pengadaan Barang Jasa Setda Provinsi Bali

Edisi 18 Tahun 2018 | 7


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
PERAN PPK DALAM PENGGUNAAN

APLIKASI SPSE VERSI 4.3


BERDASARKAN PERATURAN PRESIDEN RI
NOMOR 16 TAHUN 2018
Feri Saputra, M. Si | NIP. 19781106 201102 1 002

Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/Jasa Muda


Biro Adm. Pembangunan Pengadaan Barang dan Jasa
Sekretariat Daerah Provinsi Riau

P ejabat Pembuat Komitmen atau yang sering kita sebut PPK mempunyai peran
penting dalam persiapan pengadaan, dimana sebelumnya pada aplikasi
SPSE Versi 4.2 persiapan pengadaan sampai pemilihan penyedia dilakukan oleh
Pokja pemilihan. selain dari tugas PPK untuk mengambil keputusan dan/atau
melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja
negara/anggaran belanja daerah (Pasal 1 angka 10 Perpres No.16 Tahun 2018)
tugas lain PPK untuk persiapan pengadaan yang di implementasikan dalam
penggunaan aplikasi SPSE versi 4.3
Berhasil atau tidaknya proses suatu pengadaan barang dan jasa dapat dilihat
dari perencanaan dan persiapan pengadaan oleh Pejabat Pembuat Komitmen.
Tugas pokok Pejabat Pembuat Komitmen berkaitan erat dengan penggunaan
anggaran belanja negara atau anggaran belanja daerah, maka itu PPK dituntut
harus mempunyai pengetahuan untuk penggunaan aplikasi SPSE versi 4.3 ini.
Akibat Kesalahan PPK dalam melaksanaan tugas dalam persapan pengadaan
akan mengakibatkan kerugian negara sehingga menyebabkan tuntutan ganti rugi
atau tuntutan lainnya, oleh karena itu untuk menjadi Pejabat Pembuat Komitmen
(PPK) harus memenuhi syarat.
Dalam Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/jasa Pemerintah
Nomor 15 Tahun 2018 tentang pelaku pengadaan barang/jasa bagian kedua
pejabat pembuat komitmen pasal 5,
(1). PA/KPA MENETAPKAN PPK PADA KEMENTERIAN/LEMBAGA/PERANGKAT
DAERAH.
(2). Persyaratan untuk ditetapkan sebagai PPK, yaitu :
a. memilik integritas dan disiplin;
b. menandatangani Pakta Integritas;

8 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
c. memiliki Sertifikat Kompetensi sesuai dengan bidang tugas PPK;
d. berpendidikan paling rendah Sarjana Strata Satu (S1) atau setara; dan
e. memiliki kemampuan manejerial Level 3 sesuai dengan ketentuan Peraturan
Perundang -undangan
(3). Dalam hal persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c tidak
dapat terpenuhi, sertifikat keahlian tingkat dasar dapat digunakan s/d
31desember 2023.
(4). Dalam hal persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d tidak
DAPA terpenuhi, persyaratan sarjana strata satu (S1) dapat diganti dengan
paling rendah golongan III/a atau disetarakan dengan golongan III/a.
(5). persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat ditambahkan
dengan memiliki latar belakang keilmuan dan pengalaman yang sesuai
dengan tuntutan teknis pekerjaan.
Bagaimana kalau seandainya tidak ada personil disuatu instansi yang memenuhi
persyaratan tersebut diatas, Bolehkah PA/KPA menjadi PPK ?

Pada tahun 2011 Mendagri mengeluarkan perubahan kedua dalam bentuk


Permendagri No. 21 tahun 2011 yang menyebutkan istilah PPK pada pasal 10A
dan Pasal 11A, dan digunakan kalimat “PA/KPA Bertindak Sebagai PPK”.
Diperkuat dengan Peraturan Presiden RI No. 16 tahun 2018 tentang Pengadaan
Barang/jasa Pemerintah pasal 10 angka 5 Menyatakan bahwa dalam hal tidak ada
personel yang dapat ditunjuk sebagai PPK, maka PA/KPA bertindak sebagai PPK,
KPA dapat merangkap sebagai PPK.
Ini berarti, apabila tidak ada yang personel yang memenuhi persyaratan pada
K/L/D/I untuk ditetapkan sebagai PPK, tidak perlu mengangkat Pegawai Satker lain
sebagai PPK, melainkan dikembalikan ke fungsi UU 17/2003 dan 1/2004 dimana
PA/KPA bertindak sebagai PPK.
tugas pokok dan wewenang PPK berdasarkan Perpres No 16 Tahun 2018, di Pasal 11
(1) PPK dalam Pengadaan Barang/Jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf
c memiliki tugas: 
a. menyusun perencanaan pengadaan;
b. menetapkan spesifikasi teknis / Kerangka Acuan Kerja (KAK);
c. menetapkan rancangan kontrak;
d. menetapkan HPS;
e. menetapkan besaran uang muka yang akan dibayarkan kepada Penyedia;
f. mengusulkan perubahan jadwal kegiatan;
g. menetapkan tim pendukung;
h. menetapkan tim atau tenaga ahli;
I. melaksanakan E-purchasing untuk nilai paling sedikit di atas Rp200.000.000,00

Edisi 18 Tahun 2018 | 9


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
(dua ratus juta rupiah);
j. menetapkan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa;
k. mengendalikan Kontrak;
l. melaporkan pelaksanaan dan penyelesaian kegiatan kepada PA/ KPA;
m. menyerahkan hasil pekerjaan pelaksanaan kegiatan kepada PA/ KPA
dengan berita acara penyerahan
n. menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen pelaksanaan
kegiatan; dan
o. menilai kinerja Penyedia.
(2) Selain melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PPK
melaksanakan tugas pelimpahan kewenangan dari PA/ KPA, meliputi:
a. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja;
dan
b. mengadakan dan menetapkan perjanjian dengan pihak lain dalam batas
anggaran belanja yang telah ditetapkan.
(3) PPK dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dibantu oleh Pengelola Pengadaan Barang/Jasa.

Peran serta PPK dalam hal Penggunaan Aplikasi SPSE Versi 4.3, yaitu

PERSIAPAN PENGADAAN
A. Input rincian HPS
B. Input Speksifikasi Teknis dan KAK
C. Input Rancangan Kontrak
D. Memilih UKPBJ

A. HARGA PERKIRAAN SENDIRI / HPS


PERUBAHAN PENGATURAN HARGA PERKIRAAN SENDIRI
 Perpres 54/2010
HPS dikecualikan untuk :
- Kontes /sayembara
- Pengadaan langsung dengan bukti pembelian
Sumber informasi untuk penyusunan HPS diatur secara detil

 Perpres 16/2018
HPS dikecualikan untuk :

10 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
- Pengadaan sampai dengan nilai Rp 10.000.000
- Pengadaan melalui E-Purchasing
- Tender Pekerjaan Terintegrasi
Sumber informasi untuk penyusunan HPS tidak diatur lagi, tetapi disesuaikan
dengan best practice

A. SPESIFIKASI TEKNIS BARANG / JASA


Dalam Perpres 16 tahun 2018 pasal 11 ayat   1.b.menyebutkan bahwa salah
satu tugas PPK adalah menetapkan spesifikasi teknis/Kerangka Acuan Kerja (KAK).
Penyusunan spesifikasi teknis merupakan hak PPK dan tugas ini adalah sangat
riskan dan krusial, karena spesifikasi merupakan dasar dalam proses pengadaan
barang/jasa dan tidak boleh mengarah pada merek/brand tertentu. Setiap
penawaran dari penyedia barang/jasa harus memenuhi spesifikasi teknis yang
telah ditentukan dalam dokumen pengadaan.

Perpres No 16 tahun 2018 pasal 19 mengenai spesifikasi teknis / KAK


(1) Dalam menyusun Spek Teknis / KAK
a. mengunakan Produk Dalam Negeri
b. Menggunakan Produk bersertifikat SNI dan
c. Memaksimalkan Penggunaan Produk Industri Hijau
(2) Dalam Penyusunan Speksifikasi Teknis /KAK dimungkinkan penyebutan Merk
terhadap :
a. Komponen Barang/Jasa
b. Suku Cadang
c. Bagian dari satu system yang sudah ada
d. Barang/jasa dalam katalog elektronik, atau
e. Barang/jasa pada tender cepat

B. RANCANGAN KONTRAK
Memilih Jenis Kontrak yang akan digunakan Tugas lain dari PPK adalah
membuat rancangan kontrak sesuai dengan Perpres 16 tahun 2018 pasal 11 ayat
1.c.
Kontrak merupakan ikatan yang dilakukan antara PPK dengan penyedia
barang/jasa. maka dari itu draft kontrak berisi hal-hal yang wajib diperhatikan oleh
penyedia sebelum memasukkan penawaran. Karena dari draft kontrak inilah akan
terlihat ruang lingkup pekerjaan, dan tahapan apa saja yang harus diperhatikan,

Edisi 18 Tahun 2018 | 11


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Ada beberapa  jenis kontrak dalam pengadaan barang/jasa  yang harus
diketahui PPK yang bertujuan untuk memastikan kesesuaian antara jenis kontrak
dengan jenis pekerjaan. kapan harus menggunakan  kontrak lumpsum, kontrak
harga satuan, gabungan lumpsum dan harga satuan, kontrak persentase, kontrak
terima jadi, kontrak tahun tunggal, dan kontrak tahun jamak.
Dalam rancangan kontrak tersebut juga membahas mengenai syarat-syarat
umum kontrak (SSUK) dan syarat-syarat khusus kontrak (SSKK) dan bagaimana
memperlakuan pekerjaan yang bersifat Urgent juga harus berbeda dengan
perlakukan pekerjaan rutin. Untuk pekerjaan yang dilaksanakan menjelang akhir
tahun anggaran harus memperhatikan klausul denda, batas akhir pekerjaan, dan
pembayaran.

Perubahan Pengaturan untuk Jenis Kontrak


 PERPRES 54/2010
PENGADAAN BARANG/JASA
a. Kontrak berdasarkan cara pembayaran (4 jenis)
b. Kontrak berdasarkan pembebanan tahun anggaran (2 jenis)
c. Kontrak berdasarkan sumber pendanaan (3 jenis)
d. Kontrak berdasarkan jenis pekerjaan (2 jenis)
Tidak ada perbedaan antara barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya dan jasa
konsultasi

 PERPRES 16/2018 Pasal 27


PENGADAAN BARANG/PEKERJAAN KONSTRUKSI/JASA LAINNYA
a. Lumsum
b. Harga Satuan
c. Gabungan Lumsum dan Harga Satuan
d. Terima Jadi (Turkey)
e. Kontrak Payung

PENGADAAN JASA KONSULTANSI


a. Lumsum
b. Waktu Penugasan
c. Kontrak Payung

12 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Kontrak Lumsum yang dimaksud merupakan kontrak dengan ruang lingkup
pekerjaan dan jumlah harga yang pasti dan tetap dalam batas waktu tertentu,
dengan ketentuan bahwa semua resiko sepenuhnya ditanggung oleh penyedia,
berorientasi kepada keluaran dan pembayaran didasarkan pada tahapan produk/
keluaran yang dihasilkan sesuai dengan kontrak.
Kontrak harga satuan merupakan kontrak pengadaan Barang/Pekerjaan
Konstruksi/Jasa Lainnya dengan harga satuan yang tetap untuk setiap satuan
atau unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu atas penyelesaian
seluruh pekerjaan dalam batas waktu yang telah ditetapkan dimana volume atau
kuantitas pekerjaannya masih bersifat perkiraan pada saat kontrak ditandatangani,
pembayaran berdasarkan hasil pengukuran bersama atas realisasi volume pekerjaan
dan nilai akhir kontrak ditetapkan setelah seluruh pekerjaan diselesaikan.
Kontrak Gabungan Lumsum dan Harga Satuan merupakan kontrak pengadaan
Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya gabungan Lumsum dan Harga Satuan
dalam 1 (satu) pekerjaan yang diperjanjikan.
Kontrak Terim Jadi (Turnkey) merupakan kontrak pengadaan pekerjaan
konstruksi atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dimana
jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh pekerjaan selesai dilaksanakan dan
pembayaran dapat dilakukan berdasarkan termin sesuai dengan kesepakatan
dalam kontrak.
Kontrak Payung dapat berupa kontrak harga satuan dalam periode waktu
tertentu untuk barang/jasa yang belum dapat ditentukan volume dan/atau waktu
pengirimannya pada saat kontrak ditandatangani.
Kontrak berdasarkan waktu penugasan merupakan kontrak jasa konsultansi
untuk pekerjaan yang ruang lingkupnya belum bisa didefenisikan dengan rinci
dan/atau waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan belum bisa
dipastikan.
Dalam Rancangan kontrak juga diperlukan jaminan pelaksanaan berdasarkan
Perpres 16 Tahun 2018 pasal 33.
(1) Jaminan Pelaksanaan diberlakukan untuk kontrak pengadaan barang/
pekerjaan konstruksi / jasa lainnya dengan nilai paling sedikit di atas Rp
200.000.000 (dua ratus juta rupiah)
(2) Jaminan Pelaksanaan Tidak diperlukan dalam hal :
a. pengadaan jasa lainnya yang asset penyedia sudah dikuasai oleh
pengguna atau
b. pengadaan barang/jasa melalui e-purchasing
Nilai jaminan pelaksanaan untuk harga penawaran terkoreksi 80% (delapan
puluh perseratus) sampai dengan 100 % (seratus persen) nilai total HPS adalah
sebesar 5 % (lima perseratus) dari nilai kontrak.
Nilai jaminan pelaksanaan untuk harga penawaran terkoreksi atau di bawah
80% (delapan puluh perseratus) nilai HPS adalah sebesar 5% (lima perseratus) dari

Edisi 18 Tahun 2018 | 13


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
nilai total HPS, dan
Masa berlaku jaminan pelaksanaan sejak tanggal penandatangan kontrak
sampai serah terima barang berdasarkan kontrak.

D. MEMILIH UKPBJ
Setelah PPK Input rincian HPS, Input Speksifikasi Teknis dan KAK, dan Input
Rancangan Kontrak pada aplikasi SPSE versi 4.3 selanjutnya PPK memilih UKPBJ
setelah adanya UKPBJ yang ditunjuk untuk melakukan tender maka selesailah
tugas PPK dalam hal persiapan pengadaan dalam penggunaan aplikasi SPSE versi
4.3, selanjutnya UKPBJ memilih Angota Kelompok Kerja Pemilihan yang melakukan
tugas selanjutnya yaitu melakukan tugas pemilihan penyedia.

14 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
MENGADILI KEAHLIAN
PENGADAAN
N a n d a n g S u s t in a

P engadaan mungkin adalah satu satunya keahlian


dan profesi yang setiap waktu harus mengahadapi
‘pengadilan’ dari pihak penegak ‘keadilan’. Mungkin inilah
satu satunya profesi dimana keahlian akan diukur dengan
pidana, dimana kesalahan prosedur dianggap sebagai tindakan melawan hukum
dan artinya dianggap sebagai kejahatan, sehingga pelakunya layak diseret ke
pengadilan. Suatu proses ajaib yang nyatanya ada, dan lebih ajaib lagi sebagian
ahli dan penggiat PBJ juga punya cara berpikir yang sama. Kesalahan prosedur
adalah pelanggaran hukum pidana, sehingga pelakunya layaknya mendapatkan
hukuman penjara.
Dalil ini jadi menegaskan bahwa kesalahan prosedur, yang sebenarnya lebih
sering terjadi karena kurangnya kompetensi atau keahlian, kemudian harus
diadili dalam ajang peradilan pidana, artinya sama saja hukum dengan mengadili
keahlian seseorang. Lebih ironis lagi sering kali terjadi penentuan salah atau tidak
dilakukan oleh orang, yang justru tidak punya keahlian. Puncak ironisnya, saksi ahli
yang katanya memiliki keahlian paripurna justru membenarkan bahwa kesalahan
prosedur itu sebagai suatu penyimpangan atau bahkan suatu kejahatan tanpa
melihat fakta lainnya, cukup dengan satu peristiwa kesalahan prosedur.
Disisi lain, keahlian pengadaan adalah profesi yang hanya membutuhkan
pendidikan 4 hari tapi dianggap profesi yang sangat presisi sehingga tidak boleh
keliru atau salah. Situasi ini seperi berburu di kebon binatang, karena sesungguhnya
lebih mudah menemukan kesalahan prosedur pengadaan daripada menemukan
implementasi strategi pengadaan.
Kita tidak tahu sampai kapan lingkaran setan ini akan berakhir, dan kapan kita ahli
pengadaan bisa bebas kreasi tanpa rasa ketakutan. Tetapi setelah fase perjalanan
karir sebagai ahli pengadaan, selalu saja ini tejadi, selalu saja ini dikeluhkan dan
selalu saja ada orang yang datang konsultasi dengan keluh dan kesah. Kita tidak
tahu akan ini akan berakhir, tapi kita tahu bahwa pengadaan adalah proses yang
tidak pernah berakhir, sampai semua kebutuhan datang sendirinya tanpa proses
mendapatkannya. Dan itu hanya tejadi dikehidupan nanti, itupun kalau kita masuk
syurga. Sebelum itu terjadi, kita masih membutuhkan pengadaan. Lantas kenapa
mereka memperlakukan pengadaan seperti ini? Waktu akan menjawabnya...

Edisi 18 Tahun 2018 | 15


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
UJI SIGNIFIKANSI PERUBAHAN
NILAI PRE TEST DAN POST
TEST PESERTA PELATIHAN
PENGADAAN BARANG/
JASA PEMERINTAH
DENGAN Mc. NEMAR TEST
O l e h : R i y a n t o , SE . , M M .

(Widyaiswara Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan)

Abstrak
Evaluasi pelatihan memegang peranan yang penting dalam siklus penyelenggaraan
pelatihan. Evaluasi pelatihan memiliki dua bentuk, yaitu evaluasi hasil pelatihan
dan evaluasi proses pelatihan. Salah satu bentuk evaluasi hasil pelatihan dilakukan
terhadap peserta melalui kegiatan ujian untuk mengukur pemahaman terhadap materi
pelatihan. Berbagai macam model ujian dapat dipilih sesuai dengan tujuan pelatihan,
salah satunya model pre test dan post test . Penelitian ini bertujuan untuk mengukur
signifikansi perubahan nilai pre test dan post test peserta pelatihan Pengadaan Barang/
Jasa Pemerintah Angkatan IV Tahun Anggaran 2018 dengan menggunakan alat uji
statistik Mc Nemar Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan
yang signifikan setelah peserta mengikuti pelatihan tersebut. Hal ini membuktikan
bahwa pelatihan telah diselenggarakan secara efektif.
Kata Kunci: Pelatihan, Evaluasi, Mc Nemar Test

A. PENDAHULUAN

Tidak dapat dipungkiri bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) pada organisasi apapun
menduduki posisi yang sangat vital, sehingga ada yang menyebutnya sebagai aset. Aset
adalah harta yang dimiliki dan menjadi hak sebuah organisasi. Aset berupa SDM ini
kemudian dikenal dengan sebutan Human Capital. Sebagai sebuah aset, keberadaannya
harus selalu dipelihara agar tingkat utilitasnya senantiasa optimal. Salah satu cara
memeliharanya adalah melalui pelatihan.

16 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Sebagai sebuah usaha terencana maka pelatihan mengikuti siklus umum manajerial,
yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Salah satu siklus
manajerial pelatihan adalah evaluasi. Evaluasi pelatihan dilakukan untuk mengukur
tingkat capaian hasil belajar peserta melalui ujian. Ujian dapat dilakukan dengan tiga
cara yaitu pre test dan post test, ujian komprehensif, dan ujian kasus. Pre test dan
post test dilakukan sebelum dan sesudah pelatihan dengan materi ujian yang sama,
sedangkan ujian komprehensif dan ujian kasus biasanya dilakukan di akhir pelatihan.

Pada pelatihan yang hasil akhirnya lulus atau tidak lulus, pencapaian hasil belajar
peserta pelatihan dapat diukur dengan jelas. Sepanjang nilai ujian per mata pelajaran
memenuhi kriteria kelulusan, maka peserta dapat dinyatakan lulus ujian. Tingkat
keberhasilan penyelenggaraan pelatihan, salah satunya dapat diukur dengan melihat
prosentase kelulusan. Untuk pelatihan yang ujiannya menggunakan model pre test dan
post test, bagaimana cara mengukur tingkat keberhasilan penyelenggaraannya?.

Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan telah melaksanakan analisis perbandingan


antara nilai pre test dan nilai post test, dengan menggunakan tiga ukuran, yaitu nilai rata-
rata seluruh peserta, prosentase kenaikan/penurunan nilai per peserta, dan prosentase
kenaikan/penurunan nilai seluruh peserta. Hasil akhir analisis tersebut adalah apakah
secara keseluruhan terjadi kenaikan/penurunan nilai. Jika terjadi kenaikan maka
pelatihan dikatakan berhasil dan sebaliknya.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian tersebut di atas, jelas bahwa tujuan pelatihan adalah untuk
mengubah pengetahuan dan keterampilan peserta ke arah peningkatan atau perbaikan.
Pertanyaan mendasar yang muncul adalah apakah perubahan tersebut signifikan?.
Jangan-jangan terjadi kondisi dimana nilai peserta ujian memang mengalami kenaikan,
tapi ternyata kenaikannya hanya sedikit atau tidak signifikan. Oleh karenanya penulis
tertarik untuk melakukan penelitian untuk menguji signifikansi perubahan nilai ujian
peserta pelatihan. Pada penelitian ini, penulis membatasi pengujian signifikasinya pada
peserta pelatihan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Angkatan IV Tahun Anggaran
2018 yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan. Adapun
rumusan masalah penelitian ini adalah “apakah telah terjadi perubahan nilai pre
test dan post test yang signifikan pada peserta pelatihan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah Angkatan IV Tahun Anggaran 2018?”.

C. TINJAUAN TEORI

C.1. Pelatihan

Oemar Hamalik (2007;10) berpendapat bahwa pelatihan pada hakikatnya

Edisi 18 Tahun 2018 | 17


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
mengandung unsur-unsur pembinaan dan pendidikan. Secara teknis Mondy dan Noe
(2005;202) dalam Rizka (2012;16) berpendapat bahwa pelatihan adalah “activies
designed to provide learners with the knowledge and skill needed for their present jobs”,
artinya pelatihan adalah kegiatan yang dirancang untuk menyiapkan calon pegawai agar
memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaannya. Hal
yang sama dinyatakan oleh Dessler (2008;248) dalam Rizka (2012;17) bahwa “training
means a new or present employees the skills they need to perform their jobs”.

Pendapat lain mengenai pengertian pelatihan disampaikan oleh Laird (1978;9)


dalam Rizka (2012;17) bahwa “training is described as activities which are designed to
improve human performance on the job employee is presently doing or is being hired to
do”. Sedangkan Kenneth R. Robinson dalam Soebagio Atmowirjo (1993;2) menyatakan
bahwa “training, therefore we are seeking by any instructional or experiental means
to develop a person behavior pattern in the areas of knowladge, skill, or attitude in
order to achieve a desired standard”. Terkait dengan pengertian tersebut, Atmowirjo
menambahkan bahwa pelatihan adalah suatu proses kegiatan belajar mengajar yang
terprogram dan terencana yang terjadi baik dalam ruangan tertentu atau di lapangan.

Selanjutnya Grundy and Brown (2003;12) dalam Rizka (2012;18) menjelaskan bahwa
“training can be defined as a delibrate and programmed activity aimed at improving
once or more specific skills, either of the job or on the job, which can either be a group
or individual activity, depending on the situation”. Pendapat pakar yang lain, Valley et
al. (2000;283) dalam Rizka (2012) menyatakan bahwa pelatihan merupakan salah satu
proses yang signifikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia.

Dari pendapat para pakar tersebut di atas, dapat diambil simpulan bahwa pelatihan
merupakan suatu kegiatan terencana yang dilakukan dalam rangka untuk memodifikasi
pengetahuan, keterampilan, dan sikap melalui pengalaman belajar untuk mencapai
hasil yang efektif dalam suatu pekerjaan.

C.2. Evaluasi Pelatihan

Agar dapat mengetahui hasil pelatihan dan efektivitas pelatihan, maka evaluasi
program sangat diperlukan. Evaluasi pelatihan didefinisikan sebagai suatu proses
pengumpulan informasi secara sistematis, baik informasi yang bersifat deskriptif
maupun judgemental yang diharapkan dapat membantu dalam mengambil keputusan
secara efektif, dalam hal pemilihan, adopsi, maupun modifikasi terhadap berbagai
kegiatan operasional dalam organisasi (Goldstein; 1993). Definisi evaluasi pelatihan
juga sebagai suatu proses pengumpulan keluaran yang dibutuhkan untuk menilai
apakah sebuah program pelatihan sudah efektif atau belum (Noe;2002) dalam Detty
dkk (2008).

Evaluasi pelatihan mencoba mendapatkan berbagai macam informasi tentang


hasil program pelatihan, kemudian menggunakannya dalam penilaian. Maarif

18 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
dan Kartika (2014) menguraikan evaluasi pelatihan sebagai serangkaian aktivitas
dalam mengidentifikasi efektivitas tujuan pelatihan yang diperbandingkan dengan
implementasi pelaksanaan yang diperlukan dalam penarikan keputusan berkaitan
dengan kesinambungan pelaksanaan pelatihan, peningkatan kompetensi, serta metode
dan kurikulum pembelajaran.

Menurut Kirkpatrick dan Kirkpatrick (2009), riset sekaligus bentuk evaluasi program
pelatihan yang dilakukan oleh Brent Peterson dari Columbia University pada tahun
2004 menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi efektivitas pelatihan adalah 26%
persiapan (pre work), 24% pelaksanaan (learning event), dan 50% implementasi (follow
up).

Sumber: Kirkpatrick (2009)

Terdapat dua bentuk evaluasi pelatihan, yaitu evaluasi hasil pelatihan dan evaluasi
proses pelatihan. Evaluasi hasil pelatihan dilakukan dalam tiga tahap, yaitu (1) tahap
menyerap isi materi pelatihan, (2) tahap penerapan dalam kerja, dan (3) tahap kegunaan
isi pelatihan. Pada tahap menyerap isi materi pelatihan, evaluasi dilakukan dengan cara
mengumpulkan informasi mengenai perkembangan atau perubahan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap peserta. Tahap ini membutuhkan pengukuran dan perbandingan
antara sesudah dan sebelum pelatihan, sehingga dikenal yang namanya tes awal (pre
test) dan tes akhir (post test). Evaluasi proses pelatihan adalah evaluasi yang dilakukan
terhadap langkah-langkah kegiatan selama proses pelatihan berlangsung. Evaluasi
proses pelatihan dilakukan dengan mengungkapkan pendapat seluruh peserta tentang
fasilitator, peserta, materi, dan proses belajar-mengajar (Nasrul,2009;39-40).

Edisi 18 Tahun 2018 | 19


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Banyak model yang dapat digunakan untuk mengevaluasi program pelatihan,
dua diantaranya adalah Four Level Model dan Return on Investment (RoI) Model. Jika
diperbandingkan, model four level model buatan Kirkpatrick dianggap lebih memiliki
kelebihan karena siftanya yang menyeluruh, sederhana, dan dapat diterapkan dalam
berbagai situasi pelatihan. Dikatakan menyeluruh karena mampu menjangkau seluruh
sisi dari suatu program pelatihan, dikatakan sederhana karena memiliki alur logika yang
sederhana dan mudah dipahami, sedangkan dari penggunaan karena dapat digunakan
untuk mengevaluasi berbagai macam jenis pelatihan dengan berbagai macam situasi
(Rukmi dkk;2008;132). Sedangkan RoI Model hanya cocok digunakan untuk pelatihan
yang dilakukan oleh perusahaan swasta yang berorientasi laba.

Kirkpatrick dan Kirkpatrick (2009) mengungkapkan bahwa evaluasi pelatihan dapat


dibedakan menjadi empat tingkat kriteria (four-level framework), yaitu reaksi (reaction),
pembelajaran (learning), perilaku (behavior), dan hasil (results). Reaksi adalah menilai
tanggapan peserta terhadap program pelatihan, pembelajaran merupakan kegiatan
menguji peserta untuk mengetahui sejauhmana materi pelatihan telah diterima oleh
peserta, perilaku adalah kegiatan mengukur perubahan sikap dan menerapkan ilmu
baru di tempat kerja, serta hasil adalah mengetahui besarnya pengaruh program
pelatihan terhadap kinerja organisasi.

Tabel 1 Tingkatan Kriteria Evaluasi Pelatihan


Ting- Kriteria
Fokus
kat Evaluasi
1 Reaksi Kepuasan para peserta pelatihan
2 Pembelajaran Pemahaman akan pengetahuan, keterampilan, dan sikap
3 Perilaku Perubahan perilaku dalam bekerja
4 Hasil Hasil yang dicapai (kuantitatif)
Sumber: Kirkpatrick & Kirkpatrick (2009)

Secara sistematis, tingkatan kriteria evaluasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2 Pengukuran Evaluasi Pelatihan


Kriteria
Tujuan Pengukuran Alat dan Cara Mengukur
Evaluasi
Reaksi dan kepuasan peserta
Reaksi Formulir evaluasi peserta
terhadap program pelatihan
Perubahan pengetahuan,
Pembela-
keterampilan, dan sikap peserta Ujian tertulis atau terkomputerisasi
jaran
pasca pelatihan
Perubahan perilaku bekerja pasca
Perilaku Review dan observasi terhadap kinerja
pelatihan
Dampak pelatihan terhadap bisnis Pengurangan biaya, kenaikan produktivitas,
Hasil
proses perbaikan kualitas, pengurangan jam kerja.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, evaluasi yang dimaksud dalam penelitian ini

20 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
lebih mengarah pada evaluasi hasil pelatihan, khususnya mengevaluasi pemahaman
peserta terhadap isi atau materi pelatihan (Nasrul,2009), adapun tingkatannya masih
pada level reaksi dan pembelajaran, serta alat ukurnya berupa formulir evaluasi peserta
dan ujian tertulis (Kirkpatrick;2009).

C.3. Capaian Hasil Belajar

Pengertian capaian hasil belajar banyak disamakan dengan prestasi belajar, sehingga
dalam penelitian ini keduanya oleh penulis disamakan. Kata prestasi berasal dari bahasa
Belanda yaitu prestatie kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti
hasil usaha. Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang
dikembangkan oleh mata ajar, lazimnya ditunjukkan dengan nilai ujian/angka nilai yang
diberikan oleh pengajar.

Menurut Bloom dalam Aminah (2008;16), prestasi belajar merupakan tingkah laku
yang menurut tujuannya dibedakan tiga aspek yaitu :

a) Domain Kognitif (aspek pengetahuan)

Kemampuan keilmuan yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik yang dapat
dikategorikan enam tingkat kesukaran atas jenjang kemampuan. Urutan jenjang
kemampuan tersebut dari yang termudah sampai yang tersukar adalah ingatan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

b) Domain Afektif (aspek sikap)

Kemampuan yang diharapkan dimiliki peserta didik yang berkaitan dengan sikap,
nilai, minat, apresiasi (penghargaan) dan penyesuaian perasaan sosial.

c) Domain Psikomotor (aspek keterampilan)

Kemampuan yang diharapkan dimiliki peserta didik yang berkaitan dengan


keterampilan yang bersifat manual/abstrak.

Abu Ahmadi dalam Aminah (2008;17) mengatakan bahwa tinggi rendahnya prestasi
belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal yaitu yang berasal dari dalam diri peserta didik, antara lain sikap,
persepsi, minat, dan motivasi. Sedang faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari
luar diri peserta didik antara lain pengajar, kurikulum, lingkungan, serta sarana dan
prasarana.

Pengaruh kedua faktor tersebut di atas sebenarnya sangat komprehensif dalam


kehidupan sehari-hari dan keduanya sangat berhubungan. Prestasi belajar merupakan
taraf keberhasilan peserta didik dalam menguasai mata ajar, dinyatakan dalam bentuk
skor atau nilai yang diperolehnya. Untuk menilai capaian hasil belajar, pengajar dapat
menggunakan bermacam-macam ujian yang meliputi ujian kemampuan, seperti ujian

Edisi 18 Tahun 2018 | 21


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
lisan, ujian uraian, ujian objektif atau ujian esai singkat. Pada penelitian ini capaian
hasil belajar peserta pelatihan diukur pada kawasan kognitif dan psikomotorik dengan
bentuk ujian tulis.

C.4. Premis dan Kerangka Pemikiran

Premis yang digunakan berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya adalah:

a) Riyanto (2010) dalam penelitiannya terhadap peserta Diklat Teknis Pengadaan


Barang dan Jasa Pemerintah di Balai Diklat Keuangan Cimahi menemukan bahwa
terdapat perubahan yang signifikan nilai pre test dibandingkan dengan nilai post test
setelah mengikuti pelatihan, uji signifikansi menggunakan Mc Nemar Test.

b) Syukran (2012) dalam penelitiannya terhadap siswa kelas VII SMPN 2 Pemangkat
kabupaten Sambas Propinsi Kalimantan Barat menemukan bahwa terdapat
perubahan yang signifikan sebelum dan sesudah penggunaan teknik mindscaping
dalam memahami materi kalor, uji signifikansi menggunakan Mc Nemar Test.

c) Budi dkk (2014) dalam penelitiannya terhadap siswa kelas XI IPA SMAN 4 Pontianak
menemukan bahwa terdapat perubahan yang signifikan sebelum dan sesudah
penyediaan bacaan berbentuk Refutation Text untuk memahami konsep asam basa,
uji signifikansi menggunakan Mc Nemar Test.

d) Fitriani (2016) dalam penelitiannya terhadap peserta pelatihan tentang kesehatan


reproduksi dengan metode Problem Card di Pusat Informasi dan Konseling Remaja
(PIK-Remaja) kecamatan Semarang Utara menemukan bahwa terdapat peningkatan
yang signifikan pengetahuan dan sikap remaja setelah mengikuti pelatihan tersebut,
uji signifikansi menggunakan Mc Nemar Test.

Berdasarkan premis di atas, kemudian penulis menyusun kerangka pemikiran


sebagai berikut:

a) Pelatihan adalah bagian dari pendidikan, oleh karena itu sistem pelatihan juga
mengikuti pola sistem pendidikan yang terdiri atas input, proses, dan output.

b) Input terdiri atas masukan instrumen (kurikulum, bahan ajar, media pembelajaran,
dan pengajar), masukan potensial (peserta pelatihan dengan bermacam-macam
latar belakang, pendidikan terakhir, jabatan saat ini, dan sebagainya), dan masukan
lingkungan (sarana dan prasarana, ruang kelas, lingkungan pelatihan, petugas piket,
dan sebagainya). Agar pelatihan berjalan dengan efektif, input ini harus dipilih secara
selektif. Khusus untuk input peserta pelatihan, calon peserta harus dipilih secara
selektif sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

c) Proses pembelajaran yang efektif efisien dengan penggunaan metode dan strategi

22 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
pembelajaran yang tepat sesuai dengan tujuan pelatihan.

d) Dengan input yang selektif dan proses pembelajaran yang ekfektif dan efisien, maka
akan diperoleh hasil pembelajaran yang berkualitas

Salah satu metode yang digunakan untuk mengukur hasil pembelajaran adalah
dengan pre test dan post test. Pre test diberikan pada hari pertama sebelum peserta
mengikuti pembelajaran, sedangkan post test diberikan pada hari terakhir setelah
peserta mengikuti seluruh pembelajaran. Kemudian hasil pre test dibandingkan dengan
hasil post test untuk dianalisis perubahannya. Metode untuk menguji signifikansi
perubahan menggunakan Mc Nemar Test.

Gambar 2

Kerangka Pemikiran

C.5. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut di atas, maka hipotesis penelitian ini


adalah sebagai berikut:

H0 : Tidak terdapat perubahan yang signifikan nilai pre test dan post test peserta
pelatihan Pengadaan Barang/Jasa Angkatan IV Tahun Anggaran 2018

H1 : Terdapat perubahan yang signifikan nilai pre test dan post test peserta pelatihan

Edisi 18 Tahun 2018 | 23


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Pengadaan Barang/Jasa Angkatan IV Tahun Anggaran 2018

D. METODOLOGI PENELITIAN

D.1. Paradigma, Pendekatan, dan Jenis Penelitian

Sebuah penelitian akan berkualitas jika memiliki relevansi dengan kajian teoritis
yang dibangun. Selain itu juga harus mampu menjaga objektivitas pengukuran
terhadap objek yang diteliti. Agar penelitian ini dapat memenuhi hal tersebut, maka
paradigma penelitian yang dianggap relevan adalah before after treatment karena
berusaha mengungkap fakta-fakta yang telah terjadi sebelum perlakuan (perlakuan di
sini maksudnya pelatihan) dan fakta-fakta yang terjadi setelah perlakuan. Pendekatan
penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif karena mengedepankan
realitas objektif. Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai, maka jenis penelitian
yang digunakan adalah deskriptif dan verifikatif.

D.2. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta pelatihan Pengadaan Barang/


Jasa Pemerintah Angkatan IV Tahun Anggaran 2018 di Pusdiklat Anggaran dan
Perbendaharaan sebanyak 30 orang. Karena semua peserta pelatihan dijadikan sebagai
objek penelitian, maka penulis tidak menarik sampel penelitian.

D.3. Prosedur Pengumpulan Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
diambil dari daftar nilai pre test dan post test peserta pelatihan Pengadaan Barang/
Jasa Pemerintah Angkatan IV Tahun Anggaran 2018 di Pusdiklat Anggaran dan
Perbendaharaan sebanyak 30 orang. Nilai ujian peserta diukur menggunakan numerik
dengan skala 0 -100.

D.4. Metode Analisis Data

Analisis Dekriptif. Alat analisis yang digunakan adalah frequency analysis, yaitu
analisis berdasarkan hasil tabulasi nilai ujian peserta pelatihan melalui perhitungan
secara sederhana seperti mean, max, min, total skor, dan prosentase dengan
menggunakan Ms. Excel. Hasilnya disajikan dalam bentuk tabel dan/atau grafik untuk
selanjutnya diinterpretasikan ke dalam bentuk implikasi serta rekomendasi manajemen.

Analisis Verifikatif. Data penelitian yang telah terkumpul dianalisis dengan


menggunakan tes statistik nonparametrik. Siegel (1997;38) mengemukakan bahwa
tes satistik nonparametrik adalah tes yang modelnya tidak menetapkan syarat-syarat
tertentu tentang parameter populasi yang merupakan sumber sampel penelitiannya.
Pada bagian lain Siegel (1997;77) berpendapat bahwa Mc Nemar Test dapat digunakan

24 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
untuk menguji signifikansi perubahan atas perlakuan “sebelum-sesudah”, dimana
setiap orang diperlakukan sebagai kelompok eksperimen sekaligus kelompok kontrol.

Sugiyono (1999;230) mengemukakan bahwa Mc Nemar Test digunakan untuk


menguji hipotesis komparatif dua sampel yang berkorelasi dimana datanya berbentuk
nominal, dan rancangan penelitiannya berbentuk “before-after”. Dengan demikian tes
ini digunakan untuk menguji efektivitas suatu perlakuan (treatment) tertentu. Sebagai
panduan untuk menguji signifikansi perubahan, maka data disusun ke dalam tabel segi
empat ABCD seperti tabel di bawah ini:
Tabel 3 Format Segi Empat ABCD Mc Nemar Test

Sebelum Sesudah
(+) (-)
(-) A B
(+) C D
Penggunaan tanda (+) dan (-) hanya untuk menandai jawaban yang berbeda, jadi
tidak harus yang bersifat positif dan negatif yang sesungguhnya. Kasus-kasus yang
menunjukkan perubahan antara jawaban pertama (sebelum perlakuan) dan jawaban
kedua (setelah perlakuan) muncul dalam sel A dan D. Seseorang atau kondisi dicatat
pada sel A jika berubah dari posisi (+) ke (-), dan akan dicatat pada sel D jika berubah
dari posisi (-) ke (+). Jika tidak ada perubahan pada posisi (+) akan dicatat pada sel B dan
jika tidak ada perubahan pada posisi (-) dicatat pada sel C. Sel A+D adalah jumlah posisi
yang berubah, sedangkan sel B dan C yang tidak berubah.

Untuk keperluan penelitian yang dilakukan, maka segi empat ABCD di atas
disesuaikan formatnya pada tabel di bawah ini:

Tabel 4 Desain Penelitian Segi Empat ABCD Mc Nemar Test

After Test
> 65 ≤ 65 Jumlah
B e f o r e ≤ 65 A B A+B
Test > 65 C D C+D
Jumlah A+C B+D A+B+C+D
dimana:

B dan C = jumlah peserta yang tidak berubah (kategori nilainya)

A dan D = jumlah peserta yang berubah (kategori nilanya)

Untuk mempermudah pengukuran, nilai ujian peserta pelatihan dipilah menjadi


dua kategori, yaitu ≤65 dan >65. Adapun pertimbangannya adalah bahwa angka 65
menjadi nilai tertimbang batas lulus/tidak lulus pada ujian tertulis. Mc Nemar Test
berdistribusi Chi Kuadrat (x2), oleh karena itu rumus yang digunakan untuk mengukur

Edisi 18 Tahun 2018 | 25


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
hipotesis adalah rumus Chi Kuadrat sebagai berikut:

X2 = (|A – D|) – 1)2 dengan db = 1

A+D

dimana:

A + D = jumlah orang yang berubah (pilihannya)

db = derajat bebas

Ketentuan dalam tes McNemar, jika x2 hitung < x2 tabel maka Ho diterima dan H1
ditolak, sebaliknya jika x2 hitung > x2 tabel maka Ho ditolak dan H1 diterima.

E. HASIL PENELITIAN

E.1. Analisis Dekriptif

Pelatihan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Angkatan IV Tahun Anggaran 2018


diikuti oleh 30 orang. Adapun ringkasan nilai pre test dan post test adalah sebagai
berikut:

- Nilai terendah pre test 22, nilai tertinggi 77, nilai rata-rata 52,77 (dari skala 100)
- Nilai terendah post test 66, nilai tertinggi 94, nilai rata-rata 79,70 (dari skala 100)
- Nilai rata-rata pre test dan post test adalah 66,23 (dari skala 100)
- Kenaikan rata-rata nilai post test dibandingkan pre test adalah 26,93 (51,04%)

Gambar 3 Nilai Pre Test, Post Test, dan Rata-Rata


100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Pre Test Rata-rata Post Test Batas Lulus (Nilai 65)

Sumber: Bidang Evaluasi dan Pelaporan Kinerja (data diolah)

26 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Dengan berpedoman bahwa nilai ambang batas kelulusan adalah 65, maka
berdasarkan grafik tersebut di atas dapat dilihat bahwa pada pre test terdapat 23 orang
yang tidak lulus (76,67%), sisanya 7 orang lulus (23,33%). Sebaliknya pada post test, 30
orang peserta semuanya lulus (100%).

Gambar 4 Perbandingan Hasil Ujian Pre Test dan Post Test

Hasil Ujian Pre Test Hasil Ujian Post Test


Ti da k Lulus
0%
Lulus
23%

Ti da k Lulus
77%
Lul us
100%
Tidak Lulus Lulus Tidak Lulus Lulus

Seluruh peserta pelatihan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Angkatan IV Tahun


Anggaran 2018 mengikuti Ujian Sertifikasi PBJ Tingkat Dasar yang dilaksanakan sesuai
standar LKPP. Peserta ujian yang lulus sertifikasi tersebut adalah 26 orang (86,67%).

Gambar 5

Hasil Ujian Sertifikasi PBJ Tingkat Dasar

Hasil Ujian Sertifikasi PBJ Tingkat Dasar

Ti da k Lulus
13%

Lulus
87%

Sumber: Bidang Evaluasi dan Pelaporan Kinerja (data diolah)

Edisi 18 Tahun 2018 | 27


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
E.2. Analisis Verifikatif

Berdasarkan data penelitian, jumlah peserta pre test dan post test per kategori
adalah sebagai berikut:

Tabel 5 Tabulasi Nilai Ujian Pre Test dan Post Test


Kategori Pre Test Post Test
≤ 65 23 0
> 65 7 30
Jumlah 30 30
Hal pre test menunjukkan bahwa peserta pelatihan yang nilainya ≤65 sebanyak
23 orang (76,67%) dan yang nilanya >65 sebanyak 7 orang (23,33%). Hasil post test
menunjukkan bahwa peserta pelatihan yang nilainya >65 sebanyak 30 orang (100%) dan
yang nilainya ≤65 sebanyak 0 orang (0%). Hal ini berarti ada 23 (23 dikurangi 0) orang
peserta yang nilainya berubah kategori dari ≤65 menjadi >65, dan tidak ada peserta
yang nilanya berubah dari kategori > 65 menjadi ≤ 65. Apabila dikaitkan dengan tabel
segi empat ABCD di atas, maka angka sel A diisi dengan angka 23, sel D diisi dengan
angka 0, sedangkan sel B dan C diisi sisanya.

Tabel 6 Tabulasi Nilai Ujian Pre Test dan Post Test


Post Test
>65 ≤ 65 Jumlah
≤ 65 A : 23 B:0 23
Pre Test > 65 C:7 D:0 7
Jumlah 30 0 30
Berdasarkan data tersebut di atas, dengan menggunakan rumus chi kuadrat maka
diperoleh hasil sebagai berikut:

X2 = (|A – D|) – 1)2

A+D

X2 = (|23 – 0|) – 1)2

23 + 0

X2 = (22)2 = 484 / 23 = 21,044

23

Hasil X2 hitung tersebut selanjutnya dibandingkan dengan X2 tabel. Jika db= 1 dan
taraf kesalahan 5%, maka nilai X2 tabel adalah 3,481. Ketentuan pengujian adalah jika

28 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
X2 hitung lebih kecil daripada X2 tabel, maka hipotesis ditolak. Berdasarkan perhitungan
tersebut maka ternyata X2 hitung lebih besar daripada X2 tabel (21,044 > 3,481). Hal
ini berarti hipotesis H0 ditolak dan H1 diterima, artinya terdapat perubahan nilai yang
signifikan sebelum dan sesudah pelatihan pada peserta pelatihan Pengadaan Barang/
Jasa Pemerintah Angkatan IV Tahun Anggaran 2018.

F. SIMPULAN DAN REKOMENDASI

F.1. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tersebut di atas, maka diperoleh fakta
bahwa terdapat perubahan yang signifikan pada nilai ujian pre test dan post test
peserta pelatihan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Angkatan IV Tahun Anggaran
2018. Nilai ujian ini dapat merepresentasikan kompetensi peserta pelatihan, sehingga
kenaikan yang signifikan ini menunjukkan kenaikan kompetensi peserta pasca
mengikuti pelatihan. Kenaikan kompetensi peserta pelatihan (aspek kognitif, afektif,
dan psikomotorik) merupakan tujuan utama dari penyelenggaraan pelatihan, sehingga
kenaikan kompetensi peserta ini juga menunjukkan tujuan penyeleggaraan pelatihan
tercapai. Akhirnya, jika tujuan penyelenggaraannya tercapai, maka dapat dikatakan
bahwa pelatihan tersebut telah diselenggarakan secara efektif.

Berdasarkan hasil ujian sertifikasi PBJ Tingkat Dasar yang dilaksanakan sesuai
standar LKPP, peserta yang lulus ujian 26 orang (86,67%). Tentunya capaian ini sangat
memuaskan. Jika dikaitkan dengan hasil post test yang 100% peserta nilainya di atas
ambang batas, maka dapat ditarik simpulan pula bahwa penyelenggaraan pelatihan ini
telah berkontribusi sangat besar pada hasil ujian sertifikasi PBJ tingkat dasar.

F.2. Rekomendasi

Hasil penelitiaan ini diharapkan menjadi tambahan metode pengukuran signifikansi


perubahan hasil ujian (berupa test maupun yang lain) peserta pelatihan, sehingga
nantinya metode ini ditambahkan dalam laporan penyelenggaraan pelatihan. Metode
ini juga menguatkan pernyataan bahwa pelatihan telah diselenggarakan secara efektif
atau tidak.

Namun demikian, dalam penelitian ini penulis tidak menganalisis secara eksplisit
latar belakang peserta pelatihan seperti usia, pendidikan terakhir, jabatan atau tugas
yang diemban saat ini, dan riwayat jabatan atau tugas sebelumnya. Hal ini penting
karena patut diduga hal-hal tersebut di atas memiliki peran penting dalam pencapaian
nilai ujian, terutama pada nilai pre test. Hal yang tidak kalah penting juga terkait dengan
lingkungan belajar dan proses pembelajaran. Mudah-mudahan hal-hal tersebut dapat
dilanjutkan oleh peneliti-peneliti yang lain dalam rangka menggenapkan apa yang telah
diteliti.

Edisi 18 Tahun 2018 | 29


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku
Mangkunegara, Anwar Prabu, (2004), Perencanaan dan Pengembangan Sumber Data
Manusia Perusahaan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Oemar, Hamalik, (2007), Manajemen Pelatihan Ketenagakerjaan: Pendekatan
Terpadu, PT Bumi Aksara, Jakarta.
Soebagio, Atmowirjo, (1993), Manajemen Training: Pedoman Praktis bagi
Penyelenggara Training, Balai Pustaka, Jakarta.
Siegel, Sidney, (1997), Statistik Non Parametrik untuk Ilmu-ilmu Sosial,Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Sugiyono, (1999), Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta, Bandung.

Jurnal dan Konferensi


Budi, Firman Shantya dkk, (2014), Pengaruh Penyediaan Bacaan Berbentuk Refutation
Text untuk Meremediasi Miskonsepsi Siswa tentang Konsep Asam Basa di
Kelas XI IPA SMAN 4 Pontianak, Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains,
Nomor 2 Tahun II, Desember 2014.
Detty, Regina dkk, (2008), Evaluasi Keefektifan Program Pelatihan “Know Your
Customer & Money Loundering” di Bank X Bandung, National Conference of
Management Research, Makasar, 27 November 2008.
Fitriani, Iga Nur, (2016), Pengembangan Metode Pelatihan dengan Problem Card
dalam Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Remaja tentang Kesehatan
Reproduksi, Journal of Health Education, Nomor 1 Tahun 2016 Universitas
Negeri Semarang.
Rukmi, Hendang Setyo dkk, (2008), Evaluasi Training dengan Menggunakan Model
Kirkpatrick (Studi Kasus Training Foreman Development Program di PT
Krakatau Industrial Estate Cilegon), 5th National Industrial Engineering
Conference.

Karya Ilmiah
Riyanto, (2010), Diklat Non Ujian: Bagaimana Mengukur Efektivitas Penyelenggaraan
Diklat?, Artikel, Majalah Dwibulanan Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan
Edisi V Tahun 2010.
Rizka, Arief M, (2012). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Program
Pelatihan Keterampilan Kerja pada Loka Latihan Kerja (LLK) Selong Kabupaten
Lombok Timur (Studi Kasus Alumni Pelatihan Tahun 2011), Tesis, Tidak
Dipublikasikan, Universitas Negeri Yogyakarta.

Naskah dari Internet


Nasrul, M, 2009. Evaluasi Program Pelatihan. http://www.bdkjakarta.kemenag.go.id/

30 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
file/media/ForumEvaluasiProgramPelatihan.pdf. Diunduh tanggal 1 September
2016
Anonymous, 2014. Bab 6: Evaluasi Program Pembelajaran. http://ebook.nscpolteksby.
ac.id/files/Ebook/Business%20Administration/Manajemen%20Pelatihan%20
(2014)/Bab%206%20Evaluasi%20Program%20Pelatihan,pdf. Diunduh tanggal
1 September 2016
Syukran, Eis Edi, 2012. Remediasi Miskonsepsi Siswa Menggunakan Mindscaping
tentang Kalori di SMP. http://jurnal.untan.ac.id/index.php/ jpdpb/article/
download/1556/pdf. Diunduh tanggal 5 September 2016

Edisi 18 Tahun 2018 | 31


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
HASIL UJIAN PRE TEST, POST TEST, DAN SERTIFIKASI PBJ TINGKAT DASAR
PELATIHAN PENGADAAN BARANG/JASA ANGKATAN IV TAHUN ANGGARAN 2018
Serifikasi
No Nama Lengkap Instansi Pre Test Post Test
(L/TL)
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
1 Adhitya Aji Prasetyo 45 81 L
Kalimantan Timur dan Utara

2 Adi Setia Jaya Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Sorong 55 71 L

3 Ahmad Farras Fa'iq Yuswadi Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Bontang 43 90 L

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Riau,


4 Aina Ulfa 70 91 L
Sumatera Barat, dan Kepulauan Riau

5 Ambi Gultom Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Ternate 75 87 L

6 Andika Ramadani Ababil Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Ternate 53 80 L

7 Azis Setyawan Nugroho Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Serang 53 71 L

8 Dewi Tri Untari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Pekanbaru 49 84 TL

9 Esti Retnowati Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Lahat 42 67 L

10 Faiz Luthfi Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Bukittinggi 67 85 L

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara


11 Fery Veru Aryanto 45 84 L
Kalimantan Selatan dan Tengah
Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Pangkalan
12 Fitri Noor Hidayah 55 73 L
Bun
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
13 Gino Louis Warouw 41 75 L
Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo, dan Maluku Utara

14 Harsono Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Jakarta IV 24 66 TL

15 I Gede Wirawan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Malang 41 80 L

16 Irawan Ciputra Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Ternate 66 81 L

17 Januardo S. Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Bukittinggi 73 88 L

18 Katon Pamungkas Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Dumai 55 74 L

Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Pangkalan


19 Ketut Sandiasa 59 78 L
Bun

20 Mahbubi Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Batam 30 82 TL

21 Marzuki Tayib Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Lahat 46 73 L

Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Pangkalan


22 Muhammad Cahyo Santosa 72 88 L
Bun
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
23 Rahmat Adi Nugroho 77 84 L
Kalimantan Timur dan Utara

24 Reza Cipta Pratama Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Bontang 42 78 L

Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang


25 Ridwan Ahmad Setyo Prabowo 63 91 L
Palangkaraya

26 Risty Oktavia Maharani Putri Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Kendari 63 94 L

27 Setyo Widodo Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Surabaya 59 76 L

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara


28 Tarcisius Lenak 22 78 TL
Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo, dan Maluku Utara

29 Wielly Prasekti Direktorat Barang Milik Negara 65 68 L

30 Y. Tri Astuti Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Pekalongan 33 73 L

RATA-RATA 52,77 79,70 L = 26


MINIMUM 22,00 66,00 T = 4
MAKSIMUM 77,00 94,00

32 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
PIDANA SEHARUSNYA
UPAYA TERAKHIR
D e wi U t a r i

A da pernyataan dari Mudjisantosa, “ adakah satu negara


di dunia selain Indonesia yang memberlakukan
kesalahan prosedur pengadaan dan kerugian negara
sebagai tindak pidanan korupsi ? Seharusnya kerugian
negara diupayakan dapat dikembalikan. Penindakan
hukum dilakukan kalau ada kolusi atau menerima
sesuatu yang tidak patut,” selanjutnya yang bersangkutan
menyatakan bahwa “jangan-jangan kita ini, sebagian
yang dilakukan dalam memberantas korupsi, ternyata hanya
memberantas kesalahan pengadaan dan kerugian negara saja, lupa esensinya
yaitu memberantas keserakahan pengadaan”.

Banyak kasus yang telah terjadi atau sedang terjadi yang patut dipertanyakan
mengenai kebijakan hukum pidana Indonesia yang seakan-akan melihat hukum
pidana dan pemidanaan sebagai suatu hal yang diutamakan, yang dapat dilihat
dari pengaturan dan berimbas pada jumlah penghuni LP.

Padahal dalam Hukum Pidana dikenal asas Ultimum Remedium atau sebagai
upaya terakhir apabila upaya lainnya telah gagal.

Seharusnya pemahaman hukum pidana harus selalu diposisikan sebagai jalan


terakhir untuk menyelesaikan permasalahan hukum (ultimum remedium)
Tapi kenyataannya yang ada malah Hukum pidana sebagai primum remedium.

Ultimum Remedium memiliki makna apabila suatu perkara dapat diselesaikan


melalui jalur lain misalnya kekeluargaan, negosiasi, mediasi.

Di dalam kasus PBJ seharusnya terlebih dahulu dilalui bagaimana sanksi dari
maladministrasinya , kemudian sanksi perdatanya.
Bila terbukti adanya kolusi dan menerima sesuatu yang tidak patut berupa
materi, jabatan dsb maka dinilai sebagai mensrea yang terbukti,
Jadi dibawa ke pengadilan sebagai upaya terakhir kalau terbukti adanya kolusi
dan menerima sesuatu yang tidak patut.

Edisi 18 Tahun 2018 | 33


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Mens rea yang terbukti dilakukan penindakan untuk mencapai tujuan keadilan
dan efek jera, sanksi pidana sebagai jalan terakhir yang ditempuh atau ultimum
remedium. Bukan berhenti menegakkan hukum pada memproses pada
kesalahan pengadaan dan kerugian negara.

34 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Pekerjaan Rumah
Dalam Implementasi
Asuransi Untuk Barang
Milik Negara
Koko Inarto

“P engelola Barang dapat menetapkan kebijakan


asuransi atau pertanggungan dalam rangka
pengamanan Barang Milik Negara (BMN) tertentu dengan
mempertimbangkan kemampuan keuangan negara.”

Demikian bunyi pasal 45 ayat 1 PP 27 Tahun 2014 yang berbicara tentang


Pengelolaan BMN/D, aset tetap berupa gedung perkantoran, bangunan sekolah,
jembatan dan kendaraan dinas yang digunakan Kementerian Negara/Lembaga
(K/L) dituntut selalu dalam kondisi prima. Terjadinya bencana alam seperti tsunami
Aceh, gempa Sumatera Barat, meletusnya gunung Merapi, gempa di Lombok serta
terakhir gempa dan tsunami yang mengguncang Sulawesi Tengah memberikan
peringatan keras bagi pemerintah bahwa risiko terjadinya bencana alam semakin
besar, cepat, tidak terduga, dan masif. Setiap bencana bukan hanya menimbulkan
korban jiwa tetapi juga menimbulkan kerugian sosial, ekonomi, budaya, dan
lingkungan termasuk rusaknya instalasi penting milik pemerintah yang sangat
dibutuhkan masyarakat untuk pemulihan pasca terjadinya bencana dan kelanjutan
proses pelayanan masyarakat.
Kementerian Keuangan sendiri sebenarnya telah menerbitkan Peraturan
Menteri Keuangan (PMK) Nomor 247/PMK.06/2016 tentang Pengasuransian BMN
(“PMK Asuransi BMN”). PMK tersebut merupakan salah satu langkah pengamanan
BMN yang tujuannya mengantisipasi dampak ekonomi yang terlalu besar jika
bencana alam mengakibatkan rusak atau hancurnya BMN. Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) diharapkan tidak terlalu terbebani biaya recovery atas
BMN yang rusak atau hancur dengan pengasuransian BMN. Objek asuransi BMN
menurut pasal 7 ayat (1) PMK Asuransi BMN meliputi gedung dan bangunan;
jembatan; alat angkutan darat/apung/udara bermotor; dan BMN yang ditetapkan
oleh Pengelola Barang. Namun demikian, PMK ini belum dapat dilaksanakan
karena Ditjen Kekayaan Negara (DJKN) belum mengatur secara spesifik prioritas
BMN yang diasuransikan.

Edisi 18 Tahun 2018 | 35


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Implementasi Asuransi BMN haruskah diatur?
Nilai BMN terus mengalami peningkatan yang signifikan, contohnya di tahun
2016 sebesar 2.188 menjadi 4.206 triliun di 2017. Ini disebabkan pada tahun 2017,
DJKN mulai melakukan revaluasi atau penilaian kembali atas BMN yang digunakan
oleh K/L. Jika dicermati, objek revaluasi BMN adalah tanah, gedung dan bangunan,
serta JIJ (Jalan, Irigasi dan Jaringan) pada K/L yang diperoleh sampai 31 Desember
2015 serta yang sedang dilakukan pemanfaatan, sedangkan objek asuransi
BMN adalah tanah, gedung dan bangunan, alat angkutan bermotor, dan BMN
yang ditetapkan oleh Pengelola Barang. Terdapat kesamaan objek yaitu gedung,
bangunan, dan jembatan, hal itu dapat dipahami karena nilainya yang sangat
besar dalam neraca. Dan, dari segi asuransi, aset tersebut juga paling rentan rusak
atau hancur karena bencana alam.
Kemudian, kejadian bencana alam di Indonesia menurut data BNPB antara
tahun 2008 sampai dengan 11 September 2018 seakan mengkonfirmasi riset
World Bank tahun 2011, Indonesia dinyatakan sebagai salah satu negara berisiko
kematian tertinggi dari berbagai bencana alam, seperti banjir, tanah longsor,
gelombang tinggi, puting beliung, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, letusan
gunung api, gempa bumi, dan tsunami. Kejadian bencana didominasi banjir
7.153 kejadian dan puting beliung 5.566 kejadian. Untuk gempa bumi, walaupun
jumlahnya hanya 148 kejadian tetapi akibatnya dari segi korban jiwa dan jumlah
kerugian materiil sangat besar, seperti gempa Padang tahun 2009, gempa Aceh
tahun 2013, dan terakhir gempa Lombok.
Menurut riset Bank Dunia tersebut, pemerintah Indonesia telah mencadangkan
dana di APBN sebesar 4 triliun rupiah untuk penanganan pasca bencana, tetapi
menurut World Bank jumlah tersebut masih di bawah kebutuhan dana cadangan
sebesar 29 triliun rupiah. Dengan melihat kenyataan bahwa kemampuan APBN
yang terbatas, maka sudah seharusnya asuransi BMN segera dilaksanakan agar
pemerintah tidak semata tergantung pada dana cadangan tetapi dapat mencairkan
polis asuransi BMN jika terjadi bencana.

Peran Pemangku Kepentingan


Dalam mengimplementasikan asuransi untuk BMN, terdapat empat pihak
yang kontribusinya sangat penting. Pertama, perusahaan asuransi, pemerintah
harus menyeleksi perusahaan asuransi untuk membentuk konsorsium dan seleksi
harus didasarkan pada kinerja dan produk asuransi yang ditawarkan sehingga
konsorsium akan berisi perusahaan asuransi yang berkualitas. Apabila sebuah
perusahaan asuransi telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah
maka tugas perusahaan tersebut adalah memastikan jenis risiko apa saja yang akan
menimpa suatu BMN yang mungkin sampai ke risiko katastropik dan merumuskan
bentuk produk asuransi yang ditawarkan kepada pemerintah. Untuk itu, mereka
perlu data BMN yang shahih misalnya terkait profil, jenis, dan karakteristik BMN
yang akan diasuransikan sehingga DJKN perlu memikirkan skema pemberian

36 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
informasi tersebut. Kedua, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), peran aktif dari OJK sangat
diharapkan khususnya untuk membantu DJKN dalam menyeleksi perusahaan
asuransi yang bermutu dari segi kinerja dan produk serta sekaligus menyiapkan
tarif premi khusus yang tidak memberatkan APBN.
Selanjutnya, ketiga, DJKN, pekerjaan rumah DJKN adalah harus segera
menetapkan petunjuk lebih lanjut mengenai objek asuransi dengan prinsip selektif,
efisiensi, efektivitas, dan prioritas sesuai pasal 3 ayat (3) PMK Asuransi BMN.
Prinsip tersebut dapat dilaksanakan apabila DJKN memperoleh data dan informasi
BMN yang jelas dan lengkap dari K/L selaku Pengguna Barang karena merekalah
yang paling mengerti karakteristik BMN yang ada dalam penguasaannya masing-
masing. Untuk itu, DJKN dapat menghimbau atau bahkan mengatur K/L untuk
segera melengkapi data BMN yang ada di fitur master aset pada Sistem Informasi
Manajemen Aset Negara (SIMAN) dengan memberikan dokumen-dokumen
pendukung yang dapat diatur juga bentuknya oleh DJKN. Terakhir, yang keempat
adalah K/L, dalam rangka menyampaikan masukan skala prioritas asuransi atas
BMN, K/L harus menyempurnakan isian master asetnya masing-masing secara
shahih dengan memastikan aspek administrasi, fisik, dan hukumnya telah terpenuhi
serta berpedoman pada PMK Nomor 181/PMK.06/2016 tentang Penatausahaan
BMN. Masukan tersebut tentu harus didukung dengan alasan yang kuat dan dapat
disertai kronologis kasus-kasus yang pernah atau sedang terjadi.
Sinergi antara Kemenkeu dalam hal ini DJKN, K/L, OJK, dan Perusahaan Asuransi
harus dilakukan dengan kerangka waktu yang jelas dan masing-masing pihak
harus memiliki komitmen yang kuat untuk mendukung implementasi asuransi
untuk BMN sehingga perumusan beban premi dalam APBN dapat dilakukan
dengan cepat dan BMN prioritas dapat segera terlindungi dengan asuransi.

Penulis : Koko Inarto


Widyaiswara Balai Diklat Keuangan Denpasar
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan bukan representasi instansi tempat penulis
bekerja.

Edisi 18 Tahun 2018 | 37


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
38 | Edisi 18 Tahun 2018
E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Edisi 18 Tahun 2018 | 39
E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Pembayaran Konsultan
Perencana Pembangunan
Gedung yang Tertunda
Oleh : Subarja

Abstrak

Pembayaran jasa konsultan perencana konstruksi, biasanya terkait dengan


waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi-nya. Dalam proses pembayarannya
terikat dengan perkembangan yang terjadi dalam proses pengadaan pekerjaan
konstruksinya. Tentunya jika jadwal waktu pekerjaan konstruksi-nya berubah,
maka jadwal pembayaran jasa konsultan perencana juga berubah. Adanya variabel
waktu ini perlu disadari dari awal oleh para pihak yang berkepentingan, sehingga
bila sewaktu-waktu terjadi perubahan maka pihak sudah saling memaklumi. Hal
ini akan memudahkan dalam proses perubahan/adentum kontraknya. Tetapi
perubahan-perubahan ini tentu harus tetap berpegang pada ketaatan proses
didasari oleh aturan yang berlaku serta prinsip pembayaran yaitu pembayaran
dapat dilakukan bila barang/jasa sudah diterima Dengan baik dan lengkap.

Kata kunci: pembayaran, jasa konsultan, terlambat, adendum

S eorang pejabat perbendaharaan sebuah Satker di suatu daerah bertanya


mengenai permasalah pembayaran termin kontrak konsultan perencana
untuk pembangunan sebuah gedung yang bermasalah. Masalah tersebut
diawali dengan adanya rencana pembangunan gedung di sebuah satker. Pagu
dana pembangunan gedung sebesar sekitar Rp9 milyar. Sebagai langkah awal
membangun gedung tersebut dilaksanakanlah pengadaan konsultan perencana.
Dari hasil lelang didapatlah pemenang lelang konsultan perencana dengan nilai
kontrak sebesar Rp250.000.000,00(data dumy). Dalam kontrak disebutkan bahwa
untuk pembayaran konsultan perencana tersebut akan dilaksanakan dalam tiga
tahap (termin) yaitu:

40 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Jumlah
Tahap Waktu
pembayaran
Tanggal 3 Maret 2018 saat RKS, EE, BQ dan syarat serta
I 85%
pekerjaan lain selesai
Tanggal 1 April 2018 saat peletakan batu pertama bangunan
II 5%
dan penentuan titik-titk bangunan
Tanggal 1 Oktober 2018 saat bangunan selesai dibangun dan
III 10%
terdapat BAST Penyelesaian Pekerjaan pembangunan gedung

Tahapan pembayaran tersebut telah disusun sesuai dengan Peraturan Menteri


Pekerjaan Umum Nomor 45 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan
Bangunan Gedung Negara. Dalam lampiran peraturan tersebut, disebutkan
bahwa pembayaran biaya perencanaan didasarkan pada pencapaian prestasi
kemajuan perencanaan setiap tahapnya, yaitu (maksimum):
1) tahap konsep rancangan 10%
2) tahap pra-rancangan 20%
3) tahap pengembangan 25%
4) tahap rancangan gambar detail dan penyusunan RKS serta RAB 25%
5) tahap pelelangan 5%
6) tahap pengawasan berkala 15%
Selanjutnya, sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012
Tentang Tata Cara Pembayaran Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan
Dan Belanja Negara pada Pasal 35 dan pasal 36 disebutkan bahwa Perjanjian/
kontrak yang pembayarannya akan dilakukan melalui SPM-LS, maka PPK harus
mencatatkan perjanjian/kontrak yang telah ditandatangani ke dalam suatu
sistem yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Pencatatan
kontrak paling kurang meliputi data sebagai berikut:
a. nama dan kode Satker serta uraian fungsi/subfungsi, program, kegiatan,
output, dan akun yang digunakan;
b. nomor Surat Pengesahan dan tanggal DIPA;
c. nomor, tanggal, dan nilai perjanjian/kontrak yang telah dibuat oleh Satker;
d. uraian pekerjaan yang diperjanjikan;
e. data penyedia barang/jasa yang tercantum dalam perjanjian/kontrak antara
lain nama rekanan, alamat rekanan, NPWP, nama bank, nama, dan nomor
rekening penerima pembayaran;
f. jangka waktu dan tanggal penyelesaian pekerjaan serta masa pemeliharaan
apabila dipersyaratkan;
g. ketentuan sanksi apabila terjadi wanprestasi;
h. addendum perjanjian/kontrak apabila terdapat perubahan data pada
perjanjian/kontrak tersebut
i. cara pembayaran dan rencana pelaksanaan pembayaran apakah sekaligus
atau secara bertahap
Data perjanjian/kontrak tersebut harus disampaikan ke KPPN paling lambat 5
(lima) hari kerja setelah ditandatanganinya perjanjian/kontrak untuk dicatatkan
ke dalam Kartu Pengawasan Kontrak KPPN.

Edisi 18 Tahun 2018 | 41


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Sesuai aturan tersebut, PPK Satker telah mengirimkan data kontrak di
atas ke KPPN untuk persiapan pembayarannya. Dan pengadaan jasa konsultan
perencana, pada tahap I akhirnya selesai. Dan pembayarannya pun sudah
dilaksanakan sesuai dengan jadwalnya.
Dalam perkembangannya ternyata terjadi masalah dalam tender
pengadaan pekerjaan konstruksinya. Dalam tender pertama pekerjaan
konstruksinya tidak memperoleh pemenang. Baru pada tender yang kedua,
pemenang didapatkan. Akibat dari masalah tersebut adalah pembangunan
gedung tertunda. Hal ini juga berimbas pada proses pencairan dana jasa
konsultan perencana yang telah disepakati. Pembayaran tidak dapat dilaksanakan
sesuai dengan jadwal waktu yang tertuang dalam kontrak konsultan perencana
yang pertama, karena penentuan titik bangunan, peletakan batu pertama, dan
penyelesaian pekerjaan mundur waktunya.
Sebagai akibat mundurnya pelaksanaan pembangunan gedung tersebut,
maka jadwal pembangunan berubah sebagai berikut:

https://infokerjalombok.blogspot.com/2017/04/lowongan-arsitek-
untuk-konsultan.html

No. Waktu
1. Tanggal 1 Juni 2018, peletakan batu pertama dan penentuan titik-titk bangunan
2. Tanggal 1 Desember 2018, bangunan selesai dibangun

Ketika waktunya telah tiba, Konsultan perencana menuntut agar


pembayaran segera dapat dilaksanakan, mengingat termin kedua seharusnya
dibayar. Menanggapi permintaan konsultan perencana tersebut, maka PPK
menyampaikan bahwa pembayaran termin kedua dan ketiga akan mundur,
mengingat terjadinya penundaan pembangunan gedung. PPK juga tidak
mau memintakan permbayaran termin II, mengingat pihak konsultan juga
belum melaksanakan tugasnya untuk ikut memeriksa peletakan batu pertama
dan penentuan titik bangunan, walaupun waktu pembayaran sudah jatuh
tempo. Atas perselisihan ini, para pihak sepakat untuk melakukan perubahan
kontrak (adendum) khusus terkait perubahan waktu pekerjaan dan waktu
pembayarannya.

Untuk perubahan kontrak ini, sesuai dengan Peraturan Presiden


Nomor 16 tahun 2018 tentang pada pasal 54 disebutkan bahwa:

(1) Dalam hal terdapat perbedaan antara kondisi lapangan pada saat
pelaksanaan dengan gambar dan/atau spesifikasi teknis/KAK yang
ditentukan dalam dokumen Kontrak, PPK bersama Penyedia dapat

42 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
melakukan perubahan kontrak, yang meliputi:

a. menambah atau mengurangi volume yang tercantum dalam Kontrak;

b. menambah dan/atau mengurangi jenis kegiatan;

c. mengubah spesifikasi teknis sesuai dengan kondisi lapangan; dan/ atau

d. mengubah jadwal pelaksanaan.

(2) Dalam hal perubahan kontrak sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) mengakibatkan penambahan nilai kontrak, perubahan kontrak
dilaksanakan dengan ketentuan penambahan nilai kontrak akhir tidak
melebihi 10% (sepuluh persen) dari harga yang tercantum dalam Kontrak
awal

Sesuai pasal 54 ayat 1 (d), maka jadwal pelaksanaan pekerjaan yang tercantum
dalam kontrak konsultan perencana diubah menyesuaikan dengan kontrak
pekerjaan konstruksinya. Dan jadwal pembayaran kontrak konsultan perencana
menjadi:

Tahap Waktu
II Tanggal 1 Juni 2018, peletakan batu pertama dan penentuan titik-titk
bangunan
III Tanggal 1 Desember 2018, bangunan selesai dibangun

Atas dasar adendum kontrak tersebut, maka selanjutnya PPK menyampaikan


kembali data kontrak ke KPPN. Dan bila telah dilaksanakan seluruh pekerjaannya,
maka pembayaran jasa konsultan perencana dapat dilaksanakan.
Sehingga bila lancar, maka termin pembayaran untuk jasa dapat dilakukan
dengan rincian sebagai berikut:

Prosentase
Tahap Waktu Jumlah (Rp)
pembayaran
I 3 Maret 2018 85% 212.500.000,00
II 1 Juni 2018 5% 12.500.000,00
III 1 Desember 2018 10% 25.000.000,00

Bagaimana mekanisme pembayaran tiap tahapan tersebut?Apakah harus dengan


mekanisme pembayaran langsung atau dengan menggunakan uang persediaan?
Sesuai sifat transaksinya, yang sudah diketahui jumlah pastinya, waktu
pembayarannya dan siapa penerimanya, maka transaksi tersebut paling tepat
dilakukan dengan pembayaran langsung (LS) dari rekening kas negara ke
rekening pihak III.

Edisi 18 Tahun 2018 | 43


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Tahap Waktu Jumlah (Rp) Cara Pembayaran
I 3 Maret 2018 212.500.000,00
II 1 Juni 2018 12.500.000,00 Pembayaran Langsung
III 1 Desember 2018 25.000.000,00

Pembayaran untuk termin II dan III sebenarnya juga dapat dilakukan


melalui uang persediaan. Tetapi tentu hal ini harus dimuat dalam kontrak bahwa
pembayaran untuk termin II dan III dilakukan dengan uang persediaan UP),
bukan melalui transfer ke rekening penyedia jasa konsultan perencana. Hal ini
sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 pasal 43
yaitu:
(3) Pembayaran dengan Uang Persediaan yang dapat dilakukan oleh Bendahara
Pengeluaran/BPP kepada 1 (satu) penerima/penyedia barang/jasa paling
banyak sebesar Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) kecuali untuk
pembayaran honorarium dan perjalanan dinas.
(5) UP dapat diberikan untuk pengeluaran-pengeluaran:
a. Belanja Barang;
b. Belanja Modal; dan
c. Belanja Lain-lain.
Sehingga cara pembayaran dapat digambarkan sebagai berikut:
No. Tahap Waktu Jumlah (Rp) Cara Pembayaran
1. I 3 Maret 2018 212.500.000,00 LS
2. II 1 Juni 2018 12.500.000,00 UP
3. III 1 Desember 2018 25.000.000,00 UP

Dari bahasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa bila dalam kontrak terdapat
resiko ketidakpastian atas suatu hal misalnya terkait waktu, tidak ada salahnya
bila terdapat klausul dalam kontrak yang memudahkan untuk dilaksanakan
perubahan (adendum) atas sebuah kontrak. Sehingga tidak terjadi saling tuntut
menuntut. Karena semua sudah mengetahui bahwa terdapat variabel mengenai
waktu pelaksanaannya. Contohnya seperti pembayaran termin II dan III Jasa
konsultan perencana di atas dengan pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
Satu prinsip penting dalam pembayaran adalah pembayaran yang dilakukan oleh
negara adalah berbanding lurus dengan barang/jasa yang telah diserahterimakan.
Hal ini diatur di Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 pasal 39
yang menyebutkan bahwa:
(5) Khusus untuk pembayaran komitmen dalam rangka pengadaan barang/jasa
berlaku ketentuan sebagai berikut:
a. Pembayaran tidak boleh dilakukan sebelum barang/jasa diterima;
b. Dalam hal pengadaan barang/jasa yang karena sifatnya harus dilakukan

44 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
pembayaran terlebih dahulu, pembayaran atas beban APBN dapat
dilakukan sebelum barang/jasa diterima; dan
c. Pembayaran atas beban APBN sebagaimana dimaksud pada huruf b
dilakukan setelah penyedia barang/jasa menyampaikan jaminan atas
uang pembayaran yang akan dilakukan.

Edisi 18 Tahun 2018 | 45


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Era Baru PROFESI Ahli
Pengadaan INDONESIA
O l e h : S o nn y S u m a r s o n o

Ketua Umum DPP IAPI

S ebuah kepercayaan dan tanggung jawab yang tidak ringan, saat menerima
mandat menjadi ketua umum DPP IAPI periode 2018-2021. Betapa tidak.
Besar sekali harapan banyak pihak agar IAPI ke depan dapat memberikan peran
yang lebih besar bagi kemajuan pengadaan di Indonesia. Di sisi lain profesi ahli
pengadaan di Indonesia juga sedang berada di persimpangan yang cukup sulit
untuk lebih mengembangkan dan mempertahankan eksistensinya. Oleh sebab
itu perkenankan saya berbagi pemikiran bagaimana IAPI ke depan.

Memahami peran pengadaan yang semakin menentukan pencapaian kinerja


sebuah organisasi, maka diperlukan penguatan fungsi pengadaan barang/jasa di
hampir setiap organisasi. Salah satu elemen dalam penguatan fungsi pengadaan
ini adalah sumber daya manusia yang harus profesional, yaitu SDM yang memiliki
kompetensi teknis maupun manajerial yang memadai. Dengan dukungan SDM
profesional diharapkan dapat dibangun tata kelola dan budaya pengadaan yang
bermartabat serta berintegritas.

Penguatan pengadaan di internal organisasi sebagaimana disebutkan di atas


belum lah cukup. Berbagai pemangku kepentingan lain di organisasi dan juga
pihak eksternal termasuk penyedia, tidak kalah pentingnya untuk dibuat lebih
profesional. Diperlukan adanya peningkatan literasi pengadaan barang/jasa
di seluruh pemangku kepentingan internal organisasi dan juga para penyedia,
pembuat kebijakan terkait serta pihak lain seperti LSM dan aparat penegak
hukum. Dengan terciptanya kesetaraan literasi pengadaan di semua pemangku
kepentingan, diharapkan pola pikir dan pola kerja para pihak dapat disinergikan
sehingga meminimalkan benturan pola pikir yang kontraproduktif seperti yang
banyak terjadi saat ini.

46 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia (IAPI) harus berada di garda terdepan dalam
menggerakkan reformasi pengadaan di Indonesia sehingga tercipta budaya
pengadaan baru di Indonesia yang bermartabat dan berintegritas. Bermartabat
dalam konteks senantiasa mengedepankan inovasi baru pengadaan dan penciptaan
nilai tambah untuk mencapai value for money di fungsi pengadaan. Berintegritas
dalam konteks menempatkan segala sesuatu sesuai tugas dan perannya serta
menghindari terjadinya benturan kepentingan.

IAPI harus menciptakan kegiatan dan program kerja yang komprehensif


untuk mencapai tujuan di atas serta berkolaborasi dengan LKPP dan lembaga
pemerintah lainnya. IAPI juga harus berperan aktif dalam membangun komunitas
ahli pengadaan internasional serta mempromosikan reformasi pengadaan
Indonesia untuk meningkatkan persepsi positif terhadap negara Indonesia di mata
dunia. Tidak kalah pentingnya, IAPI pun harus berperan aktif dalam percepatan era
digitalisasi pengadaan barang/jasa yang sudah dimulai saat ini.

Bismillahirohmanirohim.
Mari kita mulai program kerja IAPI dengan konsolidasi internal DPP, lalu
dilanjutkan dengan kolaborasi antar DPD IAPI se Indonesia, dan dilengkapi dengan
sinergi pemangku kepentingan lainnya.

BRAVO IAPI

Edisi 18 Tahun 2018 | 47


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
SUSUNAN PENGURUS
IKATAN AHLI PENGADAAN INDONESIA (IAPI) Periode 2018-2021

Dewan Pimbina Pusat :


Ketua : Kepala LKPP
Anggota : 1. Agus Raharjo
2. Agus Prabowo
3. Ikak G. Pratiastomo
4. Robin Arsyad Suryo
5. Willem Siahaya
6. Arif Rahman Hakim
7. Dharma Nursani

Dewan Pengawas Pusat :


Ketua : Dwi Wahyuni K.
Wakil Ketua : Tatang Rustandar W.
Anggota : 1. Djamaludin Abubakar
2. Suharti Nasroem
3. Gatot Pambudhi P.
4. Bambang Adi Subagyo


Dewan Pengurus Pusat :

Ketua Umum Sonny Sumarsono


Sekretaris Jendral Hermawan
Wakil Sekretaris Jendral Andi Zabur Rahman
Bendahara Umum Indro Bawono
Wakil Bendahara Umum Sari Melani
Ketua Bidang Pengembangan Profesi, Soeryoadi
Sertifikasi dan Kodek Etik (I) Firman Dharmawan
Ketua Bidang Pengembangan Kompetensi & Rita Berlis
Pendidikan Pengadaan (II) Siti Aisyah
Ketua Bidang Pengembangan Organisasi, Arief Rahman
Keanggotaan dan Kemitraan Asosiasi di Suratmo
Indonesia (III)

48 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Ketua Bidang Hubungan Kelembagaan dan Khairul Rizal
Internasional (IV) Firdaus

Ketua Bidang Riset, Publikasi Ilmiah & Mudjisantosa


Peningkatan Kapasitas Nasional (V) Muhammad Nur Yahya

Ketua Bidang Penyelenggaraan Forum dan M. Kahar A. Palinrungi


Pameran (VI) Atty Aryanti Saraswati
Ketua Bidang Sistem Informasi & Digitalisasi Patria Santosa
Pengadaan (VII) Katri Iskandar
Ketua Bidang Humas dan Layanan Bantuan Neneng Euis Fatimah
Hukum (VIII) Khalid Mustafa

Direktur Eksekutif Reflus Zulkarnain


Wakil Direktur Eksekutif Samudera Gunadharma
Nandang Sutisna
Galuh Tantri Narindra

Dewan Etik
Ketua Ikak G. Patriastomo
Anggota Willem Siahaya
Harmawan Kaeni
Ignatius Suranto
Fitri Yusman

Edisi 18 Tahun 2018 | 49


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Gagal tender...
Identifikasi kebutuhan dan identifikasi penyedia

Bermula dari chattingan antar anggota Moulana keluar❗


lama dgn anggota baru... Aad keluar❗
😃 Admin Noval: Moulana keluar❗
Halo Sari, selamat bergabung di group Noval sbg Admin keluar❗
ya...
Cuma Sholeh yg msh ‘online’ ✔
SARI:
???????
Halo juga, saya anggota baru nih..
SARI: Mas Sholeh kok ngak ikut keluar ???
mohom bimbinganya
☺ Sholeh: Yah saya husnudzon dan sabar
🤠 Nana Maulana:
saja, semua pasti ada hikmahnya
Ya Sari, jangan khawatir sayang, aku akan
SARI: Iya mas Sholeh sebetulnya nama
bantu apapun buat kamu...
lengkap saya INDAH PUTRI SARIFUDIN,
😉 Ucok :
SARIFUDIN nama ayah saya, Saya mantan
Halo Sari,, kalo ada perlu apa2 tinggal putri indonesia tahun 2012
bilang aja, aku siap bantu kapanpun...
SARI: Saya janda ditinggal mati, suami
😘 Aad : saya meninggal begitu selesai akad nikah,
Halo Sari, saya bisa nemenin kamu ke jadi kami sama sekali belum sempat
mana aja kamu mau... kabarin aja ya say berbulan madu
😎 Zulmi: SARI: Mudah - mudahan mas Sholeh
Halo Sari... tenang aja selama ada saya berkenan menjadi imam saya...
semua pasti beres... ☺ Sholeh: Alhamdulillah..... MasyaAlloh
SARI: SARI: nama lengkap mas Sholeh
Tks temen2 semua atas perhatiannya, siapa????
kalian semua memang baik banget... ☺ Sholeh: SITI SHOLEHA
🤓 Moulana: SARI keluar group....❗
Btw, nama lengkap kamu siapa?
SARI: Jangan ketawa sendiri indahnya
SARIFUDIN, asli Jember.. berbagi..☕ (mohon maaf , apabila ada
kesamaan nama
Zulmi keluar group ❗
Nana Maulana keluar❗

50 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
PENGANTAR SOSIOLOGI
KONTRAK UNTUK
PENGADAAN PEMERINTAH
A j ik S u j o k o

Fungsional Pengelola Barang/Jasa | Fakultas Hukum Undip


email : ajik.sujoko80@gmail.com


I. BELAJAR MELIHAT KASUS DAN DISKUSI

K etika terjadi kecelakaan antar pemakai jalan roda dua karena menghindari
jalan berlubang, apakah kira-kira apakah yang terjadi terhadap kedua korban
kecelakaan? Tentu melarikan ke rumah sakit terdekat merupakan pilihan utama
untuk mendapatkan pertolongan bagi kedua korban. Apakah hanya berhenti
disitu saja ? Ternyata kejadian kecelakaan tersebut diketahui pihak kepolisian
sehingga mereka mencoba menginterogasi korban hanya untuk menyakan
bagaimana kejadian dan prosesnya bisa terjadi kecelakaan. Dari interogasi
diharapkan bisa didapat “siapa yang salah” dengan disertai keterangan saksi jika
ada. Bagaimana menurut pendapat saudara menanggapi kisah tersebut. Tentu
sang korban terlanjur tergeletak di ruang ICU/UGD, sedangkan aparat kepolisian
memaksa untuk mendapatkan informasi yang akurat dari korban kecelakaan ?
Kisah itu hanya sepenggal cerita teman yang pernah mengalami dan menjadi
korban kecelakaan tersebut. Tentu akan menjadi pertanyaan, model macam apa
polisi yang bertugas seperti itu ?

Kisah diatas hanya sekedar kisah kecil. Berikut cerita yang diangkat dari kisah
nyata lain berupa pembangunan jembatan dan gedung dengan pembiayaan dari
dana pemerintah yang rubuh dalam proses pelaksanaan fisik pekerjaan. Sengaja
tidak perlu disebut jembatan dan gedung manakah itu? Saat kejadian tentu para
pekerja yang terlibat dalam proses pembangunan disibukkan dengan usaha
menyelamatkan diri atau teman dari kecelakaan kerja tersebut. Warga setempat
atau pihak keamanan terdekat akan saling membantu untuk menyelamatkan
pihak yang terkena musibah kecelakaan akibat rubuhnya jembatan/gedung. Tidak
bisa dibayangkan seandainya diri kita kebetulan berada di lokasi atau tempat
rubuhnya sebuah jembatan atau gedung. Memang, meskipun di lokasi kerja

Edisi 18 Tahun 2018 | 51


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
tetap hati-hati dan waspada kecelakaan sangat berpeluang terjadi. Rubuhnya
jembatan atau gedung sebenarnya hanya mengenai waktu saja, apakah di dalam
pelaksanaan pembangunan atau menunggu umur atau jaman. Sangat disadari
karena tidak sempurnanya atau keterbatasan rekayasa manusia dengan akal
yang terbatas.
Yang selamat dari rubuhnya jembatan/bangunan hanya orang beruntung
atau ( jawa=”bejo”) Benar juga kata seorang pujangga besar Raden Ngabehi
Ronggo Warsito, untuk menggambarkan nasib orang.
“Saiki jamane jaman edan. Yen ora edan ora keduman. Sak bejo bejone wong
kang edan. Isih bejo wong kang eling lan waspada” (Sekarang zamannya zaman
gila. Kalau enggak gila enggak dapat bagian. Seberuntung-beruntungnya
orang yang gila itu, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada)
Ketika mencuat berita runtuhnya pembangunan jembatan/gedung seperti
otomatis atau tanpa diperintah dibarengi rumor atau sebagai suatu “kasus”.
Para pihak yang memiliki kepentingan mulai saling “tuding”, bahkan pihak
yang sebenarnya tidak ikut berkepentingan ikut andil dalam mengembangkan
kasus tersebut. Tidak ketinggalan pula, konon yang merasa “ahli” dibidangnya
atau karena bersinggungan dengan profesinya saling diskusi dan memberikan
komentar atau pendapat. Bahkan masyarakat tidak tinggal diam untuk
memberikan komentarnya.
Berbagai macam sudut pandang kasus jembatan/gedung dari ilustrasi
kisah nyata. Bagi “auditor” unsur merugikan dana publik karena bersumber
dana pemerintah lebih cenderung menjadi point utama sudut pandangnya.
Sehingga sebisa mungkin dapat mengitung seberapa besar “total loss” akibat
kasus tersebut. Lain halnya dengan aparat penegak hukum/APH yang “konon”
mudah diberikan stigma suka memberikan “kartu kriminalisasi”. Mereka akan
sibuk dengan urusan seputar akibat “kelalaian” atau hal lain yang sebisa mungkin
masuk atau “dimasukkan” ke dalam ranah “urusan” APH, yaitu “criminal” atau
pidana. Seorang ahli konstruksi mungkin akan berpendapat pekerjaan konstruksi
tidak sesuai dengan standar atau keluar dalam ber”konstruksi yang benar”
yang intinya mengenai aspek teknis konstruksi. Ahli hukum mungkin akan
memberikan pendapatnya dari sisi hukum. Lain halnya bagi yang memahami
kontrak pengadaan pemerintah, mungkin akan memberikan pendapatnya
seputar bagaimana kontrak yang dibuat dan pengendaliannya.
Menarik dari sudut pandang sepenggal kisah di atas, kondisi yang rata-rata
terjadi adalah masing-masing individu/pihak merasa “benar” dan membenarkan
pendapatnya dengan didukung ilmu, pengetahuan maupun pengalaman yang
dimiliki. Sehingga jika merasa benar memiliki kecenderungan untuk menyalahkan
atau menyatakan salah pihak lain yang tidak sepaham. Dalam pitutur orang jawa
benar (=bener) itu tidak selalu “pener”. “Pener” dalam kontek berpikir orang

52 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Jawa adalah ketepatan menempatkan pada posisi atau waktu yang semestinya
melihat situasi dan kondisi. Lebih dalam lagi ada istilah jawa “Seje uwong seje
omong, seje kulit seje anggit” (Beda orang beda ucapan, beda kulit beda pikiran
nya).1
Dari beberapa forum resmi atau melalui WhatsApp seputar pengadaan
barang/jasa pemerintah yang diikuti oleh berbagai profesi, adalah kondisi belum
sepenuhnya terbuka untuk menerima pemahaman yang beragam dan lebih tepat.
Sebagai contoh mengenai kesalahan administrasi dalam pengadaan barang/
jasa pemerintah yang dilakukan salah satu atau beberapa pelaku pengadaan.
Banyak kasus kesalahan administrasi yang berujung pada anggapan kesalahan
pidana. Kerugian negara yang terjadi tanpa disertai unsur pidana tetap dianggap
sebagai tindakan pidana, di mana ada pendapat tidak perlu dipidanakan, hanya
mengembalikan kerugian negara. Berbagai masalah mengenai kasus pengadaan
hanya karena kesalahan administrasi, kesalahan prosedur atau pun masalah
lainnya mewarnai dalam pengadaan pemerintah. Dalam praktik penanganan
mengatasi permasalahan pengadaan barang/jasa pemerintah, beberapa
penyelesaian permasalahan tidak tepat sesuai masalah yang timbul. Perjanjian /
kontrak menjadi rujukan awan ketika terjadi permasalahan.
Selama ini sudut pandang hukum lebih mewarnai dinamika dalam
pengadaan barang/jasa pemerintah. Hal ini wajar karena ketentuan pengadaan
barang/jasa pemerintah merupakan salah satu produk hukum. Padahal hukum
sendiri dalam mewarnai dinamika pengadaan barang/jasa pemerintah cukup
beragam. Hukum tidak hanya dilihat sebagai peraturan atau ketentuan normatif
atau pun ilmu/teori mengenai hukum yang lainnya. Hukum pun bisa dilihat dari
sudut pandang atau dipelajari dengan ilmu pengatahuan lain seperti sosiologi.
Sudut pandang kontrak pengadaan pemerintah dapat dilihat di gambar 1
di bawah ini:


<?>
Tamami Rusdi, Bener Neng Ora Pener, http://tamamirusdi.blogspot.com/2011/04/bener-neng-ora-
pener.html. diunduh tanggal 20 September 2018 jam 14.09

Edisi 18 Tahun 2018 | 53


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Gambar 1. Sudut pandang kontrak pengadaan pemerintah

Setidaknya sudut pandang pembahasan mengenai kontrak pengadaan


pemerintah dibagi dalam 3 aspek, meskipun terlalu “dini” untuk menyatakannya.
Tiga aspek tersebut antara lain;
1. administrasi, mengenai administrasi dalam kontrak pengadaan pemerintah
2. teknis, mengenai teknis pekerjaan
3. hukum; keterkaitan hukum dalam kontrak pengadaan pemerintah.
Dari ketiga aspek tersebut kiranya masih patut dipertanyakan, apakah mampu
memberikan jawaban yang “menyenangkan” sebagai bahan diskusi suatu kasus
oleh berbagai pihak sehingga saling legawa?
Untuk mencoba jawaban dari pertanyaan di atas, akan melihat sudut
pandang lain dalam memahami ilustrasi kasus di atas. Dengan mencoba sudut
pandang sosiologi berusaha ikut memberikan wacana cara pandang suatu kasus.
Intensitas sudut pandang sosiologi adalah dalam kontrak, sehingga lebih tepat
sosiologi kontrak. Karena lingkup kontrak yang menjadi pokok pembahasan
adalah kontrak pengadaan barang/jasa pemerintah maka pembahasan ke
depan adalah mengenai sosiologi kontrak pengadaan pemerintah. Harus diakui
bahwa bahasan sosiologi belum masuk dalam ranah kontrak pengadaan
pemerintah, ketimbang sisi hukum, administrasi maupun teknis.
Berbagai pendapat dan diskusi mengenai kasus runtuhnya kasus jembatan/
gedung di atas ada di tingkat legal formal , formal maupun non formal. Forum
formal legal dapat ditemukan dalam praktik persidangan mengenai penanganan
kasus tersebut. Forum formal lainnya bisa ditemukan dalam kegiatan atau ajang
diskusi pembelajaran/workshop mengenai pengadaan barang/jasa. Adanya
pertemuan antar individu/pihak dalam forum baik formal legal, atau forum
lainnya memperlihatkan hubungan atau interaksi antar individu/pihak. Adanya

54 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
hubungan atau interaksi antar individu dapat dipelajari perilakunya.
Melihat dari kasus jembatan/gedung berdasar ilustrasi dan beberapa
serangkaian diskusi mencoba untuk memberikan warna lain mengenai pengadaan
barang/jasa pemerintah khususnya dalam hal pemahaman kontrak. Seperti
hukum pun bisa dipelajari dari sudut pandang sosiologi, maka hadirnya tulisan
ini mencoba memberikan pengantar mengenai kontrak pengadaan pemerintah
yang dipelajari dari sosiologi. Dengan sosiologi berupaya mempelajari
hubungan antar personal/impersonal yang terlibat dalam kontrak
pengadaan barang/jasa pemerintah, fakta sosial maupun perubahan yang
terjadi dalam hubungan kontrak.

II. SOSIOLOGI DAN PENGADAAN PEMERINTAH DALAM PARADIGMA SOSIOLOGI


II.1. Perkembangan Sosiologi
Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan,
sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan
diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie
Positive” karangan August Comte (1798-1857). Walaupun banyak definisi tentang
sosiologi, namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang
masyarakat.2 Sosiologi termasuk ilmu yang paling muda dari ilmu-ilmu sosial
yang dikenal.3
Dalam perjalannya sosiologi cukup “terseok-seok” dalam beragumen
dibanding disiplin ilmu lain dan dianggap provokator dan berpotensi mengganggu
keharmonisan masyarakat. Setiap disiplin ilmu sudah biasa mengalami pasang
surut, kekosongan maupun kemajuan/kemunduran dalam menjawab tantangan
perkembangan, khususnya mengenai pembangunan nasional. Hal ini akan
dialamai juga oleh disiplin ilmu lainnya seperti hukum, politik, ekonomi, sipil
maupun ilmu lainya.
Perekembangan sosiologi makin matap tahun 1895, pada saat Emile
Durkheim, seorang ilmuwan Prancis menerbitkan bukunya yang berjudul Rules of
Sociological Method. Menurut Emile Durkheim, tugas sosilogi adalah mempelajari
fakta sosial.4 Fakta sosial sebagai cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang
berada di luar individu dan mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikan
individu tersebut.5 Fakta sosial menurut Emile Durkheim terdiri dua macam yaitu
bentuk meteria seperti norma hukum dan bentuk non materia yang bersifat

2 Sosiologi, https://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi, diunduh tanggal 28 September 2018.


3 J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan Edisi Kedua, Jakarta,
Kencana, 2006, hal. 4.
4 Ibid. hlm. 7.
5 Sosiologi, https://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi, diunduh tanggal 28 September 2018.

Edisi 18 Tahun 2018 | 55


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
intersubjektif seperti kultur, agama, egosime, opini. Menurut Max Weber, memiliki
pendekatan yang berbeda dengan Emile Durkheim. Menurutnya, sebagai ilmu
yang mencoba memahami masyarakat dan perubahan-perubahan yang terjadi
di dalamnya.
Memasuki abad 20, perkembangan sosiologi semakin variatif. Di era 2000-
an, perkembangan sosiologi semakin mantap dan kehadirannya banyak diakui
banyak pihak memberikan sumbangan yang penting bagi usaha pembangunan
dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sejumlah bidang kajian sosiologi saat
ini telah dikenal dan banyak dikembangkan antara lain, sosiologi terapan,
sosiologi industri, sosiologi kesehatan, sosiologi hukum, sosiologi perkotaan dan
sebagainya.6 Gambar 2 berikut sekilas perkembangan mengenai teori sosiologi
tahun-tahun awal:7

Gambar 2. perkembangan mengenai teori sosiologi tahun-tahun awal

II.2. Pengadaan Pemerintah Dalam Paradigma Sosiologi

6 J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto, Op. Cit., hlm. 8.


7 George Ritzer, Sociological Theory, Eighth Edition, University of Maryland, 2010, hlm. 3

56 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
II.2.1. Pengadaan Pemerintah
Pengadaan pemerintah yang dimaksud adalah pengadaan barang/jasa
pemerintah. Pemahaman sederhana pengadaan adalah membeli atau membuat
dari yang semula tidak ada menjadi ada. Pemerintah merupakan badan hukum
publik. Menurut Pasal 1653 BW badan hukum dibedakan menjadi 3 macam,
yaitu :8
a. Badan hukum yang “diadakan” oleh pemerintah/kekuasaan umum, misalnya
pemerintah daerah, bank yang didirikan oleh negara dan sebagainya.
b. Badan hukum yang “diakui” oleh pemerintah/kekuasaan umum, misalnya
perkumpulan-perkumpulan, gereja dan organisasi-organisasi agama dan
sebagainya.
c. Badan hukum yang “didirikan” untuk maksud tertentu yang tidak bertentangan
dengan undang-undang, kesusilaan seperti perseroan terbatas, perkumpulan,
asuransi, perkapalan dan lain sebagainya.
Badan hukum dapat pula dibedakan berdasarkan bentuknya yang terdiri
atas 2 (dua) jenis yaitu badan hukum publik dan badan hukum privat9. Adanya
penegasan bahwa negara dalam pandangan hukum perdata atau privat sebagai
hukum publik, maka selain itu ada pula yang digolongkan sebagai badan hukum
keperadataan yang lazim disebut sebagai badan hukum privat.10 Pemerintah
dianggap sebagai badan hukum, karena pemerintah menjalankan kegiatan
komersial (acts jure gestionisi)11. Kedudukan pemerintah dalam pergaulan hukum
keperdataan tidak berbeda dengan subjek hukum privat lainnya yakni orang
maupun badan hukum.12
Pengadaan barang/jasa pemerintah menurut Peraturan Presiden nomor
16 tahun 2018, dijelaskan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya
disebut Pengadaan Barang/Jasa adalah kegiatan Pengadaan Barang/Jasa oleh
Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah yang dibiayai oleh APBN/APBD
yang prosesnya sejak identifikasi kebutuhan, sampai dengan serah terima hasil
pekerjaan.
Untuk menyebut pengadaan pemerintah sebagai disiplin ilmu
tersendiri sepertinya terlalu “dini”. Hal ini dikarenakan sebagai berikut :
a. dalam pengadaan pemerintah menonjolkan praktik, khususnya penerapan

8 Titik Triwulan Tutik, Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Nasional, Jakarta, Kencana, 2008,
hlm. 51-52.
9 Ibid., hlm. 52.
10 Aminuddin Ilmar, 2014, Hukum Tata Pemerintahan, Jakarta, Prenadamedia Group, hlm. 85.
11 Sarah S. Kuahaty, Pemerintah Sebagai Subjek Hukum Perdata Dalam Kontrak Pengadaan Barang
Atau Jasa, Jurnal Sasi Vol. 17 No. 3 Bulan Juli-September 2011, hlm. 56.
12 Ibid, hlm. 57.

Edisi 18 Tahun 2018 | 57


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
aturan pengadaan
b. belum ada metode ilmiah mengenai pengadaan pemerintah
c. pengadaan pemerintah membutuhkan berbagai disiplin ilmu lain dalam
melaksanakan, misalnya, hukum, sipil, ekonomi dan lainnya.
II.2.2. Pengadaan Pemerintah Dalam Paradigma Sosiologi
Ada tiga paradigma yang mendominasi sosiologi, dengan beberapa yang
lain memiliki potensi untuk mencapai status paradigmatik. Tiga paradigma
tersebut diberi label paradigma fakta sosial, definisi sosial, dan perilaku sosial.13
Ketiga paradigma ini kurang memuaskan bagi Ritzer, masing-masing memiliki
kelebihan dan kekurangan. Kemudian Ritzer menawarkan paradigma terpadu
yang berusaha memadukan ketiga paradigma tersebut.
a. Paradigma fakta sosial
Pencetus paradigma sosial adalah Emile Durkheim. Ia mengatakan
bahwa fakta sosial sebagai sesuatu yang terjadi dalam persoalan sosiologi.
Fakta sosial berbeda dengan dunia ide yang bersifat spekulatif dalam
memahami gejala yang terjadi dalam masyarakat. Ritzer menjelaskan, garis
besar dari fakta sosial adalah struktur sosial dan pranata sosial. Fakta sosial
terdiri dari kelompok, kesatuan masyarakat tertentu, sistem sosial, posisi,
peran, nilai-nilai, keluarga, pemerintahan dan sebagainya.14
The social-facts paradigm focuses primarily on the macro-objective and
macrosubjective levels.15 Dunia sosial sangat rumit, dan untuk mendapatkan
pegangan di atasnya, perlu model yang relatif sederhana yaitu model
sederhana yang terbentuk dari perpotongan dua kontinuitas tingkat realitas
sosial. Dunia sosial terdiri dari serangkaian entitas mulai dari yang berskala
besar dari sistem dunia sampai skala kecil yaitu individu. Subjektif di sini
mengacu pada sesuatu yang hanya terjadi di alam ide, sedangkan objektif
berkaitan dengan nyata, peristiwa material.

13 George Ritzer, Op.Cit. 2010, hlm. A-11.


14 Paulus Hariyono, 2007, Sosiologi Kota untuk Arsitek, Jakarta, PT Bumi Aksara, 2007, hlm. 6-7
15 George Ritzer, Op.Cit. 2010, hlm. A-15.

58 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Gambar 3 berikut perpotongan rangkaian kesatuan microscopic dan
macroscopic.16

Gambar 3. Perpotongan rangkaian kesatuan microscopic dan macroscopic

Gambar 4 berikut menggambarkan rangkaian kesatuan objektif dan


subjektif.17

Gambar 4. rangkaian kesatuan objektif dan subjektif

Jika melihat gambar rangkaian kesatuan microscopic dan macroscopic,


maka pengadaan pemerintah masuk dalam kategori entitas besar yang
berbentuk organisasi, yaitu organisasi resmi dari pemerintah. Sedangkan
melihat gambar rangkaian kesatuan objektif dan subjektif, maka pengadaan
pemerintah merupakan kombinasi antara berbagai derajat objektif dan unsur
subjektif.
Pemahaman mengenai pendapat, ide, hukum para pelaku pengadaan
pemerintah akan sangat beragam jika dilihat dari paradigma fakta sosial.
Penafsiran dan pelaksanaan mengenai peraturan pengadaan pemerintah
yang beragam dan berbeda dari entitas pelaku usaha, organisasi pemerintah,
maupun individu yang berperan dalam melaksanakan pengadaan adalah
contohnya. Konkritnya mind set pelaku usaha adalah mendapatkan

16 Ibid, hlm. A-14.


17 Ibid.

Edisi 18 Tahun 2018 | 59


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
keuntungan, sedangkan tujuan dari ide normatif pengadaan pemerintah
adalah value for money, dengan tidak merugikan keuangan negara.
Melalui paradigma fakta sosial akan tampak fenomen-fenomena dalam
pengadaan pemerintah. Pelaku pengadaan pemerintah akan memperhatikan
norma, nilai atau prinsip yang bersifat makro maupun universal dan struktur
sosial dari pemerintah. Nilai atau prinsip yang bersifat universal bisa dilihat
dari prinsip pengadaan pemerintah yang sudah dibakukan dalam ketentuan
pengadaan pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa pengadaan pemerintah
tidak lepas dari struktur dan norma.
Selain dari nilai-nilai yang bersifat universal, norma yang bersifat
intersubjektif yang menurut Durkheim terwujud dalam bentuk kesadaran
manusianya juga mempengaruhi pengadaan pemerintah. Misalnya opini
mengenai pengadaan pemerintah menurut pelaku usaha ketika awal
dikenalkan sistem e procurement akan memulai serasa berat karena sudah
terbiasa model konvensional yang telah tumbuh budaya “tau sama tau”
sesama pelaku usaha. Pengenalan e purchasing melalui e katalog, akan
memberi peluang lebih besar kepada usaha kecil untuk cepat mati dan tidak
berkembang karena kalah dengan pelaku usaha besar. Lain halnya dengan
“gebarakan” ego dari pemerintah pusat selaku regulator yang berharap
besar pengadaan pemerintah menjadi pusat unggulan (center of excellent),
sehingga mengurangi praktik KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) dalam
pengadaan pemerintah. Norma yang bersifat intersubjektif yang ada dalam
aparatur sipil negara mempengaruhi pengadaan pemerintah seperti budaya
kerja maupun opini mengenai peraturan pengadaan pemerintah. Beda
bendapat mengenai peraturan pengadaan akan beda pula menerjemahkan
atau mengimplentasikan pengadaan pemerintah.
Norma yang bersifat intersubjektif lainnya adalah seperti seorang
arsitek yang merancang suatu desain. Ia menggunakan perhitungan fengshui
atau tradisi orang Jawa yang didasarkan pada pengetahuan tentang primbon,
kawruh kalang. Dalam masyarakat Jawa secara intersubjektif umumnya
bangunan membentang pada arah Utara-Selatan. Prinsip ini mengacu
pada posisi Keraton Yogyakarta yang dikatakan sebagai salah satu pusat
kebudayaan Jawa dan juga membentang pada mata angin Utara-Selatan.�
b. Paradigma definisi sosial
Bagi paradigma denifisi sosial, stuktur sosial dan pranata sosial bukan
objek pengamatan sosiologi, melainkan hanya membantu untuk dapat
membentuk tindakan manusia yang penuh arti dan makna.� Max Weber,
salah satu tokoh paradigma ini, menganjurkan metode yang digunakan pada
paradigma definisi sosial adalah pemahaman (verstehen) yaitu kemampuan
untuk berempati atau kemampuan untuk menempatkan diri dalam kerangka

60 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
berpikir orang lain yang perilakunya mau dijelaskan dan situasi serta tujuan-
tujuannya mau dilihat menurut perpektif itu.
Max Weber mengklasifikasikan ada empat jenis tindakan sosial yang
mempengaruhi sistem dan struktur sosial masyarakat yaitu� :
1. Rasionalitas instrumental. Disini tindakan sosial yang dilakukan seseorang
didasarkan atas pertimbangan dan pilihan sadar yang berhubungan
dengan tujuan tindakan itu dan ketersediaan alat yang dipergunakan untuk
mencapainya. Misalnya seorang Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna
Anggaran menyadari ketersediaan anggaran untuk membangun gedung
terbatas, maka ia memutuskan agar pembangunan gedung dibuat secara
bertahap dengan anggaran yang tersedia.
2. Rasionalitas yang berorientasi nilai. Sifat rasional tindakan jenis ini
adalah bahwa alat-alat yang ada hanya merupakan pertimbangan dan
perhitungan yang sadar, sementara tujuan-tujuannya sudah ada di dalam
hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut. Artinya
nilai itu merupakan nilai akhir bagi individu yang bersangkutan dan
bersifat nonrasional, sehingga tidak memperhitungkan alternatif. Contoh
jenis tindakan ini adalah seorang PPK yang melaksanakan tugasnya
dengan motivasi bahwa tugas yang diemban adalah sebuah ibadah.
3. Tindakan tradisional. Dalam tindakan jenis ini, seseorang memperlihatkan
perilaku tertentu karena kebiasaanyang diperoleh dari nenek moyang,
tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan. Misalnya ketika seorang
direktur perusahaan kontraktor memenangkan tender ia mengadakan
acara tasyakuran atau “slametan” untuk sekedar menuruti anjuran dan
kebiasaan orang tuanya.
4. Tindakan afektif. Tipe tindakan ini didominasi perasaan atau emosi tanpa
refleksi intelektual atau perencanaan sadar. Tindakan afektif sifatnya
spontan, tidak rasional dan merupakan ekspresi emosional dari individu.
Misalnya Direktur suatu perusahaan yang gemetar karena takut ketika di
hadapkan di muka majelis hakim.
Mempelajari perkembangan suatu pranata secara khusus dari luar
tanpa memperhatikan tindakan manusianya sendiri, menurut Weber
mengabaikan segi-segi yang prinsipil dari kehidupan sosial.18 Perkembangan
dari suatu hubungan sosial dapat pula diterangkan melalui tujuan dari
manusia yang melakukan hubungan sosial itu, saat orang dapat memberikan
sebuah makna tertentu terhadap suatu tindakan dan tindakan itu diarahkan
pada orang lain. Misalnya tindakan melempar batu di kolam tidak berarti apa-
apa. Akan tetapi jika di kolam tersebut ada sesorang maka peristiwa tersebut

18 Paulus Hariyono, Op. Cit., hlm. 9.

Edisi 18 Tahun 2018 | 61


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
bisa memiliki makna seperti perasaan yang tidak menyenangkan. Lain halnya
jika sesorang itu adalah teman akrabnya, maka tindakan melempar batu
dianggap sebagai gurauan atau bercanda.
Dalam pengadaan pemerintah, pemahaman paradigma definisi sosial
akan tampak pada makna atau simbol yang sengaja dirancang pada hasil
pengadaan. Misalnya dengan proses lelang atau tender, akan memberikan
imajinasi harga termurah yang didapat. Pewarnaan interior dan ekseterior
yang didesain konsultan perencanaa ada kalanya menunjukkan kelompot dan
etnis tertentu. Dalam kepercayaan tradisi Cina, warna terang menghasilkan
udara yang baik (chi). Desain suatu gedung lembaga peradilan identik
dengan empat pilar besar yang memberikan simbol terhadap tiga tujuan
hukum yaitu kepastian hukum, kemanfaatan, keadilan dan satu tambahan
humanis.
c. Paradigma perilaku sosial19
Skinner, pelopor paradigma perilaku sosial memandang objek
pengamatan kedua paradigma sebelumnya sebagai perspektif yang bersifat
mistik, yang tidak dapat diterangkan secara rasional. Menurutnya objek studi
sosiologi yang konkrit dan realistis adalah perilaku manusia yang tampak dan
kemungkinan perulangannya. Pokok persoalan sosiologi adalah tingkah laku
individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan faktor lingkungan
sosial maupun non sosial yang menghasilkan akibat atau perubahan pada
faktor lingkugan dan menimbulkan perubahan pada tingkah laku.individu
kurang sekali memiliki kebebasan. Tanggapan yang diberikan ditentukan
oleh sifat dasar stimulus yang datang dari luar dirinya.
Inti dari paradigma perilaku sosial adalah individu berperilaku atas
stimulus tertentu. Stimulus dapat terjadi di luar kehendak dan kontrol
subjektifnya. Stimulus yang berbeda akan menghasilkan perilaku (respon)
yang berbeda. Terdapat kecenderungan bahwa respon yang dianggap
menguntungkan akan cenderung diulang. Sebagai contoh proses perencanan
yang dilakukan konsultan perencana adakalanya ditentukan oleh faktor-
faktor di luar dirinya, misalnya keterbatasan dana, fluktuasi nilai keuangan,
kondisi alam dan faktor lainnya. Sebagai contoh, dengan keterbatasan dana
tersusunlah rencana pembangunan jembatan. Pada keterbatasan ini kadang-
kadang hasil pembangunan jembatan tidak mampu memberikan kepuasan
sepenuhnya pada masyarakat pengguna. Potensi gangguan alam seperti
tsunami atau banjir terkadang di luar kontrol bagi seorang perencana.
Namun dengan segala keterbatasan tersebut terkadang pembangunan
jembatan dapat diterima. Sebaliknya, apabila stimulus yang berada di luar
konsultan perencana memberikan keleluasaan tertentu, akan dapat terbentuk

19 Ibid. hlm. 10-11

62 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
keteraturan tertentu pula yang memungkinkan terjadinya suatu perulangan.
Kemungkinan konsultan perencana akan mengulang hasil perencanaan di
tempat lain dengan desain dan pola-pola tertentu yang memiliki kemiripan.
Sebagai kasus, di Indonesia status kepemilikan lahan yang bersifat privat
cukup banyak. Tanpa memiliki kemampuan tertentu seperti dana dan
kekuatan hukum, kondisi ini akan menyulitkan pemerintah dan konsultan /
kontraktor merancang jalan.
d. Paradigma terpadu20
Selama penganut masing-masing paradigma tidak menganggap bahwa
pendekatan mereka mampu menerangkan semua tingkat realitas sosial, maka
paradigma yang dianut sangat relevan bagi perkembangan sosiologi, demikian
Ritzer menegaskan. Ritzer berusaha melihat suatu realitas sosoal bedasarkan
sifat dan cakupannya. Menurut Ritzer ada empat tingkat realitas sosial, yaitu:
1. Makroobjektif, contoh: norma hukum, bahasa dan birokrasi
2. Makrosubjektif, contoh: norma, nilai dan kultur
3. Mikroobjektif, contoh: berbagai bentuk interaksi sosial seperti konflik,
kerjasama dan pertukaran
4. Mikroobjektif, contoh: proses berpikir dan konstruksi realitas sosial
Dari keempat realitas sosial, Ritzer mengajukan paradigma terpadu. Hal
terpenting dalam pendekatan terpadu adalah bahwa berbagai tingkat realitas
sosial tersebut harus diperlakukan secara integratif. Artinya setiap persoalan
khusus yang dikaji harus diselidiki dari sudut pandang yang terpadu. Sebagai
contoh, kemunculan tindak pidana korupsi, terjadinya kerugian negara dalam
pengadaan pemerintah harus dipelajari dari sebagai proses yang saling
mempengaruhi, melibatkan perubahan di berbagai kesatuan sosial seperti
birokrasi, norma, pola interaksi, serta kesadaran individual dan sosial, tetapi tidak
boleh mengabaikan variabel tingkat realitas sosial yang lain.
Pengadaan pemerintah harus dipelajari sebagai proses yang saling
mempengaruhi, melibatkan perubahan dan berbagai kesatuan yang ada di luar
dirinya dalam norma, pola interaksi, serta kesadaran individu dan sosial. Sekaligus
pengadaan pemerintah harus mampu melihat unsur norma (sosial dan hukum),
nilai, kultur, kesadaran objektif dan intersubjektif, interprestasi dan konstruksi
pemikiran tertentu pada tingkat mikro dan makro dalam dimensi ruang dan waktu
yaitu sejak identifikasi kebutuhan, sampai dengan serah terima hasil pekerjaan.
Sebagai contoh, terjadinya kerugian negara karena ambruknya gedung negara
yang dibangun. Kejadian tersebut bukan terjadi seketika, melainkan terjadi
melalui proses historis yang melibatkan dari perjalanan waktu mulai identifikasi

20 Ibid. hlm. 12-14

Edisi 18 Tahun 2018 | 63


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
kebutuhan yang menyangkut tuntutan atau kebutuhan sistem tertentu, tingkah
laku individu yang bertugas memilih penyedia, interaksi pelaksanaan pekerjaan
dan seterusnya. Dalam kenyataannya, segala sesuatu saling berkaitan secara
terus menerus untuk selama-lamanya.
Dari hasil pendekatan di atas, pengadaan pemerintah dapat dilihat melalui
paradigma sosiologi. Penulis sepakat dengan buku sosiologi kota untuk arsitek
menurut Paulus Hariyono. Penulis mencoba mengambil konsep sosiologi kota
untuk arsitek untuk menjelaskan sosiologi pengadaan pemerintah. Sosiologi
pengadaan pemerintah dapat diberi pengertian sebagai ilmu yang
mempelajari aspek sosial dalam pengadaan pemerintah.

III. KONTRAK DAN SOSIOLOGI KONTRAK PENGADAAN PEMERINTAH


III.1. Kontrak Merupakan Ilmu Tua Dan Perkembangannya
Dalam QS Al A’raaf Ayat 172 tentang syahadatnya jiwa manusia sebelum
ke alam dunia. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-
anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa
mereka (seraya berfirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab,
“Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian
itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani
Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan Tuhan)”. QS Al
A’raaf Ayat 172 telah jelas bahwa manusia sebelum lahir ke alam dunia telah
mengambil saksi kepada Allah mengenai keEsaan-Nya. Maksud dari firman Allah
SWT di atas adalah, ikatan yang berbentuk janji antara manusia dengan Allah
sebagai Pencipta manusia, yang menyatakan bahwa Allah adalah Rabb mereka
Yang Maha Esa (tidak berbilang).21
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah
tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu
menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya
dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana
Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang
yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah
ia bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun
dari hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah
(keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah
walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang
saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki,
maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang

21 Fethullah Gulen, Perjanjian Allah dan Manusia, https://fgulen.com/id/karya-karya/


qadar/49480-perjanjian-allah-dan-manusia, diunduh tanggal 28 September 2018.

64 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya.
Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka
dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun
besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi
Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak
(menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muaamalah
itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa
bagi kamu, ( jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu
berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu
lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan
pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha
mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 282)
Di dalam perkembangannya antar sesama manusia sering kali melakukan
perjanjian. Efek suatu perjanjian memang luar biasa. Bahkan kata para ahli, ada
5 teori pembentukan negara, salah satunya menurut teori perjanjian. Menurut
teori ini, negara bisa ada karena perjanjian masyarakat22 atau yang biasa dikenal
teori kontrak sosial. Semua warga mengadakan perjanjian untuk mendirikan
suatu organisasi yang melindungi dan menjamin kelangsungan hidup bersama.
Penganut teori ini adalah Thomas Hobbes, John Locke, J.J. Rousseau, dan
Montesquieu. Menurut Thomas Hobbes (1588-1679), syarat membentuk negara
adalah dengan mengadakan perjanjian bersama individu-individu yang tadinya
dalam keadaan alamiah berjanji akan menyerahkan semua hak-hak kodrat yang
dimilikinya kepada seseorang atau sebuah badan.23 Menurut John locke (1632-
1704), dasar kontraktual dan negara dikemukakan Locke sebagai peringatan
bahwa kekuasaan penguasa tidak pernah mutlak tetapi selalu terbatas, sebab
dalam mengadakan perjanjian dengan seseorang atau sekelompok orang,
individu-individu tidak menyerahkan seluruh hak-hak alamiah mereka.24
Menurut Jean Jacques Rousseau (1712-1778), keadaan alamiah
diumapamakannya sebagai keadaan alamiah, hidup individu bebas dan
sederajat, semuanya dihasilkan sendiri oleh individu dan individu itu puas.
Menurut “Negara” atau “badan korporatif” dibentuk untuk menyatakan
“kemauan umumnya” (general will) dan ditujukan pada kebahagiaan besama.
Selain itu negara juga memperhatikan kepentingan-kepentingan individual
(particular interest). Kedaulatannya berada dalam tangan rakyat melalui kemauan

22 https://www.merdeka.com/pendidikan/kata-para-ahli-inilah-5-teori-pembentukan-
negara. html, diunduh tanggal 28 September 2018
23 Dwi Cahyadi Wibowo, konsep, teori, dan proses terbentuknya negara, https://dwicahyadiwibowo.
blogspot.com/search?q=terbentuknya+negara, diunduh tanggal 28 September 2018.
24 Dwi Cahyadi Wibowo, konsep, teori, dan proses terbentuknya negara, https://dwicahyadiwibowo.
blogspot.com/search?q=terbentuknya+negara, diunduh tanggal 28 September 2018.

Edisi 18 Tahun 2018 | 65


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
umumnya.25 Kemudian Montesquieu mengajarkan pembagian atau pemisahan
kekuasaan sering di kenal dengan istilah “Trias Politica”. Konsep Trias Politica
mengajarkan bahwa kekuasaan negara terdiri dari 3(tiga) macam kekuasaan,
yaitu Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif. Kekuasaan Legislatif adalah membuat
undang-undang, kekuasaan Eksekutif adalah kekuasaan melaksanakan undang-
undang, dan kekuasaan Yudikatif adalah kekuasaan mengadili atas pelanggaran
undang-undang.
Dalam perkembangan sebagian besar negara banyak menganut konsep
Trias Politica, termasuk Indonesia. Sistem pemerintahan Republik Indonesia
secara implisit, baik sebelum dan sesudah amandemen Undang-Undang
Dasar Tahun 1945, menerapkan konsep Trias Politica Montesquieu, namun
penerapannya tidak obsolut.26 Penerapan konsep Trias Politica Montesquieu
sesudah amandemen ternyata tidak hanya Legislatif (MPR, DPR, DPD), Eksekutif
(Presiden) dan Yudikatif (MA, MK), namun masih di bagi lagi ke dalam Kekuasaan
Eksaminatif (BPK).
Dalam perkembangannya antar sesama manusia/individu juga membuat
suatu perjanjian yang kemudian termuat dalam suatu yang istilah atau namanya
disebut kontrak. Menurut namanya, kontrak dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu kontrak nominaat dan innominaat. Kontrak nominaat merupakan
kontrak yang terdapat dan dikenal dalam KUH Perdata. Kontrak innominaat
merupakan perjanjian yang timbul, tumbuh, hidup, dan berkembang dalam
masyarakat. Timbulnya perjanjian jenis ini karena adanya asas kebebasan
berkontrak, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1338 KUH Perdata.27
Kita tahu bahwa walaupun KUH Perdata di atas pada awalnya (sebelum
negara Indonesia merdeka) dinyatakan berlaku bagi orang Belanda, namun
kenyataannya sampai sekarang masyarakat Indonesia tetap menggunakan KUH
Perdata sebagai salah satu hukum yang akan menentukan dalam pergaulan
masyarakat.28 Dari uraian di atas, menunjukkan bahwa praktik perjanjian/kontrak
jika dipelajari dari sejarahnya merupakan praktik lama yang sudah berkembang.
Termasuk dalam praktik kontrak pengadaan pemerintah merupakan manifestasi
dari praktik perjanjian/kontrak yang telah ada. Hanya saja kontrak pengadaan
pemerintah yang ditandatangani para pihak dan dibuat secara tertulis

25 Dwi Cahyadi Wibowo, konsep, teori, dan proses terbentuknya negara, https://dwicahyadiwibowo.
blogspot.com/search?q=terbentuknya+negara, diunduh tanggal 28 September 2018.
26 Efi Yulistyowati, Endah Pujiastuti, Tri Mulyani, Penerapan Konsep Trias Politica Dalam Sistem
Pemerintahan Republik Indonesia : Studi Komparatif Atas Undang–Undang Dasar Tahun 1945 Sebelum
Dan Sesudah Amandemen, Jurnal Dinamika Sosial Budaya, Volume 18, Nomor 2, Desember 2016
27 Djoko Purnomo, Analisis Yuridis Pemutusan Sepihak Kontrak Kerja Konstruksi Dalam Perspektif
Hukum Perdata, Penulisan Hukum, Universitas Muhamadiyah Malang, 2013, hlm.1
28 Erie Hariyanto, Burgelijk Wetboek (Menelusuri Sejarah Hukum Pemberlakuannya di Indonesia),
Jurnal Al-Hikam Vol. IV No. 1 Juni 2009, hlm. 144

66 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
belum mengakomodir mengenai saksi dan ketentuannya sesuai QS. Al-
Baqarah: 282.
Cukup menarik untuk didiskusikan jika mengenai saksi dalam kontrak
pengadaan pemerintah. Dalam praktik perjanjian atau kontrak antar individu
pada umumnya yang menimbulkan potensi bermasalah atau resiko sering
menggunakan saksi. Misalnya, perjanjian jual beli tanah, perjanjian sewa toko dan
lain sebagainya. Namun demikian terkadang ketika dalam praktiknya seorang
pembeli membeli barang di pasar/toko meskipun hutang dengan penjualnya
ataupun pesan barangnya inden, antar penjual dan pembeli tidak membawa
saksi. Mereka cukup secara lisan mengadakan akad jual beli, bahkan hanya
menggunakan simbol atau kode tertentu bahwa antara penjual dan pembeli
telah sepakat melakukan transaksi. Terlebih lagi dengan era digital, model pasar
konvensional seperti pasar tradisional mulai bergeser dan beberapa hilang.
Model pasar konvensional yang mempertemukan antar penjual dengan pembeli
secara langsung beralih melalui elektronik. Dahulu pasar yang merupakan pusat
keramaian karena suara khasnya karena ada proses transaksi jual beli mulai
berubah menjadi sepi. Mungkin gambaran tersebut mirip dengan pemikiran
Sunan Kalijaga berupa “pasar ilang kumandange”29. Perlambang “pasar ilang
kumandange” juga perlambang datangnya jaman Joyoboyo:

“Mbesuk yen ana kereta mlaku tanpa jaran, tanah Jawa kalungan wesi, prahu
mlaku ing duwur awang-awang, kali ilang kedunge pasar ilang kumandange. Iku
tanda yen tekane jaman Joyoboyo wia cedak.”

Jika diterjemahkan: besok kalau sudah ada kereta berjalan tanpa kuda,
tanah Jawa berkalung besi - artinya adanya kereta api, perahu berjalan di atas
angkasa - artinya terciptanya pesawat terbang. Sungai hilangnya kedungnya
artinya kehilangan sumber air dan ini sudah terbukti, termasuk pasar hilang
kumandangnya, dimana zaman dahulu pasar di pagi hari seperti suara lebah
karena suara pedagang dan pembeli bisa terdengar di radius 5 km.”30 Perlambang
yang lain adalah “akeh janji ora ditetepi, akeh wong nglanggar sumpahe dewe”
(artinya banyak orang melanggar janji dan sumpah jabatan yang diartikan untuk
para pejabat banyak dilanggar, misalnya hakim berkhianat, pejabat yang korupsi
dan lain sebagainya). Setidaknya dengan kontrak pengadaan pemerintah

29 Liliyek Puji Rustanti dan Bambang Indiatmoko, Ajaran dan Pemikiran Sunan Kalijaga pada
Legenda Penamaan Desa di Masyarakat Demak, Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
2017, hlm. 265.
30 Reporter Imam Mubarok, Jangka Jayabaya sudah ramalkan bakal marak seks bebas, https://www.
merdeka.com/peristiwa/jangka-jayabaya-sudah-ramalkan-bakal-marak-seks-bebas.html, didownload
tanggal 25 Oktober 2018.

Edisi 18 Tahun 2018 | 67


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani para pihak akan meminimalisir
pelanggaran terhadap perjanjian yang telah disepakati.

III.2. Sosiologi Kontrak untuk Pengadaan Pemerintah


Ada beberapa definisi mengenai kontrak. Di dalam Bab II mengenai
perikatan yang lahir dari kontrak atau persetujuan di bagian 1 mengenai
ketentuan-ketentuan umum Burgerlijk Wetboek voor Indonesie (KUH Perdata),
Pasal 1313, suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dimana satu orang atau
lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih. Di dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kontrak/kon-trak/ adalah perjanjian (secara
tertulis) antara dua pihak dalam perdagangan, sewa-menyewa, dan sebagainya;
atau didefinikan persetujuan yang bersanksi hukum antara dua pihak atau lebih
untuk melakukan atau tidak melakukan kegiatan.31
“Kontrak” dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu dimaknai dengan
Pasal 1313 KUH Perdata yang dapat melahirkan suatu perikatan. Adakalanya
istilah kontrak dipakai dalam disiplin ilmu lain. Misalnya ada istilah kontrak
sosial adalah sebuah perjanjian antara rakyat dengan para pemimpinnya, atau
antara manusia-manusia yang tergabung di dalam komunitas tertentu.32 Seperti
fenomena kontrak politik yang terjadi menjelang pemilihan umum seperti
pemilihan kepala daerah, anggota legislatif, pemilihan Presiden. Kontrak politik
bukanlah sebuah peraturan perundang-undangan karena bukan dibuat oleh
sebuah lembaga yang memiliki otoritas.33 Apabila diamati, pengertian kontrak
diwarnai oleh disiplin ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh penuturnya. Namun,
di dalam pengadaan pemerintah memahami kontrak adalah dilihat dari sisi
hukum yang mengatur mengenai kontrak. Peranan kontrak dalam memberikan
perlindungan hukum didasarkan pada asas pacta sunt servanda yang melekat
pada kontrak, seperti yang diatu-pada Pasal 1338 KUH Perdata yang berbunyi:
“Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang
bagi mereka yang membuatnya. Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali
selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang
ditentukan oleh undang-undang. Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad
baik.”
Jika melihat sumber hukumnya dari KUH Perdata, maka kontrak masuk
dalam lingkup hukum perdata. Di dalam perkembangannya praktik-praktik
kontrak mulai bergeser dari kontrak yang dibuat tidak tertulis menjadi kontrak

31 https://kbbi.web.id/kontrak, didownload tanggal 29 Oktober 2018.


32 https://id.wikipedia.org/wiki/Kontrak_sosial, didownload tanggal 29 Oktober 2018.
33 M Hadi Shubhan, Kontrak Politik Bukan Dokumen  Hukum, https://gagasanhukum.
wordpress.com/2009/07/06/kontrak-politik-bukan-dokumen-hukum/, didownload tanggal 29
Oktober 2018.

68 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
yang dibuat secara tertulis. Hal ini tercermin karena disebabkan dari tuntutan
suatu peraturan perundang-undangan yang mengatur atau kebutuhan para
pihak. Kontrak yang dibuat secara tertulis bisa dilihat dari berbagai macam
bentuknya. Di dalam pengadaan pemerintah, ada beberapa macam bentuk
kontrak yaitu, berbentuk kuitansi, bukti pembelian/pembayaran, Surat Perintah
Kerja, Surat Perjanjian dan Surat Pesanan.
Adanya berbagai macam bentuk kontrak tersebut karena dilihat dari
cakupan kontrak yang diatur baik yang sederhana, komplek atau rumit atau
pun memiliki potensi tinggi mengenai resiko dan timbulnya permasalahan.
Bagi sosiolog, kontrak tidak dapat didefinisikan begitu saja, aspek interaksi
sosial terhadap yang lain (dengan sesama manusia atau para pihak, kedudukan,
kelembagaan, organisasi/asosiasi) dan proses yang terjadi dalam kontrak lebih
menjadi pusat perhatiannya.
Adanya kasus mengenai permasalahan kontrak pengadaan pemerintah
yang cukup beragam menjadi daya tarik tersendiri untuk dipelajari. Hal yang
membuat menarik tidak sekedar aspek kontrak tertulis (law in the book) maupun
pelaksanaan kontrak (law in action), melainkan manusianya yang penuh
ide, kepentingan, kebutuhan, cita rasa, upaya dan sesuatu yang khas. Untuk
mempertegas bidang sosiologi kontrak untuk pengadaan pemerintah adalah
perjanjian tertulis antara para pihak yang berwenang melakukan perjanjian.
Dari pemahaman ini, dikembangkan pengertian sosiologi kontrak
untuk pengadaan pemerintah, yaitu ilmu yang mempelajari interaksi
antara manusia yang satu dengan yang lain, baik dalam lingkup individu
maupun kelompok yang terkait dengan kontrak pengadaan pemerintah.
Dikarenakan sosiologi kontrak ini spesifik akan dimanfaatkan dalam pengadaan
pemerintah, maka pembahasannya akan diarahakan pada persoalan aspek
sosial yang terjadi dalam kontrak sejak rancangan sampai pelaksanaan kontrak
beserta permasalahan yang timbul dari pelaksanaan kontrak. Aspek material
yang dipelajari dalam sosiologi kontrak untuk pengadaan pemerintah adalah
aktivitas para pihak yang terlibat dalam kontrak, kelembagaan, pelaksanaan
kontrak, penyelesaian masalah kontrak serta proses-proses sosial yang terjadi
dalam kontrak.

Edisi 18 Tahun 2018 | 69


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Gambar 5 berikut akan membantu pemahaman pengertian sosiologi kontrak untuk pengadaan
pemerintah.

Gambar 5 Kosiologi kontrak untuk pengadaan pemerintah.


IV. DAFTAR PUSTAKA


Aminuddin Ilmar, 2014, Hukum Tata Pemerintahan, Jakarta: Prenadamedia Group
Djoko Purnomo, 2013, Analisis Yuridis Pemutusan Sepihak Kontrak Kerja
Konstruksi Dalam Perspektif Hukum Perdata, Penulisan Hukum, Universitas
Muhamadiyah Malang.
Efi Yulistyowati, Endah Pujiastuti, Tri Mulyani, Penerapan Konsep Trias Politica
Dalam Sistem Pemerintahan Republik Indonesia : Studi Komparatif Atas
Undang–Undang Dasar Tahun 1945 Sebelum Dan Sesudah Amandemen,
Jurnal Dinamika Sosial Budaya, Volume 18, Nomor 2, Desember 2016.
Erie Hariyanto, Burgelijk Wetboek (Menelusuri Sejarah Hukum Pemberlakuannya
di Indonesia), Jurnal Al-Hikam Vol. IV No. 1 Juni 2009
J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto, 2006, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan
Edisi Kedua, Jakarta: Kencana.
George Ritzer, 2010, Sociological
‘ Theory, Eighth Edition, University of Maryland.
Liliyek Puji Rustanti dan Bambang Indiatmoko, 2017, Ajaran dan Pemikiran Sunan
Kalijaga pada Legenda Penamaan Desa di Masyarakat Demak, Seloka:
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

70 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Paulus Hariyono, 2007, Sosiologi Kota untuk Arsitek, Jakarta: PT Bumi Aksara,
Sarah S. Kuahaty, Pemerintah Sebagai Subjek Hukum Perdata Dalam Kontrak
Pengadaan Barang Atau Jasa, Jurnal Sasi Vol. 17 No. 3 Bulan Juli-September
2011
Titik Triwulan Tutik, 2008, Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Nasional, Jakarta:
Kencana.
Fethullah Gulen, Perjanjian Allah dan Manusia, https://fgulen.com/id/karya-
karya/qadar/49480-perjanjian-allah-dan-manusia, diunduh tanggal 28
September 2018.
https://www.merdeka.com/pendidikan/kata-para-ahli-inilah-5-teori-
pembentukan-negara. html, diunduh tanggal 28 September 2018.
Dwi Cahyadi Wibowo, konsep, teori, dan proses terbentuknya negara, https://
dwicahyadiwibowo.blogspot.com/search?q=terbentuknya+negara,
diunduh tanggal 28 September 2018.
Imam Mubarok, Jangka Jayabaya sudah ramalkan bakal marak seks bebas,
https://www.merdeka.com/peristiwa/jangka-jayabaya-sudah-ramalkan-
bakal-marak-seks-bebas.html, didownload tanggal 25 Oktober 2018.
https://kbbi.web.id/kontrak, didownload tanggal 29 Oktober 2018.
https://id.wikipedia.org/wiki/Kontrak_sosial, didownload tanggal 29 Oktober
2018.
M Hadi Shubhan, Kontrak Politik Bukan Dokumen Hukum, https://
gagasanhukum.wordpress.com/2009/07/06/kontrak-politik-bukan-
dokumen-hukum/, didownload tanggal 29 Oktober 2018.
Sosiologi, https://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi, diunduh tanggal 28 September
2018.
Tamami Rusdi, Bener Neng Ora Pener, http://tamamirusdi.blogspot.com/2011/04/
bener-neng-ora-pener.html. diunduh tanggal 20 September 2018

Edisi 18 Tahun 2018 | 71


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Even Penting

Pengadaan

72 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Even Penting

Pengadaan

Edisi 18 Tahun 2018 | 73


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Buku Baru

Pengadaan

74 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Buku Baru

Pengadaan

Edisi 18 Tahun 2018 | 75


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Buku Baru

Pengadaan

76 | Edisi 18 Tahun 2018


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan
Buku Baru

Pengadaan

Edisi 18 Tahun 2018 | 77


E d i s i 5 | Ta h u n 2 0 1 7

Manajemen
Pengadaan