Anda di halaman 1dari 10

NAMA : LALU WISNU ADITIYA WARDANA

NIM : 015.06.0027

TUGAS ESSAY BLOK ELEKTIF


ELEKTIF

Mahasiswa kedokteran selalu identik tentang belajar mengenai penyakit, obat, anatomi ,
praktikum dan lain sebagainya. Akan tetapi mahasiswa kedokteran tidak sebatas belajar itu saja
terdapat banyak materi yang harus diketahui juga oleh para mahasiswa yang masih berkaitan
dengan bidang kesehatan. Seperti materi mengenai hukum kesehatan, kesehatan haji, dan juga
materi penanggulangan bencana, mengingat profesi dokter tidak hanya sekedar tentang mengobati.

Hukum kesehatan nantinya berkaitan dengan aturan-aturan yang mengatur perihal praktik
sehari-hari seorang dokter, oleh karena itu sebagai calon dokter mahasiswa kedokteran harus
menguasai aspek-aspek hukum kesehatan sehingga nanti saat sudah terjun ke profesi sebenarnya
mampu memilah dan tidak terlalu kebingungan apabila berurusan dengan masalah hukum
kesehatan, terutama yang berkaitan dengan hukum pidana dan perdata.

Perhimpunan Hukum Kesehatan Indonesia dalam anggaran dasarnya menyatakan “Hukum


kesehatan adalah semua ketentuan hukum yang berhubungan langsung dengan
pemeliharaan/pelayanan kesehatan dan penerapannya serta hak dan kewajiban baik perorangan
dan segenap lapisan masyarakat sebagai penerima pelayanan kesehatan maupun dari pihak
penyelenggara pelayanan kesehatan dalam segala aspek organisasi; sarana pedoman medis
nasional/internasional, hukum di bidang kedokteran, yurisprudensi serta ilmu pengetahuan bidang
kedokteran kesehatan. Yang dimaksud dengan hukum kedokteran ialah bagian hukum kesehatan
yang menyangkut pelayanan medis” (Soeparto, 2016).

Minggu pertama proses pembelajaran saya Lalu Wisnu Aditiya Wardana selaku mahasiswa
di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram yang mengikuti blok elektif,
tergabung dalam kelompok hukum kesehatan, dalam proses pembalajaran, kami terlebih dahulu
diperkenalkan tentang undang-undang dan hukum kesehatan. Di dalam pelayanan kesehatan tentu
ada aturan-aturan yang berkaitan dengan kesehatan yaitu bagaimana menghandle masalah-
masalah itu tidak keluar dari etika dan hukum agar apa yang dikerjakan tidak menimbulkan efek
secara etika dan hukum terhadap diri sendiri dan orang lain. Sehingga para dosen yang
mengajarkan kami menyesuaikan materi yang diberikan sehingga kami mudah memahami dan
mampu menerapkannya nanti dalam praktek sehari-hari. Tidak hanya hal itu saja yang
dieperkenalkan kepada kami berbagai mekanisme, institusi, dan sistem dalam hkum kesehatan
juga harus kita ketahui.

Dalam Pasal UUD 1945 menetapkan bahwa kekuasaan kehakiman dijalankan oleh
Mahkamah Agung serta lembaga peradilan yang terdapat di bawahnya pada lingkup peradilan
umum, lingkup peradilan agama, lingkup peradilan militer, lingkup peradilan dalam tata usaha
negara, serta oleh Mahkamah Konstitusi. Ketetapan ini telah menjadi ketentuan yang mendasari
dalam pengaturan badan peradilan di negara Indonesia. Sehingga, yang memegang kekuasaan
kehakiman di negara Indonesia terdapat dua badan, ialah Mahkamah Agung serta Mahkamah
Konstitusi. (Behder, 2015)

Pengadilan negeri ialah sebuah pengadilan umum yang dalam sehari-hari bertugas
memeriksa serta memutuskan perkara pada tingkat pertama dari semua perkara perdata serta
pidana sipil pada seluruh kelompok penduduk (warga negara serta orang asing). Pada Undang-
Undang Nomer 8 Tahun 2004 mengenai amandemen pada Undang-Undang Nomer 2 tahun 1986
mengenai Peradilan Umum, yang mana Peradilan Umum ialah dari salah satu yang melaksanakan
kekuasaan kehakiman untuk semua rakyat yang mencari keadilan secara umum. Pengadilan negeri
memiliki kedudukan di daerah ibu kota, di kabupaten/kota, serta daerah hukumnya yang meliputi
kabupaten/kota. Perkara-perkara yang terdapat tersebut mampu diselesaikan oleh hakim serta
dibantu oleh panitera (Sri S,2013).

Sumber hukum kesehatan tidak hanya bertumpu pada hukum tertulis (undang- undang),
namun juga pada jurisprudensi, traktat, konsensus, dan pendapat ahli hukum serta ahli kedokteran
(termasuk doktrin). Hukum kesehatan dilihat dari objeknya mencakup segala aspek yang berkaitan
dengan pemeliharaan kesehatan (zorg voor de gezondheid) (Erdiyansah, 2013). Dengan demikian
dapat dibayangkan bahwa sumber hukum kesehatan cukup luas dan kompleks. Bentuk hukum
tertulis atau undang-undang mengenai hukum kesehatan diatur dalam:

a. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (selanjutnya disebut UU No. 36 Tahun
2009).
b. Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (selanjutnya disebut UU No. 44
Tahun 2009).
c. Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (selanjutnya disebut UU No.
29 Tahun 2004).

Oleh karena itu setelah pengenalan tentang teori-teori hukum kesehatan kami dibimbing
untuk melakukan simulasi peradilan hukum, kami dari fakultas kedokteran berkolaborasi dengan
mahasiswa dari fakultas hukum dalam pelaksanaan praktikum tersebut. Dimana dalam simulasi
ini kami berperan sebagai ahli dan mahasiswa dari fakultas hukum berperan sebagai
hakim,pengacara,jaksa penuntut umum dan lain sebagainya. Kasus yang disimulasikan mengenai
aborsi, dimana aborsi dalam sudut pandang medis dan hukum memiliki perbedaan. Simulasi ini
diharapkan mampu memberikan kami gambaran terkait mekanisme peradilan agar suatu hari nanti
apabila kami sebagai dokter tidak terlalu takut ataupun kaget dengan sistem peradilan apabila
dokter sudah menjalan SOP dengan benar.

Pada minggu kedua proses pembelajaran kami menerima materi mengenai kesehatan haji,
pada pembelajaran kesehatan haji ini difokuskan pada kemampuan kami dalam menentukan
apakah seseorang yang ingin berangkat haji layak berangkat atau tidak. Selain materi yang
diberikan, pada proses pembelajaran kesehatan haji ini juga terdapat praktikum mengenai cara
pemeriksaan dan penentuan apakah seseorang layak berangkat haji atau tidak. Menurut Kemenkes
kesehatan haji adalah rangkaian kegiatan pelayanan kesehatan haji meliputi pemeriksaan
kesehatan, bimbingan dan penyuluhan kesehatan haji, pelayanan kesehatan, imunisasi, surveilans,
SKD dan respon KLB, penanggulangan KLB dan musibah massal, kesehatan lingkungan dan
manajemen penyelenggaraan kesehatan haji (KemenKes RI, 2017).

Dalam proses pelaksanaannya kesehatan haji ini tidak hanya diperankan oleh institusi
kesehatan saja, akan tetapi kesehatan haji ini merupakan hasil kolaborasi yang kompleks antara
organisasi dan struktur penyelenggara kesehatan haji. Dalam hal ini diantaranya (Krisnita, 2017) :

1. Penanggung jawab pelaksanaan penyelenggaraan kesehatan haji di tingkat pusat adalah


Direktur Jenderal PPM & PL Departemen Kesehatan RI.
2. Penanggung jawab pelaksanaan penyelenggaraan kesehatan haji di wilayah provinsi
adalah kepala dinas kesehatan provinsi.
3. Direktorat Jenderal PPM & PL
4. Tim Penyelenggara Kesehatan Haji di Pelabuhan Embarkasi/ Debarkasi Haji
5. Tim Penyelenggara Kesehatan Ibadah Haji Khusus Pada saat operasional haji
pengorganisasia n dalam penyelenggaraan haji mengikuti organisasi kepanitiaan yang
berlaku sesuai dengan ketentuan .

Setiap tahun kurang lebih 2-3 juta umat muslim dari 180 negara berkunjung ke Tanah Suci
di Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah haji, ibadah tersebut merupakan salah satu pertemuan
massal terbesar di dunia. Proses ibadah haji menimbulkan tantangan kesehatan global dan
keselamatan umat dengan terekposnya risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh variabilitas
musiman ketika haji terjadi selama bulan-bulan musim panas. Secara khusus jamaah haji yang
berkunjung ke Arab Saudi mempunyai resiko tinggi terhadap penyakit akibat panas, cedera dan
kelelahan serta berdesak-desakan yang saat itu suhunya bisa mencapai 48,7 0C. Dilaporkan pada
musim haji 2015 dilakukan 2.200 tindakan dialisis ginjal, 27 operasi jantung terbuka, 688 operasi
kateterisasi jantung dan tujuh Persalinan. Penyakit menular sangat berpotensi mudah menyebar
pada situasi pertemuan massal yang sangat padat, terutama dari Negara endemik ke seluruh dunia
(Ervan, 2013).

Oleh karena itu dalam proses pembelajaran kesehatan haji, yang lebih ditekankan adalah
bagaimana kami sebagai calon dokter mampu melakukan pemeriksaan secara langsung kepada
calon Jemaah haji apakah jamaah tersebut dikatakan layak berangkat (Istita’ah) atau tidak layak
layak berangkat, sehingga tidak merugikan banyak pihak. Dalam hal ini kami tentu tidak bisa
terlepas dari keilmuan yang kami dapat selama belajar di fakultas kedokteran, karena yang
dibutuhkan dalam hal ini adalah semua proses pemeriksaan fisik maupun penunjang yang dapat
mendiagnosis masalah kesehatan pada calon Jemaah haji. Ibadah haji tentu menjadi masalah yang
serius jika ada seorang Jemaah mengalami sakit, karena akan mengakibatkan Jemaah haji yang
lain tertular apabila Jemaah itu mengalami penyakit infeksi. Apabila Jemaah tersebut mengalami
penyakit yang tidak dapat di control oleh petugas Jemaah haji juga akan merugikan banyak pihak
seperti penyakit-penyakit kronis yang mengakibatkan para Jemaah haji meninggal di tanah suci.

Tahap - Tahap Pemeriksaan Kesehatan Calon Jemaah Haji


1. Pertama, pemeriksaan di puskesmas sebagai tindakan selektifterhadap calon haji yang
memenuhi salah satu persyaratan (istitho'ah), yakni sehat lahir dan batin, yang dilakukan setelah
pendaftaran haji dimulai dan sebagai syarat untuk dapat mendaftarkan diri (KEMENAG, 2017).
2. Kedua, pemeriksaan di Dinas Kesehatan daerah dilakukan secara lebih teliti dengan tenaga
periksa dan fasilitas yang lebih baik dan serta merupakan penentuan akhir layak atau tidaknya
calon haji berangkat ke Arab Saudi. Dalam tahap ini juga dilakukan tes kehamilan, vaksinasi
Meningitis. Meningokokus, pembinaan dan penyuluhan kesehatan, pelayanan rujukan dan
pengamatan penyakit (KEMENAG, 2017).
3. Ketiga, pemeriksaan di embarkasi dilakukan secara selektif, termasuk kelengkapan dokumen
kesehatan haji (KEMENAG, 2017).

Memasuki minggu ketiga pembelajaran kami mempelajari tentang tata cara dan
mekanisme dalam penanggulangan bencana, kami diarahkan langsung oleh tim dari Badan
Penanggulangan Bencana Daerah. BPBD adalah perangkat daerah yang dibentuk untuk
melaksanakan tugas dan fungsi penanggulangan bencana di daerah (Peraturan Kepala Badan
Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3, 2008). Undang-Undang Penanggulangan Bencana
No. 24/2007 merupakan dasar pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
yang didirikan pada tahun 2008 dan Badan Penanggulangan daerah (BPBD). Hal ini merujuk pada
kesadaran dan komitmen Indonesia terhadap Hyogo Framework for Action (2005) setelah Tsunami
Aceh (BNPB,2016).

Selama proses pembelajaran tim BPBD juga memberikan teori-teori dasar mengenai
penanggulangan bencana, dan teori-teori pertolongan pertama pada korban bencana. Seperti yang
kita ketahui, Indonesia merupakan Negara dengan risiko paling tinggi untuk kejadian bencana,
mengingat kondisi geografis Negara kita yang terdiri dari beribu-ribu pulau, gunung berapi, dan
ancaman gempa bumi maupun tsunami yang selalu menghantui. Oleh karena itu kita sebagai
penduduk harus bisa menyikapi akan resiko tersebut, salah satu caranya adalah dengan
mengenalkan teori-teori tentang penanggulangan bencana dan juga penerapannya di lapangan. Dan
langkah ini sudah dilakukan oleh saudara-saudara yang ada di BPBD untuk mengenalkannya
kepada kita semua.

Penanggulangan yang baik perlu perencanaan yang matang pula, perencanaan


penanggulangan bencana disusun berdasarkan hasil analisis risiko bencana dan upaya
penanggulangannya yang dijabarkan dalam program kegiatan penanggulangan bencana dan
rincian anggarannya (Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana nomor 4, 2008).

Perencanaan penanggulangan bencana merupakan bagian dari perencanaan pembangunan. Setiap


rencana yang dihasilkan dalam perencanaan ini merupakan program/kegiatan yang terkait dengan
pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan yang dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka
Panjang (RPJP), Jangka Menengah (RPJM) maupun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan
(Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana nomor 4, 2008).

Rencana penanggulangan bencana ditetapkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah


sesuai dengan kewenangan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun. Menurut, Peraturan Kepala Badan
Nasional Penanggulangan Bencana nomor 4 tahun 2008, penyusunan rencana penanggulangan
bencana dikoordinasikan oleh BNPB untuk tingkat nasional, BPBD provinsi untuk tingkat
provinsi; dan BPBD kabupaten/kota untuk tingkat kabupaten/kota. Rencana penanggulangan
bencana ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana.

Secara garis besar proses penyusunan/penulisan rencana penanggulangan bencana adalah


sebagai berikut , Pengenalan dan pengkajian bahaya , Pengenalan kerentanan, Analisis
kemungkinan dampak bencana , Pilihan Tindakan penanggulangan bencana , Mekanisme
penanggulangan dampak bencana , Alokasi tugas dan peran instansi

Hal yang paling ditekankan oleh tim dari BPBD kepada kami adalah tindakan
penanggulangan bencana, setelah teori yang diberikan sudah disampaikan, kami diarahkan pada
praktikum tentang tata cara pertolongan pertama, evakuasi, merawat, dan mongkordinasi
pengungsi dan juga korban bencana. Setelah praktikum sudah dilakukan kami diberikan simulasi
kasus bencana, dimana dalam simulasi tersebut kami sudah terbagi-bagi lagi menjadi beberapa
kelompok diantaranya tim kesehatan yang bertugas merawat korban bencana, tim informasi dan
komunikasi yang bertugas memberikan informasi se akurat mungkin, tim evakuasi yang bergerak
mengevakuasi korban bencana, dan tim logistic yang bertanggung jawab dalam menyediakan
segala kebutuhan yang diperlukan baik korban,pengungsi dan beberapa tim yang bergerak
langsung di lapangan. Selama simulasi mendapat pengalaman yang sangat berharga dan akan
sangat bermanfaat nantinya.
Jadi, selama mengikuti blok elektif ini saya bisa menarik kesimpulan, bahwa bekal untuk
menjadi seorang dokter sangatlah banyak, sehingga kami sangat bersyukur akan adanya blok
elektif ini. Dimana kami bisa mendapatkan ilmu yang bisa dikatakan diluar dari keilmuan kami
dan akan sangat membantu nantinya saat sudah terjun ke profesi dokter sebenarnya. Sedikit saran
dan masukan, mungkin untuk pelaksanaan blok elektif yang selanjutnya kualitas dan kuantitas
praktikum bisa lebih ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA

Bahder, J. 2010. Hukum Kesehatan Pertanggungjawaban Dokter.


Jakarta: PTRineka Cipta.
BNPB. 2016. Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana.

Vol 7 Nomor 2 ; hal 10-13

Elvan Virgo. 2013. Evaluasi Kegiatan Surveilans Kesehatan Haji Tahun 2013di Embarkasi Haji Antara
Palangkaraya. Vol 2 hal; 206-207

Erdiyansah. 2013. Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Dokter Atas Kesalahan Dan Kelalaian
Dalam Memberikan Pelayanan Medis Di Rumah Sakit.

Vol 3 no 2 hal: 109-111

Krisnita Dwi. 2017. Pelaksanaan Sistem Surveilans Kesehatan Haji Di Dinas Kesehatankota
Surabaya. Vol 13 no 2 hal; 103-104

KemenKes RI. 2017. Pemeriksaan Dan Pembinaan Kesehatan Haji Mencapai Istithaan Kesehatan
Jemaah Haji Untuk Menuju Keluarga Sehat. Sekretariat Jenderal Pusat Kesehatan Haji,
Jakarta.

KEMENAG, 2017. Jadwal Pemberangkatan dan Pemulangan Jemaah Haji Embarkasi Solo
1438H.
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulan Bencana Nomor 4. 2008. Pedoman Penyusunan
Rencana Penanggulangan Bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Sri, S. 2013. Etika dan Hukum Kesehatan dalam Perspektif Undang-Undang Kesehatan.
Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Soeparto, P. 2016. Etik dan Hukum di Bidang Kesehatan.
Jakarta: Airlangga University Press.