Anda di halaman 1dari 5

PERJANJIAN KERJASAMA PENAMBANGAN BIJIH NIKEL

ANTARA

PT. …………………….

DENGAN

CV. CAHAYA GEMILANG

PADA
IUP OPERASI PRODUKSI NOMOR SK…….. TAHUN ……….
KEC. ……….. KAB. ……………..
PROVINSI ………………………….
Nomor : ……./KSO-Penambangan/………./……../2018

Pada hari ini ……… Tanggal ….. bulan ………. tahun ……………… Pukul....... ..... wib
dibuat dan ditandatangani PERJANJIAN Kerjasama Usaha Penambangan Bijih Nikel pada
IUP Operasi Produksi PT. …………. di Kec. ……….. Kab. …….. Provinsi ………. yang
selanjutnya disebut “PERJANJIAN” oleh dan antara ;

1. Tuan ……………… , bertempat tinggal di


…………………………………………………………., Pemegang Kartu Penduduk No
:...................................., warga negara Indonesia. Dalam perjanjian ini bertindak dalam
jabatannya tersebut sebagai ………………. PT. ……………, sebagai pemilik Joint
Operation (J.O) IUP Operasi Produksi No. ………………., Berdasarkan Surat
Keputusan Bupati ……………… Nomor …………. , untuk selanjutnya disebut sebagai
Pihak Pertama

2. Tuan ……………., Alamat ……………………, Nomor KTP …………………………,


warga negara Indonesia, dalam perjanjian ini bertindak sebagai Direktur PT.
…………………………., untuk selanjutnya disebut sebagai Kontraktor atau Pihak
Kedua

Bahwa Pihak Pertama adalah Pemegang Joint Operation (J.O) IUP Produksi PT.
…………………,IUP Operasi Produksi terletak di Kec. ………. Kab. ……………. Provinsi
………….. berdasarkan Surat Keputusan Bupati ……………. tanggal ………...

Bahwa Pihak Pertama dengan ini bermaksud mengadakan perjanjian Kerja Sama Usaha
Penambangan Bijih Nikel dengan Pihak Kedua pada Pemegang IUP Operasi Produksi
tersebut.

Bahwa selanjutnya para pihak dengan ini setuju untuk membuat dan menandatangani
Perjanjian dengan syarat-syarat sebagai berikut :
PASAL 1
MAKSUD DAN TUJUAN

1.1 Maksud dan tujuan dari perjanjian ini adalah Pihak Pertama memberi Kuasa kepada
Pihak Keduasebagai kontraktor melakukan penambangan biji Nikel pada sebagian
wilayah Konsesi IUP Operasi Produksi (titik koordinat dan peta terlampir).
1.2 Perjanjian ini adalah perjanjian Kerjasama Operasi, merupakan perjanjian kerjasama
yang dilakukan oleh dan antara PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA berkaitan
dengan pelaksanaan Proyek Eksploitasi Pertambangan Bijih Nikel, sesuai dengan
ketentuan dan syarat-syarat yang diatur dalam Perjanjian ini.
1.3 Bentuk kerjasama yang bersifat kemitraan antara PIHAK PERTAMA dengan
PIHAK KEDUA, diantara masing-masing pihak akan memperoleh kemanfaatan dan
keuntungan dari hasil kerjasama yang dimaksud.
1.4 Dalam kerjasama ini PIHAK PERTAMA menunjuk dan memberikan ijin hanya
kepada PIHAK KEDUA untuk melaksanakan Objek Kerjasama Operasi di Lokasi
yang telah ditentukan, sesuai dengan syarat dan ketentuan-ketentuan lain yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dengan perjanjian ini.
1.5 PARA PIHAK setuju dan sepakat, bahwa pelaksanaan Proyek dilaksanakan melalui
konsep Kerjasama Operasi (“KSO”).

PASAL 2
RUANG LINGKUP KERJASAMA

PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUAsetuju dan sepakat satu sama lain bahwa Kerja
Sama Operasi ini dibuat khusus dan terbatas untuk pelaksanaan Proyek Eksploitasi dan
Pemasaran Pertambangan Nikel yang berlokasi di ………………. – ………….

PASAL 3
HAK DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK

1. HAK DAN KEWAJIBAN PIHAK PERTAMA

3.1.1 Melakukan pengurusan dan menyelesaikan segala bentuk perizinan yang


dibutuhkan dalam melakukan kegiatan usaha penambangan serta perizinan
dari aspek lingkungan, kecuali ijin pinjam pakai kawasan dari Menteri
Kehutanan RI pada Kawasan Hutan Produksi Konservasi.
3.1.2 Pihak Pertama berkewajiban memberikan dukungan penuh kepada Pihak
Kedua, terutama dalam hal pekerjaan lapangan, dan semua masalah lainnya
yang terkait dengan aktivitas penambangan.
3.1.3 Dalam melakukan usaha penambangan kedua belah pihak akan
mempriotaskan SDM lokal yang tersedia.
3.1.4 Pihak Pertama berhak melakukan Pengawasan pada kwalitas kontrol barang
dilapangan untuk membantu menjaga kwalitas Produksi yang berakibat
terjadinya Reject dari pihak Buyer.

3.1.5 Pihak Pertama berhak untuk memeriksa hasil tambang yang di lakukan Pihak
Kedua, dengan menggunakan uji laboratorium atas produksi pihak kedua
sebelum dilakukan pengapalan tongkang, guna menjaga kwalitas dan
spesifikasi yang di minta oleh Pihak Buyer dan atau Perusahaan Smelter,
sampai dengan hasil laboratorium dinyatakan baik dan sesuai dengan kadar
kalori yang di sepakati oleh Pihak Buyer.

2. HAK DAN KEWAJIBAN PIHAK KEDUA

3.2.1 Berhubungan dengan buyer, melakukan kegiatan pemasaran kepada pabrik-


pabrik Smelter dan menjual seluruh hasil bijih nikel yang akan dihasilkan dari
kegiatan usaha penambangan pada Ijin Usaha Produksi tersebut sebelum
pekerjaan sebagai Kontraktor di jalankan guna berjalannya kerjasama
operasional ini.
3.2.2 Pihak Kedua berkewajiban menyediakan alat alat berat (heavy equipment) dan
pengoperasiannya yang di sesuaikan dengan kuota dan atau menyediakan stok
produksi yang cukup yang akan di tempatkan di stokpile lokasi tambang
sebagai stok produksi yang akan di kirim kepada Pihak Buyer.
3.2.3 Melakukan Usaha Penambangan bijih nikel yang meliputi penyediaan tenaga
ahli pertambangan, perencanaan penambangan, biaya penambangan,
pengadaan dan perawatan alat, penggalian, kontrol kwalitas, tenaga preparasi
sampel, uji laboratorium kontrol, pemuatan, pengangkutan, penjualan dan
kegiatan lainnya yang mendukung kelancaran usaha penambangan.
3.2.4 Pihak Kedua wajib membantu dalam hal memasarkan dengan pihak buyer dan
menjual seluruh bijih nikel yang dihasilkan dari kegiatan usaha penambangan
pada Ijin Usaha Produksi tersebut tanpa adanya rijek dari Pihak Buyer.
3.2.5 Berhak melakukan kerjasama dengan pihak ketiga dalam pelaksanaan usaha
penambangan sesuai dengan kewenangannya.
3.2.6 Pihak Kedua melakukan aktivitas penambangan agar senantiasa berkoordinasi
dengan Kepala Teknik Tambang Pihak Pertama sebagai penanggung jawab
terkait K3-Lingkungan.

PASAL 4
ROYALTY

4.1 PIHAK PERTAMA sebagai pemegang konsesi berhak atas royalty dari hasil produksi
penambangan yang dilakukan oleh PIHAK KEDUA.

4.2 Nilai royalty yang disepakati PARA PIHAK atas perjanjian produksi tambang bijihh
nikel ore yaitu sebesar ….. USD/MT (…….. dolar Amerika Per Metrik Ton). Dimana
royalti tersebut termasuk dengan Pembayaran Royalti Jetty (sewa jetty) Pihak Ketiga
serta pajak yang disebabkan oleh kegiatan produksi penambangan bijihh nikel hasil
produksi yang dihasilkan oleh PIHAK KEDUA. Pada setiap pengapalan FOB tongkang
(Terlampir)

4.3 Royalty yang dibebankan kepada PIHAK KEDUA akan dibayarkan kepada PIHAK
PERTAMA selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah tongkang tutup
rampdoor atau selesainya rekomendasi penjualan berdasarkan dengan
CertificatedraftSurvey dan CertificateonAnalyst (CoA) yang di nyatakan oleh
independentSurveyor.
4.4 Cara Pembayaran dilakukan dengan cara parsial mengikuti Kontrak Jual Beli bijih
Nikel dengan Pihak Buyer atau Perusahaan Smelter yang sudah bekerjasama dengan
Pihak Pertama, berdasarkan rekomendasi penjualan dalam bentuk Certificate draft
Survey dan Certificate of Analyst (CoA) yang di nyatakan dan dikeluarkan oleh Pihak
independent Surveyor.

Pasal 5
CARA PEMBAYARAN

5.1 PIHAK KEDUA akan membayarkan royalty kepada PIHAK PERTAMA selambat-
lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah tongkang tutup rampdoor atau selesainya
rekomendasi penjualan.

5.2 Pembayaran tersebut dapat dilakukan melalui uang tunai, cek tunai atau transfer
rekening bank : ….. Cabang ………… Nomor ............................ A/n. PT. ………..

PASAL 6
PAJAK DAN IURAN SERTA PENGEMBANGAN MASYARAKAT

6.1 Segala macam Pajak yang timbul akibat kegiatan usaha penambangan ini menjadi
kewajiban/tanggung jawab Pihak Pertama berdasarkan ketentuan perundang-
undangan berlaku.
6.2 Segala macam bentuk Iuran koordinasi dan pengembangan masyarakat menjadi
tanggung jawab Pihak Pertama.
6.3 Royalty ke Negara (Tonase terjual X Harga Jual X tarif) dan sumbangan kepada pihak
ketiga yang besarnya akan ditentukan dikemudian hari sesuai dengan ketetapan setiap
pemerintah daerah setempat, akan menjadi tanggung jawab Pihak Pertama.

PASAL 7
JANGKA WAKTU BERAKHIRNYA PERJANJIAN
7.1 Perjanjian ini berlaku tiga tahun setelah ditandatanganinya perjanjian ini dan akan
berakhir masa operasi dengan sendirinya, kecuali diperpanjang dengan ketentuan
sebagaimana diatur dalam perjanjian ini.
7.2 Perjanjian ini dapat diperpanjang untuk jangka waktu 3 tahun, setelah berakhirnya
masa jangka waktu sewa 3 (tiga) tahun periode pertama, dengan syarat-syarat yang
disepakati oleh kedua belah pihak.
7.3 PIHAK KEDUA dalam jangka waktu 5 bulan sebelum masa berakhirnya perjanjian
harus menyatakan kehendaknya secara tertulis apabila berkehendak untuk melakukan
perpanjangan jangka waktu objek kerjasama operasi dalam perjanjian ini.

PASAL 8
FORCE MAJEURE

Kedua belah pihak dibebaskan dari segala tanggung jawabnya jika terjadi hal-hal yang diluar
kekuasaan ( Force Majeure) antara lain; bencana alam, gempa bumi, banjir, tanah longsor,
embargo ekonomi, perubahan kebijakan moneter secara drastis, serta perubahan peraturan
perundang-undangan yang mempengaruhi jalannya perekonomian Nasional.

PASAL 9
PENYELESAIAN PERSELISIHAN

Apabila dikemudian hari terjadi perselisihan antara Pihak Pertama dan Pihak Kedua atau
salah satu Pihak tidak melaksanakan kewajibannya sesuai dengan isi perjanjian maka para
pihak sepakat menyelesaikan dengan musyawarah mufakat, apabila musyawarah mufakat
tidak tercapai maka para pihak sepakat menyelesaikannya secara hukum dan perundang-
undangan yang berlaku di Negara Indonesia dan memilih tempat di paniteraan Pengadilan
Negeri Kab. ……… Provinsi …………..

PASAL 10
ADDENDUM

Addendum atau perjanjian tambahan yang belum diatur dalam kesepakatan perjanjian ini
akan ditetapkan kemudian dan tidak terpisahkan dari perjanjian ini.

Demikian Perjanjian ini dibuat untuk menjadi bukti yang sah kedua belah pihak dan dibuat
dalam rangkap 2 (dua), masing-masing dibubuhi materai yang cukup dan mempunyai
kekuatan hukum yang sama.

Pihak Pertama Pihak Kedua


PT. …………………………. CV. …………………………

………………………… ……………………….

SAKSI-SAKSI :