Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Low back pain (LBP) atau nyeri punggung bawah merupakan gangguan
muskuloskeletal yang disebabkan oleh berbagai penyakit dan aktivitas tubuh yang
kurang baik dan sering dijumpai pada kehidupan sehari-hari. Low back pain
adalah suatu gejala dan bukan merupakan suatu diagnosis. Pada beberapa kasus
gejalanya sesuai dengan diagnosis patologisnya dengan ketepatan yang tinggi,
namun sebagian besar kasus, diagnosisnya tidak pasti dan berlangsung lama.1
Low Back Pain merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering
dijumpai di masyarakat. World Health Organization (WHO) menyatakan kira-kira
150 jenis gangguan muskuloskeletal di derita oleh ratusan juta manusia yang
menyebabkan nyeri dan inflamasi yang sangat lama serta disabilitas atau
keterbatasan fungsional, sehingga menyebabkan gangguan psikologik dan sosial
penderita. Nyeri yang diakibatkan oleh gangguan tersebut salah satunya adalah
keluhan nyeri punggung bawah yang merupakan keluhan paling banyak
ditemukan diantara keluhan nyeri yang lain. Laporan ini berhubungan dengan
penetapan dekade 2000-2010 oleh WHO sebagai dekade tulang dan persendian
(Bone and Joint Decade 2000-2010), dimana penyakit gangguan musculoskeletal
telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di pusat-pusat pelayanan kesehatan
di seluruh dunia.2
Low Back Pain merupakan keluhan yang spesifik dan paling banyak
dikonsultasikan pada dokter umum. Hampir 70-80% penduduk negara maju
pernah mengalaminya. Low back pain merupakan masalah kesehatan yang paling
penting di semua negara. Prevalensi sepanjang hidup (lifetime) populasi dewasa
sekitar 70% dan prevalensi dalam 1 tahun antara 15-45%, dengan puncak
prevalensi terjadi pada usia 35 dan 55 tahun. Kebanyakan LBP akut bersifat self
limiting dan hanya 2-7% yang menjadi kronis.3
Di negara maju seperti di Amerika Serikat prevalensinya dalam satu tahun
berkisar antara 15%-20%, sedangkan berdasarkan kunjungan pasien ke dokter

1
adalah 14,3%. Dalam satu tahun terdapat lebih dari 500.000 kasus nyeri punggung
bagian bawah dan dalam 5 tahun angka insiden naik sebanyak 59%. Prevalensi
pertahun mencapai 15 - 45% dengan titik prevalensi 30%. Sebanyak 80-90%
kasus LBP akan sembuh dengan sendirinya selama 2 minggu. Dari 500.000 kasus
tersebut 85% penderitanya adalah usia 18-56 tahun. Di Swedia, LBP adalah
penyebab tersering penyakit kronis pada usia kurang dari 65 tahun dan peringkat
kedua setelah penyakit vaskuler pada usia 65 tahun keatas. LBP merupakan salah
satu masalah sosial utama ekonomi utama di Inggris karena 13% alasan seseorang
tidak masuk bekerja disebabkan karena LBP. Insidensi setiap tahun pada orang
dewasa mencapai 45% dan paling banyak menyerang usia 35-55 tahun.2
Kelompok Studi Nyeri (Pokdi Nyeri) Persatuan Dokter Spesialis Saraf
Indonesia (PERDOSSI) melakukan penelitian pada bulan Mei 2002 di 14 rumah
sakit pendidikan, dengan hasil menunjukkan bahwa jumlah penderita nyeri
sebanyak 4456 orang (25% dari total kunjungan), 1598 orang (35,86%)
merupakan penderita nyeri kepala dan 819 orang (18,37%) adalah penderita LBP.
Sementara di Indonesia walaupun data epidemiologik mengenai LBP belum ada
namun diperkirakan 40% penduduk Jawa Tengah berusia antara 65 tahun pernah
menderita nyeri punggung dan prevalensinya pada laki-laki 18,2% dan pada
perempuan 13,6%.4
Nyeri punggung bawah (LBP) merupakan salah satu gangguan
muskuloskeletal, gangguan psikologis dan akibat mobilisasi yang salah. LBP
menyebabkan timbulnya rasa tidak nyaman pada daerah lumbal dan sacrum.
Walaupun LBP jarang fatal, namun nyeri yang dirasakan menyebabkan pasien
mengalami disabilitas yaitu keterbatasan fungsional dalam aktifitas sehari-hari
dan banyak kehilangan jam kerja terutama pada usia produktif, sehingga
merupakan alasan terbanyak dalam mencari pengobatan. Tulang punggung
menerima beban lebih besar sebagai konsekuensi tugasnya untuk menjaga posisi
tegak tubuh, dan beban ini akan lebih banyak terkonsentrasi di bagian bawah dari
tulang punggung tersebut.5
Etiologi low back pain dapat bervariasi dari yang paling ringan (misalnya
kelelahan otot) sampai yang paling berat (misalnya tumor ganas) tetapi sebagian

2
besar low back pain pada masyarakat adalah akibat adanya faktor mekanik hal ini
terjadi karena kekakuan dan spasme otot punggung akibat aktivitas tubuh yang
kurang baik serta tegangnya postur tubuh. Selain itu berbagai penyakit juga dapat
menyebabkan LBP seperti osteomielitis, osteoporosis, sclerosis, rematik dan lain-
lain.5

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Low Back Pain atau LBP adalah nyeri yang terbatas pada regio lumbal,
tetapi gejalanya lebih merata dan tidak hanya terbatas pada satu radiks saraf,
namun secara luas berasal dari diskus intervertebralis lumbal.6
Low Back Pain adalah nyeri yang dirasakan daerah punggung bawah, dapat
merupakan nyeri lokal maupun nyeri radikuler atau keduanya. Nyeri ini terasa
diantara sudut iga terbawah sampai lipat bokong bawah yaitu di daerah lumbal
atau lumbo-sakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri ke arah tungkai dan
kaki. Low Back Pain yang lebih dari 3 bulan disebut kronik.7

2.2. Anatomi dan Fisiologi


Untuk dapat memahami bagaimana rasa nyeri timbul pada low back pain
maka harus dipahami anatomi dan fisiologi tulang belakang pada umumnya dan
tulang lumbosakral pada khususnya.
1. Kolumna Vertebralis
Kolumna vertebralis ini terbentuk oleh unit-unit fungsional yang terdiri dari:
a. Segmen anterior, yang berfungsi sebagai penyangga beban, dibentuk oleh
korpus vertebra yang dihubungkan satu dengan yang lainnya oleh diskus
intervertebra. Struktur ini masih diperkuat oleh ligamen longitudinal
posterior dan ligamen longitudinal anterior. Ligamen longitudinal
posterior mempunyai arti penting dalam patofisiologi penyakit justru
karena bentuknya yang unik. Sejak dari oksiput, ligamen ini menutup
seluruh permukaan belakang diskus intervertebra. Mulai L1 ligamen ini
menyempit, hingga pada daerah L5-S1 lebar ligamen hanya tinggal
separuh asalnya. Dengan demikian pada daerah ini terdapat daerah
lemah, yakni bagian posterolateral kanan dan kiri diskus intervertebra,

4
daerah tak terlindung oleh ligamen longitudinal posterior. Akan nyata
terlihat, bahwa tingkat L5-S1 merupakan daerah paling rawan.8

Gambar 2.1 Segmen Anterior Kolumna Vertebrata9


b. Segmen posterior, bagian ini dibentuk oleh arkus, prosesus transversus
dan prosesus spinosus. Satu dengan yang lainya dihubungkan oleh
sepasang artikulasi dan diperkuat oleh ligamen serta otot. Ditinjau dari
sudut kinetika tubuh (di luar kepala dan leher), maka akan tampak bahwa
gerakan yang paling banyak dilakukan tubuh ialah fleksi, kemudian
ekstensi. Dalam kenyataannya gerakan fleksi-ekstensi merupakan tugas
persendian daerah lumbal dengan pusat sendi L5-S1. Hal ini
dimungkinkan oleh bentuk dan letak bidang sendi yang sagital. Lain
halnya dengan bidang sendi daerah torakal yang terletak frontal, bidang
sendi ini hanya memungkinkan gerakan rotasi dan sedikit latero-fleksi.8

Anterior column posterior column


Gambar 2.2 Segmen Anterior Dan Posterior Columna Vertebralis7

5
2. Diskus Intervertebra
Struktur lain yang tidak kalah penting peranannya dalam persoalan low
back pain adalah diskus intervertebra. Disamping berfungsi sebagai
penyangga beban, diskus intervertebra berfungsi pula sebagai peredam
kejut.Diskus intervertebra dibentuk oleh anulus fibrosus yang merupakan
anyaman serat-serat fibroelastik hingga membentuk struktur mirip
gentong.Tepi atas dan bawah gentong melekat pada “end plate” vertebra
sedemikian rupa hingga terbentuk rongga antar vertebra.Rongga ini berisi
nukleus pulposus suatu bahan mukopolisakarida kental yang banyak
mengandung air.Nukleus pulposus adalah bagian dalam gelatin dari diskus.
Nukleus pulposus terdiri dari air, proteoglikan, dan kolagen. Nukleus
pulposus terdiri dari 90% air saat lahir. Diskus mengering dan merosot seiring
dengan pertambahan usia dan menyebabkan kehilangan sebagian dari tinggi
badan seseorang, itulah salah satu alasan mengapa geriatri sedikit lebih
pendek daripada usia mudanya.
Annulus fibrosus terdiri dari lapisan konsentris persis pada sudut miring
satu sama lain, yang membantu menahan ketegangan ke segala arah. Lapisan
luar anulus terdiri dari lebih banyak kolagen, lebih sedikit proteoglikan dan
air dari pada lapisan dalam.19 Komposisi yang bervariasi mendukung peran
fungsional dari lapisan luar yang bertindak seperti ligamen untuk menahan
gerakan fleksi, ekstensi, rotasi, dan gerakan lainnya.
Menjelang usia dekade kedua, mulailah terjadi perubahan-perubahan,
baik menyangkut nukleus pulposus maupun anulus fibrosus. Pada beberapa
tempat serat-serat fibroelastik terputus, sebagian rusak, dan sebagian diganti
jaringan ikat. Proses ini akan berlangsung secara kontinu hingga dalam
anulus terbentuk rongga-rongga.8

6
Gambar 2.3 Diskus Intervertebra8

Fungsi utama diskus intervertebralis adalah sebagai shock arbsober. Hal


ini terutama diperankan oleh anulus, bukan nukleus. Saat tubuh mendapat
beban aksial, terjadi kenaikan tekanan paksa di dalam inti dan mendorong
anulus sehingga seratnya membentang.Jika terjadi kerusakan anulus, maka
hasilnya adalah hernia nukleus pulposus.
Gerakan fleksi membuat diskus anterior menyempit sehingga nukleus
dipindahkan ke posterior. Jika kekuatannya cukup besar, nukleus dapat
mengalami hernia melalui gelang annular posterior.Bagian lateral dari
ligamen longitudinal posterior adalah yang tertipis, sehingga membuat
herniasi diskolateral paling banyak terjadi (Gambar 2.4). Bagian
posterolateral dari diskus paling berisiko saat gerakan tertentu (membungkuk
dan memutar).

Gambar 2.4 Posterolateral herniasi diskus intervertebra

7
Gambar 2.5 Mekanisme transmisi bobot pada diskus intervertebralis
a. Kompresi meningkatkan tekanan pada nukleus pulposus. Arah tekanan
muncul secara radial ke anulus fibrosus, dan tekanan di anulus
meningkat.
b. Tekanan di anulus diberikan pada nukleus, mencegahnya
dari perluasan radial. Tekanan nukleus kemudian dsalurkan pada ujung plate
vertebra.
c. Bebean ditanggung sebagian oleh anulus fibrosus dan oleh nukleus
pulposus

8
d. Tekanan radial di nukleus meningkatkan tekanan serat anulus, dan
Tekanan pada pelat ujung mentransmisikan beban dari satu vertebra ke
vertebra berikutnya

3. Ligamen
Dua set utama ligamen vertebra lumbal adalah Ligamen longitudinal dan
ligamen segmental. Ligamen longitudinal terdiri dari 2 bagian yaitu anterior
dan posterior. Mereka diberi nama menurut posisi pada badan vertebra.
Ligamentum Longitudinal anterior bertindak untuk menahan gerakan
ekstensi, translasi, dan rotasi.Ligamentum longitudinal posterior bertindak
untuk menahan gerakan fleksi.Gangguan ligamen terutama terjadi pada
gerakan rotasi dan bukan dengan fleksion atau ekstensi.Ligamentum
longitudinal anterior dua kali lebih kuat dibadingkan Ligamentum
longitudinal posterior.
Ligamentum segmental utama adalah ligamentum flavum, yang
merupakan struktur berpasangan yang bergabung dengan lamina yang
berdekatan.Ini adalah ligamen yang ditusuk saat melakukan lumbar
pungsi.Melewati tulang belakang lumbalis menempatkan ligamen ini pada
peregangan, mengurangi redundansi dan membuatnya Lebih mudah ditembus
saat tusukan lumbal.Ligamen segmental lainnya adalah supraspinous,
interspinous, dan intertransversum. Ligamen supraspinous adalah ligamen
kuat yang bergabung dengan ujung yang berdekatan dengan proses spinous
dan berfungsi untuk melawan gerakan fleksi. Ligamen ini, bersama dengan
ligamentum flavum, bertindak untuk menahan tulang belakang dan mencegah
pergeseran yang berlebihan dalam membungkuk ke depan.

4. Muskulus Yang Terdapat di Vertebra Lumbal


Otot-otot ini bisa dibagi secara anatomis menjadi posterior dan otot
anterior. Otot posterior meliputi Latissimus dorsi dan paraspinal.Para
paraspinal lumbal terdiri dari spina erektor (iliocostalis, longissimus, Dan
spinalis), yang bertindak sebagai ekstensor utama tulang belakang, Dan

9
lapisan dalam (rotator dan multifdi) (Gambar 2.6 Dan 2.7). Multifdi adalah
stabilizer segmental kecil yang Bertindak untuk mengendalikan lumbar flion
karena mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk benar-benar
memperpanjang tulang belakang. Fungsi terpenting mereka telah
dihipotesiskan sebagai organ sensorik untuk memberikan sensasi
proprioseptik untuk tulang belakang, mengingat dominasi spindle otot yang
terlihat secara histologis.Otot anterior tulang belakang lumbalis meliputi
Psoas dan kuadratus lumborum. Karena adanya keterikatan langsung antara
psoas pada tulang belakang lumbalis, mengkontraksikankan otot ini akan
menonjolkan lordosis lumbar normal. Hal ini dapat meningkatkan kekuatan
pada elemen posterior dan bisa berkontribusi pada nyeri sendi zygapophyseal.

Gambar 2.6 Lapisan intermediete dari otot punggung. Otot erektor spinal.

10
Gambar 2.7 Lapisan dalam dari otot punggung.

Gambar 2.8 A. Otot abdominal superficial. B. Otot abdominal profunda

M. Abdomen
Muskulus abdomen superfisial termasuk m. rektus abdominis dan m.
obliques eksternal (Gambar 2.8. A). Lapisan dalam terdiri dari obliques
internal dan transversus abdominis (Gambar 2.8. B). Dalam penelitian
terbatu, muskulus transversus abdominis diketahui sebagai otot terpenting
untuk dilakukan latihan dalam mengobati nyeri punggung bawah. Hal ini

11
didgua karena muskulus ini memiliki sambungan ke fasia thoracolumbar (dan
kemampuannya untuk bekerja di atas tulang belakang lumbal).

Fasia Torakolumbal
Fasia torakolumbar , memiliki ikatan dengan m. transversus abdominis
dan m. oblikus internal, yang berperan sebagai “korset” bagi vertebra lumbar.
Berfungsi untuk mengurangi gaya geser yang diciptakan dari gerakan lumbar
dan otot-otot disekitarnya. Mekanisme korset ini muncul dari kontraksi antara
otot-otot abdomen bagian dalam dengan fasia torakolumbar. Kedua otot ini
akan menimbulkan gaya ekstensi dari vertebra lumbar tanpa meningkatkan
gaya geser.

Pelvic Stabilizers
Pelvic stabilizers dianggap sebagai otot "inti" karena memiliki efek tidak
langsung pada vertebra lumbal, meskipun mereka tidak memiliki keterikatan
langsung ke tulang belakang.Otot gluteus medius menstabilkan panggul saat
berjalan. Kelemahan atau penghambatan otot ini berujung pada
ketidakstabilan pelvis, dengan cara menimbulkan lekukan pada sisi lumbar
dan meningkatkan gaya geser atau gaya torsional pada diskus lumbaris. Otot
piriformis, sebagai otot rotator dari pinggul dan sakrum dapat menyebabkan
rotasi eksternal yang berlebihan dari pinggul dan sakrum saat otot ini tegang/
berkontraksi berlebihan. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan gaya geser
pada sambungan lumbosakral (diskus L5-S1). Beberapa praktisi juga percaya
bahwa lapisan otot pelvis lainnya berfungsi untuk mempertahankan posisi
tulang belakang yang tepat dan merupakan fokus penting dari beberapa
rehabilitasi tulang belakang Program.

5. Inervasi Saraf di Vertebra Lumbal


Konus medularis berakhir pada setinggi level vertebra L2, dan di bawah
level ini adalah cauda equina. Cauda equina terdiri dari akar dorsal dan
ventral, yang bergabung bersama di neuroforamen intervertebralis menjadi

12
tulang belakang Saraf (Gambar 2.9).Saraf tulang belakang mengeluarkan
ramus ventral primer.Ramus ventral primer dari masing-masing tingkat
membentuk pleksus lumbal dan lumbosakral untuk menginervasi ekstrimitas
bawah.Ramus primer dorsal, dengan ketiga cabangnya (medial, intermediate,
dan lateral), memberikan inervasi pada setengah bagian posterior dari tubuh,
otot paraspinal, dan sendi zygapophyseal, dan memberikan sensasi pada
bagian belakang.Cabang medial adalah yang paling penting untuk diingat
karena menginervasi sendi zygapophyseal dan lumbar multifidi dan
merupakan target dari frekuensi radioterapi selama neurotomi untuk kasus
yang diduga sebagai nyeri sendi zygapophyseal (Gambar 2.10).

Gambar 2.9 Persarafan vertebra lumbalis, akarnya, dan lapisan


meningennya
Akar saraf dikelilingi oleh pia mater, dan ditutupi oleh arachnoid dan duramater
sepanjang saraf spinal.Kantung duramater membentuk cabang di sekitar akar
sebagai lengan dural, yang menyatu dengan epineurium saraf tulang belakang.

13
Gambar 2.10 Inervasi sendi zygapophyseal berasal dari cabang medial dari
ramus primer dorsal

6. Pengangkatan Biomekanik dan Hubungan dengan Aktivitas Muskular dan


Beban Diskus
Aktivitas otot lumbal berkorelasi baik dengan tekanan intradiskal
(contohnya, saat otot punggung berkontraksi, terdapat peningkatan tekanan
diskus yang terkait).Tekanan ini berubah tergantung pada postur tulang
belakang dan aktivitasnya.Gambar 40-9 menunjukkan perubahan pada
tekanan diskus di L3 pada berbagai posisi dan latihan. Menambahkan gerakan
rotasi pada postur tubuh yang sudah fleksi akan meningkatkan tekanan diskus
secara drastis. Jika membandingkan berbagai manuver mengangkat,
diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari tekanan diskus saat
beban diangkat dengan kaki (yaitu, dengan punggung lurus dan lutut ditekuk)
dibandingkan diangkat dengan punggung (yaitu, dengan punggung depan
fleksi dan kaki lurus). Manuver yang dapat menurunkan tekanan pada
vertebra lumbal adalah mengangkat beban dekat dengan tubuh anda, karena
semakin jauh bebannya dari dada, semakin besar tekanan pada vertebra
lumbal.

14
Gambar 2.11 Perubahan Tekanan
A. Perubahan tekanan (atau beban relatif) pada diskus lumbal ketiga diberbagai
posisi dalam aktivitas keseharian hidup . B. Perubahan relatif tekanan (atau
beban) padaDiskus lumbal ketiga selama berbagai latihan penguatan otot. Sikap
tegak netral dianggap 100% pada gambar ini.8

2.3. Etiologi
Berdasarkan etiologinya, Low Back Pain dibagi dalam 4 kelompok : 5
1. LBP oleh faktor mekanik (berdasarkan kelainan muskuloskeletal)
a. Mekanik akut : biasanya timbul bila tubuh melakukan gerakan
mendadak, melakukan gerakan melampaui batas kemampuan sendi dan
otot (range of motion) atau melakukan sesuatu untuk jangka waktu lama.
b. Mekanik kronik (menahun) : disebabkan oleh sikap tubuh yang jelek
(membungkuk ke depan, kepala menunduk, perut membuncit dan dada
kempes mendatar). Sikap tubuh yang demikian mendorong Titik Berat
Badan (TBB) tergeser ke arah depan.
2. LBP oleh faktor organik (proses patologik primer berada di tulang vertebra,
diskus intervertebra atau dalam kanalis spinal) :
a. Osteogenik : radang, trauma (fraktur, osteoporosis), keganasan,
kongenital.
b. Diskogenik : spondilosis (proses degenerasi progresif diskus
intervertebra dan menimbulkan nyeri yang bersumber dari osteoartritis
dan radikulitis jebakan), Hernia Nukleus Pulposus (HNP) yang terbagi
menjadi hernia posterosentral (penekanan ligamen longitudinal

15
posterior) dan hernia posterolateral yang mungkin melibatkan radix,
spondilitis ankilosa (dimulai dari sendi sakroiliaka, lalu menjalar ke atas
daerah leher).
c. Neurogenik : neoplasma arakhnoiditis, stenosis kanal (akibat proses
degenerasi, timbul penyempitan kanal spinal).
3. Nyeri rujukan
4. Nyeri psikogenik

2.4. Klasifikasi
Klasifikasi LBP terbagi dalam beberapa kelompok, yakni :
Klasifikasi Low Back Pain menurut perjalanan kliniknya, dibedakan menjadi
dua yaitu:5,10
a) Acute low back pain
Rasa nyeri yang menyerang secara tiba-tiba, rentang waktunya hanya
sebentar, antara beberapa hari sampai beberapa minggu.Rasa nyeri ini dapat
hilang atau sembuh.Acute low back pain dapat disebabkan karena luka traumatik
seperti kecelakaan mobil atau terjatuh, rasa nyeri dapat hilang sesaat
kemudian.Kejadian tersebut selain dapat merusak jaringan, juga dapat melukai
otot, ligamen dan tendon.Pada kecelakaan yang lebih serius, fraktur tulang pada
daerah lumbal dan spinal dapat masih sembuh sendiri.Sampai saat ini
penatalaksanan awal nyeri pinggang akut terfokus pada istirahat dan pemakaian
analgesik.
b) Chronic low back pain
Rasa nyeri yang menyerang lebih dari 3 bulan atau rasa nyeri yang
berulang-ulang atau kambuh kembali.Fase ini biasanya memiliki onset yang
berbahaya dan sembuh pada waktu yang lama.Chronic low back pain dapat terjadi
karena osteoarthritis, rheumatoidarthritis, proses degenerasi discus
intervertebralis dan tumor.

16
Klasifikasi Low back pain berdasarkan keluhan nyeri :
Keluhan nyeri yang beragam pada pasien NPB dan nyeri diklasifikasikan
sebagai nyeri yang bersifat lokal, radikular, dan menjalar (refered pain 0 atau
spasmodik :
1. Nyeri yang bersifat lokal
Nyeri lokal yang berasal dari proses patologik yang merangsang ujung
saraf sensorik, umumnya menetap , namun dapat pula interminten,
nyeri dipengaruhi perubahan posisi, bersifat tajam atau tumpul.
2. Nyeri radikular
Nyeri radikular berkaitan erat dengan distribusi radiks saraf saraf
spinal (spinal never root), dan keluhan ini lebih dirasakan berat pada
posisi yang mengakibatkan tarikan seperti membungkuk dan
berkurang dengan istirahat.
3. Nyeri menjalar (referred pain)
Nyeri alih atau menjalar dari pelvis visera umum yang mengenai
dermatom tertentu, bersifat tumpul dan terasa lebih dalam.

Klasifikasi nyeri punggung bawah berdasarkan sumber penyebabnya :


1. Nyeri punggung bawah Spondilogenik
Nyeri spondilogenik merupakan nyeri yang disebabkan oleh berbagai
proses patologik di kolumna vertebralis yang terdiri dari unsur tulang
(osteogenik), diskus intervertebralis (diskogenik) dan miofasial (miogenik)
dan proses patologik di artikulasio sakroiliaka.
2. NPB Osteogenik
NPB osteogenik dapat disebabkan oleh proses radang atau infeksi,
trauma yang menyebabkan fraktur maupun spondilitesis, kekeganasan,
kongenital maupun metabolik

17
3. NPB Diskogenik
NPB diskogenik merupakan nyeri punggung bawah yang berhubungan
dengan diskus intervertebralis, penyebabnya meliputi spondilosis, hernia
nukleus pulposus (HNP), spondilitis ankilosa.
Spondilosis, ini disebabkan oleh proses degenerasi yang progresif pada
diskus intervertebralis, yang mengakibatkan makin menyempitnya jarak antar
vertebra sehingga mengakibatkan terjadinya osteofit, penyempitan kanalis
spinalis dan foramen intevertebrale dan iritasi persendian posterior. Rasa
nyeri pada spondilosis ini disebabkan oleh terjadinya osteoartritis dan
tertekannya radiks oleh kantung duramater yang mengakibatkan iskemia dan
radang. Pada foto rontgen lumbal orang usia lanjut sering ditemukan
gambaran spondilosis mskipun tidak ada keluhan NPB. Oleh karena itu, bila
pada manusia usia lanjut ada keluhan NPB dan ditemukan spondilosis, maka
masih perlu dicari kemungkinan penyebab yang lain. Gejala neurologiknya
timbul karena gangguan pada radiks , yaitu gangguan sensabilitas dan motorik
(paresis, fasikulasi dan mungkin atrofi otot). Nyeri akan bertambah apabila
tekanan cairan serebrospinal dinaikkan dengan cara mengejan (percobaan
Valsava) atau dengan menekan kedua vena jugularis (percobaan Naffziger).
Hernia nukleus pulposus (HNP), ialah keadaan dimana nukleus pulposus
keluar menonjol untuk kemudian menekan ke arah kanalis spinalis melalui
anulus fibrosus yang robek.
Penonjolan dapat terjadi di bagian lateral dan ini yang banyak terjadi,
disebut HNP lateral, dapat pula di bagian tengah dan disebut HNP sentral.
Dasar terjadinya HNP ini adalah proses degenerasi diskus intervertebralis,
maka banyak terjadi pada usia pertengahan. Pada yang berusia muda
mungkin ada faktor penyebab yang lain. Ada umumnya HNP didahului oleh
aktivitas yang berlebihan misalnya mengangkat benda berat (terutama secara
mendadak), mendorong benda berat.Laki – laki banyak mengalami HNP
daripada wanita.Gejala yang timbul pertama kali adalah rasa nyeri di
punggung bawah disertai nyeri di otot – otot sekitar lesi dan nyeri tekan di

18
temapt tadi.Hal ini disebabkan oleh spasme otot dan spasme ini menyebabkan
mengurangnya lordosis lumbal dan terjadi skoliosis. HNP sentral akan
menimbulkan paraparese flaksid, parestesi dan retensi urin. HNP lateral
kebanyakan terjadi pada L5-S1 dan L4-L5. Pada HNP lateral L5-S1 antara
rasa nyeri terdapat di punggung bawah, di tengah-tengah antara kedua pantat
dan betis, belakang tumit, dan telapak kaki. Di tempat-tempat tersebut akan
terasa nyeri bila ditekan. Kekuatan ekstensi jari ke V kaki berkurang dan
refleks achiles negatif. Pada HNP latelar L4 – L5 rasanyeri dan nyeri tekan
didapatkan di punggung bawah, bagian lateral pantat, tungaki bawah bagian
lateral, dan di dorsum pedis. Kekuatan ekstensi ibu jari kkai berkurang dan
refleks patela negatif.Sensabilitas pada dermatom yang sesuai dengan radiks
yang terkena menurun.
Spondilitis ankilosa, proses ini biasanya mulai dari sendi sakroiliaka
yang kemudian menjalar ke atas, daerah leher, gejala permulaan berupa rasa
kaku di punggung bawah waktu bangun tidur dan hilang setelah mengadakan
gerakan.Pada foto rontgen terlihat gambaran yang mirip dengan ruas – ruas
bambu sehingga bamboo spine.
4. NPB Miogenik
NPB miogenik merupakan nyeri punggung bawah disebabkan
ketegangan otot, spasme otot, defisiensi otot, otot yang hipersensitif.
Ketegangan otot,disebabkan oleh sikap tegang yang konstan atau
berulang-ulang pada posisi yang sama akan memendekkan otot yang akhirnya
akan menimbulkan perasaan nyeri. Keadaan ini tidak akan terlepas dari
kebiasaan buruk atau sikap tubuh yang tidak atau kurang fisiologik. Pada
struktur yang normal, kontraksi otot – otot menjadi lelah, maka ligamentum
yang kurang elastis akan menerima beban yang lebih berat.
Rasa nyeri timbul oleh karena iskemia ringan pada jaringan otot,
regangan yang berlebihan pada perlekatan miofasial terhadap tulang, serta
regangan pada kapsula.
Spasme otot atau kejang, disebabkan oleh gerakan yang tiba – tiba
dimana jaringan otot sebelumnya dalam kondisi yang tegang atau kaku atau

19
kurang pemanasan.Spasme otot ini memberi gejala khas, ialah dengan adanya
kontraksi otot ini memberikan gejala yang khas, ialah dengan adanya
kontraksi otot yang disertai nyeri yang hebat. Setiap gerakan akan
memperberat rasa nyeri sekaigus menambah kontraksi.
Defisiensi otot, disebabkan oleh kurang latihan sebagai akibat dari
mekanisme yang berlebihan, tirah baring yang terlalu lama maupun karena
mobilisasi.
Otot yang hipersensitif, akan menciptakan satu daerah kecil yang apabila
dirangsang akan menimbulkan rasa nyeri dan menjalar ke daerah tertentu
(target area). Daerah kecil tadi disebut sebagai noktah picu, dalam
pemeriksaan klinik terhadap penderita NPB, tidak jarang dijumpai adanya
noktah picu ini.Tidak ini apabila ditekan dapat menimbulkan rasa nyeri
bercampur rasa sedikit nyaman.
5. Nyeri punggung bawah Viserogenik
Nyeri yang disebabkan karena kelainan pada organ dalam, misalnya
kelainan ginjal atau visera, kelainan ginekologik, dan tumor
retroperitoneal.Nyeri yang dirasakan tidak bertambah berat dengan aktivitas
tubuh, juga tidak berkurang dengan istirahat. Penderita LBP viserogenik yang
mengalami nyeri hebat akan selalu menggeliat untuk mengurangi nyeri, sedang
penderita LBP spondilogenik akan lebih memilih berbaring diam dalam posisi
tertentu untuk menghilangkan nyerinya.
6. Nyeri punggung bawah Vaskulogenik
Nyeri yang disebabkan karena kelainan pembuluh darah, misalnya
anerisma, dan gangguan peredaran darah.Insufisiensi arteria glutealis superior
dapat menimbulkan nyeri di daerah bokong, yang makin memberat saat jalan
dan mereda saat berdiri.
Nyeri dapat menjalar ke bawah sehingga sangat mirip dengan iskialgia,
tetapi rasa nyeri ini tidak terpengaruh oleh presipitasi tertentu misalnya:
membungkuk, mengangkat benda berat yang mana dapat menimbulkan tekanan
sepanjang kolumna vertebralis. Klaudikatio intermitten nyerinya menyerupai
iskialgia yang disebabkan oleh iritasi radiks.

20
7. Nyeri punggung bawah Psikogenik
Nyeri yang disebabkan karena gangguan psikis seperti neurosis,
ansietas, dan depresi.Nyeri ini tidak menghasilkan definisi yang jelas, juga tidak
menimbulkan gangguan anatomi dari akar saraf atau saraf tepi.Nyeri ini
superficial tetapi dapat juga dirasakan pada bagian dalam secara nyata atautidak
nyata, radikuler maupun non radikuler, berat atau ringan. Lama keluhan tidak
mempunyai pola yang jelas, dapat dirasakan sebentar ataupun bertahun – tahun.

2.5. Faktor risiko


Banyak faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya Nyeri Punggung
Bawah :
1. Lifestyle seperti pengguna tembakau, kurangnya latihan atau olahraga dan
juga inadekuat nutrisi yang dapat mempengaruhi kesehatan diskus
2. Usia, perubahan biokimia yang natural menyebabkan diskus menjadi lebih
kering yang akhirnya menyebabkan kekakuan atau elastisitas dari diskus
3. Postur tubuh yang tidak proporsional yang dikombinasikan dengan
mekanisme gerak tubuh yang tidak benar dapat menyebabkan stres dari
lumbal spine
4. Berat tubuh
5. Trauma
Beberapa membagi faktor resiko menjadi :
1. Faktor resiko fisiologis : usia 20-50 tahun, kurangnya latihan fisik, postur
tubuh yang tidak anatomis, kegemukan, scoliosis berat (Kurvutura berat
>80), HNP, spondilitis, spinal stenosis, osteoporosis, merokok
2. Faktor resiko lingkungan : duduk terlalu lama, terlalu lama menerima
getaran, terpelintir.
3. Faktor resiko psikososial : ketidaknyamanan bekerja, depresi dan stres.

21
2.6. Patofisiologi
Struktur spesifik dalam sistem saraf terlibat dalam mengubah stimulus
menjadi sensasi nyeri.Sistem yang terlibat dalam transmisi dan persepsi
nyeri disebut sebagai sistem nosiseptif.Sensitifitas dari komponen sistem
nosiseptif dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor dan berbeda diantara
individu. Tidak semua orang yang terpajan terhadap stimulus yang sama
mengalami intensitas nyeri yang sama. Sensasi sangat nyeri bagi seseorang
mungkin hampir tidak terasa bagi orang lain. Reseptor nyeri (nosiseptor)
adalah ujung saraf bebas dalam kulit yang berespons hanya pada stimulus
yang kuat, yang secara potensial merusak, dimana stimuli tersebut sifatnya
bisa kimia, mekanik, termal.Reseptor nyeri merupakan jaras multi arah yang
kompleks.Serabut saraf ini bercabang sangat dekat dengan serabut asalnya
pada kulit (serabut kutaneus) dan mengirimkan cabangnya ke pembuluh
darah lokal. Serabut kutaneus terletak lebih kearah sentral dari cabang yang
lebih jauh dan berhubungan dengan rantai simpatis paravertebra sistem saraf
dan dengan organ internal yang lebih besar.11
Sejumlah substansi yang dapat meningkatkan transmisi atau persepsi
nyeri meliputi histamin, bradikinin, asetilkolin dan prostaglandin. Substansi
lain dalam tubuh yang berfungsi sebagai inhibitor terhadap transmisi nyeri
adalah endorfin dan enkefalin yang ditemukan dalam konsentrasi yang kuat
dalam sistem saraf pusat. Kornu dorsalis dari medulla spinalis merupakan
tempat memproses sensori, dimana agar nyeri dapat diserap secara sadar,
neuron pada sistem assenden harus diaktifkan. Aktivasi terjadi sebagai
akibat input dari reseptor nyeri yang terletak dalam kulit dan organ
internal.11
Proses nyeri terjadi karena adanya interaksi antara stimulus nyeri dan
sensasi nyeri. Patofisiologi pada sensasi nyeri punggung bawah dalam hal
ini kolumna vertebralis dapat dianggap sebagai sebuah batang yang elastik
yang tersusun atas banyak unit vertebra dan unit diskus intervertebra yang
diikat satu sama lain oleh kompleks sendi faset, berbagai ligamen dan otot
paravertebralis. Konstruksi punggung yang unik tersebut memungkinkan

22
fleksibilitas sementara, disisi lain tetap dapat memberikan perlindungan
yang maksimal terhadap sum-sum tulang belakang. Lengkungan tulang
belakang akan menyerap goncangan vertical pada saat berlari atau
melompat. Batang tubuh membantu menstabilkan tulang belakang.Otot-otot
abdominal dan toraks sangat penting ada aktifitas mengangkat beban. Bila
tidak pernah dipakai akan melemahkan struktur pendukung ini. Obesitas,
masalah postur, masalah struktur dan peregangan berlebihan pendukung
tulang belakang dapat berakibat nyeri punggung. Diskus intervertebralis
akan mengalami perubahan sifat ketika usia bertambah tua. Pada orang
muda, diskus terutama tersusun atas fibrokartilago dengan matriks gelatinus.
Pada lansia akan menjadi fibrokartilago yang padat dan tak teratur.
Degenerasi diskus intervertebra merupakan penyebab nyeri punggung biasa.
Diskus lumbal bawah, L4-L5 dan L5-S6, menderita stres paling berat dan
perubahan degenerasi terberat. Penonjolan diskus atau kerusakan sendi
dapat mengakibatkan penekanan pada akar saraf ketika keluar dari kanalis
spinalis, yang mengakibatkan nyeri yang menyebar sepanjang saraf
tersebut.11

2.7. Gejala Klinis


Berdasarakan pemeriksaan yang cermat, LBP dapat dikategorikan ke
dalam kelompok :
a. Simple Back Pain (LBP sederhana) dengan karakteristik :
1. Adanya nyeri pada daerah lumbal atau lumbosacral tanpa penjalaran
atau keterlibatan neurologis
2. Nyeri mekanik, derajat nyeri bervariasi setiap waktu, dan tergantung
dari aktivitas fisik
3. Kondisi kesehatan pasien secara umum adalah baik.
b. LBP dengan keterlibatan neurologis, dibuktikan dengan adanya 1 atau
lebih tanda atau gejala yang mengindikasikan adanya keterlibatan
neurologis

23
- Gejala : nyeri menjalar ke lutut, tungkai, kaki ataupun adanya rasa
baal di daerah nyeri
- Tanda : adanya tanda iritasi radikular, gangguan motorik maupun
sensorik/refleks.
c. Red flag a LBP dengan kecurigaan mengenai adanya cedera atau kondisi
patologis yang berat pada spinal. Karakteristik umum :
- Trauma fisik berat seperti jatuh dari ketinggian ataupun kecelakaan
kendaraan bermotor
- Nyeri non mekanik yang konstan dan progresif
- Ditemukan nyeri abdomen dan atau thoracal
- Nyeri hebat pada malam hari yang tidak membaik dengan posisi
terlentang
- Riwayat atau adanya kecurigaan kanker, HIV, atau keadaan
patologis lainnya yang dapat menyebabkan kanker
- Penggunaan kortikosteroid jangka panjang
- Penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya, menggigil
dan atu demam
- Fleksi lumbal sangat terbatas dan persisten
- Saddle anestesi, dan atau adanya inkonentinensia urin
Risiko terjadinya kondisi yang lebih berat adalah awitan NPB pada usia
kurang dari 20 tahun atau lebih dari 55 tahun.

2.8. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik umum
dan neurologis serta pemeriksaan penunjang.
Anamnesis
Untuk mendapatkan diagnosis low back pain seawal mungkin, perlu adanya
anamnesis yang terarah yaitu:12
Awitan
Penyebab mekanis LBP menyebabkan nyeri mendadak yang timbul setelah
posisi mekanis yang merugikan.Mungkin terjadi robekan otot, peregangan

24
fasia atau iritasi permukaan sendi. Keluhan karena penyebab lain timbul
bertahap.

Lama dan frekuensi serangan

LBP akibat sebab mekanik berlangsung beberapa hari sampai beberapa


bulan.Herniasi diskus bisa membutuhkan waktu 8 hari sampai
resolusinya.Degenerasi diskus dapat menyebabkan rasa tidak nyaman kronik
dengan eksaserbasi selama 2-4 minggu.

Lokasi dan penyebaran

Kebanyakan LPB akibat gangguan mekanis atau medis terutama terjadi di


daerah lumbosakral.Nyeri yang menyebar ke tungkai bawah atau hanya di
tungkai bawah mengarah ke iritasi akar saraf.Nyeri yang menyebar ke tungkai
juga dapat disebabkan peradangan sendi sakroiliaka.Nyeri psikogenik tidak
mempunya pola penyebaran yang tetap.

Faktor yang memperberat / memperingan

Pada lesi mekanis keluhan berkurang saat istirahat dan bertambah saat
aktivitas.Pada penderita HNP duduk agak bungkuk memperberat nyeri. Batuk,
bersin atau manuver valsava akan memperberat nyeri. Pada penderita tumor,
nyeri lebih berat atau menetap jika berbaring.

Kualitas/intensitas

Penderita perlu menggambarkan intensitas nyeri serta dapat


membandingkannya dengan berjalannya waktu.Harus dibedakan antara LBP
dengan nyeri tungkai, mana yang lebih dominan dan intensitas dari masing-
masing nyerinya, yang biasanya merupakan nyeri radikuler.Nyeri pada
tungkai yang lebih banyak dari pada LBP dengan rasio 80-20% menunjukkan
adanya radikulopati dan mungkin memerlukan suatu tindakan operasi.Bila
nyeri LBP lebih banyak daripada nyeri tungkai, biasanya tidak menunjukkan
adanya suatu kompresi radiks dan juga biasanya tidak memerlukan tindakan
operatif.Gejala LBP yang sudah lama dan intermiten, diselingi oleh periode

25
tanpa gejala merupakan gejala khas dari suatu LBP yang terjadinya secara
mekanis.

Walaupun suatu tindakan atau gerakan yang mendadak dan berat, yang
biasanya berhubungan dengan pekerjaan, bisa menyebabkan suatu LBP,
namun sebagian besar episode herniasi diskus terjadi setelah suatu gerakan
yang relatif sepele, seperti membungkuk atau memungut barang yang ringan.

Harus diketahui pula gerakan-gerakan mana yang bisa menyebabkan


bertambahnya nyeri LBP, yaitu duduk dan mengendarai mobil dan nyeri
biasanya berkurang bila tiduran atau berdiri, dan setiap gerakan yang bisa
menyebabkan meningginya tekanan intra-abdominal akan dapat menambah
nyeri, juga batuk, bersin dan mengejan sewaktu defekasi.

Selain nyeri oleh penyebab mekanik ada pula nyeri non-mekanik.Nyeri


pada malam hari bisa merupakan suatu peringatan, karena bisa menunjukkan
adanya suatu kondisi terselubung seperti adanya suatu keganasan ataupun
infeksi.

Penyakit penyerta lain


Adakah keluhan nyeri di bagian tubuh lain, gangguan libido, jika penderita
seorang wanita ditanyakan adakah gangguan dalam siklus haid, atau memakai
IUD (kemungkinan inflamasi).
Riwayat penyakit yang dahulu dan keluarga
Diabetes Melitus, Hipertensi, penyakit jantung, hati, ginjal, paru.

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Pada inspeksi yang peru diperhatikan :
- Kurvatura yag berlebihan, pendataran arkus lumbal, adanya angulasi, pelvis
yang miring atau asimetris, muskular paravertebral atau pantat yang
asimetris, postur tungkai yang abnormal

26
- Observasi punggung, pelvis, dan tungkai selama bergerak apakah ada
hambatan selama melakukan gerakan
- Pada saat penderita menanggalkan atau mengenakan pakaian, apakah ada
gerakan yang tidak wajar atau terbatas
- Observasi penderita saat berdiri, duduk, bersandar maupun berbaring dan
bangun dari berbaring
- Perlu dicari kemungkinan adanya atrofi otot, fasikulasi, pembengkakan,
perubahan warna kulit.
Palpasi dan perkusi
- Pada palpasi, terlebih dahulu diraba daerah yang sekitarnya paling ringan
rasa nyerinya, kemudian menuju ke arah daerah yang terasa paliag nyeri.
- Ketika meraba kolumna vertebralis sejogjanya dicari kemungkinan adanya
deviasi ke lateral atau anterior – posterior

Pemeriksaan Neurologik
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk memastikan apakah kasus nyeri
pinggang bawah adalah benar karena adanya gangguan saraf atau karena sebab
yang lain.
1. Pemeriksaan sensorik
Bila nyeri pinggang bawah disebabkan oleh gangguan pada salah satu
saraf tertentu maka biasanya dapat ditentukan adanya gangguan sensorik
dengan menentukan batas-batasnya, dengan demikian segmen yang
terganggu dapat diketahui. Pemeriksaan sensorik ini meliputi pemeriksaan
rasa rabaan, rasa sakit, rasa suhu, rasa dalam dan rasa getar (vibrasi). Bila
ada kelainan maka tentukanlah batasnya sehingga dapat dipastikan
dermatom mana yang terganggu.
2. Pemeriksaan motorik
Dengan mengetahui segmen otot mana yang lemah maka segmen mana
yang terganggu akan diketahui, misalnya lesi yang mengenai segmen L4
maka musculus tibialis anterior akan menurun kekuatannya. Pemeriksaan
yang dilakukan :

27
a. Kekuatan : fleksi dan ekstensi tungkai atas, tungkai bawah, kaki,
ibu jari, dan jari lainnya dengan menyuruh penderita melakukan
gerakan fleksi dan ekstensi, sementara pemeriksaan menahan
gerakan tadi.
b. Atrofi : perhatikan atrofi otot
c. Perlu perhatikan adanya fasikulasi ( kontraksi involunter yang
bersifat halus) pada otot – otot tertentu.
3. Pemeriksaan reflek
Reflek tendon akan menurun pada atau menghilang pada lesi motor neuron
bawah dan meningkat pada lesi motor atas. Pada nyeri punggung bawah
yang disebabkan HNP maka reflek tendon dari segmen yang terkena akan
menurun atau menghilang
- Refleks lutut/patela : lutut dalam posisi fleksi ( penderita dapat
berbaring atau duduk dengan tungkai menjuntai), tendo patla
dipukul dengan palu refleks. Apabila ada reaksi ekstensi tungkai
bawah, maka refleks patela postitif. Pada HNP lateral di L4-L5,
refleksi ini negatif.
- Refleks tumit/achiles : penderita dalam posisi berbaring, lutut
dalam posisi fleksi, tumit diletakkan di atas tungkai yang satunya,
dan ujung kaki ditahan dalam posisi dorsofleksi ringan, kemudian
tendo achiles dipukul. Apabila terjadi gerakan plantar fleksi maka
refleks achiles positif. Pada HNP lateral L5-S1, refleksi ini negatif.
4. Tes-tes yang lazim digunakan pada penderita low back pain
a. Tes lasegue (straight leg raising)
Tungkai difleksikan pada sendi coxa sedangkan sendi lutut tetap
lurus. Saraf ischiadicus akan tertarik. Bila nyeri pinggang
dikarenakan iritasi pasa saraf ini maka nyeri akan dirasakan pada
sepanjang perjalanan saraf ini, mulai dari pantat sampai ujung kaki.
b. Crossed lasegue
Bila tes lasegue pada tungkai yang tidak sakit menyebabkan rasa
nyeri pada tungkai yang sakit maka dikatakan crossed lasegue

28
positif. Artinya ada lesi pada saraf ischiadicus atau akar-akar saraf
yang membentuk saraf ini.
c. Tes kernig
Sama dengan lasegue hanya dilakukan dengan lutut fleksi, setelah
sendi coxa 90 derajat dicoba untuk meluruskan sendi lutut

d. Patrick sign (FABERE sign)


FABERE merupakan singkatan dari fleksi, abduksi, external,
rotasi, extensi. Pada tes ini penderita berbaring, tumit dari kaki
yang satu diletakkan pada sendi lutut pada tungkai yang lain.
Setelah ini dilakukan penekanan pada sendi lutut hingga terjadi
rotasi keluar.Bila timbul rasa nyeri maka hal ini berarti ada suatu
sebab yang non neurologik misalnya coxitis.
e. Chin chest maneuver
Fleksi pasif pada leher hingga dagu mengenai dada. Tindakan ini
akan mengakibatkan tertariknya myelum naik ke atas dalam canalis
]spinalis. Akibatnya maka akar-akar saraf akan ikut tertarik ke atas
juga, terutama yang berada di bagian thorakal bawah dan lumbal
atas. Jika terasa nyeri berarti ada gangguan pada akar-akat saraf
tersebut
f. Viets dan naffziger test
Penekanan vena jugularis dengan tangan (viets)atau dengan manset
sebuah alat ukur tekanan darah hingga 40 mmhg(naffziger)
g. Ober’s sign
Penderita tidur miring ke satu sisi.Tungkai pada sisi tersebut dalam
posisi fleksi.Tungkai lainnya di abduksikan dan diluruskan lalu
secara mendadak dilepas. Dalam keadaan normal tungkai ini akan
cepat turun atau jatuh ke bawah. Bila terdapat kontraktur dari
fascia lata pada sisi tersebut maka tungkainya akan jatuh lambat.
h. Neri’s sign

29
Penderita berdiri lurus. Bila diminta untuk membungkuk ke depan
akan terjadi fleksi pada sendi lutut sisi yang sakit.
i. Percobaan Perspirasi
Percobaan ini untuk menunjukkan ada atau tidaknya gangguan
saraf autonom, dan dapat pula untuk menunjukkan lokasi kelainan
yang ada yaitu sesuai dengan radiks atau saraf spinal yang terkena.

Pemeriksaan Non Neurologik Pada Sindrom Nyeri Punggung Bawah


1. Pemeriksaan rectal
Pertimbangkan adanya gangguan karsinoma prostate yang mungkin akan
menimbulkan nyeri bila sudah metastase tulang, piriformis sindrom,
penyakit urilogik atau ginekologik yang berada di panggul

30
2. Pemeriksaan vaginal
Kemungkinan adanya gangguan pada uteroscral ligament, misalnya
penjalaran karsinoma uteri, malposisi uterus, myoma uteri.
3. Pemeriksaan untuk mengetahui mobilitas dari sacroiliac joint
Bila diduga ada penekanan di daerah sacroiliac.Biasa dilakukan oleh
bagian ortopedi.

2.9. Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Darah
1. Laju endap darah
Pada proses keganasan ataupun keradangan akan dijumpai peningkatan
laju endap darah yang menyolok.
2. Leukositosis
Pada proses keradangan (infeksi tulang pyogenik terjadi leukositosis)
3. Protein elektroporesis dan imunoelektroporesis
Pada multiple myeloma akan dijumpai protein yang abnormal
4. Serum kalsium, alkali dan acid pospatase (pria), rheumatoid faktor.

Pemeriksaan Cairan Otak


Pada tumor myelum mungkin dijumpai kenaikan jumlah protein tanpa
kenaikan jumlah sel. Pada keradangan myelum justru akan dijumpai kenaikan
jumlah sel dalam cairan otak. Mungkin juga ditemukan sel-sel ganas dalam cairan
otak.

Pemeriksaan Radiologi
1. Plain X-Ray Columna Vertebralis
Dalam posisi AP, lateral, obliq, berdiri, berbaring untuk mendapatkan
gambaran yang lebih jelas dari intervertebral space, foramen
intervetebralis, sacroiliac joint.Gambaran osteoporosis untuk nyeri
punggung bawah kronis bisa didapatkan.
2. X-foto dengan kontras

31
Untuk memperjelas kelaianan yang kurang jelas pada plain film.
3. Discografi
Untuk mendapatkan sumber nyeri berdasarkan anatomi dari
pasien.Dengan ini dapat diketahui adanya penyakit degenaratif pada discus
yang dapat menimbulkan nyeri. Discogram juga dapat digunakan untuk
perencanaan preoperative lumbar spinal fusion.5
4. MRI
5. CT-Scan
Dapat memperlihatkan beberapa kelainan seperti stenosis kanal sentral,
lateral recess entrapment, fraktur, tumor, infeksi. Dapat juga dilakukan CT
Scan kontras dengan memasukkan radioaktif marker IV.5,7

2.10. Penatalaksanaan
Pada prinsipnya penanganan LBP terdiri dari :5
a. Obat-obatan (medikamentosa)
Medikamentosa (obat-obatan untuk mengurangi nyeri tanpa menghiraukan
penyebab dasar LBP) :
- Analgetika (analgetik antipiretik dan analgetik narkotik, NSAID)
- Transquilizer minor (menurunkan respon terhadap rangsangan nyeri.
Disamping itu untuk mengurangi kegelisahan dan untuk relaksasi otot)

b. Rehabilitasi medik
Meliputi exercise yang biasa digunakan yakni william flexion exercise
berupa :
1. William flexion exercise nomor 1

32
Posisi awal : terlentang, kedua lutut menekuk dan kedua kaki rata
pada permukaan matras.
Gerakan : pasian diminta meratakan pinggang dengan menekan
pinggang ke bawah melawan matras dengan mengkontraksikan otot
perut dan otot pantat. Setiap kontraksi ditahan 5 detik kemudian
lemas, ulangi 10 kali. Usahakan pada waktu lemas pinggang tetap
rata. Tujuan : penguluran otot-otot ekstensor trunk, mobilisasi sendi
panggul, penguatan otot-otot perut.
2. William flexion exercise nomor 2

Posisi awal : sama dengan nomor 1.


Gerakan : pasien diminta mengkontraksikan otot perut dan
memfleksikan kepala, sehingga dagu menyentuh dada dan bahu
terangkat dari matras. Setiap kontraksi ditahan 5 detik, kemudian
lemas, ulangi sebanyak 10 kali. Tujuan : peunguluran otot-otot
ekstensor trunk, penguatan otot-otot perut, dan otot
sternocleidomastoideus
3. William flexion exercise nomor 3

Posisi awal : sama dengan nomor 1


Gerakan : pasien diminta untuk memfleksikan satu lutut kearah dada
sejauh mungkin, kemudian kedua tangan mencapai paha belakang
dan menarik lututnya ke dada. Pada waktu bersamaan angkat kepala
hingga dagu menyentuh dada dan bahu lepas dari matras, tahan 5

33
detik. Latihan diulangi pada tungkai yang lain, ulangi latihan
sebanyak 10 kali. Kedua tungkai lurus naik harus dihindari, karena
akan memperberat problem pinggangnya.
Tujuan : merapatkan lengkungan pada lumbal, peunguluran otot-otot
ekstensor trunk, sendi panggul, sendi sakroiliaka, dan otot – otot
hamstring
4. William flexion exercise nomor 4

Posisi awal : sama dengan nomor 1


Gerakan : pasien diminta untuk melakukan latihan yang sama dengan
nomor 3, tetapi kedua lutut dalam posisi menekuk, dinaikkan ke atas
dan ditarik dengan kedua tangn kearah dada, naikkan kepala dan bahu
dari matras, ulangi 10 kali. Pada waktu menaikkan kedua tungkai ke
atas sejauh mungkin ia rapat, baru ditarik dengan kedua tangan
mendekati dada. Tujuan : merapatkan lengkungan pada lumbal,
peunguluran otot-otot ekstensor trunk, sendi panggul, sendi
sakroiliaka, dan otot – otot hamstring
5. William flexion exercise nomor 5

Posisi awal : exaggregated starter’s position


Gerakan : Gerakan berupa latihan dimulai dengan posisi awal seperi
seorang pelari cepat pada titik startnya yaitu satu tungkai dalam fleksi
maximal pada seni lutut dan paha, sedang tungkai yang lain dalam
keadaan lurus dibelakang. Kemudian pada posisi tersebut tekan badan

34
ke depan dan ke bawah, tahan 5 hitungan dan rileks. Frekuensi 10
kali / sesi.
Tujuan : mengulur / streching otot-otot fleksor hip dan fascia latae.
6. William flexion exercise nomor 6

Posisi awal : berdiri menempel dan membelakangi dinding dengan


tumit 10-15 cm di depan dinding, lumbal rata dengan dinding.
Gerakan : satu tungkai melangkah ke depan tanpa merubah posisi
lumbal pada dinding, tahan 10 hitungan dan rileks. Frekuensi 10 kali /
sesi. Bila latihan terlalu berat, lamanya penahanan dapat dikurangi.
Tujuan : penguatan otot quadriceps, otot perut, ekstensor trunk.12

35
BAB III
PENUTUP

Low Back Pain merupakan masalah yang sering ditemukan pada


masyarakat. Nyeri yang ditimbulkan menyebabkan ketidaknyamanan pasien
dalam aktivitas dan bekerja, sehingga memutuskan untuk menemui dokter. Low
back pain merupakan nyeri terbanyak nomor 2 setelah nyeri kepala. Etiologi dari
kasus ini bisa dari faktor mekanik (gerakan mendadak, melampaui batas) dan
organik (proses patologik primer berada di tulang vertebra, diskus intervertebra
atau dalam kanalis spinal).
Untuk mendiagnosis atau memastikan low back pain, perlu dengan
anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan neurologi dan pemeriksaan non-
neurologi LBP. Pemeriksaan penunjang juga diperlukan dalam menegakkan
kearah LBP, seperti darah lengkap, cairan otak, dan radiologi. Tatalaksana untuk
LBP meliputi medikamentosa (mengurangi nyeri) dan rehabilitasi medik
(exercise) seperti william flexion exercises.

36