Anda di halaman 1dari 23

KERUSAKAN HUTAN

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia

OLEH :

YOLA OCTAVIANI ASRI


1510931002

DOSEN PEMBIMBING :
LILIMIWIRDI,S.S,M.HUM

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015
KERUSAKAN HUTAN

OLEH :

YOLA OCTAVIANI ASRI


1510931002

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015
HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Kerusakan Hutan

Penulis : Yola Octaviani Asri, Mahasiswi Jurusan Teknik Industri,


Universitas Andalas

Karya tulis ini disahkan di Padang pada tanggal 17 November 2015

Padang,14 November 2015

Mengesahkan
Dosen Pembimbing, Penulis,

Lilimiwirdi,S.S.,M.Hum Yola Octaviani Asri


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul “Kerusakan Hutan” . Shalawat

dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian

karya ilmiah ini. Secara khusus ucapan terimakasih kepada ibu Lilimiwirdi,S.S.,M.Hum yang telah

membimbing dan berkenan memberikan masukan kepada penulis. Penulis juga mengucapkan

terimakasih kepada keluarga dan teman-teman yang telah mendukung penulis dalam penulisan

karya ilmiah ini.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam karya ilmiah ini. Oleh karena

itu,penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan karangan karya

ilmiah ini sehingga maksud dan tujuan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Padang, 14 November 2015

Yola Octaviani Asri


“Kerusakan Hutan”

Yola Octaviani Asri


Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Andalas
Email: yolaoctaviani97@gmail.com

ABSTRAK

Salah satu faktor yang menyebabkan kerusakan hutan adalah pembukaan lahan
perkebunan agrikultur dalam skala besar, illegal logging, dikenal juga perambaan hutan,
pembakaran hutan, pembakaraan liar, penebangan hutan kebakaran hutan yang sengaja dilakukan
untuk membuka lahan baru, dan penegakan hokum yang lemah.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah potensi kerusakan hutan yaitu dengan
meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memelihara hutan dan tidak melakukan penebangan
hutan, menetapkan peraturan-peraturan tentang yang mengatur penbangan hutan dan
mengadakan pengawasan, pengendalian dan pengolaan hutan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa: pertama, hutan sangat dibutuhkan untuk


kelangsungan hidup manusia, tumbuhan dan hewan. Kedua, hutan terdiri dari beberapa macam.
Ketiga, kondisi hutan saat ini dihiasi dengan aktivitas Illegal Logging yang masih berlangsung
disejumlah temapt diIndonesia. Keempat, salah faktorya adalah pembakaran hutan. Kelima, salah
satu upaya untuk mencegah terjadinya kerusakan hutan adalah meningkatkan kesadaran
masyarakat dan memberikan sanksi kepada orang yang merusak hutan dengan sengaja
DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan……………………………………………………………………………….
Kata Pengantar……………………………………………………………………………………...
Abstrak……………………………………………………………………………………………...
Daftar Isi……………………………………………………………………………………………
Bab I Pendahuluan………………………………………………………………………………….
1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………………
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………………...
1.3 Tujuan………………………………………………………………………………….
1.4 Manfaat………………………………………………………………………………...
Bab II Pembahasan…………………………………………………………………………………
2.1 Hutan……………………………………………………………………………………
2.2 Ancaman Kerusakan Hutan……………………………………………………………
2.3 Dampak Kerusakan Hutan……………………………………………………………..
Bab III Penutup……………………………………………………………………………………..
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………..
3.2 Saran……………………………………………………………………………………
Daftar Pustaka………………………………………………………………………………………
Riwayat Hidup……………………………………………………………………………………...
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Isu global telah membawa bangsa Indonesia harus dan mau untuk bisa melakukan upaya
yang maksimal dalam mencegah dan menjaga hingga pada upaya penindakan yang berskala
besar. Salah satu isu global yang paling diperhatikan oleh di pergaulan dunia internasional
adalah masalah lingkungan hidup. Salah satu komponen yang termasuk di dalamnya adalah
hutan. Alasan isu ini menjadi begitu penting dan segera harus ditangani dengan serius terutama
oleh Negara – Negara yang masih memiliki sumber data hutan yang luas adalah dampak yang
ditimbulkan terhadap umat manusia seluruh dunia. Dampaknya, ada yang terasa secara
langsung juga secara tidak langsung.
Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa hutan merupakan paru-paru bumi tempat
berbagai satwa hidup, pohon-pohon, hasil tambang dan berbagai sumberdaya lainnya yang
bisa kita dapatkan dari hutan yang tak ternilai harganya bagi manusia. Hutan juga merupakan
sumberdaya alam yang memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan manusia, baik manfaat
tangible yang dirasakan secara langsung, maupun intangible yang dirasakan secara tidak
langsung. Manfaat langsung seperti penyediaan kayu, satwa, dan hasil tambang. Sedangkan
manfaat tidak langsung seperti manfaat rekreasi, perlindungan dan pengaturan tata air,
pencegahan erosi.
Hutan merupakan sumber daya alam yang tidak ternilai karena didalamnya terkandung
keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah, sumber hasil hutan kayu dan non-
kayu, pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah, perlindungan alam
hayati untuk kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan, rekreasi, pariwisata dan sebagainya.
Karena itu pemanfaatan hutan dan perlindungannya telah diatur dalam UUD 45, UU No. 5
tahun 1990, UU No 23 tahun 1997, UU No. 41 tahun 1999, PP No 28 tahun 1985 dan beberapa
keputusan Menteri Kehutanan serta beberapa keputusan Dirjen PHPA dan Dirjen
Pengusahaan Hutan.
Keberadaan hutan, dalam hal ini daya dukung hutan terhadap segala aspek kehidupan
manusia, satwa dan tumbuhan sangat ditentukan pada tinggi rendahnya kesadaran manusia
akan arti penting hutan di dalam pemanfaatan dan pengelolaan hutan. Mengingat pentingnya
arti hutan bagi masyarakat, maka peranan dan fungsi hutan tersebut perlu dikaji lebih lanjut.
Pemanfaatan sumberdaya alam hutan apabila dilakukan sesuai dengan fungsi yang terkandung
di dalamnya, seperti adanya fungsi lindung, fungsi suaka, fungsi produksi, fungsi wisata
dengan dukungan kemampuan pengembangan sumberdaya manusia, ilmu pengetahuan dan
teknologi, akan sesuai dengan hasil yang ingin dicapai.
Namun gangguan terhadap sumber daya hutan terus berlangsung bahkan intensitasnya
makin meningkat. Kerusakan hutan yang meliputi : kebakaran hutan, penebangan liar dan
lainnya merupakan salah satu bentuk gangguan yang makin sering terjadi. Dampak negatif
yang ditimbulkan oleh kerusakan hutan cukup besar mencakup kerusakan ekologis,
menurunnya keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas
tanah, perubahan iklim mikro maupun global, dan asap dari kebakaran hutan mengganggu
kesehatan masyarakat serta mengganggu transportasi baik darat, sungai, danau, laut dan udara.
Dan juga gangguan asap karena kebakaran hutan Indonesia akhir-akhir ini telah melintasi
batas negara.
Penebangan liar juga dapat berdampak negatif antara lain dapan menyababkan tanah
longsor dan banjir. Oleh karena itu hutan kita perlu adanya penjagaan supaya tidak terjadi
kebakaran dan penebangan liar dan yang tidak kita inginkan.

1.2 Rumusan Masalah


 Apa fungsi hutan?
 Apa saja bagian dan macam-macam hutan?
 Bagaimana kondisi hutan saat ini?
 Apa faktor penyebab kerusakan hutan?
 Bagaimana upaya penanggulangan kerusakan hutan?
1.3 Tujuan
 Untuk mengetahui fungsi hutan, bagian hutan dan macam-macam hutan
 Untuk mengetahui kondisi hutan saat ini dan faktor apa yang menyebabkan
kerusakan hutan
 Untuk mengetahui bagaimana penanggulangan kerusakan hutan
1.4 Manfaat
Agar mengetahui fungsi hutan, bagian htan dan macam-macam hutan. Dan juga
mengetahui kondisi hutan di Indonesia dan factor apa saja yang menyebabkan terjadi dan apa
upaya masyarakat dan pemerintah untuk penanggulangannya.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Hutan
2.1.1. Pengertian Hutan
Hutan merupakan sebuah wilayah atau kawasan yang ditumbuhi aneka pepohonan dan
tumbuhan lainnya. Kawasan hutan tersebar luas di penjuru dunia, baik di daerah tropis maupun
daerah dengan iklim yang dingin di dataran rendah maupun di pegunungan, di pulau kecil maupun
di benua besar.
Hutan sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa kayu,
tetapi masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat melalui
budidaya tanaman pertanian pada lahan hutan. Sebagai fungsi ekosistem hutan sangat berperan
dalam berbagai hal seperti penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan
fauna, dan peran penyeimbang lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global. Sebagai
fungsi penyedia air bagi kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat penting, hal
ini dikarenakan hutan adalah tempat bertumbuhnya berjuta tanaman.
Sebagai bagian dari cagar lapisan biosfer, hutan memiliki banyak fungsi yang sangat
bermanfaat bagi kehidupan makhluk di muka bumi. Tak hanya manusia, hewan dan tumbuhan pun
sangat memerlukan hutan untuk kelangsungan hidupnya. Kawasan yang ditumbuhi pepohonan
tersebut akan dikatakan hutan apabila kawasan ini mampu menciptakan sebuah iklim dan kondisi
yang khas di daerah itu. Sebagai contoh saat kita memasuki hutan tropis, maka kita akan merasa
memasuki daerah dengan suasana hangat dan lembab. Suasana ini tentu akan berbeda dengan
suasana di kawasan luar hutan tersebut.

2.1.2. Fungsi Hutan


Hutan bagi manusia mempunyai dua fungsi pokok, yaitu fungsi ekologis dan fungsi
ekonomis. yaitu sebagai berikut :
1. Sebagai fungsi ekologis
Allah menciptakan hutan bukan sekedar melengkapi keindahan bumi-Nya, namun di sini lah kita
akan menemukan fungsi hutan yang sangat penting bagi kehidupan makhluk di muka bumi. Ada
beberapa fungsi hutan yang sangat vital bagi kehidupan makhluk di bumi, diantaranya adalah
sebagai berikut

a. Menghasilkan Oksigen bagi Kehidupan dan Menyerap Karbon Dioksida


Hutan menghisap karbon dari udara dan mengembalikan oksigen (O2) kepada manusia. Hutan
adalah kumpulan pepohonan yang berperan sebagai produsen oksigen. Tumbuhan hijau akan
menghasilkan oksigen dari hasil proses fotosintesis yang berlangsung di daun tumbuhan tersebut.
Dengan jumlah pepohonan yang cukup luas, tentunya hutan akan memberikan suplay kebutuhan
oksigen yang cukup besar bagi kehidupan di muka bumi ini.
Bisa dibayangkan bagaimana bumi ini tanpa hutan. Sebagai contoh saat kita berada di kawasan
padang tandus yang tidak ditumbuhi pepohonan hijau. Bandingkan ketika kita bisa berteduh di
bawah sebuah pohon yang rindang. Tentu akan terasa jelas perbedaan suasana yang kita rasakan.
Begitulah fungsi hutan sebagai penyedia oksigen kehidupan.
Selain itu, karbon dioksida (CO2) dibutuhkan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Sebuah
keseimbangan alam yang luar biasa telah Allah ciptakan untuk kehidupan manusia. Karbon
dioksida adalah gas berbahaya apabila dihirup secara berlebih oleh manusia. Sebagai contoh Anda
menghirup asap kendaraan bermotor, ini jelas akan sangat membahayakan manusia.
Namun ternyata di sisi lain tumbuhan memerlukan gas tersebut untuk menghasilkan oksigen
yang sangat dibutuhkan makhluk bumi. Keberadaan hutan yang luas di muka bumi, akan
memberikan peluang penyerapan karbon dioksida yang lebih besar. Akibatnya udara di muka bumi
akan bersih dan jumlah oksigen yang dihasilkan hutan pun akan semakin besar.

b. Penahan dan Penyaring Partikel Padat dari Udara


Udara alami yang bersih sering dikotori oleh debu, baik yang dihasilkan oleh kegiatan alami
maupun kegiatan manusia. Dengan adanya hutan, partikel padat yang tersuspensi pada lapisan
biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk pohon melalui proses jerapan dan serapan. Partikel
yang melayang-layang di permukaan bumi sebagian akan terjerap pada permukaan daun,
khususnya daun yang berbulu dan yang mempunyai permukaan yang kasar dan sebagian lagi
terserap masuk ke dalam ruang stomata daun. Ada juga partikel yang menempel pada kulit pohon,
cabang dan ranting. Dengan demikian hutan menyaring udara menjadi lebih bersih dan sehat.
c. Peredam Kebisingan
Pohon dapat meredam suara dan menyerap kebisingan sampai 95% dengan cara mengabsorpsi
gelombang suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan yang paling efektif untuk
meredam suara ialah yang mempunyai tajuk yang tebal dengan daun yang rindang. Berbagai jenis
tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi akan dapat mengurangi kebisingan,
khususnya dari kebisingan yang sumbernya berasal dari bawah.

d. Penyerap Partikel Timbal dan Debu Semen


Kendaraan bermotor merupakan sumber utama timbal yang mencemari udara di daerah
perkotaan. Diperkirakan sekitar 60-70% dari partikel timbal di udara perkotaan berasal dari
kendaraan bermotor. Hutan dengan kanekaragaman tumbuhan yang terkandung di dalamnya
mempunyai kemampuan menurunkan kandungan timbal dari udara.

e. Mencegah Erosi
Keberadaan kawasan hutan yang luas juga akan membantu mencegah erosi atau pengikisan
tanah. Pengikisan tanah dapat disebabkan oleh air. Hutan yang luas akan menyerap dan
menampung sejumlah air yang besar. Akibatnya banjir dan tanah longsor dapat dikembalikan.
Kawasan yang tandus dan gersang biasanya akan rawan dengan bencana longsor. Inilah fungsi
hutan yang lain dan kerap kita lupakan. Para penebang hutan secara liar melakukan penggundulan
hutan tanpa rasa tanggung jawab terhadap keselamatan bumi. Mereka sebenarnya tak hanya
berkhianat kepada banyak orang, tapi juga kepada bumi sebagai tempat tinggal mereka.

f. Mengatasi Intrusi Air Laut dan Abrasi


Kota-kota yang terletak di tepi pantai seperti DKI Jakarta pada beberapa tahun terakhir ini dihantui
oleh intrusi air laut. Pemilihan jenis tanaman dalam pembangunan hutan kota pada kota yang
mempunyai masalah intrusi air laut harus betul-betul diperhatikan. Upaya untuk mengatasi
masalah ini yakni membangun hutan lindung kota pada daerah resapan air dengan tanaman yang
mempunyai daya evapotranspirasi yang rendah.
Hutan berupa formasi hutan mangrove dapat bekerja meredam gempuran ombak dan dapat
membantu proses pengendapan lumpur di pantai. Dengan demikian hutan selain dapat mengurangi
bahaya abrasi pantai, juga dapat berperan dalam proses pembentukan daratan.
g. Penyerap dan Penapis Bau
Daerah yang merupakan tempat penimbunan sampah sementara atau permanen mempunyai bau
yang tidak sedap. Tanaman dapat menyerap bau secara langsung, atau tanaman akan menahan
gerakan angin yang bergerak dari sumber bau.

h. Kawasan Lindung dan Pariwisata


Hutan juga berfungsi sebagai tempat untuk melindungi aneka hewan dan tumbuhan langka. Habitat
mereka dilestarikan di kawasan hutan khusus. Di samping itu hutan juga dapat berfungsi sebagai
objek penelitian, tempat wisata dan berpetualang.
2. Sebagai fungsi ekonomis
Manusia telah memanfaatkan hutan dari generasi ke generasi. Pemanfaatan yang dikenal
manusia dari hutan adalah pengambilan hasil hutan, terutama kayu. Kayu tersebut dapat dijual
secara langsung ataupun diproduksi menjadi barang lain, seperti alat furnitur. Pengambilan mulai
dari kayu ramin, meranti, ulin sampai dengan kayu bakar dimanfaatkan manusia baik untuk
keperluan sendiri ataupun sebagai penghasil devisa negara. Bahkan bagi masyarakat tertentu hutan
adalah seluruh kehidupannya sebagai tempat tinggal dan tempat mencari nafkah

2.1.3. Bagian-bagian hutan


Bayangkan mengiris sebuah hutan secara melintang. Hutan seakan-akan terdiri dari tiga
bagian, yaitu bagian di atas tanah, bagian di permukaan tanah, dan bagian di bawah tanah. Jika
kita menelusuri bagian di atas tanah hutan, maka akan terlihat tajuk (mahkota) pepohonan, batang
kekayuan, dan tumbuhan bawah seperti perdu dan semak belukar. Di hutan alam, tajuk pepohonan
biasanya tampak berlapis karena ada berbagai jenis pohon yang mulai tumbuh pada saat yang
berlainan.
Di bagian permukaan tanah, tampaklah berbagai macam semak belukar, rerumputan, dan
serasah. Serasah disebut pula 'lantai hutan', meskipun lebih mirip dengan permadani. Serasah
adalah guguran segala batang, cabang, daun, ranting, bunga, dan buah. Serasah memiliki peran
penting karena merupakan sumber humus, yaitu lapisan tanah teratas yang subur. Serasah juga
menjadi rumah dari serangga dan berbagai mikro organisme lain. Uniknya, para penghuni justru
memakan serasah, rumah mereka itu; menghancurkannya dengan bantuan air dan suhu udara
sehingga tanah humus terbentuk.
Di bawah lantai hutan, kita dapat melihat akar semua tetumbuhan, baik besar maupun kecil,
dalam berbagai bentuk. Sampai kedalaman tertentu, kita juga dapat menemukan tempat tinggal
beberapa jenis binatang, seperti serangga, ular, kelinci, dan binatang pengerat lain.

2.1.4. Macam-macam Hutan


Ada berbagai jenis hutan. Pembedaan jenis-jenis hutan ini pun bermacam-macam pula.
Jenis-jenis hutan di Indonesia
a. Berdasarkan tujuan pengelolaannya:
1) Hutan produksi, yang dikelola untuk menghasilkan kayu ataupun hasil hutan bukan kayu
(non-timber forest product)
2) Hutan lindung, dikelola untuk melindungi tanah dan tata air
Taman Nasional
3) Hutan suaka alam, dikelola untuk melindungi kekayaan keanekaragaman hayati atau
keindahan alam.
 Cagar alam
 Suaka alam
4) Hutan konversi, yakni hutan yang dicadangkan untuk penggunaan lain, dapat dikonversi
untuk pengelolaan non-kehutanan

b. Berdasarkan iklim
Berdasarkan perbedaan iklim ini, Indonesia memiliki hutan gambut, hutan hujan tropis, dan hutan
muson.
 Daerah tipe iklim A (sangat basah) yang puncak musim hujannya jatuh antara Oktober dan Januari,
kadang hingga Februari. Daerah ini mencakup Pulau Sumatera; Kalimantan; bagian barat dan
tengah Pulau Jawa; sisi barat Pulau Sulawesi
 Daerah tipe iklim B (basah) yang puncak musim hujannya jatuh antara Mei dan Juli, serta Agustus
atau September sebagai bulan terkering. Daerah ini mencakup bagian timur Pulau Sulawesi;
Maluku; sebagian besar Papua.
 Daerah tipe iklim C (agak kering) yang lebih sedikit jumlah curah hujannya, sedangkan bulan
terkeringnya lebih panjang. Daerah ini mencakup Jawa Timur; sebagian Pulau Madura; Pulau Bali;
Nusa Tenggara; bagian paling ujung selatan Papua.
1) Hutan gambut ada di daerah tipe iklim A atau B, yaitu di pantai timur Sumatera,
sepanjang pantai dan sungai besar Kalimantan, dan sebagian besar pantai selatan Papua.
2) Hutan hujan tropis adalah hutan lebat / hutan rimba belantara yang tumbuh di sekitar
garis khatulistiwa / ukuator yang memiliki curah turun hujan yang sangat tinggi. Hutan jenis yang
satu ini memiliki tingkat kelembapan yang tinggi, bertanah subur, humus tinggi dan basah serta
sulit untuk dimasuki oleh manusia.
3) Hutan muson tumbuh di daerah tipe iklim C atau D. Spesies pohon di hutan ini seperti
jati (Tectona grandis), walikukun (Actinophora fragrans), ekaliptus (Eucalyptus alba), cendana
(Santalum album), dan kayuputih (Melaleuca leucadendron).

c. Berdasarkan sifat tanahnya


Berdasarkan sifat tanah, jenis hutan di Indonesia mencakup hutan pantai, hutan mangrove, dan
hutan rawa.
 Hutan pantai terdapat sepanjang pantai yang kering, berpasir, dan tidak landai, seperti di pantai
selatan Jawa. Spesies pohonnya seperti ketapang (Terminalia catappa), waru (Hibiscus tiliaceus),
cemara laut (Casuarina equisetifolia), dan pandan (Pandanus tectorius).
 Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di daerah pantai berlumpur. Hutan mangrove
Indonesia mencapai 776.000 ha dan tersebar di sepanjang pantai utara Jawa, pantai timur
Sumatera, sepanjang pantai Kalimantan, dan pantai selatan Papua. Jenis-jenis pohon utamanya
berasal dari genus Avicennia, Sonneratia, dan Rhizopheria
 Hutan rawa adalah hutan yang berada di daerah berawa dengan tumbuhan nipah tumbuh di hutan
rawa. Hutan ini terdapat di hampir semua pulau, terutama Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Spesies pohon rawa misalnya adalah nyatoh (Palaquium leiocarpum), kempas (Koompassia spp),
dan ramin (Gonystylus spp).

d. Berdasarkan fungsinya, yaitu :


1. Hutan Wisata adalah hutan yang digunakan untuk rekreasi oleh masyarakat umum.
2. Hutan Cadangan adalah hutan yang menyediakan berbagai plasma nutfah berupa flora dan
fauna yang merupakan kekayaan alam Indonesia untuk menjadi pelestarian beberapa spesies yang
tergolong langka agar habitatnya tetap tersedia di dunia.
3. Hutan Lindung adalah hutan yang difungsikan sebagai penjaga ketaraturan air dalam tanah
(fungsi hidrolisis), menjaga tanah agar tidak terjadi erosi serta untuk mengatur iklim (fungsi
klimatologis) sebagai penanggulang pencematan udara seperti C02 (karbon dioksida) dan C0
(karbon monoksida). Hutan lindung sangat dilindungi dari perusakan penebangan hutan
membabibuta yang umumnya terdapat di sekitar lereng dan bibir pantai.
4. Hutan Produksi / Hutan Industri yaitu adalah hutan yang dapat dikelola untuk
menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi. Hutan produksi dapat dikategorikan menjadi dua
golongan yakni hutan rimba dan hutan budidaya. Hutan rimba adalah hutan yang alami sedangkan
hutan budidaya adalah hutan yang sengaja dikelola manusia yang biasanya terdiri dari satu jenis
tanaman saja. Hutan rimba yang diusahakan manusia harus menebang pohon denga sistem tebang
pilih dengan memilih pohon yang cukup umur dan ukuran saja agar yang masih kecil tidak ikut
rusak.

2.2. Ancaman Kerusakan Hutan


2.2.1. Kondisi Hutan Kita Saat Ini
Keberadaan aspek legal yang mendukung aktivitas budidaya untuk kawasan perhutanan
menjadi bagian dari kondisi hutan kita saat ini. Bentuk peruntukan kawasan hutan dengan alih
fungsi lahan menjadi wilayah pertambangan (budidaya) atau hutan produksi menyebabkan
kerusakan hutan menjadi hal biasa dan terjadi begitu saja.
Aktivitas seperti penambangan di Hutan dapat menyebabkan kerusakan permanen. Aktivitas
penambangan dapat menimbulkan dampak yang besar, tidak hanya pada kawasan penambangan
tapi juga wilayah disekitarnya, termasuk wilayah hilir dan pesisir dimana limbah penambangan
dialirkan. Tidak hanya itu, sisa-sisa hasil penambangan dapat merusak ekosistem di dalam hutan
dan merusak keseimbangan alam. Selain penambangan, hutan kita saat ini juga dihiasi dengan
aktivitas illegal logging yang masih terus berlangsung disejumlah tempat di Indonesia.
Penangkapan ribuan log kayu di Kalimantan Barat dan di Riau baru-baru ini makin memperjelas
status kehutanan Indonesia yang lebih besar pasak dari pada tiang.
2.2.2. Faktor penyebab deforestasi di Indonesia
1) Hak Penguasaan Hutan
Lebih dari setengah kawasan hutan Indonesia dialokasikan untuk produksi kayu berdasarkan
sistem tebang pilih. Banyak perusahaan HPH yang melanggar pola-pola tradisional hak
kepemilikan atau hak penggunaan lahan. Kurangnya pengawasan dan akuntabilitas perusahaan
berarti pengawasan terhadap pengelolaan hutan sangat lemah dan, lama kelamaan, banyak hutan
produksi yang telah dieksploitasi secara berlebihan.
2) Hutan tanaman industri
Hutan tanaman industri telah dipromosikan secara besar-besaran dan diberi subsidi sebagai
suatu cara untuk menyediakan pasokan kayu bagi industri pulp yang berkembang pesat di
Indonesia, tetapi cara ini mendatangkan tekanan terhadap hutan alam.
3) Perkebunan
Lonjakan pembangunan perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit, merupakan penyebab
lain dari deforestasi. Dan hubungan yang korup berkembang, dimana para pengusaha mengajukan
permohonan izin membangun perkebunan, menebang habis hutan dan menggunakan kayu yang
dihasilkan utamanya untuk pembuatan pulp, kemudian pindah lagi, sementara lahan yang sudah
dibuka ditelantarkan.

4) llegal logging
Illegal logging adalah merupakan praktek langsung pada penebangan pohon di kawasan hutan
negara secara illegal. Dilihat dari jenis kegiatannya, ruang lingkup illegal logging terdiri dari :
 Rencana penebangan, meliputi semua atau sebagian kegiatan dari pembukaan akses ke dalam
hutan negara, membawa alat-alat sarana dan prasarana untuk melakukan penebangan pohon
dengan tujuan eksploitasi kayu secara illegal.
 Penebangan pohon dalam makna sesunguhnya untuk tujuan eksploitasi kayu secara illegal.

5) Kebakaran Hutan
Pembakaran secara sengaja oleh pemilik perkebunan skala besar untuk membuka lahan, dan
oleh masyarakat lokal untuk memprotes perkebunan atau kegiatan operasi HPH mengakibatkan
kebakaran besar yang tidak terkendali, yang luas dan intensitasnyan belum pernah terjadi
sebelumnya. Sebagian dari lahan ini tumbuh kembali menjadi semak belukar, sebagian digunakan
oleh para petani skala kecil, tetapi sedikit sekali usaha sistematis yang dilakukan untuk
memulihkan tutupan hutan atau mengembangkan pertanian yang produktif.
Selain penyebab di atas kerusakan hutan di Indonesia juga disebabkan oleh beberapa faktor
yaitu:
a) Kepentingan Ekonomi
Dalam mengelola hutan kepentingan ekonomi kelihatannya masih lebih dominan daripada
memikirkan kepentingan kelestarian ekologi. Akibatnya agenda yang berdimensi jangka panjang
yaitu kelestarian ekologi menjadi terabaikan. Ironisnya kegiatan-kegiatan ini sering dilakukan
dengan disertai oleh aktivitas-aktivitas illegal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar
atau kecil bahkan masyarakat yang akhirnya memperparah dan mempercepat terjadinya kerusakan
hutan.

b) Penegakan Hukum yang Lemah


Menteri Kehutanan Republik Indonesia menyebutkan bahwa lemahnya penegakan hukum di
Indonesia telah turut memperparah kerusakan hutan Indonesia.. Kejahatan seperti ini sering juga
melibatkan aparat pemerintahan yang berwenang dan seharusnya menjadi benteng pertahanan
untuk menjaga kelestarian hutan seperti polisi kehutanan dan dinas kehutanan. Keadaan ini sering
menimbulkan tidak adanya koordinasi yang maksimal baik diantara kepolisian, kejaksaan dan
pengadilan sehingga banyak kasus yang tidak dapat diungkap dan penegakan hukum menjadi
sangat lemah.
2.3. Dampak Kerusakan Hutan
Dampak dari Deforestasi hutan (kerusakan hutan) secara langsung adalah : memberikan
dampak yang signifikan bagi masyarakat dan lingkungan alam di Indonesia. Kegiatan penebangan
mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan yang pada akhirnya meningkatkan peristiwa
bencana alam.

Bencana yang dapat ditimbulkan jika terjadi perusakan hutan, antara lain:
1. Longsor
Tanah longsor sering terjadi di Indonesia, diakibatkan penggundulan hutan bertahun-tahun.
Longsor dipengaruhi oleh keberadaan hutan sangat signifikan. Artinya keberadaan hutan sangat
penting dalam mencegah longsor. Pengaruh hutan dalam mudah-tidaknya terjadi longsor ada dua
hal. Pertama, melalui penguapan air oleh hutan. Kedua, perakarannya mampu menahan tanah pada
tempatnya. Ketika tanaman hutan diganti dengan tanaman pertanian, maka tanah di daerah tersebut
menjadi rentan terhadap longsor. Bencana Tanah longsor terjadi disebabkan tak ada lagi unsur
yang menahan lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan.

2. Banjir dan kekeringan


Kalau sudah tanah gundul, hutan tidak lagi menyerap air, tidak ada pengikat air pada tanah.
Air hujan yang turun akan langsung mengalir menuju anak sungai sambil membawa kikisan tanah
sehingga bisa mengakibatkan pendangkalan sungai. Banjir akan datang tanpa diundang..
Demikian sebaliknya karena tidak adanya penyerapan sehingga tidak ada tampungan air,
begitu kemarau datang yang terjadi sumber mata air mati, hulu sungai kering, pada akhirnya
terjadilah kekeringan. Jika Penggundulan Hutan dibiarkan terus berlangsung.

Upaya untuk mencegah potensi-potensi kerusakan hutan


a) Melakukan pembinaan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
pinggiran atau dalam kawasan hutan, sekaligus berupaya untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat tentang pentingnya fungsi hutan.
b) Melengkapi perangkat lunak berupa pedoman dan petunjuk teknis pencegahan dan
penanggulangan kebakaran hutan;
c) Melengkapi perangkat keras berupa peralatan pencegah dan pemadam kebakaran hutan.
d) Melakukan pelatihan pengendalian kebakaran hutan bagi aparat pemerintah, tenaga BUMN
dan perusahaan kehutanan serta masyarakat sekitar hutan.
e) Kampanye dan penyuluhan melalui berbagai Apel Siaga pengendalian kebakaran hutan.
f) Pemberian pembekalan kepada pengusaha (HPH, HTI, perkebunan dan Transmigrasi),
Kanwil Dephut, dan jajaran Pemda oleh Menteri Kehutanan dan Menteri Negara Lingkungan
Hidup.
g) Dalam setiap persetujuan pelepasan kawasan hutan bagi pembangunan non kehutanan,
selalu disyaratkan pembukaan hutan tanpa bakar.
h) Penebangan kayu di hutan dilaksanakan dengan terencana dengan sistem tebang pilih.
Artinya, pohon yang ditebang adalah pohon yang sudah tua dengan ukuran tertentu yang telah
ditentukan, dengan cara penebangan sedemikian rupa sehingga tidak merusak pohon-pohon muda
di sekitarnya.
i) Diberikan sanksi barang siapa yang mengambil hasil hutan dengan sengaja.
j) Hutan kita yang belum ada penjaga hutan harus diadakannya penjagaan agar tidak terjadi
pencurian.

Penanggulangan Kerusakan Hutan


1) Mobilitas semua sumberdaya (manusia, peralatan & dana) di semua tingkatan, baik di
jajaran Departemen Kehutanan maupun instansi lainnya, maupun perusahaan-perusahaan.
2) Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait di tingkat pusat melalui
PUSDALKARHUTNAS dan di tingkat daerah melalui PUSDALKARHUTDA Tk I dan SATLAK
kebakaran hutan dan lahan.
3) Melakukan reboisasi atau penanaman kembali hutan yang telah rusak.
4) Memberikan sanksi atau hukuman yang berat bagi mereka yang melakukan penebangan
liar.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Sebagai penutup tulisan ini dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut:
1. Hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak ternilai harganya karena didalamnya
terkandung keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah, sumber hasil hutan kayu dan
non-kayu, pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah, dan sebagainya.
Karena itu pemanfaatan dan perlindungannya diatur oleh Undang-undang dan peraturan
pemerintah.
2. Kebakaran dan penebangan liar merupakan salah satu bentuk gangguan terhadap
sumberdaya hutan dan akhir-akhir ini makin sering terjadi. Kebakaran dan penebangan hutan
menimbulkan kerugian yang sangat besar dan dampaknya sangat luas, bahkan melintasi batas
negara. Di sisi lain upaya pencegahan dan pengendalian yang dilakukan selama ini masih belum
memberikan hasil yang optimal. Oleh karena itu perlu perbaikan secara menyeluruh, terutama
yang terkait dengan kesejahteraan masyarakat pinggiran atau dalam kawasan hutan.
3. Berbagai upaya perbaikan yang perlu dilakukan antara lain dibidang penyuluhan kepada
masyarakat khususnya yang berkaitan dengan faktor-faktor penyebab kebakaran hutan,
peningkatan kemampuan aparatur pemerintah terutama dari Departemen Kehutanan, peningkatan
fasilitas untuk mencegah dan menanggulagi kebakaran hutan, dan penebangan liar ,pembenahan
bidang hukum dan penerapan sangsi secara tegas
4. Akibat penebangan hutan, 2100 mata air mengering dan akibat dari penebangan juga
mengakibatkan kerusakan sumber air (mata air) akan semakin cepat.

3.2. Saran
Bagi para pembaca makalah ini dan juga semua orang bahwa hutan merupakan sumber
kehidupan bagi manusia apabila hutan sudah tidak ada lagi maka kehidupan manusia akan berubah
dan kemiskinan akan terjadi. Maka dari itu menjaga kelestarian hutan jangan lah dianggap mudah.
Dan bagi para pecinta alam ,teruskanlah usaha penjagaan itu dengan sebaik-baiknya dan juga
tingkatkan kewaspadaan terhadap orang-orang yang mau merusaknya, cegah agar tidak terjadi
kerusakan dihutan kita ini.
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan [16/11/2015:19.00]
http://syadiashare.com/jenis-dan-fungsi-hutan.html [16/11/2015:19.10]
http://alamendah.wordpress.com/2010/03/09/kerusakan-hutan-deforestasi-di-indonesia
[30/11/2015:19.35]
http://forumteologi.com/blog/2007/05/27/kerusakan-hutan-di-indonesia [16/11/2015:20:15]
http://sixooninele.blogspot.com/2010/05/indonesia-alami-kerusakan-hutan-18-juta.html
[16/11/2015:15.30]
http://rivafauziah.wordpress.com/2010/03/14/dampak-penggundulan-hutan [16/11/2015:19.20]
http://www.anneahira.com/penyebab-kerusakan-hutan.htm [16/11/2015:19.20]