Anda di halaman 1dari 3

SUMBER CAHAYA

Veronika Aprilia

Rabu, 29 April 2015

Belum ada komentar

Di alam semesta ini ada dua macam sumber cahaya, yaitu sumber cahaya alami dan sumber
cahaya buatan. Sumber cahaya alami yang tidak pernah padam adalah matahari. Sedangkan
sumber cahaya buatan pada awalnya ditemukan nenek moyang kita dulu secara tidak sengaja.
Ketika melihat kilat menyambar sebatang pohon kemudian terbakar dan muncullah api. Atau
semak-semak yang tiba-tiba hangus terbakar karena panas dan menimbulkan api. Sejak itulah
manusia mengenal api dan memanfaatkannya sebagai penghangat tubuh, untuk memasak dan
sekaligus memberikan penerangan di malam hari. Api dapat diperoleh dengan cara
menggosok-gosokkan batu atau kayu kering. Bakaran kayu kering / fosil / rumput / bulu
binatang kemungkinan bisa dikatakan sebagai sumber cahaya buatan manusia yang pertama,
sehingga terbebas dari kegelapan malam atau rasa takut terhadap ancaman binatang buas
maupun rasa dingin di malam hari.

Pembakaran kayu dapat menimbulkan cahaya namun sebagai bentuk penerangan sangat
terbatas dan berbahaya karena sulit diatur. Munurut catatan sejarah dari hasil penggalian
situs kuno di Peking, China, sejak 400.000 tahun yang lalu api telah dinyalakan manusia di
gua-gua huniannya. Ditemukan juga pelita-pelita primitif di gua-gua di Lascaux, Perancis,
yang menurut para ahli ahli berumur 15.000 tahun. Pelita itu terbuat dari batu yang dilubangi
dan ada juga yang terbuat dari kerang atau tanduk binatang yang diberi sumbu dari
serabut-serabut tumbuhan dan diisi dengan lemak binatang.
Lampu buatan tangan manusia dengan bahan bakar minyak nabati antara lain minyak zaitun
dan lemak binatang muncul di Palestina 2.000 tahun SM. Kemudian di abad 7 SM di Yunani
mulai digunakan lampu gerabah yang mudah pembuatannya sehingga lebih murah dan
penggunaannya pun semakin luas. Dengan merekayasa tempat minyak lampu yang tadinya
terbuka menjadi tertutup, membuat pemakainya praktis / mudah dibawa dan
dipindah-pindahkan. Pada abad 4 M ditemukan lilin yang digunakan sebagai pencahayaan.
Lilin pada awalnya terbuat dari bahan yang dihasilkan oleh lebah madu atau dari sejenis
minyak kental. Pada tahun 1860 hingga kini kekuatan sinar lilin dijadikan patokan dasar
standar internasional pengukuran kekuatan cahaya (satuannya disebut candela) dari suatu
lampu. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan yang lebih baik mengenai proses
pembaharuan dan ditemukannya bahan bakar minyak dari perut bumi, sejak mulai abad ke-18
penggunaan lampu minyak mulai berkembang pesat. Lampu minyak dengan bahan bakar
minyak korosin dapat digunakan sebagai sumber cahaya secara aman (tidak mudah meledak)
dan murah, sehingga lampu-lampu lilin tidak terpakai lagi, kecuali untuk dekorasi atau
kepentingan khusus.
2. Sumber Cahaya dengan gas

Dengan penemuan gas bumi di Amerika Serikat dan Kanada menyebabkan turunnya harga
gas, sehingga pemakaian pencahayaan dengan gas menjadi semakin luas. Seorang ilmuwan
dari Inggris bernama William Murdock pada tahun 1820 berhasil membuat sumber cahaya
dari gas.

Semula menggunakan alat pembakar yang sederhana, dimana warna kuning daripada suluh
itu sendiri menjadi sumber cahaya. Namun pada tahun-tahun berikutnya diperoleh suatu
bentuk alat pembakar dengan memasukkan udara panas yang bisa diatur suhunya. Bahan
yang dibakar tersebut harus tahan bakar. Semakin panas suhunya semakin putih bahan
tersebut dan cahayanya bertambah semakin terang. Dalam penyempurnaannya bahan tahan
bakar tersebut dikembangkan pula Mantel Welsbach yang berbentuk silindris atau linier yang
direndam dalam garam thorium atau cerium. Lampu gas ini cukup baik untuk penerangan,
namun karena mengeluarkan aroma yang kurang sedap sering mengganggu kesehatan.

3. Lampu Busur

Lampu listrik yang pertama kali dibuat adalah berupa lampu busur. Lampu ini memanfaatkan
sebuah busur sebagai sumber cahaya. Busur tersebut terjadi antara dua buah elektroda yang dibuat
dari karbon. Lampu busur ini sangat cocok untuk penerangan jalan, karena mempunyai efisiensi
dan tingkat kehandalan yang tinggi, lagipula warna cahayanya menarik untuk dilihat. Bentuk busur
yang terjadi tergantung dari sumber tegangan listrik yang dipakai.