Anda di halaman 1dari 2

(STANDAR OPERASIONAL PELAKSANAAN)

SOP FOGGING
Beberapa dasar hukum pelaksanaan fogging antara lain :
1. Kepmenkes No.581/MENKES/SK/VII/1992 Tentang Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue
2. Kepmenkes No 92 Tahun 1994 Tentang Perubahan Atas Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan RI No
581/MENKES/SK/VII/1992 Tentang Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue
3. Kepmendagri No 31- VI Tahun 1994 Tentang Pembentukan Kelompok Kerja Operasional Pemberantasan Penyakit Demam
Berdarah Dengue (POKJANAL DBD) Tim Pembina LKMD Tingkat Pusat
Sebelum dilakukan tindakan fogging, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu:
A. PERSYARATAN ADMINISTRATIF
1. Terdapat penderita Positif DBD
2. Terdapat Kematian Akibat DBD
3. Harus dilaksanakan Penyelidikan Epidemiologi ( PE ) dengan memeriksa jentik dengan rdius 100 meter dari rumah penderita
( kurang lebih 20 rumah /bangunan secara acak )
4. Ditemukan lebih dari 3 orang tersangka DBD
5. Ditemukan Jentik > 5% atau ABJ < 95%
B. PERSYARATAN TEKNIS
1. Tersedianya Alat Mesin Fogg / ULV ( Ultra Low Volume )
2. Pelaksana Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten dan tenaga Lain yang telah dilatih
3. Lokasi meliputi seluruh wilayah terjangkit dengan radius 200 meter dari penderita
4. Sasaran Fogging rumah dan Tempat-tempat Umum
5. Dosis Insektisida sesuai dosis
6. Cara Fogging / ULV dilaksanakan 2 Siklus dengan Interval 1 minggu
7. Waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan Fogging untuk 1 Siklus kurang lebih 3 jam.
C. PENDERITA DBD
1. Penyelidikan Epidemiologi ( PE ), merupakan pencarian penderita atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik
dilokasi tempat tinggal penderita dan rumah bangunan lainnya dengan radius 100 m ( kurang lebih 20 rumah/bangunan secara
acak )
2. Ditemukan 1 atau lebih penderita DBD lainnya dan / atau > 3 orang tersangka DBD, dan ditemukan jentik ( > 5 % )
3. Hasil akhir pelaksanaan Fogging yang diterima oleh masyarakat berupa terbebasnya dari gigitan nyamuk dewasa penyebab
demam berdarah dengue sehingga mengurangi penularan DBD dan tidak meluas ke wilayah lainnya
D. KOMPETENSI PETUGAS FOGGING
1. Jumlah Petugas yang dibutuhkan pada pelaksanaan Fogging sedikitnya 5 Orang yang meliputi 1 orang Supervisor dan 4
orang petugas Fogging
2. Petugas pelaksana harus sudah mengikuti Pelatihan / on the job trining Operasional Mesin Fogg yang diselenggarakan oleh
Dinas Kesehatan Kabupaten / Propinsi
3. Klasifikasi Pendidikan Petugas Pelaksana Fogging minimal SD/Sederajat.
E. SARANA DAN PRASARANA FOGGING
1. 1 buah kendaraan roda 4 untuk mengangkut petugas, alat, bahan ke lokasi
2. 1 buah megaphone untuk menyampaikan pesan-pesan pada masyarakat
3. 1 set perlengkapan operasional yang terdiri dari : Baju lengan panjang ( katle pack ); Masker pelindung,; Topi lapangan;
Sarung tangan; Sepatu Lapangan
4. Insektisida untuk 2 siklus fogging
5. 1 Set bahan pembantu operasional yang terdiri dari : 3 Buah jerigen 20 lt untuk solar yang digunakan hari itu; 2 buah jerigen
5 lt untuk cadangan premium; 1 buah jrigen 2 lt untuk cadangn insektisida; 8 buah baterai untuk 2 unit mesin fogging; 2 buah
corong besar bersaring; 2 buah corong kecil bersaring; 4 lembar kain lap
Selain hal diatas, harus dicantumkan pula informasi fogging dan pelayanan pengaduan masyarakat. Juga ada kepastian jaminan
pelayanan misalnya jika fogging yang dilaksanakan tidak sesuai dengan standar akan dilakukan fogging ulang atau
pengembalian dana.
Kegiatan fogging focus ini bertujuan memutus rantai penularan dengan membunuh nyamuk dewasa yang sudah mengandung
virus dengue dengan radius ± 100 M dari rumah penderita. Tetapi kegiatan fogging ini bukan merupakan solusi utama untuk
pencegahan DBD selain itu fogging tersebut harus dilakukan oleh tenaga khusus dan terampil karena obat (insektisida) yang
digunakan mempunyai efek samping berbahaya bagi lingkungan dan orang yang melaksanakannya serta terjadinya resistensi
terhadap nyamuk itu sendiri.
Mengingat Untuk pencegahan yang paling efektif dapat dilakukan dengan memberantas tempat berkembang biak nyamuk
demam berdarah dengue dengan berperilaku hidup bersih dan sehat di keluarga dan dilingkungan tempat tinggal yaitu dengan
cara antara lain : Membersihkan lingkungan dan rumah masing-masing setiap hari, terutama tempat penampungan air sebagai
tempat berkembangbiak nyamuk demam berdarah dengue seperti bak mandi, drum, ban bekas, alas pot bunga, dispenser, tempat
minum burung dan lain-lain. Melaksanakan kerja bakti secara teratur (satu minggu sekali) dilingkungan masing-masing.
Melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan 4 M PLUS :
1. MENGURAS : Menguras dan menyikat dinding tempat penampungan air seperti : bak mandi dan drum.
2. MENUTUP : Menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti : drum, tempayan dan lain-lain.
3. MENGUBUR : Mengubur atau menimbun barang-barang bekas serta mengumpulkan barang-barang bekas yang dapat
menampung air dan dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS).
4. MEMANTAU : Memantau dan memeriksa tempat-tempat penampungan air sebagai tempat berkembangbiak nyamuk aedes
aegpty seperti bak mandi, drum, ban bekas, alas pot bunga, dispenser, tempat minum burung dan lain-lain.
5. PLUS CARA LAIN : Mengganti air vas bunga seminggu sekali, mengeringkan air di alas pot bunga, memperbaiki saluran air
dan talang air yang tidak lancar/rusak serta memasang kawat kasa atau menggunakan obat anti nyamuk serta menggunakan
kelambu untuk menghindari dari gigitan nyamuk.
Peran serta masyarakat dan pihak terkait sangat diperlukan dalam melakukan pencegahan DBD melalui PSN ( Pemberantasan
Sarang Nyamuk ) tersebut.
LANGKAH-LANGKAH PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI DBD (PE DBD) DAN KRITERIA FOKUS
Dalam upaya kewaspadaan dini dan respon kejadian penyakit DBD tentunya perlu dilakukan Penyelidikan Epidemiologi DBD
yang bertujuan untuk mengetahui potensi penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut serta tindakan penanggulangan yang
perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat tinggal penderita. Setelah menemukan/menerima laporan adanya penderita DBD,
petugas Puskesmas/Koordinator DBD segera mencatat dalam Buku Catatan Harian, Menyiapkan peralatan survei seperti
tensimeter, senter, formulir PE, dan surat tugas. Memberitahukan kepada Lurah/Kades dan Ketua RW/RT setempat bahwa di
wilayahnya ada tersangka/penderita DBD dan akan dilaksanakan PE.
Pelaksanaan PE Sebagai Berikut :
1. Petugas Puskesmas memperkenalkan diri dan selanjutnya melakukan wawancara dengan keluarga, untuk mengetahui ada
tidaknya penderita infeksi dengue lainnya (sudah ada konfirmasi dari RS atau unit yankes lainnya), dan penderita demam saat
itu dalam kurun waktu 1 minggu sebelumnya.
2. Bila ditemukan penderita demam tanpa sebab yang jelas, dilakukan pemeriksaan kulit (petekie), dan uji torniquet untuk
mencari kemungkinan adanya suspek infeksi dengue.
3. Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat penampungan air (TPA) dan tempat-tempat lain yang dapat menjadi tempat
perkembangbiakan nyamuk aedes baik di dalam maupun di luar rumah/bangunan.
4. Kegiatan PE dilakukan dalam radius 100 meter dari lokasi tempat tinggal penderita.
5. Bila penderita adalah siswa sekolah dan pekerja, maka selain dilakukan di rumah penderita tersebut, PE juga dilakukan di
sekolah/tempat kerja penderita.
6. terhadap penderita suspek infeksi dengue dan pemeriksaan jentik dicatat dalam formulir PE Bila hasil PE positif (Ditemukan
1 atau lebih penderita infeksi dengue lainnya dan/atau >3 penderita suspek infeksi dengue, dan ditemukan jentik (>5%),
dilakukan penanggulangan fokus (fogging fokus, penyuluhan PSN 3M Plus dan larvasida selektif, sedangkan bila negatif
dilakukan PSN 3M Plus, larvasida selektif dan penyuluhan).