Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kepatuhan
1. Definisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pranoto, 2007), patuh
adalah suka menurut perintah, taat pada perintah, sedangkan
kepatuhan adalah perilaku sesuai aturan dan berdisiplin. Kepatuhan
(ketaatan) sebagai tingkat penderita melaksanakan cara pengobatan
dan perilaku yang disarankan oleh dokter atau orang lain (Slamet B,
2007). Kepatuhan juga dapat didefinisikan sebagai perilaku positif
penderita dalam mencapai tujuan terapi (Degresi, 2005).
Kepatuhan adalah istilah yang dipakai untuk menjelaskan
ketaatan atau pasrah pada tujuan yang telah ditentukan. Definisi
seperti itu memiliki sifat yang manipulative atau otoriter, karena
penyelenggara kesehatan atau pendidik dianggap sebagai tokoh yang
berwenang dan konsumen atau peserta didik dianggap bersikap
patuh (Bastable, 2009).
Kepatuhan adalah tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap
instruksi atau petunjuk yang diberikan dalam bentuk terapi apapun
yang ditentukan, baik diit, latihan, pengobatan atau menepati janji
pertemuan dengan dokter kepada pasien dengan penyakit ginjal
kronis (Stanley, 2007).
Kepatuhan merupakan suatu perubahan perilaku dari perilaku
yang tidak mentaati peraturan ke perilaku yang mentaati peraturan
(Green, 1997 dalam Notoatmodjo, 2007).

2. Faktor-faktor kepatuhan
Menurut Kozier (2010), faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah
sebagai berikut:
a. Motivasi klien untuk sembuh
b. Tingkat perubahan gaya hidup yang dibutuhkan
c. Persepsi keparahan masalah kesehatan
d. Nilai upaya mengurangi ancaman penyakit
e. Kesulitan memahami dan melakukan perilaku khusus
f. Tingkat gangguan penyakit atau rangkaian terapi
g. Keyakinan bahwa terapi yang diprogramkan akan membantu atau
tidak membantu
h. Kerumitan, efek samping yang diajukan
i. Tingkat kepuasan dan kualitas serta jenis hubungan dengan
penyediaan layanan kesehatan

3. Faktor-faktor mempengaruhi ketidakpatuhan


Menurut Neil Niven (2009) ada beberapa yang mempengaruhi
ketidakpatuhan dapat digolongkan menjadi empat bagian:
a. Pemahaman tentang instruksi
Tidak seorang pun dapat mematuhi instruksi jika ia salah paham
tentang instruksi yang diberikan padanya. Spelman dalam Neil (2009)
menemukan bahwa lebih dari 60% pasien yang diwawancarai setelah
bertemu dengan dokter salah mengerti tentang instruksi yang
diberikan. Hal ini disebabkan oleh kegagalan professional kesehatan
dalam memberikan informasi yang lengkap, penggunaan istilah-istilah
medis dan memberikan banyak instruksi yang harus diingat oleh
pasien.
b. Kualitas Interaksi
Kualitas interaksi antara professional kesehatan dan pasien
merupakan bagian yang penting dalam menentukan derajat
kepatuhan. Korsch & Negrete dalam Neil (2009), mengamati 800
kunjungan orangtua dan anak-anaknya ke rumah sakit anak di Los
Angeles. Konsultasi yang pendek akan menjadi produktif jika
diberikan perhatian untuk meningkatkan kualitas interaksi.
c. Isolasi social dan keluarga
Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam
menentukan keyakinan dan nilai kesehatan individu serta dapat juga
menentukan tentang program pengobatan yang dapat mereka terima.
Pratt dalam Neil (2012) telah memperhatikan bahwa peran keluarga
pengembangan kebiasaan kesehatan dan pengajaran terhadap anak-
anak mereka. Keluarga juga memberikan dukungan dan membuat
keputusan mengenai perawatan dari anggota keluarga yang sakit.
d. Keyakinan dan Sikap
Becker dalam Neil (2012) telah membuat suatu usulan bahwa model
keyakinan kesehatan berguna untuk memperkirakan adanya
ketidakpatuhan. Mereka menggambarkan kegunaan model tersebut
dalam suatu penelitian bersama Hartman dan Becker yang
memperkirakan ketidakpatuhan terhadap ketentuan untuk pasien
hemodialisa kronis.

B. Hemodialisa
1. Definisi
Hemodialisis adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi
pengganti fungsi ginjal untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme
atau racun tertentu dari peredaran darah manusia seperti air, natrium,
kalium, hydrogen, urea, kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain melalui
membrane semi permeable sebagai pemisah darah dan cairan
dialisat pada ginjal buatan di mana terjadi proses difusi, osmosis dan
ultrafiltrasi. Dialisis bisa digunakan sebagai pengobatan jangka
panjang untuk GGK atau sebagai pengobatan sementara sebelum
penderita menjalani pencangkokan ginjal. Adapun pada GGA, dialisis
dilakukan hanya selama beberapa hari atau beberapa minggu,
sampai fungsi ginjal kembali normal (Haryono, 2013).
Hemodialisis (HD) adalah terapi yang paling sering dilakukan oleh
pasien penyakit ginjal kronik di seluruh dunia (Son, et al, 2009).
Hemodialisis adalah suatu prosedur dimana darah dikeluarkan dari
tubuh penderita dan beredar dalam sebuah mesin di luar tubuh yang
disebut dialiser. Frekuensi tindakan hemodialysis bervariasi
tergantung berapa banyaknya fungsi ginjal yang tersisa, rata-rata
penderita menjalani hemodialysis dua kali dalam seminggu,
sedangkan lama pelaksanaan hemodialysis paling sedikit tiga sampai
empat jam tiap sekali tindakan terapi (Melo, Ribeiro & Costa, 2015).
Hemodialisa merupakan suatu membrane atau selaput semi
permiabel. Membrane ini dapat dilalui oleh air dan zat tertentu atau
zat sampah. Proses ini disebut dialysis yaitu proses berpindahnya air
atau zat, bahan melalui membrane semi permiabel. Terapi
hemodialisa merupakan teknologi tinggi sebagai terapi pengganti
untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolism atau racun tertentu dari
peredaran darah manusia seperti air, natrium, kalium, hidrogen, urea,
kreatinin, asam urat dan zat-zat lain melalui membrane semi
permiabel sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada ginjal
buatan dimana terjadi proses difusi, osmosis dan ultradiltrasi (Brunner
& Suddarth, 2001).
Pada hemodialisis, darah adalah salah satu kompartemen dan
dialisat adalah bagian yang lain. Membrane semipermeable adalah
lembar tipis, berpori-pori terbuat dari selulosa atau bahan sintetik.
Ukuran pori-pori membrane memungkinkan difusi zat dengan berat
molekul rendah seperti urea, kreatinin dan asam urat berdifusi.
Molekul air juga sangat kecil dan bergerak bebas melalui membrane,
tetapi kebanyakan protein plasma, bakteri dan sel-sel darah terlalu
besar untuk melewati pori-pori membrane.
Kenyataan bahwa pasien GGK yang tidak bisa lepas dari
hemodialisis menimbulkan gejala-gejala depresi yang nyata pada
pasien GGK sampai dengan tindakan bunuh diri. Selain tindakan
nyata dalam melakukan tindakan bunuh diri, sebenarnya penolakan
terhadap terapi hemodialisis yang terjadwal dan ketidakpatuhan
terhadap diet rendah potassium adalah salah satu hal yang bisa
dianggap sebagai upaya halus untuk bunuh diri (Kompasiana, 2012).
Hemodialisis yang dilakukan oleh pasien dapat mempertahankan
kelangsungan hidup sekaligus akan merubah pola hidup pasien
(Ignatavicus & Workman, 2009). Pasien yang menjalani hemodialisis
mengalami berbagai masalah yang timbul akibat tidak berfungsinya
ginjal. Hal ini menjadi stressor fisik yang berpengaruh pada berbagai
dimensi kehidupan pasien yang meliputi biologi, psikologi, social,
spiritual (biopsikososial). Kelemahan fisik yang dirasakan seperti
mual, muntah, nyeri, lemah otot dan edema merupakan sebagian dari
menifestasi klinik dari pasien yang menjalani hemodialysis (Arif &
Kumala, 2011).
Proses hemodialisis yang terjadi didalam membrane semi
permiabel terbagi menjadi tiga proses yaitu osmosis, difusi dan
ultrafiltrasi (Curtis & Roshto, 2008). Osmosis adalah proses
perpindahan zat terlarut dari bagian yang berkonsentrasi rendah
kearah konsentrasi yang lebih tinggi. Difusi adalah proses
perpindahan zat terlarut dari konsentrasi tinggi kearah konsentrasi
yang rendah. Sedangkan ultrafiltasi adalah perpindahan cairan karena
ada tekanan dalam membrane dialyzer yaitu dari tekanan tinggi
kearah yang lebih rendah (Curtis & Roshto, 2008).

2. Tujuan hemodialisa
Hemodialisis tidak mengatasi gangguan kardiovaskuler dan
endokrin pada penderita penyakit ginjal kronis. Tindakan hemodialisis
bertujuan untuk membersihkan nitrogen sebagai sampah hasil
metabolisme, membuang kelebihan cairan, mengoreksi elektrolit dan
memperbaiki gangguan keseimbangan basa pada penderita penyakit
ginjal kronis (Levy, Morgan & Brown, 2004). Tujuan utama tindakan
hemodilisis adalah mengembalikan keseimbangan cairan intraseluler
dan ekstraseluler yang terganggu akibat dari fungsi ginjal yang rusak
(Himmelfarb & Ikizler, 2010).

3. Prinsip hemodialisa
Tindakan hemodialisis memiliki tiga prinsip yaitu: difusi, osmosis
dan ultrafiltrasi (Brunner & Suddart, 2010). Sisa akhir dari proses
metabolisme didalam darah dikeluarkan dengan cara berpindah dari
darah yang konsentrasinya tinggi ke dialisat yang mempunyai
konsentrasi rendah (Smeltzer et al, 2008). Ureum, kreatinin, asam
urat dan fosfat dapat berdifusi dengan mudah dari darah ke cairan
dialisat karena unsur-unsur yang tidak terdapat dalam dialisat.
Natrium asetat atau bicarbonate yang lebih tinggi konsentrasinya
dalam dialisat akan berdifusi kedalam darah. Kecepatan difusi solute
tergantung kepada koefisien difusi, luas permukaan membrane
dialiser dan perbedaan konsentrasi serta perbedaan tekanan
hidrostatik diantara membrane dialsis (Prince & Wilson, 2005).
Air yang berlebihan akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui
proses osmosis. Pengeluaran air dapat dikendalikan dengan
menciptakan gradient tekanan, dengan kala lain air bergerak dari
daerah dengan tekanan yang lebih tinggi (tubuh klien) ketekanan
yang lebih rendah (dialisat). Gradient ini dapat ditingkatkan melalui
penambahan tekanan-tekanan negatif yang dikenal dengan
ultrafiltrasi pada mesin hemodialisi. Tekanan negatif sebagai kekuatan
penghisap pada membrane dan memfasilitasi pengeluaran air
sehingga tercapainya keseimbangan (Brunner & Suddart, 2010).

4. Proses hemodialisa
Efektivitas hemodialysis dilakukan 2-3 kali dalam seminggu
selama 4-5 jam atau paling sedikit 10-12 jam perminggunya (Black &
Hawk, 2005). Sebelum dilakukan hemodialisis maka perawat harus
melakukan pengkajian pradialisa, dilanjutkan dengan
menghubungkan klien dengan mesin hemodialisis dengan memasang
blood line dan jarum ke akses vaskuler klien, yaitu akses untuk jalan
keluar darah ke dialiser dan akses masuk darah ke dalam tubuh.
Arterio Venous (AV) fistula adalah akses vaskuler yang
direkomendasikan karena kecenderungan lebih aman dan juga
nyaman bagi pasien (Brunner & Suddart, 2006).
Setelah blood line dan akses vaskuler terpasang, proses
hemodialisis dimulai. Saat dialysis darah dialirkan keluar tubuh dan
disaring didalam dialiser. Darah mulai mengalir dibantu pompa darah.
Cairan normal salin diletakkan sebelum pompa darah untuk
mengantisipasi adanya hipotensi intradialisis. Infuse heparin
diletakkan sebelum atau sesudah pompa tergantung peralatan yang
digunakan (Hudak & Gallo, 1999). Darah mengalir dari tubuh melalui
akses arterial menuju ke dialiser sehingga terjadi pertukaran darah
dan sisa zat. Darah harus dapat keluar masuk tubuh klien dengan
kecepatan 200-400 ml/menit (Price & Wilson, 2005).
Proses selanjutnya darah akan meninggalkan dialiser. Darah
meninggalkan dialiser akan melewati detector udara. Darah yang
sudah disaring kemudian dialirkan kembali kedalam tubuh melalui
akses venosa (Hudak & Gallo, 1999). Dialisis diakhiri dengan
menghentikan darah dari klien, membuka selang normal salin dan
membilas selang untuk mengembalikan darah pasien. Pada akhir
dialysis, sisa akhir metabolisme dikeluarkan, keseimbangan elektrolit
tercapai dan buffer sistem telah diperbaharui (Brunner & Suddart,
2010).

5. Komplikasi hemodialisa
Selama proses hemodialisa sering muncul komplikasi yang
berbeda-beda untuk setiap pasien. Menurut Brunner dan Suddart
(2010) salah satu komplikasi selama hemodialisis adalah hipertensi.
1) Intradialytic Hypotension (IDH): Intradialytic Hypotension adalah
tekanan darah rendah yang terjafi ketika proses hemodialisis sedang
berlangsung. IDH terjadi karena penyakit diabetes mellitus,
kardiomiopati, left ventricular hypertrophy (LVH), status gizi kurang
baik, albumin rendah, kandungan Na dialysate rendah, target
penarikan cairan atau target ultrafiltrasi yang terlalu tinggi, berat
badan sering terlalu rendah dan usia diatas 65 tahun. 2) Kram otot,
yang terjadi selama hemodialisis terjadi karena target ultrafiltrasi yang
tinggi dan kandungan Na dialysate yang rendah. 3) Mual dan muntah
Komplikasi mual dan muntah jarang berdiri sendiri, sering menyertai
hipotensi dan merupakan salah satu presentasi klinik disequilibrium
syndrome. Bila tidak disertai gambaran klinik lainnya harus dicurigai
penyakit hepar atau gastrointestinal. 4) Sakit kepala, penyebab tidak
jelas, tapi bisa berhubungan dengan dialisat acetat dan disequilibrium
syok syndrome (DSS). 5) Emboli udara, dalam proses hemodialisis
adalah masuknya udara kedalam pembuluh darah selama proses
hemodialisis. 6) Hipertensi keadaan selama proses hemodialisis bisa
diakibatkan karena kelebihan cairan, aktivasi sistem renin angiotensin
aldosterone, kelebihan natrium dan kalsium, karena arythropoietin
stimulating agents dan pengurangan obat anti hipertensi.
6. Transplantasi Ginjal
Transplantasi ginjal adalah suatu metoda terapi dengan cara
“memanfaatkan” sebuah ginjal sehat (yang diperoleh melalui proses
pendonoran) melalui prosedur pembedahan. Ginjal sehat dapat
berasal dari individu yang masih hidup (donor hidup) atau yang baru
saja meninggal (donor cadaver). Ginjal ‘cangkokan’ ini selanjutnya
akan mengambil alih fungsi kedua ginjal yang sudah rusak.
Prosedur bedah transplantasi ginjal biasanya membutuhkan waktu
antara 3 sampai 6 jam. Ginjal baru ditempatkan pada rongga perut
bagian bawah (dekat daerah panggul) agar terlindung oleh tulang
panggul. Pembuluh nadi (arteri) dan pembuluh darah balik (vena) dari
ginjal ‘baru’ ini dihubungkan ke arteri dan vena tubuh. Dengan
demikian, darah dapat dialirkan ke ginjal sehat ini untuk disaring.
Ureter (saluran kemih) ginjal baru dihubungkan ke kandung kemih
agar urin dapat dialirkan keluar (Haryono, 2013).
Kontraindikasi Pencangkokan Ginjal
Transplantasi ginjal tidak dapat dilakukan untuk semua kasus
penyakit ginjal kronik. Individu dengan kondisi seperti kanker, infeksi
serius atau penyakit kardiovaskular (pembuluh darah jantung) tidak
dianjurkan untuk menerima transplantasi ginjal karena kemungkinan
gagal yang cukup tinggi.

C. Depresi
1. Definisi
Depresi merupakan masalah psikologis yang banyak terjadi pada
lanjut usia. Masalah tersebut ditandai dengan perasaan sedih
mendalam yang berdampak pada gangguan interaksi social. Tidak
jarang gejala depresi juga berupa gangguan fisik seperti insomnia dan
berkurangnya nafsu makan. Depresi seringkali tidak terdeteksi pada
lanjut usia karena dianggap sebagai akibat dari proses penuaan dan
penyakit kronis yang dialami oleh lanjut usia. Padahal deteksi dini dan
penanganan yang tepat terhadap depresi dapat memperbaiki dan
meningkatkan kualitas hidup bagi usia lanjut (Dewi, 2014).
Menurut WHO (2013), depresi merupakan gangguan psikologis
terbesar ketiga yang diperkirakan terjadi pada 5% penduduk di dunia.
Penelitian yang dilakukan oleh Pracheth dkk (2013) di India,
memberikan hasil dari 218 lanjut usia yang diteliti, terdapat 64 orang
(29,36%) yang mengalami depresi. Di Indonesia, belum ada penelitian
yang menyebutkan secara pasti tentang jumlah prevalensi lanjut usia
yang mengalami depresi. Namun peningkatan jumlah penderita
depresi dapat diamati bertambah dari waktu ke waktu melalui
peningkatan jumlah kunjungan pasien yang berobat ke pelayanan
kesehatan maupun peningkatan obat psikofarmaka yang diresepkan
oleh dokter (Hawari, 2013).
Menurut seorang ilmuwan yang bernama Rice, P, L. (1992) dalam
Sabilla (2010), menurutnya depresi adalah gangguan mood, kondisi
emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental
(berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya
mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya
dan kehilangan harapan. Depresi ditandai dengan perasaan sedih
yang psikopatologis, kehilangan minat dan kegembiraan,
berkurangnya energi yang menuju kepada meningkatnya keadaan
mudah lelah yang sangat nyata sesudah bekerja sedikit saja, dan
berkurangnya aktivitas. Depresi merupakan satu masa terganggunya
fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan
gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu
makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus
asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri (Kaplan, 2010) (Manurung,
2016).

2. Gejala-gejala Depresi
Orang dengan gangguan depresi tidak selalu memiliki gejala yang
sama satu dengan yang lain. Frekuensi, durasi dan beratnya gejala
akan bervariasi tergantung pada masing-masing orang.
Gejala-gejala depresi antara lain (Manurung, 2016).
a. Perasaan sedih yang menetap, khawatir atau perasaan kosong
b. Perasaan putus asa dan atau pesimisme
c. Perasaan bersalah, perasaan tidak berharga dan atau putus asa
d. Cepat marah, tidak dapat istirahat
e. Insomnia, terjaga dipagi buta, atau tidur yang berlebihan
f. Pikiran untuk bunuh diri, usaha bunuh diri
g. Perasaan sakit yang menetap, sakit kepala, kram atau gangguan
pencernaan yang tidak mudah disembuhkan walaupun dengan
perawatan

3. Penyebab Depresi
Tidak ada alasan yang jelas penyebab dari depresi, disini ada
beberapa alasan mengapa sesorang mengalami depresi (Manurung,
2016).
a. Genetik (riwayat keluarga), jika seseorang memiliki riwayat keluarga
dengan depresi, orang tersebut beresiko mengalami depresi. Dilain
kasus, banyak juga orang yang mengalami gangguan depresi tanpa
memiliki riwayat keluarga dengan depresi.
b. Ketidakseimbangan bahan kimia, otak pada orang yang normal terlihat
berbeda disbanding dengan yang mengalami gangguan depresi. Hal itu
dikarenakan bagian dari otak yang mengatur suasana hati, pikiran,
tidur, keinginan dan perilaku tidak memiliki keseimbangan yang benar
terhadap bahan kimia.
c. Faktor hormonal, perubahan siklus menstruasi, melahirkan,
pembawaan, periode postpartum, perimenopouse dan menopause
merupakan penyebab depresi pada wanita.
d. Penyakit medis, menghadapi penyakit yang serius, seperti stroke,
serangan jantung atau kanker bisa memicu keadaan depresi.

4. Tahap depresi
a. Membantu pasien mengidentifikasi rasa bersalah dan takut dengan
cara:
1. Mengamati perilaku pasien dan bersama dengannya membahas
perasaannya.
2. Mencegah tindakan bunuh diri atau merusak diri sesuai derajat
risikonya.
b. Membantu pasien mengurangi rasa bersalah dengan cara:
1. Menghargai perasaan pasien.
2. Membantu pasien menemukan dukungan yang positif dengan
mengaitkan terhadap kenyataan.
3. Memberi kesempatan untuk menangis dan mengungkapkan
perasaanya.
4. Bersama pasien membahas pikiran negatif yang selalu timbul.

3. Derajat Depresi
Gangguan depresi dibedakan dalam depresi berat, sedang dan ringan
sesuai dengan banyak dan beratnya gejala serta dampaknya
terhadap fungsi kehidupan seseorang (Maslim, 2000).
Gejala Utama:
a. Perasaan depresif
b. Hilangnya minat dan semangat
c. Mudah lelah dan tenaga hilang
d. Konsentrasi dan perhatian menurun
e. Harga diri dan kepercayaan diri menurun
f. Perasaan bersalah dan tidak berguna
g. Pesimis terhadap masa depan
h. Gagasan membahayakan diri atau bunuh diri
i. Gangguan tidur
j. Gangguan nafsu makan
k. Menurunnya libido

Menurut A. Aziz, 2007:


a. Depresi ringan : 18-24
b. Depresi sedang : 25-34
c. Depresi berat : 35-51
D. Gagal Ginjal Kronis
1. Definisi
Ginjal adalah sepasang organ retroperineal yang integral dengan
homeostasis tubuh dalam mempertahankan keseimbangan, termasuk
keseimbangan fisika dan kimia. Ginjal menyekresi hormone dan
enzim yang membantu pengaturan produksi eritrosit, tekanan darah,
serta metabolisme kalsium dan fosfor. Ginjal membuang sisa
metabolisme dan menyesuaikan ekskresi air dan pelarut. Ginjal
mengatur volume cairan tubuh, asiditas dan elektrolit, sehingga
mempertahankan komposisi cairan yang normal (Prabowo, 2014).
Ginjal memiliki bentuk seperti biji kacang yang jumlahnya ada dua
buah yaitu di sebelah kiri dan kanan. Ginjal kiri memiliki ukuran lebih
besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki memiliki
ukuran yang lebih panjang dibandingkan dengan ginjal wanita.
Gagal ginjal kronik (GGK) atau penyakit renal tahap akhir dan
tidak dapat pulih ditandai dengan gangguan fungsi ginjal yang
progresif dan irreversible. Akibat dari penurunan fungsi ginjal
kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan
keseimbangan cairan dan elektrolit menyebabkan terjadinya uremia
serta mengarah pada kematian (Suzanne, 2002 dalam Padila, 2012).
Gagal Ginjal Kronik merupakan kondisi ketika pasien mengalami
kerusakan ginjal yang berlanjut sehingga memerlukan terapi
pengganti ginjal secara terus-menerus, kondisi penyakit pasien telah
masuk ke stadium akhir penyakit ginjal kronis, yang dikenal dengan
gagal ginjal tahap akhir (Smeltzer & Bare, 2010).
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah suatu keadaan klinis yang
ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversible. Akibat dari
penurunan atau kegagalan fungsi ginjal akan terjadi penumpukan zat-
zat toksik dalam tubuh. Kondisi ini memerlukan tindakan dialysis yang
bertujuan menggantikan fungsi ginjal sehingga memperbaiki kualitas
hidup pada penderita GGK (Sudoyo, 2007).
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESED)
merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible
dimana kemampuan tubuh gagal mempertahankan metabolisme dan
keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi
urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth,
2001)
Gagal ginjal kronis disebut juga sebagai Chronic Kidney Disease
(CKD). Perbedaan kata kronis disini dibanding dengan akut adalah
kronologis waktu dan tingkat fisiologis filtrasi. Berdasarkan Mc Clellan
(2006) dijelaskan bahwa gagal ginjal kronis merupakan kondisi
penyakit pada ginjal yang persisten (keberlangsungan > 3 bulan)
dengan :
1. Kerusakan ginjal; dan
2. Kerusakan Glomerular Filtration Rae (GFR) dengan angka GFR < 60
ml/menit/1.73 m2
Gagal ginjal kronis merupakan gagal ginjal akut yang sudah
berlangsung lama, sehingga mengakibatkan gangguan yang persisten
dan dampak yang bersifat kontinyu. Sedangkan National Kidney
Foundation (NKF) mendefinisikan dampak dari kerusakan ginjal
adalah sebagai kondisi mikroalbuminaria/over proteurinaria,
abnormalitas sedimentasi, dan abnormalitas gambaran ginjal. Oleh
karena itu, perlu diketahui klasifikasi daari derajat gagal ginjal kronis
untuk mengetahui tingkat prognosanya.

2. Etiologi
a. Infeksi saluran kemih (pielonefritis kronis)
b. Penyakit peradangan (glomerulonephritis) primer dan sekunder.
Glomerulonephritis adalah peradangan ginjal bilateral, biasanya
timbul pascainfeksi streptococcus. Untuk glomerulus akut, gangguan
fisiologis utamanya dapat mengakibatkan ekskresi air, natrium dan
zat-zat nitrogen berkurang sehingga timbul edema dan azotemia,
peningkatan aldosterone menyebabkan retensi air dan natrium. Untuk
glomerulonephritis kronik, ditandai dengan kerusakan glomerulus
secara progresif lambat, akan tampak ginjal mengkerut, berat lebih
kurang dengan permukaan bergranula. Ini disebabkan jumlah nefron
berkurang karena iskemia, karena tubulus mengalami atropi, fibrosis
intestrisial dan penebalan dinding arteri.
c. Penyakit vaskuler hipertensif (nefrosklerosis, stenosis arteri renalis).
Merupakan penyakit primer dan menyebabkan kerusakan pada ginjal.
Sebaliknya, GGK dapat menyebabkan hipertensi melalui mekanisme.
Retensi Na dan H2O pengaruh vasopressor dari system rennin,
angiotensin dan defisiensi prostaglandin; keadaan ini merupakan
salah satu penyebab utama GGK, terutama pada populasi bukan
orang kulit putih.
d. Gangguan jaringan penyambung (SLE, poliarteritis nodusa, sclerosis
sistemik).
e. Penyakit kongenital dan herediter (penyakit ginjal polikistik, asidosis
tubulus ginjal). Penyakit ginjal polikistik yang ditandai dengan kista
multiple, bilateral yang mengadakan ekspansi dan lambat laun
mengganggu dan menghancurkan parenkim ginjal normal akibat
penekanan. Asidosis tubulus ginjal merupakan gangguan ekskresi H+
dari tubulus ginjal/kehilangan HCO3 dalam kemih walaupun GFR
yang memadai tetap dipertahankan, akibatnya timbul asidosis
metabolic.
f. Penyakit metabolic (DM, gout, hiperparatiroidisme)
g. Nefropati toksik
h. Nefropati obstruktif (batu saluran kemih)

3. Patofisiologi
Pada waktu terjadi kegagalan ginjal, sebagian nefron (termasuk
glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak
(hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertropi dan
memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi
walaupun dalam keadaan penurunan GFR/daya saring. Metode
adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron-
nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar
daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotic disertai
poliuri dan haus. Selanjutnya, oleh karena jumlah nefron yang rusak
bertambah banyak, oliguria timbul disertai retensi produk sisa. Titik di
mana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan
muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal
telah hilang 80%-90%. Pada tingkat ini, fungsi renal yang demikian,
nilai kreatinin clearance turun sampai 15ml/ menit atau lebih rendah
itu. (Barbara C Long, 1996: 368).
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang
normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah.
Terjadi uremia dan memengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin
banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat.
Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. (Brunner & Suddarth,
2001: 1448). Perjalanan klinis gagal ginjal progresif dapat dibagi
menjadi 3 stadium yaitu :

Stadium I
Penurunan cadangan ginjal (faal ginjal antara 40%-75%). Tahap
inilah yang paling ringan; faal ginjal masih baik. Pada tahap ini
penderita belum merasakan gejala-gejala dan pemeriksaan
laboratorium faal ginjal masih dalam batas normal. Selama tahap ini
kreatinin serum dan kadar BUN (Blood Urea Nitrogen) dalam batas
normal dan penderita asimtomatik. Gangguan fungsi ginjal mungkin
hanya dapat diketahui dengan memberikan beban kerja yang berat,
seperti tes pemekatan kemih yang lama atau dengan mengadakan
test GFR yang teliti.

Stadium II
Insufiensi ginjal (faal ginjal antar 20%-50%). Pada tahap ini
penderita dapat melakukan tugas-tugas seperti biasa padahal daya
dan konsentrasi ginjal menurun. Pengobatan harus cepat dalam hal
mengatasi kekurangan cairan, kekurangan garam, gangguan jantung
dan pencegahan pemberian obat-obatan yang bersifat mengganggu
faal ginjal. Bila langkah-langkah ini dilakukan secepatnya dengan
tepat, dapat mencegah penederita masuk ke tahap yang lebih berat.
Pada tahap ini lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak.
Kadar BUN baru mulai meningkat di atas batas normal. Peningkatan
konsentrasi BUN ini berbeda-beda, tergantung dari kadar protein
dalam diet. Kadar kreatinin serum mulai meningkat melebihi kadar
normal.
Poliuria akibat gagal ginjal biasanya lebih besar pada penyakit
yang terutama menyerang tubulus meskipun poliuria bersifat sedang
dan jarang lebih dari 3 liter/hari. Biasanya ditemukan anemia pada
gagal ginjal dengan faal ginjal di antara 5%-25%. Faal ginjal jelas
sangat menurun dan timbul gejala-gejala kekurang darah, tekanan
darah akan naik, aktivitas penderita mulai terganggu.

Stadium III
Uremi gagal ginjal (faal ginjal kurang dari 10%). Semua gejala
sudah jelas dan penderita masuk dalam keadaan tak dapat
melakukan tugas sehari-hari sebagaimana mestinya. Gejala-gejala
yang timbul antara lain mual, muntah, nafsu makan berkurang, sesak
nafas, pusing, sakit kepala, air kemih berkurang, kurang tidur, kejang-
kejang dan akhirnya terjadi penurunan kesadaran sampai koma.
Stadium akhir timbul pada sekitar 90% dari massa nefron telah
hancur. Nilai GFR nya 10% dari keadaan normal dan kadar kreatinin
mungkin sebesar 5-10ml/menit atau kurang.
Pada keadaan ini kreatinin serum dan kadar BUN akan meningkat
dengan sangat mencolok sebagai penurunan. Pada stadium akhir
gagal ginjal, penderita mulai merasakan gejala yang cukup parah
karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostatis cairan
dan elektrolit dalam tubuh. Penderita biasanya menjadi oliguria
(pengeluaran kemih) kurang dari 500/hari karena kegagalan
glomerulus meskipun proses penyakit mula-mula menyerang tubulus
ginjal, kompleks menyerang tubulus ginjal, kompleks perubahan
biokimia dan gejala-gejala yang dinamakan sindrom uremik
memengaruhi setiap system dalam tubuh. Pada stadium akhir gagal
ginjal, penderita pasti akan meninggal kecuali ia mendapat
pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau dialisis.
4. Tanda dan Gejala
Manifestasi klinik antara lain (Barbara C Long, 1996: 369) :
a. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat
badan berkurang, mudah tersinggung, depresi.
b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas
dangkal atau sesak nafas baik waktu ada kegiatan atau tidak, udem
yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga
sangat parah.

Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut :


a. Sistem kardiovaskuler, antara lain hipertensi, pitting edema, edema
periorbital, pembesaran vena leher, friction subperikardial
b. Sistem pulmoner, antara lain nafas dangkal, krekel, kusmaull, sputum
kental dan liat
c. Sistem gastrointestinal, antara lain anoreksia, mual dan muntah,
perdarahan saluran GI, ulserasi dan perdarahan mulut, nafas berbau
ammonia
d. Sistem muskuloskeletal, antara lain kram otot, kehilangan kekuatan
otot, fraktur tulang
e. Sistem integument, antara lain warna kulit abu-abu mengilat, pruritis,
kulit kering bersisik, ekimosis, kuku tipis dan rapuh, rambut tipis dan
kasar.
f. Sistem reproduksi, antara lain amenore, atrofi testis

5. Komplikasi
Menurut Smeltzer (2000), komplikasi gagal ginjal kronik yang
memerlukan pendekatan kolaboratif dalam perawatan, mencakup :
a. Hiperkalemia, akibat penurunan eksresi, asidosis metabolik,
katabolisme dan masukan diit berlebih
b. Perikarditis, efusi perikardial dan temponade jantung akibat retensi
produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat
c. Hipertensi, akibat retensi cairan dan natrium serta mal fungsi sistem
rennin, angiotensin, aldosterone
d. Anemia, akibat peneurunan eritropoeitin, penurunan rentang usia sel
darah merah, perdarahan gastrointestinal akibat iritasi
e. Penyakit tulang, akibat retensi fosfat, kadar kalium serum yang
rendah metabolism vitamin D, abnormal dan peningkatan kadar
alumunium

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Urin
Volume : biasanya kurang dari 400ml/24 jam
(oliguria)/anuria.
Warna : secara abnormal urin keruh, mungkin disebabkan
oleh pus, bakteri, lemak, partikel koloid, fosfat lunak, sedimen kotor,
kecoklatan menunjukkan adanya darah, Hb, mioglobulin, forfirin.
Berat jenis : < 1,051 (menetap pada 1.010 menunjukkan
kerusakan ginjal berat).
Osmolalitas : < 350 Mosm/kg menunjukkan kerusakan mubular
dan rasio urin/sering 1 : 1.
Kliren kreatinin : mungkin agak menurun
Natrium : > 40 ME o /% karena ginjal tidak mampu
mereabsorbsi natrium.
Protein : derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara bulat,
menunjukkan kerusakan glomerulus jika SDM dan fragmen juga ada.
pH, kekeruhan, glukosa, SDP dan SDM.
b. Darah
BUN : Urea adalah produksi akhir dari metabolisme protein,
peningkatan BUN dapat merupakan indikasi dehidrasi, kegagalan
prerenal atau gagal ginjal.
Kreatinin : Produksi katabolisme otot dari pemecahan kreatinin otot
dan kreatinin posfat. Bila 50% nefron rusak maka kadar kreatinin
meningkat.
Elektrolit : Natrium, kalium, kalsium dan phosfat.
Hematologi : Hb, thrombosit, Ht dan leukosit
c. Pielografi intravena
Menunjukkan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter
Pielografi retrograde
Dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang reversible
Arteriogram ginjal
Mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskular, massa.
d. Sistouretrogram berkemih
Menunjukkan ukuran kandung kemih, refluks ke dalam ureter, retensi.
e. Ultrasonografi ginjal
Menunjukkan ukuran kandung kemih, dan adanya massa, kista,
obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas.
f. Biopsi ginjal
Mungkin dilakukan secara endoskopi untuk menentukan sel jaringan
untuk diagnosis histologis
g. Endoskopi ginjal nefroskopi
Dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal; keluar batu, hematuria dan
pengangkatan tumor selektif
h. EKG
Mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan
asam basa, aritmia, hipertrofi ventrikel dan tanda-tanda perikarditis.

7. Penatalaksanaan
a. Obat-obatan
Antihipertensi, suplemen besi, agen pengikat fosfat, suplemen
kalsium, furosemide (membantu berkemih), transfuse darah.
b. Intake Cairan dan Makanan
1. Minum yang cukup
2. Pengaturan diet rendah protein (0,4-0,8 gram/kg BB) bisa
memperlambat Perkembangan gagal ginjal kronis.
3. Asupan garam biasanya tidak dibatasi kecuali jika terjadi edema
(penimbunan cairan di dalam jaringan) atau hipertensi.
4. Tambahan vitamin B dan C diberikan jika penderita menjalani diet
ketat atau menjalani dialisa.
5. Pada penderita gagal ginjal kronis biasanya kadar trigliserida dalam
darah tinggi. Hal ini akan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi,
seperti stroke dan serangan jantung. Untuk menurun kadar
trigliserida, diberikan gemfibrozil.
6. Kadang asupan cairan dibatasi untuk mencegah terlalu rendahnya
kadar garam (natrium) dalam darah.
7. Makanan kaya kalium harus dihindari. Hiperkalemia (tingginya kadar
kalium daram darah) sangat berbahaya karena meningkatkan risiko
terjadinya gangguan irama jantung dan cardiac arrest.
8. Jika kadar kalium terlalu tinggi maka diberikan natrium polisteren
sulfonat untuk mengikat kalium sehingga kalium dapat dibuang
bersama tinja.
9. Kadar fosfat dalam darah dikendalikan dengan membatasi asupan
makanan kaya fosfat (misalnya produk olahan susu, hati, polong,
kacang-kacangan dan minuman ringan).

E. Kerangka Konsep
Kerangka konseptual penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan
hubungan kepatuhan pasien menjalani terapi hemodialisa dengan
tingkat depresi pasien gagal ginjal kronik.

Variable Independen Variabel Dependen

Variabel Bebas
Kepatuhan

 Usia Variabel Terikat


 Pendidikan
Tingkat depresi pasien
 Pekerjaan
gagal ginjal kronik
 Lamanya HD
 Keterlibatan
keluarga
Variabel Independent (bebas) adalah variabel yang nilainya
menentukan variabel lain. Suatu kegiatan stimulus yang dimanipulasi
oleh peneliti menciptakan suatu dampak pada variabel dependen.
Variabel bebas biasanya dimanipulasi, diamati dan diukur untuk
diketahui hubungannya atau pengaruhnya terhadap variabel lain.
Dalam ilmu keperawatan, variabel bebas biasanya merupakan
stimulus atau intervensi keperawatan yang diberikan kepada klien
untuk mempengaruhi tingkah laku pasien (Nursalam, 2003).

Variabel Dependent (tergantung) adalah variabel yang nilainya


ditentukan oleh variabel lain. Variabel respon akan muncul sebagai
akibat dari manipulasi variabel-variabel lain. Dalam ilmu tingkah laku,
variabel tergantung adalah aspek tingkah laku yang diamati dari suatu
organisme yang dikenai stimulus. Dengan kata lain, variabel terikat
adalah faktor yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya
hubungan atau pengaruh dari variabel bebas (Nursalam, 2003).

F. Definisi Operasional

Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Independent Ukur
Kepatuhan kepatuhan Kuesioner a. Patuh : Nominal
adalah taat dan >50%
b. Tidak
disiplin serta
patuh :
perilaku positif
<50%
yang dapat
menepati janji
sesuai dengan
peraturan yang
sudah
ditetapkan
sebelumnya.

Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Dependent Ukur
Tingkat Depresi adalah Kuesioner a. Depresi Ordinal
Depresi gangguan ringan :
psikologis yang 76-
ditandai dengan 100%
b. Depresi
perasaan sedih,
sedang
tidak nafsu
: 56-
makan,
75%
kehilangan
c. Depresi
harapan yang
berat :
disertai dengan
<56%
insomnia
berkepanjangan
dan dapat
mengganggu
aktivitas sehari-
hari.

G. Hipotesa Penelitian
Ha : ada hubungan yang signifikan kepatuhan pasien menjalani terapi
hemodialisa dengan tingkat depresi pasien gagal ginjal kronik