Anda di halaman 1dari 7

PANTUN DAERAH MANDAILING NATAL

aso sian Gunung Barani


Na hum tabo sian gurita
Aso inda mungkap ko borngini
Kumpul marcatur di lopo nita

Ugimbal ulok na lenong


Lari doma mandoit doit
Borngini au bengong
Pamatangi urang fit

Mangaraja najolo giotna boja


Ipangan halai di milas ni ari
Mangaso ma jolo pala loja
Anso sehat tu pudi ni ari

Di pasar manabusi hits


Ulang lupa manabusi sontang
O ashar badani ulala inda fits
Marulak ulak au tong bagadang

Bola nagodang songon dunia


Icet jogi bahat bolangna
Pala bagadang dot piala dunia
Dapot tagina dapot sonangna

Tabusi sontang tu Muara


Pala get marguru tu Kotanopan
Spanyol monang jadi juara
Pandukung Bolanda kalah hodokan

Tabusi sontang tu Muara


Pala get marguru tu Muara Tais
Spanyol monang jadi juara
Belanda kalah martangis tangis

Upok upok ni tandiang


Pamilihan nadung lalu
Aha buse dope soi ulang
Mala ilehen epeng tu si Rusdi

Bulung pokat i pintu padang


Pambalut sira gortop sanggolom
Madung sapokat mambaen pamilu ulang
Rakyat madina totop nomor onom
CERITA RAKYAT Sampuraga Si Anak Durhaka
Pada suatu hari, dibawah pohon rindang Sampuraga dan juga majikannya beristirahat sambil menikmati
makan siang dan berbincang-bincang "Sampuraga, usiamu masih muda, kalau boleh aku sarankan.
Kamu sebaiknya pergi ke negeri yang penduduknya hidup makmur dan subur." ucap majikannya. "Yang
Tuan maksud itu, negeri mana?" Sampuraga penasaran. "Namanya negeri Mandailing, rata-rata
penduduk disana memiliki ladang dan juga saha. Karena tanah disana memiliki kandungan emas, maka
dengan mudah mereka mendapatkan uang, hasil dari mendulang emas di sungai." Majikannya
menjelaskan. "Sebenarnya, saya sudah lama ingin merantau untuk mencari pekerjaan yang baik dan bisa
membahagiakan ibu saya." Ucap Sampuraga sungguh-sungguh. "Begitu mulia cita-citamu Sampuraga!"
Kamu memang anak yang berbakti." Puji majikannya. Setelah ia berbincang seperti itu dengan
majikannya, Sampuraga pun pulang dan mengutarakan niatnya kepada sang ibu. "Bu, aku ingin
merantau untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Aku ingin merubah nasib kita yang selalu
menderita!" ucap Sampuraga kepada ibunya. "Mau kemanakah engkau akan pergi anakku?" Tanya
ibunya. "Aku akan pergi ke negeri Mandailing bu. Majikanku bilang, kalau disana penduduknya hidup
makmur dan sejahtera, karena tanahnya yang begitu subur!" jelas Sampuraga. "Pergilah anakku!
Meskipun ibu sangat khawatir tidak bisa bertemu lagi denganmu, karena usia ibu yang sudah semakin
tua. Namun tida ada alasan untuk ibu melarangmu pergi. Maafkan ibu, karena belum bisa
membahagiakanmu selama ini anakku!" ucap sang ibu. "Terima kasih ibu! Aku berjanji jika sudah berhasil
nanti, aku akan datang menemui ibu. Doakan anakmu bu!" Sampuraga meminta restu ibunya. Keesokan
harinya, Sampuraga siap untuk berangkat dan berpamitan sambil mencium tangan ibunya. Air matapun
keluar dari kelopak mata sang ibu begitupun dengan Sampuraga. Sampuraga pun pergi meninggalkan
ibunya. Ia pergi dimalam hari, melewati perkampungan dan hutan belantara. Akhirnya ia sampai di suatu
desa yang bernama Sirambas. Melihat desa itu ia sangat terpesona. Penduduknya yang begitu ramah,
masing-masing memiliki rumah indah beratapkan ijuk. Ditengah-tengah desa berdiri sebuah istana yang
begitu mewah, disetiap sudut desa terdapat candi yang terbuat dari batu. Semua yang ia lihat
menandakan kalau desa tersebut penduduknya hidup dengan sejahtera. Sampuraga pun mencoba
melamar pekerjaan di desa tersebut dan lamarannya langsung diterima oleh Raja Sirambas. Sang Raja
sangat percaya padanya, karena Sampuraga jujur dan rajin dalam bekerja. Oleh karena itu, Sang Raja
ingin menikahkan Sampuraga dengan anak perempuannya yang terkenal sangat cantik di desa
Sirambas. "Sampuraga, engkau adalah anak yang begitu baik dan rajin. Maukah engkau aku jadikan
menantuku?" Sang Raja bertanya pada Sampuraga. "Dengan senang hati Tuan! Hamba bersedia
menikah dengan Puteri Tuan!" Jawab Sampuraga. Acara pernikahanpun dipersiapkan. Acara
dilangsungkan secara besar-besaran, puluhan ekor kambing dan juga kerbau di sediakan untuk
disembelih. Gordang Sembilan pun dipersiapkan untuk menghibur para undangan. Di satu sisi ibu
Sampuraga meneruskan hidupnya dengan mencari kayu bakar, untuk bisa menghidupi dirinya. Namun,
kerinduannya kepada anaknya Sampuraga yang semakin hari semakin tak tertahan, membuatnya sering
sakit-sakitan. Suatu hari, ibunya ingin menyusul Sampuraga ke negeri Mandailing, meskipun ia sendiri
tidak tahu dimana anaknya itu tinggal. Karena Sampuraga tdak pernah memberikan kabar termasuk
pernikahannya. Rasa lelah dan laparpun tidak ia pedulikan, karena ingin segera bertemu dengan
anaknya Sampuraga. Akhirnya ia sampai di desa Sirambas. Disana ia melihat keramaian dan juga
terdengar suara Gordang Sembilan yang bertalu-talu. Sang ibu pun mendekat dengan langkah yang
terseok-seok. Ia terkejut melihat anaknya bersanding bersama seorang puteri yang begitu cantik. Tiba-
tiba sang ibu mendatangi Bagas Godang, tempat Sampuraga itu bersanding, sambil berteriak :
"Sampuragaaaaaaa, ini ibu naaaaaak!" teriak ibunya. Sampuraga terkejut mendengar ada yang
memanggil namanya itu. "Ah tidak mungkin itu suara ibu.....!!" sambil matanya mencari-cari sumber
suara. Kemudian, salah satu pengawalnya memberitahu, kalau di Bagas Godang ada seorang
perempuan tua, lalu Sampuraga pun keluar. Tiba-tiba sang ibu berlari mendekati Sampuraga dan berkata
: "Anakku.....Sampuraga! Ini ibu nak.....!" Sang ibu mengulurkan tangan hendak memeluk anaknya itu.
Sampuraga pun terkejut, ketika ia melihat ibunya itu. Ia malu kepada isterinya dan juga kepada para tamu
undangan. Wajahnya berubah menjadi merah, karena ada nenek tua yang tiba-tiba mengakui kalau ia
anaknya. Perasaannya berkecamuk, ia takut kalau sang Raja mengetahui kalau wanita itu adalah ibunya.
Sebab, sebelumnya ia pernah bercerita, kalau ayah dan ibunya sudah lama meninggal dan ia hidup
sebatang kara. "Hei, wanita tua jelek! Enak saja kau mengaku kalau aku ini anakmu! Aku tidak punya ibu
jelek seperti kamu! Pergi kau dari sini! Jangan kau kacaukan acaraku....!" Sampuraga membentak
ibunya. "Sampuraga.....ini ibumu yang telah melahirkan dan membesarkanmu nak! Kenapa kau lupa
sama ibu? Ibu sangat merindukanmu. Peluklah ibumu ini nak....!!" ucap sang ibu. "Tidak, kau bukan
ibuku! Dan aku bukan anakmu!Ibuku sudah lama meninggal! Algojooo.......!! Usir perempuan tua jelek
ini !!!" Perintah Sampuraga. Hati Sampuraga benar-benar sudah tertutup. Ia tega tidak mengakui ibunya
sendiri dan mengusirnya. Para undangan terharu, namun tidak ada yang bisa berbuat apa-apa. Sang
ibupun diseret keluar oleh pengawal Sampuraga. Dengan berderai air mata, sang ibu pun berdoa : "Ya
Tuhan....Jika ia benar anakku Sampuraga, berilah ia pelajaran! karena ia telah mengingkari ibu
kandungnya sendiri...!!". Seketika itu juga langit menjadi hitam diselimuti awan yang sangat tebal. Petir
menyambar, hujan turun dengan sangat deras dan guntur yang menggelegar. Para tamu undanganpun
berlarian menyelamatkan diri, sementara sang ibu hilang entah kemana. Dalam waktu yang singkat,
tempat diadakannya pesta itu tenggelam tak seorangpun selamat, termasuk Sampuraga dan isterinya.
beberapa hari kemudian, tempat itu berubah menjadi kolam air yang begitu panas. Disekitarnya terdapat
batu kapur yang bentuknya sepeti kerbau dengan ukuran yang begitu besar. Selain itu, ada juga
unggukan tanah berpasir dan lumpur yang bentuknya seperti bahan makanan. Bentuk itu dipercaya
jelmaan dari upacara pernikahan Sampuraga yang terkena kutukan. Kemudian kolam itu dinamakan
"KOLAM SAMPURAGA" oleh masyarakat setempat.Disalin
dari: http://sharethisya.blogspot.com/2015/06/cerita-sampuraga-si-anak-durhaka.html
Disalin dari sharethisya.blogspot.com.

Lirik lagu btak tinggal kenangan

huddul au sasada au huingot ho oh delia


tung so tagam do rohakki
naikkon lao ho sian lambokki
maila rohakki laos manetek ilukki

reff
tinggal kenangan nama i hasian
memoritta si naujui
sipata mekkel do au hasian
molo huingot sude na manjami

olo manetek ilu sian matakki


molo huingot sude na burjumi
**
di ingot ho do memoritta hasian
rap padua dua tikki i
marlojong lojong dipor ni udan i
huhaol ho ito manjai gomos

hubukka bajukki asa tung las ma daging mi

beck ; reff
***
nang so marokkap hita hasian
cintakki sai hot do i tu ho
tangiangkon ma au ito hasian
asa jumpang au sisongon ho

Prosesi Pranikah

Manyapai Boru

Masa pendekatan masih menjadi proses penting dalam kelanjutan sebuah hubungan. Dalam adat Batak
Mandailing pun mengenal masa pendekatan yang disebut manyapai boru. Dan jika boru na ni oli (calon
mempelai wanita) memberi respon positif kepada bayo pangoli (calon mempelai pria) akan dilanjutkan
dengan prosesi mangairirit boru.

Mangairirit Boru

Mangairirit boru merupakan tahapan dimana orang tua mempelai pria akan mencari tahu seluk beluk
sang wanita idaman anaknya tersebut. Menghindari agar tidak salah pilih, tidak seperti membeli kucing
dalam karung yang belum jelas bibit bebet bobotnya. Merasa cocok, barulah orang tua sang pria
mendatangi kediaman wanita untuk menanyakan kesediaannya. Jawaban tidak diberikan pada saat itu
juga, tapi di lain kesempatan pada prosesi selanjutnya.

Padamos Hata

Sekali lagi, keluarga pria menyambangi rumah kediaman wanita untuk mendapatkan jawaban. Dalam
ritual ini pula akan dibahas kapan waktu yang tepat untuk melamar, serta syarat apa saja yang harus
disanggupi pihak keluarga pria.

Patobang Hata

Inti dari seremoni ini adalah untuk memperkuat perjanjian antara dua belah pihak, keluarga mempelai
wanita dan keluarga mempelai pria. selain itu akan dibicarakan berapa sere yang akan diantar pada
prosesi selanjutnya, manulak sere.
Manulak Sere

Sesuai kesepakatan, pihak keluarga pria datang bersama kerabat yang berjumlah 10-15 orang untuk
mengantarkan sere atau hantaran. Barang hantaran yang diberikan di antaranya silua (oleh-oleh)
danbatang boban (berupa barang berharga).

Mangalehen Mangan Pamunan

Seorang gadis yang akan dinikahi kelak akan ikut bersama suami meninggalkan rumah orang tuanya.
Maka sebelum melepas kepergian anak perempuannya itu diadakan makan bersama/ mangan pamunan.
Makan bersama tidak hanya bersama keluarga inti saja, di masa sekarang prosesi ini diadakan besar-
besaran mengundang kerabat serta teman-teman terdekat sang calon pengantin untuk merayakan
perpisahan.

Horja Haroan Boru

Seusai dilaksanakan pesta adat yang diselenggarakan di kediaman bayo pangoli, sebelum pergi
meninggalkan kedua orang tuanya, boru na ni oli akan menari tor-tor sebagai ungkapan perpisahan.

Marpokat Haroan Boru

Satu langkah sebelum pernikahan adat berlangsung, terlebih dahulu akan dimusyawarahkan (marpokat)
membagi-bagi tugas sesuai prinsip dalihan na tolu yang terdiri dari kahanggi, anak boru,dan mora.

Mangalo-Alo Boru Dan Manjagit Boru

Diarak dua orang pencak silat, pembawa tombak, pembawa payung, serta barisan keluarga pria dan
wanita, terakhir iringan penabuh, kedua mempelai berjalan menuju rumah. Sesudahnya, kedua
pengantin serta keluarga akan mangalehen mangan (makan bersama)menyantap makanan yang dibawa,
dilanjutkan pemberian pesan dari tetua kepada kedua mempelai. Selesai memberi petuah, secara
bersama-sama rombongan akan menuju ke rumah suhut (tempat pesta).

Panaek Gondang

Pada prosesi ini akan dimainkan gordang sambilan yang sangat dihormati masyarakat Mandailing, maka
sebelum dibunyikan harus meminta izin terlebih dulu. Dan setelah mendapat izin, gordang
sambilan ditabuh seiring markobar (pembicaraan) yang dihadiri suhut dan kahangginya, anak
boru,penabuh gondang, namora natoras dan raja-raja adat. Dalam prosesi ini pula diselingi tari sarama
yang seirama dengan ketukan gordang sambilan. Serta manortor atau menari tor tor.
 Mata Ni Horja

Mata ni horja menjadi acara puncak yang diadakan di rumah suhut . Sekali
lagi tari tor tor ditarikan oleh para raja, yang disusul oleh suhut, kahanggi,
anak boru, raja-raja Mandailing dan raja panusunan .

 Membawa Pengantin Ke Tapian Raya Bangunan

Melaksanakan prosesi ini dipercaya dapat membuang sifat-sifat yang


kurang baik ketika masih lajang. Dengan jeruk purut yang dicampur air,
kedua mempelai akan dipercikan air tersebut menggunakan daun
silinjuang ( seikat daun-daunan berwarna hijau).

 Mangalehen Gorar (Menabalkan Gelar Adat)

Maksud dari upacara ini adalah untuk menabalkan gelar adat kepada bayo
pangoli . Sebelum diputuskan gelar apa yang cocok, harus dirundingkan
terlebih dahulu. Gelar adat diperoleh mengikuti dari kakeknya dan bukan
mengambil gelar dari orang tuanya.

 Mangupa

Inti dari prosesi ini dengan menyampaikan pesan-pesan adat kepada kedua
mempelai, bayo pangoli dan boru na ni oli . Mangupa merupakan wujud
kegembiraan telah usai seluruh rangkaian upacara adat, dan kedua
mempelai pun telah sah menjadi sepasang suami istri di mata adat.