Anda di halaman 1dari 16

FLOKULASI

Hari Soesanto©/Indonesia   
FLOKULASI

Prinsip flokulasi
Tujuan flokulasi yaitu untuk menyiapkan peningkatan banyaknya kontak antara
partikel-partikel koagulasi yang tersuspensi di dalam air dengan pengadukan yang cukup.
Selama pengadukan, partikel-partikel bersatu, menghasilkan bentuk yang lebih besar dan
lebih mudah untuk menghilangkan flok-floknya (Gambar 1.1. dan Gambar 1.2). Flokulasi
limbah cair juga dapat dipertimbangkan untuk (1) meningkatkan penghilangan padatan
tersuspensi dan BOD di fasilitas pengendapan primer, (2) mengkondisikan limbah cair
yang mengandung limbah industri tertentu, (3) meningkatkan kinerja tangki pengendapan
sekunder melanjutkan proses sludge teraktivasi, dan (4) sebagai langkah pretreatment
untuk filtrasi effluent sekunder.

1
www.globalsecurity.org

Terdapat dua tipe flokulasi: (1) mikroflokulasi dan (2) makroflokulasi. Perbedaan
dasar dari kedua tipe tersebut yaitu berdasarkan pada ukuran partikelnya.
Mikroflokulasi (dikenal juga sebagai flokulasi perikinetik) adalah terminologi
yang digunakan untuk agregasi partikel-partikel oleh adanya gerakan acak panas dari
molekul-molekul fluida. Gerakan acak panas dari molekul-molekul fluida tersebut
disebut sebagai gerakan brown (brownian motion) yang diperlihatkan pada Gambar 3.
Mikroflokulasi signifikan untuk partikel-partikel yang berukuran dari 0.001 sampai 1 μm.
Makroflokulasi (dikenal juga sebagai flokulasi ortokinetik) adalah terminologi
yang digunakan untuk agregasi partikel-partikel lebih besar dari 1 sampai 2 μm.
Makroflokulasi dapat terjadi dengan adanya gradien kecepatan dan pengendapan yang
berbeda.
Flokulasi yang disebabkan oleh gradien kecepatan menjadi sia-sia sampai partikel
koloid mencapai ukuran 1 atau 2 μm melalui kontak-kontak yang dihasilkan oleh gerak
brown. Sebagai contoh, makroflokulasi tidak dapat digunakan untuk mengagregasi virus

2
yang ukurannya 0.1 μm atau kurang dari itu, sampai mereka dimikroflokulasi atau
diadsorpsi dalam flok yang lebih besar.

Gambar 3. Ilustrasi dua tipe flokulasi: (a) mikroflokulasi dan (b) makroflokulasi
(Tchobanoglous, et al. 2002)

Flokulator
Ada berbagai macam tipe flokulator yang sekarang digunakan. Pada paper ini
akan dibahas empat tipe yaitu flokulator gravel, baffle, mekanik horizontal, dan mekanik
vertical. Tipe gravel dan baffle biasanya digunakan untuk pabrik yang kecil sedangkan
tipe mekanik digunakan pada pabrik yang besar.
Pada instalasi kecil dan menengah (sampai 200 L/detik), tipe flokulator yang
paling banyak digunakan di negara-negara berkembang adalah tipe flokulator baffle
(Gambar 4) dan flokulator Alabama jet action (Gambar 5). Flokulator Alabama
diperkenalkan di Brazil selama perang dunia ke II. Untuk pabrik yang kecil, flokulator
gravel adalah pilihan yang baik.
Ukuran dan bentuk dari kolam flokulasi secara umum ditentukan oleh tipe
flokulator yang dipilih dan tipe proses sedimentasi yang digunakan. Sebagai contoh, jika
flokulator mekanik dipasangkan dengan kolam sedimentasi aliran horizontal rectangular,

3
maka lebar dan kedalaman kolam flokulasi harus sesuai dengan lebar dan kedalaman
kolam sedimentasi.

Gambar 4. Kolam flokulasi tipe baffle yang biasanya digunakan di negara berkembang.

Gambar 5. Diagram kolam flolukasi tipe Alabama

4
Pada semua kasus, ukuran kolam flokulasi ditentukan oleh reaksi yang diperlukan
atau waktu tahan (detention time), yang ditentukan melalui pengujian. Meskipun tidak
ada hubungan teoritik antara area kolam dan kedalaman air untuk flokulasi yang optimal,
tangki sebaiknya tidak lebih dalam dari 5 m. Kolam dengan kedalaman lebih besar dari 5
m sering terjadi pola aliran yang tidak stabil dan flokulasi yang buruk.

Kriteria disain
Untuk unit baffle dengan aliran vertical: waktu tahan yang sesuai 15 sampai 25
menit (iklim hangat), kecepatan aliran 0.10 sampai 0.20 m/detik, kecepatan gradien (G)
80 sampai 40 detik-1. Untuk tipe Alabama, waktu tahan yang sesuai yaitu 15 sampai 20
menit, nilai G sebesar 50 sampai 40 detik-1, loss of head 0.30 sampai 0.50 m, aplikasi
aliran per chamber 25 sampai 50 L/detik/m2, kecepatan dalam flokulator 0.40 sampai
0.60 m/detik, kedalaman 2.5 sampai 3.5 m. Pada Tabel 1 diperlihatkan panduan
tambahan yang berguna dalam mendisain flokulator. Untuk tipe flokulator gravel:
kedalaman tumpukan batu, 3 m. Untuk flokulator tipe mekanik vertical: waktu tahan
yang sesuai 20 sampai 30 menit, nilai G sebesar 70 sampai 20 detik-1, luas kolam per unit
kurang lebih 5m x 5m sampai 10m x 10m. Untuk flokulator mekanik horizontal: nilai G
sampai 50 detik-1, kecepatan balik maksimum 1 m/detik, luas paddle tidak lebih dari 20%
luas permukaan tangki.
Gradien kecepatan (G) untuk flokulator ditentukan dari persamaan berikut:

G = ( Q ρ g h/u V)1/2

untuk flokulasi hidraulik, dan

G = ( P/u V)1/2

untuk flokulasi mekanik, dimana :


G = gradien kecepatan (detik-1)
ρ = densitas air (kg/m3)
h = head loss (m)

5
u = viskositas dinamik (kg/m.detik)
t = waktu tahan, Q/V, (detik)
Q= aliran (m3/detik)
P = power, Q. ρ.g.h (watt; kg.m2/detik3)
V = volume unit (m3)
g = konstanta gravitasi (9.81 m/detik2)

Tabel 1. Parameter disain tertentu untuk unit flokulasi

Laju alir Q Lebar B (m) Panjang L Diameter D Luas Volume


(L/detik) (m) (mm) chamber chamber
(m2) (m3)
10 0.60 0.60 150 0.35 1.1
20 0.60 0.75 250 0.45 1.3
30 0.70 0.85 300 0.6 1.8
40 0.80 1.00 350 0.8 2.4
50 0.90 1.10 350 0.8 2.4
60 1.00 1.20 1.20 400 1.2
70 1.05 1.35 450 1.4 4.2
80 1.15 1.40 450 1.6 4.8
90 1.20 1.50 500 1.8 5.4
100 1.25 1.60 500 2.0 6.0

Dalam disain sistem flokulasi, jumlah total partikel yang bergabung dan terjadi
pembentukan flok, adalah indikasi dari fungsi gradient kecepatan dan waktu tahan, Gt.
Selang nilai kecepatan gradient (G) dan Gt disajikan pada Tabel 2 merupakan nilai-nilai
yang efektif untuk pabrik-pabrik yang menggunakan flokulator mekanik.

6
Tabel 2. Rekomendasi nilai-nilai G dan Gt untuk flokulator

Tipe Gradien kecepatan G (detik-1) Gt


Penghilangan turbiditas atau warna 20 – 100 20,000 – 150,000
(tanpa resirkulasi padatan)
Penghilangan turbiditas atau warna 75 – 175 125,000 – 200,000
(dengan resirkulasi padatan)
Softener (reaktor kontak padatan) 130 – 200 200,000 – 250,000

Pada flokulasi tipe baffle, pencampuran dilakukan dengan cara pembalikan aliran
air melalui saluran yang terbentuk oleh baffle. Flokulator baffle digunakan terbatas untuk
pabrik pengolahan besar (kapasitas lebih dari 10,000 m3/hari) dimana head loss yang
cukup dapat dijaga pada saluran untuk pengadukan yang lambat.
Untuk kepentingan disain, head loss pada belokan baffle flokulator dihitung
dengan pendekatan sebagai berikut :

h = kv2/2g

dimana :
h = head loss (m)
v = kecepatan fluida (m/detik)
g = konstanta gravitasi (9.81 m/detik2)
k = konstanta empiris (bervariasi dari 2.5 sampai 4)

Nilai k tidak dapat ditentukan secara tepat. Oleh karena itu, hal yang lebih baik adalah
mendisain dengan nilai k yang rendah.
Jumlah baffle yang diperlukan untuk mencapai gradient kecepatan untuk unit
aliran horizontal dapat dihitung dari persamaan:

n = {[(2ut)/ ρ(1.44+f)][(HLG)/Q]2}1/3

7
dan untuk unit aliran vertikal :

n = {[(2ut)/ ρ(1.44+f)][(uLG)/Q]2}1/3

dimana:
n = jumlah baffle dalam kolam
H = kedalaman air dalam kolam (m)
L = panjang kolam (m)
G = gradien kecepatan (detik-1)
Q = laju alir (m3/detik)
t = waktu flokulasi (detik)
u = viskositas dinamis (kg/m.detik)
ρ = densitas air (kg/m3)
f = koefisien friksi baffle
W= lebar kolam (m)

Kecepatan air pada unit aliran horizontal dan vertikal umumnya bervariasi antara
0.3 sampai 0.1 m/detik. Waktu tahan (detention time) bervariasi dari 15 sampai 30 menit.
Secara umum, gradien kecepatan untuk kedua tipe flokulator baffle bervariasi antara 100
sampai 10 detik-1. Sebagai tambahan untuk melengkapi kriteria dalam mendisain
flokulator, di bawah ini disajikan kriteria secara praktis yang dapat dijadikan sebagai
panduan.
Panduan untuk disain dan konstruksi flokulator baffle.
a. Unit aliran horizontal
1. Jarak antara baffle sebaiknya tidak kurang dari 45 cm untuk mempermudah
pembersihan.
2. Jarak bersih antara ujung setiap baffle dan dinding sekitar 1.5 kali jarak antar
baffle; sebaiknya tidak kurang dari 60 cm.
3. Kedalaman air sebaiknya tidak kurang dari 1.0 m.
4. Kayu yang tidak tahan kerusakan/busuk sebaiknya tidak digunakan sebagai
baffle; konstruksi kayu memang lebih disukai daripada logam.

8
5. Hindari menggunakan baffle asbestos-semen karena akan korosi pada PH
koagulasi alum.

b. Unit aliran vertikal


1. Jarak antara baffle sebaiknya tidak lebih dari 45 cm.
2. Kedalaman sebaiknya dua sampai tiga kali jarak antar baffle.
3. Jarak bersih antara tepi atas baffle dan permukaan air, atau tepi bawah baffle dan
bagian bawah kolom, sebaiknya sekitar 1.5 kali jarak antar baffle.
4. Bahan untuk baffle sama dengan unit aliran horizontal.

Flokulator tipe Alabama diperlihatkan pada Gambar 5 . Aksi jet disediakan pada
setiap chamber melalui pipa besi tuang. Untuk flokulasi yang efektif, lubang keluaran
sebaiknya ditempatkan pada ketinggian sekitar 2.5 m dibawah level air. Kriteria disain
umum seperti di bawah ini:

Kapasitas per unit chamber 25 – 50 L/detik.m2


Kecepatan 0.40 – 0.60 m/detik
Panjang unit chamber (L) 0.75 – 1.50 m
Lebar (W) 0.50 – 1.25 m
Tinggi (H) 2.5 – 3.0 m
Waktu tahan (t) 15 – 25 menit

Head loss pada flokulator tipe ini diperkirakan sekitar 2 kali dari kecepatan per
chamber, atau sekitar 0.35 sampai 0.50 m untuk unit yang baru. Gradient kecepatan
bervariasi antara 40 sampai 50 detik-1.
Flokulator tipe gravel bed memperlihatkan disain yang sederhana dan tidak mahal
untuk flokulasi di pabrik pengolahan yang kecil (kapasitas kurang dari 5000 m3/hari).
Tipe ini telah diuji secara eksperimen dan digunakan secara sukses di beberapa pabrik di
India dan Brazil. Tumpukan pada gravel menyiapkan kondisi yang ideal untuk
pembentukan dari flok-flok yang dapat mengendap karena rekontak yang kontinyu
disediakan melalui adanya aliran air secara sinus. Gradien kecepatan yang diintroduksi

9
pada tumpukan adalah fungsi dari ukuran gravel, laju alir, luas permukaan tumpukan, dan
head loss pada tumpukan.

Kelebihan dan Kelemahan


Kelemahan utama dari flokulator hidraulik antara lain: (1) fleksibilitas yang kecil
dalam merespon perubahan mutu air baku, (2) parameter hidraulik adalah fungsi dari
aliran dan tidak dapat dirubah dalam proses, (3) head loss dapat berpengaruh nyata, (4)
pembersihan dapat menjadi sulit kecuali jika disain menyediakan cara pembersihan yang
baik. Ada suatu paradoks untuk penggunaan dari tipe-tipe tersebut. Ketika tipe hidraulik
yang lebih sederhana lebih disukai untuk penggunaan pada pabrik skala kecil dimana
keterampilan operator tidak begitu baik, terdapat potensi head loss yang besar untuk
aplikasi pada pabrik skala besar.
Flokulator baffle: kekurangan fleksibilitas untuk intensitas pengadukan; head loss
tinggi jika baffle atas dan bawah digunakan; beberapa laju alir pabrik mungkin bervariasi
pada selang 1:4 dalam satu hari proses sehingga pencapaian pencampuran yang baik pada
aliran yang digunakan menjadi sulit.
Flokulator mekanik vertical: banyak unit dibutuhkan pada pabrik besar; biaya
capital yang tinggi untuk papan pereduksi kecepatan., Flokulator mekanik horizontal:
instalasi dan pemeliharaan yang tepat sangat diperlukan; sulit untuk meningkatkan energi
input; banyak masalah dengan penjajaran tangkai. Masalah utama dari flokulator gravel
adalah fouling, baik oleh intersepsi flok ataupun pertumbuhan biologis dari media.

Kontrol
Sistem mekanik memerlukan program pemeliharaan yang lebih intensif daripada sistem
non-mekanik. Oleh karena itu, tipe gravel dan baffle lebih sesuai untuk sistem yang
berada pada lokasi yang terpencil dan dimana pelatihan untuk operator tidak tersedia.

10
Contoh disain flokulator beserta komponen pendukungnya
1. Disain Horizontal PaddleWheel Flocculator

www.myersequipment.com
Gambar 6. Disain Horizontal PaddleWheel Flocculator

Keterangan :
1. Drive Motor
2. Variable Speed Device
3. Gear Reducer
4. Chain & Sprocket Power Transfer
5. Stuffing Box
6. Flocculator Line Shafting
7. Shaft Connections
8. Bearings
9. Paddle Reel Assemblies

11
2. Disain Vertical PaddleWheel Flocculator

Gambar 7. Disain Vertical PaddleWheel Flocculator

Keterangan:
1. Drive Motor
2. Variable Speed Device
3. Gear Reducer
4. Drive Shaft Coupling
5. Thrust Collar
6. Radial Thrust Bearing
7. Drive Base
8. Paddle Reel Assemblies
9. Bottom Steady Bearing

12
Contoh aplikasi flokulator pada pengolahan limbah cair industri susu
Dalam proses sanitasi industri kecil susu, dihasilkan polutan limbah cair yang
berasal dari kegiatan menghilangkan padatan susu yang berada pada pipa dan pendingin
karena mengandung material fosfor dan bahan organic dengan kandungan yang tinggi.
Substansi-substansi tersebut dapat menyebabkan eutrofikasi. Salah satu cara solusinya
adalah melalui penggunaan flokulator, untuk mengarahkan penghilangan fosfor dan
padatan susu. Dengan system ini, ditambahkan kapur ke dalam limbah cair tersebut
sehingga bereaksi dengan fosfor membentuk partikel yang tidak larut dalam air.
Flokulator yang digunakan cukup rapi dan memerlukan tempat 1.5 m2 (Gambar
8). Skema flokulator ditampilkan pada Gambar 9. Flokulator tersebut dapat mengurangi
BOD5 dan fosfor 94% dan totap padatan tersuspensi 83%. Sistem ini memerlukan
pemeliharaan mingguan dan perhatian yang cukup pada penggunaan harian untuk
meyakinkan bahwa proses yang dijalankan berjalan baik. Flokulator merupakan salah
satu solusi untuk operasi industri susu yang hanya memiliki area tanah yang terbatas.

Gambar 8. Flokulator

13
Gambar 9. Skema flokulator

Semua sistem flokulasi utama yang dibahas disini untuk penanganan limbah cair
dapat digunakan secara efektif di negara-negara berkembang dan untuk sistem aplikasi
yang kecil jika pemilihan sistem dilakukan secara benar terhadap ukuran pabrik dan
keterampilan operator. Sebagai contoh, untuk instalasi yang kecil maka tipe gravel dapat
digunakan. Untuk instalasi kecil dan menengah tipe baffle atau Alabama dapat
digunakan. Flokulator Alabama telah digunakan dan dibuktikan penggunaanya di Brazil.
Flokulator gravel digunakan di India. Kemudian, untuk instalasi yang besar maka
flokulator tipe mekanik adalah satu pilihan yang terbaik.

14
Pustaka
Crozier L.M. 2001. Treatment of Milking Centre Wastewater with a Lime Flocculator.
Canada. http://www.gov.ns.ca/agri/ [akses 10/12/2008]
Flocculation. www.globalsecurity.org [akses 10/12/2008]
Horizontal PaddleWheel Flocculator Design. www.myersequipment.com [akses
10/12/2008]
Tchobanoglous G, Burton F.L, Stensel H.D. 2002. Wastewater Engineering. Treatment
and Reuse. McGrawHill. New York.
Vertical PaddleWheel Flocculator Design. www.myersequipment.com [akses
10/12/2008]

15