Anda di halaman 1dari 17

SISTEM KLASIFIKASI TANAH

1. Pengertian Sistem Klasifikasi Tanah


Adalah suatu cara pengelompokan tanah berdasarkan sifat dan ciri tanah yang sama atau hampir
sama, kemudian diberi nama agar mudah dikenal, diingat, dipahami dan dibedakan dengan tanah-tanah
lainnya. Setiap Jenis Tanah memiliki sifat dan ciri tertentu dan berbeda dengan jenis tanah lainnya.
Setiap jenis tanah memiliki sifat, ciri, potensi kesesuaian tanaman dan kendala tertentu untuk pertanian
sehingga memerlukan teknologi pengelolaan tanah yang spesifik untuk dapat berproduksi optimal.
2. Klasifikasi Sistem Tanah
1. Sistem Klasifikasi Tanah Nasional (Dudal & Soepraptohardjo, 1957; Soepraptohardjo, 1961),
Taksonomi tanah berdasarkan sistem Dudal-Soepraptohardjo mendasarkan pada penampilan
profil tanah dan sejumlah ciri-ciri fisika dan kimia. Dasar sistem ini adalah dari Rudi Dudal, ahli
tanah dari Belgia, yang dimodifikasi untuk situasi Indonesia oleh M. Soepraptohardjo.
Sistem ini disukai oleh pekerja lapangan pertanian karena mudah untuk diterapkan di
lapangan. Versi aslinya dirilis pada tahun 1957. Modifikasinya dilakukan oleh Pusat Penelitian
Tanah pada tahun 1978 dan 1982. Sistem ini (dan modifikasinya) berlaku khusus untuk
Indonesia, dengan mengadopsi beberapa sistem internasional, khususnya dalam penamaan dan
pemberian kriteria.
Sistem Klasifikasi Tanah LPT (Soepraptohardjo, 1961)
Dalam ategori:
1. Golongan (ordo) kriteria Perkembangan profil Meliputi 2 satuan
1. Tanpa perkembangan
2. Telah berkembang
2.Kumpulan (sub-ordo) kriteria Susunan horizon utama Meliputi 8 jenis horizon utama dari : O, A,
B, C, dan R
3. Jenis (great soil group) kriteria Horison utama penciri dan gejala
pengikutPenciri utama sebagaiberikut :
1. Tanpa perkembangan
a. Tebal profil, tekstur dan struktur.
2. Dengan perkembangan
a. A1 prominen, fragmen atau kongkresi kapur
b. A1 cherrozem, fragmen/ kongresi kapur
c. A1 prominen, basa tinggi
d. B2 warna,
basa tinggi warna/tekstur; basa tinggi,sedang, rendah. Horizon kapur,penuh kongkresi
e. B2 podsol; warna lemah ataukuat
f. B2 tiang; Na tinggi ataurendah
g. B2 latosol; gembur gley, BOtinggi/ rendahNa-tinggi, alihantekstur nyata. B-
warna/ tekstur,podsol, latosol
4. Macam ( sub-group) kriteria Warna horizon atau penciri pada kedalaman 50 cm horizon tambahan
meliputi peralihan antara hitam, merah, kuning dan putih, berdasarkan Hue, Value, Chroma
meliputi akumulasi BO, humus, Fe, Mn, R2O3 kongkresi Fe, Mn, kapur lapisan gley.
5. Rupa ( Family) Sifat fisik umum h2 utama ataulapisan 50 cm tekstur 5 kelas, drainase3 kelas.
6. Serie (serie) Sifat fisik khusus h2- utamaatau lapisan 50cm tekstur 12 kelas, drainase 7 kelas.
Kategori nomer 1-3 Kategori Tinggi sedangkan Kategori nomer 4-6 Kategori Rendah.
2. Sistem Klasifikasi Tanah Internasional, dikenal sebagai Taksonomi Tanah (Soil Taxonomy,
USDA, 1975; 2003)
Sistem USDA atau Soil Taxonomy dikembangkan pada tahun 1975 oleh tim Soil Survey
Staff yang bekerja di bawah Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Sistem ini pernah
sangat populer namun juga dikenal sulit diterapkan. Oleh pembuatnya, sistem ini diusahakan
untuk dipakai sebagai alat komunikasi antarpakar tanah, tetapi kemudian tersaingi oleh sistem
WRB. Meskipun demikian, beberapa konsep dalam sistem USDA tetap dipakai dalam sistem
WRB yang dianggap lebih mewakili kepentingan dunia.
Sistem klasifikasi ini menggunakan enam (6) kategori, yaitu:
1. Ordo (Order)
2. Subordo (Sub-Order)
3. Grup (Great group)
4. Sub-grup (Subgroup)
5. Famili (Family)
6. Seri.
Sistem klasifikasi tanah ini berbeda dengan sistem yang sudah ada sebelumnya. Sistem
klasifikasi ini memiliki keistimewaan terutama dalam hal:
A. Penamaan atau Tata Nama atau cara penamaan.
Menurut Hardjowigeno (1992) terdapat 10 ordo tanah dalam sistem Taksonomi Tanah
USDA 1975 dengan disertai singkatan nama ordo tersebut, adalah sebagai berikiut:
1. Alfisol –> disingkat: Alf
2. Aridisol –> disingkat: Id
3. Entisol –> disingkat: Ent
4. Histosol –> disingkat: Ist
5. Inceptisol –> disingkat: Ept
6. Mollisol –> disingkat: Oll
7. Oxisol –> disingkat: Ox
8. Spodosol –> disingkat: Od
9. Ultisol –> disingkat: Ult
10. Vertisol –> disingkat: Ert

Sistem ini bersifat hierarkis. terdapat penggolongan 12 (pada versi pertama berjumlah
sepuluh) kelompok utama yang disebut soil order ("ordo tanah"). Mereka adalah
1. Entisol (membentuk akhiran -ent) merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu baru
tingkat permulaan dalam perkembangan.
2. Inceptisol (membentuk akhiran -ept) merupakan tanah muda, tetapi lebih berkembang daripada
Entisol.
3. Alfisol (membentuk akhiran -alf) merupakan tanah-tanah yang terdapat penimbunan liat di
horison bawah (terdapat horison argilik)dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari
35% pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah.
4. Ultisol (membentuk akhiran -ult) merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di horison
bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang
dari 35%.
5. Oxisol (membentuk akhiran -ox) tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit.
Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah,
6. Vertisol (membentuk akhiran -vert) merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih dari
30%) di seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau kering tanah
mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras.
7. Mollisol (membentuk akhiran -mol) merupakan tanah dengan tebal epipedon lebih dari 18 cm
yang berwarna hitam (gelap), kandungan bahan organik lebih dari 1%, kejenuhan basa lebih dari
50%.
8. Spodosol (membentuk akhiran -od) merupakan tanah dengan horison bawah terjadi penimbunan
Fe dan Al-oksida dan humus (horison spodik) sedang, dilapisan atas terdapat horison eluviasi
(pencucian) yang berwarna pucat (albic).
9. Histosol (membentuk akhiran -ist) merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik
lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat).
10. Andosol (membentuk akhiran -and)
11. Aridisol (membentuk akhiran -id) merupakan tanah-tanah yang mempunyai kelembapan tanah
arid (sangat kering).
12. Gleisol (membentuk akhiran )
Penamaan berikutnya ditentukan oleh kondisi masing-masing order. Sistem USDA
mempertimbangkan aspek pembentukan tanah akibat faktor aktivitas di bumi dan atmosfer.
B. Definisi-definisi horison penciri.
Horizon Penciri terdiri dari dua bagian:
(a) horizon atas (permukaan) atau epipedon, dan
(b) horizon bawah atau endopedon.
Epipedon atau horison atas / permukaan penciri dibedakan dalam 8 kategori (Soil Survey Staff,
2003), yaitu:
(a) epipedon mollik, (b) epipedon umbrik,
(c) epipedon okrik, (d) epipedon histik,
(e) epipedon melanik, (f) epipedon anthropik,
(g) epipedon folistik, dan (h) epipedon plagen.
Endopedon atau horizon bawah penciri dibedakan menjadi 13 (Soil Survey Satff, 2003), yiatu:
(a) horizon argilik, (b) horizon kambik,
(c) horizon kandik, (d) horizon kalsik,
(e) horizon oksik, (f) horison gipsik,
(g) horizon petrokalsik, (h) horizon natrik,
(i) horizon plakik, (j) horizon spodik,
(k) horizon sulfuric, (l) horizon albik.
Beberapa Sifat Penciri Khusus, adalah:
(a) konkresi, (b) padas (pan),
(c) fraipan, (duripan), (d) Plintit,
(e) slickenside, (f) selaput liat,
(g) kontak litik, (h) kontak paralithik.
C. Beberapa sifat penciri lainnya, adalah:
(a) Rezim suhu tanah,
Rezim suhu tanah dibedakan dalam 3 kategori, yaitu:
(1) mesic: merupakan suhu tanah rata-rata tahunan 8°C s/d 15°C.
(2) thermic: merupakan suhu tanah rata-rata tahunan 15°C s/d 22°C.
(3) hyperthermic: merupakan suhu tanah rata-rata tahunan > 22°C.
Istilah iso (iso-mesic, iso-thermic, iso-hyperthermic) digunakan untuk menunjukkan perbedaan
suhu tanah rata-rata musim panas dan musim dingin < 6°C).
(b) Rezim lengas tanah, dan
Rezim lengas tanah dibedakan dalam 4 kategori, yaitu:
(1) aquic: tanah hampir selalu jenuh air, sehingga terjadi reduksi dan ditunjukkan oleh adanya
karatan dengan chroma rendah (chroma < 2 dan value < 4).
(2) perudic: curah hujan setiap bulan selalu melebihi evapotranspirasi.
(3) udic: tanah tidak pernah kering selama 90 hari (kumulatif) setiap tahunnya.
(4) ustic: tanah setiap tahunnya kering lebih dari 90 hari (kumulatif) tetapi kurang dari 180 hari.
(c) sifat-sifat tanah Andik.
3. Sistem World Reference Base for Soil Resources
Sistem ini, disingkat sistem WRB, merupakan hasil kerja dari tim bentukan FAO dan
disarankan oleh Organisasi Ilmu Tanah Sedunia. Berdasarkan kesepakatan pada tahun 1998,
sistem WRB menggantikan sistem FAO. Versi terbarunya terbit tahun 2006.
Sistem WRB terdapat dua pembagian yaitu:
1. peringkat primer merupakan penggambaran terhadap 32 jenis tanah utama dunia.
2. peringkat sekunder merupakan kata sifat yang menggambarkan keadaan fisik dan kimia tanah.
Berbeda dari sistem USDA, sistem WRB tidak mempertimbangkan aspek iklim sebagai alat
untuk pengelompokan.
4. Sistem ppt (Pusat Penelitian Tanah) - bogor :
Sistem ini ada 6 kategori yaitu:
1. golongan,
2. kumpulan,
3. jenis,
4. macam,
5. rupa,
6. seri.
golongan dan kumpulan didasarkan atas tingkat perkembangan dan susunan horison.
Penciri utama rupa dan seri adalah tekstur dan drainase.
penamaan tanah pada kategori jenis. Contoh jenis tanah : organosol, litosol, grumosol, aluvial, regosol, andosol,
latosol, podsolik, oksisol, mediteran, rendzina, podsol.
5. Sistem Klasifikasi Tanah Berdasarkan AASHTO
Sistem klasifikasi AASHTO berguna untuk menentukan kualitas tanah guna pekerjaan jalan
yaitu lapis dasar (subbase) dan tanah dasar(subgrade). Karena sistem ini ditujukan untuk
pekerjaan jalan tersebut,maka penggunaan sistem ini dalam prakteknya harus dipertimbangkan
terhadap maksud aslinya.
Sistem ini membagi tanah ke dalam 7 kelompok utama yaitu A-1 Sampai dengan A-7. Tanah
yang terklasifikasikan dalam kelompok A-1, A-2, dan A-3 merupakan tanah granuler yang
memiliki partikel yang lolos saringan No. 200 kurang dari 35%. Tanah yang lolos saringan No.
200 lebih dari 35% diklasifikasikan dalam kelompok A-4, A-5, A-6, dan A-7. Tanah-tanah
dalam kelompok ini biasanya merupakan jenis tanah lanau dan lempung.
AASHTO sistem mengklasifikasikan tanah menjadi 7 bagian besar, yaitu :
1. A-1 (A-1-a ; A-1-b), kelompok ini termasuk granular .
2. A-2 (A-2-4 ; A-2-5 ; A-2-6 ; A-2-7), A-3, termasuk kelompok gravel dan sand.
3. A-4, A-5 (fine), A-6((silt dan clay), A-7.
3. TUJUAN KLASIFIKASI TANAH
1. Menyusun pengetahuan tentang tanah secara sistematis.

2. Mengetahui hubungan masing- masing individu tanah satu sama lain.

3. Memudahkan mengingat sifat- sifat tanah.

4. Mengelompokkan tanah untuk tujuan- tujuan yang lebih praktis dalam hal:

–Memprediksi sifat- sifat tanah


–Memprediksi produktivitas tanah
–Menentukan areal-areal untuk penelitian, atau kemungkinan ekstrapolasi hasil penelitian di suatu
tempat.

DAFRTAR PUSTAKA
http://andibyan.blogspot.com/2010/06/klasifikasi-tanah-dunia.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Pedologi#Klasifikasi_tanah
http://www.gsfaceh.com/buku/dasar_dasar_ilmu_tanah/klasifikasi_tanah.doc
http://rahmatkusnadi6.blogspot.com/2010/02/definisi-sistem-klasifikasi-tanah.html
http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2007/12/klasifikasi-tanah-usda-1975.html
Klasifikasi tanah meupakan usaha membeda-bedakan atau mengelompokkan
tanah berdasar kan sifat-sifatnya

TUJUAN KLASIFIKASI TANAH


1. menyusun pengetahuan tentang tanah scr sistematis.
2. mengetahui hubungan masing2 individu tanah satu sama lain.
3. memudahkan mengingat sifat2 tanah.
4. mengelompokkan tanah utk tujuan2 yg lebih praktis dlm hal:
memprediksi sifat2 tanah
memprediksi produktivitas tanah
menentukan areal2 utk penelitian, atau kemungkinan ekstrapolasi hasil penelitian di suatu
tempat.
Klasifikasi Tanah
03.18 1 comment

Pembahasan
2.1 Pengertian Klasifikasi Tanah
Tanah adalah benda yang dinamis sehingga selalu mengalami proses perubahan. Tanah
terbentuk dari batuan yang aus/lapuk akibat terpapar oleh dinamika di lapisan bawah atmosfer,
seperti dinamika iklim, topografi/geografi, dan aktivitas organisme biologi. Intensitas dan selang
waktu dari berbagai faktor ini juga berakibat pada variasi tampilan tanah. Berbagai usaha telah
dilakukan untuk memperoleh klasifikasi umum yang dapat membantu dalam memprediksi
perilaku tanah ketika mengalami pembebanan.
Metode yang telah dibuat didasarkan pada pengalaman yang diperoleh dalam perancangan
fondasi dan riset. Dari sini, tanah fondasi yang ditinjau menurut klasifikasi tertentu dapat
diprediksi perilakunya, yaitu didasarkan pada pengalaman di lokasi lain, namun memiliki tipe
tanah yang sama. Dalam melakukan klasifikasi tanah para ahli pertama kali melakukannya
berdasarkan ciri fisika dan kimia, serta dengan melihat lapisan-lapisan yang membentuk profil
tanah. Selanjutnya, setelah teknologi jauh berkembang para ahli juga melihat aspek batuan dasar
yang membentuk tanah serta proses pelapukan batuan yang kemudian memberikan ciri-ciri khas
tertentu pada tanah yang terbentuk.
Sistem klasifikasi tanah adalah suatu sistem pengaturan beberapa jenis tanah yang berbeda-
beda tapi mempunyai sifat yang serupa ke dalam kelompok-kelompok dan sub kelompok-sub
kelompok berdasarkan pemakaiannya.
Sistem klasifikasi memberikan bahasa yang mudah untuk menjelaskan secara singkat sifat-
sifat tanah yang bervariasi tanpa penjelasan yang terinci.
Adanya klasifikasi untuk tanah yaitu bertujuan untuk :
a. Mengorganisasi atau menata tanah
b. Mengetahui hubungan individu tanah
c. Memudahkan mengingat sifat-sifat tanah
d. Mengelompokkan tanah untuk :
- menaksir sifat
- penelitian
- mengetahui lahan-lahan yang baik.
Sehingga pada tahun 1975 dirilis sistem klasifikasi USDA (Departemen Pertanian
AS).Sistem ini dibuat karena sistem-sistem klasifikasi lama saling tumpang tindih dalam
penamaan akibat perbedaan kriteria. Dalam pemakaiannya, sistem USDA memberikan kriteria
yang jelas dibandingkan sistem klasifikasi lain, sehingga sistem USDA ini biasa disertakan
dalam pengklasifikasian tanah untuk mendampingi penamaan berdasarkan sistem FAO atau PPT
(Pusat Penelitian Tanah).

2.2 Sistem Klasifikasi Menurut Soil Taxonomy (USDA)


Sistem USDA atau Soil Taxonomy dikembangkan pada tahun 1975 oleh tim Soil Survey
Staff yang bekerja di bawah Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Sistem ini pernah
sangat populer namun juga dikenal sulit diterapkan.Oleh pembuatnya, sistem ini diusahakan
untuk dipakai sebagai alat komunikasi antarpakar tanah, tetapi kemudian tersaingi oleh sistem
WRB. Meskipun demikian, beberapa konsep dalam sistem USDA tetap dipakai dalam sistem
WRB yang dianggap lebih mewakili kepentingan dunia.
Sistem klasifikasi tanah terbaru ini memberikan Penamaan Tanah berdasarkan sifat utama
dari tanah tersebut. Menurut Hardjowigeno (1992) terdapat 10 ordo tanah dalam sistem
Taksonomi Tanah USDA 1975, yaitu:

1. Alfisol
Tanah yang termasuk ordo Alfisol merupakan tanah-tanah yang terdapat penimbunan liat di
horison bawah (terdapat horison argilik)dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari
35% pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah. Liat yang tertimbun di horison bawah ini
berasal dari horison di atasnya dan tercuci ke bawah bersama dengan gerakan air. Padanan
dengan sistem klasifikasi yang lama adalah termasuk tanah Mediteran Merah Kuning, Latosol,
kadang-kadang juga Podzolik Merah Kuning.

2. Aridisol
Tanah yang termasuk ordo Aridisol merupakan tanah-tanah yang mempunyai kelembapan
tanah arid (sangat kering). Mempunyai epipedon ochrik, kadang-kadang dengan horison penciri
lain. Padanan dengan klasifikasi lama adalah termasuk Desert Soil.

3. Entisol
Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu
baru tingkat permulaan dalam perkembangan. Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon
ochrik, albik atau histik. Kata Ent berarti recent atau baru. Padanan dengan sistem klasifikasi
lama adalah termasuk tanah Aluvial atau Regosol.

4. Histosol
Tanah yang termasuk ordo Histosol merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan
organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur
liat). Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Kata
Histos berarti jaringan tanaman. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah
Organik atau Organosol.

5. Inceptisol
Tanah yang termasuk ordo Inceptisol merupakan tanah muda, tetapi lebih berkembang
daripada Entisol. Kata Inceptisol berasal dari kata Inceptum yang berarti permulaan. Umumnya
mempunyai horison kambik. Tanah ini belum berkembang lanjut, sehingga kebanyakan dari
tanah ini cukup subur. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial,
Andosol, Regosol, Gleihumus, dll.

6. Mollisol
Tanah yang termasuk ordo Mollisol merupakan tanah dengan tebal epipedon lebih dari 18
cm yang berwarna hitam (gelap), kandungan bahan organik lebih dari 1%, kejenuhan basa lebih
dari 50%. Agregasi tanah baik, sehingga tanah tidak keras bila kering. Kata Mollisol berasal dari
kata Mollis yang berarti lunak. Padanan dengan sistem kalsifikasi lama adalah termasuk tanah
Chernozem, Brunize4m, Rendzina, dll.

7. Oxisol
Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk
tinggal sedikit. Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK)
rendah, yaitu kurang dari 16 me/100 g liat. Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida
Al. Berdasarkan pengamatan di lapang, tanah ini menunjukkan batas-batas horison yang tidak
jelas. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Latosol (Latosol Merah &
Latosol Merah Kuning), Lateritik, atau Podzolik Merah Kuning.

8. Spodosol
Tanah yang termasuk ordo Spodosol merupakan tanah dengan horison bawah terjadi
penimbunan Fe dan Al-oksida dan humus (horison spodik) sedang, dilapisan atas terdapat
horison eluviasi (pencucian) yang berwarna pucat (albic). Padanan dengan sistem klasifikasi
lama adalah termasuk tanah Podzol.

9. Ultisol
Tanah yang termasuk ordo Ultisol merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di
horison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah
kurang dari 35%. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzolik Merah
Kuning, Latosol, dan Hidromorf Kelabu.
10. Vertisol
Tanah yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih
dari 30%) di seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau kering tanah
mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Kalau basah mengembang dan lengket.
Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Grumusol atau Margalit.

 Kelebihan
a. Sistem klasifikasi tanah USDA ini memberikan Penamaan Tanah berdasarkan sifat utama dari
tanah tersebut,definisi-definisi horison penciri, dan beberapa sifat penciri lainnya. (
Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah ).
b. Sistem klasifikasi USDA ( Departemen Pertanian AS ) dirilis pada tahun 1975. Dibuat karena
sistem-sistem klasifikasi yang telah ada sebelumnya saling tumpang tindih dalam penamaan
yang disebabkan oleh perbedaan kriteria.
c. Dalam penggunaannya, sistem USDA memberikan kriteria yang jelas dibanding sistem
klasifikasi lainnya. Oleh karena itu, Sistem USDA ini hampir selalu disertakan dalam
pengklasifikasian tanah untuk mendampingi penamaan berdasarkan sistem FAO atau PPT (Pusat
Penelitian Tanah), dan sistem ini sangat membantu karena penamaannya yang konsisten.
d. Sistem ini benar-benar baik dalam cara-cara penanaman (tata nama) maupun definisi-definisi
mengenai horison-horison penciri ataupun sifat-sifat penciri lain yang digunakan untuk
menentukan jenis-jenis tanah.

 Kekurangan
Sistem Klasifikasi USDA memiliki kelemahan karena kriterianya yang sangat mendasarkan pada
analisis laboratorium yang rinci, sehingga para praktisi sulit untuk mengaplikasikannya langsung
di lapangan.

2.3 Sistem Klasifikasi Menurut Pusat Penelitian Bogor


Nama-nama tanah dalam tingkat Jenis dan Macam tanah dalam sistem Pusat Penelitian
Bogor yang disempurnakan (1982) sangat mirip dengan sistem FAO/UNESCO. Walaupun
demikian nama-nama lama yang sudah terkenal tetap dipertahankan, tetapi menggunakan
definisi-definisi baru. Jenis-jenis tanah yang ada adalah sebagai berikut :
Jenis – Jenis Tanah menurut Klasifikasi Pusat Penelitian Tanah Bogor, (disempurnakan,
1982) :
1. Organosol Tanah organik (gambut) yang ketebalannya lebih dari 50 cm.
2. Litosol Tanah mineral yang ketebalannya 20 cm atau kurang. Di bawahnya terdapat batuan keras
yang padu.
3. Rendzina Tanah dengan epipedon mollik (warna gelap, kandungan bahan organik lebih dari 1
%, kejenuhan basa 50 %), dibawahnya terdiri dari batuan kapur.
4. Grumusol Tanah dengan kadar liat lebih dari 30 % bersifat mengembang dan mengerut. Jika
musim kering tanah keras dan retak-retak karena mengerut, jika basah lengket (mengembang).
5. Gleisol Tanah yang selalu jenuh air sehingga berwarna kelabu atau menunjukkan sifat-sifat
hidromorfik lain.
6. Aluvial Tanah berasal dari endapan baru dan berlapis-lapis, bahan organik jumlahnya berubah
tidak teratur dengan kedalaman. Hanya terdapat epipedon ochrik, histik atau sulfurik, kandungan
pasir kurang dari 60 %.
7. Regosol Tanah bertekstur kasar dengan kadar pasir lebih dari 60 %, hanya mempunyai horison
penciri ochrik, histik atau sulfurik.
8. Arenosol Tanah bertekstur kasar dari bahan albik yang terdapat pada kedalaman sekurang-
kurangnya 50 cm dari permukaan atau memperlihatkan ciri-ciri mirip horison argilik, kambik
atau oksik, tetapi tidak memenuhi syarat karena tekstur terlalu kasar. Tidak mempunyai horisin
penciri kecuali epipedon ochrik.
9. Andosol Tanah-tanah yang umumnya berwarna hitam (epipedon mollik atau umbrik) dan
mempunyai horison kambik; kerapatan limbak (bulk density) kurang dari 0,85 g/cm3, banyak
yang mengandung amorf atau lebih dari 60 % terdiri dari abu vulkanik vitrik, cinders atau bahan
pyroklastik lain.
10. Latosol Tanah dengan kadar liat lebih dari 60 %, remah sampai gumpal, gembur, warna tanah
seragam dengan dengan batas-batas horison yang kabur, solum dalam (lebih dari 150 cm),
kejenuhan basa kurang dari 50 %, umumnya mempunyai epipedon kambrik dan horison kambik.
11. Brunizem Seperti Latosol, tetapi kejenuhan basa lebih dari 50 %.
12. Kambisol Tanah dengan horisin kambik, atau epipedon umbrik atau molik. Tidak ada gejala-
gejala hidromorfik (pengaruh air).
13. Nitosol Tanah dengan penimbunan liat (horison argilik). Dari horison penimbunan liat
maksimum ke horison-horison di bawahnya, kadar liat turun kurang dari 20 %. Mempunyai sifat
ortoksik (kapasitas tukar kation kurang dari 24 cmol (+) / kg liat.
14. Podsolik Tanah dengan horison penimbunan liat (horison argilik), dan kejenuhan basa kurang
dari 50 %, tidak mempunyai horison albik.
15. Mediteran Seperti tanah Podsolik (mempunyai horison argilik) tetapi kejenuhan basa lebih dari
50 %.
16. Planosol Tanah dengan horison albik yang terletak diatas horison dengan permeabilitas lambat
(misalnya horison argilik atau natrik) yang memperlihatkan perubahan tekstur nyata, adanya liat
berat atau fragipan, dan memperlihatkan ciri-ciri hidromorfik sekurang-kurangnya pada sebagian
dari horison albik.
17. Podsol Tanah dengan horison penimbunan besi, Alumunium Oksida dan bahan organik (sama
dengan horison sporadik). Mempunyai horison albik.
18. Oksisol Tanah dengan pelapukan lanjut dan mempunyai horison oksik, yaitu horison dengan
kandungan mineral mudah lapuk rendah, fraksi liat dengan aktivitas rendah, kapasitas tukar
kation rendah (kurang dari 16 cmol (+) / kg liat). Tanah ini juga mempunyai batas-batas horison
yang tidak jelas.

 Kelebihan

 Sistem ini disukai oleh pekerja lapangan pertanian karena mudah untuk diterapkan di lapangan.
Selalu diperbaharui perkembangannya.

 Penamaannya mudah untuk dihafal.

 Kekurangan

 Banyak nama-nama baru, sehingga sedikit membingungkan.

 Penamaannya tidak mempunyai ciri khusus dari klasifikasi tersebut, hanya mengadaptasi dari
klasifikasi yang lain.

 Dalam penamaan tidak disertakan sifat tanah.

2.4 Sistem Klasifikasi Menurut FAO / UNESCO


Sistem klasifikasi tanah ini dibuat dalam rangka pembuatan peta tanah dunia dengan skala 1
: 5.000.000. Peta tanah ini terdiri dari 12 peta tanah. Sistem ini terdiri dari 2 kategori. Kategori
pertama setara dengan great soil group, dan kategori kedua setara dengan sub group dalam
Taksonomi Tanah (USDA).
Untuk pengklasifikasian, digunakan horison-horison penciri yang sebagian diambil dari
kriteria-kriteria horison penciri pada Taksonomi Tanah dan sebagian dari sistem klasifikasi tanah
ini. Nama-nama tanah diambil dari nama-nama tanah klasik yang sudah terkenal dari Rusia,
eropa barat, Kanada, Amerika Serikat dan beberapa nama baru yang khusus dikembangkan untuk
tujuan ini. Tampaknya dari nama-nama tanah tersebut bahwa sistem ini merupakan komromi dari
berbagai sistem dengan tujuan agar diterima oleh semua pakar di dunia.
Beberapa nama dan sifat tanah dalam kategori “great group” menurut sistem
FAO/UNESCO sebagai berikut :
1. Fluvisol
Tanah-tanah berasal dari endapan baru, hanya mempunyai horison penciri ochrik, umbrik, histik
atau sulfurik, bahan organik menurun tidak teratur dengan kedalaman, berlapis-lapis.
2. Gleysol
Tanah dengan sifat-sifat hidromorfik (dipengaruhi air sehingga berwarna kelabu, gley dan lain-
lain), hanya mempunyai epipedon ochrik, histik, horison kambik, kalsik atau gipsik.
3. Regosol
Tanah yang hanya mempunyai epipedon ochrik. Tidak termasuk bahan endapan baru, tidak
menunjukkan sifat-sifat hidromorfik, tidak bersifat mengembang dan mengkerut, tidak
didominasi bahan amorf. Bila bertekstur pasir, tidak memenuhi syarat untuk Arenosol.
4. Lithosol
Tanah yang tebalnya hanya 10 cm atau kurang, di bawahnya terdapat lapisan batuan yang padu.
5. Arenosol
Tanah dengan tekstur kasar (pasir), terdiri dari bahan albik yang terdapat pada kedalaman 50 cm
atau lebih, mempunyai sifat-sifat sebagai horison argilik, kambik atau oksik, tetapi tidak
memenuhi syarat karena tekstur yang kasar tersebut. Tidak mempunyai horison penciri lain
kecuali epipedon ochrik. Tidak terdapat sifat hidromorfik, tidak berkadar garam tinggi.
6. Rendzina
Tanah dengan epipedon mollik yang terdapat langsung di atas batuan kapur.
7. Ranker
Tanah dengan epipedon umbrik yang tebalnya kurang dari 25 cm. Tidak ada horison penciri lain.
8. Andosol
Tanah dengan epipedon mollik atau umbrik atau ochrik dan horison kambik, serta mempunyai
bulk density kurang dari 0,85 g/cc dan didominasi bahan amorf, atau lebih dari 60 % terdiri dari
bahan vulkanik vitrik, cinder, atau pyroklastik vitrik yang lain.
9. Vertisol
Tanah dengan kandungan liat 30 % atau lebih, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut.
Kalau kering tanah menjadi keras, dan retak-retak karena mengkerut, kalau basah mengembang
dan lengket.
10. Solonet
Tanah dengan horison natrik. Tidak mempunyai horison albik dengan sifat-sifat hidromorfik dan
tidak terdapat perubahan tekstur yang tiba - tiba.
11. Yermosol
Tanah yang terdapat di daerah beriklim arid (sangat kering), mempunyai epipedon ochrik yang
sangat lemah, dan horison kambik, argilik, kalsik atau gipsik.
12. Xerolsol
Seperti Yermosol tetapi epipedon ochrik sedikit lebih berkembang.
13. Kastanozem
Tanah dengan epipedon mollik berwarna coklat (kroma > 2), tebal 15 cm atau lebih, horison
kalsik atau gipsik atau horison yang banyak mengandung bahan kapur halus.
14. Chernozem
Tanah dengan epipedon mollik berwarna hitam (kroma < 2) yang tebalnya 15 cm atau lebih.
Sifat-sifat lain seperti Kastanozem.
15. Phaeozem
Tanah dengan epipedon mollik, tidak mempunyai horison kalsik, gipsik, tidak mempunyai
horison yang banyak mengandung kapur halus.
16. Greyzem
Tanah dengan epipedon mollik yang berwarna hitam (kroma < 2), tebal 15 cm atau lebih,
terdapat selaput (bleached coating) pada permukaan struktur tanah.
17. Cambisol
Tanah dengan horison kambik dan epipedon ochrik atau umbrik, horison kalsik atau gipsik.
Horison kambik mungkin tidak ada bila mempunyai epipedon umbrik yang tebalnya lebih dari
25 cm.
18. Luvisol
Tanah dengan horison argillik dan mempunyai KB 50 % atau lebih. Tidak mempunyai epipedon
mollik.
19. Podzoluvisol
Tanah dengan horison argillik, dan batas horison eluviasi dengan Horison di bawahnya terputus-
putus (terdapat lidah-lidah horison eluviasi = tonguing).
20. Podsol
Tanah dengan horison spodik. Biasanya dengan horison albik.
21. Planosol
Tanah dengan horison albik di atas horison yang mempunyai permeabilitas lambat misalnya
horison argillik atau natrik dengan perubahan tekstur yang tiba-tiba, lapisan liat berat, atau
fragipan. Menunjukkan sifat hidromorfik paling sedikit pada sebagian horison albik.
22. Acrisol
Tanah dengan horison argillik dan mempunyai KB kurang dari 50 %. Tidak terdapat epipedon
mollik.
23. Nitosol
Tanah dengan horison argillik, dan kandungan liat tidak menurun lebih dari 20 % pada horison-
horison di daerah horison penimbunan liat maksimum. Tidak terdapat epipedon mollik.
24. Ferrasol
Tanah dengan horison oksik, KTK (NH4Cl) lebih 1,5 me/100 g liat. Tidak terdapat epipedon
umbrik.
25. Histosol
Tanah dengan epipedon histik yang tebalnya 40 cm atau lebih.

Dalam tingkat sub group nama tanah terdiri dari dua patah kata seperti halnya sistem
Taksonomi Tanah, dimana kata kedua menunjukkan nama great group, sedangkan kata pertama
menunjukkan sifat utama dari sub group tersebut.
Contoh :
Great group : Fluvisol
Sub group : Claseric Fulvisol
Great group : Regosol
Sub group : Humic Regosol

 Kelebihan

 Dapat diterima oleh semua pihak karena menggunakan perpaduan antara klasifikasi dari FAO
sendiri dan dari USDA.

 Mempunyai ciri khas, karena dalam pengklasifikasiannya berdasarkan horison-horison penciri


dan kriteria horisonnya.

 Nama-nama tanah sebagian diambil dari nama-nama klasik yang sudah terkanal didaerah Eropa,
Rusia, Kanada, dan Amerika. Sehingga namanya sudah bersifat umum.
 Cocok untuk peta berskala 1:5.000.000

 Kekurangan

 Sistem ini lebih tepat disebut sebagai suatu sistem satuan tanah daripada suatu sistem klasifikasi
tanah karena tidak disertai dengan pembagian kategori yang lebih terperinci hanya subgroup dan
greatgroup.

 Dalam penamaan tidak secara langsung orang dapat mengetahui sifat tanah tersebut.

2.5 PERSAMAAN KLASIFIKASI TANAH USDA, FAO/UNESCO DAN PUSAT


PENELITIAN TANAH BOGOR

1. Memungkinkan adanya modifikasi karena ada penemuan baru dengan tidak merusak sistemnya
sendiri.
2. Sifat pembeda yang dikemukakan sama-sama berdasarkan kriteria horison penciri yang terbentuk
sebagai hasil dari proses pembentukan tanah atau sifat yang mempengaruhi pembentukan tanah.
3. Tata nama informatif dalam arti menunjukkan sifat-sifat tanah masing-masing kategori.
4. Digunakan dalam survey tanah
5. Seluruh klasifikasi tanah sama – sama bertujuan untuk :
a. Mengorganisasi atau meneta pengetahuan tentang tanah
b. Mengetahui hubungan masing-masing individu tanah
c. Memudahkan mengingat sifat-sifat tanah
d. Mempermudah dalam menaksir sifat dan produktifitas, menentukan lahan terbaik, menentukan
areal-areal penelitian dan kemungkinan eksploitasi hasil penelitian.
e. Mempelajari hubungan – hubungan dan sifat – sifat tanah baru.
5. Sistem Klasifikasi Tanah Berdasarkan AASHTO
Sistem klasifikasi AASHTO berguna untuk menentukan kualitas tanah guna pekerjaan jalan
yaitu lapis dasar (subbase) dan tanah dasar(subgrade). Karena sistem ini ditujukan untuk
pekerjaan jalan tersebut,maka penggunaan sistem ini dalam prakteknya harus dipertimbangkan
terhadap maksud aslinya.

Sistem ini membagi tanah ke dalam 7 kelompok utama yaitu A-1 Sampai dengan A-7. Tanah
yang terklasifikasikan dalam kelompok A-1, A-2, dan A-3 merupakan tanah granuler yang
memiliki partikel yang lolos saringan No. 200 kurang dari 35%. Tanah yang lolos saringan No.
200 lebih dari 35% diklasifikasikan dalam kelompok A-4, A-5, A-6, dan A-7. Tanah-tanah
dalam kelompok ini biasanya merupakan jenis tanah lanau dan lempung.
AASHTO sistem mengklasifikasikan tanah menjadi 7 bagian besar, yaitu :
1. A-1 (A-1-a ; A-1-b), kelompok ini termasuk granular .
2. A-2 (A-2-4 ; A-2-5 ; A-2-6 ; A-2-7), A-3, termasuk kelompok gravel dan sand.
3. A-4, A-5 (fine), A-6((silt dan clay), A-7.

3. TUJUAN KLASIFIKASI TANAH

1. Menyusun pengetahuan tentang tanah secara sistematis.

2. Mengetahui hubungan masing- masing individu tanah satu sama lain.

3. Memudahkan mengingat sifat- sifat tanah.

4. Mengelompokkan tanah untuk tujuan- tujuan yang lebih praktis dalam hal:

–Memprediksi sifat- sifat tanah

–Memprediksi produktivitas tanah

–Menentukan areal-areal untuk penelitian, atau kemungkinan ekstrapolasi hasil penelitian di suatu
tempat.