Anda di halaman 1dari 87

ANGGARAN KOMPREHENSIP DAN ANGGARAN PARSIAL

Anggaran Komprehensif
Komprehensif artinya menyeluruh atau secara keseluruhan. Dalam menyusun anggaran,
perusahaan dapat melakukannya dengan dua cara, yakni secara sebagian demi sebagian (partial)
dan secara keseluruhan (comprehensive). Karena itu dikenal Comprehensive Budget.
Comprehensive budget (Anggaran komprehensif) yakni penyusunan rencana perusahaan (Business
budget) secara keseluruhan.

Anggaran komprehensip merupakan anggaran dengan ruang lingkup yang menyeluruh. Aktivitas
yang tercakup dalam anggaran komprehensip mencakup seluruh aktivitas perusahaan baik dalam
bidang pemasaran, produksi, keuangan dan administrasi.

Penyusunan anggaran komprehensif akan mendatangkan manfaat berupa adanya pendekatan


secara sistematis terhadap kebijaksanaan manajemen, serta memper¬mudah diadakannya evaluasi
tujuan akhir perusahaan secara kuantitatif. Dengan menyusun anggaran komprehensif juga
membantu fungsi pengawasan yang lebih dinamis terhadap pelaksanaan kebijaksanaan-
kebijaksanaan manajemen. Secara lebih tegas istilah "Comprehensive" dalam penganggaran dapat
di¬artikan sebagai:

 Pemakaian secara lebih luas konsep-konsep penganggaran dalam setiap kegiatan perusahaan.
 Pemakaian total sistem approach dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari.

Ada beberapa pedoman umum yang perlu diperhatikan dalam penyusunan ang¬garan komprehensif,
yaitu:

1. Mengadakan spesifikasi terhadap tujuan yang luas daripada perusahaan.


2. Mempersiapkan rencana-rencana pendahuluan secara keseluruhan.
3. Menyusun rencana jangka panjang dan jangka pendek.

Dengan berdasarkan pedoman di atas, anggaran komprehensif dapat diuraikan menjadi komponen:
A. Substantive Plan:
Substantive Plan merupakan rencana yang mencerminkan tujuan apa yang ingin dicapai oleh suatu
perusahaan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, strategi yang dipakai serta
asumsikannya. Substantive Plan sedapat mungkin disusun dalam bentuk yang formal sehingga dapat
dijadikan pedoman yang sungguh-sungguh bagi perusahaan.

B. Financial Plan:
Financial Plan merupakan penjabaran segala hal yang direncanakan tersebut menjadi suatu
anggaran yang memiliki perspektive financial. Dengan kata lain, financial plan merupakan usaha
untuk mengkuantitaskan segala tujuan, rencana dan kebijaksanaan perusahaan. Secara lebih jauh
financial plan merupakan penyajian secara lebih terperinci semua tujuan, rencana dan strategi
tersebut untuk periode-periode waktu tertentu. Sehingga dengan berdasarkan pada jangka waktunya
maka financial plan dikelompokkan menjadi:

1. Anggaran jangka panjang (Strategic Plan)


Anggaran jangka panjang merupakan suatu perencanaan perusahaan untuk jangka waktu yang lama,
yakni lebih dari satu tahun atau bahkan lebih dari lima atau sepuluh tahun. Penyusunan anggaran ini
dilakukan sesuai dengan pola tujuan yang telah disusun pada saat perusahaan didirikan. Perusahaan
didi.rikan tidak hanya untuk jangka waktu satu atau dua tahun saja. Karena itu perusahaan perlu
menyusun perencanaan yang menyeluruh tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukannya dalam
jangka panjang.

Rencana jangka panjang merupakan suatu kesatuan yang utuh darl rencana-rencana yang
disusun untuk kegiatan-kegiatan setiap tahun. Kadang-kadang perusahaan yang tidak menyusun
perencanaan jangka panjang akan mengalami kesulitan dalam menyusun anggaran tahunan.

2. Anggaran tahunan (Tactical Plan).


Anggaran Tahunan merupakan perencanaan kegiatan-kegiatan tahunan suatu perusahaan.
Anggaran tahunan dikelompokkan menjadi:
a. Anggaran Operasional
Anggaran operasional merupakan rencana seluruh kegiatan-kegiatan perusahaan untuk mencapai
tujuannya. Umumnya tujuan perusahaan adalah mendapatkan keuntungan. Anggaran operasional ini
dibagi menjadi 2 bagian yakni:

 Anggaran Proyeksi Rugi/Laba. Dalam anggaran ini dihitung atau ditaksir besarnya laba, baik
menurut bagian, menurut jenis produk maupun laba yang merupakan keseluruhan.
 Anggaran pembantu laporan Rugi/Laba (Income Statement Sup¬porting Budget). Anggaran ini
meliputi seluruh anggaran kegi¬atan-kegiatan yang menyokong penyusunan suatu laporan Rugi/
Laba (Income Statement), yakni:

AnggaranPenjualan
Pada pokoknya anggaran ini akhirnya akan meng¬gambarkan berapa revenue yang diterima sebagai
akibat dilakukannya penjualan-penjnalan pada periode yang akan datang.<
Anggaran penjualan ini meliputi data:

 Jenis produk yang dijual


 Volume produk yang dijual
 Harga produk per satuan
 Wilayah pemasaran.
Anggaran penjualan akan menjadi dasar untuk penyu¬sunan anggaran-anggaran lainnya. Atau
dengan kata lain anggaran-anggaran lainnya disusun dengan terlebih dahulu memperhatikan rencana
kegiatan penjualan. Perusahaan tidak boleh begitu saja menyusun rencana produksinya. Apabila
tidak diperhitungkan, maka kemungkinan seba¬gian (sebagian besar) produk tidak dapat terjual.

Dalam pelaksanaannya, penyusunan anggaran pen¬jualan ini agak sulit dilakukan, karena harus
mempertimbangkan beberapa faktor pembatas, seperti kemampuan menjual yang dimiliki
perusahaan. Akibatnya penyusunan anggaran penjualan memerlukan teknik forecasting (peramalan)
yang tepat, yang membuat esdmasi kegiatan masa depan dengan mendasarkan diri pada
pengalaman-¬pengalaman masa lalu. Tentu saja perlu dieprhatikan pula kemungkinan terjadinya
perubahan-perubahan di masa yang akan datang seperti:

 Perubahan selera konsumen


 Perubahan tingkat harga
 Penemuan-penemuan baru (kemajuan teknologi). Kesalahan penyusunan anggaran
penjualan akan berakibat anggaran-anggaran lain juga ikut mengalami kesa¬lahan-
kesalahan, yang akhimya merugikan perusahaan.

Anggaran Produksi
Anggaran ini disusun dengan memperhatikan segala kegiatan produksi, yang diperlukan untuk
menunjang anggaran penjualan yang telah disusun. Anggaran produksi ini terdiri dari beberapa sub-
anggaran (sub-budget) yakni:
1. Anggaran jumlah yang harus diproduksi
Rencana tentang jumlah produk yang harus diha¬silkan dengan memperhatikan terlebih dahulu
ang¬garan penjualan, Persediaan awal dan persediaan akhir tahun.
Contoh:
Rencanapenjualan 1.000 unit
Persediaan akhir 100 unit (+)
Barang yang harus tersedia 1.100 unit
persediaan awal 200 unit (-)
Jumlah yang harus diproduksi 900 unit

2. Anggaran Bahan Mentah,


yang terdiri dari:

 Anggaran kebutuhan bahan mentah (dalam unit).


 Anggaran pembelian bahan mentah (dalam unit dan harga).
 Anggaran biaya bahan mentah yang habis digunakan dalam produksi (dalam harga).
3. Anggaran Tenaga Kerja Langsung.

4. Anggaran Biaya Overhead Pabrik


yakni anggaran semua jenis biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk, selain biaya materi
dan biaya tenaga kerja langsung.

Anggaran Biaya Distribusi


Anggaran ini mencakup semua biaya-biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan dalam
hubungannya dengan kegiatan memasarkan produk.
Termasuk ke dalamnya antara lain:

 Biaya untuk para salesman, supervisor dan tenaga-tenaga penjualan lainnya.


 Ongkos pengangkutan.
 Biaya-biaya perjalanan seperti: <
 Biaya transport
 Biaya penginapan
 Biaya makan.
 Biaya-biaya advertensi dan promosi.
 Depresiasi (peralatan distribusi)
 Biaya-biaya administrasi penjualan.
 Biaya asuransi dan lain-lain.

Anggaran Biaya Umum dan Administrasi


Anggaran biaya umum adalah anggaran yang berisi semua biaya-biaya yang dikeluarkan oleh
perusahaan untuk direksi dan stafnya, bagian keuangan dan bagian administrasi. Anggaran
administrasi yaitu anggaran yang berisi biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk
kegiatan-kegiatan yang menunjang usaha perusahaan di luar kegiatan pabrik. Bersama-sama
dengan anggaran distribusi, maka anggaran biaya umum dan administrasi ini akan membentuk
anggaran biaya operasional (Operating Expenses Budget).

Anggaran Type Appropriasi.


Anggaran ini merupakan anggaran biaya yang tidak dapat dikategorikan sebagai bagian dari
anggaran-anggaran sebelumnya.
Umpamanya:

 Anggaran Pemeliharaan
 Anggaran Penelitian.
b. Anggaran Keuangan
Anggaran keuangan ini disusun sebagai akibat terjadinya per¬ubahan kekayaan, utang dan piutang
perusahaan. Perubahan tersebut diakibatkan oleh kegiatan yang dilakukan perusahaan.
Anggaran keuangan meliputi:

Anggaran Proyeksi Neraca


Anggaran Proyeksi Neraca mencerminkan perkiraan semua aktiva dan pasiva yang akan dimiliki oleh
perusahan pada akhir suatu periode produksi.
Aktiva:
- Aktiva tetap
- Akdva lancar
Pasiva:
- Utang jangka pendek
- Utang jangka panjang
- Modal sendiri.

Anggaran Pembantu Proyeksi Neraca.


Anggaran ini memerinci masing-masing pos yang ada dalam neraca, terutama pos-pos yang
berhubungan dengan ma¬salah likuiditas perusahaan.
Pos-pos tersebut antara lain:
Anggaran Kas yang terdiri dari:
- Aliran kas masuk
- Aliran kas keluar
Aliran kas masuk dapat berasal dari:
- penjualan produk secara tunai
- penagihan piutang-piutang dari penjualan kredit.
- penerimaan-penerimaan lain (bunga, dividen dan lain¬-lain)
- penjualan aktiva.
- pinjaman-pinjaman.

Sedangkan aliran kas keluar dapat berasal dari:<

 pembelian bahan mentah untuk keperluan produksi.


 pembayaran upah tenaga kerja (buruh).
 macam-macam biaya yang dikeluarkan (biaya sewa, listrik, telepon, alat-alat tulis dan lain-
lain).
 pengeluaran-pengeluaran untuk kepentingan expansi (pembelian mesin-mesin baru,
perluasan bangunan pabrik dan lain-lain).

Anggaran Penambahan Modal


Anggaran penambahan modal pada dasarnya disusun untuk jangka Panjang.
Anggaran Penyusutan Aktiva
Anggaran depresiasi perlu disusun secara khusus oleh perusahaan, karena aktiva tetap yang dimiliki
perusahaan lebih dari satu (banyak), usia masing-masing akdva tetap berlainan dan metode
penghitungan penyusutan masing¬-masing aktiva tetap berlainan pula.

Anggaran operasional (operation budget) dan anggaran finansial (financial budget) adalah
bagian dari Planning atau Forecasting Budget. Selain anggaran Forecasting, maka selanjutnya dalam
anggaran Comprehensive anggaran dikenal pula:

1. Anggaran Variabel untuk berbagai biaya/pengeluaran (Variable Expenses Budget).


2. Data Siatistik Pembantu (Supplementary Statistics).
3. Laporan anggaran kepada manajemen tentang pelaksanaan anggaran (Internal Report).

Komponen-Komponen Anggaran Komprehensif


Komponen-komponen anggaran komprehensif secara lengkap adalah sebagai berikut:
I. Substantive Plan
- Tujuan-tujuan umum perusahaan.
- Tujuan khusus pensahaan.
- Strategi-strategi perusahaan.
- Penentuan berbagai asumsi dasar yang akan dipakai perusahaan seterusnya.

II. Financial Plan


A. Anggaran Jangka Panjang:
1. Penjualan, biaya dan laba.
2. Penentuan besarnya modal.
3. Penentuan tambahan modal.
4. Perkiraan arus dana.
5. Perkiraan kebutuhan tenaga kerja.

B. Anggaran Tahunan:
1. Anggaran operasional.
a. Anggaran proyeksi Rugi/Laba.
b. Anggaran pembantu laporan Rugi/Laba.
i. Anggaran penjualan.
ii Anggaran produksi.
iii Anggaran biaya distribusi.
iv Anggaran biaya umum dan administrasi.
v Anggaran type appropriasi
- Anggaran iklan dan promosi.
- Anggaran penelitian.
- Anggaran pemeliharaan dan lain-lain.
2. Anggaran finansial.
a. Anggaran neraca.
b. Anggaran pembantu neraca.
- Anggaran kas.
- Anggaran piutang.
- Anggaran utang.
- Anggaran penambahan modal
- Anggaran penyusutan aktiva
- Anggaran persediaan
- Anggaran Biaya Finansial<

Berikut skema anggaran komprehensif. Dari skema tersebut dapat dilihat kaitan antara anggaran
bidang tertentu dengan yang lain, sekaligus juga menunjukkan bagaimana proses penyusunan
anggaran pada sebuah perusahaan.

Anggaran Parsial
Anggaran Parsial. Anggran parsial merupakan anggaran yang disusun dengan ruang lingkup
yang terbatas atau dalam ruang lingkup yang sempit. Misalnya perusahaan hanya menyususn
anggaran produksi saja, penjulan atau keuangan saja. Dalam anggaran parsial masing-masing
bagian menyusun anggaran secara sendiri-sendiri, sehingga rencana tersebut disusun tidak terpadu,
dibandingkan dengan anggaran komprehensip anggaran parsial lebih mudah disusun karena belum
begitu kompleks. Ada bebenpa alasan yang menyebabkan perusahaan menyusun anggaran secara
partial.
1. Perusahaan tidak mempunyai kemampuan untuk membuat anggaran secara keseluruhan
karena tidak adanya skill sehingga anggaran dibuat sebagian yang diperlukan saja.
2. Tidak tersedianya data yang lengkap tentang keseluruhan bagian dalam perusahaan.
Penyusunan anggaran mempunyai hubungan yang sangat erat dengan tersedia atau
tidaknya data serta ketepatan data.
3. Kekurangan biaya untuk membuat anggaran yang lengkap sehingga disusun anggaran yang
perlu saja.

Proses Penyusunan Anggaran Perusahaan

Berikut ini adalah tahapan proses penyusunan Anggaran Perusahaan

1. Identifikasi dan Evaluasi Variabel Eksternal (trendwatching)


Trendwatcing merupakan pengamatan terhadap trend perubahan lingkungan makro dan
lingkungan industri untuk mengidentifikasi peluang yang dapat diraih dan ancaman yang harus
dihadapi perusahaan dalam setiap lingkungan tersebut. Ada 2 (dua) jenis lingkungan yang
berpengaruh besar pada perusahaan, yaitu:

a. Lingkungan makro
Lingkungan makro terdiri dari empat kekuatan pokok antara lain politik dan hukum, ekonomi,
teknologi, dan sosial.
b. Lingkungan industri
Selain analisis lingkungan makro, perusahaan perlu melakukan analisis trend perubahan yang terjadi
dalam industri. Variabel ini tidak dapat dikendalikan perusahaan namun dapat dipengaruhi oleh
perusahaan. Terdapat 5 (lima) kekuatan yang mempengaruhi industri, antara lain:

1) Ancaman organisasi baru yang memasuki industri;


2) Kekuatan pemasok;
3) Kekuatan pembeli;
4) Dampak produk subsitusi;
5) Persaingan dalam industri.

Identifikasi variabel eksternal ini mencakup suatu pertimbangan umtuk memilih variabel yang
dapat dikendalikan dan yang tidak dapat dikendalikan., sehingga manajemen dapat mengambil
manfaat dari akibat yang menguntungkan dan meminimalkan akibat yang merugikan bagi
perusahaan.

Tahap penting dalam analisis ini adalah evaluasi dari kekuatan dan kelemahan perusahaan saat
ini (analisis SWOT). Analisis SWOT dilakukan dalam dua tahap, yaitu:
a. Analisis ekstern<
Bertujuan untuk mempertimbangkan peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan.
b. Analisis intern
Bertujuan untuk mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan intern perusahaan.

Pendakatan anggaran yang komprehensif didasarkan pada ekpektasi dimana aspek operasi
yang penting akan dianalisis secara kritis dan dievaluasi setiap periode dengan cara yang benar
sehingga bantuan dari pihak yang independen sangat penting bagi penilaian ini.

2. Pengembangan Tujuan Umum Perusahaan


Suatu perusahaan harus merumuskan tujuan umum yang ingin dicapai oleh perusahaan
sebelum merumuskan strategi. Tujuan umum ini berisi tentang:
Misi berfungsi sebagai pemfokus dan pemberi makna terhadap kehidupan kerja seluruh anggita
organisasi. Misi harus menetapkan bisnis perusahaan terpisah dari bisnis pesaing.
b. Visi
Visi harus menjelaskan kondisi masa depan dari organisasi yang hendak diwujudkan.
c. Keyakinan dasar
Merupakan keyakinan tentang kebenaran misi, visi dan langkah yang ditempuh untuk mewujudkan
visi. Keyakinan dasar ini merupakan pemicu semangat seluruh anggota organisasi untuk mencapai
tujuan.
d. Nilai dasar
Merupakan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh seluruh anggota organisasi dan mampu memandu
mereka untuk memilih berbagai alternatif yang diperlukan untuk menuju masa depan. Nilai dasar ini
berfungsi sebagai pembatas pengambilan keputusan oleh para anggota dalam rangka mewujudkan
visi demi tercapainya tujuan perusahaan.

Visi menjadi dasar perumusan tujuan perusahaan, karena tujuan merupakan penjabaran dari visi
perusahaan. Tujuan umum perusahaan menggambarkan fondasi dasar tempat mengembangkan dan
memperkuat kebanggaan pada perusahaan bagi manajer, karyawan lain, pemilik, pelanggan, dan
perusahaan lain yang berhubungan secara komersial.

3. Pengembangan Sasaran Khusus Bagi Perusahaan


Tujuan dari tahap sasaran dalam proses anggaran ini adalah untuk mengarahkan pernyataan
tujuan umum ke fokus yang lebih tajam dan untuk mentransformasikan informasi umum kepada
informasi perencanaan yang lebih spesifik. Manajemen eksekutif harus melaksanakan kepemimpinan
pada tahap perencanaan ini sehingga ada kerangka kerja yang nyata, jelas dan realistis dalam
operasi yang akan dilaksanakan untuk pencapaian sasaran yang bersifat khusus. Hal ini akan
memberikan suatu dasar bagi pengukuran kinerja.

4. Pengembangan dan Evaluasi Strategi Perusahaan


Strategi perusahaan adalah sasaran dasar, cara dan taktik yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan dan sasaran yang direncanakan. Tujuan dari pengembangan dan penyebaran
strategi adalah menemukan alaternatif terbaik untuk mencapai tujuan umum yang direncanakan dan
sasaran spesifik. Strategi memberikan garis besar rencana tindakan bagi perusahaan. Manajemen
eksekutif harus kreatif dan langsung terlibat dalam pengembangan dan penyesuaian strategi baru
yang sedang dilaksanakan sesuai dengan variabel relavan yang harus dikuasai manajemen.

Selain formulasi strategi, penilaian kembali strategi secara periodik juga penting untuk
menganalisis secara teliti semua variabel yang relevan dan akibat yang mungkin terjadi atas
perusahaan dimasa yang akan datang. Setiap alternatif strategi harus dievaluasi secara mendalam
dengan cara mengidentifikasi manfaat dan kelemahan utama setiap strategi tersebut, termasuk
asumsi yang mendasari. Berikut kriteria untuk mengevaluasi strategi:

 Konsistensi intern, yaitu rencana tindakan yang mendukung satu dengan yang lain;
 Realistik, yaitu rencana tindakan yang dipilih dapat dicapai meskipun berisi tantangan;
 Berfokus ke pencarian peluang dan penyelesaian masalah, yaitu rencana yang dipilih akan
dapat mewujudkan peluang dan menyelesaikan masalah utama dan mengarah ke isu strategi
utama;
 Berkemampuan menyelasaikan sub problem, yaitu bahwa smua gejala juga diselesaikan;
 Bermanfaat bagi customer, yang berarti rencana harus meng-improve value yang dihasilkan
bagi customer.

5. Instruksi Perencanaan Manajemen Eksekutif


Instruksi perencanaan eksekutif yang dikeluarkan manajemen tingkat atas, mengkomunikasikan
materi perencanaan yang diperlukan semua tingkatan manajemen untuk berpartisipasi dalam
pengembangan perencanaan laba strategis dan taktis untuk tahun anggaran mendatang. Tahap ini
merupakan tahap komunikasi dari rencana substantif kepada manajemen tingkat menengah dan
tingkat bawah. Tahap ini juga menjelaskan tujuan umum, sasaran spesifik, strategi perusahaan dan
segala macam instruksi manajemen eksekutif yang dibutuhkan untuk mengembangkan rencana laba
yang strategis dan taktis.

Perusahaan memerlukan suatu alat yang dikenal dengan cascading, yaitu alat untuk
mengkomunikasikan sasaran dan strategi ke jenjang organisasi yang lebih rendah. Cascading pada
dasarnya adalah proses pengubahan misi, visi, keyakinan dasar, nilai dasar dan strategi anggota
organisasi melalui perilaku operasional. Cascading menjadi suatu proses sistematik
penginternalisasian misi, visi, keyakinan dasar, nilai dasar dan strategi organisasi ke dalam diri setiap
personel perusahaan sehingga menjadi share mission, share vision, share beliefs, share value dan
share strategies.

6. Persiapan dan Evaluasi Perencanaan Proyek


Konsep anggaran yang komprehensif mencakup suatu pendekatan yang sistematis dan
terintegrasi untuk membuat perencanan proyek, perencanaan taktis dan perencanan strategik. Setiap
manajemen perlu mengembangkan tabel/grafik berdimensi waktu untuk keperluan pengambilan
keputusan dan perencanaan pada sub unitnya. Dalam tabel/grafik berdimensi waktu, biasanya
terdapat dua rencana, yaitu:

a. Rencana proyek
Rencana ini meliputi horizon waktu yang berbeda-beda kerana setiap proyek mempunyai dimensi
waktu yang unik, misalny: rencana untuk memperbaiki produk yang ada, fasilitas fisik yang baru.
b. Rencana periodik
Merupakan kebutuhan manajemen untuk merencanakan, mengevaluasi dan mengendalikan operasi
dalam jangka waktu yang relatif singkat dan konsisten secara interim.

7. Pengembangan dan Persetujuan Rencana Laba Strategis dan Taktis


Setelah manajer dari berbagai pusat tanggung jawab menerima instruksi perencanaan
manajemen eksekutif dan rencana proyek, maka manajer dari berbagai pusat tanggung jawab dapat
memulai aktivitas intensifnya untuk mengembangkan rencana laba secara strategis maupun taktis
yang disusun secara bersamaan.

Rencana laba strategik jangka panjang merupakan perencanaan perusahaan untuk jangka
waktu yang relatif lama, yakni lebih dari satu tahun atau bahkan lebih dari lima tahun. Rencana laba
strategik jangka panjang dibuat sesuai dengan tujuan umum perusahaan, sasaran strategik, dan
strategi jangka panjang yang telah ditentukan sebelumnya. Bagian formal dari rencana ini meliputi:
laporan laba/rugi, neraca, proyeksi arus kas, rencana belanja modal, tuntutan karyawan, rencana
penelitian dan rencana penetrasi pasar jangka panjang. Rencana jangka panjang meliputi semua
bidang aktivitas utama yang diantisipasi:

a. Penjualan, harga pokok dan laba;


b. Proyek besar dan penambahan investasi modal;
c. Arus kas dan pembiayaan;
d. Kebutuhan dan persyaratan personel;
e. Pengembalian investasi;
f. Penelitian dan pengembangan;
g. Informasi tentang persaingan dipasar dan analisis pangsa pasar.

Rencana laba taktis merupakan perencanaan kegiatan-kegiatan tahunan perusahaan. Manajer,


pemilik perusahaan dan pihak lain yang berkepentingan biasanya memerlukan jadwal, hasil dari
rencana laba secara periodik, laporan kinerja dan evaluasi mengenai progress perusahaan. Laporan
rencana dan progress biasanya dibuat bulanan, tiga bulanan atau tahunan.

Bila kedua rencana laba tersebut selesai dibuat, proses persetujuan dimulai. Proses ini meliputi
persetujuan, ketidaksetujuan atau saran perbaikan. Setelah proses persetujuan partisipasif selesai
untuk setiap pusat tanggung jawab dan smua perbedaan yang relevan diselesaikan, berbagai
rencana dan program dari pusat tanggung jawab utama digabungkan ke dalam semua rencana laba
strategis dan taktis bagi perusahaan dalam satu kesatuan.

8. Pelaksanaan Rencana Laba


Pelaksanaan rencana manajemen yang telah dikembangkan dan disetujui dalam proses
perencanaan melibatkan fungsi manajemen yaitu pengarahan bawahan dalam mencapai tujuan dan
sasaran perusahaan. Manajemen yang efektif di semua tingkat mengharuskan tujuan, sasaran,
strategi dan kebijakan perusahaan dikomunikasikan dan dimengerti oleh bawahannya. Perencanaan
laba yang luas dan program pengendalian dapat membantu melaksanakan fungsi ini. Rencana,
strategi, dan kebijakan yang dibuat melalui partisipasi yang besar menetapkan dasar bagi komunikasi
yang efektif.

9. Penggunaan Laporan Kinerja Periodik


Setelah rencana laba diimplementasikan selama periode tertentu, maka diperlukan laporan
kinerja periodik yang dibuat berdasarkan laporan bulanan. Laporan kinerja ini mencakup:

a. Laporan kinerja aktual periodik ;


b. Membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang direncanakan;
c. Memperlihatkan setiap perbedaan sebagai varians kinerja yang menguntungkan atau tidak
menguntungkan.

Perbedaan yang jelas harus dibuat antara laporan keuangan ekternal dan internal. Laporan
internal dapat diklasifikasikan menjadi:

a. Laporan statistik yang memberikan statistik kuantitatif internal dasar mengenai operasi
perusahaan;
b. Laporan manajerial yang khusus mengenai masalah yang tidak berulang dan masalah
khusus;
c. Laporan kinerja periodik.

Laporan kinerja jangka pendek penting untuk pengendalian yang efektif.

10. Penggunaan Anggaran Biaya Fleksibel


Konsep anggaran fleksibel (anggaran variabel) hanya digunakan pada biaya yang terpisah dari
rencana laba, sehingga anggaran variabel hanya bersifat tambahan. Anggaran fleksibel memberikan
informasi yang realistik mengenai biaya yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah anggaran
untuk berbagai macam volume output atau tingkat aktivitas dari setiap pusat tanggung jawab.

Anggaran fleksibel menyediakan rumus untuk setiap biaya dalam pusat tanggung jawab. Rumus
tersebut menunjukkan hubungan dari biaya terhadap output (volume kerja). Rumus anggaran
fleksibel dapat diterapkan dalam laporan pengendalian kinerja dan untuk mengembangkan jumlah
biaya dalam rencana laba taktis. Jika rumus ini dikembangkan bersamaan rencana laba strategis dan
taktis, maka dapat digunakan untuk menghitung jumlah biaya yang dianggarkan dalam rencana laba
taktis. Perhitungan dilakukan dengan mengalikan output atau aktivitas yang direncanakan dari setiap
pusat tanggung jawab dengan tarif biaya variabel yang berhubungan untuk setiap pusat tanggung
jawab dan kemudian ditambah dengan biaya tetap untuk pusat tersebut (Y = a + bX).

11. Penerapan Tindak Lanjut


Dalam hal ini perlu pemisahan yang jelas antara sebab dan akibat. Variasi kinerja adalah
sebuah akibat (hasil), manajemen harus dapat menentukan sebab yang mendasarinya. Identifikasi
sebab adalah tanggung jawab manajemen lini. Analisis untuk menentukan sebab akibat ini harus
diprioritaskan untuk menentukan variasi kinerja yang menguntungkan dan tidak menguntungkan.
Pada kasus yang tidak menguntungkan maka setelah berhasil mengidentifikasi sebab yang
mendasari, maka suatu alternatif tindakan perbaikan perlu dipilih dan kemudian diterapkan.

Dalam kasus varians yang menguntungkan, sebab yang mendasari juga harus diidentifikasi.
Penyebab yang mendasari dapat menjadi informasi yang bernilai bagi peningkatan efisiensi dan bagi
pengembangan dukungan yang positif pada operasi dan bagi karyawan yang kurang berhasil.

Kelebihan dan Kelemahan Anggaran Perusahaan

Kelebihan Anggaran
Berdasarkan ulasan yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa
keuntungan yang dapat diperoleh bila perusahaan menerapkan penyusunan anggaran yang baik.
Beberapa keuntungan tersebut adalah :

1. Hasil yang diharapkan dari suatu rencana tertentu dapat diproyeksikan sebelum rencana
tersebut dilaksanakan. Bagi manajemen, hasil proyeksi ini menciptakan peluang untuk
memilih rencana yang paling menguntungkan untuk dilaksanakan.
2. Dalam menyusun anggaran , diperlukan analisis yang sangat teliti terhadap setiap tindakan
yang dilakukan. Analisis ini sangat bermanfaat bagi manajemen sekalipun ada pilihan untuk
tidak melanjutkan keputusan tersebut.
3. Anggaran merupakan penelitian untuk kerja sehingga dapat dijadikan patokan untuk menilai
baik buruknya suatu hasil yang diperoleh.
4. Anggaran memerlukan adanya dukungan organisasi yang baik sehingga setiap manajer
mengetahui kekuasaan, kewenangan, dan kewajibannya. Anggaran sekaligus berfungsi
sebagai alat pengendalian pola kerja karyawan dalam melakukan suatu kegiatan.
5. Mengingat setiap manajer/penyelia dilibatkan dalam penyusunan anggaran, maka
memungkinkan terciptanya perasaan ikut berperan serta.
Kelemahan Anggaran Perusahaan
Di samping beberapa keunggulan tersebut di atas, terdapat pula beberapa kelemahan antara
lain :

1. Dalam penyusunan anggaran, penaksiran yang dipakai belum tentu tepat dengan
keadaan yang sebenarnya.
2. Seringkali keadaan yang digunakan sebagai dasar penyusunan anggaran mengalami
perkembangan yang jauh berbeda daripada yang direncanakan. Hal ini berarti
diperlukan pemikiran untuk penyesuaian. Kemungkinan ini menghendaki agar
anggaran disesuaikan secara berkesinambungan dengan kondisi yang berubah-ubah
agar data dan informasi yang diperoleh akurat.
3. Karena penyusunan anggaran melibatkan banyak pihak, maka secara potensial dapat
menimbulkan persoalan-persoalan hubungan kerja yang dapat menghambat proses
pelaksanaan anggaran.
4. Penganggaran tidak dapat terlepas dari penilaian subyektif pembuat kebijakan
terutama pada saat data dan informasi tidak lengkap /cukup.

Konsep Peramalan Penjualan

Ada beberapa pengertian mengenai peramalan penjualan diantaranya:

 Peramalan penjualan adalah perkiraan atau proyeksi secara teknis permintaan


konsumen potensial untuk suatu waktu tertentu dengan berbagai asumsi.
 Peramalan penjualan adalah perkiraan mengenai sesuatu yang belum terjadi .
 Peramalan penjualan adalah Budget yang berisi taksiran-taksiran tentang kegiatan-
kegiatan perusahaan dalam jangka waktu tertentu yang akan datang,serta berisi
taksiran-taksiran tentang keadaan atau posisi financial perusahaan pada suatu saat
yang akan datang.

Intinya Peramalan penjualan (sales forecasting) ialah teknik proyeksi permintaan


langganan yang potensial untuk suatu waktu tertentu dengan berbagai asumsi. Jae K Shim
berpendapat, “In business, forecast are the basis for capacity planning, production and
inventory planning, manpower planning, planning for sales and market share, and financial
planning and budgeting”. Dengan demikian, peramalan sangat penting di lakukan oleh si
“pengusaha” untuk menjalankan semua perencanaan di dalam perusahaannya.
Hasil dari suatu peramalan penjualan lebih merupakan pernyataan atau penilaian yang
dikuantifisir terhadap kondisi masa depan mengenai penjualan sebagai proyeksi teknis dari
permintaan konsumen potensial untuk jangka waktu tertentu.Meskipun demikian hasil
perkiraan yang diperoleh mungkin saja tidak sama dengan rencana.
Pada umumnya hasil dari suatu peramalan penjualan akan dikonversikan menjadi rencana
penjualan dengan memperhitungkan berbagai hal berikut :
a.Pendapat manajemen
b.Strategi-strategi yang direncanakan
c.Keterkaitan dengan sumber daya
d.Ketetapan manajemen dalam usaha mencapai sasaran penjualan
Dengan adanya peramalan penjualan produk di suatu perusahaan,maka manajemen
perusahaan tersebut akan dapat melangkah kedepan dengan lebih pasti.Atas dasar peramalan
penjualan yang disusun ini manajemen perusahaan akan dapat memperoleh gambaran tentang
keadaan masa depan perusahaan. Gambaran keadaan penjualan pada waktu yang akan datang
ini sangat penting bagi manajemen perusahaan, karena kebijakan perusahaan akan sangat
dipengaruhi oleh besarnya penjualan produk perusahaan tersebut.

Dalam menjalankan usahanya perusahaan biasanya melakukan 2 pendekatan, yakni


1. Speculative Approach (pendekatan spekulasi ). Di mana perusahaan tidak
memperhitungkan resiko yang diakibatkan oleh ketidak-pastian faktor-faktor intern dan
ekstern.
2. Calculated Risk Approach ( pendekatan penghitungan risiko ) .Di mana perusahaan
secara aktif melakukan estimasi terhadap resiko yang diakibatkan oleh ketidak-pastian
faktor-faktor ekstern dan intern.

Faktor internal (faktor yang dapat di kuasai), seperti misalnya:

Kualitas dan kegunaan produk yang terdiri dari :

1. Bagaimana produk di pakai,


2. mengapa orang membeli produk tersebut,
3. penggunaan potensial produk,
4. perubahan yang dapat menaikan kegunaan produk.
Ongkos produksi dan distribusi produk.
1. Proses pembentukan produk,
2. Teknologi yang di pakai,
3. Bahan mentah yang di pakai,
4. Kapasitas produksi.

Kecakapan manajemen (management skill) yang terdiri atas :

1. Penghayatan persoalan yang di hadapi,


2. kemampuan melihat reaksi pesaing.
3. Kemampuan Melakukan Forecast

Faktor eksternal (faktor yang tidak dapat di kuasai). Seperti misalnya:

1. Kecakapan management pesaing.


2. Volume kegiatan perekonomian yang di tentukan oleh : Konsumen, manager lain
(produsen lain) spekulator, peraturan hukum, keadaan politik kondisi lingkungan,
kehidupan organisasi ekonomi.
3. Barang substitusi
4. Selera masyarakat
5. Faktor lain seperti : konflik politik, iklim dan perubahan pemakaian produk, banyak
perusahaan yang keluar masuk dalam produk

Peramalan penjualan merupakan pendekatan yang berbasis dengan memperhitungkan


risiko yang mungkin akan terjadi dimasa yang akan datang. Peramalan penjualan merupakan
pusat dari seluruh perencanaan perusahaan yang menggambarkan potensi penjualan serta luas
pasar yang akan dikuasai di masa yang akan datang
.
Hubungan Peramalan dengan Rencana
Peramalan bukan merupakan rencana. Peramalan adalah tentang apa yang akan terjadi
pada waktu yang akan datang sedang rencana merupakan penentuan apa yang akan dilakukan
pada waktu yang akan datang. Peramalan penjualan menjadi suatu alat yang dapat
mempengaruhi manajer dalam membuat perencanaan penjualan.Dalam rencana
penjualan,perusahaan memasukkan keputusan manajemen berdasar hasil ramalan,masukkan
lain dan kebijakan manajemen tentang hal-hal yang berkaitan (contoh volume penjualan,
harga,usaha penjualan,produksi,dan biaya-biaya)

Pengaruh Kebenaran Asumsi


Asumsi mempunyai pengaruh terhadap ketepatan peramalan yang dibuat.Jika asumsi
yang dibuat tepat atau mendekati kenyataan,maka forecast yang dihasilkan juga akan
mendekati kebenaran,sebaliknya jika asumsinya tidak tepat akan menyebabkan forecast yang
dihasilkan akan mengalami penyimpangan

Metode Peramalan Penjualan (Sales Forcasting)


a. Ada banyak metode peramalan yang bisa digunakan. Pemilihan metode forecasting dan
"nilai" dari hasil peramalan sangat bergantung pada kendala-kendala yang ada dalam sistem
forecasting. Kendala-kendala tersebut antara lain:
a. Waktu yang diperlukan untuk melakukan persiapan melakukan peramalan.
b. Kurangnya data yang relevan, baik dari sumber internal maupun eksternal.
c. Kualitas data-data yang tersedia
d. Fasilitas pengolahan data dan tenaga ahli

Jenis kendala yang disebut pertama, kedua dan ketiga akan berpengaruh pada kualitas data,
sedang kendala yang disebut terakhir lebih banyak bergantung pada kebijakan pengalokasian dana
untuk kepentingan forecasting.

Efektivitas Peramalan
Efektivitas sistem peramalan dalam membantu organisasi dapat dievaluasi berdasarkan empat
kriteria berikut:

 Accuracy. Ini merupakan aspek terpenting dari forecast, karena perbedaan antara aktual dan
forecast berarti biaya. Lebih jauh, forecast error dapat menjadi sumber terjadinya kesulitan-
kesulitan yang serius, misalnya bila forecast lebih besar dari aktual maka akan terjadi kapasitas
menganggur dan surplus persediaan, dan bila forecast lebih kecil dari aktual maka dapat terjadi
stockout atau opportunity loss.
 Stability vs Responsiveness. Artinya forecast harus mampu mengkover kompleksitas dan
ketidakpastian lingkungan baik yang disebabkan oleh long term growth trend maupun seasonal
influences
 Objectivity. Kadang-kadang kondisi yang diramalkan tidak dapat atau tidak ada kaitannya
dengan data historis yang digunakan dalam forecasting. Bila demikian maka pertama, data
tetap diolah secara obyektif apa adanya, kedua baru kemudian hasil forecasting pada
pengolahan data secara obyektif disesuaikan dengan memperhitungkan perkembangan
terakhir situasi dan kondisi.
 Timing. Agar sistem forecasting dapat efektif, maka forecast harus tersedia tepat waktu.
 Benefit to Cost Ratio. Merupakan perbandingan antara manfaat yang berupa perbaikan kualitas
keputusan sehubungan dengan adanya sistem peramalan yang diukur dengan cost saving dan
biaya untuk membangun dan memelihara sistem peramalan. Rasio yang dapat dijadikan
sebagai kriteria tunggal bagi perlu tidaknya sistem forecasting dalam perusahaan.

Metode Peramalan
Berikut beberapa metode peramalan yang dapat digunakan untuk kepentingan peramalan penjualan:
1. Metode Peramalan Kualitatif
Forecast berdasarkan pendapat ( judgement method ). Di gunakan untuk menyusun forecast
penjualan maupun forecast kondisi bisnis pada umumnya. Pendapat-pendapat yang di pakai sebagai
dasar melakukan forecast adalah :
a. Pendapat Salesman
Salesman di minta untuk mengukur apakah ada kemajuan atau kemunduran segala hal yang
berhubungan dengan tingkat penjualan pada daerahnya masing-masing.
b. Pendapat Sales Manajer
Pada umumnya estimasi kepala bagian penjualan dapat lebih obyektif karena mempertimbangkan
banyak faktor. Ini juga di sebabkan pendidikannya yang relatif lebih tinggi dan pengalamannya yang
lebih luas di bidang penjualan.
c. Pendapat Para Ahli
Kadang-kadang estimasi yang di lakukan oleh para salesman dan sales manager ada
pertentangannya. Sehingga perusahaan perlu memperkerjakan para konsultan di dalam
perusahaannya
d. Survey Konsumen
Dan jika pendapat dari ketiga bagian di atas itu sangat kurang maka perusahaan perlu meminta
pendapat dari konsumen. Dengan cara melakukan survei atau penelitian kepada konsumen.

2. Model Kuantitatif (statistik/Statistic Method)


Peramalan menghendaki perpaduan antara analisis ilmiah kuantitatif dengan menggunakan statistik
sebagai alat primer dalam membuat peramalan. Berikut ini beberapa metode peramalan dengan
menggunakan pendekatan statistik:

a. Trend bebas
b. Trend setengah rata-rata
c. Trend Matematis

 Metode moment
 Metode Least Square
 Metode Regresi

3. Model Khusus
Metode khusus ini adalah cara khusus untuk meramalkan penjualan dengan menggunakan analisis
market share, analisis product line, dan analisis pengguna akhir

Model kuantitatif (statistik) dalam realita penggunaan secara keseluruhan masih kurang dapat di
percaya hasilnya, sebab banyak hal yang tidak dapat di ukur secara kuantitatif seperti :

 Perkembangan politik
 Struktur masyarakat
 Perubahan secara konsumen
Pemilihan Metode Peramalan
Pemilihan metoda yang dipakai untuk pembuatan forecast penjualan perlu mempertimbangkan
hal-hal berikut:

1. Sifat produk
2. Metoda distribusi (langsung/ tak langsung)
3. Besarnya perusahaan dibanding pesaing
4. Tingkat persaingan
5. Data historis yang tersedia
6. Akurasi metoda
7. SDM yang dimiliki untuk melakukan forecasting
8. Horison waktu perencanaan
9. Waktu yang tersedia
10. Ketersediaan dana

Peramalan Penjualan dengan Metode Trend Bebas (free hand)


Dapat dikatakan bahwa penerapan garis trend secara bebas merupakan suatu cara penerapan garis
trend tanpa menggunkan rumus matematika.Meskipun demikian bukan berarti bahwa garis trend
dapat ditarik begitu saja tanpa menggunakan pertimbangan-pertimbangan tertentu.Penggambaran
garis trend dengan cara ini sangat subyektif dan kurang memenuhi syarat ilmiah,sehingga jarang
digunakan.

Pada dasarnya semua metode trend menggunakan prinsip yang sama yaitu berusaha
mengganti atau mengubah garis patah-patah dalam grafik yang dibentuk oleh data historis ,menjadi
garis yang lebih teratur bentuknya,missal bentuk garis lurus,bentuk garis lekung,dll.Dengan
pengubahan atu penggantian menjadi garis yang lebih teraturbentuknya ini,maka akan dapat
diketahui kelanjutan garis tersebut pada waktu-waktu yang akan datang,yaitu dengan cara
melanjutkan atau memperpanjang garis yang bersangkutan sesuai dengan irama keteraturan
itu.Dengan demikian taksiran untuk waktu-waktu yang akan datang dapat diketahui.

Contoh penerapan garis trend secara bebas:


Sebuah perusahaan membuat peramalan penjualan untuk beberapa tahun mendatang dengan
menggambarkan garis trend. Data penjualan tahun-tahun terakhir dan grafik tersaji pada gbr di
bawah ini::
Berikut data penjualan PT "X".

Selanjutnya diminta untuk meramalkan penjualan tahun 2007 dengan menggunakan metode
peramalan Trend Bebas. Untuk itu, langkah pertama adalah memplotkan seluruh data ke grafik
sumbu kartesius dimana sumbu vertikal mewakili penjualan dan sumbu horisontal mewakili tahun.

Setelah data diplotkan ke grafik sumbu kartesius, kemudian dibuat garis trend bebas yang
sekiranya mewakili keseluruan titik-titik hasil plotting data sebgaimana terlihat pada gambar di bawah
ini.
Dari metode Trend Bebas diapat diperkirakan bahwa penjualan th 2007 adalah sebesar 175 unit.

Peramalan Penjualan dengan Metode Moment


Metode trend moment merupakan analisis yang dapat digunakan untuk keperluan peramalan dengan
membentuk persamaan Y=a+b(X) sebagaimana telah diulas pada metode trend semi average. Dalam
penerapannya metode ini tidak mensyaratkan jumlah data harus genap. Perbedaan dengan metode
trend semi average terletak pada pemberian skor X. Pada metode Moment skor X dimulai dari dimulai
dari 0,1,2, dst.

Fungsi Dasar Metode Moment


Bentuik fungsi dasar Metode Moment adalah sebagai berikut:
Contoh Penggunaan Metode Moment
dengan menggunakan data berikut ini, diminta membuat peramalan penjualan th 2007
dengan metode Moment.

11.

Data-data tersebut dianalisis dengan metode Moment. Caranya sebagai berikut:


12.

Dari perhitungan di atas didapatkan dua persamaan, yakni

13.

Kemudian, dari dua persamaan tersebut, dicari nilai a dan b dengan cara eleminasi utuk
mendapatkan fungsi persamaan trend. Nilai a, b dan fungsi persamaan trend yang dihasilkan
adalah sebagai berikut:
14.

Dengan persamaan tersebut di atas, diramalkan penjualan th 2007 yang memiliki angka
tahun X=4. sehingga penjualan th 2007 diramalkan akan sebesar 180 unit yang dihitung
dengan cara sbb:

15.

Peramalan Penjualan dengan Metode Least Square

Metode ini sedikit berbeda dengan metoda moment. Bagaimana perbedaan tersebut akan lebih
jelas pada pemecahan masalah yang diberikan pada bagian contoh.

Fungsi Dasar Metode Least Square


Fungsi dasar metode Least Square adalah sebagai berikut:
Contoh Penggunaan Metode Least Square
Diminta membuat peramalan penjualan untuk tahun 2007 dengan menggunakan metode Least
Square berdasarkan data-data berikut ini:

Data-data tersebut selanjutnya dianalasis dengan cara berikut:


Dari perhitungan di atas, dicari nilai a dan b untuk mendapatkan fungsi persamaan peramalan
metode Least Square sebagai berikut:

Setelah mendapatkan fungsi persamaan trend, maka dapat ditentukan ramalan penjualan tahun
2007 yang memiliki angka tahun X=5, yakni sebesar 180 unit yang dihitung dengan cara sebagai
berikut
Peramalan Penjualan dengan Metode Regresi

Penggunaan metode ini didasarkan kepada variabel yang ada dan yang akan mempengaruhi
hasil peramalan. Hal- hal yang perlu diketahu sebelum melakukan peramalan dengan metode regresi
adalah mengetahui terlebih dahulu mengetahui kondisi- kondisi seperti :

 Adanya informasi masa lalu


 Informasi yang ada dapat dibuatkan dalam bentuk data (dikuantifikasikan)
 Diasumsikan bahwa pola data yang ada dari data masa lalu akan berkelanjutan dimasa yang
akan datang.

Adapun data- data yang ada dilapangan adalah :


a. Musiman (Seasonal)
b. Horizontal (Stationary)
c. Siklus (Cylikal)
d. Trend

Ada dua pendekatan untuk melakukan peramalan dengan menggunakan analisis deret waktu dengan
metode regresi sederhana yaitu :
1. Analisis deret waktu untuk regresi sederhana linier
2. Analisis deret untuk regresi sederhana yang non linier

Pada kesempatan ini hanya dibahas tentang Analisis deret waktu untuk regresi sederhana.

Fungsi Dasar Metode Regresi


Bentuk fungsi dasar metode Regresi adalah sebagai berikut:
Contoh Penggunaan Metode Regresi
Diminta untuk membuat peramalan penjualan tahun 2007 bla tingkat kelahiran =12 dengan
menggunakan metode Regresi berdasarklan data-data berikut:

Data-data di atas selanjutnya dianalisis dengan cara sebagai berikut:


Setelah mendapatkan persamaan trendnya, dapatlah diramalkan penjualan tahun 2007 pada saat
tingkat kelahiran =12. Besarnya penjualan diramalkan akan sebesar 222. unit. Perhitungannya adalah
sebagai berikut:

Peramalan Penjualan dengan Model Khusus

Berikut ini adalah beberapa model khusus yang biasanya digunakan untuk membuat peramalan
penjualan:

Analisis Industri
Adalah analisis yang mengkaitkan potensi penjualan perusahaan dengan industri
Langkah-langkah dalam analsis industri adalah

1. Membuat proyeksi permintaan industri


2. Menilai posisi perusahaan dengan menghitung market share
3. Proyeksi market share perusahaan atau memperkirakan expected market share
Analisis Product Line
Bila perusahaan. Menghasilkan lebih dari satu jenis produk yang berbeda (minuman dan pakaian),
maka masing-masing produk harus dibuat forecast secara terpisah.

Analisis Pengguna Akhir


Analisis ini biasanya dipaki oleh perusahaan yang memproduksi barang-barang yang tidak langsung
dapat dikonsumsi (mis: benang tenun)
Menghitung konsumsi dilakukan dengan formula sbb:

Peramalan Penjualan dengan Metode Trend Semi Average (Setengah Rata-Rata)

Menurut metode ini garis lurus yang dibuat sebagai pengganti garis patah-patah yang dibentuk
dari data-data historis tersebut diperoleh dengan perhitungan-perhitungan statistika dan matematika
tertentu, sehingga unsur subyektifitas dapat dihilangkan

Metode trend semi average dapat digunakan untuk keperluan peramalan dengan membentuk
suatu persamaan seperti analisis regresi. Metode ini dapat digunakan dengan jumlah data genap
ataupun ganjil. Dalam analisis trend ini unsur subyektifitas mulai dihapuskan karena teknik
peramalannya sudah menggunakan perhitungan-perhitungan

Langkah Menggunakan Metode Trend Semi Average


Berikut langkah-langkah dalam mengaplikasikan metode Trend semi Average untuk peramalan::

1. Mengelompokkan data menjadi 2 kelompok

 Bila jumlah data genap langsung dibagi dua


 Bila jumlah data gasal maka disesuaikan dengan salah satu cara berikut

a) Mengeleminasi data tahun paling awal atau


b) Menambah data tahun tengah
2. Menetukan periode dasar dapat dilakukan dengan dua cara:

 Tahun tengah data kelompok I


 Tahun tengah data kelompok II

3. Menentukan angka tahun berdasarkan periode dasar


4. Menetukan nilai Semi Total yakni Jumlah total penjualan masing-masing kelompok
5. Menentukan Semi average tiap Kelompok data dengan cara
Nilai Semi Total dibagi jumlah data dalam kelompok
6. Menetukan nilai a dengan cara

 Bila tahun dasar menggunakan tahun tengah kelompok I maka nilai a adalah nilai Semi
Average kelompok I
 Bila tahun dasar menggunakan tahun tengah kelompok II, maka nilai a adalah nilai Semi
Average kelompok II

7. Menetukan nilai b Nilai b dengan cara

 Bila jumlah data kelompok adalah ganjil, maka nilai b ditentukan dengan cara membagi
selisih antara nilai Semi Average kelompok II dan I dengan jarak tahun antara tahun tengah
kelompok I dan II
 Bila Jumlah data kelompok adalah genap maka nilai b ditentukan dengan cara
 Menghitung Nilai Antara dengan membagi selisih antara nilai Semi Average kelompok II dan I
dengan jumlah data dalam kelompok
 Nilai b ditentukan dengan membagi Nilai Antara dengan Nilai Tahunnya (selisih antar angka
tahun)

8.. Membuat fungsi Trend


9. Meramalkan Penjualan Tahun tertentu dimana nilai X ditentukan berdasarkan
angka tahun untuk tahun yang hendak diramalkan.

Contoh Metode Semi Average Data Ganjil-Ganjil (Banyaknya Keseluruhan Data Berjumlah
Ganjil dan Banyaknya Data Dalam Kelompok Juga Ganjil)

Berikut ini contoh metode Semi Average Data Ganjil-Ganjil (Banyaknya Keseluruhan Data
Berjumlah Ganjil dan Banyaknya Data Dalam Kelompok Juga Ganjil). Data penjulan PT "S". Dengan
menggunakan data tersebut diminta untuk membuat peramalan penjualan untuk tahun 2008 dengan
menggunakan metode Semi Average.
Jumlah seluruh data di atas adalah 5 data (Ganjil ). Oleh karena itu analisis data dilakukan
dengan cara sebagai berikut:

 Mengelompokkan data menjadi 2 kelompok. Karena jumlah seluruh data adalah Ganjil,
maaka sebelum membagi menjadi dua kelompok harus disesuaikan dulu. Penyesuaian dapat
dilakukan dang salah satu dari dua cara yang ada. Misalnya diasumsikan disesuaikan
dengan menduplikasi data yang terletak di tengah yaitu data tahun 2004, sehingga seluruh
data menjadi berjumlah 6 data (Genap). Selanjutnya baru dibagi menjadi dua kelompok yang
masing-masing kelompok terdiri dari 3 data (Ganjil)
 Menentukan periode dasar. Misalnya diasumsikan periode dasar menggunakan tahun
tengah data tahun kelompok I, sehingga periode dasarnya adalah tahun 2003
 Menentukan Angka Tahun. Karena periode dasar 2003 berangka tahun x = 0, maka angka
tahun untuk tahun 2002 adalah -1 dan angka tahun untuk 2004, 2004', 2005, 2006 berturut-
turut adalah 1, 2, 3, 4 dst.
 Menentukan nilai Semi Total yakni Jumlah total penjualan masing-masing kelompok. Untuk
kelompok I, Nilai Semi Totalnya adalah 120 + 110 + 128 = 358. Dengan cara yang sama
dihitung Nilai Semi Total untuk Kelompok II.
 Menentukan Semi average tiap Kelompok data. Semi Average untuk kelompok I adalah (semi
total kelompok I dibagi jumlah data kelompok I sehingga nilainya adalah 358/3=119,33.
Dengan cara yang sama juga dihitung Semi Average untuk Kelompok II.

Ringkasan Perhitungan disajikan pada tabel berikut:


Dari perhitungan tersebut di atas, ditentukanlah nilai a dan b sehingga diperoleh fungsi
persamaan untuk peramalan dengan cara sebagai berikut::

 Nilai a ditentukan berdasarkan nilai Semi Average untuk kelompok yang tahun tengahnya
digunakan sebagai periode dasar. Pada kasus ini periode dasar menggunakan tahun tengah
kelompok I, sehingga nilai a adalah sebesar nilai Semi Average kelompok I yakni 119,33
 Menentukan nilai b Karena Jumlah data dalam kelompok adalah ganjil maka untuk
menentukan nilai b dapat langsung dengan cara membagi selisih antara nilai Semi Average
kelompok II dan I dengan jumlah data dalam kelompok sehingga hasilnya (142,67 - 119,33) /
3 = 7,78
 Menentukan Fungsi Peramalan. Karena nilai a=142, 67 dan nilai b= 10,89, maka fungsi
peramalannya adalah Y= 119,33+ 7,78X

Perhitungan selengkapnya adalah sebagai berikut:

Dengan menggunakan fungsi peramalan yang diperoleh dengan metode Semi Average tersebut
selanjutnya dilakukan peramalan penjualan tahun 2008 dimana angka tahun 2008 adalah 6 (X = 6).
Diramalkan penjualan tahun 2008 sebesar 166 unit.
Contoh Metode Trend Semi Average Data Genap-Ganjil (Banyaknya Keseluruhan Data
Berjumlah Genap dan Banyaknya Data Dalam Kelompok Berjumlah Ganjil)

Berikut ini contoh metode Trend Semi Average Data Genap-Ganjil (Banyaknya Keseluruhan
Data Berjumlah Genap dan Banyaknya Data Dalam Kelompok Berjumlah Ganjil). Data penjualan PT
"Y". Dengan menggunakan data tersebut diminta untuk membuat peramalan penjualan untuk tahun
2008 dengan menggunakan metode Semi Average.

Jumlah seluruh data di atas yakni 6 data (Genap). Oleh karena itu analisis data dilakukan
dengan cara sebagai berikut:

 Mengelompokkan data menjadi 2 kelompok. Karena jumlah data genap langsung dibagi dua
yang masing-masing kelompok terdiri dari 3 data (Ganjil).
 Menentukan periode dasar. Misalnya diasumsikan periode dasar menggunakan tahun
tengah data tahun kelompok II, sehingga periode dasarnya adalah tahun 2005
 Menentukan Angka Tahun. Karena periode dasar tahun 2005 berangka tahun x = 0, maka
angka tahun untuk tahun 2004, 2003, 2002, 2001 adalah -1, -2, -3, -4 dan angka tahun untuk
2006, adalah 1 ..., dst.
 Menentukan nilai Semi Total yakni Jumlah total penjualan masing-masing kelompok. Untuk
kelompok I, Nilai Semi Totalnya adalah 100 + 120 + 110 = 330. Dengan cara yang sama
dihitung Nilai Semi Total untuk Kelompok II.
 Menentukan Semi average tiap Kelompok data. Semi Average untuk kelompok I adalah (semi
total kelompok I dibagi jumlah data kelompok I sehingga nilainya adalah 330/3=110. Dengan
cara yang sama juga dihitung Semi Average untuk Kelompok II.

Ringkasan Perhitungan disajikan pada tabel berikut:

Dari perhitungan tersebut di atas, ditentukanlah nilai a dan b sehingga diperoleh fungsi
persamaan untuk peramalan dengan cara sebagai berikut::

 Nilai a ditentukan berdasarkan nilai Semi Average untuk kelompok yang tahun tengahnya
digunakan sebagai periode dasar. Pada kasus ini periode dasar menggunakan tahun tengah
kelompok II, sehingga nilai a adalah sebesar nilai Semi Average kelompok I yakni 142,67
 Menentukan nilai b Karena Jumlah data dalam kelompok adalah ganjil maka untuk
menentukan nilai b dapat langsung dengan cara membagi selisih antara nilai Semi Average
kelompok II dan I dengan jumlah data dalam kelompok sehingga hasilnya (142,67 - 110) / 3 =
10,89
 Menentukan Fungsi Peramalan. Karena nilai a=142, 67 dan nilai b= 10,89, maka fungsi
peramalannya adalah Y= 142,67 + 10,89X

Perhitungan selengkapnya adalah sebagai berikut:


Dengan menggunakan fungsi peramalan yang diperoleh dengan metode Semi Average tersebut
selanjutnya dilakukan peramalan penjualan tahun 2008 dimana angka tahun 2008 adalah 3 (X = 3).
Diramalkan penjualan tahun 2008 sebesar 175, 33 unit.

Contoh Metode Trend Semi Average Data Genap-Genap (Banyaknya Data Keseluruhan dan
Banyaknya Data Dalam Kelompok Berjumlah Genap)

Berikut contoh metode Trend Semi Average Data Genap-Genap (Banyaknya Data Keseluruhan
dan Banyaknya Data Dalam Kelompok Berjumlah Genap). Dengan menggunakan data penjualan di
bawah ini diminta untuk membuat peramalan penjualan untuk tahun 2007 dengan menggunakan
metode Semi Average.
Jumlah seluruh data di atas yakni 4 data (Genap). Oleh karena itu analisis data dilakukan
dengan cara sebagai berikut:

 Mengelompokkan data menjadi 2 kelompok. Karena jumlah data genap langsung dibagi dua
yang masing-masing kelompok terdiri dari 2 data (Genap).
 Menentukan periode dasar. Misalnya diasumsikan periode dasar menggunakan tahun
tengah data tahun kelompok I sehingga periode dasar terletak antara tahun 2003 dan tahun
2004.
 Menentukan Angka Tahun. Karena periode dasar berangka tahun x = 0 dan terletak antara
tahun 2003 dan 2004, maka angka tahun untuk tahun 2003 adalah -1/2 dan angka tahun
untuk 2004, 2005, 2006 berturut-turut adalah 1/2, 3/2, 5/2 dst. Untuk memudahkan
perhitungan maka dikonversi ke bilangan bulat dengan mengalikan dengan angka 2,
sehingga angka tahun untuk 2003 menjadi -1 dan angka tahun 2004, 2005, 2006 dst brturut-
turut menjadi 1, 3, 5 dst.
 Menentukan nilai Semi Total yakni Jumlah total penjualan masing-masing kelompok. Untuk
kelompok I, Nilai Semi Totalnya adalah 145 + 150 = 295. Dengan cara yang sama dihitung
Nilai Semi Total untuk Kelompok II.
 Menentukan Semi average tiap Kelompok data. Semi Average untuk kelompok I adalah (semi
total kelompok I dibagi jumlah data kelompok I sehingga nilainya adalah 295/2=147,5.
Dengan cara yang sama juga dihitung Semi Average untuk Kelompok II.
Ringkasan Perhitungan disajikan pada tabel berikut:

Dari perhitungan tersebut di atas, ditentukanlah nilai a dan b sehingga diperoleh fungsi
persamaan untuk peramalan dengan cara sebagai berikut::

 Nilai a ditentukan berdasarkan nilai Semi Average untuk kelompok yang tahun tengahnya
digunakan sebagai periode dasar. Pada kasus ini periode dasar menggunakan tahun tengah
kelompok I, sehingga nilai a adalah sebesar nilai Semi Average kelompok I yakni 147,5.
 Menentukan nilai b Karena Jumlah data dalam kelompok adalah genap maka untuk
menentukan nilai b terlebih dulu menghitung Nilai Antara dengan cara membagi selisih antara
nilai Semi Average kelompok II dan I dengan jumlah data dalam kelompok sehingga hasilnya
(167,5 - 147,5) / 2 = 10. Selanjutnya Nilai b ditentukan dengan membagi Nilai Antara dengan
selisih antar angka tahun, sehingga diperoleh nilai b sebesar (10/2) = 5
 Menentukan Fungsi Peramalan. Karena nilai a=147,5 dan nilai b= 5, maka fungsi
peramalannya adalah Y= 147,5 + 5X

Perhitungan selengkapnya adalah sebagai berikut:


Jadi dengan menggunakan metode Setengah Rata-Rata, penjualan th 2007 diramalkan sebesar
182,5 unit dengan perhitungan sbb:

Definisi Anggaran Penjualan

Pada umumnya kemampuan yang dimiliki oleh suatu perusahaan untuk menjual hasil
produksinya adalah terbatas. Dengan demikian tidak ada perlunya membeli material, menghasilkan
barang / jasa, mencari modal atau membeli mesin – mesin yang lebih besar daari kemampuan
menjual. Sehingga dapat dikatakan bahwa anggaran penjualan merupakan dasar dilakukannya
aktivitas – aktivitas yang lain, dan pada umumnya anggaran penjualan disusun paling dahulu dari
anggaran – anggaran lainnya.

Tujuan utama perusahaan adalah memperoleh keuntungan. Keuntungan akan diperoleh apabila
perusahaan menjual barang / jasa dengan harga yang lebih tinggi dari harga pokoknya. Masalah –
masalah utama yang dihadapi pada saat akan menjual suatu barang / jasa pada umumnya adalah :

 Barang / jasa apa yang akan dijual.


 Biaya – biaya yang perlu dikeluarkan agar barang / jasa tersebut dapat terjual.
 Berapa harga barang / jasa tersebut agar mendapatkan keuntungan bagi perusahaan tetapi
terjangkau oleh pembeli.
Masalah itu timbul karena perubahan faktor – faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh yang
besar kepada perusahaan. Sebagai contoh sebuah perusahaan menjual suatu barang dengan
tingkay harga dan metode penjualan tertentu. Beberapa waktu yang lalu tingkat harga dan metode
penjualan tersebut dapat mendatangkan keuntungan yang cukup besar bagi perusahaan. Akhir –
akhir ini dirasakan bahwa tingkat keuntungan semakin lama semakin menurun.

Seorang manager penjualan yang sensitif tidak akan membiarkan hal ini berlarut – larut. Ia akan
berusaha mencari sebab – sebabnya, menganalisa dan kemudian menyusun rencana baru untuk
periode berikutnya. Mungkin pada periode yang akan datang dirubah tingkat harganya saja, tetapi
mungkin pula dirubah cara – cara penjualan yang dilakukan selama ini. Pada masa dahulu menjual
dilakukan tanpa mempertimbangkan fakta – fakta yang ada. Perusahaan umumnya terlalu antusias
dalam menentukan target yang harus dicapainya. Pertimbangan – pertimbangan tentang dimana,
apa, kapan, bagaimana dan kepada siapa seolah – olah diabaikan begitu saja. Pada masa sekarang
keadaannya sudah berbeda. Seorang manajer penjualan yang modern selalu mengusahakan
keseimbangan antara antusiasme dengan logika.

Definisi Anggaran Penjualan


Ada beberapa definisi dari anggaran penjualan, diantaranya yaitu :

1. Anggaran yang menerangkan secara terperinci dan teliti tentang penjualan perusahaan dimasa
datang dimana didalamnya ada rencana tentang jenis barang, jumlah, harga, waktu serta
tempat penjualan barang.
2. Anggaran jualan berarti anggaran hasil penjualan atau anggaran hasil proses menjual. Menjual
(sell) berarti menyerahkan sesuatu kepada pembeli dengan harga tertentu dan pada saat
tertentu. Penjualan (selling) berarti proses kegiatan menjual, yaitu dari kegiatan penetapan
harga jual sampai produk didistribusikan ke tangan konsumen (pembeli). Jualan (sales) adalah
hasil penjualan atau hasil proses menjual. Jadi, penjualan memiliki arti yang berbeda dengan
jualan. Anggaran jualan disusun oleh fungsi penjualan (manajer pemasaran). Anggaran jualan
merupakan rencana tertulis yang dinyatakan dalam angka dari produk yang akan dijual
perusahaan pada periode tertentu. Jualan merupakan unsur dapatan (revenues) yang disebut
dapatan jualan (sales revenues). Jualan terdiri atas jualan kotor dan jualan bersih. Jualan
bersih diperoleh setelah dikurang dengan potongan dan retur jualan.
3. Anggaran penjualan yaitu biaya-biaya yang diperlukan untuk menjual (komisi penjualan, gaji
staff penjualan, pengiklanan, dan promosi penjualan) dan untuk mendistribusikan barang
kepada konsumen (biaya pemrosesan pesanan, penanganan, penyimpanan, dan pengiriman)
Tujuan Dan Fungsi Anggaran Penjualan

Rencana anggaran penjualan dapat dipergunakan untuk menyusun pembuatan bagian-bagian


dari anggaran-anggaran lainnya. Tujuan utama dari anggaran penjualan adalah :

a. Mengurangi ketidakpastian dimasa depan


b. Memasukkan pertimbangan / keputusan manajemen dalam proses perencanaan
c. Memberikan informasi dalam profit planing control
d. Untuk mempermudah pengendalian penjualan

Fungsi Anggaran Penjualan


Secara umum, semua anggaran termasuk anggaran penjualan, mempunyai tiga kegunaan
pokok, yaitu sebagai pedoman kerja, sebagai alat pengkoordinasian kerja, dan sebagai alat
pengawasan kerja yang membantu manajemen dalam mencapai tujuan perusahaan

Secara khusus, anggaran penjualan berguna sebagai dasar penyusunan semua anggaran
dalam perusahaan, sebab bagi perusahaan yang menghadapi pasar yang bersaing, anggaran
penjualan harus disusun paling awal dari semua anggaran yang lain.

Fungsi dari anggaran penjualan dalam suatu perusahaan dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Anggaran penjualan adalah dasar perencanaan atas kegiatan perusahaan pada umumnya.
Anggaran penjualan terlebih dulu disusun baru kemudian komponen-komponen anggaran
lainnya, sehingga dapat menggambarkan suatu rencana anggaran komprehensip. Kemudian
tahap berikutnya segara dapat menyusun anggaran produksi untuk memenuhi jumlah barang
jadi yang harus segera diproduksikan untuk memenuhi target penjualan
2. Anggaran penjualan sebagai alat koordinasi dan mengarahkan setiap pelaksanaan divisi
Pemasaran. Anggaran penjualan sebagai alat koordinasi adalah untuk memantau tugas
terhadap divisi produksi supaya jangan kehabisan persediaan barang jadi dan sebaliknya
anggaran produksi memantau ke bagian pembelian, sehingga terdapat keserasian dalam
membentuk anggaran komprehensip.
3. Anggaran penjualan sebagai alat pengorganisasian. Anggaran penjualan berarti penetapan
target-target penjualan atas setiap anatomi organisasi pemasaran yang dilakukan oleh para
penjual, pengawas penjual, dan manajer-manajer pemasaran. Pihak-pihak yang disebutkan
tadi perlu diorganisasikan sesuai dengan daerah-daerah pemasaran guna mencapai target
penjualan yang tertera pada anggaran penjualan.
4. Anggaran penjualan sebagai alat pengawasan bagi manajemen. Keberhasilan suatu
anggaran komprehensif dalam suatu perusahaan tergantung pada keberhasilan anggaran
penjualan. Sebaliknya dengan tersusunnya anggaran penjualan secara terperinci
memungkinkan manajemen lebih mudah untuk menyusun anggaran lainnya adalah
berpedoman pada anggaran penjualan.
Pertimbangan Dalam Menyusun Konsep Anggaran Penjualan

Dengan pengertian bahwa forecasting dan control atas penjualan dapat dilakukan, maka semua
kegiatan tersebut disusun rencananya secara terperinci. Dasar-dasar penyusunan budget digunakan
sebagai pegangan pokok. Penyusunan budget penjualan harus sesuai dengan tujuan umum
perusahaan dan strategi perusahaan. Dengan mengunakan berbagai pendekatan, pendekatan
mempunyai konsekuensi yang berbeda- beda, dalam melakukannya perlu dipertimbangkan beberapa
faktor, sebagai berikut :

 Faktor Eksternal

yakni pengaruh yang datangnya dari luar perusahaan. Pengaruh ini tidak dapat diabaikan, bahkan
perusahaan harus berusaha mengambil segi – segi positif dari pengaruh ini dan memanfaatkannya.
Pengaruh yang datang dari luar, meliputi Karakteristik pasar yag dihadapi perusahaan, seperti:

a. Luasnya:
- Apakah besifat lokal
- Apakah bersifat regional
- Apakah bersifat nasional

b. Keadaan persaingan :
- Apakah bersifat monopoli
- Apakah bersifat persaingan bebas

c. Kemampuan pasar untuk menyerap barang

d. Keadaan / sifat konsumen:


- Apakah konsumen akhir
- Apakah konsumen industri

 Faktor Internal

yakni faktor atau kekuatan yang datangnya dari dalam perusahaan sendiri, misalnya :

1. Kemampuan finansial
- Kemampuan membiayai penelitian pasar yang dilakukan.
- Kemampuan membiayai usaha-usaha untuk mencapai target penjualan.
- Kemampuan membeli bahan mentah untuk dapat memenuhi target
penjualan.
2. Keadaan personalia
- Apakah jumlah buruh yang tersedia cukup, kurang atau berlebihan.
- Apakah tenaga yang tersediamampu untuk melakukan tugas-tugas agar
target yg di tentukan tercapai.

3. Dimensi waktu

 Faktor Kehendak

Yakni kehendak dari pimpinan perusahaan tentang posisi yang ingin dimiliki perusahaan di masa
mendatang.

Hal ini perlu diperhatikan sebab apabila membuat rencana terlalu awal, kemungkinan akan
terjadi perubahan keadaan, juga perlu dipertimbangkan sampai seberapa lama rencana yang di
susun tersebut masih reliable.

Forecast penjualan, dapat dikatakan sebagai suatu teknik untuk memproyeksikan tingkat
permintaan konsumen potensial pada suatu tahun tertentu, dengan berbagai asumsi yang tertentu
pula. Forecast penjualan akan berubah fungsinya menjadi salesplan, apabila manajemen
memasukkan unsur pertimbangan – pertimbangan subyektif, rencana, strategi dan lain – lain.
Forecast penjualan merupakan sesuatu yang dapat dipelajari. Sehingga perusahaan dapat mendidik
para stafnya untuk memperdalam masalah ini.

Perusahaan dapat melatih stafnya di bidang teknis, seperti penggunaan trend penjualan, analisa
korelasi, model – model matematika, dan teknik – teknik operation research. Forecast penjualan
merupakan suatu alat yang penting, yang dapat mempengaruhi manajer dalam membuat
perencanaan penjualan.

Perencanaan penjualan adalah juga meliputi perencanaan advertensi dan promosi,


perencanaan biaya – biaya penjualan dan rencana pemasaran. Rencana pemasaran inilah yang
kemudian sering dianggap sama dengan rencana penjualan, yakni mengkuantifisir penjualan dalam
rupiah dan unit untuk periode waktu yang tertentu.

Penyusunan Konsep Anggaran Penjualan

Penyusunan konsep anggaran penjualan dapat di katakan mencakup segala kegiatan di bidang
penjualan. Komponen – komponen konsep anggaran penjualan adalah :

a. Dasar – dasar penyusunan anggaran :

- Menyusun tujuan perusahaan


- Menyusun strategi perusahaan

- Menyusun forecast penjualan

b. Menyusun anggaran penjualan dan anggaran lain yang terkait dengan penjualan yakni

- Anggaran promosi dan advertensi

- Anggaran biaya-biaya penjualan

- Rencana pemasaran

Tahapan Penyusunan Rencana Penjualan

Dalam menyusun anggaran penjualan, langkah yang perlu dilakukan, meliputi :

1. Penentuan dasar-dasar anggaran


a. Penentuan relevant variabel yang mempengaruhi penjualan.
b. Penentuan tujuan umum dan khusus yang diinginkan.
c. Penentuan strategi pemasaran yang dipakai.

2. Penyusunan rencana penjualan


a. Analisa ekonomi,
dengan mengadakan proyeksi terhadap aspek- aspek makro, seperti:
- Moneter
- Kependudukan
- Kebijaksanaan- kebijaksanaan pemerintah di bidang ekonomi
- Teknologi dan menilai akibatnya terhadap permintaan industri.

b. Melakukan analisa industri :


Analisa ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan masyarakat menyerap produk sejenis yang
dihasilkan oleh industri.

c. Melakukan analisa prestasi penjualan yang lalu


Analisa ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan masyarakat menerap produk sejenis yang
dihasilkan oleh industri.

d. Analisa penentuan prestasi penjualan yang akan datang


Analisa ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan perusahaan mencapai target penjualan di
masa depan, dengan memperhatikan faktor- faktor produksi, seperti :
- Bahan mentah
- Tanaga kerja
- Kapasitas produksi
- Keadaan pemodalan
e. Menyusun forecast penjualan,
yaitu meramalkan jumlah penjualan yang diharapkan dengan anggapan segala sesuatu
berjalan seperti masa yang lalu (forecasted sales).

f. Menentukan jumlah penjualan yang di anggarkan (budgeted sales)

g. Menghitung rugi/ laba yang mungkin di peroleh (budgeted profit)

h. Mengkomunikasikan rencana penjualan yang telah di setujui pada pihak


lain yang berkepentingan.

3. Penyusunan Rencana
a. Penyusunan Tentative Sales Budget
b. Penyusunan Projected Income Statement
c. Komunikasi antar departemen, untuk menyesuaikan masing – masing anggaran.

Pedoman Teknis Praktis Membuat Anggaran Penjualan


Anggaran penjualan yang lengkap sebaiknya menunjukkan gambaran sebagai berikut :

a. Penjualan dirinci menurut bulan/ kwartalan/ semester dan tahunan.

b. Penjualan dirinci menurut jenis-jenis produk

c. Penjualan dilakukan menurut daerah pemasaran

Langkah-langkah umum

1. Menentukan periode waktu yang akan dipakai sebagai dasar penyusunan anggaran penjualan.
2. Membuat perkiraan penjualan/ target penjualan untuk tiap periode.
3. Perkiraan penjualan disusun dengan mempertimbangkan hasil analisis perkiraan kondisi
ekonomi makro, analisis industri dan persaingan, juga analisis prestasi penjualan tahun-tahun
lalu.
4. Perkiraan penjualan selanjutnya dilakukan dengan menggunakan metoda perkiraan/ peramalan
yang dapat dipertanggungjawabkan.
5. Menyajikan jumlah penjualan yang dianggarkan
6. Jumlah penjualan yang dianggarkan disajikan dalam bentuk tabel yang dalam bentuk paling
sederhana setidaknya memuat informasi waktu, jumlah penjualan yang dianggarkan dalam
unit, harga dan jumlah penjualan dalam satuan unit moneter.

Contoh Format Tabel Penyajian Anggaran Penjualan Untuk Satu Jenis Produk

Berikut ini diberikan contoh format penyajian anggaran penjualan untuk satu jenis produk
dalam format tabel:
Contoh Format Tabel Penyajian Anggaran Penjualan Untuk Dua Jenis Produk

Berikut ini diberikan contoh format penyajian anggaran penjualan untuk dua jenis produk dalam
bentuk tabel

Contoh Format Tabel Penyajian Anggaran PenjualanUntuk Satu Jenis Produk Dua Daerah
Pemasaran

Berikut ini diberikan contoh format penyajian anggaran penjualan untuk


satu jenis produk yang dipasarkan ke dua wilayah pemasaran.
Contoh Kasus Membuat Anggaran Penjualan

Perusahaan Sepatu memproduksi 2 merek sepatu yakni merek Joss dan Bross. Masing – masing
merek dipasarkan di dua daerah, yakni Jawa dan Bali. . Data yang tersedia adalah sebagai berikut :

 Hasil peramalan terhadap Harga jual masing – masing merek pada setiap sektor untuk tahun
2012 adalah sbb:
 Hasil peramalan penjualan dalam unit untuk tahun 2012 adalah sebagai berikut :

Berdasarkan data di atas susunlah suatu anggaran penjualan bagian perusahaan tersebut untuk
tahun 2012.

Jawab:
Pengertian Anggaran Produksi

Anggaran Produksi adalah alat perencanaan, koordinasi dan pengendalian yang penting.
Anggaran produksi sendiri merupakan penjabaran rencana pemasaran ke dalam kegiatan produksi
yang konsisten dengan kebijakan manajerial dan sesuai batasan yang berlaku. Anggaran produksi
dalam arti sempit juga disebut Anggaran Jumlah Yang Harus Diproduksi, yaitu suatu perencanaan
tingkat atau volume barang yang harus diproduksi oleh perusahaan agar sesuai dengan volume atau
tingkat penjualan yang telah direncanakan.

Namun, kegiatan produksi bukan merupakan aktivitas yang berdiri sendiri melainkan aktivitas
penunjang dari rencana penjualan. Karena itu jelas bahwa rencana produksi yang demikian meliputi
perencanaan tentang jumlah produksi, kebutuhan persediaan, material, tenaga kerja dan kapasitas
produksi.

Kaitan Antara Anggaran Produksi Dengan Anggaran Bahan Mentah, Tenaga Kerja Langsung
dan BOP

Anggaran produksi yang telah dihasilkan oleh perusahaan akan selalu terkait dengan anggaran
bahan mentah, tenaga kerja langsung dan BOP. Biasanya dalam anggaran produksi terdapat 2
macam anggaran bahan mentah, yaitu Bahan mentah langsung (Direct Material) dan Bahan mentah
tak langsung (Indirect Material). Bahan mentah langsung adalah bahan mentah yang membentuk dan
merupakan bagian produk jadi yang biayanya dengan mudah ditelusuri dari biaya produk tersebut.
Pada umumnya, bahan baku ini bersifat variabel, yaitu berubah secara proporsional dengan
perubahan output. Contohnya kulit. Kulit adalah bahan mentah langsung industri sepatu, dan kayu
adalah bahan mentah langsung industri mebel kayu.
Bahan mentah tak langsung adalah bahan mentah yang dipakai dalam proses produksi, tetapi
biayanya sulit ditelusuri dari biaya produk tersebut. Contohnya paku. Paku adalah bahan mentah
tidak langsung bagi industri sepatu mebel dan kayu. Anggaran bahan mentah hanya akan
merencanakan kebutuhan dan penggunaan bahan mentah langsung. Sedangkan bahan mentah tak
langsung akan direncanakan dalam anggaran biaya overhead pabrik (Manufacturing Expenses
Budget). Pada estimasi jumlah kebutuhan bahan mentah nantinya, anggaran produksi akan sangat
berpengaruh sebagai informasi data yang akan mempengaruhi proses estimasi tersebut, selain
tingkat penggunaan standar atau SUR (standard usage rate).

Selain anggara bahan mentah, anggaran tenaga kerja langsung juga memiliki hubungan dengan
anggaran produksi. Tenaga kerja langsung terlibat pada proses produksi dan biayanya dikaitkan pada
biaya produksi atau pada barang yang dihasilkan. Biasanya kesalahan yang terjadi pada pemilihan
tenaga kerja akan mengakibatkan pengaruh terhadap harga barang yang dihasilkan, sehingga
berpengaruh pula terhadap posisi perusahaan dalam persaingan. Jika harga barang yang dihasilkan
menjadi lebih tinggi atau lebih rendah anggaran produksi akan menjadi sangat tidak efektif. Maka dari
itu tiap faktor-faktor dalam perusahaan mempunyai peranan yang sama pentingnya untuk menunjang
keberhasilan perusahaan itu sendiri.

Tujuan Penyusunan Anggaran Produksi

Seperti yang telah kita ketahui bahwa anggaran produksi adalah anggaran yang disusun oleh
perusahaan untuk menentukan jumlah barang jadi yang harus diproduksi oleh perusahaan. Anggaran
ini harus dibuat oleh perusahaan setelah anggaran penjualan disusun, karena perusahaan harus
menentukan jumlah barang jadi yang harus diproduksi dalam rangka mendukung target penjualan
yang ada di anggaran penjualan. Dalam penyusunannya sendiri anggaran produksi mempunyai
tujuan, yaitu :

1. Menunjang kegiatan penjualan, sehingga barang dapat disediakan sesuai dengan yang telah
direncanakan.
2. Menjaga tingkat persediaan yang memadai, dalam artian bahwa tingkat persediaan yang
tidak terlalu besar atau tidak pula terlalu kecil. Karena tingkat persediaan yang terlalu besar
biasanya mengakibatkan meningkatnya biaya-biaya dan resiko-resiko yang dapat
membebani perusahaan. Sebaliknya jika tingkat persediaan terlalu kecil maka akan
mengakibatkan banyaknya gangguan, kekurangan persediaan bahan mentah yang bisa
menimbulkan gangguan dalam proses produksi yang pada akhirnya mengakibatkan
banyaknya langganan yang kecewa.
3. Mengatur produksi sedemikian rupa sehingga biaya-biaya produksi yang ditanggung akan
seminimal mungkin.

Fungsi Dan Manfaat Anggaran Produksi

Fungsi Anggaran Produksi


Anggaran produksi berfungsi sebagai alat perencanaan, pengkoordinasian dan pengawasan.
Anggaran produksi disusun dengan berdasarkan pada anggran penjualan yang telah disusun
sebelumnya. Hal ini menunjukan bahwa semua hal yang berhubungan dengan produksi, seperti
kebutuhan bahan mentah, kebutuhan tenaga kerja, kapasitas mesin-mesin, penambahan modal dan
kebijaksanaan persediaan, diselaraskan dengan kemampuan menjual. Jelaslah bahwa anggran
produksi mempunyai fungsi sebagai alat perencanan. Apabila anggran produksi disusun dengan baik,
maka anggaran inipun akan berfungsi sebagai alat pengkoordinasian. Anggaran produksi
mengkoordinasikan berapa jumlah yang akan diproduksi dengan keadaan finansial, keadaan
permodalan, perkembangan produk dan tingkat penjualan.
Sebetulnya antara bagian penjualan dan bagian produksi harus selalu ada hubungan timbal
balik. Kepala bagian penjualan harus mengetahui banyak keadaan bagian produksi sebelum
membuat anggaran penjualan. Selanjutnya anggaran produksi dapat juga dipakai sebagai alat
pengawasan. Pengawasan produksi meliputi pengawasan kualitas, kuantitas, dan tentu saja
pengawasan biaya. Dalam hubungannya dengan fungsi pengawasan, hal-hal utama yang perlu
diperhatikan adalah: pengawasan bahan mentah, penganalisaan proses produksi, penentuan routing
dan scheduling, pemberian perintah kerja dan akhirnya sampai kepada follow-up.
Untuk keperluaan pengawasan terhadap tingkat produksi dan tingkat persediaan barang jadi,
baik harian maupun mingguan disusunlah laporan pelaksanaan (performance report). Dalam
Performance Report dilakukan perbandingan antar rencana dengan realisasinya, sehingga akan
segera tampak apabila terdapat penyimpangan-penyimpangan.
Manfaat Anggaran Produksi
Anggaran produksi berguna untuk pedoman kerja, koordinasi kerja, dan pengendalian kerja divisi
produksi. Semua level manajer di divisi produksi harus bekerja berdasar anggaran produksi. Di
samping itu anggaran produksi berguna untuk: (1) menunjang kegiatan penjualan, (2) menjaga
tingkat persediaan barang jadi yang sewaktu-waktu di minta oleh konsumen, (3) mengendalikan
kegiatan produksi agar dapat meneipta harga pokok produksi yang serendah - rendahnya

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyusunan Angaran Produksi

Anggaran produksi seperti dihitung berdasarkan anggaran penjualan seperti disajikan di atas,
yaitu sebanyak 3.250 unit menentukan anggaran penggunaan bahan, anggaran pembelian bahan,
anggaran biaya upah buruh atau anggaran biaya tenaga kerja langsung, dan anggaran biaya
ovehead pabrik. Oleh sebab itu faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan anggaran produksi
antara lain adalah:

1. anggaran penjualan,
2. kapasitas pabrik dan peralatan pabrik yang tersedia termasuk teknologi yang digunakan,
3. tenaga buruh termasuk rekruitmen, pelatihan, penempatan, penggpahan, dan pemutusan
hubungan kerja,
4. bahan baku termasuk teknik transportasi dan pergudangan, dan
5. modal kerja untuk menjalankan proses produksi.Anb 3-Anggaran Produksi

Langkah Praktis Menyusun Anggaran Produksi

Formulasi Menyusun Anggaran Produksi


Secara garis besar anggaran produksi disusun dengan menggunakan rumus umum sebagai
berikut:

Tingkat penjualan (dari anggaran penjualan).........................XX


Tingkat persediaan akhir ................................................. ..XX +
Jumlah………………………………………….........................XX
Tingkat persediaan awal ................................................. ...XX -
Tingkat produksi ............................................................. ..XX

Anggaran produksi merupakan dasar (bisnis) untuk penyusunan anggaran-anggaran lain seperti
anggaran bahan mentah , anggaran tenaga kerja langsung dan anggaran biaya overhead pabrik.
Sehinngga hubungan antara tingkat penjualan,tingkat dan tingkat persediaan dapat digambarkan
secara diagramatis seperti berikut ini:
Langkah Praktis Menyusun Anggaran Produksi
Langkah-langkah umum penyusunan anggaran produksi:

1. Menentukan periode waktu yang akan dipakai sebagai dasar dalam penyusunan anggaran
produksi yang selaras dengan periode yang digunakan dalam penyusunan anggaran
penjualan.
2. Menentukan satuan fisik dari barang yang akan dihasilkan
3. Menentukan standar penggunaan sumber daya (bahan baku, tenaga kerja langsung dan
penggunaan fasilitas.
4. Menentukan kebijakan pola produksi dan kebijakan persediaan.
5. Menyajikan Anggaran produksi dalam sebuah tabel. Penyajian dalam bentuk sederhana
setidaknya memuat informasi tentang waktu dan jumlah produksi. Jumlah produksi dihitung
dengan mempertimbangkan persediaan awal dan persediaan akhir barang jadi. Produksi =
Penjualan+ pewrsediaan akhir – persediaan awal.
6. Untuk kasus-kasus yang lebih kompleks penyajian dapat disesuaikan dengan prinsip jelas
dan informatif

Langkah-Langkah Pelaksanaan Anggaran Produksi


Di samping itu dapat pula disusun langkah-langkah utama yang dilakukan dalam rangka
menyusun anggaran produksi pelaksanaanya:
a. Tahap perencanaan

1. Menentukan periode waktu yang akan dipake sebagai dasar dalam penyusunan bagian
produksi.
2. Menentukan jumlah satuan fisik dari barang yang harus dihasilkan.

b. Tahap pelaksanaan

1. Menentukan kapan barang diprodusir.


2. Menentukan dimana barang akan diprodusir
3. Menentukan urut-urutan prose produksi
4. Menetukan standar penggunaan fasilitas-fasilitas produksi untuk mencapai efisiensi
5. Menyusun progam tentang penggunaan bahan mentah ,buruh, service dan peralatan.
6. Menyusun standar produksi
7. Membuat perbaikan-perbaikan bilamana diperlukan.

Dalam tahap perencanaan diatas, dikatakan bahwa penentuan jumlah satuan fisik barang yang
harus diprodusir disesuaikan dengan rencana penjualan. Pada umumnya rencana penjualan disajikan
dalam unit fisik,sehingga menghitung jumlah barang yang harus diprodusir adalah mudah.
Contoh:
Diharapkan bahwa 60 unit barang A akan berada ditangan perrusahaan pada awal periode
nanti. Penjualan selama satu periode direncanakan 100 unit. Sedangkan persediaan akhir
diperkirakan 40 unit.
Sehingga perusahaan harus memprodusir barang A sebanyak 80 unit, dengan perhitungan sebagai
berikut:

Penjualan 100 unit


Persediaan akhir 40 unit +
Kebutuhan 140 unit
Persediaan awal 60 unit -
Produksi 80 unit

Kemudian, pada tahap pelaksanaan terdapat langkah yang menentukan kapan barang akan
diprodusir oleh perusahaan. Dalam menentukan kapan suatu barang akan diprodusir , terlebih
diperkirakan:

 Lamanya proses produksi,yakni jangka waktu yang diperlukan untuk memproses barang mentah
menjadi barang jadi.
 Jumlah barang yang akan dihasilkan selama satu periode,dengan melihat kembali anggaran
penjualan.

Bagi perusahaan yang telah berkali-kali menghasilkan barang yang sama,lamanya proes
produksi dapat diketahui dengan mengingat pengalaman-pengalaman di masa lalu. Sedangkan bagi
perusahaan yang belum pernah menghasilkan barang tertentu sehingga tidak mempunyai data
historis tentang barang tersebut, dapat melakukan penelitian dengan cara sederhana berupa
pembuatan proto type Barang yang akan dihasilkan.

Dalam menentukan atau memperkirakan jangka waktu produksi dan jumlah barang yang akan
dihasilkan,beberapa faktor harus dipertimbangkan. Faktor –faktor tersebut berupa :

a. Fasilitas pabrik
Progam-progam produksi harus selalu dikaitkan dengan fasilitas tersedia dalam pabrik serta selalu
selalu mempertimbangkan efisiensi penggunaan fasilitas tersebut.
b. Fasilitas pergudangan
Beberapa jenis barang membutuhkan system penyimpanan secara khusus karna sifat-sifatnya yang
khusus pula. Produksi yang terlalu jauh melebihi kemampuan gudang untuk menyimpannya akan
mengakibatkan resiko-resiko,yang tentu saja menimbulkan biaya bagi perusahaan.
c. Stabilitas tenaga kerja
Beberapa jenis barang mempunyai sifat permintaan yang musiman. Dengan berdasarkan pada
anggaran penjualan,pada bulan-bulan tertentu dimana volume penjualan diperkirakan tinggi mungkin
perusahaan harus memaksakan diri dalam berproduksi. Dalam hal ini perusahaan dapat menambah
buruhnya atau menambah jam kerja buruh setiap harinya. Apabila buruh yang diperlukan sebagai
tambahan mudah didapat maka tidak ada masalah yang dapat mempengaruhi kelancaran prose
produksi. Tetapi bila buruh tidak mudah di dapat, berarti stabilitas kerja diperusahaan itu terganggu.
Ini dapat dihindarkan dengan membuat perencanaan produksi secara hati-hati dan membuat
kebijaksanaan dalam hal persediaan dengan lebih teratur.
d. Stabilitas bahan mentah
Apabila bahan mentah yang dipakai tidak selalu tersedia dipasar hal itu dapat membahayakan
kelancaran proses produksi. Karna itu kebijaksanaan dalam pembelian barang mentah sangat perlu
diperhatikan.
e. Model yang digunakan
Besar kecilnya modal kerja yang tersedia akan mempunyai pengaruh terhadap besar kecilnya volume
produksi dan kebijaksanaan persediaan. Dengan kata lain kebijaksanaan produksi harus
diseimbangkan dengan kemampuan financial.
Contoh Format Sederhana Penyajian Tabel Anggaran Produksi
Oleh Hendra Poerwanto

Beberapa contoh format penyajian anggaran produksi dalam bentuk tabel tersaji berikut ini:

Contoh 1
Format Sederhana Penyajian Tabel Anggaran Produksi Untuk Satu Produk

Contoh 2
Format Sederhana Penyajian Tabel Anggaran Produksi Untuk Dua Produk
Pendekatan Dalam Menyusun Anggaran Produksi
Oleh Hendra Poerwanto

Pada umumnya terdapat tiga pendekatan dalam menyusun anggaran produksi yaitu: (1)
stabilitas produksi, (2) stabilitas persediaan, dan (3) kombinasi stabilitas produksi dengan stabilitas
persediaan. Contoh masing-masing pendekatan adalah sebagai berikut.

1. Pendekatan Stabilitas Produksi


Kebijakan Stabilisasi Produksi adalah kebijakan untuk berproduksi pada tingkat produksi yang
sama setiap bulannya dalam 1 tahun. Konsekuensi dari kebijakan ini adalah tingkat persediaan
dibiarkan berfluktuasi (mengambang) untuk menyama-ratakan besarnya produksi dan menyesuaikan
pola penjualan musiman. Pertimbangan untuk kebijakan ini adalah :

 Perusahaan ingin memperoleh biaya produksi yang sama untuk setiap bulannya.
 Jumlah pegawai pabrik cenderung tetap setiap bulannya, maka jumlah produksi tiap bulan
yang stabil akan lebih tepat digunakan.
 Mesin akan berproduksi lebih efisien jika tingkat produksi barang stabil setiap bulannya.

Disamping pertimbangan diatas, kebijakan ini mempunyai beberapa keuntungan yaitu :

 penggunaan fasilitas pabrik yang lebih baik cenderung mengurangi kapasitas yang diperlukan
untuk musim permintaan pasar meningkat dan menghindari kapasitas yang menganggur
pada saat permintaan menurun.
 Stabilitas tenaga kerja dapat memperbaiki moral dan meningkatkan efisiensi tenaga kerja,
mengurangi perputaran tenaga kerja, menarik tenaga kerja yang terampil, dan mengurangi
biaya latihan bagi tenaga kerja yang baru.
 Pembelian bahan baku yang ekonomis merupakan akibat dari tersedianya bahan baku,
potongan pembelian, masalah penyimpanan yang sederhana, kebutuhan dana yang lebih
kecil, dan mengurangi risiko persediaan.
Contoh
Rencana penjualan satu tahun 2.000 unit terbagai dalam triwulan, yaitu penjualan triwulan 1,2,3, dan
4 adalah 515 unit, 500 unit, 500 unit, dan 485 unit. Persediaan swat 60 unit dan persediaan akhir 40
unit. Anggaran produksi dapat disusun sebagai berikut.

Dalam menyusun anggaran produksi dengan pendekatan stabilitas produksi, seperti contoh di atas,
maka produksi setiap triwulan sebesar 1.980 unit dibagi 4 sama dengan 495 unit; jadi tiap-tiap
triwulan divisi pabrik harus memproduksi 495 unit. Sedangkan persediaan awal dan akhir barangjadi
mengikuti kebijakan produksi yang stabil tersebut. Jika manajemen produksi menetapkan kebijakan
stabilitas produksi, maka unit persediaan awal dan akhir dibiarkan berfluktuasi menurut penjualan
yang telah ditetapkan secara stabil

Kebijakan stabilisasi produksi ini dapat dilakukan dengan cara :

 Mengorbankan fluktuasi persediaan seperlunya.


 Memproduksi produk baru yang dapat disimpan pada saat produk lama mulai menunjukkan
kecenderungan permintaan menurun.
 Memproduksi produk lain yang dapat dijual (laku) pada saat permintaan produk utama
menurun.

2. Pendekatan Stabilitas Persediaan


Jika manajemen produksi menetapkan kebijakan stabilitas persediaan, maka unit diproduksi
dibiarkan berfluktuasi menurut persediaan yang telah ditetapkan secara stabil. Teknik membuat
persediaan stabil adalah dengan cara: terlebih dahulu harus kita ketahui atau kita tentukan tingkat
persediaan awal tahun dan tingkat persediaan akhir tahun. Bila diketahui antar keduanya tidak sama,
maka tingkat persediaan bulanan disesuaikan secara bertahap ke arah tingkat persediaan yang
diinginkan.

Kebijakan Stabilisasi Tingkat Persediaan berbeda dengan kebijakan stabilisasi produksi. Jika
dalam kebijakan stabilisasi produksi yang diperhitungkan adalah hasil tingkat produksi barang jadi
yang sama tiap periodenya, kebijakan ini lebih cocok diterapkan pada perusahaan yang tidak
menginginkan tingkat persediaan berfluktuasi secara berlebihan setiap periode yang terdapat dalam
anggaran.

Tujuan dari kebijakan Tingkat Persediaan sendiri yakni, untuk merencanakan tingkat optimal
investasi persediaan dan mempertahankan tingkat optimal tersebut melalui pengendalian. Tingkat
persediaan harus dipertahankan antara dua perbedaan besar, tingkat yang berlebihan akan
menyebabkan biaya penyimpanan, risiko dan investasi yang berlebihan, dan di sisi lain tingkat yang
tidak memadai untuk memenuhi permintaan penjualan dan produksi dengan cepat (muncul biaya
kehabisan persediaan yang tinggi).

Di dalam kebijakan stabilisasi tingkat persediaan, terdapat beberapa faktor-faktor yang


mempengaruhi penentuan besarnya tingkat persediaan barang itu sendiri, yakni :

1. Daya tahan produk yang akan disimpan.


Untuk produk yang mudah rusak, tidak tahan untuk disimpan dalam jangka waktu yang lama,
besarnya persediaan harus dipertimbangkan dengan cermat.
2. Sifat persaingan yang dihadapi perusahaan.
Jika tingkat persaingan yang dihadapi perusahaan relatif ketat, maka persaingan untuk memberikan
pelayanan untuk memenuhi pesanan menjadi prioritas. Dengan demikian diperlukan persediaan
barang jadi yang relatif besar.
3. Biaya-biaya yang muncul karena kebijakan persediaan seperti :
• Biaya sewa gedung
• Biaya pemeliharaan
• Biaya asuransi
• Biaya pemesanan mendadak (Extra Carrying Cost)
• Biaya kehabisan persediaan (Stockout Cost)
4. Besarnya modal kerja yang tersedia.
5. Pola permintaan akan produk permintaan.
6. Resiko-resiko yang dihadapi perusahaan.
Resiko ini mencakup :

 Resiko yang berasal dari manusia yang umumnya timbul karena kecerobohan manusia,
seperti cara pengangkatan, memindahkan, dan meletakkan barang jadi yang tidak
mengikuti prosedur yang ada.
 Resiko yang berasal dari alam, terjadi di luar kekuasaan manusia (bencana alam).
 Resiko yang disebabkan karena sifat barang yang mudah rusak.

Setelah mengetahui faktor-faktor di atas, kita juga harus tahu bagaimana penentuan besarnya
persediaan. Untuk menentukan persediaan barang atau bahan mentah setiap bulannya, dilakukan
perhitungan dengan cara-cara sebagai berikut :

1. Disesuaikan dengan kebutuhan bulanan

 Apabila kebutuhan akan bahan/barang setiap bulan sama maka digunakan rata-rata
bulanan atau rata-rata sederhana. Formula yang digunakan :

Tingkat Persediaan = Kebutuhan barang setahun ÷ 12 bulan

Contoh : kebutuhan barang dalam setahun 60.000 unit. Maka, besarnya persediaan dihitung dengan
cara :
Kebutuhan per bulan = (60.000 ÷ 12) × 1 unit = 5.000 unit

 Apabila kebutuhan akan bahan/barang setiap bulan tidak sama (berfluktuasi) maka
digunakan rata-rata bulanan bergerak.

Contoh : kebutuhan bulanan


periode Kebutuhan Barang
Januari 4000 unit
Februari 2000 unit
Maret 3000 unit
April 4000 unit
Mei 5000 unit

Kebutuhan bulanan dihitung dengan metode rata-rata bergerak :


Februari : (4.000 + 2.000 + 3.000) ÷ 3 = 3.000 unit
Maret : (2.000 + 3.000 + 4.000) ÷ 3 = 3.000 unit
April : (3.000 + 4.000 + 5.000) ÷ 3 = 4.000 unit

 Apabila perusahaan menentukan dua bulan kebutuhan, maka besarnya persediaan :

Februari : 3.000 x 2 = 6.000 unit


Maret : 3.000 x 2 = 6.000 unit
April : 4.000 x 2 = 8.000 unit

2. Batas maksimum dan minimum


Besarnya tingkat persediaan ditentukan dengan cara menetapkan batas tertinggi (maksimum) yang
diperbolehkan untuk memiliki (menyimpan) sejumlah persediaan, dan batas rendah (minimum) nya.
Penentuan ini dapat dilakukan dengan mendasarkan pengalaman sebelumnya tentang besarnya
persediaan maksimum dan minimum yang harus dipertahankan.

3. Tingkat Perputaran
Banyak perusahaan yang menggunakan tingkat perputaran persediaan sebagai dasar menentukan
tingkat persediaan. Perputaran persediaan yang tinggi menandakan semakin tingginya persediaan
berputar selama satu tahun dan menandakan efektivitas manajemen persediaan. Sebaliknya,
perputaran persediaan yang rendah menandakan tanda-tanda mis-manajemen seperti kurangnya
pengendalian persediaan yang efektif.
Perputaran persediaan dapat dihitung dengan formula ini :
Tingkat Perputaran Persediaan = Rencana Penjualan Setahun ÷ Persediaan Rata-rata

Persediaan Rata-rata = (Persediaan awal + Persediaan akhir) ÷ 2

Kebijakan stabilisasi tingkat persediaan ini juga menjamin bahwa kenaikan atau penurunan
persediaan terjadi secara bertahap dalam setiap periode. Perusahaan yang memiliki ruang
penyimpanan persediaan yang terbatas atau menghadapi biaya sewa gedung yang tinggi cocok
untuk menerapkan kebijakan ini.

Dalam pendekatan atau penyusunan dengan kebijakan ini, terlebih dahulu ditentukan tingkat
persediaan awal tahun dan tingkat persediaan akhir tahun. Bila di antara keduanya tidak sama,
tingkat persediaan bulanan disesuaikan secara bertahap ke arah tingkat persediaan yang diinginkan.

3. Pendekatan Kebijakan Kombinasi


Kebijakan kombinasi artinya mengkombinasi dua kebijakan yaitu kebijakan persediaan stabil dan
kebijakan produksi stabil. Dalam membuat kombinasi kebijakan, hares menggunakan asumsi bahwa
hares ado keseimbangan optimum antara tingkat penjualan, persediaan, dan produksi. Kebijakan
kombinasi antara lain adalah: (1) tingkat produksi tidak boleh berfluktuasi lebih 10% dari rata-rata
produksi, (2) tingkat persediaan triwulan 1 dart 2 boleh berflutuasi 8 unit dan triwulana 3 dan 4 boleh
berfluktuasi 6 unit.

Memilih Pendekatan Dalam Menyusun Anggaran Produksi


Dari ketiga pendekatan penyusunan angaran produksi yang telah dijelaskan di atas,
persoalannya adalah pendekatan yang mana yang sebaiknya dipilih? Jawaban dari persoalan
tersebut bergantung dari hasil analisis dengan menggunakan metode incremental cost terhadap pola
produksi. Mana dari ketiga pola produksi yakni Pola Produksi Konstan, Pola Produksi Bergelombang,
dan Pola Produksi Moderat yang memberikan incremental cost yang paling rendah. Pola Produksi
yang berdampak incremental cost terendah lah yang dipilih dan digunakan sebagai pijakan untuk
menentukan pendekatan dalam menyusun anggaran produksi.

catatan:
bahasan tentang pola produksi dapat dicari di Google dengan menggunakan kata kunci "pola
produksi oleh hendra"

Contoh Pendekatan Stabilitas Persediaan Dalam Penyusunan Anggaran Produksi


Oleh Hendra Poerwanto

PT GSM berencana membuat Anggaran Produksi untuk tahun 20XY. Data Informasi yang sudah
ada adalah sebagai berikut

 Rencana Penjualan yang dicuplik dari Anggaran Penjualan tahun 20XY

 Kebijakan Persediaan 20XY adalah sebagai berikut

Tingkat persediaan akhir tahun direncanakan = 1.500 unit


Tingkat persediaan awal tahun direncanakan = 2.000 unit

Berdasarkan data tersebut PT GSM membuat Anggaran Produksi tahun 20XY yang mengutamakan
stabilitas persediaan.

Langkah-langkah:
Langkah 1: Menentukan tingkat produksi setahun untuk tahun 20XY

Langkah 2 Menentukan perkiraan besarnya persediaan awal dan akhir tahun


Menghitung selisih Lebih/Kurang Persd Awal dan Persd Akhir dan membaginya dengan jumlah
satuan waktu yang digunakan.
Selisih = 2.000 – 1.500 = 500 unit

Langkah 3 Mengalokasikan tingkat persediaan dari waktu ke waktu. Ada dua cara yang sama
seperti pada Stabilitas Produksi yakni:
1. Membagi selisih persediaan awal dan akhir dengan jumlah satuan waktu
yang dipakai
2. Membagi selisih persediaan awal dan akhir dengan suatu bilangan tertentu
sehingga diperoleh bilangan yang bulat
Mengingat kelemahan pada cara pertama maka dipilih cara kedua yakni Menghitung rata-rata selisih
persatuan waktu yang sekiranya dapat diperoleh angka yang BULAT dan MUDAH
Menghitung rata-rata selisih persatuan waktu yang BULAT dan MUDAH
Supaya diperoleh angka BULAT dan MUDAH dipilih hanya 5 bulan dengan pertimbangan jumlah
bulan yang penjualannya tinggi ada 5 bulan, sehingga
= 500/5 = 100
Selisih tersebut dialokasikan ke bulan Januari s/d Mei.

Langkah 4. Menyajikan Anggaran Produksi dalam Format Tabel

 Membuat Tabel Anggaran Produksi yang disesuaikan dengan infromasi yang akan disajikan:
 Mengisi Tabel Anggaran Produksi dengan data-data yang sudah ada

 Melengkapi Tabel pada baris Persediaan Akhir

Pengisian dimulai dari bulan Desember. Karena hasil perhitungan selisih pada Langkah 2 adalah
selisih positif dan dialokasikan pada 5 bulan Januari sd Mei, maka mulai bulan Mei persediaan akhir
meningkat 100 hingga bulan Januari

 Melengkapi Tabel pada baris Persediaan Awal bulan Januari s/d Desember

 Melengkapi Tabel Pada Baris Jumlah untuk Bulan Januari

 Melengkapi tabel pada Baris Tingkat Produksi pada bulan Januari

 Melengkapi Tabel baris Jumlah dan Tingkat Produksi untuk bulan Februari sampai
Desember, sehingga hasil selengkapnya sbb:

Contoh Pendekatan Stabilitas Produksi Dalam Penyusunan Anggaran Produksi


Oleh Hendra Poerwanto

PT GM akan membuat Anggaran Produksi untuk tahun 20XY. Berikut Data dan informasi yang
dimiliki untuk dijadikan dasar menyusun Anggaran produksi.

 Rencana Penjualan yang dicuplik dari Anggaran Penjualan PT GM tahun 20XY

 Kebijakan Tingkat Persediaan th 20XY adalah sebagai berikut:

Persediaan awal tahun = 2.000 unit


Persediaan akhir tahun = 1.500 unit

Berdasarkan Data dan Informasi Tersebut di atas PT GM hendak membuat Anggaran Produksi yang
mengutamakan Stabilitas Produksi

Berikut langkah-langkah membuat Anggaran Produksi yang mengutamakan Stabilitas Produksi


adalah sbb:

Langkah 1. Menghitung Tingkat Produksi satu tahun untuk tahun 20XY


Langkah 2 Melakukan Alokasi produksi ke satuan waktu yang diinginkan
(Dalam kasus ini satuan waktunya adalah bulanan)

Pengalokasian tingkat produksi setiap bulan dapat dilakukan dengan salah satu cara dari dua cara
berikut:
1. Membagi tingkat produksi per tahun dengan jumlah satuan waktu (bulanan =12, mingguan 54,
triwulan=4, catur wulan =3), dimana hasil bagi tersebut langsung dipakai sebagai tingkat produksi per
satuan waktu
Produksi selama 1 tahun = 13.700 unit
Produksi rata-rata selama 1 bulan = 13.700/12 = 1.141.67 unit

Kelemahan cara pertama ini adalah sering diperoleh angka produksi rata-rata yang tidak bulat
sehingga sukar diiplementasikan. Oleh karena itu, langkah 2 berikut ini menjadi alternatif untuk
mengatasi kesulitan yang timbul sehubungan dengan penggunaan cara pertama

2. Membagi tingkat produksi per tahun sedemikian rupa sehingga dihasilkan bilangan-bilangan bulat
dan mudah untuk dilaksanakan secara tepat. Kelebihan hasil pembagian dialokasikan ke bulan-bulan
dimana tingkat penjualannya tinggi.
Produksi rata-rata per bulan = 1.141,67 unit.
Bilangan bulat yang paling mudah untuk digunakan adalah 1.100 unit.
Apabila produksi per bulan 1.400 unit,
maka kekurangannya adalah 13.700 – (12 x 1.100) = 100 unit.

Selanjutnya, kekurangan 100 unit dialokasikan kepada bulan-bulan dimana tingkat penjualannya
tertinggi,yakni :
-Januari dengan tingkat penjualan 1.500 unit
-Februari dengan tingkat penjualan 1.600unit
-Maret dengan tingkat penjualan 1.600 unit
-April dengan tingkat penjualan 1.400 unit
-Desember dengan tingkat penjualan 1.400 unit

Sehingga kelima bulan tersebut masing-masing akan mendapatkan tambahan sebanyak


100/5 x 1 unit = 100 unit.

Dengan demikian secara keseluruhan adalah :


-5 bulan (Januari, Februari, Maret, April, Desember) masing-masing
5 x (1.100 + 100 )=5 x 1.200 unit =6.000 unit
-7 bulan (Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November) masing-masing
7 x 1.400 unit =7.700 unit(+)
JUMLAH = 13.700 unit

Langkah 3 Menyajikan Anggaran Produksi dalam format Tabel


Cara pembuatannya adalah sebagai berikut:

 Membuat Format Tabel yang disesuaikan dengan Informasi yang Perlu Ditampilkan

 Mengisi Tabel dengan informasi yang telah tersedia yakni: Penjualan, Persediaan awal tahun,
Persediaan akhir tahun, dan Tingkat produksi bulanan

 Melengkapi tabel yang perhitungannya dimulai dari bulan Desember.

Menghitung Tingkat Kebutuhan


Tingkat Kebutuhan = Rencana Penjualan + Persediaan Akhir = 1.400 + 1.500 = 2.900

Menghitung Persediaan Awal

Persediaan Awal = Tingkat Kebutuhan - Rencana Produksi = 2.900 - 1.200 = 1.700

Selanjutnya Persedian Awal bulan Desember merupakan Persediaan Akhir bulan November
sehingga Persediaan Akhir bulan Novemer sebesar 1.700. Dengan cara yang sama seluruh isian
tabel dilengkapi.

Tabel selengkapnya Anggaran Produksi PT GSM adalah sebagai berikut:

Pengertian Anggaran Bahan Baku, Tujuan Anggaran Bahan Baku dan Komponen Anggaran Bahan
Baku
Oleh Hendra Poerwanto

Untuk menghindari tidak tepatnya persediaan bahan baku, maka diperlukan suatu perencanaan
sebagai alat untuk mengendalikan bahan baku agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Salah
satu cara pengendalian tersebut adalah dengan penyusunan budget (anggaran). Anggaran bahan
baku adalah anggaran yang berhubungan dan merencanakan secara sistematis serta lebih terperinci
tentang penggunaan bahan baku untuk proses produksi selama periode tertentu yang akan datang.
Posisi angaran bahan baku terhadap anggaran produksi dapat dilihat pada skema berikut:
Tujuan Anggaran Bahan Baku.
Tujuan anggaran bahan baku antara lain adalah:

1. Memperkirakan jumlah kebutuhan bahan baku.


2. Memperkirakan jumlah pembelian bahan baku yang diperlukan.
3. Sebagai dasar untuk memperkirakan kebutuhan dana yang diperlukan untuk melaksanakan
pembelian bahan baku.
4. Sebagai dasar penyusunan produk costing yakni memperkirakan komponen harga pokok
pabrik karena penggunaan bahan baku dalam proses produksi.
5. Sebagai dasar untuk melaksanakan fungsi pengawasan dalam bahan baku.

Komponen Anggaran Bahan Baku.


Anggaran bahan mentah terdiri dari 4 komponen :

1. Anggaran kebutuhan bahan baku (direct materials used budget).


2. Anggaran pembelian bahan baku (direct materials purchases budget).
3. Anggaran persediaan bahan baku (cost of direct materials budget).
4. Anggaran biaya bahan baku yang habis digunakan dalam produksi.

***

Pengertian Anggaran Kebutuhan Bahan Baku


Oleh Hendra Poerwanto

Anggaran Kebutuhan Bahan Baku adalah perencanaan kuantitas bahan baku yang dibutuhkan
untuk keperluan produksi pada periode mendatang. Kebutuhan bahan baku diperinci berdasarkan:

a. Jenis bahan baku.


b. Menurut macam barang jadi yang akan dihasilkan.
c. Menurut bagian-bagian dalam pabrik yang mengunakan bahan baku tersebut.

Fungsi Anggaran Kebutuhan Bahan Baku


Ada 2 fungsi penting anggaran bahan baku, yaitu :

1. Sebagai dasar untuk menyusun budget pembelian bahan mentah, jumlah satuan
bahan mentah yang dibeli ditentukan oleh beberapa banyak satuan bahan mentah
yang dibutuhkan oleh berapa banyak satuan bahan mentah dibutuhkan dalam proses
produksi.
2. Sebagai dasar untuk menyusun anggran biaya bahan mentah besarnya biaya bahan
mentah ditentukan oleh berapa banyak satuan bahan mentah tersebut dibutuhkan
untuk proses produksi.
3. Sebagai Data dan informasi untuk menyusun anggaran kebutuhan bahan mentah

Manfaat Anggaran Kebutuhan Bahan Baku


Anggaran bahan baku mempunyai 3 kegunaan pokok yaitu :

a. Sebagai pedoman kerja.


b. Sebagai alat untuk menciptakan koordinasi kerja.
c. Sebagai alat untuk melakukan pengawasan kerja.

Data dan Informasi Untuk Menyusun Anggaran Kebutuhan Bahan Baku


Data dan informasi digunakan untuk menyusun anggaran kebutuhan bahan baku adalah:
1. Rencana produksi yang tertuang dalam anggaran yang akan diproduksi. Khususnya
tentang jumlah dari masing-masing jenis barang yang akan diproduksi dari waktu ke
waktu selama periode tertentu.
2. Berbagai standar pemakaian bahan baku dari masing-masing bahan baku untuk
proses produksi, yang ditetapkan dan berlaku di perusahaan. Standar pemakaian
bahan baku diperlukan untuk mengendalikan efisiensi pemakaian bahan baku
(controlling).

Ada 2 metode yang menetapkan standar data dan informasi dalam perusahaan, yaitu:

 Data historis atau data pengalaman diwaktu-waktu yang telah lalu.

Caranya adalah dengan melihat jumlah unit yang dihasilkan di suatu waktu yang lalu dan kemudian
membandingkan dalam satuan jumlah satuan unit bahan mentah yang habis terpakai untuk waktu
produksi pada bulan tersebut, maka dari hasil itu dapat diketahui penggunaan bahan mentah rata-
rata untuk unit produk.

 Data penelitian khusus. Pada data penelitian khusus dengan mengabaikan data pengalaman
di waktu-waktu yang telah lalu. Cara ini misalnya dapat dilakukan dengan :

1. Mengukur secara fisik barang jadi yang telah selesai diproduksi, agar dapat diketahui
jumlah satuan unit bahan baku yang dipakai untuk menghasilkan produk tersebut.
Misalnya PT. Charisma yang bergerak dalam produksi mebel akan menghasilkan
meja dan kursi. Maka, hal yang dilakukan adalah mengukur meja dan kursi yang
telah selesai diproduksi, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kebutuhan bahan
baku berupa kayu yang dipakai.
2. Melakukan penelitian dan pengukuran secara laboratories terhadap produk yang
dihasilkannya. Hal ini biasanya dipakai pada barang atau produk yang tidak mudah
diukur penggunaan bahan baku secara visual, tanpa bantuan alat khusus, Misal obat-
obatan, minuman, kosmetik, dll.
3. Mengadakan percobaan-percobaan proses produksi secara efisien, sambil diukur
pemakaian bahan mentahnya.

***
Bentuk Format Anggaran Kebutuhan Bahan Baku
Oleh Hendra Poerwanto

Anggaran Kebutuhan Bahan Baku disusun sebagai perencanaan jumlah bahan mentah yang
dibutuhkan untuk keperluan produksi pada periode mendatang. Penyajian dalam tabel diperinci
menurut jenis bahan mentah, macam barang jadi yang dihasilkan dan menurut bagian-bagian dalam
pabrik yang menggunakan bahan mentah tersebut dan memuat informasi:

1. Jenis barang yang dihasilkan


2. Jenis bahan mentah yang digunakan
3. Bagian-bagian yang dilalui dalam proses produksi
4. Standar penggunaan bahan mentah
5. Waktu penggunaan bahan mentah

Anggaran kebutuhan bahan mentah tidak ada standar khusus yang harus dipergunakan. Hal ini
berarti perusahaan mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri bentuk format. Berikut contoh-
contoh bentuk format Anggaran Kebutuhan Bahan Baku dalam berbagai situasi:
Contoh 1: Format Anggaran Kebutuhan Bahan Baku Bulanan untuk satu jenis produk dengan 2 jenis
bahan baku.

Contoh 2: Format Anggaran Kebutuhan Bahan Baku tiga bulanan untuk satu jenis produk dengan 2
jenis bahan baku.

Contoh 3: Format Anggaran Kebutuhan Bahan Baku bulanan untuk 2 jenis produk dengan 2 jenis
bahan baku.
Contoh 4.:Format Anggaran Kebutuhan Bahan Baku bulanan untuk 2 jenis produk dengan 2 jenis
bahan baku yang diproses melalui 2 departemen produksi

***
Contoh Anggaran Kebutuhan Bahan Baku
Oleh Hendra Poerwanto

PT GM memproduksi satu jenis produk yakni produk A. Untuk membuat produk A diperlukan
bahan B dan bahan C. berikut data-data selengkapnya:

 Rencana produksi untuk tahun 20XY yang diambil dari Anggaran Produksi
 Standar Penggunaan (SP) Bahan Baku/ Standard Usage Rate (SUR)

 Perkiraan Harga Bahan Baku per unit

Harga Bahan B = Rp 25,00 per unit


Harga Bahan C = Rp 50,00 per unit

 Persediaan Awal tahun 20XY

Persediaan awal bahan B = 75 unit


Persediaan awal bahan C= 115 unit

 Rencana Persediaan Akhir bulan/ Triwulan

Berdasarkan data dan informasi di atas buatlah Anggaran Kebutuhan Bahan Baku
JAWAB:
berdasarkan data-data yang ada maka Anggaran Kebutuhan Bahan Baku untuk 20XY adalah sbb:

#
Pengertian Anggaran Pembelian Bahan Baku (Direct Materials Purchases Budget)
Oleh Hendra Poerwanto

Anggaran Pembelian Bahan Baku adalah Anggaran yang merencanakan secara sistematis dan
lebih terperinci tentang kuantitas pembelian bahan baku guna memenuhi kebutuhan untuk produksi
dari waktu kewaktu selama periode tertentu. Anggaran bahan baku berisi rencana kuantitas bahan
baku yang harus dibeli oleh perusahaan dalam periode waktu mendatang. Hal ini harus dilakukan
dengan hati-hati dalam hal :

 Jumlah pembelian
 Waktu pembelian

Apabila bahan baku yang dibeli terlalu besar akan mengakibatkan :

- Bertumpuknya bahan baku di gudang, yang mengakibatkan penurunan kualitas.


- Terlalu lama bahan baku “menunggu” giliran diproses.
- Biaya penyimpanan terlalu besar.

Apabila jumlah bahan baku yang dibeli terlalu kecil juga mendatangkan resiko:

- Terhambatnya kelancaran proses produksi akibat kebiasaan bahan baku.


- Timbulnya biaya tambahan untuk mencari bahan baku pengganti secepatnya.

Fungsi Anggaran Pembelian Bahan Baku :


Fungsi Anggaran pembelian bahan baku antara lain:

1. Sebagian dasar untuk menyusun anggaran biaya bahan baku, karena besarnya nilai biaya
bahan baku ditentukan oleh harga beli dari bahan baku yang bersangkutan. Sedangkan harga
beli tersebut terdalam anggaran pembelian bahan baku.
2. Sebagai dasar untuk menyusun anggaran kas, karena pembelian tunai bahan baku akan
mengakibatkan pengeluaran kas.
3. Sebagai dasar untuk menyusun anggaran utang, karena pembelian kredit akan mengakibatkan
bertambahnya utang perusahaan.

Kegunaan anggaran pembelian bahan baku


Ada 3 kegunaan pokok anggaran pembelian bahan baku, yakni:

a. Sebagai pedoman kerja.


b. Sebagai alat manajemen untuk menciptakan koordinasi kerja.
c. Sebagai alat manajemen untuk melakukan evaluasi atau pengawasan kerja.

Data Dan Informasi untuk Menyusun Anggaran Pembelian Bahan Baku


Data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun anggaran pembelian bahan baku adalah :

1. Rencana tentang kebutuhan barang baku untuk menjalankan proses produksi dari waktu ke
waktu yang tertuang dalam anggaran kebutuhan bahan baku, khususnya tentang jenis, dan
jumlah dari barang baku yang dibutuhkan. Misalkan semakin banyak jumlah satuan yang
dibutuhkan, akan semakin banyak pula satuan bahan baku yang dibeli. Sebaliknya bila
semakin sedikit jumlah satuan yang dibutuhkan, akan semakin sedikit pula satuan bahan baku
yang dibeli
2. Biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan pada setiap kali melakukan pembelian bahan
baku (set up cost). Misalkan setiap kali perusahaan harus menaggung biaya yang besar, maka
akan mendorong perusahaan untuk tidak sering melakukan transaksi pembelian. Hal ini
mengakibatkan setiap kali pembelian maka perusahaan membeli dalam jumlah yang besar
agar tidak menaggung kerugian. Sebaliknya bila setiap kali perusahaan menanggung biaya
yang kecil, maka akan mendorong perusahaan untuk sering melakukan transaksi pembelian.
Hal ini mengakibatkan setiap kali pembelian maka perusahaan membeli dalam jumlah yang
kecil.
3. Resiko yang ditanggung oleh perusahaan yang berhubungan dengan penyimpanan bahan
baku di gudang (carrying cost). Misalkan resiko simpanan tersebut besar, maka akan
mendorong perusahaan untuk tidak selalu menyimpan bahan baku di gudang. Akibatnya pada
setiap melakukan pembelian akan dibeli bahan baku dalam jumlah sedikit. Sebaliknya bila
resiko simpanan tersebut kecil, maka akan mendorong perusahaan untuk selalu menyimpan
bahan baku yang banyak di gudang. Akibatnya pada setiap melakukan pembelian akan dibeli
bahan baku dalam jumlah banyak.
4. Fluktuasi harga beli bahan baku di waktu-waktu yang akan datang. Misalkan ada
kecenderungan bahwa harga beli bahan baku terus naik, maka akan mendorong perusahaan
untuk segera melakukan pembelian bahan baku dalam jumlah yang banyak selagi harga belum
naik teralu tinggi. Sebaliknya bilamana ada kecenderungan harga beli bahan baku akan terus
turun maka perusahaan akan melakukan pembelian dalam jumlah yang sedikit demi sedikit.
5. Tersedia bahan baku di pasar. Misalkan bahan baku tidak selalu tersedia di pasar pada
sepanjang tahun maka akan mendorong perusahaan untuk segera melakukan pembelian
bahan baku dalam jumlah banyak, selagi masih banyak tersedia di pasar. Begitu pun dengan
sebaliknya.
6. Tersedianya modal kerja. Misalkan perusahaan memiliki modal kerja yang cukup, maka akan
meberikan kemungkinan untuk melakukan pembelian bahan baku dalam jumlah banyak.
Sebaliknya bila modal kerja yang tersedia terbatas, maka perusahaan hanya akan melakukan
pembelian bahan baku dalam jumlah yang sedikit.
7. Kebijakan perusahaan di bidang persediaan bahan baku (inventory policy). Kebijakan ini pada
dasarnya bahan baku yang dibeli akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan proses produksi
dan untuk cadangan persediaan yang disimpan dalam gudang. Misalkan perusahaan
menetapkan persediaan bahan baku dalam jumlah yang banyak maka akan mendorong
melakukan pembelian dalam jumlah yang banyak pula. Sebaliknya bila persediaan bahan baku
dalam jumlah yang sedikit maka akan mendorong melakukan pembelian dalam jumlah yang
sedikit.

Kebijakan yang mempengaruhi bahan baku adalah :

1. Fluktuasi produksi dari waktu ke waktu selama periode yang akan datang yang tertuang
dalam budget unit yang akan diproduksi. Untuk menghadapi jumlah produksi yang meningkat,
diperlukan persediaan bahan baku dalam produksi yang banyak. Sedangkan bila
menghadapi jumlah produksi yang akan menurun, hanya akan diperlukan persediaan bahan
baku dalam jumlah yang sedikit.
2. Fasilitas penyimpanan yang tersedia. Bila fasilitas penyimpan yang tersedia cukup banyak,
maka akan menggunakan penetapan kebijakan persediaan bahan baku dalam jumlah yang
banyak pula. Sebaliknya bila fasilitas yang tersedia terbatas maka persediaan bahan baku
ditetapkan dalam jumlah yang sedikit.
3. Modal kerja yang tersedia. Bila modal kerja yang tersedia cukup banyak, maka akan
memungkinkan penetapan persediaan bahan baku dalam jumlah yang banyak pula.
Sebaliknya bila modal kerja yang tersedia terbatas, maka persediaan bahan baku ditetapkan
dalam jumlah yang sedikit.
4. Biaya simpan bahan baku (carrying cost) yaitu biaya-biaya yang harus ditanggung oleh
perusahaan karena menyimpan bahan baku, seperti sewa gedung, biaya perawatan barang
yang disimpan, biaya modal yang tertanam dalam barang yang disimpan. Misalkan biaya
simpan murah. maka akan memungkinkan penetapan kebijakan persediaan bahan baku
dalam jumlah yang banyak. Sebaliknya bila biaya simpan mahal, maka persediaan bahan
baku ditetapkan dalam jumlah sedikit.
5. Resiko simpan bahan baku, yaitu kerugian yang timbul dan harus ditanggung oleh perusahan
karena menyimpan bahan baku seperti rusak, kualitas turun,barang ketinggalan jaman, dll.
6. Tingkat perputaran bahan baku (inventory turn over) diwaktu-waktu yang lalu. Misalnya: di
waktu-waktu yang lalu tingkat perputaran persediaan bahan baku rendah, maka akan
mendorong penetapan persediaan bahan baku dalam jumlah yang banyak. Sebaliknya,
bilamana tingkat perputaran persediaan bahan baku tinggi, maka akan mendorong
penetapan persediaan bahan baku dalam jumlah yang sedikit.
7. Lamanya tenggang waktu antara bahan menah dipesan (dibeli) dengan bahan baku tersebut
benar-benar telah dikirim dan tiba di gudang perusahaan (lead time). Bila tenggang waktunya
lama, maka ditetapkan persediaan bahan baku dalam jumlah yang banyak. Sebaliknya
tenggang waktunya singkat, maka akan ditetapkan persediaan bahan baku dalam jumlah
sedikit.

Menentukan Jumlah pembelian


Hal yang perlu selalu dipikirkan oleh perusahaan selain besarnya kebutuhan juga besarnya
(jumlah) bahan baku setiap kali dilakukan pembelian, yang menimbulkan biaya paling rendah tetapi
tidak mengakibatkan kekurangan bahan baku. Ada banyak metode untuk menentukan jumlah
pembelian antara lain

 LOL yaitu Lot for Lot. Jumlah pembelian sebesar jumlah kebutuhan bersih

Perhitungan bahan baku untuk satu periode ditentukan dengan :

Persediaan bahan akhir xxxx


kebutuhan bahan baku untuk produksi xxxx (+)
jumlah kebutuhan =xxxx
persediaan awal xxxx (-)
pembelian bahan baku = xxxx

 EOQ yaitu jumlah pembelian sebesar jumlah yang meminimumkan biaya persediaan.

Pertimbangan Pembelian Bahan Baku


Dalam pembelian bahan baku perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:
1. Jenis bahan baku yang digunakan dalam proses produksi.
2. Jumalah yang harus dibeli.
3. Harga per-satuan bahan baku.

Bentuk Format Anggaran Pembelian Bahan Baku


Oleh Hendra Poerwanto

Anggaran ini disusun sebagai perencanaan jumlah bahan mentah yang harus dibeli pada
periode mendatang. Pembelian dilakukan dengan mempertimbangkan faktor kebijakan persediaan
bahan mentah dan kebutuhan bahan mentah. Penentuan jumlah pembelian bahan mentah dapat
dilakukan dengan menggunakan pendekatan EOQ.Penyajian anggaran ini terperinci yang memuat
setidaknya informasi tentang:

1. Jenis bahan mentah yang digunakan


2. Jumlah yang harus dibeli
3. Harga per satuan bahan mentah

Secara umum tidak ada format standard Anggaran Pembelian Bahan Baku, segala sesuatunya
disesuaikan dengan keinginan dan kondisi masing-masing perusahaan.

Contoh Format Anggaran Pembelian Bahan Baku


#
Contoh Anggaran Pembelian Bahan Baku
Oleh Hendra Poerwanto

Dengan melanjutkan kasus PT GM pada contoh Anggaran Kebutuhan Bahan Baku, maka
setelah membuat Anggaran Kebutuhan Bahan Baku, dapatlah disusun Anggaran Pembelian Bahan
Baku sebagai berikut:

#
Pengertian Anggaran Persediaan Bahan Baku
Oleh Hendra Poerwanto

Anggaran Persediaan Bahan Baku merupakan suatu perencanaan yang terperinci atas kuantitas
bahan baku yang disimpan sebagai persediaan.

Pada penyusunan anggaran kebutuhan bahan baku dan anggaran pembelian bahan baku, tampak
bahwa masalah nilai persediaan awal dan persediaan akhir bahan baku selalu diperhitungkan. Setiap
perusahaan dapat mempunyai kebijaksanaan dalam menilai persediaan yang berbeda. Tetapi pada
dasarnya kebijaksanaan tentang penilaian persediaan dapat dikelompokkan menjadi:

1. Kebijaksanaan FIFO (First In First Out).


Kebijaksanaan FIFO, bahan baku yang lebih dahulu digunakan untuk produksi adalah bahan
baku yang lebih dahulu masuk di gudang, sehingga sering pula diterjemahkan ”pertama masuk
pertama keluar”. Dengan kata lain, penilaian bahan baku di gudang nilainya diurutkan menurut urutan
waktu pembeliannya.

2. Kebijaksanaan LIFO (Last In First Out).


Kebijaksanaan LIFO adalah harga bahan baku yang masuk ke gudang lebih akhir justru dipakai
untuk menentukan nilai bahan baku yang digunakan dalam produksi, meskipun pemakaian fisik tetap
diurutkan menurut urutan pemasukannya.

Besarnya bahan baku yang harus tersedia untuk kelancaran proses produksi tergantung :

1. Volume produksi selama satu periode waktu tertentu. ( dapat dilihat pada anggaran
biaya produksi).
2. Volume bahan baku minimal , yang disebut safety stock ( persediaan besi).
3. Besarnya pembelian yang ekonomis (economical order quantity).
4. Estimasi tentang naik turunya harga bahan baku pada waktu mendatang.
5. Biaya penyimpanan dan pemeliharaan bahan baku.
6. Tingkat kecepatan bahan baku menjadi rusak.

Persediaan Besi (safety stock)


Persediaan Besi (safety stock) adalah persediaan minimal bahan baku yang harus
dipertahankan untuk menjamin kelangsungan proses produksi. Persediaan besi ditentukan oleh :

1. Kebiasaan leveransir menyerahkan bahan baku yang dipesan apakah selalu tepat waktu atau
tidak. Bila leveransir selalu tepat menyerahkan pesanan kita maka resiko kehabisan bahan
baku relative kecil, sehingga persediaan besi tidak perlu terlalu besar. Sebaliknya biaya
bahan baku yang dipesan, maka resiko kehabisan bahan baku relative besar, sehingga perlu
persediaan besi yang cukup besar pula.
2. Jumlah bahan baku yang dibeli setiap kali pemesanan. Jumlah bahan baku yang dibeli besar
berarti persediaan rata rata di atas safety stock besar pula, sehingga resiko kehabisan bahan
baku relative kecil.
3. Dapat diperkirakan atau tidak kebutuhan bahan baku secara tepat. Bagi perusahaan yang
dapat memperkirakan jumlah kebutuhan bahan baku secara tepat, maka resiko kehabisan
bahan baku kecil (karena bahan baku yang dibutuhkan sudah disediakan sepenuhnya).
4. Perbandingan antara biaya penyimpanan bahan baku dan biaya extra karena kehabisan
bahan baku. Biaya penyimpanan tampak besar daripada biaya extra akibat kehabisan bahan
baku maka tidak perlu adanya persediaan besi yang terlalu besar.
Bentuk Format Dasar Anggaran Persediaan Bahan Baku
Oleh Hendra Poerwanto

Anggaran Persediaan Bahan Baku disusun untuk merencanakan persediaan di masa yang akan
datang. Faktor persediaan ini menjadi pertimbangan dalam pembelian bahan mentah. Pembelian
bahan mentah bisa saja tidak sama dengan jumlah bahan mentah yang diperlukan karena adanya
faktor persediaan.

Dalam Anggaran Persediaan Bahan Baku perlu diperinci hal-hal sebagai berikut:

1. Jenis bahan baku yang digunakan.


2. Jumlah masing-masing jenis bahan baku yang tersisa sebagai persediaan.
3. Harga per unit masing masing jenis bahan baku.
4. Nilai bahan baku yang disimpan sebagai persediaan.

Pada prinsipnya tidak ada bentuk format standar Anggaran Persediaan Bahan Baku, yang penting
adalah bahwa Anggaran Persediaan Bahan Baku memuat informasi tentang jenis, jumlah, harga dan
nilai bahan baku yang menjadi persediaan. Selebihnya disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi
perusahaan. Berikut ini diberikan satu contoh bentuk/ format Anggaran Persediaan Bahan Baku:

Contoh Anggaran Persediaan Bahan Baku


Oleh Hendra Poerwanto

Dengan menggunakan kasus yang sama pada contoh Anggaran Kebutuhan Bahan Baku yakni
PT GM, lebih jauh diminta untuk membuat Anggaran Persediaan Bahan Baku.

Berdasarkan data-data pada contoh soal Anggaran Kebutuhan Bahan Baku, maka dapat dibuat
Anggaran Persediaan Bahan Baku sebagai berikut:

Sebagaimana dalam keterangan, angka-angka untuk persediaan awal dan persediaan akhir
tahun diperoleh dari angka-angka yang ada pada Anggaran Pembelian Bahan Baku pada kolom
Persediaan Awal dan Persediaan Akhir. Sedang informasi harga diperoleh dari informasi yang ada di
soal.
Pengertian Anggaran Biaya Bahan Baku yang Habis digunakan
Oleh Hendra Poerwanto

Anggaran Biaya Bahan Baku Yang Habis Digunakan merupakan anggaran yang merencanakan
nilai bahan baku yang digunakan dalam satuan uang. Tidak semua bahan baku yang tersedia akan
habis digunakan untuk produksi. Hal ini disebabkan oleh 2 hal, yakni:

1. Perlu adanya persediaan akhir, yang akan menjadi persediaan awal periode berikutnya.
2. Perlu adanya persediaan besi (Safety Stock) agar kelangsungan produksi tidak terganggu
akibat kehabisan bahan baku.

Bahan baku yang telah habis digunakan dalam proses produksi harus dihitung nilainya.
Rencana besarnya nilai bahan maentah yang telah habis digunakan dalam proses produksi
dituangkan dalam suatu budget tersendiri yang disebut Budget Biaya Bahan Baku yang Habis
digunakan.

Manfaat Anggaran Biaya Bahan Baku Yang Habis Digunakan


Manfaat disusunnya Budget Biaya Bahan Baku yang Habis digunakan antara lain:

1. Untuk keperluan Product Costing, yakni perhitungan harga pokok barang yang dihasilkan
perusahaan.
2. Untuk keperluan pengawasan penggunaan bahan baku.

Bentuk Format Anggaran Biaya Bahan Baku Yang Habis Digunakan


Oleh Hendra Poerwanto

Bentuk dasar budget biaya bahan baku yang habis digunakan, dalam budget ini Standard Usage
Rate masih diperhatikan, tetapi tidak dicantumkan lagi karena sudah dicantumkan pada budget
kebutuhan bahan baku. Budget biaya bahan baku yang habis digunakan perlu memperinci hal-hal
sebagai berikut:

1. Jenis bahan dan waktu penggunaan bahan baku..


2. Jumlah masing-masing jenis bahan baku yang habis digunakan untuk produksi.
3. Harga per unit masing-masing jenis bahan baku.
4. Nilai masing-masing bahan baku yang habis digunakan untuk produksi.
5. Jenis barang yang dihasilkan dan menggunakan bahan baku.

Berikut ini satu contoh bentuk format Anggaran Biaya Bahan Baku Yang Habis Digunakan:

Contoh Anggaran Biaya Bahan Baku Yang Habis Digunakan


Oleh Hendra Poerwanto

Masih menggunakan kasus yang sama dengan kasus yang digunakan dalam contoh Anggaran
Kebutuhan Bahan Baku, selanjutnya diminta untuk membuat Anggaran Biaya Bahan Baku Yang
Habis Digunakan.

Berdasarkan data-data yang ada pada contoh soal Anggaran Kebutuhan Bahan Baku, maka dapat
disusun Anggaran Biaya Bahan Baku Yang Habis Digunakan sebagai berikut:
Sebagaimana pada keterangan, untuk data pada kolom Kebutuhan Bahan diperoleh dari Anggaran
Kebutuhan Bahan Baku yang telah dibuat sebelumnya.

Pengertian Anggaran Tenaga Kerja Langsung


Oleh Hendra Poerwanto

Pada setiap perushaan tentu saja ada biaya yang dikeluarkan untuk keperluan tenaga kerja.
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang utama dan yang selalu ada dalam
perusahaan, meskipun pada perusahaan tersebut sudah digunakan mesin-mesin. Mesin yang
bekerja dalam perusahaan tentu saja perlu ditangani oleh tenaga manusia, meskipun mesin-mesin
jaman sekarang sudah banyak yang bersifat otomatis.

Anggaran tenaga kerja seperti halnya anggaran bahan mentah, hanya merencanakan unsur
tenaga kerja langsung. Dan seperti halnya anggaran bahan mentah, anggaran tenaga kerja selalu
dikaitkan dengan anggaran produksi yang telah disusun sebelumnya. Berikut skema yang
menunjukkan posisi anggaran tenaga kerja langsung terhadap anggaran produksi

Penyusunan anggaran tenaga kerja langsung adalah bagian dari perencanaan tenaga kerja.
Sebagaimana diketahui bersama, perencanaan tenaga kerja meliputi aspek yang luas sekali,
sehingga perlu diperhitungkan secara matang oleh pemimpin perusahaan. Hal-hal yang perlu
dipertimbangkan dalam perencanaan tenaga kerja antara lain adalah:

1. Kebutuhan tenaga kerja


2. Pencarian atau penarikan tenaga kerja
3. Latihan bagi tenaga kerja baru
4. Evaluasi dan spesifikasi pekerjaan bagi tenaga kerja
5. Gaji dan upah yang harus diterima oleh tenaga kerja
6. Pengawasan tenaga kerja
Berbagai cara dilakukan oleh perusahaan untuk mencari dan mendapatkan tenaga kerja yang
baik dan terampil, yang cocok untuk bidang pekerjaannya. Tenaga kerja yang tidak memiliki
keterampilan khusus umumnya mudah dicari di Indonesia ini. tetapi unutk mencari tenaga kerja yang
baik di salah satu bidang khusus, seperti tenaga teknis dan manajerial harus diperoleh secara khusus
pula. Untuk mereka, perusahaan tidak segan-segan menyediaka perangsang berupa gaji yang besar
dan fasilitas yang lengkap. Beberapa perusahaan besar bahkan mendapatkannya dengan melalui
kaderisasi, umpamanya dengan penawaran beasiswa yangh mengikat. Karena itu biaya tenaga kerja,
sebetulnya tidak hanya timbul pada saat tenaga kerja iti digunaka, akan tetapi ada sebelum tenaga
kerja itu siap.

Seleksi tenaga kerja dilakukan denga berbagai cara. Selain diadakan uji tertulis dan lisan, juga
diadakan psychotest, untuk mengetahui secara pasti siapa yang paling cocok untuk bidabg pekerjaan
yang tersedia. Tujuan seleksi tenaga kerja khususnya adalah untuk mencari orang-orang yang cocok
dan mempunyai potensi untuk berkembang. Tenaga kerja yang sudah berpengalaman selain mahal
“harga”-nya juga ada kemungkina bahwa pengalaman yang dimiliki justru tidak sesuai dengan
kebutuhan yang ada. Pelatihan atau training biasanya diberikan pada tenaga kerja baru. Pelatihan ini
dapat diverikan oleh internal perusahaan atau bisa juga oleh lembaga khusus yang memberikan
secara bersama-samadengan para tenaga kerja baru di perusahaan lain. Pelatihan bisa dilakukan di
lingkunga kantor/perusahaan, atau di luar perusahaan. Sesudah selesai masa latihan, maka tenaga
kerja siap untuk ditempatkan. Potensi masing-masing tenaga kerja dan jabatan yang tersedia
bermacam-macam sehingga perlu adanya evaluasi dan spesifikasi pekerjaan bagi mereka. Semua
aspek di atas tidak hanya berlaku pada satu tingkatan saja, tetapi pada semua tingkatan jabatan
dalam perusahaan. Sehingga jelaslah bahwa biaya tenaga kerja merupakan komponen yang cukup
besar bagi harga produk barang yang dihasilkan.

Fungsi Perencanaan Dan Pengendalian Anggaran Tenaga Kerja Langsung


Oleh Hendra Poerwanto

Penyusunan anggaran kerja langsung yang baik, dapat memberikan keuntungan bagi
perusahaan, yaitu sebagai berikut:
1. Penggunaan tenaga kerja lebih efisien.
2. Biaya tenaga kerja dapat direncanakan dan diatur lebih efisien.
3. Penghitungan harga pokok barang dapat dihitung secara tepat.
4. Alat pengendalian tenaga kerja langsung

Laporan pelaksanaan tenaga kerja langsung merupakan kelanjutan pelaksanaan untuk bahan
mentah.

Contoh :

Data anggaran sebagai berikut :


Produksi bulan Februari = 16.000 unit, dengan standar pemakaian tenaga kerja langsung = 2,5 jam
per unit barang, tariff upah = Rp 100,00/jam.

Data realisasi sebagai berikut :


Produksi bulan Februari = 15.000 unit yang menghabiskan 37.000 jam tenaga kerja langsung dan
upah yang dibayarkan Rp 4.070.000,00.

Berdasarkan data tersebut dapat disusun tabel berikut:

Rencana * Disesuaikan Realisasi* Penyimpangan %


Produksi 16.000 15.000 15.000
Standar 2,5 DLH 2,5 DLH 2,467 DLH 0,033 DLH 1%
Pemakaian TK
Jumlah DLH 40.000 DLH 37.500 DLH 37.000 DLH +500 DLH 2%
Upah / DLH Rp.100,00 Rp100,00 Rp110,00 (Rp 10,00) 10%
Jumlah Upah Rp Rp Rp4.070.000,00 (Rp320.000,00) 8%
4000.000,00 3.750.000,00
*) Data soal

Laporan pelaksanaan dan analisa variansi untuk data di atas adalah sebagai berikut:
Analisa variansi:

Penyimpangan efisiensi = (JTKL standar – JTKL actual) x tarif standar


= (37.500 – 37.000) x Rp 100,00 = Rp 50.000,00

Penyimpangan upah = (tarif standar – tarif aktual) x JTKL aktual


= Rp 100,00 – Rp 110,00) x 37.000
= (Rp 370.000,00)

Total variansi = Rp 50.000,00 +(Rp 370.000,00)


= (Rp 320.000)

Jenis-Jenis Tenaga Kerja


Oleh Hendra Poerwanto

Untuk kepentingan penyusuna anggaran dan perhitunga harga produk, maka biasanya tenaga
kerja dibedakan menjadi:

1. Tenaga kerja langsung


Tenaga kerja langsung pengertiannya terbatas pada tenaga kerja di pabrik yang secara langsung
terlibat pada proses produksi dan biayanya dikaitkan pada biaya produksi atau pada barang yang
dihasilkan. Sedangkan tenaga kerja tidak langsung pengertiannya terbatas pada tenaga kerja di
pabrik yang tidak terlibat secara langsung pada proses produksi dan biayanya dikaitkan pada biaya
overhead pabrik. Tenaga kerja langsung memiliki sifat :

 Besar kecilnya biaya untuk tenaga kerja jenis ini berhubungan secara langsung
dengan tingkat kegiatan produksi.
 Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja jenis ini merupakan biaya variabel.
 Umumnya dikatakan bahwa tenaga kerja jenis ini merupakan tenaga kerja yang
kegiatannya langsung dapat dihubungkan dengan produk akhir (terutama dalam
penentuan harga pokok).

Yang dikategorikan sebagai tenaga kerja langsung antara lain adalah para buruh pabrik yang ikut
serta dalam kegiatan proses produksi darii bahan mentah sampai berbentuk barang jadi.

2. Tenaga kerja tidak langsung


Sedangkan tenaga kerja tidak langsung mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

 Besar kecilnya biaya untuk tenaga kerja jenis ini tidak berhubungkan secara langsung
dengan tingkat kegiatan produksi.
 Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja jenis ini merupakan biaya yang semi variabel.
Artinya biaya-biaya yang mengalami perubahan tapi tidak secara sebanding dengan
perubahan tingkat kegiatan produksi.
 Tempat bekerja dari tenaga kerja jenis ini tidak harus selalu dalam pabrik, tetapi dapat di
luar pabrik.

Apabila tenaga kerja jenis ini bekerja dalam lingkungan pabrik maka biaya yang dikeluarkan untuk
mereka dikelompokkan dalam penganggaran biaya pabrik (manufacturing expense budget).

Sistem Upah Dan Perencanaan Tingkat Upah


Oleh Hendra Poerwanto

Ada tiga sistem pembayaran upah, yaitu:


1. Sistem upah menurut waktu,
yang menentukan bahwa besar kecilnya upah yang akan dibayarkan kepada masing-masing tenaga
kerja, tergantung pad banyak sedikitnya waktu kerja mereka.
Keuntungan sistem upah menurut waktu yaitu:

 Para tenaga kerja tidak perlu terburu-buru di dalam menjalan kan pekerjaan, karena
banyak-sedikitnya unit yang mampu mereka selesaikan tidak terpengaruh pada besar-
kecilnya upah yang mereka terima. Dengan demikian kualitas barang yang diproduksi
akan dapat terjaga.
 Bagi para tenaga kerja yang kurang terampil, sistem upah ini dapat member ketengan
dalam bekerja, karena walaupun mereka kurang bisa menyelesaikan unit yang banyak,
mereka akan tetap memperoleh upah yang sama dengan yang diterima oleh tenaga
kerja lain.

Kerugian sistem upah menurut waktu yaitu:

 Para tenaga kerja yang terampil akan mengalami kekecewaan, karena kelebihan
mereka tidak dapat dimanfaatkan untuk memperoleh upah yang lebih besar
dibandingkan para tenag kerja yang kurang terampil, sehingga tenaga kerja yang
terampil kurang bersemangat dalam bekerja.
 Adanya kecenderungan para pekerja untuk bekerja lamban, karena besar-kecilnya unit
yang dihasilkan tidak berpengaruh pada besar-kecilnya upah yang mereka terima.

2. Sistem upah menurut unit hasil,


yang menentukan besar-kecilnya upah yang diterima tenaga kerja , tergantung pada banyaknya unit
yang dihasilkan. Semakin banyak unit yang dihasilkan , semakin banyak upah yang diterima.
Keuntungan sistem upah menurut unit hasil yaitu:

 Para tenaga kerja yang terampil akan mempunyai semangat kerja yang tinggi, dan
akan menunjukkan kelebihan keterampilannya, karena besar-kecilnya unit yang
dihasilkan akan menetukan besar-kecilnya upah yang akan mereka terima. Akibatnya
produktivitas perusahaan meningkat.
 Adanya kecenderungan pekerja untuk bekerja labih semangat, agar memperoleh upah
yang lebih besar.

Kerugian sistem upah menurut unit hasil yaitu:

 Para pekerja akan bekerja terburu-buru, sehingga kualitas barang kurang terjaga.
 Para pekerja yang kurang terampil akan selalu memperoleh upah yang rendah,
akibatnya mereka kurang mempunyai semangat kerja.
3. Sistem upah dengan insentif,
yang menentukan besar-kecilnya upah yang akan dibayarkan kepada masing-masing tenaga kerja
tergantung pada waktu lamanya bekerja, jumlah unit yang dihasilkan ditambah dengan insentif
(tambahan upah) yang besar-kecilnya didasarkan pada prestasi dan keterampilan kerja pegawai.
Sistem upah dengan insentif sering dianggap sebagai gabungan antara sistem upah menurut waktu
dengan sistem upah menurut unit hasil. Sistem ini diharapkan akan memperoleh keuntungan dari
kedua sistem tersebut. Namun sistem ini juga memilki kerugian, yaitu sistem ini memerlukan sistem
administrasi yang rumit, sehingga memerlukan tambahan pegawai di bagian administrasi.

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menentukan tarif upah, yaitu dengan:

 Rata-rata tingkat upah. Penentuan tarif upah dalam suatu departemen atau pusat biaya dapat
dilakukan dengan membuat estimasi jumlah pekerja dan tingkat upah, kemudian di hitung
rata-rata upah.
 Rasio historis. Rasio historis antara jumlah upah yang dibayar dengan jumlah jam kerja
langsung dalam suatu departemen dapat berubah bila kondisi berubah.
 Standar akuntansi. Penetapan tarif upah dapat sama dengan standar akuntansi biaya. Hal ini
hanya dapat diterapkan jika perusahaan telah memakai sistem akuntansi biaya standar untuk
upah, sehingga tidak perlu dibedakan antara standar dengan yang dianggarkan

Penentuan Standar Jam Tenaga Kerja Langsung


Oleh Hendra Poerwanto

Kondisi internal akan menentukan apakah perencanaan jam kerja langsung layak dikaitkan
dengan rencana produksi. Begitu pula dengan pendekatan yang akan digunakan dalam perencanaan
jumlah jam kerja langsung. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam menentukan jam
kerja standar adalah :

1. Studi gerak dan waktu. Studi ini biasa dilakukan oleh bagian teknik dengan membuat analisis
pekerjaan apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu produk. Kemudian dengan
observasi (biasanya dengan alat bantu stopwatch) yang dilakuakan berulang-ulang akan
dapat ditentukan standar waktu setiap jenis pekerjaan.
2. Biaya standar. Jika sistem biaya standar telah diterapkan di dalam perusahaan, biasanya
telah dihitung pula jumlah kebutuhan jam kerja langsung untuk setiap unit produk. Dengan
demikian, standar jam kerja langsung tersebut dapat digunakan dalam pembuatan anggaran
jam kerja langsung ( dengan cara mengalikannya dengan rencana produksi).
3. Estimasi langsung oleh supervisor. Cara ini dilakukan dengan menanyakan langsung kepada
setiap supervisor departemen produksi, berapa perkiraan jumlah jam kerja yang dibutuhkan
untuk membuat rencana produksi. Dalam membuat estimasi tersebut, supervisor harus
berdasarkan pada pendapat pribadi, pengalaman masa lalu, bantuan tingkat manajemen
berikutnya, dan bantuan dari staf teknis.
4. Estimsi dengan statistik. Catatan akuntansi biasanya sangat membantu dalam menetukan
jumlah jamkerja langsung. Rasio antara jam kerja langsung dengan jumlah output dihitung
dan kemudian disesuaikan dengan rencana perubahan dalam departemen yang
bersangkutan. Metode ini sangat tergantung pada ketepatan pencatatan dan kesamaan
proses produksi dari periode ke periode. Metode ini mempunyai kelemahan, yaitu bahwa
inefisiensi yang terjadi pada masa lalu akan terbawa ke masa yang akan datang.
Jenis Anggaran Tenaga Kerja Langsung Dan Persiapan Penyusunan Anggaran Tenaga Kerja
Oleh Hendra Poerwanto

Apabila memungkinkan, anggaran tenaga kerja dapat dibuat secara terpisah, yakni anggaran
jam kerja langsung dan anggaran biaya tenaga kerja langasung.

1. Anggaran jam tenaga kerja langsung

Anggaran ini harus mencantumkan data-data sebagai berikut:

a) Jenis barang yang dihasilkan perusahaan


b) Bagian-bagian yang terlibat slam proses produksi
c) Jumlah JTKL yang diperlukan untuk memproduksi tiap jenis barang
d) Waktu produksi barang

2. Anggaran biaya tenaga kerja langsung


Anggaran ini memuat hal-hal sebagai berikut:

a) Jumlah barang yang diproduksi


b) JTKL yang diperlukan untuk mengerjakan 1 unit barang
c) Tingkat upah rata-rata per JTKL
d) Jenis barang yang dihasilkan perusahaan
e) Waktu produksi barang

Sebelum menyususn anggraan tenaga kerja perlu ditentukan lebih dahulu satuan utama yang
digunaka untuk menghitungnya. Yang paling sering digunakan adalah perhitunga atas dasar jam
brurh langsung dan biaya buruh langusng. Dalam penyusunan anggraan ini terlebih dahulu membuat
Manning Table.
Manning Table merupakan daftar kebutuhan tenaga kerja yang menjelaskan:

• Jenis atau kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan


• Jumlah masing-masing tenaga kerja tersebut pada berbagai tingkat kegiatan
• Bagian-bagian yang membutuhkannya

Bentuk Format Anggaran Tenaga Kerja Langsung


Oleh Hendra Poerwanto

Berikut ini disajikan pedoman langkah-langkah umum penyusunan anggaran tenaga kerja.
Langkah-langkah ini hanya pedoman umum dan bukan suatu pedoman standard karena
bagaimanapun penyusunan anggaran tenaga kerja harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi
yang ada pada perusahaan. Selengkapnya langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menentukan satuan dasar yang digunakan untuk menyusuna anggaran tenaga kerja
langsung. Pada umumnya menggunakan Jam buruh langsung (DLH) atau Biaya buruh
langsung (DLC)
2. Menyusun manning table yang merupakan daftar kebutuhan tenaga kerja menyangkut jenis
dan kualifikasi, jumlah masing-masing kualifikasi dan bagian-bagian yang membutuhkan
3. Menentukan waktu standar
4. Menentukan standar upah
5. Menyajikan dalam bentuk tabel
Bentuk Format Penyajian Anggaran Tenaga Kerja Langsung
Anggaran Tenaga Kerja LAngsung setidaknya memuat informasi

 Waktu produksi
 Jenis barang yang dihasilkan
 Jumlah barang yang diproduksi
 Standar waktu
 Jumlah waktu
 Standar upah
 Jumlah Upah
 Bagian-bagian yang membutuhkan tenaga kerja
 Jumlah total

Bentuk Format Penyajian juga dapat dilakukan dengan membagi menjadi dua sub yakni:
1. Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung Yang memuat sebagaimana pada poin 5

Contoh Format Penyajian Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung

2. Anggaran jam buruh langsung yang diperinci dengan memuat hal-hal sbb:

 Jenis barang yang dihasilkan


 Bagian-bagian yang ada dalam proses produksi
 Jumlah DLH yang diperlukan setiap jenis barang
 Waktu produksi barang

Contoh Format Penyajian Anggaran Jam Tenaga Kerja Langsung


Contoh Anggaran Tenaga Kerja Langsung<
Oleh Hendra Poerwanto

Untuk mengilustrasikan bagaimana menyusun Anggaran tenaga Kerja Langsung, berikut


diberikan satu contoh kasus. Dimisalkan PT.GM memproduksi dua jenis produk yakni A dan B.
Produk A diproduksi melalui tiga bagian yakni bagian 1, bagian 2 dan bagian 3, sedangkan produk B
diproses hanya melalui bagian 1 dan bagian 3 saja. Berikut Data dan informasi lain:

 Rencana Produksi yang dicuplik dari Anggaran Produksi

 Standar Jam Tenaga Kerja Langsung/ Direct Labor Hours (JTKL/DLH)

 Standar Upah per DLH


Berdasarkan data dan informasi PT GM di atas, diminta:

1. membuat Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung


2. membuat Anggaran Jam Tenaga Kerja Langsung

JAWAB:

1. Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung

Pertama menyiapkan format Tabel Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung yang sesuai dengan
kebutuhan. Selanjutnya mengisi setiap kolom.

 Kolom a dan f diisi dengan menggunakan data Rencana Produksi yang dicuplik dari
Anggaran Produksi
 Kolom b dan g diisi dengan data Standar DLH per unit produk
 Kolom d dan i diisi dengan menggunakan data Standar Upah per DLH
 Kolom-kolom lain diisi dengan perhitungan yang sesuai.

Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung selengkapnya adalah sebagai berikut:


2. Anggaran Jam Tenaga Kerja Langsung

Langkah pertama membuat format tabel Anggaran Jam Tenaga Kerja Langsung yang sesuai dengan
kebutuhan. Selanjutnya mengisi kolom-kolom:

 Kolom Produk A Bagian I diisi dengan jumlah DLH yang diperlukan untuk membuat produk A
di Bagian I. Data Jumlah DLH yang diperlukan untuk memproses produk A di Bagian Idicuplik
dari Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung yang sudah dibuat untuk menjawab no.1
 Kolom Produk B Bagian I diisi dengan cara yang sama dengan mengisi Kolom Produk A
Bagian I. Data Jumlah DLH yang diperlukan untuk memproses produk B di Bagian I dicuplik
dari Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung sebagaimana pada jawaban no.1

Anggaran Jam Tenaga Kerja Langsung selengkapnya sbb:

***

***
#

***

***