Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

DENGAN HIPERBILIRUBIN

Disusun oleh:
KELOMPOK 2

1. Ahmed Alfian R (14.401.16.002)


2. Ardita Cahyani (14.401.16.012)
3. Dony Prasetyo (14.401.16.016)
4. Elika Sri Wulan (14.401.16.019)
5. Gilda Fathia A (14.401.16.033)

AKADEMI KESEHATAN RUSTIDA


PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN
KRIKILAN-GLENMORE-BANYUWANGI
2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Konsep Asuhan
Keperawatan Anak dengan Hiperbilirubin.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang Konsep Asuhan Keperawatan
Anak dengan Hiperbilirubin ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Banyuwangi, 5 November 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i

DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...................................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 2
C. Tujuan .................................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KONSEP PENYAKIT
A. Defenisi ............................................................................................................ 3
B. Etiologi ............................................................................................................. 4
C. Patofisiologi ..................................................................................................... 4
D. Manifestasi Klinis............................................................................................ 5
E. Penatalaksanaan ............................................................................................ 8
F. Pemeriksaan Penunjang ................................................................................. 8
G. Komplikas ........................................................................................................ 11
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian ....................................................................................................... 12
B. Diagnosa ........................................................................................................... 15
C. Intervensi ......................................................................................................... 17
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................................ 19
B. Saran ...................................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu keadaan yang menyerupai penyakit hati yang terdapat pada bayi baru
lahir adalah terjadinya hiperbillirubinemia yang merupakan salah satu kegawatan pada
bayi baru lahir karena dapat menjadi penyebab gangguan tumbuh kembang bayi.
Kelainan ini tidak termasuk kelompok penyakit saluran pencernaan makanan, namun
karena kasusnya banyak dijumpai maka harus dikemukakan. Kasus ikterus ditemukan
pada ruang neonatus sekitar 60% bayi aterm dan pada 80 % bayi prematur selama
minggu pertama kehidupan. Ikterus tersebut timbul akibat penimbunan pigmen bilirubin
tak terkonjugasi dalam kulit. Bilirubin tak terkonjugasi tersebut bersifat neurotoksik bagi
bayi pada tingkat tertentu dan pada berbagai keadaan. Ikterus pada bayi baru lahir dapat
merupakan suatu gejala fisiologis atau patologis. Ikterus fisiologis terdapat pada 25-50%
neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada neonatus kurang bulan sebesar 80%.
Ikterus tersebut timbul pada hari kedua atau ketiga, tidak punya dasar patologis, kadarnya
tidak membahayakan, dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Ikterus
patologis adalah ikterus yang punya dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai
suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Dasar patologis yang dimaksud yaitu jenis
bilirubin, saat timbul dan hilangnya ikterus, serta penyebabnya
Neonatus yang mengalami ikterus dapat mengalami komplikasi akibat gejala sisa
yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh sebab itu perlu
kiranya penanganan yang intensif untuk mencegah hal-hal yang berbahaya bagi
kehidupannya dikemudian hari. Perawat sebagai pemberi perawatan sekaligus pendidik
harus dapat memberikan pelayanan yang terbaik dengan berdasar pada ilmu pengetahuan
yang dimilikinya.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana konsep penyakit dan konsep asuhan keperawatan pada anak dengan
hiperbilirubin

1
C. Tujuan
Setelah membaca makalah ini, diharapkan pembaca khususnya mahasiswa keperawatan
dapat memahami :
1. Apa yang dimaksud dengan hiperbilirubin
2. Apa saja penyebab hiperbilirubin pada anak
3. Bagaimana patofisiologi hiperbilirubin dapat terjadi
4. Apa saja manifestasi klinis yang muncul
5. Bagaimana penatalaksanaan yang harus dilakukan
6. Pemeriksaan penunjang apa saja yang perlu dilakukan
7. Komplikasi apa yang muncul pada anak dengan hiperbilirubin
8. Apa saja yang perlu dilakukan pengkajian pada anak dengan hiperbilirubin
9. Diagnosa keperawatan apa saja yang muncul
10. Intervensi apa saja yang perlu dibuat pada kasus anak dengan hiperbilirubin

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
KONSEP PENYAKIT
A. Defenisi
Hiperbilirubinemia merupakan suatu keadaan pada bayi baru lahir dimana kadar
bilirubin serum total lebih dari 10 mg/dl pada minggu pertama dengan ditandai dengan
ikterus, keadaan ini sering terjadi pada bayi baru lahir yang sering disebut dengan ikterus
neonatorum yang bersifat patologis atau lebih dikenal dengan hiperbilirubinemia yang
merupakan suatu keadaan meningkatnya bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler
sehingga konjungtiva, kulit dan mukosa akan berwarna kuning (H, 2009).
Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar
nilainya lebih dari normal (Rita, 2012).
Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva dan selaput akibat
penumpukan bilirubin. Sedangkan hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan konsentrasi
bilirubin serum yang menjurus ke arah terjadinya kernikterus atau ensefalopati bilirubin
bila kadar bilirubin yang tidak dikendalikan (Dewi, 2010).
Ikterus adalah warna kekuningan pada kulit yang timbul pada hari ke 2-3 setelah
lahir, yang tidak mempunyai dasar patologis dan akan menghilang dengan sendirinya
pada hari ke 10 (Tando, 2016).
Ikterus Neonaturum merupakan salah satu keadaan yang menyerupai penyakit
hati yang terdapat pada bayi baru lahir adalah terjadinya hiperbilirubinemia, yang
merupakan salah satu kegawatan pada bayi bayi baru lahir karena dapat menjadi
penyebab gangguan tumbuh kembang bayi (Ngastiyah, 2014)
Ikterus fisiologis. Warna kuning akan timbul pada hari ke-2 atau ke-3, dan
tampak jelas ada hari ke-5 dan ke-6, dan menghilang ada hari ke-10. Bayi tampak biasa,
minum baik, berat badan naik biasa. Kadar bilirubun serum ada bayi cukup bulan tidak
lebih dari 12 mg/dl dan ada BBLR 10 mg/dl, dan akan hilang ada hari ke-14. Penyebab
ikterus fisiologis diantaranya karena kurang protein Y dan Z, enzim glukoronil
transferase yang belum cukup jumlahnya (Ngastiyah, 2014).
Ikterus patologis. Ikterus ini timbul dalam 24 jam selama kehidupan, serum
bilirubin total lebih dari 12 mg/dl. Peningkatan kadar bilirubin 5 mg% atau lebih dalam

3
24 jam. Konsentrasi bilirubin serum melebihi 10 mg% ada bayi kurang bulan (BBLR)
dan 12,5 mg% ada bayi cukup bulan (Ngastiyah, 2014).
Jadi kesimpulannya hiperbilirubin merupakan suatu keadaan dimana bilirubin
serum dalam darah melebihi batas normal (>10 mg/dl) yang ditandai dengan ikterus atau
warna kuning pada kulit. Ikterus tanpa disertai kondisi hiperbilirubin merupakan suatu
kondisi fisiologis yang dapat hilang sendiri sedangkan ikterus yang disertai dengan
hiperbilirubin merupakan suatu kondisi patologis khususnya pada bayi.
B. Stadium Kern Ikterus
1. Stadium 1 : Lethargis, tonus menurun, muntah, dan nafsu makan menurun
2. Stadium 2 : Demam, kejang, opistotonus, rigiditas, dan paralisis
3. Stadium 3 : spastisitas kira – kira umur 1 minggu
4. Stadium 4 : spastisitas, atheotosis, ketulian, dan retradasi mental
(Kristiyana, 2009)

C. Etiologi
1. Peningkatan bilirubin dapat terjadi karena policetlietnia, isoimmun hemolytic disease,
kelainan struktur dan enzyme sel darah merah, keracunan obat (hemolisis kimia;
salisilat, kortikosteroid, klorampenikol) hemolisis ekstravaskuler, cephalhematoma
dan ecchymosis
2. Gangguan fungsi hati; defisiensi glukoronil tranferase, obstruksi empedu/atresia
biliari, infeksi, masalah inetabolik;galaktosemia hipothyroidisme, jaundice ASI
(Rita, 2012)
Menurut Kristiyana (2009), penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat disebabkan
oleh beberapa factor. Secara garis besar dapat dibagi :
1. Produksi bilirubin yang melebihi
2. Gangguan dalam proses uptake dan konjugasi hepar
3. Gangguan transportasi dalam metabolism
4. Gangguan dalam eksresi

4
D. Patofisiologi
1. Pigmen kulit ditemukan adanya empedu yang terbentuk dari pemecahan hemoglobin
oleh kerja heme oksinogen, biliverdin reduktase dan agen pereduksi nonenzimatik
dalam system retikuloendotelial
2. Setelah pemecahan hemoglobin, bilirubin tak terkonjugasi diambil oleh protein
intraseluler “Y Protein” dalam hati. Pengambilan tergantung pada aliran darah hepatic
dan adanya ikatan protein
3. Bilirubin yang tak terkonjugasi dalam hati di ubah atau terkonjugasi oleh enzim asam
uridin diphosphoglucuronic acid (UPGA) glukuronil transferase menjadi bilirubin
mono dan diglucuronida yang polar, larut dalam air (Bereaksi direk)
4. Bilirubin yang terkonjugasi yang larut dalam air dapat dieliminasi melalui ginjal
dengan konjugasi, bilirubin masuk dalam empedu melalui membrane kanalikular.
Kemudian ke system gastrointestinal dengan diaktifkan oleh bakteri menjadi
urobilinogen dalam tinja dan urine. Beberapa bilirubin diabsorbsi kembali melalui
sirkulasi enterohepatik
5. Warna kuning dalam kulit akibat dari akumulasi pigmen bilirubin yang lerut dalam
lemak, tak terkonjugasi, non polar (bereaksi indirek)
6. Pada bayi dengan hiperbilirubin kemungkinan merupakan hasil dari didisiensi atau
tidak aktifnya glukuronil transferase. Rendahnya pengambilan dalam hepatic
kemungkinan karena penurunan protein hepatic sejalan dengan penurunan aliran
darah hepatic
7. Jaundice yang terkait dengan pemberian asi merupakan hasil dari hambatan kerja
glukoronil transferase oleh pregnanediol atau asam lemak bebas yang terdapat dalam
asi. Terjadi 4 sampai 7 hari setalah lahir. Dimana terdapat kenaikan bilirubin tak
terkonjugasi dengan kadar 25 sampai 30 mg/dl selama minggu ke 2 sampai 3.
Biasanya dapat mencapai usia 4 minggu dan menurun 10 minggu. Jika pemberian asi
dilanjutkan, hiperbilirubin akan menurun berangsur – angsur dapat menetap selama 3
sampai 10 minggu pada kadar yang lebih rendah. Jika pemberian asi dihentikan,
kadar bilirubin serum akan turun dengan cepat, biasanya mencapai normal dalam
beberapa hari. Penghentian asi dengan formula mengakibatkan penurunan bilirubin

5
serum sangat cepat, sesudahnya pemberian asi dapat dimulai lagi dan hiperbilirubin
tidak kembali ke kadar yang tinggi seperti sebelumnya
8. Bilirubin yang patologis tampak ada kenaikan bilirubin dalam 24 jam pertama
kelahiran. Sedangkan untuk bayi dengan ikterus fisiologis muncul antara 3 sampai 5
hari sesudah lahir.
(Rita, 2012)

6
Pathway (Rita, 2012)
Hemoglobin

Hemo Globin

Feco Biliverdin

Peningkatan destruksi eritrosit (ggn Pemecahan


konjungsi bilirubin/ggn transport bilirubin berlebih
bilirubin /peningkatan siklus
eteropetik) Hb dan eritrosit
abnormal
Suplai bilirubin
melebihi tampungan
hepar

Ikterik neonatus Peningkatan bilirubin Hepar tidak mampu


unjongned dalam melakukan konjugasi
darah  pengeluaran
meconium
Ikterus pd sclera leher
terlambat/obstruksi
dan badan, peningkatan Sebagian masuk
usus  tinja
bilirubin indirect > 12 kembali ke siklus
berwarna pucat
mg/dl emerohepatik

Kerusakan Indikasi
intregitas kulit fototerapi

Gangguan suhu Sinar dg


Resiko cidera
tubuh intregritas tinggi

Ketidakefektifan Kurangnya volume


termoregulasi cairan tubuh

7
E. Manifestasi Klinis
1. Tampak ikterus; sclera, kuku atau kulit dan membrane mukosa. Jaundice yang
tampak dalam 24 jam pertama disebabkan oleh penyakit hemolitik pada bayi baru
lahir, sepsis atau ibu dengan diabetic atau infeksi. Jaundice yang tampak pada hari
kedua atau ketiga dan mencapai puncak pada hari ke empat dan menurun pada hari ke
lima sampai hari ke 7 yang biasanya merupakan jaundice fisiologis
2. Ikterus adalah akibat pengendapan bilirubin indirek pada kulit yang cenderung
tampak kuning terang atau orange, ikterus pada tipe obatruksi (bilirubin direk) kulut
tampak kuning kehijauan atau keruh. Perbedaan ini hanya dapat dilihat pada ikterus
berat
3. Muntah; anorexia, fatigue, warna urine gelap dan warna tinja pucat
(Rita, 2012)
F. Penatalaksanaan
1. Fisioterapi
Dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbilirubin patologis dan berfungsi untuk
menurunkan bilirubin dalam kulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto pada
bilirubin dan biliverdin. Wakaupun cahaya biru memberikan panjang gelombang
yang tepat untuk fotoaktivasi bilirubin bebas, cahaya hijau dapat mempengaruhi
lotoreaksi bilirubin yang terikat albumin. Cahaya menyebabkan reaksi lokokimia
dalam kulit ( fotoisomerisasi ) yang mengubah bilirubin tak terkonjugasi ke dalam
fotobilirubin, yang mana diekskresikan dalam hati kemudian ke empedu. Kemudian
produk akhir reaksi adalah reversible dan diekskresikan ke dalam empedu tanpa
konjugasi.
2. Fenobarbital
Dapat mengekskresi bilirubin dalam hati dan memperbesar konjugasi. Menngkatkan
sintesis hepatic glukoronil transferase yang mana dapat meningkatkan bilirubin
konjugasi dan clearance hepatic pada pigmen dalam empedu, sintesis protein dimana
dapat meningkatkan albumin untuk mengikat bilirubin. Fenobarbital tidak begitu
sering dianjurkan
3. Antibiotic
Apabila terkait dengan infeksi

8
4. Tranfusi tukar
Apabila sudah tidak dapat ditangani dengan fisioterapi
(Rita, 2012)
Menurut Ngastiyah (2014), penatalaksanaan keperawatan pada bayi dengan
hiperbilirubin antara lain :
1. Terapi sinar
Terapi sinar diberikan jika kadar bilirubin dari suatu senyawa tetrapirol yang sulit
larut dalam air menjadi senyawa dipirol yang mudah larut dalam air, dan dikeluarkan
melalui urin, tinja, sehingga kadar bilirubin menurun.
a. Cara kerja terapi sinar
Terapi sinar dapat menimbulkan dekomposisi bilirubin dari suatu senyawaan
tetrapirol yang sulit larut dalam air menjadi senyawa dipirol yang mudah larut
dalam dan cairan empedu duodenum dan menyebabkan bertambahnya
pengeluaran cairan empedu ke dalam usus sehingga peristaltik usus meningkat
dan bilirubin akan keluar bersama feses.
b. Alat untuk terapi sinar.
 Sebuah kontak untuk 8-10 lampu neon @20 Watt yang disusun secara paralel.
 Pleksiglas 0,5 inci yang melapisi bagian bawah kotak tersebut yang berfungsi
memblok sinar ultraviolet.
(Ngastiyah, 2014)
2. Transfusi tukar
Transfusi tukar dilakukan pada keadaan hiperbilirubinemia yang tidak dapat diatasi
dengan tindakan lain, misalnya telah diberikan terapi sinar tetapi kadar bilirubin tetap
tinggi. Sebelum transfusi tukar dilaksanakan, periksa dahulu:
 Kadar bilirubin indirek dan albumin dalam serum, diperlukan darah 3 ml
 Darah tepi lengkap.
 Golongan darah, ABO, Rhesus dan golongan darah lainnya (1 ml darah).
 Kada G-6-PD dan enzim lainnya dielukan 3 ml daah dalam sia/ heain dan 2 ml
daah biasa.
 Uji Coomb (diek dan indiek) bersama titernya diperlukan darah 3 ml.
 Biakan darah.

9
 Ibu: Golongan darah (ABO, Rh, dan golongan darah lainnya), tes Coomb indirek
bersama titernya, kadar Hb dan lainnya jika diperlukan.
 Ayah: Golongan daah (ABO, Rh dan golongan darah lainnya), sebelum transfusi
dibicarakan dahulu dengan orang tua.
Pengambilan contoh darah bayi, ada formulir ditulis permintaan darah untuk transfusi
tukar. Alat yang disiapkan untuk pengambilan darah:
1. Spuit 20 ml dengan 3 cabang atau 2 stopcock.
2. Spuit 5 ml, 10 ml 2 buah atau 20 ml.
3. Glukonas calcicus 10% dan heparin encer (2 ml heparin 1000 U dalam 250 ml
NaCl)
4. Kateter polietilen kecil panjang 15 cm.
5. Dua buah bengkok, 1 botol kosong (bekas botol infus) untuk menampung darah
yang dibuang.
6. Alat-alat vena seksi.
7. Dua set infus.
8. Lampu duduk 200-250 Watt, tabung oksigen, alat-alat resusitasi (pertama berapa
ml, kedua, ketiga, dst).
9. Kertas dan pulpen unuk mencatat pemberian darah (pertama berapa ml, kedua,
ketiga, dst).
10. Bangku duduk untuk pelaksana tindakan.
Transfusi tukar dilakukan oleh dokter di dalam kamar yang aseptik. Perawat
membantu dokter selama pelaksanaan tindakan dan mengawasi keadaan umum bayi
dan mencatat respons pasien.
Perawatan setelah transfusi saraf :
1. Vena umbulikus (vena lain yang diakai memasukkan kaee jika idak daa ada vena
umbilicus, yaitu vena safena, cabang vena femoralis.
2. Bayi dibeikan antibiotik.
3. Kadar Hb dan bilirubin serum diperiksa tiap 12 jam.
4. Bila perlu transfusi luka diulang sesuai kebuuhan.
5. Bila bayi diberi terapi sinar lagi, yang perlu dipantau ialah anda vital setiap jam.

10
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan bilirubin serum
Pada bayi cukup bulan bilirubin mencapai puncak kira – kira 6 mg/dl, antara 2 dan 4
hari kehidupan. Apabila nilainya diatas 10 mg/dl, tidak fisiologis. Pada bayi dengan
premature kadar bilirubin mencapai puncaknya 10 – 12 mg/dl, antara 5 – 7 hari
kehidupan. Kadar bilirubin yang lebih dari 14 mg/dl adalah keadaaan patologis.
2. Ultrasound
Untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu
3. Radiostope scan
Dapat digunakan untuk membantu membedakan hepatitis dan atresia biliary
(Rita, 2012)
H. Komplikasi
1. Bilirubin encephalopathy (komplikasi serius)
2. Kernikterus; kerusakan neurologis; cerebal palsy; retardasi mental; hyperaktif; bicara
lambat, tidak ada koordinasi otot, dan tangisan yang melengking.
(Rita, 2012)

11
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas
Sering ditemukan pada sekitar 60% bayi baru lahir yang sehat dengan usia gestasi<
35 minggu. Dapat terjadi pada bayi perempuan maupun laki-laki.
2. Anamnese Orang Tua/Keluarga
Ibu dengan rhesus (-) atau golongan darah O dan anak yang mengalami neonatal
ikterus yang dini, kemungkinan adanya erytrolastosisfetalis (Rh, ABO,
incompatibilitas lain golongan darah). Ada saudara yang menderita penyakit
hemolitik bawaan atau ikterus, kemungkinan suspec spherochytosis herediter
kelainan enzim darah merah. Minum air susu ibu, ikterus kemungkinan karena
pengaruh pregnanediol.
3. Keluhan utama
Suhu badan anak tinggi (demam), berat badan tidak bertambah< 2000 gr, masa
gestasi< 35 minggu, tingginya kadar bilirubin meskipun bayi sudah berusia 14 hari,
timbul kuning pada hari pertama (<24 jam) setelah lahir, peningkatan konsentrasi
bilirubin ± 5 mg setiap 24 jam, kuning tidak hilang pada umur lebih 14 hari atau
lebih, kuning sampai ketelapak tangan atau kaki, tinja berwarna pucat
4. Riwayat penyakit sekarang
Pada bayi yang baru lahir, biasanya akan mengalami ikhterus fisiologis yang terjadi
setelah 24 jam pertama sampai sekitar 7 hari berikutnya akan hilang. Namun jika
ikhterus masih ada hingga lebih dari 14 hari setelah kelahiran maka ikhterus ini akan
menjadi patologis yang akan menyebabkan bayi menjadi lemah, mengalami
hipertermi (demam), tinja bisa menjadi berwarna pucat dan bayi bisa mengalami
asfiksia hipoksia, sindrom gangguan napas, dan hipoglikemia.
5. Riwayat penyakit dahulu
Pasien ada riwayat operasi empedu, riwayat mendapatkan suntikan atau transfusi
darah, ada riwayat penyakit hati.
6. Riwayat penyakit orang tua
Keluarga mempunyai riwayat anemia, batu empedu, splenektomi, penyakit hati,
saudara yang lebih tua biasanya mengalami icterus neonates. Menurut

12
Rohsiswatmo(2013), ibu dengan rhesus (-) atau golongan darah O dan anak yang
mengalami neonatal ikterus yang dini kemungkinan adanya erytrolastosisfetalis (Rh,
ABO, incompatibilitas lain golongan darah), ada saudara yang menderita penyakit
hemolitik bawaan atau icterus, kemungkinan suspec spherochytosisherediter kelainan
enzim darah merah, minum air susu ibu (ikterus kemungkinan kena pengaruh
pregnanediol).
7. Riwayat kelahiran
Adanya penyakit saat maternal yang dicurigai karena virus atau infeksi lainnya,
adanya konsumsi obat, penjempitan tali pusat lambat, trauma lahir dengan memar.
8. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : baik/ cukup / kurang/ jelek
b. Kesadaran : adanya perubahan keasadaran
c. Data antripomeri : TB dan BB
d. Tanda-tanda vital :
N : 120 -140 x/menit
S : 365 - 375 ̊C
R : 30 – 40 x/menit
9. Pola Fungsi Kesehatan
1) Nutrisi : frekuensi bayi diberikan ASI agak jarang karena bayi tidak mau
menghisap.
2) Eliminasi alvi (buang air besar): BAB kurang lebih 3-4 kali sehari, konsistensi
lembek, dan berwarna kuning agak pucat, bau khas (seperti dempul).
3) Eliminasi urin (buang air kecil): BAK kurang lebih 4-5 kali perhari, berwarna
gelap, bau khas
4) Tidur dan istirahat: bayi lebih sering tertidur, dan sulit dibangunkan.
10. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum tampak lemah, pucat, ikterus dan aktivitas menurun
2) Kepala leher
a) Bisa dijumpai ikterus pada mata (sclera) dan selaput/mukosa pada mulut
(sklera mata)/ (sklera mata kuning). Dapat juga diidentifikasi ikterus dengan

13
melakukan tekanan langsung pada daerah menonjol untuk bayi dengan kulit
bersih (kuning)
b) Dapat juga dijumpai sianosis pada bayi yang hypoksia
3) Dada
a) Selain akan ditemukan tanda ikterus juga dapat ditemukan tanda peningkatan
frekuensi nafas.
b) Status kardiologi menunjukkan adanya tachicardia, kususnya ikterus yang
disebabkan oleh adanya infeksi
4) Perut
a) Peningkatan dan penurunan bising usus /peristaltic perlu dicermati. Hal ni
berhubungan dengan indikasi penatalaksanaan photo terapi. Gangguan
Peristaltik tidak diindikasikan photo terapi.
b) Perut membuncit, muntah, mencret merupakan akibat gangguan metabolisme
bilirubun enterohepatik
c) Splenomegali dan hepatomegali dapat dihubungkan dengan sepsis bacterial,
tixoplasmosis, rubella
5) Urogenital
a) Urine kuning dan pekat.
b) Adanya faeces yang pucat/acholis/seperti dempul atau kapur merupakan akibat
dari gangguan/atresia saluran empedu
6) Ekstremitas
Menunjukkan tonus otot yang lemah
7) Kulit
a) Tanda dehidrasi ditunjukkan dengan turgor tang jelek. Elastisitas menurun.
b) Perdarahan bawah kulit ditunjukkan dengan ptechia, echimosis.
c) Kulit tampak kunung dan mengelupas (skin resh)
8) Pemeriksaan Neurologis
Adanya kejang, epistotonus, lethargy dan lain-lain menunjukkan adanya tanda-
tanda kern ikterus
11. Pemeriksaan Penunjang
a. Darah: DL, Bilirubin > 10 mg %

14
b. Biakan darah, CRP menunjukkan adanya infeksi
c. Sekrening enzim G6PD menunjukkan adanya penurunan
d. Screnning Ikterus melalui metode Kramer

B. Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit b.d hiperbilirubin
Definisi:
Kerusakan kulit (dermis/epidermis) atau jaringan (membrane
mukosa,kornea,fasia,otot,tendon,tulang,kartilago,kapsul sendi/ligament).
Penyebab :
a. Perubahan sirkulasi
b. Perubahan status nutrisi
c. Kekurangan/kelebihan volume cairan
d. Penurunan mobilitas
e. Bahan kimia iritatif
f. Suhu lingkungan yang ekstrim
g. Factor mekanis
h. Efek samping terapi radiasi
i. Kelembaban
j. Proses penuaan
k. Neuropati perifer
l. Perubahan pigmentasi
m. Perubahan hormonal
Gejala dan Tanda mayor
Subjektif
(Tidak tersedia)
Objektif
a. Kerusakan jaringan/lapisan kulit
Gejala dan Tanda minor
Subjektif
(Tidak tersedia)

15
Objektif
a. Nyeri
b. Pendarahan
c. Kemerahan
d. Hematoma
Kondisi klinis terkait
a. Imobilisasi
b. Gagal jantung kongesif
c. Gagal ginjal
d. Diabetes mellitus
e. Imunodefisiensi (mis.AIDS)
2. Kekurangan volume cairan b.d lemahnya reflek hisap bayi, diare
Definisi:
Penurunan volume cairan intravascular, interstisial, dan/intraselular.
Penyebab :
a. Kehilangan cairan aktif
b. Kegagalan mekanisme regulasi
c. Peningkatan permeabilitas kapiler
d. Kekurangan intake cairan
e. Evaporasi
Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif
(Tidak tersedia)
Objektif
a. Frekuensi nadi meningkat
b. Nadi teraba lemah
c. Tekanan darah menurun
d. Tekanan darah menyempit
e. Turgor kulit menurun
f. Membrane mukosa kering
g. Volume urin menurun

16
h. Hematokrit meningkat
Gejala dan Tanda Minor
Subjektif
a. Merasa lemas
b. Mengeluh haus
Objektif
a. Pengisian vena menurun
b. Status mental berubah
c. Suhu tubuh meningkat
d. Konsentrasi urin meningkat
e. BB turun tiba-tiba
Kondisi Klinis terkait
a. Penyakit Addison
b. Trauma/pendarahan
c. Luka bakar
d. AIDS
e. Penyakit chron
f. Muntah
g. Diare
h. Colitis ulseratif
i. Hipoalbuminemia
C. Intervensi Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit b.d hiperbilirubin
Tujuan: Klien tidak menunjukan gangguan integritas kulit
Kriteria Hasil:
a. Monitor adanya kerusakan integritas kulit
R/ Deteksi dini kerusakjan integritas kulit
b. Bersihkan kulit bayi dari kotoran setelah BAB dan BAK
R/ Faeces dan urine yang bersifat asam dapat mengiritasi kulit.
c. Pertahankan suhu lingkungan netral dan suhu axial normal
R/ Suhu yang tinggi menyebabkan kulit kering sehingga kulit mudah pecah

17
d. Lakukan perubahan posisi setiap 6 jam
R/ Perubahab posisi mempertahankan sirkulasi yang adekuat dan mencegah
penekanan yang berlebihan pada satu sisi.
2. Kekurangan volume cairan b.d lemahnya reflek hisap bayi, diare
Tujuan : Cairan tubuh neonatus adekuat.
Kriteria hasil :
a. Turgor kulit baik.
b. Mukosa lembab.
c. Mata tidak cekung
d. Tidak ada penurunan urine out put ( 1-3 cc/kg/BB/jam).
e. Penurunan BB dalam batas normal.
f. Tidak ada perubahan kadar elektrolit tubuh.
Intervensi Dan Rasional
a. Pemberian cairan dan elektolit sesuai protokol.
R/Memenuhi kebutuhan cairan sehingga tubuh akan terpenuhi untuk menjamin
keadekuatan
b. Kaji status hidrasi, ubun-ubun, mata, turgor, membran mukosa.
R/Dapat menentukan tanda-tanda dan derajat dehidrasi dengan tepat.
c. Kaji pemasukan dan pengeluaran cairan.
R/Mengetahui keseimbangan antara intake dan output
d. Kaji TTV
R/ Mengetahui status perkembangan pasien.
e. Kaji hasil test elektrolit.
f. R/ Perpindahan cairan atau elektrolit, penurunan fungsi ginjal dapat meluas
mempengaruhi penyembuhan pasien.

18
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hiperbilirubinemia merupakan suatu keadaan pada bayi baru lahir dimana kadar bilirubin
serum total lebih dari 10 mg/dl pada minggu pertama dengan ditandai dengan ikterus,
keadaan ini sering terjadi pada bayi baru lahir yang sering disebut dengan ikterus
neonatorum yang bersifat patologis atau lebih dikenal dengan hiperbilirubinemia yang
disebabkan oleh beberapa factor seperti ; produksi bilirubin yang melebihi, gangguan
dalam proses uptake dan konjugasi hepar, gangguan transportasi dalam metabolism, dan
gangguan dalam eksresi yang ditandai dengan ikterus, muntah, anorexia, fatigue, warna
urine gelap dan warna tinja pucat

B. Saran
1. Bagi institusi pendidikan
Setiap institusi pendidikan di harapkan dapat menjadikan makalah ini sebagai
masukan ilmu pengetahuan dalam proses belajar mengajar ataupun perkuliahan
2. Bagi penulis
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang konsep dasar dan konsep
keperawatan, serta dapat menjadikannya sebagai panduan belajar
Namun Kami menyadari bahwa dengan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan
yang kami miliki, materi ulasan yang kami sajikan masih jauh dari kesempuranaan
sehingga tentunya tak akan luput dari kesalahan dan kehilafan. Oleh karena itu, kami
menghargai dan bahkan mengharapkan segala bentuk masukan dan kritik dari rekan-
rekan ataupun pihak lain untuk lebih membangun dan menyegarkan wawasan kami
sehingga lebih bijaksana

19
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, V. N. (2010). Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba Medika.
H, A. A. (2009). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Kristiyana, W. (2009). NEONATUS dan Asuhan Keperawatan Anak. Yogyakarta: Nuha Medika.
Ngastiyah. (2014). Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.
Rita, S. &. (2012). Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: CV Sagung Seto.
Tando, N. M. (2016). Asuhan Kebidanan Nenonatus, Bayi, dan Anak Balita. Jakarta: EGC.

20