Anda di halaman 1dari 7

DIAGNOSA KESULITAN BELAJAR

DIAGNOSA KESULITAN BELAJAR


MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bimbingan Dan Konseling Yang Bina Oleh
Bapak Farid Firmansyah, MM
PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim.
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. karena atas rahmat dan hidayahnya
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Bimbingan dan Konseling,
yang dibimbing oleh Farid Firmansyah, MM dengan judul Diagnosa Kesulitan Belajar sesuai
dengan waktu yang telah ditentukan.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi kita, yaitu Nabi
Muhammad saw. yang telah membawa kita dari alam kebodohan menuju alam yang penuh
dengan ilmu pengetahuan seperti saat sekaran ini.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan
kekurangan. Maka dari itu kami mohon saran dan kritik yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini.

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai
kinerja akademik yang memuaskan. Namun dari kenyataan sehari-hari tampak jelas
bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik,
latar belakang keluagra, kebiasaan dan pendekatan belajar yang terkadang sangat
mencolok antara seorang siswa dengan siswa lainnya.
Prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap siswa jika mereka dapat
belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan dan gangguan. Namun
ancaman, hambatan dan gangguan tersebut di alami oleh siswa tertentu sehingga mereka
mengalami kesulitan dalam belajar. Pada tingkat tertentu memang ada siswa yang dapat
mengatasi kesulitan belajarnya tanpa harus melibatkan orang lain. Tetapi pada kasus –
kasus tertentu, siswa belum mampu mengatasi kesulitan belajarnya maka bantuan guru
atau orang lain sangat diperlukan oleh siswa.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian diagnosa kesulitan belajar?
2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar?
3. Bagaimana cara mengenali anak didik yang mengalami kesulitan belajar?
4. Apa saja upaya mengatasi kesulitan belajar?
Tujuan Penulisan Makalah
1. Untuk mengetahui pengertian diagnosa kesulitan belajar
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar
3. Untuk mengetahui ciri-ciri anak didik yang mengalami kesulitan belajar
4. Untuk mengetahui upaya mengatasi kesulitan belajar

BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian diagnosa belajar
Kata diagnosa berasal dari bahasa Yunani yaitu penentuan jenis penyakit dengan
meneliti (memeriksa) gejala-gejala atau proses pemeriksaan terhadap hal yang dipandang
tidak beres.1 The national joint committee for learning disabilities merumuskan bahwa
kesulitan belajar adalah kesulitan nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan
mendengar, berbicara, membaca, menulis, berfikir, kemampuan matematis karena
disfungsi sistem saraf pusat2. Dalam bahasa yang sangat sederhana dan ringkas, kesulita
belajar adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat melakukan proses belajar
sebagaimana mestinya disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam
belajar.3
Dengan demikian secara terminologis Diagnosa kesulitan belajar adalah
pemeriksaan yang dilakukan oleh guru atau penyuluhan terhadap murid yang diduga
mengalami kesulitan belajar untuk menentukan jenis dan kekhususan kesulitan belajar
yang dihadapi.4
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar
secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kesulitan belajar
sebagai berikut:
1. Faktor intern yaitu faktor yang terjadi dari dalam individu yang terdiri dari:
Kesulitan belajar yang disebabkan oleh sakit dan fisik yang kurang sehat. jika
seseorang mengalami gangguan kesehatan maka syaraf sensorif dan motorisnya
lemah yang berakibat rangsangan yang diterima melalui inderanya tidak dapat
diteruskan ke otak.
Kesulitan belajar yang disebabkan oleh kondisi fisik yang lemah seperti kurang gizi,
lemas , yang mengakibatkan cepat letih, kurang konsentrasi, mengantuk dan sering
pusing. Hal ini akan mengakibatkan penerimaan dan respon belajar kurang
sehingga saraf tidak mampu bekerja secara optimal.
Kesulitan belajar yang disebabkan oleh cacat fisik yang berupa cacata tubuh ringan
seperti rabun dekat, rabun jauh, kurang mendengar, dan cacat tubuh permanen
seperti butu, tuli dan bisu. Mereka yang mengalami cacat tubuh ringan harus
diperlakukan khusus seperti duduk di depan, sedankan mereka yang memiliki
cacat tubuh permanen maka ia harus menjalani pendidikan di lembaga pendidikan
khusus (SLB).
Kesulitan belajar yang disebabkan oleh gangguan yang bersifat psikologis yang terdiri
dari:
Intelegensi
Rendahnya intelegensi dapat mengakibatkan anak didik mengalami
kesulitan belajar untuk mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung.
Bakar
Seseorang yang tidak mempunyai bakat yang sesuai dengan subyek
pelajaran yang sedang dipelajari maka akan mengakibatkan kesulitan belajar
karena ia cenderung butuh waktu relatif lama untuk dapat menguasai pelajaran
itu.
Minat
Seseorang yang tidak memiliki minat terhadap subyek pelajaran maka
ia akan tidak merasakan adanya kebutuhan pelajaran itu. Hal ini dapat
menghilangkan atau mengurangi keseriusan dan kasenangannya dalam belajar.
Motivasi
Seseorang yang mempunyai motivasi tinggi maka ia akan serius untuk
belajar. Jika seseorang memiliki motivasi rendah maka ia kurang semangat dan
tidak sungguh-sungguh dalam belajar. 5
2. Faktor ekstern yaitu faktor yang berasal dari luar individu yakni semua situasi dan
kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa, meliputi:
Faktor lingkungan keluarga seperti cara orang tuanya mendidik anaknya, hubungan
orang tua dan anak, keharmonisan keluarga, dan keadaan ekonomi keluarga.
Faktor sekolah seperti hubungan guru dengan murid, media pengajaran, kualifikasi
guru, kondisi gedung, kurikulum, kedisiplinan guru, kompetensi guru barik
kompetensi personal, profesional, maupun kompetensi moral.
Faktor lingkungan sosial dan media massa serta teman bergaul, tetangga, aktifitas di
masyarakat, televisi, bioskop dan surat kabar.6
Cara mengenal anak didik yang mengalami kesulitan belajar
Anak didik yang mengalami kesulitan belajar dapat diidentifikasikan dengan ciri-
ciri sebagai berikut:
1. Menunjukkan prestasi yang rendah di bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok
kelas.
2. Lambat dalam menyelesaikan tugas-tugas di kelas sehingga ia sering tertinggal dalam
pelajaran.
3. Menunjukkan sikap yang acuh, dusta, kurang konsentrasi dan tidak semangat.
4. Hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan, misalnya seorang anak
didik yang belajar keras namun hasilnya tetap rendah.
5. Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi yang secara potensial mereka
seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi tetapi kenyataannya mereka
mendapatkan prestasi belajar yang rendah.
6. Anak didik yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar
mata pelajaran tetapi di lain waktu prestasi belajarnya menurun drastis.7
Upaya mengatasi kesulitan belajar
Untuk mengatasi kesulitan belajar yang di alami oleh siswa, maka pertama kali
harus dilakukan identifikasi terhadap keadaan siswa yang menunjukkan kesulitan belajar.
Proses identifikasi inilah yang disebut dengan diagnosa yang bertujuan untuk menentukan
jenis kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.
Dalam diagnosis kesulitan belajar siswa, dikenal dengan langkah-langkah yang di
antaranya direkomendasikan sebagai berikut:
a. Melakukan observasi kelas untuk melihat prilaku menyimpang siswa ketika mengikuti
pelajaran.
b. Memeriksa penglihatan dan pendengaran sisiwa yang diyakini mengalami gangguan
kedua indera itu.
c. Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat
kesulitan belajar yang dialami siswa.
d. Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) bagi anak yang diyakini memiliki IQ di
bawah rata-rata.
e. Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang
mungkin menimbulkan kesulitan belajar.8
Mulyono Abdurrahman mengutip Barbara Clark, menawarkan pendidikan
intelegensi sebagai suatu sistem pendidikan yang diyakini sebagai upaya mengatasi
kesulitan belajar. Pendidikan tipe ini merupakan upaya integrasi antara pemikiran barat
yang rasional dengan pemikiran timur yang intuitif. Pendidikan integratif ditafsirkan
sebagai pendidikan yang berupaya:
a. Mengintegrasikan antara anak yang tidak normal dengan normal
b. Mengintegrasikan pendidikan luar biasa dengan pendidikan pada umumnya.
c. Mengintegrasikan dan mengoptimalkan perkembangan kognisi, emosi, jasmani dan
intuisi.
d. Mengintegrasikan anak didik sebagai makhluk individual dan makhluk sosial.
e. Mengintegrasikan antara subjek/materi pelajaran dengan kehidupan masa depan anak.
f. Mengintegrasikan antara falsafah dan pandangan hidup dengan seni.9
Sedangkan Abu Ahmadi menawarkan langkah-langkah untuk mengatais kesulitan
belajar sebagai berikut:
a. Pengumpulan data yang terdiri dari observasi, kunjungan rumah, case study, case
history, daftar pribadi, meneliti pekerjaan anak, tugas kelompok, melaksanakan tes.
b. Pengolahan data yang terdiri dari identifikasi kasus, membandingkan antara kasus,
memandingkan dengan hasil tes dan menarik kesimpulan.
c. Diagnosis yang meliputi keputusan tentang jenis kesulitan belajar anak, faktor-faktor
penyebab kesulitan belajar anak, dan faktor penyebab utama kesulitan belajar anak
dengan meminta bantuan dokter, psikiater, pekerja sosial guru kelas dan orang tua.
d. Prognosis sebagai follow up dari diagnosis untuk menentukan treatment yang harus
diberikan, bahan materi yang diperlukan, metode yang digunakan, alat bantu belajar
yang diperlukan, waktu dan tempat pelaksanaan.
e. Treatment (perlakuan) dilakukan melalui bimbingan belajar kelompok, bimbingan
belajar individual, pengajaran remedial pelajaran tertentu, bimbingan pribadi atas
kesulitan belajar secara psikologis, dan bimbingan orang tua.10
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Diagnosis adalah penentuan jenis penyakit dengan meneliti (memeriksa) gejala-
gejala atau proses pemeriksaan terhadap hal yang dipandang tidak beres. Sedangkan
kesulitan belajar adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat melakukan proses
belajar sebagaimana mestinya. Jadi diagnosis kesulitan belajar adalah pemeriksaan yang
dilakukan oleh guru atau penyuluh terhadap murid yang diduga mengalami kesulitan
belajar untuk menentukan jenis dan kekhususan kesulitan belajar yang dihadapi.
Faktor-faktor timbulnya kesulitan belajar yaitu dari faktor intern meliputi
gangguan fisik dan psikologis. Dan faktor ekstern meliputi faktor keluarga, sekolah dan
lingkungan sosial.
Anak didi yang mengalami kesulitan belajar dapat diidentifikasikan dengan ciri-
ciri anak didik menunjukkan prestasi yang rendah dibawah rata-rata yang dicapai oleh
kelompok kelas, lambat menyelesaikan tugas-tugas di kelas, hasil yang dicapai tidak
seimbang dengan usaha yang dilakukan, dan menunjukkan sikap acuh tak acuh, dusta,
kurang konsentrasi dan tidak semangat.
Untuk mengatasi kesulitan belajar diperlukan beberapa langkah diantaranya:
Melakukan observasi kelas
Memeriksa penglihatan dan pandangan siswa
Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu
Memberikan tes kemampuan intelengensi (IQ)
Saran
Kami sebagai penulis apabila dalam penulisan dan penyusunan makalah ini
terdapat kekurangan dan kelebihan maka kritik dan saran dari pembaca dan pembimbing
kami harapkan sehingga tanpa dukungan dan saran pembimbing sangat jauh bagi kami
untuk mencapai kesempurnaan.
Akhirnya, hanya kepada Allah penulis selalu mengharap ridha-Nya, semoga dari
penulisan yang terbatas ini, bisa mendatangkan manfaat yang tiada batas. Amien...
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta,
2003
Ahmadi, Abu. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta, 2003
Djamarah, Syaiful Bahri. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta, 2002
Said, Bustami . Buku Ajar Prinsip – Prinsip Pengelolaan Pembelajaran. Pamekasan : Stain
Pamekasan Press, 2006
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007
Bustami Said, Buku Ajar Prinsip-Prinsip Pengelolaan Pembelajaran, (Pamekasan : Stain
Pamekasan Press, 2006), hlm., 55
Muchlis Shalihin, Buku Ajar Psikologi Belajar PAI, (Pamekasan : Stain Pamekasan Press,
2006), hlm., 58
Abu Ahmadi, Psikologi Belajar, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003), hlm., 77
Said, Buku Ajar Prinsip-prinsip, hlm., 55
Shalihin, Buku Ajar Psikologi, hlm., 58 - 60
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hlm., 183
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta : Rineka Cipta, 2002), hlm., 213
Syah, Psikologi Belajar, hlm., 183
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar, (Jakarta : Rineka Cipta,
2003), hlm., 118
Ahmadi, Psikologi Belajar, hlm., 97 - 100
http://hadirukiyah.blogspot.com/2009/06/diagnosa-kesulitan-belajar.html