Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENCAPAN 1

Pencapan Kapas dengan Zat Warna Bejana


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Teknologi Pencapan 1

KELOMPOK : 7 (TUJUH)
ANGGOTA : 1. IKEU NUR HALIMAH (16020103)
2. MILA NURAIDA (16020111)
3. DEVINA AULIA (16020124)
4. JULYAN R WIGUNA (16020129)
GROUP : 3K4
DOSEN : SUKIRMAN, S.ST., MIL.
ASISTEN : 1. Drs. SOLEHUDIN
2. DESTI M., S.ST.

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2018
BAB I
PENDAHULUAN

I.I MAKSUD DAN TUJUAN


 Mengetahui cara – cara pencapan kain kapas dengan zat warna bejana system 1
tahap.
 Mengetahui hasil pencapan kain kapas putih dengan menggunakan zat warna bejana
dengan menggunakan variasi waktu steaming.
 Mengetahui hasil pencapan melalui evaluasi ketajaman motif, kerataan warna, serta
ketuaan warna.

I.2 LATAR BELAKANG


Zat warna banyak digunakan dalam makanan, minuman, tekstil, kosmetik,
peralatan rumah tangga dan lainnya. Penggunaan zat warna sangat diperlukan
untukmenghasilkan suatu produk yang bervariasi dan juga menambah nilai estetika.
Pewarna bukan istilah asing dalam dunia tekstil. Hasil pewarnaan dibidang tekstil
diharapkan dapat menghasilkan macam warna, sehingga menghasilkan warna pada
kain yang menarik.
Pencapan pada kain tekstil mungkin lebih sesuai jika digambarkan sebagai suatu
teknologi seni pemindahan desain-desain pada kain tekstil. Pencapan adalah proses
pemberian warna setempat pada bahan tekstil menurut gambar-gambar tertentu. Pada
pencapan pelekatan zat warna pada kain lebih banyak dilakukan secara mekanis.
menggunakan screen datar yang merupakan gasa yang terpasang pada rangka. Gasa
atau screen ini dapat digunakan secara berulang-ulang dengan cara membersihkannya.
Zat warna bejana merupakan salah satu jenis zat warna yang berasal dari alam,
dan termasuk golongan zat warna yang tidak larut dalam air dan tidak dapat mewarnai
serat selulosa secara langsung. Dalam pemakaiannya, zat warna ini harus dibejanakan
(direduksi) terlebih dahulu membentuk larutan yang mempunyai afinitas terhadap serat
selulosa.
BAB II
TEORI DASAR
Pencapan pada kain tekstil mungkin lebih sesuai jika digambarkan sebagai suatu
teknologi seni pemindahan desain-desain pada kain tekstil. Pencapan adalah proses
pemberian warna setempat pada bahan tekstil menurut gambar-gambar tertentu. Pada
pencapan pelekatan zat warna pada kain lebih banyak secara mekanis. Pada pencapan
bermacam-macam golongan zat warna dapat dipakai bersama-sama dalam satu kain
dengan tidak saling mempengaruhi warna aslinya.

Secara keseluruhan prosedur pencapan meliputi persiapan dan tahapan proses


sebagai berikut:
1. Persiapan kain
Persiapan kain ,secara umum dilakukan seperti halnya pada persiapan bahan
tekstil untuk proses pencelupan, misalnya pembakaran bulu, penghilangan kanji,
pemasakan, pengelantangan, merserisasi atau stabilitas dimensi.

2. Persiapan gambar
Persiapan gambar pada kertas kemudian ke kodatrace atau kertas tembus
cahaya yang akan dipindahkan ke kasa cap dengan cara afdruk. Gambar dibuat pada
kertas transparan/tembus cahaya (gambar film) dengan tinta afdruk atau tinta bak
sesuai dengan jumlah warna.

3. Persiapan kasa cap


Persiapan kasa cap adalah pekerjaan terhadap pasta cap sampai dilakukan
pemindahan gambar film (afdruk) ke kasa cap sehingga kasa cap siap untuk digunakan
pada proses pencapan.

4. Persiapan pasta cap


Pertama yang harus digunakan adalah memilih kesesuaian zat warna terhadap
jenis serat yang akan dicap. Selanjutnya adalah seleksi terhadap kesesuaian jenis
pengental, zat-zat pembantu, metoda pencapan yang digunakan dan kondisi-kondisi
pengeringan, fiksasi zat warna serta kondisi setelah pencapan, misalnya pencucian.
Pasta cap dibuat dengan disesuaikan selain terhadap jenis serat/kain juga
terhadap jenis mesin yang akan digunakan, sifat ketahanan warna yang diminta dan
beberapa sifat hasil pencapan lainnya yang digunakan. Resep pasta cap secara garis
besar yaitu : zat warna , zat pembantu pelarutan (misalnya urea), air, pengental
(misalnya tapioka), zat kimia untuk fiksasi zat warna, zat anti reduksi, zat anti busa,
minyak, pigmen putih dan zat pemutih optik.
Tingkat kekentalan/viskositas pasta cap tergantung beberapa faktor, antara lain
metoda proses pencapan , jenis dan struktur kain yang akan dicap, kehalusan motif cap
dan lain-lain.
5. Persiapan mesin
Persiapan mesin dan alat untuk pencapan adalah menyiapkan mesin dan alat
kelengkapannya agar dapat bekerja dengan menghasilkan kain printing yang baik,
lancar dan efisiensinya tinggi. Persiapan mesin pencapan meliputi berbagai unit dari
pembersihan, penyetelan blanket, pengatur kecepatan blanket, screen, rakel,
kedudukan screen, pengatur tekanan, dan kemiringan rakel, pensuplai pasta cap,
pengendali sinkronisasi kecepatan pencapan dan pengeringan dan lain-lain.

6. Proses pencapan
Pencapan adalah proses pewarnaan pada bahan tekstil secara tidak merata
menurut motif/gambar tertentu dengan hasil warna diharapkan bersifat permanen.
Proses pencapan dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin pencapan. Mesin
pencapan yang banyak digunakan adalah mesin pencapan kasa datar dan kasa putar.

7. Pengeringan
Proses pengeringan setelah kain dicap perlu untuk menghilangkan kelembaban
lapisan pasta cap sehingga mencegah blobor (bleeding) warna dari motif dan diperoleh
hasil cap dengan motif yang tajam. Selain itu untuk memudahkan penanganan kain
hasil cap untuk proses fiksasi berikutnya.
Perencanaan perlu dilakukan dengan memperhatikan factor-faktor antara lain :
jenis kain, jenis pasta cap, tegangan kain, dan pencegahan terhadap kusutnya kain
selama pengeringan. Jenis-jenis pengeringan yaitu :
 Pengeringan udara panas
Mesin ini dengan system udara panas temperaturnya 100 – 125 °C. Sumber panas
berasal dari oli panas, uap panas,.
 Pengering silinder
Mesin ini dengan temperatur 95 – 110 °C.
 Pengeringan di udara
Kain dikeringkan di ruangan terbuka secara sederhan, pada temperature 27 – 30 °C

8. Fiksasi zat warna


Proses fiksasi dimaksudkan agar zat warna yang terkandung didalam lapisan
pasta cap terfiksasi kedalam serat kain dengan membentuk ikatan seperti gaya Van der
Waals, ikatan hidrogen maupun ikatan kovalen.

9. Pencucian
Proses pencucian setelah fiksasi zat warna dimaksudkan untuk menghilangkan zat
warna yang tidak terfiksasi, pengental dan zat-zat kimia pembantu sehingga akan
diperoleh hasil pewarnaan yang briliant, mempunyai ketahanan luntur yang baik dan
pegangan cap yang lembut. Demikian pula akan memberikan hasil yang
memuaskan pada proses penyempurnaan berikutnya.

10. Pengeringan
Pengeringan kain setelah proses pencucian diperlukan untuk dilakuakn proses
selanjutnya, seperti penyempurnaan secara kimia dan fisika untuk memperoleh sifat
khusus lain.

Zat warna bejana

Pada praktikum ini proses pencapan menggunakan zat warna bejana. Zat warna
bejana tidak larut di dalam air dan tidak mungkin dapat digunakan untuk mencelup atau
mencap kain kapas tanpa diubah dulu struktur molekulnya. Zat warna bejana
mengandung gugus karbonil (> C = O) yang apabila direduksi akan terbentuk senyawa
leuko yang terdiri dari gugus > C – OH (enol).
Dasar pewarnaan zat warna bejana terdiri dari 4 tahap sebagai berikut :
1. Pembejanaan, yaitu membuat larutan bejana yang mengandung senyawa leuko.
2. Pewarnaan serat tekstil dengan senyawa leuko.
3. Oksidasi senyawa leuko berubah menjadi senyawa asal.
4. Penyabunan, pencucian, pengeringan.
Struktur kimia zat warna bejana ada 2 golongan besar yaitu :
a. Golongan antrakuinon yang mempunyai struktur dasar sebagai antrakuinon
b. Golongan indigoida yang mengandung khromofor – CO – C = CO- dan pada
umumnya merupakan derivat dari indigotin atau tioindigo.

Zat warna bejana jenis antrakuinon atau indanthrene mempunyai beberapa macam
reaksi waktu pembejanaan :
a. Senyawa indanthrene dapat direduksi pada kedua gugus karbonilnya atau keempat
gugus karbonilnya sehingga dengan perbedaan banyaknya gugus karbonil yang
direduksi maka akan menghasilkan perbedaan ketuaan warna.
b. Dalam pembejanaan yang dipentingkan jumlah alkali untuk membentuk garam
leuko. Jika pH-nya dibawah 7 maka derivat antrahidrokinon akan berpolimerisasi
menjadi suatu oksantron. Senyawa ini tidak mudah teroksidasi kembali kebentuk
semula, tetapi lebih mudah tereduksi menjadi senyawa antron yang akan
berisomerisasi menjadi antranol. Antranol akan teroksidasi memberikan hasil reaksi
yang berbeda dengan pigmen zat warna asal.

Zat warna bejana mempunyai sifat :


 Zat warna yang tidak larut dalam air sehingga tidak dapat mewarnai langsung serat
selulosa, tapi jika diubah dulu menjadi garam leuko dengan bantuan zat reduktro
dan alkali akan mempunyai substantifitas terhadap serat. Untuk mengembalikan ke
bentuk semula diperlukan pengoksidasian..
 Senyawa leuko zat warna golongan antrakuinon hanya larut dalam larutan alkali kuat
sedang golongan indigo larut dalam larutan alkali lemah.
 Tahan luntur warna baik.
 Mempunyai ketahanan yang baik terhadap sinar dan tahan terhadap larutan NaOH
mendidih.
 Zat warna bejana yang berbentuk leuko sangat peka terhadap suhu pengeringan
setelah pencapan. Jika suhu pengeringan rendah maka kain hasil cap yang masih
agak basah dapat bertambah panas terutama yang bertumpuk di bagian tengah,
sehingga mengakibatkan terjadinya reaksi penguraian yang tidak merata. Akibatnya
hasil pencapan akan belang. Kalau suhu pengeringan terlalu tinggi, maka tidak ada
kesempatan zat warna bejana masuk ke dalam serat dan sukar untuk mengambil air
sehingga tidak akan terjadi reaksi oksidasi kembali dan akibatnya warna sebenarnya
tidak timbul.

Pencapan dengan zat warna bejana pada umumnya mengahasilkan produk


pencapan dengan ketahan luntur warna yang tinggi terhadap hampir semua jenis daya
tahan luntur warna. Hal ini disebabkan karena molekul zat warnanya yang cukup besar
dan tidak larut dalam air.
Pengental yang digunakan dipilih yang tahan terhadap alkali konsentrasi tinggi
yang terkandung didalam pasta cap. Pengental yang umum digunakan adalah
campuran jenis strarch-eter dengan gum-tragancanth, british gumatau yang sejenis.
Campuran pengental tersebut memiliki kelehihan-kelebihan antara lain hasil pewarnaan
yang tinggi, tahan terhadap alkali konsentrasi tinggi, mudah dihilangkan pada pencucian
dll.
Zat higroskopis sekaligus sebagai zat pembantu pelarutan zat warna, diperlukan
untuk membantu penetrasi zat warna ke dalam serat dan fiksasi zat warna. Zat
pendispersi seperti Solution Salt B atau Solution Salt SV, diperlukan untuk mambanti
migrasi, penetrasi, perataan dan fiksasi zat warna kedalam serat.
Alkali yang biasa digunakan pada pencapan zat warna bejana adalah kalium
karbonat, soda abu, soda kostik dan kalium hidroksida Sedangkan zat pereduksi zat
warna bejana yang banyak digunakan adalah natrium sulfoksilat formaldehida. Jenis ini
banyak dijumpai dalam perdagangan dengan merk dagang seperti Ronggalit C,
Formosul G, dll. Natrium hidrosulfit, glukosa dan dekstrin digunakan dalam skala
terbatas.
Prosedur pencapan dengan zat warna bejana dapat diklasifikasikan kedalam dua
cara yaitu cara satu tahap dimana pasta cap telah mengandung zat pereduksi dan cara
dua tahap dimana pasta cap adalah netral artinya tidak mengandung alkali kemudian zat
pereduksi diaplikasikan pada tahap kedua dengan cara padding atau block.
Kapas

Penampang Membujur Penampang Melintang


Kapas merupakan serat biji dari tanaman Gossypium. Serat kapas ini adalah
perpanjangan dari sel epidermis biji kapas, dimana komposisinya akan sangat
tergantung pada jenis tanaman kondisi tumbuh dan derajat kedewasaan.
Pada satu biji kapas terdapat banyak sekali serat, yang saat tumbuhnya tidak
bersamaan sehingga menghasilkan tebal dinding yang tidak sama. Serat-serat yang
belum dewasa adalah yang pertumbuhannya terhenti karena suatu sebab, misalnya
kondisi pertumbuhan yang jelek, kerusakan karena serangga dll. Serat yang belum
dewasa kekuatannya rendah dan apabila jumlahnya terlalu banyak, dalam pengolahan
akan menimbulkan jumlah limbah yang besar.

Sifat Fisika Serat


Warna
Warna kapas tidak betul-betul putih, biasanya sedikit cream. Warna kapas akan
makin tua setelah penyimpanan selama 2 – 5 tahun. Karena pengaruh cuaca yang
lama, debu, dan kotoran, akan menyebabkan warna menjadi keabu-abuan. Tumbuhnya
jamur pada kapas sebelum pemetikan meyebabkan warna putih kebiru-biruan yang
tidak bisa dihilangkan dalam pemutihan.

Kekuatan
Kekuatan serat kapas terutama dipengaruhi oleh kadar selulosa dalam serat,
panjng rantai dan orientasinya. Kekuatan serat bukan kapas pada umumnya menurun
pada keadaan basah, tetapi sebaliknya kekuatan serat kapas dalam keadaan basah
makin tinggi. Dalam keadaan basah serat menggelembung berbentuk silinder, diikuti
dengan kenaikkan derajat orientasi, sehingga distribusi tegangan lebih merata dan
kekuatan seratnya naik.

Kekakuan (Stiffness)
Kekakuan dapat didefinisikan sebagai daya tahan terhadap perubahan bentuk,
dan untuk tekstil biasanya dinyatakan sebagai perbandingan antara kekuatan saat
putus dengan mulur saat putus. Kekuatan dipengaruhi oleh berat molekul, kekakun
rantai selulosa, derajat kristalinitas dan terutama derajat orientasi rantai selulosa.
Moisture Regain
Serat kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air dan air mempunyai
pengaruh yang nyata pada sifat-sifat serat. Serat kapas yang sangat kering bersifat
kasar, rapuh dan kakuatannya rendah. Moisture regain serat bervariasi dengan
peubahan kelembaban relatif atmosfir sekelilingnya. Moisture regain serat kapas pada
kondisi standar berkisar antara 7 – 8,5 %.

Komposisi
Selulosa
Analisa serat kapas menunjukkan bahwa serat terutama tersusun atas selulosa.
Selulosa merupakan polimer liniear yang tersusun dari kondensasi molekul-molekul
glukosa yang dihubung-hubungkan pada posisi 1 dan 4.
Struktur kimia kapas merupakan polimer liniear yang tersusun dari kondensasi
molekul-molekul  anhidro glukosa yang dihubungkan oleh jembatan oksigen. Selulosa
mempunyai rantai molekul yang panjang terdiri dari mata rantai terbuka yang terdiri dari
n buah anhidro glukosa sehingga susunan sebenarnya adalah n (C6H10O6) (n-1) H2O
BAB III
METODELOGI PERCOBAAN

3.1. Alat dan Bahan


3.1.1 Alat-alat
1. Screen 5. Cangkir
2. Rakel 6. Ember kecil
3. Meja cetak 7. Timbangan
4. Pengaduk
3.1.2 Bahan
1. Zat Warna Bejana 5. Na2CO3
2. Pengental (lyocrin) 6. Na2S2O4
3. H2O2 30% 7. Gliserin
4. CH3COOH 35% 8. Air

3.2. Diagram Alir


3.2.1. 1 Tahap

Persiapan pencapan Pencapan Pengeringan

Oksidasi Pembilasan Pengukusan


(steaming)

Pencucian (washing Evaluasi:


off) 1. Ketajaman motif
2. Kerataan warna
3. Ketuaan warna

3.2.2. 2 Tahap

Persiapan pencapan Pencapan netral Pengeringan

Pembilasan Pengukusan Padding


Alkali & reduktor

Pembilasan oksidasi
Drying

Evaluasi: Washing off


- Kerataan warna
- Ketajaman motif
- Ketuaan warna
3.3. Resep

3.3.1. pencapan 1 tahap


Pengental 3.3.3 Pencucian
- Sintetik/Gum : 8% = 700 gram - Teepol = 1ml/L
- Na2CO3 = 150 gram - Suhu = 70˚C
- Gliserin = 80 gram - Waktu = 10 menit
- Na2S2O4 = 50 gram
- Balance = x gram
1000 gram

3.3.2. Oksidasi
- H2O2 30% = 10 ml/L
- CH3COOH 35% = 4 ml/L
- Suhu = kamar (40˚C)
- Vlot = 1:30

3.4. Perhitungan
3.4.1. Pencapan
Pengental induk Oksidasi
8
Pengental induk 8% = 𝑥 700 = 56 gr Berat kain = 5 gram x 4 = 20 gram
100
Vlot = 20 x 20 = 400 ml
Air = 700 – 56 = 644 gr 10
H2O2 30% = 𝑥 400 = 40 𝑚𝑙
100
4
CH3COOH 35% = 𝑥 400 = 16 𝑚𝑙
100
Air = 400-40-16 = 344 ml
Pencapan 1 tahap
700
Pengental = 𝑥 75 = 52,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000
150
Na2CO3 = 𝑥 75 = 11,25 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000
80
Gliserin = 𝑥 75 = 6 gram
1000
50
Na2S2O4 = 𝑥 75 = 3,75 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000

3.5. Fungsi zat


1. Zat warna bejana berfungsi untuk memberikan motif pada bahan.
2. Natrium Hidrosulfit adalah reduktor yang berfungsi untuk mereduksi zat warna
bejana menjadi senyawa leuko yang dapat larut dalam air.
3. Na2CO3 berfungsi sebagai pembuat suasana alkali pada pasta cap.
4. Gliserin adalah zat higroskopis dan sekaligus sebagai zat pembantu pelarutan zat
warna untuk membantu penetrasi zat warna kedalam serat dan fiksasi zat warna.
5. Pengental berfungsi untuk melekatkan zat warna pada serat sehingga dapat terjadi
pewarnaan pada serat.
6. Air berfungsi sebagai bahan dasar pembuatan emulsi.
7. H2O2 adalah oksidator yang berfungsi untuk mengoksidasi zat warna bejana leuko
agar kembali pada warna asal
BAB IV
HASIL

4.1 DOKUMENTASI

Pembuatan Pasta Cap

Proses Pencapan

Pembilasan

Pengeringan (Drying)
Persiapan Pengukusan (Steaming)
Pembangkitan Warna (Oksidasi)

Pencucian dengan Sabun

Kain Hasil Pencapan


4.2 DATA PENGAMATAN

1. Ketuaan Warna

Pengamat Kain
I & II III & IV

1 6 8
2 5 7
3 5 8
4 6 8
Σ 22 31

Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat diketahui urutan ketuaan warna kain
hasil pencapan dengan menggunakan zat warna bejana dari kain yang paling tua hingga kain
yang paling muda adalah Kain III & IV yang proses pengukusannya (steaming) selama 15 menit,
kemudian Kain I & II yang proses pengukusannya (steaming) selama 10 menit.

2. Kerataan Warna

Pengamat Kain
I & II III & IV

1 7 5
2 5 5
3 6 5
4 6 6
Σ 24 21

Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat diketahui urutan kerataan warna kain
hasil pencapan dengan menggunakan zat warna bejana dari kain yang paling tua hingga kain
yang paling muda adalah Kain I & II yang proses pengukusannya (steaming) selama 10 menit,
kemudian Kain III & IV yang proses pengukusannya (steaming) selama 15 menit.
BAB V

PEMBAHASAN

5.1 DISKUSI

Pada praktikum pencapan kain kapas dengan menggunakan zat warna bejana kali
dilakukan dengan memvariasikan waktu pengukusannya (steaming). Dimana kain 1 & 2 akan
dikukus (steam) selama 10 menit sedangkan kain 3 & 4 akan dikukus (steam) selama 15 menit.
Adapun perbedaan waktu pengukusan (steaming) ini dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya
terhadap ketuaan maupun kerataan warna kain hasil pencapannya nanti.
Adapun untuk metode pencapan kain kapas dengan zat warna bejana ini ada 2 macam,
yaitu metode 1 tahap dan metode 2 tahap. Metode 1 tahap yaitu metode yang proses pembuatan
pasta cap dan proses pereduksian zat warna bejana menjadi bentuk garam leukonya dilakukan
secara bersamaan di awal proses. Sedangkan untuk metode 2 tahap, pembuatan pasta cap dan
larutan alkali-reduktor dilakukan terpisah dan proses pengaplikasiannya pada kain pun dilakukan
secara terpisah pula. Dimana pasta cap diaplikasikan pada kain lebih dahulu dengan cara dirakel
lalu dikeringkan sementara larutan alkali-reduktor yang berfungsi untuk mengubah pigmen zat warna
bejana yang tidak larut menjadi bentuk garam leuko yang larut dalam air dilakukan setelah kain hasil
perakelan tadi kering, yaitu dengan cara padding
Akan tetapi untuk praktikum pencapan kali ini, akan dilakukan dengan menggunakan
metode 1 tahap, dimana alkali dan reduktor yang berfungsi untuk mengubah pigmen zat warna
bejana yang tidak larut menjadi bentuk garam leuko yang larut dalam air, dimasukkan secara
bersamaan dengan zat-zat lainnya di awal pada saat pembuatan pasta cap. Metode ini dipilih karena
memiliki kelebihan yaitu waktu prosesnya yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan metode
2 tahap. Dengan waktu proses yang lebih singkat tentunya akan menghemat biaya produksi.
Di sisi lain, metode 1 tahap ini juga memiliki kelemahan. Karena zat warna bejananya
sudah dijadikan bentuk leuko sejak awal, maka kemungkinan terjadinya premature oxidation yang
disebabkan oleh adanya kontak dengan udara menjadi semakin besar. Apabila garam leuko zat
warna bejana tersebut sudah teroksidasi lebih dulu oleh udara sebelum melewati proses
pembangkitan warna, maka bentuknya akan berubah kembali menjadi pigmen zat warna bejana
yang tidak larut dalam air seperti semula. Oleh sebab itu, ketika dilakukan proses pencapan,
hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapakan termasuk ketuaan dan kerataan warnanya yang
kemungkinan besar akan turun. Mengingat zat warna bejana yang masih berupa pigmen yang tidak
larut dalam air ini tidak memiliki substantivitas terhadap serat. Oleh sebab itu, proses pencapannya
harus dilakukan seteliti dan sehati-hati mungkin agar hasilnya sesuai dengan yang diinginkan.
Berikut ini merupakan pembahasan mengenai ketuaan maupun kerataan warna kain
kapas hasil pencapan dengan zat warna bejana yang divariasikan waktu pengukusannya
(steaming).

1. Ketuaan Warna

PENGARUH WAKTU
PENGUKUSAN (STEAMING)
TERHADAP KETUAAN WARNA
40 Kain III dan IV
KETUAAN WARNA

30 Kain I & II
20
10
0
10 Menit 15 Menit
WAKTU PENGUKUSAN (STEAMING)

Berdasarkan grafik di atas, maka dapat diketahui bahwa kain 3 dan 4 yang proses
pengukusannya (steaming) dilakukan selama 15 menit memiliki warna yang semakin tua jika
dibandingkan dengan kain 1 dan & 2 yang proses pengukusannya (steaming) dilakukan hanya
selama 10 menit.
Adapun hal ini dapat terjadi karena pada proses pengukusan (steaming), fiksasi
antara zat warna dengan serat terjadi. Seperti yang kita ketahui bahwa dengan adanya panas
pada proses pengukusan (steaming) ini akan membuat pori-pori serat terbuka dan membuat
serat menjadi mengembang lebih besar sehingga akan mempermudah zat warna untuk
berdifusi ke dalam serat. Dengan semakin lamanya waktu pengukusan (steaming) yang
diberikan, maka jumlah zat warna yang akan masuk dan berfiksasi dengan serat pun tentunya
akan semakin banyak. Akibatnya, warna kain yang dihasilkan akan semakin tua seperti halnya
yang terjadi pada kain 3 dan 4 yang sama-sama dikukus (steam) selama 15 menit.
2. Kerataan Warna

PENGARUH WAKTU
PENGUKUSAN (STEAMING)
TERHADAP KERATAAN WARNA
25 Kain I & II
KERATAAN WARNA

24
23
22 Kain III & IV
21
20
19
10 Menit 15 Menit
WAKTU PENGUKUSAN (STEAMING)

Berbanding terbalik dengan hasil ketuaan warna, berdasarkan grafik di atas, maka
dapat diketahui bahwa kain 1 & 2 yang proses pengukusannya (steaming) dilakukan hanya
selama 10 menit memiliki kerataan warna yang lebih baik jika dibandingkan dengan kain 3 & 4
yang proses pengukusannya (steaming) dilakukan selama 15 menit.
Adapun hal ini dapat terjadi karena dengan adanya panas selama proses pengukusan
(steaming) berlangsung, pori-pori serat akan terbuka dan membuat serat menjadi mengembang
lebih besar sehingga laju penyerapan zat warna akan semakin besar. Apabila waktunya
berlangsung semakin lama, maka jumlah zat warna yang akan masuk ke dalam serat pun akan
semakin banyak dan menjadi tidak terkontrol sehingga kemungkinan terjadinya penumpukan
zat warna yang terkonsentrasi pada titik-titik tertentu pun akan semakin besar. Hal inilah yang
pada akhirnya menjadi pemicu terjadinya ketidakrataan warna seperti halnya yang terjadi pada
kain 3 & 4.
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat kita ketahui bahwa hasilnya tidak
terlalu sesuai dengan apa diinginkan, terlebih lagi untuk aspek kerataan warnanya. Dimana
keempat kain, baik yang dikukus (steam) selama 10 menit maupun yang dikukus (steam)
selama 15 menit, sama-sama terlihat tidak rata meskipun tingkat ketidakrataan bervariasi.
Adapun hal ini kemungkinan dapat terjadi karena hal-hal berikut ini.

 Terjadinya premature oxidation yang disebabkan oleh adanya kontak dengan udara.
 Reduktor yang digunakan kualitasnya tidak terlalu baik sehingga daya reduksi terhadap zat
warnanya bejananya kurang. Akibatnya, tidak semua pigmen zat warna bejana berhasil
diubah menjadi bentuk garam leuko.
 Zat warna bejana yang digunakan kualitasnya kurang bagus sehingga warna yang
dihasilkan setelah proses pembangkitan warna dilakukan tidak terlalu timbul.
 Pasta cap yang digunakan terlalu kental sehingga membuat zat warna menjadi sulit
bermigrasi. Akibatnya terjadi penumpukan yang terkonsentrasi di titik-titik tertentu yang
pada akhirnya memicu timbulnya belang.

5.2 KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
dengan semakin lamanya waktu pengukusan (steaming), maka warna kain hasil pencapan dengan
zat warna bejana akan menjadi semakin tua. Sedangkan untuk kerataan warnanya justru berbanding
terbalik, semakin lama waktu pengukusan (steaming) berlangsung, maka warna kain hasil pencapan
dengan zat warna bejana akan menjadi semakin tidak rata.
DAFTAR PUSTAKA

 Arifin Lubis,dkk, “TEKNOLOGI PENCAPAN TEKSTIL”, Sekolah Tinggi


Teknologi Tekstil, Bandung, 1998.
 Purwanti, dkk, “PEDOMAN PRAKTIKUM PENCAPAN DAN
PENYEMPURNAAN”, Institut Teknologi Tekstil, 1978.
 Rasjid Djufri, dkk, TEKNOLOGI PENGELANTANGAN, PENCELUPAN, DAN
PENCAPAN” Institut Teknologi Tekstil, Bandung, 1973.
LAMPIRAN

Kain 1 yang dikukus (steam) selama 10 menit


Kain 2 yang dikukus (steam) selama 10 menit
Kain 3 yang dikukus (steam) selama 15 menit
Kain 4 yang dikukus (steam) selama 15 menit