Anda di halaman 1dari 1

Peta jalan menuju masa depan

Sekrang kita sudah sampai disini : di penghujung gelombang kedua. Sejenak kita melakukan
penghentian, menengok ke belakang, menata ulang imaji sejarah kita, lalu menatap kededpan untuk
membuat sebuah peta jalan baru yang akan kita lalui.

Peta jalan kita susun dari lanskap social baru yang kita temukan dari rekonstruksi sejarah yang
telah kita lakukan. Semua penjelasan terdahulu telah menjabarkan bagaimana transformasi terjadi
dalam sejarah bangsa kita serta apa saja factor yang telah mendorong terjadinya transformasi itu.
Peta jalan adalah pilihan yang kita buat ditengah realitas baru yang terpampang di depan mata,
yaitu apa yang kita sebut sebagai masyarakat gelombang ketiga.

Ditengah semua kegaduhan yang kita rasakan selama era Reformasi, harus kita akui tanpa sadar
ada begitu banyak kemajuan yang kita capai secara diam-diam dalam berbagai bidang social,
ekonomi dan politik. Capaian-capaian itulah yang akan saya sebut sebagai keseimbangan baru yang
merupakan sintesis dari semua dialektika dua rezim sebelumnya. Sebab, hanya ketika kita kembali
ke masyarakat, maka semua yang tampak bertentangan dalam politik dan ekonomi seperti antara
demokrasi dan pembangunan ekonomi dapat kita integrasikan dalam kehidupan sebagai bangsa.
Pergulatan mencari system tidak akam pernah berujung dengan pilihan benar-salah, tetapi akan
berhenti sementara pada titik dimana kita menemukan kesesuaian dan kecocokan. Sistem itu
sendiri akan terus mengalami penyesuaian dan penyempurnaan, sebab kekurangan dari sebuah
system hanya dapat ditemukan setelah ia diterapkan di lapangan. Ambil contoh, konsep negara
kesejahteraan (welfare state), yang merupakan koreksi diri sendiri (self adjustment) dari
kapitalisme Eropa Barat ketika sosialisme makin berkembang pesat. Intinya ada pada redistribusi.
Tapi, tanpa sadar adjustment itu kemudian menjadi awal yang menginspirasi ide-ide tentang “Jalan
Ketiga” dikemudian hari.

Langkah pertama untuk melakukan lompatan besar adalah MENGUBAH CARA PANDANG. Harus
ada peralihan dalam cara kita memandang Indonesia dari sebagai entitas politik menjadi entitas
peradaban. Hanya dengan perubahan cara pandang itu kita dapat mengubah cara kita bekerja dan
menglola sumber daya yang kita miliki. Ini yang menjelaskan mengapa dulu bangsa Arab dan
Inggris bisa menjadi pemimpin dunia. Mereka bekerja dalam skla peradaban dan bukan hanya
dalam skala negara. Lihatlah betapa banyak pengguna Bahasa Arab dan bangsa-bangsa non-arab
diseluruh dunia? Begitu juga Bahasa inggris. Bangsa-bangsa itu memimpin dunia selama beberapa
abad dan menjadikan Bahasa mereka sebagai Bahasa yang paling banyak digunakan saat ini.
Bahasa adalah mata yang peradaban.