Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada awal abad 20, tampak bahwa tingkat kematian turun di berbagai Negara
Barat dan tingkat kelahiran juga turun. Kondisi ini menimbulkan teori demografi
yang utama yaitu : Teori Transisi Demografi. Transisi demografi pada dasarnya
mengacu pada perubahan dari satu situasi stationary (saat dimana pertumbuhan
penduduk 0) ke situasi lainnya. Menurut Blacker (1947) ada 5 phase dalam teori
transisi demografi, dimana khususnya phase 2 dan 3 adalah phase transisi.
Indonesia merupakan jumlah penduduk yang banyak. Dapat dilihat dari hasil
sensus penduduk yang semakin tahun semakin meningkat. Dalam pengetahuan
tentang kependudukan dikenal sebagai istilah karakteristik penduduk yang
berpengaruh penting terhadap proses demografi dan tingkah laku sosial ekonomi
penduduk. Dibanding dengan negara-negara yang sedang berkembang lainnya,
Indonesia menempati urutan ketiga dalam jumlah penduduk setelah Cina dan
India. Indonesia merupakan negara yang sedang membangun dengan mempunyai
masalah kependudukan yang sangat serius disertai dengan, yaitu jumlah
penduduk yang sangat besar disertai dengan tingkat pertumbuhan yang relatif
tinggi dan persebaran penduduk yang tidak merata. Jumlah penduduk bukan
hanya merupakan modal, tetapi juga akan merupakan beban dalam
pembangunan.
Pertumbuhan penduduk yang meningkat berkaitan dengan kemiskinan dan
kesejahteraan masyarakat. Pengetahuan tentang aspek-aspek dan komponen
demografi seperti fertilitas, mortalitas, morbiditas, migrasi, ketenagakerjaan,
perkawinan, dan aspek keluarga dan rumah tangga akan membantu para penentu
kebijakan dan perencana program untuk dapat mengembangkan program
pembangunan kependudukan dan peningkatan ksesejahteraan masyarakat yang
tepat pada sasarannya.
Masalah utama yang dihadapi di bidang kependudukan di Indonesia adalah
masih tingginya pertumbuhan penduduk dan kurang seimbangnya penyebaran
dan struktur umur penduduk. Program kependudukan dan keluarga berencana
bertujuan turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi seluruh
masyarakat melalui usaha-usaha perencanaan dan pengendalian penduduk.
Dengan demikian diharapkan tercapai keseimbangan yang baik antara jumlah
dan kecepatan pertambahan penduduk dengan perkembangan produksi dan jasa.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu :
1. Bagaimana Definisi Transisi Demografi ?
2. Bagaimana Teori Transisi Demografi (TTD) ?
3. Bagaimana Konsep Teori Transisi Demografi (TTD) ?
4. Apa saja Kelemahan dan Keunggulan Dari Teori Transisi Demografi (TTD) ?
5. Bagaimana Teori Transisi Demografi (TTD) di Indonesia ?
6. Bagaimana Model-Model Transisi Demografi ?
7. Bagaimana Transisi Mobilitas Penduduk ?
8. Bagaimana Teori Transisi Demografi Menurut Para Ahli ?
C. Tujuan
Berdasarkan papran dari rumusan masalah diatas,maka yang menjadi tujuan
dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Definisi Transisi Demografi
2. Untuk mengetahui Transisi Demografi (TTD)
3. Untuk mengetahui Konsep Teori Transisi Demografi (TTD)
4. Untuk mengetahui Kelemahan dan Keunggulan Dari Teori Transisi
Demografi (TTD)
5. Untuk mengetahui Teori Transisi Demografi (TTD) di Indonesia
6. Untuk mengetahui Model-Model Transisi Demografi
7. Untuk mengetahui Transisi Mobilitas Penduduk
8. Untuk mengetahui Teori Transisi Demografi Menurut Para Ahli
D. Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini adalah agar mahasiswa mapu mengeahui
apa yang menjadi defenisi,tingkatan,serta tahapan dari transisi demografi.
BAB II
PEMBAHASAN
9. Definisi Transisi Demografi
Transisi demografi adalah perubahan terhadap fertilitas dan mortilitas yang
besar. Ilmu yang mempelajari tentang masalah kependudukan adalah Demografi.
Istilah Demografi pertama sekali ditemukan oleh Achille Guillard. John Graunt
adalah seorang pedagang di London yang menganalisis data kalahiran dan
kematian, migrasi dan perkawinan yang berkaitan dalam proses pertumbuhan
penduduk. Sehinnga John Graunt dianggap sebagai bapak Demografi. Dalam
sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi
dan ruang tertentu.
Masalah-masalah kependudukan dipelajari dalam ilmu demografi. Berbagai
aspek perilaku manusia dipelajari dalam sosiologi, ekonimi, dan geografi.
Demografi banyak digunakan dalam pemasaran, yang berhubungan erat dengan
unit-unit ekonomi, seperti pengencer hingga pelanggan potensial
(Wikipedia,2009). Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari
dianmika kependudukan manusia. Meliputi didalamnya ukuran, struktur, dan
distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk setiap waktu akibat
kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat
merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan
kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.
10. Teori Transisi Demografi (TTD)
Terbagi atas tiga tahap, yaitu:
1. Fase pra-transisi
a. Pada masyarakat pra-industri
b. Pada fase ini jumlah penduduk relative stabil, terutama sebagai
konstibutornyaadalah IMR yang mendoinasi.
c. Tingginya IMR disebabkan karena semuanya serta tradisional, terutama
di bidang sanitasi, yankes, transportasi dan juga adanya wabah yang
tinggi.
d. f tinggi disebabkan karena M yang tinggi akibat natural.
e. Pada saat ini norma masyarakat cenderung “pra-Natilasi”(keluarga
besar).
2. Fase Transisi
a. Terjadi peralihan demografi, terutama struktur umur penduduk yang
disebabkan karena perubahan F dan M yang tinggi menuju pada F dan M
yang rendah.
b. Pada saat ini terjadi ledakan penduduk. (population-explotion).jadi sudah
ditemukan penanggulangannya terhadap death rate.
c. Karena terjadi population explotion masyarakat sadar sehingga F
menurun di akhir fase transisi dan mulai dikembangkan adanya “Brith
control dibarengi adanya Revolusi industry
3. Fase Post – Transisi
a. Merupakan fase industri yang disertai modernsasi
b. Yang tadinya menganut “pro-natalis” berubah pola masyarakatnya
menjadi keluarga kecil bahagia sejahtera
c. Terjadi stabilisasi penduduk karena kelahian dan kematian keduanya
rendah .
d. Terjadi perubahan ekonomi anak dimana masyarakat lebbih
mementingkan kualitas dari pada kuantitas.
e. Sudah terjadi Brith control dari yang tradisional sampai dengan modern.
11. Konsep Teori Transisi Demografi (TTD)
Konsep transisi demografi pada dasarnya meneliti tentang sebab mengapa
hampir setiap negara baik negara berkembang maupun negara maju sama-sama
melewati fase yang hampir sama yaitu:
1. Kelahiran dan kematian tinggi
2. Kelahiran masih tinggi, dan angka kematian turun
3. Angka kematian dan angka kelahiran sama-sama turun dan mencapai pada
angka yang rendah, dan kemudian stabil.
Walaupun Blacker mengajukan bahwa tahapan ini dibagi menjadi 5 tahap,
tetapi pada dasarnya sama. Sebelum membahas tentang teori transisi demografi
seperti di atas, dibahas dahulu tentang sedikit sejarah tentang
riwayatperkembangan jumlah penduduk di duia dari masa ke masa. Pada
awalnya, yaitu pada awal tahun masehi jumlah penduduk di dunia diperkirakan
sekitar 250 juta penduduk dengan angka pertumbuhan penduduk hanya sekitar
0,04% per tahun. Kehidupan pada zaman ini masih terbilang sangat sederhana.
Belum tercipta dunia perindustrian dan pola hidup juga masih sangat sederhana
dilihat dari segi kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya. Angka
kelahiran pada saat itu tinggi dibarengi dengan tingginya angka kematian. Laju
pertumbuhan penduduk yang sangat rendah ini bertahan hingga berabad-abad
lamanya. Hingga terjadi revolusi industri yang terjadi sekitar tahun 1750 yang
menyebabkan lonjakan jumlah peduduk yang cukup signifikan. Jumlah penduduk
saat itu mencapai sekitar angka 790 juta jiwa penduduk.
Pada abad berikutnya dampak dari revolusi industri mulai terasa. Revolusi
industri tentu sangat berhubungan erat dengan kemajuan teknologi dalam
berbagai bidang yang mendukukung terjadinya perbaikan kualitas taraf hidup
manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa melahirkan
inovasi-inovasi baru dalam sejarah hidup manusia. Pada abad 19 ditemukannya
obat-obatan seperti penicilin dan ditemukannya inovasi-inovasi dalam dunia
kesehatan yang secara simultan akan mempengaruhi angka kematian manusia
pada waktu itu. Angka kematian turun drastis tetapi tidak dibarengi dengan
turunnya angka kelahiran atau fertilitas. Akibatnya adalah terjadi lonjakan
jumlah penduduk dunia yang lebih signifikan pada waktu tersebut. Terlebih
dengan berkembangnya sarana transportasi yang awalnya hanya untuk keperluan
dagang beralih fungsi menjadi sarana transportasi untuk melakukan perpindahan
penduduk dan untuk dilakukannya distribusi barang-barang dari suatu penjuru
dunia ke tempat lainya. Dunia semakin maju, semakin terasa sempit dengan
dibarengi dengan jumlah penduduk dunia yang kian membanyak dari waktu ke
waktu. Pada tahun 1900an jumlah penduduk dunia sudah mencapai angka sekitar
1,7 milyar jiwa. Bukan hanya jumlah penduduk yang meningkat secara terus
menerus tetapi juga laju pertumbuhanya juga terus meningkat. Jadi jika dilihat
pertumbuhan penduduk mengalami kenaikan menyerupai deret ukur bukan deret
hitung. Bukan hanya semakin bertambah, tetapi juga semakin cepat
bertambahnya. Dari 1,7 milyar, jumlah penduduk dunia melonjak menjadi 2
milyar pada tahun 1930. Dengan semakin berkembangya teknologi kesehatan,
angka harapan hidup juga semakin bertambah baik. Itu terbukti dengan
meningkatnya jumlah penduduk tua yang masih hidup dibandingkan dengan
waktu sebelum ditemukannya teknologi kesehatan yang semakin membaik.
Jumlah penduduk dunia pada tahun 1950 naik lagi menjadi 2,5 milyar. Tetapi
peningkatan mutu pelayanan kesehatan tidak dibarengi dengan dipikirkannya
masalah kelahiran. Jadi angka kelahiran tetap saja tinggi dengan angka
kematianyang semakin turun. Akibat nyata dari hal tersebut adalah jumlah
penduduk yang semakin banyak.
Lonjakan jumlah penduduk cukup berarti pada tahun 1999 yaitu menjadi 6
milyar. Selang satu tahun saja yaitu pada tahun 2000 jumlah penduduk sudah
bertambah sebesar 55 juta jiwa. Higga saat ini penduduk dunia sudah sekitar 7
milyar jiwa. Upaya untuk menngotnrol atau menekan angka kelahiran sudah
dilakukan sejak beberapa puluh tahun lalu. Antara lain dengan program KB yang
dilakukan di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia program semacam ini juga
dilakukan di berbagai negara lain. Upaya-upaya yang dilakukan antara lain
dengan penggunaan alat kontrasepsi. Upaya lain adalah dengan berubahnya gaya
hidup orang yang semakin berubah ke arah modern, pada gaya hidup ini orang
lebih mementigkan karir ketimbang menikah dan memiliki anak. Sehingga
banyak pemuda-pemudi yang menikah pada usia lumaya tua. Biasanya hal
seperti ini terjadi di negara maju, sedangkan untuk negara berkembang atau
negara miskin masih banyak adat yang membuat mereka memiliki anak banyak.
Itu mungkin disebabkan karena tidak adanya lapangan pekerjaan yang
memadaiuntuk ibu-ibu rumah tangga dan juga karena adanya paham bahwa jika
banyak anak maka semkin banyak kesempatan untuk menggantikan tenaga kerja
orang tuanya. Akibat dari hal-hal ini adalah berhasil ditekannya angka kelahiran.
Hal ini bisa disadari sebagai fenomena transisi demografi pada tahap kedua.
Objek penelitian para demografer meneliti transisi demografi sama, yaitu
fenomena pertumbuhan penduduk dari masa ke masa. Beberapa demografer
adalah sebagai berikut :
1. Notestein (1945-1953)
Notestein berpendapat bahwa walaupun faktor utama dari pertumbuhan
penduduk adalah kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk, hanya
kelahiran dan kematian yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk. Jadi
konsep transisi demografi hanya memandang pengaruh dari faktor alamiah
kelahiran dan kematian. Fertilitas yang tinggi diperlukan untuk
mempertahankan keluarga. Transisi demografi bergerak dari suatu kondisi
stabil dengan laju pertumbuhan penduduk nok ke kondisi stabil lainya, yaitu
setelah melalui beberapa tahap.
2. Caldwell (1976)
Caldwell berpendapat bahwa tingginya kelahiran tidak berpengaruh pada
kematian, tidak juga berpegaruh pada adat istiadat, tetapi semata-mata karea
pergeseran keutungan ekonomi. Jadi yang mempengaruhi transisi demografi
adalah karena pergeseran sistem ekonomi yang berlaku, sebagai contoh
karena sistem ekonomi menjadi modern maka keinginan untuk memiliki anak
banyak akan terkurangi dan lebih memilih untuk konsenterasi pada karir
pekerjaan. Hal itu dapat dilihat pada perbedaan sistem keluarga di negara
berkembang dan negara maju. Pada negara berkembang, jumlah anak itu
sedikit dan usia produktif banyak sedangakan pada negara berkembang
jumlah anak banyak dengan pelayanan kesehatan tidak sebaik negara
maju. Orang tua memperoleh keuntunungan ekonomis dari anak-anaknya dan
penurunan fertilitas hanya akan terjadi ketika aliran kekayaan dari anak ke
orang tua dibalik menjadi dari orang tua ke anak.
3. Blacker (1947)
Blacker berpendapat bahwa transisi demografi terbagi menjadi 5 tahap,
yaitu:
a. High stationary
b. Early expanding
c. Late expanding
d. Low stationary
e. Declining
4. Coale (1976-1989)
Pendapat Coale adalah perubahan spesifik terhadap perilaku
reproduktivitas penduduk yang terjadi pada tranformasi penduduk tradisional
menjadi modern.
5. Teitelbum
Dia berpendapat bahwa angka kematian menurun lebih cepat disaat angka
kelahiran masih tetap tinggi. Itu karena angka kematian lebih berhubungan
erat dengan sosial ekonomi.
Berikut dijelaskan transisi demografi yang dijelaskan oleh Blackeryang membagi
transisi demografi menjadi 5 tahapan. Secara grafik dapat digambarkan sebagai
berikut :
1. Tahap 1 High stationary
Pada tahap ini angka kelahiran dan kematian sangat tinggi. Hal yang
menyebabkan adalah karen pola hidup yang masih sederhana, belum
ditemukannya obat-obatan dan alat-alat medis yang canggih. Wabah penyakit
tidak dapat kdikendalikan seperti angka kematian dan kelahiran yang juga tidak
terkendali tiap tahunya. Jadi pertumbuhan penduduk lambat dikarenakan angka
kematian hampir sama dengan angka kelahiran. Contoh dari tahap ini adalah Eropa
pada abad 14.
2. Tahap 2 Early Expanding
Jumlah penduduk naik dengan pesat karena angka kelahiran masih saja tetap
tinggi karena masih ada pandangan bahwa semakin banyak anak maka akan
semakin banyak keuntungan yang didapat. Tingginya angka kelahiran dibarengi
dengan dilaksanakannya revolusi industri yang menemukan obat-obatan dan alat-
alat medis yang sudah lebih canggih sehingga berhasil menekan angka kematian.
Pada awalnya, obat-obatan seperti penicili diciptakan untuk keperluan perang,
tetapi selanjutnya dikonsumsi untuk umum. Dengan ditemukanya obat-obatan
modern, dan pelayanan kesehatan yang lebih baik, maka angka harapan hidup pun
meningkat. Hasilnya, jumlah penduduk dunia naik pesat. Contoh pada tahap ini
adalah India sebelum perang dunia 2, dan Indonesia pada tahun 1980an angka
pertumbuhan sebesar 2,32% per tahun.\
3. Tahap 3 Late Expanding
Pada tahap ini angka kelahiran sudah berhasil ditekan dengan ditemukannya
alat kontrasepsi yang berhasil menekan angka kelahiran. Sementara itu, angka
kematian menunjukkan penurunan yang lebih signifikan dikarenakan pelayanan
medis sudah lebih bagus dan sistem ekonomi juga menunjukkan kondisi yang
lebih baik. Dengan demikian gaya hidup manusia juga sedikit berubah menjadi
manusia modern. Industri membaik dan banyak tenaga kerja terserap, sehingga
angka kelahiran berhasil ditekan. Contoh dari tahap ini adalah India sesudah
perang dunia 2.
4. Tahap 4 Low Stationary
Angka kelahiran semakin bisa ditekan hasilnya angka kelahiran pada tahap ini
berada pada angka yang rendah. Begitu juga dengan angka kematian yang sudah
lebih dahulu berhasil ditekan sebelumnya. Selisih antara keduanya tidak begitu
jauh yaitu pada angka yang relativ rendah. Contoh : Australia, Selandia Baru,
Amerika pada tahun 1930.
5. Tahap 5 Declining
Pada tahap ini terjadi kebalikan yaitu angka kematian malah lebih tinggi
daripada angka kelahiran. Hal ini bisa terjadi karena semakin berhasil ditekannya
angka kelahiran dengan alat kontrasepsi ataupun karena gaya hidup masyarakat
terkait memang sudah berubah. Contoh Jerman tahun 1975.
Transisi demografi sebenarnya menganalisis dan kemudian mengeneralisir
gejala-gejala yang terjadi pada pertumbuhan penduduk masyarakat dunia per
wilayah mereka tinggal, walaupu pada akhirnya juga ditemukan bahwa sebenanya
tidak tepat juga teori itu digeneralisir di detiap wilayah. Ada wilayah atau negara
atau suatu peradaban yang jika dikatakan itu melenceng dari teori yang telah
dikemukakan. Pada umumnya teori transisi demografi menjelaskan perubahan
kehidupan masyarakat dari agraris menjadi industrial. Tetapi pada kenyataanya
ada negara yang sudah bisa menekan angka kelahiran walaupun proses
industrialisasi masih dalam proses awal. Fenomena ini dapat ditemui di negara-
negara di Eropa timur yang masih menjalankan sistem agraris. Kesimpulan yang
didapatkan adalah bahwa tidak hanya proses menuju industrialisasi yang
mempengaruhi pertumbuhan penduduk tetapi juga kesamaan budaya dan kultur
bahasa. Negara-negara di Eropa Timur dekat sekali dengan negara-negara Eropa
yang sudah lebih awal beralih ke industri sebagai sektor utamanya dan sudah
berhasil menekan angka kelahiran.\
Faktor lain yang menyebabkan teori transisi demografi tidak dapat
digeneralisir secara global adalah bahwa pembangunan dan kesejahteraan masing-
masing wilayah itu berbeda. Itu menyebabkan kebudayaan dan proses sosialisasi
atau gaya hidup berbeda. Contohnya saja pada negara berkembang atau negara
miskin masih menganut banyak anak banyak rejeki, dan pada saat yang sama pada
negara maju gaya hidup sudah lebih maju.
Proses transisi demografi juga tidak menunjukkan kecepatan yang sama antara
negara maju dan negara berkembang. Di inggris proses transisi demografi
memerlukan waktu antara 200 tahun, sedangkan di Indonesia hanya perlu waktu
sekitar 30 tahun.
Pada intiya teori transisi demografi dapat digeneralisir di setiap negara itu
tidak benar tetapi kenyataan bahwa setiap negara melalui tahapan-tahapan transisi
demografi itu benar adanya, tetapi dengan keadaan dan kondisi yang berbeda
sesuai adat, budaya, dan keadaan negara tersebut.
Transisi demografi yang terjadi di Indonesia terjadi sama seperti pada teori
yang disepakati. Hanya saja pada tahap tertentu ada sedikit perbedaan dalam
proses pertumbuhan penduduknya. Mungkin Indonesia juga termasuk yang tadi
disebutkan sebagai Negara dengan proses transisi demografi berbeda, yaitu
Indonesia mengalami penurunan angka kelahiran sebelum Indonesia menjalani
proses industrialisasi. Seperti kita tahu Indonesia adalah Negara agraris jadi
sampai saat ini Indonesia masih menjadi Negara agraris. Penurunan angka
kelahiran Indonesia dilakukan dengan cara menjalankan program KB atau
keluarga berencana. Dalam menjalankan program KB digalakkan juga pemakaian
alat kontrasepsi sehingga angka kelahiran bisa ditekan. Indonesia adalah Negara
dengan jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia. Dengan luas wilayah yang
seperti ini, semakin terlihat jelas bahwa Indonesia adalah masih menjadi Negara
berkembang. Biasanya cirri-ciri Negara berkembang adalah memiliki penduduk
yang masih mempunyai anak banyak. Seperti kita tahu, masyarakat jawa pada
beberapa generasi lalu adalah masyarakat dengan jumlah anak yang bisa dibilang
banyak. Jumlah anak 10 atau lebih itu menjadi lumrah. Itu menunjukkan bahwa
masyarakat Indonesia masih belum mempunyai kebudayaan atau gaya hidup
sebagai masyarakat modern. Jadi menurut saya Indonesia masih menjalani proses
menuju kondisi yang stabil sesuai alur yang disepakati di teori transisi domografi.
Semakin berkembangnya jaman kebiasaan memiliki anak banyak juga sudah mulai
ditinggalkan, proses industrialisasi sudah semakin membaik, dan angka kelahiran
sudah cukup berhasil ditekan. Tidak khayal, beberapa waktu yang akan datang
Indonesia akan mencapai keadaan yang stabil dan menyelesaikan transisi
demografi.
Beberapa hal yang menghalangi Indonesia dalam menyelesaikan trasnsisi
demografinya adalah sebagai berikut:
1. Tidak meratanya pembangunan di Indonesia sehingga jurang pemisah
semakin jelas. Seperti kita tahu, di Indonesia masih ada masyarakat primitive
dengan gaya hidup yang masih sangat sederhana, sedangakan di sisi lain
pembangunan dan proses industrialisasi terus berkembang.
2. Pendidikan Indonesia masih perlu ditngkatkan dan diratakan. Salah satu faktor
penentu pertumbuhan penduduk adalah pendidikan wanita. Pendidikan
masyarakat yang tinggi juga akan merangsang pemikiran masyarakat untuk
mempunyai gaya hidup modern.
3. Indonesia adalah Negara agraris. Mungkin ini salah satu penyebab sulitnya
Indonesia berubah menjadi Negara industri karena sebagian masyarakat
Indonesia adalah petani.
12. Kelemahan dan Keunggulan Dari Teori Transisi Demografi (TTD)
1. Kelemahan Teori Transisi Demografi (TTD)
a. Sifat nya hanya menguraikan proses demografi yang sederhana tidak
menjelaskan how and why nya?
b. Kelemahan bervariasi karena perbedaaan pola perkawinan di Eropa barat
ada Brith control sudah ada beberapa negara yang angka kelahiran nya
menurun oleh karena itu turunya Brith rate tidka sepenuhnya disebabkan
oleh industrialisasi.
c. Proses menurunnya F dan M tidak sesederhana yang diungkapkan oleh
TTD contoh di Negara berkembang M menurun bukan karena
industrialisasi karena kemajuan teknologi kedokteran misalnya
ditemukanynya antibiotika.
d. Penurunan fertilisasi di negara berkembang lebih cepat dibandingkan
dialami Negara Eropa abad 17 karena perhatian kepada masalah
kependudukan lebih intens sehingga pengendalian masalah penduduk lebih
baik.
e. Teori ini tidak bisa meramalkan :
1) Kapan dan bagaiman F dan M menurun (tidak menjelaskan kapan fase
I berubah ke fase II lalu ke fase III).
2) Pada kondisi BR dan DR yang bagaimana angkanya turun?
3) Pada kondisi social ekonomi yang bagaimana F dan M menurun?\
4) Pada industrialisasi bagaiman fase ini berubah?
5) Pada waktu berapa lama proses ini berubah?
6) Apakah fase ini dapat dipercepat penurunannya?
7) Setelah fase ke III tercapai bagaiman kondisi berikutnya?
2. Keunggulan dari Teori Transisi Demografi (TTD)
a. DR akan menurun lebih cepat dibandingkan BR
b. Dapat diaplikasikan pada negara-negara yang mempunyai kondisi yang
sama dengan negara Eropa Barat.
13. Teori Transisi Demografi (TTD) di Indonesia
1. Sejak tahun 1950an Indonesia sudah menegnal prose TTD
2. Mortalitas mulai menurun karena sudah diperkenalkan antibotika (penicilin)
dan imunisasi
3. Tingkat mortalitas yang menurun tidak dibarengi oleh menurunnya fertilisasi
sehingga terjadi ledakan penduduk.
4. Dengan adanya program KB maka fertilisasi menurun sehingga terjadi revolusi
fertilisasi ditambah system yankes maka mortalitas menurun lagi
5. Adanya transisi di bidang demografi dan adanya industrialisasi terjadi transisi
di bidang ekonomi social yang menyebabkan transisi di bidang epidemiologi
berarti terjadi peralihan pola penyakit yang berubah dari penyakit infeksi ke
penyakit non infeksi. (penyakit degeneratif0 disebabkan karena “man-made-
disease) “yaitu penyakit karena perubahan perilaku (gaya hidup berubah)
6. Untuk mengantisipasi hal ini khusus di bidang kesehatan terdapat program-
program tambahan seperti: RS Swasta dan RS Khusus, Dokter spesialis,
penempatan dokter-doter PTT dan lain-lain.
14. Model-Model Transisi Demografi
Ada 4 model transisi demografi yang disebabkan oleh perbedaan latar
belakang social ekonomi, politik dan budaya.
1. Model klasik (clssic DF Western Model)
Dijumpai di eropa barat
Angka DR menurun secara alamiah
Angka BR menurun secarah lamiah

2. Model yang dipercepat (accelerated model)


Dijumpai di negara jepang,, eropa timur
dan uni soviet. Variasi dari model klasik
 Fase transisi berlangsung sangat
cepat
 DR menurun drastis diikuti BR
3. Model tertunda (delayed model)
 Dijumpai pada negara-negara
berkembang
 M menurun dengan cepat karena
tenologi kedokteran dan sanitasi, tapi
tidak diikuti oleh penururnan BR
4. Model transisi (trantional model)
 Terjadi dibeberapa Negara
berkembang (Taiwan, Korsel,
Singapura, Cina)
 DR Menurun cepat sebagai upaya
pernaikan bidang kesehatan dan
sanitasi.
 Di Indonesia sudah diperkenalkan
“Birth control” or “Control
Fertilitas”
15. Transisi Mobilitas Penduduk
Table 3.2 Transisi Vital dan Transisi Mobilitas Penduduk

Transisi Vital Transisi Mobilitas Penduduk


Masyarakat Tradisional
Fase A Fase I
Fertilitas dan Mortalitas tinggi Mobilitas penduduk sangat sedikit,
pertumbuhan penduduk alami naik bahkan tidak tampak, kecuali bentuk-
atau turun bentuk sirkulasi terbatas seperti tradisi
kunjungan social, keagamaan
Masyarakat Awal Transisi
Fase B Fase II
Mortalitas turun dengan cepat, Mobilitas penduduk kearah pedalaman,
fertilitas tinggi, pertumbuhan membuat pemukiman baru. Mobilitas
penduduk alami tinggi desa-kota mulai dilatar belakangi
berbagai aktivitas. Mobilitas antar kota
belum terlihat.
Masyarakat Akhir Transisi
Fase C Fase III
Fertilitas dan Moralitas sama-sama Mobilitas penduduk kearah pedalaman
turun namun angka mortalitas turun mulai menurun, mobilitas desa-kota
lebih cepat. masih dominan. Mobilitas antar kota
memasuki tahap awal, mobilitas
sirkuler mulai terlihat.
Masyarakat Maju
Fase D Fase IV
Fertilitas terus menurun, mortalitas Migrasi desa-kota terus meningkat,
stabil, pertumbuhan penduduk terjadi arus tenaga kerja tidak terlatih
mendekati nol. di daerah terkebelakang mobilitas
sirkuler tenaga kerja trampil dan
professional meningkat dalam berbagai
variasi.
Masyarakat Sangat Maju
Fase E Fase V
Perilaku fertilitas tidak dapat diprediksi Mobilitas turun karena sasaran
karena kelahiran dapat dikontrol oleh komunikasi makin sempurna, mobilitas
individu maupun lembaga social. sirkuler meningkat akibat kemampuan
bidang telekomunikasi dan informasi,
bentuk mobilitas sirkuler bervariasi.

16. Teori Transisi Demografi Menurut Para Ahli


1. Warren Thompson
Thompson : Transisi Demografi adalah perubahan tingkat fertilitas dan
mortalitas yang keduanya tinggi, ketingkat fertilitas dan mortalitas yang
keduanya rendah.
a. Deskripsi tentang hal ini terjadi di negara maju pada masa lalu
b. Pada saat ini peristiwa transisi demografi dianggap sebagai hukum tentang
pertumbuhan penduduk.
c. Pada saat itu tingkat kematian menurun karena taraf hidup membaik.
Beberapa decade kemudian fertilitas menurun meskipun tidak serendah
tingkat mortalitas.
d. Ketertinggalan tersebut terjadi karena perubahan nilai yang mendukung
keluarga besar kenilai yang mendukung keluarga kecil membutuhkan
waktu.
e. Pembangunan yang telah berhasil menurunkan tingkat mortalitas,
mengubah masyarakat menjadi masyarakat/industry.
f. Penurunan tingkat mortalitas bayi mengurangi kelahiran anak cacat.
g. Wajib belajar mengurangi nilai anak sebagai tenaga kerja.
h. Keluarga kecil telah meningkatkan kesadaran tentang pembatasan
kelahiran.
2. Ansley Coale
a) Pembangunan/Industrilisasi bukan satu-satunya syarat menurunkan
fertilitas.
b) Provinsi di eropa mengalami penurunan tingkat fertilitas meskipun tingkat
urbanisasi rendah, tingkat mortalitas bayi tinggi dan tingkat partisipasi
dalam pasaran kerja industri rendah.
c) Sekularisasi di provinsi-provinsi agaknya berpengaruh terhadap
penurunan tingkat fertilitas. Sekularisasi dapat menyertai industrilisasi
dapat juga tidak.
d) Pendidikan nerupakan salah satu faktor yang mempengaruhi sikap
sekularisasi.
e) Pendidikan mempermudah penyebaran ide baru dan informasi dibanding
dengan perubahan sosial ekonomi, persamaan kebudayaan (sama bahasa,
etnik, dan cara hidup) lebih kuat pengaruhnya terhadappenurunan
fertilitas.
3. Caldwell
a. Jumlah anak yang diinginkan tergantung pada aliran kekayaan apakah
dari atas ke bawah (orang tua ke anak) atau sebaliknya.
b. pada masyarakat tradisional anak merupakan sumber penghasilan dan
kekuatan. Masyarakat semacam itu punya anak lebih untung dari pada
rugi.
c. proses modernisasi telah mengubah aliran kekayaan yang dulunya dari
bawah ke atas menjadi dari atas ke bawah jadi keinginan mempunyai
keluarga kecil.
d. Atas dasar alasan ekonomi orang sering dianjurkan tidak mempunyai
anak namun kenyataannya anak tetap dilahirkan untuk berbagai alasan
ekonomi.
4. Kinsley Davis
Dengan teori 'Perubahan demografi dan respon' davis berusaha menjawab
pertanyaan "Bagaimana penurunan mortalitas dapat mendorong penurunan
fertilitas"?
a. Jawabannya: makin banyak anak yang mampu hidup sampai dewasa
makin berat beban. Oleh karena itu, cara hidup harus diubah agar beban
menjadi ringan.
b. Mencari tambahan atau mengirim anggota rumah tangga (anak laki-laki
atau perempuan lajang) ke daerah lain untuk mendapatkan kesempatan
kerja.
c. Adapun respon anak adalah: jika kesempatan memperbaiki kondisi sosial
ekonomi ada maka mereka akan mencoba mengambil keuntungan itu dan
menghindari keluarga besar yang menimbulkan masalah bagi orang tua
mereka.
d. Prospek cerahlah yang merupakan motivator untuk keluarga kecil.
Sedangkan menurut Malthus bahwa motivator keluarga kecil adalah
kemiskinan.
5. Easterlin
a. 'Teori Penghasilan Relatif' punya dasar pemikiran bahwa tingkat
kelahiran tidak selalu merupakan jawaban terhadap tingkat ekonomi
tetapi juga terhadap segala sesuatu yang membuat seseorang terbiasa.
b. Asumsi bahwa taraf hidup yang dialami seseorang menjelang usia dewasa
merupakan dasar untuk menilai. Jika seseorang dengan mudah mencapai
tingkat penghasilan lebih baik maka ia cenderung kawin pada usia muda
dan mempunyai anak. Sebaliknya jika dia merasa sulit untuk mencapai
taraf hidup ketika kanak-kanak maka ia akan menunda
perkawinan/kelahiran.
c. Faktor yang berpengaruh terhadap kondisi menguntungkan / tidak ketika
seseorang menjelang dewasa adalah terletak pada keterkaitan siklus
ekonomi dengan respon/jawaban terhadap siklus tersebut dan struktur
umur.
d. Jika dalam suatu masyarakat terdapat sedikit penduduk usia muda dan
kegiatan ekonomi sedang baik, maka permintaan terhadap mereka
tinggi/makin banyak dibutuhkan. Oleh karena itu mereka mampu minta
upah yang tinggi.
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Masalah kependudukan adalah masalah yang paling penting dalam
pembangunan suatu negara karena dapat menghambat pembangunan nasional
yang sedang dilaksanakan. Dengan persebaran penduduk yang lebih merata
dimaksudkan untuk membantu mengurangi berbagai beban sosial, ekonomi dan
ling¬kungan yang ditimbulkan akibat tekanan kepadatan penduduk yang semakin
meningkat. Di samping itu persebaran penduduk yang lebih merata juga
dimaksudkan untuk membuka dan mengem¬bangkan wilayah baru guna
memperluas lapangan kerja dan me¬manfaatkan sumber daya alam sehingga
lebih berhasil guna. Jumlah penduduk yang lebih sedikit akan mempermudah
pemerintah untuk meningkatkan derajat hidup, kesehatan dan kesejahteraan
masyarakat Indonesia. Dengan demikian hasil pembangunan dapat dinikmati
oleh seluruh lapisan masyarakat, baik di wilayah yang berkepadatan tinggi
maupun di wilayah baru.
B. Saran
Penulis berharap banyaknya tersedia literature di perpustakaan pusat demi
kelancaran pembuatan makalah selanjutnya. Penulis memohon kritik dan Saran
dari pembaca demi kesempurnaan pembuatan makalah di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Biran Afandi. 1991. Kontrasepsi, Keluarga Berencana, Ilmu Kebidanan. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka, Sarwono Prawiroharjo.
BKKBN.Gerakan Keluarga Berencana Nasional.Jakarta:1998.
BKKBN.Kependudukan KB dan KIA.Bandung Balai Litbang.1999.
http://warnawarnidina.blogspot.com/2010/10/kependudukan-dan-mobilitas-
sosial.html [diakses 21 MARET 2011].
http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/83/115/.
http://www.hprory.com/transisi-demografi/(bahan kuliah dan makalah kesehatan).