Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS KEBERADAAN VEKTOR DI PELABUHAN PANJANG DAN BANDARA

RADIN INTEN II BANDAR LAMPUNG TAHUN 2018

Nama : Dwi Ruth Rahayuning Asih Budi

NPM : 17420015

Jurusan : Epidemiologi

A. Latar Belakang

Insect dan rodent, baik disadari atau tidak, kenyataanya telah menjadi saingan

bagi manusia. Lebih dari itu insect dan rodent, pada dasarnya dapat mempengaruhi

bahkan mengganggu kehidupan manusia dengan berbagai cara. Dalam hal jumlah

kehidupan yang terlibat dalm gangguan tersebut erat kaitanya dengan kejadian

penularan penyakit. Hal demikian dapat dilihat dari pola penularan penyakit pest yang

melibatkan empat faktor kehidupan, yakni manusia, pinjal, kuman dan tikus.

Pelabuhan laut dan udara merupakan pintu gerbang lalu lintas orang, barang

dan alat transportasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Seiring dengan

meningkatnya arus pariwisata, perdagangan, migrasi dan tekhnologi maka

kemungkinan terjadinya penularan penyakit melalui transportasi semakin besar.

Penularan penyakit dapat disebabkan oleh binatang maupun vector penyakit yang

terbawa oleh alat transportasi maupun oleh vector yang telah ada dipelabuhan laut

atau udara. Serangga yang termasuk vector penyakit antara lain nyamuk, lalat, pinjal,

kecoa dan tungau.

Salah satu tugas pokok dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) kelas II

Pekanbaru dalam mencegah keluar masuknya penyakit dari atau ke luar negeri adalah
melalui upaya Pengendalian Resiko Lingkungan (PRL) di pelabuhan dan alat

transportasi. Upaya ini dilakukan untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit

serta meminimalisasikan dampak resiko lingkungan terhadap masyarakat. Usaha-

usaha PRL dipelabuhan meliputi sanitasi lingkungan dan pemberantasan vector dan

dan binatang penular penyakit. Salah satu kegiatan dalam pemberantasan vector yaitu

pengendalian tikus yang meliputi trapping (pemasangan perangkap untuk mendeteksi,

mengurangi dan mengendalikan kepadatan tikus dan pinjal), pengawasan fumigasi

(pengasapan/pengegasan dengan zat kimia untuk membasmi vektor penyakit di kapal terutama tikus),

pengawasan sertifikat bebas tindakan sanitasi kapal (SSCEC), yang dulunya dikenal dengan istilah

sertifikat bebas hapus tikus, dan pengawasan terhadap PHEIC (Public Health Emergency of International

Concern).

B. Vektor

Menurut WHO (2005) vektor adalah serangga atau hewan lain yang biasanya

membawa kuman penyakit yang merupakan suatu risiko bagi kesehatan masyarakat.

Menurut Iskandar (1989) vector adalah anthropoda yang dapat

memindahkan/menularkan suatu infectious agent dari sumber infeksi kepada induk

semang yang rentan. Sedangkan menurut Soemirat (2005), keberadaan vector

penyakit dapat mempermudah penyebaran agen penyakit. Hal ini menetukan bahwa

masuknya agen baru kedalam suatu lingkungan akan merugikan kesehatan

masyarakat setempat. Menurut Nafika (2008), hewan yang termasuk kepada vector

penyakit antara lain nyamuk, lalat, kecoa, tikus, dan mencit

Tikus adalah hewan mengerat (rondensia) yang lebih dikenal sebagai hama

tanaman pertanian, perusak barang digudang dan hewan penggangu yang menjijikan

di perumahan. Belum banyak diketahui dan disadari bahwa kelompok hewan ini juga

membawa, menyebarkan dan menularkan berbagai penyakit kepada manusia, ternak


dan hewan peliharaan. Rodensia komensal yaitu rodensia yang hidup didekat tempat

hidup atau kegiatan manusia ini perlu lebih diperhatikan dalam penularan penyakit.

Penyakit yang ditularkan dapat disebabkan oleh infeksi berbagai agen penyakit dari

kelompok virus, rickettsia, bakteri, protozoa dan cacing. Penyakit tersebut dapat

ditularkan kepada manusia secara langsung oleh ludah, urin dan fesesnya atau melalui

gigitan ektoparasitnya (kutu, pinjal, caplak dan tungau).

Tikus merupakan hewan liar dari golongan mamalia dan dikenal sebagai hewan pengganggu

dalam kehidupan manusia. Hewan pengerat dan pemakan segala jenis makanan (omnivora) ini sering

menimbulkan kerusakan dan kerugian dalam kehidupan manusia antara lain dalam bidang pertanian,

perkebunan, pemukiman dan kesehatan. Tikus sudah mampu beradaptasi dengan baik serta

menggantungkan dirinya pada kehidupan manusia dalam hal pakan dan tempat tinggal. Selain itu, tikus

dapat membahayakan manusia karena mampu menularkan penyakit pada manusia. Tikus mampu

menularkan penyakit pada manusia dengan membawa benih penyakit, pinjal, kutu, bakteri dan parasit.

Binatang dari suku Murides ini dikenal sebagai sumber beberapa penyakit zoonosis. Beberapa jenis

penyakit yang ditularkan oleh tikus antara lain Pes/Plaque, Leptospirosis, Scub Typhus, Murine Thypus,

Rat Bite Fever, Salmonellosis, Lymphatic Chorionmeningitis, Hantavirus Pulmonary

Syndrome dan Lassa Fever.

Pada kegiatan yang dilaksanakan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) II Panjang Bandar

Lampung , tikus merupakan salah satu icon penting yang menjadi pusat perhatian. Hal itu tercermin

dalam kegiatan-kegiatan di KKP Bandar Lampung untuk mengawasi dan mengendalikan populasi tikus,

seperti trapping (pemasangan perangkap untuk mendeteksi, mengurangi dan mengendalikan kepadatan

tikus dan pinjal), pengawasan fumigasi (pengasapan/pengegasan dengan zat kimia untuk membasmi

vektor penyakit di kapal terutama tikus), pengawasan sertifikat bebas tindakan sanitasi kapal (SSCEC),

yang dulunya dikenal dengan istilah sertifikat bebas hapus tikus, dan pengawasan terhadap PHEIC (Public

Health Emergency of International Concern) yang di dalam IHR 2005 beberapa item penyakit yang
berpotensi menimbulkan wabah merupakan penyakit yang ditularkan oleh tikus, seperti demam lassa

(lassa fever) dan pes (plague).

C. DAMPAK

Selain menimbulkan berbagai penyakit, banyak kerugian yang ditimbulkan

oleh tikus khususnya di lingkungan Pelabuhan/Bandara. Kerugian itu antara lain

mengurangi/menyusutkan komoditas terutama makanan baik makanan mentah

maupun makanan jadi. Tikus juga dapat menimbulkan bau tidak sedap, lingkungan

terlihat jorok, dan tentu saja dapat merusak pemandangan sehingga dapat berdampak

pada menurunnya image suatu Pelabuhan/Bandara dan wilayah sekitarnya di mata

wisatawan baik asing maupun domestik yang berpotensi menurunkan kunjungan

wisata suatu daerah. Tikus juga dapat merusak alat-alat, sarana dan prasarana yang

ada di Pelabuhan/Bandara. Dan yang lebih bahaya lagi, tikus mempunyai kebiasaan

menggigit benda-benda keras apa saja yang ada disekitarnya, termasuk kabel-kabel

listrik. Bisa dibayangkan, apabila di Kapal, Pesawat, Pelabuhan, Bandara, maupun di

rumah-rumah disekitarnya banyak dihuni tikus, maka sangat berpotensi menimbulkan

korsleting yang dapat menimbulkan kebakaran maupun rusaknya sistem keamanan

dan navigasi di Kapal/Pesawat. Dan yang pasti, dengan adanya keberadaan tikus,

dapat menjadi indikator buruknya sanitasi di suatu tempat dan identik dengan

lingkungan yang tidak sehat yang penuh dengan bibit penyakit.

D. PENGENDALIAN VEKTOR

Untuk mengendalikan populasi tikus (baik mencegah maupun memberantas)

dilakukan dengan beberapa cara seperti perbaikan lingkungan (habitat control) yaitu

dengan menciptakan sanitasi yang baik dan bangunan aman tikus (rodent proof).
Secara biologis dapat dilakukan dengan menggunakan predator tikus (seperti kucing

dan ular). Jebakan pada tikus dapat menggunakan perangkap dengan umpan, maupun

jebakan lem. Penolak tikus/rat repeller dapat menggunakan gelombang suara dan

sinar ultra violet. Untuk pemberantasan kimiawi menggunakan gas fumigan dan anti

koagulan/rodentisida. Di KKP, pengendalian tikus yang lazim dilakukan adalah

memasang perangkap tikus di willayah perimeter (dalam) dan buffer (pemukiman

sekitar) Pelabuhan/Bandara, melakukan fumigasi di kapal dengan zat aktif CH3Br

(methyl bromida), serta melakukan pengawasan sanitasi kapal dan pesawat agar

tercipta sanitasi yang baik dan terhindar dari perkembangbiakan tikus.

Komponen-komponen yang dapat dipadukan dalam pengendalian tikus antara lain :

(a) Sanitasi Lingkungan,dilakukan dalam bentuk membersihkan rumah, semak-

semak dan rerumputan, membongkar liang dan sarang serta tempat perlindungan

lainnya. Dengan lingkungan yang bersih, tikus akan merasa kurang mendapat tempat

berlindung.

(b) Fisik dan Mekanis,Usaha pengendalian secara fisik maupun mekanis meliputi

semua cara secara fisik langsung membunuh tikus seperti dengan pukulan, diburu

dengan anjing, menggunakan perangkap tikus, penggunaan pagar plastik dan lain

sebagainya. Cara pengendalian ini biasanya memberikan hasil yang memuaskan.