Anda di halaman 1dari 26

PROPOSAL PENELITIAN

GAMBARAN PERSEPSI IBU TENTANG PEMBERIAN ASI


EKSKLUSIF DI UPT PUSKESMAS BANJARANGKAN I
KABUPATEN KLUNGKUNG

LOGOOOO STIKES

OLEH:
I KOMANG SURYADANA
NIM:16C11927

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI
DENPASAR
2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Asi (Air Susu Ibu ) merupakan makanan yang paling cocok bagi bayi

dan mempunyai nilai gizi yang paling tinggi dibandingkan dengan makanan

bayi yang dibuat manusia ataupun susu hewan, seperti susu sapi. ASI mampu

memberikan perlindungan baik secara aktif maupun pasif, ASI tidak saja

menyediakan perlindungan yang unik terhadap infeksi dan alergi, tetapi juga

merangsang sistem kekebalan bayi itu sendiri. Dengan adanya zat kekebalan

ini bayi ASI eksklusif akan terhindar dari berbagai macam infeksi atau

penyakit.

Sebelum tahun 1999 ASI eksklusif harus diberikan pada bayi usia 0 –

4 bulan, setelah pengalaman selama 9 tahun, UNICEF bersama World Health

Assembly (WHA) memberikan klarifikasi tentang rekomendasi, bahwa ASI

eksklusif dapat diberikan sampai usia 6 bulan (Utami Roesli, 2000).

Pencapaian ASI eksklusif hingga saat ini belum menggembirakan, dari

penelitian terhadap 900 ibu disekitar Jabotabek (2005), diperoleh fakta bahwa

yang memberi ASI eksklusif selama 6 bulan hanya sekitar 5%, padahal 98%

ibu-ibu tersebut menyusui. Dari penelitian tersebut juga didapatkan bahwa

37,9% dari ibu-ibu tersebut tak pernah mendapatkan informasi khusus tentang

ASI, sedangkan 70,4% ibu tak pernah mendengar informasi tentang ASI

eksklusif (Utami Roesli, 2000).


Menurut data di Dines Kesehatan Propinsi Bali, angka Ibu menyusui

dengan ASI Ekslusif di Bali pada 3 tahun terakhir mengalami peningkatan

namun belum mencapai target. Mengacu pada target program pada tahun

2015 sebesar 80%, maka secara Provinsi Bali cakupan pemberian ASI

eksklusif sebesar 72,8% masih belum mencapai target. Menurut

kabupaten/kota, hanya terdapat dua kabupaten yang berhasil mencapai target

yaitu Kabupaten Jembrana sebesar 84,7% dan Kabupaten Gianyar sebesar

80,02%. Buleleng (61,95%), Karangasem (69,68%) dan Klungkung (70,29%)

merupakan tiga kabupaten dengan capaian terendah. Kabupaten Klungkung

yang mengalami penurunan pada 3 tahun terakhir ini, yaitu tahun 2013

sebesar 74% Ibu yang menyusui dengan ASI eksklusif, di tahun 2014 sebesar

72,4% dan tahun 2016 sebesar 70,29% (Profil Kesehatan Prov. Bali 2015)

pemberian ASI eksklusif menurut


kabupaten/kota di Provinsi Bali tahun
2015
90.00%
80.00%
70.00%
60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
20.00%
10.00%
0.00%

Sumber : Profil Kesehatan Prov. Bali 2015

Kabupaten Klungkung memiliki 9 Puskesmas Induk yang meliputi :

Puskesmas Klungkung I, Puskesmas Klungkung II, Puskesmas Dawan I,

Puskesmas Dawan II, Puskesmas Banjarangkan I, Puskesmas Banjarangkan


II, Puskesmas Nusa Penida I, Puskesmas Nusa Penida II, dan Puskesmas

Nusa Penida III. Dari 9 puskesmas di Kabupaten Klungkung tersebut, pada 2

tahun terakhir yang mengalami penurunan angka Ibu dengan ASI Ekslusif

yaitu pada Wilayah Puskesmas Banjarangkan I, yaitu pada tahun 2014

sebesar 62% dari 95% Ibu menyusui, pada tahun 2015 angka cakupan ASI

Ekslusif sebesar 60% dari 97% Ibu menyusui. Dari data Dines Kabupaten

Klungkung tahun 2015 tersebut, angka cakupan ASI Ekslusif terendah dan

menjadi masalah di Kabupaten Klungkung terdapat pada wilayah kerja

Puskesmas Banjarangkan I sehingga Pemerintah Kabupaten Klungkung terus

menggalakkan program pemberian ASI Ekslusif (Dinkes Klungkung)

Jumlah kunjungan ibu menyusui Di UPT Puskesmas Banjarangkan I

Kabupaten Klungkung 3 bulan terakhir ini yaitu: bulan juni terdapat 1350

pasien, bulan juli 1255 pasien dan bulan agustus terdapat 1267 pasien.

Berdasarkan wawancara kami dari petugas kepada 10 kunjungan Ibu

menyusui, 8 orang dari mereka tidak paham mengenai ASI Ekslusif dan

masih mengikuti tradisi lama di masyarakat dalam hal memberi ASI dimana

mereka rata – rata masih memberi makanan tambahan sebelum anak mereka 6

bulan. Kurangnya informasi dan bahkan seringkali ibu-ibu mendapatkan

informasi yang salah tentang pemberian ASI eksklusif ini, mengakibatkan

muncul berbagai macam persepsi, hal ini akan lebih menambah kompleks

permasalahan penggalakan ASI eksklusif.

Berdasarkan data – data tersebut di atas, penulis tertarik melakukan

penelitian tentang “Gambaran persepsi ibu tentang pemberian ASI Eksklusif


di UPT Puskesmas Banjarangkan I Kabupaten Klungkung”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka penulis merumuskan

masalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah gambaran persepsi ibu tentang pemberian ASI Eksklusif

di UPT Puskesmas Banjarangkan I Kabupaten Klungkung?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran persepsi ibu tentang pemberian ASI

Eksklusif di UPT Puskesmas Banjarangkan I Kabupaten Klungkung .

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi seberapa jauh usia berpengaruh terhadap persepsi

ibu tentang pemberian ASI Eksklusif di UPT Puskesmas

Banjarangkan I Kabupaten Klungkung .

b. Mengidentifikasi seberapa jauh pendidikan berpengaruh terhadap

persepsi ibu tentang pemberian ASI Eksklusif di UPT Puskesmas

Banjarangkan I Kabupaten Klungkung .

c. Mengidentifikasi seberapa jauh lingkungan berpengaruh terhadap

persepsi ibu tentang pemberian ASI Eksklusif di UPT Puskesmas

Banjarangkan I Kabupaten Klungkung .


D. Manfaat Penelitian

1. Dapat digunakan untuk menggambarkan persepsi ibu tentang pemberian

ASI Eksklusif.

2. Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meluruskan

persepsi ibu yang salah dalam pemberian ASI Eksklusif.

3. Dapat memberi informasi bagi peneliti berikutnya.

4. Dapat digunakan sebagai sarana untuk menyusun strategi yang tepat dalam

pelaksanaan penggalakan pemberian ASI Eksklusif.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan disajikan tentang konsep dasar persepsi dan konsep ASI

Eksklusif. Konsep dasar persepsi meliputi pengertian persepsi, proses terjadinya

persepsi, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persepsi, salah persepsi dan

bentuknya. Konsep dasar ASI Eksklusif meliputi pengertian ASI Eksklusif, tujuan

pemberian ASI Eksklusif, prosedur pemberian ASI Eksklusif, dan manfaat ASI

Eksklusif.

A. Konsep dasar persepsi

1. Pengertian persepsi

Persepsi atau tanggapan adalah proses mental yang terjadi pada diri

manusia yang akan menunjukkan bagaiman kita melihat, mendengar,

merasakan, memberi,serta meraba sesuatu yang ada disekitar kita

(Widayatun, 1999).

Wiliam James mengatakan, persepsi adalah suatu pengalaman yang

terbentuk berupa data-data yang didapat melalui indra , hasil pengolahan

otak dan ingatan.

Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan

hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan

menafsirkan pesan (Rakhmat,2000).


2. Proses terjadinya persepsi (Widayatun, 1999)

Adanya obyek/stimulus yang ditangkap oleh panca indra, kemudian

stimulus/obyek tadi dibawa ke otak, dari otak muncul respon yang akan

dikembalikan ke indra dan muncul sebagai persepsi/tanggapan.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi (Widayatun, 1999)

a. Cara berfikir, kesiapan mental, kebutuhan dan pendidikan

b. Faktor Ipoleksosbud Hankam

c. Faktor usia

d. Faktor kematangan

e. Faktor lingkungan sekitar

f. Faktor pembawaan

g. Faktor fisik dan kesehatan

h. Faktor proses mental

4. Salah persepsi dan bentuk-bentuknya

a. Ilusi : ada obyek tapi dikualifikasi salah

b. Halusinasi adalah kondisi persepsi dengan tidak adanya obyek (salah

persepsi terhadap obyek)

c. Delusi adalah adanya obyek disekitar individu tapi ditanggap salah

d. Osilasi adalah salah persepsi karena perhatian yang beralih baik dengan

ada obyek maupun tidak.

e. Stereotipy adalah persepsi yang salah karena praduga yang miring atau

buruk terhadap individu yang lebih sering diambil secara umum.


B. Konsep dasar ASI Eksklusif

1. Pengertian ASI Eksklusif

ASI Eksklusif atau lebih tepat pemberian ASI secara eksklusif

adalah bayi hanya diberi ASI saja pada usia 0 – 4 / 6 bulan, tanpa

tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih,

dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, ,

biskuit, bubur nasi, dan nasi tim (Utami Roesli, 2000).

ASI Eksklusif adalah bahwa hanya ASI saja makanan yang diberikan pada

bayi usia 0 – 4 bulan (Suryanah,1996).

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI (Suryanah, 1996).

a. Tata laksana menyusui yang benar

b. Psikologi ibu

c. Kelainan anatomi

d. Hormonal dan kesehatan ibu

e. Gizi ibu

3. Komposisi ASI (Roesli, 2000)

a. Kolostrum

Kolostrom adalah ASI yang keluar dari hari pertama sampai hari ke-4

atau ke-7, berwarna kuning atau dapat pula jernih lebih menyerupai

darah daripada susu,mengandung sel hidup yang menyerupai sel darah

putih yang dapat membunuh kuman penyakit, juga merupakan pencahar

yang ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi

yang baru lahir.


b. ASI transisi/peralihan

ASI yang keluar sejak hari ke-4/ke-7 sampai hari ke-10/ke-14, kadar

protein makin rendah, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin

meningkat, volume juga semakin meningkat.

c. ASI matang / mature

ASI yang keluar setelah hari ke-14 dan seterusnya, komposisi relatif

konstan.

d. Lemak ASI

Lemak utama ASI adalah lemak ikatan panjang (omega-3, omega-6, DHA,

arachidonic acid) suatu asam lemak esensial yang merupakan komponen

penting untuk myelinisasi. Myelinisasi adalah pembentukan selaput isolasi

yang mengelilingi serabut syaraf yang akan membantu rangsangan

menjalar lebih cepat. Lemak berikutnya adalah kolesterol. Kolesterol juga

meningkatkan pertumbuhan otak bayi. Kandungan kolesterol ASI

tergolong tinggi . Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa bayi yang

diberi ASI eksklusif akan mempunyai kadar kolesterol yang lebih tinggi.

Pada saat pertumbuhan otak yang cepat diperlukan kadar kolesterol yang

tinggi . Selain itu kolesterol juga diperkirakan berfungsi dalam

pembentukan enzim untuk metabolisme kolesterol yang akan

mengendalikan kadar kolesterol dikemudian hari sehingga dapat mencegah

serangan jantung dan arteriosklerosis pada usia muda.


e. Karbohidrat ASI

Karbohidrat utama ASI adalah laktosa (gula), laktosa diperlukan untuk

pertumbuhan otak, meningkatkan penyerapan kalsium, meningkatkan

pertumbuhan bakteri usus yang baik, yaitu Lactobacillus bifidus, laktosa

oleh fermentasi akan diubah menjadi asam laktat yang akan memberikan

suasana asam pada usus bayi yang akan menghambat pertumbuhan bakteri

yang berbahaya.

f. Protein ASI

ASI mengandung alfa-laktalbumin yang tidak menyebabkan alergi,

mengandung taurin yang diperlukan untuk: pertumbuhan otak,susunan

syaraf, dan retina, lactoferrin untuk: mengangkut zat besi dari ASI

kedarah, pembunuh bakteri yang jahat, lysosyme sebagai antibiotik alami

di dalam ASI.

g. Faktor pelindung

ASI mengandung sel darah putih: sebagai fagositosit,membuat C3 dan C4,

laktoferin, SIgA , dan juga mengandung imunoglobulin yang melindungi

tubuh terhadap infeksi.

h. Vitamin, mineral dan zat besi

ASI mengandung vitamin dan mineral yang lengkap, meski kadar mineral

ASI relatif rendah, tetapi cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan.
4. Hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI (Depkes RI, 1992)

a. Makanan ibu

Untuk membantu produksi ASI makan ibu harus memenuhi jumlah

kalori, protein,lemak, vitamin dan mineral yang cukup. Ibu dianjurkan

minum lebih banyak  8 – 12 gelas /hari.

b. Ketenangan jiwa dan pikiran

Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, ibu yang selalu

dalam keadaan tertekan, sedih, kurang percaya diri dan berbagai bentuk

ketegangan emosional akan menurunkan volume ASI bahkan produksi

ASI berhenti sama sekali.

c. Penggunaan alat kontrasepsi

Alat kontrasepsi yang tidak tepat dapat mempengaruhi produksi ASI.

d. Perawatan payudara

Perawatan payudara sebaiknya telah dimulai pada masa kehamilan dan

pada saat menyusui.

5. Prosedur menyusui bayi

Prosedur menyusui bayi (Suryanah, 1996)

a. Cara memegang bayi: Cara biasa dengan bantal, Foot ball potition,

Kombinasi lainnya

b. Lama menyusui bayi: Menetek tidak terjadwal (on demand), Payudara

disusukan secara bergantian, Lama menyusui tergantung pada

kemauan bayi, Patokan minimal 10 menit payudara sebelah kiri dan 10

menit payudara sebelah kanan, Menyusui satu payudara sampai


kosong.

Prosedur pemberian ASI (Depkes RI, 1992;20).

a. Jarak menyusui tiap 3 jam

b. Cara menyusui bayi:

1) Duduk dengan posisi santai dan tegak

2) Gunakan bantal atau selimut untuk menopang bayi, bayi

ditidurkan diatas pangkuan ibu dengan cara kepala bayi berada di

siku bagian dalam lengan kiri, hadapkan bayi pada ibu, letakkan

lengan bayi diseputar punggung ibu dan tangan kiri ibu

memegang bokong bayi (bila dimulai dengan payudara kiri)

3) Puting susu dan sekitarnya dibersihkan dengan kapas basah

4) Tangan kanan menyangga payudara kiri dengan ke-4 jari dan ibu

jari menekan payudara bagian atas aerola.

5) Sentuhlah mulut bayi dengan puting payudara, tunggu sampai

mulut bayi membuka lebar.

6) Masukkan secepatnya seluruh puting payudara sampai areola

kedalam mulut bayi hingga terletak antara lidah dan langit-langit.

7) Dekap bayi ketubuh ibu dengan lengan kiri, hingga ujung hidung

bayi menyentuh payudara , tekan sedikit payudara bagian atas

dengan tangan kanan hingga hidung bayi tidak tertutup dan bayi

dapat bernafas dengan baik.

8) Bila bayi selesai menetek, untuk melepaskan jangan sekali-kali

menarik puting susu secara tiba-tiba, tetapi dengan cara tekanlah


dagu bayi atau pijitlah hidungnya dan paling baik dengan

kelingking ibu yang bersih masukkan kedalam sudut mulut bayi.

9) Sebelum disusukan pada payudara sebelahnya, sendawakan

dahulu bayi agar tidak muntah.

10) Setiap kali menetek sebaiknya ditetekkan pada ke dua payudara

bergantian, mulailah menyusui dengan payudara yang terakhir

diberikan tadi. Lama menyusui untuk payudara pertama  10

menit, kedua  20 menit.

6. Manfaat ASI (Roesli, 2000)

a. Bagi Bayi

1) ASI sebagai nutrisi

2) ASI meningkatkan daya tahan tubuh

3) ASI meningkatkan kecerdasan

4) Menyusui meningkatkan jalinan kasih sayang

b. Bagi ibu

1) Mengurangi perdarahan setelah melahirkan

2) Mengurangi terjadinya anemia

3) Menjarangkan kehamilan

4) Mengecilkan rahim

5) Lebih cepat langsing kembali

6) Mengurangi kemungkinan menderita kanker

7) Lebih ekonomis dan murah

8) Tidak merepotkan dan hemat waktu


9) Portable dan praktis

10) Memberi kepuasan bagi ibu

c. Bagi negara

1) Penghematan devisa untuk pembelian susu formula, perlengkapan

menyusui, serta biaya menyiapkan menyusui.

2) Penghematan untuk biaya sakit terutama muntaber dan infeksi saluran

nafas.

3) Penghematan obat-obatan dan sarana kesehatan

4) Menciptakan generasi penerus yang tangguh dan berkualitas untuk

membangun negara

d. Bagi lingkungan

Bertambahnya sampah dan polusi di Indonesia akibat kaleng susu, karton

dan kertas pembungkus, botol plastik dan dot karet.


BAB III

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN VARIABEL PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

1. Kerangka Konsep

Konsep adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat

dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antar

variabel (baik variabel yang diteliti maupun yang tidak diteliti). Kerangka konsep

akan membantu peneliti dalam menghubungkan hasil penemuan dengan teori

(Nursalam, 2003).
Bagan 3.A.1

Ibudengan Persepsi ibu tentang Perilaku ibu dalam

bayi usia 4 Pemberian ASI Pemberian ASI

bl – 1 th Eksklusif Eksklusif

Faktor yang mempengaruhi persepsi: Prosedur :

- Usia Lama

- Pendidikan Cara

- Lingkungan sekitar Frekuensi

Manfaat

- Cara hidup/cara berfikir,

kesiapan mental, kebutuhan ,

wawasan

- Kematangan

- Pembawaan

- Fisik dan kesehatan

- proses mental

Keterangan: Tidak diteliti

Diteliti
B. Hipotesa

Hipotesa adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau

pertanyaan penelitian. Menurut La Biondo-Wood dan Haber dalam Nursalam

(2003) hipotesis adalah suatu asumsi pertanyaan tentang hubungan antara dua

atau lebih variabel yang diharapkan bisa menjawab suatu pertanyaan dalam

penelitian. Tipe hipotesa ada dua yakni :

1. Hipotesa nol (H0) adalah hipotesa yang digunakan untuk pengukuran

statistic dan interpretasi hasil statistik.

2. Hipotesa alternative (Ha/H1) adalah hipotesa penelitian. Hipotesa ini

menyatakan adanya suatu hubungan, pengaruh dan perbedaan antar dua

atau lebih variabel

Hipotesis pada penelitian ini :

Untuk mengetahui gambaran persepsi ibu tentang pemberian ASI Eksklusif

yang dilakukan di UPT Puskesmas Banjarangkan I Kabupaten Klungkung.

C. Variabel Penelitian

1. Identifikasi Variabel

a. Variabel Independent

Variabel yang diduga sebagai faktor yang mempengaruhi persepsi

diantaranya adalah:

1) Usia Klien

a)  20 tahun

b) 21 – 30 tahun

c) 31 – 40 tahun
d)  40 tahun

2) Pendidikan

a) Tidak tamat SD

b) SD

c) SMP

d) SMA

e) PT

3) Lingkungan

a) Kebiasaan masyarakat sekitar

b) Informasi yang tersedia

c) Dukungan suami

b. Variabel Dependent

Variabel dependent adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel-variabel

bebas atau independent (Notoatmodjo, 1993).

Variabel dependennya adalah:Persepsi ibu tentang pemberianASI Eksklusif:

1) Prosedur Pemberian

a) Cara pemberian

b) Lama pemberian

c) Frekuensi pemberian

d) Manfaat ASI Eksklusif


2. Definisi Operasional

Tabel C.1 definisi Operasional

Variabel Definisi Parameter Alat Ukur Skala

1.Independent:

- Usia Usia Ibu saat ini -  20 th Kuesioner Ordinal - 

- 21 – 30 th - 2

- 31 – 40 th - 3

-  40 th - 

- Pendidikan Pendidikan formal - Tidak tamat SD Kuesioner Ordinal - T

yang ditempuh - SD - S

- SMP - S

- SMA - S

- AKademi/PT - A

- Lingkungan Kondisi - Kebiasaan/ adat Kuesioner Ordinal - S

sekitar lingkungan/budaya masyarakat sekitar - S

yang mempengaruhi - Dukungan suami/ - S

persepsi ibu keluarga

- Informasi yang tersedia

2.Dependent Tanggapan Ibu - Persepsi terhadap Diuji

variabel terhadap pemberian prosedur pemberian Perse

- Persepsi Ibu ASI Eksklusif - Persepsi tentang manfaat Kuesioner Ordinal Perse

tentang ASI tentang Prosedur dan pemberian

Eksklusif manfaatnya
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian adalah seluruh dari perencanaan untuk menjawab pertanyaan

penelitian dan mengantisipasi beberapa kesulitan yang mungkin timbul selama proses .

Berdasarkan tujuan penelitian desain penelitian yang digunakan : Diskriptif cross sectional

,yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antar faktor-faktor resiko

dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada

suatu saat, dimana tiap subyek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran

dilakukan terhadap suatu karakter atau variabel subyek pada saat pemeriksaan, hal ini

tidak berarti bahwa subyek diamati pada waktu yang sama (Notoatmodjo, 1993).

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di UPT Puskesmas Banjarangkan I Kabupaten Klungkung.

Waktu yang dibutuhkan sekitar ….. (disesuaikan dengan jadwal penelitian selanjutnya)

C. Populasi, Sampel dan Sampling

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan dari obyek penelitian atau obyek yang akan diteliti

(Notoatmodjo, 1993).

Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu menyusui yang berkunjung ke UPT

Puskesmas Banjarangkan I Kabupaten Klungkung.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili
seluruh populasi (Notoatmodjo, 1993). Sehubungan dengan keterbatasan biaya dan

waktu yang dimiliki , kami mengambil sampel sesuai kondisi kunjungan Ibu menyusui..

Kriteria inklusi:

1) Ibu menyusui di UPT Puskesmas Banjarangkan I yang bersedia diteliti

2) Ibu menyusui usia bayi 4 bulan sampai 1 tahun

Kriteria eksklusi:

1) Ibu menyusui yang tidak bisa baca tulis

2) Ibu menyusui yang dalam kondisi sakit

3. Teknik Sampling

Sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi porsi dari populasi (Burns & Grove,

1991). Penelitian ini menggunakan menggunakan “consecutive sampling”. Pada

sampling ini setiap klien yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan dalam penelitian

sampai kurun waktu tertentu sehingga jumlah responden terpenuhi (Chandra, 1995).

D. Pengumpulan Data

1. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data berupa kuisioner dengan pertanyaan tertutup. Untuk mengukur

persepsi digunakan skala Likert, responden ditanya untuk mengidentifikasi apakah

sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, sangat setuju ( skor 0 – 3 ) dengan pernyataan

yang diajukan.Kuisioner yang digunakan sudah baku.

2. Alat Pengumpulan data/Instrument

Instrumen berupa kuisioner dibagikan ke responden. Kuisioner berisikan tentang

pertanyaan – pertanyaan terkait ASI Ekslusif.

3. Teknik Pengumpulan data

Dalam melakukan pengumpulan data ini, peneliti mendapat rekomendasi dari

STIKES BALI Denpasar dan permintaan ijin ke Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Klungkung yang tembusannya disampaikan ke Kepala UPT Puskesmas Banjarangkan

I Kabupaten Klungkung untuk mencari data – data yang diperlukan peneliti.

E. Analisa Data

Dari hasil pengisian kuesioner, akan dijelaskan secara diskriptif dengan menggunakan

tabel distribusi yang dikonfirmasikan dalam bentuk prosentase dan narasi.

Untuk mengetahui persepsi dari responden dengan menggunakan skor – T:

Rumus skor – T = 50 +10 X– X

SD

Keterangan : X = Skore responden

X = Nilai rata-rata kelompok

SD = Standart Deviasi (simpangan baku kelompok)

Kemudian untuk mengetahui kategori persepsi responden dicari median nilai T ( Md T)

dalam kelompok, maka akan didapat :

Persepsi responden positif, bila nilai T  Md T

Persepsi responden negatif, bila nilai T < Md T

(Azwar, 1998).

Untuk mengetahui pengaruh faktor usia, pendidikan, dan lingkungan terhadap persepsi

ibu tentang pemberian ASI Eksklusif, dilakukan dengan uji Chi-Square dengan derajat

kemaknaan p  0,05 artinya ada hubungan yang bermakna antara 2 variabel, maka Ho

ditolak.
F. Etika Penelitian

Setelah mendapat persetujuan dari Kepala UPT Puskesmas Banjarangkan I Kabupaten

Klungkung, barulah melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang

meliputi:

1. Informed consent

Informed consent atau lembar persetujuan diberikan pada subyek yang akan diteliti.

Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan riset yang dilakukan dan dampak yang

mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data. Jika Ibu menyusui bersedia

diteliti, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut. Jika ibu

menyusui menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap

menghormati hak-haknya.

2. Anonimity (tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan ibu menyusui, peneliti tidak mencantumkan nama

koresponden pada lembar pengumpulan data, cukup dengan memberi nomor kode

pada masing-masing lembar tersebut.

3. Confidentiality (kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi ibu menyusui dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data

tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil riset.