Anda di halaman 1dari 163

TEORI PERUBAHAN

K + A + IC + BR BC TR CR
Pengetahuan Khalayak target Khalayak target Pengembangan Masyarakat Menurunnya laju Menyelamat-
mengenai nilai bertambah mulai membica- sistem intensifikasi Petani perusakan hutan kan hutan
penting hutan kemauan untuk rakan nilai pen- pertanian dengan menggarap akibat Ujung Kulon
untuk daerah mengadopsi ting hutan se- hasil yang tinggi lahannya perambahan sebagai habitat
tangkapan air sistem pertanian bagai daerah dengan pola hutan untuk badak Jawa
yang baik serta tangkapan air Pengembangan intensifikasi pertanian dan dan daerah
Peningkatan sumber sumber-sumber pertanian dan penurunan penting
kesadaran pendapatan Masyarakat. pendapatan Petani tidak penebangan liar tangkapan air
mengenai alternatif yang membicarakan lainnya memperluas
pentingnya lebih produktif sistem dan teknik (Kelompok- lahan garapan
TNUK tersebut dan pertanian yang kelompok usaha dalam kawasan
sebagai habitat berkelanjutan baik serta sumber ekonomi) TNUK
badak dan juga pendapatan
sebagai alternatif yang
penunjang lebih produktif
kehidupan dan berkelanjutan

Untuk mengurangi ancaman terhadap kawasan TNUK yang penting sebagai habitat badak jawa, pembukaan lahan hutan untuk tujuan pertanian dan
pembalakan liar akan diminimalisasi. Para petani lokal akan diberikan informasi mengenai nilai kehati dari kawasan TNUK, serta keuntungan mengadopsi
system intensifikasi pertanian dan sumber pendapatan lainnya yang sudah dikembangkan dan mulai diterapkan di kawasan tersebut. Sistem dan teknik
pertanian yang baru ini akan memberikan pendapatan yang lebih tinggi dan berkelanjutan kepada para petani, dan juga akan mempertahankan system
penyangga kehidupan hutan. Mereka akan diperkenalkan pada system dan teknik intensifikasi pertanian dan sumber pendapatan lainnya untuk diadopsi dan
mempraktekannya. Pada tahun pertama paling tidak terjadi 50 % adopsi dari teknik dan system intensifikasi pertanian. Kampanye pride di kawasan ini akan
dianggap sukses jika tidak ada lagi pembukaan hutan baru sebagai lahan pertanian, dan selama 1 tahun kampanye berkurang sebesar 40 % serta habitat i
badak jawa tetap terjaga.

1
PENDAHULUAN
oleh Indra K. Harwanto
Hampir 9 tahun saya bekerja di Taman Nasional Ujung Kulon, Ditjen Perlindungan Hutan dan
Konservasi Alam Departemen Kehutanan, sebagai pejabat fungsional Pengendali Ekosistem Hutan.
Hampir seluruh kawasan Taman Nasional Ujung Kulon telah Saya kunjungi dalam berbagai kegiatan,
khususnya kawasan Gunung Honje dan Semenanjung Ujung Kulon yang merupakan habitat badak
Jawa yang endemik dan terancam punah populasinya. Bersama dengan teman-teman, saya menjadi
saksi terus meningkatnya kerusakan hutan yang disebabkan oleh perambahan hutan untuk sawah,
penebangan hutan, dan peristiwa kebakaran hutan. Bahkan, konflik dengan masyarakat setempat pernah kami alami, berbagai
upaya dan dialog untuk mencari solusi telah kami lakukan, penegakan hukum semakin ditingkatkan baik pendanaan maupun
kegiatan dilapangan, namun realita di lapangan justru semakin banyak konflik dengan masyarakat yang terjadi. Taman Nasional
Ujung Kulon dalam 2 tahun terakhir, memprioritaskan pendekatan berbasis partisipasi masyarakat, dengan harapan mendapatkan
solusi yang terbaik dalam mengurangi ancaman terhadap kawasan. Pride campaign adalah salah satu upaya untuk mengurangi
ancaman tersebut.
Rencana Proyek ini menyediakan bukti dokumenter dari tahap pertama kampanye Pride di Taman Nasional Ujung Kulon
yang menguraikan bagaimana ancaman terhadap Taman Nasional Ujung Kulon diidentifikasi dan diuji kebenarannya, bagaimana
sumber-sumber ancaman tersebut divalidasi dan perilaku yang ada diidentifikasi. Rencana Proyek ini menjelaskan proses-proses
yang digunakan untuk mengembangkan model konseptual dan peringkat ancaman, juga bagaimana dan mengapa khalayak
dibagi-bagi dan pesan-pesan dibuat. Sasaran proyek yang diatur dalam rencana ini dan strategi pengawasan yang dijabarkan telah
diperiksa oleh pemangku kepentingan utama dan keseluruhan rencana telah dibaca dan disetujui oleh Kepala Taman Nasional
Ujung Kulon.

2
DAFTAR ISI

3
A. RINGKASAN EKSEKUTIF

4
A. Ringkasan Eksekutif

KILASAN KAMPANYE
NEGARA (UN), Negara Bagian atau INDONESIA, BANTEN
Provinsi
Nama lokasi TAMAN NASIONAL UJUNG KULON
RarePlanet URL www.rareplanet.org/ujungkulon
Informasi Angkatan Simpul : University of Texas et el Paso
(Nama Angkatan, nomor, dan manajer Nama : METAMORFOSA
utama) Nomor :
Supervisi : Pairah
Jangka waktu proyek 15 Oktober 2008 (Tahap Universitas) sampai 15 Juli 2010 (Tahap Penyelesaian Proyek)
Lembaga pemimpin Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Kontak lembaga pemimpin Ir. Agus Priambudi, M.Sc, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Dirjen PHKA, Departemen Kehutanan
(misalnya Direktur Eksekutif)
Nama manajer kampanye Indra Kristiawan Harwanto, Pengendali Ekosistem Hutan di Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Mitra “BINGO” WWF proyek ujung kulon (Project Leader Adhi Rachmat ; +62818134178, email : ahariyadi @wwf.or.id
(dan rincian kontak)
Mitra lain 1. Monitoring hasil dan evaluasi kegiatan, membantu fasilitator : LATIN (Lembaga Alam Tropika Indonesia) ;
(dan rincian kontak) (Direktur eksekutif Arief Aliadi Hp.+628121102660)
2. Penyingkir Hambatan : Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten (PPL), RARE dan PT. Tanindo
Ancaman utama yang ditangani Pembukaan lahan baru didalam kawasan TNUK untuk sawah
Kategori ancaman IUCN : 2.1 (Annual and perennial non timber crops)
Sasaran keanakeragaman hayati Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus, Desmarest 1822)
utama
Slogan kampanye Ujung Kulon Lestari Masyarakat Sejahtera

5
Khalayak sasaran utama Petangi penggarap di sekitar Taman Nasional Ujung Kulon
(dan populasi)
jumlah hektar yang terancam Taman Nasional Ujung Kulon memiliki luas total 120.551 ha. Kampanye akan berpusat pada petani penggarap
disekitar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, 10 desa di 2 kecamatan dengan luas ± 11.691 Ha

Kampanye Teori Perubahan Untuk mengurangi ancaman terhadap kawasan TNUK yang penting sebagai habitat badak jawa, pembukaan
(Maksimal 175 kata) lahan hutan untuk tujuan pertanian dan pembalakan liar akan diminimalisasi. Para petani lo kal akan diberikan
informasi mengenai nilai kehati dari kawasan TNUK, serta keuntungan mengadopsi system pertanian menetap
dan sumber pendapatan lainnya yang sudah dikembangkan dan mulai diterapkan di kawasan tersebut. Sistem
dan teknik pertanian yang baru ini akan memberikan pendapatan yang lebih tinggi dan berkelanjutan kepada para
petani, dan juga akan mempertahankan system penyangga kehidupan hutan. Mereka akan diperkenalkan pada
system dan teknik pertanian menetap dan sumber pendapatan lainnya serta mendapatkan pelatihan dan
pendampingan teknis untuk mengadopsi dan mempraktekannya. Pada tahun pertama paling tidak terjadi 50 %
adopsi dari teknik dan system agroforestry. Kampanye pride di kawasan ini akan dianggap sukses jika 30 % petani
penggarap lahan dalam kawasan TNUK tidak melakukan pembukaan dan perluasan lahan garapannya selama 1
tahun kampanye serta tidak diketemukan aktivitas pembukaan dan perluasan lahan garapan untuk pertanian pada
tahun 2015.

6
A. Ringkasan Eksekutif

INFORMASI LOKASI
Deskripsi lokasi Geologi
(maks. 275 kata) Taman Nasional Ujung Kulon yang meliputi Pegunungan Honje, Semenanjung Ujung Kulon dan Pulau Panaitan termasuk
sistem pegunungan tersier muda yang menutupi strata pra-tersier dari dangkalan sunda pada zaman tersier. Selama masa
Plistosen deretan pegunungan Honje diperkirakan telah membentuk ujung selatan dari deretan pegunungan Bukit Barisan
di Sumatera, yang kemudian terpisah setelah terlipatnya kubah Selat Sunda. Bagian tengah dan timur Semenanjung Ujung
Kulon terdiri dari formasi batu kapur miosen yang tertutupi oleh endapan aluvial di bagian utara dan endapan pasir di bagian
selatan. Di bagian baratnya yang merupakan deretan Gunung Payung terbentuk dari endapan batuan miosen. Di bagian
timurnya yang merupakan deretan pegunungan Honje, batu-batuanya lebih tua tertutup oleh endapan vulkanis dan tufa laut
di bagian tengah dan tertutup oleh batuan kapur dan liat (marl) di bagian timur. Pulau Panaitan mempunyai lipatan dan
formasi batuan yang sama dengan yang terlihat di Gunung Payung, dan di bagian barat terutama barat laut ditemukan
bahan-bahan vulkanis termasuk breksia, tufa dan kuarsit yang terbentuk pada zaman holosen. Tanah di kawasan Taman
Nasional Ujung Kulon khususnya Semenanjung Ujung Kulon telah mengalami modifikasi lokal yang ekstensif seiring
dengan terjadinya endapan gunung berapi selama letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 (Hommel, 1987). Bahan
induk tanah di Taman Nasional Ujung Kulon berasal dari batuan vulkanik seperti batuan lava merah, marl, tuff, batuan pasir
dan konglomerat. Jenis tanah yang paling luas penyebarannya di sebagian Gunung Honje, Semenanjung Ujung Kulon dan
sebagian Pulau Peucang adalah jenis tanah kompleks grumusol, regosol dan mediteran dengan fisiografi bukit lipatan. Di
daerah Gunung Honje terdapat pula tipe tanah regosol abu-abu berpasir di daerah pantai, tanah podsolik kekuningan dan
coklat, tanah mediteran, grumusol, regosol dan latosol. Tanah-tanah tersebut umumnya mempunyai tingkat kesuburan
rendah dan miskin hara

Topografi
Topografi Taman Nasional Ujung Kulon bagian timur didominasi oleh deretan pegunungan honje dengan puncak tertinggi
620 meter diatas permukaan laut. Di sebelah baratnya dihubungkan oleh dataran rendah tanah genting yang merupakan
bagian dari Semenanjung Ujung Kulon dan merupakan daratan utama Taman Nasional Ujung Kulon. Semenanjung ini
mempunyai topografi datar di sepanjang pantai utara dan timur, bergunung dan berbukit-bukit di di sekitar Gunung Telanca,
dan pantai bagian barat daya dan selatan di sekitar Gunung Payung dengan puncak tertingginya 480 m diatas permukaan
laut. Dataran rendahnya merupakan rawa-rawa yang ditumbuhi bakau dan pantainya terdiri dari formasi dataran pasir dan
batu karang. Pulau Panaitan sebagian besar topografinya datar sampai berbukit dan bergunung dengan puncak tertinggi
Gunung Raksa 320 m diatas permukaan laut. Pantainya datar berpasir dengan beberapa berbatu karang yang indah.

7
Sistem Drainase
Perairan Sungai : Pada daerah berbukit di bagian barat banyak sungai kecil dengan arus yang umumnya deras dan tidak
pernah kering sepanjang tahun, yang berasal dari Gunung Payung. Di bagian timur Semenanjung Ujung Kulon tidak
memiliki pola aliran sungai yang baik, dan umumnya mengalir kearah utara, timur dan selatan dari daratan Telanca dengan
muara-muara yang berendapan/gugusan pasir, sehingga membentuk rawa-rawa musiman. Di Gunung Honje membentuk
dua aliran sungai yaitu ke arah barat (Teluk Selamat Datang) dan ke arah timur/ selatan (Samudera Hindia). Pada
umumnya merupakan sungai-sungai kecil dan potensial sebagai sumber air untuk keperluan penduduk. Sedangkan di
Pulau Panaitan umumnya mempunyai pola aliran sungai yang baik yang mengalir ke arah pantai dengan sungai-sungai
kecil dan sungai besar.
Ukuran
Taman Nasional Ujung Kulon mempunyai luas 120.551 Ha, terdiri dari kawasan perairan 44.337 Ha dan kawasan daratan
seluas 76.214 Ha.

Jelaskan iklim yang ada di lokasi, bersama data suhu dan curah hujan bulanan.
Mempunyai iklim tropik laut, dan menurut Schmidt & Ferguson (1951) termasuk klasifikasi tipe iklim B dengan nilai Q =
20,4. Curah hujan rata-rata tahunan sebesar 3249 mm dengan temperatur 25-30 °C dan kelembapan 80-90 % serta
intensitas radiasi surya 0,621-0,669 cl/cm2/ml.. Musim hujan basah terjadi pada bulan Oktober sampai April bersamaan
dengan terjadinya musim angin barat laut. Curah hujan tiap bulan rata-rata mencapai lebih dari 200 mm, dengan curah
hujan tertinggi pada bulan Desember mencapai lebih dari 400 mm. Musim kemarau/ kering (Mei-September). Angin bertiup
dari arah barat laut (Oktober-April) dengan kecepatan besar dan sekali-kali sering terjadi badai yang menyebabkan pohon
tumbang dan menyulitkan perjalanan kapal karena ombak besar. Sedangkan angin dari arah timur (Mei-September)
membuat perairan Semenanjung Ujung Kulon menjadi terang dan kurang berombak.

Tipe ekosistem (IUCN) Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon merupakan sisa letusan Gunung Krakatau, selanjutnya mengalami suksesi dengan
cepat sehingga menghasilkan vegetasi dan hidupan liar yang beranekaragam, TNUK memiliki tiga tipe ekosistem yaitu
ekosistem perairan laut, ekosistem pesisir pantai dan ekosistem daratan/ teresterial. Ekosistem perairan laut terdiri dari
habitat terumbu karang dan padang lamun dengan luas yang ekstensif pada sebagian besar perairan Semenanjung Ujung
Kulon Pulau Handeuleum, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan (IUCN 13.4). Ekosistem pesisir pantai terdiri dari hutan
pantai dan hutan mangrove di bagian timur laut Semenanjung Ujung Kulon dan sekitarnya (IUCN 1.7), Ekosistem daratan
umumnya berupa hutan tropika asli yang terdapat di Gunung Honje, Semenanjung Ujung Kulon dan Pulau Panaitan (IUCN
1.6).

8
Peta lokasi (topografi)

9
Koordinat GPS (Google 102°02’32” – 105°37’37” BT dan 6°30’43” – 6°52’17” LS
Earth)
Hotspot Keanekaragaman Sundaland Hotspot
hayati
Status perlindungan- World Heritage Site
kawasan lainnya
Jumlah hektar sasaran ± 400 ha
kampanye

10
A. Ringkasan Eksekutif

SPESIES TERANCAM PUNAH


Nama spesies (umum) Badak Jawa
Nama spesies (ilmiah) Rhinoceros sondaicus (Desmarest, 1822)
Deskripsi spesies bendera/spesies Badak jawa merupakan mamalia besar langka yang masih bisa bertahan hidup dan berkembangbiak di habitat
flagship satu-satunya yang tersisa di dunia yaitu di Taman Nasional Ujung Kulon. Melindungi badak Jawa, berarti
(maks 250 kata) melindungi habitatnya, dan daerah penyangga sekitarnya. Badak Jawa merupakan binatang yang memiliki sifat
soliter, perkembangan populasi dari tahun ke tahun tidak mengalami perubahan jumlah yang signifikan, berkisar
antara 50 s.d 60 ekor. Badak Jawa memiliki tebal kulit 1-2 cm, tinggi badan 120 – 150 cm dan memiliki corak kulit
berbentuk prisma. Karena memiliki darah panas, maka dalam menstabilkan suhu tubuhnya badak Jawa
melakukan berkubang. Badak Jawa memiliki perilaku makan yang agak unik, yaitu dengan cara memangkas,
merenggut, merubuhkan dan memotong, salah satu jenis pakan yang paling sering dimakan adalah jenis
Sulangkar dan Rotan.

Jumlah spesies pada Daftar Data Jumlah spesies badak di dunia ada 5 teridiri dari badak jawa, badak sumatera, badak india, badak afrika dan
Merah IUCN badak vitnam, badak Jawa merupakan salah satu spesies yang terdapat pada Daftar Data Merah IUCN dan
dimasukkan sebagai endegered, karena jumlah populasi dan habitatnya yang terbatas.

Jumlah spesies yang endemik Taman Nasional Ujung Kulon memiliki beberapa jenis spesies yang endemik yaitu Owa Jawa (Hylobates moloch)
, surili (Prysbytis, sp), Kokoleceran (Vatica bantemensis) dan Kitenjo

11
A. Ringkasan Eksekutif

ANCAMAN
Ancaman (IUCN) Ancaman berikut ini memberikan dampak terhadap kawasan Taman Nasional Ujung Kulon pada umumnya dan
khususnya pada habitat badak Jawa :
 Pembukaan lahan baru untuk pertanian (sawah),
– Aktifitas pembukaan lahan baru untuk sawah atau pertanian akan mengancam pada habitat badak Jawa,
ancaman ini menjadi serius karena masyarakat mempunyai persepsi bahwa untuk meningkatkan hasil
pertanian mereka harus melakukannya dengan cara perluasan lahan.
- Kategori ancaman IUCN: 2.1 (Annual and perennial non timber crops)
 Penebangan Liar
– Ancaman penebangan liar terhadap kawasan hutan Gunung Honje disebabkan karena untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya dan tidak adanya aktifitas lain yang dapat digunakan untuk menambah pendapatan
ekonominya, dampak yang akan ditimbulkan apabila ancaman itu dibiarkan adalah akan meluas hingga
habitat badak Jawa.
- Kategori ancaman IUCN: 5.3 (Penebangan pohon dan pemanenan kayu)
 Kebakaran Hutan (Kebakaran & Pemadaman Kebakaran)
Ancaman (lanjutan)
– Pada tahun 2007 terakhir kali terjadi kebakaran hutan di kawasan hutan Gunung Honje, kebakaran
disebabkan karena adanya keteledoran masyarakat yang membuang punting rokok dan adanya bekas
perapian yang digunakan untuk mencari madu hutan, perapian tersebut lupa dimatikan. Dampapak yang
ditimbulkannya terbatas karena adanya partisipasi dari masyarakat dalam memadamkan api dan
kesigapan petugas TNUK.
- Kategori ancaman IUCN: 7 (Modifikasi Sistem Alami): 7.1 Kebakaran & Pemadaman Kebakaran
 Perburuan Babi Hutan di kawasan TNUK (Perburuan & Pengambilan Hewan Daratan)
– Kegiatan perburuan babi hutan dilakukan karena babi hutan dianggap sebagai hama tanaman pertanian
mereka, dampak yang ditimbulkannya sangat terbatas karena hanya dilakukan di kawasan Gunung Honje
bagian Timur.
- Kategori ancaman IUCN: 5 (Penggunaan Sumber Daya Alam Hayati): 5.1 Perburuan dan pengambilan
hewan daratan.
 Pertambangan Liar (pertambangan dan penggalian)
– Pertambangan liar dilakukan untuk mengambil pasir, batu dan emas. Saat ini kegiatan tersebut sudah

12
A. Ringkasan Eksekutif
berhenti karena alternatif yang lebih murah dan mudah telah ditemukan, selain itu adanya penegakan
hokum membuat mereka jera.
– Kategori ancaman IUCN: 3 (Produksi Energi & Pertambangan) : 3.2 Pertambangan & Penggalian
Ancaman yang ditangani dengan Ancaman diberi peringkat menggunakan Miradi dengan Lingkup (Scope), Tingkat Kerusakan (Severity) &
kampanye (IUCN) Ketakberbalikan (Irreversibility). Pembukaan lahan baru untuk sawah didalam kawasan memiliki peringkat
ancaman sangat tinggi, karena memberikan dampak pada penyempitan dan kerusakan habitat badak Jawa dan
kawasan hutan Gunung Honje sebagai daerah tangkapan air. Sedangkan aktifitas penebangan liar diberikan
peringkat ancaman tunggi. Dalam diskusi dengan Prof. DR. Harini Muntasib (anggota Rhino Task Force) dan Drs.
Widodo Ramono (Ketua YABI), menegaskan bahwa ancaman pembukaan lahan baru untuk pertanian sangat
memberikan dampak negatif terhadap habitat badak Jawa apabila dibiarkan tanpa ada perlakuan yang
komprehensif untuk mengurangi ancaman tersebut, dan jika ancaman ini dihilangkan habitat badak Jawa akan
tetap terjaga. Jika ancaman lain dapat ditangani secara bersamaan atau bertahap maka ini akan menjadi nilai
tambah, khususnya mengenai penebangan liar.

Ancaman yang ditangani oleh kampanye: Pembukaan lahan hutan untuk pertanian 2.1 (Annual and perennial non
timber crops)

13
A. Ringkasan Eksekutif

POPULASI MANUSIA
Populasi manusia di lokasi Jumlah penduduk di 19 desa di 2 kecamatan yaitu Sumur dan Cimanggu, berdasarkan hasil pendataan potensi
desa Kab. Pandeglang tahun 2008 berjumlah 58.934 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk di 10 desa target
kegiatan pride campaign berjumlah 28.273 jiwa. Ada beberapa diantara mereka yang masih tinggal didalam
kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, diantaranya di Desa Ujung Jaya Kp. Legon Pakis sebanyak 89 KK, dan
Kp. Peteuy, Kp. Salam dan Cipakis 76 KK, sedangkan di Desa Cibadak yaitu Kp. Ciakar 74 KK.

Tabel Jumlah Penduduk di 2 Kecamatan Sumur dan Cimanggu


Populasi
Jumlah
No Kecamatan Luas (km2) Jumlah Penduduk Kepadatan per
Desa
Km2
1 Sumur 258,54 7 21.813 84
2 Cimanggu 259,73 12 37.121 143
Ringkasan Populasi Manusia (300 Sebagian besar penduduk disekitar Taman Nasional Ujung Kulon bermata pencaharian sebagai petani,
kata) khususnya di kecamatan Cimanggu, sedangkan di kecamatan Sumur selain didominasi petani, sebagian besar
mereka juga berprofesi sebagai nelayan, hal ini dikarenakan kondisi geografis di 2 kecamatan yang berbeda,
kecamatan Cimanggu selain dengan berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon juga diapit
dengan kecamatan Cibaliung di sebelah Selatan sehingga sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani,
sedangkan batas kecamatan Sumur diapit oleh kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dengan batas laut Pulau
Jawa, kondisi geografis selain mempengaruhi jenis mata pencaharian mereka, juga mempengaruhi penyebaran
suku, di kecamatan Cimanggu sebagian besar didominasi oleh suku Sunda, dan sebagian kecil atau minoritas
suku Jawa, sedangkan di kecamatan Sumur, selain didominasi masyarakat suku Sunda, juga ada beberapa
suku minoritas yaitu Jawa dan Bugis.
Bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa Sunda, tetapi didalam komunikasi dengan suku lain atau
pendatang bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, sedangkan 100 % penduduk disekitar Taman
Nasional Ujung Kulon memeluk agama Islam.
Hasil survey yang dilakukan oleh TN Ujung Kulon pada awal tahun 2009 menyebutkan bahwa mayoritas
responden berada di antara kelompok umur 40 sampai 44 tahun (19.5%) dan kelompok umur 35-39 tahun
(15.7%). Sedangkan tingkat pendidikan formal mereka hasilnya menunjukkan bahwa 65.9% dari sampel yang
ada telah berhasil menyelesaikan pendidikan formal SD; 13% mencapai Sekolah Menegah Pertama dan 6.5%

14
A. Ringkasan Eksekutif
menyelesaikan Sekolah Menengah Umum dan 7.9 responden tidak memiliki pendidikan formal
Golongan sasaran kunci Petani yang memiliki lahan pribadi diluar kawasan di Desa Cegog, Cibadak dan Ujung Jaya (Khalayak Primer),
Petani yang memiliki lahan didalam kawasan TNUK (Khalayak sekunder), kawan-kawan mereka dan sumber
yang dipercaya
PDB Per kapita -

15
A. Ringkasan Eksekutif

MANFAAT KONSERVASI
Manfaat konservasi pada tahun 2009 Kerjasama teknis dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten berhasil dijalin, kontunitas bantuan
(sukses sementara) modal dari mitra penyingkir halangan dapat dipastikan, program peningkatan pengetahuan dan penerapan
teknologi pertanian berhasil dilaksanakan dan diadopsi oleh petani penggarap lahan pribadi diluar kawasan,
jumlah penggarap yang memperluas lahan garapan didalam kawasan berkurang, dan habitat badak Jawa tetap
terjaga kelestariannya dari ancaman pembukaan dan perluasan lahan pertanian baru didalam kawsan Taman
Nasional Ujung Kulon.
Konservasi berkelanjutan teruji  Pembukaan lahan hutan dan perluasan lahan pertanian didalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon
kebenarannya di lapangan pada menurun 50 % pada tahun 2010 dan masyarakat mulai memanfaatkan lahan pertanian mereka diluar
tahun 2012 kawasan secara optimal disaat musim kemarau dan penghujan, sebagaimana ditentukan melalui survey dan
(sukses akhir) observasi dilapangan, serta rekapitulasi hasil laporan bulanan yang dilaporkan Seksi Pengelolaan Taman
Nasional Wilayah III.
 Pada tahun 2015 tidak terjadi lagi aktifitas Pembukaan lahan hutan dan perluasan lahan pertanian baru
didalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, sebagaimana ditentukan melalui hasil survey kegiatan
penelusuran lahan garapan yang dilakukan oleh TNUK, dan rekapitulasi hasil laporan bulanan yang
dilaporkan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III.
 Habitat badak Jawa tetap terjaga kelestariannya sebagaimana ditentukan melalui hasil kegiatan survey
penelusuran lahan garapan didalam kawasan dan melalui peta citra lanset.

16
A. Ringkasan Eksekutif

RENCANA KEBERLANJUTAN
Rencana Strategis Balai Taman Nasional Ujung Kulon memiliki Rencana Strategis (Renstra) untuk mewujudkan visi Taman Nasional
Ujung Kulon Lestari Masyarakat Sejahtera, pencapaian visi tersebut diperlukan beberapa point kegiatan yang
mendukung terwujudnya visi tersebut, diantaranya kegiatan ekowisata, pengamanan hutan, pemantapan
kawasan dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan pride dapat diintegralkan dengan kegiatan pemberdayaan
masyarakat dan pemantapan kawasan.
Pelatihan staf Selain Indra Harwanto yang telah mengikuti pelatihan program kepemimpinan pride, Taman Nasional Ujung
Kulon setiap tahun selalu mengirimkan stafnya untuk mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan kegiatan
pemberdayaan masyarakat, fasilitator dan kegiatan penunjang lainnya di Balai Diklat Kehutanan Departemen
Kehutanan.
Keberlanjutan sumberdaya Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon di era kepemimpinan Ir. Agus Priambudi, M.Sc, telah berkomitmen
untuk memberikan alokasi anggaran yang lebih kepada program pemberdayaan masyarakat di TNUK, hal
tersebut didukung oleh kebijakan dari Departemen Kehutanan yang mendorong agar disetiap Unit Pelaksana
Teknis (UPT) dapat mengoptimalkan kearifan lokal dalam pemberdayaan masyarakat.
Kemunduran perilaku dan perlunya Kegiatan penyebaran dan penjangkauan informasi konservasi dilapangan, setiap tahun selalu dialokasikan
penyampaian pesan yang terus anggarannya oleh TNUK, dengan tujuan sebagai upaya preventif terhadap kegiatan – kegiatan yang dapat
menerus menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan. Kegiatan Kesepakatan Pengelolaan Hutan Partisipatif (KPH
Partisipatif) merupakan upaya dari TNUK untuk menjaga kemunduran perilaku, karena didalam KPH partisipatif
telah disepakati bersama mengenai hak dan kewajiban serta sanksi yang akan diberikan kepada pelaku
perambahan hutan.

17
A. Ringkasan Eksekutif

RENCANA AKSI UNTUK MENJANGKAU SELURUH KHALAYAK

SELURUH
KELOMPOK RENCANA AKSI RENCANA PEMANTAUAN RESIKO UTAMA
SASARAN
Sasaran Fokus Hasil yang Sasaran Kegiatan Alat yang Mitra Sistem Metode Target Frekuensi Sosial-politik Secara
dibutuhkan utama1 utama diperlukan ukuran keilmiahan/
lainnya
Sasaran Badak Jawa Habitat badak Habitat badak Program Tenaga Dinas Jumlah Kegiatan Tidak Dua Tidak ada ICRAF dan
keanekaraga yang endemik Jawa tetap Jawa tidak peningkatan bantuan Pertanian ancaman Penelusura ada lagi tahunan Distanak
man hayati: dan terancam terjaga dari mengalami pengetahuan teknis dari dan pembukaan n lahan aktifitas dimulai dari menilai
punah ancaman ancaman dari dan Penyuluh Peternakan dan garapan pembuk tahun 2009 program ini
Untuk menjaga aktifitas penerapan Pertanian Propinsi perluasan setiap aan selama 6 tidak akan
dan pembukaan teknologi Lapangan Banten lahan tahun dan hutan tahun menjadi
mempertahankan dan perluasan intensifikasi (PPL) dan (PPL) dan pertanian rekapitulasi dan tahun. masalah,
kelestarian lahan pertanian Teknologi PT Tanindo menurun data perluasa tergantung
habitat badak garapan pertanian. dan luasan laporan n lahan pada
Jawa di Taman
didalam lahan bulanan garapan kecermatan
Nasional Ujung
Kulon pada
kawasan garapan dari SPTN baru dalam
tahun 2015, TNUK pada baru wilayah III didalam menentukan
menjadi tidak ada tahun 2015 didalam kawasan pilihan jenis
lagi ancaman kawasan pada tanaman
pembukaan dan tahun dengan tanah
perluasan lahan 2015
garapan didalam
kawasan.

Sasaran
pengurangan Tidak
ancaman: Pelaku Perambahan Pada tahun Program Petugas Dinas Luasan Sensus terjadi Target bisa
semestera
Pembukaan hutan untuk 2015 tidak peningkatan Penyuluh Pertanian lahan lahan peramba saja tidak
1) Pelaku n
hutan untuk sawah tidak terjadi lagi pengetahuan Lapangan dan garapan garapan han tercapai
Pembukaan lahan garapan terjadi lagi perambahan dan teknologi dan Peternakan didalam didalam untuk apabila tidak
hutan untuk didalam hutan intensifikasi teknologi Propinsi kawasan kawasan sawah ada komitmen
lahan garapan kawasan pertanian intensifikasi Banten dan jumlah setiap tahun didalam dan
didalam pertanian serta PT. kasus dan kawasan kontinuitas
perambahan rekapitulasi TNUK pendanaan
1

18
A. Ringkasan Eksekutif

SELURUH
KELOMPOK RENCANA AKSI RENCANA PEMANTAUAN RESIKO UTAMA
SASARAN
Sasaran Fokus Hasil yang Sasaran Kegiatan Alat yang Mitra Sistem Metode Target Frekuensi Sosial-politik Secara
dibutuhkan utama utama diperlukan ukuran keilmiahan/
lainnya
kawasan Wonokoyo hutan kasus dalam pada dari mitra
laporan Juni maupun
bulanan 2015 TNUK

19
A. Ringkasan Eksekutif
RENCANA AKSI UNTUK MENJANGKAU PARA PETANI
PETANI RENCANA AKSI RENCANA PEMANTAUAN RESIKO UTAMA
Tingkatan Secara
Hasil yang Sasaran Kegiatan Alat yang Sistem
perubahan Fokus Mitra Metode Target Frekuensi Sosial politik keilmiahan/
dibutuhkan utama2 utama diperlukan ukuran
perilaku lainnya
Tingkatan 1) Ancaman 1) Pengetahuan 1) Pada akhir Pesan kognitif Materi pesan Radio GBS Perubahan Pra/pasca 1) 70% Juli s.d Radio Tidak ada
perenungan (pada habitat mengenai peran bulan Mei disebarkan melalui radio Malingping, kesadaran survei meningkat akhir Mei meminta
(Pengetahuan) badak Jawa) intensifiksi 2010, Petani melalui radio, dan poster Krakatau FM dari 2010 biaya siaran
yang pertanian yang penggarap poster dan dan 42.7%
disebabkan dapat lahan diluar penyuluhan percetakan
Laptop dan
oleh mengurangi kawasan melalui dan Distanak
proyektor
pembukaan ancaman TNUK yang pertemuan Propinsi
powerpoint
dan kawasan TNUK setuju bahwa didesa Banten
perluasan yang sistem
lahan disebabkan oleh intensifikasi
garapan aktifitas pertanian
untuk pembukaan dan dapat
pertanian perluasan lahan mengurangi
didalam garapan untuk Perluasan
kawasan pertanian lahan atau
didalam perambaan
kawasan hutan didalam
kawasan yang
akan merusak
habitat badak
Jawa,
meningkat 70
% dari survey
pra kampanye
tahun
sebelumnya
42,7 %.

20
A. Ringkasan Eksekutif

PETANI RENCANA AKSI RENCANA PEMANTAUAN RESIKO UTAMA


Tingkatan Secara
Hasil yang Sasaran Kegiatan Alat yang Sistem
perubahan Fokus Mitra Metode Target Frekuensi Sosial politik keilmiahan/
dibutuhkan utama utama diperlukan ukuran
perilaku lainnya
2) Bentuk 2) Pengetahuan 2) Pada akhir 2) 50%
simpanan mengenai bentuk bulan Mei meningkat
yang paling simpanan untuk 2010, petani dari
cerdas anak cucu yang penggarap 24.4%.
paling baik selain lahan diluar
lahan garapan kawasan
didalam kawasan menjadikan
tabungan
uang sebagai
simpanan naik
menjadi 50 %
dari tahun
sebelumnya
24.4 %.
Tingkat 1) Adanya 1) Adanya 1) Pada akhir Pesan Lembar Tokoh Perubahan Pra/pasca 90% Juli s.d Kurangnya Tidak ada
Persiapan dukungan dukungan untuk bulan Mei emosional khotbah dan agama, sikap survei meningkat akhir Mei dukungan dari
untuk menerapkan 2010, 90 % disebarkan materi Ustadz, dari 78 % 2010 PPL dan
(Sikap) menerapkan system pola petani melalui lembar penyuluhan PPL dan Tokoh agama
system pola intensifikasi penggarap khotbah dan percetakan
intensifikasi pertanian. lahan diluar pesan kognitif
pertanian, kawasan melalui poster
TNUK dan
mendukung penyuluhan
penerapan dalam
system pola pertemuan
intensifikasi desa
pertanian, dari 25%
78 % pada meningkat
tahun dari 4.2 %
sebelumnya

21
PETANI RENCANA AKSI RENCANA PEMANTAUAN RESIKO UTAMA
Tingkatan Secara
Hasil yang Sasaran Kegiatan Alat yang Sistem
perubahan Fokus Mitra Metode Target Frekuensi Sosial politik keilmiahan/
dibutuhkan utama utama diperlukan ukuran
perilaku lainnya
2) Tingkat 2) Meningkatnya 2) Pada akhir
persetujuan sikap bulan Mei
terhadap ketidaksetujuan 2010, petani
mitos terhadap mitos penggarap
Masyarakat bahwa batas lahan diluar
dari desa untuk membuka kawasan dari
Ujung Jaya perluasan lahan desa Ujung
bahwa batas baru adalah Jaya tidak
untuk sampai tidak setuju bahwa
membuka melewati S. batas untuk
perluasan Cilintang s membuka
lahan baru perluasan
adalah sampai lahan baru
tidak melewati adalah sampai
S. Cilintang tidak melewati
S. Cilintang
A. Ringkasan Eksekutif
meningkat
menjadi 25 %
dari
sebelumnya
4.2 % pada
tahun 2009
Tingkatan Penerapan Masyarakat mulai Pada akhir Pesan PPL dan Berbicara Survei 40% lebih Juli s.d Petani terlalu Tidak ada
Validasi program membahas bulan Mei Perorangan Ketua satu sama kesiapan dari 4.9% akhir Mei sibuk atau
intensifikasi mengenai 2010, 40 % Kelompok lain 2010 tidak ingin
(Sikap) pertanian penerapan masyarakat Tani menghadiri
Pertemuan
yang dapat program yang pertemuan
dengan
mengurangi intensifikasi menggarap
masyarakat
ancaman pertanian yang lahan dalam
pembukaan dapat kawasan Penyuluahan Kurangnya
lahan didalam mengurangi TNUK mulai melalui kepercayaan
kawasan ancaman membicarakan sekolah pada petugas
pembukaan lahan dengan teman lapang Dept.Kehu-
didalam kawasan sistem dan tanan
teknik
pertanian
yang lebih
produktif dan
berkelanjutan
diluar
kawasan, dari
tahun

22
PETANI RENCANA AKSI RENCANA PEMANTAUAN RESIKO UTAMA
Tingkatan Secara
Hasil yang Sasaran Kegiatan Alat yang Sistem
perubahan Fokus Mitra Metode Target Frekuensi Sosial politik keilmiahan/
dibutuhkan utama utama diperlukan ukuran
perilaku lainnya
sebelumnya
4,9 %.

Tingkatan 1) Penerapan 1)Pengetahuan 1) Diakhir keg. 1) Pelatihan Materi PPL dan 1) Jumlah 1) 1) 50 % Juli s.d 1) Petani 1) Tidak ada
pola mengenai Pride (akhir Mei dan penyuluhan Ketua Petani Observasi meningkat akhir Mei terlalu sibuk
pelaksanaan
intensifikasi bagaimana cara 2010) 50 % penyuluhan dan teknologi Kelompok dan dari 0 2010 atau tidak
(Praktek) pertanian dan menerapan pola petani melalui pertanian Tani diskusi ingin
teknologi intensifikasi penggarap sekolah lapang menghadiri
pertanian pertanian dan diluar kwsn dan penerapan A.sesi
Ringkasan
pelatihan Eksekutif
teknologi TNUK, telah di lapangan
pertanian menerapkan
pola
intensifikasi PPL dan
pertanian Ketua
(meningkat dari Kelompok
0) Tani
2) Petani tidak 2) Petani tidak 2) Diakhir keg. Penerapan Jumlah 2) 2a) 30 % Juli s.d 2) Tidak
memperluas memperluas Pride (akhir Mei pola petani Observasi meningkat akhir Mei semua petani
lahan garapan lahan garapan 2010) 30 % intensifikasi dan dari 0 2010 dilatih dan
petani pertanian diskusi bersedia
penggarap untuk
lahan dalam melaksanakan
kwsn. TNUK
tidak
memperluas
lahan
garapannya
(meningkat dari
0)

23
A. Ringkasan Eksekutif
Pengetahuan Pola intensifikasi lahan tidak Musim kemarau lahan Hasil panen pertanian yang Pembukaan lahan Habitat
masyarakat tentang diterapkan masyarakat penggarap tidak digarap, musim didapat tidak mencukupi baru untuk sawah
Badak
teknik intensifikasi hujan panen sekali kebutuhan hidup satu tahun didalam kawasan
lahan belum optimal Jawa

Peningkatan Tidak ada


kesadaran Bertambah Masyarakat. Peningkatan Petani tidak Petani pembukaan lahan
mengenai kemauan untuk membicarakan pengetahuan dan memperluas menggarap baru untuk sawah
pentingnya TNUK mengadopsi sistem dan teknik penerapan lahan lahannya di dalam Habitat
sebagai habitat sistem pertanian pertanian yang teknologi garapan dengan pola
kawasan TNUK Badak
badak dan yang lebih lebih produktif dan intensifikasi dalam intensifikasi
oleh petani yang Jawa
penunjang produktif dan berkelanjutan pertanian dengan kawasan pertanian
memiliki lahan di
kehidupan berkelanjutan hasil yang tinggi TNUK
luar kawasan
penduduk lokal

Mei 2010, Mei 2010, Diakhir keg. Pride (Mei 2010) Pelaku Habitat badak
meningkat 70 % Mei 2010, 40 % 50 % petani penggarap Pembukaan jawa tetap
90 % petani masyarakat yang terjaga
dari tahun diluar kwsn TNUK, telah hutan untuk
sebelumnya 42,7 penggarap menggarap lahan menerapkan pola kelestariannya
dalam kawasan lahan
%, petani lahan diluar intensifikasi pertanian. garapan
pada tahun
TNUK mulai Diakhir keg. Pride (Mei 2010) 2015
penggarap lahan kwsn TNUK membicarakan
Perambahan menurun
diluar kawasan 30 % petani penggarap Asumsi :
mendukung dengan teman hutan tidak sebanyak 30 Tidak ada lagi
TNUK setuju lahan dalam kwsn. TNUK
bahwa sistem penerapan sistem dan teknik terjadi lagi tidak memperluas lahan % dari tahun ancaman
intensifikasi system pola pertanian yang pada tahun sebelumnya pembukaan
garapannya
lebih produktif pada Mei lahan garapan
pertanian dapat intensifikasi dan
2015
mengurangi 2010, dan baru didalam
pertanian, berkelanjutan kawasan
Perluasan lahan tidak ada
atau perambahan dari 78 % diluar kawasan, TNUK pada
dari tahun lagi pada
hutan didalam pada tahun tahun 2015
sebelumnya 4,9 tahun 2015
kawasan yang akan sebelumnya %
merusak habitat
badak Jawa

Kesadaran dan Pelaksanaan


Kesadaran dan Kesadaran dan Bimbingan teknis,
komunikasi Komunikasi, Penyuluhan, studi bandiing, penyuluhan, kegiatan sensus
komunikasi komunikasi Pesan antar penyuluhan, praktek atau implementasi Penegakan lahan garapan
Pesan kreatif, Pesan kreatif, individu, focus pendampingan kegiatan pola intensifikasi hukum , didalam kwsn
Khutbah jumat, Khutbah jumat, group discusion dan praktek pertanian. dan rekapitulasi
pemberdayaan
Radio dan Radio dan laporan bulanan
dan pertemuan intensifikasi masyarakat dan
penyuluhan penyuluhan terbatas pertanian. komunikasi antar
kelompok

Percakapan Percakapan Percakapan Observasi lapangan Observasi dan hasil survey pra Jumlah pelaku Luas lahan
terfokus dan terfokus dan terfokus dan dan tidak ada lagi dan pasca kegiatan pride pembukaan garapan
survey KAP survey KAP survey KAP laporan petugas campaign kwsn hutan u/ didalam kwsn
TNUK ttg
sebelum dan sebelum dan sebelum dan lahan garapan dan jumlah
24
perambahan hutan
sesudah kegiatan sesudah kegiatan sesudah kegiatan pelanggaran
B. Lokasi Proyek
Sebelum meluncurkan suatu kampanye Pride, adalah penting untuk memahami sepenuhnya lokasi yang akan menjadi fokus dari
kampanye, ancaman dan penyebab yang telah diketahui, kebijakan dan peraturan yang dapat memberikan dampak terhadap
lokasi, dan inisiatif konservasi lain yang ada di lokasi. Hal ini pertama-tama dilakukan dengan melakukan kajian lokasi (site review)
dan menyiapkan suatu naskah latar belakang yang menyimpulkan informasi primer dan sekunder yang telah dikumpulkan dan
darimana informasi itu diambil. Hasil dari pekerjaan yang dilakukan untuk mempersiapkan bab dari rencana ini juga dapat
membantu mengidentifikasi pemangku kepentingan utama dan sasaran utama keanekaragaman hayati.

Seksi berikut ini akan dimasukkan ke dalam lokasi proyek, termasuk:


1.0 Ringkasan Lokasi
1.1 Informasi dan Sumber Daya yang Penting
1.2 Latar Belakang Taman Nasional Ujung Kulon
1.3 Lokasi dan Topografi Taman Nasional Ujung Kulon
1.4 Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Ujung Kulon (Flora dan Fauna)
1.5 Pemilikan Lahan
1.6 Demografi
1.7 Nilai-nilai Konservasi
1.8 Ancaman yang Diketahui
1.9 Pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon
2.0 Tim Proyek dan Pemangku Kepentingan
2.1 Lembaga Mitra dan Manajer Kampanye
2.2 Kelompok Lain di Taman Nasional Ujung Kulon
2.3 Pemangku Kepentingan Utama

25
B. Lokasi Proyek

1.0 RINGKASAN LOKASI

1.1 Informasi, sumber dan kontak penting yang digunakan dalam pembuatan dokumen ini
Sumber daya tertulis yang tersedia dibawah ini telah digunakan untuk mengumpulkan data awal dan latar belakang:
SUMBER DAYA TERTULIS YANG TERSEDIA Telah
Diperiksa?
Peta
 Topografi Ya
 Vegetasi Ya
 Geologi Ya
 Survei udara Tidak

Studi Ilmiah dan studi lainnya


 Buku Review Zonasi Partisipatif di Taman Nasional Ujung Kulon; TNUK, 2008 Ya
 Hasil pendataan potensi desa Kabupaten Pandeglang tahun 2008; BPS Pandeglang, 2008 Ya
Ya
 Rencana Pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon

Rencana strategis sebelum dan sekarang


Ya
 Rencana Strategis TNUK Ya
 Rencana Kerja Anggaran Kememnterian dan Lembaga (DIPA 29) TNUK

Lain-lain Ya
Ya
 Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Ya
 Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
 Nota Kesepakatan Pengelolaan Hutan Partisipatif (KPH Partisipatif)

Kelompok berikut ini menyediakan masukan utama ke dalam ringkasan lokasi melalui pembicaraan empat mata secara langsung maupun
melalui telepon.
KELOMPOK PEMANGKU KEPENTINGAN UTAMA3 BEKERJA DI TNUK ? TELAH
DIWAWANCARA? (Y,T)
Departemen Pemerintah
 Kantor Kecamatan Cimanggu Y Y
 Kantor Kecamatan Sumur Y Y
 TNUK Y Y

3
University of Andrea juga berlokasi di Rima, LSM konservasi lokal (the Andrean Naturalists’ Society) dan ASPCA (the Andrean Society for the Prevention of Cruelty to Animals). Keterangan lebih
lanjut mengenai kelompok tersebut tersedia berdasarkan permintaan.

26
KELOMPOK PEMANGKU KEPENTINGAN UTAMA BEKERJA DI TNUK ? B. Lokasi Proyek
TELAH
DIWAWANCARA? (Y,T)
Pengguna Sumber Daya
 Kelompok Tani
 Kelompok Guide Y Y
Y Tidak

LSM’s
 WWF Ya Ya
 YABI Ya Ya
 Sahabat Ujung Kulon Ya Ya
 KAGUM Ya Tidak
Ya Tidak
 Yayasan SEKAR

Lain-lain
 Pakar Ilmiah (IPB)
Tidak Ya
 Klub Pemuda Y Ya
 Sekolah Y Tidak
 Pemimpin agama Tidak Tidak

1.2 Latar Belakang Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon adalah kawasan konservasi yang terletak di ujung barat Pulau Jawa tepatnya di Kecamatan
Sumur dan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten, dan berbatasan dengan 19 desa disekitar kawasan. Secara
geografis kawasan Taman Nasional Ujung Kulon terletak antara 102°02’32” - 105°37’37” BT dan 06°30’43” - 06°52’17” LS. Tahun
1846 Kekayaan flora dan fauna Ujung Kulon pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli botani berkebangsaan Jerman yang
bernama Junghun.
Pada tahun 1937, melalui keputusan pemerintah nomor 17 tanggal 24 Juni 1937 (lembaran negara no 420 tahun 1937) status
ujung kulon diubah menjadi Suaka Margasatwa, yang meliputi Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Panaitan, Pulau Peucang dan
Pulau Handeuleum.
Status Ujung Kulon sebagai suaka margasatwa kembali berubah menjadi cagar alam tahun 1958 melalui Surat Keputusan
Menteri Pertanian Nomor 48/UM/1958 tanggal 17 April 1958. Pada tahun 1965 dibentuk Seksi Perlindungan dan Pengawetan
Alam Ujung Kulon-Panaitan melalui SK Kepala Direktorat Kehutanan Nomor 738/V/6/KD tanggal 16 September 1965, yang berdiri
sendiri dan berkedudukan di Labuan serta mendapat pengawasan langsung dari Kabag Perlindungan dan Pengawetan Alam,
Direktorat Kehutanan.

27
Melalui SK Menteri Pertanian Nomor : 16/Kpts/Um/3//1967
tanggal 16 Maret 1967 Cagar Alam Gunung Honje di bagian timur
tanah genting (seluas 10.000 ha) yang memisahkan Semenanjung
B. Lokasi Proyek
Ujung Kulon dari Pulau Jawa masuk kedalam kawasan Suaka
Alam Ujung Kulon. Pada tahun 1972, tanggung jawab
pengelolaan dipegang oleh Direktorat Perlindungan dan
Pelestarian Alam, Direktorat Jenderal Kehutanan Departemen
Pertanian. Pada tahun 1979, Gunung Honje Utara masuk
kedalam kawasan Suaka Alam Ujung Kulon melalui SK Menteri
Pertanian Nomor : 39/Kpts/Um/1979 tanggal 11 Januari 1979,
seluas 9.498 hektar.
Pada tanggal 6 Maret 1980, melalui pernyataan Menteri
Pertanian, Ujung Kulon mulai dikelola dengan Sistem Manajemen
Taman Nasional. Tahun 1984 dibentuklah Taman Nasional Ujung
Kulon (kelembagaannya), melalui SK Menteri Kehutanan No.
96/Kpts/II/1984 yang wilayahnya meliputi Semenanjung Ujung
Kulon, Gunung Honje, Pulau Peucang dan Panaitan, Kepulauan Krakatau dan Hutan Wisata Carita.
B. Lokasi Proyek
Pada tahun 1992, Ujung Kulon ditetapkan sebagai Taman Nasional dengan SK. Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992
tanggal 26 Pebruari 1992, wilayahnya meliputi wilayah Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Panaitan, Pulau Peucang, P.
Handeuleum dan Gunung Honje, dengan luas keseluruhan 120.551 ha, yang terdiri dari daratan 76.214 ha dan laut 44.337 ha.

Melalui Surat Keputusan No. SC/Eco/5867.2.409 tahun 1992, Taman Nasional Ujung Kulon ditetapkan sebagai The Natural
World Heritage Site oleh Komisi Warisan Alam Dunia UNESCO karena memenuhi kriteria (iii) dan (iv) yaitu :
iii. Memiliki fenomena alam yang sangat istimewa dengan keindahan dan nilai estetika yang luar biasa
iv. Memiliki habitat alami yang sangat penting untuk konservasi keanekaragaman hayati secara in-situ, termasuk adanya species
yang terancam kepunahannya yang bernilai tinggi bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan konservasi.
Pembinaan Taman Nasional Ujung Kulon selanjutnya berada dibawah Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi
Alam, Departemen Kehutanan dimana Taman Nasional Ujung Kulon sendiri merupakan Unit Pelaksana Teknis Direktorat jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.

28
B. Lokasi Proyek

1.3 Lokasi dan Topografi Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon merupakan kawasan konservaasi dengan luas 120.551 ha terdiri dari kawasan daratan 76.214
ha dan kawasan perairan laut 44.337 ha. Secara geografis terletak pada 6°45' Lintang Selatan dan 105°20’ Bujur Timur.
Berdasarkan administrasi pemerintahan, kawasan tersebut terletak di wilayah Kecamatan Cimanggu dan Kecamatan Sumur
Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten.
Berdasarkan peta tipe hujan Jawa dan Madura yang berpedoman pada pembagian iklim Schmidt & Fergusson, sebagian
besar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon termasuk dalam tipe iklim B dengan nilai Q=20,4 dan curah hujan rata-rata
pertahun 3.249 mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember yang mencapai lebih dari 400 mm. Suhu udara rata-rata
harian berkisar 26,2 – 28,7°C dan kelembaban udara berkisar 75%-91% serta intensitas radiasi surya 0,621-0,669 cl/cm2/ml.
Bulan basah terjadi pada Oktober – April pada saat terjadinya musim angin barat, yaitu angin yang bertiup dari arah barat daya
dengan kecepatan tinggi. Angin ini seringkali menimbulkan badai yang menyebabkan pohon-pohon tumbang dan menyulitkan
perjalanan kapal menuju lokasi karena ombak yang besar. Sementara itu, bulan kering terjadi pada Mei – September bersamaan
dengan musim angin timur yang bertiup dari arah Timur/Selatan.
Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon bagian Timur didominasi oleh deretan Pegunungan Honje dengan puncak tertinggi
620 m dpl. Kawasan bagian barat dipisahkan oleh dataran rendah tanah genting yang merupakan Semenanjung Ujung Kulon dan
membentuk daratan utama Taman Nasional Ujung Kulon.
Semenanjung Ujung Kulon mempunyai topografi yang datar sepanjang pantai utara dan timur, bergunung dan berbukit-bukit di
sekitar gunung payung dan pantai bagian barat daya dan selatan dengan puncak tertinggi gunung payung 480 m dpl. Sebagian
juga merupakan dataran rendah dan berawa-rawa, yaitu di daerah jamang yang ditumbuhi bakau

1.4 Keanekaragaman Hayati Taman Nasional Ujung Kulon

Kawasan TN. Ujung Kulon adalah salah satu fakta sejarah, yaitu merupakan sisa-sisa letusan Gn Krakatau pada tahun
1883 yang sudah dikenal secara umum hebatnya letusan gunung tersebut. Yang selanjutnya mengalami suksesi, dengan cepat
menghasilkan vegetasi dan kehidupan satwa liar yang berkembang. TN. Ujung Kulon juga dikenal di dunia sebagai habitat Badak
Jawa (Rhinoceros sondaicus).

29
Dari berbagai hasil survey yang dilakukan oleh para ahli, sampai saat ini diketahui potensi flora dan fauna yang tersebar
dalam tipe-tipe vegetasi sebagai berikut : B. Lokasi Proyek
a. Hutan Pantai
b. Hutan Mangrove
c. Hutan Rawa Air Tawar
d. Hutan hujan tropis dataran rendah
e. Padang Rumput

Adapun jumlah jenis flora dan fauna yang diketahui sampai saat ini seperti tercantum dalam tabel 1 berikut:

Tabel 1. Potensi Flora dan Fauna di TN. Ujung Kulon


No. Jenis Potensi Jumlah jenis
1. Flora : 700 jenis
2. Fauna :
a. Mamalia 35 jenis
b. Primata 5 jenis
Burung 240 jenis
d. Reptilia 59 jenis
e. Amphibia 22 jenis
Pisces 142 jenis
g. Terumbu Karang 33 jenis

Jumlah species tersebut diatas, bila dibandingkan dengan jumlah kekayaan species yang terdapat di Pulau Jawa, maka
26,32 % jenis mamalia, 66,3 % jenis burung dan 34,10 % jenis reptil hidup di Taman Nasional Ujung Kulon. Perbandingan tersebut
dapat dilihat dalam tabel 2 berikut:

Tabel 2. Perbandingan Jenis Fauna di Pulau Jawa dengan TN. Ujung Kulon
No. Jenis P. Jawa* TN. Ujung Kulon %
1 Mamalia 133 35 26,32
2 Burung 362 240 66,30
3 Reptil 173 59 34,10
*: Sumber data : Mackinon 1981

30
B. Lokasi Proyek

1.4.1 Flora
Keadaan flora di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon membentuk berbagai formasi hutan, dimana formasi hutan ini
dicirikan adanya dominasi oleh jenis/spesies tertentu. Ditinjau dari tipe hutan, flora di kawasan ini terdiri dari hutan pantai, hutan
hujan tropika dataran rendah, hutan hujan tropika pegunungan, hutan rawa air tawar, hutan mangrove dan padang rumput.
Formasi hutan yang cukup lengkap ini mengandung keragaman plasma nutfah serta spesies tumbuhan berguna dan langka yang
sangat tinggi.
Beberapa jenis tumbuhan diketahui langka dan di pulau Jawa hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon antara lain :
Batryohora geniculata, Cleidion spiciflorum, Heritiera percoriacea, dan Knema globularia. Banyak pula berbagai jenis tumbuhan
yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat baik untuk kayu pertukangan, obat-obatan, tanaman hias maupun pangan. Jenis-jenis
yang telah dimanfaatkan tersebut antara lain bayur (Pterospermum javanicum) dan berbagai rotan (Calamus sp.) sebagai bahan
pertukangan; kayu gaharu (Aquilaria malaccensis), cempaka (Michelia campaca) dan jambe (Areca catechu) sebagai bahan obat-
obatan; Anggrek (Dendrobium sp.) sebagai tanaman hias; tangkil (Gnetum gnemon) dan salak (Salacca edulis) sebagai bahan
pangan.
Hutan pantai umumnya dicirikan oleh adanya jenis-jenis nyamplung (Calophyllum innophyllum), butun (Barringtonia asiatica),
klampis cina (Hernandia peltata), ketapang (Terminalia catappa), cingkil (Pongamia pinnata) dan lain-lain. Formasi hutan pantai ini
umumnya dikenal sebagai formasi barringtonia dengan spesies yang kurang beranekaragam dan nyamplung merupakan jenis
yang lebih khas tipenya. Formasi ini terdapat sepanjang pantai Barat dan Timur Laut Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang,
sepanjang pantai Utara dan teluk Kasuaris Pulau Panaitan. Umumnya formasi ini hidup diatas pasir karang dalam jalur sempit
memanjang sepanjang pantai dengan lebar 5 sampai 15 meter.
Pada tempat-tempat terbuka seperti pantai Barat Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan umumnya
terdapat pandan (Pandanus tectorius), pakis haji (Cycas rumphii) dan kadang-kadang cantigi (Pemphis acidula).
Formasi pescapre yang merupakan vegetasi pioner umumnya terdapat disepanjang tepi pantai dekat dengan garis air pasang
tertinggi, yang dicirikan dengan adanya daun katang-katang (Ipomea pescaprae), kutut tiara (Spinifex littoreus), dan juga tumbuhan
pohon muda seperti nyamplung dan ketapang. Di Pulau Peucang formasi ini dan rumput tembaga ( Ischaemum muticum) tumbuh di
sepanjang pantai Selatan dan Timur, juga dijumpai dekat muara sungai sepanjang pantai Barat dan Selatan Semenanjung Ujung
Kulon.

31
Di sepanjang pantai Selatan Semenanjung Ujung Kulon, pandan membentuk vegetasi murni (monotipe) pada bukit-bukit pasir
dan pada beberapa lokasi bersama-sama dengan jenis Ficus septica dan Syzygium litorale, sedang Pandanus bidur terdapat
didekat muara sungai pada pantai Selatan dan Barat Gunung Honje. Sementara itu, di sebelah Timur Cibandawoh formasi
B. Lokasi Proyek
vegetasi Pandanus tectorius menghilang dan digantikan oleh formasi Barringtonia.
Hutan mangrove pasang surut terluas terdapat pada jalur sepanjang sisi Utara Barat tanah genting, meluas kearah Utara
sepanjang pantai menuju ke Sungai Cikalong. Daerah hutan mangrove yang lebih sempit terdapat disekitar Sungai Cicangkeuteuk
yaitu ± 4 km disebelah Barat Laut Pulau Handeuleum. Di Pulau Panaitan terdapat pula hutan mangrove yang cukup luas, yaitu di
Legon Lentah di sepanjang pantai Timur Laut dan yang agak sempit terdapat disepanjang pantai Utara dan Barat Daya (Legon
Kadam dan Legon Mandar) dan sepanjang pantai Timur Laut dan Utara Teluk Kasuaris (Legon Bajo dan Legon Sabini). Jenis
formasi vegetasi magrove yang paling umum adalah padi-padi (Lumnitzera racemosa), api-api (Avicenia spp.), bakau
(Rhizophora spp.), bogem (Sonneratia alba dan Bruguiera spp.) dan kadang-kadang bercampur dengan pakis rawa, lamiding
(Acrostichum aureum).
Disamping itu terdapat pula hutan rawa nypa yang tidak terlalu luas pada beberapa muara suangai Ciujungkulon dan Cigenter
di pantai Utara Semenanjung Ujung Kulon dan pada muara Sungai Cikeusik dan Cibandawoh di pantai Selatan Semenanjung
Ujung Kulon. Hutan rawa air tawar terdapat dibagian Utara Semenanjung Ujung Kulon, pada daerah dibelakang pantai dengan
luas yang sempit disekitar Tanjung Alang-alang, Nyiur, Nyawaan, Jamang dan Sungai Cihandeuleum. Air menggenangi daerah ini
selama musim penghujan dan mengering selama musim kemarau. Daerah hutan rawa air tawar ini ditandai dengan adanya Thypa
angustifolia dan Cyperus spp. Serta yang paling umum yaitu Cyperus pilosus.
Hutan hujan tropika menutupi sebagian besar Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang, Pulau Panaitan dan Gunung
Honje, namun kemungkinan hanya 40-50 % Semenanjung Ujung Kulon dan hanya 50 % Gunung Honje yang masih tertutup hutan
primer. Hutan hujan tropika terbaik terdapat di Pulau Peucang dan sebagian kecil disekitar Gunung Raksa Pulau Panaitan.
Hutan di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje ditandai dengan banyaknya jenis palma, terutama langkap ( Arenga
obtusifolia) yang merupakan tegakan murni. Langkap ini menyebar luas dihampir seluruh Semenanjung Ujung Kulon membentuk
tegakan murni dengan tajuk setinggi 10-15 meter. Jenis palma lain adalah Nibung (Oncosperma tigillaria) yang berduri, aren
(Arenga pinnata), sayar (Caryota mitis) dan salak (Salacca edulis). Pada sela-sela vegetasi palma sering terdapat jenis-jenis
bungur (Lagerstroemia speciosa), kicalung (Diospyros macrophylla), laban (Vitex pubescens), hanja (Arthocephalus chinensis)
dan putat (Planchonia valida) dengan pohon yang tinggi dan membentuk tajuk yang rapat.
Daerah tertentu yang relatif terbuka dengan sedikit pohon-pohon besar tertutup dengan tumbuhan sekunder Zingiberaceae
seperti Tepus (Anchasma sp.), honje (Nicolaila sp.), bersama-sama cente (Lantana camara) dan Maranthaceae yang tumbuh
sangat lebat bersama-sama rotan, daerah ini diduga dahulunya pernah ditanami.

32
Dilereng Gunung Honje yang lebih rendah pada daerah yang belum terganggu oleh manusia terdapat jenis-jenis pohon bayur
(Pterospermum javanicum), kihujan (Engelthardia serrata), Ficus spp., Eugenia spp., Dipterocarpus gracilis, merbau (Intsia
bijuga) dan bungur (Lagerstroemia speciosa), sebagai tumuhan bawahnya adalah bermacam-macam palma terutama langkap
B. Lokasi Proyek
(Arenga obtusifolia) dan rotan (Calamus sp.). Pada lereng yang lebih tinggi mempunyai vegetasi yang khas yaitu janitri
(Plaeocarpus sphaerius), cangkudu badak (Podocarpus nerifolia), palahlar (Dipterocarpus haseltii), kipela (Aphana xisxis sp.) dan
Eurya spp.
Pada batang pohon dan di tanah tumbuh lumut yang tebal dan banyak sekali epiphyt yang terdiri dari anggrek dan paku-
pakuan seperti Freycinetia sp. Dan Asplenium nidus. Selain itu, terdapat pula jenis-jenis eksotik yang dimasukkan ke kawasan ini
antara lain jambu biji (Psidium guajava) di Cigenter, jambu monyet (Anacardium occidentale) di Cidaun, dan Cemara (Casuarina
equisetifolia) di Tanjung Alang-alang, serta pada sebelah Timur Laut dan Utara Pulau Panaitan. Jenis-jenis ini kemungkinan
berasal dari tanaman yang dibawa pada waktu kawasan ini dihuni penduduk.

33
B. Lokasi Proyek

1.4.2 Fauna
Taman Nasional Ujung Kulon memiliki beragam jenis satwa liar baik
yang bersifat endemik maupun penting untuk dilindungi. Beberapa jenis
satwa endemik penting dan merupakan jenis satwa langka adalah badak
jawa (Rhinoceros sondaicus), banteng (Bos sondaicus), owa jawa
(Hylobates moloch), surili (Presbytis aigula) dan anjing hutan (Cuon alpinus
javanicus).
Semenanjung Ujung Kulon pada saat ini merupakan habitat terpenting
dari badak jawa. Selain itu, terdapat pula sekitar 30 jenis mamalia yang
terdiri dari mamalia ungulata seperti badak, banteng, rusa, kancil, kijang dan
babi hutan; mamalia predator seperti macan tutul, anjing hutan, macan
dahan, luwak dan kucing hutan; mamlia kecil seperti walang kopo, tando,
landak, bajing tanah, kalong, bintarung, berang-berang, tikus, trenggiling
dan jelarang. Selain owa dan surili terdapat tiga jenis primata lainnya yaitu
kera ekor panjang (Macaca fascicularis), lutung (Presbytis cristata) dan
kukang (Nycticebus coucang).
Banteng (Bos sondaicus) merupakan binatang berkuku terbesar dan terbanyak jumlah populasinya. Satwa ini hanya terdapat
di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje dan tidak dijumpai di Pulau Panaitan. Rusa (Cervus timorensis) di Semenanjung
Ujung Kulon dan Gunung Honje terdapat dalam jumlah dan penyebaran yang sangat terbatas, akan tetapi di Pulau Peucang, Pulau
Handeuleum dan Pulau Panaitan menunjukkan pertumbuhan yang semakin banyak. Babi hutan (Sus scrofa), meunceuk
(Muntiacus muntjak) dan pelanduk (Tragulus javanicus) relatif umum terdapat di seluruh kawasan.
Macan tutul (Panthera pardus) dapat dijumpai di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje, namun tidak dijumpai di
tempat lainnya. Sementara ajag/anjing hutan (Cuon alpinus javanicus) dapat dijumpai di Semenanjung Ujung Kulon, Gunung
Honje dan Pulau Panaitan. Selain itu, salah satu jenis predator adalah kucing batu (Felis bengalensis), kucing bakau (Felis
viverrina), binturong (Arctictis binturong), beberapa jenis musang (Harpestes javanicus), berang-berang (Lutrogale perspicillata)
dan sero (Aonyx ninerea). Diantara mamalia lain yang menarik adalah kalong (Pterus vampyrus), walang kopo (Cynocephalus
variegatus) dan jelarang (Ratufa bicolor) serta lumba-lumba (Delphinidae).
Sampai saat ini telah teridentifikasi sebanyak 21 jenis ular dan 17 jenis katak, diantaranya ular sanca kembang ( Phyton
reticulatus), phyton india. Selain itu terdapat buaya muara (Crocodylus porosus), biawak (Varanus salvator) dan penyu hijau
(Chelonia mydas). Selain itu, taman nasional ini kaya akan berbagai jenis burung yang diperkirakan mencapai 270 spesies baik

34
B. Lokasi Proyek

yang bersifat menetap maupun migran. Pada habitat laut umum dijumpai kelompok burung camar, dara laut, frigata ( Fregata ariel),
boobie (Sula sp.), tern (Sterna spp.) dan storm petrel (Oceanites oceanicus). Pada habitat pantai terutama pada bulan-bulan
tertentu dijumpai burung migran seperti erek, trulek, trinil, kuntul, bangau dan lain-lain yang berada dalam kelompok-kelompok.
Pada tipe habitat hutan pantai terdapat jenis burung pemakan buah dan serangga, hidup ditajuk pohon seperti pergam
(Ducula aenea), punai, burung madu, elang, elang laut putih (Heliaetus leucogaster), elang ikan berkepala abu-abu (Ichtyopaga
ichtyaetus) dan elang (Pandion haliaetus). Di hutan payau dan rawa dijumpai bangau dan kuntul, cangak abu-abu (Ardea cinerea),
cangak merah (Ardea purpurea) dan pecuk (Phalacro coradidae). Selain itu terdapat pula jenis–jenis merak, ayam hutan, puyuh,
pipit dan walet.

1.5 Pemilikan Lahan


Taman Nasional Ujung Kulon berada dibawah Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen
Kehutanan dimana Taman Nasional Ujung Kulon sendiri merupakan Unit Pelaksana Teknis Direktorat jenderal Perlindungan Hutan
dan Konservasi Alam. Seluruh kawasan hutan merupakan tanah negara, dan pengaturannya diatur dalam perundang-undangan.

1.6 Demografi
Besar jumlah penduduk sangat mempengaruhi tekanan terhadap kawasan. Semakin besar
jumlah penduduk dalam suatu kawasan berarti semakin tinggi pula kebutuhan lahan untuk pertanian
maupun pemukiman. Kendati memiliki luas yang relative lebih sempit dari pada desa-desa di
Kecamatan Cimanggu, tetapi desa-desa di Kecamatan Sumur memiliki jumlah penduduk yang lebih
besar. Hal ini dapat dilihat pada kondisi kepadatan penduduk di kedua kecamatan, Kecamatan Sumur
memiliki kepadatan penduduk sebesar 641,6 orang/km2, sedangkan Kecamatan Cimanggu sebesar
220,7 orang/km2. Oleh karena itu tingkat kebutuhan lahan untuk pertanian dan pemukiman di
Kecamatan Sumur lebih tinggi daripada kecamatan Cimanggu karena tingkat kepadatan penduduknya lebih tinggi. Mata
pencaharian masyarakat disekitar Taman Nasional Ujung Kulon (Kecamatan Sumur dan Cimanggu) didominasi oleh petani.
Sumber data yang diperoleh dari hasil pendataan potensi desa Kabupaten Pandeglang tahun 2008 menyebutkan bahwa
rata-rata mata pencaharian petani di Kecamatan Sumur 70 % sedangkan di Kecamatan Cimanggu 80 %, Penduduk di Desa
Taman Jaya Kecamatan Sumur merupakan penduduk dengan tingkat mata pencaharian sebagai petani paling rendah (70 %).
Desa Kramatjaya Kecamatan Cimanggu menduduki peringkat tertinggi persentase jumlah penduduk berprofesi sebagai petani
(80%).

35
B. Lokasi Proyek

Terutama di Kecamatan Sumur selain sebagai petani, beberapa kelompok masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai
nelayan (10%) dan kegiatan lainnya (3%). Untuk Kecamatan Cimanggu, selain bertani mereka juga sebagai nelayan (1%) dan
bidang kegiatan lainnya (9%). Yang dimaksud dengan bidang kegiatan lainnya diantaranya adalah Pegawai Negeri Sipil, Polisi,
TNI, pedagang, dan swasta. Menurut sumber dari data BPS Pandeglang tahun 2007, masyarakat di Kecamatan Sumur 67%-nya
masih tergolong keluarga pra-sejahtera dan sejahtera I. mSedangkan di Kecamatan Cimanggu 57% masyarakatnya tergolong
prasejahtera dan sejahtera I, dengan demikian bisa disimpulkan bahwa tingkat kesejahteraan mereka masih rendah yang
menyebabkan interaksi sosial dengan alam di kawasan Taman Nasioanal Ujung kulon untuk memenuhi kebutuhan hidup dan
sumber pendapatan.
Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Sunda, hasil survey yang dilakukan oleh TN Ujung Kulon pada awal
tahun 2009 menyebutkan bahwa mayoritas responden berada di antara kelompok umur 40 sampai 44 tahun (19.5%) dan kelompok
umur 35-39 tahun (15.7%). Sedangkan tingkat pendidikan formal mereka hasilnya menunjukkan bahwa 65.9% dari sampel yang
ada telah berhasil menyelesaikan pendidikan formal SD; 13% mencapai Sekolah Menegah Pertama dan 6.5% menyelesaikan
Sekolah Menengah Umum dan 7.9 responden tidak memiliki pendidikan formal.

1.7 Nilai-nilai Konservasi


Taman Nasional Ujung Kulon merupakan habitat satu-satunya bagi satwa langka badak Jawa, yang mampu menyediakan
rung lingkup untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Badak Jawa merupakan salah satu mamalia endemik yang ada di Taman
Nasional Ujung Kulon, dan dikategorikan kritis oleh IUCN serta dikategorikan appendix I oleh CITES. Selain itu Taman Nasional
Ujung Kulon juga merupakan tempat hidup satwa endemik Banteng, Owa Jawa, dan Surili. Keberadaan Taman Nasional Ujung
Kulon memberikan kontribusi penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, sebagai sumber plasma nutfah dan
tempat hidup biota laut.

1.8 Ancaman bagi Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Ujung Kulon


Berbagai penelitian telah dilakukan oleh beberapa peneliti yang ingin mengetahui ancaman dan penurunan habitat badak
Jawa, penelitian difokuskan pada habitat badak Jawa, kawasan penyangganya maupun sosial ekonomi masyarakat sekitar Taman
Nasional Ujung Kulon. Dalam hasil penelitiannya, Prof. Dr. Harini Muntasib menyebutkan bahwa ancaman yang saat ini dapat
mempengaruhi habitat badak Jawa diantaranya adanya invasi langkap, beberapa peneliti juga menyebutkan bahwa di Taman
Nasional Ujung Kulon juga terjadi persaingan pakan antara Badak Jawa dan Banteng. Sedangkan, hasil rekapitulasi data temuan
gangguan dan kasus yang terjadi di Taman Nasional Ujung Kulon, menunjukkan bahwa kasus penebangan hutan dan perambahan

36
B. Lokasi Proyek

hutan dari tahun ke tahun menunjukkan jumlah frekuensi yang semakin meningkat. Berikut kami sajikan tabel rekapitulasi data
gangguan atau kasus yang terjadi Taman Nasional Ujung kulon dari tahun 2003-2008.

1.9 Pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon


Pada tanggal 6 Maret 1980, melalui pernyataan Menteri Pertanian, Ujung Kulon mulai dikelola dengan Sistem Manajemen
Taman Nasional. Tahun 1984 dibentuklah Taman Nasional Ujung Kulon (kelembagaannya), melalui SK Menteri Kehutanan No.
96/Kpts/II/1984 yang wilayahnya meliputi Semenanjung Ujung Kulon, Gunung Honje, Pulau Peucang dan Panaitan, Kepulauan
Krakatau dan Hutan Wisata Carita.
Pada tahun 1992, Ujung Kulon ditetapkan sebagai Taman Nasional dengan SK. Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992
tanggal 26 Pebruari 1992, wilayahnya meliputi wilayah Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Panaitan, Pulau Peucang, P.
Handeuleum dan Gunung Honje, dengan luas keseluruhan 120.551 ha, yang terdiri dari daratan 76.214 ha dan laut 44.337 ha.
Dengan ditetapkannya Ujung Kulon sebagai Taman Nasional maka Ujung Kulon dikelola dengan system zonasi melalui SK. Ditjen
PHPA Nomor : 115/Kpts/DJ-II/1997 yang terdiri dari : Zona inti seluas 37.150 Ha, Zona Rimba seluas 77.295 Ha, Zona
Pemanfaatan Intensif seluas 1.096 Ha, Zona Pemanfaatan Tradisional seluas 1.810 Ha dan Zona Rehabilitasi seluas 3.200 Ha.
Visi Taman Nasional Ujung Kulon adalah “ Terwujudnya Taman Nasional Ujungkulon yang lestari dan bermanfaat bagi
kesejahteraan masyarakat sekitar” . Sedangkan misi TNUK adalah :
1. Mewujudkan fungsi TNUK bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar
2. Mewujudkan ekowisata di Taman Nasional Ujungkulon yang mendukung kelestarian TNUK dan pengembangan ekonomi
Daerah Kabupaten Pandeglang
3. Mewujudkan kelestarian flora, fauna terutama Badak Jawa, beserta ekosistem dan situs budaya di
Taman Nasional Ujungkulon
4. Mewujudkan fungsi Taman Nasional Ujungkulon bagi pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian dan
pendidikan
5. Mewujudkan pengembangan sumber daya alam hayati yang ada di Taman Nasional Ujungkulon baik
gen, species dan ekosistemnya yang mendukung pemanfaatan berkelanjutan.
Saat ini Taman Nasional Ujung Kulon memiliki jumlah pegawai sebanya 133 orang, yang berlatar pendidikan
Sekolah Menengah Atas, Sarjana Diploma maupun Sarjana, dalam menjalankan roda organisasi seorang
Kepala Balai dibantu oleh 3 orang Kepala Seksi di wilayah kerja dan 1 orang Kepala Sub Bagian Tata Usaha yang berada di kantor
balai.

37
B. Lokasi Proyek

Taman Nasional Ujung Kulon memiliki sarana transportasi berupa kendaraan roda 4 sebanyak 12 buah, sepeda motor
sebanyak 23 buah dan kapal patrol laut sebanyak 8 buah yang terbagi di masing-masingt wilayah. Selain itu juga ditunjang sarana
teknologi informasi, system database, internet online dan komputerisasi sampai tingkat seksi di lapangan. Saat ini kantor pusat
Taman Nasional Ujung kulon berada di kota Kecamatan Labuan, pada tahun 2008 kami menerima alokasi anggaran dari
pemerintah pusat sebesar Rp. 10.551.000.000,-
Taman Nasional Ujung Kulon juga mempunyai hubungan baik dengan berbagai Universitas negeri maupun swasta yang ada
disekitar Banten dan Bogor dalam melaksanakan berbagai kegiatan penelitian, pemberdayaan masyarakat, kajian-kajian ilmiah
maupun ekowisata, diantaranya dengan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Institut Pertanian Bogor. Saat ini sedang dirintis kerja
sama dengan Sekolah Menengah Atas yang ada disekitar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon untuk kegiatan pendidikan
konservasi yang akan dimuat dalam Muatan Lokal. Selain dengan lembaga pendidikan Taman Nasional Ujung Kulon juga
melakukan kerja sama dengan WWF dalam melaksanakan kegiatan penelitian badak Jawa dan pemberdayaan masyarakat,
terakhir kami akan menjalin kerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten dalam melaksanakan program
intensifikasi pertanian disekitar kawasan konservasi.

1.9.2 Perundang-undangan Kehutanan


Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistemnya menyediakan “Perlindungan” yang
mutlak terhadap habitat badak Jawa yang dimasukkan ke dalam pasal-pasal sebagai berikut :
Pasal 21
ayat 1 : Setiap orang dilarang :
a. mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan
yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati
Pasal 33
Ayat 3 : setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman
nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam.
Pasal 40
Ayat 2 : Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat
(1) dan ayat (2) serta pasal
33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00
(seratus juta rupiah)

38
B. Lokasi Proyek

Sedangkan Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan memberikan perlindungan terhadap habitat badak Jawa
terhadap berbagai ancaman yang dapat menurunkan kualitas habitat badak Jawa, diantaranya sebagai berikut :
Pasal 50
Ayat 3 : Setiap orang dilarang :
b. merambah kawasan hutan
Pasal 78
Ayat 2 : Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 50 ayat (3) huruf a, huruf b, atau
huruf c, diancam dengan
pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah)

1.9.3 Alokasi Anggaran Taman Nasional Ujung Kulon


Anggaran Taman Nasional Ujung Kulon dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, hal ini dikarenakan karena adanya
kenaikan gaji pegawai dan berbagai tambahan program kegiatan pemberdayaan masyarakat. Taman Nasional Ujung Kulon pada
tahun 2008 memperoleh anggaran mencapai Rp. 10.551.000.000,- anggaran tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), Departemen Kehutanan memberikan alokasi anggaran
tersebut untuk berbagai kegiatan diantaranya sebagai berikut :
Belanja Pegawai 50 %
b. Gaji Pegawai
c. Tunjangan Peningkatan Prestasi Kerja
d. Uang Makan
e. Upah Pegawai
Biaya Keanekaragaman Hayati 30 %
a. Sensus Badak
b. Inventarisasi Rusa
c. Inventarisasi Owa Jawa
d. Pemeliharaan Padang Pengembalaan
e. Pemberdayaan Masyarakat
Biaya Administrasi 20 %
a. Biaya Perjalanan
b. Biaya Pengeluaran rutin perkantoran, telpon, listrik dan air

39
B. Lokasi Proyek

c. ATK
d. Percetakan
e. Rapat-rapat
f. Pengamanan Hutan

Anggaran yang didapat oleh TNUK pada dasarnya untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada
pencapaian visi dan misi TNUK itu sendiri, dimana visi Taman Nasional Ujung Kulon adalah “ Terwujudnya Taman Nasional
Ujungkulon yang lestari dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat sekitar”
Pendanaan untuk gaji saya, biaya material/ produk materi kampanye dan biaya transportasi yang berhubungan dengan
kampanye Pride akan disediakan dari anggaran tahunan Taman Nasional Ujung Kulon; pendanaan untuk biaya implementasi
BROP akan ditutupi oleh hibah $16,680 dari Rare yang membentuk sebagian dari program Pride (ditambah dengan donasi lokal
yang akan didapatkan dari usaha kemitraan lokal). Sukarelawan akan digunakan bilamana memungkinkan termasuk dalam
melaksanakan survei kuisioner dan dalam rancangan material (pelayanan yang diberikan).

Catatan keberlanjutan: Taman Nasional Ujung Kulon berkomitmen untuk keberlanjutan dampak dari proyek ini.

40
B. Lokasi Proyek

2.0 TIM PROYEK DAN PEMANGKU KEPENTINGAN KUNCI


2.1 Lembaga Pemimpin dan Manajer Kampanye Pride
Balai Taman Nasional Ujung Kulon sejak pertengahan tahun 2007 dipimpin oleh Ir. Agus Priambudi, M.Sc. Masa
kepemimpinannya telah banyak inovasi dan kreatifitas yang telah dilakukan, terutama dalam upaya pengurangan ancaman melalui
pendekatan kepada masyarakat. Salah satu komitmen yang telah diwujudkan adalah usaha menjalin kerjasama dengan RARE
dalam program Pride Campaign, diyakini melalui kegiatan pride campaign dapat ditempuh langkah-langkah strategis dalam upaya
mengurangi ancaman konservasi di Taman Nasional Ujung Kulon.
Pada bulan Mei 2008 saya (Indra K. Harwanto) diusulkan oleh Kepala Balai TNUK untuk mengikuti mengikuti program pride
campaign, pada bulan Oktober 2008 saya mengikuti kelompok Rare’s Pride Program di University of Texas at el Paso di IPB Bogor.
Dalam Nota Kesepakatan yang telah ditandatangani oleh Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, sepakat untuk:
 Mengidentifikasi Manajer Kampanye yang sesuai (Indra K. Harwanto) yang memenuhi kriteria dan syarat yang ditentukan
oleh Rare, termasuk pembayaran setiap dan semua biaya yang berhubungan dengan pembuatan penilaian ini (misalnya
biaya tes kemampuan bahasa Inggris IELTS/TOEFL).
 Menempatkan Manajer Kampanye dalam Kampanye Pride secara penuh selama durasi proyek, tidak kurang dari 18 bulan,
termasuk untuk Komponen Universitas dan Komponen Berbasis Lapangan.
 Membayar gaji penuh dan manfaat lainnya sebagaimana diberikan kepada individu selama 18 bulan dari kampanye Pride,
pada besaran yang telah disepakati secara lokal dan dalam tingkatan gaji yang ada di Departemen Kehutanan.
 Menyediakan akses penuh terhadap transportasi lokal bagi Manajer Kampanye selama komponen berbasis lapangan dari
Kampanye Pride.
 Menutupi biaya internet dan telepon yang dikeluarkan oleh Manajer Kampanye sambil menjaga komponen pembelajaran
jarak jauh dari Proyek ini, dan biaya administratif lain seperti fotokopi, faks, panggilan telepon, dan surat.
 Menetapkan mentor (Pairah) untuk membantu mengarahkan Manajer Kampanye (selama komponen berbasis lapangan dari
Kampanye Pride). Mentor akan memeriksa dokumen proyek yang penting (termasuk rencana proyek ini), demikian juga
laporan bulanan dari Manajer Kampanye dan laporan keuangan Kampanye Pride. Mentor akan bertindak sebagai B. Lokasi Proyek
sumber
dukungan bagi Manajer Kampanye selama proyek, dan dapat menghubungi Rare setiap saat untuk pertanyaan atau urusan
apapun.
 Membayar segala biaya visa, pajak keberangkatan airport atau biaya lokal yang tidak disebutkan secara khusus dalam
kontribusi Rare.

41
B. Lokasi Proyek

 Menyediakan transportasi dari dan ke airport keberangkatan bagi Manajer Kampanye.

Terakhir, Kepala Balai TNUK telah memberikan komitmen anggaran (dalam anggaran regulernya) untuk mendukung
program dalam fase tindak lanjutnya termasuk produksi material tambahan jika diperlukan.

2.2 Kelompok Lain yang Sedang Bekerja di Taman Nasional Ujung Kulon
Kelompok-kelompok lain yang sedang bekerja di Taman Nasional Ujung Kulon dan kegiatan mereka meliputi:
 WWF Project Ujung Kulon mendukung kegiatan penelitian terhadap individu dan habitat badak Jawa. Mereka juga
memberdayakan masyarakat dalam kegiatan ekowisata melalui koperasi KAGUM dan peningkatan kapasitas masyarakat
sebagai pengrajin ukiran. website mereka; www.wwf.or.id
 Yayasan SEKAR, mendukung kegiatan kelompok pemuda disekitar kawasan TNUK dalam peningkatan kemampuan
mengoperasionalkan komputer, pelatihan kelembagaan dan peternakan.
 YABI (Yayasan Badak Indonesia), mendukung kegiatan Rhino Protection Unit di TN. Ujung Kulon

2.3 Pemangku Kepentingan Kunci


Analisa kelompok pemangku kepentingan kunci merupakan salah satu tahapan penting dalam perencanaan dokumen,
karena akan menentukan kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi dan membantu dalam pelasanaan dan keberhasilan
kegiatan pride. Berdasarkan karakteristik dan sosial ekonomi yang terjadi di masyarakat, maka beberapa kelompok pemangku
kepentingan kunci dapat kami sajikan dalam tabel dibawah ini ;
# Peserta/ Pemangku Nama, posisi, dan Isu-isu Kunci Sumbangan Potensial Motivasi untuk Konsekuensi Tidak
kepentingan rincian kontak peserta Hadir Mengundang
1 10 Kepala Desa Kamirudin, Adsa, Nadi, Karakter dan budaya masyarakat Pemahaman terhadap karakter dan Minat Pribadi Kehilangan data dan informasi
Darsa,Sulaeman, Wati, dll setempat serta ancamannya budaya masyarakat penting

2 Camat Cimanggu dan Sumur Didit Supriyanto, Suaedi K. Jejaring kerja dan koordinasi Dukungan terhadap kegiatan Profesi dan minat Kehilangan data dan informasi
081316617558 terpadu kampanye penting
3 Kepala Dinas Pertanian dan Absjah Pengetahuan pola pertanian Pemahaman terhadap sistem Profesi Kehilangan data dan informasi
Peternakan Kab. Pandeglang intensif pertanian pentingB. Lokasi Proyek
Dan penyuluhan pertanian Terpadu dan pola tanam yang baik

# Peserta/ Pemangku Nama, posisi, dan Isu-isu Kunci Sumbangan Potensial Motivasi untuk Konsekuensi Tidak
kepentingan rincian kontak peserta Hadir Mengundang

42
4 Kepala Dinas Kehutanan dan Aswing Asnawi Pengetahuan kawasan hutan Pemahaman konsep hutan rakyat dan Profesi Kehilangan data dan informasi
Perkebunan Kab. Pandeglang 081384451600 rakyat dan Alternatif usaha ekonomi penting
ancaman kawasan
5 Kepala Dinas Sosial dan Ismunandar Usaha pemberdayaan perempuan Pemahaman akan usaha Profesi Kehilangan data dan informasi
Pemberdayaan Masyarakat 081385777790 dan masyarakat pemberdayaan penting
masyarakat
6 Primer Koperasi Pegawai RI H. Utang Usaha ekonomi alternatif Pemahaman tentang kelembagaan Profesi Kehilangan data dan informasi
Kab. Pandeglang penting
7 KSM Sahabat Ujung Kulon Yaya Kelompok usaha ekonomi Kinerja dan semangat untuk dapat Minat dan profesi Kehilangan data dan informasi
085921873124 masyarakat melakukan perubahan penting
8 Fakultas Pertanian UNTIRTA DR. Kartina A.M. Pengolahan lahan garapan intensif Pemahaman akan ilmu pertanian Profesi Kehilangan data dan informasi
dan UNMA 081310069747 dan pertanian partisipatif alternatif Penting dan kerjasama
9 WWF Ujung Kulon Adi Rahmat H Pengelolaan hidupan satwa liar Pemahaman pengelolaan satwa Profesi dsn minat pribadi Kehilangan data dan informasi
0818134178 liar dan pemberdayaan masyarakat Penting dan kerjasama
10 Koperasi KAGUM Warca Dinata Pemberdayaan Masyarakat dan Keterampilan dalam pengemasan Profesi Kehilangan data dan informasi
ekowisata paket penting
wisata
11 BAPPEDA Kab. Pandeglang Parjiyo Koordinator dan sinkronisasi Memahami isu yang diperlukan Mengerti rencana yang Kehilangan data dan informasi
0811123688 perencanaan lintas sektoral strategis penting
12 Rare Hari Kushardanto TOC dan pemasaran sosial Pemahaman TOC dan pemasaran Profesi Konsultasi dan arahan tidak ada
08122013806 sosial
13 PT. Tanindo Wawan Menampung hasil jagung dari Menguasai dan mempunyai pasar Bisnis Kehilangan pasar
petani
14 YABI Marcellus Adi Pengelolaan hidupan liar dan Pemahaman pengelolaan kawasan Profesi Kehilangan data dan informasi
rhinomar22@gmail.com1 habitat konservasi penting
badak jawa
15 POLSEK SUMUR AKP. M Yusuf Pengamanan kawasan hutan Pengawas dan penegak hokum Profesi Kehilangan data dan informasi
terhadap penting
Kejahatan kehutanan
16 Seni dan Budaya Banten Mad Suki Pemahaman budaya lokal Keterampilan di bidanhg seni dan Profesi Kehilangan data dan informasi
087871196689 pemaha penting
man budaya lokal
17 TN. Ujung Kulon Agus Priambudi Pengelola kawasan TN. Ujung Pemahaman terhadap kawasan dan Profesi Kehilangan data dan informasi
081341301701 Kulon, ancaman penting
Pengetahuan ancaman dalam
kawasan
18 Ketua Tokoh Banten / Haelani Pengetahuan karakter masyarakat Pemahaman terhadap budaya dan adat Kehilangan data dan informasi
Jawara Banten masyarakat banten penting

43
B. Lokasi Proyek
# Peserta/ Pemangku Nama, posisi, dan Isu-isu Kunci Sumbangan Potensial Motivasi untuk Konsekuensi Tidak
kepentingan rincian kontak peserta Hadir Mengundang
19 HIMAPALA UNTIRTA dan Wito (UNTIRTA) Pengetahuan survey kualitatif dan Pemahaman survey kualitatif dan Minat, Kesadaran Kehilangan pengalaman dan
UNMA 085780840443 Sebagai voluenter pengalaman sebagai enumerator input
Dari mereka tentang
enumerator
20. Kelompok ibu-ibu Masih diidentifikasi Memegang peranan penting Memberi kontribusi dalam Ikut mengambil Kehilangan data dan informasi
dalam pengambilan keputusan penting
Mengambil keputusan keluarga keputusan di keluarga
21. Kelompok Masyarakat / Masih diidentifikasi Pengguna Sumberdaya Alam Memahami permasalahan di lapangan Profesi dan Kehilangan data dan informasi
petani hutan pengalaman penting

44
C. Model-model Konseptual
Semua kampanye Pride Rare dimulai dengan membangun suatu model konseptual, yang merupakan alat untuk
menggambarkan secara visual situasi di lokasi proyek. Pada bagian intinya, suatu model konseptual yang baik menggambarkan
seperangkat hubungan kausal secara grafis antar faktor yang dipercaya memberikan dampak kepada satu atau lebih sasaran
keanekaragaman hayati. Suatu model yang baik harus secara jelas menghubungkan sasaran keanekaragaman hayati dengan
ancaman langsung yang memberikan dampak padanya dan faktor yang berkontribusi (termasuk ancaman tidak langsung dan
kesempatan) mempengaruhi ancaman langsung. Model itu juga harus menyediakan dasar untuk menentukan dimana kita dapat
melakukan intervensi dengan strategi kita dan dimana kita perlu mengembangkan indikator untuk mengawasi keefektifan strategi
tersebut.
Seksi ini akan menunjukkan elemen model konseptual yang diidentifikasi oleh kelompok pemangku kepentingan sebagai
faktor yang memberikan kontribusi terhadap hilangnya kesehatan keanekaragaman hayati Pulau Serena:

3.0 Mengembangkan Suatu Model Konsep


3.1 Model Konseptual dengan Miradi
3.2 Model Konseptual Naratif Awal

45
C. Model-model Konseptual

3.0 MENGEMBANGKAN SUATU MODEL KONSEPTUAL


Pertemuan pemangku kepentingan pada bulan Januari 2009 mempertemukan 40 peserta yang mengidentifikasi faktor
langsung dan factor kontribusi serta membuat suatu Model Konseptual untuk Taman Nasional Ujung Kulon. Lingkup proyek
meliputi habitat badak Jawa dan Gunung Honje sebagai daerah tangkapan air, sedangkan konteks yang dibcarakan adalah factor-
faktor apa sajayang menyebabkan kerusahan hutan Ujung Kulon sebagai habitat badak Jawa dan Gunung Honje sebagai daerah
tangkapan air. Ancaman langsung diidentifkasi, kemudian dituliskan pada kartu-kartu yang lalu ditempelkan ke dinding dan
dihubungkan dengan sasaran yang sesuai dengan menggunakan tanda panah. Peserta kemudian membahas faktor yang
berkontribusi (ancaman tak langsung) yang mengarah kepada, atau memperburuk, faktor langsung. Secara kronologis akan kami
sajikan dibawah ini.
a. Peserta dibagi menjadi 6 kelompok, masing-masing terdiri dari 6 anggota.
b. Seluruh peserta yang hadir bekerja secara individu terlebih dahulu, untuk menjawab dan mengidentifikasi 5 hal dari sebuah
konteks pertanyaan “ Hal-hal apa saja yang menjadi faktor langsung penyebab kerusakan hutan TNUK sebagai daerah
tangkapan air dan habitat badak Jawa? “
c. Kemudian hasil identifikasi tersebut, didiskusikan dalam kelompok yang telah dibentuk, untuk mendapatkan 3 ide atau hal
yang paling penting menurut stakeholder dapat mempengaruhi
langsung kerusakan hutan TNUK.
d. Masing-masing kelompok kemudian menyerahkan 1 ide dalam 1
kartu kepada fasilitator untuk ditempel dalam dinding lengket,
fasilitator menempelkan kartu-kartu tersebut sambil dibacakan
kembali sebagai bentuk penegasan.
e. Apabila ada kartu yang sama makna dan artinya, kartu-kartu tersebut
harus dikumpulkan dalam 1 kelompok, kemudian masing-masing
kelompok menyerahkan kembali kartu-kartu yang berbeda dari kartu
yang telah ditempelkan sebelumnya, kemudian apabila ada yang
mempunyai makna yang sama, kartu tersebut juga harus
digabungkan.
f. Masing-masing kelompok diberi judul sebagai bentuk penamaan,
judul yang diberikan harus mencerminkan atau mewakili kalompok
kartu yang ada.

46
g. Kartu yang tersisa, digabungkan apabila sama dan dipisah apabila ada yang berbeda. Setiap kartu yang ditempelkan di
dinding, harus ditawarkan kepada stakeholder yang hadir untuk mendapatkan klarifikasi atau menghindari hal-hal yang tidak
jelas.
h. Hasil penamaan dari masing-masing kelompok kartu merupakan hasil dari konteks yang harus dijawab stakeholder dan
merupakan konsensus bersama. Stakeholder yang hadir, kemudian dipersilahkan membaca ulang hasil tersebut, untuk
mengingatkan dan mengefektifkan bahwa hasil tersebut merupakan konsensus bersama.
i. Selanjutnya faktor-faktor langsung penyebab kerusakan hutan hasil dari ToP, dibuat model konseptual untuk mencari akar
permasalahan atau faktor penunjang. Dimana masing-masing kelompok mendapat tugas masing-masing 1 kartu untuk
mencari faktor penunjang penyebab kerusakan hutan TNUK.
j. Setelah mendapatkan hasilnya, ditulis dalam kartu dan ditempelkan pada dinding lengket agar semua peserta
mengetahuinya, sekali lagi setiap langkah ketika kartu ditempelkan harus mendapatkan kesepakatan dan konsensus
bersama.
k. Masing-masing kartu dihubungkan dengan tali rafia yang diberi tanda panah sebagai penunjuk rantai faktor.
l. Diakhir pembuatan model konseptual, seluruh peserta dipastikan tetap menyimak hasil yang didapat dalam penyusunan
model konseptual, dimana hasil tersebut harus dibacakan ulang dan mendapatkan kesepakatan bersama.
m. Sebagai penutup, tidak lupa memberikan salam dan ucapan terima kasih sebagai wujud apresiasi atas kerja keras mereka
dalam menyumbangkan pemikirannya dan kerja keras atas kehadirannya.

3.1 Model Konseptual dengan Miradi


Setelah terbangun model konseptual melalui pertemuan pemangku kepentingan, perangkat lunak Miradi digunakan untuk
mengembangkan dan memasukkan model ke dalam tatanama standar menggunakan taksonomi ancaman yang dikembangkan
oleh IUCN. Grafik berikut ini merupakan bentuk model konseptual Taman Nasional Ujung Kulon setelah semua faktor langsung
dan berkontribusi di Taman Nasional Ujung Kulon dimasukkan.
Ini merupakan model konseptual Taman Nasional Ujung Kulon pertama setelah semua ancaman langsung dimasukkan, dan
faktor yang berkontribusi (termasuk ancaman tidak langsung), dari pertemuan pemangku kepentingan. Panah penghubung
menandakan hubungan antar faktor dan bagaimana mereka memberikan dampak pada sasaran yang berbeda di Taman Nasional
Ujung Kulon.

47
48
Faktor yg berkontribusi/ancaman tak langsung [kotak kuning] Ancaman langsung [kotak merah] Sasaran [lingkaran hijau]

49
C. Model-model Konseptual

Untuk membantu mencerna gambar di atas, berikut adalah gambaran singkat dari ancaman langsung dan faktor yang
berpengaruh yang diambil dari pertemuan pemangku kepentingan.

Ruang lingkup dan sasaran proyek Ancaman langsung Faktor yang berpengaruh (termasuk ancaman tak langsung)
Adanya permintaan pasar, batas tanah milik dan tanah kawasan tidak jelas, lemahnya
Penebangan Liar penegakan hokum dan kurangnya sosialisasi perundang-undangan, kebutuhan uang
tunai
Adanya aktivitas pembukaan lahan dengan membakar hutan, kurang kesadaran
 Habitat Badak Jawa Kebakaran Hutan masyarakat, penyuluhan bahaya kebakaran hutan kurang efesien, aktivitas mencari
madu hutan dengan api dan petugas jarang di pos
 Hutan Gunung Honje Pembukaan Lahan Baru untuk sawah Terbatasnya lahan pertanian di tanah desa, tidak mempunyai lahan garapan sendiri,
penghasilan panen tidak mencukupi, adanya mitos membuka lahan hutan sebelum S.
didalam kawasan Cilintang diperbolehkan dan sawah garapan didalam kawasan dijadikan sebagai warisan

Tambang Liar Kebutuhan akan uang tunai dan kebutuhan hidup sehari-hari tidak tercukupi.

Perburuan Babi Hutan didalam kawasan Untuk mengamankan lahan pertanian dari babi hutan, masyarakat masih mempunyai
TNUK senjata locok dan babi hutan dianggap sebagai hama.

3.2 Model Konseptual Naratif Awal


Taman Nasional Ujung Kulon memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, selain sebagai habitat badak Jawa, Taman
Nasional Ujung Kulon juga merupakan daerah tangkapan air tepatnya di kawasan Gunung Honje. Dalam membuat model
konseptual di stakeholder workshop I, kawasan Ujung Kulon dibagi menjadi 2 scope yaitu habitat Badak Jawa dan Gunung Honje
sebagai daerah tangkapan air, masing-masing scope menghadapi ancaman yang dapat menurunkan keanekaragaman hayati,
diantaranya penebangan hutan, pembukaan lahan untuk pertanian, kebakaran hutan, tambang liar, dan perburuan babi hutan.
Dari kelima ancaman tersebut, semuanya disebabkan oleh aktivitas manusia, kecuali beberapa kejadian kebakaran hutan yang
disebabkan oleh factor alam, tetapi presentasinya sangat kecil.

 Pembukaan lahan baru untuk pertanian (sawah),


– Aktifitas pembukaan lahan baru untuk sawah atau pertanian akan mengancam pada habitat badak Jawa, ancaman ini
menjadi serius karena masyarakat mempunyai persepsi bahwa untuk meningkatkan hasil pertanian mereka harus
melakukannya dengan cara perluasan lahan.

50
C. Model-model Konsep

- Kategori ancaman IUCN: 2.1 (Annual and perennial non timber crops)
 Penebangan Liar
– Ancaman penebangan liar terhadap kawasan hutan Gunung Honje disebabkan karena untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya dan tidak adanya aktifitas lain yang dapat digunakan untuk menambah pendapatan ekonominya, dampak yang
akan ditimbulkan apabila ancaman itu dibiarkan adalah akan meluas hingga habitat badak Jawa.
- Kategori ancaman IUCN: 5.3 (Penebangan pohon dan pemanenan kayu)
 Kebakaran Hutan (Kebakaran & Pemadaman Kebakaran)
– Pada tahun 2007 terakhir kali terjadi kebakaran hutan di kawasan hutan Gunung Honje, kebakaran disebabkan karena
adanya keteledoran masyarakat yang membuang punting rokok dan adanya bekas perapian yang digunakan untuk mencari
madu hutan, perapian tersebut lupa dimatikan. Dampapak yang ditimbulkannya terbatas karena adanya partisipasi dari
masyarakat dalam memadamkan api dan kesigapan petugas TNUK.
- Kategori ancaman IUCN: 7 (Modifikasi Sistem Alami): 7.1 Kebakaran & Pemadaman Kebakaran
 Perburuan Babi Hutan di kawasan TNUK (Perburuan & Pengambilan Hewan Daratan)
– Kegiatan perburuan babi hutan dilakukan karena babi hutan dianggap sebagai hama tanaman pertanian mereka, dampak
yang ditimbulkannya sangat terbatas karena hanya dilakukan di kawasan Gunung Honje bagian Timur.
- Kategori ancaman IUCN: 5 (Penggunaan Sumber Daya Alam Hayati): 5.1 Perburuan dan pengambilan hewan daratan.
 Pertambangan Liar (pertambangan dan penggalian)
– Pertambangan liar dilakukan untuk mengambil pasir, batu dan emas. Saat ini kegiatan tersebut sudah berhenti karena
alternatif yang lebih murah dan mudah telah ditemukan, selain itu adanya penegakan hukum membuat mereka jera.
Kategori ancaman IUCN: 3 (Produksi Energi & Pertambangan) : 3.2 Pertambangan & Penggalian

51
D. Analisis Ancaman
Taman Nasional Ujung Kulon sebagai habitat badak Jawa dan daerah tangkapan air, mengalami berbagai ancaman yang
dapat menurunkan kualitas lingkungan, berbagai ancaman tersebut memang selayaknya mendapatkan perhatian yang serius oleh
pimpinan TNUK, keterbatasan sumberdaya dan waktu memaksa kami untuk menentukan skala prioritas ancaman mana yang
harus ditangani lebih serius. Tantangan umum untuk manajer sumber daya adalah menentukan yang mana dari banyak ancaman
ini yang akan coba kita tangani. Peringkat ancaman merupakan suatu metode untuk membuat langkah yang lengkap ini menjadi
lebih jelas dan lebih obyektif. Ini melibatkan penentuan dan pendefinisian seperangkat kriteria kemudian mengaplikasikannya
secara sistematis pada ancaman langsung di lokasi sehingga tindakan konservasi dapat diarahkan pada tempat dimana mereka
benar-benar diperlukan.

4.0 Peringkat Ancaman


4.1 Lingkup, Intensitas, dan Ketakberbalikan
4.2 Rantai Faktor

52
D. Analisis Ancaman

4.0 PERINGKAT ANCAMAN


Degan menggunakan Model Konseptual awal yang dikembangkan pada pertemuan pemangku kepentingan kunci, perangkat
lunak Miradi digunakan untuk menetapkan peringkat ancaman langsung yang telah mereka identifikasi 4. Peringkat ini berguna
untuk:
1) Mengidentifikasi “sasaran” dengan peringkat tertinggi (Habitat Badak Jawa atau Gunung Honje sebagai daerah tangkapan
air)
2) Mengidentifikasi ancaman dengan peringkat tertinggi yang berdampak pada sasaran

Perangkat lunak Miradi secara otomatis menangkap sasaran dari Model Konsep, memunculkan mereka sejajar dengan “X” axis
dan dengan ancaman langsung yang sejajar dengan Y axis.

4.1 Lingkup, Intensitas & Ketakberbalikan


Setiap ancaman diberi peringkat berdasarkan Lingkup, Tingkat Kerusakan & Ketakberbalikan, terhadap setiap sasaran dengan
menggunakan petunjuk penilaian berikut ini:
KUNCI KRITERIA ANCAMAN (Berdasarkan definisi Miradi)
A: LINGKUP (Area)
4 = Sangat Tinggi: Ancaman kemungkinan besar akan menyebar ke seluruh atau sebagian besar lokasi anda.
3 = Tinggi: Ancaman kemungkinan besar akan menyebar dalam lingkupnya, dan mempengaruhi sasaran konservasi di banyak tempat pada lokasi anda
2 = Sedang: Ancaman kemungkinan besar memiliki cakupan lokal, dan mempengaruhi sasaran konservasi di beberapa tempat pada lokasi sasaran.
1 = Rendah: Ancaman kemungkinan besar memiliki cakupan terlokalisasi, dan mempengaruhi sasaran konservasi di bagian yang terbatas pada lokasi sasaran.
B: TINGKAT KERUSAKAN – Tingkat kerusakan terhadap sasaran konservasi yang beralasan untuk diharapkan pada keadaan saat ini (yaitu berdasarkan keberlanjutan situasi yang ada).
4 = Sangat Tinggi: Ancaman kemungkinan besar menghancurkan atau menghilangkan sasaran konservasi pada beberapa bagian di lokasi.
3 = Tinggi: Ancaman kemungkinan besar mendegradasi (serius) sasaran koservasi pada beberapa bagian di lokasi.
2 = Sedang: Ancaman kemungkinan besar mendegradasi (sedang) sasaran konservasi pada beberapa bagian di lokasi.
1 = Rendah: Ancaman kemungkinan besar hanya sedikit merusak sasaran konservasi pada beberapa bagian di lokasi.
C: KETAKBERBALIKAN – Pentingnya mengambil tindakan cepat untuk melawan ancaman.
4 = Sangat Tinggi: Akibat ancaman langsung tidak berbalik (misalnya, lahan basah dikonversi menjadi pusat perbelanjaan).
3 = Tinggi: Akibat ancaman langsung dapat dibalikkan, tapi tidak mampu dipraktekkan (misalnya, lahan basah dikonversi menjadi lahan pertanian).
2 = Sedang: Akibat ancaman langsung dapat dibalikkan dengan komitmen sumber daya yang layak (misalnya, menyingkirkan dan mengeringkan lahan basah).
1 = Rendah: Akibat ancaman langsung dapat dengan mudah dibalikkan dengan biaya yang relatif rendah (misalnya, kendaraan off-road melewati lahan basah).
4 (Ref: Margoluis, Richard A.; and Niklaus Salafsky [1998] Measures of Success, Island Press, Washington DC).

53
D. Analisis Ancaman

Ilustrasi A menunjukkan proses pemeringkatan ancaman menggunakan Miradi. Ilustrasi B menunjukkan Peringkat Ancaman
Akhir. Perlu dicatat bahwa kesimpulan peringkat yang disusun berdasar “target” menunjukkan bahwa Hutan Gunung Honje
merupakan target yang paling kritis terancam, dengan nilai “Tinggi”, dengan ancaman dari Pembukaan Lahan Baru untuk sawah
didalam kawasan memiliki peringkat “Tinggi” (lihat ilustrasi C pada halaman berikutnya).

Ilustrasi A
Tabel peringkat ancaman akhir dengan semua ancaman telah selesai
diproses. Panah menunjuk ke peringkat “tinggi” dari Hutan Gunung
Honje dan “tinggi” dari Pembukaan lahan untuk sawah.

Ilustrasi B
Tabel peringkat ancaman akhir, dengan tanda panah
menunjukkan peringkat ancaman paling tinggi terhadap
Hutan Gunung Honje oleh Pembukaan Lahan Baru
untuk sawah didalam kawasan

54
D. Analisis Ancaman
Ilustrasi C
Proses akhir analisis peringkat ancaman.
D. Analisis Ancaman

4.2 Rantai Faktor

Setelah mengetahui ancaman paling kritis (pembukaan lahan baru untuk sawah), kita sekarang kembali ke Model
konseptual untuk melihat siapa dan apa yang ada di balik ancaman; yaitu faktor apa yang memberikan kontribusi (termasuk
ancaman tidak langsung) yang membuat lingkungan dimana ancaman ini muncul dan yang harus ditangani untuk mengurangi
ancaman dan meningkatkan kondisi sasaran. Gambaran Model Konseptual yang disederhanakan dan lebih linier ini disebut “rantai
faktor”.
Pengetahuan ini akan digunakan untuk merancang penelitian formatif kami, untuk melakukan validasi terhadap fakta apakah
kita telah memilih sasaran keanekaragaman hayati yang benar, ancaman yang benar, khalayak yang benar, dan strategi yang
benar untuk menangani dan menguranginya?
D. Analisis Ancaman

“Benar” berarti khalayak yang didentifikasi benar-benar mendorong adanya ancaman keanekaragaman hayati yang kritis.
Model yang kami bangun membantu kami untuk melihat siapa (khalayak potensial) yang berada dibalik ancaman pembukaan
lahan baru untuk sawah didalam kawasan. Khalayak dilingkari dalam warna merah di atas: Masyarakat (Petani)
4.2.1 Rantai faktor untuk Petani

Rantai Faktor untuk petani hanya memasukkan faktor kontribusi (termasuk ancaman tak langsung) yang disebabkan oleh
khalayak, dalam hubungannya dengan ancaman langsung pembukaan lahan baru untuk sawah didalam kawasan. Faktor ini
diantaranya adalah: hasil panen pertanian yang didapat tidak mencukupi kebutuhan hidup satu tahun, musim kemarau lahan tidak
digarap, pola intensifikasi lahan tidak diterapkan masyarakat penggarap, sifat malas dalam menggarap lahan pada saat musim
kemarau dan pengetahuan masyarakat tentang teknik intensifikasi lahan belum optimal. Masyarakat dalam hal ini adalah petani
penggarap diluar kawasan.
E. Penelitian Formatif

Target Threat for Pride


campaign
E. Penelitian Formatif
Pekerjaan perencanaan yang dilakukan sampai saat ini telah didapat dari kelompok pemangku kepentingan yang relatif kecil
dan keputusan dibuat berdasarkan banyak asumsi yang belum diuji. Data perlu diuji kebenarannya di lapangan dengan para ahli
yang lebih beragam. Percakapan terarah juga dapat membantu kita menentukan Pilihan Pengelolaan dan untuk memulai
membangun Gambar gabungan (composit portrait) dari kedua khalayak, juga membantu merancang survei kuantitatif seperti yang
dijelaskan pada Seksi 7.0. Survei kuantitatif akan membantu kita memahami khalayak primer kita sekaligus membuat kita dapat
menyusun data dasar untuk mengukur perubahan yang disebabkan oleh kampanye Pride. Urutan hasil penelitian formatif yang
diperlihatkan di sini tidak mesti sesuai dengan kronologi pengumpulan data, dan pada beberapa kasus, pengulangan ganda dari
penelitian, seperti percakapan terarah dengan khalayak, diperlukan.

5.0 Percakapan Terarah


5.1 Dengan Ilmuwan
5.2 Dengan Kepala Balai
5.3 Dengan Ketua Yayasan Badak Indonesia
5.4 Dengan Khalayak Utama
5.5 Manfaat dan Hambatan
6.0 Pilihan Pengelolaan (BRAVO)
7.0 Rantai Hasil dan Sasaran Awal
E. Penelitian Formatif

8.0 Menetapkan Data Dasar (Baseline)


9.0 Hasil Survei
9.1 Ringkasan Bio-data
9.2 Pilihan Media oleh Segmen-segmen Kunci
9.3 Sumber yang Tepercaya
9.4 Pengetahuan and Sikap mengenai Isu Pokok
9.5 Praktik dan Hambatan
9.6 Rangkaian Kesatuan Perubahan Perilaku
9.7 Manfaat
9.8 Spesies Bendera/Flagship
10.0 Memahami Khalayak Anda

5.0 PERCAKAPAN TERARAH

1. Percakapan terarah dengan Ilmuwan untuk Menilai Peringkat Ancaman


Dalam komunikasi melalu email bersama dengan pakar badak Jawa dari Institut Pertanian Bogor (E.K.S. Harini M.), saat
ditanya pendapatnya mengenai ancaman perambahan hutan sebagai ancaman utama beliau menyatakan bahwa “ Betul kalau dari
masyarakat pembukaan lahan baru menjadi ancaman utama,walau sebenarnya itu adalah masalah lama yang berkali-kali
ditertibkan tetapi kemudian kembali lagi. dengan adanya perubahan/reformasi sekarang ini masalah itu menjadi sangat berat untuk
pengelola TNUK karena masyarakat selalu memojokan "penting mana badak atau manusia". Nah disitulah masalah
beratnya,bukan fisiknya saja.” Ketika ditanya apakah setuju ancaman tersebut juga membahayakan habitat badak Jawa? Beliau
menyampaikan “ Membahayakan secara langsung saat ini belum, tetapi kalau dihubungkan dengan kesepakatan kita untuk
memperluas habitatnya menuju ke Gunung Honje maka menjadi masalah penting karena pembukaan lahan baru apalagi kalau di
lokasi menuju Gn Honje akan menghalangi rencana perluasan habitat di tempat asli badak.” Beliau juga memberikan pendapat
bahwa perambahan hutan dapat dihentikan “ Bisa tetapi jelas gak mungkin kalau hanya sendiri karena harus melibatkan banyak
pihak, mulai pengambil keputusan yang formal, non formal dan secara berangsur-angsur dengan proses.”
2. Percakapan terarah dengan Kepala Balai TNUK
Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon dalam diskusi secara informal menyampaikan bahwa ancaman perambahan
hutan untuk dijadikan lahan garapan memang menjadi ancaman paling serius terhadap kelestarian hutan Ujung Kulon sebagai
habitat badak Jawa dan daerah tangkapan air, dalam tahun ke tahun tindak kejahatan kehutanan berupa perambahan hutan dan
perluasan lahan garapan sebenarnya saat ini lebih banyak terjadi di kawasan Resor Legon Pakis (Ds. Ujung Jaya), Resort Cegog
(Ds. Ranca Pinang) dan Resort Cibadak (Ds. Cibadak), walaupun skalanya kecil tetapi akan menimbulkan dampak yang besar dan
meluas apabila tidak ditangani secara serius, Resort Legon Pakis sangat berdekatan dengan zona inti.
Kepala Balai menyebutkan bahwa salah satu penyebab terjadinya perambahan hutan adalah tidak adanya alternatif usaha lain
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya mereka bergantung kepada sunberdaya
alam yang ada didalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon

3. Percakapan terarah dengan Ketua Yayasan Badak Indonesia (YABI)


Dalam kunjungannya ke Taman Nasional Ujung Kulon dalam acara survey rencana lokasi Javan Rhino Sanctuary, ketua
YABI (Widodo S. Ramono) kami tanya beberapa hal mengenai ancaman yang terjadi di Taman Nasional Ujung Kulon, terutama
terhadap habitat badak Jawa.
Menurut beliau ancaman penebangan hutanterhadap kerusakan habitat badak Jawa yang terjadi saat ini di TNUK belum sampai
pada titik yang menghawatirkan, penebangan hutan banyak terjadi di kawasan Gunug Honje. Akan tetapi aktivitas perambahan
hutan berupa pembukaan lahan garapan didalam kawasan TNUK khususnya yang terjadi di Resort Legon Pakis dan Resort Cegog
akan membahayakan habitat badak Jawa.Pembukaan hutan untuk sawah adalah ancaman yang paling serius, karena tingkat
keparahannya tinggi dan memiliki dampak yang luas.

4. Percakapan terarah dengan khalayak kunci


Percakapan dengan khalayak kunci dilakukan beberapa minggu setelah stakeholder workshop I, kami mendatangi tokoh
masyarakat di Desa Ujung Jaya (Suhaya) yang mengatakan bahwa perambahan hutan atau pembukaan hutan untuk sawah
dilakukan oleh masyarakat karena hasil panen pertanian tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hal ini dikarenakan
musim kemarau lahan garapan tidak digarap dan musim hujan panen sekali, masyarakat tidak mengetahui bagaimana mengolah
lahan yang baik pada saat musim kemarau dan penghujan. Sehingga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya mereka menerapkan
pola ekstensifikasi lahan pertanian, yaitu mereka beranggapan semakin besar dan luas lahan garapannya akan semakin banyak
hasil panen yang didapatkan. Selain itu sebagian besar masyarakat Desa Ujung Jaya masih mempercayai mitos dari nenek
moyangnya bahwa membuka hutan sebelum melewati Sungai Cilintang diperbolehkan dan tidak akan mengganggu badak Jawa.
5. Manfaat & Hambatan
Percakapan dengan beberapa pakar dan khalayak kunci menyebutkan bahwa program peningkatan pengetahuan dan
penerapan teknologi intensifikasi pertanian akan mendatangkan beberapa manfaat, antara lain :
 Dengan menerapkan system intensifikasi pertanian, masyarakat tidak hanya meningkat pendapatan ekonominya dari hasil
panen pertanian, tetapi juga dapat sekaligus menyelamatkan habitat badak Jawa. Karena tidak perlu memperluas lahan garapan
didalam kawasan dan hanya cukup dengan memanfaatkan lahan yang ada secara optimal.
 Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap fungsi dan manfaat kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dapat mengurangi
ancaman konservasi di TNUK
 Anak cucu tetap mendapatkan warisan tidak hanya dalam bentuk lahan garapan tetapi juga bentuk warisan lain seperti
tabungan atau tanaman
 Masyarakat petani penggarap akan menerima image baru sebagai petani yang ikut bertanggung jawab terhadap kelestarian
hutan Ujung Kulon dan tidak lagi menerima image sebagai perambah hutan.
Hambatan-hambatan yang masih memberatkan masyarakat adalah keterbatasan dana yang mereka miliki, ilmu pengetahuan yang
rendah dan keterbatasan waktu yang ada.
Kegiatan yang mungkin dilakukan untuk mengurangi penghalang dalam mengadopsi perilaku baru dalam menerapkan
program peningkatan pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian adalah:
 Petani akan mendapatkan pendampingan teknis selama menjalankan program bersama dengan PPL dan petugas TNUK
 Bibit unggul akan diberikan oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten secara gratis.
 Peningkatan pengetahuan masyarakat akan sistem intensifikasi pertanian akan diberikan melalui sekolah lapang
 Akan dilakukan pendekatan kepada Kepala Desa dan kelompok tani tentang tujuan program ini dan penyuluhan kepada
masyarakat pada umumnya.
E. Penelitian Formatif

6.0 PILIHAN PENGELOLAAN (BRAVO)


Berdasarkan diskusi dengan lembaga internal di kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon, diperoleh beberapa pilihan
strategi, yaitu :
1. Pengenalan dan peningkatan program intensifikasi pertanian, diversifikasi tanaman dan pembuatan sumur artesis di luar
kawasan TNUK secara integral dengan pihak yang berkompeten.
2. Peningkatan keterampilan masyarakat dibidang pemberdayaan usaha ekonomi.
3. Konsistensi penegakan hukum baik secara preventif, pre entif dan represif serta kegiatan KPH Partisipatif
4. Meningkatkan atau optimalisasi disiplin dan tanggung jawab petugas melalui pembinaan rutin oleh manajemen.

Alasan atau pertimbangan yang mendasari pemilihan strategi tersebut :


a. Kenapa strategi I pengenalan dan peningkatan program intensifikasi pertanian,
diversifikasi tanaman dan pembuatan sumur artesis di luar kawasan TNUK secara
integral dengan pihak yang berkompeten dilaksanakan diluar kawasan? Kenapa tidak
didalam kawasan, padahal target khalayak utama atau kunci adalah petani penggarap
lahan didalam kawasan? Pertama strategi ini disepakati dilaksanakan diluar kawasan
dengan asumsi, jika strategi tersebut berhasil dilaksanakan diluar kawasan kita
berharap mereka yang menggarap didalam kawasan dapat keluar dari dalam kawasan,
karena lahan garapan diluar kawasan lebih menguntungkan untuk digarap, asumsi
kedua dengan hasil pertanian yang meningkat akibat pelaksanaan program
intensifikasi pertanian diluar kawasan dan pemanfaatan lahan yang optimal diharapkan
mereka tidak perlu lagi menambah luas garapannya didalam kawasan, cukup
memanfaatkan lahan yang diluar saja.

b. Lalu timbul pertanyaan kedua, bagaimana dengan petani yang menggarap didalam kawasan tetapi tidak punya lahan
garapan diluar kawasan, karena kita ketahui lahan desa terbatas? Menjawab pertanyaan itu, kita sepakat tetap memberikan
akses bagi petani penggarap didalam kawasan, akses tersebut kita wujudkan dengan membuat Kesepakatan pengelolaan
SDA, air dan penggarapan lahan melalui kegiatan Kesepakatan Pengelolaan Hutan Partisipatif (KPH Partisipatif), kegiatan
KPH Partisipatif seiring dengan kegiatan pride campaign, perbedaannya KPH Partisipatif lebih fokus pada penggarap
didalam kawasan sedangkan pride campaign strateginya dilaksanakan diluar kawasan, tetapi kedua kegiatan tersebut fokus
ancamannya sama yaitu mengurangi perluasan lahan garapan didalam kawasan.
Jadi strategi pride campaign sebenarnya secara tidak langsung juga bisa diadopsi oleh petani penggarap didalam kawasan,
tetapi dengan batasan dan kesepakatan yang mengikat, karena peraturan pemerintah no 56 tahun 2006 tentang zonasi
E. Penelitian Formatif
mengatur seperti itu, perlakuan yang diberikan sangat berbeda tetapi tujuannya sama. Alasan lain kenapa diluar kawasan
strateginya, untuk mengupayakan kegiatan pride campaign dapat terlaksana secara komprehensif dengan program yang
sudah ada.

c. Strategi pride campaign yang ke-2, peningkatan keterampilan masyarakat dibidang pemberdayaan usaha ekonomi, kita
sepakati untuk menjadi prioritas strategi kedua karena untuk menjawab tambahan pendapatan ekonomi mereka dalam
memenuhi kebutuhan hidup 1 tahun, kegiatan yang tergambar dalam diskusi saat itu adalah pengembangan dan
peningkatan usaha-usaha ekonomi yang ada, baik kompetensinya, produknya dan pemasarannya. Diharapkan strategi
tersebut dapat sejalan dengan strategi pertama.

d. Pertimbangan lain dari penentuan strategi tersebut adalah Dinas Pertanian Provinsi pada tahun 2008 telah mempunyai
program diversifikasi tanaman pertanian, dengan memberikan teknik pertanian menanam jagung pada saat musim kemarau,
mereka juga memberikan peralatan pertanian berupa traktor sebanyak 6 buah, tetapi pelaksanaannya masih belum optimal
dan tidak sesuai yang diharapkan, hal itu dikarenakan Dinas Pertanian memberikan bibit pada saat musim hujan dan kurang
ada pendampingan teknis, mereka menjajikan kegiatan tersebut masih dilanjutkan pada tahun berikutnya.

e. Sedangkan strategi prioritas manajemen balai TNUK berupa penegakan hukum dan optimalisasi disiplin pegawai,
dilatarbelakangi karena kedua strategi tersebut melekat dengan fungsi organisasi balai dan kewajiban balai, dan dengan
memperhatikan konsep model yang ada, kita sepakat bahwa konsep model tersebut menjadi bahan pertimbangan balai
TNUK dalam melakukan penegakan hukum eksternal dan internal, eksternal dilakukan terhadap para pelaku kejahatan
kehutanan, sedangkan internal dilakukan terhadap pegawai yang tidak disiplin dan tanggung jawab, dengan memberikan
reward bagi yang berprestasi dan hukuman bagi yang tidak menjalankan tupoksinya. Karena diyakini bahwa, faktor ini juga
memberikan kontribusi kegiatan pembukaan lahan baru semakin luas, karena petugas jarang di pos dan tidak tegas.
Konsep model yang ada juga sebagai bahan intropeksi manajemen Balai TNUK
Dari seluruh pilihan strategi yang dijabarkan diatas, pilihan strategi program peningkatan pengetahuan dan penerapan
teknologi intensifikasi pertanian menjadi pilihan strategi BR, hal ini didasari karena strategi ini yang akan langsung mengurangi
ancaman konservasi secara cepat selain pertimbangan waktu dan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki, strategi ini akan
didukung pelaksanaannya melalui kegiatan KPH Partisipatif sebagai social capital terhadap strategi ini sehingga tingkat
E. Penelitian Formatif
keberlanjutan program dan hasil yang didapat lebih optimal. Dampak dan kelayakan strategi ini kami sajikan dibawah ini.
Rata-rata
Kategori Sub-kategori Nilai
Nilai Kategori
 Biaya-biaya 3
Ekonomi  Pendapatan 3 3,3
 Penggantian Pendapatan 4
Kelayakan

 Teknologi 3,6
Teknik  Kapasitas / Kemampuan Organisasional 3,6 3,7
 Mitra Lainnya 4
 Kepemimpinan Masyarakat 4
Budaya / Politik  Lingkungan Politik 3,5 3,8
 Norma-norma Budaya 4
Nilai Kelayakan 3,6
Dampak

 Dampak Konservasi 3,5


Dampak dan Metrik-  Titik-titik Ungkit 4
 Metrik-metrik 3,8
metrik
4

3,8
Nilai Dampak
E. Penelitian Formatif
Faktor-faktor Resiko Konsekuensi Strategi-strategi Mitigasi
MoU antara Balai TNUK dan Distanak propinsi Menghambat pelaksanaan strategi BR Menyakinkan kedua belah pihak terhadap peran-perannya.
Banten tidak terwujud

Mencari lembaga lain yang mau berkomitmen membantu dalam


Belum adanya kepastian lembaga atau mitra Implementasi BR tidak berjalan sesuai harapan pendanaan
yang berkomitmen secara tegas membantu
pendanaan Memasukan secara integral strategi BR dalam perencanaan Balai TNUK
Komitmen yang telah terbangun menjadi berubah
Apabila Kepala Balai Taman Nasional Ujung
Kulon diganti
Apa: Taman Nasional Ujung Kulon memiliki ancaman utama berupa pembukaan lahan garapan baru untuk sawah di dalam
kawasan, untuk mengurangi perluasan lahan garapan baru didalam kawasan tersebut, petani penggrap di sekitar kawasan Taman
Nasional Ujung Kulon akan dikenalkan sistem pertanian pola intensifikasi lahan. Program peningkatan pengetahuan dan
penerapan teknologi intensifikasi pertanian tersebut akan dilakukan di 3 desa prioritas pride campaign dan bekerjasama dengan
Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten serta RARE. Program ini dikenalkan karena masyarakat dalam upaya
meningkatkan hasil pertanian selalu memperluas lahan garapan didalam kawasan (ekstensifikasi), hal ini dikarenakan mereka
belum dapat mengoptimalkan hasil pertanian pada lahan garapan yang dimiliki, karena keterbatasan ilmu dan teknologi pertanian
yang dimiliki, selain itu juga pemenuhan kebutuhan air yang terbatas pada saat musim kemarau. Usaha ini sebelumnya belum
pernah diketahui keberhasilannya di tempat lain (sekitar kawasan konservasi), tetapi Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi
Banten telah berhasil mendampingi petani yang memanfaatkan lahan tidur di daerah Serang.

Siapa: Program peningkatan pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian, diharapkan dapat diadopsi oleh petani
penggarap di sekitar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, di 3 desa, 15 kelompok atau blok. Kegiatan program peningkatan
pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian akan bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan
(Distanak) Propinsi Banten dan RARE, sampai saat ini komitmen yang diberikan cukup positif, Distanak Propinsi Banten akan
memberi bantuan teknis di lapangan melalui Penyuluh Pertanian Lapang (PPL), menyediakan anggaran untuk pengadaan bibit
dan saprodi, RARE berkomitmen membantu dalam pendanaan unruk melaksanakan BR sedangkan Balai Taman Nasional Ujung
Kulon akan membantu dalam upaya monitoring kegiatan selama dan sesudah kegiatan dilaksanakan, serta membantu
memfasilitasi setiap pertemuan yang akan dilaksanakan.
Kapan: Program peningkatan pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian akan dimulai pada pertengahan bulan
Juli 2009 setelah perjanjian kerja sama antara Taman Nasional Ujung Kulon dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi
Banten disepakati atau disahkan, diperkirakan sebelum Bulan Oktober 2009 program Program peningkatan pengetahuan dan
penerapan teknologi intensifikasi pertanian sudah dapat dilaksanakan di 3 desa. Dan pada Bulan Mei 2010 lahan yang tidak
dimanfaatkan ketika musim kemarau bisa dimanfaatkan masyarakat untuk ditanami tanaman palawija sebagai penghasilan
tambahan. Sedangkan pemantauan atau monitoring dilakukan selama kegiatan berjalan sampai setelahE. selesai Penelitianproyek.
Formatif
Diharapkan, pada akhir kegiatan pride campaign, 50 % masyarakat target dapat mengadopsi pola pertanian intensif tersebut.

Bagaimana: Untuk melaksanakan program pengenalan pola pertanian intensifikasi lahan, Dinas Pertanian dan Peternakan
Propinsi Banten memprediksikan jumlah anggaran anggaran sebesar Rp.225.000.000,- untuk 3 desa per 60 ha untuk 15
kelompok petani, mulai dari tahap perencanaan kegiatan sampai dengan pelaksanaan kegiatan, diluar biaya monitoring dan
sekolah lapang, Taman Nasional Ujung Kulon dan RARE berkomitmen dalam melakukan pendampingan teknis dan monitoring
selama dan setelah kegiatan dilaksanakan.

7.0 RANTAI HASIL & SASARAN AWAL


Saat ini telah diakui secara umum bahwa sebelum melakukan adopsi perilaku yang baru, seseorang berpindah melintasi
serangkaian tahapan. Tahapan ini terdiri dari: pra-perenungan, perenungan, persiapan, validasi, aksi, dan pemeliharaan. Tidak
semua individu pada khalayak akan berada pada tahapan perubahan perilaku yang sama, sehingga kegiatan dan pesan-pesan
perlu mencapai semua kelompok, pada semua tahapan perubahan perilaku yang berbeda.
Memahami tahapan dalam rantai hasil kita juga dapat membantu mempersempit sasaran awal kita untuk setiap khalayak
sebelum memulai pengambilan data.

7.1.1 Rantai hasil untuk Petani


Kampanye Pride menunjukkan adanya dampak penyebab (panah) pada setiap tahapan perubahan perilaku yang dilewati nelayan
dalam perjalanannya menuju adopsi perilaku yang baru.
7.1.2 Sasaran awal bagi Petani
Berdasarkan rantai hasil, kami menekankan 5 sasaran awal berikut ini untuk kampanye Pride agar sampai kepada petani
penggarap diluar kawasan TNUK yang menjadi khalayak:
 Masyarakat mengetahui teknik intensifikasi pertanian dan teknik intensifikasi lahan, peningkatan kesadaran mengenai
pentingnya TNUK sebagai habitat badak Jawa dan penunjang kehidupan penduduk lokal, serta peningkatan pengetahuan
mengenai zonasi kawasan TNUK, bentuk-bentuk tabungan dan pentingnya kawasan bagi kelangsungan hidup manusia.
 Petani diluar kawasan TNUK bertambah kemauan untuk mengadopsi system pertanian yang lebih produktirf dan berkelanjutan
 Masyarakat membicarakan sistem dan teknik pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan
 Peningkatan pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian dengan hasil yang tinggi
 Petani tidak memperluas lahan garapan dalam kawasan TNUK dan Petani menggarap lahannya dengan pola intensifikasi
pertanian
E. Penelitian Formatif

8.0 MENETAPKAN DATA DASAR (BASELINE) SURVEI DENGAN KUESIONER


Taman Nasional Ujung Kulon mengadakan survei kuantitatif dengan 55 pertanyaan untuk menetapkan data dasar
(baseline) untuk Pengetahuan (Knowledge), Sikap (Attitudes), dan Praktek (Practices) (KAP) dan untuk membantu mereka
memahami lebih baik khalayak mereka untuk Kampanye Pride serta untuk menguji asumsi mereka mengenai khalayak mereka.
Jumlah penduduk di 19 desa dan 2 kecamatan yaitu Sumur dan Cimanggu, berdasarkan hasil pendataan potensi desa Kab.
Pandeglang tahun 2008 berjumlah 58.932 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk di 15 desa yang akan dilakukan survey berjumlah
45.234 jiwa, yang terdiri dari 10 desa target utama berjumlah 28.273 jiwa dan 5 desa control berjumlah 16.961 jiwa. Jumlah
populasi secara tersebar di setiap desa kami sajikan dalam tabel dibawah ini :

Kecamatan Desa Jumlah Penduduk Ket

Sumur Ujung jaya 3706 Target Utama

Tamanjaya 2603 Target Kedua


Cigorondong 2404 Target Kedua
Tunggal Jaya 2884 Target Kedua

Kertamukti 2578 Kontrol

Kertajaya 3738 Kontrol

Sumberjaya 3935 Kontrol

E. Penelitian Formatif
Kecamatan Desa Jumlah Penduduk Ket

Cimanggu Rancapinang 3642 Target Utama


Cibadak 2938 Target Utama
Tugu 1483 Target Kedua
Kramatjaya 2828 Target Kedua
Mangkualam 2172 Target Kedua
Padasuka 3613 Target Kedua
Cimanggu 3407 Kontrol
Tangkil Sari 3254 Kontrol
Total 15 Desa 45234 15 Desa

1. Jumlah sampel/responden:.
Dengan confidence level 95 % dan confidence interval ± 5, maka jumlah sampel untuk desa target utama dan kedua
yang mempunyai populasi 28.273 jiwa akan diperoleh jumlah sampel sebesar 379 responden. Sedangkan pada desa kontrol
dengan jumlah populasi 16.961 jiwa akan diperoleh sampel sebanyak 376 jiwa.
Untuk tambahan masing-masing sampel ditambah 10 %, adapun penyebaran dari masing-masing sampel di setiap desa, kami
sajaikan pada table dibawah ini :

E. Penelitian Formatif

- Distribusi kuesioner: KELOMPOK TARGET


Kecamatan Desa Total Persentasi Jumlah Kuesioner di Tiap Desa
Populasi Distribusi

Sumur Ujung jaya 3706 13 % 55

Tamanjaya 2603 9% 38
Cigorondong 2404 8% 35
Tunggal Jaya 2884 10 % 43
Cimanggu Rancapinang 3642 13 % 54
Cibadak 2938 10 % 43
Tugu 1483 6% 22
Kramatjaya 2828 10 % 42
Mangkualam 2172 8% 32
Padasuka 3613 13 % 53
Jumlah 28273 100% 417

- Distribusi kuesioner: KELOMPOK KONTROL


Kecamatan Desa Total Persentasi Jumlah Kuesioner di Tiap Desa
Populasi Distribusi
Cimanggu Cimanggu 3407 20 % 84
Tangkil Sari 3254 19 % 79
Sumur Kertamukti 2578 15 % 63
Kertajaya 3738 22 % 91
Sumberjaya 3935 24% 97
Jumlah 16961 100% 414
Jumlah Total 45234 100% 831
E. Penelitian Formatif

- Teknik Sampel:
Teknik sampel yang dipakai adalah SIMPLE RANDOM SAMPLING yaitu
 Responden adalah setiap penduduk atau individu yang ditemui (bukan usia sekolah atau usia di bawah 15 tahun) dengan
interval 3
 Tanyai kesediaan orang tersebut untuk diwawancara
 Jika tidak bersedia, dihitungl kembali sampai individu ke - 3

2. Tim kerja:
Desa Jumlah Kuesioner No. Kuesioner Enumerator

Ujung jaya 55 001 – 055 Krisnawati


Agustina
Tamanjaya 38 056 – 093 Wahyudi Mahmud
Nurfaiqoh
Cigorondong 35 094 – 128 Andi Kurniawan
M. Rizki
Tunggal Jaya 43 129 – 171 Qodariawan
Bahtiar
Rancapinang 54 172 – 225 FX. Desy
Sansongko
Agus Kurniawan

Cibadak 43 226 - 268 Tegar Dwi Andalas


Wito Dwi Prawiro
Tugu 22 269 – 290 Ade Hermansyah

Kramatjaya 42 291 - 332 Tatang


E. Penelitian Formatif
Rahmat Hiadayat

Desa Jumlah Kuesioner No. Kuesioner Enumerator


Mangkualam 32 333 – 364 Ika Yuni
Ine
Padasuka 53 365 – 417 Dieta
Nenden Sofiani
Cimanggu 84 418 – 501 Dwi Raharjo
Hilmansyah
Tangkil Sari 79 502 – 580 Eko setyawan
Syamsuri
Kertamukti 63 581 - 643 Yuniar Ardianti
Yusti Aprilian
Kertajaya 91 644 – 734 Kinasih Citra
Elis Herliawati
Sumberjaya 97 735 - 831 Rahmi Julita
Vita Ismayani
M. Sahrudin
TOTAL 831 30 Orang

3. Karakteristik Responden :
Sebagian besar masyarakat mempunyai mata pencaharian sebagai petani, selain itu sebagian penduduk desa target
juga menjadi nelayan, buruh tani, pegawai negeri dan wiraswasta dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketergantungan
terhadap sumberdaya alam khususnya TN Ujung Kulon sangat tinggi, baik terhadap kawasan atau lahan maupun sumberdaya
airnya. Tingkat kepedulian mereka terhadap gangguan kerusakan hutan masih sedang, sebagian besar menyadari bahwa
mereka hidup bergantung terhadap kawasan TNUK, tetapi mencari alternative usaha lain dalam pemenuhan kebutuhan hidup
masih rendah. Masyarakat yang berada di desa target maupun control, 100 % memeluk agama islam. Tokoh agama dan
aparat pemerintah merupakan tokoh yang sangat dihormati. E. Penelitian Formatif

9.0 HASIL SURVEI


Sebanyak 791 kuesioner survei telah dikembalikan oleh pencacah dan dimuat pada
paket perangkat lunak Survei Pro® Departemen Kehutanan. Data yang dikumpulkan dari
survei kuantitatif akan digunakan untuk memeriksa beberapa asumsi dan membantu kita
untuk merevisi sasaran. Analisis survei akan membantu menguatkan dan memahami
khalayak target dengan lebih baik begitu pula dengan mengidentifikasi saluran informasi,
sumber yang dipercaya dan membantu mencipkatan pesan. Rare juga merekomendasikan
untuk menggunakan survei ini untuk mengidentifikasi spesies bendera/flagship yang dapat
membantu membawa pesan pada segmen utama.
Kesimpulan hasil yang ditemukan akan dimasukkan ke dalam bagian ini pada rencana
proyek. Suatu analisis lengkap dapat disediakan atas permintaan .

9.1 Ringkasan biodata


Kegiatan survey kuantitatif dilaksanakan di 2 kecamatan yang meliputi 15 desa, kemudian desa-desa tersebut dibagi
menjadi 3 kelompok yaitu, kelompok desa target (3 desa), kelompok desa target kedua (7 desa) dan kelompok desa pembanding
(5 desa), berdasarkan hasil pendataan potensi desa Kab. Pandeglang tahun 2008 jumlah populasi penduduk di 15 desa tersebut
adalah 45.234 jiwa. Berdasarkan survey yang telah dilakukan oleh Taman Nasional Ujung Kulon diketahui bahwa mereka rata-rata
berusia 35-39 tahun. Pendapatan mereka rata-rata dalam 1 tahun mencapai Rp. 501.000,- s.d Rp. 1.000.000,- (38,1%) dan
mereka memiliki pendidikan formal yang rendah yaitu pada tingkat SD (54,6%), mayarakat pada umumnya memiliki anak
berjumlah 3-4 anak tetapi secara keseluruhan masyarakat di 2 kecamatan tersebut telah mengikuti program KB (71,5%).

9.2 Media yang Disukai oleh Segmen Kunci


Sumber informasi yang sering mereka terima bersumber dari radio (32,9%), mereka mendengarkan radio sehari sekali
kurang dari 2 jam (29,3%) dan sehari sekali lebih dari 2 jam (24,1%), rata-rata mereka mendengarkan radio pada jam 03-06 petang
(44,8%) dan stasiun radio GBS Malingping menjadi pilihan mereka (45,1%) sedangkan radio Krakatau (30,5%), dengan program
radio yang paling disukai adalah acara music (46,6%) dengan music dandut menjadi pilihan favoritnya (51,2%).

9.3 Sumber yang dipercaya


Dalam menerima informasi tentang pelestarian alam, mereka lebih mempercayai staf Taman Nasional Ujung Kulon (73,2%),
sedangkan untuk menerima informasi tentang intensifikasi pertanian mereka lebih mempercayai kelompok taninya (84,1%),
E. Penelitian Formatif

mereka lebih menyenangi pertemuan yang dilakukan oleh desa (80,5%)dan mereka lebih menyenangi acara music dangdut
(51,2%).

9.4 Pengetahuan dan Sikap mengenai Isu Pokok


Beberapa petani mengetahui bahwa status yang dimiliki oleh kawasan Ujung Kulon adalah Taman Nasional (41,6%),
mereka menganggap penebangan hutan merupakan ancaman utama dikawasan Taman Nasional Ujung Kulon (68,2%), dan
mereka mengetahui akibatnya apabila membuka lahan baru untuk sawah didalam kawasan akan terjadi longsor yaitu sebanyak
(36,4%). Sebanyak (50%) beralasan bahwa mereka membuka lahan baru untuk sawah didalam kawasan dikarenakan tidak
memiliki lahan garapan diluar kawasan dan sebanyak (40,9%) beralasan hasil panen tidak mencukupi kebutuhan hidupnya.
Mereka rata-rata tidak mengetahui intensifikasi lahan pertanian (86,4%), dan (63,4%) tidak pernah mendengar mitos dari nenek
moyangnya bahwa batas perluasan lahan pertanian baru adalah sampai batas S. Cilintang. Sawah dalam kawasan masih
dianggap sebagai simpanan untuk warisan anak cucunya sebesar (22%).
Mereka juga setuju bahwa pembukaan lahan garapan baru yang tidak terkendali didalam kawasan TNUK, akan
menghilangkan fungsi ekologi dan sumber air (64,6%), mereka setuju penerapan system intensifikasi pertanian diluar kawasan
dapat mengurangi ancaman pembukaan lahan garapan baru didalam kawasan TNUK (42,7%), mereka tidak yakin untuk
menerapkan teknik intensifikasi pertanian (48,8%) dan menganggap hal itu sulit dilakukan (26,8%). Mereka setuju hutan Gunung
Honje sebagai daerah tangkapan air harus dilindungi (59,8%. Mereka masih bersikap diam saja apabila melihat ada orang yang
membuka lahan garapan pertanian baru didalam kawasan TNUK (32,9%)

9.5 Praktik dan Hambatan


Mereka tidak mengetahui cara menerapkan intensifikasi pertanian (91,5%), selama ini untuk meningkatkan hasil panen dari
lahan pertaniannya mereka menggunakan pupuk pestisida pabrikan (70,7%), mereka juga sering diajak menerapkan system
intensifikasi pertanian oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (33,3%), mereka tidak tahu apa saja kendala yang akan dihadapi apabila
menerapkan intensifikasi pertanian (61,0) dan hanya (17,1%) yang menganggap ilmu pengetahuan bercocok tanam yang rendah
sebagai kendala. Mereka ingin terlibat apabila dalam 6 bulan kedepan ada program peningkatan intensifikasi pertanian (78%),
mereka bersedia menjadi peserta (81,3%) dan penggerak program sebanyak (17,2%).
E. Penelitian Formatif

9.6 Rangkaian kesatuan perubahan perilaku


Hasil penelitian mengidentifikasikan bahwa sebagian besar petani berada pada tahapan perenungan untuk melakukan
perubahan perilaku yaitu sekitar (53,7%) yang menyatakan bahwa “selama 6 bulan terakhir, saya pernah mempertimbangkan
untuk meningkatkan hasil tani dari luas lahan yang menetap, tetapi saya belum pernah melakukannya.”

9.7 Manfaat
Beberapa petani juga mengetahui manfaat yang akan diterima apabila program peningkatan pengetahuan dan penerapan
teknologi intensifikasi pertanian dijalankan, diataranya mereka menyebutkan akan mendapatkan manfaat peningkatan hasil panen
(36,6%) dan menambah pemasukan perekonomiannya (19,5%), selain itu juga bermanfaat sebagai tabungan dan menjaga
kesuburan tanah, sebagian masih belum mengetahui manfaat yang akan diterimanya (51,2%).

9.8 Flagship Spesies


Flagship spesies yang digunakan dalam pelaksanaan program pride campaign di Taman
Nasional Ujung Kulon adalah Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus, Desmarenst 1882), dikarenakan
badak Jawa sebagai binatang langka dan menjadi symbol pemerintah daerah Kabupaten
Pandeglang. Selain itu Taman Nasional Ujung Kulon adalah satu-satunya habitat badak Jawa di
dunia.

10.0 MEMAHAMI KHALAYAK KITA

Survei yang dilakukan oleh Taman Nasional Ujung Kulon telah membantu kita untuk lebih memahami khalayak utama,
bahwa suatu kampanye penjangkauan – difokuskan pada peningkatan pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi
pertanian— haruslah terarah. Dari survei yang dilaksanakan, kini kita memiliki ide yang lebih baik mengenai tingkatan (level)
Pengatahuan, Sikap dan Perilaku mereka, siapa yang mereka percaya sebagai sumber informasi dan media apa yang mereka
sukai. Semua informasi ini akan digunakan untuk memfokuskan sasaran penjangkauan kita, serta menentukan pesan yang akan
kita gunakan.
Pada hasil survei kita mengidentifikasi bahwa Para petani penggarap diluar kawasan sebagai “khalayak primer”. Berikut
adalah hasil ringkasan yang kami ketahui mengenai tiap khalayak.
E. Penelitian Formatif

KHALAYAK PRIMER - PARA PETANI


Apa yang kita Dalam mencukupi kebutuhan hidupnya, sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani, mereka memiliki lahan garapan
ketahui mengenai sendiri rata-rata seluas 0,26 - 1 ha, pada umumnya mereka berusia 35 - 44 tahun, sebuah usia yang matang untuk berpikir dan
kelompok ini? memutuskan suatu masalah, sayangnya pendidikan formal yang pernah mereka tempuh masih tergolong rendah, berdasarkan
survey kuantitatif yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon menyebutkan bahwa mereka rata-rata menempuh
pendidikan formal hingga SD sebanyak 63,4 % dan 14,6 % tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Dengan demikian, tingkat
pengetahuan dan baca tulis mereka masih sangat rendah, begitu pula dengan pemahaman mereka terhadap arti pentingnya
konservasi maupun keanekaragaman hayati masih dibawah 50% yang memahaminya. Tingkat pengetahuan yang rendah ternyata
memberikan pengaruh terhadap sikap dan perilaku mereka dalam meningkatkan hasil pertaniannya, usaha yang mereka lakukan
adalah dengan memperluas lahan garapannya, karena mereka mempunyai persepsi semakin luas lahan garapan semakin banyak
hasil panen yang didapat, ilmu pengetahuan tentang teknologi intensifikasi pertanian tidak mereka miliki, dan hampir sebagian besar
dari petani belum pernah menerapkannya. Selain itu mereka memperluas lahan garapan didalam kawasan dikarenakan lahan
pertanian didesa terbatas. Sebagian besar dari mereka mengetahui bahwa pembukaan lahan baru dan perluasan lahan pertanian
didalam kawasan yang terjadi saat ini, merupakan ancaman yang paling serius terhadap kerusakan hutan di TNUK selain adanya
penebangan liar. Pada umumnya mereka mengetahui akibat yang ditimbulkan dari praktek tersebut, tetapi mereka tidak mengetahui
apa yang harus dilakukan dalam bertani yang lebih baik. Survey menunkukkan bahwa kebanyakan petani berada di tingkat
perenungan yaitu sebanyak 53,7 % dalam hal perubahan perilaku yang diperlukan.

Pengetahuan Beberapa petani mengetahui bahwa status yang dimiliki oleh kawasan Ujung Kulon adalah Taman Nasional (41,6%), mereka
menganggap penebangan hutan merupakan ancaman utama dikawasan Taman Nasional Ujung Kulon (68,2%), dan mereka
mengetahui akibatnya apabila membuka lahan baru untuk sawah didalam kawasan akan terjadi longsor yaitu sebanyak (36,4%).
Sebanyak (50%) beralasan bahwa mereka membuka lahan baru untuk sawah didalam kawasan dikarenakan tidak memiliki lahan
garapan diluar kawasan dan sebanyak (40,9%) beralasan hasil panen tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. Mereka rata-rata tidak
mengetahui intensifikasi lahan pertanian (86,4%), dan (63,4%) tidak pernah mendengar mitos dari nenek moyangnya bahwa batas
perluasan lahan pertanian baru adalah sampai batas S. Cilintang. Sawah dalam kawasan masih dianggap sebagai simpanan untuk
warisan anak cucunya sebesar (22%).

Sikap Mereka setuju bahwa pembukaan lahan garapan baru yang tidak terkendali didalam kawasan TNUK, akan menghilangkan fungsi
ekologi dan sumber air (64,6%), mereka setuju penerapan system intensifikasi pertanian diluar kawasan dapat mengurangi
ancaman pembukaan lahan garapan baru didalam kawasan TNUK (42,7%), mereka tidak yakin untuk menerapkan teknik
intensifikasi pertanian (48,8%) dan menganggap hal itu sulit dilakukan (26,8%). Mereka setuju hutan Gunung Honje sebagai daerah
tangkapan air harus dilindungi (59,8%. Mereka masih bersikap diam saja apabila melihat ada orang yang membuka lahan garapan
pertanian baru didalam kawasan TNUK (32,9%).
E. Penelitian Formatif

KHALAYAK PRIMER - PARA PETANI

Praktik Mereka tidak mengetahui cara menerapkan intensifikasi pertanian (91,5%), selama ini untuk meningkatkan hasil panen dari lahan
pertaniannya mereka menggunakan pupuk pestisida pabrikan (70,7%), mereka juga sering diajak menerapkan system intensifikasi
pertanian oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (33,3%), mereka tidak tahu apa saja kendala yang akan dihadapi apabila menerapkan
intensifikasi pertanian (61,0) dan hanya (17,1%) yang menganggap ilmu pengetahuan bercocok tanam yang rendah sebagai
kendala. Mereka ingin terlibat apabila dalam 6 bulan kedepan ada program peningkatan intensifikasi pertanian (78%), mereka
bersedia menjadi peserta (81,3%) dan penggerak program sebanyak (17,2%).
Komentar
Para pakar mengatakan bahwa perambahan hutan merupaka perilaku yang sangat membahayakan habitat badak Jawa, apabila tidak segera
mendapatkan perhatian untuk mengurangi ancaman tersebut, dikarenakan aktivitas perambahan hutan didasarkan pada upaya pemenuhan
kebutuhan hidup sehari-hari.

Sumber tepercaya Dalam menerima informasi tentang pelestarian alam, mereka lebih mempercayai staf Taman Nasional Ujung Kulon (73,2%), sedangkan untuk
menerima informasi tentang intensifikasi pertanian mereka lebih mempercayai kelompok taninya (84,1%), mereka lebih menyenangi pertemuan
yang dilakukan oleh desa (80,5%)dan mereka lebih menyenangi acara music dangdut (51,2%)

Sumber media Sumber informasi yang sering mereka terima bersumber dari radio (32,9%), mereka mendengarkan radio sehari sekali kurang dari 2 jam (29,3%)
dan sehari sekali lebih dari 2 jam (24,1%), rata-rata mereka mendengarkan radio pada jam 03-06 petang (44,8%) dan stasiun radio GBS
Malingping menjadi pilihan mereka (45,1%) sedangkan radio Krakatau (30,5%), dengan program radio yang paling disukai adalah acara music
(46,6%) dengan music dandut menjadi pilihan favoritnya (51,2%)
F. Model Konseptual yang Telah Direvisi

Dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai lokasi proyek, ancaman yang ada, dan segmen khalayak kunci, kita
kini dapat menyelami rencana untuk kampanye Pride Rare lebih dalam. Hal ini termasuk merevisi model konsep untuk
memasukkan faktor-faktor pendukung yang baru yang muncul pada saat survei kuesioner dan menentukan mitra yang tepat yang
dapat membantu menyingkirkan rintangan serta menentukan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk dapat mengubah
perilaku khalayak sasaran.

11.0 Model konseptual yang telah direvisi


12.0 Mitra utama penyingkir hambatan
F. Model Konsep yang Telah Direvisi

11.0 MODEL KONSEPTUAL YANG TELAH DIREVISI (Menunjukkan strategi dan faktor-faktor baru)

Setelah melaksanakan penelitian kualitiatif dengan cara melakukan percakapan terarah dan penelitian survei khalayak secara
kuantitatif, model konsep akhir telah dimodifikasi untuk mengakomodasi informasi baru ini. Walaupun demikian, model konseptual
ini tetap sama untuk poin-poin berikut:
 Lingkup proyek tetap difokuskan pada Gunung Honje sebagai daerah tangkapan air.
 Target utama, habitat badak Jawa, telah dipilih dari dua target awal yang telah di identifikasi pada model konseptual awal.
 Ancaman langsung pada habitat badak Jawa adalah (1) pembukaan lahan baru untuk sawah didalam kawasan, (2)
Penebangan Hutan, (3) Kebakaran Hutan, (4) Tambang Liar dan (5) Perburuan Babi Hutan didalam kawasan TNUK.
 Faktor-faktor yang berkontribusi terdekat (termasuk ancaman tidak langsung) adalah (1) Tidak mempunyai lahan pertanian di
desa karena lahan desa terbatas, dan (2) para petani tidak mengetahui teknologi pertanian dan sistem intensifikasi pertanian .
F. Model Konsep yang Telah Direvisi

Tetapi, penelitian telah menambahkan beberapa komponen kritis yang tidak terdapat pada model konseptual awal. Komponen-
komponen itu termasuk:
 Para petani tidak mengetahui teknologi intensifikasi pertanian dan kurang kesadaran masyarakat tentang fungsi dan status
kawasan TNUK
 Sedangkan faktor kontribusi yang dihilangkan adalahprogram KB yang gagal, karena hasil survey menunjukkan program KB
berhasil.
 Dua strategi telah ditambahkan pada model yaitu (1) kampanye Pride untuk program awarenes, penjangkauan dan penyebaran
informasi konservasi kawasan TNUK kepada masyarakat, dan (2) Pelaksanaan program peningkatan pengetahuan dan
teknologi intensifikasi pertanian. Komponen-komponen kritis yang baru ini telah ditambahkan pada konsep model ini.
F. Model Konsep yang Telah Direvisi

12.0 MITRA UTAMA PENYINGKIR RINTANGAN


Ujung Kulon ditetapkan sebagai taman nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 284/Kpts-II/1992,
dengan kawasan seluas 120.551 hektar, meliputi Semenanjung Ujung Kulon, Gunung Honje, Pulau Handeuleum, Pulau Peucang
dan Pulau Panaitan.
Semenanjung Ujung Kulon dengan luas ± 38.543 Ha merupakan habitat terakhir badak jawa. Daratan Gunung Honje dengan
luas ± 19.499 Ha merupakan penyangga Semenanjung Ujung Kulon karena kawasan ini bersambungan langsung dengan
Semenanjung Ujung Kulon yang merupakan habitat badak Jawa. Selain itu, kawasan ini merupakan habitat berbagai jenis primata
diantaranya Owa dan Surili. Di kawasan Gunung Honje ini juga tumbuh berbagai jenis tanaman obat yang dapat dimanfaatkan
sebagai sumber plasma nutfah yang menunjang budidaya. Kawasan ini juga merupakan kawasan taman nasional yang langsung
berbatasan dengan masyarakat. Selain itu direncanakan pada kawasan Gunung Honje bagian selatan akan dibangun Javan Rhino
Sanctuary seluas 10 Ha. Namun hutan Gunung Honje saat ini sudah banyak yang beralih fungsi menjadi kebun, sawah dan
bahkan pemukiman.
Perambahan untuk perladangan, perkebunan dan pemukiman liar merupakan permasalahan pengelolaan Taman Nasional Ujung
Kulon yang sampai saat ini belum tuntas penyelesaiannya. Timbulnya perambahan karena tidak tersedianya pengairan yang cukup
untuk lahan pertanian masyarakat sekitar kawasan pada musim kemarau dan minimnya pengetahuan teknologi pertanian yang
baik. Para petani ini memilih menggarap lahan di dalam kawasan karena mereka belum mengetahui teknologi untuk menggarap
sawah mereka. Peningkatan pengetahuan dan penyediaan teknologi untuk intensifikasi pertanian merupakan sebuah alat
penyingkir halangan dalam permasalahan ini dan untuk keberhasilan program ini diperlukan mitra penyingkir halangan yaitu :

Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten


Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten adalah lembaga pemerintah daerah yang memiliki komitmen yang tinggi
terhadap petani didaerah penyangga Taman Nasional Ujung Kulon, dalam 2 tahun terakhir, Distanak telah memberikan prioritas
kegiatan dan program peningkatan produksi pertanian pada lahan tidur yang berada disekitar kawasan TN. Ujung Kulon. Melalui
program Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU), Distanak berkomitmen memberikan bantuan benih unggul tanaman padi,
jagung, buah-buahan dan peternakan, sedangkan melalui program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT),
Distanak akan memberikan bantuan teknis dan pendampingan dalam mencegah hama dan penyakit. Bersama dengan Penyuluh
Pertanian Lapangan (PPL) kami akan membanu dalam pendampibgan teknis kepada masyarakat tentang program intensifikasi
pertanian.

Rare
Organisasi non-profit yang berkomitmen tinggi terhadap upaya konservasi. Lembaga ini akan membantu pendanaan dan
pencapaian tujuan konservasi dalam melaksanakan program peningkatan pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi
pertanian sebagai salah satu barrier removal yang bertujuan mengurangi ancaman konservasi dan merubah perilaku petani
penggarap. Selain itu Rare juga akan membantu dalam pendampingan teknis melalui program kampanye pride di lapangan.
G. Strategi Kampanye

Berdasarkan penelitian terhadap khalayak sasaran dan kajian revisi model konseptual, tim perancang kampanye melaksanakan
langkah-langkah berikut untuk mengembangkan strategi untuk meraih khalayak utama dan pesan-pesan yang sesuai bagi segmen
sasaran tersebut.

14.0 BROP
15.0 Tangga Manfaat
16.0 Intervensi Mitra Penyingkir Halangan
17.0 Sasaran SMART
18.0 Bauran pemasaran
19.0 Pesan-pesan Kampanye
20.0 Rencana Pemantauan
14.0 Rencana Operasi Penyingkiran Hambatan (Barrier Removal Operation Plan/BROP)

PROGRAM PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI INTENSIFIKASI PERTANIAN

BALAI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON


Jl. Perintis Kemerdekaan No. 51 Labuan- Pandeglang
Banten, 42264

RANGKUMAN EKSEKUTIF

Apa:
Untuk mengurangi perluasan lahan garapan baru didalam kawasan TNUK, petani penggrap di sekitar kawasan Taman
Nasional Ujung Kulon akan dikenalkan sistem pertanian pola intensifikasi lahan. Peningkatan pengetahuan dan penerapan
teknologi sistem pertanian tersebut akan dilakukan di 3 desa prioritas pride campaign yaitu Ds. Rancapinang, Cibadak dan Ujung
Jaya, TNUK akan bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten. Program ini dikenalkan karena
masyarakat dalam upaya meningkatkan hasil pertanian selalu memperluas lahan garapan didalam kawasan (ekstensifikasi), hal ini
dikarenakan mereka belum dapat mengoptimalkan hasil pertanian pada lahan garapan yang dimiliki, karena keterbatasan ilmu dan
teknologi pertanian yang dimiliki, selain itu juga pemenuhan kebutuhan air yang terbatas pada saat musim kemarau. Usaha ini
sebelumnya belum pernah diketahui keberhasilannya di tempat lain (sekitar kawasan konservasi), tetapi Dinas Pertanian dan
Peternakan Propinsi Banten telah berhasil mendampingi petani yang memanfaatkan lahan tidur di daerah Serang. Dengan
meningkatnya pendapatan masyarakat dari lahan garapan yang dimiliki diluar kawasan, diharapkan terjadi perubahan perilaku dan
terjadi kesadaran secara emosional serta manfaat dari masyarakat bahwa menggarap lahan diluar kawasan dengan baik jauh lebih
menguntungkan daripada memperluas lahan garapan didalam kawasan TNUK

Siapa:
Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten telah berkomitmen memberikan dukungan teknis secara penuh terhadap
program peningkatan pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian, melalui tenaga Penyuluh Pertanian Lapang
(PPL) yang dimiliki diharapkan dapat melakukan pendampingan teknis di lapangan, selain itu Distanak siap membantu dalam
pengadan benih unggul serta program pengelolaan hama terkendali yang ramah lingkungan. Balai Taman Nasional Ujung Kulon
akan membantu dalam upaya monitoring kegiatan selama dan sesudah kegiatan dilaksanakan, serta membantu memfasilitasi
setiap pertemuan yang akan dilaksanakan. Rare sebagai mitra Taman Nasional Ujung Kulon memberi dukungan financial untuk
program tersebut secara umum sebagaimana rincian kegiatan dalam tabel budget. Sedangkan PT. Tanindo sebagai produsen
pakan ternak akan membantu dalam menerima hasil panen jagung dari masyarakat. Program peningkatan pengetahuan dan
penerapan teknologi intensifikasi pertanian, diharapkan dapat diadopsi oleh petani penggarap di sekitar kawasan Taman Nasional
Ujung Kulon, di 3 desa yaitu Ds. Rancapinang, Cibadak dan Ujungjaya. Disetiap desa nantinya akan terbagi dalam 5 kelompok,
masing-masing kelompok sebanyak 8 orang.

Kapan:
Program ini akan dilaksanakan pada pertengahan bulan Mei 2009, diawali dengan upaya penandatanganan MoU antara
Distanak dengan Balai TNUK, kegiatan ini akan menghasilkan peran dan tanggungjawab masing-masing. Menginjak bulan Juli
akan dilakukan beberapa kegiatan persiapan, meliputi survey kesesuain lahan dengan jenis tanaman, traditional wisdom,
sosialisasi, pembangunan kelembagaan kelompok dan persiapan lahan. Tahap implementasi akan dilaksanakan pada bulan
Agustus 2009, sedangkan program penjangakauan dan publisitas program ini akan dilaksanakan pada akhir bulan Juli sampai
dengan Desember 2009. Fase monitoring akan dilaksanakan pada awal sampai dengan akhir program ini untuk mengukur dampak
konservasi yang terjadi. Hal-hal yang dibutuhkan secara berkelanjutan dan terus-menerus serta menjadi kebutuhan dalam
program ini adalah ketersediaan pupuk dan benih unggul. Kebutuhan tersebut dapat dimitigasi dengan cara mengatur dan
mengelola kebutuhan tersebut dalam kelompok tani, misalnya dengan dana bergulir atau pinjaman sementara, jadi bantuan pupuk
dan bibit unggul tidak diberikan secara gratis, tetapi ada upaya pengembalian oleh petani kepada kelompok, untuk keberlanjutan
program berikutnya. Jadi tidak terjadi ketergantungan.

Bagaimana:
Teknologi pertanian dan pendampingan teknis yang akan diperkenalkan dalam program ini mendapat kepastian dari Distanak
Propinsi Banten yang dibantu oleh PPL dan Fakultas Pertanian UNTIRTA, sedangkan pendanaan dari program ini dilakukan
dengan sharing budget antara TNUK, Distanak Propinsi Banten dan Rare sebagaimana tercantum dalam tabel budget dibawah.
Rare diharapkan dapat membantu mendanai sosialisasi/ penyebarluasan informasi, sekolah lapang, konsumsi pertemuan, media
penyampaian pesan dan praktek lapangan sedangkan TNUK menyediakan anggaran untuk monitoring, transportasi lokal bagi
manajer kampanye serta biaya komunikasi, Distanak akan membantu dalam penyediaan kebutuhan bibit unggul, pendampingan
teknis dan konsultasi. Keberlanjutan dana untuk program ini masih dilakukan upaya mendapatkan dana dari donor, karena
keterbatasan alokasi anggaran dari Departemen Kehutanan
OBJEKTIF-OBJEKTIF PROYEK & PELAKSANAAN

Tujuan
Tujuan proyek program peningkatan pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian adalah mengurangi
pembukaan lahan garapan baru untuk sawah di kawasan Gunung Honje Taman Nasional Ujung Kulon yang berbatasan dengan
desa Rancapinang, desa Cibadak dan desa Ujung Jaya sebanyak 50 % dari tahun sebelumnya. Hasil konservasi yang diharapkan
adalah luasan habitat badak Jawa tetap terjaga.

Objektif
 Pada awal bulan Mei 2009, Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten bersama Taman Nasional Ujung Kulon
menandatangani MoU kerjasama untuk melakukan pendampingan teknis program peningkatan pengetahuan dan penerapan
teknologi intensifikasi pertanian di 3 desa target tersebut.
 Pada pertengahan bulan Mei 2009, kegiatan sosialisasi program dan identifikasi kelompok kerja yang akan
mengimplementasikan program peningkatan pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian dapat diselesaikan
oleh Taman Nasional Ujung Kulon di 3 desa target. Selain itu bersama dengan Distanak juga telah berhasil diidentifikasi
kesesuaian lahan dengan jenis tanaman pertanian.
 Pada minggu ketiga bulan Mei 2009, Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Distanak Propinsi Banten dan Produsen Pakan ternak
PT. Tanindo Interface menandatangani MoU tentang kesediaan menampung hasil panen dari kelompok tani binaan TNUK-
Distanak.
 Pada minggu ketiga bulan Juni 2009, Distanak dan Tim dari TNUK berhasil menyusun draft awal rencana kerja program
peningkatan pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian, yang mengatur batasan tanggung jawab dan
kewajiban, sehingga team work dapat berjalan dengan baik.
 Pada pertengahan bulan Juli 2009, dengan difasilitasi oleh Distanak, TNUK berhasil menyusun kesepahaman dan kesepakatan
dengan masyarakat di ke-3 desa tersebut. Untuk selanjutnya, diteruskan dengan membentuk kelompok tani dan perangkat yang
harus bertanggung jawab terhadap petani.
 Pada akhir bulan Juli 2009 selama 9 hari (masing-masing desa 3 hari), mengadakan pelatihan teknik intensifikasi pertanian yang
baik melalui sekolah lapang di ke-3 desa target, sehingga tingkat pengetahuan petani meningkat sebelum mengimplementasikan
program ini.
 Pada pertengahan bulan Agustus 2009, Balai Taman Nasional Ujung Kulon mulai mengimplementasikan program peningkatan
pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian di 3 desa target utama pride campaign, yang akan didanai oleh
lembaga yang berkomitmen mendukung program tersebut.
 Pada akhir bulan Juli sampai bulan Desember 2009, dilakukan program penjangkauan dan penyebaran informasi melalui poster
tentang metode teknik pertanian yang baik dan pesan konservasi agar mereka berhenti membuka lahan baru untuk sawah.
 Melakukan kegiatan monitoring terhadap pelaksanaan proyek dan dampak konservasi yang terjadi akibat proyek setiap 2
minggu sekali selama 10 bulan dan sebulan sekali sampai 2 tahun berikutnya, dimana dampak konservasi yang diharapkan
adalah habitat badak jawa tetap terjaga dan tidak ada lagi aktifitas pembukaan lahan garapan baru didalam kawasan.
 Menjelang Bulan Juni 2010, Balai Taman Nasional Ujung Kulon berhasil menilai keberhasilan program peningkatan pengetahuan
dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian, serta dampak-dampak yang terjadi.
 Pada bulan Juli 2010 program tetap berjalan hingga tahun 2012, dan tidak ada lagi aktifitas pembukaan lahan baru, sehingga
habitat badak jawa tetap terjaga.
.
METODELAGI YANG DIGUNAKAN DALAM PENILAIAN BROP

Salah satu indikasi keberhasilan BROP adalah dengan tidak adanya kegiatan
pembukaan lahan garapan yang baru di dalam kawasan. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara memonitor luasan lahan garapan di dalam kawasan tersebut. Data mengenai luasan
lahan hutan yang sudah menjadi sawah saat ini, digunakan sebagai dasar untuk
memonitor adanya pembukaan lahan baru untuk sawah didalam kawasan. Teknis kegiatan
ini dapat dilakukan dengan melaksanakan kegiatan penelusuran lahan garapan yang
setiap tahun dilakukan oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Selain luasan lahan
garapan di dalam kawasan, indikasi keberhasilan BROP juga dapat diukur dari prosentase
masyarakat yang mengimplementasikan teknik intensifikasi pertanian di lahan mereka.
Teknisnya adalah dengan menginventarisir masyarakat yang mengerjakan sawahnya pada
musim kemarau dan tidak membuka lahan baru di dalam kawasan.
METODELOGI IMPLEMENTASI YANG DIAJUKAN

1. Fase Persiapan
Kegiatan survey dan observasi lapangan diperlukan untuk mengetahui sistem pertanian yang dilaksanakan masyarakat
(traditional wisdom), kemauan masyarakat mengadopsi program ini dan kepemilikan lahan. Dalam melaksanakan kegiatan ini Balai
TNUK dibantu oleh mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi. Kegiatan ini memerlukan waktu 1 minggu.
Identifikasi kesesuaian lahan dan jenis tanaman sangat diperlukan terutama untuk keberhasilan produksinya. Dalam
melaksanakan kegiatan ini Balai TN. Ujung Kulon akan bekerjasama dengan UNTIRTA yang mempunyai keahlian di bidang
tersebut. Kegiatan ini memerlukan waktu 1 minggu untuk ketiga desa target.
Untuk mencapai kesepahaman dengan masyarakat, Balai TNUK melakukan koordinasi dengan aparat desa setempat untuk
mengumpulkan masyarakat kemudian memberikan pemahaman terhadap pelaksanaan program tersebut. Setelah masyarakat
memahami program yang ditawarkan akan dibentuk kelompok dan kesepakatan. Masing-masing desa akan dibentuk sebanyak 5
kelompok, setiap kelompok berjumlah 8 orang. Sehingga dari ketiga desa tersebut akan terbentuk 15 kelompok petani dengan
jumlah anggota sebanyak 120 orang. Penerapan teknik intensifikasi pertanian akan dilakukan diluar kawasan TNUK, yaitu dengan
memakai lahan milik anggota kelompok, dimana nantinya setiap desa rata-rata luasan lahannya yang akan digunakan untuk
penerapan program ini adalah 20 Ha. Sedangkan kesepakatn dibuat untuk mengatur hak dan kewajiban antara kelompok tani
dengan Balai Taman Nasional Ujung Kulon, didalam kesepakatan diatur pula pemberian insentif dan disisentif.
Insentif :
1. Memberikan bantuan bibit unggul tanaman pertanian yang sesuai dengan tanah dan musim.
2. Memfasilitasi penjualan hasil panen pertanian kepada produsen pakan ternak
3. Menerima pendampingan dan bantuan teknis pertanian yang baik
4. Mendapatkan hasil panen yang lebih, 2 kali panen padi dalam 1 musim dan pada saat musim kemarau lahan dapat digarap.

Disisentif :
1. Memberi tanggung jawab kepada kelompok masing-masing untuk memberi sanksi, apabila ada anggotanya yang masih
memperluas lahan garapannya didalam kawasan hutan TNUK, setelah menerima program tersebut dalam 1 tahun
pelaksanaan.
2. Menyerahkan pada pihak berwenag, apabila anggota kelompok yang telah diberi sanksi 2 kali oleh kelompoknya masih
melakukan pembukaan lahan garapan baru didalam kawasan TNUK.
3. Sanksi yang diberikan kelompok dapat berupa, perintah untuk menanami kembali, penghentian dari keanggotaan kelompok
sampai dengan denda uang yang akan dikelola untuk memperbaiki kerusakan hutan. Semua akan diatur tersendiri dalam poin
kesepakatan.

2. Fase Implementasi
Penerapan program peningkatan pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian dibagi menjadi 2 bagian,
pertama adalah program penjangkauan dan peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap sistem intensifikasi pertanian yang
baik, melalui kegiatan sekolah lapang sebanyak 12 kali pertemuan dalam satu musim tanam disetiap desa target tersebut,
sedangkan bagian kedua adalah penerapan langsung teknik dan teknologi intensifikasi pertanian di lahan milik anggota kelompok.
Pelaksanaan kegiatan penjangkauan dan peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap sistem intensifikasi pertanian
dilaksanakan setelah pembentukan kelompok, dilaksanakan selama 2 kali dalam 1 bulan selama 2 hari setiap kali pertemuan,
bentuk pertemuannya melalui diskusi, penyuluhan, sekolah lapang, manajerial kelompok dan penyelesaian masalah pertanian.
Selama pertemuan, hal yang akan disampaikan dan dibahas adalah mengenai bagaimana teknik identifikasi kesesuaian lahan
dengan jenis tanaman, bagaimana cara mengidentifikasi permasalahan dalam bertani (hama, penyakit, air dan pemeliharaan),
bagaimana cara bertani dengan sistem intensifikasi pertanian yang baik, bagaimana memanfaatkan lahan yang ada untuk
meningkatkan hasil panen baik di musim kemarau maupun penghujan, memberikan pesan konservasi dan kampanye pelestarian
habitat badak jawa, serta menanamkan rasa bangga dan rasa memiliki terhadap keberadaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai
habitat badak Jawa.
Dalam 3 kali pertemuan sekolah lapang atau 3 bulan pertama, materi yang akan disampaikan kepada kelompok lebih besar
pada hal-hal yang menyangkut pengetahuan teknik intensifikasi lahan pertanian dan diskusi untuk membahas beberapa kendala
yang ditemui dilapangan, dengan harapan setelah menerima pengetahuan dan pemecahan masalah, implementasi di lapangan
dapat lebih baik. Setelah itu, dalam 3 kali pertemuan sekolah lapang berikutnya, akan disisipkan materi-materi pesan konservasi,
manfaat dan keuntungan keberadaan kawasan yang lestari, serta peningkatan pengetahuan konservasi lainnya. Sehingga,
pengetahuan masyarakat tidak hanya meningkat dibidang pertanian saja tetapi juga pengetahuan akan pentingnya keberadaan
Taman Nasional Ujung Kulon yang lestari bagi badak Jawa.
Orang-orang yang akan terlibat dalam penyampaian materi disetiap pertemuan sekolah lapang, berasal dari Distanak Propinsi
Banten, Penyuluh Pertanian Lapang (PPL), petugas TNUK, Kepala Desa, Ketua Kelompok Tani, dan Tokoh Petani yang berhasil
menerapkan hal yang sama didaerah lain sebagai upaya menambah inspirasi petani lokal.
Sedangkan pelaksanaan penerapan teknik intensifikasi pertanian, diawali dengan menentukan lokasi yang strategis dan
mempunyai akses yang mudah dilihat petani lain, sehingga petani lainnya dapat melihat secara langsung praktek atau
keberhasilannya di lapangan. Setelah lokasi ditentukan, kelompok petani yang ada di desa membangun 1 sekolah lapang semi
permanen dengan ukuran 7 x 3 meter di dekat lokasi tanaman, bangunan sekolah lapang tersebut nantinya akan digunakan untuk
aktifitas kelompok yang akan mengadakan pertemuan dengan narasumber, sekaligus sebagai tempat untuk memasang papan
monitoring kemajuan atau perkembangan proyek ini di setiap kelompok tani.
Penerapan teknik intensifikasi pertanian pada saat musim kemarau (bulan April - Nopember ) dimulai dengan pendistribusian
benih jagung hibrida Bisi – 2 yang didatangkan dari kota Serang oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten, masing-
masing desa akan mendapatkan 300 kg benih untuk 20 Ha luas sawah. Setelah benih didistribusikan, dan para petani diberikan
pengetahuan tentang teknik intensifikasi pertanian yang baik melalui sekolah lapang, para petani menyiapkan lahan dengan cara
mengolah tanah yang akan ditanami dan membuat lubang untuk mengatur jarak penanaman jagung tersebut, jarak antar lubang
adalah 80 cm x 20 cm, masing-masing lubang diisi 1 benih jagung, alat yang akan digunakan dalam mengolah lahan adalah traktor
atau cangkul yang nantinya akan didukung pengadaannya oleh Distanak Propinsi Banten dan Dinas Sosial Propinsi Banten.
Kebutuhan air disaat musim kemarau menjadi kendala tersendiri bagi pelaksanaan program ini, namun demikian Taman
Nasional Ujung Kulon dan Distanak Propinsi Banten akan mengajukan permohonan bantuan teknis berupa pengadaan alat pompa
penyedot air kepada Dinas Pemanfaatan Sumberdaya Air (PSDA)Propinsi Banten. Jika pada saatnya, pompa tersebut tidak bisa
dipenuhi oleh Dinas PSDA, diperlukan pengadaan alat itu sendiri melalui bantuan dana dari lembaga yang mau mendanai
pengadaan alat tersebut.
Pemeliharaan tanaman jagung dilakukan dengan cara melakukan penyiraman 2 kali kali sehari apabila tidak ada hujan 3 hari
berturut-turut, penyiangan rumput 1 bulan 2 kali, membuat pagar dari tanaman hidup, pemupukan terbatas pada saat penanaman,
yaitu pada umur tanaman 0-7 hari menggunakan pupuk NPK dan urea masing-masing 150 kg/ha, umur tanaman 25-30 hari
menggunakan pupuk Urea dan NPK masing-masing 100 kg/ha serta umur tanaman 35-40 hari dengan jenis pupuk dan ukuran
yang sama. Sedangkan pemberantasan hama penyakit tanaman jagung melalui program ramah lingkungan yaitu dengan kegiatan
Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Penanaman jagung jenis hibrida memerlukan waktu 100 hari sampai dengan masa panen.
Setelah itu, hasil panen akan dibeli oleh produsen pakan ternak PT. Tanindo Interface yang sebelumnya telah menandatangani
MoU dengan petani. Diharapkan sampai dengan bulan Juni 2010, program tersebut berjalan dan dapat melakukan panen jagung 2
kali serta panen padi 2 kali dalam 1 tahun. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya selama 1 tahun, dan masyarakat dapat menghentikan kegiatan mereka untuk memperluas atau membuka lahan garapan
didalam hutan, karena kebutuhan hidup mereka sudah terpenuhi melalui program ini.
3. Fase Monitoring dan Evaluasi
Selama pelaksanaan program ini, Taman Nasional akan dibantu oleh LATIN suatu lembaga non profit untuk melakukan
monitoring keefektifan dan kesuksesan program ini serta dampaknya terhadap konservasi. Keefektifan dan kesuksesan program ini
akan diukur dengan menurunya aktifitas pembukaan dan perluasan lahan garapan baru didalam kawasan TNUK serta tetap
terjaganya habitat badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon pada tahun 2012. Paling tidak, pada bulan Juni tahun 2010 kegiatan
pembukaan dan perluasan lahan baru untuk sawah didalam kawasan dapat berkurang 50 % dari tahun sebelumnya.
Dampak konservasi akan tercapai apabila, keefektifan dan kesuksesan program ini dapat berbanding lurus dengan perubahan
perilaku masyarakat kearah positif yaitu tidak lagi membuka atau memperluas lahan garapannya didalam kawasan TNUK. Untuk
mencapai hal tersebut, diperlukan social capital yang siap untuk dibangun dan dilaksanakan oleh masyarakat secara partisipatif.
Misalnya, melalui pembuatan aturan dan sanksi internal kelompok yang mengatur pelaksanaan program ini, masyarakat yang
masih membuka atau memperluas lahan garapan baru didalam kawasan akan dikenakan sanksi oleh kelompoknya masing-
masing, kelompok bertanggungjawab penuh untuk memonitor anggotanya. Sanksi dapat berupa denda maupun sanksi sosial untuk
menanami kembali lahan yang telah dibuka.

4. Analisa Usaha
Dengan asumsi dasar analisa usaha pada lahan seluas 1 hektar, jarak tanam 80 cm x 20 cm dan penggunaan jenis benih jagung
hibrida Bisi 2, yang berharga Rp. 45.000/kg, maka diperoleh analisa usaha sebagai berikut :

A. Biaya kebutuhan benih jagung hibrida Bisi-2 per hektar


1 hektar dengan jarak tanam 80 cm x 20 cm maka jumlah lubang sebanyak : 62.500 lubang (tanpa galengan)
1 lubang diisi benih 1 buah
1 Kg benih jagung hibrida Bisi 2 berisi 4.000 biji dengan harga Rp. 45.000/kg
1 hektar lahan pertanian memerlukan biji sebanyak 15 kg
Dalam 1 hektar memerlukan biaya untuk pembelian benih sebesar Rp. 675.000,-

B. Biaya Pengolahan Lahan


Biaya Pengolahan Lahan untuk luas 1 hektar yang biasa dilakukan masyarakat apabila dihitung dalam rupiah adalah Rp.500.000,-
C. Biaya kebutuhan pupuk Urea dan NPK
Umur tanam 0-7 hari memerlukan pupuk NPK dan Urea masing-masing sebanyak 150 kg/ha
Umur tanam 25-30 hari memerlukan pupuk NPK dan Urea masing-masing sebanyak 100 kg/ha
Umur tanam 35-40 hari memerlukan pupuk NPK dan Urea masing-masing sebanyak 100 kg/hari
Jadi kebutuhan pupuk NPK dan Urea dalam 1 musim panen masing-masing sebesar 350 kg/ha
Jika saat ini harga pupuk NPK 1kg adalah Rp.1.800,- dan harga pupuk Urea 1 kg sebesar Rp. 1.200,- maka kebutuhan pupuk
secara keseluruhan mencapai Rp. 1.050.000,-

D. Biaya Pemeliharaan
Biaya pemeliharaan terdiri dari pengairan, penyiangan dan pengoretan, berdasarkan informasi dari masyarakat atau petani senior
diperoleh informasi bahwa biaya pemeliharaan 1 musim tanam untuk luas lahan 1 hektar mencapai Rp.1.500.000,-, biaya ini sudah
termasuk untuk penyediaan BBM alat pompa penyedot air.

E. Biaya Paska Panen


Biaya paska panen diperlukan untuk membayar tenaga pengupil jagung dari tongkolnya, 1 kg jagug basah diberikan upah Rp. 100,-
jika dalam 1 hektar menghasilkan jagung seberat 7 ton jagung basah maka biaya pengupilan jagung yang diperlukan adalah
Rp.700.000,-

F. Biaya Pengangkutan / Transportasi ke pabrik


Biaya pengangkutan dari lokasi panen ke pabrik untuk 7 ton jagung diperkirakan memakan biaya Rp.3.500.000,-

Dengan demikian total seluruh biaya yang dikeluarkan mulai dari penyediaan bibit hingga paska panen adalah
Total A + B + C + D + E + F = Rp. 675.000 + Rp. 500.000 + Rp. 1.050.000 + Rp. 1.500.000 + Rp. 700.000 + Rp.3.500.000 = Rp.
7.925.000,-

Jagung hibrida jenis Bisi 2 apabila ditanam pada lahan seluas 1 hektar akan menghasilkan 6-7 ton jagung
Saat ini harga jagung jenis tersebut diterima di pabrik Rp.2.000/kg, dengan ketentuan atau kualitas yang ditetapkan dari pabrik,
misalnya kadar air harue 14-15 %.

Jadi dalam 1 hektar penanaman jagung diperoleh hasil 7 ton (7000 kg) x Rp.2000,- = Rp. 14.000.000,-
Keuntungan yang didapat dalam program ini secara ekonomi adalah = Rp. 14.000.000 – Rp. 7.925.000
= Rp. 6.075.000,-/ha/100 hari

PARA MITRA DAN PERANAN

Ujung Kulon ditetapkan sebagai taman nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 284/Kpts-II/1992,
dengan kawasan seluas 120.551 hektar, meliputi Semenanjung Ujung Kulon, Gunung Honje, Pulau Handeuleum, Pulau Peucang
dan Pulau Panaitan.
Semenanjung Ujung Kulon dengan luas ± 38.543 Ha merupakan habitat terakhir badak jawa. Daratan Gunung Honje dengan
luas ± 19.499 Ha merupakan penyangga Semenanjung Ujung Kulon karena kawasan ini bersambungan langsung dengan
Semenanjung Ujung Kulon yang merupakan habitat badak Jawa. Selain itu, kawasan ini merupakan habitat berbagai jenis primata
diantaranya Owa dan Surili. Di kawasan Gunung Honje ini juga tumbuh berbagai jenis tanaman obat yang dapat dimanfaatkan
sebagai sumber plasma nutfah yang menunjang budidaya. Kawasan ini juga merupakan kawasan taman nasional yang langsung
berbatasan dengan masyarakat. Selain itu direncanakan pada kawasan Gunung Honje bagian selatan akan dibangun Javan Rhino
Sanctuary seluas 10 Ha. Namun hutan Gunung Honje saat ini sudah banyak yang beralih fungsi menjadi kebun, sawah dan
bahkan pemukiman.
Perambahan untuk perladangan, perkebunan dan pemukiman liar merupakan permasalahan pengelolaan Taman Nasional
Ujung Kulon yang sampai saat ini belum tuntas penyelesaiannya. Timbulnya perambahan karena tidak tersedianya pengairan yang
cukup untuk lahan pertanian masyarakat sekitar kawasan pada musim kemarau dan minimnya pengetahuan teknologi pertanian
yang baik. Para petani ini memilih menggarap lahan di dalam kawasan karena mereka belum mengetahui teknologi untuk
menggarap sawah mereka. Peningkatan pengetahuan dan penyediaan teknologi untuk intensifikasi pertanian merupakan sebuah
alat penyingkir halangan dalam permasalahan ini dan untuk keberhasilan program ini diperlukan kerjasama beberapa pihak yaitu :

Nama Posisi Peran di dalam Program Nomor Telepon


Pemangku kepentingan
Ir. Agus Priambudi, M.Sc. Kepala Balai TN. Ujung Kulon Penanggung Jawab kawasan TNUK yang ditunjuk 081218783833
dari Dep. Kehutanan dan penentu kebijakan
pengelolaan kawasan TNUK
Ir. Engkos Kepala Bidang Kehutanan, Dinas Sumber Informasi dan Konsultasi
Kehutanan Propinsi Banten
Aswing Asnawi Kepala Dinas Kehutan dan Sumber Informasi dan Konsultasi
Perkebunan Kabupaten
Pandeglang
Ir. Dedi Ruswansyah Kepala Bidang Tanaman Pangan Mitra TNUK dalam menyediakan tenaga PPL, 085218522275
Distanak Prop. Banten. Menyediakan bibit dan sarpras untuk pertanian
Dana Sondjaya, B.ScF Kepala Seksi PTN Wilayah III Penanggung jawab di Seksi wilayah III Sumur dan 081380163685
Sumur membantu mengukur dampak konservasi.
Pairah, S.Si, MP Kepala Urusan Evaluasi dan Supervisor 08151687755
Pelaporan
Indra Harwanto, S.Hut Pengendali Ekosistem Hutan Manajer Kampanye 085888713627
Maman PT. Tanindo Menampung dan membeli hasil produksi budidaya 081218783833
jagung
Rare Donor & mitra Mendukung pendanaan dan membantu pencapaian 0251-8329449
tujuan proyek
Dr. Kartinah Wakil Dekan Fak. Pertanian Peningkatan kapasitas penyuluh dan petani 081310069747
UNTIRTA
Darmin Koordinator PPL Pertanian Kec. Mitra penyingkir halangan dan koordinator PPL
Sumur yang akan membantu dalam pendampingan teknis
di desa Ujung Jaya
Wawan PPL Kec. Sumur Mitra penyingkir halangan dalam melakukan
pendampingan teknis pertanian
Suhaedi PPL bidang pengendali hama Mitra penyingkir halangan yang akan membantu
penyakit tanaman pangan Kec. memberikan informasi dalam pengendalian hama
Sumur-Cimanggu terpadu (PHT)
Nama Posisi Peran di dalam Program Nomor Telepon
Pemangku kepentingan
Kamir Kepala Desa Ujung Jaya Bertanggungjawab untuk menjaga komitmen
masyarakatnya, memberi persetujuan dan
dukungan memobilisasi masyarakat dalam
program ini
Sulaeman Kepala Desa Cibadak Bertanggungjawab untuk menjaga komitmen
masyarakatnya, memberi persetujuan dan
dukungan memobilisasi masyarakat dalam
program ini
Wati Kepala Desa Rancapinang Bertanggungjawab untuk menjaga komitmen
masyarakatnya, memberi persetujuan dan
dukungan memobilisasi masyarakat dalam
program ini
Masyarakat Desa Ujungjaya, Anggota Kelompok Tani Melaksanakan program intensifikasi pertanian
Cibadak dan Rancapinang pada lahannya.

Tabel RACI
Ir. Dedi

Suhaedi

RARE

Masyarakat Desa Ujungjaya


Ir. Agus Priambudi, M.Sc.

Pairah

Indra Kristiawan H.

Maman

Darmin

Kamir

Wati
Dr. Kartinah

Wawan

Cibadak dan Rancapinang


,
KESELURUHAN PROYEK A R I R R C C C C C C C R
Penjangkauan dan peningkatan pengetahuan I A C R R R R
masyarakat
Penentuan lokasi A C C C C C R
Pembangunan sekolah lapang A R R
Pengadaan dan pendistribusian benih jagung R A C
hibrida bisi-2
Pengadaan sarpras R A C C
Penanaman A C C R R
Pemeliharaan A C C C C R R
Pemanenan A C C C R
Pendistribusian hasil panen A R R
Monitoring dan evaluasi C R A C C A A A A A

R – Responsible/Penanggungjawab: Adalah mereka yang melakukan kerja atau menyediakan sumber daya untuk menyelesaikan
tugas.
A – Accountable/Dapat dipercaya : (Juga yang menyetujui) adalah mereka yang pada akhirnya bertanggung jawab atas
keakuratan dan keseluruhan penyelesaian tugas. Mereka mengawasi atau mengakhiri kerja yang dilakukan
oleh Penanggungjawab/R.
C – Consulted/Pemberi konsultasi: Adalah mereka yang opininya diminta untuk tugas tersebut.
I – Informed/Pemberi Informasi: Adalah mereka yang mereka yang menjamin informasi kemajuan proyek tetap up-to-date.

INTENSIFIKASI PERTANIAN
Teknik intensifikasi pertanian dilakukan dengan tujuan untuk mengoptimalkan lahan pertanian yang tersedia. Teknik ini telah
dilakukan di Indonesia sejak tahun 1980-an dan telah menjadikan Indonesia sebagai negara swasembada pangan. Dengan
menerapkan teknik ini diharapkan masyarakat tidak perlu membuka lahan baru dan memperluas lahan garapannya terutama di
musim kemarau dan hasilnya akan lebih baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Balai TNUK telah melakukan
study kelayakan terhadap program intensifikasi pertanian di sekitar kawasan TNUK untuk mengurangi pembukaan lahan garapan di
dalam kawasan TNUK dan dari hasil penilaian penyingkiran hambatan dan tinjauan luas keberlangsungan (BRAVO) menunjukkan
bahwa program intensifikasi pertanian di sekitar kawasan layak untuk diimplementasikan dan akan memberikan dampak yang
signifikan terhadap konservasi badak jawa di TNUK.

TIM PROYEK
Pimpinan tim adalah Pegawai Balai TNUK Departemen Kehutanan, Indra Kristiawan Harwanto, yang bertanggung jawab atas
program kampanye bangga TNUK. Indra telah bekerja di Balai TNUK ini selama 9 tahun, dan mempunyai keahlian di bidang
konservasi setelah menyelesaikan studynya di Sekolah Kehutanan Menengah Atas dan Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan di
Universitas Nusa Bangsa. Saat ini Indra sedang menjalani pendidikan di bidang komunikasi dari IPB dan Texas University.
JADWAL PROYEK KESELURUHAN
Langkah-langkah Fase Lapangan Perencanaan Proyek (Minggu 1-20)
Kerja 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
penda
huluan
Rancangan Teori Perubahan
Kajian Literatur (Penilaian Lokasi)
Identifikasi Pemangku kepentingan, (matriks)
termasuk tim Proyek
Pertemuan Pemangku kepentingan (penyusunan)
Pemodelan Konsep pertemuan pemangku kepentingan
Penilaian Peringkat Ancaman
Evaluasi rantai faktor prioritas
Identifikasi Kelompok Target Pendahuluan
(dari rantai-rantai faktor)
Percakapan langsung dengan Pemangku Kepentingan Kunci
(validasi model, peringkat dll)
Pilihan-pilihan Manajemen (Pohon Keputusan)
BRAVO (Barrier Removal Assessment Viability Overview)
Rantai-rantai hasil dan objektif-objektif pendahuluan
Penelitian kuantitatif kelompok (-kelompok) target KAP
Analisa kelompok target (termasuk Nara Sumber dan Pihak yang berpengaruh)
Merevisi Model Konsep
Lokakarya BROP (diusulkan)
BROP (Barrier Removal Operational Plan)
Tangga Manfaat Lengkap
Objektif-objektif SMART & indikator-indikator
Menentukan strategi pemberian pesan provisional
Menentukan campuran pemasaran provisional
Rencana Monitoring (Metrik-metrik & ukuran-ukuran)
Menyempurnakan Teori Perubahan
Finalisasi Rencana Proyek (termasuk rancangan
anggaran & jadwal)
Mendapatkan persetujuan provisional Rencana Proyek
Melibatkan/Mengontrak mitra Penyingkiran Hambatan
& mitra lainnya (untuk implementasi)

Langkah-langkah Pusat Pelatihan ke-2 Fase Implementasi (minggu x-x) Pusat


Pelatihan ke-3
21 22 23 24 25 2526 27-100 101 102 103 104
Pengembangan pernyataan singkat yang kreatif
Pengembangan konsep kreatif
Penyempurnaan pengembangan pesan
Finalisasi & anggaran campuran pemasaran
Merancang material
Uji coba material dan pesan
Revisi pesan dan material (berdasarkan hasil uji coba)
Identifikasi & pelibatan penjual produk (misal percetakan)
Produksi material
Rencanakan huhungan media, susun distributor (mis., reklame
outdoor, dan pemilik toko lokal)
Koordinasikan penggelaran program dengan Lihat Jadwal Penyingkiran Hambatan
mitra Penyingkiran Hambatan di bawah
Distribusikan material & gelar kegiatan kampanye
Monitor hasil-hasil – Analisa dan survei setelah kampanye
Menyempurnakan strategi & integrasiakan pembelajaran
Mulai merencanakan tahap kampanye berikutnya

JADWAL PENYINGKIRAN HAMBATAN SECARA MENDETIL

Implementasi Penyingkiran Hambatan


Langkah-langkah Juli 09 Agustus Sep 09 Okt 09 Nop 09 Des 09 Jan 10 Setelah
09 Jan. 10
Sosialisasi dan membangun kelembagaan kelompok
Fase persiapan lokasi dan bahan
Fase implementasi
Materi-materi cetak pesan konservasi dan menggerakkan perilaku
Fase Monitoring

Tolak Ukur/ Kejadian penting spesifik untuk komponen intensifikasi pertanian dari keseluruhan proyek

1) Akhir Juli 2009, 100% dari para petani di sekitar kawasan TNUK mulai diajarkan bagaimana cara bertani dengan sistem
intensifikasi pertanian (Meningkat dari 0)
2) Akhir Juli 2009, mulai mengadakan benih dan sarpras serta pendistribusiannya kepada petani dan pembangunan saluran irigasi
3) Awal bulan Agustus 2009 petani sudah mulai menanam jagung bisi-2 pada lahan mereka
4) Pada akhir bulan Agustus s.d bulan Desember 2009, dilakukan program penjangkauan dan penyebaran informasi melalui poster
tentang metode teknik pertanian yang baik dan pesan konservasi agar mereka berhenti membuka lahan baru untuk sawah
5) Selama bulan Juli s/d Oktober 2009 petani melakukan pemeliharaan dan sekolah lapang didampingi oleh PPL
6) Akhir bulan Oktober 2009, petani mulai memanen tanaman jagung bisi-2 dan PT. Tanindo akan membeli hasil panennya untuk
produksi pakan ternak.
7) Manajer kampanye akan selalu mendampingi pelaksanaan program ini dan supervisi akan memonitor dan mengevaluasi setiap
bulannya.
8) Bulan Desember 2009 s/d Maret 2010, lahan digunakan untuk memproduksi padi
9) Setelah bulan maret 2010, lahan digunakan untuk penanaman jagung bisi-2 berikutnya.
10) Menjelang Bulan Juni 2010, Balai Taman Nasional Ujung Kulon berhasil menilai keberhasilan program peningkatan
pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian, serta dampak-dampak yang terjadi.
11) Pada bulan Juli 2010 program tetap berjalan hingga tahun 2012, dan tidak ada lagi aktifitas pembukaan lahan baru, sehingga
habitat badak jawa tetap terjaga

BIAYA-BIAYA

Budget Program Peningkatan Pengetahuan dan Penerapan Teknologi Intensifikasi Pertanian


disekitar TN Ujung Kulon

No Harga Satuan TOTAL


Keterangan Jumlah Volume (Rp) (Rp) Distanak TNUK Rare
I FASE PERSIAPAN
A.Sosialisasi & Membangun
Kelembagaan Kelompok
6 paket 30.000 5.400.000 5.400.000
Biaya Konsumsi (Snack dan Makan) untuk 30 org
sosialisasi di 3 desa @ 2 hari
Survey kesesuaian lahan dengan jenis tanaman 6 Paket 500.000 9.000.000 9.000.000
3 orang
oleh pakar dari UNTIRTA dan pengamatan
system pertanian masyarakat lokal (tradisional
wisdom)
(2 hari x 3 desa )
Transpor ke/dari lokasi persiapan
(6 kali x 3 desa ) 3 desa 6 kali 300.000 5.400.000 5.400.000

Sewa tempat pertemuan dan biaya kebersihan 1 paket 3 lokasi 50.000 150.000 150.000

Fotocopy materi 1 paket 3 lokasi 100.000 300.000 300.000

B. Persiapan Bahan dan Pengolahan Lahan


Benih jagung Bisi 2
(1 hektar @ 15 kg) 15 kg 60 Ha 45.000 40.500.000 40.500.000
Urea
(1 musim tanam 3 kali) 350 kg 60 Ha 1.200 25.200.000 10.200.000 5.000.000 10.000.000
NPK
(1 musim tanam 3 kali) 350 Kg 60 Ha 1800 37.800.000 12.800.000 5.000.000 20.000.000
Bahan pembuatan sekolah
Lapang semi permanen
(@ ukuran 3x7 meter) 1 paket 3 Desa 7.000.000 21.000.000 21.000.000
Pengolahan lahan (tanah)
untuk 60 Ha di 3 desa 60 Orang 10 hari 40.000 24.000.000 24.000.000

Peralatan pertanian 1 paket 3 Desa 3.000.000 9.000.000 9.000.000

II FASE IMPLEMENTASI
Transpor ke/dari lokasi implementasi
( 3 desa x 3 kali) 5 orang 9 kali 300.000 13.500.000 13.500.000
Konsumsi Pelatihan
(3 desa x 3 hari ) 30 orang 9 paket 30.000 8.100.000 8.100.000

No Harga Satuan TOTAL


Keterangan Jumlah Volume (Rp) (Rp) Distanak TNUK Rare
Material Pesan Konservasi (poster, program
radio dan penyuluhan, dll) 1 paket 1 paket 30.000.000 30.000.000 30.000.000

Membuat video inspiratif (2 judul x 500 keping) 10.000 10.000.000 10.000.000


Konsumsi Sekolah lapang dalam 1 musim
tanam
(6 kali x 3 desa x 1 hari) 30 orang 18 paket 300.000 16.200.000 16.200.000
Honor pemateri/ instruktur sekolah lapang
dalam 6 bulan
(6 kali x 3 desa x 1 hari) 3 orang 18 paket 300.000 16.200.000 16.200.000
Akomodasi pemateri
(6 kali x 3 desa x 1 hari) 3 orang 18 paket 100.000 5.400.000 5.400.000
Hari Kerja tenaga lokal penggerak masa/
kelompok
Di 3 desa 5 orang 24 hari 150.000 18.000.000 3.000.000 15.000.000

Pengawasan proyek 2 orang Tidak memakan biaya proyek

III FASE MONITORING


Transpor ke/dari lokasi 5 orang 8 kali 300.000 12.000.000 12.000.000

Hari kerja 5 orang 16 hari 150.000 12.000.000 12.000.000

Laporan 1 paket 1 paket 500.000 500.000 500.000

Jumlah total budget 319.650.000 72.500.000 70.350.000 176.800.000

Jika di kurs kan dalam mata uang Dollar Amerika senilai US$ 1 = Rp.10.000,- maka total anggaran yang diperlukan US$ 31,965 dengan rincian
dana dari Distanak senilai US$ 7,250 dan TNUK US$ 7,035 dan Rare US$ 17,680

BIAYA-BIAYA BERULANG

1. Taman Nasional Ujung Kulon mengantisipasi kebutuhan pupuk dari tahun ke tahun dan penyediaan peralatan pertanian untuk
mengoilah tanah, yaitu dengan cara membuat koperasi atau kelembagaan yang mengatur pemberian bantuan pupuk. Pupuk
tidak diberikan secara gratis, tetapi petani mempunyai kewajiban mengembalikannya ketika hasil panen tiba kepada koperasi
yang telah dibentuk dengan cara diangsur atau tunai, dan selanjutnya setelah modal kembali, akan diberikan pupuk lagi. Begitu
pula dengan bantuan peralatan (traktor atau pompa), diberikan dengan cara pinjam pakai, hal ini untuk memacu semangat
petani agar lebih berusaha mengolah tanahnya, karena jika petani tidak dapat memanfaatkan peralatan secara baik maka tidak
mendapatkan hak untuk meminjam pakai peralatan tersebut.

Insentif
 Mendapatkan bantuan pupuk diawal musim tanpa mengeluarkan modal
 Mendapatkan bantuan peralatan pengolahan tanah secara pinjam pakai
 Mendapatkan bantuan benih jagung unggul
 Pemasaran hasil panen sudah ada kepastian

Disinsentif
 Tidak mendapatkan peralatan pengolahan tanah secara pinjam pakai, apabila program tidak dijalankan dengan baik
 Menegakkan hukum sesuai peraturaan perundang-undangan apabila masih membuka atau memperluas lahan pertanian
didalam kawasan, serta tidak memberikan lagi bantuan benih.

2. Taman Nasional Ujung Kulon juga akan melakukan memonitor terus terhadap pelaksanaan program ini, terutama untuk
mengukur dampak konservasi terhadap habitat badak Jawa. Keberhasilan program ini terlihat dari beberapa indikator, yaitu
indikator manfaat dan indikator dampak.

Indikator Manfaat :
 Meningkatnya produktifitas lahan kritis untuk usaha pertanian.
 Berkurangnya tingkat degradasi lahan kering pertanian

Indikator Dampak
 Pendapatan petani meningkat, sehingga dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya selama satu tahun.
 Terwujudnya system usaha tani berbasis konservasi lahan dan lingkungan
 Memberikan dampak kepada kelestarian habitat badak Jawa.

SUMBER-SUMBER PENDAPATAN

Balai Taman Nasional Ujung Kulon


Balai Taman Nasional Ujung Kulon saat ini dipimpin oleh Ir. Agus Priambudi, M.Sc. Masa kepemimpinan beliau, paradigm
pengelolaan kawasan konservasi khususnya Taman Nasional Ujung Kulon diitikberatkan kepada usaha pendekatan dan
pemberdayaan masyarakat yang partisipatif, pada tahun 2009 Taman Nasional Ujung Kulon menerima anggaran dari pemerintah
pusat sebesar Rp. 10.404.760.000,- yang dialokasikan untuk berbagai program kegiatan, diantaranya program Perlindungan dan
Konservasi Sumberdaya Alam yaitu sebesar Rp. 2.022.780.000,-. Program ini meliputi kegiatan pengelolaan taman nasional,
pemberdayaan masyarakat, pengembangan jasa lingkungan dan wisata alam, pengelolaan keanekaragaman hayati dan
pengelolaan kawasan konservasi. Taman Nasional Ujung Kulon akan berkomitmen dalam mengawasi pelaksanaan proyek dan
memfasilitasi pertemuan. Selain itu juga berkomitmen dalam membuat material pesan konservasi atau yang berkaitan dengan
barrier removal.
Kegiatan pride campaign dipimpin oleh seorang manajer bernama Indra Harwanto, selama ini Indra Harwanto dan teman-
teman telah bekerja di Taman Nasional Ujung Kulon hampir 9 tahun. Pendanaan untuk gaji dan biaya transpor Manajer Kampanye
yang berhubungan dengan kampanye Pride dan pengawasan kegiatan ini akan disediakan dari anggaran berulang dari Taman
Nasional Ujung Kulon; selain itu juga transport lokal seorang manajer kampanye, kecuali transport untuk orang-orang yang terlibat
dalam kegiatan ini selain manajer kampanye. Relawan akan digunakan dimanapun layak termasuk dalam melaksanakan survei
kuesioner dan rancang materi (layanan-layanan yang didonasikan).

Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten


Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten adalah lembaga pemerintah daerah yang memiliki komitmen yang tinggi
terhadap petani didaerah penyangga Taman Nasional Ujung Kulon, dalam 2 tahun terakhir, Distanak telah memberikan prioritas
kegiatan dan program peningkatan produksi pertanian pada lahan tidur yang berada disekitar kawasan TN. Ujung Kulon. Melalui
program Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU), Distanak berkomitmen memberikan bantuan benih unggul tanaman padi,
jagung, buah-buahan dan peternakan, sedangkan melalui program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT),
Distanak akan memberikan bantuan teknis dan pendampingan dalam mencegah hama dan penyakit.

Rare
Organisasi non-profit yang berkomitmen tinggi terhadap upaya konservasi. Lembaga ini akan membantu pendanaan dan
pencapaian tujuan konservasi dalam melaksanakan program peningkatan pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi
pertanian sebagai salah satu barrier removal yang bertujuan mengurangi ancaman konservasi dan merubah perilaku petani
penggarap. Salah satu rincian kegiatan yang akan dibantu pendanaannya oleh Rare, seperti terlihat dalam table kebutuhan
anggaran sebelumnya.

PEMASUKAN DAN PENGELUARAN KAS


Implementasi Penyingkiran hambatan
Langkah-langkah Sebelum Juli Agust Sep Okt Nop Des Setelah
Juni Des
Pemasukan Kas
Taman Nasional Ujung Kulon $585 $3,300 $140 $140 $140 $140 $2,590
Distanak Propinsii Banten $3,500 $3,750
Rare $1,500 $8,230 $3,790 $790 $790 $790 $790
Pengeluaran Kas
Sosialisasi dan membangun kelembagaan kelompok $ 2,085
Biaya-biaya fase persiapan lokasi dan bahan $15,030
Biaya-biaya Fase implementasi $ 4,680 $ 930 $ 930 $ 930 $ 930
Materi-materi cetak pesan konservasi dan menggerakkan perilaku $ 3,000
Biaya-biaya fase Monitoring $ 2450
Keberlanjutan program
Balans Kas Netto

PENILAIAN DAMPAK

Dampak konservasi akan tercapai apabila, keefektifan dan kesuksesan program ini dapat berbanding lurus dengan
perubahan perilaku masyarakat kearah positif yaitu tidak lagi membuka atau memperluas lahan garapannya didalam kawasan
TNUK. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan social capital yang siap untuk dibangun dan dilaksanakan oleh masyarakat secara
partisipatif. Misalnya, melalui pembuatan aturan dan sanksi internal kelompok yang mengatur pelaksanaan program ini,
masyarakat yang masih membuka atau memperluas lahan garapan baru didalam kawasan akan dikenakan sanksi oleh
kelompoknya masing-masing, kelompok bertanggungjawab penuh untuk memonitor anggotanya. Sanksi dapat berupa denda
maupun sanksi sosial untuk menanami kembali lahan yang telah dibuka

Untuk mengukur pencapaian dampak konservasi dapat dilakukan dengan cara :


1. Melakukan memonitoring luasan lahan garapan di dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Data yang dimiliki Taman
Nasional Ujung Kulon mengenai luasan lahan hutan yang sudah menjadi sawah saat ini, digunakan sebagai dasar untuk
memonitor adanya pembukaan lahan baru untuk sawah didalam kawasan. Teknis kegiatan ini dapat dilakukan dengan
melaksanakan kegiatan penelusuran lahan garapan yang setiap tahun dilakukan oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon.
Selain luasan lahan garapan di dalam kawasan.
2. Mengukur prosentase masyarakat yang mengimplementasikan teknik intensifikasi pertanian di lahan mereka. Teknisnya
adalah dengan menginventarisir masyarakat yang mengerjakan sawahnya pada musim kemarau dan tidak membuka lahan
baru di dalam kawasan pada saat musim kemarau.

Sedangkan untuk mencegah degradasi perubahan perilaku petani penggarap ke aktifitas awal yang cenderung ekstensifikasi dan
menjaga keberlanjutan perilaku petani penggarap, untuk itu diperlukan suatu upaya berupa :
1. Meluncurkan sebuah kampanye publisitas untuk menghasilkan “Kebanggaan” komunitas dalam menjaga kelestarian
Taman Nasional Ujung Kulon sebagai habitat badak Jawa, peningkatan pengetahuan terhadap efek negatif apabila
perluasan lahan garapan didalam kawasan terus dilakukan, memberikan informasi dan pesan bahwa perluasan lahan
garapan didalam kawasan tidak banyak mengasilakan keuntungan, serta mendorong masyarakat untuk menerapkan
pola intensifikasi pertanian dalam melakukan usaha pertaniannya.

Rare akan membantu dalam kegiatan publisitas ini melalui pencetakan material pesan konservasi maupun kegiatan
penyuluhan lainnya.

2. Melakukan monitoring dan pengamatan langsung dilapangan beserta masyarakat terhadap aktifitas perambahan
hutan didalam kawasan TNUK.

3. Menegakkan peraturan yang telah dibuat oleh kelompok dan perundang-undangan yang berlaku, apabila masih
ditemukan aktifitas perluasan dan pembukaan lahan hutan untuk persawahan.
Faktor-faktor Resiko Lainnya
Faktor-faktor Resiko Konsekuensi Strategi Mitigasi
• Social capital tidak berhasil dibentuk,  Dampak konservasi yang dihasilkan  Mendorong dan memperkuat kelembagaan di masing-masing
misalnya sanksi kepada anggota petani oleh sangat kecil, dan ancaman konservasi kelompok tani dalam membangun sebuah komitmen untuk
kelompoknya apabila masih merambah berupa perambahan hutan masih mengurangi ancaman perambahhan hutan.
hutan TNUK. terjadi.  Mendorong kelompok tani agar mengeluarkan aturan dalam
kelompok, yang mengatur hak dan kewajiban jika program ini
berjalan.
 Pendampingan personal kepada tokoh masyarakat untuk ikut
memonitor dampak konservasi yang akan dicapai.
• Akses jalan dan transportasi untuk  Biaya pengangkutan mahal akan  Menentukan salah satu orang/ pedagang besar yang
mengangkut hasil panen dari lokasi ke mempengaruhi pendapatan yang menerima hasil panen pada tingkat petani lokal, sehingga hasil
pabrik saat ini masih sulit dan mahal. diterima petani. Sehingga kebutuhan panen yang akan diangkut berada pada satu titik dan berjumlah
• Pabrik hanya mau membeli di lokasi apabila hidup belum terpenuhi. banyak.. Dengan cara seperti ini diharapkan harga masih bisa
hasil panennya berjumlah banyak bersaing dan produsen pakan ternak atau pabrik bisa membeli
di lokasi.

• Pendanaan yang bersumber dari Rare  Program peningkatan pengetahuan dan  Berdoa!!!!
kurang/ tidak cukup sesuai dengan rencana penerapan teknologi intensifikasi  Berusaha keras lagi melakukan penggalangan dana dari
pertanian tidak bisa berjalan lembaga-lembaga yang mau membantu dalam upaya
sebagaimana mestinya. Karena saat ini konservasi.
anggaran yang dimiliki oleh TNUK
sangat terbatas untuk program ini.
• Perusahaan penampung hasil panen tidak Pemasaran hasil panen tersendat Mencari perusahaan atau mitra lain yang bersedia
bersedia membeli hasil panen, karena tidak memasarkan hasil panen
sesuai dengan standar pabrik.

• Kepala Balai TNUK diganti  Dikhawatirkan kebijakan Kepala Balai  Perlu mengintegralkan program ini dalam perencanaan Balai
yang baru tidak sejalan, yang pada TNUK, agar terjamin kontunitasnya.
akhirnya akan menghambat program
ini.
• Balai TNUK tidak mempunyai cukup dana  Monev tidak dapat dilakukan secara  Mendapatkan sumber anggaran lain atau donor lain
untuk kegiatan monev rutin dan kalau terjadi permasalahan
tidak dapat segera diatasi

G. Strategi Kampanye

15.0 TANGGA MANFAAT


Kami mengembangkan tangga manfaat bagi petani untuk mengidentifikasi manfaat utama yang mungkin mengaktifkan perilaku
yang diharapkan dan untuk membantu mempengaruhi pilihan kami terhadap relung pasar (market niche/positioning) sebelum kami
memulai pengembangan materi.
14.1 Tangga Manfaat untuk Para Petani

Tema:
Tema:Saya
Sayaingin
inginmenjadi
menjadipetani
petaniyang
yangpeduli
peduli
terhadap
terhadaplingkungan
lingkungansekitar
sekitarTNUK”
TNUK”
Saya merasa sebagai petani unggul dan cerdas Saya merasa sebagai petani yang tidak identik
Saya merasa bertanggung jawab terhadap lagi dengan perambah hutan
kelestarian habitat badak Jawa, karena saya ikut Saya merasa inilah salah satu bentuk warisan
Manfaat memantau pelaku perambahan hutan yang cerdas untuk anak cucu
secara Hasil pertanian meningkat Hasil panen yang dihasilkan sudah ada
emosional Melindungi habitat badak Jawa kepastian yang akan menerima.
Hemat waktu dan tenaga karena tidak perlu Kelestarian hutan G. Honje sebagai daerah
membuka dan memperluas lahan pertanian tangkapan air tetap terjaga.
didalam kawasan TNUK Memiliki uang lebih dari hasil panen untuk
Menghindari kemungkinan kehilangan akses ke disimpan sebagai warisan untuk anak cucu.
Manfaat kawasan TNUK
secara fungsi Tidak bermasalah dari sisi hukum
Tidak memerlukan biaya tinggi untuk
menerapkan, karena bibit dibantu oleh
Distanak Bertanya kepada petugas TNUK sebagai sumber
informasi mengenai akibat dan sanksi hukum
Atribut Dapat memanfaatkan lahan garapan disaat apabila melakukan pembukaan lahan garapan
musim kemarau pertanian baru didalam kawasan TNUK
perilaku Tidak memperluas dan membuka lahan Tidak menjadikan lahan garapan sebagai satu-
garapan baru didalam kawasan satunya warisan untuk anak cucu
Bertanya kepada PPL tentang teknik
intensifikasi pertanian yang baik

F. Pengembangan Kampanye Pride


Perilaku yang diharapkan dari petani: Para petani tidak membuka dan memperluas
16.0 INTERVENSI MITRA PELENGKAP
lahan garapan pertanian baru didalam kawasan TNUK untuk melindungi habitat badak
Jawa
Sebagai tambahan dari mitra penyingkir rintangan,model konseptual yang telah direvisi juga memusatkan perhatian pada 2 bidang
tambahan yang membutuhkan pelibatan mitra pelengkap yaitu sebagai berikut:

Kegiatan pelengkap yang akan dilaksanakan yang dapat membantu dalam mencegah kembalinya perilaku lama (aktivitas
perambahan hutan) adalah Kesepakatan Pengelolaan Hutan Partisipatif (KPH Partisipatif):

Kesepakatan Pengelolaan Hutan Partisipatif (KPH Partisipatif) adalah suatu bentuk upaya kebijakan yang dijalankan oleh
Balai Taman Nasional Ujung Kulon dalam memberikan akses kepada masyarakat untuk mendapatkan manfaat secara
langsung dari keberadaan Taman Nasional Ujung Kulon secara terbatas, didalam KPH Partisipatif diatur hak dan kewajiban
antara petani penggarap lahan didalam kawasan TNUK sebagai pengguna sumberdaya dengan pihak pemerintah dalam hal
ini adalah Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh petani penggarap
didalam kawasan adalah tidak memperluas lahan garapan didalam kawasan dan harus memberikan informasi apabila
menemukan adanya gangguan keamanan hutan. Sedangkan kewajiban Taman Nasional Ujung Kulon adalah memberikan
arahan dan monitoring pelaksanaan kesepakatan tersebut.
Sedangkan, sanksi-sanksi dibuat oleh kedua belah pihak berdasarkan kesepakatan apabila terjadi pelanggaran
kesepakatan, sebelum diserahkan kepada pihak berwajib. Sanksi dapat berupa denda atau kegiatan konservasi berupa
penanaman. KPH Partisipatif merupakan social capital untuk menghambat kembalinya perilaku lama sebagai disintensif.

Kegiatan tambahan untuk mengukur keberhasilan BR, yaitu sensus penelusuran lahan garapan didalam kawasan :

Sensus penelusuran lahan garapan, setiap tahun selalu diadakan oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon untuk mengetahui
luasan lahan garapan didalam kawasan. Kegiatan ini akan membantu Taman Nasional Ujung Kulon dalam mengukur
keberhasilan implementasi BR Program Peningkatan Pengetahuan dan Penerapan Teknologi Intensifikasi Pertanian sebagai
upaya mengurangi ancaman konservasi di Taman Nasional Ujung Kulon
G. Strategi Kampanye

17.0 Sasaran SMART


Taman Nasional Ujung Kulon menggunakan data yang telah dikumpulkan dan hasil rangkaian kegiatan untuk menyempurnakan
“pilihan pengelolaan” awal serta memastikan bahwa pilihan tersebut sejalan dengan target-target kuncinya, pilihan tersebut adalah
“SMART”5 dan untuk melihat bahwa kita benar-benar menggerakkan masyarakat menuju kesatuan perubahan perilaku . Jika
tercapai, pilihan-pilihan ini akan –melalui perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku kelompok kunci pengguna sumberdaya
(termasuk sejawat dan kelompok yang mempengaruhi)- menciptakan konstituensi yang mendukung program peningkatan
pengetahuan dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian untuk mengurangi ancaman pembukaan dan perluasan lahan
garapan didalam kawasan TNUK.
17.1 Sasaran SMART untuk Para Petani Penggarap Diluar Kawasan
17.1.1 Sasaran Pengetahuan

5
Sasaran SMART adalah: Specific (spesifik), Measurable (terukur), Action-oriented (Orientasi aksi), Realistic (realistis), dan Time-bound (terikat waktu)
Para Petani Penggarap Diluar Kawasan : Perenungan/ Pengetahuan
Sasaran SMART 1 Pada akhir bulan Mei 2010, Petani penggarap lahan diluar kawasan TNUK yang setuju bahwa sistem intensifikasi pertanian dapat
mengurangi Perluasan lahan atau perambaan hutan didalam kawasan yang akan merusak habitat badak Jawa, meningkat 70 % dari
survey pra kampanye tahun sebelumnya 42,7 %.
Sasaran SMART 2 Pada bulan Mei 2010, petani penggarap lahan diluar kawasan menjadikan tabungan uang sebagai simpanan naik menjadi 50 % dari
tahun sebelumnya 24.4 %. G. Strategi Kampanye

17.1.2 Sasaran Sikap dan Komunikasi Interpersonal


Para Petani Penggarap Diluar Kawasan : Sikap dan Komunikasi antar sesama (interpersonal)
Sasaran SMART 1 Mei 2010, 90 % petani penggarap lahan diluar kawasan TNUK mendukung penerapan system pola intensifikasi pertanian, dari 78
% pada tahun sebelumnya
Sasaran SMART 2 Mei 2010, petani penggarap lahan diluar kawasan dari desa Ujung Jaya tidak setuju bahwa batas untuk membuka perluasan lahan
baru adalah sampai tidak melewati S. Cilintang meningkat menjadi 25 % dari sebelumnya 4.2 % pada tahun 2009
Sasaran SMART 3 Mei 2010, 40 % masyarakat yang menggarap lahan dalam kawasan TNUK mulai membicarakan dengan teman sistem dan teknik
pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan diluar kawasan, dari tahun sebelumnya 4,9 %

Para Petani Penggarap Diluar Kawasan : Perubahan Perilaku


Sasaran SMART 1 Diakhir keg. Pride (Mei 2010) 50 % petani penggarap diluar kwsn TNUK, telah menerapkan pola intensifikasi pertanian .
Sasaran SMART 2 Diakhir keg. Pride (Mei 2010) 30 % petani penggarap lahan dalam kwsn. TNUK tidak memperluas lahan garapannya

17.1.3 Sasaran Perubahan Perilaku

G. Strategi Kampanye

18.0 Bauran pemasaran


Survei kuantitatif dan kualitatif yang dilaksanakan pada bagian penelitian formatif pada rencana ini telah membantu kami
dalam memahami siapa sumber yang dipercaya oleh khalayak sasaran begitu pula dengan cara dan saluran yang disukai.
Dengan informasi ini kita dapat menentukan bauran pemasaran yang tepat, menggunakan 4P (Product -Produk, Price - Harga,
Place - Tempat dan Promotion - Promosi) bagi para petani penggarap diluar kawasan.

18.1 Bauran pemasaran untuk Para Petani Penggarap Diluar Kawasan


Produk :
Produk kampanye adalah menerapkan teknik intensifikasi pertanian dengan baik, dalam melakukan kampanye kami meminta para
petani agar dalam meningkatkan hasil pertaniannya tidak dilakukan dengan cara membuka lahan garapan baru atau memperluas
lahan garapannya, dengan mengadopsi teknik intensifikasi pertanian maka mereka juga akan melindungi habitat badak Jawa dan
Gunung Honje sebagai daerah tangkapan air yang sangat penting bagi kehidupan mereka. Kampanye ini juga akan memfokuskan
bahwa dengan mengadopsi perilaku baru, maka hasil panen mereka akan meningkat yang berarti kebutuhan hidup mereka juga
akan terpenuhi, dan mereka tidak perlu lagi membuang waktu dan tenaga untuk membuka lahan baru didalam kawasan TNUK.

Harga :
Tingkat keterlibatan mereka dalam menerapkan teknik intensifikasi lahan pertanian sangat tinggi, namun demikian keterbatasan
waktu dan ilmu yang dimiliki menjadikan hal tersebut sebagai kendala para petani, oleh karena itu mereka akan diberikan pelatihan
dalam bentuk sekolah lapang untuk meningkatkan pengetahuan mereka dibidang intensifikasi pertanian sebelum menerapkan
dilahannya selain itu mereka akan diberikan intensif berupa pemberian bibit unggul jagung Bisi 2 secara Cuma-Cuma dari
Distanak Provinsi Banten dan pendampingan teknis secara berkala, sebagai bentuk kompensasi atas waktu yang diluangkan oleh
mereka dan keinginan mereka yang tinggi untuk mengadosi perilaku yang baru.
Biaya lain yang terkait dengan adanya perilaku baru ini adalah adanya kekhawatiran bahwa penerapan program intensifikasi lahan
pertanian akan sulit dilakukan di lahannya karena keterbatasan sumber air dan minimnya ilmu yang dimiliki, untuk mengatasi
kekhawatiran tersebut akan dilakukan pembuatan sumur pompa bekerjasama dengan Distanak Provinsi Banten.

Tempat :
Selain meningkatkan pengetahuan tentang intensifikasi pertanian dan menerapkan dilahannya melalui sekolah lapang dan
penerapan teknologi pertanian, bekerja sama dengan kelompok tani dan kepala desa akan menempelkan beberapa poster dib alai
pertemuan desa serta rumah tokoh agama, karena para petani menyenangi kegiatan pertemuan desa serta keagamaan, poster
tersebut berisi petunjuk dan teknik intensifikasi pertanian, pesan konservasi untuk menghentikan perambahan hutan atau
pebukaan lahan dan berisi tentang manfaat secara funsioanal apabila mereka menerapkannya, misalnya lebih menguntungkan,
hemat waktu dan biaya serta mengurangi image petani sebagai perambah hutan.
Kegiatan penyuluhan juga akan dilakukan pada malam hari ketika mereka beristirahat dari aktifitasnya bersama dengan kelompok
taninya.

Promosi :
Hasail survey menunjukkan bahwa tingkat pendidikan formal mereka sangat rendah, sehingga kemampuan terhadap baca dan
tulis juga rendah, mereka lebih sering mendapatkan informasi dari radio. Hasil survey juga menunjukkan bahwa mereka berada
pada tahap perenungan untuk menerapkan perilaku baru, untuk itu strategi pesan yang akan disampaikan dititikberatkan tentang
bagaimana memberikan petunjuk untuk meningkatkan pengetahuannya tentang intensifikasi pertanian, menyampaikan manfaat
dan dampak yang akan diterima apabila mengadopsi program ini, hal ini dapat dilakukan melalui Penyuluh Pertanian Lapangan
sebagai sumber informasi yang dipercaya dan kelompok taninya sendiri melalui pertemuan desa maupun kegiatan keagamaan.
G. Strategi Kampanye

19.0 PESAN KAMPANYE


19.1 Strategi pembuatan pesan
Strategi pembuatan pesan bagi para petani penggarap diluar kawasan akan membantu memandu semua pesan yang dirancang
agar dapat mencapai sasaran kampanye kami. Strategi-strategi ini mencakup khalayak target, tindakan yang diinginkan (dan
perilaku kompetisi), ganjaran dan dukungan

STRATEGI PEMBUATAN PESAN UNTUK PETANI PENGGARAP DILUAR KAWASAN


Jika saya menerapkan system intensifikasi pertanian dalam bertani, maka saya akan merasa sebagai petani yang baik dan peduli
terhadap kawasan Ujung Kulon sebagai habitat badak Jawa, karena :
a. Orang yang saya hormati dan para ilmuwan mengatakan hal ini penting untuk dilakukan
b. Habitat badak Jawa tidak semakin sempit.
c. Saya dapat meningkatkan hasil pertanian dan meningkatkan pendapatan ekonomi tanpa harus membuka atau memperluas
lahan garapan didalam kawasan TNUK
d. Saya dapat memiliki uang lebih untuk disimpan sebagai warisan untuk anak cucu

19.2 Pesan-pesan Inti dan Slogan-slogan


Berdasarkan strategi pesan kita, kita dapat menciptakan pesan-pesan inti yang merangkum kampanye kami sementara
membuat kasus-kasus yang meyakinkan bagi khalayak target. Dengan pesan-pesan ini kami memasukkan slogan-slogan potensial
yang membantu meringkas pesan-pesan kita dalam frase-frase yang mudah diingat. Lebih banyak slogan akan dikembangkan
selama fase pengembangan kreatif dan diuji dengan sasaran utama sebelum memilih slogan akhir.
G. Strategi Kampanye

Alternatif slogan (bagi kedua kelompok sasaran):


Pesan Inti bagi Nelayan: Terapkan Intensifikasi Pertanian di lahan garan Anda
Jadilah petani yang unggul dan cerdas. Hilangkan Petani yang Cerdas, Petani yang Mau Menerapkan
identitas petani sebagai perambah hutan. Mudah Intensifikasi Pertanian
dilakukan untuk meningkatkan hasil panen Tinggalkan Image Sebagai Perambah Hutan, Terapkan
pertanian tanpa memperluas lahan garapan. Intensifikasi Pertanian
Jadikanlah emas dan uang sebagai simpanan, Nama Besar Hutan Ujung Kulon Ada Ditangan Anda
Lahan garapan bukanlah bentuk simpanan yang Leuweung Hejo, Masyarakat Ngejo
cerdas.

17.3 Kotak pengembangan pesan


Kotak-kotak pengembangan pesan berikut membantu kami mendefinisikan pesan-pesan kunci untuk khalayak kami. Kami
akan menambah dan mengurangi jumlah pesan yang kami cakup dalam pelaksanaan kreatif individu pada format tipe media yang
kami pilih. Sebagai contoh, radio memiliki format yang lebih panjang dan kami dapat memasukkan banyak pesan, sementara
papan reklame sering dilihat sepintas ketika lewat, sehingga kami dapat mengurangi jumlah pesan kami dalam format ini. Pesan-
pesan dan format khusus akan lebih jelas didefinisikan selama fase pengembangan kreatif.

G. Strategi Kampanye
17.3.1. Kotak Pengembangan Pesan untuk Petani
PESAN-PESAN PEMBUKA (THRESHOLD)
 Membuka dan memperluas lahan garapan baru didalam kawasan adalah pekerjaan melelahkan dengan hasil yang tidak
memuaskan
 Aktifitas membuka dan memperluas lahan garapan baru didalam kawasan dapat mempersempit habitat badak Jawa
PESAN-PESAN SOLUSI
 Menerapkan sistem intensifikasi pertanian dapat meningkatkan hasil panen tanpa memperluas lahan garapan
 Menerapkan sistem intensifikasi pertanian adalah tabungan untuk anak cucu

PESAN-PESAN AKSI
 Jika Anda menerapkan program intensifikasi pertanian, maka Anda akan menghemat waktu dan energi Anda
 Jika Anda menerapkan program intensifikasi pertanian, Anda akan mempunyai tabungan uang lebih besar
 Petani yang cerdas adalah petani yang tidak memperluas lahan garapan didalam kawasan, tetapi petani yang cerdas adalah
petani yang mau menerapkan intensifikasi pertanian
 Malu disebut perambah hutan? Lakukanlah sistem intensifikasi pertanian di lahan Anda.

PESAN-PESAN PENGUATAN
 Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon mengatakan bahwa, jika program ini dapat dilakukan dengan baik perambahan
hutan tidak akan ada lagi ada tahun 2013.
 Para tokoh agama mengatakan bahwa itu adalah penting.
 ICRAF mengatakan bahwa program ini akan sangat efektif dalam mengurangi ancaman konservasi.
 Masyarakat setuju penerapan system intensifikasi pertanian diluar kawasan dapat mengurangi ancaman pembukaan lahan
garapan baru didalam kawasan TNUK
 Hasil panen pertanian akan ditampung oleh PT Tanindo sebagai produsen pakan ternak.
 Penerapan intensifikasi pertanian dapat meningkatkan hasil panen, dan menambah simpanan uang untuk anak cucu
 Akan ada denda yang lebih keras bagi orang yang masih membuka dan memperluas lahan garapan baru didalam kawasan
TNUK

PROFIL KHALAYAK – Petani


 Sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani
 Mereka memiliki lahan garapan sendiri rata-rata seluas 0,26 - 1 ha
 Pada umumnya mereka berusia 35 - 44 tahun
 Pendidikan formal yang pernah mereka tempuh masih tergolong rendah, mereka rata-rata menempuh pendidikan formal
hingga SD sebanyak 63,4 % dan 14,6 % tidak pernah mengenyam pendidikan formal.
 Tingkat pengetahuan dan kemampuan baca tulis mereka masih sangat rendah, begitu pula dengan pemahaman mereka
terhadap arti pentingnya konservasi maupun keanekaragaman hayati masih dibawah 50% yang memahaminya.
 Tingkat pengetahuan yang rendah ternyata memberikan pengaruh terhadap sikap dan perilaku mereka dalam meningkatkan
hasil pertaniannya, usaha yang mereka lakukan adalah dengan memperluas lahan garapannya, karena mereka mempunyai
persepsi semakin luas lahan garapan semakin banyak hasil panen yang didapat, ilmu pengetahuan tentang teknologi
intensifikasi pertanian tidak mereka miliki, dan hampir sebagian besar dari petani belum pernah menerapkannya.
 Selain itu mereka memperluas lahan garapan didalam kawasan dikarenakan lahan pertanian didesa terbatas.
 Sebagian besar dari mereka mengetahui bahwa pembukaan lahan baru dan perluasan lahan pertanian didalam kawasan
yang terjadi saat ini, merupakan ancaman yang paling serius terhadap kerusakan hutan di TNUK selain adanya penebangan
liar.
 Pada umumnya mereka mengetahui akibat yang ditimbulkan dari praktek tersebut, tetapi mereka tidak mengetahui apa yang
harus dilakukan dalam bertani yang lebih baik.
 Survey menunkukkan bahwa kebanyakan petani berada di tingkat perenungan yaitu sebanyak 53,7 % dalam hal perubahan
perilaku yang diperlukan.
 Mereka setuju penerapan system intensifikasi pertanian diluar kawasan dapat mengurangi ancaman pembukaan lahan
garapan baru didalam kawasan TNUK
 Mereka setuju hutan Gunung Honje sebagai daerah tangkapan air harus dilindungi.
 Mereka masih bersikap diam saja apabila melihat ada orang yang membuka lahan garapan pertanian baru didalam kawasan
TNUK
 Mereka tidak mengetahui cara menerapkan intensifikasi pertanian
 Mereka ingin terlibat apabila dalam 6 bulan kedepan ada program peningkatan intensifikasi pertanian dan bersedia menjadi
peserta
G. Strategi Kampanye

18.0 RENCANA PEMANTAUAN


Rencana Pemantauan yang baik akan membantu kita secara akurat dan tepercaya menilai dampak intervensi
proyek kita untuk menentukan apakah proyek telah mencapai tujuan dan sasarannya, dan apa yang perlu dilakukan untuk
meningkatkan keberhasilan. Tabel berikut adalah ringkasan Rencana Pemantauan yang dibuat untuk Para Petani diluar
kawasan TNUK
PARA PETANI
Tingkatan Sasaran SMART Bagaimana Ukuran Target Kapan Siapa Dimana
Pada akhir bulan Mei 2010, Petani
penggarap lahan diluar kawasan TNUK
Manajer Desa Target
yang setuju bahwa sistem intensifikasi
Pengetahuan 70% Juli 2009 Kampanye, Utama
pertanian dapat mengurangi Perluasan Pra/pasca
Positif (meningkat s.d Akhir staf TNUK (Rancapinang,
lahan atau perambaan hutan didalam survei KAP
terbentuk dari 42,7%) Mei 2010 dan Cibadak dan
kawasan yang akan merusak habitat enumerator Ujung Jaya)
badak Jawa, meningkat 70 % dari survey
pra kampanye tahun sebelumnya 42,7 %.
Pengetahuan
Pada akhir bulan Mei 2010, petani Manajer Desa Target
penggarap lahan diluar kawasan Pengetahuan 50% Juli 2009 Kampanye, Utama
Pra/pasca
menjadikan tabungan uang sebagai survei KAP
Positif (meningkat s.d Akhir staf TNUK (Rancapinang,
simpanan naik menjadi 50 % dari tahun terbentuk dari 24.4%) Mei 2010 dan Cibadak dan
sebelumnya 24.4 %. enumerator Ujung Jaya)
Pada akhir bulan Mei 2010, 90 % petani Pra/pasca Sikap Positif 90% Juli 2009 Manajer Desa Target
penggarap lahan diluar kawasan TNUK survei KAP terbentuk (meningkat s.d Akhir Kampanye, Utama
mendukung penerapan system pola dari 78%) Mei 2010 staf TNUK (Rancapinang,
intensifikasi pertanian, dari 78 % pada dan Cibadak dan
enumerator Ujung Jaya)
tahun sebelumnya
PARA PETANI
Tingkatan Sasaran SMART Bagaimana Ukuran Target Kapan Siapa Dimana
Sikap & Pada akhir bulan Mei 2010, petani
Komunikasi penggarap lahan diluar kawasan dari desa Manajer Desa Target
Pribadi Ujung Jaya tidak setuju bahwa batas untuk 25% Juli 2009 Kampanye, Utama
Pra/pasca Sikap Positif
membuka perluasan lahan baru adalah survei KAP terbentuk
(meningkat s.d Akhir staf TNUK (Rancapinang,
sampai tidak melewati S. Cilintang dari 4.2%) Mei 2010 dan Cibadak dan
meningkat menjadi 25 % dari sebelumnya enumerator Ujung Jaya)
4.2 % pada tahun 2009.
Pada akhir bulan Mei 2010, 40 %
masyarakat yang menggarap lahan dalam Desa Target
kawasan TNUK mulai membicarakan 40% G. Strategi Kampanye
Utama
Juli 2009
Percakapan Survei Manajer
dengan teman sistem dan teknik pertanian langsung kesiapan (meningkat s.d Akhir
Kampanye (Rancapinang,
yang lebih produktif dan berkelanjutan 4.9%) Mei 2010 Cibadak dan
diluar kawasan, dari tahun sebelumnya 4,9 Ujung Jaya)
%.
50 % petani Desa Target
Diakhir keg. Pride (akhir Mei 2010) 50 % Manajer
menerapkan Juli 2009 Utama
petani penggarap diluar kwsn TNUK, telah Observasi Kampanye
Perubahan Jumlah petani pola s.d Akhir (Rancapinang,
menerapkan pola intensifikasi pertanian dan diskusi
intensifikasi Mei 2010
dan staf
perilaku TNUK Cibadak dan
(meningkat dari 0) pertanian Ujung Jaya)
Diakhir keg. Pride (akhir Mei 2010) 30 % Observasi di
petani penggarap lahan dalam kwsn. TNUK lapangan
tidak memperluas lahan garapannya (sensus
(meningkat dari 0) penelusuran Desa Target
lahan Manajer Utama
Jumlah 30 % tidak Juli 2009
garapan) dan Kampanye
laporan dan memperluas s.d Akhir (Rancapinang,
tidak ada lagi dan Staf
luasan lahan lahan garapan Mei 2010 Cibadak dan
laporan TNUK
petugas Ujung Jaya)
TNUK ttg
perambahan
hutan
G. Strategi Kampanye

KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN PENGURANGAN ANCAMAN


Sasaran SMART Bagaimana Ukuran Target Kapan Siapa Dimana
Habitat badak jawa tetap terjaga Habitat badak
kelestariannya pada tahun 2015 Sensus penelusuran
Jawa tetap Desa Target Utama
Asumsi : Tidak ada lagi ancaman lahan garapan Jumlah Satu kali
terjaga dan tidak Manajer
pembukaan lahan garapan baru didalam kawasan Kasus dan setahun (Rancapinang,
ada lagi Kampanye,
TNUK dan Luasan dilakukan Cibadak dan Ujung
didalam kawasan TNUK pada akhir perambahan staf TNUK
rekapitulasi data Lahan selama 6 tahun Jaya)
Mei tahun 2015 hutan pada
laporan tahunan
tahun 2015

Pelaku Pembukaan hutan untuk Sensus penelusuran


lahan garapan Jumlah Tidak ada lagi Satu kali Desa Target Utama
lahan garapan menurun sebanyak Manajer
didalam kawasan Kasus dan perambahan setahun (Rancapinang,
50 % dari tahun sebelumnya pada TNUK dan Luasan hutan pada dilakukan
Kampanye,
staf TNUK Cibadak dan Ujung
Mei 2010, dan tidak ada lagi pada rekapitulasi data Lahan tahun 2015 selama 6 tahun Jaya)
akhir baulan Mei tahun 2015 laporan tahunan
H. Teori Perubahan
Merupakan sesuatu yang kritis untuk memiliki ide yang jelas bagaimana kampanye Pride kita akan menciptakan perubahan yang
bertahan lama untuk konservasi keanekaragaman hayati. Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah dengan menciptakan
“Teori Perubahan”. Melalui proses perencanaan, kami mengumpulkan semua data yang dapat membantu mengembangkan Teori
Perubahan tersebut. Kami mulai menambahkan ini kedalam tabel sederhana yang kemudian digunakan untuk
mengembangkannya secara naratif. Data kami membantu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti:

Siapa ORANG yang akan dipengaruhi oleh program saya?


TINDAKAN apa yang akan diambil oleh program saya?
Dalam PENGATURAN seperti apa tindakan itu akan dilaksanakan?
KELUARAN apa yang akan dihasilkan oleh kampanye saya?

Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membantu dalam menentukan kerangka kerja untuk perubahan perilaku dan tujuan
yang lebih besar dibelakang kegiatan-kegiatan individu.

19.0 Teori Perubahan


19.1 Rencana Aksi untuk Menjangkau Seluruh Khalayak
19.2 Rencana Aksi untuk Menjangkau Para Petani
19.3 Kerangka kerja kampanye untuk Para Petani

H. Teori Perubahan

19.0 TEORI PERUBAHAN


Penjelasan Mengenai Teori Perubahan (maksimum 175 kata)
Untuk mengurangi ancaman terhadap kawasan TNUK yang penting sebagai habitat badak jawa, pembukaan lahan hutan untuk tujuan pertanian dan
pembalakan liar akan diminimalisasi. Para petani lokal akan diberikan informasi mengenai nilai kehati dari kawasan TNUK, serta keuntungan mengadopsi
system pertanian menetap dan sumber pendapatan lainnya yang sudah dikembangkan dan mulai diterapkan di kawasan tersebut. Sistem dan teknik
pertanian yang baru ini akan memberikan pendapatan yang lebih tinggi dan berkelanjutan kepada para petani, dan juga akan mempertahankan system
penyangga kehidupan hutan. Mereka akan diperkenalkan pada system dan teknik pertanian menetap dan sumber pendapatan lainnya serta
mendapatkan pelatihan dan pendampingan teknis untuk mengadopsi dan mempraktekannya. Pada tahun pertama paling tidak terjadi 50 % adopsi dari
teknik dan system agroforestry. Kampanye pride di kawasan ini akan dianggap sukses jika 30 % petani penggarap lahan dalam kawasan TNUK tidak
melakukan pembukaan dan perluasan lahan garapannya selama 1 tahun kampanye serta tidak diketemukan aktivitas pembukaan dan perluasan lahan
garapan untuk pertanian pada tahun 2015
19.1 RENCANA AKSI UNTUK MENJANGKAU SELURUH KHALAYAK
SELURUH
KELOMPOK RENCANA AKSI RENCANA PEMANTAUAN RESIKO UTAMA
SASARAN
Sasaran Fokus Hasil yang Sasaran Kegiatan Alat yang Mitra Sistem Metode Target Frekuensi Sosial-politik Secara
dibutuhkan utama6 utama diperlukan ukuran keilmiahan/
lainnya
Sasaran Badak Jawa Habitat badak Habitat badak Program Tenaga Dinas Jumlah Kegiatan Tidak Dua Tidak ada ICRAF dan
keanekaraga yang endemik Jawa tetap Jawa tidak peningkatan bantuan Pertanian ancaman Penelusura ada lagi tahunan Distanak
man hayati: dan terancam terjaga dari mengalami pengetahuan teknis dari dan pembukaan n lahan aktifitas dimulai dari menilai
punah ancaman ancaman dari dan Penyuluh Peternakan dan garapan pembuk tahun 2009 program ini
Untuk menjaga aktifitas penerapan Pertanian Propinsi perluasan setiap aan selama 6 tidak akan
dan pembukaan teknologi Lapangan Banten lahan tahun dan hutan tahun menjadi
mempertahankan dan perluasan intensifikasi (PPL) dan (PPL) dan pertanian rekapitulasi dan tahun. masalah,
kelestarian lahan pertanian Teknologi PT Tanindo menurun data perluasa tergantung
habitat badak garapan pertanian. dan luasan laporan n lahan pada
Jawa di Taman
didalam lahan bulanan garapan kecermatan
Nasional Ujung
kawasan garapan dari SPTN baru dalam
Kulon pada
tahun 2015, TNUK pada baru wilayah III didalam menentukan
menjadi tidak ada tahun 2015 didalam kawasan pilihan jenis
lagi ancaman kawasan pada tanaman
pembukaan dan tahun dengan tanah
perluasan lahan 2015
garapan didalam
kawasan.

Sasaran
pengurangan Tidak
ancaman: Pelaku Perambahan Pada tahun Program Petugas Dinas Luasan Sensus terjadi Target bisa
semestera
Pembukaan hutan untuk 2015 tidak peningkatan Penyuluh Pertanian lahan lahan peramba saja tidak
1) Pelaku n
hutan untuk sawah tidak terjadi lagi pengetahuan Lapangan dan garapan garapan han tercapai
Pembukaan lahan garapan terjadi lagi perambahan dan teknologi dan Peternakan didalam didalam untuk apabila tidak
hutan untuk didalam hutan intensifikasi teknologi Propinsi kawasan kawasan sawah ada komitmen
lahan garapan kawasan pertanian intensifikasi Banten dan jumlah setiap tahun didalam dan
didalam pertanian serta PT. kasus dan kawasan kontinuitas
kawasan Wonokoyo perambahan rekapitulasi TNUK pendanaan
hutan kasus dalam pada dari mitra
laporan Juni maupun
bulanan 2015 TNUK

6
Lihat bagian F untuk deskripsi lengkap mengenai tujuan
SELURUH
KELOMPOK RENCANA AKSI RENCANA PEMANTAUAN RESIKO UTAMA
SASARAN
Sasaran Fokus Hasil yang Sasaran Kegiatan Alat yang Mitra Sistem Metode Target Frekuensi Sosial-politik Secara
dibutuhkan utama utama diperlukan ukuran keilmiahan/
lainnya

H. Teori Perubahan

19.2 RENCANA AKSI UNTUK MENJANGKAU PARA PETANI PENGGARAP DILUAR KAWASAN
PETANI RENCANA AKSI RENCANA PEMANTAUAN RESIKO UTAMA
Tingkatan Secara
Hasil yang Sasaran Kegiatan Alat yang Sistem
perubahan Fokus Mitra Metode Target Frekuensi Sosial politik keilmiahan/
dibutuhkan utama7 utama diperlukan ukuran
perilaku lainnya
Tingkatan 1) Ancaman 1) Pengetahuan 1) Pada akhir Pesan kognitif Materi pesan Radio GBS Perubahan Pra/pasca 1) 70% Juli s.d Radio Tidak ada
perenungan (pada habitat mengenai peran bulan Mei disebarkan melalui radio Malingping, kesadaran survei meningkat akhir Mei meminta
(Pengetahuan) badak Jawa) intensifiksi 2010, Petani melalui radio, dan poster Krakatau FM dari 2010 biaya siaran
yang pertanian yang penggarap poster dan dan 42.7%
disebabkan dapat lahan diluar penyuluhan percetakan
Laptop dan
oleh mengurangi kawasan melalui dan Distanak
proyektor
pembukaan ancaman TNUK yang pertemuan Propinsi
powerpoint
dan kawasan TNUK setuju bahwa didesa Banten
perluasan yang sistem
lahan disebabkan oleh intensifikasi
garapan aktifitas pertanian
untuk pembukaan dan dapat
pertanian perluasan lahan mengurangi
didalam garapan untuk Perluasan
kawasan pertanian lahan atau
didalam perambaan
kawasan hutan didalam
kawasan yang
akan merusak
habitat badak
Jawa,
meningkat 70
% dari survey
pra kampanye
tahun
sebelumnya
42,7 %.

7
Lihat bagian F untuk deskripsi lengkap mengenai sasaran
PETANI RENCANA AKSI RENCANA PEMANTAUAN RESIKO UTAMA
Tingkatan Secara
Hasil yang Sasaran Kegiatan Alat yang Sistem
perubahan Fokus Mitra Metode Target Frekuensi Sosial politik keilmiahan/
dibutuhkan utama utama diperlukan ukuran
perilaku lainnya
2) Bentuk 2) Pengetahuan 2) Pada akhir 2) 50%
simpanan mengenai bentuk bulan Mei meningkat
yang paling simpanan untuk 2010, petani dari
cerdas anak cucu yang penggarap 24.4%.
paling baik selain lahan diluar
lahan garapan kawasan
didalam kawasan menjadikan
tabungan
uang sebagai
simpanan naik
menjadi 50 %
dari tahun
sebelumnya
24.4 %.
Tingkat 1) Adanya 1) Adanya 1) Pada akhir Pesan Lembar Tokoh Perubahan Pra/pasca 90% Juli s.d Kurangnya Tidak ada
Persiapan dukungan dukungan untuk bulan Mei emosional khotbah dan agama, sikap survei meningkat akhir Mei dukungan dari
untuk menerapkan 2010, 90 % disebarkan materi Ustadz, dari 78 % 2010 PPL dan
(Sikap) menerapkan system pola petani melalui lembar penyuluhan PPL dan Tokoh agama
system pola intensifikasi penggarap khotbah dan percetakan
intensifikasi pertanian. lahan diluar pesan kognitif
pertanian, kawasan melalui poster
TNUK dan
mendukung penyuluhan
penerapan dalam
system pola pertemuan
intensifikasi desa
pertanian, dari 25%
78 % pada meningkat
tahun dari 4.2 %
sebelumnya
PETANI RENCANA AKSI RENCANA PEMANTAUAN RESIKO UTAMA
Tingkatan Secara
Hasil yang Sasaran Kegiatan Alat yang Sistem
perubahan Fokus Mitra Metode Target Frekuensi Sosial politik keilmiahan/
dibutuhkan utama utama diperlukan ukuran
perilaku lainnya
2) Tingkat 2) Meningkatnya 2) Pada akhir
persetujuan sikap bulan Mei
terhadap ketidaksetujuan 2010, petani
mitos terhadap mitos penggarap
Masyarakat bahwa batas lahan diluar
dari desa untuk membuka kawasan dari
Ujung Jaya perluasan lahan desa Ujung
bahwa batas baru adalah Jaya tidak
untuk sampai tidak setuju bahwa
membuka melewati S. batas untuk
perluasan Cilintang s membuka
lahan baru perluasan
adalah sampai lahan baru
tidak melewati adalah sampai
S. Cilintang tidak melewati H. Teori Perubahan
S. Cilintang
meningkat
menjadi 25 %
dari
sebelumnya
4.2 % pada
tahun 2009
Tingkatan Penerapan Masyarakat mulai Pada akhir Pesan PPL dan Berbicara Survei 40% lebih Juli s.d Petani terlalu Tidak ada
Validasi program membahas bulan Mei Perorangan Ketua satu sama kesiapan dari 4.9% akhir Mei sibuk atau
intensifikasi mengenai 2010, 40 % Kelompok lain 2010 tidak ingin
(Sikap) pertanian penerapan masyarakat Tani menghadiri
Pertemuan
yang dapat program yang pertemuan
dengan
mengurangi intensifikasi menggarap
masyarakat
ancaman pertanian yang lahan dalam
pembukaan dapat kawasan Penyuluahan Kurangnya
lahan didalam mengurangi TNUK mulai melalui kepercayaan
kawasan ancaman membicarakan sekolah pada petugas
pembukaan lahan dengan teman lapang Dept.Kehu-
didalam kawasan sistem dan tanan
teknik
pertanian
yang lebih
produktif dan
berkelanjutan
diluar
kawasan, dari
tahun
PETANI RENCANA AKSI RENCANA PEMANTAUAN RESIKO UTAMA
Tingkatan Secara
Hasil yang Sasaran Kegiatan Alat yang Sistem
perubahan Fokus Mitra Metode Target Frekuensi Sosial politik keilmiahan/
dibutuhkan utama utama diperlukan ukuran
perilaku lainnya
sebelumnya
4,9 %.

Tingkatan 1) Penerapan 1)Pengetahuan 1) Diakhir keg. 1) Pelatihan Materi PPL dan 1) Jumlah 1) 1) 50 % Juli s.d 1) Petani 1) Tidak ada
pola mengenai Pride (akhir Mei dan penyuluhan Ketua Petani Observasi meningkat akhir Mei terlalu sibuk
pelaksanaan dan
intensifikasi bagaimana cara 2010) 50 % penyuluhan dan teknologi Kelompok dari 0 2010 atau tidak
(Praktek) pertanian dan menerapan pola petani melalui pertanian Tani diskusi ingin
teknologi intensifikasi penggarap sekolah lapang menghadiri
pertanian pertanian dan diluar kwsn dan penerapan
H. Teori Perubahan
sesi pelatihan
teknologi TNUK, telah di lapangan
pertanian menerapkan
pola
intensifikasi PPL dan
pertanian Ketua
(meningkat dari Kelompok
0) Tani
2) Petani tidak 2) Petani tidak 2) Diakhir keg. Penerapan Jumlah 2) 2a) 30 % Juli s.d 2) Tidak
memperluas memperluas Pride (akhir Mei pola petani Observasi meningkat akhir Mei semua petani
lahan garapan lahan garapan 2010) 30 % intensifikasi dan dari 0 2010 dilatih dan
petani pertanian diskusi bersedia
penggarap untuk
lahan dalam melaksanakan
kwsn. TNUK
tidak
memperluas
lahan
garapannya
(meningkat dari
0)
Pengetahuan Pola intensifikasi lahan tidak Musim kemarau lahan Hasil panen pertanian yang Pembukaan lahan Habitat
masyarakat tentang diterapkan masyarakat penggarap tidak digarap, musim didapat tidak mencukupi baru untuk sawah
teknik intensifikasi hujan panen sekali kebutuhan hidup satu tahun
Badak
didalam kawasan
lahan belum optimal Jawa

Peningkatan Tidak ada


kesadaran Bertambah Masyarakat. Peningkatan Petani tidak Petani pembukaan lahan
mengenai kemauan untuk membicarakan pengetahuan dan memperluas menggarap baru untuk sawah
pentingnya TNUK mengadopsi sistem dan teknik penerapan lahan lahannya
di dalam Habitat
sebagai habitat sistem pertanian pertanian yang teknologi garapan dengan pola
kawasan TNUK Badak
badak dan yang lebih lebih produktif dan intensifikasi dalam intensifikasi
oleh petani yang Jawa
penunjang produktif dan berkelanjutan pertanian dengan kawasan pertanian
memiliki lahan di
kehidupan berkelanjutan hasil yang tinggi TNUK
luar kawasan
penduduk lokal

Mei 2010, Mei 2010, Diakhir keg. Pride (Mei 2010) Pelaku Habitat badak
meningkat 70 % Mei 2010, 40 % 50 % petani penggarap Pembukaan jawa tetap
90 % petani masyarakat yang terjaga
dari tahun diluar kwsn TNUK, telah hutan untuk
sebelumnya 42,7 penggarap menggarap lahan menerapkan pola kelestariannya
dalam kawasan lahan
%, petani lahan diluar intensifikasi pertanian.
garapan
pada tahun
TNUK mulai Diakhir keg. Pride (Mei 2010) 2015
penggarap lahan kwsn TNUK membicarakan
Perambahan menurun
diluar kawasan 30 % petani penggarap Asumsi :
mendukung dengan teman hutan tidak sebanyak 30 Tidak ada lagi
TNUK setuju lahan dalam kwsn. TNUK
bahwa sistem penerapan sistem dan teknik terjadi lagi tidak memperluas lahan % dari tahun ancaman
intensifikasi system pola pertanian yang pada tahun sebelumnya pembukaan
garapannya
lebih produktif pada Mei lahan garapan
pertanian dapat intensifikasi dan
2015
mengurangi 2010, dan baru didalam
pertanian, berkelanjutan kawasan
Perluasan lahan tidak ada
atau perambahan dari 78 % diluar kawasan, TNUK pada
dari tahun lagi pada
hutan didalam pada tahun tahun 2015
sebelumnya 4,9 tahun 2015
kawasan yang akan sebelumnya %
merusak habitat
badak Jawa

Kesadaran dan Pelaksanaan


Kesadaran dan Kesadaran dan Bimbingan teknis,
komunikasi Komunikasi, Penyuluhan, studi bandiing, penyuluhan, kegiatan sensus
komunikasi komunikasi Pesan antar penyuluhan, praktek atau implementasi lahan garapan
Penegakan
Pesan kreatif, Pesan kreatif, individu, focus pendampingan kegiatan pola intensifikasi hukum , didalam kwsn
Khutbah jumat, Khutbah jumat, group discusion dan praktek pertanian. dan rekapitulasi
pemberdayaan
Radio dan Radio dan laporan bulanan
dan pertemuan intensifikasi masyarakat dan
penyuluhan penyuluhan terbatas pertanian. komunikasi antar
kelompok

Percakapan Percakapan Percakapan Observasi lapangan Observasi dan hasil survey pra Jumlah pelaku Luas lahan
terfokus dan terfokus dan terfokus dan dan tidak ada lagi dan pasca kegiatan pride pembukaan garapan
survey KAP survey KAP survey KAP laporan petugas campaign kwsn hutan u/ didalam kwsn
TNUK ttg
sebelum dan sebelum dan sebelum dan lahan garapan dan jumlah
perambahan hutan
sesudah kegiatan sesudah kegiatan sesudah kegiatan pelanggaran
I. ANGGARAN & JADWAL
Anggaran dan jadwal merupakan prakiraan awal pada tahap perencanaan proyek ini karena kita belum memutuskan kegiatan
kampanye yang spesifik yang akan dilakukan tetapi ini memberikan gambaran umum tentang bagaimana uang akan dialokasikan
dan bagaimana urutan kegiatan akan diatur

20.0 ANGGARAN DAN JADWAL PROYEK


20.1 ANGGARAN PROYEK

Departemen Kehutanan
Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Program Pride Campaign 2009

No Jenis Anggaran Jul 09 Agt Sep Okt Nop Des Jan Peb Mar Apr Mei Jun 10
Kegiatan
Perjalanan 6.000.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000
transport
lokal menuju
lokasi,
akomodasi
dan makan
selama
proyek
Biaya 6.000.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000
pertemuan-
pertemuan
dengan
kelompok
masyarakat,
tokoh, dan
stakeholder
lokal
No Jenis Anggaran Jul 09 Agt Sep Okt Nop Des Jan Peb Mar Apr Mei Jun 10
Kegiatan
Gaji tenaga 4.800.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000
lokal
penggerak
program
Biaya 1.200.000 200.000 200.000 200.000 200.000 200.000 200.000 200.000 200.000 200.000 200.000 200.000 200.000
Fotcopy
Biaya 6.000.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000
internet dan
telepon
Biaya jasa 7.000.000 7.000.000
desain
gambar
poster
Biaya cetak 15.000.000 15.000.000
poster (5000
eks)
Biaya 3.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000
distribusi
poster ke
lapangan
Jasa tokoh 4.800.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000
agama
penulis
lembar
dakwah (2
kali 1 bulan
x 12 bulan)
Biaya cetak 6.000.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000
dan
distribusi ke
lapangan (@
1000 eks x
12 bulan)
No Jenis Anggaran Jul 09 Agt Sep Okt Nop Des Jan Peb Mar Apr Mei Jun 10
Kegiatan
Biaya 40.000.000 20.000.000 20.000.000
Lomba-
lomba
konservasi
yang
dikaitkan
dengan
aktifitas
bhakti sosial
(2 kali)
Biaya 20.000.000 20.000.000
pembuatan
video
inspiratif (1
paket)
Biaya 6.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000
pemutaran
video
inspiratif ( 6
kali)
Materi dan 12.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000
perjalanan
kunjungan
ke sekolah-
sekolah (6
bulan x 2
kali)
Kunjungan 12.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000
ke kelompok
pengajian 6
bulan 2 kali
Survey 20.000.000 20.000.000
Pasca
program
No Jenis Anggaran Jul 09 Agt Sep Okt Nop Des Jan Peb Mar Apr Mei Jun 10
Kegiatan
Sensus 30.000.000 30.000.000
Penelusuran
Lahan
garapan
didalam
kawasan
199.800.000

Catatan: anggaran ini sebagian termasuk bagian dari MoU antara Rare dan BTNUK dan tidak termasuk biaya implementasi dari
barrier removal dalam BROP.

20.2 JADWAL KEGIATAN PROYEK (GANTT)


Proyek/ Kegiatan Juli 09 Aug Sep Okt Nov Des 09 Jan 10 Peb Mar Apr Mei Jun 10
Persiapan proyek:
Mengkaji dan
mendiskusikan lagi
Sasaran SMART &
rencana kerja
Pengkajian
rencana kerja dan
persetujuan
Melanjutkan upaya
penandatanganan
MoU dengan
Distanak
Membuat
kesepakatan dan
membentuk
kelompok untuk
implementasi BR
Diskusi dengan
manajemen stasiun
radio
Pelaksanaan
proyek:
Pertemuan-
Proyek/ Kegiatan Juli 09 Aug Sep Okt Nov Des 09 Jan 10 Peb Mar Apr Mei Jun 10
pertemuan dengan
kelompok
masyarakat, tokoh,
dan stakeholder
lokal
Pelatihan teknik
intensifikasi
pertanian melalui
sekolah lapang
Implementasi
Program
peningkatan
pengetahuan dan
penerapan teknlogi
intensifikasi
pertanian
Penyiapan lembar
informasi
Merancang poster,
memproduksi, dan
menyebarkan
Kunjungan ke
sekolah
Kunjungan
masyarakat
termasuk
pemutaran video
inspiratif dan
diskusi
perkembangan
luasan lahan
garapan didalam
kawasan
Lembar khotbah
jumat dan
pengajian desa
Media
Pengumpulan dana
Survei kuesioner
pasca proyek
Proyek/ Kegiatan Juli 09 Aug Sep Okt Nov Des 09 Jan 10 Peb Mar Apr Mei Jun 10
Sensus
Penelusuran lahan
garapan didalam
kawasan
Laporan akhir dan
rencana
tindaklanjut
Perawatan situs My
Pride

Catatan : Rekapitulasi laporan bulanan untuk memantau perkembangan luasan lahan garapan didalam kawasan dilakukan diakhir
bulan jadwal ini bersifat fleksibel

DUKUNGAN BAGI RENCANA INI


Salinan draft rencana ini telah disirkulasikan ke Hari Kushardanto dan NP Sarilani (Manager Program) melalui portal RarePlanet,
www.rareplanet.org/serena, melalui proses pemeriksaan ulang. Draft ini juga dibagikan pada para pemangku kepentingan yang
menghadiri pertemuan pemodelan partisipatif, begitu pula pada mereka yang diwawancarai selama percakapan langsung. Melalui
proses perencanaan ini, ide-ide baru dan rekomendasi telah diakui dan juga telah direvisi, dan selanjutnya rencana ini telah disetujui
oleh mitra utama termasuk Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten, serta RARE.

Rencana ini akan dikirim melalui RarePlanet, yang kemudian dapat digunakan sebagai sarana berbagi informasi dan
pembaharuan secara berkala.
21.0 REFERENSI DAN PERNYATAAN TERIMA KASIH
 Buku Revisi Rencana Pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon; TNUK. 2006
 Review Zonasi Partisipatif Taman Nasional Ujung Kulon; TNUK. 2008
 Satistik Taman Nasional Ujung Kulon tahun 2008; TNUK. 2008
 Nota Kesepahaman dan Kesepakatan Pengelolaan Hutan Partisipati; TNUK. 2009
 Survey Pro 7.0
 Miradi Software: Courtesy of Conservation Measures Partnership

Penulis Rencana Proyek ini ingin mengucapkan terima kasih untuk bimbingan yang diberikan oleh Ir. Agus Priambudi, M.Sc
(Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon), dan Pairah, S.Si, MP (Supervisi) atas kerjasamanya dan supportnya untuk selalu
bertahan dan berjuang dalam mencapai tujuan, Mumu Muawalah dan Monica Dyah, S.Hut terima kasih atas masukan dan
kritiknya, begitu pula berbagai pihak yang ikut serta dalam menyusun draft dokumen ini. Balai Taman Nasional Ujung Kulon juga
mengucapkan terima kasih kepada Rare (Hari Kushardanto dan NP Sarilani) yang telah menjadi sponsor utama proyek ini, begitu
pula Kepala Bidang Tanaman Pangan Distanak Propinsi Banten (Ir. Dedi Ruswansyah) yang memberikan bantuan teknis dalam
membuat BRAVO, BROP dan komitmennya yang tinggi untuk memberikan bantuan teknis atas program peningkatan pengetahuan
dan penerapan teknologi intensifikasi pertanian di TNUK, Prof. DR. E.K.S. Harini Muntasib serta Drs. Widodo S. Ramono atas
waktu yang diberikan untuk mendiskusikan beberapa topik dan isu ancaman konservasi di TNUK. Tidak lupa para Kepala Desa
dan LATIN yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang berharga saat melakukan komunikasi verbal dilapangan. Penulis
berharap bahwa rincian kampanye tidak hanya untuk memperoleh persetujuan dari kementerian untuk pelaksanaan program
pembasmian tetapi juga untuk mencegah kembalinya binatang pengerat tersebut sesaat setelah pembasmian dilakukan.

Rencana ini telah dibaca dan disetujui oleh Ir. Agus Priambudi, M.Sc, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon ,
Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan

Juli 2009
Lampiran

A. Matriks Keseluruhan pemangku kepentingan (Stakeholder), dari bagian 2.3


# Peserta/ Pemangku Nama, posisi, dan Isu-isu Kunci Sumbangan Potensial Motivasi untuk Konsekuensi Tidak
kepentingan rincian kontak peserta Hadir Mengundang
1 10 Kepala Desa Kamirudin, Adsa, Nadi, Darsa, Karakter dan budaya masyarakat Pemahaman terhadap karakter dan Minat Pribadi Kehilangan data dan informasi
setempat serta ancamannya budaya masyarakat penting
2 Camat Cimanggu dan Sumur Didit Supriyanto, Suaedi K. Jejaring kerja dan koordinasi Dukungan terhadap kegiatan Profesi dan minat Kehilangan data dan informasi
081316617558 terpadu kampanye penting
3 Kepala Dinas Pertanian dan Absjah Pengetahuan pola pertanian Pemahaman terhadap sistem Profesi Kehilangan data dan informasi
Peternakan Kab. Pandeglang intensif pertanian penting
Dan penyuluhan pertanian Terpadu dan pola tanam yang baik
4 Kepala Dinas Kehutanan dan Aswing Asnawi Pengetahuan kawasan hutan Pemahaman konsep hutan rakyat dan Profesi Kehilangan data dan informasi
Perkebunan Kab. Pandeglang 081384451600 rakyat dan Alternatif usaha ekonomi penting
ancaman kawasan
5 Kepala Dinas Sosial dan Ismunandar Usaha pemberdayaan perempuan Pemahaman akan usaha Profesi Kehilangan data dan informasi
Pemberdayaan Masyarakat 081385777790 dan masyarakat pemberdayaan penting
masyarakat
6 Primer Koperasi Pegawai RI H. Utang Usaha ekonomi alternatif Pemahaman tentang kelembagaan Profesi Kehilangan data dan informasi
Kab. Pandeglang penting
7 KSM Sahabat Ujung Kulon Yaya Kelompok usaha ekonomi Kinerja dan semangat untuk dapat Minat dan profesi Kehilangan data dan informasi
085921873124 masyarakat melakukan perubahan penting
8 Fakultas Pertanian UNTIRTA DR. Kartina A.M. Pengolahan lahan garapan intensif Pemahaman akan ilmu pertanian Profesi Kehilangan data dan informasi
dan UNMA 081310069747 dan pertanian partisipatif alternatif Penting dan kerjasama
9 WWF Ujung Kulon Adi Rahmat H Pengelolaan hidupan satwa liar Pemahaman pengelolaan satwa Profesi dsn minat pribadi Kehilangan data dan informasi
0818134178 liar dan pemberdayaan masyarakat Penting dan kerjasama
10 Koperasi KAGUM Warca Dinata Pemberdayaan Masyarakat dan Keterampilan dalam pengemasan Profesi Kehilangan data dan informasi
ekowisata paket penting
wisata
11 BAPPEDA Kab. Pandeglang Parjiyo Koordinator dan sinkronisasi Memahami isu yang diperlukan Mengerti rencana yang Kehilangan data dan informasi
0811123688 perencanaan lintas sektoral strategis penting
12 Rare Hari Kushardanto TOC dan pemasaran sosial Pemahaman TOC dan pemasaran Profesi Konsultasi dan arahan tidak ada
08122013806 sosial
13 PT. Cibaliung Sumber Daya Hidayat Hibani Pengembangan usaha ekonomi sumber dana yang tersedia Profesi dan minat Sumberdana tambahan
08111202458 pemberdayaan masyarakat berkurang
14 YABI Marcellus Adi Pengelolaan hidupan liar dan Pemahaman pengelolaan kawasan Profesi Kehilangan data dan informasi
rhinomar22@gmail.com1 habitat konservasi penting
badak jawa
15 POLSEK SUMUR AKP. M Yusuf Pengamanan kawasan hutan Pengawas dan penegak hokum Profesi Kehilangan data dan informasi
terhadap penting
Kejahatan kehutanan
# Peserta/ Pemangku Nama, posisi, dan Isu-isu Kunci Sumbangan Potensial Motivasi untuk Konsekuensi Tidak
kepentingan rincian kontak peserta Hadir Mengundang
16 Seni dan Budaya Banten Mad Suki Pemahaman budaya lokal Keterampilan di bidanhg seni dan Profesi Kehilangan data dan informasi
087871196689 pemaha penting
man budaya lokal
17 TN. Ujung Kulon Agus Priambudi Pengelola kawasan TN. Ujung Pemahaman terhadap kawasan dan Profesi Kehilangan data dan informasi
081341301701 Kulon, ancaman penting
Pengetahuan ancaman dalam
kawasan
18 Ketua Tokoh Banten / Haelani Pengetahuan karakter masyarakat Pemahaman terhadap budaya dan adat Kehilangan data dan informasi
Jawara Banten masyarakat banten penting
19 HIMAPALA UNTIRTA dan Wito (UNTIRTA) Pengetahuan survey kualitatif dan Pemahaman survey kualitatif dan Minat, Kesadaran Kehilangan pengalaman dan
UNMA 085780840443 Sebagai voluenter pengalaman sebagai enumerator input
Dari mereka tentang
enumerator
20. Kelompok ibu-ibu Masih diidentifikasi Memegang peranan penting Memberi kontribusi dalam Ikut mengambil Kehilangan data dan informasi
dalam pengambilan keputusan penting
Mengambil keputusan keluarga keputusan di keluarga
21. Kelompok Masyarakat / Masih diidentifikasi Pengguna Sumberdaya Alam Memahami permasalahan di lapangan Profesi dan Kehilangan data dan informasi
petani hutan pengalaman penting
B. Survei Kuantitatif Penuh dari Bagian 7.0

Kampanye Pride di Taman Nasional Ujung Kulon– Pra-Kampanye (Survei Data Dasar) 8
Bagian 7.1 adalah alat survei yang digunakan untuk analisis kuantitatif. Silahkan mengacu pada catatan kaki untuk pemahaman yang lebih baik mengenai
bagaimana setiap pertanyaan ditanyakan kepada responden.
No. Kuisioner
________________

Kuisioner untuk Mengetahui Persepsi dan Karakteristik Masyarakat sekitar Hutan Ujung Kulon

Selamat Pagi/ Siang/ Malam, nama saya.....................................................saat ini saya sedang membantu kegiatan TNUK untuk mengoleksi pendapat
masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar Hutan Ujung Kulon, sebagai bahan kajian yang akan digunakan dalam mengembangkan kegiatan kampanye
mengelola hutan Ujung Kulon dengan bangga bagi masyarakat di sekitar ini.
Segala informasi dan jawaban yang Bapak/ Ibu berikan akan bersifat rahasia dan tidak akan disalahgunakan untuk kepentingan lain selain untuk kegiatan ini.
Kami tidak akan mencantumkan nama dan alamat Bapak / Ibu,
Tidak ada jawaban yang salah. Jawaban dan pendapat Bapak/Ibu akan sangat penting dan berharga untuk mengembangkan program yang dapat
bermanfaat bagi semua. Untuk itu kami sangat menghargai kejujuran dalam menjawab pertanyaan dalam kuesioner ini.
Bersediakah Bapak/ Ibu membagi pendapatnya dengan kami selama beberapa menit? (Jika Ya, lanjutkan wawancara, jika 'tidak', hentikan wawancara dan
ucapkan terima kasih)

Bagian 1:
Diisi langsung oleh Pewawancara - tidak ditanyakan kepada responden

(1) Kode Pewawancara ?


________________

(2) Periode Survei:


[ ] Pra Kampanye - Kawasan Kerja [ ] Pasca Kampanye - Kawasan Kerja [ ] Pra Kampanye - Kawasan Perbandingan [ ] Pasca Kampanye -
Kawasan Perbandingan

(3) Nama lokasi wawancara:


8
Kuesioner ini adalah contoh survei pra-kampanye untuk kampanye Pride. Manajer kampanye telah dilatih merancang dan menulis survei ini selama masa pendidikannya di universitas. Survei
sebenarnya akan berisi lebih banyak pertanyaan
[ ] Ujungjaya [ ] Tamanjaya [ ] Cigorondong [ ] Tunggal Jaya [ ] Kertamukti [ ] Kertajaya [ ] Sumberjaya [ ] Rancapinang [ ] Cibadak [ ] Tugu [ ]
Kramatjaya [ ] Mangkualam [ ] Padasuka [ ] Cimanggu [ ] Tangkilsari

(4) Jenis Kelamin Responden (TIDAK PERLU DITANYAKAN, LANGSUNG PILIH SALAH SATU)
[ ] Laki - Laki [ ] Perempuan

Bagian 2:
Pertanyaan Sosial Ekonomi & Demografis

Berikut ini saya akan menanyakan mengenai data diri Bapak/Ibu.

(5) Berapa usia Anda ? (hanya 1 jawaban)


[ ] di bawah 15 tahun [ ] 15 - 19 tahun [ ] 20 - 24 tahun [ ] 25 - 29 tahun [ ] 30 - 34 tahun [ ] 35 - 39 tahun [ ] 40 - 44 tahun [ ] 45 - 49 tahun [ ] 50 - 54 tahun [ ]
55 tahun atau lebih

(6) Di desa manakah Anda tinggal? (hanya 1 jawaban)


[ ] Ujung Jaya [ ] Kerta Mukti [ ] Tamanjaya [ ] Cigorondong [ ] Tunggal Jaya [ ] Kerta Jaya [ ] Tangkil Sari [ ] Tugu [ ] Sumberjaya [ ] Cimanggu []
Padasuka [ ] Mangkualam [ ] Kramatjaya [ ] Cibadak [ ] Rancapinang

(7) Apakah Anda sudah menikah?


[ ] Ya (Lanjut ke nomer A-B) [ ] Tidak (Langsung lanjut ke nomer berikutnya)

(A) Berapa jumlah anak kandung yang Anda miliki?


[ ] 1 anak [ ] 2 anak [ ] 3-4 anak [ ] lebih dari 4 [ ] Belum Punya anak

(B) Apakah Anda mengikuti program Keluarga Berencana (KB) ?


[ ] Ya [ ] Tidak

(8) Apa pendidikan formal yang telah Anda selesaikan ? (hanya 1 jawaban)
[ ] SD [ ] SMP/ MTS [ ] SMU/ MAN [ ] PERGURUAN TINGGI [ ] TIDAK SEKOLAH [ ] Lain-lain ________________

(9) Manakah pernyataan di bawah ini yang paling tepat mengenai diri Anda (HANYA 1 JAWABAN & BERI TANDA PADA BAGIAN JAWABAN): (1) Anda
adalah petani yang memiliki lahan sendiri ; (2) Anda adalah petani yang menggarap lahan milik orang lain; (3) Anda tidak memiliki lahan sendiri dan tidak
bekerja sebagai petani (sebutkan pekerjaan utama Anda)
[ ] (1) Petani dengan lahan pribadi [ ] (2) Petani yang menggarap lahan milik orang lain [ ] (3) Tidak memiliki lahan sendiri dan tidak bekerja sebagai
petani [ ] Lain-lain ________________
(10) Berapakah luas lahan pertanian yang Anda garap? (hanya 1 jawaban)
[ ] Kurang dari 0.25 ha [ ] 0,26 - 0,50 ha [ ] 0,51 - 1 ha [ ] 1 - 2 ha [ ] 2 - 5 ha [ ] Lebih dari 5 ha [ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain
________________

(11) Jika Anda seorang pelajar, sebutkan tingkat pendidikan Anda saat ini. (Jika bukan pelajar, beri tanda pada "bukan pelajar")
[ ] Sekolah Dasar [ ] Sekolah Menengah Pertama [ ] Sekolah Menengah Atas [ ] Perguruan Tinggi [ ] Bukan pelajar

(12) Untuk memenuhi kebutuhan Anda, berapakah rata-rata pengeluaran Anda dalam 1 bulan?
[ ] di bawah 250 ribu rupiah [ ] 250 ribu - 500 ribu rupiah [ ] 501 ribu - 1 juta rupiah [ ] 1.000.001 - 2 juta rupiah [ ] di atas 2 juta rupiah

(13) Apakah Anda memiliki simpanan untuk anak-cucu Anda?


[ ] Ya (lanjut ke no. A) [ ] Tidak (lanjut ke nomer berikutnya)

(A) Apakah bentuk simpanan yang Anda miliki? (Paling banyak 3 jawaban)
[ ] tabungan di bank [ ] tanah/sawah [ ] emas[ ] tabungan di koperasi [ ] lumbung padi[ ] Lain-lain ________________

Bagian 3:
Sumber Informasi Terpercaya dan Akses kepada Media

(14) Berilah peringkat 1-3 untuk sumber INFORMASI yang PALING SERING Anda manfaatkan dalam 3 bulan terakhir ini. 1= paling sering; 2= sering; 3=
kadang-kadang.

(A) Radio
[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(B) Koran/Surat Kabar


[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(C) Majalah
[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(D) Tabloid
[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(E) Papan pengumuman desa


[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(F) Pemutar VCD/DVD


[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(G) HP
[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(15) Berilah peringkat 1-3 untuk sumber HIBURAN yang PALING SERING Anda manfaatkan dalam 3 bulan terakhir ini. 1= paling sering; 2= sering; 3=
kadang-kadang. (Paling banyak hanya 3 jawaban)

(A) Radio
[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(B) Koran/Surat Kabar


[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(C) Wayang golek


[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(D) Jaipongan
[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(E) Papan pengumuman desa


[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(F) Pemutar VCD/DVD


[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(G) HP
[ ] Paling sering [ ] Sering [ ] Kadang-kadang

(16) Jika Anda mendengarkan Radio, stasiun radio apa yang PALING SERING Anda dengarkan? Harap sebutkan paling banyak 2 jawaban (PILIH PALING
BANYAK 2 JAWABAN)
[ ] Krakatau [ ] RRI [ ] GBS Malingping [ ] Agnesta Cikotok [ ] Bahana FM [ ] Tidak pernah mendengarkan radio (lanjutkan ke nomer 16) []
Lain-lain ________________
(A) Seberapa seringkah anda mendengar radio ? (PILIH SALAH SATU)
[ ] sehari sekali, kurang dari 2 jam [ ] sehari sekali, lebih dari 2 jam [ ] seminggu beberapa kali, kurang dari 4 jam [ ] seminggu beberapa kali, lebih
dari 4 jam [ ] Tidak menentu [ ] Lain-lain ________________

(B) Pada jam berapa saja Anda PALING SERING mendengarkan Radio? (JAWABAN BOLEH LEBIH DARI SATU)
[ ] 06-09 pagi [ ] 09-12 siang [ ] 12-03 sore [ ] 03-06 petang [ ] 06-09 malam [ ] 09malam-06 pagi

(C) Jenis acara radio apa yang PALING anda gemari ? (PILIH SALAH SATU)
[ ] Drama Radio [ ] Musik [ ] Berita Nasional [ ] Diskusi [ ] Wayang Golek [ ] Ceramah agama [ ] Berita lokal [ ] Siaran
Pedesaan [ ] Acara gosip [ ] Lain-lain ________________

(17) Jika Anda membaca koran, koran apa saja yang PALING SERING anda baca ? (PALING BANYAK 2 JAWABAN
[ ] Fajar Banten [ ] Radar Banten [ ] Kompas [ ] Republika [ ] Media Indonesia [ ] Tidak pernah membaca koran (lanjutkan ke no. 17) []
Lain-lain ________________

(A) Seberapa SERING anda membaca koran? (PILIH SALAH SATU)


[ ] Sehari sekali [ ] Seminggu sekali [ ] Seminggu beberapa kali [ ] Sebulan sekali [ ] Sebulan beberapa kali [ ] Lain-lain
________________

(18) Jenis musik apa yang PALING Anda sukai ? (hanya 1 jawaban)
[ ] Jaipongan [ ] Dangdut [ ] Pop [ ] Rock [ ] Lagu Sunda [ ] Qasidah [ ] Lain-lain ________________

(19) Kegiatan apa yang Anda senangi di waktu luang? (PALING BANYAK 3 JAWABAN)
[ ] Olahraga [ ] Pengajian [ ] Mengobrol [ ] Nongkrong [ ] Menyanyi [ ] Lain-lain ________________

(20) Saya akan membacakan daftar berbagai kegiatan yang berbeda. Mohon tentukan apakah Anda paling suka, suka, tidak suka, paling tidak suka,
terhadap setiap kegiatan berikut?

(A) Pertemuan Desa


[ ] Paling suka [ ] Suka [ ] Tidak suka [ ] Paling tidak suka [ ] Tidak tahu/tidak yakin

(B) Panggung hiburan musik


[ ] Paling suka [ ] Suka [ ] Tidak suka [ ] Paling tidak suka [ ] Tidak tahu/tidak yakin

(C) Pertunjukan wayang golek


[ ] Paling suka [ ] Suka [ ] Tidak suka [ ] Paling tidak suka [ ] Tidak tahu/tidak yakin

(D) Membaca
[ ] Paling suka [ ] Suka [ ] Tidak suka [ ] Paling tidak suka [ ] Tidak tahu/tidak yakin

(E) Pertunjukan jaipong


[ ] Paling suka [ ] Suka [ ] Tidak suka [ ] Paling tidak suka [ ] Tidak tahu/tidak yakin

(F) Acara Keagamaan


[ ] Paling suka [ ] Suka [ ] Tidak suka [ ] Paling tidak suka [ ] Tidak tahu/tidak yakin

(G) Berkumpul bersama keluarga & saudara lainnya


[ ] Paling suka [ ] Suka [ ] Tidak suka [ ] Paling tidak suka [ ] Tidak tahu/tidak yakin

(H) Pelatihan Ketrampilan


[ ] Paling suka [ ] Suka [ ] Tidak suka [ ] Paling tidak suka [ ] Tidak tahu/tidak yakin

(I) Membangun dan mengelola koperasi


[ ] Paling suka [ ] Suka [ ] Tidak suka [ ] Paling tidak suka [ ] Tidak tahu/tidak yakin

(21) Orang mendapatkan informasi mengenai lingkungan dari berbagai macam sumber. Saya akan membacakan daftar darimana Bapak/ Ibu/ Saudara
biasanya mendapatkan informasi mengenai pertanian. Tolong tentukan tingkat kepercayaan Anda terhadap sumber informasi tersebut mulai dari "Paling
Dipercaya" sampai "Paling tidak dipercaya"

(A) Kepala Desa


[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(B) Ketua BPD


[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(C) Informasi dari koran


[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(D) Ustadz
[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin
(E) Guru
[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(F) Teman
[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(G) Keluarga
[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(H) Pemerintah Daerah


[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(I) Kelompok Tani


[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(J) Informasi dari radio


[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(K) Informasi dari buku


[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(L) Petugas Penyuluh Pertanian


[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(M) Petugas Ujung Kulon


[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(N) Informasi dari brosur


[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(O) Calon legislatif (caleg)


[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(P) Informasi dari pentas hiburan


[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin
(Q) Informasi dari poster
[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(R) Jawara
[ ] Paling Dipercaya [ ] Dipercaya [ ] Agak Dipercaya [ ] Tidak Dipercaya [ ] Paling tidak dipercaya [ ] Tidak Tahu/ Tidak Yakin

(22) Siapa orang yang PALING Anda percaya sebagai sumber informasi mengenai pelestarian alam di Ujung Kulon? (hanya 1 jawaban)
[ ] Kepala Desa [ ] Ustadz [ ] Jawara [ ] Guru [ ] Staf Taman Nasional [ ] Camat [ ] Tokoh Pemuda [ ] Ketua BPD [ ] Tidak ada yang
dipercaya [ ] Lain-lain ________________

Bagian 4 :
Menempatkan Responden pada Tahapan Perubahan Perilaku

(23) Saya akan membacakan 6 pernyataan mengenai usaha peningkatan hasil pertanian dalam luas lahan yang tetap. Pilihlah pernyataan mana yang paling
sesuai dengan Anda dalam 6 bulan terakhir ini. Mohon dengarkan semua pernyataan tersebut, kemudian beritahukan pernyataan mana yang paling tepat
mewakili diri Anda
[ ] Selama 6 bulan terakhir, saya sama sekali belum pernah mempertimbangkan untuk meningkatkan hasil usaha tani dari luas tanah yang tetap
[ ] Selama 6 bulan terakhir, saya pernah mempertimbangkan untuk meningkatkan hasil tani dari luas lahan yang menetap, tetapi saya belum melakukannya
[ ] Selama 6 bulan terakhir, saya pernah mempertimbangkan untuk meningkatkan hasil usaha tani dari luas lahan yang tetap dan bermaksud menerapkannya
dalam waktu tertentu di masa datang
[ ] Selama 6 bulan terakhir, saya pernah mempertimbangkan untuk meningkatkan hasil usaha tani dalam luas lahan yang menetap dan bermaksud
menerapkannya di masa mendatang. Saya sudah berbicara dengan orang
[ ] Selama 6 bulan terakhir, saya sudah pernah mencoba meningkatkan hasil usaha tani dalam luas lahan yang menetap, tetapi tidak setiap musim tanam
saya lakukan
[ ] Selama 6 bulan terakhir, saya selalu meningkatkan hasil usaha tani dalam luas lahan yang menetap
[ ] Perilaku tidak relevan dengan responden

(24) Saya akan membacakan 6 pernyataan mengenai cara memperoleh air untuk kebutuhan pertanian di musim kemarau. Pilihlah pernyataan mana yang
paling sesuai dengan Anda dalam 6 bulan terakhir ini. Mohon dengarkan semua pernyataan tersebut, kemudian beritahukan pernyataan mana yang paling
tepat mewakili diri Anda
[ ] Selama 6 bulan terakhir, saya sama sekali belum pernah mempertimbangkan cara mendapatkan air di musim kemarau untuk kebutuhan pertanian saya
[ ] Selama 6 bulan terakhir, saya mempertimbangkan cara mendapatkan air di musim kemarau untuk kebutuhan pertanian, tetapi belum melakukannya
[ ] Selama 6 bulan terakhir, saya mempertimbangkan cara mendapatkan air di musim kemarau untuk kebutuhan pertanian, dan bermaksud melakukannya di
masa mendatang
[ ] Selama 6 bulan terakhir, saya mempertimbangkan cara memperoleh air di musim kemarau untuk kebutuhan pertanian dan bermaksud menerapkannya di
masa mendatang. Saya telah berbicara dengan orang lain meng
[ ] Selama 6 bulan terakhir, saya mempertimbangkan cara mendapatkan air di musim kemarau untuk pertanian, dan beberapa kali telah menerapkannya
[ ] Selama 6 bulan terakhir, saya selalu menerapkan cara memperoleh air di musim kemarau untuk kebutuhan pertanian
[ ] Perilaku tidak relevan dengan responden

(25) Saya akan membacakan 6 pernyataan mengenai teknik usaha ekonomi alternatif, pilihlah pernyataan mana yang paling sesuai dengan anda dalam 3
bulan terakhir ini. Mohon dengarkan semua pernyataan tersebut, kemudian beritahukan pernyataan mana yang paling mewakili Anda
[ ] Selama 3 bulan terakhir, saya belum pernah mempertimbangkan untuk mencari alternatif usaha ekonomi sebagai tambahan pendapatan.
[ ] Selama 3 bulan terakhir, saya pernah mempertimbangkan untuk mencari alternatif usaha ekonomi sebagai tambahan pendapatan, tetapi belum
melakukannya.
[ ] Selama 3 bulan terakhir, saya telah mempertimbangkan untuk mencari alternatif usaha ekonomi sebagai tambahan pendapatan, serta bermaksud
melakukannya dimasa mendatang.
[ ] Selama 3 bulan terakhir, saya telah mempertimbangkan untuk mencari alternatif usaha ekonomi sebagai tambahan pendapatan dan bermaksud untuk
melakukannya. Saya juga telah berbicara kepada seseorang.
[ ] Selama 3 bulan terakhir, saya telah beberapa kali ingin mencari alternatif usaha ekonomi tetapi tidak setiap kali saya mengandalkan usaha tersebut
sebagai tambahan pendapatan
[ ] Selama 3 bulan terakhir, saya telah mencari alternatif usaha ekonomi sebagai tambahan pendapatan, setiap kali saya ingin memenuhi kebutuhan hidup.

Bagian 5 :
Menetapkan dasar bagi perubahan pada sasaran pengetahuan SMART dan mengukurnya.

(26) Menurut Anda, apakah status perlindungan yang dimiliki oleh kawasan Ujung Kulon? (HANYA 1 JAWABAN)
[ ] Tidak memiliki status perlindungan apa pun (lanjut ke nomer berikutnya)
[ ] Tidak Tahu (lanjut ke nomer berikutnya)
[ ] Hutan Perlindungan Alam (lanjut ke nomer berikutnya)
[ ] Taman Nasional (lanjut ke pertanyaan A-F)
[ ] Cagar Alam (lanjut ke nomer berikutnya)
[ ] Suaka Margasatwa (lanjut ke nomer berikutnya)
[ ] Tidak peduli (lanjut ke nomer berikutnya)
[ ] Lain-lain ________________

(A) Jika Anda menjawab "Taman Nasional", menurut Anda, apakah fungsi penting dari kawasan ini? (boleh sampai 3 jawaban)
[ ] Fungsi daerah penyangga
[ ] Fungsi perlindungan hutan
[ ] Fungsi pengawetan keanekaragaman hayati
[ ] Fungsi pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari
[ ] Daerah tangkapan air[ ] Tempat bertani
[ ] Tempat hidup satwa liar
[ ] Lain-lain ________________

(B) Jika Anda menjawab "Taman Nasional", kegiatan apa sajakah yang masih berlangsung di dalam kawasan Taman Nasional ? (Jawaban Bisa lebih dari
satu)

[ ] Perluasan lahan pertanian


[ ] Pembukaan hutan untuk diambil kayunya
[ ] Penebangan hutan
[ ] Perburuan babi
[ ] Tidak tahu
[ ] Lain-lain ________________

(C) Sebutkan paling banyak 3 ancaman utama di kawasan Ujung Kulon (paling banyak 3 jawaban)
[ ] Pembukaan Lahan garapan baru di dalam kawasan untuk sawah
[ ] Penebangan pohon
[ ] Kebakaran hutan
[ ] Perburuan babi
[ ] Tidak ada ancaman yang mengganggu kawasan TNUK
[ ] Tidak peduli
[ ] Tidak Tahu
[ ] Lain-lain ________________

(D) Menurut Anda, jika ada yang membuka perluasan lahan baru di dalam kawasan TNUK, apakah akibat yang mungkin terjadi bagi manusia ? (PILIH
MINIMAL 2 JAWABAN)
[ ] Sumber air menjadi kering
[ ] Kesuburan tanah berkurang
[ ] Tidak akan terjadi akibat apa pun
[ ] Terjadi longsor dan banjir
[ ] Petani punya lahan pertanian untuk diwariskan
[ ] Panas
[ ] Bisa mempunyai lahan untuk berkebun
[ ] Merugikan petani karena air sulit
[ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain ________________

(E) Menurut Anda, apa yang menyebabkan masyarakat membuka lahan garapan baru di dalam kawasan TNUK? (Jawaban lebih dari satu)
[ ] Untuk warisan anak cucu
[ ] Menurut nenek moyang, boleh membuka lahan sampai batas Sungai Cilintang
[ ] Lahan desa terbatas
[ ] Hasil panen kurang mencukupi kebutuhan hidup
[ ] tidak ada sangsi hukuman dari pegawai taman nasional
[ ] untuk menambah luas lahan garapan
[ ] Tidak punya lahan garapan milik sendiri di luar kawasan
[ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain ________________

(F) Dari pernyataan berikut, menurut anda manakah hukuman / sanksi yang diberikan jika membuka lahan di dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon?
(Hanya SATU jawaban)
[ ] Pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak 5 miliyar
[ ] Pidana kurungan 10 hari
[ ] Dihukum adat
[ ] Dihukum untuk menanami kembali
[ ] Tidak Tahu [ ] Lain-lain ________________

(27) Menurut Anda, apakah yang dimaksud dengan Intensifikasi Pertanian (Panca usaha tani) ?
________________

(28) Pernahkah Anda mendengar mitos atau cerita dari nenek moyang, bahwa batas perluasan lahan pertanian baru adalah sampai batas Sungai Cilintang?
(Hanya 1 jawaban)
[ ] Ya, tahu (lanjut ke A) [ ] Tidak tahu [ ] Tidak yakin

(A) Dari siapa Anda pernah mendengar cerita tersebut? (hanya 1 jawaban)
[ ] nenek/kakek
[ ] orangtua
[ ] teman
[ ] tetangga
[ ] pegawai pertanian
[ ] pegawai taman nasional
[ ] lupa [ ] Lain-lain ________________

(29) Menurut Anda, apakah fungsi hutan Gunung Honje? (boleh sampai 3 jawaban)
[ ] Dapat menyediakan air untuk sawah
[ ] Tempat hidup binatang
[ ] Dapat Mencegah longsor
[ ] Mencegah banjir
[ ] Tidak ada fungsinya
[ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain ________________

(30) Siapa yang PALING bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian hutan Gunung Honje sebagai daerah tangkapan air ? (Pilih SATU jawaban)
[ ] Petugas TNUK
[ ] Masyarakat
[ ] Dinas Kehutanan
[ ] Kepala Desa
[ ] Saya sendiri
[ ] Tanggung jawab bersama [ ] Lain-lain ________________

(31) Menurut anda, apakah saat ini usaha ekonomi alternatif diperlukan oleh masyarakat untuk menambah pendapatan ekonomi?
[ ] Diperlukan (Lanjut ke pertanyaan 32) [ ] Tidak diperlukan (Lanjut ke pertanyaan 33) [ ] Tidak Tahu (Lanjut ke pertanyaan 33)

(32) Apa saja usaha ekonomi alternatif yang diperlukan masyarakat, untuk menambah pendapatan ekonomi? (Boleh lebih dari satu)
________________

(33) Menurut Anda, simpanan dalam bentuk apakah yang bisa Anda lakukan untuk dijadikan warisan bagi anak cucu Anda? (HANYA 1 JAWABAN)
[ ] Tabungan uang
[ ] Sawah garapan dalam kawasan
[ ] Lumbung padi
[ ] Koperasi
[ ] Emas
[ ] Kebun dalam kawasan
[ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain ________________

(34) Menurut Anda, apa solusi yang tepat untuk mengatasi masalah kekurangan air untuk penggarapan lahan pada waktu musim kemarau? (HANYA 1
JAWABAN)
[ ] Membuat Sumur artesis di sawah
[ ] Membuat saluran irigasi
[ ] Membuat sumur galian
[ ] Menyedot air dengan pompa pada sumber air
[ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain ________________
Bagian 6 :
Pertanyaan Sikap untuk Mengukur Obyektif Sikap

(35) Saya akan membacakan sejumlah pernyataan kepada Anda, dan saya harap Anda memberi tahu saya apakah Anda " Sangat setuju, setuju, tidak
setuju, atau tidak tahu " terhadap pernyataan berikut ini :

(A) Pembukaan lahan garapan baru yang tidak terkendali di dalam kawasan TNUK, akan menyebabkan hilangnya fungsi ekologi dan sumber air?
[ ] Sangat setuju [ ] Setuju [ ] Tidak Setuju [ ] Tidak Tahu

(B) Masyarakat diberi ijin membuka lahan baru untuk sawah di dalam kawasan TNUK
[ ] Sangat setuju [ ] Setuju [ ] Tidak Setuju [ ] Tidak Tahu

(C) Mewariskan lahan pertanian yang luas kepada anak-cucu lebih bernilai tinggi daripada simpanan dalam bentuk lain
[ ] Sangat setuju [ ] Setuju [ ] Tidak Setuju [ ] Tidak Tahu

(D) Warisan lahan pertanian lebih sulit diberikan daripada warisan dalam bentuk lain
[ ] Sangat setuju [ ] Setuju [ ] Tidak Setuju [ ] Tidak Tahu

(E) Hutan Gunung Honje sebagai daerah tangkapan air harus dilindungi kelestariannya
[ ] Sangat setuju [ ] Setuju [ ] Tidak Setuju [ ] Tidak Tahu

(F) Sistem intensifikasi lahan pertanian perlu diterapkan untuk meningkatkan hasil panen masyarakat
[ ] Sangat setuju [ ] Setuju [ ] Tidak Setuju [ ] Tidak Tahu

(G) Peningkatan keterampilan usaha ekonomi alternatif dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat
[ ] Sangat setuju [ ] Setuju [ ] Tidak Setuju [ ] Tidak Tahu

(H) Penerapan sistem intensifikasi lahan pertanian di luar kawasan dapat mengurangi ancaman pembukaan lahan garapan baru di dalam kawasan TNUK
[ ] Sangat setuju [ ] Setuju [ ] Tidak Setuju [ ] Tidak Tahu

(I) Saya yakin bahwa batas untuk membuka perluasan lahan baru adalah sampai tidak melewati Sungai Cilintang
[ ] Sangat setuju [ ] Setuju [ ] Tidak Setuju [ ] Tidak Tahu

(36) Saya akan membacakan sejumlah kegiatan, saya harap Anda memberitahu saya apakah Anda akan merasa mudah atau sulit melakukan kegiatan
tersebut.
(A) Menerapkan teknik intensifikasi lahan pertanian pada saat menggarap lahan
[ ] Mudah [ ] Sulit [ ] Tidak yakin [ ] Tidak mau menerapkan

(B) Berdiskusi dengan sesama petani untuk mencari jalan keluar dari masalah sulitnya air di musim kemarau
[ ] Mudah [ ] Sulit [ ] Tidak yakin [ ] Tidak mau menerapkan

(C) Memiliki harta warisan dalam bentuk selain lahan pertanian


[ ] Mudah [ ] Sulit [ ] Tidak yakin [ ] Tidak mau menerapkan

(D) Tidak membuka lahan sawah baru di dalam kawasan TNUK


[ ] Mudah [ ] Sulit [ ] Tidak yakin [ ] Tidak mau menerapkan

(E) Meningkatkan keterampilan usaha ekonomi alternatif untuk mendapatkan tambahan penghasilan
[ ] Mudah [ ] Sulit [ ] Tidak yakin [ ] Tidak mau menerapkan

Bagian 7 :
Menetapkan Dasar Pertanyaan Mengenai Komunikasi Interpersonal dan Mengukurnya

(37) Dalam 6 bulan terakhir ini, kepada siapa Anda berbicara mengenai teknik intensifikasi pertanian (Panca usaha tani) ? (Jawaban boleh lebih dari SATU)
[ ] Belum pernah berbicara kepada siapapun (Lanjut ke no. 41)
[ ] Berbicara dengan suami/ istri
[ ] Berbicara dengan mertua/ orang tua
[ ] Berbicara dengan teman
[ ] Berbicara dengan tokoh agama
[ ] Berbicara dengan aparat desa [ ] Lain-lain ________________

(38) Jika Anda membicarakannya, dapatkah Anda memberitahukan hal apa saja yang dibicarakan?
________________

(39) Dalam 6 bulan terakhir, kepada siapa Anda berbicara mengenai pentingnya peningkatan keterampilan usaha ekonomi alternatif ? (Jawaban boleh lebih
dari SATU)
[ ] Belum pernah berbicara kepada siapapun (Lanjut ke no. 41)
[ ] Berbicara dengan suami/ istri
[ ] Berbicara dengan mertua/ orang tua
[ ] Berbicara dengan teman
[ ] Berbicara dengan tokoh agama
[ ] Berbicara dengan aparat desa [ ] Lain-lain ________________

(40) Jika Anda membicarakannya, dapatkah Anda memberitahukan hal apa saja yang dibicarakan?
________________

(41) Dalam 6 bulan terakhir, kepada siapa Anda membicarakan mengenai cara mengatasi sulitnya air di musim kemarau untuk kebutuhan pertanian?
(JAWABAN BOLEH LEBIH DARI 1)

[ ] Belum pernah berbicara kepada siapapun (Lanjut ke no. 41)


[ ] Berbicara dengan suami/ istri
[ ] Berbicara dengan mertua/ orang tua
[ ] Berbicara dengan teman
[ ] Berbicara dengan tokoh agama
[ ] Berbicara dengan aparat desa [ ] Lain-lain ________________

Bagian 8 :
Menetapkan Dasar Untuk Perubahan Pada Sasaran Perilaku dan Mengukurnya

(42) Pernahkah Anda melihat penerapan sistem intensifikasi pertanian (panca usaha tani) ?

[ ] Ya (lanjut ke pertanyaan A) [ ] Tidak (lanjut ke pertanyaan 43)

(A) Dimana anda melihat penerapan sistem intensifikasi pertanian ?


________________

(43) Apakah anda tahu cara menerapkan sistem intensifikasi pertanian?


[ ] Ya [ ] Tidak

(44) Apa yang Anda lakukan untuk meningkatkan hasil panen dari lahan garapan Anda? (PILIH SATU JAWABAN)
[ ] Memperluas lahan
[ ] Menggunakan pupuk dan pestisida pabrikan
[ ] Mengembangkan tanaman jangka pendek di sawah
[ ] Menggunakan pupuk kandang
[ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain ________________
(45) Selama anda bertani, pernahkah ada yang mengajak bertani menggunakan sistem intensifikasi pertanian?
[ ] Pernah (jika pernah lanjut ke no. 46)
[ ] Tidak pernah (Lanjut ke no. 47)
[ ] Ragu-ragu (Lanjut ke no. 47)

(46) Siapakah yang mengajak bertani menggunakan sistem intensifikasi pertanian?


________________

(47) Apa yang Anda lakukan ketika melihat ada orang yang membuka lahan garapan baru di dalam kawasan TNUK? (Pilih SATU jawaban)
[ ] Melapor ke petugas TNUK
[ ] Memberi saran kepada pelaku untuk berhenti membuka lahan
[ ] Diam saja
[ ] Melaporkan ke aparat desa
[ ] Membiarkan saja pelaku membuka lahan garapan di TNUK
[ ] Takut melaporkan ke petugas TNUK
[ ] Melapor ke Polisi
[ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain ________________

(48) Dalam 6 bulan kedepan, jika ada program peningkatan intensifikasi pertanian, bersediakah Anda untuk terlibat ?
[ ] Ya (Lanjut ke No. a) [ ] Tidak Yakin (Lanjut ke no. 49) [ ] Tidak (Lanjut ke no. 49)

(A) Jika ya, Anda akan mengambil peran sebagai apa? (pilih SATU jawaban)
[ ] Penggerak program [ ] Pencetus ide [ ] Peserta [ ] Donatur [ ] Lain-lain ________________

(49) Dalam 6 bulan kedepan, bila ada kegiatan peningkatan keterampilan usaha ekonomi alternatif untuk menambah penghasilan ekonomi alternatif,
Bersediakah Anda terlibat dalam program tersebut ?
[ ] Ya (lanjut ke no. A) [ ] Tidak Yakin (Lanjut ke no. 50) [ ] Tidak (Lanjut ke no. 50)

(A) Jika ya, Anda akan mengambil peran apa? (pilih SATU jawaban)
[ ] Penggerak program [ ] Pencetus ide [ ] Peserta [ ] Donatur [ ] Lain-lain ________________

(50) Dalam 6 bulan kedepan, bila ada kegiatan pengelolaan air untuk mengairi lahan garapan di musim kemarau, bersediakah Anda terlibat dalam program
ini ?
[ ] Ya (lanjut ke no. A)
[ ] Tidak Yakin (lanjut ke no. 51)
[ ] Tidak (lanjut ke no 51)
(A) Jika ya, Anda akan mengambil peran apa? (pilih SATU jawaban)
[ ] Penggerak program [ ] Pencetus ide [ ] Peserta [ ] Donatur [ ] Lain-lain ________________

Bagian 9 :
Memahami Rintangan Perubahan Perilaku dan Manfaatanya

(51) Sebutkan 2 hal yang menurut Anda menjadi kendala untuk mengembangkan program intensifikasi lahan pertanian di lahan garapan Anda? (JAWABAN
BOLEH LEBIH DARI SATU)
[ ] Menambah pekerjaan
[ ] Mengurangi hasil panen
[ ] Sulit dilakukan
[ ] Malas
[ ] Membuang waktu
[ ] Perlu waktu lama
[ ] Ilmu bercocok tanam sangat rendah
[ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain ________________

(52) Sebutkan 2 manfaat dari adanya penerapan program intensifikasi lahan pertanian di lahan garapan Anda? (JAWABAN BOLEH LEBIH DARI SATU)
[ ] Menambah pemasukan ekonomi
[ ] Menjaga kesuburan tanah
[ ] Tabungan masa depan
[ ] Meningkatkan hasil panen
[ ] Musim kemarau lahan garapan tetap dapat ditanami
[ ] Dapat mengurangi perambahan hutan
[ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain ________________

(53) Sebutkan 2 hal yang menurut Anda menjadi kendala untuk meningkatkan keterampilan usaha ekonomi alternatif ? (Jawaban boleh lebih dari 1)
[ ] Menambah pekerjaan
[ ] Tidak ada waktu
[ ] Perlu waktu lama
[ ] Malas
[ ] Sulit dilakukan
[ ] Sumber dana terbatas
[ ] Tidak tahu ilmu p-engelolaan air
[ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain ________________
(54) Sebutkan 2 manfaat bagi masyarakat, apabila pengetahuan usaha ekonomi alternatif meningkat? (Jawaban Boleh Lebih Dari 1)
[ ] Menambah hasil panen
[ ] Menambah pendapatan
[ ] Musim kemarau lahan dapat digarap
[ ] Mengurangi perambahan hutan
[ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain ________________

(55) Sebutkan 2 kendala bagi Anda, untuk menjadi penggerak program intensifikasi lahan pertanian di lahan garapan Anda?
________________

(56) Sebutkan 2 hal yang menurut Anda menjadi kendala mengatur pengelolaan air untuk mengairi lahan garapan di musim kemarau? (Jawaban boleh lebih
dari 1)
[ ] Menambah pekerjaan
[ ] Tidak ada waktu
[ ] Perlu waktu lama
[ ] Malas
[ ] Sulit dilakukan
[ ] Sumber dana terbatas
[ ] Tidak tahu ilmu p-engelolaan air
[ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain ________________

(57) Sebutkan 2 manfaat bagi masyarakat, apabila program pengelolaan air untuk mengairi lahan garapan di musim kemarau dilaksanakan? (Jawaban
Boleh Lebih Dari 1)
[ ] Menambah hasil panen
[ ] Menambah pendapatan
[ ] Musim kemarau lahan dapat digarap
[ ] Mengurangi perambahan hutan
[ ] Tidak tahu [ ] Lain-lain ________________

Bagian 10 :
Paparan Terhadap Aktivitas dan Pesan Kampanye

(58) Saya akan bertanya kepada Anda mengenai sejumlah cara yang mungkin pernah atau tidak pernah Anda lihat atau dengar mengenai Hutan Gunung
Honje dan kawasan Ujung Kulon. Untuk setiap metode, harap beritahukan apakah Anda ingat pernah melihat atau mendengar sumber tersebut pada 6 bulan
terakhir.
(A) Poster mengenai intensifikasi pertanian di kawasan Gunung Honje
[ ] Ya [ ] Tidak yakin [ ] Tidak

(B) Poster mengenai manfaat Ujung Kulon


[ ] Ya [ ] Tidak yakin [ ] Tidak

(C) Program radio mengenai cara-cara warisan untuk anak-cucu


[ ] Ya [ ] Tidak yakin [ ] Tidak

(D) Program radio mengenai intensifikasi pertanian


[ ] Ya [ ] Tidak yakin [ ] Tidak

(E) Papan iklan mengenai intensifikasi pertanian


[ ] Ya [ ] Tidak yakin [ ] Tidak

(F) Cerita dari sekolah anak Anda mengenai cara warisan untuk anak-cucu
[ ] Ya [ ] Tidak yakin [ ] Tidak

(G) Mendengar sesuatu dari kunjungan Badak Jawa ke sekolah-sekolah


[ ] Ya [ ] Tidak yakin [ ] Tidak

(H) Penyuluhan dari petugas pemerintah mengenai intensifikasi pertanian


[ ] Ya [ ] Tidak yakin [ ] Tidak

(I) Penyuluhan dari petugas pemerintah mengenai cara-cara warisan yang baik
[ ] Ya [ ] Tidak yakin [ ] Tidak

(59) Dari semua cara yang berbeda, dan seingat Anda pernah lihat atau dengar mengenai pesan intensifikasi pertanian, warisan yang ramah lingkungan,
manfaat Hutan Gunung Honje dan Ujung Kulon, dan atau Badak Jawa. Yang mana yang paling jelas Anda ingat sampai sekarang pesan tersebut? (Pilih
Satu Jawaban)
[ ] Papan Reklame [ ] Poster [ ] Program radio [ ] Kalender [ ] Lagu konservasi [ ] Lembar dakwah [ ] Stiker [ ] Papan
pengumuman desa [ ] Kegiatan penyuluhan [ ] Tidak ada yang diingat [ ] Lain-lain ________________

TERIMA KASIH ATAS PENDAPAT DAN WAKTU YANG TELAH DISEDIAKAN. JAWABAN ANDA SANGAT PENTING NILAINYA BAGI KAMI.