Anda di halaman 1dari 10

makalah

RIWAYAT HIDUP, PEMIKIRAN, KRITIKAN, DAN


KEKURANGAN TEORI ANTONIO GRAMSCI
1.1 Latar Belakang

Antonio Gramsci atau lebih dikenal Gramsci adalah seorang Marxis Italia. Gramsci
(1891-1937) awalnya adalah seorang wartawan. Kemudian pada awalnya ia adalah anggota
partai sosialis Italia dan kemudian menjadi ketua dari Partai Komunis Italia (PCI). Pemikiran
Gramsci sangat dipengaruhi oleh filosof besar Italia Benedetto Croce. Dari Croce Gramsci
belajar menghargai ilmu sejarah sebagai usaha Intelektual untuk mencakup moralitas, politik,
dan seni. Crocemembuatnya memahami keterbatasan yang ada pada positivisme yang hanya
mengakui “fakta objektif”. Namun kemudian Gramsci mengkritik bahwa Croce berhenti pada
pengertian teoritis demokrat-liberal yang tidak berani menarik konsekuensi untuk praxis
revolusioner. Bagi Gramsci Marxisme selalu akan merupakan ”filsafat praxis”. (Magnis Suseno,
2003: 173)
Gramsci yang berpijak pada tradisi Marxis, dijatuhi hukuman penjara oleh rezim fasis Mussolini.
Di dalam penjaralah ia mencatat dan mengahsilkan tulisan-tilsan yang kemudian dibukukan
Selection from the Prison Notebooks. Banyak hal yang ditulis oleh Gramsci ketika ia di penjara,
salah satunya adalah analisanya mengenai kelemahan dari masyarakat Italia dan kenapa sampai
muncul fasisme. Gramsci memerankan peran kunci dalam transisi determinisme ekonomi
menuju Marxian yang lebih modern.

Gramsci bersikap kritis terhadap Marxis yang “determinis, fatalistis, dan mekanistis”. Jika Marx
meyakini bahwa ideologi dan kesadaran palsu dari para buruh diakibatkan, dikreasikan dan
dijaga oleh mereka yang mengontrol dan menguasai material dalam hal ini ekonomi atau
determinisme ekonomi. Marx berargumentasi bahwa siapa saja yang menguasai “means of
productions & modes of production” maka merekalah yang mengontrol negara dan pada
akhirnya mengerakannya dalam suatu ideologi. Kemudian kaum proletariat atau kaum yang tidak
memiliki modal akan diam sampai pertentangan-pertentangan dalam masyarakat kapitalis
semakin nampak, sehingga pada akhirnya mereka melakukan dan menuntut revolusi kepada para
opresornya. Gramsci mengkritik para Marxis yang berusaha untuk menerapkan analisa Marx
dan Engels sebagai kepastian ilmiah untuk menjelaskan hukum masyarakat. Ada beberapa kritik
Gramsci terhadapa Bukharin (Magnis-Suseno, 2003: 175), yaitu:

1. Buku tersebut bermaksud untuk membuat kaum proletar memahami pokok-pokok ajaran
komunis, membentuk pemahaman mereka terhadap komunisme. Kritik Gramsci
kemudian adalah, ia menyatakan bahwa tugas kaum intelektual bukan menyampaikan
ide-ide mereka yang sudah jadi kepada masyarakat melainkan bertolak pada sesuatu yang
sedang dipercayai dan diyakini oleh masyarakat sendiri. Titik tolak segala usaha untuk
mewujudkan kesadaran politik yang tepat adalah apa-apa yang sesungguhnya merupakan
kesadaran proletariat.
2. Gramsci menolak bahwa ada teori objektif yang benar pada seluruh aspek. Menurutnya
sebuah teori selalu hanya benar jika mengungkapkan apa yang sedang dialami oleh kelas
sosial yang bersangkutan. Dengan kata lain, teori tidak dapat dilepaskan dari praxis.
Teori dan Praxis merupakan suatu kesatuan, di mana teori merumuskan dalam konsep-
konsep apa yang dirasakan sebagai kebutuhan dan dorongan oleh masyarakat. menurut
Gramsci setiap usaha untuk merumuskan sebuah teori yang kemudian diterapkan pada
masyarakat adalah sesuatu yang salah kaprah, dan merupakan positivisme dan saintifisne
yang harus ditolak.
3. Sesuai penolakan di atas, Gramsci juga menolak Materialisme yang menurut Engels dan
Lenin merupakan pandangan dasar Marxisme. Dengan materialisme sebagai ajaran
tentang seluruh hakikat seluruh realitas maka materialisme termasuk positivistic dan
naturalistik. Sebagai ajaran mengenai hakikat objektif seluruh realitas materialisme
bersifat “metafisik” dan tidak masuk akal karena mengabstraksi dari praxis sosial.
4. Dengan menolak kemungkinan sebuah teori objektif ilmiah tentang masyarakat yang
lepas dari perjuangan kelas sosial, Gramsci menolak kerangka pikiran “superstructure”.
Ia menolak bahwa jalan sejarah sudah pasti dan terdeterminasi. Ia menolak bahwa
kebudayaan ditentukan oleh hubungan-hubungan produksi. Ia menolak anggapan bahwa
alam pemikiran sekedar superstructure dari struktur kekuasaan ekonomi.
5. Gramsci juga berbeda pendapat dengan Bukharin tentang makna dan manfaat filsafat.
Jika Bukharin menyatakan bahwa filsafat adalah analisa teoritis atas dasar ilmu-ilmu
alam. Bagi Gramsci filsafat muncul dalam dua bentuk, yaitu dalam pemikiran kaum
intelektual dan dalam bentuk akal sehat masyarakat. dalam kedua bentuk tersebut filsafat
mengangkat kondisi-kondisi cultural objektif sosialisme ke dalam dimensi cita-cita dan
pemikiran, sehingga menjadi potensial untuk dinyatakan dalam tindakan praktis. Filsafat
membuka cakrawala tindakan yang akan mengubah masyarakat.

Oleh karena itu kita dapat memahami mengapa Marxisme menurut Gramsci
harus bertolak dari apa yang hidup dari hati dan pemikiran masyarakat. pemikiran
tersebut yang akan mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka untuk
mengubah struktur-struktur lama masyarakat ke arah sosialisme. Kesadaran merupakan
faktor kunci bukan hanya sekunder.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Biografi dan latar belakang gramci
Antonio Gramsci dikenal sebagai pemikir besar yang lahir dari situasi politik yang
menyengsarakan, dan meninggal tanggal 27 April 1937 pada usia 46 tahun juga dalam
kesengsaraan. Sekilas biografi Gramsci. Gramscilahir di Sardinia, Italia, pada tanggal 22 januari 1891
sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara yang sejak lahir berpunggung bungkuk yang membuatnya rapuh
menghadapi kemiskinan dan penderitaan. Ia tumbuh dengan tekanan psikologis, introvert dan paranoid pada
penyangga tubuhnya.
Keluarganya tergolong kelas bawah, meskipun tidak miskin. Ayahnya pada tahun 1897 dihukumatas
tuduhan kecurangan ‘administratif’. Ketika bebas ia tak punya kerja lagisehingga keluarga itu hidup dalam
kemiskinan. Tahun 1903 Gramsci harus meninggalkan sekolah dan bekerja membantu ekonomi keluarganya.
Dengan segala susah payah,
Gramsci bisa melanjutkan pendidikannya kemudian, bahkan sampai masuk kuliah dan berkenalan
dengan bacaan dan aktivitas politik kelompok sosialisme. Ketika situasi Cagliari - kota tempat ia sekolah -
memburuk, Gramscimulai menyadari sejarah masyarakatnya. Ia mulai rajin membaca pamflet sosialis dan buku
sejarah untuk mendapat perspektif situasi saat itu.Tonggak perubahan hidupnya bermula di Universitas Turin
tempat ia kuliah dari beasiswa yang pas-pasan. Di sana ia berkenalan dengan tokoh-tokoh penting,baik akademisi
maupun politisi. Terutama dari Benedetto Croce, “Godfather”
lingkungan intelektual Italia masa itu, Gramsci sangat terpengaruh dan terbuka matanya terhadap dunia.
74 Konflik ‘Utara’ dan ‘Selatan’ – yang melahirkan “Selatanisme” dari kemelutkebijakan ekonomi di Turin
seusai ia kuliah - menjadi semangat Gramsci dalam ekspresi politiknya.
latar belakang dari GramscI, Latar belakang ini tentu mempengaruhi Gramsci dalam
melahirkan pemikiran-pemikirannya. Di tahun 1913 pertama kalinya ia berhubungan dengan
gerakansosialis di Turin. Setelahnya, ia juga aktif di jurnalistik (di mingguan Partai Sosialis“Jerit Tangis Rakyat”
danAvanti), sebagai editor, kolumnis dan analis.Di tahun 1917 setelah pemberontakan tiba-tiba di Turin oleh para
pekerja dan ditahannya sebagian besar pemimpin sosialis, Gramsci terpilih sebagai KomiteSementara Partai
Sosialis. Gerakan perlawanan ini berlanjut, dikenal dengan gerakan Dewan Pabrik di Turin. Ini membawa
Gramsci untuk mempertimbangkan kembali pandangannya terhadap Lenin dan Revolusi Rusia
.Mei 1919 mendirikan jurnal L’Ordine Nuovo yang sekaligus menjadi organ Dewan Pabrik, di mana
ide-ide politik Gramsci diluncurkan dan berperan penting dalam persiapan revolusi. Januari 1921 Partai Sosialis
pecah, dan kemudian berdiri Partai Komunis Italia. Gramsci terpilih sebagai pengurus pusat. Di situ ia
berseberangan dengan sekretaris umumnya, Bordiga, seputar konsep tentang Fasisme yang bagi Gramsci bukan
cuma sangat berbahaya, namun juga cenderung untuk berkuasa.
Fasisme adalah gerakan politik yang didirikan mantan pemimpin Sosialis Benito Mussolini (Mussolini
pada oktober 1922 ditunjuk sebagai perdana menteri,dan Fasismepun ikut menenggak kekuasaan).Fasis Italia ini
pada tahun 1926 memberangus semua publikasi kekuatan politik kiri, dan Gramsci-pun, yang saat itu baru dua
tahun menjabat sekretaris jendral PCI (Paratai Komunis Italia), ditangkap dan dipenjara, tepatnya 8 November
1926.
Meskipun ia diisolasi dari kegitan luar, namun temannya di Inggris mengirim buku-buku kepadanya
.Gramsci pernah mengatakan kepada adik iparnya melalui surat bahwa ia inginmembuat karya intelektual yang
akan menjadi fur ewig , maksudnya kehendak tanpapamrih yang itu berarti historis, ilmiah (dua kata yang selalu
sinonim baginya sejak ilmu dipahami sebagai analisis historis-materialis). Beberapa kali pindah penjara,baru pada
Januari 1929 ia memperoleh ijin menulis. 8 Februari 1929 adalah haripertama Prison Notebooks : suatu
ekspresi intelektual yang menyumbang besar bagidebat Marxisme, dan meletakkan kerangka dasar dan perspektif
baru dalammemahami masalah dan menciptakan revolusi sosialis di Italia dan dunia modernlain.Gramsci
meninggal pada 27 April 1937 setelah lama menderita sakit (terakhirmengalami pendarahan otak). Sepuluh tahun
kemudian kumpulan surat-surat Gramscidari penjara diterbitkan dan berlanjut dengan terbitnya karya-karya
monumentalGramsci.Dari latar belakang kehidupan Gramsci di atas, bisa dilacak dasarepistemologi pemikirannya
dari sisi lain. Dunia – situasi sosial politik dan konsepsidari pemikir pendahulunya - dipahami dalam kerangka
“cara berada” Gramsci.Maksudnya, kondisi umum kehidupannya yang berangkat dari strata kelas menengahke
bawah yang didukung riwayat pendidikan dan aktivitas politiknya, membentuk konstruksi epistemologis yang
kental dengan paduan kecerdasan teoritik dankecerdasan keterlibatan dalam membaca realitas dan merekonstruksi
paham tentang 76 itu. Kebesaran namanya tidak didapat dari melulu tafsir akademis atau sebaliknya,tragedi
kehidupan dan politiknya, namun hubungan yang penuh dari keduanya.Alhasil, sosialisme yang
diperjuangkannya berbasiskan pada kesadaran kritis, dimana pada titik akhirnya selalu terbaca tawaran-tawaran
solutifnya, baik dalammembangun kerangka kerja revolusi sosialisme di Italia pada khususnya,
maupuninterpretasi rekonstruksional atas tradisi Marxisme. Sekalipun pada 20 tahun 4 bulan15 hari sisa hidupnya
di penjara dia terpisah secara fisik dengan realitas politik diluar, namun justru di masa itu pulalah terbangun
kreativitas dan eksplorasi wacanayang jernih dan monumental.

2.2 pemikiran
Teori Hegemoni Sebuah Teori Kebudayaan Kontemporer Oleh: Saptono (dosen PS Seni
Karawitan) Teori hegemoni merupakan sebuah teori politik paling penting abad XX. Teori ini
dikemukakan oleh Antonio Gramci (1891-1937). Antonio Gramci dapat dipandang sebagai
pemikir politik terpenting setelah Marx. Gagasanya yang cemerlang tentang hegemoni, yang
banyak dipengeruhi oleh filsafat hukum Hegel, dianggap merupakan landasan paradigma
alternatif terhadap teori Marxis tradisional mengenai paradigma base-superstructure (basis-
suprastruktur). Teori-teorinya muncul sebagai kritik dan alternatif bagi pendekatan dan teori
perubahan sosial sebelumnya yang didominasi oleh determinisme kelas dan ekonomi Marxisme
tradisional. Teori hegemoni sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi tradisi Marxis. Menurut
Femia pengertian semacam itu sudah dikenal oleh orang Marxis lain sebelum Gramci, seperti;
Karl Marx, Sigmund Freud, Sigmund Simmel. Yang membedakan teori hegemoni Gramci
dengan penggunaan istilah serupa itu sebelumnya adalah; Pertama, ia menerapkan konsep itu
lebih luas bagi supremasi satu kelompok atau lebih atas lainnya dalam setiap hubungan sosial,
sedangkan pemekaian iistilah itu sebelumnya hanya menunjuk pada relasi antara proletariat dan
kelompok lainnya. Kedua, Gramci juga mengkarakterisasikan hegemoni dalam istilah “pengaruh
kultural”, tidak hanya “kepemimpinan politik dalam sebuah sistem aliansi” sebagaimana
dipahami generasi Marxis terdahulu (Femia, 1983). Teori hegemoni dari Gramci yang
sebenarnya merupakan hasil pemikiran Gramci ketika dipenjara yang akhirnya dibukukan
dengan judul “Selection from The Prissons Notebook” yang banyak dijadikan acuan atau
diperbandingkan khususnya dalam mengkritik pembangunan. Dalam perkembangan selanjutnya
teori hegemoni ini dikritisi oleh kelompok yang dikenal dengan nama “New Gramcian”. Teori
hegemoni dibangun di atas preis pentingnya ide dan tidak mencukupinya kekuatan fisik belaka
dalam kontrol sosial politik. Menurut Gramci, agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang
dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma
penguasa, lebih dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Inilah
yang dimaksud Gramci dengan “hegemoni” atau menguasai dengan “kepemimpinan moraldan
intelektual” secara konsensual. Dalam kontek ini, Gramci secara berlawanan mendudukan
hegemoni, sebagai satu bentuk supermasi satu kelompok atau beberapa kelompok atas yang
lainnya, dengan bentuk supermasi lain yang ia namakan “dominasi” yaitu kekuasaan yang
ditopang oleh kekuatan fisik (Sugiono, 1999:31). Melalui konsep hegemoni, Gramsci
beragumentasi bahwa kekuasaan agar dapat abadi dan langgeng membutuhkan paling tidak dua
perangkat kerja. Pertama, adalah perangkat kerja yang mampu melakukan tindak kekerasan yang
bersifat memaksa atau dengan kata lain kekuasaan membutuhkan perangkat kerja yang
bernuansa law enforcemant. Perangkat kerja yang pertama ini biasanya dilakukan oleh pranata
negara (state) melalui lembaga-lembaga seperti hukum, militer, polisi dan bahkan penjara.
Kedua, adalah perangkat kerja yang mampu membujuk masyarakat beserta pranatapranata untuk
taat pada mereka yang berkuasa melalui kehidupan beragama, pendidikan, kesenian dan bahkan
juga keluarga (Heryanto, 1997). Perangkat karja ini biasanya dilakukan oleh pranata masyarakat
sipil (civil society) melailui lembaga-lembaga masyarakat seperti LSM, organisasi sosial dan
keagamaan, paguyuban-paguyuban dan kelompok-kelompok kepentingan (interest groups).
Kedua level ini pada satu sisi berkaitan dengan fungsi hegemoni dimana kelompok dominan
menangani keseluruhan masyarakat dan disisi lain berkaitan dengan dominasi langsung atau
perintah yang dilaksanakan diseluruh negara dan pemerintahan yuridis (Gramsci, 1971).
Pembedaan yang dibuat Gramsci antara “masyarakat sipil” dan “masyarakat politik”,
sesungguhnya tidak jelas terlihat, pembedaan itu dibuat hanya untuk kepentingan analisis
semata. Kedua suprastruktur itu, pada kenyataannya, sangat diperlukan, satu sama lainnya tidak
bisa dipisahkan. Bahwa kedua level itu sangat diperlukan bisa dilihat dengan gamblang dalam
konsepsi Gramsci tentang negara yang lebih luas, dimana ia tunjuk sebagai “negara integral”
meliputi tidak hanya masyarakat sipil tetapi juga msyarakat politik yang didefinisikan negara =
masyarakat politik + masyarakat sipil, dengan kata lainhegemoni dilindungi oleh baju besi koersi
(Gramsci, 1971). Gramsci juga mengkarakterisasikan apa yang dimaksud dengan negara integral
sebagai sebuah kombinasi kompleks antara “kediktatoran dan hegemoni” atau seluruh kompleks
aktivitas praktis dan teoritis dimana kelas berkuasa tidak hanya menjustifikasi dan menjaga
dominannya, tetapi juga berupaya memenangkan persetujuan aktif dari mereka yang dikuasai”.
Jadi negara adalah aparatus koersif pemerintah sekaligus aparatus hegemonik institusi swadta.
Definisi ini memungkinkan Gramsci untuk menghidarkan diri dari pandangan instrumentalis
tentang negara memandang negara sebagai sistem politik pemerintah belaka dalam teori politik
liberal atau teori lainnya seperti institusi koersif kelas berkuasa dalam teori politik Marxis klasik.
Kelebihan konsepsi Gramsci tentang negara integral adalah karena konsepsi itu memungkinkan
dirinya memandang hegemoni dalam batasan dialektik yang meliputi masyarakat sipil atau
masyarakat politik (Sugiono, 1999). Lebih jauh dikatakan Gramsci bahwa bila kekuasaan hanya
dicapai dengan mengandalkan kekuasaan memaksa, hasil nyata yang berhasildicapai dinamakan
“dominasi”. Stabilitas dan keamanan memang tercapai, sementara gejolak perlawanan tidak
terlihat karena rakyat memang tidak berdaya. Namun hal ini tidak dapat berlangsung secara terus
menerus, sehingga para penguasa yang benar-benar sangat ingin melestarikan kekuasaannya
dengan menyadari keadaan ini akan melengkapi dominasi (bahkan secara perlahan-lahan kalau
perlu menggantikannya) dengan perangkat kerja yang kedua, yang hasil akhirnya lebih dikenal
dengan sebutan “hegemoni”. Dengan demikian supermasi kelompok (penguasa) atau kelas sosial
tampil dalam dua cara yaitu dominasi atau penindasan dan kepemimpinan intelektual dan moral.
Tipe kepemimpinan yang terakhir inilah yang merupakan hegemoni (Hendarto, 1993:74).
Dengan demikian kekuasaan hegemoni lebih merupakan kekuasaan melalui “persetujuan”
(konsensus), yang mencakup beberapa jenis penerimaan intelektual atau emosional atas taanan
sosial politik yang ada. Hegemoni adalah sebuah rantai kemenangan yang didapat melalui
mekanisme konsensus (consenso) dari pada melalui penindasan terhadap kelas sosial lain. Ada
berbagai cara yang dipakai, misalnya melaluiyang ada di masyarakat yang menentukan secara
langsung atau tidak langsung struktur-struktur kognitif dari masyarakat iu. Itulah sebabnya
hegemoni pada hakekatnya adalah upaya untuk menggiring orang agar menilai dan memandang
problematika sosial dalam kerangka yang ditentukan (Gramsci, 1976:244). Dalam konteks
tersebut, Gramsci lebih menekankan pada aspek kultural (ideologis). Melalui produk-produknya,
hegemoni menjadi satu-satunya penentu dari sesuatu yang dipandang benar baik secara moral
maupun intelektual. Hegemoni kultural tidak hanya terjadi dalam relasi antar negara tetapi dapat
juga terjadi dalam hubungan antar berbagai kelas sosial yang ada dalam suatu negara. Ada tiga
tingkatan yang dikemukakan oleh Gramsci, yaitu hegemoni total (integral), hegemini yang
merosot (decadent) dan hegemino yang minimum (Femia, 1981). Dalam konteks ini dapat
dirumuskan bahwa konsep hegemoni merujuk pada pengertian tentang situasi sosial politik.
Dalam terminologinya “momen” filsafat dan praktek sosial masyarakat menyatu dalam keadaan
seimbang, dominasi merupakan lembaga dan manifestasi perorangan. Pengaruh “roh” ini
membentuk moralitas, adat, religi, prinsip-prinsip politik, dan semua relasi sosial, terutama dari
intelektual dan halhal yang menunjuk pada moral. Konsep hegemoni terkait dengan tiga bidang,
yaitu ekonomi (economic), negara (state), dan rakyat (civil society) (Bocock, 1986). Ruang
ekonomi menjadi fundamental. Namun, dunia politik yang menjadi arena dari hegemoni, juga
menampilkan momen perkembangan tertinggi dari sejarah sebuah kelas. Dalam hal ini,
pencapaian kekuasaan negara, konsekwensi yang dibawanya bagi kemungkinan perluasan dan
pengembangan penuh dari hegemoni iitu telah muncul secara parsial, memiliki sebuah signifikasi
yang khusus. Negara dengan segala aspeknya, yang diperluas mencakup wilayah hegemoni,
memberikan kepada kelas yang mendirikannya baik prestise maupun tampilan kesatuan sejarah
kelas penguasa dalam bentuk konkret, yang dihasilkan dari hubungan organik antara negara atau
masyarakat politik dan civil society. Pendek kata, hegemoni satu kelompok atas kelompok-
kelompok lainnya dalam pengertian Gramscian bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Hegemoni itu
harus diraih melalui upaya-upaya politis, kultural dan intelektual guna menciptakan pandangan
dunia bersama bagi seluruh masyarakat. Teori politik Gramsci penjelasan bagaimana ide-ide atau
ideologi menjadi sebuah instrumen dominasi yang memberikan pada kelompok penguasa
legitimasi untuk berkuasa (Sugiono, 1999).

2.3 kritikan Antonio gramsci


Kritik terhadap teori marxiam
Teoritisi kritis ini merasa sangat terganggu oleh pemikir marxis penganut determinisme
ekonomi yang mekanistis (Antonion,1981;schroyer,1973;Sewart,1978). Beberapa orang di
antaranya (misalnya,Habermas,1971) mengritik determinisme yang tersirat di bagian tertentu
dari pemikiran asli marx, tetapi kritik mereka sangat ditekankan pada neo.Marxis terutama
karena mereka telah menafsirkan pemikiran marx terlalu memusatkan perhatian pada bidang
ekonomi, tetapi karena meraka seharusnya juga memusatkan perhatian pada aspek kehidupan
sosial yang lain.
Kritik terhadap positivism
Kritik terhadap positivisme sekurangnya sebagian berkaitan dengan kritik terhadap
determinisme ekonomi karena beberapa pemikiran determinisme ekonomi menerima sebagian
atau seluruh teori positivism tentang pengetahuan. Positivisme dilukiskan sebgai mewakili
berbagai hal. Positivisme menerima gagasan bahwa metode ilmah tunggal dapat diterapkan pada
seluruh bidang studi.
Kritik terhadap sosiologi
Sosiologi diserang karena “keilmiahannya”, yakni karena menjadikan metode ilmiah
sebaagai tujuan di dalam dirinya sendiri. Selain dari itu sosiologi dituduh menerima status quo.
Aliran kritis berpandangan bahwa sosiologi tidak serius mengritik masyarakat , tak berupaya
merombak struktur sosial masa kini.. menurut aliran kritis, sosiologi telah melepaskan
kewajibannya untuk membantu rakyat yang ditindas oleh masyarakat masa kini.

Kritik terhadap masyarakat modern


Kebanyakan teori marxsian awal secara tegas tertuju ke bidang ekonomi, sedangkan
aliran kritis menggeser oreantasinya ke tingkat kulturalmengingat kultural di anggap sebagai
realitas masyarakat kapitalis modern. Artinya, tempat dominasi dalam masyarakat modern telah
bergeser dari bidang ekonomi kebidang kultural. Aliran kritis masih tetap memerhatikan masalah
domonasi, meski masyarakat modern mungkin lebih didominasi oleh elemen kultural ketimbang
oleh elemen ekonomi. Karena itulah aliran kritis mencoba memusatkan perhatian pada
penindasan kultural atas individu dalam masyarakat.
Kritik terhadap kultur
Teori tisi kritis melontarkan kritik pedas terhadap apa yang mereka sebut “idustri kultur”
( Kallner dan Lewis,2007)” yakni struktur yang dirasionalkan dan dibirokratisasikan (misalnya,
jaringan televise) yang menegndalikan kultur modern.
Industi kultur menghasilkan apa yang secara konvensional disebut “kultur massa” yang
didefinisikan “sebagai kultur yang diatur…tak spontan, dimaterialkan dan palsu,kan ketimbang
sesuatu yang nyata”(jay,1973”:216).
Teori kritis dewasa ini
Meski Habermas adalah pemikir sosial paling terkenal dewasa ini, namun ia tak sendirian
berjuang mengembangkan teori kritis yang lebih sesuai dengan realitas masa kini (lihat,
misalnya, berbagai esai dalam Wexler,1991;Antonio dan Kellner,1994). Untukmelukisakan
kelanjutan upaya ini akan dibahas upaya kellner(1989c) dalam mengembangkan teori kritis
mengenai “tekno-kapitalisme.”

Tekno-Kapitalisme
Teori kellne didasarkan atas premis bahwa kita belum lagi bergerak ke abad post-modern
atau post-idustri, tetapi masih berada di zaman kapitalisme yang terus merajalela seperti dimasa
jayanya teori kritis. Karena itu ia merasa konsep dasar yang dikembangkan untuk menganalisis
kapitalisme (contoh reifikasi,pengasingan) masih relevan untuk menganalisis tekno kapitalsme.
Menurut istilah teknis Marxian, dalam masyrakat tekno-kapitalisme,”modal konstan
berangsur-angsur menggantikan modal variable seperto tercermin dari rasio antara teknologi dan
tenaga kerja yang makin meningkat dengan mengorbankan input tenaga kerja manusia” (kellner,
1989c:179). Namun kita tak boleh lupa bahwa tekno-kapitalisme masih merupakan kapitalisme
sekalipun teknologi jauh lebih besar perannya ketimbang dimasa sebelumnya.

2.4 Kekurangan Teori Hegemoni

Buku gramsci catatan dalam penjara mengingatkan kita pada tokoh komunis Indonesia
Tan Malaka yang menulis buku yang serupa juga yaitu catatan dari penjara ke penjara. Namun
naasnya tokoh ini dibunuh oleh masyarakat Indonesia sendiri oleh karena perbedaan pandangan
politik, padahal perbedaan itu suatu keniscayaan bagi manusia. Konsep hegemoni Gramsci
banyak dipakai oleh berbagai macam orang, untuk menundukkan orang lain. Oleh karena konsep
tersebut sangat praktis dan elegant dibandingkan dengan cara-cara penggunaan kekuatan melalui
koersif (kekerasan), agar orang lain dapat mengikuti kita. Disadari atau tidak Antonio Gramsci
telah memberikan sumbangan yang amat besar terhadap perubahan dinamika politik, ia mampu
merubah dan mempengaruhi paradigma pemikir-pemikir setelahnya. Karena gramsci merupakan
pemikir yang berani melakukan sedikit perubahan terhadap doktrin keras marxisme ortodoks.
Karena pada saat itu marxisme sudah paten dan tidak bisa dirubah sedikitpun, merubahnya sama
dengan murtad kepada ajaran marx.

Disini penulis ingin melakukan kritik terhadap gagasan Gramsci sebagai salah satu upaya
merekonstruksi kembali gagasan tersebut. Sehingga selain kita dapat mengambil gagasan
intelektual Marxian ini secara Taken of graden mengambil begitu saja, namun kita bisa
memperbaiki berbagai sisi termasuk memasukkan nilai islami kedalam pemikiran tersebut. Dan
perlu diperjelas adalah saya tidak hendak melakukankan islamisasi terhadap konsep gramsci
melainkan melakukan internalisasi terhadap ajaran islam kedalam pandangan dunia
(epistemologi) ilmu sosial kritis. Dalam hal ini saya akan mengkritik gagasan gramsci dengan
menggunakan beberapa alternative, termasuk didalamnya mengambil pemikiran islam
Kuntowijoyo. Salah satu sumbangsih terbesar kuntowijoyo adalah ia mampu melahirkan gagasan
Ilmu Sosial Profetik (ISP), yang mendasarkan pada etika kenabian melalui pemaknaan kreatif
terhadap surat Al-Imran ayat 110. Didalam kandungan ayat tersebut tersirat tiga muatan nilai
utama yang menjadi dasar dari peletakan dasar ISP, di antaranya Humanisasi, yaitu
memanusiakan manusia dalam pengertian manusia seutuhnya. Liberasi melakukan pembebasan
terhadap kelompok mustadafin dari penindasan sistem yang dihegemonik oleh kapitalisme dan
yang terakhir transendensi yaitu segala perbuatan manusia pasti ada ikut campur tangan tuhan di
dalamnya.

Sebagai mana ilmu sosial kritis yang dijelaskan, cenderung memisahkan diri dengan
konsep agama. Agama justru dipandang sebagai salah satu penyebab dari kemunduran ilmu
pengetahuan dan membuat masyarakat dinina bobokan dengan janji-janji agama. Ilmu sosial
kritis cenderung menuduh agama sebagai salah satu penyebab dari melemahnya gerakan sosial,
karena tidak menyentuh kedasar persoalan kemasyarkatan. Sebagaimana yang menajdi doktrin
marxisme bahwa ekonomi merupakan basic struktur sedangkan agama, politik, hukum dan
sebagainnya hanyalah suprastruktur. Jadi perubahan suprastruktur sangat bergantung pada
perubahan kebutuhan dasar manusia yaitu ekonomi. Namun kaum agamawan akan banyak yang
tidak sepakat dengan cara pandang kelompok marxis tersebut, lantaran islam salah satunya
bukan hanya sekedar mengajarkan tentang persoalan ibadah kepada tuhan, melainkan islam juga
menjadi salah satu agama perlawanan terhadap penindasan dan penghisapan. Islam mengajarkan
hidup egalitarian dan tidak boleh hidup hura-hura seperti kelompok hedonisme (Kapitalisme-
red).

Ilmu sosial kritis menurut kuntowijoyo tidak memberikan jalan atau pedoman bagi kita,
melainkan ilmu tersebut hanya sampai pada siapa subyek yang akan menjalankannya. Sedangkan
ilmu sosial profetik memberikan jalan bagi mereka pedoman sampai pada lahirnya tujuan etika
profetik. Dengan ilmu tersebut islam dapat melakukan proses transformasi secara besar-besaran
terhadap cara pandang yang menganggap islam tidak memberikan sumbangan untuk melakukan
perubahan dan sebagai agama perlawanan.
3.1 Daftar Pustaka
Judul buku Teori sosiologi modern penulis George rietzer
http://repo.isi-dps.ac.id/226/1/Teori_Hegemoni_Sebuah_Teori_Kebudayaan_Kontemporer.pdf
https://ruslanbima.wordpress.com/2016/05/13/kritik-terhadap-pemikiran-antonio-gramsci/