Anda di halaman 1dari 12

TRAFO ARUS

I. Tujuan Percobaan
1. Mengetahui pengujian yang diperlukan pada current transformer (CT) atau
Transformator (trafo) arus.
2. Untuk menentukan dan memahami current transformator (CT) ratio (ratio
transformator arus) antara sisi primer dan sekunder.
3. Melakukan pengukuran tahanan isolasi pada sisi primer, sekunder, dan
primer-sekunder.
4. Memahami polaritas CT dan bagaimana cara menentukannya.
5. Memahami dan melakukan pengukuran knee point dari karakteristik CT.
6. Memahami dan mampu menerangkan tentang burden CT.
7. Mampu memahami keakuratan pengukuran CT berdasarkan CT class.
8. Mampu merakit rangkaian trafo arus untuk penggunaan pada jaringan tiga
fasa.

II. Teori Dasar


Transformator arus (current transformer = CT) dibuat seperti trafo satu fasa;
arus secara langsung akan mengalir melalui sisi primer. Menurut standar, arus
teraan pada sisi sekunder adalah 1 A atau juga 5 A. Sedangkan rasio transformasi
teraan KN = I1N / I2N diberikan dalam bentuk fraksi, misalnya 1000 A / 5 APada
saat memasang trafo arus, harus memperhatikan arah arus.
Untuk maksud ini, terminal sisi primer yang ditandai “K” (ke sisi pusat
pembangkit) dan yang ditandai dengan “L” (ke sisi saluran). Berkaitan dengan sisi
primer, terminal pada sisi sekunder ditandai “k” dan “l”.
Trafo arus didesain untuk pemakaian pada beban dengan resistansi yang
sangat rendah, dan tidak pernah dioperasikan dengan kondisi rangkaian terbuka
pada sisi sekundernya. Dalam pemakaiannya, dikenal trafo arus untuk instrumen /
pengukuran (dilabelkan dengan M) dan trafo arus untuk keperluan proteksi (diberi
label P).
Deviasi arus sekunder CT dari nilai setnya dalam persen disebut kesalahan
arus Fi, yang didefinisikan sebagai berikut:

1
I1 = arus primer dalam A,
I2 = arus sekunder dalam A,
KN = rasio teraan transformasi dari CT.

Current transformer atau transformator arus adalah satu jenis instrument


transformer, yang berfungsi:
- Mengubah nilai arus primer ke nilai yang aman bagi alat pengukuran dan relay,
yakni 5 A atau 1 A.
- Mengisolasi alat-alat pengukuran dan relay dari sisi tegangan tinggi

Beberapa istilah pada Transformator Arus, antara lain:

1. Perbandingan transformasi (Transformation Ratio) :

Perbandingan antara besar arus pengenal primer terhadap besar arus pengenal

sekunder, di-notasikan dengan “n”.

2. Arus pengenal Primer (Rated Primary current)

Besar arus primer yang tercantum pada name plate di CT, dapat dituliskan

dengan “Ip”.

3. Arus pengenal sekunder (Rated Secondary current )

Besar arus sekunder yang tercantum pada papan nama trafo arus, dapat

dituliskan dengan “is “. Misalkan ratio CT 100/5 A. Maka Ip = 100 dan is = 5.

4. Penandaan Polaritas (Polarity Marking)


Penandaan polaritas pada CT bertujuan untuk menunjukkan bagaimana arah
belitan primer dan sekunder dililitkan pada intinya.
Penandaan Polaritas yang umum dipakai adalah :
Primer : P1 – P2 ; K – L ; H1 – H2
Sekunder : s1 - s2 ; k - l ; l1 - l2

2
5. Titik Lutut (Knee point)
Sebuah titik pada kurva maknetisasi, yang membatasi antara daerah jenuh dan
tidak jenuh.

Gambar 4.1. Typical Excitation Characteristic


Berikut contoh name plate CT untuk pemakaian di tegangan rendah.

Gambar 4.2 . Contoh Tipe CT Ring dan Name Plate

3
III. Alat dan Bahan
1 Modul Current Transformer
1 unit regulator tegangan
1 unit sumber arus
1 buah Amperemeter (mA digital)
1 buah Amperemeter Analog
1 set Battery
1 buah beban resistif

IV. Prosedur Percobaan

PERHATIAN !
Jangan lupa bahwa Trafo Arus tidak boleh dioperasikan dalam kondisi
rangkaian terbuka (open circuit) pada sisi sekundernya

Percobaan 1.1.
Percobaan Pengukuran CT ratio
1. Catat CT ratio name plate
2. Merangkai alat percobaan sesuai gambar IV.3, Pastikan Sumber tegangan
dalam kondisi off dan beban dalam posisi maksimum (100%).
3. Aktifkan Amperemeter 1 dan 2.
4. On-kan voltage source, naikkan perlahan-lahan sampai mendekati arus primer
yang diinginkan (perhatikan nilainya di Amperemeter - 1), jika diperlukan
turunkan juga secara bertahap variable load (beban).
5. Catat arus sekunder dengan melihat nilai di monitor Amperemeter – 2.
6. Naikkan arus primer sesuai dengan nilai yang ditetapkan dalam tabel IV.1.
7. Ulangi langkah 2 – 6 untuk phase lainnya (S dan T).

4
Amperemeter - 1
(Pengukuran Arus primer – Ip)
Variable
Voltage Source
(Sumber Tegangan)

CT1
P1 P2

CT2
P1 P2

CT3
P1 P2

Variable Load
(Beban)

S1

S2

S1

S2

S1

S2

I
0

Amperemeter - 2
(Pengukuran Arus Sekunder – is)
Gambar 4.3
Rangkaian Percobaan CT Ratio

5
Percobaan 1.2.
Percobaan Pengukuran Tahanan Isolasi CT
1. Merangkai alat percobaan sesuai gambar IV.4, Pastikan semua terminal CT
tidak dihubungkan dengan sumber tegangan ataupun arus.
2. Pertama lakukan pengukuran tahanan isolasi primer – primer, yaitu R-S, S-T,
dan T-R, sesuai gambar IV.2A (contoh pada gambar untuk percobaan pada
phase R-S).
3. Putar knop tegangan injeksi ke tegangan 500 V.
4. Tekan tombol test, lihat dan catat hasil pengukun di display alat ukur.
5. Lakukan pengukuran tahanan isolasi kembali (ulangi point 1 – 4) untuk:
a. Primer – Sekunder (P1 – S1) untuk phase R – r, S – s, dan T – t sesuai gambar
IV.2B (contoh pada gambar untuk percobaan phase S – t)
b. Primer – Ground (P1 – G) untuk phase R – G, S – G dan T – G, rangkaian
seperti gambar IV.2C (contoh pada gambar untuk rangkaian phase R- G)
c. Sekunder – Ground (S1 – G) untuk phase r – G, s – G dan t – G, rangkaian
seperti gambar IV.2D (contoh pada gambar untuk rangkaian sekunder phase
R - G)

6
CT1
P1 P2 A. Pengukuran Tahanan Isolasi
Primer - Sekunder (P1-S1)
CT2
P1 P2

CT3
P1 P2

S1

S2

S1

S2

S1 B. Pengukuran Tahanan Isolasi


Primer - Ground (R-G)
S2

C. Pengukuran Tahanan Isolasi


Sekunder - Ground (R-G)
Gambar 4.4
Rangkaian Percobaan
Pengukuran Tahanan Isolasi CT

7
V. Data Percobaan
Hasil Pengukuran
V Injeksi Waktu
Mata Uji (G)
(500V/1000 V) (s)
Ph. R Ph. S Ph. T
Primer – Sekunder
3.76 3.72 3.96 2500 V 5s
(P1 – S1)
Primer – Ground
6.0 6.0 6.5 2500 V 5s
(P1 – G)
Sekunder – Ground
5.1 5.3 5.2 2500 V 5s
(S1 – G)

VI. Analisa
Pada percobaan ini, dilakukan pengukuran tahanan isolasi trafo arus
yang mana pengoperasiannya pada saat perlengkapan rangkaian listrik tidak
bekerja atau tidak dialiri arus. Proses pengukuran tahanan isolasi
menggunakan alat Insulation Tester untuk memperoleh nilai tahanan isolasi
belitan/kumparan trafo antara bagian yang di beri tegangan terhadap belitan
primer, sekunder, dan ground. Namun, pada dasarnya pengukuran tahanan
isolasi dilakukan untuk mengetahui nilai kebocoran arus (Leakage Current)
yang terjadi pada isolasi kumparan primer maupun sekunder.
Dalam melakukan percobaan ini, trafo yang akan diuji memiliki tegangan
kerja sebesar 20 kV. Dalam pengambilan data, pada alat ukur digunakan
tegangan injeksi sebesar 2500 Vdc.
Berdasarkan teori, menurut standard VDE (Catalogue: 228/4) minimum
besarnya tahanan isolasi pada suhu operasi dihitung “1 kilo Volt = 1 MΩ
(Mega Ohm)”. Karena tegangan operasi trafo yang diukur adalah 20 kV maka
tahanan isolasi tang terukur minimum 20 MΩ atau 0.02 GΩ pada masing-
masing titik uji.

8
Adapun analisa dari hasil pengukuran dapat dilihat pada table berikut :
Hasil Pengukuran
Tegangan Injeksi
No. Titik Pengukuran (GΩ) Keterangan
(Vdc)
R S T
Primer – Sekunder 3.76 3.72 3.96 Memenuhi
1. (P1 – S1) 2500
standar
Primer – Ground 6.0 6.0 6.5 Memenuhi
2. (P1 – G) 2500
standar
Sekunder – Ground 5.1 5.3 5.2 Memenuhi
3. (S1 – G) 2500
standar

Dari analisa diatas menunjukkan bahwa trafo yang diukur memiliki


tahanan isolasi yang baik. Hal ini juga menunjukkan bahwa trafo dalam
keadaan aman jika dialiri tegangan kerjanya 20 kV dan kemungkinan
terjadinya hubung singkat sangat kecil.

9
Percobaan 1.3.
Percobaan Penentuan Polaritas CT
1. Merangkai rangkaian percobaan sesuai gambar 4.3, pastikan Polaritas battery
benar dan switch dalam kondisi off.

Push
Battery Button

CT1
P1 P2

CT2
P1 P2

CT3
P1 P2

Amperemeter
Analog
S1

S2
~A
S1

S2

S1

S2

Gambar 4.5
Rangkaian Percobaan Polaritas CT
2. Setelah point satu terpenuhi, tutup switch dan perhatikan pergerakan jarum
Amperemeter analog. Jika bergerak ke arah kanan, maka polaritas CT telah
benar. Jika sebaliknya, rangkain perlu diperbaiki.
3. Ulangi langkah pada point 1-2 untuk phase berikutnya (S dan T).

10
V. Data Percobaan
Phase Polaritas Primer Polaritas Sekunder Hasil Polaritas
R P1 + P2 - S1 + S2 - Sesuai
S P1 + P2 - S1 + S2 - Sesuai
T P1 + P2 - S1 + S2 - Sesuai

VI. Analisa
Pada percobaan di atas, dilakukan uji kesesuain polaritas pada trafo arus.
Dimana untuk melihat polaritas trafo tersebut telah sesuai atau belum, perlu
memperhatikan pergerakan jarum dari alat ukur yaitu amperemeter. Apabila
jarum bergerak kearah kanan, maka polaritas trafo arus telah benar. Dari hasil
percobaan, didapatkan bahwa polaritas tiap fasa telah sesuai.

VII. Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Dari analisa untuk percobaan penguukuran isolasi menunjukkan bahwa
trafo yang diukur memiliki tahanan isolasi yang baik. Hal ini juga
menunjukkan bahwa trafo dalam keadaan aman jika dialiri tegangan
kerjanya 20 kV dan kemungkinan terjadinya hubung singkat sangat kecil.
2. Dari hasil percobaan polaritas, didapatkan bahwa polaritas tiap fasa telah
sesuai. Hal ini dilihat dari pengujian yang dilakukan dengan menggunakan
alat ukur amperemeter.

11
VIII. Pertanyaan
1. Jelaskan prinsip kerja trafo arus
Jawaban :
Pada saat arus primer Ip mengalir pada lilitan primer, maka akan muncul
medan magnet disekeliling lilitan primer tersebut. Medan magnet tersebut
akan terkumpul lebih banyak pada inti atau core. Medan magnet yang
berputar di dalam inti atau core menghasilkan perubahan flux primer dan
memotong lilitan sekunder sehingga menginduksikan tegangan pada lilitan
sekunder sesuai hukum faraday. Karena lilitan sekunder membentuk loop
tertutup, maka akan mengalir arus sekunder Is yang akan membangkitkan
medan magnet untuk melawan flux magnet yang dihasilkan oleh belitan
primer sesuai hukum lenz.
2. Jelaskan name plate trafo arus
Jawaban :

3. Jelaskan fungsi trafo arus pada aplikasi di system tenaga listrik


Jawaban : sebagai alat listrik yang berfungsi untuk mengubah atau
mentransformasikan besaran listrik (arus) dari besar menjadi kecil, gunanya
untuk pengukuran dan proteksi. sebagai isolasi dari tegangan pada sistem
dengan alat ukur atau alat proteksi.
4. Carilah spesifikasi trafo arus sebagai alat bantu proteksi dan sebagai alat
pengukuran
Jawaban : Rasio Pengenal (Rated Ratio), misal 500/5A
Rasio pengenal adalah perbandingan dari arus primer pengenal dengan
sekunder pengenal. Dari parameter tersebut kita bisa mengetahui nilai arus
primer pengenal dan arus sekunder pengenal dari trafo arus tersebut. Pada
contoh diatas, nilai arus primer pengenalnya adalah 500A dan arus sekunder
pengenalnya adalah 5A.

12