Anda di halaman 1dari 42

PANDUAN PRAKTIS KLINIS (PPK)

KLINIK UTAMA PKU MUHAMMADIYAH


PURBALINGGA
2018
Nomor dokumen DISAHKAN OLEH
DIREKTUR
ANGINA
PEKTORIS
Tanggal Terbit
Dr. Setyana Eka Nurvidyaning
ICD 10 : I20. 9 NBM. 12208626
1. Pengertian (Definisi) Sindroma klinik yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara
kebutuhan (demand) dan suplai aliran arteri koroner.
Klasifikasi derajat angina sesuai Canadian Cardiovascular Society
(CCS)
- CCS Kelas1 : Keluhan angina terjadi saat aktifitas berat yang lama
- CCS Kelas2 : Keluhan angina terjadi saat aktifitas yang lebih berat
dari aktifitas sehari-hari
- CCS Kelas 3 : Keluhan angina terjadi saat aktifitas sehari-hari
- CCS Kelas 4 : Keluhan angina terjadi saat istirahat
2. Anamnesis - Nyeri dada atau rasa tidak enak seperti berat dan tertindih
▪ Substernal saat aktifitas
▪ Dapat menjalar ke lengan kiri, punggung, rahang, dan ulu hati
dapat disertai nafas pendek, keringat dingin, cemas dan fatigue.
▪ Dicetuskan oleh latihan, stress, marah, dingin dan
meningkatnya kebutuhan metabolik.
▪ Berlangsung 3-10 menit, hilang pada istirahat atau nitrogliserin
sublingual.
- Terdapat salah satu atau lebih faktor risiko: kencing manis,
kolesterol, darah tinggi, dan keturunan.
3. Pemeriksaan Fisik Umumnya dalam batas normal, kecuali ada komplikasi dan atau
komorbiditi.
4. Kriteria Diagnosis Memenuhi kriteria anamnesis dan pemeriksaan fisik
5. Diagnosis Kerja Angina Pektoris Stabil (APS), angina prinzmetal.
6. Diagnosis Banding GERD, pleuritic pain, nyeri tulang, nyeri otot.
7. Pemeriksaan - EKG
Penunjang -Treadmill test
- Echocardiografi
- Enzim Jantung (CKMB, Troponin I)
- Profil Lipid
- Tes Fungsi Hepar (SGOT, SGPT)
8. Terapi - O2 via nasal canul atau NRM tergantung SpO2
- Medikamentosa
▪ Aspilet 1x80-160mg
▪ Simvastatin 1x20-40 mg atau Atorvastatin 1x 20-40 mg atau
Rosuvastatin1x10-20mg
▪ Betabloker: Bisoprolol 1x5-10 mg
▪ Atau Metoprolol 2x50mg, Ivabradine 2x5mg jika pasien
intoleran dengan beta bloker
▪ Isosorbid dinitrat 3x5-20mg atau Isosorbid mononitrat 2x20mg
9. Edukasi 1. Edukasi gizi dan pola makan
2. Edukasi faktor risiko
3. Edukasi gaya hidup sehat
4. Edukasi obat-obatan

10. Prognosis Ad vitam : dubia adbonam


Adsanationam : dubia adbonam
Adfungsionam : dubia adbonam
11. Penelaah Kritis 1. Dr. Gigih Rahmandanu Poernomo Sp.PD, M.Kes
2. Dr. Nurul Rohmawatiningrum
12. Kepustakaan Panduan Praktis Klinis (PPK) dan Clinical Pathway (CP)
Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah 2016

Purbalingga, Oktober 2018

Disetujui Oleh Dibuat Oleh


Badan Pelaksana Harian Ketua SMF Penyakit Dalam

Dr. Gigih Rahmandanu P, Sp.PD, M.Kes


PANDUAN PRAKTIS KLINIS (PPK)
KLINIK UTAMA PKU MUHAMMADIYAH
PURBALINGGA
2018
Nomor dokumen DISAHKAN OLEH
DIREKTUR
ASMA
BRONKIAL
Tanggal Terbit
Dr. Setyana Eka Nurvidyaning
ICD 10 : J45.21 NBM. 12208626
1. Pengertian Suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran nafas
(Definisi) yang menyebabkan hipereaktivitas bronkus terhadap berbagai
rangsangan yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa
mengi, batuk, sesak napas, dan rasa berat di dada terutama pada
malam hari atau dini hari yang umumnya bersifat reversibel baik
dengan atau tanpa pengobatan.
2. Anamnesis - Sesak napas
- Batuk, terutama malam hari atau menjelang malam
- Nyeri dada
- Gangguan tidur
- Gelisah/iritable
- Mengi/wheezing
- Riwayat keluarga asma atau alergi
3. Pemeriksaan Fisik - Kesadaran umum : kesadaran, sesak napas, sianosis
- Tanda vital : frekuensi napas, frekunesi jantung, laju nadi, suhu,
dan tekanan darah
- Tanda-tanda sesak napas :
▪ Napas cepat
Kriteria napas cepat (WHO)
0 - 2 bulan : > 60x/menit
2 - 12 bulan : >50x/menit
12 - 60 bulan : >40x/menit
60 - 96 bulan : >30 x/menit
▪ Napas cuping hidung
▪ Retraksi dada : retraksi suprasternal, intercostal, epigastrial,
subcostal
▪ Sianosis
- Pemeriksaan toraks
Inspeksi : Retraksi dada
Palpasi : simetris fusiformis kanan-kiri
Perkusi : sonor
Auskultasi : suara ekspirasi memanjang, wheezing, pada asma
berat eksaserbasi terdapat silent chest
4. Kriteria Diagnosis Memenuhi kriteria anamnesis dan pemeriksaan fisik
5. Diagnosis Kerja Asma bronkial
6. Diagnosis Banding - Aspirasi benda asing
- PPOK, Bronkiektasis, bronkiolitis, pneumonia
- Asthma and COPD Overlap Syndrome (ACOS)
- GERD
7. Pemeriksaan - Laboratorium
Penunjang Darah : Eosinofilia, IgE spesifik
- Radiologi : normal atau hiperinflasi, untuk menyingkirkan
diagnosis banding dan mendeteksi ada tidaknya penyulit
(ateletaksis, emfisema, pneumothoraks, bronkiektasis)
8. Terapi
9. Edukasi - Memberi informasi kepada individu dan keluarga
mengenai seluk beluk penyakit, sifat penyakit, perubahan
penyakit, jenis dan mekanisme kerja obat-obatan dan
mengetahui kapan harus meminta pertolongan dokter
- Kontrol secara teratur antara lain untuk menilai dan
monitor berat asma secara berkala
- Pola hidup sehat
- Menjelaskan pentingnya melakukan pencegahan dengan
menghindari pencetus, menggunakan
bronkodilator/steroid inhalasi sebelum melakukan
exercise untuk mencegah exercise induced asthma
10. Prognosis Ad vitam : dubia adbonam
Ad sanationam : dubia adbonam
Ad fungsionam : dubia adbonam
11. Indikator Medis - Pasien asma teratasi dengan atau tanpa komplikasi dalam
waktu 3 hari perawatan.
- Target 90% pasien asma teratasi dengan atau tanpa
komplikasi dalam waktu 3 hari perawatan
12. Penelaah Kritis 1. Dr. Gigih Rahmandanu Poernomo Sp.P, M.Kes
2. Dr. Nurul Rohmawatiningrum
13. Kepustakaan Global Initiative for Asthma. Global Strategy for Asthma
Management and Prevention, 2018.
Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. Keputusan Menteri
Kesehatan 2008.

Purbalingga, Oktober 2018

Disetujui Oleh Dibuat Oleh


Ketua Komite Medis Ketua SMF Penyakit Dalam

Dr. Gigih Rahmandanu P, Sp.PD, M.Kes


PANDUAN PRAKTIS KLINIS (PPK)
KLINIK UTAMA PKU MUHAMMADIYAH
PURBALINGGA
2018
TYPHOID Nomor dokumen DISAHKAN OLEH
DIREKTUR
FEVER
Tanggal Terbit
Dr. Setyana Eka Nurvidyaning
ICD 10 : A01. 0
NBM. 12208626
1. Pengertian Penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi kuman
(Definisi) Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi
2. Anamnesis - Demam intermiten hingga minggu kedua
- Anoreksia dan mual muntah
- Gangguan gastrointestinal (konstipasi, meteorismus, atau diare)
- Nyeri abdomen
3. Pemeriksaan Fisik - Suhu tubuh >37,5o C
- Bradikardia relatif (peningkatan suhu 1oC tidak diikuti
peningkatan denyut nadi 8x/menit)
- Lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepi dan ujung kemerahan
serta tremor)
- Kadang didapatkan :
▪ Hepatomegali
▪ Splenomegali
▪ Nyeri Abdomen
▪ Roseolae
4. Kriteria Diagnosis - Memenuhi kriteria anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang
- Laboratorium
▪ Leukopeni atau leukositosis
▪ Limfopenia
▪ Peningkatan LED
▪ Trombositopenia
▪ Gangguan fungsi hati
▪ Peningkatan titer uji widal tunggal dengan titer antibodi O
1/320 atau H 1/320
▪ Peningkatan titer 4x lipat pada pemeriksaan ulang dengan
interval 5 - 7 hari
5. Diagnosis Kerja Demam Tifoid
6. Diagnosis Banding - Demam Dengue dan demam berdarah dengue
- Leptospirosis
- Malaria
7. Pemeriksaan - Darah perifer lengkap
Penunjang - Tubex® TF
- Tes Fungsi hati
- Serologi widal
8. Terapi Farmakologis
▪ Simptomatis
1. Antimikroba
Pilihan Utama : Kloramfenikol 50-75 mg/kgBB/hari
dibagi 4 dosis selama 14 hari. Injeksi 4x500 mg sampai
dengan 7 hari bebas demam.
Trimetoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMZ) 160 mg
TMP ditambah 800 mg SMZ 2xsehari selama 2 minggu.
Ampisilin dan amoksisilin 50-100 mg/kgBB dibagi 2-3
dosis selama 2 minggu.
a. Fluorokuinolon,
Levofloksasin 1x500 mg/hari selama 5 hari
Siprofloksasin 2x500 mg/hari selama 6 hari
Ofloksasin 2x400 mg/hari selama 7 hari
Quinolon tidak dianjurkan untuk anak <18 tahun
b. Sefalosporin generasi III,
Ceftriakson injeksi dewasa 50-75 mg/kgBB/hari dibagi
1-2 dosis (2-4 gram/hari) selama 3-5 hari.
Ceftriakson injeksi anak 80 mg/kgBB/hari, IM atau IV
dosis tunggal selama 5 hari.
Cefotaksim injeksi dewasa 40-80 mg/kgBB/hari dibagi
2-3 dosis (2-3 x 1 gram)
Cefixim anak 20 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis selama
10 hari

2. Terapi simptomatis
a. Antipiretik
b. Pro kinetik
c. Mukoprotektor
d. H2Bloker

Kasus Kegawatdaruratan :
▪ Pada kasus toksis tifoid (demam tifoid disertai gangguan
kesadaran dengan atau tanpa kelainan neurologis lainnya dan
hasil pemeriksaan cairan otak masih dalam batas normal)
langsung diberikan kombinasi kloramfenikol 4 x 500 mg dengan
ampisilin 4 x 1 gram dan deksametason 3 x 5 mg
▪ Kombinasi antibiotika hanya diindikasikan pada toksis tifoid,
peritonitis atau perforasi, renjatan septik
▪ Steroid hanya diindikasikan pada toksis tifoid atau demam tifoid
yang mengalami renjatan septik dengan dosis 3 x 5 mg
Pada Kehamilan :
▪ Fluorokuinolon dan kotrimoksazol tidak boleh digunakan
▪ Kloramfenikol tidak dianjurkan pada trimester III
▪ Tiamfenikol tidak dianjurkan pada trimester I
▪ Obat yang dianjurkan golongan beta laktam : ampisilin,
amoksisilin, dan sefalosporin generasi III (Seftriakson)
9. Edukasi - Mencegah terjadinya demam tifoid dengan kewaspadaan terhadap
jalur penyebaran kuman melalui makanan, air, dan sanitasi
- Tanda-tanda kegawatdaruratan harus diberitahu kepada pasien dan
keluarga supaya bisa segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk
perawatan
10. Prognosis Ad vitam : bonam
Adsanationam : dubia adbonam
Adfungsionam : bonam
11. Indikator Medis - Keluhan berkurang
- Lama hari rawat : 3-4 hari
- Tidak ada tanda kegawatdaruratan dan komplikasi
- Target 90% Pasien demam tifoid teratasi dalam 3-4 hari
perawatan
12. Penelaah Kritis 1. Dr. Gigih Rahmandanu Poernomo Sp.PD, M.Kes
2. Dr. Nurul Rohmawatiningrum
13. Kepustakaan 1. The Diagnosis, Treatment and Prevention of Thypoid
Fever World Health Organization 2003
2. Journal of The Association of Physicians of India Vol 63
2015

Purbalingga, Oktober 2018

Disetujui Oleh Dibuat Oleh


Ketua Komite Medik Ketua SMF Penyakit Dalam

Dr. Gigih Rahmandanu P, Sp.PD, M.Kes


PANDUAN PRAKTIS KLINIS (PPK)
KLINIK UTAMA PKU MUHAMMADIYAH
PURBALINGGA
2018
DEMAM Nomor dokumen DISAHKAN OLEH
DIREKTUR
BERDARAH
DENGUE
Tanggal Terbit
Dr. Setyana Eka Nurvidyaning
ICD 10 : A91 NBM. 12208626
1. Pengertian Suatu penyakit demam akut yang memenuhi kriteria demam dengue
(Definisi) disertai kebocoran plasma. Penyakit ini disebabkan oleh virus genus
Flavivirus, family Flaviviridae yang mempunyai 4 serotipe yaitu
DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4 melalui perantara nyamuk
Aedes aegypti atau Aedes albopticus.
2. Anamnesis - Demam atau riwayat demam akut, atara 2-7 hari, biasanya bifasik
- Nyeri Kepala
- Nyeri retroorbita
- Mialgia
- Artralgia
- Dapat ditemukan manifestasi perdarahan
3. Pemeriksaan Fisik - Demam tinggi
- Nyeri kepala
- Nyeri retroorbita
- Mialgia
- Artralgia
- Mual muntah
- Anorexia
- Hepatomegali
- Tanda Kebocoran plasma (asites, efusi pleura)
- Manifestasi perdarahan (Rumple leed positif, petekie, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi, perdarahan konjungtiva hematemesis,
melena)
4. Kriteria Diagnosis - Memenuhi kriteria anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang
- Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut ini:
▪ Rumple leed positif (>20 petekie dalam 2,54 cm2)
▪ Petekie, ekimosis, atau purpura
▪ Perdarahan mukosa, saluran cerna, konjungtiva.
▪ Hematemesis atau melena.
- Laboratorium
▪ Leukopenia
▪ Trombositopenia <100.000/mm3
▪ Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma leakage (efusi
pleura, efusi perikard, asites, atau hipoproteinemia)
▪ Hemokonsentrasi ≥ 20% dibanding hematokrit rata-rata pada
usia, jenis kelamin, dan populasi yang sama
▪ Hematokrit turun hingga >20% dari hematokrit awal, setelah
pemberian cairan
▪ Uji serologic hemaglutinasi positif (IgG, IgM Dengue)
Klasifikasi Derajat Demam Berdarah Dengue

5. Diagnosis Kerja Demam Berdarah Dengue (derajat 1, 2, 3, 4)


Demam Berdarah Dengue dengan komplikasi (ensepalopati, gagal
ginjal, miokarditis)
6. Diagnosis Banding - Exantema subitum
- German measles
- Chikungunya
- Leptospirosis
- Demam tifoid
- Syok septik
7. Pemeriksaan - Darah lengkap, ditambahkan dengan trombosit dan hematokrit
Penunjang serial
- Fungsi hati (SGOT, SGPT)
- Fungsi Ginjal (BUN,serum kreatinin)
- IgM dan IgG Dengue
- Deteksi antigen virus (NS1)
- Xray Thorax
8. Terapi Farmakologis
▪ Antipiretik : Parasetamol 10-15 mg/kgBB/kali, 4-6 x/hari bila
perlu
▪ O2 nasal atau masker sesuai klinis
▪ Transfusi WB atau komponen lain bila diperlukan
▪ Pemeliharaan volume cairan sirkulasi
9. Edukasi - Menjelaskan pentingnya terapi cairan
- Menjelaskan pentingnya pemeriksaan darah berkala
- Menjelaskan tentang prognosis sesuai klinis

10. Prognosis Ad vitam : dubia adbonam


Adsanationam : dubia adbonam
Adfungsionam : dubia bonam
11. Indikator Medis - Target 80% pasien dirawat selama 3-5 hari bila tanpa komplikasi
- Bila berkembang menjadi DBD dengan komplikasi maka lama
perawatan dapat 5-7 hari
12. Penelaah Kritis 1. Dr. Gigih Rahmandanu Poernomo Sp.P, M.Kes
2. Dr. Nurul Rohmawatiningrum
13. Kepustakaan Clinical Guidelines Diagnosis and Treatment Manual 2017

Purbalingga, Oktober 2018

Disetujui Oleh Dibuat Oleh


Ketua Komite Medik Ketua SMF Penyakit Dalam

Dr. Gigih Rahmandanu P, Sp.PD, M.Kes


PANDUAN PRAKTIS KLINIS (PPK)
KLINIK UTAMA PKU MUHAMMADIYAH
PURBALINGGA
2018
KEJANG Nomor dokumen DISAHKAN OLEH
DIREKTUR
DEMAM
Tanggal Terbit
Dr. Setyana Eka Nurvidyaning
ICD 10 : R56.0
NBM. 12208626
1. Pengertian Bangkitan kejang yang terjadi pada anak berumur 6 bulan sampai 5
(Definisi) tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (suhu di atas 38oC,
dengan metode pengukuran suhu apa pun) yang tidak disebabkan
oleh proses intrakranial dan bukan karena gangguan elektrolit atau
metabolik lainnya .
2. Anamnesis - Tipe Demam
- Tipe kejang
▪ Kejang Demam Sederhana (simple febrile seizure)
Kejang demam yang berlangsung singkat <15 menit, bentuk
kejang umum (tonik dan atau klonik), serta tidak berulang
dalam waktu 24 jam.
▪ Kejang Demam Kompleks (complex febrile seizure)
Kejang demam dengan salah satu ciri berikut, kejang lama <15
menit, kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum
didahului kejang parsial. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam
waktu 24 jam.
- Durasi kejang, suhu sebelum/saat kejang, frekuensi dalam 24 jam,
interval, keadaan anak pasca kejang
- Penyebab demam di luar infeksi susunan saraf pusat (gejala
Tonsilofaringitis akut/TFA, infeksi saluran napas akut/ISPA,
infeksi saluran kemih/ISK, otitis media akut/OMA, gastroenteritis
akut/GEA, dll)
- Riwayat perkembangan, riwayat kejang demam dan epilepsi dalam
keluarga
3. Pemeriksaan Fisik - Statu Kesadaran
- Suhu tubuh >38oC
- Serangan kejang berupa klonik umum atau tonik klonik
- Fokal infekksi di luar SSP : TFA, ISPA, OMA, ISK, GEA, dll
- Pemeriksaan neurologi : tonus, motorik, reflex fisiologis, reflex
patologis
4. Kriteria Diagnosis Memenuhi kriteria anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang
5. Diagnosis Kerja Kejang demam
- Kejang demam Sederhana
- Kejang demam Kompleks
6. Diagnosis Banding - Meningitis
- Ensefalitis
- Epilepsi
- Gangguan metabolik seperti gangguan elektrolit
7. Pemeriksaan - Darah Lengkap
Penunjang - Gula darah
- Urinalisis
8. Terapi - Farmakologis
*Fenitoin IV diencerkan dalam NaCl 0.9%, dengan pengenceran
10 mg fenitoin dalam 1 ml NaCl 0.9% dengan kecepatan
pemberian 1 mg/kgBB/menit, maksimum 50 mg/menit, dosis
inisial maksimum adalah 1000 mg.
▪ Antipiretik
Paracetamol 10-15 mg/kgBB/kali diberikan tiap 4-6 jam
Ibuprofen 5-10 mg/kgBB/kali 3-4 kali sehari
▪ Antibiotik untuk infeksi penyebab demam
▪ Profilaksis intermiten dengan diazepam oral/rektal, dosis 0,3
mg/kgBB/kali tiap 8 jam hanya diberikan selama 48 jam
pertama episode demam
▪ Profilaksis kontinyu, dengan:
Fenobarbital dosis 4-6 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis, atau
Asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari dibagi 2-3
dosis
Profilaksis hanya diberikan pada kasus tertentu seperti kejang
demam dengan status epileptikus, terdapat defisit neurologis
yang nyata seperti cerebral palsy. Profilaksis diberikan selama
1 tahun bebas kejang.
9. Edukasi - Menjelaskan prognosis kejang demam
- Memberitahukan cara penanganan kejang
- Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang
kembali
10. Prognosis Ad vitam : dubia adbonam
Adsanationam : dubia adbonam
Adfungsionam : dubia adbonam
11. Indikator Medis Target 90% pasien dirawat bebas kejang selama 3 hari bila
tanpa komplikasi
12. Penelaah Kritis 1. Dr. Ardhian Budi Kusuma, Sp. A, M.Kes
2. Dr. Nurul Rohmawatiningrum
13. Kepustakaan Rekomendasi Penatalaksanaan Kejang Demam Ikatan
Dokter Anak Indonesia 2016

Purbalingga, Oktober 2018

Disetujui Oleh Dibuat Oleh


Ketua Komite Medik Ketua SMF Anak

Dr. Ardhian Budi Kusuma, Sp. A, M.Kes


PANDUAN PRAKTIS KLINIS (PPK)
KLINIK UTAMA PKU MUHAMMADIYAH
PURBALINGGA
2018
HIPERTENSI Nomor dokumen DISAHKAN OLEH
DIREKTUR
ESENSIAL
Tanggal Terbit
Dr. Setyana Eka Nurvidyaning
ICD 10 : I10 NBM. 12208626
1. Pengertian Hipertensi esensial merupakan hipertensi yang tidak diketahui
(Definisi) penyebabnya.
2. Anamnesis 1. Mulai dari tidak bergejala sampai dengan bergejala. Keluhan
hipertensi antara lain:
a. Sakit atau nyeri kepala
b. Gelisah
c. Jantung berdebar-debar
d. Pusing
e. Leher kaku
f. Penglihatan kabur
g. Rasa sakit di dada
2. Keluhan tidak spesifik antara lain tidak nyaman kepala, mudah
lelah dan impotensi.
3. Faktor resiko pada hipertensi ada dua yaitu :
a. Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi
▪ Umur
▪ Jenis kelamin
▪ Riwayat hipertensi dan penyakit kardiovaskular dalam
keluarga.
b. Faktor resiko yang dapat dimodifikasi
▪ Riwayat pola makan (konsumsi garam berlebihan)
▪ Konsumsi alkohol berlebihan
▪ Aktivitas fisik kurang
▪ Kebiasaan merokok
▪ Obesitas
▪ Dislipidemia
▪ Diabetus Melitus
▪ Psikososial dan stres
3. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum tampak sehat, dapat terlihat sakit ringan -
berat bila terjadi komplikasi hipertensi ke organ lain.
2. Tekanan darah meningkat sesuai kriteria A Statement by the
American Society of Hypertension and the International Society
of Hypertension 2013.
Pada pasien dengan hipertensi, wajib diperiksa status
neurologis dan pemeriksaan fisik jantung (tekanan vena
jugular, batas jantung, dan ronki).
4. Kriteria Diagnosis Memenuhi kriteria anamnesis dan pemeriksaan fisik
5. Diagnosis Kerja Hipertensi
6. Diagnosis Banding - White collar hypertension,
- Nyeri akibat tekanan intraserebral,
- Ensefalitis
7. Pemeriksaan 1. Laboratorium
Penunjang ▪ Darah Lengkap
▪ Gula darah puasa
▪ Profil lipid
▪ Serum creatinine
▪ Urinalisis (proteinuria)
2. EKG
8. Terapi Peningkatan tekanan darah dapat dikontrol dengan perubahan gaya
hidup dan terapi farmakologis.
1. Perubahan gaya hidup meliputi :
Modifikasi Rekomendasi Rerata penurunan
TDS
Penurunan Jaga berat badan 5 – 20 mmHg / 10 kg
berat badan ideal (BMI: 18,5 -
24,9 kg/m2)
Dietary Diet kaya buah, 8 – 14 mmHg
Approaches to sayuran, produk
Stop rendah lemak
Hypertension dengan jumlah
(DASH) lemak total dan
lemak jenuh yang
rendah
Pembatasan Kurangi hingga 2 – 8 mmHg
asupan <100 mmol per hari
natrium (2.0 g natrium atau
6.5 g natrium
klorida atau 1
sendok teh garam
perhari)
Aktivitas fisik Aktivitas fisik 4 – 9 mmHg
aerobic aerobik yang teratur
(mis: jalan cepat) 30
menit sehari, hampir
setiap hari dalam
seminggu
Stop alkohol 2 – 4 mmHg

2. Terapi Farmakologis
a. Pemilihan anti hipertensi pada pasien dengan compelling
indication ( penyakit penyerta )

9. Edukasi 1. Edukasi tentang cara minum obat di rumah, perbedaan antara


obat-obatan yang harus diminum untuk jangka panjang
(misalnya untuk mengontrol tekanan darah) dan pemakaian
jangka pendek untuk menghilangkan gejala (misalnya untuk
mengatasi mengi), cara kerja tiap-tiap obat, dosis yang
digunakan untuk tiap obat dan berapa kali minum sehari.
2. Pemberian obat anti hipertensi merupakan pengobatan jangka
panjang. Kontrol pengobatan dilakukan setiap 2 minggu atau 1
bulan untuk mengoptimalkan hasil pengobatan.
3. Penjelasan penting lainnya adalah tentang pentingnya menjaga
kecukupan pasokan obat-obatan dan minum obat teratur seperti
yang disarankan meskipun tak ada gejala.
4. Individu dan keluarga perlu diinformasikan juga agar melakukan
pengukuran kadar gula darah, tekanan darah dan periksa urin
secara teratur. Pemeriksaan komplikasi hipertensi dilakukan
setiap 6 bulan atau minimal 1 tahun sekali.
10. Prognosis Ad vitam : dubia adbonam
Adsanationam : dubia adbonam
Adfungsionam : dubia
11. Indikator Medis Target 90% keluhan teratasi setelah dirawat selama 3 hari
bila tanpa komplikasi
12. Penelaah Kritis 1. Dr. Gigih Rahmandanu Poernomo Sp.PD, M.Kes
2. Dr. Nurul Rohmawatiningrum
3. Kepustakaan Guideline for the Prevention, Detection, Evaluation, and
Mangement of High Blood Pressure in Adults 2017

Purbalingga, Oktober 2018

Disetujui Oleh Dibuat Oleh


Ketua Komite Medik Ketua SMF Penyakit Dalam

Dr. Gigih Rahmandanu P, Sp.PD, M. Kes


PANDUAN PRAKTIS KLINIS (PPK)
KLINIK UTAMA PKU MUHAMMADIYAH
PURBALINGGA
2018
CONGESTIVE Nomor dokumen DISAHKAN OLEH
DIREKTUR
HEART
FAILURE
Tanggal Terbit
Dr. Setyana Eka Nurvidyaning
ICD 10 : I50.40 NBM. 12208626
1. Pengertian Sindrom klinis ditandai gejala dan tanda abnormalitas
(Definisi) struktur dan fungsi jantung, yang menyebabkan kegagalan
jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen metabolisme
tubuh.
2. Anamnesis Keluhan
1. Sesak pada saat beraktifitas (dyspneu d’effort)
2. Gangguan napas pada perubahan posisi (ortopneu)
3. Sesak napas malam hari (paroxysmal nocturnal dyspneu)
4. Keluhan tambahan: lemas, mual, muntah dan gangguan mental
pada orangtua

Faktor Risiko
1. Hipertensi
2. Dislipidemia
3. Obesitas
4. Merokok
5. Diabetes melitus
6. Riwayat gangguan jantung sebelumnya
7. Riwayat infark miokard
3. Pemeriksaan Fisik - Peningkatan tekanan vena jugular
- Frekuensi pernapasan meningkat
- Kardiomegali
- Gangguan bunyi jantung (gallop)
- Ronki pada pemeriksaan paru
- Hepatomegali
- Asites
- Edema perifer
4. Kriteria Diagnosis - Memenuhi kriteria anamnesis dan pemeriksaan fisik
- Diagnosis Klinis dapat ditegakkan berdasarkan kriteria
Framingham yaitu minimal 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor.
▪ Kriteria Mayor:
1. Sesak napas tiba-tiba pada malam hari (paroxysmal
nocturnal dyspneu)
2. Distensi vena-vena leher
3. Peningkatan tekanan vena jugularis
4. Ronki basah basal
5. Kardiomegali
6. Edema paru akut
7. Gallop (S3)
8. Refluks hepatojugular positif
▪ Kriteria Minor:
1. Edema ekstremitas
2. Batuk malam
3. Dyspneu d’effort (sesak ketika beraktifitas)
4. Hepatomegali
5. Efusi pleura
6. Penurunan kapasitas vital paru sepertiga dari normal
7. Takikardi >120 kali per menit
5. Diagnosis Kerja Gagal Jantung Kronis
6. Diagnosis Banding - Penyakit paru: obstruktif kronik (PPOK), asma, pneumonia,
infeksi paru berat (ARDS), emboli paru
- Penyakit Ginjal: Gagal ginjal kronik, sindrom nefrotik
- Sirosis hepatik
- Diabetes ketoasidosis
7. Pemeriksaan - X Ray thoraks untuk menilai kardiomegali dan melihat gambaran
Penunjang edema paru
- EKG (hipertrofi ventrikel kiri, atrial fibrilasi, perubahan
gelombang T, dan gambaran abnormal lain).
- Darah perifer lengkap
- Gula darah puasa
- Fungsi Hepar
- Fungsi Ginjal
8. Terapi Penatalaksanaan
1. Modifikasi gaya hidup
a.Pembatasan asupan cairan maksimal 1,5 liter (ringan),
maksimal 1 liter (berat)
b. Berhenti merokok dan konsumsi alkohol
2. Aktivitas fisik
a. Pada kondisi akut berat: tirah baring
b. Pada kondisi sedang atau ringan: batasi beban kerja sampai
60% hingga 80% dari denyut nadi maksimal (220/umur)
9. Edukasi - Edukasi tentang penyebab dan faktor risiko penyakit gagal jantung
kronik misalnya tidak terkontrolnya tekanan darah, kadar lemak
atau kadar gula darah.
- Pasien dan keluarga perlu diberitahu tanda-tanda kegawatan
kardiovaskular dan pentingnya untuk kontrol kembali setelah
pengobatan di rumah sakit.
- Patuh dalam pengobatan yang telah direncanakan.
- Menjaga lingkungan sekitar kondusif untuk pasien beraktivitas
dan berinteraksi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Adsanationam : dubia
Adfungsionam : dubia
11. Indikator Medis Target 80% pasien keluhan berkurang setelah dirawat
selama 3-5 hari bila tanpa komplikasi
12. Penelaah Kritis 1. Dr. Gigih Rahmandanu Poernomo Sp.PD, M.Kes
2. Dr. Nurul Rohmawatiningrum
13. Kepustakaan Panduan Praktis Klinis (PPK) dan Clinical Pathway (CP)
Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah 2016

Purbalingga, Oktober 2018

Disetujui Oleh Dibuat Oleh


Ketua Komite Medik Ketua SMF Penyakit Dalam

Dr. Gigih Rahmandanu P, Sp.PD, M.Kes


PANDUAN PRAKTIS KLINIS (PPK)
KLINIK UTAMA PKU MUHAMMADIYAH
PURBALINGGA
2018
DISPEPSIA Nomor dokumen DISAHKAN OLEH
DIREKTUR

Tanggal Terbit
Dr. Setyana Eka Nurvidyaning
ICD 10 : K30 NBM. 12208626
1. Pengertian (Definisi) Kumpulan gejala-gejala klinis yang terdiri dari nyeri ulu
hati, kembung, cepat kenyang, mual dengan atau tanpa
muntah, sendawa, anoreksia, dan rasa asam/pahit dimulut
2. Anamnesis - Nyeri epigastrium
- Rasa terbakar di epigastrium
- Rasa penuh atau tidak nyaman di epigastrium
- Mual dengan atau tanpa muntah
- Anoreksia
- Rasa asam/pahit di mulut
- Gejala yang dirasakan harus berlangsung setidaknya selama tiga
bulan terakhir dengan awitan gejala enam bulan sebelum
diagnosis ditegakkan
3. Pemeriksaan Fisik - Nyeri tekan epigastrium
- Meteorismus
- Bising usus normal atau menurun
4. Kriteria Diagnosis Memenuhi kriteria anamnesis dan pemeriksaan fisik
5. Diagnosis Kerja Dispepsia
6. Diagnosis Banding - Gastritis
- Esofagitis
- GERD
- Irritable Bowel Syndrome (IBS)
- Pankreatitis
- Cholecystitis
7. Pemeriksaan - SGOT/SGPT
Penunjang - USG abdomen
- EKG bila ada kecurigaan ke arah penyakit jantung
- Endoskopi (direkomendasikan pada pasien >60 tahun)
8. Terapi
- H2Bloker
Ranitidin 150 mg/kali
- Mukoprotektor
Sukralfat
- PPI
Omeprazole 2 x 20 mg
Lansoprazole 2 x 30 mg
- Antasida 3 x 500-1000 mg
- Prokinetik
Metoclopramid PO 3x10 mg, 1/2 jam sebelum makan
Hyoscine butylbromide PO 3X10mg, 1/2 jam sebelum makan
Domperidon 3x10 mg
9. Edukasi - Edukasi mengenai penyakit, pencegahan, life style modification,
dan komplikasi
- Menjelaskan mengenai alarm symptoms seperti perdarahan, berat
badan menurun 10% dalam 6 bulan, dan mual muntah berlebihan
10. Prognosis Ad vitam : dubia adbonam
Adsanationam : dubia adbonam
Adfungsionam : dubia adbonam
11. Indikator Medis Target 90% pasien sembuh setelah dirawat selama 3 hari
bila tanpa komplikasi
12. Penelaah Kritis 1. Dr. Gigih Rahmandanu Poernomo Sp.PD, M.Kes
2. Dr. Nurul Rohmawatiningrum
13. Kepustakaan American College of Gastroenterology and CAG Clinical
Guideline: Management of Dyspepsia, 2018
Purbalingga, Oktober 2018

Disetujui Oleh Dibuat Oleh


Ketua Komite Medik Ketua SMF Penyakit Dalam

Dr. Gigih Rahmandanu P, Sp.PD, M. Kes


PANDUAN PRAKTIS KLINIS (PPK)
KLINIK UTAMA PKU MUHAMMADIYAH
PURBALINGGA
2018
KRISIS Nomor dokumen DISAHKAN OLEH
HIPERGLIKEMIA DIREKTUR

Tanggal Terbit
ICD 10 : E13.11 Dr. Setyana Eka Nurvidyaning
NBM. 12208626
1. Pengertian (Definisi) Merupakan komplikasi akut yang dapat terjadi pada diabetes
mellitus baik tipe 1 maupun tipe 2.
Ketoasidosis Diabetika (KAD) adalah keadaan yang ditandai
dengan asidosis metabolik akibat pembentukan keton yang
berlebihan.
Status Hiperosmolar Hiperglikemik (SHH) atau kondisi yang
ditandai dengan hiperosmolalitas erat dengan kadar glukosa serum
yang biasanya lebih tinggi dari KAD murni.
2. Anamnesis 1. Keluhan poliuri, polidipsi, polifagi atau sudah jelas terdiagnosis
diabetes mellitus sebelumnya
2. Riwayat berhenti menyuntik insulin.
3. Demam/infeksi.
4. Muntah.
5. Nyeri perut.
6. Penurunan kesadaran
3. Pemeriksaan Fisik - Kesadaran: CM-delirium-koma
- Pernafasan cepat dan dalam (Kussmaul)
- Dehidrasi (turgor kulit, lidah dan bibir kering)
- Dapat disertai syok hipovolemik
4. Kriteria Diagnosis Memenuhi kriteria anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang

5. Diagnosis Kerja Krisis Hiperglikemia


6. Diagnosis Banding - Ketoasidosis Diabetik
-Hiperglikemi hiperosmolar non ketotik (hyperglycemic
hyperosmolar state)
- Ensefalopati uremikum
- Asidosis uremikum
7. Pemeriksaan - Darah rutin
Penunjang - Gula darah
- Elektrolit
- Ureum, kreatinin
- Urin rutin
- EKG
8. Terapi - Akses IV 2 jalur.
- NaCl 0,9% diberikan ± 1-2 L pada 1 jam pertama, lalu ± 1 L pada
jam kedua, lalu ± 0,5 L pada jam ketiga dan keempat, dan ± 0,25
L pada jam kelima dan keenam, selanjutnya sesuai kebutuhan.
Bila GD<200 mg/dL, infus diganti Dekstrose 5%
- Regular Insulin (RI) diberikan setelah 1 jam rehidrasi cairan. RI
bolus 180 mU/kgBB IV dilanjutkan RI drip 90 mU/kgBB/jam
dalam NaCl 0,9%
Bila GD<200 mg/dL pada KAD kecepatan insulin IV dikurangi
45 mU/jam/kgBB, infus diganti Dekstrose 5%
Bila GD stabil 200-300 mg/dL selama 12 jam dan pasien dapat
makan, dapat dimulai pemberian insulin IV kontinyu 1-2U/jam
disertai insulin koreksional. Insulin IV dihentikan kemudian
dilanjutkan pemberian insulin fixed dose basal bolus disesuaikan
kebutuhan sebelumnya.
- Antibiotik adekuat pada kasus infeksi

9. Edukasi - Pengaturan makan


- Kontrol kadar gula darah
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad malam
Adsanationam : dubia ad malam
Adfungsionam : dubia ad malam
11. Indikator Medis Target 80% pasien sembuh setelah dirawat selama 3-5 hari
bila tanpa komplikasi
12. Penelaah Kritis 1. Dr. Gigih Rahmandanu Poernomo Sp.PD
2. Dr. Nurul Rohmawatiningrum
13. Kepustakaan

Purbalingga, Oktober 2018

Disetujui Oleh Dibuat Oleh


Ketua Komite Medik Ketua SMF Penyakit Dalam

Dr. Gigih Rahmandanu P, Sp.PD, M. Kes


PANDUAN PRAKTIS KLINIS (PPK)
KLINIK UTAMA PKU MUHAMMADIYAH
PURBALINGGA
2018
KRISIS Nomor dokumen DISAHKAN OLEH
HIPERTENSI DIREKTUR

Tanggal Terbit

ICD 10 : I16 Dr. Setyana Eka Nurvidyaning


NBM. 12208626
1. Pengertian (Definisi) Keadaan hipertensi yg memerlukan penurunan tekanan darah segera
karena akan mempengaruhi keadaan pasien selanjutnya. Dibagi
dua :
1. HT emergensi : Memerlukan penurunan TD segera dgn obat
anti hipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ akut
atau progrsif.
2. HT urgensi :Peningkatan tekanan darah bermakna tanpa adanya
gejala kerusakan organ target progersif dan tekana darah perlu
diturunkan dalam beberapa jam.
2. Anamnesis 1. Nyeri Kepala
2. Mual
3. Muntah
4. Riwayat hipertensi dan terapinya
5. Gangguan penglihatan/pandangan kabur
3. Pemeriksaan Fisik TD pada kedua ektremitas, perabaan denyut nadi perifer, bunyi
jantung, bruit pada abdomen, adanya edema, funduskopi dan status
neurologis
4. Kriteria Diagnosis Memenuhi kriteria anamnesis dan pemeriksaan fisik
5. Diagnosis Kerja Krisis Hipertensi
- Hipertensi Emergency
- Hipertensi Urgency
6. Diagnosis Banding - Stroke Hemorhagic / Non Hemorhagic

7. Pemeriksaan - Darah/urine rutin


Penunjang - Ureum, kreatinin
- Gula darah
- Profil lipid
- Asam urat
- Ro thorax
- EKG
8. Terapi Target terapi HT emergensi sanpai TD diastolik kurang lebih 110
mmHg atau berkurangnya MAP 25% ( pd stroke 20% dan stroke
iskemik TD diturunkan bertahap bila TD > 220/130) dlm waktu 2
jam. Penuruan TD pada HT urgensi dilakukan Secara bertahap dlm
waktu 24 jam

HT urgensi :
1. Kaptopril 6,25-50 mg per oral/ sublingual
2. Klonidin : dosis awal 0,15 mg, selanjutnya 0,15 mg tiap jam
dapat diberi sampai dosis total 0,9 mg
3. Furosemid :20-40 mg peroral

HT emergensi
1. Diltiazem : Bolus iv 10 mg (0m25 mg/kg BB) dilanjutkan
infus 5-10 mg
2. Klonidin : 6 ampul dalam 250 ml cairan infus, diberi titrasi
3. Nitrogliserin : Infus 5-100 mcg/menit. Dosis awal 5 mcg
/menit, dpt ditingkatkan menjadi 5 mcg/menit tiap 3-5 menit.
4. Furosemide : 20-40 mg, hanya diberikan bila terdapat retensi
cairan.
5. Nikardipin (10 mg / ml)dosis awal 100 mg dlm 100 cc kitrasi
biapisi.

Pada hipertensi emergensi, jika target TD tercapai, dapat berpindah


ke obat anti hipertensi oral.
9. Edukasi - Diet rendah garam
- Menurunkan BB
- Menghindari stress

10. Prognosis Ad vitam : dubia


Adsanationam : dubia
Adfungsionam : dubia
11. Indikator Medis 90% pasien sembuh setelah dirawat selama3 hari bila tanpa
komplikasi
12. Penelaah Kritis 1. Dr. Gigih Rahmandanu Poernomo Sp.PD, M. Kes
2. Dr. Nurul Rohmawatiningrum
13. Kepustakaan Guideline for the Prevention, Detection, Evaluation, and
Management of High Blood Pressure in Adults2017
Purbalingga, Oktober 2018

Disetujui Oleh Dibuat Oleh


Ketua Komite Medik Ketua SMF Penyakit Dalam

Dr. Gigih Rahmandanu P, Sp.PD, M. Kes


PANDUAN PRAKTIS KLINIS (PPK)
KLINIK UTAMA PKU MUHAMMADIYAH
PURBALINGGA
2018
PPOK Nomor dokumen DISAHKAN OLEH
DIREKTUR

Tanggal Terbit
Dr. Setyana Eka Nurvidyaning
ICD 10 : J44.1 NBM. 12208626
1. Pengertian (Definisi) Penyakit respirasi kronis yang dapat dicegah dan dapat diobati,
ditandai adanya hambatan aliran udara yang persisten dan biasanya
bersift progresif serta berhubungan dengan peningkatan respons
inflamasi kronis saluran napas yang disebabkan oleh gas atau
partikel iritan tertentu.
2. Anamnesis - Sesak nafas yang progresif, bertambah berat dengan aktifitas, rasa
berat saat bernapas
- Batuk kronik dengan atau tanpa dahak (pada bronkitis kronik
keadaan ini terjadi setiap hari selama ≥ 3 bulan dalam 1 tahun
pada sedikitnya 2 tahun berturut-turut
- Faktor resiko perokok aktif, perokok pasif. Paparan terhadap
partikel berbahaya, debu, status sosioekonomi. Riwayat penyakit
sebelumnya, riwayat keluarga PPOK atau penyakit respirasi
lainnya.
3. Pemeriksaan Fisik - Hiperinflasi paru “barrel chest”
- Peningkatan kerja otot pernafasan
- Ekspirasi memanjang
- Perkusi hipersonor
- Batas paru hati menurun
- Batas jantung mengecil
- Suara nafas vesikuler melemah, dapat disertai bising mengi dan
ronkhi kering
- Sianosis
- Pursed lips breathing
4. Kriteria Diagnosis Memenuhi kriteria anamnesis, dan pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang

Klasifikasi Tingkat Keparahan GOLD berdasarkan hasil


pengukuran Spirometri
Combined COPD Assessment

Klasifikasi pasien berdasarkan Combined COPD Assesment


1. Kelompok A - Rendah Risiko, Sedikit Gejala
Pasien dengan klasifikasi GOLD 1 atau 2, mengalami eksaserbasi
paling banyak 1 kali dalam setahun dan tidak pernah mengalami
perawatan rumah sakit akibat eksaserbasi, serta hasil penilaian
CAT score<10 atau mMRC grade 0-1
2. Kelompok B - Rendah risiko, Banyak Gejala
Pasien dengan klasifikasi GOLD 1 atau 2, mengalami eksaserbasi
paling banyak 1 kali dalam setahun dan tidak pernah mengalami
erawatan rumah sakit akibat eksaserbasi, serta hasil penilaian
CAT score ≥10 atau mMRC grade ≥2
3. Kelompok C - Tinggi Risiko, Sedikit Gejala
Pasien dengan klasifikasi GOLD 3 atau 4, dan/mengalami
eksaserbasi sebanyak ≥2 kali per tahun atau ≥1 kali mengalami
perawatan rumah sakit akibat eksaserbasi, serta hasil penilaian
CAT score < 10 atau mMRC grade 0-1
4. Kelompok D - Tinggi Risiko, Banyak Gejala
Pasien dengan klasifikasi GOLD 3 atau 4, dan/ mengalami
eksaserbasi sebanyak ≥2 kali per tahun atau ≥1 kali mengalami
perawatan rumah sakit akibat eksaserbasi, serta hasil penilaian
CAT score ≥10 atau mMRC grade ≥2
5. Diagnosis Kerja Penyakit Paru Obstruktif Kronis
6. Diagnosis Banding - Asma Bronkial
- Pneumonia
- TB Paru
- Asthma and COPD Overlap Syndrome (ACOS)
- Congestive Heart Failure
7. Pemeriksaan - Darah/urine rutin
Penunjang - Ro thorax
- Spirometri
- EKG
8. Terapi - Oksigen 1-2 l/menit
- Bronkodilator
▪ B2 Agonist (short-acting dan long-acting)
▪ Antikolinergik
▪ Kombinasi antikolinergik dan agonis beta 2
▪ Xanthine
-Kortikosteroid digunakan prednison 30 mg/hari selama 2-4 minggu
- Antibiotika jika ada infeksi sekunder
Lini 1 : Amoksisilin
Makrolid
Lini II : Amoksisilin dan asam klavulanat
Sefalosporin
Quinolon
Makrolid
- Antioksidan
- Mukolitik dan ekspektoransia.

Tatalaksana Farmakologis sesuai Grup


9. Edukasi - Hindari iritasi kronik seperti rokok, debu, dsb.

10. Prognosis Ad vitam : dubia adbonam


Adsanationam : dubia adbonam
Adfungsionam : dubia adbonam
11. Indikator Medis Target 90% pasien sembuh setelah dirawat selama 3 hari
bila tanpa komplikasi
12. Penelaah Kritis 1. Dr. Gigih Rahmandanu Poernomo Sp.PD, M. Kes
2. Dr. Nurul Rohmawatiningrum
13. Kepustakaan Penyakit Paru Obstruktif Kronik. Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia 2003
GOLD 2017 : An Update for ICS/LABA role in COPD
management

Purbalingga, Oktober 2018

Disetujui Oleh Dibuat Oleh


Ketua Komite Medik Ketua SMF Penyakit Dalam

Dr. Gigih Rahmandanu P, Sp.PD, M. Kes