Anda di halaman 1dari 13

PEMERIKSAAN FISIK HEAD TO TOE

A. PERSIAPAN ALAT
1. Stetoskop
2. Garpu tala
3. Hemmer
4. Spatel
5. Head lamp
6. Speculum hidung dan telinga
7. Penlight
8. Scelen card
9. Kapas cornea
10. Centi meter
11. Selimut
12. Benda-benda yang dikenal pasien seperti : kopi, gula, garam
13. Buku catatan untuk pendokumentasian
B. Persiapan pasien
1. Menjelaskan prosedur yang akan dilaksanakan
2. Membebaskan pakaian pada organ yang akan diperiksa
3. Memasang sampiran
4. Cuci tangan (untuk perawat)
C. Pelaksanaan
1. Menilai tingkat kesadaran
- Kompas mentis
- Apatis
- Sommolen
- Sopor
Koma
Pemeriksaan kepala dan leher
Kepala
Inspeksi
1. Bentuk kepala
2. Perhatian wajah kllien apakah simetris atau tidak
Palpasi
1. Gunakan ujung jari untuk membedakan tekstur permukaan kulit dan bantalan tangan anda
menentukan konsistensi struktur bertulang atau lesi
2. Palpasi kepala untuk kesimetrisan dan kontur

Pemeriksaan mata
Inspeksi
1. Bentuk mata simetris kiri dan kanan
2. Kelopak mata : lesi, radang, edema, tumor, (herdeulum)
3. Bulu mata harus terdistribusi rata sepanjang kelopak mata
4. Bola mata cerah dan jernih
5. Inspeksi konjungtiva dan sklera , konjungtiva berwarna merah dan sklera putih bersih
Cara inspeksi
a. Anjurkan pasien untuk melihat lurus kedepan
b. Amati konjungtiva, untuk mengetahui adanya kemerahan
c. Tarik kelopak mata bawah kebawah dengan menggunakan ibu jari
d. Amati keadaan konjungtiva dan kantong konjungtiva bagian bawah
e. Amati juga warna sklera waktu memeriksa konjungtiva
6. Inspeksi pupil, warnanya htam , diameter 2-5 m periksa kesamaan ukuran bentuk, reaksi
terhadap[ cahaya
Cara menguji rekasi pupil terhadap cahaya
a. Tempatkan pasien pada tempat yang kurang terang
b. Minta klien memandang kedepan dan menatap lurus kearah titik yang sudah ditentukan
c. Pupil disinari dari samping ketengah pupil , normalnya mengecil ( miosis) dan isokor (sama
besar
2. Kemudian, menggunakan jari teiunjuk dan ibu jari yang memakai sarung tangan, buka labia
mayora dengan perlaftan dan cari ha!-hal berikut: labia mayora dan labia minora, klitoris,
instroiius vagina, dan rabas, yang tidak berbau dan tidak mengiritasi mukosa
3. Genetilia eksternal hams merah jambu dan lembab dengan tidak ada varises, lesi,
organisme,
edemia, atau rabas abnormal

Femeriksaan otot, tufang, dan sendi


1. Lakukan inspeksi mengenai ukuran otot, amati kenormalan susunan tuiang dan
deformitas,lakukan inspeksi persendian untuk mengetahui adanya persendian

2. Lakukan palpasi pada otot saat istirahat untuk mengetahui tonus otot, dan lakukan palpasi
saatotot bergerak aktif dan pasif untuk mengetahui adanya keiemahan
3. Lakukan palpasi tuiang untuk mengetahui adanya edema atau nyeri tekan
4. Lakukan palpasi persendian untuk mengetahui adanya nyeri tekan, gerakan, bengkak
dankrepitasi
5. Uji kekuatan oto
0 = Tidak bisa bergerak
1 = Sedikit geraka
2 = Mampu mengangkat taps iidak mampu rrielawan gravitasi
3 = Mampu melawan gravitasi tapi tidak mampu melawan tahanan
4 = Mampu melawan grayiiasi, melawan tahanan-tapi sedikit dorongan, bukan kekuatan otot
penuh
5 = Kekuatan otot penuh
6. Menguji Muskulus trapezius paling baikjika diuji secara bersamaan,mintaklien mengangkat
bahunya dengan bebas kemudian tekan ke bawah
7. Menguji kekuatan trisep, coba memfleksikan lengan kiien sementaraklien mencoba
mengekstensikannya

8. Untuk rnenguji kekuatan deltoid, minta klien meneientangkan tangannya,


setelahitu dorong ke bawah sementara klien menahannya
9. Untuk mengkaji kekuatan biseps coba menarik lengan klien yang fleksi menjadi ekstensi
sementara klien menahannya.
10. Untuk mengkaji ekstensor iutut minta kiien duduk atau berbaring terientang dan
mengekstensikan tungkai semeniara anda berusa'na memfleksikannya.
11. Untuk mengkaji fieksor lutut, minta klien duduk atau berbaring sementara anda
berusahamengekstensikan tungkai klien
12. Untuk mengkaji dorslefeksi pergeiangan kaki, letakkan tangan anda pada permukaan dorsal dari
kaki klien dan beri tekanan, Minta kiein menekuk kaki ke atas melawan tahanan anda

Pemeriksaan kulit, kuku dan rambut

1. Inspeksi kulit: Hygiene kuiit, keiembaban, tekstur, macam-macam lesi, anemis, cyanosis,
icterus
2. Palpasi kulit untuk mengetahui suhu tekstur dan turgor (pemeriksaan turgor kulit dilakukan
padabagian sternum
3. Inspeksi dan palpasi kuku dan catat mengenai warna, bentuk/sudut, normalnya 160° sudut
antara plat kuku dan posterior kuku
4. Inspeksi dan paipasi rambut dan perhatikan jumlah, distribusi dan teksturnya.
7. Inspeksi gerakan mata
Caranya:
a. Anjurkan pasien melihat lurus kedepan
b. Amati apakah ke cfua mata bergerak secara spontan (nistagrnus
c. amati apakah kedua mata memandang lurus ke depan atau salah satu deviasi, luruskan
jari telunjuk anda dan dekatkan dengan jarak sekitar 15-30 cm
d. Beritahu pasien untuk mengikuti gerakan jari anda, dan jaga posisi kepala pasien tetap.
Gerakan jari anda ke 8 arah, untuk mengetahui fungsi 6 otot mata, normal otot mata
pasienbisa ke segala arah
8. Inspeksi medan penglihatan (test konfrontasi)
Caranya:
a. Berdirilah di depan pasien
b. Kaji kedua mata secara terpisah yaitu dengan cara menutup mata yang tidak diperiksa
c. beritahu pasien untuk meiihat iurus ke depan dan memfokuskan pada satu titik
pandang,misalnya hidung anda
d. Gerakkan jari anda pada sualu garis vertika! dari samping, dekatkan ke mata secara
perlahan-lahan
e. anjurkan pasien untuk memberitahu sewaktu mulai meiihat jari anda
f. kajian sebelahnya
9. pemeriksaan virus ( Ketajaman penglihatan)
Caranya :
a. Siapkan snelien card untuk pasien dewasa dan gambar untuk pasien anak-anak
b. Atur kursi atau tempat duduk dengan jarak 5-6 m dari snelien card
c. Atur penerangan memadai sehingga kartu dapat di'baca
d. Beritahu pasien untuk menutup mata kiri dengan satu tangan
e. Pemeriksaan mata kanan dengan cara pasien dianjurkan untuk membaca mulai huruf
yang paling besar menuju huruf yang kedl dan catat tuiisan terakhir yang masih dapat
djbaca oieh pasien
Palpalasi
1. Palpasi dengan perlahan adanya pembengkakan dan nyeri tekan pada kelopak mata, serta
tekanan bola mata
2. Palpasi tekanan bola mata, dengan cara:
a. Beritahu pasien untuk duduk
b. Anjurkan pasien untuk memejamkan mata
c. Lakukan paipasi pada kedua mata, biia tekanan boia mata meninggi, boia mata akanteraba
keras.
3. Pemeriksaan refieks kornea/ refleks kedipan mata
a. Pegang kepafa/ dagu pasien
b. Untuk meiihat kornea sebeJah kanan maka pasien metirik ke kiri
c. Perawat menyentuh kornea kanan normainya kedua mata berkedip
Pemeriksaan Telinga
Inspeksi dan palpalasi telinga
1. Bantu pasien dalam posisi duduk, pasien anak-anak dapat diatur dipangkuan orang tua
2. Atur posisi_anda duduk menghadap pada sisi teiinga. yang akan dikaji
3. Untuk pencahayaan gunakan autoskop, atau iampu kepala
4. Mulailah mengamati teiinga luar, periksa keadaan terhadap ukuran, bentuk, warna, lesi dan
adanya massa
5. Lanjutkan pengkajian paipasi dengan cara memegang teilinga dengan jempol dan jari penunjuk
6. Bandingkan Palpalasi teilinga kiri dan kanan
7. Bila perlu, lanjutkan pengkajian teiinga dalam, dengan cara:
a. Pegang bagian "heliks atau bagian pinggir teilinga, jika pada anak daun teiinga ditarik ke
bawah
b. Amati pintu masuk lubang teiinga, hati-hati memasukkan spekufum, gunakan penlight
sebagai penerang
c. Amati dinding iubang telinga, membran timpani mengenai bentuk, warna, tranparansi,kilau
8. Pemeriksaan ketajaman pendengaran terdiri dari:
Test Rinne:
a. Vibrasikan garputala
b. Letakkan tangkai garputaia pada ujung mastoid
c. Anjurkan pasien untuk memfoeri tahu sewaktu tidak merasakan getaran
d. Pindahkan garputala di depan telinga pasien dengan posisi garpu tala parale! terhadap
lubang teiinga luar
e. Anjurkan pasien untuk memberi tahu apakah masih mendengar suara getaran atau tidak,
normalnya masih terdengar karena hantaran udara lebih baik dari hantaran tulang
Test Weber:
a. Vibrasikan garputala
b. Letakkan garpu tafa ditengah-tengah dahi pasien
c. Tanyakan pasien mengenai sebelah mana telinga mendengar suara getaran lebih keras.
Normainya kedua telinga dapat mendengar seimbang
d. Catat hasil pemeriksaan pendengaran
Pemeriksaan Hidung
inspeksi dan paipasi pada hidung foagian luar dan paipasi sinus-sinus adalah
1. Duduklah menghadap pada pasien
2. Atur penerangan dan amati hidung bagian luar dari sisi depan,samping dan sisi
atas.Perhatikan bentuk atau tuiang hidung dari ketiga sisi ini
3. Amati keadaan kulit hidung terhadap warna dan pembengkakan
4. Amati kesimetrian lubang/rongga hidung
5. Lanjutkan dengan melakukan palpasi hidung luar dan catat bila di temukan ketidak normalan
kulit atau tulang hidung
6. Palpalasi sinus maksilaris dan frontalis dengan cara: letakan ibu jari diatas mata tepat dibawah
ujung tulang orbitalis superior
Cara kerja inspeksi hidung bagian dalam
1. Duduk menghadap pasien
2. Pasang lampu kepala
3. Atur lampu hingga sesuai untuk menerangi lubang hidung
4. Elevasikan ujung hidung pasien dengan cara menekan hidung secara ringan dengan ibu
jari anda.kemudian amati bagian anterior lubang hidung
5. Amati posisi septum hidung
6. Pasang ujung speklum hidung pada iubang hidung sehingga rongga hidung dapat diamati
7. Untuk memudahkan pengamatan pada dasar hidung: maka atur pbsisi kepala sedikit
menengadah
8. Dorong kepala menengadah sehingga bagian atas rongga hidung mudah di amati ______________
9. Amati bentuk dan posisi septum,kartilago dan dinding.dinding rongga hidung serta
selaputlendir pada rongga hidung (wama,sekresl;benkak)
10. Bila sudah seiesai lepas spekulum secara pertahan-lahan

Pemeriksaan mulut dan faring


Pemeriksaan fisik rongga mulut mencakup inspeksi dan palpasi
inspeksi
Caranya:
1. Bantu pasien duduk berhadapan dengan anda,dengan tinggi yang sejajar
2. Amati bibir: warna bibir (sianosis,kemerahan),apakah ada iesifjsea palpasi
teksturkonsistensi),apaRah ada ulkus dan massa,ada kelainan kongenital (bibir sumbing).
3. Lanjutkan pengamaian pada gusi dan glgtapakah gusi membengkak.perdarahan pada
gusi.hipertropi gusi (pasien yang mendapatkan fenitan/dlaitin)
Hitung jumlah gigi apakah tengkap atau tidak (lengkap:32 gigi),apakah ada kanes.warna
gigi,gigi yang tangga lesi,jarak.posisi gigi,tumor gunakan penekanan lidah /spatel untuk
melihat lebihdalam)
4. Pemeriksaan setiap gigi dengan cara mengetuk secara sistematis.bandingkan gigi bagian
kiri.kanan.atas dan bawah serta anjurkan pasien untuk mernberi tahu bila merasa nyeri
sewaktu di ketuk
5. Perhatikan pula ciri-ciri umum secara keberhasiian mulut dan bau mulut
6. Lanjutkan pengamatan pada iidah dan kesimetrianya.anjurkan pasien untuk menjulurkan
lidahnya dan amati mengenai keiurusan.warna.uikus maupun adanya kelainan lain
7. Amati selaput lendir muiut secara sistematis pada semua bagian muiut mengenai
warna,adanya pembengkakan,tumor.sekresi.peradangan.ulkus dan perdarahan.
8. Beri kesempatan pasien untuk istirahat dan menutup muiut sejenak bila merasa capekjalu
lanjutkan dengan inspeksi faring dengan cara pasien dianjurkan untuk membuka
mulut,kemudian tekan Iidah kebawah saat pasien berkata "ah" amati faring terhadap
kesimetrian ovuia dan perhatikan adanya tonsil

Palpasi
caranya:
1. Atur posisi pasien duduk menghadap anda
2. Anjurkan pasien membuka mulut
3. Pegang pipi di antara ibu jari dan jari telunjuk.palpasi pipi secara sistematis dan perhatikan
terhadap adanya turnur atau pembengkakan atau fisura.Biia ada pembengkakan
determinasikan menurut ukuran,konsistensi,hubungan dengan daerah sekitarnya dan
adanya nyeri
4. Lanjutkan dengan paipasi pada palatum dengan jari telunjuk dan rasakan terhadap adanya
pembengkakan dan fisura
5. Palpasi dasar mulut dengan menganjurkan pasien untuk mengatakan "el",kemudian paipasi
di lakukan pada dasar muiut secara sistematis dengan cara menunjukan tangan kanan.bila
di periukan beri sedikit penekanan dengan ibu jari dart bawah dagu untuk mempermudah
palpasi
6. Palpasi mulut dengan cara menganjurkan pasien uniuk rnenjuiurkan Iidah,pegang Iidah
dengan kasa sterii.menggunakan tangan kiri.dengan jari menunjuk tangan kanan,lakukan
palpasih iidah terutama bagian beiakan dengan batas-batas iidah

Pemeriksaan Leher
1. Anjurkan pasien untuk melepas baju
2. Atur pencahayaan yang baik
3. Lakukan inspeksi Seher mengenai bentuk ieher.wama kulit.adanya
pembengkakan,jaringanparut dan adanya massa.
Inspeksi di iakukan secara sistematis mulai dari garis tengah sisi depan Ieher,dari samping dan
belakang
 Bentuk ieher ramping dan panjang = gizi jeiek dan TBC
 Leher pendek clan gemuk =gizi jelek dan TBC
 Leher kuning =lkterus
 merah,bengkak,panas dan nyeri tekanan
 Venajugularis
4. inspeksi tiroid dengan cara menanjurkan pasien untuk menefan,kemudian amati gerakan
kelenjar tiroid pada takik suprasternal.
Normainya gerakan kelenjar tiroicfldapat di ishat kecuaii pada orang yang sangat kurus
Palpasi
paipasi pada ieher diiakukan terutama untuk mengetahui keadaan dan iokasi,kelenjar tiroiddan
Irakhea
1. duduk di hadapan pasien
2. Letakan tangan anda pada ieher pasien
3. Palpasi pasa possa suprastemal dengan jari telunjuk dan jari tengah
4. Anjurkan pasien untuk menelan agar mempermudah dalam meiakukan paipasi
5. Palpasi dapat juga di lakukan dengan cara.p?rawat berdiri di beiakang pasien,tangan
diletakan mengelilingi ieher dan palpasi di lakukan dengan jari ke 2 dan ke 3
6. Bila teraba keienjar tiroid maka catat bentuk.ukuran konsistensidan permukaanya
7. Lakukan palpasi trakhea dengan cara berdiri di samping kanan pasien.Letakan jari tengah
pada bagian bawah. trakhea clan rabah trakhea ke atas,kebawah,dan kesamping sehingga
kedudukan trakhea dapat diketahaui

Pemeriksaan Dada dan Paru


Inspeksi
1. Lepas baju pasien dan tampakkan badan pasien sampai batas pinggang
2. Atur posisi pasien duduk
3. Yakinkan bahwa anda sudah siap (tangan faersih dan hangat), ruangan dan stetoskop
sudah siap
4. Beri penjelasan pada pasien tentangapa yang dikerjakan dan dianjurkan pasien untuk
rileks
5. Lakukan inspeksi bentuk dada dari 4 sisi, depan belakang sisi kanan dan kiri pada saat
istrahat dan diam, saat inspirasi dan ekspirasi perhatikan keseluruhan bentuk dada pigeon
chest, funnel chest, barrel chest
Palpasi
1. Lakukan palpasi untuk mengetahui ekspansi paru:
a. Lakukan kedua telapak tangan secara datar pada dinding dada depan
b. Anjurkan pasien untuk menarik napas
c. Rasakan gerakan dinding dada dan bandihgkan sisi kanan dan sisi kiri
d. Berdiriiah di beiakang pasien, letakkan tangan anda pada posisi dada pasien, perhatikan
getaran kesamping sewaktu pasien bernapas
e. Letakkan kedua tangan anda di punggung pasien dan bandingkan gerakan kedua sisi
dinding dada
2. Lakukan paipasi untuk rnengkaji tactil vremitus:
Minta pasien menyebut enam puiuh enam sambil melakukan palpasi dengan cara:
a. Letakkan telapak tangan anda pada bagian beiakang dinding dada dekat apek paru-paru
b. Ulangi iangkah a dengan tangan bergerak ke bagian dasar paru-paru
c. Bandingkan vremitus pada kedua sisi paru-paru dan kedua apek serta dasar paru-paru
d. Lakukan palpasi tactil vremitus pada dinding anterior

 Nyeri tekan dapat timbui akibat adanya luka, radang, tumor, biia ditemukan benjolan pada
dinding dada maka periu dideskripsikan secara jeSas mengenai ukuran, konsistensi dan
suhunya
 Pada saat bernapas, normalnya dada bergerak secara simetris, gerakan menjadi tidak
simetris (atelektasis paru/kolaps)
 Gerakan taktil vremitus dapat lebih keras aiau femah dari normainya, getaran menjadi
lebih keras misainya pada keadaan terdapat infiltrat. Getaran yang Sernah didapatkan dari
keadaan empisema, pneurnotoraks, dan atelektasis obstruktif
 Pada pengkajian tactil vremitus, vibrasi/getaran bicara secara normal dapat
ditransmisikan meialui dinding dada, getargn lebih terasa pada apek paru dan dinding dada
kanan lebih keras dari pada dinding dada kiri, karena bronkus sisi kanan lebih besar. pada
pria vremitus terasa iebsh karena suara pria iebih besar dari wanita

Perkusi
1. Lakukan perkusi paru anterior dengan posisi supinasi
a. Perkusi muiai dari atas klavikuia ke bawah pada setiap spesium interkostalis
b. Bandingkan sisi kanan dan sis; kiri
2. Lakukan perkusi pada paru posterior dengan posisi pasien sebaiknya duduk
a. Yakinkan du!u bahwa pasien telah duduk iurus
b. Mulai perkusi dari atas kebawah (dari resonan keredup) sampai bunyi didapatkan
c. Beri tanda dngan spidol pada tempat dimana didapatkan bunyi redup ( biasanya pada
spisium interkortalis ke-9 sedikit lebih tinggi dari posisi hati didada kanan
d. Minta pasien untuk menghembuskan napas secara maksimai dan menahannyapesium
irjterkostalis ke- 9, sedikit lebih tinggi dari posisi hati di dada kanan)
e. Lakukan perkusi dari bunyi redup (tanda i) ke atas. Biasanya bunyi redup ke II ditemukan
diatas tanda I. beri tanda pada kuIJt_yang ditemukan bunyi redup (tanda II)
f. Ukur jarak antara Tanda i dan tanda ii, pada wanita jarak ke i! tanda ini normalnya 3-5 cm
dan pada pria adaiah 5-8 cm
 "suara perkusi pada paru normal adalan resonan "dug dug dug"
 Bunyi "Bleg bleg bleg" terjadi apabila bagian padat pada paru lebih besar dari bagian udara
 Pada tumor paru akan didapatkan perkusi paru "pekak"
 Bunyi hyperresonan ditemukan pada pneumotorak "Deng deng deng" diman udara > dari
zat padat
 'Bunyi timpani ditemukan pada area yang mengatami penimbunan udara "dang dang
dang"
 Perkusi paru resonan, masuk ke area jantung menjadi redup
 Bunyi timpani pada spasitarn inierkostaiis ke 8 sisi kiri, lambung
 Batas antara^ paru dengan hepar ditemukan pada spesium interkostaiis ke 6 sisi kanan
 Batas dada untuk dada posterior di supraskapularis seiuas 3-4 jari dipundak, untuk batas
bawah setinggi vertebra torakal ke 10

Auskultasi
Ciri-ciri bunyi napas normal:
1. Vesikuler: Inspirasi > ekspirasi, iokasi_&ebagian area_paru kanan dan kiri
2. Bronkovesikuler: Inspirasi = ekspirasi, nada dan intensitas eksp.sedang, iokasi sering pada
spasium interkostaiis I dan SS bagian dan di antara skapula
3. Bronkea!: Inspirasi = Ekspirasi, nada eksp. Lebih tinggi, Iokasi diatas manibrum sternum
4. Trakheal: inspirasi = Ekspirasi, nada eksp. Sangat tinggi, Iokasi trakea pada leher
Bunyi napas tarnbahan:
1. Ronkhi Kasar (Raies): Udara melewati jalan napas yang lembab, terutama yang kecil dan
alveolus dengan edema pulmonal. Cirinya: gemerentak ringan seperti rambut yang
digesekbersamaan
2. mengi: Cairan atau sakresi pada jaian napas yang menyempit karena mukus atau
bronkospasme. Cirinya: bersiul, bergemuruh, rintihan
3. Pleura! Frietion : inflamasi lapisan pSeura parietai dan viseral yang saling bergesekan.
Cirinya: Suara gemerisik, seperti beberapa lapis kertas yang disek bersamaan

Langkah-fangkah Auskultasi:
1. Duduklah menghadap pasien
2. Minta pasien bernapas secara normal dan mulaitah auskultasi dengan pertama kali meietakkan
stetoskope pada trakea
3. Lanjutkan auskultasi dengan arah seperti perkusi
4. Ulangi auskultasi pada dada lateral dan posterior serta bandingkan sisi kanan dan kiri

Pemeriksaan Jantung
Inspeksi
1. Warna kulit tsianosisMidah,bibir mukosa bukalbantalan kuku (untuk sianosis sentral),
bibir dan bantalan kuku (sianosis perifer), ekstremitas bawah (aliran darah arterial dan
perfusi)
2. Inspeksi vena juguiaris:
a. Inspeksi ieher untuk mengetahui adanya distensi vena juguiaris, tempatkan klien pada
posisi semi fowler dengan kepala sedikit miring menjauh dari sisi yang diperiksa
b. Jika terdapat distensi, tentukan tingkat distensi ringan, sedang, berat dengan sentuhan
diatas klavikula
3. Inspeksi Prekordium
a. atur posisi kiien supinasi dengan kepala datar atau ditinggikan untuk kenyamanan
bernafas
b. perhatikan pulsasi yang dapat dilihat dari dorongan atau angkatan yang berlebihan pada
daerah prekordium
c. Jika pulsasi sulit dilifcjat karena obes makan atur posisi duduk sehingga posisi jantung lebih
dekat denaan dinding dada
Palpasi
1. atur posisi supinasi, perawat berada disisi kanan pasien
2. Tentukan sudut louis dengan paipasi, sudut ini terletak diantara manubrium dan badan
sternum
3. Pindahkan jari-jari ke bawah ke arah tiap sisi sudut sehingga akan teraba spesium
interkostalis ke 2. area aorta terletak di spesium interkostalis ke dua kanan dan area
pulrnona! terletak pada spesium interkostalis ke 2 kiri
4. Inspeksi dan kemudian paipasi area aorta dan pulrnona! untuk mengetahui ada atautidaknya
pulsasi
5. Dari area pulmonal pindahkan jari-jari anda ke bawah sepanjang 3 spesium interkostalis kiri,
area ventrikuler atau trikuspidalis terletak pada spasi interkostaiis kiri menghadap ke
sternum, amati ada tidaknya pulsasi
6. Dari area trikuspidaiis, pindahkan tangan anda secara lateral 5-7 cm ke garis midklavikuiaris kiri
dimana akan ditemukan area apikai atau PMI (Point Maximal Impulse)
7. Inspeksi dan paipasi puisasi pada area apikai, sekitar 50% orang dewasa akanmemperlihatkan
pulsasi aflkal. Ukuran jantung dapat diketahui dengan mengamati lokasi pulsasi apikai. Apabila
jantung membesar maka pulsasi ini akan bergeser secara lateral ke garis midklavikularis
8. Untuk mengetahui pulsasi aorta, lakukan inspeksi dan paipasi pada area epigastrik di dasar
sternum
Perkusi
1. Perkusi dapat diiakukan dari semua arah menuju jantung. Untuk menentukan batas
sisi kanandan kiri perkusi silakukan dari arah samping ke tengah dada, batas atas
jantung diketahui dengan perkusi dari atas ke bawah
2. Lokasi redup jantung : Batas kiri tidak lebih dari 4, 7, dan 10 cm ke arah kiri dari
garismidsternal pada spesium interkostaiis 4, 5, dan 8
3. Perkusi juga dapat diiakukan dari arah sternum keluar dengan jari yang stasroner secara
paralel pada spesium interkostalis sampai suara redup tidak terdengar
Auskultasi
Bunyi jantung dihasiikan oleh penutupan katup-katup
Bunyi jantung satu (s1) dideskripsikan sebagai bunyi Tub" dan bunyi jantung dua (S2)
sebagai "Dub"
Lima area utama yaitu : aorta, puimonaiis, trikuspidaiis, apikal
1. Kondisikan ruangan agar dalam keadaan tenang
2. Gunakan diafragma stetoskope untuk mendeteksi jantung yang bernada tinggi, seperti S1 dan
S2. gunakan bei! untuk yang bernada renclah misalnya bunyi murmur, bunyi S3 dan S4
3. Bantu pasien ke posisi terlentang, berdiri disisi kanan pasien ketika melakukan auskultasi. Posisi
ini memungkinkan anda untuk memegang stetoskope dengan tangan yang dominan
4. Sekarang auskultasi, dengarkan setiap komponen sikius jantung. Gerakkan stetoskopsecara
perlahan-lahan dan metodik diatas 4 area auskuitasi yang utama
5. Konsentrasi untuk mendengarkan bunyi jantung yang relatif tenang, menutup mata
merupakan ha! yang dapat membentu. ingat bahwa stetoskop atau gerakan kSien akan
mempengaruhi pendengaran anda.

6. Untuk mengkaji bunyi jantung, mutai denagn mendengarkan beberapa sikius agar menjadi
terbiasa dengan frekuensi dan irama jantursg. Normalnya terjacfi dua bunyi: Bunyi jantung
pertama (S1) dan Bunyi jantung kedua (S2), yang dipisahkan o!eh sebuah periode tenang
7. Pada setiap area auskultasi, gunakan diafragma untuk mendengarkan dengan cermat antara
S1 dan S2 dan kemudian membandingkannya. Kemudian dengarkan periode sistolik antara S1
dan S2 dan periode diastoiik antara S1 dan S2 yang berikutnya.
8. Kemudian auskuitasi lagi, gunakan be! stetoskop. Kedua periode harus tenang
9. Pada setiap area, catat frekuensi, irama, intensitas, nada, waktu dan durasi bunyi
jantgung. Catatjuga jika didapatkan bunyi jantung tambahan.

Temukan auskultasi jantung normal:


di area aorta
Frekuensi dan irama teratur, intensitas 2/8, nada tinggi, durasi sitofik pendek, S2 lebih besar dari SI
Di area pulmonal
Frekuensi dan irama teratur, intensitas 2/8, nada tinggi, durasi sistolik pendek, tidak ada
penyebaran atau murmur, pemecahan S2 seiarna respirasi, 82 lebih besar dari Si
di area trikuspidalis
Frekuensi dan irama teratur, intensitas 3/8, nada tinggi, durasi sistolik pendek, tidak
adapenyebaran, kemungkinan pemecahan S1, S1 lebih besar dari S2
Di area apikal
Frekuensi dan irama teratur, intensitas 3/8, nada tinggi, durasi sistolik pendek, tidak ada
penyebaran, kemungkinan pemecahan S1, S1 lebih besar dari S2.

Pemsriksaan Neurologis
Cara pemeriksaan :
1. Periksalubang, hidung apakah ada sumbatan atau adanya polip atau sekret
2. Zat pengetes yang digunakan adalah zat yang sudah dikenal klien seperti kopi, teh,
tembakau atau jeruk
3. Lakukan pemeriksaan terhadap hidung satu persatu
4. Klien tutup mata, dan minta klien atau pemeiksa menutup salah satu lubang hidung
kemudian kiien disuruh mencium saiah satu zat pengetes dan ditanya apakah klein
mencium bau sesuatu dan apa yang diciumnya
5. Ulangi untuk lubang hidung lainnya
6. Penilaian : Normosmi jika pasien dapat mengenas sernua zat pengetes dengan baik. Bila daya
pencium berkurang disebut hiposmi, jika tidak dapat mencium sama sekali disebut anomis

Nervus optikus
Cara Pemeriksaan :
1. Optotype snellen dengan jarak 6 meter;
2. Visus ditentukan dengan kemampuan rnembaca jeJas deretan huruf yang ada
3. Kelainan : Oftatmoiogik dan kelainan saraf

Nervus Okulomotorius, Trokhisaris dan Abdusen


Cara Pemeriksaan : Sama dengan pemeriksaan pada bola mata.

Refteks Trigeminus
Cara Pemeriksaan :
1. Instruksikan klien untuk merapatkan giginya sekuat mungkin
2. Palpasi m. masseterdan m. temporalis
3. Inspeksi besarnya tonus serta kontur (bentuk)
4. Instruksikan kiien membuka mulut, inspeksi adakah deviasi rahang bawah. Dengan
patokan kedua gigi insisivus (gigi seri), inspeksi gigi insisivus atas dan bawah saat mulut
tertutup dan mulut terbuka, apakah ada devias. Catat deviasi ke arah mana
5. Untuk mengukur kekuaian otof
- instruksikan klien menggigit tong spate! atau benda keras lainnya
- Kemudian tarik tong spates tersebut, untuk menilai tenaga gigitan
6. Untuk menilai m. pterigoideus lateralis
- Instruksikan klien untuk menggerakkan rahang bawah ke samping kiri atau kanan
- Atau klien disuruh mempertahankan rahang bawahnya ke samping kiri dan pemeriksa
memberi tekanan untuk mengembalikan posisi rahang bawah ke posisi tengah

Fungsi Sensorsk (sensibilitas)


Cara pemeriksaan :
1. Anjurkan kfien menutup kedua matanya
2. Gunakan piiinan kapas ssrta sentuhkan di area wajah yang dipersarafinya, apakah terasaada
sentuhan atau tidak
3. Sentuhkan piiinan kapas di sisi kontralaterai kornea {respon berupa kedipan kedua mata
secara cepat
Refleks masseter:
a. Posisi mulut sedikit terbuka
b. Leiakkan ibu jari di atas dagu, kernudian ketuk jari pemeriksa dengan hamer
c. Respon normal berupa elifasi rahang

Nervus Fasiaiis
Cara Pemeriksaan Motorik:
1. Inspeksi ekspresi wajah klien
2. klien diminta untuk mengeruhkan dahi, menutup mata kuat-kuat, mengembungkan pipi
3. pada klien dengan koma, dilakukan penekanan yang kuat pada prosesus sifoideus sampai
pasien menyeringai
Cara Pemeriksaan Sensorik:
1. Siapkan gula dan garam
2. pasien diminta untuk menutup kedua matanya dan menjulurkan lidahnya, beri sedikit gula
dan garam secara bergantian di bagian depan lidah
3. Tanyakan rasa yang diberikan tadi

Nervus Vestibulo - Kokhlearis


Nervus Kokhiearis
Cara Pemeriksaan : Sama dengan pemeriksaan pada telinga
Nervus Vestibularis
Pemeriksaan fVianuver hailpike
1. Klien diminta duduk di iempat tidur kemudian rebahkan sampai kepala tergantung dipinggir
dengan sudut 30°
2. Kepala ditolehkan ke kiri, Suruskan kembaii, toiehkan ke kanan, minta klien untuk membuka
mata selama pemeriksaan
3. inspeksi adanya nistagmus, tanyakan apakah merasa pusjng

Tes Romberg
1. Klien diminta berdiri dengan kaki yang satu berada di depan dan yang iainnya dilipat pada
dada dan mata ditutup, Sakukan selama 30 detik

Steping test
1. Instruksikan pasien tetap mempertahankan posisinya di tempat
2. Minta klien untuk berjalan di tempat dengan mata tertutup selarna 50 langkah, hasil tes
abnormal pasien beranjak lebih dari satu meter

Nervus Gfosofaringeus
Cara Pemeriksaan
1. Observasi kualitas suara pasien
2. Minta klien menyebutkan aaaaaaaa
3. Pasien diminta untuk menelan, perhatikan adakah disfagia
Refleks Faring
1. Instruksikan kiien membuka mufut, tekan dinding faring atau pangkal lidah dengan spatel
2. Bila terlihat faring terangkat dan iidah ditarik dikatakan refleks faring positifRefleks Wahing
1. Mukosa hidung kiien dirangsang dengan sentuhan kapas, mengakibatkan timbuSnya wahing

Nervus Assesorius
Cara Pemeriksaan Otot Sternokieidomastoicfeus
1. Klien diminta untuk menolehkan kepala ke salah satu sisi
2. Pemeriksa menahan daerah dagu untuk menilai kekuatan

Cara Pemeriksaan Otot Trapezium


1. Klien diminta untuk mengangkat bahu kiri dan kanan
2. Pemeriksa menahan bahu untuk menilai kekuatan

Nervus hipoglosus
Inspeksi
1. Instruksikan pasien membuka mulut dan perhatikan lidah dalam keadaan istrahat dan bergerak
2. Ukur kekuatan lidah dengan cara :
a. instruksikan kiein untuk rnenjuiurkan iidahnya lurus-iurus, kemudian menarik dan
menjulurkannya kernbaii dengan cepat
b. Perhatikan kekuatan gerakannya
Palpasi
1. Instruksikan pasien untuk rnenggerakkan iidahnya ke kiri dan ke kanan dengan cepat
2. Minta klien untuk menekankan iidah pada pipi kiri dan kanan, pemeriksa merasakan
kekuatan Iidah
Refleks tendon
1. Refleks Biceps
a. Bila posisi pasien terlentang lengan ditaruh di atas bantal, iengan bawah dan atas di atas
abdomen
b. Taruh ibu jari pemeriksa di atas tendon biceps, ketukkan hamer di atas ibu jari
c. Respon normaS berupa fleksi dari siku
2. Reffeks Trisep
a. Posisi pemeriksa sebaiknya dari arah samping belakang pasien
b. Ketukkan hamer kira-kira 5 cm di atas siku
c. Respon normal adaiah siku ekstensi
3. Refleks Patela
a. Bila posisi klien duduk, kaki tergantung rileks ditepi tempat tidur
b. Bila posisi terlentang tangan atau lengan bawah pemeriksa berada di bawah lutut klien
dalam keadaan fleksi
c. Ketukkan pada tendon muskuius kuadriseps fernoris, di bawah patela
d. Respon normai berupa gerakan ekstensi dari iungkal bawah

Perneriksaan Payudara dan Aksila


jnspeksi Payudara
1. Atur Posisi klien duduk, Iepaskan pakaian sampai ke pinggang dan dengan lengan berada
dikedua sisi
2. Inspeksi payudara untuk ukuran bentuk dan kesimetrisan pada wanita normalnya simetris,
cembung dan sama pada pria tidak
3. Puting susu menonjol atau tidak
4. Areola berwarna geiap pada ifau hamil dan menyusui
5. aksila
Palpasi aksifa dan payudara
1. Mulai dengan aksila kanan, minta klien untuk merilekskan lengan kanan sementara anda
menggunakan tangan kiri untuk menopang siku kiien dengan menekuk ketiga jari anda
yangditengah, raih jauh kedalam pusat aksila sapukan jari kearah bawah untuk meraba
Nodussentralnormainya bergerak bebas dan iidak nyeri
2. Kaji nodus anterior dengan mempalpasi sepanjang lipatan aksila anterior.
3. Kaji Nodus Post Terior dengan mempalpasi sepanjang lipatan aksila postterrior
4. Palpasi Nodus Lateral dengan menekan jari sepanjang bagian daiam lengan atas, cobalah
untukmenekan Nodus- nodus ini kearah humerus. USangi pengkajian ini disebeiah kiri
Palpasi payudara
1. Untuk mempalpasi payudara, minta klien untuk berbaring terlentang dengan bantalan
diletakkandibawah bahu yang akan diperiksa
2. Menggunakan bantaian dari ketiga jari yang ditengah, paipasi payudara putarjari dengan
perlahan sejajar dinding dada
3. Parpasi secara sirkuler dari tengah kearah luar atau dari verifer kedalam
4. Palpasi melintang atau kebagian bawah payudara terutama payudara yang menggantung
5. Palpasi Areola dan puting dengan menekannya perlahan diantara ibu jari dan ibu telunjuk.
Putingakan menjadi tegak dan area akan berkerut
6. Dengan perlahan peras puling untuk keluaran, boat apus sitoSogs dari semua keluaran yang tidak
jelas
Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi Abdomen
1. Kesimetrisan warna kulit, lesi, striae, jaringan parut.
2. Contur, distensi atau pembesaran , jika membesar ukur dengan sentimeter
3. Gerakkan respiratori inspirasi dan ekspirasi
auskultasi
1. Gunakan stetoskop untuk rnengauskultasi bising usus dan suara vaskular
2. Untuk mengauskuSiasi bising usus, tekan sedikit diafrahma stetoskop pada kulit abdomen di
keempat kuadran. Temuan normal meJiputi bising usus yang lembut dan bernada sedang
disemua kuadran setiap lima s.cf 15 detlk.(Kosongkan teriebin dahulu kanduhg kemih karena jika
penuh mengeiuarkan suara
3. Gunakan ben stetoskop untuk mengauskultasi suara vaskuier normalnya tidak ada.
Perkusi Abdomen
1. Perkusi disemua kuadran rngaf perkrraan lokasi organ sambii terus melakukannya normalnya
anda harus mendeteksi timpani disemua kuadran dan bunyi tumpu! diatas hati dan limpa,
harus hati-hati pada klien dengan suspec APP
Perkusi hati
2. Perkusi hati, mulai memperkusi abdomen sepanjang gads midkiavikufa kanan, bergerak keatas
sampai perkusi berubah dari timpani sampai menjadi pekak
3. Perkusi dari garis midklavikula kanan dari atas puting susu bergerak ke bawah, sampai berubah
dari resonan paru menjadi pekak .
4. Perkirakan ukuran hati, mempunyai rentang dari 8 s/d 12 cm dengan mengukur batas akhir
perubahan bunyi
Perkusi Lien
5. Perkusi dilakukan sepanjang garis midklavikula kiri, ke alas dan ke bawah seperti perkusi
hepar, catatiah ternpat dimana suara redup terdengar, normainya terdengar pada area antara
sela tuiang rusuk ke enam sampai sela tuiang rusuk ke sepuiuh (4 s.d 8 cm)
Perkusi Ginjal
6. Kiien duduk tegak, perkusi setiap sudut kostovertebral (sudut di atas setiap ginjal yang
tepiannya dibentuk oien kurvalateral dan ke bawah dari rga terbawa dan kofumnaspinalis).
7. Untuk melakukan perkusi menengah, letakkan telapak tangan kiri anda di atas sudut
kostovertebral dan dengan perfahan pukul teSapak tangan anda dengan kepaian tangan
Perkusi Kandung Kernih
8. Lakukan Perkusi di area bagian atas kandung kemih dimulai 5 cm di atas simfisis pubis, untuk
mendeteksi bunyi perkusi ke arah dasar kandung kemih.
9. Perkusi normalnya menghasiikan bunyi timpani

Palpasi Abdomen
1. Untuk melakukan paipasi ringan, tekan dengan periahan ujung jari-jari anda sekitar 1 s.d 2
cm ke dalam dinding abdomen sedangkan paipasi daiam, tekan ujung jari ke dalam tangan
anda sekitar4 cm ke daiam dinding abdomen.
Palpasi Hepar
2. Berdiri ke sisi kanan klien
3. Tangan kiri di bawah toraks posterior pada iga 11 dan 12
4. Tangan kanan di atas abdomen, pada batas bawah tulang rusuk sisi kanan dengan
membentuksudut kira-kira 45° terhadap otot rectusabdominal dan jari-jari ke arah tulang
rusuk.
5. Sementara pasien ekshalasi lakukan penekanan selamam 4 sampai 5 cm kearah bawah
pada batas bawah tulang rusuk
6. Jaga posisi tangan dan minta pasien inhalasi
7. Sementara pasien inhalasi rasakan batas hepar bergerak menentang tangan anda

Palpasi Lien
6. Anjurkan pasien untuk miring ke sisi kanan sehingga lien febih dekat dengan dinding perut
7. Lakukan paipasi pada batas tuiang rusuk kiri dengan menggunakan pola seperti pada paipasi
hepar
Palpasi Ginjal
8. Perawat di sisi kanan pasien
9. Tangan kiri di bawah panggul dan elevasikan ginjai ke arah anterior
10. Tangan kanan di dinding anterior/midlavikula pada tepi bawah batas kosta
11. Rasakan ginjai teraba (bentuk, ukuran, nyeri)
12. Untuk ginja! kiri lakukan di sisi kiri pasien dan peiaksanaannya seperti pada paipasi ginjai kanan
Palpasi vesika urinaria
13. Gunakan satu atau dua tangan
14. Palpasi jika rnengaiami distensi
Pemeriksaan anus
inspeksi
1. Perhatikan adanya lesi, hemoroid
palpasi
1. Atur pasien posisi dorsal rekumben
2. Gunakan handscoen dan beri jelly pada jari telunjuk
3. Masukan jari ke dalam anus
4. Lakukan paipasi pada dindingreturn dan rasakan ada tidaknya nodula, massa, sera nyeri tekan
5. Pada pria, lakukan paipasi dinding anterior untuk mengetahui giandula prostat, normalnya
teraba" diameter sekitar 4 cm dan tidak ada nyeri tekan
6. Pada wanita, lakukan paipasi servic uterus melalui dinding recta anterior, normalnya teraba
licin,melingkar, tegas dan dapat digerakkan
7. Setelah seiesai tarik jari anda dari anus amati keadaan feses pada sarung tangan, catat hasil
pemeiiksaan.

Pemeriksaan Genetalia
Genetaiia Pria
Inspeksi
1. inspeksi penis : batang penis kuiit glans penis sircum sisi
2. Scrotum : Distribusi warna, dan tekstur rambut kubis, iesi evaluasi ukuran dan kesimetrisan
kantunq
palpasi
1. Lakukan paipasi penis dengan perlahan pegang batang penis di anatar ibu jari dan dua jari
berikutnya
2. Palpasi scrotumi dengan menggunakan ibu jari dan dua jari berikutnya rasakan kekasarannya,
permukaan yang keriptrt, normalnya teraba elastis ficin dan tidak ada massa

Genetalia wanita
palpasi
1. Posisikan klien telentang dengan pubis tidak ditutupi, dan muiai pengkajian dengan
menentukan kematangan seksuat. inspeksi jumlah dan poia rambut pubis, yang harus sesuai
dengan usia klien

Anda mungkin juga menyukai