Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPERAWATAN Tn.

Z
DENGAN KASUS CORONARY ARTERY DISEASE
DIRUANG RPD C RSUD A. YANI KOTA METRO

OLEH

NAMA : TRI WIBOWO


NIM : RPL 1814401227

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG


JURUSAN KEPERAWATAN
D.III KEPERAWATAN KELAS RPL
LAPORAN PENDAHULUAN
CORONARY ARTERY DISEASE

1. Defenisi
Penyakit arteri koroner adalah penyempitan atau penyumbatan arteri koroner, arteri yang
menyalurkan darah ke otot jantung. Bila aliran darah melambat, jantung tak mendapat cukup
oksigen dan zat nutrisi. Hal ini biasanya mengakibatkan nyeri dada yang disebut angina. Bila satu
atau lebih dari arteri koroner tersumbat sama sekali, akibatnya adalah serangan jantung (kerusakan
pada otot jantung)

2. Etologi
Terdapat empat faktor resiko biologis yang tak dapat diubah, yaitu: usia, jenis kelamin, ras
dan riwayat keluarga. Kerentanan terhadap aterosklerosis koroner meningkat dengan bertambahnya
usia. Penyakit yang serius jarang terjadi sebelum usia 40 tahun. Wanita tampaknya relative kebal
terhadap penyakit ini sampai setelah menopause, dan kemudian menjadi sama rentannya seperti
pria. Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia
sebelum menopause. Orang Amerika-Afrika lebih rentan terhadap aterosklerosis daripada orang
kulit putih. Akhirnya, riwayat keluarga yang positif terhadap penyakit jantung koroner (yaitu,
saudara atau orang tua yang menderita penyakit ini sebelum usia 50 tahun) meningkatkan
kemungkinan timbulnya aterosklerosis premature.
Faktor-faktor resiko tambahan lainnya masih dapat diubah, sehingga berpotensi dapat
memperlambat proses aterogenik. Faktor-faktor resiko mayor adalah:
1) Hiperlipidemia
Lipid plasma adalah kolesterol, trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak bebas berasal dari oksigen,
dari makanan dan endogen dari sintesis lemak.kolesterol dan trigriserida adalah dua jenis lipid
yang relatif mempunyai makna klinis yang penting sehubungan dengan asteriogenesis. Lipid tidak
larut dalam plasma tetapi terikat pada protein sebagai mekamisme transport dalam serum.
Peningkatan kolesterol dihubungkan dengan meningkatnya resikoterhadap koronaria sementara
kadar kolesterol HDL yang meningkat tampaknya berperan sebagai faktor pelindung terhadap
penyakit arteri koronaria.
2) Hipertensi
Tekanan darah tinggi adalah faktor resiko yang paling membahayakan karena biasanya tidak
menunjukan gejalasampai kondisi telah menjadi lanjut/ kronis. Tekanan darah tinggi menyebabkan
meningkatnya gradien tekanan yang harus dilawan oleh ventrikel kiri saat memompa darah.
Tekanan tinggi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kebutuhan oksigen jantung meningkat.
3) Merokok
Resiko meroko tergantung pada jumlah roko yang digunakan perhari, bukan pada lamanya
seseorang merokok. Seseorang yang meroko lebih dari sebungkus sehari, beresiko mengalami
kesehatan khususnya gangguan jantu 2 kali lebih besar daripada mereka yang tidakmerokok.
Merokok berperan dalam memperburuk kondisi penyakit arteri koroner melalui 3 cara meliputi:
 Menghirup asam akan meningkatkan kadar karbonn monoksida (CO) darah. Hemoglobin,
komponen darah yang mengangkut oksigen lebih mudah terikat pada karbon monoksida daripada
oksigen. Hal ini menyebabkan oksigen yang disuplai ke jantung menjadi sangat berlebih, sehingga
jantung bekerja lebih berat untuk menghasilkan energi yang sama besarnya.
 Asam nikotinat pada tembakau memicu pelepasan katekolamin, yang menyebabkan kontriksi.
 Merokok, meningkatkan adhesi trombositmengakibatkan pembentukan thrombus
4) Diabetes Militus
Penderita DM cenderung memiliki prevalensi arteriosklerosis yang lebih tinggi, demikian juga
pada kasus arteriosklerosis koloner prematur berat. Hiperglekimia menyebabkan peningkatan
agrerasi trombosit yang ddapat menyebabkan trombus. Hiperglekimia bisamenjadi penyebab
kelainan metabolisme lemak/ predisposisi terhadap degenerasi vaskular yang berkaitan dengan
gangguan intoleransi terhadap glukosa.

3. Patofisiologi
Aterosklerosis dimulai ketika kolesterol berlemak tertimbun di intima arteri besar.
Timbunan ini, dinamakan ateroma atau plak akan mengganggu absorbsi nutrient oleh sel-sel
endotel yang menyusun lapisan dinding dalam pembuluh darah dan menyumbat aliran darah karena
timbunan ini menonjol ke lumen pembuluh darah. Endotel pembuluh darah yang terkena akan
mengalami nekrotik dan menjadi jaringan parut, selanjutnya lumen menjadi semakin sempit dan
aliran darah terhambat. Pada lumen yang menyempit dan berdinding kasar, akan cenderung terjadi
pembentukan bekuan darah. Halini menjelaskan bagaimana terjadinya koagulasi intravaskuler,
diikuti oleh penyakit tromboemboli, yang merupakan komplikasi tersering aterosklerosis.
Berbagai teori mengenai bagaimana lesi aterosklerosis terjadi telah diajukan,tetapi tidak
satu pun yang terbukti secara meyakinkan. Mekanisme yang mungkin, adalah pembentukan
thrombus pada permukaan plak; danpenimbunan lipid terus menerus. Bila fibrosa pembungkus
plak pecah, maka febris lipid akan terhanyut dalam aliran darah dan menyumbat arteri dan kapiler
di sebelah distal plak yang pecah.

Struktur anatomi arteri koroner membuatnya rentan terhadap mekanisme aterosklerosis.


Arteri tersebut terpilin dan berkelok-kelok saat memasuki jantung, menimbulkan kondisi yang
rentan untuk terbentuknya ateroma.

4. Tanda dan Gejala


1) Dada terasa tak enak(digambarkan sebagai mati rasa, berat, atau terbakar;dapat menjalar ke
pundak kiri, lengan, leher, punggung, atau rahang)
2) Sesak napas
3) Berdebar-debar
4) Denyut jantung lebih cepat
5) Pusing
6) Mual
7) Kelemahan yang luar bias

5. Pemeriksaan laboratorium dan Diagnostik penunjang


1) Analisa gas darah (AGD)
2) Pemeriksaan darah lengkap
3) Hb, Ht
4) Elektrokardiogram (EKG)
5) Foto rontgen dada
6) Pemeriksaan laboratorium
7) Treadmill
8) Kateterisasi jantung

6. Data focus pengkajian

a. Wawancara
 Pengumpulan Data:
 Identitas Klien
 Identitas Penanggung Jawab
 Keluhan Utama
 Riwayat Kesehatan Sekarang
 Riwayat Masa Lalu
 Riwayat Kesehatan Kelurga
b. Pengkajian
 Aktivitas dan istirahat
Kelemahan, kelelahan, ketidakmampuan untuk tidur (mungkin di dapatkan Tachycardia dan
dispnea pada saat beristirahat atau pada saat beraktivitas).
 Sirkulasi
 Mempunyai riwayat IMA, Penyakit jantung koroner, CHF, Tekanan darah tinggi, diabetes melitus.
 Tekanan darah mungkin normal atau meningkat, nadi mungkin normal atau terlambatnya capilary
refill time, disritmia.
 Suara jantung, suara jantung tambahan S3 atau S4 mungkin mencerminkan terjadinya kegagalan
jantung/ ventrikel kehilangan kontraktilitasnya.
 Murmur jika ada merupakan akibat dari insufisensi katub atau muskulus papilaris yang tidak
berfungsi.
 Heart rate mungkin meningkat atau menglami penurunan (tachy atau bradi cardia).
 Irama jantung mungkin ireguler atau juga normal.
 Edema: Jugular vena distension, odema anasarka, crackles mungkin juga timbul dengan gagal
jantung.
 Warna kulit mungkin pucat baik di bibir dan di kuku.
 Eliminasi
Bising usus mungkin meningkat atau juga normal.
 Nutrisi
Mual, kehilangan nafsu makan, penurunan turgor kulit, berkeringat banyak, muntah dan perubahan
berat badan.
 Hygiene perseorangan
Dispnea atau nyeri dada atau dada berdebar-debar pada saat melakukan aktivitas.
 Neoru sensori
Nyeri kepala yang hebat, Changes mentation.
 Kenyamanan
 Timbulnya nyeri dada yang tiba-tiba yang tidak hilang dengan beristirahat atau dengan nitrogliserin.
 Lokasi nyeri dada bagian depan substerbnal yang mungkin menyebar sampai ke lengan, rahang dan
wajah.
 Karakteristik nyeri dapat di katakan sebagai rasa nyeri yang sangat yang pernah di alami. Sebagai
akibat nyeri tersebut mungkin di dapatkan wajah yang menyeringai, perubahan pustur tubuh,
menangis, penurunan kontak mata, perubahan irama jantung, ECG, tekanan darah, respirasi dan
warna kulit serta tingkat kesadaran.
 Respirasi
Dispnea dengan atau tanpa aktivitas, batuk produktif, riwayat perokok dengan penyakit pernafasan
kronis. Pada pemeriksaan mungkin di dapatkan peningkatan respirasi, pucat atau cyanosis, suara
nafas crakcles atau wheezes atau juga vesikuler. Sputum jernih atau juga merah muda/ pink tinged.
 Interaksi social
Stress, kesulitan dalam beradaptasi dengan stresor, emosi yang tak terkontrol.
 Pengetahuan
Riwayat di dalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung, diabetes, stroke, hipertensi,
perokok.

7. Diagnosa keperawatan
1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan pada
arteri koronaria.
2) Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya
jaringan yang nekrotik dan iskemi pada miokard.
3) Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama,
konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
4) Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah,
hipovolemia.
5) Resiko terjadinya ketidakseimbangan cairan excess berhubungan dengan penurunan perfusi organ
(renal), peningkatan retensi natrium, penurunan plasma protein.

8. Intervensi
1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung atau
sumbatan pada arteri koronaria.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan
rasa nyeri dada, menunjukan adanya penuruna tekanan dan cara berelaksasi.
Rencana:
 Monitor dan kaji karakteristik dan lokasi nyeri.
 Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, kesadaran).
 Anjurkan pada pasien agar segera melaporkan bila terjadi nyeri dada.
 Ciptakan suasana lingkungan yangtenang dan nyaman.
 Ajarkan dan anjurkan pada pasien untuk melakukan tehnik relaksasi.
 Kolaborasi dalam : Pemberian oksigen dan Obat-obatan (beta blocker, anti angina, analgesic)
 Ukur tanda vital sebelum dan sesudah dilakukan pengobatan dengan narkosa.
2) Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen,
adanya jaringan yang nekrotik dan iskemi pada miokard.
Tujuan:
setelah di lakukan tindakan perawatan klien menunnjukan peningkatan kemampuan dalam
melakukan aktivitas (tekanan darah, nadi, irama dalam batas normal) tidak adanya angina.
Rencana:
 Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas.
 Anjurkan pada pasien agar lebih banyak beristirahat terlebih dahulu.
 Anjurkan pada pasien agar tidak “ngeden” pada saat buang air besar.
 Jelaskan pada pasien tentang tahap- tahap aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien.
 Tunjukan pada pasien tentang tanda-tanda fisiki bahwa aktivitas melebihi batas.
3) Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate,
irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
Tujuan:
tidak terjadi penurunan cardiac output selama di lakukan tindakan keperawatan.
Rencana:
 Lakukan pengukuran tekanan darah (bandingkan kedua lengan pada posisi berdiri, duduk dan
tiduran jika memungkinkan).
 Kaji kualitas nadi.
 Catat perkembangan dari adanya S3 dan S4.
 Auskultasi suara nafas.
 Dampingi pasien pada saat melakukan aktivitas.
 Sajikan makanan yang mudah di cerna dan kurangi konsumsi kafeine.
 Kolaborasi dalam: pemeriksaan serial ECG, foto thorax, pemberian obat-obatan anti disritmia.
4) Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan
darah, hipovolemia.
Tujuan:
selama dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi penurunan perfusi jaringan.
Rencana:
 Kaji adanya perubahan kesadaran.
 Inspeksi adanya pucat, cyanosis, kulit yang dingin dan penurunan kualitas nadi perifer.
 Kaji adanya tanda Homans (pain in calf on dorsoflextion), erythema, edema.
 Kaji respirasi (irama, kedalam dan usaha pernafasan).
 Kaji fungsi gastrointestinal (bising usus, abdominal distensi, constipasi).
 Monitor intake dan out put.
 Kolaborasi dalam: Pemeriksaan ABG, BUN, Serum ceratinin dan elektrolit.
5) Resiko terjadinya ketidakseimbangan cairan excess berhubungan dengan penurunan perfusi
organ (renal), peningkatan retensi natrium, penurunan plasma protein.
Tujuan:
tidak terjadi kelebihan cairan di dalam tubuh klien selama dalam perawatan.
Rencana:
 Auskultasi suar nafas (kaji adanya crackless).
 Kaji adanya jugular vein distension, peningkatan terjadinya edema.
 Ukur intake dan output (balance cairan).
 Sajikan makan dengan diet rendah garam.
 Kolaborasi dalam pemberian deuritika.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Sudarth, 2001. Buku keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Carpenito J.L. (2002). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC. Jakarta

Doengoes, Marylin E. (2000). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 3. EGC: Jakarta

Muttaqin, Arif. 2002. Askep Gangguan Persyarafan. Salemba Medika: Jakarta

Nenk, 2009. Asuhan Keperawatan Arteri koroner. Jakarta : DJAMBATAN

Price A Sylvia dan Wilson M Lorraine (2005). Patofisiologi.Jakarta.EGC