Anda di halaman 1dari 12

Nama : M.

Kuncoro Kuliah Manajemen Ekonomi dan Energi


NPM : 1706992394 Pengajar : Prof. Ir. Rinaldy M. Sc, Ph. D

Bagian I
Kondisi dan Regulasi Pengaturan Harga Batubara Domestik untuk Pembangkitan Tenaga
Listrik
Dasar Hukum :
Keputusan Menteri ESDM Nomor 1395 K/30/MEM/2018 tentang Harga Jual Batubara Untuk
Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum
Pokok Pokok Pengaturan
1. Pada tanggal 9 Maret 2018, Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM), menetapkan harga batubara untuk kelistrikan nasional, melalui
Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 1395K/30/MEM/2018 Tentang Harga
Batubara untuk Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum. Terbitnya regulasi
ini sebagai bentuk kontrol pemerintah dalam pengendalian harga energi dan listrik
ditengah kondisi meningkatnya harga batubara dunia yang mencapai 101 USD perton.
2. Dikarenakan batubara merupakan sumber energi/bahan bakar untuk PLTU yang
merupakan komponen terbesar dalam biaya pembangkitan tenaga listrik, maka untuk
menjaga harga listrik dan iklim invetasi, penerbitan regulasi penetapan harga patokan
batubara merupakan langkah yang tepat.
3. Keputusan Menteri ESDM dimaksud, mempertimbangkan Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 8 Tahun 2018 tentang Perubahan Kelima PP Nomor 1 Tahun 2014 tentang
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, dan Peraturan Menteri ESDM
Nomor 19 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Permen ESDM Nomor 7 Tahun 2017
tentang Tata Cara Penetapan Harga Patokan Penjualan Mineral Logam dan Batubara.
4. Pemerintah menetapkan harga jual batubara untuk PLTU dalam negeri sebesar USD 70
per ton untuk nilai kalori 6.322 GAR kalori 6.322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%
(delapan persen), Total Sulphur 0,8% (nol koma delapan persen), dan Ash 15% (lima belas
persen) atau menggunakan Harga Batubara Acuan (HBA) apabila HBA berada di bawah
USD70 per ton dimaksud.
5. Untuk harga batubara dengan nilai kalori lainnya, dikonversi terhadap harga batubara pada
nilai kalori 6.322 GAR tersebut berdasarkan perhitungan sesuai ketentuan yang berlaku.
6. Penetapan harga khusus tersebut berlaku surut sejak 1 Januari 2018 hingga Desember
2019. Artinya, kontrak-kontrak penjualan yang sudah berjalan sejak 1 Januari 2018 akan
disesuaikan. Namun 3 hari setelahnya Kementerian ESDM merevisi Kepmen tersebut
dengan Kepmen 1410 K/30/MEM/2018 yang isinya bahwa penetapan HBA USD 70
perton tidak berlaku surut.
7. Kementerian ESDM menetapkan volume maksimal pembelian batubara untuk pembangkit
listrik tersebut sebesar 100 juta ton per tahun atau sesuai dengan kebutuhan batubara untuk
pembangkit listrik.
8. Besaran pembayaran royalti dan pajak dihitung berdasarkan harga transaksional.
9. Perusahaan yang menjual batubara untuk kepentingan listrik nasional dapat diberikan
tambahan produksi sebesar 10 persen apabila memenuhi syarat sesuai ketentuan yang
berlaku.
10. Penetapan harga tersebut hanya berlaku untuk penjualan kelistrikan nasional. Sedangkan,
penetapan harga di luar kepentingan tersebut tetap mengacu pada HBA.
11. Menteri ESDM menegaskan penetapan harga jual batubara untuk PLTU tersebut agar tarif
tenaga listrik tetap terjaga, demi melindungi daya beli masyarakat dan industri yang
kompetitif
Kondisi Supply dan Demand Batubara untuk Pembangkit Listrik
1. Kebutuhan batubara PLN sesuai RUPTL PLN 2017 s.d. 2026

2. Data dari LAKIN Ditjen Minerba tahun 2017


Perbandingan produksi, ekspor dan serapan domestik batubara (DMO)

Selama tahun 2011 s.d. 2016, pemerintah menetapkan DMO batubara sekitar 25% dari
total produksi. Dari jumlah DMO tersebut realisasi serapan 72 %.
Mayoritas realisasi DMO adalah untuk kebutuhan PLTU sebesar 83 % dari serapan
total DMO atau hanya 60% dari total DMO.
3. Berdasarkan Kepmen ESDM No 23K/30/MEM/2018, pemerintah menetapkan DMO
batubara sebesar 25% dari total produksi batubara nasional. Nilai DMO ini telah sesuai
dengan kebutuhan domestik (PLN dan industri) serta mengacu pada besar serapan
DMO selama 5 tahun (2011 s.d. 2016).
4. Berdasarkan data Rencana Strategis Ditjen Minerba tahun 2018, perkiraan DMO
batubara tahun 2018 adalah sebesar 25% dengan rincian sebagai berikut.

Berdasarkan data diatas, maka porsi serapan batubara untuk kebutuhan PLTU adalah
89 juta ton (78,83%) sesuai dengan RUPTL PLN.
Analisa dan Komentar
1. Terbitnya Keputusan Menteri ESDM Nomor 1395 K/30/MEM/2018 tentang Harga Jual
Batubara Untuk Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum memberikan
kepastian mengenai harga batubara untuk pembangkitan tenaga listrik ditengah kondisi
naiknya harga batubara internasional sehingga dapat menjaga tarif listrik kepada
masyarakat
2. Spesifikasi yang dijadikan patokan harga USD 70 perton adalah nilai kalori 6.322 GAR
kalori 6.322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8% (delapan persen), Total Sulphur 0,8% (nol
koma delapan persen), dan Ash 15% (lima belas persen). Yang menjadi perhatian adalah
ternyata PLTU milik PLN memerlukan batubara sebesar 69,35 juta ton dengan tingkat
kalori batubara 3800 s.d. 7000 kcal. Berdasarkan kapasitas pembangkitnya, batubara
dengan harga patokan USD 70 ton dan nilai kalori 6322 kcal adalah batubara untuk
kapasitas besar (300 MW keatas). Berdasarkan perhitungan, maka total persentase
pembangkit yang membutuhkan batubara kalori tinggi adalah 40% sisanya batubara kalori
menengah dan rendah (sekitar 4000 kcal). Menurut salah satu perhitungan, dengan kondisi
ini PLN masih mampu membeli batubara dengan harga USD 40 perton.
3. PLN selain memproduksi listrik sendiri melalui pembangkitnya sendiri atau sewa, juga
membeli listrik dari IPP dengan jangka waktu 25 tahun. Berdasarkan PPA, nilai konrak
jual beli/kwh antara PLN dan IPP mengikuti kontrak selama masa PPA. Kenaikan harga
batu bara tidak akan mempengaruhi harga pembelian listrik dari IPP yang telah melakukan
kontrak namun akan berpengaruh kepada kontrak baru yang masih dalam proses negosiasi
PPA. Berdasarkan Permen ESDM No 03 Tahun 2015, untuk pembelian listrik dari PLTU,
PLTMG dan PLTA besar menggunakan harga patoka tertinggi dan sampai dengan saat ini
besarannya belum dirubah.
4. Berdasarkan evaluasi diatas, maka kenaikan tarif listrik masih dapat dihindari. PLN dapat
melakukan efisiensi untuk mencegah kenaikan BPP. Hal ini sesuai dengan rumusan
margin, BPP dan tarif listrik yaitu

5. Kenaikan harga batubara akan mengakibatkan naiknya Biaya Pokok Penyediaan


Pembangkitan Tenaga Listrik (BPP) yang selanjutnya akan berdampak pada kenaikan tarif
listrik. Karena porsi PLTU adalah yang terbesar dalam komposisi pembangkitan, maka
formula tarif listrik perlu disesuaikan dengan tambahan faktor harga batubara acuan.
Bagian II
Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik

Dasar Hukum
Permen ESDM No 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk
Penyediaan Tenaga Listrik

Pokok Pokok Pengaturan


1. PLN wajib membeli listrik dari sumber energi terbarukan yaitu PLTS Fotovoltaik, PLTB,
PLTA, PLTBm, PLTBg, PLTSa, dan PLTP
2. Skema jual beli tenaga listrik dari pembangkit EBT mengikuti ketentuan sebagai berikut

Catatan : berdasarkan Permen ESDM No 50 tahun 2017, maka formula harga pembelian tenaga
listrik dari PLTS Fotovoltaik, PLTB, PLTBm dan PLTBg dalam hal BPP Pembangkitan di
sistem ketenagalistrikan setempat sama atau di bawah rata-rata BPP Pembangkitan nasional,
dilakukan perubahan harga patokan pembelian tenaga listrik semula sebesar sama dengan BPP
Pembangkitan di sistem ketenagalistrikan setempat, menjadi ditetapkan berdasarkan
kesepakatan para pihak (tanda warna merah).

3. Persyaratan pembangkit EBT


a. sistem ketenagalistrikan setempat dapat menerima pasokan tenaga listrik yang
menggunakan EBT;
b. dimaksudkan untuk menurunkan BPP Pembangkitan di sistem ketenagalistrikan
setempat; dan/atau
c. memenuhi kebutuhan tenaga listrik di lokasi yang tidak ada sumber energi primer lain.
4. Untuk PLTA dan PLTP, pola kerja sama membangun, memiliki, mengoperasikan dan
mengalihkan (Build, Own, Operate, and Transfer/BOOT).
5. Pembangunan jaringan tenaga listrik untuk evakuasi daya dari PLTA, PLTBm, PLTBg,
PLTP ke titik sambung PT PLN (Persero) dapat dilakukan oleh PPL berdasarkan
mekanisme yang saling menguntungkan (Business to Business).
6. PT PLN (Persero) wajib melakukan uji tuntas (due diligence) atas kemampuan teknis dan
finansial dari PPL.
7. Uji tuntas (due diligence) dapat dilakukan oleh pihak procurement agent yang ditunjuk
oleh PT PLN (Persero).
8. Usulan pengembangan pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan Sumber Energi
Terbarukan dari PPL kepada PT PLN (Persero) harus dilengkapi dengan kajian kelayakan
penyambungan sistem ketenagalistrikan.
9. Mengutamakan penggunaan TKDN.
10. Komponen dalam negeri yang digunakan dalam sistem pembangkit tenaga listrik harus
memenuhi Standar Nasional Indonesia di bidang ketenagalistrikan; Standar Internasional;
atau Standar negara lain yang tidak bertentangan dengan ISO atau IEC.
11. Konstruksi pembangkit tenaga listrik harus memenuhi Standar Nasional Indonesia di
bidang ketenagalistrikan; Standar Internasional; Standar negara lain yang tidak
bertentangan dengan ISO atau IEC; atau Standar PLN.
12. PTPLN (Persero) wajib:
a. menginformasikan secara terbuka kondisi sistem ketenagalistrikan setempat yang siap
menerima pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan Sumber Energi Terbarukan.
b. menginformasikan secara terbatas rata-rata BPP Pembangkitan pada sistem
ketenagalistrikan setempat kepada PPL yang berminat mengembangkan pembangkit
tenaga listrik yang memanfaatkan Sumber Energi Terbarukan.
13. PT PLN (Persero) wajib menyusun dan mempublikasikan:
a. standar dokumen pengadaan pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan Sumber
Energi Terbarukan; dan
b. standar PJBL untuk masing-masing jenis pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan
Sumber Energi Terbarukan.
c. Pokok-pokok PJBL mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan
(PeraturanMenteri ESDM Nomor 10 Tahun 2017).
14. Dalam hal PPL terlambat dalam menyelesaikan pembangunan pembangkit tenaga listrik
PPL dikenakan sanksi dan/atau penalti.
a. Dalam PeraturanMenteri ESDM Nomor 10 Tahun 2017 tentang PJBL, diatur
pemberian penalti apabila PPL terlambat menyelesaikan
b. pembangunan; dan diberi reward apabila PPL menyelesaikan pembangunan lebih cepat
(atas permintaan PLN).
c. Sanksi dan/atau penalti dituangkan dalam PJBL.
Biaya Pokok Penyediaan Pembangkitan Tenaga Listrik
Mengacu kepada Kepmen ESDM No 1772 K/20/MEM/2018 tentang BPP PLN tahun 2017.
BPP sebagai acuan pembelian tenaga listrik oleh PT PLN.
BPP Nasional tahun 2017 adalah Rp.1.025/kwh atau 7,66 cent USD/kwh.
Kaitan BPP dan Tarif EBT Permen ESDM No 12 tahun 2017
Terbitnya Permen ESDM No 12 tahun 2017 (direvisi dengan Permen ESDM No 50 tahun
2017) memberikan kesempatan kepada pelaku usaha mengembangkan EBT. Namun dengan
kriteria bahwa daerah tersebut harus layak secara ekonomis dengan ketentuan memiliki BPP
daerah < BPP Nasional. Mengapa dikatakan demikian?? Karena walawpun dimungkinkan
untuk dikembangkan didaerah dengan BPP > BPP Nasional, biasanya prosesnya sulit dan perlu
negosiasi/kesepakatan serta ada kecenderungan dari PLN untuk sumber mencari energi
lainnya. Beberapa daerah yang ekonomis menurut Permen ESDM No 12/2017 yaitu
Tarif EBT Permen ESDM No 12 tahun 2017 menghambat investasi??
Terbitnya permen ESDM No 12Tahun 2017 menimbulkan kekhawatiran dari beberapa pihak
akan semakin sulitnya mengembangkan EBT. Hal ini karena tarif dalam Permen ESDM No 12
Tahun 2017 besarnya 60% dari Feed In Tarrif yang telah diberlakukan sebelumnya. Padahal
dengan skema feed in tarrif, pertumbuhan EBT hanya berkisar 7%. Permen ESDM No 12Tahun
2017 merevisi dan membatalkan ketentuan Feed In Tarrif dalam Permen terkait tarif
sebelumnya antara lain:

PerMen ESDM No.19/2015 tentang FIT PLTA

PerMen ESDM No.21/2016 tentang FIT PLTBm


PerMen ESDM No.19/2016 tentang FIT PLTS

PerMen ESDM No.17/2014 tentang FIT PLTP


Capaian Pembangunan EBT Pasca Permen ESDM No 12/2017

Kesimpulan
Permen ESDM No 12/2017 menghapus ketentuan FIT dalam Permen ESDM sebelumnya.
Dalam Permen ESDM No 12/2017, tarif listrik EBT turun 40% dari tarif FIT dari Permen
ESDM sebelumnya. Tarif EBT yang baru berpotensi menurunkan gairah pengembangan EBT
namun dari sisi keuntungan bisnis, tarif EBT yang baru masih memberikan keuntungan dan
diatas tarif listrik pembangkit termal. Dari sisi PLN, tarif EBT yang baru membuat porsi BPP
semakin sehat dan membantu pendekatan harga keekonomian dan berkeadilan.
Kendala teknis pengembangan EBT adalah sifat intermittent pembangkit sehingga daya
keluarannya dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan pembangkit sering trip/outage. Dalam Permen
ESDM, permasalahan kontinuitas penyaluran daya dibebankan kepada pengembang.
Akibatnya IRR kecil dan balik modal menjadi lama. Solusi yang dapat dilakukan dari sisi PLN
antara lain penggunaan perangkat elektronika daya, PLTA reservoir dan pembangkit lain yang
memiliki ramping rate tinggi didaerah yang dibangun PLTEBT, namun sampai saat ini belum
ada solusi atas permasalahan intermittent tersebut.