Anda di halaman 1dari 23

UNIVERSITAS JEMBER

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTAE


DI RUANG 12 HCU RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
dr. SAIFUL ANWAR MALANG

OLEH:
Intan Dwi Arini, S. Kep
NIM 182311101078

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
DESEMBER, 2018
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Teori tentang Penyakit


1. Review Anatomi Fisiologi Tulang Costae
Setiap manusia pasti memiliki tulang rusuk, baik pria maupun wanita. Tulang
rusuk terdiri dari 12 pasang masing-masing kiri dan kanan (24 tulang rusuk),
dengan adanya tulang rusuk maka bagian penting lainnya seperti jantung, hati, dan
paru-paru menjadi aman. Tulang rusuk bertindak seperti sangkar yang terletak di
bagian dada.
Pengertian Tulang rusuk
Tulang rusuk (costa) adalah tulang penyusun rangka manusia yang
melengkung dan membentuk bagian besar dari kerangka dada, ada 12 rusuk
tulang yang berjejer disetiap sisi kiri dan sisi kanan dan berjejer ke bawah dengan
sedemikian rupa. Diselingi spasi yang disebut ruas antar costa. Struktur tulang
rusuk, setiap tulang rusuk adalah berpasangan baik kiri maupun kanan masing-
masing memiliki 12 tulang rusuk yang masing-masing pasangan sama persis.
Namun tidak sedikit manusia yang memiliki satu tambahan tulang rusuk dan ada
juga yang justru kekurangan 1 tulang rusuk. Tujuh pasang tulang rusuk pertama
menempel di depan dada, tulang yang kuat terletak ditengah dada dan set sisa dari
tulang rusuk tidak menempel ke sternum langsung. 3 pasang berikutnya berada
ditulang rawan pada tulang rusuk, dua set terakhir dari tulang rusuk disebut rusuk
mengambang karena mereka tidak terhubung ke sternum tulang rusuk. Namun
kita tidak perlu khawatir karena iga tetap melekat pada tubuh.
Tulang rusuk dibedakan menjadi 3 bagian yaitu :
a. Tulang Rusuk Palsu
Terdiri dari 3 pasang, tulang rusuk ini memiliki ukuran sangat pendek
daripada tulang rusuk sejati, tulang ini berhubungan langsung dengan ruas
tulang bagian belakang sedangkan ketiga ujung tulang depan disatukan
oleh tulang rawan yang kemudian melekat pada satu titik ditulang dada.
b. Tulang Rusuk Sejati
Tulang rusuk sejati mempunyai jumlah 7 pasang, tulang rusuk ini berada
di bagian belakang yang berhubungan langsung dengan ruas tulang
belakang sedangkan ujung depannya berhubungan dengan bagian tulang
dada dengan perantara yang dibantu tulang rawan.
c. Tulang Melayang
Tulang melayang mempunayai jumlah 2 pasang, tulang rusuk ini sama
seperti tulang sejati berada di bagian paling belakang yang berhubungan
dengan bagian ruas – ruas tulang belakang namun ujung depannya bebas
atau pun tidak terhubung dengan bagian tulang lainnya.
2. Definisi
Fraktur costa adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang / tulang rawan
yang disebabkan oleh ruda paksa pada spesifikasi lokasi pada tulang costa.
Costa merupakan tulang pipih dan memiliki sifat yang lentur. Oleh karena tulang
ini sangat dekat dengan kulit dan tidak banyak memiliki pelindung,
maka setiap ada trauma dada akan memberikan trauma juga kepada costa. Dari
kedua belas pasang costa yang ada, tiga costa pertama paling jarang mengalami
fraktur. Hal ini disebabkan karena costa tersebut sangat terlindung. Costa ke 4-9
paling banyak mengalami fraktur, karena posisinya sangat terbuka dan memiliki
pelindung sangat sedikit, sedangkan tiga costa terbawah yakni costa ke 10-12
juga jarang mengalami fraktur oleh karena sangat mobile. Pada olahragawan
biasanya lebih banyak dijumpai fraktur costa yang undisplaced, karena pada
olahragawan otot intercostalnya sangat kuat sehingga dapat mempertahankan
fragmen costa yang ada pada tempatnya (Azz, 2008; Dewi, 2010).

3. Epidemiologi
Trauma toraks terjadi hampir 50% dari seluruh kasus kecelakaan.3 Trauma
yang terkait dengan trauma toraks mencapai 30- 40% dari yang diterima rumah
sakit dan 20-25% dari trauma dikaitkan dengan kematian. Trauma tembus toraks
mencapai 1-13% dari jumlah total trauma ini. Pada laporan studi yang
dipublikasikan, 85% dari trauma ini dapat dikelola, baik dengan observasi atau
drainase pleura, sementara hanya 15-30% kasus yang memerlukan intervensi
bedah untuk trauma pada organ yang mungkin berakibat fatal ( Paci M, 2006 ).
Pada umumnya trauma tajam atau tembus toraks berurusan dengan pihak
kepolisian atau hukum, Oleh karena itu membuat laporan dalam status penyakit
harus baik dan lengkap untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di
kemudian hari. Bila harus dikerjakan operasi, laporan juga harus dibuat dengan
baik dan lengkap ( Rachmat KB, 2007 ). Trauma tembus toraks merupakan
masalah umum dan menantang, yang disebabkan baik oleh tembakan atau
nontembakan-kecelakaan (tikaman, kecelakaan lalu lintas) (Bertolaccini L, 2010 ).
Di wilayah Los Angeles dan Medical Center University of Southern California,
yang merupakan pusat trauma terbesar di wilayah tersebut dengan sekitar 7000
trauma yang diterima per tahun, trauma tembus toraks di laporkan sekitar 7% dari
seluruh trauma yang diterima atau sekitar 16% dari trauma tembus yang diterima
( Demetriades D, 2010 ).

4. Etiologi
Secara garis besar penyebab fraktur costa dapat dibagi dalam 2 kelompok
(Dewi, 2010):
1. Disebabkan trauma
a. Trauma tumpul
Penyebab trauma tumpul yang sering mengakibatkan adanya fraktur
costa antara lain kecelakaan lalulintas, kecelakaan pada pejalan kaki,
jatuh dari ketinggian, atau jatuh pada dasar yang keras atau akibat
perkelahian.
b. Trauma Tembus
Penyebab trauma tembus yang sering menimbulkan fraktur costa
adalah luka tusuk dan luka tembak
2. Disebabkan bukan trauma
Yang dapat mengakibatkan fraktur costa, terutama akibat gerakan yang
menimbulkan putaran rongga dada secara berlebihan, atau akibat adanya
gerakan berlebihan dan stress fraktur, seperti pada gerakan olahraga
lempar martil, soft ball, tennis, golf.

5. Klasifikasi
a. Berdasarkan tempat (Fraktur humerus, tibia, clavicula, ulna, radius, hip
dan cruris dst).
b. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.
1) Fraktur komplit (garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang).
2) Fraktur tidak komplit (bila garis patah tidak melalui seluruh garis
penampang tulang).
c. Berdasarkan bentuk dan jumlah garis patah :
1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan
saling berhubungan.
2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi
tidak berhubungan.
3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
pada tulang yang sama.
d. Berdasarkan posisi fragmen :
1) Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi
kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
2) Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang
juga disebut lokasi fragmen
e. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).
1) Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena
kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada fraktur tertutup ada
klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak
sekitar trauma, yaitu:
a) Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan
lunak sekitarnya.
b) Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan
jaringan subkutan.
c) Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan
lunak bagian dalam dan pembengkakan.
d) Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang
nyata ddan ancaman sindroma kompartement.
2) Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya
perlukaan kulit.Fraktur terbuka dibedakan menjadi beberapa grade
yaitu :
a) Grade I : luka bersih, panjangnya kurang dari 1 cm.
b) Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang
ekstensif.
c) Grade III : sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan
jaringan lunak ekstensif
f. Berdasarkan bentuk garis fraktur dan hubungan dengan mekanisme
trauma:
1) Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
2) Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut
terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasi juga.
3) Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral
yang disebabkan trauma rotasi.
4) Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi
yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.
5) Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau
traksi otot pada insersinya pada tulang.
g. Berdasarkan kedudukan tulangnya :
1) Tidak adanya dislokasi.
2) Adanya dislokasi
a) At axim : membentuk sudut.
b) At lotus : fragmen tulang berjauhan.
c) At longitudinal : berjauhan memanjang.
d) At lotus cum contractiosnum : berjauhan dan memendek
h. Berdasarkan posisi fraktur
Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :
1) 1/3 proksimal
2) 1/3 medial
3) 1/3 distal

Gambar 1. Klasifikasi Fraktur berdasarkan Patahannya

i. Fraktur Kelelahan
Fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
j. Fraktur Patologis
Fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.

6. Patofisiologi/Patologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas
untuk menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang
dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan
rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum
dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang
membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan
terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera
berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini
menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi,
eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang
merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya. Faktor-faktor yang
mempengaruhi fraktur:
a. Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap
besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
b. Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk
timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas,
kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang. Suatu fraktur yang terjadi
pada tulang yang abnormal. Hal ini dapat di karenakan oleh:
a. Kongenital : misalnya osteogenesis imperfekta, displasia fibrosa.
b. Peradangan : misalnya osteomielitis.
c. Neoplastik : benigna : misalnya enkhondroma, maligna : primer,
misalnya osteosarkoma, mieloma
d. sekunder, misalnya paru-paru, payudara, tiroid, ginjal, prostat
e. Metabolik : misalnya osteomalasia, osteoporosis, penyakit Paget
(Penyakit ini dinamakan juga osteitis deformans dan walaupun gejala-
gejalanya jelas, tetapi sebabnya belum diketahui. Penyakit ini dapat
bersifat monostotic atau poliostotic.

7. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis fraktur costae meliputi :
a. Sesak napas
Pada fraktur costa terjadi pendorongan ujung-ujung fraktur masuk ke rongga
pleura sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan struktur dan jaringan pada
rongga dada lalu dapat terjadi pneumothoraks dan hemothoraks yang akan
menyebabkan gangguan ventilasi sehingga menyebabkan terjadinya sesak napas.
Tanda-tanda insuffisiensi pernapasan: Sianosis, takipnea. Pada fraktur costa terjadi
gangguan pernapasan yang disertai meningkatnya penimbunan CO2 dalam darah
(hiperkapnia) yang bermanifestasi menjadi sianosis.
b. Nyeri tekan pada dinding dada
Pada fraktur costa terjadi pendorongan ujung-ujung fraktur masuk ke rongga
pleura sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan struktur dan jaringan pada
rongga dada dan terjadi stimulasi pada saraf sehingga menyebabkan terjadinya
nyeri tekan pada dinding dada.
c. Kadang akan tampak ketakutan dan kecemasan
Rasa takut dan cemas yang dialami pada pasien fraktur costa diakibatkan
karena saat bernapas akan bertambah nyeri pada dada.
d. Adanya gerakan paradoksal
8. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mengatahui keadaan
tulang cruris yang mengalami fraktur yaitu:
a. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan untuk mengetahui kadar Hb dan
hematokrit, kerana perdarahan yang terjadi akibat fraktur akan menyebabkan
kadar Hb dan hematokrit dalam tubuh menjadi rendah. Selain itu, Laju Endap
Darah (LED) akan meningkat apabila kerusakan yang terjadi pada jaringan
lunak sangat luas. Selain itu pemeriksaan golongan darah juga penting untuk
dilakukan apabila tindakan operasi dilakukan, dan pemeriksaan kadar kratinin
juga harus dilakukan, karena trauma otot dapat meningkatkan beban kreatinin
untuk kliren ginjal.
b. X-ray
Pemeriksaan Xray merupakan pemeriksaan yang digunakan untuk
melihat gambaran fraktur, deformitas (pergeseran fragmen pada fraktur) dan
metalikment. Pemeriksaan Xray merupakan salah satu metode dengan
menggunakan prosedur non invasif. Gambar diambil pada dua proyeksi, yaitu
PA (posteroanterior) atau AP (anteroposterior) dan lateral (LAT).
c. CT-scan
CT-scan merupakan alat yang bekerja dengan cara memproduksi gambaran
organ tubuh dengan menggunakan gelombang suara yang terkan pada
komputer (Bastiansyah, 2008). CT-scan dapat menghasilkan gambaran dari
organ tubuh termasuk keadaan tulang. Secara umum pemeriksaan CT-scan
dapat memberikan gambaran secara rinci mengenai struktur tulang, jaringan
dan cairah tubuh. Pada fraktur cruris CT-scan dapat digunakan untuk
mendeteksi struktur fraktur yang terjadi secara kompleks.

d. MRI (Magnetic Resonanci Imaging)


MRI merupakan alat diagnostik yang dapat menghasilkan potongan organ
tubuh menusia dengan menggunakan medan magnet tanpa menggunakan sinar-
X.
e. Rontgen
Pemeriksaan rontgen merupakan salah satu prosedur yang efektif bila
digunakan untuk mendeteksi terjadinya fraktur. Rontgen digunakan untuk
memotret tubuh bagian dalam, sehingga organ yang ada dalam tubuh dapat
terlihat dengan jelas, terutama pada bagian tulang yang mengalami fraktur.
Foto rontgen menggunakan media sinar X sebagai hasil untuk mengetahui
seberapa tingkat keparahan pada fraktur yang terjadi.

9. Penatalaksanaan
Menurut Muttaqin (2008) konsep dasar yang harus dipertimbangkan pada
waktu menangani fraktur yaitu : rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi.
a. Rekognisi (Pengenalan)
Riwayat kecelakaan, derajat keparahan, harus jelas untuk menentukan
diagnosa dan tindakan selanjutnya. Contoh pada tempat fraktur tungkai
akan terasa nyeri sekali dan bengkak. Kelainan bentuk yang nyata dapat
menentukan diskontinuitas integritas rangka.
b. Reduksi (Manipulasi/ Reposisi)
Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen fragmen
tulang yang patah sedapat mungkin kembali lagi seperti letak asalnya.
Upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali seperti semula
secara optimal. Reduksi fraktur dapat dilakukan dengan reduksi tertutup,
traksi, atau reduksi terbuka. Reduksi fraktur dilakukan sesegera mungkin
untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi
karena edema dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur
menjadi semakin sulit bila cedera sudah mulai mengalami penyembuhan
(Mansjoer, 2002). Dalam penatalaksanaan fraktur dengan reduksi dapat
dibagi menjadi 2 yaitu:
1) Reduksi Tertutup/ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragment tulang
pada kesejajarannya dan rotasi anatomis. Reduksi tertutup, traksi, dapat
dilakukan untuk mereduksi fraktur. Metode tertentu yang dipilih
bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap
sama.Sebelum reduksi dan imobilisasi fraktur, pasien harus disiapkan
untuk menjalani prosedur dan harus diperoleh izin untuk melakukan
prosedur, dan analgetika diberikan sesuai ketentuan. Mungkin perlu
dilakukan anesthesia. Ekstremitas yang akan dimanipulasi harus ditangani
dengan lembut untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Reduksi tertutup
pada banyak kasus dilakukan dengan mengembalikan fragment tulang ke
posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan
traksi manual.
2) Reduksi Terbuka/OREF (Open Reduction Eksternal Fixation)
Pada Fraktur tertentu dapat dilakukan dengan reduksi eksternal atau yang
biasa dikenal dengan OREF, biasanya dilakukan pada fraktur yang terjadi
pada tulang panjang dan fraktur fragmented. Eksternal dengan fiksasi, pin
dimasukkan melalui kulit ke dalam tulang dan dihubungkan dengan fiksasi
yang ada dibagian luar. Indikasi yang biasa dilakukan penatalaksanaan
dengan eksternal fiksasi adalah fraktur terbuka pada tulang kering yang
memerlukan perawatan untuk dressings. Tetapi dapat juga dilakukan pada
fraktur tertutup radius ulna. Eksternal fiksasi yang paling sering berhasil
adalah pada tulang dangkal tulang misalnya tibial batang.
c. Retensi (Immobilisasi)
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali
seperti semula secara optimal. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang
harus diimobilisasi, atau di pertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar
sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi
eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips,
bidai, traksi kontinu, pin, dan teknik gips, atau fiksator eksterna. Alat traksi
diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang fraktur untuk
meluruskan bentuk tulang. Ada 2 macam yaitu:
a) Skin Traksi
Skin traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan
menempelkan plester langsung pada kulit untuk mempertahankan bentuk,
membantu menimbulkan spasme otot pada bagian yang cedera, dan
biasanya digunakan untuk jangka pendek (48-72 jam).
b) Skeletal traksi
Adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera pada
sendi panjang untuk mempertahankan bentuk dengan memasukkan pins /
kawat ke dalam tulang.
d. Rehabilitasi
Rehabilitasi dilakukan untuk aktifitas fungsional semaksimal mungkin
dalam menghindari atropi atau kontraktur. Bila keadaan mmeungkinkan,
harus segera dimulai melakukan latihan-latihan untuk mempertahankan
kekuatan anggota tubuh dan mobilisasi (Mansjoer, 2000).

Tahap penyembuhan tulang dibagi menjadi 5 proses yaitu sebagai berikut:

Gambar 3. Proses Penyembuhan tulang (Pearce, 2009)


a. Tahap pembentukan hematoma
Dalam 24 jam pertama mulai terbentuk bekuan darah dan fibrin yang
masuk ke area fraktur. Suplai darah meningkat dan terbentuk hematom
yang berkembang menjadi jaringan granulasi sampai hari kelima.
b. Tahap proliferasi
Dalam waktu sekitar 5 hari, hematom akan mengalami organisasi.
Terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk
jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan osteoblast yang
akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen
pada patahan tulang, lalu akan terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang
rawan.
c. Tahap pembentukan kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh
mencapai sisi lain sampai celah terhubung. Fragmen patahan tulang
digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan, dan tulang serat
imatur. Butuh 3-4 minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang
rawan atau jaringan fibrus.
d. Osifikasi
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu
patah tulan melalui proses penulangan ndokondrial. Mineral terus
menerus ditimbun sampai tulang benar-benar bersatu. Proses ini
memerlukan waktu 3-4 bulan.
e. Konsolidasi (6-8 bulan) dan Remodelling (6-12 bulan)
Tahap akhir dari perbaikan patah tulang adalah dengan aktifitas
osteoblas dan osteoclas. Kalus mengalami pembentukan tulang sesuai
aslinya.
B. Clinical Pathway

Trauma Kondisi
langsung patologis

Fraktur

Diskontinuitas Pergeseran
tulang fragmen tulang

Perubahan Nyeri akut Ansietas


jaringan sekitar

Pergeseran Spasme otot Laserasi kulit dan jaringan


fragmen tulang

Deformitas Peningkatan Port de entry Putus vena/ Kerusakan


tekanan kapiler kuman arteri integritas
kulit
Gangguan Pelepasan Risiko
Fungsi histamin Perdarahan
infeksi Kerusakan
muskuloskeletal
integritas
Protein plasma jaringan
hilang Kehilangan
Hambatan
cairan
mobilitas fisik
Edema
Syok
hipovolemik
Penekanan
pembuluh
darah

Penurunan
perfusi jaringan

Gangguan
perfusi
jaringan
C. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
A. Anamnesa
a) Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang
dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan
darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
b) Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri.
Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan.
Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien
digunakan:
1) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang
menjadi faktor presipitasi nyeri.
2) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau
digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau
menusuk.
3) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa
sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
4) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan
klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan
seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
5) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah
buruk pada malam hari atau siang hari. (Ignatavicius, Donna D,
1995)
c) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari
fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan
terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut
sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh
mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya
kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain (Ignatavicius, Donna
D, 1995).
d) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan
memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung.
Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang
menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung.
Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko
terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes
menghambat proses penyembuhan tulang (Ignatavicius, Donna D, 1995).
e) Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang
merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti
diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan
kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Ignatavicius,
Donna D, 1995).
f) Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya
dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau
pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun
dalam masyarakat (Ignatavicius, Donna D, 1995).

B. Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:


Gejala-gejala fraktur tergantung pada lokasi, berat dan jumlah kerusakan
pada struktur lain. Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat
keperawatan yang perlu dikaji adalah:
a. Aktivitas/istirahat:
Gejala :
Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera
akibat langsung dari fraktur atau akibat sekunder pembengkakan jaringan
dan nyeri.
b. Sirkulasi:
Tanda :
a) Peningkatan tekanan darah mungkin terjadi akibat
respon terhadap nyeri/ansietas, sebaliknya dapat terjadi penurunan
tekanan darah bila terjadi perdarahan.
b) Takikardia
c) Penurunan/tak ada denyut nadi pada bagian distal
area cedera, pengisian kapiler lambat, pucat pada area fraktur.
d) Hematoma area fraktur.
c. Neurosensori :
Gejala : Hilang gerakan/sensasi, Kesemutan (parestesia)
Tanda:
a) Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi,
spasme otot, kelemahan/kehilangan fungsi.
b) Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin
segera akibat langsung dari fraktur atau akibat sekunder
pembengkakan jaringan dan nyeri.
c) Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma
lain.
d. Nyeri/Kenyamanan :
Gejala: Nyeri hebat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada
area fraktur, berkurang pada imobilisasi. Spasme/kram otot setelah
imobilisasi.
e. Keamanan:
Tanda :
a) Laserasi kulit, perdarahan
b) Pembengkakan lokal (dapat meningkat bertahap
atau tiba-tiba)

2. Diagnosa Keperawatan Yang Sering Muncul


1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik (fraktur)
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terputusnya kontinuitas
jaringan
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka
neuromuskular
4. Ansietas
5. Resiko infeksi
3. Nursing Care Plan
No. Masalah Tujuan & Kriteria Hasil (NOC) Intervensi (NIC)
Keperawatan
1. Nyeri akut (00132) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 NIC: Manajemen Nyeri (1400)
jam pasien menunjukkan hasil: a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif yang meliputi lokasi,
karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas beratnya
Kepuasan Klien: Menejemen Nyeri (3016) nyeri dan faktor pencetus;
No. Indikator Awal
Tujuan b. Observasi adanya petunjuk nonverbalmengalami ketidaknyamanan
1 2 3 4 5 terutama pada mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara edektif
1. Nyeri terkontrol 3 √ c. Gunakan strategi komunikasi terapuetik untuk mengetahui
2. Tingkat nyeri 3 √
Mengambil tindakkan untuk
pengalaman nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri
3. 3 √ d. Gali pengetahuan dan kepercayaan pasien mengenai nyeri
: mengurangi nyeri
Mengambil tindakkan untuk e. Ajarkan prinsip-prinsip menejemen nyeri
4. 1 √
: memberi kenyamanan f. Kolaborasi pemberian analgesik guna pengurangi nyeri
Pendekatan preventif
5. 3 √
menejemen nyeri NIC: Terapi relaksasi (6040)
Manejemen nyeri sesuai
6.
budaya budaya
2 √ a. Gambarkan rasionalisasi dan manfaat relaksasi serta jenis relaksasi
Keterangan: yang tersedia
1. Keluhan ekstrime b. Pertimbangkan keinginan pasien untuk berpartisipasi, kemampuan
2. Keluhan berat berpartisipasi, pilihan, pengalaman masa lalu dan kontraindikasi
3. Keluhan sedang sebelum memilih strategi tertentu
4. Keluhan ringan c. Dorong klien untuk mengambil posisi yang nyaman dengan pakaian
5. Tidak ada keluhan longgar dan mata tertutup
d. Minta klien untuk rileks dan merasakan sensasi yang terjadi
- Nyeri terkontrol (301601) e. Dorong klien untuk mengulangi [praktik teknis relaksasi,
- Tingkat nyeri berkurang (301602) jikamemungkinkan
- Mengambil tindakkan untuk : dapat mengurangi f. Evaluasi dan dokumentasi respon terhadap terapi relaksasi
nyeri menggunakan terapi farmakologis dan non
farmakologis (301604)
- Mengambil tindakkan untuk : dapat mengatur posisi
yang nyaman (301605)
- Pendekatan preventif menejemen nyeri : dapat
mengetahui tentang nyeri dan cara mengatasinya
menggunakan terapi farmakologis maupun non
farmakologis (301610)
- Menejemen nyeri sesuai budaya budaya : dapat
melakukan terapi relaksasi untuk mengurangi nyeri
(301609)

2. Kerusakan integritas NOC: NIC: Pressure Management


kulit (00046) Status Kerusakan integritas kulit (00046) a. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
b. Hindari kerutan pada tempat tidur
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 a. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
jam pasien menunjukkan hasil: b. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap 2 jam sekali
No. Indikator Awal
Tujuan c. Monitor kulit akan adanya kemerahan
1 2 3 4 5 d. Oleskan lotionatau minyak/baby oil pada daerah yang tertekan
Suhu, elastisitas hidrasi dan e. Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
1. 3 √
sensasi
2. Perfusi jaringan 3 √
f. Monitor status nutrisi pasien
3. Keutuhan kulit 3 √ g. Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
4. Eritema kulit sekitar 1 √
5. Luka berbau busuk 3 √
6. Granulasi 2 √
7. Pembentukan jaringan parut 4 √
8. Penyusutan luka 3 √
Keterangan:
1. Gangguan eksterm
2. Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada gangguan
Status penyembuhan luka primer
Tujuan
No. Indikator Awal
1 2 3 4 5
1. Penyatuan kulit 3 √
2. Penyatuan ujung luka 3 √
3. Pembentukan jaringan parut 3 √
Keterangan:
1. Tidak ada
2. Sedikit
3. Sedang
4. Banyak
5. Sangat banyak

- Menunjukkan rutinitas perawatan kulit atau


perawatan luka yang optimal)
- Drainase purulen atau bau luka minimal
- Tidak ada lepuh atau maserasi pada kulit
- Nekrosis,selumur,lubang perluasan luka ke jaringan
dibawah kulit,atau pembentukan saluran sinus
berkurang atau tidak ada
- Eritema kulit dan eritema disekitar luka minimal

3. Hambatan mobilitas NOC: NIC:


fisik (00085) Koordinasi Pergerakan (0212) Peningkatan Mekanika Tubuh (0140)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 1. Bantu pasien latihan fleksi untuk memfasilitasi mobilisasi sesuai
jam pasien menunjukkan kriteria hasil: indikasi
2. Berikan informasi tentang kemungkinan posisi penyebab nyeri otot
No Indikator
Awal Tujuan atau sendi
1 2 3 4 5 3. Kolaborasi dengan fisioterapis dalam mengembangkan peningkatan
Kontraksi kekuatan otot mekanika tubuh sesuai indiksi
1. √
(021201)
2. Bentuk otot (021202) √ Peningkatan Latihan: Latihan Kekuatan (0201)
3. Kecepatan gerakan (021203) √ 1. Sediakan informasi mengenai fungi otot, latihan fisiologis, dan
4. Kehalusan gerakan (021204) √ konsekuensi dari penyalahgunaannya
5. Kontrol gerakan (021205) √
Kemantapan gerakan
2. Bantu mendapatkan sumber yang diperlukan untuk terlibat dalam
6. √ latihan otot progresif
(021206)
Keseimbangan gerakan 3. Instruksikan untuk beristirahat sejenak setiap selesai satu set jika
7. √
(021207) diperlukan
8. Tegangan otot (021208) √ 4. Bantu klien untuk menyampaikan atau mempraktekan pola gerakan
Gerakan ke arah yang yan dianjurkan tanpa beban terlebih dahulu sampai gerakan yang benar
9. diinginkan (021209) √
sudah di pelajari
Gerakan dengan waktu yang
10. √ Terapi Latihan : Mobilitas Sendi (0224)
diinginkan (021210)
11.
Gerakan dengan kecepatan
√ 1. Tentukan batas pergerakan sendi dan efeknya terhadap fungsi sendi
yang diinginkan (021211) 2. Kolaborasikan dengan ahli terapi fisik dalam mengembangkan dan
Gerakan dengan ketepatan menerapan sebuah program latihan
12. √
yang diinginkan (021212)
3. Dukung latihan ROM aktif, sesuai jadwal yang teraktur dan terencana
Keterangan:
4. Instruksikan pasien atau keluarga cara melakukan latihan ROM pasif,
1. Sangat terganggu
dan aktif
2. Banyak terganggu
5. Bantu pasien ntuk membuat jadwal ROM
3. Cukup terganggu
6. Sediakan petujuk tertulis untuk melakukan latihan
4. Sedikit terganggu
5. Tidak terganggu

4. Resiko infeksi NOC: NIC


(00004) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 Kontrol infeksi (6540)
jam pasien menunjukkan hasil: 1. Bersihkan lingkungan dengan baik setelah dipakai setiap pasien
2. Ganti perawatan peralatan setiap pasien sesuai SOP rumah sakit
No. Indikator Awal Tujuan 3. Batasi jumlah pengunjung
1 2 3 4 5 4. Ajarkan cara mencuci tangan
1. Tekanan darah sistolik 2 √ Perlindungan infeksi (6550)
2. Tekanan darah diastolic 2 √
5. Monitor adanya tanda dan gejala infeksi
3. Stabilitas hemodinamik 2 √ 6. Berikan perawatan kulit yang tepat
4. Suhu tubuh 2 √ Manajemen nutrisi (1100)
5. Laju nadi radialis 2 √ 7. Tentukan status gizi pasien
6. Irama nadi radialis 2 √
7. Laju pernafasan 3 √
8. Identifikasi adanya alergi
8. Kedalaman inspirasi 2 √ Identifikasi resiko (6610)
9. Keluaran urin 2 √ 9. Kaji ulang riwayat kesehatan masa lalu
10. Bisin usus

10. Identifikasi strategi koping yang digunakan
1
11. Kesadaran 2 √
Keterangan:
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang-kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Secara konsisten menunjukkan
D. Discharge Planning
Berdasarkan Nurafif dan Kusuma (2015) discharge planning untuk pasien
fraktur sebagai berikut:
1. Meningkatkan masukan cairan
2. Dianjurkan untuk diet lunak terlebih dahulu
3. Dianjurkan untuk istirahat yang adekuat
4. Kontrol sesuai jadwal
5. Mimun obat sesuai dengan yang diresepkan dan segera periksa jika ada
keluhan
6. Menjaga masukan nutrisi yang seimbang
7. Hindari trauma ulang.
DAFTAR PUSTAKA

Apley, A. Graham. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta:
Widya Medika.
Black, J.M, et al. 1995. Luckman and Sorensen’s Medikal Nursing : A Nursing
ProcessApproach, 4 th Edition. New York: W.B. Saunder Company.
Bulechek, G. M., H. K. Butcher, J. M. Dochteman, C. M. Wagner. 2015. Nursing
Interventions Classification (NIC). Edisi 6. Jakarta: EGC.
Bulechek, G. M., H. K. Butcher, J. M. Dochteman, C. M. Wagner. 2015. Nursing
Outcomes Classification (NOC). Edisi 6. Jakarta: EGC.
De Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Egol, K.A., Koval, K.J., Zuckerman, J.D. 2010. Handbook of Fractures.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Herdman, T.H. dan S. Kamitsuru. (Ed). 2018. NANDA Internasional Diagnosis
Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2018-2020, Ed. 11. Terjemahan
oleh Budi Anna Keliat et al. Jakarta: EGC.
Hoppenfield, Stanley. 2011. Treatment and Rehabilitation of Fractures. Jakarta:
EGC.
Mansjoer, Arif, et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid II. Jakarta: Medika
Aesculapius FK UI.
Moorhead., Johnson., Maas., & Swanson. 2013. Nursing Outcomes Classification
(NOC). Fifth Edition. USA: Mosby.
Morrison, M.J. 2003. Manajemen Luka alih bahasa Tyasmono A. F. Jakarta: EGC.
Mukhopadhyay, S., Mukhopadhyay J., Sengupta S., dan Ghosh B. 2016. Approach
to Pathological Fracture-Physician’s Perspective. Austin Internal Medicine.
1(3): 1-9.
Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta:
Gramedia.
Rasjad, C. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: Yarsif Watampone.
Reksoprodjo, S. 2009. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara
Publisher.
Roockwood, C. A. dkk. 1991. Fractures in Adults. J. B Lipincott Company
Smeltzer, S. C., dan Bare, B. G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah
Brunner & Suddarth.Edisi 8 Volume 2. Jakarta: EGC.
Torbert, J.T. & R.D. Lackman. 2011. Fractures in the Elderly: A Guide to Practical
Management. Humana Press.