Anda di halaman 1dari 5

Penatalaksanaan difteri harus dimulai secepatnya bahkan sebelum adanya hasil

pemeriksaan penunjang yang definitif karena tingginya angka morbiditas dan


mortalitas. Isolasi pasien minimal 48 jam setelah pemberian antibiotik yang
adekuat. Pada pasien yang dicurigai akan mengalami gangguan saluran napas harus
mendapat pengamanan jalur napas. Aktivitas jantung harus dipantau dengan ketat
untuk deteksi awal abnormalitas irama jantung. Pada pasien yang mengalami
aritmia atau gagal jantung sebaiknya diberikan intervensi farmakologis dan pada
pasien yang mengalami gangguan konduksi jantung yang signifikan dapat
dilakukan electrical pacing. Pemberian antibiotik dan antitoksin harus segera
diberikan.[1,2,16]
Medikasi
Tata laksana farmakologi pada penderita difteri dewasa sama dengan tata laksana
penderita difteri pada anak, yaitu:

Pemberian Anti Difteri Serum (ADS)

Anti Difteri Serum (ADS) atau antitoksin difteri dihasilkan dari serum kuda, yang
bekerja dengan menetralisir eksotoksin bebas sebelum memasuki sel. ADS
sebaiknya diberikan sesegera mungkin setelah melakukan tes hipersensitivitas
terhadap ADS. Pemberian antitoksin secara dini sangat penting dalam menentukan
kesembuhan.

Di Indonesia, Anti Difteri Serum diproduksi dan didistribusikan oleh Biofarma.


ADS ini tersedia di rumah sakit melalui pemesanan ke Kementerian Kesehatan.
Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa stok ADS cukup untuk mengatasi
kejadian luar biasa (KLB) difteri yang terjadi pada akhir 2017.[15]

Sebelum pemberian ADS harus dilakukan uji kulit terlebih dahulu untuk menilai
sensitivitas pasien terhadap ADS. Uji kulit dilakukan dengan penyuntikan 0,1 ml
ADS dalam larutan garam fisiologis 1:1000 secara intrakutan. Hasil positif bila
dalam 20 menit terjadi indurasi >10 mm.

Bila uji kulit positif, ADS diberikan dengan cara desensitisasi. Bila uji kulit
negatif, ADS diberikan sekaligus secara intravena. Dosis ADS ditentukan secara
empiris berdasarkan berat penyakit dan lama sakit, tidak tergantung pada berat
badan penderita. Dosisnya berkisar antara 20.000-100.000 unit.
Pemberian ADS intravena dalam larutan garam fisiologis atau 100 ml dekstrosa
5% dalam 1-2 jam. Lakukan pengamatan terhadap efek samping obat dilakukan
selama pemberian antitoksin dan selama dua jam berikutnya. Selain itu, perlu juga
dilakukan pengawasan terhadap terjadinya reaksi hipersensitivitas lambat (serum
sickness).
Kemungkinan terjadi reaksi anafilaksis sekitar 0,6% yang terjadi beberapa menit
setelah pemberian ADS. Untuk itu, pemantauan ketat dan injeksi epinefrin harus
selalu tersedia pada pasien yang baru mendapatkan ADS.

ADS tidak boleh diberikan pada wanita hamil.[1,2,16]

Pemberian antibiotika

Tata laksana dengan antibiotik paling efektif pada tahap awal penyakit serta
mampu menurunkan angka penularan dan meningkatkan kesembuhan dari difteri.
Antibiotik yang diberikan adalah golongan makrolid sebagai lini pertama dan
golongan penisilin.

Golongan makrolid:

Berdasarkan CDC, antibiotik golongan makrolid seperti eritromisin dan


azitromisin makrolid adalah antibiotik lini pertama untuk pasien yang berusia lebih
dari enam bulan. Namun demikian, terapi makrolid, khususnya eritromisin,
dikaitkan dengan peningkatan kejadian stenosis pilorus pada bayi berusia kurang
dari enam bulan. Antibiotik golongan makrolid memiliki keuntungan manfaat
sebagai agen antiinflamasi dengan menghambat migrasi leukosit polimorfonuklear.
Dosis antibiotik golongan makrolid untuk difteri, yaitu:

 Eritromisin: 40-50 mg/kg/hari dalam dosis per oral terbagi interval 6 jam atau
intravena dengan dosis maksimal 2 g/hari selama 14 hari.

 Azitromisin:

 Anak-anak: 10-12 mg/kg sekali sehari (maks. 500 mg/hari)

 Dewasa: 500 mg sekali sehari

 Durasi pengobatan total 14 hari


Golongan penisilin:

Penisilin intramusukular direkomendasikan untuk pasien yang nonkomplians


ataupun intoleran terhadap makrolid, seperti pada bayi berumur di bawah enam
bulan. Antibiotik golongan penisilin yang dapat diberikan yaitu:

 Procaine benzyl penicillin (penisilin G)


 50 mg/kg sekali sehari (maks. 1,2 g/hari) secara IM selama 14 hari

 Aqueous benzyl penicillin (penisilin G)


 000 unit/kg/hari secara IM atau IV lambat diberikan dalam dosis terbagi setiap 6
jam selama 14 hari

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sendiri menganjurkan pemberian


antibiotik penisilin prokain IM 25000-50000 U/kgBB maks 1,5 juta U selama 14
hari, atau dapat juga diberikan eritromisin oral atau injeksi diberikan 40
mg/kgBB/hari maks 2 g/hari interval 6 jam selama 14 hari.[1,2,13,16]

Kortikosteroid

Kortikosteroid dapat diberikan pada penderita difteri dengan gejala obstruksi


saluran napas bagian atas. Jika terdapat penyulit miokarditis
diberikan prednisone 2 mg/kg BB selama 2 minggu kemudian diturunkan bertahap.
Terapi Oksigen

Terapi oksigen rutin sebaiknya dihindari karena dapat mengaburkan tanda-tanda


obstruksi jalan nafas. Hanya berikan terapi oksigen pada pasien yang dicurigai
mengalami obstruksi jalan nafas atau kegawatan nafas.

Penanganan pada Fase Konvalesens

Pada fase konvalesens diberikan vaksin diteri toksoid disesuaikan status imunisasi
penderita. Jika terdapat tanda-tanda syok, lakukan resusitasi dengan hati-hati
karena syok pada difteri dapat terjadi akibat sepsis atau gagal jantung. Jika tidak
terdapat tanda-tanda gagal jantung dan/atau kelebihan cairan, berikan terapi cairan
dengan hati-hati. Jika syok dicurigai akibat gagal jantung, gunakan obat-obatan
inotropik dan jangan berikan cairan. Jika terdapat demam atau nyeri,
berikan paracetamol.[1,2,14]
Penanganan Kontak Erat

Siapapun yang kontak erat dengan kasus dalam 7 hari terakhir dianggap berisiko
tertular. Kontak erat penderita dan karier meliputi:

 Anggota keluarga serumah

 Teman, kerabat, pengasuh yang secara teratur mengunjungi rumah

 Kontak cium/seksual

 Teman di sekolah, teman les, teman mengaji, teman sekerja

 Petugas kesehatan di lapangan dan di RS

Semua kontak erat harus diperiksa adanya gejala difteri serta diawasi setiap hari
selama 7 hari dari tanggal terakhir kontak dengan kasus. Status imunisasi kontak
harus ditanyakan dan dicatat. Kontak erat harus mendapat profilaksis dengan
antibiotik eritromisin dengan dosis 50 mg/kg BB/ hari dibagi dalam 4 kali
pemberian selama 7 hari dengan pengawasan dari pengawas minum obat (PMO).
Selain itu perlu diberikan vaksin difteri sesuai strategi WHO dengan
memprioritsakan vaksinasi pada anak-anak. Vaksinasi yang diberikan dengan
ketentuan sebagai berikut:

 Pentavalen untuk usia 6 minggu -6 tahun atau Td untuk usia >7 tahun

 Cukup satu dosis jika tercatat sudah menyelesaikan imunisasi dasar dengan
lengkap

 Jika belum menyelesaikan imunisasi dasar dengan lengkap atau tidak ada bukti
lengkapnya imunisasi dasar, diberikan 3 dosis dengan jarak minimal 4 minggu
antar setiap dosis. [2,16]

Prosedur/Tindakan bedah
Jika terdapat tanda ancaman obstruksi komplit pada jalan napas (stridor inspirasi,
peningkatan laju napas, retraksi dinding dada, dan penggunaan otot bantu napas),
segera amankan jalan napas. Pengamanan jalan napas dilakukan dengan
pendekatan bertingkat. Metode pertama yang dapat dilakukan adalah intubasi
orotrakeal. Namun jika setelah terpasang intubasi, jalan napas belum aman, dapat
dilakukan trakeostomi atau needle cricoidthyroidotomy. Jika penderita sudah
mengalami obstruksi komplit pada jalan napas (sianosis, SpO2 90-94%, letargi),
lakukan trakeostomi emergensi jika ada ahli bedah berpengalaman atau
lakukan needle crichoidthyroidotomy sebagai prosedur emergensi sementara. Pada
kondisi ini, intubasi orotrakeal mungkin tidak dapat dilakukan dan dapat membuat
membrane terlepas sehingga obstruksi tidak teratasi. [2]
Bronkoskopi juga dapat dilakukan untuk membantu mengangkat pseudomembran
yang ada.[1,2,16]

Terapi suportif lainya


Edukasi pasien untuk makan dan minum. Jika pasien kesulitan dalam menelan,
pemberian nutrisi dapat dibantu dengan selang nasogastrik. Selang nasogastrik
harus dipasang dengan sangat hati-hati. [2]

Perawatan Pasien Difteri


Dalam perawatan pasien difteri, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

 Tenaga kesehatan yang memeriksa/merawat penderita difteri harus sudah memiliki


imunisasi lengkap.

 Pada saat memeriksa tenggorok, gunakan masker bedah, pelindung mata, dan topi

 Apabila kontak langsung dengan penderita (jarak <1 meter), gunakan masker
bedah, sarung tangan, gaun, dan pelindung mata

 Saat mengambil spesimen, gunakan masker bedah, pelindung mata, topi, baju
pelindung, dan sarung tangan

 Saat melakukan tindakan yang menimbulkan aerosolisasi (intubasi, bronkoskopi),


dianjurkan untuk menggunakan masker N95.

 Pembersihan permukaan lingkungan dengan desinfektan

 Petugas kesehatan dan masyarakat harus menerapkan etika batuk.

 Bagi penderita yang harus didampingi keluarga, maka pendamping harus


menggunakan alat pelindung diri (masker bedah dan gaun) serta melakukan
kebersihan tangan