Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas akhir semeter mata kuliah
“...........................................”

Dosen Pengampu :
.............................................

Disusun Oleh:

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena atas limpahan
rahmat-Nya lah kami dapat menyelesaikan tugas laporan ini dengan tepat waktu
yaitu tentang Implementasi Pendidikan Multikultural.
Makalah ini merupakan pembahasan tentang peran guru dalam menjawab
tantang moralitas bangsa. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun penulis harapkan demi kesempurnaan karya tulis ini.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyususnan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai kita semua. Aamiin.

Hormat Kami,
Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul................................................................................................. i
Kata Pengantar ............................................................................................... ii
Daftar isi ........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan .................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Multikulturalisme .................................................................... 3
B. Pengertian Pendidikan Multikultural .................................................... 4
C. Pendidikan Multikultural di Indonesia ................................................. 5
D. Nilai-Nilai Universal dalam Pendidikan Pendidikan Multikultural ..... 6
E. Metode Pembelajaran Dalam Pendidikan Multikultural....................... 8
F. Pembelajaran Humanis menurut Pandangan jurgen Habermas .......... 12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................... 13
B. Saran ................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Amal yang pasti diterima adalah yang dikerjakan dengan ikhlas. Amal
hanya karena Allah semata, dan tidak ada harapan kepada makhluk sedikit pun.
Niat ikhlas bisa dilakukan sebelum amal dilakukan, bisa juga disaat melakukan
amal atau setelah amal dilakukan. Salah satu karunia Allah yang harus
disyukuri adalah adanya kesempatan untuk beramal. Menjadi jalan kebaikan
dan memberikan manfaat kepada orang lain. Karenanya, jangan pernah
menunda kebaikan ketika kesempatan itu datang. Lakukan kebaikan
semaksimal mungkin dan lupakan jasa yang sudah dilakukan. Serahkan
segalanya hanya kepada Allah. Itulah aplikasi dari amal yang ikhlas.
Ketika orang lain merasakan manfaat dari amal yang kita perbuat, maka
yakinilah bahwa tidak ada perlunya kita membanggakan diri karena merasa
berjasa. Itu semua hanya akan menghapus nilai pahala dari amal yang
diperbuat. Setiap kebaikan yang kita lakukan mutlak karunia dari Allah, yang
menghendaki kita terpilih agar bisa melakukan amal baik tersebut. Sekiranya
Allah menakdirkan kita bisa bersedekah kepada anak yatim, itu berarti kita
harus bersyukur telah menjadi jalan sampainya hak anak yatim. Tidak perlu
merasa berjasa karena hakekatnya kita hanyalah perantara hak anak yatim itu,
lewat harta, tenaga dan kekuasaan yang Allah titipkan kepada kita.
Selain itu, hindari sifat ’merasa’ lebih dari yang lain. Merasa pintar,
merasa berjasa, merasa dermawan, apalagi merasa shaleh, seakan-akan surga
dalam genggamannya. Semua yang kita miliki adalah titipan yang Allah
karuniakan kepada kita untuk dipergunakan sebagai sarana penghambaan
kepada-Nya.
Berkaitan dengan suatu perbuatan, Islam sangat menekankan pentingnya
motif dan tujuan dari seorang yang melakukan perbuatan tersebut tidak cukup
hanya bentuk lahiriahnya saja. Dalam hal ini dapat diibaratkan bahwa setiap
perbuatan itu ada badan dan ruhnya. Badannya adalah bentuk luar yang terlihat
dan terdengar, sedangkan ruhnya adalah niat yang mendorong dilakukannya

1
perbuatan itu dan jiwa ikhlas yang mendorong terciptanya perbuatan tersebut.
Bagi golongan ahli hakikat (tasawuf), ikhlas merupakan syarat sahnya suatu
ibadah. Dengan demikian, diterima atau tidaknya suatu perbuatan sangat
tergantung kepada niat yang melakukannya.
Sedemikian pentingnya kedudukan ikhlas dalam amal ibadah, sehingga
dalam al-Qur’an sendiri sebagai sumber utama dalam ajaran Islam-terdapat
banyak ayat yang membicarakan masalah ikhlas dalam berbagai aspeknya.
Oleh karena itu, sesuai dengan tema yang telah ditentukan, kajian dalam tulisan
ini akan berupaya memaparkan konsep ikhlas.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Ikhlas ?
2. Bagaimana ayat yang menerangkan Ikhlas ?
3. Bagaimana perbedaan ikhlasnya orang zaman dulu dengan sekarang ?
4. Bagaimana balasan orang yang tidak Ikhlas ?

C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pengertian Ikhlas.
2. Mengetahui ayat-ayat yang menerangkan ikhlas.
3. Mengetahui perbedaan ikhlasnya orang zaman dulu dengan sekarang.
4. Mengetahui balasan orang yang tidak Ikhlas.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ikhlas
Secara etimologis, kata ikhlas merupakan bentuk mashdar dari kata
akhlasha yang berasal dari akar kata khalasha. Menurut Luis Ma’luuf, kata
khalasha ini mengandung beberapa macam arti sesuai dengan konteks
kaliamatnya. Ia bisa berarti shafaa (jernih), najaa wa salima (selamat), washala
(sampai), dan I’tazala (memisahkan diri). Maksudnya, didalam menjalankan
amal ibadah apa saja harus disertai dengan niat yang ikhlas tanpa pamrih
apapun.[1]
Bila diteliti lebih lanjut, kata ikhlas sendiri sebenarnya tidak dijumpai
secara langsung penggunaannya dalam al-Qur’an. Yang ada hanyalah kata-kata
yang berderivat sama dengan kata ikhlas tersebut. Secara keseluruhan terdapat
dalam tiga puluh ayat dengan penggunaan kata yang beragam. Kata-kata
tersebut antara lain : kata khalashuu, akhlashnaahum, akhlashuu, astakhlish, al-
khaalish, dan khaalish masing-masing sebanyak satu kali. Selanjutnya kata
khaalishah lima kali, mukhlish (tunggal) tiga kali, mukhlishuun (jamak) satu
kali, mukhlishiin (jamak) tujuh kali, mukhlash (tunggal) satu kali, dan
mukhlashiin (jamak) sebanyak delapan kali.
Selanjutnya, ditinjau dari segi makna, term ikhlas dalam al-Qur’an juga
mengandung arti yang beragam. Dalam hal ini al-Alma’i merinci pemakaian
term tersebut kepada empat macam :
Pertama, ikhlas berarti al-ishthifaa’ (pilihan) seperti pada surat Shaad :
46-47. Di sini al-Alma’i mengutip penafsiran dari Ibn al-Jauzi terhadap ayat
tersebut yang intinya bahwa Allah telah memilih mereka dan menjadikan
mereka orang-orang yang suci. Penafsiran yang sama juga dikemukakan oleh
al-Shaabuuni dalam tafsirnya Shafwah al-Tafaasiir, yakni “Kami (Allah)
istimewakan mereka dengan mendapatkan kedudukan yang tinggi yaitu dengan
membuat mereka berpaling dari kehidupan duniawi dan selalu ingat kepada
negeri akhirat.” Dengan demikian terdapat kaitan yang erat (munaasabah)

3
antara ayat 46 dengan 47, yakni ayat yang sesudahnya menafsirkan ayat yang
sebelumnya.
Kedua, ikhlas berarti al-khuluus min al-syawaa’ib (suci dari segala
macam kotorn), sebagaimana tertera dalam surat an-Nahl : 66 yang
membicarakan tentang susu yang bersih yang berada di perut binatang ternak,
meskipun pada mulanya bercampur dengan darah dan kotoran ; kiranya dapat
dijadikan pelajaran bagi manusia. Makna yang sama juga terdapat dalam surat
al-zumar : 3, walaupun dalam konteks yang berbeda. Dalam ayat tersebut
dibicarakan tentang agama Allah yang bersih dari segala noda seperti syirik,
bid’ah dan lain-lain.
Ketiga, ikhlas berarti al-ikhtishaash (kekhususan), seperti yang terdapat
pada surat al-Baqarah : 94, al-An’am : 139, al-A’raf : 32, Yusuf : 54, dan al-
Ahzab : 32.
Keempat, ikhlas berarti al-tauhid (mengesakan) dan berarti al-tathhir
(pensucian) menurut sebagian qira’at. Ikhlas dalam artian pertama inilah yang
paling banyak terdapat dalam al-Qur’an, antara lain terdapat dalam surat al-
Zumar : 2,11,14, al-Baqarah : 139, al-A’raf : 29, Yunus : 22, al-Ankabut : 65,
Luqmaan : 32, Ghaafir : 14,65, an-Nisaa : 146, dan al-Bayyinah : 5. Dalam
ayat-ayat tersebut, kata-kata yang banyak digunakan adalah dalam bentuk isim
fa’il (pelaku), seperti mukhlish (tunggal) dan mukhlishuun atau mukhlshiin
(jamak). Secara leksikal kata tersebut dapat diartikan dengan al-muwahhid
(yang mengesakan). Dalam konteks inilah kiranya surat ke-112 dalam al-
Qur’an dinamakan surat al-ikhlaas, dan kalimat tauhid (laa ilaaha illa Allah)
disebut kalimat al-ikhlas. Dengan demikian makna ikhlas dalam ayat-ayat di
atas adalah perintah untuk selalu mengesakan Allah dalam beragama, yakni
dalam beribadah, berdo’a dan dalam perbuatan taat lainnya harus dikerjakan
semata-mata karena Allah; bukan karena yang lain. Itulah sebabnya mengapa
term ikhlas pada ayat-ayat di atas selalu dikaitkan dengan al-diin.
Adapun ikhlas dalam arti yang kedua (al-tathhiir) ditujukan kepada
orang-orang yang telah disucikan Allah hatinya dari segala noda dan dosa
sehingga mereka menjadi hamba Allah yang bersih dan kekasih pilihan-Nya.
Hal ini seperti yang tercantum dalam surat Yusuf : 24, al-Hijr : 40, al-shaffat :

4
40,74,128,166,169, Shaad : 83, dan surat Maryam : 51. Pada ayat-ayat tersebut
semuanya memakai kata mukhlashiin (jamak) kecuali surat Maryam : 51 yang
memakai bentuk tunggal (mukhlash). Selain itu semua kata mukhlashiin dalam
ayat-ayat tersebut selalu dikaitkan dengan kata ibaad (hamba).

B. Ayat-ayat Yang Menerangkan Tentang Ikhlas


1. QS. al-Bayyinah: 5

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan


memurnikan (mengikhlaskan) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan)
agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan
zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”
2. QS. Yunus : 105

“dan (aku telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan


tulus dan ikhlas dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang musyrik”
3. QS. Al A’raaf : 29

“Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". dan


(katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di Setiap sembahyang dan
sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya.
sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian
pulalah kamu akan kembali kepadaNya)"”
4. QS. An Nisaa’ : 125

5
“dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan,
dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim
menjadi kesayanganNya”
Maksud dari ayat-ayat diatas ialah amal-amal ibadah apa saja jika tidak dijiwai
dengan ikhlas berarti tidak hidup, mati bagaikan bangkai, tidak membawa
manfaat sama sekali. Malah, maaf, menjijikkan seperti bankai yang harus
segera dikubur.[2]

C. Kedudukan Ikhlash
Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama, cukup
bagimu amal yang sedikit.”
Ditanya Sahl bin Abdullah At-Tusturi, Apa yang paling berat bagi nafsu?
Ia menjawab: “Ikhlas, karena dengan demikian nafsu tidak memiliki tempat
dan bagian lagi.” Berkata Sufyan Ats-Tsauri: “Tidak ada yang paling berat
untuk kuobati daripada niatku, karena ia selalu berubah-ubah.”
Ikhlas adalah melakukan amal, baik perkataan maupun perbuatan
ditujukan untuk Allah Ta’ala semata. Allah SWT dalam Al-Qur’an
memerintahkan kita untuk ikhlas, seperti dalam firmanNya (yang artinya): “dan
(aku telah diperintah): “Hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan tulus dan
ikhlas, dan jangan sekali-kali kamu termasuk orang yang musyrik.” (QS.
Yunus [10] : 105)
Rasulullah SAW, juga mengingatkan kita melalui sabdanya (yang
artinya), “Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan
ikhlas untuk mencari ridha Allah semata.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)
Imam Ali bin Abu Thalib r.a juga berkata, “orang yang ikhlas adalah
orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.”
Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seseorang tidak dianggap
beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Firman Allah SWT (yang artinya):
Katakanlah (Muhammad): “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. al-An’aam [6]: 162)

6
Allah SWT juga berfirman dalam ayat lain (yang artinya), “Padahal
mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaatiNya
semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat
dan menjalankan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”
(QS. al-Bayyinah [98]: 5)
Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai
Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk
membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika
demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”
Tidak heran Ibnu Qayyim al-Jauziyah memberi perumpamaan
bahwasanya, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong
dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam
kesempatan lain beliau menulis, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak
mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa
keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”
Ikhlas merupakan hakikat dari agama dan kunci dakwah para rasul
Shallallaahu ‘alaihi wa Salam. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, artinya:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan keta’atan (ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang
lurus, dan supaya merekamendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang
demikian itulah agama yang lurus.” (QS. 98:5)
Juga firmanNya yang lain, artinya: “Yang menjadikan mati dan hidup,
supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS.
67:2)
Berkata Al Fudhail (Ibnu Iyadl, penj), makna dari kata ahsanu ‘amala
(lebih baik amalnya) adalah akhlasuhu wa Ashwabuhu, yang lebih ikhlas dan
lebih benar (sesuai tuntunan).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu beliau berkata: “Aku
mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda, Allah
Subhannahu wa Ta’ala berfirman, artinya: “Aku adalah Tuhan yang tidak
membutuhkan persekutuan, barang siapa melakukan suatu perbuatan yang di

7
dalamnya menyekutukan Aku dengan selainKu maka Aku tinggalkan dia dan
juga sekutunya.” (HR. Muslim)
Oleh karenanya suatu ketaatan apapun bentuknya jika dilakukan dengan
tidak ikhlas dan jujur terhadap Allah, maka amalan itu tidak ada nilainya dan
tidak berpahala, bahkan pelakunya akan menghadapi ancaman Allah yang
sangat besar. Sebagaimana dalam hadits, bahwa manusia pertama yang akan
diadili pada hari kiamat nanti adalah orang yang mati syahid, namun niatnya
dalam berperang adalah agar disebut pemberani. Orang kedua yang diadili
adalah orang yang belajar dan mengajarkan ilmu serta mempelajari Al Qur’an,
namun niatnya supaya disebut sebagai qori’ atau alim. Dan orang ketiga adalah
orang yang diberi keluasan rizki dan harta lalu ia berinfak dengan harta
tersebut akan tetapi tujuannya agar disebut sebagai orang yang dermawan.
Maka ketiga orang ini bernasib sama, yakni dimasukkan kedalam Neraka.
(na’udzu billah min dzalik).
Dari beberapa contoh hadist di atas menunjukkan bahwa ikhlas itu
memang sangat penting bagi umat muslim dalam melaksanakan ibadah, karena
tanpa rasa ikhlas dan hanya mengharap ridho dari Allah SWT ibadah kita tidak
akan diterima oleh Allah.

D. Manfaat dan Keutamaan Ikhlas


1. Membuat hidup menjadi tenang dan tenteram.
2. Amal ibadah kita akan diterima oleh Allah SWT.
3. Dibukanya pintu ampunan dan dihapuskannya dosa serta dijauhkan dari
api neraka.
4. Diangkatnya derajat dan martabat oleh Allah SWT.
5. Do’a kita akan diijabah oleh Allah SWT.
6. Dekat dengan pertolongan Allah SWT.
7. Mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.
8. Akan mendapatkan naungan dari Allah SWT di hari kiamat.
9. Allah SWT akan memberi hidayah (petunjuk) sehingga tidak tersesat ke
jalan yang salah.

8
10. Allah akan membangunkan sebuah rumah untuk orang-orang yang ikhlas
dalam membangun masjid.
11. Mudah dalam memaafkan kesalahan orang lain
12. Dapat memiliki sifat zuhud (menerima dengan apa adanya yang diberikan
oleh Allah SWT).

E. Klasifikasi Ikhlas1
1. Iklhas Mubtadi’ : Yakni orang yang beramalkarena Allah, tetapi di dalam
hatinya terbesit keinginan pada dunia. Ibadahnya dilakukan hanya untuk
menghilangkan kesulitan dan kebingunan. Ia melaksanakan shalat tahajud
dan bersedekah karena ingin usahanya berhasil. Ciri orang yang mubtadi’
bisa terlihat dari cara dia beribadah. Orang yang hanya beribadah ketika
sedang butuh biasanya ia tidak akan istiqomah. Ia beribadah ketika ada
kebutuhan. Jika kebutuhannya sudah terpenuhi, ibadahnya pun akan
berhenti.
2. Ikhlas Abid: Yakni orang yang beramal karena Allah dan hatinya bersih
daririya’ serta keinginan dunia. Ibadahnya dilakukan hanya karena Allah
dan demi meraih kebahagiaan akhirat, menggapai surga, takut neraka,
dengan dibarengi keyakinan bahwa amal ini bisa menyelamatkan dirinya
dari siksaan api neraka. Ibadah seorang abid ini cenderung
berkesinambungan, tetapi ia tidak mengetahui mana yang harus dilakukan
dengan segera (mudhayyaq) dan mana yang bisa diakhirkan (muwassa’),
serta mana yang penting dan lebih penting. Ia menganggap semua ibadah itu
adalah sama.
3. Ikhlas Muhibb : Yakni orang yang beribadah hanya karena Allah, bukan
ingin surga atau takut neraka. Semuanya dilakukan karena bakti dan
memenuhi perintah dan mengagungkan-Nya.
4. Ikhlas Arif : Yakni orang yang dalam ibadahnya memiliki perasaan bahwa
ia digerakkan Allah. Ia merasa bahwa yang beribadah itu bukanlah dirinya.
Ia hanya menyaksikan ia sedang digerakkan Allah karena memiliki

1
https://wakidyusuf.wordpress.com/2017/01/17/arti-ikhlas-kedudukan-manfaat-dan-
macamnya-ikhlas. Diakses pada tanggal 04 maret 2018

9
keyakinan bahwa tidak memiliki daya dan upaya melaksanakan ketaatan
dan meninggalkan kemaksiatan. Semuanya berjalan atas kehendak Allah.

F. Urgensi Ikhlas
Di antara pelajaran berharga yang bisa kita peroleh selama menjalani ibadah puasa
romadhan adalah keikhlasan. Kita berpuasa menahan segala sesuatu yang dilarang
Alloh, semata-mata karena Alloh SWT. Seandainya kita masuk ke sebuah kamar
dan makan di dalamnya sendirian, niscaya tidak ada orang yang mengetahuinya.
Namun hal ini tidak kita lakukan karena ada faktor ikhlas. Keikhlasan adalah
modal yang sangat berharga, ia tidak boleh hilang dari diri kita bahkan ia harus
dipelihara sampai azal menjemput kita. Karena hanya orang-orang yang ikhlas-lah
yang akan mendapat predikat husnul khotimah di akhir hayatnya.
Apa sebenarnya urgensi ikhlas itu?
Sifat ikhlas memiliki peranan yang sangat penting bagi seorang muslim dalam
mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan keseharian. Beberapa faktor yang
menyebabkan hal ini adalah sebagai berikut:2
Pertama : Hakikat hidup adalah beribadah yang harus dilakukan dengan ikhlas
Dalam ajaran Islam, hakikat hidup yang sesungguhnya ialah melaksanakan
instruksi robbani (ibadah). Dan dalam melaksanakan ibadah ini semata-sama
harus dilakukan dengan penuh keikhlasan, menggapai keridhoan Alloh. Tiada
artinya seluruh aktivitas ibadah yang dilakukan tanpa diiringi dengan keikhlasan.
Kedua : Ibadah tidak akan diterima kalau tidak berdasarkan pemahaman yang
benar dan ikhlas
Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa manusia-manusia terbaik akan masuk
neraka, padahal mereka adalah orang yang sering berjihad, berinfaq dan membaca
al-Quran. Alloh SWT menolak amalan mereka karena amalan yang dilakukannya
tidak ikhlas. Orang yang berjihad ingin dikatakan sebagai seorang pemberani,
orang yang berinfak ingin dikatakan seorang dermawan, dan orang yang membaca
al-Quran ingin dikatakan sebagai seorang qori (bacaannya bagus).

2
Ali Mujiyono MS. (Dikutip dari ceramah Tarawih, 31 Agustus 2009, Mesjid Darussalam
Kota Wisata, narasumber: DR. Ahzami Samiun Jazuli, MA)

10
Tiga : Hidup adalah pertarungan antara haq dan bathil, antara ahli iman dan
kufur, antara kekasih Alloh dan musuh Alloh. Dan orang yang beriman
dimenangkan Alloh saat ia ikhlas.
Sejarah mencatat bahwa salah satu faktor yang menyebabkan kekalahan umat
islam dalam berperang adalah ke-ikhlas-an. Saat perang uhud, sebagian pasukan
islam memburu ghonimah (rampasan perang) dan mereka lupa kepada Alloh.
Sehingga pasukan umat islam saat itu mengalami kekalahan. Begitupula saat
perang Hunain, jumlah pasukan islam lebih banyak jumlahnya dibanding pasukan
musuh. Segelintir orang tidak memiliki rasa ikhlas, mereka merasa di atas angin
karena jumlah pasukan yang banyak. Namun yang terjadi justru pasukan islam
mendapat kekalahan. Baru setelah bertaubat kepada Alloh, pasukan islam
mendapat kemenangan berkat bantuan tentara malaikat yang diturunkan langsung
oleh Alloh SWT.
Empat : Tobat akan diterima jika dilakukan dengan murni atau bersih
(taubatannasuha)
Alloh SWT akan mengampuni dosa seseorang , manakala ia bertobat dengan
taubat yang bersih atau murni (taubatnnasuha). Dan kunci dari tobat yang bersih
dan murni ini adalah ikhlas.
Lima : diberikan nafas yang panjang dalam beribadah
Dalam realitas keseharian, permasalahan yang menimpa kita bukanlah tidak
melakukan ibadah, namun ibadah itu kita lakukan dengan sesuatu yang sisa. Kita
membaca al-Quran menunggu malam Jumat tiba atau bulan Romadhan tiba atau
bahkan sekali seumur hidup saat keluarga atau orang tua meninggal dunia.
Bagaimana mungkin kita menjadi yang terbaik, kalau ibadah dilakukan dengan
sesuatu yang sisa.
Dengan sifat ikhlas, kita akan memiliki nafas panjang dalam beribadah. Karena
ibadah yang dilakukan murni karena Alloh semata, bukan manusia, organisasi,
jemaah, atau organisasi.

Enam : Dengan keikhlasan, seluruh potensi di dunia bisa berguna di akhirat


kelak

11
Harta, anak, rumah dan asset dunia lainnya pada hakikatnya tidak ada gunanya
kalau tidak dikelola dengan ikhlas. Bagi orang yang ikhlas, semua aset dunia akan
ada manfaatnya, karena di dunia digunakan untuk kepentingan akhirat.

RENUNGAN
pertanyaan yang akan diajukan ke setiap manusia pun dijelaskan, misalnya man
robbuka?, Man nabiyyuka?, dll. Semua sudah diingatkan seperti tercantum dalam
Firman Allah : “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati,
lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya
kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?. Atau dalam ayat
lainnya,“Takutlah kamu, pada suatu hari dimana kamu kembali kepada Alloh.
Tidak ada yang mampu menyelamatkan..”.
QS. Al-Baqarah (Sapi betina) 2 : 28,

kayfa takfuruuna biallaahi wakuntum amwaatan fa-ahyaakum tsumma


yumiitukum tsumma yuhyiikum tsumma ilayhi turja'uuna
[2:28] Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah
menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali,
kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

Nabi saw bersabda,”Yang aku takutkan adalah syirik ashghor. Apa itu syirik
ashghor? Yaitu riya, melakukan amal sholeh tetapi ada motivasi lain supaya
dilihat orang”. Alloh SWT akan berkata kepada orang-orang yang riya di akhirat
kelak, “Pergilah kepada orang-orang yang dahulu kamu beribadah karena ingin
dilihat olehnya”.

Berkata salah seorang ulama, “Barang siapa yang melakukan tujuh hal namun
tidak disertai tujuh hal lainnya, maka amalnya tidak akan ada artinya”.
Ketujuh hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Orang yang berkata aku takut siksa Alloh, tapi dia tidak takut
meninggalkan dosa/maksiat

12
2. Orang yang berkata aku berharap pahala Alloh, tapi tidak
melakukan kebaikan amal sholeh
3. Orang yang punya niat, namun tidak mengamalkan
4. Orang yang berdoa, tapi tidak pernah berusaha.
5. Orang yang beristigfar, tapi tidak disertai dengan rasa
penyesalan untuk tidak mengulangi dosa.
6. Orang yang kalau bicara baik dan menyenangkan, tetapi hatinya
lain.
7. Orang yang bekerja keras, tapi tanpa keikhlasan. Maka kerjanya
sia-sia dan tidak ada manfaatnya
"Allahumma ya Allah selamatkan kami dari tipudaya dunia, berilah kami hati
yang ikhlas dalam hidup ini & selamatkan kami dari nafsu syahwat, dunia dan
ma'siyat yang mengundang murka & adzabMu...aamiin".

Keutamaan Ikhlas

‫ قَا َل ه َُري َرة َ أ َ ِبي َعن‬: ‫سو ُل قَا َل‬ ُ ‫ظ ُر َل ِكن َو أَم َوا ِل ُكم َو‬
ُ ‫ص َو ِر ُكم ِإلَى َين‬
ُ ‫ للاِ َر‬: ‫ظ ُر لَ للاَ ِإن‬ ُ ‫َو قُلُو ِب ُكم ِإلَى َين‬
‫أَع َما ِل ُكم‬

Di dalam Al Quran, Allah memuji orang-orang yang ikhlas. Mereka tidak


menghendaki dari amalnya tersebut, kecuali wajah Allah dan keridhaanNya.

Ikhlas tidak akan dapat dicapai jika terkumpul dua sifat:

Senang akan pujian dan sanjungan dari Manusia <riya>


Mengharapkan balasan dari manusia.
Lalu bagaimana kita bisa mencapai sifat ikhlas?

Ikhlas bisa dicapai dengan mujahadah (bersungguh-sungguh berlatih. Kita melatih


diri kita sendiri ) Nafsu selalu memerintahkan diri kita pada keburukan.

Rasulullah Saw bersabda,

“Al mujahidu man jahada ‘an to’atillah” (Orang yang berjihad itu adalah orang
yang menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk patuh mentaati Allah)

13
Maka satu-satunya cara untuk mencapai ikhlas adalah dengan mujahadah.
Bersungguh-sungguh membiasakan diri untuk ikhlas. Kenapa kita harus
bersungguh-sungguh melatih diri, karena sifat ikhlas ini adalah sifat yang
mencirikan para penghuni syurga.

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan
Jiwanya dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat
tinggal(nya)”. (QS. An-Nazi’at: 40-41).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta bersabar bersama orang-orang


yang selalu berdo’a kepada Allah karena mengharap wajah-Nya. Mereka itulah
yang disebutkan Allah dalam firmanNya :

َ ‫ورا ِمزَ ا ُج َها َكانَ كَأس ِمن يَش َربُونَ اْلَب َر‬
‫ار ِإن‬ ً ُ‫يرا يُفَ ِ ِّج ُرونَ َها َللاِ ِعبَاد ُ ِب َها يَش َربُ َعينًا كَاف‬
ً ‫ِبالنذ ِر يُوفُونَ تَف ِج‬
َ‫يرا ُّرهَُ َكانَ يَو ًما َويَخَافُون‬ َ َ‫يرا َو َيتِي ًما ِمس ِكينًا ُح ِِّب ِه َعلَى الطع‬
ً ‫ام َويُط ِع ُمونَ ُمست َِط‬ َ
ً ‫َللاِ ِل َوج ِه نُط ِع ُم ُكم ِإن َما َوأ ِس‬
‫ورا َو َل َجزَ ا ًء ِمن ُكم نُ ِريدُ َل‬
ً ‫ش ُك‬ ُ ‫َاف ِإنا‬
ُ ‫سا َيو ًما ربِِّنَا ِمن نَخ‬
ً ‫يرا َعبُو‬
ً ‫ط ِر‬ َ ‫قَم‬

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan, minum dari gelas (berisi


minuman) yang campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga);
yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat
mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nadzar dan takut
akan suatu hari yang adzabnya merata dimana-mana. Dan mereka memberikan
makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang
ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk
mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan
tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan adzab (yang
datang) dari Rabb kami, pada suatu hari; yang (pada hari itu orang-orang
bermuka) masam, penuh kesulitan. [Al Insan : 5-10].

‫ت اب ِتغَا َء أَم َوالَ ُه ُم يُن ِفقُونَ الذِينَ َو َمثَ ُل‬ ِ ‫ضا‬ َ ‫صابَ َها بِ َرب َوة َجنة َك َمث َ ِل أَنفُ ِس ِهم ِ ِّمن َوتَثبِيتًا َللاِ َمر‬
َ َ‫فَآتَت َوابِل أ‬
‫ضعفَي ِن أ ُ ُكلَ َها‬
ِ ‫ُصب َها لم فَإِن‬ ِ ‫طل َوا ِبل ي‬ َ َ‫صير تَع َملُونَ ِب َما َوَللاُ ۗ ف‬
ِ ‫َب‬

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari


keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang
terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu
menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka
hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
[Al Baqarah: 265]

14
‫سكَ َواصبِر‬ َ ‫ي بِالغَدَاةِ َرب ُهم يَدعُونَ الذِينَ َم َع نَف‬ ِِّ ‫ال َحيَاةِ ِزينَةَ ت ُ ِريد ُ َعن ُهم َعينَاكَ تَعد ُ َو َل ۖ َوج َههُ ي ُِريدُونَ َوالعَ ِش‬
‫عن قَل َبهُ أَغفَلنَا َمن ت ُ ِطع َو َل ۖ الدُّن َيا‬
َ ‫طا أَم ُرهُ َو َكانَ ه ََواهُ َوات َب َع ذِك ِرنَا‬ ً ‫فُ ُر‬

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru Rabb-nya di


pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya. Dan janganlah kedua
matamu berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan kehidupan dunia ini.
Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari
mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu
melewati batas. [Al Kahfi : 28].

BEBERAPA FAKTOR YANG DAPAT MENDUKUNG IKHLAS


Ada beberapa faktor yang dapat mendukung seorang muslim, sehingga mampu
melakukan ibadah dengan ikhlas karena Allah, kendati pun ikhlas itu sangat sulit.
Beberapa faktor tersebut ialah:1. Belajar menuntut ilmu yang bermanfaat, yaitu
mempelajari Al Qur`an dan As Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih,
karena mereka berada di atas kebenaran.2. Berteman dengan orang-orang shalih.
Ini termasuk faktor yang dapat mendorong keikhlasan. Berteman dengan orang-
orang yang shalih dapat memotivasi diri untuk mengikuti jejak dan tingkah laku
mereka yang baik, mengambil pelajaran dan mencontoh akhlak mereka yang baik.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan tentang
sahabat yang baik dan yang tidak baik dengan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, yang artinya: Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan teman
yang buruk, ialah seperti pembawa minyak wangi dan peniup tungku api (pandai
besi). Pembawa minyak wangi boleh jadi akan memberimu, bisa jadi kamu akan
membeli darinya. Dan kalau tidak, kamu akan mendapat bau harum darinya.
Sedangkan peniup tungku api (pandai besi), boleh jadi akan membakar
pakaianmu, dan bisa jadi engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.
[Muttafaqun ‘alaihi, dari Abu Musa Al Asy’ari]3. Membaca sirah (perjalanan
hidup) orang-orang yang ikhlas. Di antara karunia Allah, banyak kisah yang Allah
sebutkan di dalam Al Qur`an dan dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallm tentang orang-orang yang mukhlis. Semua itu agar menjadi ibrah dan
contoh bagi orang-orang sesudahnya.
4. Bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Seseorang tidak akan dapat
mencapai keikhlsan kalau tidak bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu,
kecintaan kepada kedudukan dan ketenaran, gila harta, sanjungan, dengki,
dendam, dan lain-lainnya.

5. Berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah. Ini termasuk salah satu jalan
yang bisa menguatkan dan menopang agar seseorang bersungguh-sungguh untuk
ikhlas dalam ibadah. Doa adalah senjata orang mukmin. Untuk dapat mewujudkan
permintaan dan memenuhi kebutuhannya, manusia disyariatkan Allah agar
berdoa. Di antara doa itu ialah :

15
‫نَعلَ ُم لَ ِل َما نَست َغ ِف ُركَ َو نَعلَ ُمهُ شَيئا ً ِبكَ نُش ِركَ أَن ِمن ِبكَ نَعُوذ ُ ِإنا اَلل ُهم‬

Ya, Allah. Sesungguhya kami berlindung kepadaMu agar tidak menyekutukanMu


dengan sesuatu yang kami ketahui. Dan kami memohon ampun kepadaMu dari
sesuatu yang kami tidak mengetahuinya. [HSR Ahmad 4/403 dan sanadnya hasan.
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam lainnya].

DI ANTARA KEUTAMAAN IKHLAS DAN BUAHNYA


1. Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim,
dari sahabat Abdullah bin Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, dikisahkan
tentang tiga orang yang terpaksa bermalam di dalam gua, kemudian tiba-tiba ada
sebuah batu besar jatuh dari atas gunung hingga menutup pintu gua itu. Lalu
mereka berkata, bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka, melainkan
mereka harus berdo’a kepada Allah dengan (menyebutkan) amal mereka yang
paling shalih, …… kemudian mereka menyebutkan amal mereka masing-masing
yang ikhlas karena Allah, agar batu itu bergeser dan mereka dapat keluar. Dengan
pertolongan Allah, mereka dapat keluar dari gua tersebut.[1]

2. Seseorang yang mengucapkan kalimat َ‫( للاُ إِل إِلَهَ ل‬La ilaha illallah) dengan
ikhlas, ia akan dibukakan pintu-pintu langit, dihapus dosa-dosanya, dan
diharamkan Allah Azza wa Jalla masuk neraka. [4]

3. Orang yang berwudhu dengan ikhlas akan dihapuskan dosa-dosanya. [HR


Muslim].

4. Orang yang bersujud dengan ikhlas, ia akan diangkat derajatnya oleh Allah dan
dihapuskan satu kesalahan. [HR Ahmad, Tirmidzi dan Nasa-i].

5. Orang yang berpuasa dengan ikhlas, ia akan dihapuskan dosa-dosanya yang


lalu. [HR Bukhari].

6. Orang yang pergi shalat berjama’ah di masjid dengan ikhlas, maka setiap
langkahnya menuju masjid akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajatnya
sampai masuk masjid. Dan bila ia masuk masjid, maka malaikat bershalawat
atasnya dan mendo’akannya:

“Ya Allah, berilah rahmat kepadanya. Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya. Ya


Allah, terimalah taubatnya”.

16
Selama di tempat shalat itu ia tidak mengganggu orang lain dan selama belum
hadats (belum batal). [HR Bukhari dan Muslim. Secara lengkap lihat Riyadhush
Shalihin, no. 11].

7. Orang yang ikhlas dalam bershadaqah, ia termasuk tujuh golongan yang akan
mendapat perlindungan dari Allah pada hari kiamat kelak. [HR Bukhari dan
Muslim].

8. Orang yang ikhlas membangun masjid, maka ia akan dibangunkan rumah di


surga. [HR Ahmad, Bukhari, Muslim dan lainnya]

9. Orang yang tawadhu` dengan ikhlas karena Allah, ia akan diangkat derajatnya
oleh Allah. [HSR Muslim]

10. Ada tiga perkara yang menjadikan hati seorang mukmin tidak menjadi seorang
pengkhianat, yaitu : ikhlas beramal karena Allah, memberikan nasihat yang baik
kepada pemimpin kaum muslimin, dan senantiasa komitmen kepada jama’ah
kaum Muslimin. [HR Bazzar, dari sahabat Abu Said Al Khudri dengan sanad
hasan. Lihat Shahih Targhib Wat Tarhib 1/104-105, no. 4].

11. Ummat ini akan ditolong oleh Allah dengan orang-orang yang lemah, karena
keikhlasan mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ُ ‫ض ِعي ِف َها اْلُمةَ َه ِذ ِه للاُ يَن‬


‫ص ُر إِن َما‬ َ ِ‫ ب‬: ‫صالَتِ ِهم َو بِدَع َوتِ ِهم‬ ِ َ‫إِخال‬
َ ‫ص ِهم َو‬

Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan orang-orang yang lemah


dengan do’a, shalat dan keikhlasan mereka. [HSR Nasa-i, 6/45].

12. Orang yang ikhlas akan ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari
penyesatan iblis. [Shad : 82-83].

13. Orang yang ikhlas akan ditambah petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. [Al
Kahfi : 13].

14. Orang yang berdzikir dengan ikhlas dan sesuai dengan Sunnah, maka ia akan
diberi ketenangan hati [Ar Ra’d : 28].

15. Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena
Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah
imannya. (HR. Abu Dawud)

17
16. Barangsiapa memurkakan (membuat marah) Allah untuk meraih keridhaan
manusia maka Allah murka kepadanya dan menjadikan orang yang semula
meridhoinya menjadi murka kepadanya. Namun barangsiapa meridhokan Allah
(meskipun) dalam kemurkaan manusia maka Allah akan meridhoinya dan
meridhokan kepadanya orang yang pernah memurkainya, sehingga Allah
memperindahnya, memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam
pandanganNya. (HR. Ath-Thabrani).

17. Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan


menyempurnakan hubungannya dengan manusia. Barangsiapa memperbaiki apa
yang dirahasiakannya maka Allah akan memperbaiki apa yang dilahirkannya
(terang-terangan). (HR. Al Hakim).

18. Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, seseorang


melakukan amal (kebaikan) dengan dirahasiakan dan bila diketahui orang dia juga
menyukainya (merasa senang).” Rasulullah Saw berkata, “Baginya dua pahala
yaitu pahala dirahasiakannya dan pahala terang-terangan.” (HR. Tirmidzi).

Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz
Almath – Gema Insani Press

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita orang yang ikhlas, sehingga seluruh amal
kita bisa diterima sebagai simpanan yang bermanfaat kelak.
Wallahu ‘alamu bish shawab.(Emy, Dini/Kemuslimahan FORMMIT Utaratu)
https://utaratu.wordpress.com/2012/06/25/keutamaan-ikhlas/

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Secara etimologis, kata ikhlas merupakan bentuk mashdar dari kata akhlasha yang
berasal dari akar kata khalasha. Menurut Luis Ma’luuf, kata khalasha ini
mengandung beberapa macam arti sesuai dengan konteks kaliamatnya. Ia bisa
berarti shafaa (jernih), najaa wa salima (selamat), washala (sampai), dan I’tazala
(memisahkan diri). Maksudnya, didalam menjalankan amal ibadah apa saja harus
disertai dengan niat yang ikhlas tanpa pamrih apapun.
tidaklah heran apabila kini belum belum banyak orang yang bisa bersikap ikhlas,
padahal dia sudah seringkali berkata “Akan melakukan segala sesuatu dengan
ikhlas”. mungkin dia sudah bisa bersikap ikhlas, tetapi rasa ikhlas itu tidak
sepenuhnya terwujud. Namun, hal itu lebih baik daripada rasa ikhlas tersebut
tidak ada sama sekali dalam diri seseorang. Ibaratnya, rasa ikhlas itu bisa secara
perlahan-lahan ditambah dan terus dipupuk dalam dirinya. Sehingga, ketika
melakukan segala sesuatu, dia bisa bersikap ikhlas secara penuh dan tidak
setengah-setengah.
Dan orang yang tidak ikhlas atau mengerjakan sesuatu bukan karna Allah
dinamakan musyrik yang akan disiksa didalam neraka.
B. Saran
Mari kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT kita usahakan ikhlas dalam
beribadah kepada Allah SWT. Jangan sampi tergiur karna harta atau yang lainnya.

19
DAFTAR PUSTAKA

Mohammad Ruhan Sanusi, Kuliah wahidiyah, (jombang : DPP PSW, 2010)


Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Riyadhus Shalihin.
http://faisalchoir.blogspot.com/2011/05/ikhlas.html
http://coretanbinderhijau.blogspot.com/2013/04/hadis-tentang-ikhlas-dan-
keterangannya.html
http://andasayabisa.blogspot.com/2012/06/makalah-

[1] Mohammad Ruhan Sanusi, Kuliah wahidiyah, (jombang : DPP PSW, 2010),
194
[2] Ibid, 198

20