Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR REAKSI ANORGANIK


BUFFER ASAM SITRAT-Na2HPO4

OLEH :

KELOMPOK : 6

ANGGOTA : 1. HAFZHATUL HUSNA

2. FINNY RAHMATANIA

3. SERLI SUKMA YULI

4. RIZKI ANGGI SUHAIRAH NASUTION

DOSEN : MIFTAHUL KHAIR,S.Si,M.Sc,Ph.D

ASISTEN : 1. AULIA RAHMAN

2. MUTIA NURUL

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNVERSITAS NEGERI PADANG


2018
Buffer Asam sitrat-Na2HPO4

A. Tujuan
1. Memahami cara pembuatan larutan bufferAsam sitrat-Na2HPO4
2. Untuk mengetahui kapasitas buffer Asam sitrat-Na2HPO4

B. Waktu dan Tempat


Hari / Tanggal : Rabu / 21 Maret 2018

Waktu : 07.00 – 9.40 WIB

Tempat : Laboratorium Kimia Anorganik,FMIPA UNP

C. Dasar Teori
Larutan buffer merupakan system larutan yang dapat mempertanyakan pH lingkungan
dari pengaruh seperti oleh penambahan sedikit asam/basa kuat, atau oleh pengenceran.
Sistem buffer terdiri atas dua komponen, yakni
(1)komponen pelarut (umumnya air), dan
(2) komponen zat terlarutnya. Komponen terakhir ini dapat berupa:
(a) Asam lemah dan garam kuatnya,
(b) Basa lemah dan garam kuatnya,
(c) Sepasang asam-basa konyugat
(d) Sepasang pemberi-penerima proton
Pada system buffer-asetat (CH3COOH-CH3COONa) dalam pelarut air, reaksi yang
terjadi adalah:
CH3COOH(aq) CH3COO-(aq) + H+ (aq) (a)
Asam lemah
CH3COONa(aq) → CH3COO-(aq) + Na+ (aq) (b)
Spesi kimia pada sistem buffer, seperti pada buffer di atas, maka yang terlibatdalam
kesetimbangan dinamiknya adalah hanya reaksi (a) atau disebut sebagai reaksi
kesetimbangan ionisasi asam asetat. Berdasarkan teori asam-basa Bronsted-Lowry,
persamaan reaksi kesetimbangan (a) dapat ditulis sebagi berikut:
CH3COOH(aq) + H2O(l) → CH3COO-(aq) + H3O+(aq)
Penambahan oleh sedikit asam-kuat (H+) menyebabkan kesetimbangan bergeser ke
arah kiri (pembentukan asam lemah) sedangkan penambahan basa (OH) menyebabkan
kesetimbangan bergeser kearah kanan (pengurangan asam lemah). Jadi, penambahan
dalam jumlah kecil ini tidak akan mengakibatkan perubahanyang berarti terhadap
konsentrasi H+ dan Ph dari larutan bufer asetat.(T et al., 2017)
Larutan penyangga atau larutan buffer atau larutan dapar merupakan suatu larutan
yang dapat menahan perubahan pH yang besar ketika ion – ion hidrogen atau hidroksida
ditambahkan, atau ketika larutan itu diencerkan. Secara umum, larutan buffer
mengandung pasangan asam – basa konjugat atau terdiri dari campuran asam lemah
dengan garam yang mengandung anion yang sama dengan asam lemahnya, atau basa
lemah dengan garam yang mengandung kation yang sama dengan basa lemahnya. Oleh
karena mengandung komponen asam dan basa tersebut, larutan buffer dapat bereaksi
dengan asam (ion H+) maupun dengan basa (ion OH-) apa saja yang memasuki larutan.
Oleh karena itu, penambahan sedikit asam ataupun sedikit basa ke dalam larutan buffer
tidak mengubah pH-ny Larutan penyangga dapat dibedakan atas larutan penyangga asam
dan larutan penyangga basa. Apabila asam lemah dicampur dengan basa konjugasinya
maka akan terbentuk larutan buffer asam, dimana larutannya mempertahankan pH pada
daerah asam (pH 7). Misalnya larutan campuran NH3 dengan ion amonium (NH4+).
(Day, R.A, Underwood, 1986)
Apabila suatu basa lemah dicampur dengan asam konjugasinya maka akan terbentuk
suatu larutan buffer basa. Larutan ini akan mempertahankan pH pada daerah basa (pH >
7). Misalnya larutan campuran NH3 dengan ion amonium (NH4+). Larutan buffer basa
juga dapat terjadi dari campuran suatu basa lemah dengan suatu asam kuat di mana basa
lemah dicampurkan berlebih. Larutan buffer juga dapat dibuat dengan melarutkan suatu
basa lemah dengan garamnya secara bersamaan. Larutan campuran dari amonium
hidroksida dengan amonium klorida menunjukkan ketahanan terhadap ion hidrogen,
karena ion hidrogen bereaksi dengan amonium hidroksida yang tak terdisosisasi itu.
Sedangkan terhadap ion hidrogen didasarkan atas pembentukan basa yang tak
terdisosiasi dari ion – ion amonium yang berasal dari garamnya(Day, R.A, Underwood,
1986)
Keefektifan suatu larutan penyangga dalam menahan perubahan pH persatuan asam
atau basa kuat ditambahkan, mencapai nilai maksimumnya ketika rasio asam penyangga
terhadap garam adalah satu. Dalam titrasi asam lemah, titik maksimum keefektifan ini
dicapai bila asam tersebut ternetralkan separuh, atau pH = pKa.(vogel, 1979)
Dalam beberapa keadaan mungkin penting untuk menentukan pH larutan secara
eksperimen ada berbagai macam cara. Tergantung dari ketelitian yang diinginkan atau
diperlukan dan instrumen-instrumen yang tersedia diantaranya adalah:

1.Pemakaian indikator dan kertas ujiin dikator;


Indikator adalah suatu zat, yang warnanya berbeda – beda sesuai dengan konsentrasi
ion-hirdrogen. Ia umumnya merupakan suatu asam atau basa organk lemah, yang dipakai
dalam larutan yang sangat encer. Asam atau basa indikator yang tak terdisosiasi
mempunyai warna yang berbeda –beda dengan hasil dissosiasinya

2.Penentuan pH secara kolorimetri

Prinsip – prinsip dalam menentukan pH larutan secara eksperimen, dapat dengan lebih
tepat dengan memakai buffer – buffer dan larutan indikator dalam jumlah – jumlah yang
diketahui, dan membandingkan warna larutan uji dengan seperangkat larutan baku
pembanding (referensi) pada kondisi – kondisi eksperimen yang identik.

3.penentuan Ph secara potensiometri.

Di antara ketiga macam bentuk penentuan pH diatas yang paling tepat untuk
mengukur pH adalah dengan cara penentuan pH secara potensimetri. Cara ini digunakan
berdasarkan atas pengukuran tegangan gerak elektrik suatu sel elektrokimia, yang
mengandung larutan yang tidak diketahui pH-nya sebagai elektrolit, dan duah buah
elektrode. Elektrode – elektrode ini dihubungkan dengan terminal – terminal sebuah
voltmeter elektronik, yang kebanyakan disebut pH – meter saja. Jika telah dikalibrasi
dengan baik dengan suatu buffer yang sesuai yang diketahui pH – nya, pH larutan yang
tidak diketahui itu dapat dibaca langsung dari skala.

4. Pengukuran tegangan elektrik (t.g.l.=e.m.f.,electromotive force)

Pengukuran tegangan elektrik suatu sel elektrokimia dapat dianggap sebagai nilai
mutlak perbedaan potensial elektrode dari kedua elektrode tersebut. Kedua elektrode
yang dipakai untuk membentuk sel elektrokimia tersebut, mempunyai peranan yang
berbeda dalam pengukuran, dan harus dipilih yang sesuai. Salah satu elektrode,
dinamakan elektrode indikator, mendapat potensial yang bergantung pada pH larutan.
Dalam praktek, elektrode dari kaca dipakai sebagai elektrode indikator. Di lain pihak,
elektrode yang kedua, harus mempunyai potensial yang tetap, tak tergantung pada pH
larutan, yang terhadapnya potensial elektrode indikator dapat dibandingkan dalam
pelbagai larutan. Itulah sebabnya elektrode yang kedua disebut elektrode pemabnding
(referensi). Dalam pengukuran – pengukuran pH, elektrode kalomel (yang jenuh) dipakai
sebagai elektrode pembanding.(vogel,1979)
D. ALAT DAN BAHAN

ALAT

1. Gelas kimia

2.Corong
3.Gelas ukur
4.Labu ukur
5.Batang pengaduk
6.PH meter

BAHAN

1.Asam sitrat
2.Aquades
3.Na2HPO4. 7H2O

E. PROSEDUR KERJA

1. Larutan A
Timbang teliti 10,507 g asam sitrat, C6H8O7.H2O; masukkan ke labu takar 500 ml;
tambahkan 100 ml aquades dan kocok hingga melarut; encerkan dengan aquades
sampai tanda batas)

2. Larutan B
Timbang teliti 26,809 g Na2HPO4. 7H2O; masukkan ke labu takar 500 ml;
tambahkan
100 ml, aquades dan kocok hingga garam melarut; tambahkan aquades sampai tanda
Batas

F. TABEL PENGAMATAN

pH A (ml) B (ml)
2,2 39 ml 10 tetes
2,5 30 ml 21 tetes
4 23 ml 20 tetes
4,7 19 ml 8 ml
5,3 14 ml 9 ml
6,8 9 ml 17 ml
7,4 5 ml 17 ml
8,8 1 ml 4 ml

G. Perhitungan
pH : 6,8
1. Molaritas Asam Sitrat

Mol =
,
=
/

= 0,027 mol

M=
,
=
,

= 0,108 M
2. Molaritas Na2HPO4. 2H2O
,
Mol =
/

= 0,0753 mol

M=
,
=
,

= 0,301 M
Kapasitas Buffer
Volume Na2HPO4 yang dibutuhkan yaitu 17 ml
Mol Na2HPO4 = 0,301 x 17 x 10-3 ml
= 5,117 x 10-3
Mol Asam Sitrat = 0,027 x 9 x10-3 ml
= 0,243 x10-3

,
α=
, ,

= 0,95
β = 2,3 x M Na2HPO4 x α (1- α)
= 2,3 x 0.301 x 0,95 (1-0,95)
= 0,032

H. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan percobaan tentang Buffer Asam
Sitrat-Na2HPO4. Dimana akan diuji ketahanan pH Asam Sitrat jika diberi penambahan
larutan Na2HPO4. Pada awal percobaan, ditimbang Asam Sitrat dan Na2HPO4 terlebih
dahulu. Dengan mengambil 5,2535 gram Asam Sitrat sebagai larutan A dilarutkan
dalam 100 ml air lalu mengencerkannya ke dalam labu ukur 250 ml . Kemudian
menimbang 13,4045 gram Na2HPO4 sebagai larutan B dilarutkan dalam 100 ml air
lalu mengencerkannya ke dalam labu ukur 250 ml.
Takaran pH yang akan praktikan ukur ada 8 macam varian pH, yaitu pH 2,2 ; 2,6 ;
4 ; 4,7 ; 5,3 ; 6,8 ; 7,4 ; 8,8. Dimana pH tersebut akan menjadi dasar berapa banyak
Na2HPO4 ditambahkan agar pH pada Asam Sitrat berubah sesuai yang ditetapkan.
Pada pH 2,2 , larutan A diambil sebanyak 39 ml. Agar pH larutan dapat berubah
menjadi 2,2 diberikan penambahan 10 tetes Na2HPO4. Sehingga pada penambahan
selanjutnya tidak terjadi perubahan pH.
Pada pH 2,6 , larutan A diambil sebanyak 30 ml. Agar pH larutan dapat berubah
menjadi 2,6 diberikan penambahan 21 tetes Na2HPO4. Sehingga pada penambahan
selanjutnya tidak terjadi perubahan pH.
Pada pH 4 , larutan A diambil sebanyak 23 ml. Agar pH larutan dapat berubah
menjadi 4 diberikan penambahan 23 tetes Na2HPO4. Sehingga pada penambahan
selanjutnya tidak terjadi perubahan pH.
Pada pH 4,7 , larutan A diambil sebanyak 19 ml. Agar pH larutan dapat berubah
menjadi 4,7 diberikan penambahan 160 tetes Na2HPO4. Sehingga pada penambahan
selanjutnya tidak terjadi perubahan pH.
Pada pH 5,2 , larutan A diambil sebanyak 14 ml. Agar pH larutan dapat berubah
menjadi 5,2 diberikan penambahan 180 tetes Na2HPO4. Sehingga pada penambahan
selanjutnya tidak terjadi perubahan pH.
Pada pH 6,8 , larutan A diambil sebanyak 9 ml. Agar pH larutan dapat berubah
menjadi 6,8 diberikan penambahan 340 tetes Na2HPO4. Sehingga pada penambahan
selanjutnya tidak terjadi perubahan pH.
Pada pH 7,4 , larutan A diambil sebanyak 5 ml. Agar pH larutan dapat berubah
menjadi 7,4 diberikan penambahan 340 tetes Na2HPO4. Sehingga pada penambahan
selanjutnya tidak terjadi perubahan pH.
Pada pH 8,8 , larutan A diambil sebanyak 1 ml. Agar pH larutan dapat berubah
menjadi 8,8 diberikan penambahan 90 tetes Na2HPO4. Sehingga pada penambahan
selanjutnya tidak terjadi perubahan pH. Pada percobaan semakin tinggi varian pH
semakin banyak Na2HPO4

I. Kesimpulan
1. Larutan buffer dapat dibuat dengan penambahan salah satu senyawa ke dalam
senyawa lain tanpa terjadi perubahan pH pada senyawa awalnya
2. Kapasitas buffer pada Asam Sitrat- Na2HPO4 sangat kuat, dilihat dari berapa banyak
Na2HPO4 yang ditambahkan

PERTANYAAN

1.Apa yang dimaksud buffer?

Buffer adalah merupakan system larutan yang dapat memepertahankan pH lingkungan


dari pengaruh seperti oleh penambahan sedikit asam/basa kuat,atau oleh pengenceran

2.Apa yang dimaksud dengan kapasitas dan keefektifan larutan buffer?

Kapasitas Buffer adalah parameter kuantitatif yang menunjukkan kekuatan (resistensi) untuk
mempertahankan pH

Keefektifan suatu larutan penyangga dapat diketahui dari kapasitas buffer.


DAFTAR PUSTAKA
Day, R.A, Underwood, A. . (1986). ANALISA KIMIA KUANTITATIF. Jakarta: Erlangga.
T, L., K, K., Fauziah, R., Si, M., Laelasari, E., & Pd, S. (2017). P enuntun P raktikum.
PADANG : FMIPA UNP.
vogel. (1979). Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, diterjemahkan oleh A.
Hadyana Pudjaatmaka. Edisi Kelima. (PT. Kalman Media Pusaka, Ed.). Jakarta.