Anda di halaman 1dari 11

BAB 1

Tujuan Praktikum

1. Dapat menggunakan alat ukur jangka sorong, micrometer scrup, dan neraca
teknis.
2. Dapat menentukan massa jenis suatu zat cair dan padat.

Dasar teori

Massa jenis (P) didefinisikan sebagai perbandingan antara massa zat dan

volumenya. Nilai massa jenis hanya bergantung pada jenis zat, tidak bergantung

pada massa atau volume zat. Dengan kata lain, nilai massa jenis suatu zat adalah

tetap. Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki massa

jenis yang berbeda. Dan satu zat berapapun massanya berapapun volumenya

akan memiliki massa jenis yang sama (Kondo, 1982).

Nilai massa jenis suatu zat adalah tetap, tidak tergantung pada massa

maupun volume zat, tetapi tergantung pada jenis zatnya, oleh karenanya zat

yang sejenis selalu mempunyai masssa jenis yang sama. Satuan massa jenis

adalah kg/m3 atau g/cm3, jenis zat dapat diketahui dari massa jenisnya. Massa

jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total

volumenya. Sebuah benda yang memiliki massa jenis lebih tinggi (misalnya besi)

akan memiliki volume yang lebih rendah daripada benda bermassa sama yang

memiliki massa jenis lebih rendah (misalnya air) (Kondo, 1982).

Selain karena angkanya yang mudah diingat dan mudah dipakai untuk

menghitung, maka massa jenis air dipakai perbandingan untuk rumus ke-2

menghitung massa jenis, atau yang dinamakan “Massa Jenis Relatif”. Rumus
massa jenis relatif = Massa bahan / Massa air yang volumenya sama (Bredthauer,

1993).

Satuan massa adalah kg atau gram dan satuan volume m3 atau cm3 sehingga

satuan massa jenis adalah kg/m3 atau g/cm3. Massa jennis merupakan ciri khas

benda. Setiap benda yang sejenis memiliki massa jenis yang sama dan setiap

benda yang berlainan jenis memiliki massa jenis yang berbeda. Massa jenis

suatu zat dapat dihitung dengan mengetahui massa dan volume zat tersebut

(Bredthauer, 1993).

Menghitung massa jenis suatu zat berbeda, untuk menghitung zat padat yang

tidak beraturan seperti balok kayu, volumenya dihitung dengan pengkuran

secara tidak langsung dengan persamaan :

Volume = panjang x lebar x tinggi

Pengukuran massa benda dilakukan dengan alat yang disebut neraca dan tiap

– tiap alat mempunyai ketelitian. Pada umumnya pengukuran massa dilakukan

secara perbandingan, di dalam laboratorium dikenal neraca teknis atau neraca

analis atau sering disebut neraca analitik sebagai alat untuk menetapkan massa

suatu benda. Massa jenis suatu benda adalah banyaknya massa tersebut dalam

satuan volume (Searss, 1985).

Rapat massa suatu bahan yang homogen didefinisikan sebagai massanya per

satuan volume. Suatu kerapatan dalam ketiga sistem satuan adalah satu

kilogram per m3, satu gram per cm3 (Searss, 1985).


Massa jenis atau rapat jenis suatu zat adalah masa tiap satuan volume atau
dapat dirumuskan:

p = m/v
dengan :

p = massa jenis (kg/m ) 3

m= massa zat (kg)


v= volume (m ) 3

massa jenis atau kerapatan suatu fluida dapat bergantung pada

banyak faktor, seperti temperature fluida dan tekanan yang mempengaruhi


fluida. Satuan massa jenis dalam CGS adalah gram per centimeter kubik (g/cm 3).
Satuan SI massa jenis adalah kilogram per meter kubik (kg/m3).

Alat-alat yang digunakan dalam pengukuran adalah:


a. Jangka Sorong
Jangka sorong terdiri atas dua bagian, yaitu rahang tetap dan rahang
geser. Skala panjang yang terdapat pada rahang tetap merupakan skala utama,
sedangkan skala pendek yang terdapat pada rahang geser merupakan skala
nonius atau vernier. Nama vernier diambilkan dari nama penemu jangka sorong,
yaitu Pierre Vernier, seorang ahli teknik berkebangsaan Prancis. Skala utama
pada jangka sorong memiliki skala dalam cm dan mm. Sedangkan skala nonius
pada jangka sorong memiliki panjang 9 mm dan di bagi dalam 10 skala, sehingga
beda satu skala nonius dengan satu skala pada skala utama adalah 0,1 mm atau
0,01 cm. Jadi, skala terkecil pada jangka sorong adalah 0,1 mm atau 0,01 cm.
Jangka sorong tepat digunakan untuk mengukur diameter luar, diameter dalam,
kedalaman tabung, dan panjang benda sampai nilai 10 cm.
b. Mikrometer Sekrup
Mikrometer sekrup sering digunakan untuk mengukur tebal bendabenda
tipis dan mengukur diameter benda-benda bulat yang kecil seperti tebal kertas
dan diameter kawat. Mikrometer sekrup terdiri atas dua bagian, yaitu poros
tetap dan poros ulir. Skala panjang yang terdapat pada poros tetap merupakan
skala utama, sedangkan skala panjang yang terdapat pada poros ulir merupakan
skala nonius. Skala utama mikrometer sekrup mempunyai skala dalam mm,
sedangkan skala noniusnya terbagi dalam 50 bagian. Satu bagian pada skala
nonius mempunyai nilai 1/50 × 0,5 mm atau 0,01 mm. Jadi, mikrometer sekrup
mempunyai tingkat ketelitian paling tinggi dari kedua alat yang telah disebutkan
sebelumnya, yaitu 0,01 mm.
c. Neraca Teknis
Massa benda menyatakan banyaknya zat yang terdapat dalam suatu
benda. Massa tiap benda selalu sama dimana pun benda tersebut berada. Satuan
SI untuk massa adalah kilogram (kg). Alat untuk mengukur massa disebut neraca.
Ada beberapa jenis neraca, antara lain, neraca ohauss, neraca lengan, neraca
langkan, neraca pasar, neraca tekan, neraca badan, dan neraca elektronik. Setiap
neraca memiliki spesifikasi penggunaan yang berbeda-beda. Jenis neraca yang
umum ada adalah neraca tiga lengan dan empat lengan. Pada neraca tiga lengan,
lengan paling depan memuat angka satuan dan sepersepuluhan, lengan tengah
memuat angka puluhan, dan lengan paling belakang memuat angka ratusan.

Volume zat padat dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu pengukuran
langsung (dengan menggunakan gelas ukur) dan pengukuran secara tidak
langsung (secara mekanik).
a. Pengukuran secara langsung (secara mekanik)
Pada pengukuran secara langsung, berlaku Hukum Archimmides, yang
berbuyi:
“ setiap benda yang tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam fluida, akan
mendapat gaya ke atas sebesar beratfluida yang dipindahkan oleh benda itu.”
Volume benda padat dapat ditentukan dengan mengurangi massa benda
diudara dengan massa benda didalam air, dan massa jenis dapat ditentukan dari
volume dan massa zat padat tersebut.
V = Mu – Ma
Dengan ; Mu = Massa udara
Ma = Massa air
Jika massa dan volume dapat diketahui dengan cara menimbang zat
itudengan timbangan atau neraca teknis sehingga besaran massa dapat diukur
langsung dengan alat ukurnya. Untuk mengukur langsung volume zat padat
dapat dilakukan dengan memasukkan zat padat itu kedalam ge;as ukur yang
berisi xat cair. Apabila zat padat itu tengggelam seluruhnya, maka perubahan
menunjukkan volume itu dari zat padat tersebut.

b. pengukuran secara tidak langsung (secara mekanik).


Pengukuran secara mekanik digunakan untuk mengukur volume zat padat yang
teratur bentuknya (kontinu) dapat dilakukan dengan mengukur perubah
(variabel) yang membangunnya.
1. Volume balok
Volume balok dapat juga dilakukan dengan cara mengukur panjang lebar
dan tinggi dari balok itu sehingga:
Vbalok = p x l x t

Dengan;
P = panjang balok
L = lebar balok
T = tinggi balok
2. Volume silinder pejal
Dapat dilakukan dengan cara mengukur diameter dan panjang silinder itu,
sehingga:
Vsilinder = ¼ πd2 x P
Dengan:
d = diameter silinder
p= panjang silinder
3. Volume benda pejal
Dapat dilakukan dengan mengukur volume bola itu, sehingga:
V bola= (4/3) π(d/2)
Dengan:
d= diameter bola

III. METODE PERCOBAAN


A. Alat dan bahan
1. Jangka sorong 1 buah
2. Micrometer sekrup 1 buah
3. Balok kecil dari kayu 1 buah
4. Silinder dari 1 buah
5. kelereng 1 buah
6. Neraca teknis 1 buah
7. Air dan benang secukupnya
B. Langkah percobaan
1. Menimbang zat padat (balok , silinder dan kelereng) dengan neraca teknis
(timbangan)
2. Mengukur volume zat padat tersebut (balok , silinder dan bola) dengan cara
memasukkannya kedalam gelas ukur yang telah berisi air sehingga tenggelam
seluruhnya. Perubahan volume menunjukkan pada gelas ukur adalah volume zat
padat tersebut.
Catatan:
Dalam memasukkan zat padat kedalam gelas ukur digunakan benang agar zat
padat tidak sampai memecahkan gelas ukurnya.
3. Menentukan volume zat padat tersebut dengan cara mengukur peubah
(variabel) masingmasing yang membangunnya dengan cara menggunakan jangka
sorong atau micrometer sekrup.
4. Menghitung massa jenis dengan data-data, baik diperoleh dengan menggunakan
gelas ukur maupun jangka sorong atau micrometer sekrup kemudian hasil
tersebut dibandingkan.

BAB 2 Alat dan bahan

BAB 3 Metode / cara kerja

BAB 4 hasil dan pembahasan

Data pengamatan

Hasil pengukuran balok kayu

Volume = P x L x T

Pengukuran ke panjang lebar tinggi volume massa ρ


1 9,61 4,07 2,79 109,12 65,41 0,599
2 9,62 4,08 2,77 108,72 65,40 0,601
3 9,63 4,10 2,76 108,79 65,40 0,6
X rata-rata 9,62 4,08 2,77 108,94 65,403 0,6
ΔX (simpangan) 0,0316
X hasil = X ± ΔX 9,62 ± 0,0316
Perhitungan balok kayu

Volume balok (ke-1) massa jenis balok (ke-1)


V = P x L x T = 9,61 x 4,07 x 2,79 = 𝑚 65,41
ρ= = = 0,599
109,12 𝑣 109,12

Volume balok (ke-2) massa jenis balok (ke-2)


V = P x L x T = 9,62 x 4,08 x 2,77 = 𝑚 65,40
ρ= = = 0,601
108,72 𝑣 108,92

Volume balok (ke-3) massa jenis balok (ke-3)


V = P x L x T = 9,63 x 4,10 x 2,79 = 𝑚 65,40
ρ= = = 0,6
108,79 𝑣 108,97

X rata-rata panjang X rata-rata lebar


9,610+9,620+9,630 4,07+4,08+4,10
X= = 9,62 X= = 4,08
3 3

X rata-rata tinggi X rata-rata volume


2,79+2,77+2,76 109,12+108,72+108,79
X= = 2,77 X= = 108,94
3 3

X rata-rata massa X rata-rata massa jenis


65,41+65,40+65,40 0,599+0,601+0,6
X= = 65,403 X= = 0,6
3 3

ΔX (simpangan) panjang =

Hasil pengukuran silinder

Volume = π .r2.t
Pengukuran ke panjang lebar tinggi volume massa ρ
1 9,61 4,07 2,79 109,12 65,41 0,599
2 9,62 4,08 2,77 108,72 65,40 0,601
3 9,63 4,10 2,76 108,79 65,40 0,6
X rata-rata 9,62 4,08 2,77 108,94 65,403 0,6
ΔX (simpangan) 0,0316
X hasil = X ± ΔX 9,62 ± 0,0316
Pengukuran ke panjang lebar tinggi volume massa ρ
1 9,61 4,07 2,79 109,12 65,41 0,599
2 9,62 4,08 2,77 108,72 65,40 0,601
3 9,63 4,10 2,76 108,79 65,40 0,6
X rata-rata 9,62 4,08 2,77 108,94 65,403 0,6
ΔX (simpangan) 0,0316
X hasil = X ± ΔX 9,62 ± 0,0316

BAB 5 kesimpulan

Daftar pustaka