Anda di halaman 1dari 3

Strategi Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik pada Bayi dengan Hipertermia

Fase Orientasi

Perawat : Selamat pagi Bu, selamat pagi Pak

Ibu&Ayah Bayi : Selamat pagi sus

Perawat : Perkenalkan Bu, Pak, saya perawat Sista. Saya yang akan bertugas
memeriksa anak bapak dan ibu. Kalau boleh saya tau nama anak ibu dan bapak
siapa? Dan berapa usia anak ibu dan bapak saat ini?

Ibu Bayi : Ia sus, nama anak saya Zahra. Usianya 6 bulan sus

Perawat : Baiklah ibu dan bapak. Bagaimana kalau kita membicarakan kondisi
kesehatan adik Zahra di ruang pemeriksaan

Ibu&Ayah Bayi : Baiklah sus

Fase Kerja

Perawat : Baik bu, bisa ibu ceritakan apa yang terjadi pada anak ibu?

Ibu Bayi : Ia sus, anak saya ini tidak pernah rewel tapi semenjak semalam anak saya
rewel sekali sus setelah saya pegang dahinya terasa panas sus, saya benar-
benar khawatir dan panik sus

Perawat : Saya mengerti bu. Ibu tenang dulu jangan panik, biar saya periksa dulu
anaknya bu

Ibu Bayi : Iya sus, tolong ya sus, saya tidak mau terjadi apa-apa pada anak saya

Ayah Bayi : Tolong sus, lakukan yang terbaik untuk anak saya, Zahra adalah anak saya
satu-satunya sus

Perawat : (melakukan pemeriksaan) Setelah saya periksa, suhu tubuh anak ibu cukup
tinggi bu yaitu 390C, kami menyebutkan dengan hipertermia sebagai
tindakan pertama saya akan memberikan kompres hangat dan pemeriksaan
suhu secara bersamaan

Ibu Bayi : Iya sus, lakukan yang terbaik untuk anak saya
Ayah Bayi : Tenang ma tenang

(Perawat melakukan tindakan)

Perawat : Ibu, bapak, suhu tubuh anak ibu dan bapak sudah kembali normal yaitu
36,50C

Ibu Bayi : Syukurlah, terima kasih sus

Ayah Bayi : Terima kasih sus

Perawat : Sama-sama Pak, Bu. Jika ibu dan bapak menghadapi situasi seperti ini lagi,
hal pertama yang bisa bapak dan ibu lakukan adalah dengan melakukan
kompres hangat sambil terus mengecek suhu tubuh anak ibu dengan
termometer

Ibu Bayi : Iya sus, terima kasih. Saya benar-benar panik karena Zahra itu anak pertama
saya, jadi saya kurang memahami tindakan apa yang saya lakukan saya juga
tidak memiliki termometer dirumah sus

Perawat : Ia bu, saya mengerti setiap ibu pasti akan khawatir saat melihat anaknya
seperti tadi, tapi ibu tidak perlu panik ya bu, saya sarankan juga untuk
menyediakan termometer di rumah karena pada bayi, suhu tubuhlah yang
sangat berpengaruh bu, jadi alangkah baiknya ibu menyediakan termometer
di rumah

Ibu Bayi : Oh begitu ya sus tapi saya tidak mengerti cara menggunakan termometer

Ayah Bayi : Saya juga kurang mengerti sus

Perawat : Kalau begitu, saya akan ajarkan bapak dan ibu bagaimana cara menggunakan
termometer, apa ibu dan bapak bersedia?

Ibu Bayi : Ya sus, saya bersedia

Ayah Bayi : Tentu sus

Perawat : Jadi begini Bu, Pak, untuk dirumah, bapak dan ibu bisa menggunakan
termometer digital. Termometer tersebut sangat mudah di operasikan
pembacaannya pun sudah akurat. Angka yang ditunjukan oleh termometer
tersebut adalah suhu tubuh pada bayi bapak dan ibu. Untuk suhu tubuh
normal yaitu berkisar dari 36,50C-37,50C cara mengukurnya hanya dengan
menjepitkan termometer tersebut di ketiak bayi bapak dan ibu. Bagaimana
bapak dan ibu apakah sudah mengerti?

Ibu Bayi : Mengerti sus, terima kasih

Ayah Bayi : Yaa sus, terima kasih

Fase Terminasi

Perawat : Baik bu, sebelum saya keluar bisakah ibu atau bapak mengulang apa yang
telah saya sampaikan tadi?

Ibu Bayi : Bisa sus. Termometer yang bisa saya gunakan dirumah itu termometer
digital. Termometer tersebut sangat mudah dioperasikan, pembacaannya pun
sudah akurat. Angka yang ditunjukan oleh termometer tersebut adalah suhu
tubuh pada bayi saya. Untuk suhu tubuh normal yaitu berkisar dari 36,50C-
37,50C. Cara mengukurnya hanya dengan menjepitkan di ketiak anak saya.

Perawat : Bagus sekali bu, ibu sudah memahaminya dengan baik, kalau begitu saya
permisi dulu. Nanti siang saya akan kembali lagi untuk memeriksa keadaan
Dik Zahra. Selamat Pagi Pak, Bu.

Ibu&Ayah Bayi : Baik sus, selamat pagi

Anda mungkin juga menyukai